Page 3 of 6

PostPosted: Mon Jun 18, 2007 8:39 pm
by Duladi
Dengan mengajarkan kalimat: "Tunjukilah kami jalan yang lurus" Bukankah ini menunjukkan kalau Allah sendiri tidak tahu bagaimana jalan yang lurus itu?

Maksud saya, bila benar ajaran doa itu dari Allah, paling tidak, ada kepastian dalam permohonannya. Misal: "Buatlah hati kami selalu Islam!" Bila Islam dianggap sebagai suatu jalan yang lurus.

Kemudian Sdr mengatakan: tapi manusia diajarkan MENCARI SENDIRI JALAN YG LURUS ITU ...

Bukankah ini aneh? Katanya Allah sudah memberikan petunjuk, tapi kok umatnya masih disuruh mencari sendiri jalan lurus tersebut? Bukankah surat Al-Fatihah adalah ayat doa yang diperuntukkan bagi kaum Muslimin?

Nah sekalian saya membahas Surat An-Najm (QS 53) yang Anda kutipkan untuk saya di sini.

    [53:32] orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.


Apakah ayat Quran (An-Najm ayat 32) di atas itu kata-kata Allah?
Tidak. Kenapa saya bilang tidak? Karena sudah sangat jelas sekali si pembicara dalam ayat tersebut memakai kata ganti orang ketiga (DIA).

Semestinya, bila itu kata-kata Allah, harus memakai kata ganti orang pertama (AKU).

Agar Sdr tidak bingung, saya akan berikan contoh kata-kata manusia:

"Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya." (2 Samuel 22:31)

Kata-kata di atas bukan kata-kata Tuhan, itu adalah kutipan kata-kata nabi Daud.

Anda bisa melihat gaya bahasanya, nabi Daud memakai kata ganti orang ketiga untuk menyebut Tuhan. Nah, bandingkan dengan kata-kata Muhammad dalam Surat An-Najm:

"orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa."

Bagaimana, apakah Sdr bisa menerima penjelasan saya? Kata-kata Tuhan haruslah berwibawa dan cukup tegas. Dia akan memakai kata ganti AKU untuk menyebut dirinya. Berbeda dengan gaya perkataan manusia. Manusia akan memakai kata ganti DIA untuk menyebut Tuhannya.

.

PostPosted: Mon Jun 18, 2007 9:10 pm
by Duladi
Lanjutan....

Hal yang sama terjadi pada contoh berikut. (Saya kutipkan surat An-Nahl sebanyak 10 ayat)

QS 16:1
Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.

Apakah ayat pertama ini adalah kata-kata Allah? Bukan. Sebab sangat jelas sekali di situ terdapat kata-kata pujian: Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. dan penyebutan kata "Allah" (kata ganti ketiga).

Sungguh di luar kelaziman, bila Allah memuji-muji dirinya sendiri. Yang memuji-muji Allah adalah manusia dan para malaikat. Jadi ayat pertama di atas sudah sangat jelas menunjukkan bahwa itu perkataan manusia, bukan perkataan Allah.

QS 16:2
Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku".

Coba Sdr lihat, betapa anehnya ayat di atas.
Bila ayat 2 di atas merupakan kata-kata Allah, kenapa di dalamnya ada kata-kata Allah lagi sebagai kutipan? Ini secara jelas kasat mata menunjukkan kalau ayat di atas bukan kata-kata Allah. Si pembicara dalam ayat itu adalah Muhammad. Muhammad memakai kata ganti orang ketiga (DIA dan NYA) untuk menyebut Allah, kemudian di dalam kalimat tersebut Muhammad mengutip kata-kata Allah: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku". Bagaimana Saudara menjelaskan ini? Tidakkah ini menjadi bukti Alquran tidak 100% berisi kata-kata Allah?

Sebagai pembanding bagaimana bentuk kata-kata bijak manusia yang di dalamnya terdapat kutipan kata-kata Tuhan:

Mazmur 2:7-12
Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.
Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.
Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk."

Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!
Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!

Kata-kata di atas adalah kata-kata nabi Daud. Di dalam kalimat-kalimat yang nabi Daud ucapkan, terdapat kutipan kata-kata Tuhan. Nah, seperti itulah model perkataan ayat 2 surat An-Nahl, ternyata tak lebih dari perkataan manusia saja. Klaim bahwa Quran 100% berisi kata-kata Tuhan tidak terbukti.

QS 16:3
Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak. Maha Tinggi Allah daripada apa yang mereka persekutukan.

QS 16:4
Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.

QS 16:5
Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfa`at, dan sebahagiannya kamu makan.

QS 16:6
Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.

QS 16:7
Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

QS 16:8
dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.

QS 16:9
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).

QS 16:10
Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.

Dari contoh 10 ayat Surat Lebah ini kita mendapatkan tambahan bukti kalau Quran tidak berisi KATA-KATA TUHAN 100%, bahkan ditafsirkan bisa jadi seluruhnya memang hanya kata-kata manusia belaka. Ini nanti akan kita lacak di sesi selanjutnya.

.

PostPosted: Mon Jun 18, 2007 9:17 pm
by sipengembara
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

audio[53:32] (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

saya bukan akhli dalam islam,apalagi tentang alQuran yang nyata-nyata untuk alQuran ngga semua umat islam bisa memahaminya dengan sempurna,wong baca nya aja tulalit (kritikan buat gw sendiri sih).
tapi di sisi lain itulah salah satu dari banyak hal yang bisa menjelaskan kenapa alQuran tidak akan bertambah dan berkurang sampai akhir jaman.
Beberapa ayat alQuaran memang dalam penjelasannya seriang Allah dan bukan hanya dalam ayat di atas bertindak sebagai kata ganti ketiga.
contoh lain
وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

audio[4:125] Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.
Disini Allah juga tidak mengatakan AKU atau SAYA tapi "Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. " juga bertindak sebagai orang ketiga dan masih bnyak ayat alQuran yang lain.
Perlu diketahui kalau alQuran itu dalam beberapa pemahaman (mungkin dalam agama lain atau kristen di sebut sekte atau aliran ) alQuran itu di sejajarkan atau dianggap sebagai makhluk.
Jadi untuk belajar Quran tidak akan cukup di forum ini.
sebaiknya beranya kepada yang betul-betul ahli jadi jawaban anda akan memuaskan kecuali anda hanya niat untuk memperolok-olok alQuran dan islam.
pilihan ditangan anda DEAL or NOT DEAL
(kayak kuis aja :) )

PostPosted: Mon Jun 18, 2007 9:27 pm
by Duladi
sipengembara wrote:Jadi untuk belajar Quran tidak akan cukup di forum ini.
sebaiknya beranya kepada yang betul-betul ahli jadi jawaban anda akan memuaskan kecuali anda hanya niat untuk memperolok-olok alQuran dan islam.
pilihan ditangan anda DEAL or NOT DEAL

Saya tidak berolok-olok. Saya dan Sdr Montir di topik ini sedang mengkaji bersama. Saya tidak mengundang Anda, kenapa turut nimbrung di sini? Maaf, ini adalah diskusi antara saya dengan Sdr Montir. Atau... Anda ingin menggantikan Sdr Montir?

Tentang ayat-ayat Quran yg Anda katakan "WAJAR" menyebut Allah dengan kata ganti orang ketiga sungguh tidak logis.

Saya beri analogi.

Semisal Anda berkata kepada anak Anda: "Nak, kamu jangan nakal ya? Nanti aku pukul kamu!"

Nah, apa logis bila Anda menggunakan gaya pengucapan seperti berikut:

"Nak, kamu jangan nakal ya? Nanti dia pukul kamu!"

Bukankah yang berbicara itu Anda, tapi kok memakai kata ganti DIA?

Kalau manusia saja tahu perkataan seperti itu tulalit, tapi kenapa Allah malah nggak ngerti kaidah-kaidah bahasa dan malah memberi contoh perkataan yang tulalit?

Semoga Anda mau mengerti, dan tolong hormati diskusi berdua antara saya dengan Sdr Montir, kecuali bila Anda mau menggantikannya.
.

PostPosted: Mon Jun 18, 2007 9:28 pm
by supercabe
pertanyaan saya blm ada yg jawab nih... :(

apakah firman tuhan itu murni 100% perkataan Tuhan saja, ataukah kata-kata manusia yang mrpk Doa didalamnya juga ikut dijadikan FirmanNya?

tolong dijwb dong, penasaran nih....

PostPosted: Mon Jun 18, 2007 9:37 pm
by Duladi
Sekalian juga saya bahas ayat sipengembara:

    [4:125] Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.


Apakah ayat di atas kata-kata Tuhan? Bukan. Ayat di atas bukan kata-kata Tuhan, sebab Tuhan menyebut dirinya dalam bentuk orang ketiga ("Allah"), hal mana mirip dengan kata-kata manusia berikut:

"Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat." (Mazmur 7:10-11)

Bila Quran yg katanya KITAB DEWA (100% FIRMAN, dan DITURUNKAN LANGSUNG DARI SURGA), ternyata isinya tak beda dengan kata-kata manusia dalam kitab sekelas Bibel (yang diklaim derajatnya lebih rendah dari Quran), bagaimana Sdr bisa menjelaskan ini?

Bukankah semua klaim itu cuma bualan kosong?
Saya tunggu ulasannya.
.

PostPosted: Tue Jun 19, 2007 8:25 am
by MONTIR KEPALA
Duladi wrote:Dengan mengajarkan kalimat: "Tunjukilah kami jalan yang lurus" Bukankah ini menunjukkan kalau Allah sendiri tidak tahu bagaimana jalan yang lurus itu?

...deleted...

ada 3 pertanyaan nampaknya :
1. masalah minta petunjuk .... Allah sedang mengajarkan bgm manusia beretika pada TUhannya, bgm manusia bersikap rendah diri pada Tuhannya ketika berdo'a.

2. kata "Kami" .... dlm bahasa Arab "kami" mengandung maksud "penghalusan" ... seperti juga pada kalima "kamu" yg aslinya "anta" namun bila bermaksud penghalusan berubah menjadi "antum" yg berarti "kamu jamak"
dlm pengertian lain pun Kami dimaksudkan adalah Allah beserta Malaikat2 dgn tugas2 nya masing

3. kata "Dia" ..... saya kira di sini nilai sastra Quran ... saya kasih contoh perkataan ayah pada anak nya :
"Nak ... Ayah mu ini sayang menyayangi mu, dia (ayah) menginginkan anaknya menjadi anak yg sukses sempurna."

PostPosted: Tue Jun 19, 2007 11:47 am
by Duladi
ada 3 pertanyaan nampaknya :
1. masalah minta petunjuk .... Allah sedang mengajarkan bgm manusia beretika pada TUhannya, bgm manusia bersikap rendah diri pada Tuhannya ketika berdo'a.

Inti persoalan di topik ini, Surat Al-Fatihah adalah doa dan bukan firman. Pembahasan isi doa saya hentikan agar tidak OOT.

2. kata "Kami" .... dlm bahasa Arab "kami" mengandung maksud "penghalusan" ... seperti juga pada kalima "kamu" yg aslinya "anta" namun bila bermaksud penghalusan berubah menjadi "antum" yg berarti "kamu jamak"
dlm pengertian lain pun Kami dimaksudkan adalah Allah beserta Malaikat2 dgn tugas2 nya masing

Adalah tidak logis Allah yang pemarah dan narcist, yang suka memberi perintah bunuh dan siksa, bersopan santun terhadap manusia yg adalah budaknya.

Bila manusia yang mengucapkannya untuk maksud penghalusan makna, adalah logis, tapi tidak logis bila itu Allah yang mengucapkan.

Kata "KAMI" merujuk pada Allah & RasulNya. Ini bukti konkrit dan obyektif yang tidak bisa dibantah. Sebab Quran sendiri yang menyatakannya.

Karena bentuk ini tidak lazim, maka semua ayat yang memakai kata ganti "KAMI" untuk menunjuk diri Allah tidak bisa diyakini sebagai firman, tetapi kata-kata Muhammad.

3. kata "Dia" ..... saya kira di sini nilai sastra Quran ... saya kasih contoh perkataan ayah pada anak nya :
"Nak ... Ayah mu ini menyayangi mu, dia (ayah) menginginkan anaknya menjadi anak yg sukses sempurna."

Model perkataan yg Saudara contohkan itu sangat bias, tidak jelas siapa yang mengucapkan. Bisa saja kalimat itu diucapkan oleh orang lain untuk menasihati anaknya sang ayah.

Kalimat Tuhan haruslah tegas, suatu misal:

"Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa." (Kejadian 6:17)

Sedangkan kata-kata manusia, adalah seperti kalimat yg Saudara contohkan:

"Nak ... Ayah mu ini menyayangi mu, dia menginginkan anaknya menjadi anak yg sukses sempurna."

Si pengucap dari kalimat di atas bisa saja teman dari si ayah, ibunya, atau teman dari si anak. Yang pasti, si pembicara dalam kalimat itu adalah PIHAK KETIGA.

Meninjau kembali model kalimat dalam Surat Lebah, maka ayat-ayat tersebut bukan perkataan Tuhan selaku orang pertama yang seharusnya menjadi subyek dalam kalimat itu, tetapi perkataan orang ketiga, yaitu MUHAMMAD.

Dengan demikian, kata ganti "DIA" sama sekali tidak menunjukkan nilai sastra, tapi kerancuan bahasa. Ini bukti tidak ada ketegasan dalam Quran sebagai firman, tetapi hanya perkataan-perkataan manusia belaka. Meyakini kata-kata yang mengandung kata "DIA" sebagai ucapan Allah adalah sangat dipaksakan dan sarat dengan rekayasa.

Bila kita tidak membandingkannya dengan kitab suci lain, tentu pendapat saya bisa saja dianggap subyektif. Tapi dengan adanya contoh-contoh pembanding dari kitab suci lain, maka secara obyektif hal itu terbukti kalau ayat-ayat Quran yg diyakini sebagai firman ternyata tak beda dengan kata-kata manusia dalam Bibel. Malah Bibel yg diklaim sebagai kitab suci yang lebih rendah levelnya, dapat menunjukkan kata-kata Tuhan dengan lebih elegan dan berwibawa.

PERBANDINGAN:

KATA-KATA TUHAN:

"Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu." (Kejadian 7:4)

KATA-KATA MANUSIA:

"Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya." (2 Samuel 22:31)

Sekarang bandingkan dengan ayat Quran berikut:

Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." [53:32]

Kalimat Quran di atas lebih cocok dengan kata-kata TUHAN atau kata-kata manusia?

Berikutnya, akan saya ulas kata-kata "Allah" yang janggal, yg bila dinalar lebih cocok bila itu sebagai kata-kata manusia belaka.
.

PostPosted: Tue Jun 19, 2007 1:38 pm
by MONTIR KEPALA
1. apa nya yg gak rasional kalo Allah menghadiahkan "Paket Do'a" buat manusia ??

2. anda kok tdk bisa menerima gaya Quran dlm bahasa Arab sbg bahasa aslinya ??... kenapa berdebat dgn hukum bahasa Indonesia ??... ini namnya pemerkosaan bahasa.

3. perhatikan gabungan ketiganya dalam ayat ini :

[29:3] Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

jadi menurut kamu
KAMI = Allah dan Rasul ?
Allah = Allah ?
Dia = Allah ?

loh kok ?.....
maka jelas sudah itu gaya bahasa sastra

PostPosted: Tue Jun 19, 2007 6:34 pm
by Duladi
1. apa nya yg gak rasional kalo Allah menghadiahkan "Paket Do'a" buat manusia ??

Yang membuat paket doa itu tidak bisa diyakini sebagai firman adalah dikarenakan tidak ada kata-kata Tuhan di dalamnya.
Itu murni kata-kata doa manusia, bukan kata-kata Tuhan. Maka dari itu, Surat Al-Fatihah tidak bisa disebut Firman.

2. anda kok tdk bisa menerima gaya Quran dlm bahasa Arab sbg bahasa aslinya ??... kenapa berdebat dgn hukum bahasa Indonesia ??... ini namnya pemerkosaan bahasa.

Kalau Allah itu Tuhan universal, kenapa memakai gaya bahasa Arab yang primitif?
Sungguh tidaklah logis bila Tuhan BERSOPAN SANTUN kepada manusia. Apakah derajat Allah di bawah manusia?

3. perhatikan gabungan ketiganya dalam ayat ini :

[29:3] Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

jadi menurut kamu
KAMI = Allah dan Rasul ?
Allah = Allah ?
Dia = Allah ?

loh kok ?.....
maka jelas sudah itu gaya bahasa sastra

Ayat Quran 29:3 yang Saudara kutip itu membuktikan betapa KACAU GAYA BAHASANYA.

Sesudah memakai kata "KAMI" (orang pertama jamak), kemudian menggantinya dengan kata "Allah" (nama orang ketiga) dan "Dia" (kata ganti ketiga). Apakah ini yang Saudara katakan gaya bahasa sastra?

Alquran sebenarnya sudah cukup jelas menyatakan siapa yang dimaksud dengan 'KAMI'.

KAMI adalah Allah dan RasulNya.

Kalau mau lebih mendalam lagi, Jibril juga turut tercakup di dalamnya, walau tersamar dan kurang begitu ditonjolkan dalam kalimat-kalimat Muhammad.

Contoh ayat-ayat Quran yang menyatakan kata KAMI adalah Allah dan RasulNya:

QS 47:33
Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul Allah dan janganlah kamu batalkan amal-amal kamu!

QS 64:12
Dan taatlah kamu kepada Allah serta taatlah kepada Rasulullah; maka kalau kamu berpaling (enggan taat, kamulah yang akan menderita balasannya yang buruk), kerana sesungguhnya kewajipan Rasul Kami hanyalah menyampaikan (perintah-perintah) dengan jelas nyata.

QS 58:5
Sesungguhnya orang-orang yg menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yg sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti yg nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yg menghinakan.

QS 58:5
Sesungguhnya orang-orang yg menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan. Sesungguhnya KAMI telah menurunkan bukti-bukti yg nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yg menghinakan.

QS 70:40
Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.

Allah tidak sendirian. Dalam setiap kalimat yang disampaikan, Allah selalu duet dengan RasulNya. Inilah yang menyatakan makna kata KAMI.

Ayat Quran 70:40, dapat dianalogikan dengan kalimat contoh berikut:

Aku pergi memancing bersama Udin; kami senang karena mendapat tangkapan ikan yang banyak.

Anda bisa memahami kalimat sederhana di atas, bukan?
Siapakah KAMI dalam kalimat contoh itu? KAMI adalah "aku dan Udin".

Bandingkan dengan ayat Quran 70:40:

Maka Aku (=Muhammad) bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang; sesungguhnya Kami (=Muhammad & Tuhan) benar-benar Maha Kuasa.

Juga ayat Quran 58:5
Sesungguhnya orang-orang yg menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan. Sesungguhnya KAMI (=Allah & RasulNya) telah menurunkan bukti-bukti yg nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yg menghinakan.

Dianalogikan dengan kalimat contoh sederhana:

Besok, aku dan Udin akan pergi memancing. Kami selalu mendapat tangkapan ikan yang banyak.

Maka Quran dalam hal ini telah memberikan penjelasan dengan cukup terang bahwa KAMI adalah Allah dan RasulNya.

Nah, manakah yang lebih harus saya percayai, penjelasan dari dalam Quran sendiri mengenai siapa yg dimaksud dengan KAMI atau penjelasan Saudara yg berusaha mengaburkan makna kata KAMI?

.

PostPosted: Tue Jun 19, 2007 6:39 pm
by richardthelionheart
ok

PostPosted: Wed Jun 20, 2007 2:25 pm
by MONTIR KEPALA
1. [b]Do'a dlm Firman" wah anda bener2 sulit bernalar dgn baik rupanya .... kalo Tuhan menghadiahkan kalimat Do'a yg mesti diucapkan oleh manusia kenapa mesti ada kata2 Tuhan nya ??.... bukankah Do;a adalah kalimat permintaan hamba pada Tuhannya ??.... itu berarti susunan kalimatnya harus MEMINTA dari manusia ke TUhan. .... misal Do'a Bapa di surga nya orang kresten. Bapa mengajarkan bgm cara berdo'a kepada Bapa ...tentunya kalimanya dari sisi manusia ke Tuhan bukan ?...wah !!!

2. TTG bahasa Arab .... Islam memang universal ...tapi inget orang2 awal yg diamanati menyebarkan agama ini adalah bangsa Arab yg hanya mengerti bahas Arab .... masa Tuhan harus berkomunikasi dgn bahasa non Arab pd bangsa Arab.
saya kira logis dan biasa sering kali bahasa penemu menjadi rujukan bangsa2 lain yg menggunakan hasil temuan tsb. misalnya TELEVISI lahir di negeri berbahasa Inggris ... maka berbagai bangsa mengadop murni bahasa Inggris dlm menyikapi TELEVISI tsb .... tdk ada yg memaksakan menyebutnya "MELIHAT JAUH" merk Toshiba ..

3. bukan rancu ...hanya kamu yg gak ngerti !!

PostPosted: Wed Jun 20, 2007 2:39 pm
by MONTIR KEPALA
1. Do'a dlm Firman" wah anda bener2 sulit bernalar dgn baik rupanya .... kalo Tuhan menghadiahkan kalimat Do'a yg mesti diucapkan oleh manusia kenapa mesti ada kata2 Tuhan nya ??.... bukankah Do;a adalah kalimat permintaan hamba pada Tuhannya ??.... itu berarti susunan kalimatnya harus MEMINTA dari manusia ke TUhan. .... misal Do'a Bapa di surga nya orang kresten. Bapa mengajarkan bgm cara berdo'a kepada Bapa ...tentunya kalimanya dari sisi manusia ke Tuhan bukan ?...wah !!!

2. TTG bahasa Arab .... Islam memang universal ...tapi inget orang2 awal yg diamanati menyebarkan agama ini adalah bangsa Arab yg hanya mengerti bahas Arab .... masa Tuhan harus berkomunikasi dgn bahasa non Arab pd bangsa Arab.
saya kira logis dan biasa sering kali bahasa penemu menjadi rujukan bangsa2 lain yg menggunakan hasil temuan tsb. misalnya TELEVISI lahir di negeri berbahasa Inggris ... maka berbagai bangsa mengadop murni bahasa Inggris dlm menyikapi TELEVISI tsb .... tdk ada yg memaksakan menyebutnya "MELIHAT JAUH" merk Toshiba ..

3. bukan rancu ...hanya kamu yg gak ngerti !!

PostPosted: Wed Jun 20, 2007 3:16 pm
by Duladi
Sdr Montir, Maaf, rupa-rupanya Anda mulai emosi.
Kenapa posting sampai 3 kali bertubi-tubi?

PostPosted: Wed Jun 20, 2007 3:37 pm
by Duladi
MONTIR KEPALA wrote:1. Do'a dlm Firman" wah anda bener2 sulit bernalar dgn baik rupanya .... kalo Tuhan menghadiahkan kalimat Do'a yg mesti diucapkan oleh manusia kenapa mesti ada kata2 Tuhan nya ??.... bukankah Do;a adalah kalimat permintaan hamba pada Tuhannya ??.... itu berarti susunan kalimatnya harus MEMINTA dari manusia ke TUhan. .... misal Do'a Bapa di surga nya orang kresten. Bapa mengajarkan bgm cara berdo'a kepada Bapa ...tentunya kalimanya dari sisi manusia ke Tuhan bukan ?...wah !!!

Saya setuju kalau DOA adalah kalimat dari sisi manusia ke Tuhan.
Nah, karena Surat Al-Fatihah dianggap sebagai firman, berarti di dalamnya harus ada kata-kata Tuhan. Tapi nyatanya tidak ada, bukan? Mulai dari ayat 1 sampai ayat 7 semuanya adalah kata-kata manusia, tidak ada kata-kata Allah.

Bila Saudara menunjukkan referensi Quran 15:87:

"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur'an yang agung."

Ini janggal. Kenapa kata-kata Allah tentang Al-Fatihah baru disampaikan belakangan jauh setelah dia menurunkan 49 surat lain?

Apakah Allah lupa memberikan kata-kataNya di surat Al-Fatihah tersebut sehingga setelah 49 surat dikeluarkan baru ia teringat pada 7 ayat doa yang dia ajarkan itu?

Ayat Quran 15:87 tersebut tidak sah sebagai firman, sebab memakai kata ganti KAMI.

Karena sesuai dengan pemahaman Saudara dan saya yang telah disepakati bersama, bahwa FIRMAN = OMONGAN TUHAN LANGSUNG.

Sedangkan KAMI = Allah dan RasulNya. Jadi ayat Quran 15:87 tidak murni lagi sebagai Firman (kata-kata Allah), tapi ia sudah berubah menjadi kata-kata manusia (Muhammad).

Baik 7 ayat Al-Fatihah maupun ayat 87 Al-Hijr (QS 15) di atas adalah bukan kata-kata Tuhan, melainkan hanya kata-kata manusia belaka.
.

PostPosted: Wed Jun 20, 2007 7:00 pm
by richardthelionheart
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS 2:79)
waduh ayat ini ayat dari mana?

PostPosted: Thu Jun 21, 2007 1:24 pm
by MONTIR KEPALA
Dul ..Dul ...kalo udeh terpuaskan Nalar luh jgn dipaksakan **** ... iiih keliatan banget berusaha sekeras mungkin mematahakan logika yg sudah bisa diterima dgn baik...


ha ha ha ha

PostPosted: Thu Jun 21, 2007 5:32 pm
by Duladi
Dik Montir, katanya Anda bukan Muslim Indomie, belum apa-apa kok ngamuk? Tujuan kita di sini bukan untuk menang atau kalah, tapi untuk menemukan sebuah kebenaran.

Sobat, Anda tidak usah malu, terimalah kenyataan, dan jangan bertumpu pada kepercayaan buta. Itu malah merugikan diri Anda sendiri.

Tentang Al-Fatihah tampaknya sudah tidak ada masalah, bukan?

Tentang kata-kata "Allah" yang janggal saya rasa tidak perlu diulas lagi, karena mubadir. Bukti-bukti yang kita kaji bersama sebelumnya di sini, sudah cukup dan tidak perlu ditambah lagi.

Quran diklaim sebagai 100% firman, tapi ternyata di dalamnya terdapat kata-kata manusia, maka gugurlah pandangan tersebut. Karena yg namanya 100% firman, haruslah keseluruhannya sebagai firman. Terdapat 1 saja kata-kata bukan firman, maka gugurlah klaim tersebut.

Saya rasa topik ini saya akhiri sampai di sini saja, dan tidak perlu diperpanjang lagi.

KESIMPULAN:

ALQURAN yang diklaim oleh Muhammad sebagai KITAB TUHAN (=kitab karangan Tuhan, turun langsung dari surga, 100% firman), ternyata hanya BUALAN SEMATA.

ALQURAN tidak beda dengan kitab-kitab suci agama-agama lain di dunia. Setelah dikaji beberapa surat dan ayat dalam buku ini, terbukti dipandang dari sudut keilmuan kata-kata tersebut adalah kata-kata manusia belaka.

Salah satu contohnya adalah surat Al-Alaq, yang diklaim umat Muslim sebagai surat pertama yang diturunkan kepada nabi mereka.

Surat ini ternyata tak lebih dari kata-kata bijak seorang manusia dalam usaha pencariannya akan kebenaran. Kita bisa membandingkannya dengan kata-kata bijak nabi Sulaiman dalam Bibel (kitab Amsal), tidak ada beda, sangat nyata sekali bahasa manusianya, bukan kata-kata TUHAN.

Kemudian surat Al-Fatihah adalah kata-kata doa Muhammad kepada Allahnya, yang juga sangat nyata itu hanya kata-kata manusia belaka.

Dan beberapa ayat dalam Quran juga sempat diulas. Beberapa hal yang membuktikan kalau ayat-ayat tersebut adalah kata-kata manusia, antara lain:

1. Penggunaan kata ganti KAMI (orang pertama jamak). Dalam hal ini kata "Kami" dimaksudkan untuk Allah dan RasulNya. Semua ini sudah dinyatakan sendiri dalam Alquran.

2. Penggunaan kata ganti DIA. Bahwa tidak lazim Yang Maha Kuasa memakai kata ganti "DIA" untuk menyebut diriNya sendiri sewaktu berbicara dengan makhluk ciptaanNya. Sangat kentara sekali persamaannya model kata-kata demikian dengan kata-kata manusia dalam Bibel. Tuhan dalam Bibel tak pernah memakai kata ganti "DIA" untuk menyebut diriNya sendiri sewaktu berbicara langsung kepada manusia. Dia selalu konsisten menggunakan kata "AKU". Sedangkan kata-kata manusia yang kerap dimaksudkan untuk puji-pujian atau syair kepada Tuhan, selalu memakai kata ganti DIA untuk menyebut Tuhannya.

ALQURAN ADALAH KATA-KATA MANUSIA, BUKAN FIRMAN ALLAH.

Karena si penulis telah membual (berbohong) dengan mengatakan kitab karangannya sebagai FIRMAN, maka dirinya mati terkutuk oleh racun ganas dengan sebelumnya menderita dahulu selama 3 tahun.

Ini sesuai dengan kata-kata kutukan yang dia ucapkan sendiri dalam kitab karangannya, yang semula dia maksudkan untuk membalikkan fakta, maling teriak maling, dengan menuduh umat Yahudi telah membuat kalimat-kalimat sendiri dan mengatakan itu sebagai FIRMAN ALLAH:

QS 2:79
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.

Kata-kata di atas dibuat oleh si penulis (Muhammad) untuk menutupi kelakuannya sendiri. Sebab orang yang melakukan perbuatan tidak terpuji itu adalah dirinya, dan bukan orang lain. Ini satu lagi bukti betapa jahatnya manusia ini, suka memfitnah dan membalikkan tuduhan yang semestinya tuduhan itu untuk dirinya sendiri. Maling teriak Maling. Sungguh keji manusia bejat tak bermoral ini, tukang garong, dan penjahat kelamin.

Perlu para pembaca ketahui, bahwa di antara kitab-kitab suci yang diakui Muhammad, tidak ada satu pun yang mengklaim dirinya KITAB TUHAN ("KITAB DARI ALLAH").

Justru Alquran-lah kitab bobrok yang isinya penuh dengan ajaran kebencian sebagai satu-satunya kitab di dunia yang mengklaim dirinya sebagai KITAB DARI ALLAH, sesuai dengan kata-kata dalam Surat Al-Baqoroh ayat 79 di atas.

Sekian.

DULADI

PostPosted: Fri Jun 22, 2007 3:24 pm
by MONTIR KEPALA
Duladi mulai mengecam tuh ...kik ... pake menderita selama 3 tahun ...menderita apanya ... coba sodorkan hadits selama hidup Nabi penyakit fisik apa yg beliau derita .... he he ..sok cari sampe botak ..!

Quran itu sumber munculnya cuma satu yaitu dari mulut Nabi Muhammad SAW. jadi kalo nuduh Quran karangan manusia maka MUHAMMAD lah yg harus ditunjuk idungnya.

Masa ada pengarang Kitab mencantumkan ayat2 teguran pada dirinya sendiri ...?? walaaah aneh2 saja

PostPosted: Fri Jun 22, 2007 10:46 pm
by Duladi
MONTIR KEPALA wrote:Duladi mulai mengecam tuh ...kik ... pake menderita selama 3 tahun ...menderita apanya ... coba sodorkan hadits selama hidup Nabi penyakit fisik apa yg beliau derita .... he he ..sok cari sampe botak ..!

Hadis Sahih Bukhari 5.713:
Dikisahkan Ibn Abbas:
'Umar bin Al-Khattab biasa mempersilakan Ibn Abbas untuk duduk si sebelahnya lalu 'AbdurRahman bin 'Auf berkata kepada ‘Umar, “Kami punya putra2 yang mirip dengannya.” ‘Umar lalu bertanya bertanya pada Ibn 'Abbas arti ayat suci ini: “Ketika pertolongan Allah tiba dan penaklukkan Mekah …. “ (110:1)
Ibn ‘Abbas menjawab, “Hal ini menyatakan kematian Rasul Allah yang diberitahukan Allah kepadanya.” ‘Umar berkata, “Aku hanya mengerti yang kau mengerti.”
Dikisahkan oleh Aisha: Sang Nabi dalam penderitaan sakitnya yang mengakibatkannya mati, biasa berkata, “Wahai ‘Aisha! Aku merasa sakit karena daging yang kumakan di Khaybar, dan saat ini, aku merasakan urat nadiku bagaikan dipotong oleh racun itu.”


Dari Tabari Volume 8, halaman 124:
Rasul Allah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – “Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Khaybar.

Tabari Volume 9 page 108:
Ketika sang Nabi kembali dari Medina setelah melakukan ibadah haji, dia mulai mengeluh kesakitan. Berita sakitnya nabi mulai menyebar … Di bulan Muhammarm sang Nabi mengeluh kesakitan sampai akhirnya mati.

Dari Ibn Sa'd halaman 263
Sesungguhnya selama dia sakit, sang Nabi melafalkan "al-Mu'awwadhatayn" [Sura 113, dan 114], dan meniupkan udara ke atas tubuhnya sambil menggosok-gosok wajahnya.

Dari Ibn Sa'd halaman 265
Rasul Allah jatuh sakit dan dia yakni Jibril, berdoa baginya sambil berkata, “Dalam nama Allah aku berdoa untuk mengusir semua yang melukaimu dan menangkal semua yang dengki padamu dan dari semua mata yang jahat dan Allah akan menyembuhkanmu.”

Dari Ibn Sa'd halaman 322
Sesungguhnya, ketika Rasul Allah merasa sakit, dia meminta kesembuhan dari Allah. Tapi atas sakitnya yang menyebabkan dirinya mati, dia tidak berdoa untuk minta kesembuhan; dia biasa berkata, “Wahai jiwa! Apa yang terjadi atas dirimu sehingga kau mencari berlindung di setiap tempat perlindungan?”

Dari Ibn Hisham halaman 678:
Ketika sang Rasul mulai menderita sakit yang membuat Allah mengambil dirinya untuk memberikannya kehormatan dan kasih sayang yang telah Dia rencanakan baginya tak lama sebelum akhir Safar atau awal Rabi'ul-awwal. Aku diberitahu bahwa peristiwa ini dimulai ketika dia pergi ke Baqi'u'l-Gharqad di tengah malam dan berdoa bagi yang mati. Lalu dia kembali kepada keluarganya dan di pagi hari penderitaannya dimulai.

Dari Ibn Hisham halaman 679:
Lalu penyakit sang Nabi bertambah buruk dan dia menderita sakit hebat. Dia berkata, “Siramkan air tujuh kantung kulit dari sumur2 yang berbeda ke atas tubuhku sehingga aku bisa ke luar bertemu orang2ku dan memerintahkan mereka.” Kami membantunya duduk di sebuah baskom tempat mandi milik Hafsa d. Umar dan kami menyiramkan air ke atasnya sampai dia menjerit,”Cukup, cukup!”
… lalu dia [Muhammad] berkata, “Allah telah memberikan seorang dari hamba2nya pilihan antara dunia dan apa yang ada bersama Allah dan dia memilih yang terakhir.”


Quran itu sumber munculnya cuma satu yaitu dari mulut Nabi Muhammad SAW.

Benar, inilah yang menyebabkan semua perkataannya diragukan keabsahannya. Kekonyolan Muhammad dalam hal ini sama persis dengan Lia Eden. Sebagaimana Muhammad mencontek dari kitab-kitab suci agama-agama lain, Lia Eden pun juga memakai kitab-kitab suci agama lain untuk mendukung ajaran dan misi kenabiannya.

jadi kalo nuduh Quran karangan manusia maka MUHAMMAD lah yg harus ditunjuk idungnya.

Benar. Dan dari hasil analisis membuktikan bahwa Muhammad telah mengarang kitab palsu untuk menunjang cita-cita gilanya.

Masa ada pengarang Kitab mencantumkan ayat2 teguran pada dirinya sendiri ...?? walaaah aneh2 saja

Bisa, masa Anda tidak terpikir?
Sebodoh itukah nalar Anda?
Walaaah, kalau begini otak Anda, Anda termasuk tipe orang yang gampang sekali ditipu.

Saya bisa saja mengarang ayat-ayat yg isinya seolah Allah sedang menegur saya. Ini malah makin menambah kevalidan akting saya di mata para pengikut.