Benarkah bahwa kalian itu bertuhan?

Pembelaan bahwa Islam adalah ajaran dari Tuhan.
daddy
Posts: 147
Joined: Wed Nov 15, 2006 3:53 pm
Location: langit ke7
Contact:

Post by daddy »

lia arti wrote:Ya pasti bertuhan laahh...
Semua manusia dan alam ini bertuhan..

Ya kalo ga, gimana ente semua bisa ada ???

Masalahnya sekarangg...

Tau ga Tuhan ente itu sapaa...???
Bener, masalahnya kenapa Tuhan kita sama kok umatnya saling menghujat. Mereka anggap Tuhan tiap agama berbeda?

User avatar
bingung
Posts: 61
Joined: Mon Oct 23, 2006 3:52 pm
Location: KALTIM

Post by bingung »

Truss .... postingan ane gimane ... ? kik ... kik ...kik ...
Ane tunggu jawaban ente .... !!!!! .

AHLI TAFSIR
Posts: 125
Joined: Sun Feb 18, 2007 2:42 am
Location: GUA HIRA

Post by AHLI TAFSIR »

Aqua wrote:Kalau kalian bertuhan, tolong sebutkan dimana keberadaan Tuhan, Allah, God, HyangWidhi apapun istilahnya.

Aku mempunyai TUHAN!. Allah ada di dalam hati kami, dan Hanya ORANG MUSLIM yang BERIMAN yang dapat mengetahui dimana tuhannya ???? makanya PILIH AGAMA TUH YANG DAPAT MELIHAT TUHAN

Saya Yakin kalian ini hanya mengenal namanya saja. Ada nama pasti ada barangnya. Kalau kalian tahu pasti kalian tidak akan saling menghujat, pasti akan saling mengasihi sperti layaknya sifat Tyuhan itu sendiri.


Sapa Bilang ??? kenal nama gak kenal Zatnya ??? ada kok barangnya AKU SERING BERJUMPA DI SAAT AKU SUJUD di saat SHOLAT, Gak Percaya Coba aja Ndiri ???



Mengapa di ajaran islam kita bersaksi dalam syahadat, dan kesaksian dalam agama kristen, Apa yang disaksikan? Jujur, bukankah itu kesaksian palsu? Maka bertanyalah pada seseorang yang berilmu tentang ketuhanan. Bukan hanya sekedar percaya dan hanya sekedar menjalankan kewajiban saja. Tapi benar-benar bukti yang nyata. Hanya sapi saja yang penurut tapi tidak tahu sejatinya makna/hakekat beragama.

Saya bersaksi karena saya Yakin & Percaya bahwa Tidak Ada Tuhan yang disembah Melainkan ALLAH SWT.

Ilmu Tinggi tidak ada gunanya dan tidak perlu ditanyakan. ALLAH hadir di setiap hati MUSLIM yang Beriman, baik yang Kaya Miskin dan mempunyai Sedikit ILMU.

Sapa bilang SAPI menurut jika tidak tau Maknanya ??? Coba Kamu suruh SAPI CEBUR KE JURANG ??? Emang dia mau ...??? itu artinya Telaah kamu salah BUNG..... coba Sapi Gak di suruh makan tapi sapi itu berada di padang rumput yang hijau pasti dia makan...


ya yah yg jelas sih cuma Tuhannya Islam yg nyiptain dan nyuruh setan2 utk menghasut manusia, nyuruh bunuh2han,nyuruh sebarin AGAMANYA ke seantreo bumi, dan satu lagi tawar menawar dgn nabinya. salam kenal semua

bambang
Posts: 1619
Joined: Tue Aug 22, 2006 2:02 am

Post by bambang »

daddy wrote:Bener, masalahnya kenapa Tuhan kita sama kok umatnya saling menghujat. Mereka anggap Tuhan tiap agama berbeda?
Kata siapa Tuhan semua orang sama???????

Bisa tunjukin refrensinya gak!!?

Jangan asal cuap-cuap seperti ember rombeng ach......malu!! :lol: :lol: :lol:

taksanggup
Posts: 233
Joined: Wed Nov 01, 2006 11:46 am

Post by taksanggup »

mana mungkin saya mempunyai Tuhan?
namun Tuhan lah yang memiliki saya dan semua mahluk yang ada di langit dan dibumi berserta langit dan buminya.

taksanggup
Posts: 233
Joined: Wed Nov 01, 2006 11:46 am

Post by taksanggup »

sedikit kutipan mengenai hal "ketauhidan dalam ajaran atas nama islam"

Dzat Allah ialah dzat mutlak,"Dzat Laesa Kamislihi sae un" Dzat yang tidak bisa diperumpamakan atau dipersamakan. Dalam surat Alikhlas, dikatakan bahwa tidak satupun yang menyamai-Nya. Dzat Allah ialah yang memiliki Semua mahluk baik yang di langit maupun di BUmi (Q.S Anissa,126).

"Ada" ataupun "Tidak Ada" ialah mahluk Allah SWT, bagaimana mungkin Allah dikenai Sifat Milik Allah??,
sedangkan dikatakan bahwa "Dzat Allah ialah Dzat yang tidak bisa diperumpamakan atau dipersamakan.", jika kita mempersamakan Dzat Allah dengan Dzat MAhluk, apa sebutannya untuk yang mempersamakan Dzat Allah tersebut??

"Ada" ataupun "Tidak Ada" ialah mahluk Allah SWT yang menyertai Mahluk-mahluk Lainnya, seperti mahluk yang disebut jasad manusia disertai oleh sifat "ADA" karena terlihat oleh pandangan, dan teraba oleh rabaan, sedangkan "pandangan/penglihatan" disertai oleh sifat "tidak ada" karena tidak terlihat dan tidak teraba, namun ternikmati oleh yang menikmatinya(seperti oleh atas nama manusia)

Jika ada pertanyaan, "apakah Allah itu Ada atau tidak??", bagaimana menjawabnya?? sedangkan Dzat Allah ialah yang memiliki mahluk dengan Sebutan "Ada" dan "tidak Ada"??

Tadi disebutkan bahwa Dzat Allah lah yang memiliki semua mahluk di Bumi dan di langit, Apa sebutannya bagi seseorang yang mengambil alih kepemilikan dengan menyebut bahwa ia memiliki Allah/TUHAN??? dengan mengatakan "bahwa Tuhan saya berbeda dengan Tuhan anda" sedangkan ia sendiri Adalah mahluk Milik Allah yang disertai dengan daya dan kekuatan milik Allah?? dan apa sebutannya bagi yang mengambil Alih kepemilikan dengan menyebut bahwa surga adalah miliknya, sedangkan ia dan surga ialah mahluk milik Allah??

pada Surat AlIkhlas menjelaskan
"Katakan (oleh kamu Muhammad): Allah Itu Satu (Nama)"
penjelasannya: ALLAH adalah satu nama dzat yang pasti ada namanya.
satu disini menyebutkan terhadap nama, bukan kepada Dzat Allah, karena dzat Alah tidak dikenai sifat bilangan baik satu ataupun banyak, minus ataupun nol, Dzat Allah ialah yang memiliki sifat bilangan. sifat bilangan tiba pada mahluknya.
contoh sifat satu tiba pada mahluk Allah yang bernama Matahari, namun sifat banyak tiba pada mahluk seperti manusia.

masih pada Surat AlIkhlas diterangkan
"Tidak ada satupun yang dapat menyamainya", jelas sekali dalam ayat lain pada penjelasan alQur'an disebutkan "Dzat Laesa Kamislihi Sae un", Dzat yang tidak bisa diperumpamakan/dipersamakan. Jadi Dzat Allah tidak dikenai oleh sifat - sifat milik Allah. Sifat-sifat milik Allah menyertai mahluk-mahluk Allah. "Maha Suci Allah dari semua sifat yang dimilikiNya"

masih penjelasan AlQur'an,
"Wa La tafakaru fil kholqi wala tatafakaru fil Kholiqi"
jangan berfikir bagaimana Allah, tatapi berpikirlah tentang apa-apa yang sudah dijadikanNya.

Berpikir bagaimana Allah, tidaklah akan terpikir, segala sesuatu yang berpikir mengenai bagaimana Allah tentulah akan melenceng, karena segala macam pikiran (baik ataupun buruk) ialah milik Allah.

daddy
Posts: 147
Joined: Wed Nov 15, 2006 3:53 pm
Location: langit ke7
Contact:

Post by daddy »

Kata siapa Tuhan semua orang sama???????
Bisa tunjukin refrensinya gak!!?
Jangan asal cuap-cuap seperti ember rombeng ach......malu!! :lol: :lol: :lol:
[/quote]
Sudah disebutkan oleh TAK SANggup:pada Surat AlIkhlas menjelaskan
"Katakan (oleh kamu Muhammad): Allah Itu Satu (Nama)"
penjelasannya: ALLAH adalah satu nama dzat yang pasti ada namanya.
satu disini menyebutkan terhadap nama, bukan kepada Dzat Allah, karena dzat Alah tidak dikenai sifat bilangan baik satu ataupun banyak, minus ataupun nol, Dzat Allah ialah yang memiliki sifat bilangan. sifat bilangan tiba pada mahluknya.
contoh sifat satu tiba pada mahluk Allah yang bernama Matahari, namun sifat banyak tiba pada mahluk seperti manusia.

Pastilah Tuhan anda berbeda. Karena semua agama mengatakan Tuhan Yang
Maha Esa, sedangkan anda Tuhan yang ada 2 dan yang satu pernah mati. Pasti sdh berupa Zombee.

User avatar
babenya muhammad
Posts: 1847
Joined: Sun Jan 21, 2007 11:08 am

Post by babenya muhammad »

Aqua wrote:Kalau kalian bertuhan, tolong sebutkan dimana keberadaan Tuhan, Allah, God, HyangWidhi apapun istilahnya.

Aku mempunyai TUHAN!. Allah ada di dalam hati kami, dan Hanya ORANG MUSLIM yang BERIMAN yang dapat mengetahui dimana tuhannya ???? makanya PILIH AGAMA TUH YANG DAPAT MELIHAT TUHAN

Saya Yakin kalian ini hanya mengenal namanya saja. Ada nama pasti ada barangnya. Kalau kalian tahu pasti kalian tidak akan saling menghujat, pasti akan saling mengasihi sperti layaknya sifat Tyuhan itu sendiri.


Sapa Bilang ??? kenal nama gak kenal Zatnya ??? ada kok barangnya AKU SERING BERJUMPA DI SAAT AKU SUJUD di saat SHOLAT, Gak Percaya Coba aja Ndiri ???


Mengapa di ajaran islam kita bersaksi dalam syahadat, dan kesaksian dalam agama kristen, Apa yang disaksikan? Jujur, bukankah itu kesaksian palsu? Maka bertanyalah pada seseorang yang berilmu tentang ketuhanan. Bukan hanya sekedar percaya dan hanya sekedar menjalankan kewajiban saja. Tapi benar-benar bukti yang nyata. Hanya sapi saja yang penurut tapi tidak tahu sejatinya makna/hakekat beragama.

Saya bersaksi karena saya Yakin & Percaya bahwa Tidak Ada Tuhan yang disembah Melainkan ALLAH SWT.

Ilmu Tinggi tidak ada gunanya dan tidak perlu ditanyakan. ALLAH hadir di setiap hati MUSLIM yang Beriman, baik yang Kaya Miskin dan mempunyai Sedikit ILMU.

Sapa bilang SAPI menurut jika tidak tau Maknanya ??? Coba Kamu suruh SAPI CEBUR KE JURANG ??? Emang dia mau ...??? itu artinya Telaah kamu salah BUNG..... coba Sapi Gak di suruh makan tapi sapi itu berada di padang rumput yang hijau pasti dia makan...


karena gw ateis, gw mau kasih tau tentang pendapat gw.....

tuhan apa aja, itu cuma namanya aja, yg kita bisa liat bukan tuhanya, tap ajaranya, kalau ajaranya sesat apa benar, kita sebagai manusia ud ud pasti punya logika untuk menganalisanya, bener gak?????

jd buat gw, kita sebagia manusia gak bakal bisa menegrti adanya tuhan apa gak, yg bisa kita lihat cuma ajaranya

jadi bila ada ajaran suatau agama yg bertentangan dgn sifat ketuhanan, ud pasti tiu agama setan (inget: bila yg mempercayai adanya tuhan mesti percaya adanya setan)

kesimpulanya, tuhan mana yg ada, bisa kita lihat dari ajaranya, yg mengajarkan pembunuhan, pemaksaan beribadah (seakan akan tuhan meminta untuk di sembah), pemaksaan memasuki agama tersebut (terdengar politis sekali, ada tujuan terselubung), malaha kita tahu jelas2, ajaran muslim SANGAT menguntungkan kaum tertentu (bangsa arab), , ajaran muslim sangat merugikan kaum perempuan (berpihak kpd kaum lelaki), ->apa logika sebagai manusia tidak bisa berpikir seperti ini ??????????

jadi tuhan mana yg ada bisa kita analisa dari ajaranya, bukan dari sejarahnya (mana ada bukti bahwa sejarah yg di tulis bener2 kebenaran, bisa aja di manipulasi)

atou bisa kita liat dari kehidupan pembimbing agama tsb mis: nabinya

apakah pantas menjadi teladan apa gak seorang manusia pasti bisa berpikir ?????? walaupun ada yg tidak bisa berpikir kesana (brain wash), anggap aja nasib tuh org lagi pahit, sedih liatnya..........

daddy
Posts: 147
Joined: Wed Nov 15, 2006 3:53 pm
Location: langit ke7
Contact:

Post by daddy »



Bagus, begitulah seharusnya. Hanya saja tolong bagaimana cara anda melihat Tuhannya. Tidak bisa kita melihat dengan mata telanjang. Dan pasti tahu pula Allah menunjukan kebesaran-NYA kepada umat yang dikehendaki. Saya tunggu jwbnya.

Saya bersaksi karena saya Yakin & Percaya bahwa Tidak Ada Tuhan yang disembah Melainkan ALLAH SWT.


Nah, yang ini anda tahu arti dan bedanya yakin dan percaya. Saya sangat salut bila tiap umat sampai pada kesaksian.

Ilmu Tinggi tidak ada gunanya dan tidak perlu ditanyakan. ALLAH hadir di setiap hati MUSLIM yang Beriman, baik yang Kaya Miskin dan mempunyai Sedikit ILMU.

Memang yang memiliki ilmu hanya Allah. Dan Muslim adalah Allah sendiri yang menetapkan akan kemusliman tiap manusia.

itu artinya Telaah kamu salah BUNG..... coba Sapi Gak di suruh makan tapi sapi itu berada di padang rumput yang hijau pasti dia makan...
[/quote]
Mau aja, karena keinginan manusia. Makanya di surat paling depan adalah Al Baqarah dan surat terakhir adalah An Nas. Mengapa begitu? Karena Allah sdh tahu tabiat manusia.

User avatar
osho
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Post by osho »

Aqua wrote:Kalau kalian bertuhan, tolong sebutkan dimana keberadaan Tuhan, Allah, God, HyangWidhi apapun istilahnya.

Aku mempunyai TUHAN!. Allah ada di dalam hati kami, dan Hanya ORANG MUSLIM yang BERIMAN yang dapat mengetahui dimana tuhannya ???? makanya PILIH AGAMA TUH YANG DAPAT MELIHAT TUHAN
Pelan-pelan jangan terburu-buru.....renungkan........
telaah tiap-tiap kata yang kamu ucapkan diatas......
Kalau belum dapat makna dari ucapanmu diatas.....
maka pelan-pelan lagi.....santai......telaah lagi........

Kalau udah......
Saya mau bertanya......
Pantaskah kamu mengatakan Hanya muslim yang beriman yang mengetahui dimana Tuhannya...????
Pantaskah kamu mengatakan pilihlah agama Islam yang dapat melihat Tuhan.

Kalau belum mengerti juga.......
Pelan-pelan......santai......renungkan.....
Rasakan dengan yang ada didalam hatimu yang kamu katakan ada Allah dihatimu itu......
Rasakan......dan cobalah bertanya apa bener yang kamu ucapakan diatas itu.
Kalau belom ngerti juga.......maka belajar lebih giat lagi....nanti baru bahas lagi Apa yang disebut TUHAN itu.....
Jangan terburu-buru....
Jangan menyatakan pernyataan yang penuh kesombongan.
Jangan menyatakan pernyataan yang bisa membuat orang lain tersinggung.
Karena manusia yang tidak sombong, tidak ada kebencian, dan penuh kasihlah yang pantas mengatakan siapa itu TUHAN.
salam kasih

User avatar
adheel
Posts: 831
Joined: Sat Jan 06, 2007 6:29 pm
Location: Mungkin Disebelahmu :D

Post by adheel »

pinginkaya wrote: Pelan-pelan jangan terburu-buru.....renungkan........
telaah tiap-tiap kata yang kamu ucapkan diatas......
Kalau belum dapat makna dari ucapanmu diatas.....
maka pelan-pelan lagi.....santai......telaah lagi........

Kalau udah......
Saya mau bertanya......
Pantaskah kamu mengatakan Hanya muslim yang beriman yang mengetahui dimana Tuhannya...????
Pantaskah kamu mengatakan pilihlah agama Islam yang dapat melihat Tuhan.

Kalau belum mengerti juga.......
Pelan-pelan......santai......renungkan.....
Rasakan dengan yang ada didalam hatimu yang kamu katakan ada Allah dihatimu itu......
Rasakan......dan cobalah bertanya apa bener yang kamu ucapakan diatas itu.
Kalau belom ngerti juga.......maka belajar lebih giat lagi....nanti baru bahas lagi Apa yang disebut TUHAN itu.....
Jangan terburu-buru....
Jangan menyatakan pernyataan yang penuh kesombongan.
Jangan menyatakan pernyataan yang bisa membuat orang lain tersinggung.
Karena manusia yang tidak sombong, tidak ada kebencian, dan penuh kasihlah yang pantas mengatakan siapa itu TUHAN.
salam kasih
:roll: ngakunya atheis..

User avatar
osho
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Post by osho »

adheel wrote: :roll: ngakunya atheis..
kapan dan dimana....???

pencari_tuhan
Posts: 14
Joined: Thu Jun 22, 2006 4:30 pm

TUHAN

Post by pencari_tuhan »

A. Sebutan Tuhan
Sahabat-sahabat, kadang kita terlalu cepat ‘memagari diri’ dari istilah-istilah yang kita anggap tidak berada dalam domain yang sama dengan agama kita. Terlalu cepat ‘mengkafirkan’. Bukan mengkafirkan orang lain, tapi mengkafirkan bahasa (lain). Dengan memagari diri seperti ini, apalagi dengan didahului prasangka, maka dengan sendirinya kita akan semakin sulit saja memahami hikmah kebenaran yang Dia tebarkan di mana-mana.
Padahal, dalam Qur’an pun Allah menjelaskan bahwa beragam bahasa adalah tanda dari-Nya juga.
“Dan diantara ayat-ayatnya ialah menciptakan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang-orang berilmu (’Alimiin).” Q.S. 30 : 22.
Jika ada orang menyebut tuhannya sebagai Yehovah, Eloh, Eloheim, atau Adonai, mekanisme dalam pikiran kita mendadak seperti mencipta imaji-imaji bahwa ada banyak tuhan yang sedang berjejer, sesuai urutan sesembahan yang ada sepanjang masa. Ada tuhan yang disebut Yehovah, Eloheim, Jahveh, Brahma, Manitou, Zeus, Allah, Tuhan Alah, dan lain sebagainya. Sedangkan yang kita sembah adalah yang disebut Allah, yang lainnya bukan, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan kita dan agama kita. Pokoknya thoghut, atau kafir.
Benarkah begitu? Bukankah Tuhan hanya satu? Bukankah ‘Laa ilaaha Ila’Llah’ artinya tiada Tuhan selain Allah? Wallahu ‘alam, meski saya mengerti bahwa Tuhan hanya satu, tapi saya belum mengetahui secara total makna lahiriyah maupun batiniyah dari kalimat syahadat itu. Tapi setidaknya, bukankah cara berfikir yang seperti tadi juga berarti bahwa tanpa sadar pikiran kita telah menyejajarkan Dia dengan selain-Nya? Atau, secara halus dan tersamar sekali, itu artinya kita masih mengakui bahwa ada banyak entitas dalam satu himpunan tuhan, dan Allah adalah salah satu dari yang ada dalam himpunan itu. Bukankah itu keterlaluan?

Istilah ‘Allah’ sudah ada sejak sebelum Al-Qur’an turun. Sebelum junjungan kita Rasulullah menerima wahyunya yang pertama, bangsa Arab sudah menggunakan kata- kata ‘demi Allah’ jika mengucapkan sumpah. Hanya saja, mereka juga sering menyebut nama patung-patung mereka, ‘demi Lata’ atau ‘demi Uzza’, ‘demi punggung istriku’, atau bahkan ‘demi kuburan ibuku’, dalam sumpah mereka.
Kapan istilah ‘Allah’ pertama kali dikenal manusia? Tidak tahu persis. Diperkirakan tidak akan jauh dari periode kemunculan agama Islam yang dibawa Rasulullah di tanah Arab. Tapi apakah berarti, pada periode sebelum itu, Allah diam saja di langit sana, dan tidak memperkenalkan diri-Nya? Rasanya kok tidak demikian ya. Saya suka bertanya-tanya, misalnya dengan nama apa Allah mengenalkan diri-Nya pada nabi Ya’kub as dan nabi Musa as, nabi bangsa Bani Israil? Karena pada kenyataannya, bangsa yahudi sekarang tidak menyebut nama-Nya dengan sebutan ‘Allah’ yang sesuai dengan bahasa Arab.
Kitab suci dari Allah yang kita kenal ada empat: Taurat, Zabur, Injil, dan kitab penutup dan penyempurna semuanya, Al-Qur’an. Taurat, atau Torah, turun kepada Nabi Musa as. Karena Musa adalah orang Bani Israil, tentu kitab yang turun pun berbahasa mereka, Ibrani. Demikian pula Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Semua turun dan disampaikan dengan bahasa penerimanya.
Jadi, apakah salah jika orang yang kebetulan beragama lain, menyebut nama Allah dengan nama yang turun pada bahasa kitab mereka? Apakah itu Tuhan yang lain? Belum tentu. Sekali lagi, kita tidak boleh terlalu cepat ‘mengkafir-kafirkan’, termasuk mengkafirkan bahasa dan istilah.
Ada banyak sekali irisan kemiripan bahasa-bahasa agama dalam sejarah. Sebagai contoh, nama ‘Allah’, sangat mirip dengan ‘Eloh’. Dalam kitab-kitab Ibrani, Tuhan disebut sebagai ‘Eloheim’. Dari asal kata ini, kita mengerti misalnya arti kata ‘betlehem.’ Dari asal katanya, Bethel dan Eloheim. ‘Bethel’ bermakna rumah, dan ‘Eloheim’ adalah Allah. Rumah Allah. Jika demikian, apa bedanya kata ‘Betlehem’ dengan ‘Baytullah’?
Juga ‘Yehova’ atau ‘Yahwe’, sangat mirip dengan ‘Ya Huwa’, Wahai Dia (yang tak bernama). Yang agak ‘mencurigakan’, adalah inti ajaran Socrates, ‘Gnothi Seauthon’, yang artinya adalah ‘Kenalilah Dirimu.’ Dari segi makna, ini sangat mirip dengan inti hadits yang sering diulang-ulang oleh para sahabat Rasulullah maupun para sufi terkemuka, ‘man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,’ mereka yang ‘arif tentang dirinya, akan ‘arif pula tentang Rabb nya.’ Esensinya sangat mirip: mengenal diri. Dan sebuah fakta yang tak kalah menariknya, sejarah mencatat bahwa Socrates adalah guru dari Plato, Plato guru dari Aristoteles, dan Aristoteles adalah guru dari Alexander of Macedon. Sosok yang terakhir ini oleh sebagian ahli tafsir disamakan dengan Iskandar Dzulqarnayn, sosok panglima yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua tuhan sama saja, yang berbeda hanya namanya. Atau dewa pada tiang totem yang disembah bangsa indian apache adalah Allah juga. Bukan begitu. Saya hanya mengatakan bahwa kita sebaiknya jangan terlalu ‘alergi’ dengan kata-kata agamis dari agama lain. Kita harus berhati-hati sekali untuk ‘mengkafirkan’ istilah. Sebab kalau ternyata salah, maka artinya kita ‘mengkafirkan’ sebuah hikmah atau sebuah tanda dari-Nya. Maka kita akan semakin jauh saja dari kebenaran.
Bukankah Allah pasti menyebarkan jejak-Nya di mana-mana, sepanjang zaman? Dan jangan berfikir bahwa Allah hanya pernah dan hanya mau ‘muncul’ di agama kita saja. Ini berarti kita, sebagai makhluk, berani-berani menempatkan Allah dalam sebuah himpunan, ke sebuah konsep di dalam kepala kita. Himpunan deretan tuhan, atau himpunan kelompok agama.
Allah adalah Tuhan. La Ilaha Ilallah. Dia ada di luar himpunan apapun. Dia tak beragama, dan tidak memeluk agama apapun. Karena itu, kita jangan berfikir, baik sadar maupun tidak, bahwa Allah ‘beragama Islam’.
Agama diciptakan-Nya sebagai jalan untuk memahami-Nya, memahami kehidupan, dan memahami diri ini. Segala sesuatu Dia ciptakan dan Dia akhiri. Maka Allah adalah sumber dan akhir segalanya. Dua asma- Nya adalah ‘Al-Awwal’ dan ‘Al-Akhir’. Ini pun sebuah kebetulan yang menarik, karena bangsa Yunani kuno, bangsanya Socrates dan Plato, eyang guru dari Alexander tadi, juga menyebut salah satu nama yang dimiliki Tuhan mereka sebagai ‘Alpha Omega’, berarti ‘Yang Awal dan Yang Akhir’ (Alpha = Alif = huruf awal dalam alfabet yunani dan arab, simbol ‘awal’; sedangkan Omega = huruf terakhir dalam alfabet yunani, simbol ‘akhir’). Kemiripan yang sangat menarik, ya?

User avatar
osho
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Re: TUHAN

Post by osho »

pencari_tuhan wrote:Allah adalah Tuhan. La Ilaha Ilallah. Dia ada di luar himpunan apapun. Dia tak beragama, dan tidak memeluk agama apapun. Karena itu, kita jangan berfikir, baik sadar maupun tidak, bahwa Allah ‘beragama Islam’.
Agama diciptakan-Nya sebagai jalan untuk memahami-Nya, memahami kehidupan, dan memahami diri ini. Segala sesuatu Dia ciptakan dan Dia akhiri. Maka Allah adalah sumber dan akhir segalanya. Dua asma- Nya adalah ‘Al-Awwal’ dan ‘Al-Akhir’. Ini pun sebuah kebetulan yang menarik, karena bangsa Yunani kuno, bangsanya Socrates dan Plato, eyang guru dari Alexander tadi, juga menyebut salah satu nama yang dimiliki Tuhan mereka sebagai ‘Alpha Omega’, berarti ‘Yang Awal dan Yang Akhir’ (Alpha = Alif = huruf awal dalam alfabet yunani dan arab, simbol ‘awal’; sedangkan Omega = huruf terakhir dalam alfabet yunani, simbol ‘akhir’). Kemiripan yang sangat menarik, ya?
semua yang anda paparkan diatas memang sesuai dengan logika saya, dan saya setuju dengan pendapat anda.

Dan yang ingin kutanyakan adalah dalam doa kalian dikatakan Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasulnya.
Karena anda mungkin Muslim. Tepatlah saat ini saya mau bertanya dengan ayat Quran dibawah ini...

[3.32] Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".

Bagaimana pendapat Sdr tentang ayat tersebut bilamana Kita mengakui Tuhan yang disebut dengan Allah ini, tapi tentunya kita tidak mengikuti dengan Muhammad sebagai Rasulnya.

Kenafa Allah tidak menyukai orang-orang seperti kami-kami ini.....???
Adakah yang salah dengan kami.....????
Apakah hanya satu jalan melalui Muhammad yang diakui oleh Allah....???
Mohon penjelasan sdr pencari tuhan.....
terimakasih

pencari_tuhan
Posts: 14
Joined: Thu Jun 22, 2006 4:30 pm

Post by pencari_tuhan »

Apakah orang yang tidak beragama Islam semuanya tidak beriman, semuanya laknatullah, atau semuanya ahli neraka? Belum tentu. Kita harus berhati-hati sekali karena ada ayat-ayat ini dalam Al-Qur’an.

Q.S. 3:199, “Dan sesungguhnya di antara para ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Rabb-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungannya.”

Q.S. 3:113, “Mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” Q.S.3:114, “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan bersegera kepada mengerjakan kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”
Dan yang membuat kita harus lebih berhati-hati lagi, camkanlah bahwa tidak semua orang yang ber-Islam dengan sendirinya telah beriman. Kita perhatikan ayat berikut ini:

Q. S. 49 : 14, “Orang-orang Arab (badui) itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah ber-Islam’ (perhatikan teks Qur’an-nya: ‘aslamna’ artinya ‘kami telah berserah diri’, di terjemahan Indonesia menjadi ‘kami telah tunduk’), karena iman itu belum masuk ke dalam qalb-qalb mu (quluubikum)…”
Perhatikanlah pada ayat di atas, bahwa beriman hingga masuk ke hati itu setingkat di atas tingkatan Islam. Dengan demikian, bisa jadi seseorang telah ber-Islam, tapi belum tentu dia memiliki iman.

Jadi menurut saya, mengatakan kafir pada orang lain meskipun mudah di lidah, bisa jadi merupakan hal yang beresiko besar untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak. Di sisi lain, kita tidak perlu marah jika seandainya dihujat sebagai kafir, karena sangat mungkin memang masih banyak kekufuran dalam diri kita ini.

pencari_tuhan
Posts: 14
Joined: Thu Jun 22, 2006 4:30 pm

Ma'na kafir

Post by pencari_tuhan »

A. Makna ‘Kafir’
Mari kita buka Al-Qur’an. Kita biasakan mencari definisi qur’aniyah dari segala istilah agama yang kita kenal. Dengan demikian, kita akan terbiasa untuk membuka Al-Qur’an dan pelan-pelan Insya Allah kita akan merasakan Al-Qur’an benar-benar berfungsi bagi kehidupan kita. Kita belajar untuk memahami agama ini, bukan sekedar menghafal dalil-dalil agama yang belum tentu benar, apa lagi menggunakannya untuk, misalnya, mendebat orang lain. Ini tentu bukan hal yang baik.

Definisi qur’aniyyah dari kata ‘orang kafir’, bisa kita temukan di surat Al-Kahfi ayat 100 dan 101.

Q.S. 18:100, “dan Kami tampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir (Al-Kafiriin) dengan jelas.”
Q.S. 18:101, “yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari ‘zikri’ (diterjemahkan di terjemahan qur’an bahasa Indonesia dengan kata ‘memperhatikan’) terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.”

Dari dua ayat di atas, kita dapatkan definisi qur’aniyyah dari kata ‘kafir’. Al-Kafiriin, atau orang-orang kafir, adalah mereka yang matanya tertutup dari ‘zikri’ terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, dan telinganya tidak sanggup mendengar.
Jika demikian, apakah orang yang kebetulan ketika lanjut usia ia menjadi tuli atau menjadi buta karena usia tua, apakah ia berarti ditakdirkan akan mati dalam keadaan kafir? Atau, jika seseorang kebetulan ditakdirkan tuli atau buta sejak lahir, apakah artinya ia ditakdirkan untuk hidup sebagai orang kafir? Sebab sama sekali bukan keinginannya untuk dilahirkan sebagai orang buta atau tuli. Apakah Allah menakdrkannya kafir karena kebetulan lahir sebagai orang tuli atau buta?
Tentu jawabannya tidak. Semua orang, termasuk mereka yang buta atau tuli, diberi-Nya kesempatan untuk mati kelak dalam keadaan diridhoi-Nya.
Jika demikian, mata dan telinga mana yang tertutup?
Jawabannya bisa kita dapatkan pada Al-Qur’an surat Al-Hajj (22) ayat 46.

Q.S. 22:46, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalb-qalb mereka (quluubun) yang ada di dalam dada.”

Dari definisi Qur’an tersebut, yang disebut ‘kafir’ bukanlah orang yang berbeda agama. Yang disebut kafir adalah mereka yang mata dan telinga qalb di dalam dadanya tidak berfungsi. Asal kata ‘kafir’ dan ‘kufur’ adalah ‘kafara’ yang artinya ‘tertutup’ (kata ini jkemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘cover’ artinya penutup). ‘Kafir’ adalah mereka masih yang tertutup dari ‘Al-Haqq’ (kebenaran mutlak).
Mata dan telinga yang di dalam dada, maksudnya adalah mata dan telinga yang adanya bukan pada level jasad kita, tapi lebih dalam lagi. Mata dan telinga yang dimaksud adalah mata dan telinga yang ada dalam qalb kita, dalam dada/shuduur, yang ada pada level jiwa (nafs). Shuduur artinya ‘dada spiritual’, sebagaimana hati yang biasa kita kenal bukanlah liver maupun jantung, tapi lebih kepada ‘hati spiritual’ seperti nurani.
Jiwa atau nafs itu, jiwa yang mana? Kita mengetahui, bahwa ada tiga unsur yang dipersatukan dalam membentuk satu manusia yang hidup, yaitu Ruh, Nafs (jiwa), dan Jasad. Jiwa inilah, yang diabadikan dalam Q.S. 7:172, yang dahulu sekali disumpah di hadapan Allah untuk menjadi saksi (syahid, perhatikan kata bahasa arabnya: syahidna, kami bersaksi) mengenai siapakah Rabb mereka.

Q.S. 7:172, “Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap nafs-nafs (jiwa-jiwa, anfusihim) mereka: “Bukankah aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi (syahidna)”.

Nafs, atau jiwa, inilah yang diminta persaksiannya dahulu, dan kelak akan diminta pertanggungan jawabnya ketika mati. Sementara pada saat itu jasad kita terurai menjadi tanah, dan ruh kita yang menjadi daya hidup bagi jasad (fungsinya mirip seperti energi yang ada pada baterai) kembali pada-Nya. Kita tidak mengetahui apa-apa tentang ruh, karena ruh adalah urusan Allah. Disebutkan dalam Q.S. 17 : 85, “Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentangnya) melainkan sedikit.”
Dengan demikian, barangsiapa yang mata dan telinga yang ada dalam dadanya ini belum berfungsi, pada dasarnya ia masih ‘kafir’, atau tertutup. Ia tidak akan bisa memahami petunjuk Allah, karena petunjuk Allah diturunkan bukan ke telinga dan mata jasad kita, tapi ke ‘mata dan telinga’ qalb pada level jiwa (nafs) kita.
Dasar dari hal ini bisa kita lihat dalam surat At-Taghabuun ayat 11:

Q.S. 64:11, “… Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalb nya (di terjemahan qur’an ditulis: ‘kepada hatinya’).”

Dan, barangsiapa yang mata dan telinga dalam dadanya belum berfungsi, dia tidak akan mampu memahami Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, karena Al-Qur’an sebenarnya bukan untuk dihafal dalam otak. Sebagaimana yang dialami Rasulullah, Al-Qur’an diturunkan ke dalam dadanya. Rasulullah seorang yang buta huruf, tapi bagaimana Beliau saw. bisa memahami Al-Qur’an hingga ke hakikat terdalamnya? Karena Al-Qur’an seharusnya, dan sesungguhnya, ada dalam dada, bukan dalam kepala.

Q.S. 29:49, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”

Al-Qur’an dalam dada (qalb di dalam shuduur/dada) kita inilah yang akan kita bawa hingga ke akhirat kelak, dan bukan Al-Qur’an yang dihafalkan dalam kepala. Ketika mati kelak, otak kita dan segala apa yang ada dalam kepala kita akan hancur menjadi tanah. Kita harus memahami dengan hati hingga ke tingkat makna dan hakikatnya, bukan sekedar menghafalkan dalil-dalil Qur’ani di kepala.

Dari data-data di atas, maka bisa kita pahami makna ‘kafir’. Kata ‘kafir’ bukan berarti mereka yang tidak beragama Islam. ‘Kafir’ adalah mereka yang telinga dan mata dalam dadanya belum berfungsi, sehingga tertutup dari Al-Haqq (kebenaran mutlak, kebenaran Ilahiyah). Dengan demikian, bahkan saya sendiri masih kafir karena mata dan telinga jiwa saya belum berfungsi dengan baik, belum sempurna dalam melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, dan belum memahami Al-Qur’an dengan sempurna.
Untuk memperkuat bahwa makna ‘kafir’ sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan qalb dan tidak secara langsung terkait dengan perbedaan agama, kita lihat lagi dua ayat berikut yang sangat terkenal:
Q.S. Al-Baqarah (2) : 6 - 7,

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman [6].”
“Allah telah mengunci mati hati (qalb-qalb, quluubihim) dan pendengaran mereka, dan pengelihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat [7].”

Sayang dua ayat di atas sering dijadikan dalil untuk bersikap kurang bersahabat terhadap saudara kita yang beragama lain. Padahal, seandainya kita lebih teliti lagi, kata ‘kafir’ sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan hati, bukan dalam konteks perbedaan agama.
Ayat ini sama sekali bukan rujukan supaya kita menunjukkan sikap tidak bersahabat pada saudara-saudara kita dari agama lain. Ayat ini justru memperkuat keterangan tadi, bahwa ‘kafir’ ada dalam konteks ketertutupan qalb, dan bukan dalam konteks perbedaan agama. Bukankah Allah menempatkan dua ayat ini secara berdampingan? Tentu ini sama sekali bukan kebetulan yang tanpa makna. ‘Kafir’ adalah sebuah kondisi (ruhaniyyah) tentang qalb, bukan status (keagamaan).
Jadi, secara sederhana bisa kita katakan bahwa orang kafir adalah orang yang qalb-nya masih tertutup dari Al-Haqq (kebenaran ilahiyah), dan tidak secara langsung terkait dengan orang-orang yang tidak beragama Islam.

Kondisi kafir sendiri bertingkat-tingkat, dari yang sama sekali tidak bisa memahami Al-Haqq, sedikit memahami, agak memahami, cukup memahami, dan seterusnya. Kadar kekufuran seseorang berbeda-beda, tergantung sejauh mana ia mampu memahami kebenaran (ilahiyyah). Kini semakin jelas bahwa kekafiran adalah sebuah kondisi, bukan status.
Karena saya sendiri masih kafir (atau masih banyak kekufuran yang ada dalam diri saya), jelas tidak ada gunanya bagi saya untuk menyebut orang lain, atau orang yang tidak beragama Islam, sebagai orang kafir. Hal ini tidak akan menambah kebaikan apapun bagi diri saya, bahkan justru akan menambah dosa saja

User avatar
osho
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Post by osho »

pencari_tuhan wrote:Jadi menurut saya, mengatakan kafir pada orang lain meskipun mudah di lidah, bisa jadi merupakan hal yang beresiko besar untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak. Di sisi lain, kita tidak perlu marah jika seandainya dihujat sebagai kafir, karena sangat mungkin memang masih banyak kekufuran dalam diri kita ini.
Semua yang anda katakan bisa saya mengerti.

Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Pengasih....Yang menciptakan seluruh keberadaan dan seluruh makhluk. Tentulah Allah lebih mengetahui dari kita.
Maafkan saya, bila pertanyaan ini agak meragukan tentang ayat-ayat dibawah ini......
Karena menurut logika saya ayat-ayat dibawah ini tidak sesuai dengan sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

[4.74] Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.

[4.75] Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!".

[4.76] Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.

Kenapa Allah harus menyuruh kita berperang....meskipun kita tak menyukainya......????
Apakah sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih itu telah hilang.....????

Dan satu lagi pertanyaan saya
Apakah Allah memerlukan pembagian harta......????
Dan kenafa Allah menghalalkan harta RAMPASAN....?

[8.1] Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman".

Demikian pertanyaan saya.
Benarkah pernyataan ayat-ayat tersebut adalah perintah atau wahyu Allah.
Bila ada salah , maka maafkanlah saya.
terimakasih

pencari_tuhan
Posts: 14
Joined: Thu Jun 22, 2006 4:30 pm

Post by pencari_tuhan »

Sekali lagi pahamilah ayat-ayat Allah dengan hati bukan dengan logika.

Ini salah satu contoh

Makna ‘Syuhada’

Kata ’syuhada’, dalam buku agama Islam di masa sekolah dasar saya dulu, maknanya diartikan sebagai orang yang gugur di medan perang melawan ‘musuh Islam’. Maka ketika dewasanya orang berlomba-lomba ingin berperang (atau membuat perangnya sendiri dan musuhnya sendiri) karena ingin mati sebagai syuhada, yang jaminannya adalah surga.

Ada sebuah hadits yang ‘menggelitik’:
“Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).

Bagaimana mungkin mati di tempat tidur mendapatkan derajat kematian seperti seorang syuhada?

Ini bisa kita pahami, jika kita teliti Al-Qur’an. Kata ’syuhada’, akar katanya sama dengan kata pada syahadat kita ‘Asyhadu’, artinya bersaksi, mempersaksikan dengan sepenuh kepercayaan, dengan sepenuh keyakinan (mengenai Tuhannya). Kata ’syuhada’ tidak semata-mata berarti orang yang mati di medan perang. Kata ’syuhada’ berarti ‘orang yang telah mempersaksikan (dengan sebenar-benarnya)’.

Di Al-Qur’an ayat 7 : 172 tadi, ketika Allah mengambil persaksian dari jiwa-jiwa manusia, kata yang dipakai adalah ‘Asyhadahum ala anfusihim’, mengambil persaksian atas jiwa-jiwa mereka. Dan jiwa-jiwa tersebut menjawab, ‘Qaalu, bala syahidna,” benar, sesungguhnya kami bersaksi.
Demikian pula kata yang sama (syuhada) dipakai dengan jelas di Q.S. Al-Hadiid ayat 19,

Q.S. 57:19, “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, mereka itu orang-orang Shiddiqiin dan ‘syuhada inda Rabbihim’ (menjadi saksi di sisi rabb mereka), bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”
Maka jelas bahwa ’syuhada’ berarti orang yang mempersaksikan (kebenaran Ilahiyah). Menjadi syuhada tidak harus melalui peperangan.

Seorang yang meninggal di atas tempat tidurnya pun bisa menjadi seorang syuhada, asal ia benar-benar memintanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

User avatar
osho
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Post by osho »

pencari_tuhan wrote:Sekali lagi pahamilah ayat-ayat Allah dengan hati bukan dengan logika.
Ok lah mungkin Anda telah berusaha memjawab pertanyaan saya dengan sebaik-baiknya.
Meskipun kurang memuaskan bagi saya. Tapi tak apa-apa.

Ini pertanyaan saya yang terakhir.
Kenapa Allah menghalalkan pembunuhan.....?????

[2.191] Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.

[4.89] Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

[4.91] Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman daripada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), mereka pun terjun ke dalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka, dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.

[9.5] Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

33.61] dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.


Kenapa Allah Yang Maha Pengasih membenarkan bahkan menyuruh untuk membunuh manusia....????
Sekali lagi pahamilah ayat-ayat Allah boleh dengan hati atau dengan logika.

Mungkinkah yang dikatakan Allah yang Maha Benar, Allah Yang Maha Adil, Allah Yang Maha Pengasih dst.....mempunyai sifat MEMBUNUH....Walaupun manusia itu menyerang pada saat dulu waktu perang, atau apa saja dosa atau kesalahan yang paling besar sekalipun.
Pantaskah Allah memerintahkan untuk membunuh manusia tersebut, dimana manusia tersebut juga adalah made in Allah juga.

Yang ingin kutanyakan adalah KENAPA ALLAH menyuruh membunuh....?????
Biarpun manusia itu mau menyerang, mengancam atau mempunyai kesalahan paling besar sekalipun KENAFA.......???????
Biarpun alasan apa aja, kesalahan apa aja, kenapa harus menyuruh dibunuh....?????
Apakah ini yang disebut Allah.....?????

Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terimakasih atas jawaban Sdr Pencari Tuhan

pencari_tuhan
Posts: 14
Joined: Thu Jun 22, 2006 4:30 pm

Post by pencari_tuhan »

Baik sahabatku, kita sepakat Al Qur'an adalah petunjuk bagi manusia hudan lin naas.

Pertanyaanmu kanapa Al Qur'an menyuruh membunuh, merampas harta perang dimana konteks kesucian Al Qur'an. Sayapun dalam memahaminya sama seperti sahabatku. Tapi saya coba mencari terus kebenaran ini. Saya coba pahami dalam pemahaman saya saya menemukan banyak hal. Coba kita telurusi ya.

Dalam QS-2:84 dan 85
(84) Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.

(85) Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat

Ini juga larangan;
QS-6:151
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar . Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

Lihat ayat ini QS-17:33
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

QS-25:68
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),

Sekarang perhatikan dengan seksama ayat yang memerintahkan membunuh;

QS-4:89
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

QS-4:91
Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Ternyata Allah menunjukan kepada manusia agar jangan membunuh atas jiwa yang diharamkan dibunuh. Tapi ada jiwa yang dengan kondisi tertentu boleh dibunuh, termasuk ayat yang sahabatku sampaikan diatas.

Saya coba pahami dengan perenungan ternyata dalam menegakkan yang Haq dan mencegah kemunkaran atau kerusakan di muka bumi ini kita boleh melakukan sesuatu yang dilarang tapi jangan melampaui batas. Nanti kita coba pahami lagi pernyataan Tuhan tersebut dalam sifat-sifat-Nya sehingga kita bisa menerima dan memahami ini semua.

Post Reply