Download
Download Faithfreedompedia versi offline (17.7MB):

Faithfreedompedia.zip
Link Utama
FFI | Portal | Forum

Pengaruh Budaya-Budaya Jajahan dalam Islam

Dari Faithfreedompedia
Langsung ke: navigasi, cari

Bab 11

Dari Buku:

Kekalifahan Islam menjadi begitu besar setelah banyak suku² nomad memeluk Islam di daerah Asia Utara. Kekuasaannya terbentang dari India di Timur sampai Spanyol di Barat. Para filsuf Arab di Spanyol dipengaruhi oleh literatur Yunani dan mereka menulis banyak buku yang berhubungan dengan budaya Yunani, dan buku² ini lalu disebarkan ke kota² besar Islam seperti Kairo dan Damaskus. Sedangkan orang² Arab di bagian timur dipengaruhi oleh literatur India.

Dua pemikiran India dan Yunani ini berkembang di ibukota Kekalifahan Islam yakni Baghdad. Masa ini dikenal sebagai Masa Transisi dalam sejarah Arab, di mana banyak cabang ilmu bermunculan, dan menyebabkan timbulnya semangat belajar dan membaca, termasuk menelaah pengetahuan dari budaya lain untuk menghasilkan karya tulis sendiri. Kecenderungan intelektual ini disebut Sufi; dan kata Sufi ini diambil dari kata Yunani ‘filosofi.’

Muslim Sufi yang dipengaruhi budaya Yunani mengajak orang² untuk membaca dan mengambil manfaat prestasi negara lain dan mengembangkan apa yang telah dicapai orang lain untuk menghasilkan pemikiran baru dan menulis buku² baru. Akibatnya, muncul karir baru di Baghdad yang disebut sebagai Waraq, artinya adalah orang yang menulis ulang buku² untuk kemudian dijual untuk mencari laba/untung bagi penulis buku tersebut. (Adadeh: saat itu belum ada mesin cetak).

Sufisme di daerah India juga mengajak orang² untuk berpikir kritis, membaca dan menulis, sambil menghubungkan semuanya ini dengan ibadah Islam sehari-hari, sehingga semuanya menjadi kegiatan rutin setiap hari. Sebagian dari praktek ibadah agama yang dipelajari Muslim dari bangsa India termasuk teknik memerangi naluri fisik dan material melalui penghinaan diri, puasa, isolasi, merenung, dan menelaah diri sendiri selama berhari-hari di sepanjang tahun.

Dalam agama Hindu dan Budha, seorang umat biasa melafalkan satu ayat mantra sebanyak seratus satu kali dan lalu berhenti. Pengulangan seperti itu menimbulkan efek perasaan yang nyaman dan menenangkan hati. Para Muslim mengetahui mantra yang diucapkan tidak mengandung keajaiban apapun dan kalimat apapun yang diucapkan lebih dari 100 kali memang akan menghasilkan efek nyaman yang menenangkan perasaan. Karena itulah, para Muslim lalu mengganti mantra Hindu India itu menjadi mantra Islam yang berbunyi ‘Allâhu Akbar’ (Allâh maha besar) dan ‘‘Lâ ilaha illa al-Lâh’ (Tiada illah lain selain Allâh).

Umat Hindu dan Budha biasa menggunakan tasbih saat mengulang mantra sampai 101 kali saja, dan berhenti pada angka tersebut. Muslim pun mengikuti cara yang sama dengan menggunakan tasbih, mengulang-ulang mantra Islam, dan juga berhenti di hitungan 101 kali, sambil tak lupa mengarang-ngarang penjelasan bahwa angka 101 adalah angka ganjil yang mewakili Allâh adalah esa. Terkadang angka keramat ini juga diganti jadi angka 99 untuk mewakili 99 nama Allâh menurut Muhammad.

Para Muslim juga tidak lupa mencontek praktek ibadah agama² Afrika. Saat Islam menyerang Afrika, jutaan masyarakat Afrika ditawan sebagai budak. Para Arab saat itu melihat orang² Afrika menari dan memukul tambur sebagai bagian dari ibadah. Setelah selesai menari dan bermain musik, orang² Afrika merasa senang, nyaman, dan tenteram. Karena itulah, para Muslim juga mencampurkan pengulangan mantra dengan ibadah² Afrika yang mengandung gerakan menari, memukul tambur, dan mengulang-ulang kalimat ‘Allâhu Akbar’ dan ‘Lâ ilaha illa al-Lâh.’ Beberapa aliran Islam bahkan menorehkan pisau pada tubuh, untuk meniru ritual agama beberapa aliran Hindu India.

Terdapat berbagai ibadah Islam Sufi. Ketika Sufisme gaya Yunani dan India diperkenalkan di Baghdad, aliran Sufi dianggap membahayakan Islam. Hal ini karena Muslim Sufi ingin merubah Islam dengan cara mengajak Muslim untuk berpikir kritis dan bukannya membeo saja, dan juga mengajak Muslim bertoleransi dan mengasihi dan bukannya menerapkan kekerasan dan perbudakan.

Sufisme lalu mengubah filosofi politik, memerangi kekuasaan Kalifah Quraish di Baghdad. Beberapa dari pengikut Sufisme yang ternama adalah Al Romi, Omar Al Khayyam dan Al Hallaj.

Al Hallaj (lahir di sekitar tahun 858 M) dianggap sebagai pelopor Sufisme. Al Hallaj adalah orang Persia, dan kakeknya memeluk agama Zoroastria. Al Hallaj pernah hidup 9 tahun di India dan di sana dia mempelajari prinsip² agama Hindu dan Budha. Al Hallaj merupakan salah satu imam dan penyair yang paling terkenal di Baghdad. Dalam puisinya, dia membahas tentang cinta, toleransi, dan hormat pada sesama manusia. Dia juga memuji-muji Muhammad dan Islam, tapi di lain pihak dia mencoba mendobrak kekakuan Islam dengan cara mengajak Muslim untuk berpikir kritis dan berdebat.

Di hadapan para muridnya, Al Halaj mengumumkan bahwa Qur’an tidak bersifat abadi dan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan umat manusia di sepanjang jaman, tapi hanya di jaman Muhammad saja.

Pengumuman seperti ini dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan Kalifah Quraish di Baghdad, karena menyiratkan bahwa Muhammad bukanlah nabi, Qur’an bukan firman Allâh tapi hanya sekedar tulisan Muhammad saja, dan hak dari Allâh bagi suku Quraish untuk berkuasa adalah tidak sah. Sang Kalifah meminta Hallaj menyangkal pernyataannya dengan ancaman hukuman salib di pintu gerbang kota Baghdad. Tapi Al Hallaj menolak dan dia akhirnya dihukum salib. Para ulama Muslim lalu mengarang kisah bagaimana sang Kalifah menghalalkan pembunuhan dengan penyaliban bagi Al Hallaj dengan berkata: ‘Al Hallaj berkata bahwa dia adalah kebenaran, dan dia mengesampingkan fakta bahwa Kebenaran merupakan salah satu nama dan sifat Allâh, dan dengan demikian Al Hallaj adalah kafir karena dia mengatakan dirinya sebagai Allâh.’

Setelah ini, penguasa Islam dan para ulama Muslim mengumumkan perang sengit melawan Sufisme untuk menghentikan ancaman intelek, politik, dan filosofi. Mereka membakar buku² Sufi dan umat Sufi dituduh melakukan bid’ah, kekafiran dan menjadi Shu’ubiyya (anggota republik). (Syu’ubiyya adalah pemikiran dan kegiatan yang dilakukan negara² non-Arab untuk menggulingkan Kekalifahan Arab Muslim yang ditunjuk oleh Allâh. Negara² non-Arab tidak punya hak untuk berkuasa atas diri sendiri).

Akhirnya Sufisme gagal menggulingkan kekalifahan Islam, hal ini terutama karena serangan Mogul di Baghdad dan pembakaran buku² Sufisme. Sufi Islam yang dipengaruhi budaya Yunani, menghasilkan gerakan intelek yang sarat dengan filosofi dan pemikiran kritis; sedangkan Sufi Islam yang dipengaruhi budaya India lebih menitikberatkan pada penyucian diri dan ibadah sehari-hari. Para ulama Muslim memerangi versi intelek Sufi – yang diwujudkan dalam pemikiran dan tulisan analitis – tapi bersikap lebih lunak terhadap ibadah Sufi yang mengandung tarian, puasa, nyanyian, pengulangan mantra. Akibatnya, umat Sufi Muslim jaman sekarang bersikap bagaikan burung² beo yang mampu menyanyi, menari, dan menghafal di luar kepala syair² Omar Al Khayyam, Al Romi dan Al Hallaj, tanpa mampu melakukan pemikiran kristis analis. Mereka bahkan mengira prinsip² dan ajaran penuh kasih Sufisme ini datang dari Muhammad dan bukannya dari Budha.

Para ulama Muslim juga berhasil memperendah makna Sufi dengan menghubungkan kata Sufi dengan kata Arab ‘suf’ yang berarti bulu domba wool. Pihak Sufi sendiri berhasil membuat istilah ‘Ilmani’ yang berarti orang yang percaya pada kekuatan ilmu pengetahuan alam, dan bukannya takhayul; dan istilah ini mereka buat untuk menyingkirkan istilah ‘kafir’ bagi mereka. Dalam bahasa Arab, ‘Ilm’ berarti ilmu dan sampai sekarang orang² yang tidak percaya pada Muhammad disebut sebagai ‘Ilmani.’ Para ulama Islam berusaha memisahkan konsep² ilmu pengetahuan dan bid’ah dalam Islam.

Bab 12

Tafsir Sura Taubat

Akun
Ruang nama
Varian
Tindakan
Navigasi
faithfreedompedia
Peralatan