Download
Download Faithfreedompedia versi offline (17.7MB):

Faithfreedompedia.zip
Link Utama
FFI | Portal | Forum

Hubungan Muhammad dengan Abu Sufyan

Dari Faithfreedompedia
Langsung ke: navigasi, cari

Bab 8

Cover buku Hidup Dari Ujung Tombakku

Dari buku:
Buku: Hidup Dari Ujung Tombakku


Untuk membenarkan tindakan menyerang suku² Baduy, membunuh para pria, dan memperbudak wanita dan anak², Muhammad menyimbolkan dirinya bagaikan pelindung semua orang miskin. Dia mengubah dirinya bagaikan pejuang sosialis atau Robin Hood versi gurun pasir, yang mencuri dari orang kaya untuk dibagikan kepada fakir miskin.

Dalam perang ini, Muhammad menciptakan musuh yang menyimbolkan kekayaan dan kekuasaan, dan dia memilih ketua suku Quraish yakni Abu Sufyan sebagai tokoh utama pihak ‘musuh.’

Abu Sufyan adalah lawan Muhammad dalam perang antara pihak jahat (Abu Sufyan) dan pihak yang suci (Muhammad). Muhammad mengritik Abu Sufyan dan para tokoh Quraish guna membenarkan usaha penyerangannya, tapi Muhammad yang berasal dari suku Baduy yang sama, tidak bisa menyingkirkan rasa setianya terhadap sukunya dan juga pada Abu Sufyan, yang sebenarnya adalah saudara sepupunya. Hal ini tampak jelas pada perkataan dan perbuatan Muhammad:

  1. Muhammad tidak suka orang lain berkata jelek tentang Quraish. Ketika umatnya mengejek Quraish, dia berkata, “Mereka adalah keluargaku.”
  2. Muhammad menghina Hassan bin Thabet, seorang penyair Muslim, ketika Hassan menghina Abu Sufyan, dengan berkata, ‘Berani kau menghina dia? Dia adalah saudara sepupuku!”
  3. Ketika Abu Sufyan dan para ketua Quraish menerima permintaan Muhammad, mereka setuju untuk menyatukan semua suku Arab di Jazirah Arabia di bawah rezim Islam (Quraish).

Bahkan setelah Muhammad dan suku Quraish bersatu, tetap terdapat sedikit pertentangan antara Muhammad dan Abu Sufyan dalam membagi harta rampasan perang. Abu Sufyan menjadi salah satu pelindung Islam dan Muhammad yang paling gigih. Untuk memenangkan hati Abu Sufyan, Muhammad memberikan semua jarahan perang bagi Abu Sufyan dan para tokoh Mekah. Abu Sufyan tidak keberatan menerima kritik ringan dari Muhammad dan para Muslim, asalkan harta jarahan diserahkan kepadanya dan masyarakat Quraish. Bagi Abu Sufyan dan masyarakat Quraish yang baru saja memeluk Islam, Muhammad menyebut mereka sebagai ‘Bagi mereka yang hatinya baru saja berdamai dengan kebenaran.’ Semua uang jarahan, budak² tawanan perang, dan unta² diberikan semuanya pada Abu Sufyan dan masyarakat Quraish.

Syarat kedua yang ditetapkan Abu Sufyan adalah penetapan pemimpin Islam di masa depan diserahkan pada keturunan Abu Sufyan, dan memang inilah yang lalu terjadi. Muawiyah bin Abu Sufyan, yang adalah anak Abu Sufyan, menjadi salah satu kalifah Islam. Karena alasan ini, Muhammad menolak tawaran suku² Baduy lainnya untuk memeluk Islam dan jadi bagian dari penggantinya di masa depan demi menjaga janjinya pada Abu Sufyan.

Musimalah, yang mengaku sebagai nabi di jaman Muhammad, menyadari kesuksesan politik dan militer Muhammad setelah Muhammad mengaku jadi nabi. Dia mengajak Muhammad untuk mengurus masalah kenabian diantara mereka berdua saja, dan Musimalah nantinya akan jadi pengganti Muhammad. Tapi Muhammad menolak usulnya.[20]
[20] Sahih Al Bukhari, Al Bukhari, bab Peperangan, nomer 4378.

Suatu hari, Muawiyah bin Abu Sufyan mendengar seseorang berkata bahwa seorang raja akan muncul di masa depan dari Kahttan dan bukan dari Quraish. Hal ini membuatnya marah. Dia berkata bahwa orang² mengarang berita yang tak tercantum dalam Qur’an atau tidak diucapkan Muhammad. Orang² bodoh dan harus dihentikan mengarang cerita yang menyesatkan.[21] Dia melanjuntukan, ‘Aku mendengar Muhammad berkata bahwa kekuasaan akan tetap berada di tangan Quraish hanya sampai akhir jaman atau sampai tinggal dua orang suku itu yang ada.’[22] Muhammad memang sedikit mengritikAbu Sufyan, tapi bahaya sebenarnya dapat datang dari Muslim Baduy yang mungkin percaya bahwa Abu Sufyan adalah musuh Muhammad yang sebenarnya dan mereka mungkin saja akan berusaha membunuhnya. Untuk mencegah hal ini terjadi, Muhammad membuat perintah yang tegas dan jelas bagi keamanan sepupunya Abu Sufyan. Setelah Muhammad dan Abu Sufyan mencapai persetujuan (sebelum Muhammad menaklukan Mekah), di mana tentara Muhammad akan masuk Mekah secara damai dan tanpa peperangan. Muhammad menyuruh Abu Sufyan dan paman Muhammad Abbas naik begal Muhammad yang dikenal banyak orang untuk memastikan perlindungan Muhammad atas Abu Sufyan.[23]

Muhammad membuat pernyataan dalam penyerangan melawan Mekah bahwa setiap orang yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan selamat.

Ketika tentara Muhammad masuk Mekah, Saad bin Abidah yang naif dari Medinah dan panglima tentara Muhammad, mengira Muhammad ingin menguasai Mekah dan akan melakukan perang yang sebenarnya. Dia tidak setuju dengan tindakan Muhammad dan Abu Sufyan, dan karenanya dia berkata: ‘Hari ini adalah hari yang bersejarah, dan Ka’bah yang terlarang akan dihancurkan dan dikuasai.’ Tapi Muhammad tidak suka akan perkatannya dan karena dia mengganti pemimpin pasukan dan menyerahkannya pada Ali dan berkata: ‘Hari ini adalah hari kehormatan bagi Mekah.’

Untuk menutupi kritik ringan terhadap Abu Sufyan oleh Muhammad, para ulama Muslim mengarang cerita lucu
tentang perjanjian rahasia antara Muhammad dan Abu Sufyan di Mekah sebelum Muhammad masuk Mekah.
Dikatakan Abu Sufyan datang ke Medina dan dia memohon pada Muhammad, Abu Bakr, Umar,
Ramla anak perempuan Abu Sufyan (dan juga istri Muhammad), Ali bin Abu Talib, dan Fatima
(anak perempuan Muhammad), sampai² dia memohon simpati dari Fatima dengan cara menyebut
nama putranya yang bernama Hussein, yang adalah cucu laki Muhammad. 

Di sini para ulama menggunakan cara² yang mereka pelajari dari Muhammad untuk mengganti kisah dan mengalihkan perhatian orang ke arah lain. Muhammad terus mendistorsi Qur’an dengan cara memperhebat hukuman neraka dan status kafir dalam Qur’annya. Sikap melebih-lebihkan itu juga tampak dalam keterangannya tentang kunjungan Abu Sufyan ke Medina: sebenarnya, beberapa minggu sebelum Abu Sufyan datang, sekelompok kecil utusan Quraish, tanpa Abu Sufyan (ketua suku Quraish), telah mengunjungi Muhammad. Muhammad tidak percaya ketua suku Quraish tidak menghadapnya. Utusan Quraish telah menganggap Muhammad sebagai musuh dan mereka ingin bicara dengannya. Muhammad lepas kontrol, marah, dan mulai membentaki umatnya dan mengusir Muslim malang buta bernama Ibn Abi Maktum. Setelah kejadian itu, Muhammad menuliskannya dalam Qur’an tentang kelakuannya yang tak terpuji dengan berkata ‘(Sang Nabi) bersungut-sungut dan memalingkan tubuh, karena datang padanya seorang buta (yang menginterupsi).’ Beginilah cara Muhammad meminta maaf.

Dapatkah kau percaya bahwa putri Abu Sufyan tidak mau bicara dengan ayahnya? Para ulama mengarang-ngarang kisah Abu Sufyan, ketua suku Quraish, duduk di tempat tidur putrinya yakni Ramla. Lalu Ramla berkata padanya ‘Kau kafir kotor, jangan duduk di tempat tidur Rasul Allâh.’

Muhammad dan pihak Quraish tidak mampu mengalahkan suku Thakif di Al-Taf, meskipun mereka mengepung benteng kota itu selama 40 hari. Karena itu Muhammad menerima syarat dari ketua Al-Taf yakni memuji patung² berhala mereka dan mengajak masyarakat Baduy untuk mengunjungi kuil² pagan mereka. Hal ini ditulis dalam Qur’annya Muhammad. Hasilnya, lebih banyak orang berkunjung ke kuil dewi Al-Lat di kota Al-Taf daripada berkunjung ke Ka’bah di Mekah (Adadeh: berkurangnya penghasilan bagi masyarakat Mekah). Karena inilah, maka kuil² saingan harus disingkirkan. Abu Sufyan dan Mogirah, yang adalah Muslim dari Al-Taf, lalu menghancurkan patung² dewi Al-Lat dan Minna beserta kuil²nya. Mogirah menjelaskan bahwa ini merupakan keputusan Muhammad dan negara Muslimnya dan bukan hanya keputusan Quraish saja. [24] Setelah itu Muhammad dan Abu Sufyan mengirim jendral jagal Islam yakni Khalid bin Walid untuk menghancurkan kuil tempat menyembah dewa Al-Uzza. Dengan demikian, Ka’bah menjadi satu²nya kuil tempat beribadah di Jazirah Arabia.
[24] Ibn Kathir, hal. 1781.

Selama lebih dari setahun, masyarakat pagan Baduy bisa beribadah telanjang mengelilingi Ka’bah dan membayar pajak jizya pada Muhammad. Setelah Sura Tauba keluar, mereka dilarang melakukan ibadah haji telanjang di Mekah. Karena semua patung dan kuil di Jazirah Arabia telah dihancurkan Muhammad dan Abu Sufyan, maka masyarakat Arab Baduy hanya bisa datang ke Mekah untuk menyembah patung Allâh Ka’bah.

Setelah Muhammad dan Abu Sufyan berkuasa atas masyarakat Baduy, Abu Sufyan menjadi panglima perang dalam banyak peperangan, salah satunya adalah pengepungan Al-Taf [25] di mana dia kehilangan salah satu matanya. Dia juga jadi panglima perang di Perang Yamuk melawan tentara Romawi, yang terjadi setelah Muhammad wafat. Di perang ini, Abu Sufyan kehilangan matanya yang lain, dan dia jadi buta sebagai ganjaran pilihannya akan Islam. Di jaman sekarang, hal pertama yang dipelajari anak² Muslim adalah bahwa Abu Sufyan adalah musuh Islam dan Muhammad; dan Abu Sufyan merasa senang ketika mengetahui tentara Muslim kalah perang dalam menyebarkan Islam, meskipun Abu Sufyan telah menjadi buta demi membela Islam.
[25] Al Sira Al Nabawuya (Al Halabiya) Khaffaji Al Halabi, bab 2, hal. 304. Catatan kaki ditulis Dahlan.

Bab 9

Kalifah-Kalifah Muslim setelah Muhammad

Akun
Ruang nama
Varian
Tindakan
Navigasi
faithfreedompedia
Peralatan