.

dajjal

Pembelaan bahwa Islam adalah ajaran dari Tuhan.

Postby Sashimi » Mon Apr 30, 2007 7:09 am

dajjal bukannya emang muslim?
Sashimi
 
Posts: 3813
Joined: Sun Jul 09, 2006 8:19 am

Postby Jesuz_Masuk_Islam! » Mon Apr 30, 2007 8:34 pm

Sashimi wrote:dajjal bukannya emang muslim?


Muslim palsu tuh... Masa sih ngaku2 Tuhan padahal ga ada di Quran...
Jesuz_Masuk_Islam!
 
Posts: 147
Joined: Tue Apr 10, 2007 7:18 pm
Location: Orang Bandung

Postby asbunawas » Wed May 16, 2007 2:21 pm

Topiknya sih menarik nih Kisah Tentang Cerita Dajjal.., cuman kelakuan netternya koq kayak dajjal juga ya?..saling menebar kebencian antar manusia..hehehe...
asbunawas
 
Posts: 889
Joined: Thu Apr 27, 2006 1:48 pm
Location: underground

Postby Aljihad » Sat May 19, 2007 12:24 am

asbunawas wrote:Topiknya sih menarik nih Kisah Tentang Cerita Dajjal.., cuman kelakuan netternya koq kayak dajjal juga ya?..saling menebar kebencian antar manusia..hehehe...


ya itulah...katanya beradab....
Aljihad
 
Posts: 14
Joined: Mon May 14, 2007 10:06 pm

Postby anak_buah » Sun May 20, 2007 10:27 pm

DAJJAL emang harus mati.

ingatlah saudara ku,percayalah bahwa dajjal tak hanya mendustakan ISLAM tetapi juga KERISTEN
anak_buah
 
Posts: 55
Joined: Sun May 20, 2007 8:25 pm

Postby lnua » Sun May 20, 2007 11:03 pm

sanada wrote:percaya enggak percaya.... semuanya berpulang kepada anda


saya tertarik dg topik ini.
Karena begitu mirip dg prediksi kedatangan 'antichrist' yg dimiliki Kristen

Bisakah anda jelaskan, dari mana informasi yg anda dapatkan tsb?
(bila berasal dari artikle - artikle tersebut dapat info dari mana, ayat Quran yg mana, ayat hadits yg mana??)

Mengapa harus nabi Isa yg membunuh Dadjal yg kedengarannya sangat hebat (berumur 'kekal'- lebih dari manusia biasa, ada di sepanjang sejarah, kemampuan tinggi)?
Mengapa bukan Nabi Muhammad yg dipercayai sebagai tersuci & agung, apakah memang bukan tadingannya?

saya tunggu
lnua
 
Posts: 457
Joined: Mon May 15, 2006 8:16 pm

Postby lnua » Sun May 20, 2007 11:38 pm

Apakah tidak ada muslims yg bisa bantu saya beri kejelasan mengenai pertanyaan2 di atas?

Haruskah kita membiarkan Bob_20 yg 'tidak dungu' ;) ini utk 'have the last words?' dan menghina kita2 yg memiliki Tuhan?
lnua
 
Posts: 457
Joined: Mon May 15, 2006 8:16 pm

Postby anak_buah » Sun May 20, 2007 11:47 pm

DAJJAL DAN YA’JUJ WA-MA’JUJ MENURUT AL-QUR’AN



Kata Dajjal tak tertera dalam Al-Qur’an, tetapi dalam Hadits sahih diterangkan, bahwa sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir dari surat al-Kahfi melindungi orang dari fitnahnya Dajjal, jadi menurut Hadits ini, Al-Quran memberi isyarat siapakah Dajjal itu. Mengenai hal ini diterangkan dalam Kitab Hadits yang amat sahih sebagai berikut:



“Barang siapa hapal sepuluh ayat pertama Surat Al-Kahfi, ia akan selamat dari

(fitnahnya) Dajjal.”



“Barang siapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi, ia akan selamat dari (fitnahnya) Dajjal.”



Boleh jadi, dalam menyebut sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir, itu yang dituju ialah seluruh surat Al-Kahfi yang melukiskan ancaman Nasrani yang beraspek dua, yang satu bersifat keagamaan, dan yang lain bersifat keduniaan. Bacalah sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi, anda akan melihat seterang-terangnya bahwa yang dibicarakan dalam dua tempat itu adalah ummat Nasrani.



Mula-mula diuraikan aspek keagamaan, yang dalam waktu itu Nabi Muhammad dikatakan sebagai orang yang memberi peringatan umum kepada sekalian manusia (ayat 2), lalu dikatakan sebagai orang yang memberi peringatan khusus kepada ummat Nasrani (ayat 4), yaitu ummat yang berkata bahwa Allah memungut Anak laki-laki. Demikianlah bunyinya:



“Segala puji kepunyaan Allah Yang menurunkan Kitab kepada hamba-Nya …, … agar ia memberi peringatan tentang siksaan yang dahsyat dari Dia… dan ia memperingatkan orang-orang yang berkata bahwa Allah memungut anak laki-laki.” (18:1-4).



Terang sekali bahwa yang dituju oleh ayat tersebut ialah ummat Nasrani, yang ajaran pokok agamanya ialah Tuhan mempunyai Anak laki-laki. Dalam sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi diuraikan seterang-­terangnya, bahwa ummat Nasrani mencapai hasil gemilang di lapangan duniawi. Demikianlah bunyinya :



“Apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka dapat mengambil hamba-Ku sebagai pelindung selain Aku?… Katakan Apakah Kami beritahukan kepada kamu orang-orang yang paling rugi perbuatannya? (Yaitu) orang yang tersesat jalannya dalam kehidupan dunia, dan mereka mengira bahwa mereka adalah orang yang mempunyai keahlian dalam membuat barang-barang.” (18: 102-104).



Ini adalah gambaran tentang bangsa-bangsa Barat yang diramalkan dengan kata-kata yang jelas. Membuat barang adalah keahlian dan kebanggaan ummat Nasrani, dan ciri-khas inilah yang dituju oleh ayat tersebut. Mereka berlomba-lomba membuat barang-barang, dan mereka begitu sibuk datam urusan ini, sehingga penglihatan mereka akan nilai-nilai kehidupan yang tinggi, menjadi kabur sama sekali. Membuat barang-­barang, sekali lagi membuat barang-barang, adalah satu-satunya tujuan hidup mereka di dunia. Jadi, sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi menerangkan dengan jelas bahayanya ajaran Kristen tentang Putra Allah, dan tentang kegiatan bangsa-bangsa Kristen di lapangan kebendaan, dan inilah yang dimaksud dengan fitnahnya Dajjal.



Ya’juj wa-Ma’juj diuraikan dua kali dalam Al-Quran. Yang pertama diuraikan dalam surat al-Kahfi, sehubungan dengan uraian tentang gambaran Dajjal. Menjelang berakhimya surat al-Kahfi, diuraikan tentang perjalanan Raja Dhul-Qarnain* ke berbagai jurusan untuk memperkuat tapal-batas kerajaannya.



Ternyata bahwa menurut sejarah, raja ini ialah raja Persi yang bernama Darius I. Diterangkan dalam surat tersebut, bahwa perjalanan beliau yang pertama, berakhir di laut Hitam. “Sampai tatkala ia mencapai ujung yang paling Barat, ia menjumpai matahari terbenam dalam sumber yang berlumpur hitam.” (18:86). Ternyata bahwa yang dimaksud sumber yang berlumpur hitam ialah Laut Hitam.



Selanjutnya diuraikan dalam surat tersebut, kisah perjalanan beliau ke Timur “Sampai tatkala ia mencapai tempat terbitnya matahari, ia menjumpai matahari terbit di atas kaum yang tak Kami beri perlindungan dari (matahari) itu” (18:90). Selanjutnya diuraikan tentang perjalanan beliau ke Utara. “Sampai tatkala ia mencapai (suatu tempat) diantara dua bukit” (18:93).



Yang dimaksud dua bukit ialah pegunungan Arme­nia dan Azarbaijan. Dalam perjalanan ke Utara ini, raja Dhul-Qarnain berjumpa dengan suatu kaum yang berlainan bahasanya, artinya, mereka tak mengerti bahasa Persi. Kaum ini mengajukan permohonan kepada raja Dhul-Oarnain sbb: “Wahai Dhul-Qarnain! Sesungguhnya Ya’juj wa-Ma’juj itu membuat kerusakan di bumi. Bolehkah kami membayar upeti kepada engkau, dengan syarat sukalah engkau membangun sebuah rintangan antara kami dan mereka” (18:94).



Selanjutnya Al-Qur’an menerangkan, bahwa raja Dhul-Qarnain benar-benar membangun sebuah tembok** dan sehubungan dengan itu, Al-Qur’an menyebut-nyebut besi dan tembaga sebagai bahan untuk membangun pintu gerbang:



“Berilah aku tumpukan besi, sampai tatkala (besi) itu memenuhi ruangan di antara dua bukit, ia berkata: ‘Bawalah kemari cairan tembaga yang akan kutuangkan di atasnya’ (18:96). Dalam ayat 97 diterangkan, bahwa tatkala tembok itu selesai, mereka (Ya’juj wa-Ma’juj) tak dapat menaiki itu, dan tak dapat pula melobangi itu. Dalam ayat 98, raja Dhul-Qarnain menerangkan, bahwa bagaimanapun kuatnya, tembok ini hanya akan berfaedah sampai jangka waktu tertentu, dan akhirnya tembok ini akan runtuh. Lalu kita akan dihadapkan kepada peristiwa yang lain. “Dan pada hari itu, Kami akan membiarkan sebagian mereka (Ya’juj wa-Ma’juj) bertempur melawan sebagian yang lain” (18:99).



*[Kata Dhul-Qarnain makna aslinya “mempunyai dua tanduk”, tetapi dapat berarti pula “orang yang memerintah dua generasi”, atau, “orang yang memerintah dua kerajaan. Makna terakhir ini diberikan oleh musafir besar Ibnu Jarir. Dalam kitab perjanjian lama, Kitab Nabi Daniel, terdapat uraian tentang impian nabi Daniel, dimana ia melihat seekor domba bertanduk dua. Impian itu ditafsirkan dalam al-Kitab dengan kata-kata sebagai berikut: “Adapun domba jantan, yang telah kau lihat dengan tanduk dua pucuk, yaitu raja Media dan Persi, (Daniel 8:20). Diantara raja Media dan Persi, yang paling cocok dengan gambaran Al-Quran, ialah raja Darius I (521-485 sebelum Kristus).



Jewish Encyclopaedia menerangkan sbb : “Darius adalah negarawan yang ulung. Peperangan yang beliau lakukan hanyalah dimaksud untuk membulatkan tapal-batas kerajaannya, yaitu di Armenia, Kaukasus, India, sepanjang gurun Turania dan dataran tinggi Asia Tengah”. Pendapat ini dikuatkan oleh Encyclopaedia Britannica sbb: “Tulisan yang diukir dalam batu menerangkan bahwa raja Darius adalah pemeluk agama Zaratustra yang setia. Tetapi beliau juga seorang negarawan yang besar. Pertempuran yang beliau lakukan, hanyalah untuk memperoleh tapal-batas alam yang kuat bagi kerajaannya, demikian pula untuk menaklukkan suku bangsa biadab di daerah perbatasan. Jadi, raja Darius menaklukkan bangsa biadabdi pegunungan Pontic dan Atmenia,dan meluaskan kerajaan Persia sampai Kaukasus”].



**[Rintangan atau tembok yang diuraikan disini ialah tembok yang termasyur di Derbent (atau Darband) yang terletak di pantai Laut Kaspi. Dalam kitab Marasidil - Ittila’, kitab ilmu-bumi yang termasyur, terdapat uraian tentang hal itu. Demikian pula dalam kitabnya lbnu at-Faqih. Encyclopaedia Biblica menjelaskan tembok itu sbb :.Derbent atau Darband adalah sebuah kota kerajaan Persi di Kaukasus, termasuk propinsi Daghistan, di pantai Barat laut Kaspi… Di ujung sebelah Selatan, terletak Tembok Kaukasus yang menjulang ke laut, yang panjangnnya 50 mil, yang disebut Tembok Alexander…Tembok ini seluruhnya mempunyai ketinggian 29 kaki, dan tebal ± 10 kaki; dan dengan pintu gerbangnya yang dibuat dari besi, dan berpuluh-puluh menara-pengintai, merupakan pertahanan tapal-batas kerajaan Persi yang kuat].
anak_buah
 
Posts: 55
Joined: Sun May 20, 2007 8:25 pm

Postby lnua » Mon May 21, 2007 12:06 am

anak_buah wrote:Boleh jadi, dalam menyebut sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir, itu yang dituju ialah seluruh surat Al-Kahfi yang melukiskan ancaman Nasrani yang beraspek dua, yang satu bersifat keagamaan, dan yang lain bersifat keduniaan. Bacalah sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi, anda akan melihat seterang-terangnya bahwa yang dibicarakan dalam dua tempat itu adalah ummat Nasrani.


Koreksi saya bila salah.
Jadi menurut anda Ddajal tidak tertulis dalam Quran.
Ada tersirat bahwa fitnah ddajal = ancaman dr umat Nasrani?

yaitu ummat yang berkata bahwa Allah memungut Anak laki-laki.


FYI: Saya adalah umat Kristen. Tetapi Allah saya tidak pernah memungut anak laki-laki. Allah saya pun tidak pernah mempunyai istri apalagi anak.
Yesus adalah anak Allah, bukan dalam arti 'lahiriah' seperti yg banyak org fitnahkan.
Dan saya rasa, saya lebih tahu mengenai Allah saya sendiri dari pada umat muslim. Mungkin anda salah duga. Mungkin ummat tsb adalah ummat lain.

Terima kasih atas informasinya, tetapi pertanyaan saya belum terjawab:
Siapa yg akan mengalahkan ddajal?

salam
lnua
 
Posts: 457
Joined: Mon May 15, 2006 8:16 pm

Postby Kane » Mon May 21, 2007 7:08 am

Emang dajjal itu berbentuk orang ato prilaku seh? :shock:
User avatar
Kane
 
Posts: 1619
Joined: Thu Jul 27, 2006 2:48 pm
Location: Bandung, Indonesia

Postby suluap77 » Mon May 21, 2007 11:46 am

Kane wrote:Emang dajjal itu berbentuk orang ato prilaku seh? :shock:

Ini Abah kutipin apa yg Abah baru dapat tentang Dajal.Biar ngomplitin yg udeh dikasih sama yg lainnya.

FENOMENA DAJJAL
Kategori: Artikel – Pengetahuan

Kitab Injil telah mengingatkan kita tentang akan datangnya Dajjal. Kata ‘Dajjal’ (Arab: Al-Masih ad-Dajjal “Anti Kristus”) berasal dari bahasa Suryani (Aramaik), bahasa yang digunakan ‘Isa Al-Masih, Meshiha Daggala.
Tidak seperti biasa, buku ini tidak membahas Dajjal secara eskatologis, yang akan hadir dalam sosok ‘seorang Dajjal akan datang’, tetapi ‘sekarang telah bangkit banyak dajjal’ (1 Yoh 2:18).
Dajjal-dajjal historis itu hadir dari masa ke masa dalam bentuk ajaran-ajaran sesat. Buku ini melacaknya mulai dari masa paling awal sejarah gereja, dan perkembangannya dari generasi ke generasi, hingga abad kita sekarang.

Bagaimanakah rasul-rasul, lalu murid-murid para rasul, seperti Ignatius dan Polycarpus, serta bapa-bapa gereja sesudahnya, melancarkan ‘peperangan rohani’ melawan dajjal-dajjal tersebut?
Adakah hubungan langsung Dajjal dengan Arius, yang ajarannya ditolak Konsili Nikea tahun 325 dan Saksi-Saksi Yehuwa sekarang? Apa pula hubungannya dengan The Da Vinci Code, Injil Yudas, hingga film-film Hollywood yang terlibat dalam konspirasi global melawan Allah dan KalimatNya yang Kekal, ‘Isa Al-Masih’

Buku ini mengupas tuntas semuanya, dan usai menamatkannya, anda akan menghela napas lega

Diambil dari buku FENOMENA DAJJAL, oleh Bambang Noorsena, SH, MH, MA

BAB I
1. Fenomena Dajjal Dari Masa Ke Masa: Refleksi Alkitabiyah
2. Fenomena Dajjal Menurut Surat Yahya Pertama Dan Kedua
3. Mengenali Dajjal-Dajjal Historis Pada Zaman Rasuli
3.1. Mereka Berasal Dari Kita
3.2. Mereka Menyangkal Bahwa ‘Isa Adalah Al-Masih’
3.3. Mereka Menyangkal Bahwa ‘Isa Datang Sebagai Manusia’
4. Menguak Identitas Dajjal: Asal-Usul Dan Ajaran Mereka
4.1. Latar Belakang
4.2. Reaksi Sang Rasul
5. Fenomena Dajjal-Dajjal Historis Dari Masa Ke Masa
5.1. Dajjal Generasi Pertama
5.2. Dajjal Generasi Kedua
5.3. Dajjal Generasi Ketiga
5.4. Dajjal Generasi Keempat
6. Fenomena Dajjal Masa Kini Dan Konspirasi Global Melawan Kristus
6.1. Sinetron Lama, Pemain Baru
6.2. The Unknown Life Of Jesus, Da Vince Code dan Injil Judas
6.3. The Dead Sea Scrolls dan The Lost Years Of Jesus
7. Catatan Penutup

1. Fenomena Dajjal Dari Masa Ke Masa: Refleksi Alkitabiyah
N’qumun ge’r Meshihe daggale wa Nbiyye d’ka-ddabŭta, wnittlûn atrata wa urbatâ eik dnat’on in mishektâ ak lagvayyâ.
Artinya: “Sebab dajjal-dajjal dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dasyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat 24:24, Peshita)

Istilah ‘Dajjal’ yang sangat dikenal dalam bahasa Indonesia , diturunkan dari bahasa Arab: “Al-Masîh ad-Dajjal’ (Musuh Al-Masih).
Perlu dikemukakan pula, bahwa istilah ini juga bukan bahasa Arab asli, melainkan suatu pinjaman dari bahasa Suryani (Aramaik), bahasa sehari-hari yang digunakan ‘Isa Al-Masih’. Bentuk aslinya dalam bahasa Suryani Meshiha Dajjala (Mesias palsu), seperti dikutip dari sabda Al-Masih: “N’qumun ge’ir Meshihe daggale wa nbiyye d’kaddabŭta…” artinya: “Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul ….” (Mat 24:24, Peshitta). (1)

Dalam Injil bahasa Arab ayat yang sama diterjemahkan: “Fa yathaharu musahâ’u dajjâluna wa an-biya’u kadzabun..” (2). Jadi, dalam Kitab Injil sudah diperingatkan akan muncul dajjal-dajjal dan nabi-nabi palsu. Artinya, dajjal itu jumlahnya banyak, sebanyak jumlahnya nabi-nabi palsu yang akan menyesatkan umat Allah, bahkan mereka yang terpilih sekalipun.
“Jadi”, sabda Isa Al-Masih lagi, “apabila orang berkata kepadamu: Lihat , Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau lihat, Ia ada di bilik, janganlah kamu percaya” (Mat 24:26). Itulah ‘masa-masa penyesatan’ yang akan terjadi, sejak dini sudah dinubuatkan Injil. ‘Camkanlah’, sabda Al-Masih, “Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu” (Mat 24:25).

Kalau begitu, kapankah ‘masa-masa penyesatan’ yang dinubuatkan itu terjadi? Berdasarkan ayat-ayat Injil di atas, ada 2 tanda yang perlu di cermati:
Pertama, beberapa saat menjelang dan setelah kehancuran Bait Al-Maqdis (Ibrani: Beit Hammiqdash, ‘Bait Suci’) di Yerusalem, dajjal-dajjal sudah mulai bermunculan. Perlu dicatat pula, betapa terkagum-kagum murid-murid Al-Masih melihat kemegahan Bait Allah bangunan Herodes itu. “Aku Berkata kepadamu, Sesungguhnya tidak satupun batu di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan” (Mat 24:2). Nubuat ini benar-benar terjadi, pada tahun 70 Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah itu. Hanya Tembok Ratapan (Haitun Al-Mubakâ), satu-satunya bagian yang tersisa, menjadi saksi bisu dari peristiwa yang diratapi orang-orang Yahudi sampai hari ini. Saat-saat setelah peristiwa itu, dajjal-dajjal historis sebenarnya sudah bermunculan.

Kedua, sejak saat itu fenomena dajjal-dajjal yang bermunculan itu akan terus mencapai puncaknya sampai kedatangan isa Al-Masih yang menandai datangnya akhir zaman. “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia” (Mat 24:27). Dalam makna kedua ini, sosok Dajjal dengan fenomenanya yang semakin menggoncang dunia, akan segera diakhiri dengan kedatangan kembali Al-Masih Isa Putra Maryam sebagai Hakim yang adil atas semua manusia, setelah terlebih dahulu mengalahkan al-Masih ad-Dajjal pada akhir zaman.

2. Fenomena Dajjal Menurut Surat Yahya Pertama Dan Kedua
Rasul Yahya bin Zabdi, salah seorang murid Al-Masih, dalam suratnya yang pertama dan kedua telah banyak menguraikan mengenai fenomena datangnya Dajjal. Untuk lebih jelasnya, lebih dahulu akan di kutip 1 Yoh 2:18, yang mencatat pesan Rasul Yahya sebagai berikut: Yâ Abba’i ash-shigâr, jâ’ati as-sâ’atu al-akhirah, sami’tum anna masiha dajjâlan sayaji’u, wa hunâ al-âna katsirun min al-musahâ’I ad-da-jjalin, wa min hadza na’rifu anna as-sa’at al-akhirat ja’ât.
Artinya: “Anak-anakku, waktu itu adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang Anti Kristus (al-Masih ad-Dajjal) akan datang, sekarang telah bangkit banyak Anti Kristus (al-Masih al-Dajjal). Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir ” (1 Yoh 2:18)

Kalau kita cermati sabda Rasul diatas, jelaslah bahwa akan muncul dalam 2 jenis Dajjal, yaitu “seorang al-Masih ad-Dajjal akan datang” (Aramaik: d’atâ Mshîhâ Daggalâ), dan “sekarang ini telah banyak al-Masih ad-Dajjal” (Aramaik: wehasya herar l’hon saggie Msyihe Daggale). Jadi, ada “seorang Dajjal yang akan datang”, yaitu sosok Dajjal eskatologis yang akan datang pada akhir zaman, dan ada “banyak dajjal yang selalu muncul setiap zaman”. Dajjal-Dajjal yang disebut terakhir adalah dajjal-dajjal historis, yang sudah, sedang dan akan muncul dari masa ke masa menyesatkan para murid al-Masih sejati.
Selama ini, orang-orang Kristen selalu memfokuskan pengertian “dajjal eskatologis”, malahan banyak pula yang dihantui oleh sindrom lambang 666 dan melahirkan kecemasan yang luar biasa, sembari menghitung-hitung akhir zaman. Kita memang harus berjaga-jaga, karena itu semua penghayatan seperti ini tidak salah dan sah-sah saja. Tetapi jangan lupa, bahwa fenomena dajjal-dajjal historis, yang ditandai dengan merebaknya ajaran-ajaran sesat dari zaman ke zaman, juga harus membuat semua murid al-Masih waspada dan mengenali tanda-tandanya, agar tidak mudah “diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran” (Ef 1:14). Tulisan ini hanya akan menyinggung fenomena “dajjal-dajjal historis” yang bisa dilacak dari masa Alkitab, dan perkembangannya dalam gereja perdana hingga sekarang.

3. Mengenali Dajjal-Dajjal Historis Pada Zaman Rasuli
3.1. Mereka Berasal Dari Kita
Dalam 1 Yoh 2:19 ditegaskan, bahwa dajjal-dajjal historis itu “berasal dari kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk kepada kita, sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita”. Dengan demikian, terjadinya penyesatan umat beriman itu dimulai dari gereja sendiri. Ada orang-orang yang merasa diri Kristen, tetapi mereka mengajarkan ajaran-ajaran asing yang tidak pernah diajarkan oleh Al-Masih dan para RasulNya yang mulia.

3.2. Mereka Menyangkal Bahwa Isa Adalah Al-Masih
‘Siapakah pendusta itu?’, tanya Rasul Yahya, ‘Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus (Isa) adalah Kristus (Al-Masih)? Dia itu adalah al-Masih ad-Dajjal…’ (1 Yoh 2:22). Isa adalah bentuk bahasa Arab dari nama pribadi Juru Selamat kita, yang dalam bahasa Ibrani/Aramaik: Yeshua (Yunani: Yesus) dan kata Arab Al-Masih berasal dari bahasa Ibrani ha Mashiah, ‘Dia Yang Di Urapi’. Pengurapan dengan minyak pada zamaan dahulu menandakan ‘pelantikan seorang menjadi raja’, dan kata ini akhirnya menjadi gelar bagi Raja Penyelamat yang dijanjikan Allah. Umat Kristiani meyakini, bahwa kedatangan Isa Putra Maryam telah menggenapi nubuat Taurat, Zabur dan Kitab Nabi-Nabi, karena Isa adalah Juru Selamat yang diurapi Allah.

3.3. Mereka Menyangkal Bahwa Isa Datang Sebagai Manusia
Bagaimanakah kita bisa membedakan antara Roh Allah dan roh anti kristus (al-Masih al-Dajjal)? ‘Demikianlah kita mengenal Roh Allah’, tulis Rasul Yahya, ‘setiap roh yang mengaku, bahwa Isa Al-Masih telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Isa tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh anti kristus (Arab: al-Masih ad-Dajjal)…” (1 Yoh 4:2-3). Dalam Injil ditegaskan, bahwa Isa Putra Maryam adalah Kalimatullah, ‘Firman Allah’. Karena Isa Al-Masih adalah Firman Allah yang telah menjadi manusia (Yoh 1:14) (3)

4. Menguak Identitas Dajjal: Asal Usul Dan Ajaran Mereka
4.1 Latar Belakang
Setiap generasi ada dajjal, tetapi dalam tulisan ini akan dibatasi sampai gerenasi ke-4 sejak rasul-rasul hingga Konsili Nikea tahun 325, lalu langsung dilanjutkan dengan zaman sekarang. Seperti telah disebutkan, bahwa dajjal-dajjal muncul dari kalangan Kristen, atau dari mereka yang mengaku diri sebagai ‘Kristen’, meskipun mereka menganut ajaran yang sangat berbeda dengan Iman Rasuli.

Sekte sesat yang mulai muncul pada akhir abad pertama, tepatnya beberapa tahun setelah kehancuran Bait Allah, adalah kelompok Gnostik. Inti ajaran Gnostik sebenarnya hanya meneruskan saja paham filsafat Hellenisme mengenai dikotomi roh-tubuh manusia. Menurut mereka, tubuh itu kotor dan roh itu suci. Karena roh itu suci maka otomatis pula harus dilepaskan dari tubuh yang hina. Karena Allah tidak bersentuhan dengan benda, maka Allah juga tidak menciptakan benda. Dunia yang kotor ini diciptakan oleh ‘ilah lain’, yang adalah musuh besar dari Allah dalam Al-Masih.

4.2. Reaksi Para Rasul
Menurut catatan sejarah, Injil dan surat-surat Yohanes ditulis oleh Rasul Yahya (Yohanes), ketika bahaya ajaran Gnostik merongrong ajaran Imam Rasuli. Jantung dari kepercayaan Gnostik dan Doketisme ini, telah dipotong sampai ke akar-akarnya, karena penegasannya dalam Yoh 1:1-3, 14; 1 Yoh 1:1; 2:18; 4:3 dan 2 Yoh 7-8 demikian:

1. Firman itu adalah Allah, jadi bukan “an intermediary being’ atau sosok makluk perantara (demiurgos) yang menjembatani antara Allah di ‘dunia ide’ dan manusia di ‘dunia empiris’

2. Dunia ini diciptakan Allah langsung lewat Firman-Nya tersebut secara ‘creato ex nihilo’ (dari tidak ada menjadi ada), dan bukan merupakan emanasi atau pen ‘ndlewer’-an dari Zat Ilahi.

3. Karena itu ‘Firman itu adalah Allah’ (Yoh 1:1), karena tidak boleh ada lebih dari satu Allah (Tauhid). Melanjutkan pemikiran Targum mengenai Memra (Firman), maka Logos dalam Injil Yohanes bukanlah Logos Neo-Platonis yang ‘bukan Allah, dan bukan manusia’, tetapi Allah sendiri sejauh menyatakan Diri-Nya.

4. Penegasan bahwa Firman Allah itu telah menjadi manusia, menyangkal pandangan yang menganggap dunia bersifat semu dan Isa Al-Masih bukan sekedar seorang ‘makhluk bayangan’ bertubuh maya, seperti yang diyakini kaum Doketis, melainkan benar-benar ‘menjadi manusia’ (Yoh 1:14), ‘…yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman Hidup (kalimat al-Hayât) – itulah yang kami tuliskan kepada kamu’ (1 Yoh 1:1).

5. Fenomena Dajjal-Dajjal Historis Dari Masa Ke masa
5.1. Dajjal Generasi Pertama
‘Pada suatu hari rasul Yohanes masuk ke kamar mandi umum, sebagaimana dikisahkan oleh Irenaeus yang menerima riwayat ini dari Polykarpus, ketika mendengar bahwa Cerinthus ada di dalam, Rasul Yohanes secara spontan pergi keluar, ia tidak mau berada satu atap dengan Cerinthus. Kemudian rasul itu berseru kepada semua orang yang ada di tempat itu: Cepat keluar, tinggalkan tempat ini sebelum runtuh, sebab Cerinthus, si musuh kebenaran itu, ada di dalamnya”. (4)

Menurut catatan sejarah gereja, kelompok bidat yang dihadapi Rasul Yahya (Yohanes) pada zamannya adalah kelompok bidat yang dipimpin oleh Cerinthus. Cerinthus, adalah penjelmaan Dajjal generasi pertama, yang sangat berani menyebarkan ajaran-ajaran sesatnya, padahal masih ada ‘saksi mata’ ajaran Al-Masih, yaitu Rasul Yahya. Menurut Irenaeus, Cerinthus mengajarkan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan oleh Allah Yang Maha Tinggi, melainkan oleh ‘kuasa ilahi’ sebagai entitas yang terpisah dari Allah. Mereka percaya, bahwa Isa adalah ‘makhluk lumarah’ yang dilahirkan secara wajar dari hubungan biologis Yusuf dan Maryam, bukan dilahirkan dari seorang Perawan. (5)

Hypolytus memperjelas Irenaeus, bahwa “Pencipta selain Allah” itu, diyakini oleh Cerinthus sebagai ‘suatu kuasa (hupo dunamis), yang menyempal atau terlepas dari ‘kuasa alam atas’ dan mengatasi benda-benda. (6) Selanjutnya, menurut Ceinthus, tidak selamanya Yesus itu Kristus. Pada waktu pembaptisan, Kristus turun atas manusia Yesus dalam bentuk burung merpati, dan Allah yang tidak dikenal lalu mengangkatNya sebagai PutraNya. Sejak pembaptisanNya itu Yesus menjadi Kristus, Roh Besar itu, meninggalkanNya lagi ketika Yesus disalibkan.

Itulah sebabnya Sang Rasul mengatakan bahwa dajjal adalah ‘yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus’ (1 Yoh 2:22). ‘Inilah Dia’, tulis Yohanes, ‘yang telah datang dengan air dan dengan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah’ (1 Yoh 5:6).
Maksudnya, Yesus adalah Kristus, baik pada waktu pembaptisanNya, maupun pada waktu kematianNya di Kayu Salib. Karena kaum Gnostik menolak realitas inkarnasi, bahwa Firman benar-benar menjadi manusia, maka mereka juga menolak keselamatan dalam Al-Masih.
Sekali lagi, Rasul Yohanes berpesan agar kita selalu mewaspadai fenomena dajjal. ‘Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia’, tegas Sang Rasul, ‘yang tidak mengaku bahwa Yesus telah datang sebagai manusia’ – Hadza huwa al-Mudhalilu wa al-Masîh ad-Dajjâl. ‘Itu adalah si Penyesat dan al-Masih ad-Dajjal’. ‘Waspadalah’, lagi kata Rasul, ‘supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan, tetapi supaya kamu mendapatkan upahmu sepenuhnya’ (2 Yoh 1:7-8).


5.2. Dajjal Generasi Kedua
Sejarah selanjutnya mencatat pula, bahwa sepeninggal Rasul-Rasul, murid-murid para Rasul telah meneruskan ajaran-ajaran yang satu dan sama. Polycarpus, salah satu murid Rasul Yahya, mengambil sikap yang sama tegas dengan gurunya dalam menghadapi ajaran-ajaran sesat. Sebagaimana gurunya, Polycarpus dengan tegas berkata: Kullu man la ya’rifu bi Yasu’a al-Masîh innahu ja’a fî al-jasad fahuwa al-Masîh ad-Dajjal.‘Barang siapa yang tidak mengaku bahwa Isa al-Masih telah datang sebagai manusia ia adalah al-Masih ad-Dajjal’ (7)

Dalam sepucuk suratnya yang dikirimkan kepada orang Korintus, Polycarpus menulis sebagai berikut:
Karena itu, setiap orang yang tidak mengakui bahwa Isa al-Masih telah datang sebagai manusia ia adalah al-Masih ad-Dajjal, yang tidak mengakui kesaksian Salib berasal dari Iblis, dan yang memutar balikkan firman-firman Tuhan, demi menyesuaikan dengan pendapatnya sendiri, yang menyatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati dan tidak ada penghakiman, maka ia adalah [b][color=red]anak sulung iblis [/color][/b](to The Philippians VII,1) (8)

Pada zamaan Polycarpus, ajaran Gnostik telah berkembang lebih ekstrem lagi. Ajaran itu dikembangkan oleh Marcion, penerus Cerinthus. Marcion juga meneruskan pandangan Yunani, bahwa Yang Ilahi (to hen) tidak mungkin bersentuhan dengan dunia yang jahat. Karena itu, Allah dalam Yesus Kristus tidak mungkin menciptakan dunia jasmani yang penuh dengan dosa ini. Pencipta dunia yang jahat ini adalah “Allah” Perjanjian Lama yang lebih rendah dari “Allah” Perjanjian Baru. “Allah” Perjanjian Lama adalah ‘ilah rendahan’, yang bengis dan kejam dengan hukum-hukumnya yang kasar. Sedangkan Allah dalam Al-Masih adalah Allah yang sejati, yang penuh kasih dan kemurahan.

Untuk menegakkan ajaran bidah mereka yang berciri ‘anti-Yahudi’ itu, Marcion telah menyusun seleksi ‘Perjanjian Baru’nya sendiri dan membuang unsur-unsur yang dianggapnya dipengaruhi oleh Yahudi. Dari keempat Injil Kanonik, hanya Injil Lukas dan surat-surat Paulus yang diterimanya. Meskipun Injil Lukas diterimanya, tetapi tiga pasal pertama kitab tersebut dibuangnya, karena dalam pasal-pasal ini dimuat kisah-kisah yang tidak bisa diterimanya, misalnya kelahiran dari seorang perawan.

Fakta sejarah bahwa Marcion harus merevisi Perjanjian Baru ini, menunjukkan dengan jelas bahwa sampai gerenasi kedua sejarah gereja, yaitu generasi murid-murid para Rasul, apa yang disebut “injil-injil apokrif”, memang belum muncul. Sebab kalau memang “injil-injil apokrif” itu sudah ada, mengapa Marcion harus merevisi Perjanjian Baru? Jadi, buku-buku apokrif seperti Injil Filipus, Injil Maria Magdalena, Injil Tomas, dan Injil Yudas, yang diekspos secara bombastis pada waktu akhir-akhir ini, juga belum muncul pada periode awal ini.
Bagaimana Polycarpus menghadapi kaum bidat, khususnya Marcion? Tidak jauh berbeda dengan gurunya, Rasul Yahya. Tegas dan tanpa kompromi sedikitpun. Irenaeus uskup Lyon , murid Polycarpus, mengisahkan bahwa pada suatu waktu gurunya tersebut bertemu dengan Marcion.
“Ata’arifnâ? – Apakah bapa mengenal kami?”, tanya Marcion.
“Anâ a’rifu (Saya tahu)”, jawab Polycarpus, “Awwalu wawâlîd asy-Sya-ithân – (Kamu) adalah yang sulung dari anak-anak Setan” (9)
Selain mengingatkan umat Allah agar tidak disesatkan dajjal, seperti Rasul Yahya, Polycarpus juga menekankan agar kembali kepada: arches hemin paradothenta logon epistrephoomen – firman yang telah disampaikan kepada kita dari semula’ (to the Philippians VII,2) (10)

5.3. Dajjal Generasi Ketiga
Setelah Polycarpus mati syahid, ajaran-ajaran Iman Rasuli diteruskan oleh muridnya yang cerdas, Irenaeus uskup Lyon . Lawan-lawannya kaum Gnostik pun juga semakin canggih sepeninggal Marcion, dan kelompok ini telah terpecah-pecah lagi dalam sejumlah sekte dengan ajaran yang aneh-aneh pula. Para Rasul sudah meninggal, dan merasa bahwa para saksi mata sudah tidak mengganggu klaim-klaim teologis mereka lagi, kaum sesat pada generasi ini mulai mengabadikan pemikiran-pemikiran mereka dalam bentuk tulisan.

Lebih kurang ajar lagi, tulisan-tulisan itu diatas namakan Rasul-Rasul. Pada generasi ketiga ini, mulai disebut-sebut adanya ‘Injil Tomas’, ‘Injil Yudas’, ‘Injil Petrus’ dan masih banyak lagi. Senada dengan pandangan mereka, bahwa yesus itu hanya memiliki tubuh semu, maka tidaklah mungkin Ia menderita. Karena itu, dalam publikasi palsu mereka berjudul ‘Injil Apokrif Petrus’ (The Apocryphal Gospel Of Peter), seruan Al-Masih di kayu salib diubahnya: ‘Kekuatanku, Kekuatanku, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?’ (11)

Kelompok yang didirikan oleh Cerinthus, musuh besar Rasul Yohanes ini, malahan pada periode ini juga berani mencatut nama besar Rasul Kristus itu. Dalam publikasi palsu mereka berjudul Acts Of John (Kisah Rasul Yohanes), ditulis antara tahun 180-200, dikisahkan bahwa ketika orang-orang Romawi menyalibkan Yesus dan memperolok-olokan Dia, sebenarnya itu hanya ‘bayangan Yesus’, bukan Yesus yang sebenarnya. Yesus sejati adalah roh dan tidak berdaging, karena itu Ia tidak pernah disalib. Pada waktu penyaliban itu, Yesus sejati bersama Yohanes berada di Bukit Zaitun, sambil memandang ke arah bawah dimana ‘sosok bayangan Yesus’ itu disalibkan.

Dalam pandangan kaum Doketis ekstrim ini, Yesus bahkan berjalan tanpa menginjak tanah. ‘Dan seringkali ketika saya berjalan denganNya’, kata Yohanes gadungan tersebut, ‘saya ingin sekali melihat jejak kakiNya apakah terlihat diatas tanah, karena saya melihat seakan-akan Ia berjalan melayang tanpa menyentuh tanah dan saya memang tidak pernah melihat jejak tersebut’ (Act of John, 93) (12)

Injil Yudas (The Gospel Of Judas) yang dihebohkan baru-baru ini, adalah termasuk dalam publikasi palsu yang juga dihasilkan dajjal generasi ketiga ini. Irenaeus sudah terlebih dulu menyinggungnya dalam bukunya Adversus Haereses, Buku III, dan menyebut asal-usul tulisan ini dari kelompok Gnostik yang disebut ‘kaum pemuja Kain’ (Kainite). (13) Bagaimana Irenaeus dan bapa-bapa gereja rasuli seangkatannya dalam menghadapi para dajjal generasi ketiga ini? Sebagai murid Polycarpus, Irenaeus bersama-sama semua bapa gereja rasuli lain pada zamannya, menantang kaum bidat untuk menguji akar rasuli dari setiap ajaran tentang Yesus.

‘Kami bisa memberikan daftar dari mereka yang diangkat sebagai pemimpin gereja oleh rasul-rasul’, tantang Irenaeus, ‘begitu pula mereka yang menggantikan mereka sampai sekarang. Mereka sama sekali tidak mengajarkan atau mengetahui sedikipun tentang ocehan-ocehan para penyesat itu’ (14) Misalnya, kurang lebih pada masa yang sama, muncul sebuah publikasi berjudul Acts of John (Kisah Rasul Yohanes), yang mengajarkan bahwa Yesus ‘mlaku ora ngambah lemah’ (Berjalan tanpa menyentuh tanah). Edan tenan, Bagaimanakah reaksi Irenaeus? Rasul Yohanes memang sudah meninggal, tetapi ia telah mengangkat Polycarpus. Bukanlah Polycarpus itu guru Irenaeus? Jadi, dari sudut metodologi pembuktian sejarah, Irenaeus adalah pelaku sejarah sendiri.

Begitu juga, kalau ada publikasi berjudul The Gospel Of Peter (Injil Peter). Dengan membuktikannya dari prinsip Khilâfah Rasuli (suksesi Rasuli). ‘Para rasul yang terberkati’, tulis Irenaeus, ‘telah meletakkan dasar gereja, dan di Roma Linus yang dipercayakan untuk memimpinnya. Setelah Linus, selanjutnya digantikan Anakletus dan setelah itu Klemens’ (Adverses Haereses III, 3:3). (15) Rasul Paulus sendiri yang mengangkatnya dan dibuktikan pula pada waktu itu Rasul Petrus juga menyaksikan semua. Sedangkan di wilayah Itali itu, Petrus setuju bahwa Markus, yang disebutnya ‘Markus, Anakku’ (1 Pet 5:13), ‘sebagai murid dan penerjemah Rasul Petrus, telah menuliskan segala sesuatu sesuai dengan yang diberitakan oleh Rasul Petrus’ (Eusebius, Târîkh al-Kasîsah, V:8). (16)

Jadi, tidak pernah Petrus menulis dokumen berjudul ‘Injil Petrus’, itulah fakta-fakta yang bisa dilacak dari bapa-bapa gereja yang mempunyai hubungan langsung dengan Rasul-Rasul. Tetapi bukan kaum bidat, kalau mereka tidak bisa menemukan solusi untuk meloloskan ajaran-ajaran ganjil mereka. Bacalah ‘Injil Tomas’, Logia 1, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan menghadapi argumentasi pewaris rasul-rasul itu. ‘Inilah ajaran-ajaran rahasia Yesus Kristus kepada Tomas, Didimus, Kembaran Kristus’. (17) Maksudnya, dengan mengatakan bahwa ajaran itu diberikan secara rahasia, maka orang tidak dapat lagi ‘check and recheck’ sumber, beriman saja cukup.

Dapat dikatakan, hampir semua ajaran sesat bersifat ahistoris. Kalau ditanya marah, kalau dilacak sumbernya, kita dituduh kafir. Dari dulu sampai sekarang, mereka sama. Kalau sudah wahyu, pintu akal tertutup. Bagi kaum Dajjal itu, yang boleh dipikirkan hanya matematika, tetapi jangan sekali-kali bertanya soal wahyu Tuhan. ‘Seandainya para rasul mengetahui ajaran-ajaran rahasia ini’, kata Irenaeus, ‘dan hanya memberitahukan kepada mereka yang sempurna secara tersendiri dan rahasia, bukanlah lebih masuk akal kalau mereka memberitahukan kepada orang-orang yang dipercayakan untuk melayani gereja. Sebab rasul-rasul Kristus menginginkan supaya para pengganti mereka itu sempurna dan tanpa cacat cela’ (Adversus Haereses III, 3:1) (18)

5.4. Dajjal Generasi Keempat
Pada awal abad ke empat, pandangan filsafat Yunani ini muncul kembali dalam ajaran kaum Arian. Kelompok ini disebut dengan nama penganjurnya, Arius, seorang imam gereja di Iskandaria. Karena memahami LOGOS secara neo-Plationis, Arius mengajarkan bahwa Firman Allah (Logos) itu ciptaan. Selanjutnya Allah, melalui ‘Ciptaan PerdanaNya’ ini, bersama-sama menciptakan dunia. Pandangan arius ini terang-terangan ditentang gereja yang berusaha keras mempertahankan keesaan Allah (tauhid), dengan menegaskan bahwa Firman Allah itu ghyr al-Makhlûq (bukan ciptaan).

Sebab dalam alam pikiran Ibrani, Allah, Firman dan RohNya itu satu. Tidak mungkin Allah pernah ada tanpa Firman dan RohNya, yang seharusnya sama-sama kekal dalam wujud Allah yang satu.

Lawan Arius yang paling menonjol, yang berhasil merumuskan ajaran Rasuli dalam menghadapi dajjal generasi keempat ini, Athanasius dari Iskandaria. Dalam rangka melawan tipuan Dajjal yang mewujud dalam ajaran Arius ini, Athanasius telah mengalami beberapa penganiayaan dan pembuangan. Namun semangat Athanasius sama sekali tidak pernah kendor, bahkan dengan roh yang menyala-nyala ditelanjangi semua pemikiran kaum Arian sebagai bentuk politeisme terselubung.

Mengenai kaum Arian ini, dalam bukunya berjudul Sirat Anthûnius (Kehidupan Antonius), Athanasius dari Iskandaria mencatat: ‘Inilah bidat terakhir dari semua bidat dan pandahulu datangnya Dajjal’ – Inna hadzihi al-harathiqât akharu al-harathiqât wa sâbaqât li al-Masîh ad-Dajjal’. (19) Athanasius membabat habis penampakan dajjal generasi keempat ini, dengan terus menerus mengumandangkan ajaran rasuli: Inna ibna Ilahi laysa makhlûqun, wa lam yukhlaq min al-‘adami, bal huwa al-Kalimat al-azaliyyat li jauhar al-abi wa himatihi, Artinya: ‘Putra Allah bukan ciptaan, dan tidak diciptakan dari ketiadaan, tetapi Dia adalah Firman Allah yang kekal dalam Dzat Sang Bapa, dan Hikmatnya’ (20)

6. Fenomena Dajjal Masa Kini dan Konspirasi Global Melawan Kristus
6.1. Sinetron Lama, Pemain Baru
Kita masih dapat melacak fenomena dajjal pada setiap generasi, tetapi dengan mengemukakan empat ratus tahun pertama sejarah gereja, kiranya cukup. Karena pada masa-masa tersebut, pertarungan gereja habis-habisan tersebut, minimal telah mewariskan bagi kita formulasi Iman Rasuli, yang dengan itu “Bahtera Gereja” bisa melanjutkan perjalanannya tanpa takut digulung oleh gelombang ajaran sesat.
Kita akan langsung menengok abad kita, yaitu abad baru dengan tantangan baru yang makin besar. Meskipun demikian, sejumlah tema yang digelar dajjal-dajjal era teknologi informasi ini, seiring kali hanya ‘pementasan’ dari kisah sinetron lama dengan pemain-pemain baru, dan jalan cerita yang disesuaikan di sana-sini, supaya lebih gaul dan lebih menarik.

Dan pentas sinetron ‘daur ulang’ itu adalah panggung Eropa. Mengapa Eropa? Barat, adalah peradaban yang tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Yesus, tetapi mereka tidak pernah sungguh-sungguh menjadi Kristen. Inilah kata kunci untuk memahami sikap dunia Barat kontemporer mengenai Kekristenan. Nilai-Nilai individualisme dan liberalisme selama ini lebih mendominasi dunia Barat, dan berbareng dengan itu, proses sekularisasi sama sekali tidak mampu mengusir sosok Yesus. Merekapun ingin berjumpa dengan sosok Yesus di luar dogma, tetapi karena data-data di luar Alkitab memang sangat minim, maka legenda-legenda, asal beda dengan gambaran resmi gereja, - justru laris manis.

6.2. The Unknown Life Of Jesus, Da Vinci Code Dan Injil Yudas
Pada pihak lain, ada orang-orang yang sengaja ‘mengail di air keruh’, mencari keuntungan dengan memanfaatkan kondisi seperti itu. Muncullah buku Nicolas Notovitch, The Unknown Life Of Jesus Christ. (21) Buku fiksi ini berisi dongeng perjalanan Yesus ke dunia Timur, yang telah dibuktikan kebohongannya, oleh sejarahwan kaliber dunia, Max Muller. Lebih gila dari itu, Dan Brown dengan The Da Vinci Codenya. “Booming”nya novel yang memfitnah Yesus ini, selanjutnya secara lihai dimanfaatkan oleh The National Geographic, yang memunculkan secara bombastis berita penemuaan Gospel Of Judas. Penemuan yang sebenarnya hanya ‘biasa-biasa saja’, telah dibesar-besarkan sedemikian rupa seolah-olah menjadi ancaman ajaran gereja. Dan motif di balik semua itu adalah uang.


6.3. The Deas Sea Scrolls dan The Lost Years Of Jesus
The Dead Sea Scrolls (Naskah-Naskah Laut Mati), yang mulai ditemukan di Qumran tahun 1947 adalah penemuan terbesar dan terpenting dalam studi Perjanjian Lama. Fakta yang sebenarnya, penemuan ini justru menjadi saksi otentisitas Alkitab. Sebelum tahun 1947, manuskrip Alkitab yang dipunyai baik oleh kaum Yahudi dan Kristen, adalah naskah Masoretis dari abad XM, yaitu naskah Aleppo(Syria), Geniza(Mesir) dan Leningrad (Rusia). Naskah Laut Mati berdasarkan pengujian zat radio orang aktif (C-14) berasal dari tahun 150 sm (22)
Jadi, kira-kira 1150 tahun lebih tua dari naskah Masoretis. Tetapi setelah di cocokkan antara kedua naskah yang berjarak lebih dari 1000 tahun itu, ternyata sama sekali tidak ada perbedaan yang berarti. Tetapi sayangnya, informasi tentang penemuan penting ini justru lebih digaungkan oleh para penulis picisan, seperti Charles Francis Potter dan Barbara Theiring.
Mereka bukanlah ahli-ahli Biblika. Francis Potter, misalnya, ketika mengangkat tema penemuan Laut Mati ini, ia berambisi menemukan tahun-tahun kehidupan Yesus yang hilang, The Lost Years Of Jesus. Padahal pencarian ‘the lost years’ itu disebabkan karena orang salah mengukur kehidupan seseorang tokoh yang lahir dan dibesarkan dari budaya Yahudi dengan kacamata kehidupan Barat modern.

Mengapa Alkitab hanya menyebut Yesus pada umur 8 hari, 12 tahun, lalu terjadilah ‘the missing years’, istilah mereka, selama kurang lebih 18 tahun? Sebab Al-Masih baru muncul kembali sekitar umur 30 tahun, ketika Ia mulai mengajar di depan umum (Lukas 3:23).
Kalau kita memahami konteks Yahudi, semua itu bukan problem lagi. Tradisi Yahudi hanya mencatat tahun-tahun peinting dalam kehidupan seseorang. Usia 8 hari adalah usia untuk B’rit Millah (Perjanjian Sunat), sedangkan usia 12 tahun adalah usia Bar Mitvah (anak hukum), ketika seorang dinyatakan dewasa dan mulai dibebani ‘kuk Taurat’, yaitu kewajiban menjalankan syariat Taurat. (23)

Setelah setiap orang Yahudi menjalani pendidikan di Beth Midrash, baru mereka diperbolehkan mengajar di depan orang banyak pada usia kira-kira 30 tahun. Jadi, mereka yang berambisi mencari ‘The Lost Years of Jesus’, sebenarnya hanya membuktikan ketidak tahuannya akan sejarah dan budaya Yahudi. Lebih-lebih, kalau harus mencarinya sampai ke India dan Tibet . Inilah bukti ‘kegoblokan’ Notovitch. Bagaimana mungkin dalam budaya Yahudi yang ‘patrilineal’ itu, bisa di bayangkan seorang remaja laki-laki 13 tahun terpaksa hijrah ke bunia Timur, hanya karena menghindari lamaran menikah? Di manakah ada dalam sejarah Timur Tengah orang tua seorang perempuan melamar laki-laki? Kejadian itu hanya dibayangkan terjadi dalam ceritera ‘Ande-Ande Lumut’, dongeng anak-anak kecil sebelum tidur yang lazim dijumpai di keluarga jawa.

7. Catatan Penutup
Harus dicatat, bahwa era sekarang dapet disebut ‘era pertarungan wacana’. Dajjal tidak muncul dalam sosok raksasa mengerikan yang dengan mudah dapat dikenali pada perjumpaan pertama, tetapi ia sekarang berada di balik konspirasi global melawan Kristus. Fenomena Dajjal juga tampil dalam film-film Hollywood , dalam The Da Vinci Code, dan juga The Last Temptation Of Jesus Christ. Karena itu, gereja sekarang harus benar-benar menyiapkan jemaatnya untuk siap menghadang tipu daya dajjal-dajjal masa kini, dengan memberikan ajaran yang sehat, dan arahan-arahan praktis menghadapi tren-tren baru seperti yang telah diuraikan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan, pengajaran harus diperkuat, termasuk dalam khotbah-khotbah, bukan hanya bersifat normatif, tetapi juga yang bersifat kajian-kajian historis teologis, sekalipun dalam bentuk populer. Kalau tidak, dampaknya bagi jemaat memang bisa fatal. KKR-KKR memang perlu, tetapi seminar-seminar pembinaan iman, dialog-dialog teologis yang membangun keterbukaan dengan agama lain tanpa harus kehilangan jatidiri, juga sangat urgen dilakukan.
Saya selalu berdoa: ‘Ya Tuhan, ajarkanlah kami beriman secara cerdas, agar kami mampu menelanjangi tipu daya para dajjal, Amin’.

(1) Teks Injil dalam bahasa Suryani (bahasa asli yang dipakai Al-Masih), dikutip dari Qyamâ Hadattâ – The New Testament Peshitta Text (Damascus: United Bible Societies, 1979). Juga: The New Covenant Aramaic Peshitta Text (Jerusalem: The Bible Society in Israel and The Aramaic Scriptures Research Society in Israel, 1986).
[/b]
suluap77
 
Posts: 417
Joined: Wed Dec 14, 2005 6:43 am
Location: soundless place

Previous

Return to Pembelaan Terhadap Islam



Who is online

Users browsing this forum: No registered users