.

JIHAD MUSLIM ROHINGYA di BIRMA!

Aksi2 terorisme, pemboman, demonstrasi kekerasan, intimidasi dan serangan2 kelompok2 Islam atas nama Islam. TIDAK termasuk honor killing, atau pembunuhan secara individu

Re: Dalai Lama Harus Bicara Pembantaian Rohingya

Postby Laurent » Tue Jul 31, 2012 4:26 pm

Etnis Rohingya Ditindas Sejak Myanmar Merdeka
25 Juli 2012 - 13.12 WIB > Dibaca 3032 kali Print

Etnis Rohingya Ditindas Sejak Myanmar Merdeka
Tentara Myanmar menghukum masyarakat etnis muslim Rohingya yang berusaha mengungsi. (Foto: theunjustmedia.com)


Pembantaian terhadap etnis Muslim Rohingya di Myanmar (Burma) , bukan kali ini saja terjadi. Sejak kemerdekaan negara Myanmar pada tahun 1948, Rohingya terus menerus menjadi etnis yang tertindas dan tidak diakui sebagai bagian dari 137 etnis yang diakui di Myanmar.

Sebagaimana disampaikan oleh Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA) yang dikelola oleh Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (Paham) Indonesia dalam keterangan tertulis kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 25/7), Rohingya merupakan etnis minoritas muslim yang mendiami Provinsi Arakan di sisi sebelah barat laut Myanmar berbatasan dengan Bangladesh, yang saat ini dikenal dengan provinsi Rakhine atau Rakhaing.

Itu sebabnya Rohingya dikenal juga sebagai Muslim Arakan yang populasinya berjumlah lebih kurang 1.000.000 jiwa dan ratusan ribu lainnya hidup dalam pengungsian di berbagai negara, seperti Bangladesh, Jazirah Arab, Malaysia, Thailand, Indonesia dan Australia.

PIARA Paham Indonesia mencatat bahwa etnis Rohingya selama beberapa dekade ini, terutama sejak tahun 1940-an kerap mengalami penindasan, pembunuhan, penyiksaan, perkosaan, pemiskinan, maupun diskriminasi baik oleh negara, pemerintah, maupun dari sesama penduduk yang berbeda etnis dan agama dengan mereka. Etnis Rohingya banyak yang tidak diakui kewarganegaraan Myanmar-nya. Juga, mereka tidak mendapatkan hak-hak selayak nya warga negara.

Kini, ribuan warga Rohingya lari dari rumahnya, sementara tempat tinggal mereka dibakar. Tidak sedikit di antara mereka tewas dibantai. Sementara itu, dunia mengutuk Presiden Myanmar Thein Sein yang mengatakan bahwa solusi untuk menyelamatkan warga Muslim Rohingya adalah mendirikan kamp pengungsian atau deportasi. Dalam catatan Badan Pengungsi PBB (UNHCR), warga Rohingya dikategorikan menjadi etnis minoritas yang paling tertindas di dunia ini. (ysa)

http://www.riaupos.co/berita.php?act=fu ... 4806&kat=9
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Video: "Rakyat Kami Membusuk, Anak Kami Kelaparan"

Postby Laurent » Tue Jul 31, 2012 4:29 pm

Video: "Rakyat Kami Membusuk, Anak Kami Kelaparan"








Ahad, 29 Juli 2012


Hidayatullah.com--Di ujung sebuah dermaga, di garis pantai Bangladesh, sebuah kesengsaraan terdengar keras di antara angin dan debusan imbak. 140 laki-laki dan anak-anak telah ditangkap petugas penjaga pantai. Tampak suara gemuruh, mereka mengiba-iba pada aparat agar diperbolehkan masuk ke Bangladesh setelah mengalami kekerasan di Myanmar Barat laut. Mereka adalah etinis Muslim Rohingnya di Myanmar, tetangga Bangladesh.

"Rakyat kami sedang mebusuk. Anak-anak kami kelaparan dan kehausan. Penindasan ini telah berlangsung selama 17 tahun, “ demikian ujar pria bersongkok putih.

Gambaran tak kalah mengiris hati, terlihat pria dan anak-anak berteriak mengiba di bawah kaki aparat keamanan dengan raut wajah penuh ketakutan.

"Ya Allah.. selamatkan kami, selamatkan kami, " begitu bunyi tangis mereka bergemuruh. Sayang, petugas tak berusaha mendengar suara mereka.

Terlihat, petugas membagi air minum, lalu nampak rekannya mengambil gambar adegan tersebut. Beberapa menit, petugas justu mengusir mereka kembali ke laut. Nampak, beberapa perahu mereke bocor dan kelebihan penumpang yang kemungkinan beresiko tenggelam.

Beberapa orang nampak bandel tak mau kembali ke perahu mereka. Sang petugas, memaksanya ke perahu agar kembali ke Rohingnya.

"Mereka akan membunuhku,"ujar pria bersongkok putih dengan menangis.

"Allah akan menyelamatkanmu! sekarang, kembalilah, " ujar petugas.

Demikianlah adegan mengiris perasaan orang yang melihatnya. Sebuah reportase terhadap nasib etnis Muslim Rohingya, Myanmar yang kini butuh bantuan.



Meski gambarnya agak kurang fokus, video yang dipublikasikan 13 Juli 2012 oleh seorang bernama jafarsyah melalui akun Youtube ini nampak diambil dari reportase.

Craigh Saunders, wakil PBB di Bangladesh dalam video itu mengatakan, situasi di lapangan sangat sulit.Temuan tim PBB Bangladesh dari seorang etnis Rohingya yang sempat melarikan diri dan disembunyikan penduduk yang bersimpati padanya mengatakan, mereka sangat mengalama penderitaan luar biasa.

"Saudara perempuanku, saudara laki-lakiku, dan saudara lainnya telah dibakar hidup-hidup, " ujar wanita berjilbab bernama Shahara dengan muka dikaburkan.

Shahara juga mengaku, anaknya juga menjadi korban. "Kami tak bisa menanggung beban ini lagi, sehingga kami datang ke Bangladesh, " ujarnya.

Shahara juga mengaku, bagaimana ia bersama rombongan harus terapung di atas laut selama 4 hari hingga berhasil menyelinap masuk ke Bangladesh.

"Anak kami meninggal di Burma (Myanmar). Dua lainnya meninggal di atas kapal dalam perjalan kemari sambil mengusap air matanya.

Pengungsi lain menjelaskan, bagaimana militer Myanmar bertindak tidak adil. Polisi dan militer bahkan ikut berpartisipasi menyerang pengungsi Muslim. Muhammad Islam menyaksikan sendiri, dia melihat sebuah helikopter Burma menyerang dengan penuh pengungsi

"Ada tiga kapal bersama ketika kami pergi, dan tiga lainnya mengikuti kami. Tiga kapal di belakang kami diserang helikopter dan terbakar," ujarnya.

Muhammad melihat, heli itu berputar-putar di atas perahu. Kemudian, terlihat ada sesuatu dilempar ke kapal.Tak lama, benda itu meledak dan membakar kapal.

Dia memperkirakan, ada sekitar 50 orang tewas di perahu tersebut.

Seorang bernama Abdur mengatakan, bagaimana etnis Rohingya dipandang para tetangga Myanmar dengan penuh kebencian dan haus darah.

"Mereka menggorok anak-anak kami. Mereka taruh pedang tajam di tanah. Mereka letakkan balita di atas pedang dan membiarkan balita tersebut (mengalir darah)," akunya.

Itulah gambaran bukti kekerasan terhadap etnis Rohingya dalam video berjudul “Reportase TV - Penindasan Muslim Rohingya Burma (Bhs Indonesia)”.

Video hampir serupa, dengan lokasi yang sama juga datang dari TV ternama Aljazeera. Video berjudul “Muslim Rohingya forced back to sea”. [lihat: http://www.youtube.com/watch?v=C1lQJ8o_ ... re=related]

Video-video baru tentang aksi kekerasan terhadap etnis Rohingya kini mulai bermunculan seolah menguak fakta kekerasan yang selama ini tersembunyi secara rapat.

Dalam video eksekutif liputan Aljazeera menggambarkan adanya ribuan umat Islam etnis Rohingnya yang melarikan diri dari Myanmar setelah puluhan tewas dalam kekerasan agama. Mereka melarikan diri serangan di negara bagian Rakhine oleh mayoritas Buddhis.

Banyak telah mencoba untuk mencapai Bangladesh, di mana nenek moyang mereka berasal. Beberapa warga Rohingya mencapai Bangladesh dengan kapal kecil, namun ditolak oleh para penjaga perbatasan. Aparat bahkan memaksa mereka kembali ke laut dengan ketidakjelasan bagaimana nasib mereka di tengah ombak ganas nanti.

Itulah derita etnis Rohingya. Mereka diburu di Myanmar, dan ditolak Negara tetangganya sendiri. Lantas, kepada siapa mereka harus mengadu lagi?*

Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/read/23988/ ... 12/video:-
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Video: "Rakyat Kami Membusuk, Anak Kami Kelaparan"

Postby Laurent » Tue Jul 31, 2012 4:32 pm

Beredar Video Muslim Rohingya Saat Diserang dan Ketakutan



“Allahuakbar..Allahuakbar... Allahuakbar,” teriak mereka





Sabtu, 28 Juli 2012


Hidayatullah.com—Kesimpang-siuran informasi tentang Muslim Rohingya di Myanmar hingga kini masih terjadi. Bagaimana kondisi mereka sesungguhnya tidak banyak pihak yang tahu. Maklum, informasi mengenai jumlah dan kondisi korban tewas dari etnis Muslimn Rohingya tak banyak dimiliki orang.

Tim PBB baru-baru ini mengatakan ada sejumlah besar kendala masalah ini. Korban tersebar di beberapa wilayah, membuatnya sulit untuk menghitung jumlah korban sesungguhnya.

Sementara di sisi lain, rezim Myanmar tidak mengizinkan setiap organisasi ataupun media untuk memasuki negaranya.

Baru-baru ini, sebuah video ekslusif beredar di Malaysia, yang menggambarkan serangan terhadap kaum Muslim Rohingya. [lihat: Video eksklusif serangan puak Rakhine di Myanmar]

Video diserahkan seseorang bernama Ahmad kepada Harian Metro, Malaysia, selepas memperolehnya dari penduduk di Aung Mingalar, ketika perkampungan itu diserang oleh sekelompok orang Rakhine 14 Juni 2012 lalu.




Dalam video yang sudah dilihat 90.483 orang ini, terlihat api membumbung tinggi dan kebakaran beberapa rumah penduduk. Terlihat wajah-wajah orang panik saat kamera mensyuting mereka. Warga Muslim nampak menyematkan diri ke tempat lebih aman.

Terdengar suara dan teriakan takbir berkali-kali, seolah menunggu pertolongan.

“Allahuakbar..Allahuakbar... Allahuakbar,” teriak mereka.

Kepada Harian Metro, dalam video itu, Ahmad mengaku, ada sekitar 115.000 warga etnis Muslim Rohingya saat ini berada di Kamp pelarian di 5 wilayah. Seorang aktivis lain mengatakan, sudah 2000 orang tewas sedang diperkirakan 10 ribu orang hilang dan 60 wanita diperkosa di daerah Mandao.

Yang cukup membuat hati tersentuh, di akhir tayangan, ratusan pria, wanita dan anak-anak nampak menuju sebuah danau, mereka beramai-ramai mengangkat tangannya berdoa untuk memohon bantuan.

Jadi siapa mau peduli mereka?*

Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/read/23983/ ... utan-.html
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: JIHAD MUSLIM ROHINGYA di BIRMA!

Postby Laurent » Tue Jul 31, 2012 4:39 pm

Muslim Mob Attempts Attack on Arakanese after Prayer

Maung Aye

Sittwe: Some groups of Muslims reportedly attempted to enter the residential wards in Mingan on the outskirts of Sittwe, the capital of Arakan State, in the afternoon on Friday, just after the situation began to calm after a recent series of incidents of violent unrest in the region.

A resident from Mingan reported that groups of Muslims number around 200 or attempted to intrude and attack the residents in Mingan after their prayers in an nearby mosque.

“The Bengali Muslims holding knifes and sticks marched toward our wards – Block 11 and 12 – in Mingan to attack after 1 pm. They came from a mosque nearby those blocks. They formed themselves into groups after taking their Friday prayers in the mosque and carried out the attempt on the residents living in those blocks,” said the resident.

Witnesses also reported there were three groups of Muslims – with nearly 100 in a group – that had attempted aggressive attacks on Blocks 10, 11, and 12 in Mingan.

“The attackers retreated from those blocks after the security forces arrived and fired several rounds of warning shots in to the air,” the resident said.

The Minister of Security and Border Affairs, Colonel Htin Lin, came to those blocks to investigate the incident just after the situation was brought under control.

Residents said some of the Muslims who allegedly tried to attack the wards were injured by rounds fired by security forces, but detailed information on such wounded is still unknown.

Police in at the Sittwe station also confirmed the attempted attack, but declined to provide further details. However, U Win Myint, press secretary for the Arakan State government confirmed the incident took place around 1:30 pm on Friday, but told Narinjara over the phone that there were no injuries.
Share
Share:

http://www.narinjara.com/main/index.php ... er-prayer/
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Analis: Suu Kyi Takut Muslim Rohingya Bahayakan Karir Politi

Postby Laurent » Tue Jul 31, 2012 4:42 pm

Analis: Suu Kyi Takut Muslim Rohingya Bahayakan Karir Politiknya
Jumat, 27 Juli 2012, 16:04 WIB
Khin Maung Win/AP


REPUBLIKA.CO.ID, YANGOON -- Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi mendapat kecaman keras atas aksi diamnya terhadap pembantaian Muslim Rohingya. Suu Kyi diduga khawatir akan kehilangan dukungan bagi partainya dalam pemilu 2015, jika memberi mendukung pada Rohingya.

Beberapa analis mengatakan, kelambanan Suu Kyi terhadap kasus Rohingya bermotif politik. Sebab Liga Nasional Demokrasi berencana maju pada pemilihan umum di Myanmar 2015 mendatang. Analis mengatakan, Suu Kyi takut bahwa apabila ia mendukung minoritas Muslim Rohingya akan membahayakan bagi kampanyenya.

Peraih Nobel Perdamaian Suu Kyi selama ini menolak berbicara mengenai pelanggaran yang dilakukan militer Myanmar pada Rohingya. Padahal Muslim Rohingya digambarkan oleh PBB sebagai salah satu kelompok paling teraniaya di dunia.

Ironisnya, kasus Rohingya meruak beberapa hari setelah Suu Kyi menerima hadiah perdamaian. Suu Kyi justru mengatakan pada wartawan, ia tak mengetahui apakah Rohingya termasuk orang Myanmar atau tidak.

Suu Kyi awalnya terkenal sebagai sosok pembela Hak Asasi Manusia karena telah melalui tahun-tahun panjang di penjara dan isolasi. Kini ia dituduh mengabaikan masalah manusia yang paling mendesak di Myanmar.

Direktur eksekutif Kampanye Burma di Inggris, Anna Roberts mengatakan, ia kecewa akan sikap Suu Kyi yang tidak transparan menghadapi kasus Muslim Rohingya di Myanmar. "Ini mengecewakan, dia berada dalam posisi sulit, tetapi orang telah kecewa dengan sikapnya," ujar dia.

Sementara Direktur Human Rights Watch Asia, Brad Adams mengatakan, Suu Kyi melewatkan kesempatan baik ini. "Ini semua meledak ketika ia melakukan perjalanan di Eropa dan ia tak mau menghadapinya," ujar dia.

Suu Kyi berada di bawah kecaman saat ia menolak mengkritik kebijakan Presiden Thein Sein. Seperti diberitakan sebelumnya, Thein Sein mendukung kebijakan pembersihan etnis terhadap minoritas Muslim di Myanmar.

Pemerintah Myanmar menolak mengakui Rohingya sebagai bagian dari Myanmar. Laporan mengatakan, 650 Muslim Rohingya tewas dalam kekerasan pada 28 Juni lalu di wilayah Rakhine. Sementara itu, 1200 lainnya hilang dan 80 ribu lainnya terlantar.

http://www.republika.co.id/berita/inter ... politiknya
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Kasus Rohingnya Bukti Barat tak Adil pada Islam

Postby Laurent » Tue Jul 31, 2012 4:48 pm

Kasus Rohingnya Bukti Barat tak Adil pada Islam
Sabtu, 28 Juli 2012, 09:32 WIB
Saurabh Das/AP
Kasus Rohingnya Bukti Barat tak Adil pada Islam
Muslim Rohingya di kamp pengungsian di Kutupalong, Bangladesh.


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Dunia internasional, khususnya Barat, tidak pernah bersikap adil terhadap umat Islam. Buktinya tak ada satu pun pemimpin negara barat yang mengecam aksi genosida terhadap muslim Rohingnya di Myanmar. "Ini menimbulkan ironi. Kenapa dunia internasional diam saja?," kata Wakil Sekretaris Jendral Partai Amanat Nasional (PAN), Teguh Juwarno.



Teguh menyatakan negara-negara Barat memiliki standar ganda dalam melihat persoalan HAM. Dia misalnya mencontohkan bagaimana kerasnya kecaman Barat (negara Eropa dan Amerika Serikat) ketika pejuang Demokrasi Myanmar, Aung San Su Kyi ditahan. Namun ketika di negara yang sama terjadi pemberangusan nyawa umat Islam dunia Barat diam saja.

Contoh lainnya adalah peristiwa penembakan yang dilakukan James Holmes saat gala priemier film Batman The Dark Night di Colorado, Amerika Serikat. Kendati penembakan itu menewaskan belasan orang dan tidak memiliki motif yang jelas, Barat hanya menganggap James sebagai orang sakit jiwa.

Teguh menyatakan, seadainya James adalah seorang Muslim, Barat pasti akan langsung menudingnya sebagai seorang teroris. "Umat Islam selalu disudutkan," ujarnya.

Sebagai negara pemimpin Asean dan umat Islam terbesar di dunia, Pemerintah Indonesia harus menyatakan protes atas pembantaian umat Islam di Rohingnya. Sikap itu menjadi penting karena pembantaian muslim Rohingnya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. "Konstitusi kita mendukung perdamaian dunia," kata Teguh.

Teguh mengatakan, secara politis posisi Indonesia lebih kuat ketimbang Myanmar. Buktinya Myanmar selalu menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang dicontoh Myanmar dalam menjalankan proses demokratisasi. Berkaca dari kondisi ini Presiden semestinya menyatakan sikap protes atas pembantaian muslim Rohingnya. "Pemerintah harus mengirim nota diplomatik protes keras ke Myanmar," tegas Teguh.


Redaktur: Endah Hapsari
Reporter: Muhammad Akbar Wijaya

http://www.republika.co.id/berita/inter ... pada-islam
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Video: "Rakyat Kami Membusuk, Anak Kami Kelaparan"

Postby [email protected] » Tue Jul 31, 2012 10:42 pm

Muslim indonesia sekarang jadi sok pahlawan kesiangan atau bahkan ke sorean :rolling:

satu hal yg menjadi pertanyaan saya setelah membaca artikel diatas...

Mengapa negara mayaoritas Muslim Bangladesh pun menolak para gelandangan Rohingnya ini ? :shock:

baca sendiri deh diatas, Ditulis para penjaga pantai Bangladesh bahkan mengusir balik para Rohingnyer ini :-k

Kedua

Mengapa Negara yang menjadi Penganut islam terbesar ke empat seperti Bangladesh Bahkan tidak memberikan solusi dan pertolongan apa-apa terhadap etnis Rohingnya ?
Padahal negara islam yg paling dekat dgn Myanmar adalah Bangladesh :-k
User avatar
[email protected]
 
Posts: 748
Joined: Thu May 05, 2011 1:27 pm

Re: JIHAD MUSLIM ROHINGYA di BIRMA!

Postby 1234567890 » Wed Aug 01, 2012 3:02 pm

sabar dikit dong para kapir kolopir bin tapir

ngehoax juga perlu waktu untuk ngarang bacotannya :rolling:
1234567890
 
Posts: 3860
Joined: Sun Aug 09, 2009 2:31 am

Re: JIHAD MUSLIM ROHINGYA di BIRMA!

Postby Laurent » Wed Aug 01, 2012 3:13 pm

Konflik Etnis Rohingya Jadi Benih Radikalisme
Rabu, 1 Agustus 2012 | 02:47 WIB
http://web.inilah.com/read/detail/18891 ... adikalisme

INILAH.COM, Rakhine - Ketegangan yang terus berlanjut di negara bagian Rakhine utara, Myanmar, dikhawatirkan sumber-sumber intelijen akan menyemai benih-benih radikalisme dan militansi kaum Rohingya.

Kekerasan etnis Rohingya dan Rhakine memangsa 78 orang tewas pada Juni lalu, sementara sejumlah 90.000 orang mengungsi. Tindak kekerasan itu bermula dari desas-desus mengenai seorang perempuan Rhakine yang diperkosa tiga etnis Rohingya.

Dari perspektif keamanan, situasi negara bagian Rakhine ini sangat ringkih dan mudah meletup setiap saat, kata seorang diplomat asing di Yangon. Ia lebih was-was terhadap dukungan dan dana asing yang mungkin dipasok ke komunitas Rohingya, yang kekuatannya bisa menggelinding cepat seperti bola salju.

Etnis Rohingya berpindah dari India yang kemudian memisahkan diri menjadi Bangladesh sekarang, ke Burma pada pertengahan abad 18. Mereka menetap di negara bagian Rakhine, tapi tidak pernah dianggap sebagai warga negara Myanmar, sementara Bangladesh juga melihat mereka dengan mengernyitkan dahi. Ada sekitar 800.000 orang Rohingya di Myanmar.

Mereka sering juga disebut sebagai orang Bengali, namun mereka tidak masuk dalam daftar 130 etnis nasional Myanmar dan telah dipinggirkan selama beberapa dekade.

Militansi kaum Rohingya pada awal 1980-an dan 1990-an tidak berlangsung lama. Baru-baru ini ada laporan yang belum dikonfirmasikan kebenarannya mengenai dua pengungsi Rohingya yang ditahan aparat Bangladesh karena diketahui intensif berhubungan dengan kelompok militan terlarang di Bangladesh, Jamiat-ul Mujahidin.

Badan-badan keamanan dan intelijen Bangladesh khawatir Jamiat-ul Mujahidin ini akan menggunakan etnis Rohingya sebagai tempat penyemaian bibit radikalisme yang bisa mengubah hubungan Bangladesh–Myanmar menjadi semakin masam.

Setelah kekerasan membara di Rakhine, Taliban Pakistan menampilkan diri sebagai pahlawan pembela kaum muslimin Rohingyaa dan mengatakan “kami akan membalas dendam darah Anda”. Hizbullah dan Taliban Afghanistan juga menyatakan dukungan kepada etnis Rohingya.

Pejabat-pejabat India takut kelompok Islam Radikal ini bisa mengekspolitasi situasi kaum Rohingya untuk kepentingan mereka sendiri, menurut laporan yang ditulis di koran International Business Times. PBB memandang Rohingya sebagai salah satu kelompok minoritas paling teraniaya di dunia.

Menteri Luar Negeri Myanmar Wunna Maung Lwin kemarin menolak tuduhan penyiksaan terhadap kaum Rohingya oleh tentara Myanmar. Pada konferensi pers di Yangon yang dihadiri Pelapor Khusus PBB Tomas Ojea Quintana, ia mengatakan pemerintah Myanmar "menahan diri secara maksimun "terhadap konflik etnis di Rakhine.

Menurut Lwin konflik ini dicoba ditarik oleh kelompok-kelompok di luar Myanmar sebagai konflik sektarian yang berbahaya. Padahal ini murni konflik etnis. Presiden Myanmar Thein Sein mengatakan bahwa hanya generasi ketiga keturunan Rohingya yang datang ke negara itu sebelum kemerdekaannya pada 1948 diakui sebagai warga negara.

Dia juga mengatakan kaum Rohingya harus dipulangkan ke negara lain (Bangladesh). Namun ratusan ribu orang Rohingya tidak memiliki kelengkapan administrasi. Pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi juga kecewa kepada para aktivis hak asasi manusia dengan tidak menawarkan dukungan yang lebih kuat kaum Rohingya. [Dari berbagai sumber]
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Analis: Suu Kyi Takut Muslim Rohingya Bahayakan Karir Po

Postby Laurent » Wed Aug 01, 2012 3:26 pm

Peraih Nobel Perdamaian dari Myanmar Suu Kyi Emoh Dukung Rohingya
Oleh: Bachtiar Abdullah
web - Sabtu, 28 Juli 2012 | 16:10 WIB


INILAH.COM, Yangoon – Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi dikritik oleh pendukungnya sendiri karena ikon demokrasi itu enggan membuat pernyataan sehubungan dengan penindasan yang dilakukan militer terhadap etnis Rohingya.

Kelompok aktivis yang mendukung Suu Kyi menuduh ikon HAM itu berdiam diri terhadap isu kemanusiaan dan perlakukan buruk oleh tentara pemerintah terhadap etnis Rohingya. PBB menganggap Rohingya adalah etnis paling teraniaya di dunia.

Suu Kyi juga dikritik sengaja menghindar mengomentari isu yang telah berlangsung selama delapan minggu di negeri Rakhine, Myanmar barat. Ratusan orang dilaporkan tewas dan puluhan ribu lagi penduduk terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Laporan lain menyatakan pihak militer memukul, mengancam dan membunuh etnis Rohingya.

Suu Kyi juga enggan mengkritik Presiden Thein Sein. Padahal tindakan mantan jenderal militer itu mendukung kebijakan yang mendorong terjadinya penghapusan etnis. Thein Sein mengatakan, sekitar 800.000 etnis Rohingya harus ditempatkan pada kamp pengungsi dan dikirim ke perbatasan Bangladesh.

Direktur Eksekutif Kampanye Myanmar-Inggris, Anna Roberts mengatakan, Suu Kyi berada dalam situasi sulit, namun orang banyak kecewa karena ia tidak menyatakan sikapnya berhubung isu Rohingya. "Suu Kyi melepaskan peluang untuk membangkitkan isu mengenai HAM," kata Brad Adams, Direktur Pemerhati HAM Asia.

Ketika ditanya tentang isu Rohingya, Suu Kyi dalam pernyataan kurang jelas menyatakan pentingnya 'menghormati kedaulatan hukum' atau hukum imigrasi perlu direformasi menjadi yang lebih jelas. Pendirian yang kabur itu, menunjukkan bahwa Suu Kyi menganggap etnis Rohingya Islam itu sebagai pendatang haram.

Pada ucapan pertamanya di Parlemen pada Rabu pekan ini, Suu Kyi menegaskan tentang pentingnya melindungi hak asasi kelompok minoritas yang lebih mengacu kepada kelompok penganut Buddha di Karen dan Shan.

Suu Kyi tidak menyebutkan kekerasan komunal bulan lalu di Myanmar bagian barat antara Rakhine yang beragama Buddha dan kaum Rohinya Muslim yang memangsa sedikitnya 78 orang tewas dan memicu tindak kerasan tentara pemerintah.

Peraih hadiah Nobel Perdamaian itu memang telah lama memperjuangkan hak-hak minoritas etnis, termasuk etnis Shan, Karen dan Kachin, tetapi dikritik oleh kelompok hak asasi karena tidak menjanjikan dukungan kuat untuk etnis Rohingya.

Kebanyakan orang menganggap Rohingya Myanmar dikembalikan saja ke Bangladesh. Diperkirakan 800.000 Rohingya hidup di negara bagian Rakhine di Myanmar dan setidaknya 200.000 lebih di Bangladesh. Mereka tidak diakui oleh kedua negara. [Dari berbagai kantor berita asing]

http://web.inilah.com/read/detail/18879 ... g-rohingya
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Myanmar: Soal Muslim Rohingya Bukan Masalah Agama

Postby Laurent » Thu Aug 02, 2012 5:04 pm

http://www.republika.co.id/berita/dunia ... alah-agama


Myanmar: Soal Muslim Rohingya Bukan Masalah Agama
Senin, 30 Juli 2012, 22:22 WIB
Andrew Biraj/Reuters
Myanmar: Soal Muslim Rohingya Bukan Masalah Agama
Pengungsi Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar di Teknaf, kota perbatasan Bangladesh.


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah Myanmar menolak upaya beberapa kalangan mempolitikkan dan menduniakan keadaan di wilayah Rakhine sebagai masalah agama. Demikian pernyataan yang disampaikan Pemerintah Republik Myanmar, yang diterima ANTARA pada Senin (30/7).

Pemerintah Myanmar menyatakan telah melakukan pengendalian maksimal untuk memulihkan hukum dan ketertiban di tempat tertentu di wilayah Rakhine. Myanmar sangat menolak tuduhan beberapa kalangan bahwa kekerasan dan penggunaan kekuatan berlebihan dilakukan pihak berwenang dalam menangani kerusuhan di wilayah tersebut, kata pernyataan itu.

"Myanmar adalah negara banyak agama, tempat Buddha, Kristen, Muslim, dan Hindu hidup bersama dalam damai dan serasi berabad-abad. Oleh karena itu, peristiwa di Rakhine bukan karena penindasan agama atau diskriminasi," kata pernyataan pemerintah itu.

"Perdamaian dan stabilitas sangat diperlukan demi keberlangsungan demokrasi dan proses reformasi di Myanmar. Solidaritas nasional dan harmoni rasial antarsuku berbeda penting bagi kesatuan," katanya.

Pihak berwenang telah mengambil tindakan diperlukan dengan hati-hati, katanya, pemerintah bekerja sama dengan pemimpin agama dan masyarakat, partai politik, dan organisasi sosial untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada 11 Juni, Presiden U Thein Sein menyampaikan pernyataan terkait kejadian itu, mengimbau masyarakat Myanmar bekerja sama dengan pemerintah dan minta semua mewujudkan setiap unsur keadaan dengan kemurahan hati.

Presiden juga berjanji sangat mementingkan aturan hukum. Kantor Presiden menyatakan Keadaan Darurat Negara di wilayah Rakhine untuk menghentikan kekerasan dan mengembalikan hukum dan ketertiban pada 12 Juni 2012.

Pemerintah Myanmar sedang membangun bangsa damai, modern dan maju serta menetapkan prioritas untuk memastikan perdamaian, stabilitas, dan aturan hukum, katanya.

Setelah dua kejadian itu, kerusuhan pecah di kota Sittway, Maungtaw, dan Buthidaung, tempat perusuh membakar dan menghancurkan rumah, toko, dan penginapan, serta terlibat pembunuhan. Akibat kerusuhan itu, 77 orang dari kedua pihak tewas dan 109 luka. Sejumlah 4.822 rumah, 17 masjid, 15 biara, dan tiga sekolah dibakar.

Pemerintah menyatakan mencoba segera memulihkan ketengan di tempat kerusuhan itu sejak awal kekerasan di wilayah Rakhine. "Pemerintah juga mengambil langkah untuk menghentikan sebaran kekerasan dan mengembalikan perdamaian. Warga diberi keterangan tentang keadaan tersebut secara terbuka," katanya.

Untuk mengungkapkan kebenaran dan mengambil tindakan hukum pada pelaku pelanggaran hukum dan perbuatan onar di wilayah Rakhine, Panitia Penyelidik beranggota 16 orang dan dipimpin Wakil Menteri Dalam Negeri dibentuk pada 6 Juni 2012, kata pernyataan itu.

Dalam meninjau kejadian di wilayah itu ditemukan bahwa pelanggaran hukum tersebar akibat ketidakpercayaan dan perbedaan agama, yang menciptakan kebencian dan balas dendam terhadap satu sama lain.

Sebagai korban kekerasan, baik umat Buddha maupun Muslim, sangat jelas tampak bahwa kerusuhan tersebut tidak terkait dengan penganiayaan di wilayah itu. Myanmar adalah negara banyak ras dan banyak agama, tempat orang dengan keyakinan berbeda hidup bersama dalam damai dan serasi, kata pernyataan itu.

Anggota kabinet dan pejabat pemerintah serta perwakilan dari masyarakat telah mengunjungi wilayah terimbas kerusuhan itu dan terlibat dalam pemukiman ulang dan pemulihan serta penyaluran barang ke masyarakat di markas bantuan.

Pemerintah mengambil tindakan hukum terhadap pelaku kejahatan itu, katanya. Pada waktu sama, pemerintah mengambil langkah untuk memastikan gejala dan kejadian tersebut tidak terjadi lagi, kata pernyataan itu.

Pemerintah membangun 89 markas bantuan di kota tersebut bagi 14.328 orang Rakhine dan 30.740 orang Muslim terdampak kekerasan itu. Karena keadaan hukum dan ketertiban mulai pulih, pengungsi di tempat tersebut berangsur-angsur pulang.

Sebagai bagian dari usaha pembangunan kembali perumahan, yang dibakar di Maungtaw dan di desa sekitarnya, Kementerian urusan Perbatasan akan membangun 202 rumah, UNHCR akan membangun 222 rumah, dan CARE Myanmar, lembaga swadaya masyarakat antarbangsa, akan membangun 128 rumah. UNHCR sejauh ini mengirim 400 tenda bagi pengungsi di kota Maungtaw.

Dalam rangka memberikan penampungan di Sittway dan desa sekitarnya, pemerintah wilayah Rakhine berjanji membangun 170 tenda sementara, sedangkan UNHCR dan CARE Myanmar pimpinan UNHCR akan membangun 600 tenda, kata pernyataan itu.

UNHCR dan LSM itu telah menyediakan 6.818 perangkat berbagai macam peralatan rumah tangga dan 2.412 terpal bagi pengungsi di Rakhine. Selain itu, uang tunai dan barang berharga lain senilai tiga miliar Kyat untuk bantuan dan rehabilitasi korban diterima dari simpatisan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Redaktur: Djibril Muhammad
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Myanmar: Soal Muslim Rohingya Bukan Masalah Agama

Postby Laurent » Thu Aug 02, 2012 5:06 pm

Myanmar Tolak Tuduhan Insiden Rakhine Isu Agama
Senin, 30 Juli 2012, 22:06 WIB
AP/Khin Maung Win
Myanmar Tolak Tuduhan Insiden Rakhine Isu Agama
Local residences take refuge at a monastery in Sittwe, capital of Rakhine state in western Myanmar, where sectarian violence is impacting on the local population Monday June 11, 2012. The Buddhist-Muslim violence, which has left at least seven people dead


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Republik Myanmar menolak upaya beberapa kalangan untuk mempolitisasi dan menginternasionalisasi situasi di wilayah Rakhine sebagai isu agama. Pernyataan pemerintah disampaikan melalui rilis.

Pemerintah Myanmar mengatakan pihaknya telah melakukan pengendalian yang maksimal untuk memulihkan hukum dan ketertiban di tempat-tempat tertentu di wilayah Rakhine. Myanmar sangat menolak tuduhan yang dibuat oleh beberapa kalangan bahwa kekerasan dan penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh pihak yang berwenang dalam menangani situasi kerusuhan di wilayah tersebut.

"Myanmar adalah negara multi agama di mana Buddha, Kristen, Muslim, dan Hindu hidup bersama dalam damai dan harmoni selama berabad-abad. Oleh karena itu, insiden yang terjadi di Rakhine bukan karena penindasan agama atau diskriminasi," kata pemerintah dalam pernyataannya.

"Perdamaian dan stabilitas sangat diperlukan demi berlangsungnya demokrasi dan proses reformasi di Myanmar. Solidaritas nasional dan harmoni rasial antar kebangsaan yang berbeda adalah penting bagi berlangsungnya kesatuan."

Pihak yang berwenang telah mengambil tindakan yang diperlukan dengan hati-hati. Pemerintah bekerja sama dengan pemimpin agama dan masyarakat, partai politik, dan organisasi sosial untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada 11 Juni, Presiden U Thein Sein menyampaikan pernyataan terkait insiden di wilayah Rakhine. Dalam pernyataannya, presiden mengimbau masyarakat Myanmar untuk bekerja sama dengan pemerintah dan mengimbau meminta kepada semua untuk mewujudkan setiap aspek situasi dengan kemurahan hati.

Presiden juga berjanji akan sangat mementingkan aturan hukum yang berlaku. Kantor Presiden menyatakan Keadaan Darurat Negara di wilayah Rakhine untuk menghentikan kekerasan dan mengembalikan hukum dan ketertiban pada 12 Juni 2012.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Antara

http://www.republika.co.id/berita/inter ... -isu-agama
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: JIHAD MUSLIM ROHINGYA di BIRMA!

Postby Laurent » Thu Aug 02, 2012 5:31 pm

video yang sebenarnya mengenai Tragedi Rohingya



Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Banglades: Muslim Rohingya Adalah Sumber Kejahatan

Postby nap.bon » Thu Aug 02, 2012 8:40 pm

Noh, Bangladesh sohibnya 'n saudaranye Rohingya aje ngga mau bantu...gmn temen-temen muslim?
nap.bon
 
Posts: 1011
Joined: Wed Jun 27, 2012 8:04 pm
Location: United States of Indonesia

BANGLADES LARANG BANTU PENGUNGSI ROHINGYA

Postby jambeker » Fri Aug 03, 2012 8:12 am

HAKA, KOMPAS.com — Banglades meminta tiga lembaga amal internasional menghentikan bantuan kepada pengungsi Rohingya yang masuk ke negara itu untuk menyelamatkan diri dari penganiayaan dan kekerasan di Myanmar. Pejabat Banglades mengatakan hal itu, Kamis (2/8/2012).

Menurut Joynul Bari, seorang pejabat lokal, organisasi Doctors without Borders (MSF) dari Perancis, Action Against Hunger (ACF), serta Muslim Aid UK asal Inggris telah diminta menghentikan pelayanan mereka di Distrik Cox's Bazaar yang berbatasan dengan Myanmar.

"Organisasi-organisasi kemanusiaan itu memberi bantuan kepada puluhan ribu pengungsi Rohingya yang tidak terdaftar secara ilegal. Kami meminta mereka menghentikan semua proyek di Cox's Bazaar menyusul arahan dari Biro Urusan Lembaga Swadaya Masyarakat," kata Bari kepada AFP.

Bari mengatakan, organisasi-organisasi itu "mendorong luapan pengungsi Rohingya" dari negara bagian Rakhine, Myanmar, menyusul konflik sektarian yang menewaskan setidaknya 80 orang.

Ketiga organisasi tersebut memberikan layanan kesehatan, pelatihan, makanan, dan minuman kepada para pengungsi yang tinggal di Cox's Bazaar sejak awal 1990-an. MSF mendirikan sebuah klinik tak jauh dari kamp pengungsi Rohingya dan mampu melayani hingga 100.000 orang.

Warga etnis Rohingya yang beragama Islam dianggap sebagai imigran gelap oleh Pemerintah Myanmar dan warga Burma, etnis terbesar di negara itu. Oleh PBB, mereka dianggap sebagai salah satu suku minoritas yang paling teraniaya.

Obaidur Rahman, Kepala Muslim Aid UK di Banglades, membenarkan informasi bahwa lembaganya telah menghentikan layanan menyusul perintah dari pemerintah.

Pemerintah Dhaka mengatakan, sekitar 300.000 warga Rohingya saat ini tinggal di Banglades, dan menjadi penduduk mayoritas kawasan Cox's Bazaar, setelah mereka mengungsi dari Myanmar. Hanya sekitar 30.000 orang dari mereka yang merupakan pengungsi terdaftar, yang tinggal di dua kamp pengungsi yang dikelola PBB.

Dalam dua pekan terakhir, Banglades menyuruh kembali kapal-kapal yang mengangkut ratusan pengungsi Rohingya, meskipun ada desakan dari Amerika Serikat dan organisasi-organisasi hak asasi manusia agar negara itu mau menerima mereka.

Sementara itu, Human Right Watch (HRW) melaporkan temuan mereka bahwa aparat keamanan Myanmar menembaki dan memerkosa warga Rohingya, serta tidak bertindak apa pun ketika mereka diserang suku lain, selama terjadinya gelombang kekerasan sektarian.

Pihak berwenang gagal melindungi, baik warga Muslim maupun Buddha, kemudian "membiarkan gerakan kekerasan dan pengumpulan massa untuk melawan warga Rohingya", kata HRW.


Kok ndak boleh dibantu ...bukankah banglades itu mayoritas Muslim :stun: aneh..
jambeker
 
Posts: 27
Joined: Tue Jun 05, 2012 3:37 pm

Re: BANGLADES LARANG BANTU PENGUNGSI ROHINGYA

Postby [email protected] » Fri Aug 03, 2012 5:39 pm

Bangladesh itu sebenarnya sudah tau kelakuan para Rohingnyer
lah wong mereka aja jijik menerima para pengungsi Rohingnya
Padahal Negara dengan umat muslim terbesar NO.4 loh
:stun:
User avatar
[email protected]
 
Posts: 748
Joined: Thu May 05, 2011 1:27 pm

Re: BANGLADES LARANG BANTU PENGUNGSI ROHINGYA

Postby swatantre » Fri Aug 03, 2012 6:17 pm

Tuuhh... Negara ASAL rohingya yg sama2 MUSLIM aja begah ngebela apalagi ngurusin..... Ngapain muslim2 indo kok sok2an menyuruh pemerintah Myanmar atau RI buat menangani si perusuh rohingya?

KAlo udah muslim otak kram mendadak menjadi PIL0N...
swatantre
 
Posts: 4193
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Re: BANGLADES LARANG BANTU PENGUNGSI ROHINGYA

Postby walet » Sat Aug 04, 2012 1:12 am

Mirip kasus Palestina dan Yordania, korbannya Libanon.

Palestina keluar Israel dilarang ke Yordania dan ngungsi ke Libanon.
Sekarang Libanon Kristen gak Mayoritas dan Muslim bikin Rusuh.

Palestina = Rohingya
Yordania = Bangladesh
Libanon = Burma

Kalau Burma tidak ingin jadi Libanon ke dua, harusnya bersikap tegas kepada muslim.
walet
 
Posts: 5973
Images: 16
Joined: Wed Feb 11, 2009 4:52 am

PreviousNext

Return to AKSI2 TERORISME ISLAM dlm Berita Internasional



Who is online

Users browsing this forum: No registered users