.

Genne Netto : Mencari Tuhan menemukan Allah

Pembelaan bahwa Islam adalah ajaran dari Tuhan.

Genne Netto : Mencari Tuhan menemukan Allah

Postby saif » Thu Jan 04, 2007 10:29 am

Journey to Islam Oleh : Redaksi 18 Dec 2006 - 5:30 pm
Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor
Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. Hanya saja saya dianggap “gila”. Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga dianggap “gila” oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.)
berikut penuturan beliau :
Nama saya Genne Netto, sejak tahun 1995 saya telah menetap di Jakarta, Indonesia, dan pada saat saya bertemu dengan orang baru, mereka selalu penasaran tentang latar belakang saya. Mereka ingin tahu tentang bagaimana saya bisa belajar bahasa Indonesia dengan baik, pindah ke Indonesia dan akhirnya masuk Islam. Lewat bab ini, saya ingin menjelaskan latar belakang diri saya dan bagaimana caranya saya menjadi tertarik pada Islam. :foto

Masa kecil dan mencari tuhan

Saya lahir di kota Nelson, sebuah kota kecil di Pulau Selatan di Selandia Baru (New Zealand) pada tanggal 28 April, tahun 1970. Bapak dan ibu saya bertemu di Nelson, menikah dan mendapat tiga anak; saya nomor dua. Bapak berasal dari Birma (yang sekarang dinamakan Myanmar) dan setelah Perang Dunia II, kakek saya pindah ke Selandia Baru.

Ibu lahir di Selandia Baru dan leluhurnya adalah orang Inggris dan Irlandia. Ibu dibesarkan di sebuah perternakan domba dan sapi di pulau selatan Selandia Baru.

Pada usia kecil saya sudah merasa kurang betah di Selandia Baru. Keluarga saya beragama Katolik dan Ibu saya berkulit putih tetapi saya masih merasa berbeda dengan orang lain. Kakak dan adik saya mendapatkan mata biru dan rambut coklat yang membuat mereka lebih mirip dengan orang berkulit putih yang lain. Tetapi mata saya berwarna coklat-hijau dan rambut saya hitam, dan hal itu memberi kesan bahwa saya bukan orang berkulit putih asli. Jadi, saya orang mana? Orang barat? Atau orang Asia? Saya sudah mulai merasa tidak betah dan oleh karena itu saya berfikir banyak tentang dunia dan siapa diri saya.

Saya membesar terus dan berfikir terus tentang berbagai macam hal, terutama tentang agama, dunia dan alam semesta. Seringkali saya melihat bintang dan dalam kesunyian larut malanm saya berfikir tentang luasnya alam semesta dan bagaimana diciptakan. Dari umur 9 tahun saya mulai membaca buku tentang agama dan topik serius yang lain. Saya ingin tahu segala-galanya: agama, dunia, budaya, sejarah, alam semesta… semuanya! Seingat saya, hanya saya yang tertarik pada dinosaurus pada usia itu. Teman-teman saya yang lain tidak mau tahu tentang dinosaurus karena saat itu film Jurassic Park belum muncul. Hanya saya yang sering membaca tentang topik serius seperti pembuatan piramida, agama Buddha dan Hindu, sejarah dunia, luasnya alam semesta dan sebagainya.

Seperti anak kecil yang lain, saya juga diajarkan agama oleh orang tua saya, karena mereka sebelumnya juga diajarkan oleh orang tua mereka. Di dalam ajaran agama Katolik ada banyak hal yang membingungkan saya. Setiap saya bertanya tentang Tuhan dan agama Kristen, saya seringkali mendapat penjelasan yang tidak memuaskan. Saya menjadi bingung dengan konsep Trinitas, di mana ada Tuhan, Yesus, dan Roh Kudus, dan semuanya Tuhan tetapi Tuhan hanya satu. Tuhan menjadi manusia, dan manusia itu mati, tetapi Tuhan tidak bisa mati, tetapi manusia itu adalah Tuhan. Saya menjadi bingung dengan pastor yang mengampuni dosa orang dengan mudah sekali tanpa bicara kepada Tuhan terlebih dahulu.

Bagaimana kalau pastor salah dan dosa saya belum diampuni? Apakah saya bisa mendapatkan bukti tertulis dari Tuhan yang menyatakan bahwa saya sudah bebas dari dosa? Bagaimana kalau saya bertemu dengan Tuhan di hari akhirat dan Dia menyatakan bahwa dosa saya belum diampuni? Kalau saya berprotes dan menunjuk pastor yang meyakinkan saya bahwa tidak ada dosa lagi, Tuhan cukup bertanya “Siapa menyuruh kamu percaya pada omongan dia?” Siapa yang bisa menyelamatkan aku kalau pastor keliru dan dosa aku tetap ada dan dihitung oleh Tuhan?

Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mendapatkan penjelasan tentang semua hal yang membingungkan saya. Akhirnya jalan keluar menjadi jelas: saya harus bicara empat mata dengan Tuhan! Hanya Tuhan yang bisa menjawab semua pertanyaan saya.

Pada suatu hari, saya menunggu sampai larut malam. Saya duduk di tempat tidur dan berdoa kepada Tuhan. Saya menyuruh Tuhan datang dan menampakkan diri kepada saya supaya saya bisa melihat-Nya dengan mata sendiri. Saya menyatakan bahwa saya siap percaya dan beriman kepada Tuhan kalau saya bisa melihatnya sekali saja dan mendapatkan jawaban yang benar dari semua pertanyaan saya. Kata orang, Tuhan bisa melakukan apa saja! Kalau benar, berarti Tuhan juga bisa muncul di kamar saya pada saat disuruh muncul. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh dan menatap jendela di kamar, menunggu cahaya Tuhan masuk dari luar.

Saya menunggu lama sekali. Sepuluh minit. Lima belas minit. Mana Tuhan? Kata orang, Tuhan Maha Mendengar, berarti sudah pasti mendengarkan saya. Saya menunggu lagi. Melihat jendela terus. Menunggu lagi. Kenapa Tuhan belum datang? Barangkali Dia sibuk? Kena macet? Saya melihat jendela lagi. Setelah menunggu sekian lama dan benar-benar memberi kesempatan kepada Tuhan untuk muncul. Tetapi Tuhan ternyata sibuk pada malam itu dan Dia tidak hadir.

Hal itu membuat saya bingung. Bukannya saya sudah berjanji bahwa saya akan percaya kepada-Nya kalau Dia membuktikan bahwa Diri-Nya benar-benar ada? Kenapa Dia tidak mau menampakkan Diri kepada saya? Bagaimana saya bisa percaya kalau saya tidak bisa melihat-Nya? Saya menangis dan tidur. Besoknya saya berdoa lagi dengan doa yang sama. Hasilnya pun sama: Tuhan tidak datang dan saya menangis lagi.

Ini merupakan contoh logika seorang anak kecil. Dalam pengertian seorang anak, apa yang tidak terlihat, tidak ada. Apalagi sesuatu yang begitu sulit didefinisikan seperti konsep “tuhan”. Pada saat itu, terjerumus dalam kebingungan, saya memutuskan untuk tidak percaya kepada Tuhan dan menyatakan diri “ateis” (tidak percaya kepada tuhan mana saja). Saya memberitahu kepada Tuhan bahwa saya sudah tidak percaya kepada-Nya. Dan saya memberitahu Tuhan bahwa Dia memang tidak ada dan semua orang yang percaya kepadanya adalah orang **** saja yang hanya membuang waktunya. (Dalam kata lain, saya ngambek terhadap Tuhan.) Di dalam hati, saya berbicara kepada Tuhan dengan suara yang keras supaya Dia bisa mendengar dengan jelas pernyataan saya bahwa Tuhan tidak ada!

Pada hari-hari yang berikut, saya memberi waktu kepada Tuhan untuk datang dan minta maaf karena tidak sempat datang dan menampakkan diri pada hari sebelumnya. Saya sudah membuat pernyataan yang jelas. Tuhan semestinya mendengar pernyataan saya itu dan memberi tanggapan. Tetapi tidak ada tanggapan dari Tuhan. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Sudah terbukti. Kalau ada Tuhan, Dia pasti akan mendengar doa saya dan menampakkan diri. Kenyataan bahwa Tuhan tidak menampakkan diri membuktikan bahwa Tuhan tidak ada!

Saya bersekolah terus dan sembunyikan kenyataan bahwa saya tidak percaya kepada Tuhan. Kalau ada yang menanyakan agama saya maka saya menjawab “Katolik” saja. Selama SD, SMP, dan SMA saya belajar terus tentang dunia tetapi sudah malas mempelajari agama secara serius, kecuali untuk mencari kekurangannya, karena saya menanggap agama itu sesuatu yang membuang waktu saja tanpa membawa hasil. Kebetulan, setelah lulus SMA, orang tua saya memutuskan untuk berpindah ke Australia. Kebetulan, saya memutuskan untuk ikut juga daripada tetap di Selandia Baru.

Di Australia, saya berusaha untuk masuk kuliah Psikologi di Universitas Queensland pada tahun 1990. Saya mau menjadi seorang psikolog anak. Kebetulan, lamaran saya itu tidak diterima karena nilai masuk saya kurang tinggi. Sebagai pilihan kedua, saya ditawarkan kuliah Pelajaran Asia di Universitas Griffith. Di Australia, seorang siswa yang tidak diterima di fakultas pilihan pertamanya, akan ditawarkan fakultas atau universitas yang lain. Setelah satu tahun, dia bisa pindah kembali ke pilihan pertamanya asal nilainya bagus. Kebetulan, saya menerima tawaran untuk masuk Fakultas Pelajaran Asia dengan niat akan pindah ke Fakultas Psikologi setelah satu tahun.

Kebetulan, di dalam Fakultas Pelajaran Asia pada tahun pertama semua siswa wajib mengambil mata kuliah Bahasa Asia. Ada pilihan Bahasa Jepang, Cina, Korea, dan Indonesia. Kebetulan, saya memilih Bahasa Indonesia karena sepertinya paling mudah dari yang lain. Saya hanya perlu mengikuti mata kuliah itu selama satu tahun saja jadi sebaiknya saya mengambil yang termudah. Kebetulan, dalam waktu enam bulan, nilai saya sangat baik, termasuk yang paling tinggi.

Tiba-tiba kami diberitahu ada 3 beasiswa bagi siswa untuk kuliah di Indonesia selama 6 bulan. Saya tidak mengikuti seleksi karena berniat pindah fakultas pada akhir tahun. Tiga teman dipilih. Kebetulan, salah satunya tiba-tiba menyatakan ada halangan dan dia tidak bisa pergi ke Indonesia. Proses seleksi dibuka lagi. Ada seorang dosen yang memanggil saya dan bertanya kenapa tidak mengikuti seleksi dari pertama kali. Saya jelaskan niat saya untuk pindah fakultas pada akhir tahun pertama.

Dia menyatakan “Gene, kemampuan kamu dalam bahasa Indonesia sudah kelihatan. Kenapa kamu tidak teruskan saja Pelajaran Asia. Dalam waktu 2 tahun kamu sudah selesai. Belum tentu kamu senang di bidang psikologi, tetapi sudah jelas bahwa kamu ada bakat bahasa. Coba dipikirkan kembali.”

Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan pelajaran saya di Fakultas Pelajaran Asia itu dan mengikuti proses seleksi untuk beasiswa tersebut. Kebetulan, setelah proses selesai, saya dinyatakan menang dan akan diberangkatkan ke Indonesia pada tahun depan (1991). Sekarang saya menjadi lebih serius dalam pelajaran saya karena sekarang ada tujuan yang lebih jelas.

Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor
.
Pada suatu hari diadakan acara barbeque (makanan panggang) untuk Klub Indonesia. Semua orang Indonesia di kampus diundang untuk bergaul dengan orang Australia yang belajar tentang Indonesia. Pada saat saya sedang makan, ada orang Indonesia yang datang dan kebetulan dia duduk di samping saya. Dia bertanya “Kamu Gene, ya?” Ternyata dia pernah dengar tentang saya dari seorang teman. “Apakah kamu pelajari agama Islam, Gene?” Saya jelaskan bahwa memang ada mata kuliah tentang semua agama di Asia termasuk agama Islam. “Apakah kamu juga tahu bahwa dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa? Tidak ada pendeta atau pastor yang boleh mengampuni dosa orang!”

Saya begitu kaget, saya berhenti makan dengan hotdog di tengah mulut. Saya suruh dia menjelaskan lebih mendalam lagi. Ini bukan sebuah kebetulan! Inilah sebuah jawaban yang telah saya cari selama 10 tahun. Di dalam Islam hanya Tuhan yang berhak mengampuni dosa. Apakah mungkin di dalam agama Islam ada logika dan ajaran yang bisa saya terima? Apakah mungkin ada agama yang benar di dunia ini? Dari semua kebetulan yang membawa saya ke titik itu, tiba-tiba semuanya terasa sebagai sesuatu yang terencana, dan sama sekali tidak terjadi secara tidak sengaja. Yang saya lihat adalah serangkaian kebetulan yang membawa saya ke kampus itu dan bahasa Indonesia. Tetapi dari pandangan orang yang percaya kepada Allah, tidak ada kebetulan sama sekali di dunia ini!

Masuk Islam

Dari saat itu saya mulai mempelajari dan menganalisa agama Islam secara mendalam. Saya mulai membaca buku dan mencari teman dari Indonesia yang beragama Islam. Secara pelan-pelan saya mempelajari Islam untuk mencaritahu apakah agama ini benar-benar masuk akal atau tidak.

Pada tahun 1991, saya dan dua teman kuliah menjalankan beasiswa untuk kuliah di Indonesia. Saya belajar di Universitas Atma Jaya di Jakarta dan kedua teman yang lain itu dikirim ke Salatiga dan Sulawesi. Pada saat saya di Atma Jaya (sebuah universitas Katolik), sebagian besar teman saya adalah orang Islam. Kenapa bisa begitu? Memang ada orang Islam yang kuliah di Atma Jaya, dan saya merasa sudah paham semua kekurangan yang ada di dalam agama Kristen, jadi saya tidak tertarik untuk bergaul dengan orang yang beragama Kristen. Saya lebih tertarik untuk menyaksikan agama Islam dan pengikutnya dan oleh karena itu saya menjadi lebih dekat dengan beberapa orang yang beragama Islam. Kalau ada teman yang melakukan sholat, saya duduk dan menonton orang itu dan memikirkan tentang apa yang dia lakukan dan kenapa.

Pada saat kembali ke Australia setelah 6 bulan di Jakarta, saya menjadi salah satu siswa yang bahasa Indonesianya paling lancar di kampus. Oleh karena itu, saya sering bergaul dengan orang Indonesia. Secara langsung dan tidak langsung saya pelajari agama Islam terus. Saya membaca buku dan berbicara dengan orang Indonesia di mana-mana. Setelah selesai kuliah Bachelor of Arts, saya mengambil kuliah tambahan selama satu tahun di fakultas pendidikan untuk menjadi guru bahasa. Pada saat yang sama saya mengikuti seleksi untuk beasiswa kedua, kali ini dari Perkumpulan Wakil Rektor Australia (Australian Vice Chancellors Committee). Beasiswa ini hanya untuk satu orang per bagian negara dan, kali ini, saya bebas memilih lokasi kuliah di Indonesia.

Sekali lagi, saya terpilih, dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah satu tahun di Universitas Indonesia. Setelah selesai kuliah tambahan di Fakultas Pendidikan, Universitas Griffith, pada tahun 1994 saya berangkat sekali lagi ke Jakarta untuk belajar di Fakultas Sastra di UI. Selama satu tahun di UI, seperti waktu saya ada di Atma Jaya, saya bergaul terus dengan orang Islam.

Pada bulan Februari, tahun 1995, saya duduk sendiri di lantai pada tengah malam dan menonton shalat Tarawih, tayangan langsung dari Mekah. Saya melihat sekitar 3-4 juta orang melakukan gerakan yang sama, menghadap arah yang sama, mengikuti imam yang sama, berdoa dengan ucapan yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama. Saya berfikir: Mana ada hal seperti ini di negara barat? Orang yang berkumpul untuk pertandingan bola yang paling hebat di dunia cuma beberapa ratus ribu. Tidak pernah ada orang sebanyak ini berkumpul si suatu tempat untuk menonton bola, mengikuti suatu pertandingan, atau bahkan mendengarkan Paus bicara. Ini benar-benar luar biasa! Dan tidak ada tandingnya.

Selama satu tahun itu saya teruskan pelajaran agama saya. Tidak secara formal atau serius, tetapi dengan memantau dan mencermati. Kalau ada ceramah agama di TV, dari Kyai Zainuddin MZ atau Kyai Anwar Sanusi dan sebagainya, maka saya mendengarkannya dan memikirkan maknanya. Dan secara pelan-pelan saya mendapatkan ilmu agama dari berbagai macam sumber. Pada akhir tahun 1995 itu saya sudah merasa sulit untuk menolak agama Islam lagi.

Tidak ada yang bisa saya salahkan dalam ajaran agama Islam karena memang Islam didasarkan logika. Semua yang ada di dalam Islam mengandung logika kalau kita mau mencarinya. Apa boleh buat? Saya mengambil keputusan untuk masuk Islam. Akan tetapi, saya seharusnya kembali ke Australia dan mengajar di sekolah di sana. Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mempelajari agama Islam di sana? Ada masjid di mana? Dari mana saya bisa mendapatkan makanan yang halal? Dari mana saya bisa mendapatkan guru agama?

Sepertinya saya akan sulit hidup sebagai orang Islam kalau harus hidup di luar negeri. Kalau saya mau menjadi orang Islam dengan benar maka saya harus menetap di Indonesia untuk belajar. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menetap di Indonesia dan masuk Islam.

Saya kembali ke Australia dan pamit dengan orang tua. Saya memberitahu mereka bahwa saya mau kerja di Indonesia untuk beberapa waktu. Ibu berpesan: “Silahkan kembali ke Indonesia, tapi jangan masuk Islam, ya?”

Dari pandangan orang barat, Islam tidak bagus jadi wajar kalau Ibu menyuruh saya untuk menjahui sesuatu yang dianggap buruk. Saya lupa kapan saat persisnya saya memberitahu orang tua bahwa saya sudah masuk Islam. Kalau tidak salah, saya sudah kembali ke Indonesia, mendapatkan pekerjaan, masuk Islam, dan sudah mulai sholat, sebelum saya memberitahu mereka. Tentu saja mereka menanggap bahwa saya kehilangan akal. Tetapi alhamdulillah, mereka masih berbuat baik kepada saya.
Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. Hanya saja saya dianggap “gila”. Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga dianggap “gila” oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.)

Sejak tahun 1995, saya telah menetap di Jakarta dan bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris. Saya belum ada niat untuk kembali hidup di tengah-tengah orang kafir. Saya berniat untuk menetap di sini terus (selama belum diusir) dan mempelajari agama Islam dengan sebaik-baiknya. Banyak orang asing menanggap saya aneh karena mau menetap di negara yang miskin, kotor, penuh dengan korupsi dan sebagainya. Mereka itu memiliki pandangan yang keliru. Komentar mereka benar, tetapi saya juga melihat masjid, orang yang sholat, adzan, Al Qur'an di rumah orang, makanan yang halal, anak-anak yang tidak mau bezina atau menjadi mabuk, dan banyak hal yang lain yang jauh lebih besar manfaatnya. Oleh karena itu, semua kekurangan yang disebut-sebut oleh orang kafir itu menjadi tidak bermakna dan kurang terasa. Keindahan Islam bisa menutupi semua kekurangan yang diciptakan oleh manusia di negara ini.

Dan alhamdullilah, di sini saya mendapatkan teman-teman yang terbaik di dunia. Belum pernah saya mendapatkan teman seperti teman yang saya jumpai di sini. Bagi saya, persahabatan mereka adalah suatu hal yang sangat nikmat, apalagi saya harus tinggal di sini tanpa keluarga. Karena takut memalukan mereka, saya tidak akan sebutkan namanya. Semuanya memiliki kedudukan sebagai saudara di dalam hati saya. Mereka yang membantu saya sehari-hari untuk selalu ingat kepada Allah dan tidak menyimpang dari jalan yang benar. Mereka yang menjadi contoh konkret bagi saya tentang kehidupan seorang Muslim. Mereka yang menggantikan keluarga yang menganggap saya gila, karena teman-teman ini justru bangga dengan usaha saya untuk menjadi orang yang beriman. Sering ada orang bertanya “Kenapa kamu tidak pulang ke Australia dan berdakwa di sana?” Jawabannya adalah: belum tentu di sana ada orang yang mau mendengar kalau saya bicara, tetapi di sini, justru banyak yang tertarik karena jarang ada orang bule yang masuk Islam, menetap di sini dan bisa berbahasa Indonesia. (Secara kebetulan!) Saya juga tidak mau kembali ke sana karena dengan demikian, saya harus tinggalkan teman-teman saya di sini dan juga guru-guru agama saya. Semoga semua yang mereka lakukan untuk membantu saya belajar agama dibalas Allah swt. karena saya sama sekali tidak sangup menjadi orang baik tanpa bantuan terus dari mereka.

Semoga sisanya dari buku ini adalah sesuatu yang menarik bagi anda yang membacanya. Semoga lewat tulisan ini, semua yang saya pahami sebagai seorang Muslim di Indonesia akan menjadi bahan pikiran untuk kita semua. Perjuangan saya dari luar negeri sampai masuk Islam dan menetap di sini adalah sebagian dari rencana Allah. Saya belum tahu kenapa Allah membawa saya ke Indonesia dan memberi saya kelancaran dalam bahasa Indonesia. Apakah semua itu hanya untuk diri saya sendiri? Atau apakah ada tujuan Allah yang lebih luas yang belum saya pahami? Apa yang Allah inginkan dari saya? Apa yang bisa saya lakukan untuk ummat Islam dan Allah sebagi balasan terhadap semua nikmat yang telah Allah berikan kepada saya?

Barangkali, lewat buku ini, ada beberapa hamba Allah yang akan mulai memikirkan Islam dengan cara baru. Barangkali akan ada beberapa orang yang menjadi lebih dekat kepada Allah setelah membaca dan memahami pikiran saya. Saya bukan seorang ustadt. Saya bukan ahli agama. Yang bisa saya berikan kepada ummat Islam untuk membantu kita semua menjadi ummat teladan di dunia hanya sebatas komentar saja. Barangkali Allah memberikan saya kehidupan sampai sekarang supaya saya bisa bicara kepada anda lewat buku ini. Insya Allah ada tujuan Allah yang membawa hikmah buat ummat Islam lewat komentar saya ini. Saya juga mohon Allah mengangkat semua sifat sombong dan takkabur dari hati saya dan menjadikan saya seorang hamba Allah yang bermanfaat bagi Allah dan bermanfaat bagi ummat Islam. Amin amin ya robbal alamin. Semoga menjadi rahmat bagi kita semua (mualaf.com)
saif
 
Posts: 18
Joined: Fri Dec 22, 2006 1:57 pm
Location: Makassar

Postby Kane » Thu Jan 04, 2007 11:46 am

Alhamdulillah anda seorang muslim, insyaAllah niat baik anda dalam forum ini akan mendapat ridho dari Allah, amin...

Met gabung bro'...
User avatar
Kane
 
Posts: 1619
Joined: Thu Jul 27, 2006 2:48 pm
Location: Bandung, Indonesia

Postby Hudzaiyfah al-Fadhliy » Mon Jan 08, 2007 6:42 am

Allahu albar, Subhanallah....
Ayyuhal Ikhwah!!! Saatnya kita tunjukkan Identitas Islam yang sesungguhnya. Identitas Islam yang langsung bersumber pada quran dan Sunnah.
Jangan mudah tertipudaya dan KEEP ISTIQAMAH, karena walau bagaimanapun, KEBENARAN PASTI MENANG DI DUNIA DAN AKHIRAT.
User avatar
Hudzaiyfah al-Fadhliy
 
Posts: 58
Joined: Fri Aug 25, 2006 6:43 am
Location: Jatinangor

Postby Lulldapull » Mon Jan 08, 2007 12:04 pm

Allahu Akbar, Masya-Allah, luar biasa! Pencarian spiritual yang berbuah manis.
Lulldapull
 
Posts: 275
Joined: Mon Jun 05, 2006 12:17 pm
Location: Dar Al-Harb

Re: Genne Netto : Mencari Tuhan menemukan Allah

Postby curious » Mon Jan 08, 2007 12:13 pm

saif wrote:Journey to Islam Oleh : Redaksi 18 Dec 2006 - 5:30 pm
Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor

masya auloh....
ada orang gila yang mengira pendeta atau pastor BISA MENGAMPUNI DOSA :D :D :D

saif wrote:Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. Hanya saja saya dianggap “gila”. Tidak apa apa.

ya betul! TIDAK APA-APA!
lain hal nya kalau kau mencoba keluar dari ISLAM. kau bukan hanya dikatakan gila (spt kasus Abdurrahman dari Afghanistan), tetapi kau akan dibunuh demi auloh & I-Slam.

Pada usia kecil saya sudah merasa kurang betah di Selandia Baru. Keluarga saya beragama Katolik ...[/qupte]
ahhh mosok??? kalau benar begitu, pasti kau tidak diajari agama Katolik. heheheh... mana ada orang katolik yang menyangka pastor bisa MENGAMPUNI DOSA? :D :D :D

Saya menjadi bingung dengan konsep Trinitas, di mana ada Tuhan, Yesus, dan Roh Kudus, dan semuanya Tuhan tetapi Tuhan hanya satu. Tuhan menjadi manusia, dan manusia itu mati, tetapi Tuhan tidak bisa mati, tetapi manusia itu adalah Tuhan. Saya menjadi bingung dengan pastor yang mengampuni dosa orang dengan mudah sekali tanpa bicara kepada Tuhan terlebih dahulu.

kalau bingung ya nanya sama yang tahu. lihat tuh akibatnya, kau bingung tak mencari jawaban akhirnya sesat ikut agama setan. tck tck tck.. lagi lagi ngulang bilang PASTOR MENGAMPUNI DOSA. hehehehee... dasar muslim ngaku-ngaku kristen. mau membual belajar dulu donk.

ahhhh malas baca selanjutnya. sudah ketahuan bualnya.

__________________________
ISLAMIC PEARLS OF WISDOM
mungkin diubah, dipotong atau tidak diapa apain sama sekalicuma yang menyampaikan kan non muslim yang anti Islam jadi untuk amannya ya aku bilang palsu (Mualaf, 2006)
Bagi saya lebih baik berbohong untuk menegakkan Islam daripada membuat Muslim jadi Murtadz.... (warded, 2006)

Contoh ketauhidan dalam Islam: GOSOK GIGI. (Mualaf, 2006)
Muslim masih setia terus sama allahnya biar DITIPUIN juga.(SiBodoh,2006)
Membagi istri kepada sahabat menunjukkan akhlak mulia, kemurnian solidaritas yang tinggi, kemuliaan budi pekerti (kong na'if, 2006)
User avatar
curious
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby daddy » Thu Jan 11, 2007 3:24 pm

Gene. why don't you keep praying to Allah for meeting HIM. It's true, Allah should be met, according the Holly Qur'an. Read Yunus 10:7-9. 45. Ar Ruum 30:16.

Check it out!
daddy
 
Posts: 147
Joined: Wed Nov 15, 2006 3:53 pm
Location: langit ke7

Postby bambang » Sun Jan 14, 2007 1:28 pm

daddy wrote:Gene. why don't you keep praying to Allah for meeting HIM. It's true, Allah should be met, according the Holly Qur'an. Read Yunus 10:7-9. 45. Ar Ruum 30:16.

Check it out!


QS.10 Yunus: 7-9

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami."

"mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan."

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan."


Jika diperhatikan ketiga ayat-ayat di atas, maka pada ayat 7 didapati kata "KAMI" yang dalam ayat itu si "kami" itu menuntut orang-orang untuk mempercayinya dengan bertemu dengannya, sebab kalau tidak si "kami" sudah mengancamkan neraka seperti yang tertulis dalam ayat selanjutnya (ayat ke 8 ).

Dalam ayat ke 9 terdapat keanehan, sebab ternyata ketika ada orang-orang yang mempercayainya.... si "kami" ini lepas tangan dengan menyerahkan urusan selanjutnya kepada "Tuhan mereka" sambil menjelaskan janji "syurga" yang ada di "bawah" mereka.

Seperti yang kita "ketahui", Surga itu adanya di "atas", bukan dibawah.
Tetapi oleh karena (seperti yang kita ketahui) Iblis itu **** tidak mengetahui apa-apa, maka tidaklah heran jika ia berkata seperti itu dalam ajarannya.
bambang
 
Posts: 1619
Joined: Tue Aug 22, 2006 2:02 am

Postby daddy » Sun Jan 14, 2007 2:16 pm

bambang wrote:Dalam ayat ke 9 terdapat keanehan, sebab ternyata ketika ada orang-orang yang mempercayainya.... si "kami" ini lepas tangan dengan menyerahkan urusan selanjutnya kepada "Tuhan mereka" sambil menjelaskan janji "syurga" yang ada di "bawah" mereka.

Seperti yang kita "ketahui", Surga itu adanya di "atas", bukan dibawah.
Tetapi oleh karena (seperti yang kita ketahui) Iblis itu **** tidak mengetahui apa-apa, maka tidaklah heran jika ia berkata seperti itu dalam ajarannya.


Hanya Iblis **** yang mengatakan sorga itu diatas. Seolah-olah atas itu diatas langit. Hanya Iblis yang menyesatkan manusia supaya manusia tersesat dengan persepsi2 dan interpretasi pikiran jasmani, supaya percaya bahawa sorga itu tempat yang letaknya diatas. Kalau kita menunjuk diatas patokan atas dimana? Matahari? Bulan atau bintang? Letak Indonesia secara geografis berlawanan posisi dengan benua Amerika. Kalau kita menunjuk keatas, orang Amerika juga menunjuk keatas, telunjuk kita berlawan arah dengan telunjuk orng Amerika. Iblis iti licik tapi ****. Nah sekarang sorga itu dimana?
Hanya Iblis yang selalu menjukan arah yag salah. Sorga itu milik Tuhan. Kalu engkau hanya mengharapkan sorganya, neraka tersedia untukmu. Kalu engkau mengharapkan Allah, sorga milikmu.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat
dimanfaatkan.
Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia
puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih
keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia
beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke
dalam
dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan
nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam
jauh ke
dalam jiwa penganutnya.
Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan
hanya
praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya
sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara
beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang
bersih
dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan
egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari
kebahagiaan, kata Leo Tolstoy.
Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri.
Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.
Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.
Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan
lingkungan
sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan
ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit;
kemunafikan.
daddy
 
Posts: 147
Joined: Wed Nov 15, 2006 3:53 pm
Location: langit ke7

Postby bambang » Sun Jan 14, 2007 3:23 pm

daddy wrote:
bambang wrote:Dalam ayat ke 9 terdapat keanehan, sebab ternyata ketika ada orang-orang yang mempercayainya.... si "kami" ini lepas tangan dengan menyerahkan urusan selanjutnya kepada "Tuhan mereka" sambil menjelaskan janji "syurga" yang ada di "bawah" mereka.

Seperti yang kita "ketahui", Surga itu adanya di "atas", bukan dibawah.
Tetapi oleh karena (seperti yang kita ketahui) Iblis itu **** tidak mengetahui apa-apa, maka tidaklah heran jika ia berkata seperti itu dalam ajarannya.


Hanya Iblis **** yang mengatakan sorga itu diatas. Seolah-olah atas itu diatas langit. Hanya Iblis yang menyesatkan manusia supaya manusia tersesat dengan persepsi2 dan interpretasi pikiran jasmani, supaya percaya bahawa sorga itu tempat yang letaknya diatas. Kalau kita menunjuk diatas patokan atas dimana? Matahari? Bulan atau bintang? Letak Indonesia secara geografis berlawanan posisi dengan benua Amerika. Kalau kita menunjuk keatas, orang Amerika juga menunjuk keatas, telunjuk kita berlawan arah dengan telunjuk orng Amerika. Iblis iti licik tapi ****. Nah sekarang sorga itu dimana?
Hanya Iblis yang selalu menjukan arah yag salah. Sorga itu milik Tuhan. Kalu engkau hanya mengharapkan sorganya, neraka tersedia untukmu. Kalu engkau mengharapkan Allah, sorga milikmu.

Begitupula yang mengatakan surga ada di bawah....atau, orang yang mengatakan "inginilah Allah, supaya surga menjadi milikmu"; Semua itu hanyalah suatu kebohongan dan kemunafikan semata.

Sebab bukan karena Sorga dan Neraka yang menjadikan alasan benar manusia dalam mencari dan untuk mengenal Tuhan (penciptanya), melainkan keinsafan dari keberadaanya (manusia) dan Kebenaran-Nya (Tuhan) semata.
bambang
 
Posts: 1619
Joined: Tue Aug 22, 2006 2:02 am

Postby daddy » Fri Jan 19, 2007 3:23 am

Sebab bukan karena Sorga dan Neraka yang menjadikan alasan benar manusia dalam mencari dan untuk mengenal Tuhan (penciptanya), melainkan keinsafan dari keberadaanya (manusia) dan Kebenaran-Nya (Tuhan) semata.
[/quote]

Tolok ukur keinsyafan itu sampai dimana? Karena pendeta yang mengatakan itu bukan. Lalu jema'ahnya harus percaya dan tidak boleh membantah. Apakah itu bukan munafik? Padahal itu hanya cerita/dongeng belaka tanpa bukti. Yang menulis bahwa sorga itu dibawah itu kan anda sendiri. Lha yang **** siapa ya? Carilah kerajaan Allah, itu diperjajian baru. Apa yang dimaksud dengan kerajaan Allah? Apa yang anda bayangkan kerajaan-NYA? Apakah seperti cerita pewayang tau ketoprak? Janganlah bicara sorga kalau belum pernah ke sorga. Dan jangan bicara Tuhan kalau belum kenal Tuhan.
daddy
 
Posts: 147
Joined: Wed Nov 15, 2006 3:53 pm
Location: langit ke7

Postby dreamtheater » Sat Jan 27, 2007 4:19 pm

Jika tidak bisa disebut sebagai fake story bisa juga disebut sebagai cerita altaqiyyah atau orang ini memang tidak mengerti konsep kristiani sebelumnya. Yah maklumlah kesaksian2 yang bertebar via internet bisa2 saja, ga seperti banyaknya kyai ustad yang pindah menjadikristen lantas jadi pendeta dan khotbah digereja2 yang bisa dikunjungi!

Capek gw bacanya jadi neh beberapa saja pendapat2 absurdnya:


Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor


Ketawa dah gw! Anak sekolah minggu dikristen juga tahu kalo yang mengampuni itu hanya Tuhan! Gimana seh ini bule fiktif eh bule ***.


Saya sudah membuat pernyataan yang jelas. Tuhan semestinya mendengar pernyataan saya itu dan memberi tanggapan. Tetapi tidak ada tanggapan dari Tuhan. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Sudah terbukti. Kalau ada Tuhan, Dia pasti akan mendengar doa saya dan menampakkan diri. Kenyataan bahwa Tuhan tidak menampakkan diri membuktikan bahwa Tuhan tidak ada!


Hohohohoho.. gw juga udah pernah nantangi Tuhan untuk muncul, gw rasa hamper semua manusia yang percaya Tuhan pernah melakukan ini, “dimanakah kaw Tuhan” tunjukkanlah dirimu biar aku percaya padamu”

Tapi gw ga jadi islam tuh karena gw tahu mahomed pedopil, poligami, pembunuh, jihad baiat teroris! Jelas mahomed nabi palsu!


Banyak orang asing menanggap saya aneh karena mau menetap di negara yang miskin, kotor, penuh dengan korupsi dan sebagainya.

Ini pernyataan absurd! sungguh bener2 fiktif! Woy Bule boong, diindonesia ini banyak foreigners/expatriates yang bekerja. Mereka hidup lux disini, mungkin kurang rapi cerita bule gendeng ini atau dia ga tahu diindo banyak perusahaan2 asing, ga tahu ada Exxon, total, caltex, etc perusahaan2 asing segala sector bidang usaha. Memang sih kebanyakan bule2 ini suka make2in muslimah, cuma ga bener tuh pendapat kog bule mau menetap diindo.. hohohoho.. dibuat2 ceritanya ama bule mualaf fiktif.. hiks hiks... biar giman gitcu!!!



“Apakah kamu juga tahu bahwa dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa? Tidak ada pendeta atau pastor yang boleh mengampuni dosa orang!”


Kwokwokwokwo… bokis abis!!! Sekolah minggu umur berapa yah? 5 taon kayaknya udah bisa deh masuk sekolah minggu! ternyata pemahaman keimanannya masih dibawa anak umur 5 taon


Saya mengambil keputusan untuk masuk Islam. Akan tetapi, saya seharusnya kembali ke Australia dan mengajar di sekolah di sana. Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mempelajari agama Islam di sana? Ada masjid di mana? Dari mana saya bisa mendapatkan makanan yang halal? Dari mana saya bisa mendapatkan guru agama?mendapatkan makanan yang halal? Dari mana saya bisa mendapatkan guru agama?


Bokis banget neh orang, diaussie itu banyak muslim, ampe dilakemba juga udah kayak kampng muslim n banyak masjid! Ketahuan banget cari sensasi yah biar laku gitu diindon! Kwokwokwokwo… pernyataan tak mendasar yang ketahuan bokisnya, tapi biar hiks..hiks.. dan muslimuta membaca dengan menitikkan air mata! yah maklumlah kalo ga bisa dibodoh2in ga mungkin 350 taon dijajah!

Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. Hanya saja saya dianggap “gila”.

Kwokwokwokwo… ketawa gw! Sorry jek, gw banyak kenalan bule yang kawin sama orang indon dan kawin secara agama islam! Buat mayority orang bule agama ga penting yang penting tuh muslimah dipakai! Sumpe deh ga ada tuh mereka dibilang gila ama keluarganya, yang ada mungkin dibilang “emang gw pikirin”. Wah bule fiktif neh, ga nyadar diindon banyak bule yg kawin muslimah. Lha emang tuh bule2 ngerasa jadi muslim karena ada buku nikahnya? Kwokwokwokwo.. kate sibule.. emang gw pikirin, mane lagi neh muslimah yg bisa dipakai!!! kalo gw kerumahnye, sibule ngomong ntar dulu ye bini gw lagi ketemu aulo sambil ketiwi.. kwokwokwo

Bener2 cerita absurd lagi2 muncul lagi... udah banyak tuh diffi. yang ga kuat bumbu2 hiks hiks nya itu lho, kayak ada yang diusir trus naek bus cuma dikasih ceban.. kwokwokwokwokwo...

eh muslimutan2 sekali2 kalian datang dong dengerin khotbah2 pendeta2 yang ex muslim kyai haji! banyak tuh digereja2! mantan kyai haji kaffah! Asli ga pakai taqiyyah, absurd apalagi hiks hiks...

ciaooo
User avatar
dreamtheater
 
Posts: 3089
Joined: Thu Mar 30, 2006 1:49 am
Location: Langit ke 7

Postby someone » Wed Jan 31, 2007 4:36 pm

Mr. Genne Netto tinggal di Jakarta, sekarang ini aktif dalam kegiatan "Pengajian Mualaf Bule di daerah Kuningan". Untuk lebih jelasnya di

http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=5359_0_4_0_M.

(foto ybs dan pengajian mualaf bulenya)
User avatar
someone
 
Posts: 81
Joined: Fri Oct 20, 2006 2:02 pm
Location: virtual world

Postby dreamtheater » Wed Jan 31, 2007 11:56 pm

someone wrote:Mr. Genne Netto tinggal di Jakarta, sekarang ini aktif dalam kegiatan "Pengajian Mualaf Bule di daerah Kuningan". Untuk lebih jelasnya di

http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=5359_0_4_0_M.

(foto ybs dan pengajian mualaf bulenya)


suruh baca postingan gw diatas! cukup jelaskan?
User avatar
dreamtheater
 
Posts: 3089
Joined: Thu Mar 30, 2006 1:49 am
Location: Langit ke 7

Postby someone » Thu Feb 01, 2007 12:35 pm

Anda juga pasti sudah jelas baca postingan saya.
User avatar
someone
 
Posts: 81
Joined: Fri Oct 20, 2006 2:02 pm
Location: virtual world

Postby Scorpion » Thu Feb 01, 2007 12:44 pm

Genne Netto:

Bagaimana kalau pastor salah dan dosa saya belum diampuni? Apakah saya bisa mendapatkan bukti tertulis dari Tuhan yang menyatakan bahwa saya sudah bebas dari dosa? Bagaimana kalau saya bertemu dengan Tuhan di hari akhirat dan Dia menyatakan bahwa dosa saya belum diampuni? Kalau saya berprotes dan menunjuk pastor yang meyakinkan saya bahwa tidak ada dosa lagi, Tuhan cukup bertanya “Siapa menyuruh kamu percaya pada omongan dia?” Siapa yang bisa menyelamatkan aku kalau pastor keliru dan dosa aku tetap ada dan dihitung oleh Tuhan?
------------

Nah Genne sesudah kamu masuk Islam, apa kau percaya nanti dosa-mu diampuni? Kalau Tuhan tanya kenapa Aku harus mengampuni dosamu, jawabanmu apa Genne? Genne, dosa Muhammad itu diampuni nggak yah?.... Nah kelihatan kan agama baru mu yang katanya paling sempurna ternyata nggak ngasih kepastian hidup. Kasihan kau Gene!
Scorpion
 
Posts: 208
Joined: Tue Jan 16, 2007 8:37 pm


Return to Pembelaan Terhadap Islam



Who is online

Users browsing this forum: No registered users