.

BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Mengungkapkan cara berpikir Muslim pada umumnya dan Muslim di FFIndonesia pada khususnya.

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doblank » Tue Nov 09, 2010 11:13 am

dorama wrote:btw. ibadah thawaf pertama oleh manusia pertama,nabi Adam,bukan nabi Ibrahim. mmg kabah itu nyambung dg langit atas,kelihatan ada cahaya lurus tembus dr atas kabah,kesaksian para astronot nasa,terlihat dr luar angkasa


doramma wrote:kalau kamu mau cari kebenaran jgn tergantung orang lain,cari tuh ke nasa astronomnya,tanya sendiri...supaya puas...tujuan kamu kan cari kebenaran,nah jangan malas!

yang membuat pernyataan tentang kesaksian astronom NASA siapa brodor???


anda lari dari pernyataan anda sendiri.
karena kesaksian astronom yang anda bangga-banggakan cuma KEBOHONGAN BESAR!anda malu tidak bisa menutupi hoax islam.
dan saya maklumi anda karena mulai bertaqiya
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby chrystal eye » Tue Nov 09, 2010 3:47 pm

tapi bro doblank.... bukannya taqiya itu dibolehkan dalam keadaan darurat? daripada mati gitu..............

memangnya dorama lagi dalam keadaan darurat? bukannya malah dia jagoannya di sini? nah postingannya aja penuh kata2 mutiara gitu kok?
lalu apakah yang dilakukan dorama? semantic error atau mentally retarded? atau islamic rational relativism?
chrystal eye
 
Posts: 512
Joined: Sat Feb 06, 2010 10:39 am

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doblank » Tue Nov 09, 2010 4:56 pm

chrystal eye wrote:tapi bro doblank.... bukannya taqiya itu dibolehkan dalam keadaan darurat? daripada mati gitu..............

memangnya dorama lagi dalam keadaan darurat? bukannya malah dia jagoannya di sini? nah postingannya aja penuh kata2 mutiara gitu kok?
lalu apakah yang dilakukan dorama? semantic error atau mentally retarded? atau islamic rational relativism?

trima kasih bro chrystal eye.. ada baiknya kita kembali ketopik




salam damai
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby key » Wed Nov 10, 2010 12:44 am

doramma wrote:ya search aja sendiri, manja banget...kita2 sih sdh yakin...nah,jgn tergantung pd orang lain u/ mencari kebenaran. disela2 kesibukan,aku cukup berbaik hati,nieh aku kasih,tp bsk2 usaha sendiri yah! http://abughifari.wordpress.com/2008/09 ... para-nabi/

Thawafnya Malaikat Dan Hajinya Para Nabi

September 14, 2008 by abughifari

Ribuan tahun yang silam, sebelum manusia diciptakan, di alam yang tak terjangkau oleh manusia, Allah SWT berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Malaikat lalu berkata, “Ya Tuhan kami, khalifah selain kami hanya akan berbuat kerusakan di bumi, membuat pertumpahan darah, saling dengki, dan saling membenci; sedangkan kami selalu bertasbih memuji-Mu, menyucikan-Mu, menaati, dan tidak mengingkari-Mu.”

Allah berfirman, “Wahai malaikat, sesungguhnya Aku lebih mengetahui yang tidak kamu ketahui.”

Mendengar firman Allah tersebut, Malaikat langsung bersujud. Mereka mengira Allah murka. Mereka bersujud sambil menangis, memohon ampun dari murka Allah. Kemudian mereka thawaf, mengelilingi Arasy cukup lama.

Allah, Yang Maha Pemurah, melihatnya, lalu menurunkan rahmat. Diciptakan-Nya sebuah tempat yang disebut Baitul Makmur, tepat berada di bawah Arsy. “Wahai para malaikat-Ku, thawaflah kalian di rumah ini dan tinggalkan Arasy.”

Malaikat-malaikat tadi pun berthawaf mengelilingi Baitul Makmur. Dalam satu hari satu malam, kira-kira ada tujuh puluh ribu malaikat yang berthawaf.

Kemudian Allah mengutus malaikat-malaikat ke bumi seraya berfirman kepada mereka, “Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah di bumi seperti ini (Baitul Makmur).”

Lalu, Allah memerintahkan malaikat yang ada di bumi dan juga makhluk yang lainnya untuk thawaf di rumah tersebut sebagaimana penghuni langit thawaf di Baitul Makmur.

Demikianlah, Allah menciptakan Baitul Makmur tempat bertobat para penghuni langit, dan Ka’bah di bumi sebagai tempat bertobat para penghuni bumi.

Setelah sekian lama tinggal di bumi dengan senantiasa berharap turunnya rahmat dan ampunan Allah, pada suatu hari Nabi Adam AS mendapat perintah dari Allah untuk menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci, Makkah.

Nabi Adam AS berangkat dari tempat tinggalnya berjalan ke arah barat melalui Syam, hingga sampailah di Bakkah dan melaksanakan thawaf bersama para malaikat yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Para malaikat ini sudah sejak lama melaksanakan perintah thawaf mengelilingi Ka’bah sebelum kedatangan Nabi Adam AS sebagai manusia pertama yang menunaikan manasik ibadah haji.

Ketika Adam berthawaf di Baitullah dan sampai ke Multazam, Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Wahai Nabi Allah, akuilah di tempat ini segala dosamu kepada Tuhanmu!”

Berhentilah Adam, lalu berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya setiap makhluk yang beramal shalih mendapat ganjaran. Sungguh aku telah beramal, apakah ganjaranku?”

Allah SWT mewahyukan kepadanya, “Aku ampuni engkau atas dosa-dosamu.”

Nabi Adam AS berkata, “Wahai Tuhanku, juga untuk anak-cucu keturunaku?”

Allah SWT mewahyukan kepadanya, “Wahai Adam, siapa saja di antara keturunanmu yang datang ke tempat ini mengakui dosa-dosanya, bertobat sebagaimana engkau bertobat, dan memohon ampun, niscaya Aku ampuni.”

Ketika Nabi Adam bertolak dari Mina, para malaikat menemuinya dan berkata, “Wahai Adam AS, hajimu telah mabrur. Sesungguhnya kami telah menunaikan haji di Baitullah sebelum engkau selama dua ratus tahun.”

Setelah melaksanakan thawaf, beliau mengikuti perintah untuk pergi ke suatu tempat di padang pasir. Di sana Nabi Adam bertemu dengan Siti Hawa, yang berjalan dari suatu tempat bernama Jeddah, tempat beliau menetap setelah diturunkan dari surga. Tempat pertemuan mereka di Padang Arafah ini kemudian dinamakan Jabbal Rahmah, yang berarti “Bukit Rahmat”, sedangkan kata Arafah mempunyai arti “tahu atau kenal”, sehingga seluruhnya berarti “Pertemuan atau perkenalan kembali (di sebuah bukit di padang pasir) setelah sekian lama berpisah” sebagai rahmat Allah SWT terhadap Adam dan Hawa.

Selesai mengerjakan ibadah haji, Nabi Adam AS bertobat meminta ampun kepada Allah SWT, dan tobatnya diterima, sehingga dia telah bersih dari dosa dan kesalahan atas perbuatan yang pernah dilakukannya karena terbujuk oleh bisikan iblis pada masa yang lalu.

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (surah Al-Baqarah ayat 37).

Konon, Nabi Adam AS mengunjungi Baitullah sebanyak seribu kali dengan berjalan kaki, tujuh ratus haji dan tiga ratus umrah.Beliau menunaikan haji dengan penuh semangat. Nabi Adam selalu berdiam di Al-Hathim, yaitu tempat di antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad. Beliau telah berthawaf selama seratus tahun sebelum berjumpa dengan istrinya, Hawa. Jibril berkata kepadanya, “Mudah-mudahkan Allah memberikan umur panjang kepadamu dan mengangkat derajatmu.”

Dalam konteks haji, ada istilah haji mabrur. Haji mabrur tidak bercampur dengan satu perbuatan maksiat pun. Mabrur adalah peningkatan, perluasan dalam kebaikan. Ada pula yang berpendapat, haji mabrur adalah haji yang diterima.

Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menunaikan haji bersama putranya. Nabi Ismail AS. Berangkatlah mereka berdua dengan menunggang unta. Tidak ada yang menyertai kecuali Jibril.

Ketika mereka sampai di Tanah Haram, Jibril berkata kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim, turunlah dan mandilah sebelum kalian memasuki Tanah Haram.”

Mereka pun turun dan mandi. Kemudian, Jibril memperlihatkan kepada mereka bagaimana cara mempersiapkan ihram. Mereka melakukan apa yang dicontohkan. Jibril lalu memerintahkan mereka untuk bertalbiyah dengan mengucapkan kalimat talbiyah sebagaimana yang diucapkan oleh para rasul sebelumnya.

Kemudian Jibril membawa mereka ke Bukit Shafa. Mereka turun, sementara Jibril berdiri di antara mereka berdua, seraya menghadap Baitullah. Jibril bertakbir, mereka pun bertakbir. Jibirl bertahlil, mereka pun bertahlil, Jibril bertahmid, lalu memuji Allah, dan mereka berdua pun melakukan apa yang dilakukan Jibril.

Setelah selesai, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk kembali ke negeri Syam, dan menempatkan Nabi Ismail di Tanah Haram sendirian. Tiada ada orang lain kecuali ibunya, Siti Hajar.

Setelah Ibrahim kembali, Allah memerintahkannya untuk menyeru manusia agar berhaji dan memerintahkannya membangun Ka’bah. Bangsa Arab pun berangkat menunaikan haji, dan waktu itu bangunan Ka’bah masih berupa bongkahan-bongkahan batu di atas fondasi.

Ketika manusia mulai berdatangan, Nabi Ismail mengumpulkan batu dan menaruhnya di tengah-tengah Ka’bah. Ketika Allah SWT mengizinkannya membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim datang dan berkata, “Wahai anakku, Allah memerintahkan kita untuk membangun Ka’bah.”

Mereka lalu membongkar batu-batu itu. Ternyata ada satu batu yang berwarna merah. Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan bangunan Ka’bah di atas batu itu. Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim, “Letakkan bangunan Ka’bah di atas batu itu!”

Allah kemudian menurunkan empat malaikat untuk membantu Nabi Ibrahim mengumpulkan batu-batu itu, sementara Nabi Ibrahim dan putranya menata batu-batu tersebut hingga selesai.

Para nabi yang lain juga melaksanakan haji. Nabi Nuh, misalnya, melakukan ibadah haji saat berada di perahunya. Beliau diperintahkan untuk thawaf di Baitullah ketika bumi ditenggelamkan, kemudian mendatangi Mina dalam hari-hari perjalanannya, lalu kembali dan berthawaf di Baitullah.

Begitu pula Nabi Musa, beliau berniat ihram dari padang pasir Mesir dan menemui 70 nabi di atas bukit bebatuan Rauha. Suatu tempat di antara dua Tanah Haram, berjarak 30 atau 40 mil dari kota Madinah. Mereka mengenakan mantel yang terbuat dari katun. Nabi Musa bertalbiyah, “Aku sambut panggilan-Mu. Aku hamba-Mu, dan anak dua orang hamba-Mu, menyambut panggilan-Mu.”

Sementara Nabi Sulaiman melaksanakan haji bersama jin, manusia, burung-burung, serta angin, dan beliau menutupi Baitullah dengan bahan pakaian dari Mesir.

Nabi Yunus melewati bukit bebatuan Rauha seraya berucap, “Aku sambut panggilan-Mu, wahai Dzat Pelepas kegundahan yang besar. Aku sambut panggilan-Mu.”

Nabi Isa bin Maryam pun melewati bukit bebatuan Rauha seraya mengucapkan hal yang sama, “Aku sambut panggilan-Mu, aku hamba-Mu, menyambut panggilan-Mu.”

Nabi Muhammad juga melewati bukit bebatuan Rauha seraya berkata, “Aku sambut panggilan-Mu, wahai Dzat Penguasa tempat-tempat tinggi, aku sambut panggilan-Mu.”

Dalam beberapa riwayat disebutkan, semua nabi melaksanakan ibadah haji di Baitullah, kecuali Nabi Hud AS dan Nabi Shalih AS, karena mereka disibukkan dengan urusan kaumnya dan tidak sempat melaksanakan haji.

Sejak hijrah ke Madinah, Nabi SAW hanya menunaikan haji satu kali. Tetapi selama di Mekkah, beliau sering menunaikan haji bersama kaumnya. Bahkan ada sebuah riwayat yang mengatakan, Nabi Muhammad melaksanakan haji sebanyak dua puluh kali dan tiga kali umrah.

Rasulullah berangkat haji pada empat hari terakhir bulan Dzulqaidah hingga ketika sampai di sebuah pohon beliau shalat. Setelah itu beliau meneruskan perjalanan sampai di Baida’. Dari sana Rasulullah berniat ihram dan mengucapkan talbiyah serta membawa seratus ekor unta Para sahabat pun berniat ihram. Saat itu mereka belum mengetahui bahwa itu adalah haji tamattu’.

Ketika sampai di Makkah, beliau melakukan thawaf di Baitullah dan orang-orang pun ikut berthawaf bersamanya. Kemudian, beliau shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim serta mengusap dan mencium Hajar Aswad.

Nabi lalu berjalan menuju Shafa, dan memulai sa’i dari sana. Beliau berbolak-balik antara Shafa dan Marwah tujuh kali.

Ketika selesai sa’i di Marwah, beliau memerintahkan jamaah untuk bertahallul. Maka seluruh jamaah pun mencukur rambut.

“Seandainya sudah tahu sebelumnya, tentu telah aku lakukan sebagaimana yang aku perintahkan kepada kalian. Seseorang yang mempunyai hewan qurban belum dapat bertahallul, karena Allah berfirman, ‘Janganlah kalian mencukur rambut kalian sebelum qurban sampai ke tempat penyembelihannya’.” Sabda Rasulullah.

Seorang sahabat, Saraqah bin Malik, bertanya, “Wahai Rasulullah, kami merasa seakan-akan kami baru diciptakan hari ini. Apakah yang engkau perintahkan kepada kami ini berlaku untuk tahun ini saja atau untuk setiap tahun?”

Rasulullah menjawab, “Untuk selamanya…”

http://ustadzcinta.wordpress.com/2010/0 ... ada-allah/
Thawaf dalam makna asalnya berarti mengelilingi sesuatu. Dalam pengertian syariat, thawaf adalah salah satu bentuk ibadah dengan cara mengelilingi ka’bah tujuh kali. Dalam rangkaian ibadah haji, kedudukan thawaf sangat penting sekali. Dan selama berhaji sangat dianjurkan untuk memperbanyak thawaf sunnah (tathawu) karena keutamaannya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap hari Allah menurunkan 120 rahmat kepada orang yang berhaji ke rumah Allah yang suci: 60 untuk yang berthawaf, 40 untuk yang shalat, dan 20 untuk yang menyaksikannya (hadits hasan riwayat Baihaqi).

Apakah makna dibalik thawaf? Di dalam Alquran dan hadits tidak dijelaskan makna berkeliling di sekitar ka’bah itu. Tetapi ayat-ayat Allah di alam semesta ini bisa membantu menjelaskan maknanya. Kalau kita perhatikan alam semesta secara mendalam, thawaf juga dilakukan oleh semua makhluk-Nya. Hal inilah yang akan diulas dalam tulisan ini bagaimana alam pun berthawaf sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya.
Ketaatan Makhluk

Pada awal penciptaan alam semesta, Allah mengambil “janji” langit dan bumi dalam bahasa-Nya yang diabadikan di dalam Alquran surat Fush-shilat:9-12.

Katakanlah, “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Allah itulah) Rabb semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh, memberkahinya, dan menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni-)nya dalam empat masa. (Itulah jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menyempurnakan langit, (ketika) itu masih berupa kabut. Dia berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Untuk memahami “janji” langit dan bumi tersebut, perlu juga difahami proses evolusi alam semesta secara keseluruhan. Secara ringkas, kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S. 79:27-32) terdiri enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. 21:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 12-20 milyar tahun lalu. Langit (ruang alam semesta) kemudian mengembang (Q.S. 51:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama.

Masa yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang dengan bahan dasar dukhan (debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. 41:11). Masa ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat.

Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002.

Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh- tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

Semua proses alami itu yang seolah-olah berjalan dengan sendirinya, sebenarnya berjalan menurut ketentuan Allah. Tanpa tawar menawar, alam patuh mengikuti proses itu. Itu “janji” alam ketika Allah menciptakannya.

Benda-benda langit ditentukan urusannya masing-masing. Bulan mengelilingi bumi. Bumi dan planet-planet lainnya serta komet dan asteorid (planet kecil) mengelilingi matahari. Matahari dan bintang-bintang mengelilingi pusat galaksi. Semua tunduk pada aturan-Nya.

Demikian juga segala proses alami di bumi berjalan sesuai aturan-Nya. Bumi berotasi yang menghasilkan fenomena malam dan siang. Angin bertiup dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Air mengalir mencari daerah yang lebih rendah. Semuanya taat mengikuti ketentuan Allah sesuai janji pada saat penciptaannya.
Alam berthawaf

Thawafnya alam semesta adalah bentuk ketaatan yang paling nyata. Hal ini akan tampak jelas mulai dari proses pembentukan bintang dan planet-planet sampai pada skala galaksi.

Penelitian astronomi menunjukkan banyak bintang bermassa kecil (hampir massa matahari) masih dalam proses pembentukan. Bagian intinya membentuk embrio bintang yang dikelilingi piringan debu dan gas. Hasil pengamatan itu didukung model teoritik berdasarkan perhitungan fisika.

Menurut telaah teoritik, pembentukan bintang bermula dari kontraksi (pemadatan) debu dan gas (dukhan) secara lambat akibat gaya gravitasinya sendiri sambil berotasi. Gas dan debu berthawaf mengelilingi inti pemadatan yang akhirnya nanti akan menjadi bakal bintang.

Akibat rotasi itu, debu dan gas itu tidak semuanya memadat ke intinya, tetapi sebagian membentuk piringan di sekitar intinya yang juga terus berotasi. Embrio bintang dan piringan masih diselubungi oleh debu yang amat tebal sehingga tidak terlihat dari luar. Hanya pancaran sinar inframerah yang dapat diamati.

Dalam proses selanjutnya, embrio bintang berkembang menjadi bintang muda yang didalam intinya mulai terjadi reaksi nuklir. Bintang muda itu kemudian memancarkan partikel-partikel halusnya yang disebut angin bintang. Ini dimulai dari arah kutubnya selanjutnya ke arah ekuatornya. Dengan itu pula proses pemadatan berhenti dan selubung debunya mulai tersibak. Yang tersisa adalah piringan gas dan debu di sekitar bintang muda tersebut.

Sisa piringan gas dan debu itu disebut nebula proto-planet, karena di piringan itulah kemudian terbentuk planet-planet. Bintang (termasuk matahari) dan piringan debunya selanjutnya memasuki masa pembentukan planet-planetnya.

Salah satu teori menyebutkan bahwa nebula proto-planet mula-mula berdiameter sekitar 20 SA (SA = Satuan Astronomi, jarak bumi-matahari) ketika pemadatan berhenti, belum seluas tata surya kita sekarang (berdiameter lebih dari 50.000 SA). Kemudian nebula proto- planet melebar yang disertai dengan proses pendinginan.

Proses pendinginan nebula proto-planet menyebabkan terjadinya penggumpalan gas dan debu. Senyawa yang mula-mula berkondensasi adalah besi dan silikat. Di bagian luar tata nebula proto-planet yang temperaturnya lebih rendah, es air juga ikut berkondensasi. Teori yang kini dianggap kuat menyatakan bahwa planet-planet berasal dari penggumpalan itu yang disebut planetesimal.

Bumi dan planet-planet dekat matahari lainnya (Merkurius, Venus, dan Mars) hanya terbentuk dari materi padat yang terkondensasi, terutama dari senyawa besi dan silikat. Sedangkan Jupiter dan planet-planet raksasa lainnya terbentuk dari planetesimal besar, antara lain akibat turut terkondensasinya es air, sehingga mampu menangkap gas, terutama Hidrogen dan Helium. Planetesimal kecil yang tidak membentuk planet atau pecah akibat tumbukan sesamanya tersisa sebagai komet, asteroid, dan meteoroid.

Thawafnya dukhan pada penciptaan matahari dan anggotanya masih tampak pada rotasi matahari yang berperiode 27 hari dan peredaran planet-planet mengitari matahari.

Matahari dan dan bintang-bintang pun tidak diam di tempat. Semua anggota galaksi bima sakti, yang jumlahnya ratusan milyar bintang juga berthawaf mengitari pusat galaksi. Matahari dan anggota tata suryanya berthawaf mengitari pusat galaksi sekali dalam 200 juta tahun dengan kecepatan sekitar 200-300 km per detik.

Bagaimana cara thawaf makhluk-makhluk lainnya di atas bumi? Tumbuhan dan binatang juga berthawaf mengitari poros bumi sekali dalam 24 jam. Hanya karena gerakannya dalam skala besar, kita tidak menyadarinya. Malah kita merasakannya seolah-olah benda-benda langit yang mengelilingi kita, yang tampak dalam proses terbit dan terbenamnya matahari, bulan, dan bintang-bintang.
Thawafnya Manusia

Secara jasmani, manusia merupakan bagian dari alam yang pada awal penciptaannya, telah berjanji akan taat kepada-Nya. Maka manusia pun turut dalam proses alam. Termasuk berthawaf bersama tumbuhan dan binatang mengitari poros bumi, walau kadang-kadang tidak menyadarinya.

Secara ruhani, pada awal penciptaan di alam rahim, diri manusia pun telah berjanji untuk taat mengakui Allah sebagai Rabb, Tuhan pencipta dan pemeliharanya.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Q.S. 7:172).

Pada hari perhitungan kelak, yang mesti dipertanggungjawabkan manusia bukanlah dimensi jasmaninya, tetapi dimensi ruhaninya. Karena jasmani manusia sebenarnya telah taat kepada ketentuan Allah. Ketika terpeleset, jasmani manusia akan jatuh tertarik gravitasi bumi. Ketika terkena wabah penyakit, jasmani manusia bisa rusak. Ketika mati, jasmani manusia pun akan hancur dalam proses pembusukan. Itulah contoh ketaatan jasmani manusia.

Secara ruhani manusia berpotensi untuk ingkar janji, karena adanya nafsu. Ketaatan berdasarkan pengakuan Allah sebagai penciptanya yang pernah dijanjikannya sering terlupakan.

Haji sebagai puncak ibadah mengingatkan akan janji awal manusia untuk taat, sebagai mana alam semesta memenuhi janjinya untuk taat kepada-Nya. Dalam ibadah haji, thawaf bisa mengingatkan jiwa manusia untuk taat kepada Allah sebagaimana alam pun taat pada penciptanya.

Tujuh kali mengelilingi ka’bah bisa bermakna proses yang terus menerus tiada henti sebagaimana thawafnya alam semesta. Di dalam Alqur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Perumpamaan yang diberikan Allah seperti menanam sebutir benih menghasilkan tujuh tangkai berisi masing-masing seratus butir.

Demikian juga perumpamaan tak terbatasnya Kalimat Allah yang tak mungkin dapat dituliskan walaupun semua pohon jadi pena dan lautan jadi tintanya dan di tambah tujuh lautan lagi (Q.S. Luqman:27). Ungkapan tujuh langit pun bisa bermakna seluruh benda langit yang tak terhitung jumlahnya.

Bagi diri manusia, pelaksanaan thawaf tujuh kali merupakan simbol ketaatan dirinya seperti taatnya benda-benda langit berthawaf tiada henti. Tetapi, bila dilihat sebagai kelompok, manusia yang berthawaf silih berganti tiada henti akan tampak seperti miniatur anggota tata surya yang sedang mengitari matahari. Atau seperti bintang-bintang yang sedang mengitari pusat galaksi.

T.Djamaluddin
(Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung)

Antara Yerusalem dan Makkah
Mengapa Nabi lebih suka salat menghadap ke Makkah daripada ke Yerusalem? Secara historis Makkah sebetulnya lebih tua daripada Yerusalem. Yerusalem baru didirikan atau baru dijadikan kota suci agama Tuhan setelah jatuh ke Nabi Daud. Itu terjadi kurang lebih 3.000 tahun yang lalu. Tetapi Makkah dengan Ka'bahnya, paling tidak dalam Alquran disebutkan bahwa Ka'bah itu sebagai rumah suci pertama yang didirikan untuk umat manusia:

Sesungguhnya rumah suci yang pertama yang didirikan untuk umat manusia adalah yang dilembah Bakkah itu sebagai rumah yang diberkahi Allah dan sebagai petunjuk bagi seluruh Alam (Q.,3:96).

Legenda menyatakan bahwa yang mendirikan Ka'bah itu adalah Nabi Adam a.s. Jadi waktu Nabi Adam diusir dari surga dengan segala kesedihannya, ada satu yang paling disedihkan oleh Adam, yaitu dia tidak lagi secara spiritual bisa mengikuti ibadahnya para Malaikat, berkeliling mengnitari Singgasana Allah (`Arasy). Kemudian, konon, menurut legenda yang ditulis dalam beberapa kitab, Adam dihibur oleh Allah dengan dibolehkannya Adam membuat Ka'bah sebagai tiruan dari 'Arasy Allah. Dan Adam diperintahkan mengelilingi Ka`bah itu (thawaf). Jadi, thawaf (tawaf) adalah semacam cara ibadah menirukan Malaikat mengelilingi `Arasy Tuhan. Dan ternyata, seluruh jagat raya ini melakukan tawaf. Misalnya, bulan tawaf mengelilingi matahari. Dan matahari dan seluruh familinya yang terdiri dari planet-planet juga tawaf mengelilingi pusat dari galaksi, yang oleh para astronom internasional disebut Milky-way, atau dalam bahasa Indonesia disebut Galaksi Bimasakti.

Galaksi Bimasakti adalah salah satu anggota dari banyak galaksi yang ada miliaran galaksi. Dan besarnya- saking besarnya- tidak bisa lagi diukur dengan kilometer, melainkan dengan satuan perjalanan cahaya. Galaksi kita saja, yaitu gugusan bintang Bimasakti- yang kalau malam terang sekali, kelihatan seperti kabut membujur utara-selatan, karena kita melihatnya seperti cakram- meskipun bukan yang terbesar, namun sangat besar menurut ukuran kita. Besarnya itu hanya bisa dihitung dengan perjalanan tahun cahaya. Garis tengah galaksi Bimasakti- yang dianggap oleh para astronom tidak terlalu besar- adalah 400 tahun (perjalanan) cahaya. Jadi, cahaya itu memerlukan waktu 400 tahun untuk dapat menempuh jarak dari tepi ke tepi. Nah, coba kita bayangkan, cahaya matahari itu untuk sampai ke bumi hanya memerlukan waktu 8 menit. Galaksi yang menurut ukuran kita sangat besar itu, sebagaimana benda angkasa yang lain, adalah juga melakukan tawaf, mengelilingi pusat galaksi.

Mungkin banyak dari kita yang sudah hafal ayat kursi. Ternyata ayat kursi itu merupakan ayat yang sangat dalam untuk memahami kemahabesaran Allah Swt. Mengapa? Karena dalam ayat kursi itu digambarkan bahwa kursi Allah, atau singgasana Allah itu meliputi seluruh langit dan bumi. Jadi, ayat kursi itu merupakan suatu ilustrasi tentang kemahabesaran Allah yang sangat luar biasa. Kemahabesaran itu semakin terbukti dengan meningkatnya pengetahuan manusia tentang antariksa.

Dengan demikian, thawaf sebetulnya warisan dari Nabi Adam a.s., yang menirukan gerakan seluruh alam ini. Tawaf yang dilakukan seluruh alam ini merupakan pertanda bahwa semua makhluk itu harus tunduk kepada Sang Khalik. Karenanya, bila melakukan tawaf, seakan-akan kita menyatakan diri bahwa kita bagian dari seluruh jagat raya yang muslim, yang islam, yang tunduk dan patuh kepada Tuhan.

Kita kembali ke Ka`bah. Jadi pada mulanya Ka`bah itu dibangun oleh Nabi Adam a.s. Tapi karena Ka`bah didirikan dengan bahan-bahan yang sangat sederhana, maka keberadaannya tidak bisa bertahan lama, kemudian hilang tertumbun pasir. Sebagaimana bisa kita lihat sendiri, dalam perjalanan dari Jeddah ke Madinah, sering terlihat badai pasir yang menimbuni jalan raya. Padahal, jalan raya sekarang ini sudah menggunakan teknologi yang sangat canggih, dan dibuat agak lebih tinggi. Bisa kita bayangkan betapa mudahnya bangunan dulu (yang masih menggunakan bahan dan teknologi sederhana) hilang tertimbun pasir. Dan ini terbukti, pernah terjadi dulu, Arabia mengenal minyak, dan dibuat pertama kali jalan raya, maka jalan raya itu banyak yang hilang tertimbun oleh pasir.

Nah, singkat cerita, yang membangun kembali Ka`bah adalah Nabi Ibrahim dan putranya, Isma`il. Alquran menyebutkan: Ingatlah ketika Ibrahim mengangkat kembali fondasi dan rumah suci itu bersama putranya, Isma`il (Q., 2:127).

Kalau Ka`bah dihitung dari dibangunnya kembali oleh Nabi Ibrahim saja, maka peristiwa itu terjadi 4.000 tahun yang lalu. Itu berarti 1.000 tahun lebih tua dari Yerusalem. Karena itu, Alquran juga menyebut Ka`bah sebagai Rumah Suci yang sangat tua (Al-Bayt Al-Atiq). Kata “atiq” ini mungkin bisa diasosiasikan dengan bahasa Inggris, antique.

Rumah Suci (Ka`bah) itulah yang akan kita kunjungi (dalam `umrah). Dan mengapa Nabi memohon kepada Allah untuk pindah kiblat ke Ka`bah, adalah karena pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas. Tentu saja orang Yahudi dan orang Kristen tidak mengakui adanya asosiasi antara Ibrahim dengan Ka`bah. Bagi mereka, itu hanya reka-reka dari orang Arab saja. Begitu juga mereka (orang-orang Yahudi dan Kristen) mengakui bahwa yang dikorbankan itu adalah Ishaq. Tapi keyakinan itu sama sekali tidak didukung oleh fakta dan kebiasaan sejarah yang berlaku.

Dalam catatan orang-orang Yunani Kuno, kota Makkah itu dikenal sebagai Macoraba, yang artinya tempat mengorbankan atau tempat menjalankan korban. Dan Isma`il serta ibundanya, Hajar, tinggal di Makkah. Jadi, sebenarnya ada asosiasi antara tempat mengorbankan (Makkah) dengan Isma`il. Artinya kepercayaan bahwa Isma`il itu dikorbankan oleh Ibrahim dan tempatnya di Makkah, sudah merupakan bagian dari cerita turun-temurun di kalangan orang Arab yang mangaku dan merasa sebagai keturunan Isma`il. Dan cerita turun-temurun itu dipertahankan, antara lain, dengan ibadah korban hari raya Idul Adha. Sementara di Yerusalem, sama sekali tidak ada bekas dan jejak dari pengorbanan itu. Tidak ada dongeng dan praktik sedikit pun yang berkaitan dengan upacara, pengorbanan. Dengan demikian, jauh lebih kuat dukungan kepada pendapat bahwa Isma`il yang dikorbankan oleh Ibrahim, bukan Ishaq. Dan tempatnya tidak di Yerusalem, tapi di Makkah.

Karena itu, di Makkah kita bisa menyaksikan maqam Nabi Ibrahim. Orang Indonesia banyak yang salah paham tentang arti maqam. Mereka mengira maqam itu sama artinya dengan makam dalam bahasa Indonesia, yang artinya kuburan. Maqam di sini artinya tempat berdiri, atau tempat menetap. Ada juga yang mengatakan bahwa maqam Ibrahim itulah bedengnya (tempat berteduh) Nabi Ibrahim ketika membangun Ka`bah. Kemudian di Makkah itu ada Hijrnya Isma`il. Katanya, hijr (batu) itulah tempat Isma`il dulu membantu ayahnya mendirikan Ka`bah.

Sumber: Ensiklopedia Nurcholis Madjid
http://Ramadhan.okezone.com/read/2010/0 ... dan-Makkah


KEMUDIAN turunlah perintah Allah kepada Ibrahim dan Isma`il untuk membangun atau merenovasi Rumah Allah (Baitullah) dengan meninggikan fondasi yang memang sudah ada. Al-Baqarah 127 memberikan informasi: yarfa`u ibrahimu l-qawa`ida mina l-baiti wa isma`il (Ibrahim meningkatkan fondasi Al-Bait bersama Isma`il). Oleh karena bangunan Rumah Allah yang didirikan Ibrahim dan Isma`il itu berbentuk kubus (ka'bah dalam bahasa Arab), lama-kelamaan Rumah Allah yang berukuran 12 x 10,5 x 15 meter itu dikenal dengan sebutan Kabah.
Setelah Kakbah rampung dibangun, barulah turun perintah Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. agar menyeru manusia untuk menunaikan ibadah haji. Ibadah mengunjungi Baitullah disebut hajj dalam bahasa Arab serta hagg dalam bahasa Ibrani (huruf Arab ha dan jim identik dengan huruf Ibrani heth dan gimel) yang berarti 'Perayaan Tuhan, Festival of God'. Surat Al-Hajj 27 merekam firman Allah kepada Nabi Ibrahim a.s.: Wa adzdzin fi n-nasi bi l-hajj. Ya'tuka rijalan wa `ala kulli dhamir, ya'tina min kulli fajjin `amiq (Dan panggillah manusia untuk berhaji. Mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan segala jenis kendaraan, datang dari segenap penjuru yang jauh).

Wa arina manasikana (Dan tunjukkanlah kepada kami tatacara haji bagi kami), demikian permohonan Ibrahim kepada Allah yang tercantum dalam Al-Baqarah 128. Oleh karena itu, Allah mengajarkan tatacara (manasik) ibadah haji kepada Nabi Ibrahim a.s. Manasik haji yang pertama-tama adalah melakukan ihram, artinya 'mengharamkan' atau 'mensucikan', yaitu mengenakan pakaian ihram serta tidak melakukan larangan-larangan ihram. Begitu jemaah haji menginjakkan kaki di Tanah Haram (Tanah Suci), mereka harus sudah menanggalkan pakaian mereka sehari-hari dan menggantinya dengan kain ihram. Ini suatu perlambang atau simbol bahwa di Rumah Allah manusia harus bersedia membebaskan diri dari segala atribut kekayaan, jabatan, dan status sosial yang disandangkan orang kepadanya. Di hadapan Allah, semua manusia tanpa kecuali berstatus sama, yaitu Hamba Allah.

Kemudian para jemaah haji harus melakukan wuquf (berdiam, jambore) di Padang Arafah, sekira 25 km di sebelah timur Makkah. Inilah upacara gladi resik berkumpulnya umat manusia di Padang Mahsyar pada Hari Akhirat nanti, sekaligus para jemaah haji melakukan "reuni" di tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah kedua nenek moyang umat manusia ini terusir dari Taman Eden (Jannatu `Adn). Itulah sebabnya tempat wuquf itu dinamai Padang Arafah, artinya 'Padang Pengenalan' agar manusia mengenali kembali persaudaraan sebagai sesama anak cucu Adam dan Hawa. Ketika melakukan wuquf, jemaah haji menyadari bahwa umat manusia yang bermacam-macam warna kulit, bahasa, dan adat-istiadat ternyata adalah saudara sedarah dan seketurunan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Hujurat 13: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi".
thawaf, yaitu mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran. Inilah tarian kosmos sebab Allah menakdirkan bahwa alam semesta hanya eksis karena gerakan thawaf. Jemaah haji meniru gerakan elektron-elektron yang berthawaf mengelilingi inti atom serta gerakan planet-planet yang berthawaf mengelilingi matahari. Hari Kiamat akan terjadi ketika thawaf alam semesta berhenti. Seluruh materi di jagat raya, dari partikel-partikel penyusun atom sampai benda-benda langit senantiasa tunduk-patuh kepada hukum-hukum Ilahi yang mengatur mereka. Dengan melakukan thawaf diharapkan manusia sebagai bagian alam semesta menyadari bahwa mereka pun seharusnya tunduk-patuh kepada aturan-aturan Allah sebagaimana tunduk-patuhnya seluruh isi langit dan bumi. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Alu Imran 83: "Apalagi yang mereka cari selain agama Allah, padahal kepada-Nya telah Islam (tunduk-patuh) segala yang di langit dan di bumi secara sukarela atau terpaksa, dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan".


Sekarang kita teruskan perjalanan sejarah kita. Isma`il menikah dengan Ra`la binti Mudad, putri pemimpin Jurhum yang diceritakan di muka. Pernikahan ini membuahkan dua belas putra yang menurunkan bangsa Arab (Bani Isma`il). Nama-nama mereka tidak disebutkan dalam Alquran, tetapi tercantum lengkap dalam Bereshith 25 : 13-15. Yang banyak disebut-sebut adalah dua orang putra tertua, Nabit (Nebayot) dan Qaydhar (Kedar), sebab mereka berdua kelak menurunkan suku Quraisy penduduk Makkah. Sementara itu di Palestina, Ishaq menikah dengan Ribqah (Rebecca) dan berputra Ya`qub. Ya`qub yang bergelar Yisra'el atau Isra'il mempunyai dua belas putra yang menurunkan bangsa Ibrani (Bani Isra'il).

Pada mulanya Bani Isra'il pun ikut serta dengan saudara-saudara mereka Bani Isma`il menunaikan ibadah haji ke Makkah sebagai sesama keturunan Nabi Ibrahim. Akan tetapi ketika bangsa Arab atau Bani Isma`il tersesat kepada penyembahan berhala, Bani Isra'il tidak lagi mengunjungi Kakbah (Ibn Ishaq, Sirah an-Nabawiyyah, h.15). Namun, dalam Kitab Zabur dari Nabi Daud a.s. tersurat kerinduan kepada Baitullah: "Sungguh diberkati mereka yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berteguh hati menunaikan haji. Dan ketika tiba di Lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air" (Zabur 84 : 5-6).

Hanya Allah yang tahu berapa lama Bani Isma`il tetap memegang teguh ajaran Tauhid dari Nabi Ibrahim a.s. Setelah beberapa abad, mereka tergelincir mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala. Ratusan berhala dipasang di sekeliling Kakbah dengan berbagai nama-nama aneh: Lata, Uzza, Manat, Hubal, Asaf, Na'ilah, dan entah apa lagi. Manasik atau tatacara haji juga dicampurbaurkan dengan upacara pemujaan berhala. Keadaan seperti ini berlangsung berabad-abad. Namun, akhirnya tibalah saatnya doa Nabi Ibrahim a.s. dikabulkan, yaitu doa yang beliau sampaikan kepada Allah ketika mendirikan Kakbah: "Ya Tuhan kami, bangkitkanlah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Al-Baqarah 129).

Sebagai jawaban atas doa Nabi Ibrahim a.s. tersebut, Allah membangkitkan seorang manusia dari kalangan suku Quraisy yang bernama Muhammad saw. (shalla l-Lahu `alayhi wa sallam, kehormatan Allah bagi beliau beserta kedamaian) sebagai Nabi dan Rasul Terakhir yang meneruskan dan menyempurnakan ajaran seluruh Nabi dan Rasul terdahulu. Beliau lahir tahun 571, menerima wahyu pertama tahun 610, hijrah ke Madinah tahun 622, dan wafat tahun 632. Usia beliau 61,5 tahun menurut tarikh syamsiyah (kalender matahari) atau 63 tahun menurut tarikh qamariyah (kalender bulan). Kita hanya akan membahas perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. yang berkenaan dengan upacara haji.

Pada tahun 625 (4 Hijri), Allah menetapkan bahwa syariat haji dari Nabi Ibrahim a.s. harus dilaksanakan oleh umat Islam, dengan turunnya ayat: "Dan kewajiban kepada Allah atas manusia untuk berhaji ke Baitullah, bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang ingkar akan kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam" (Ali Imran 97). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah haji diwajibkan "bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana" (man istatha`a ilayhi sabila), yaitu mampu dalam hal fisik (sehat), finansial (mempunyai biaya), dan sekuriti (aman tiada gangguan). Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad saw. baru menunaikan ibadah haji tahun 10 Hijri (632 M), tiga bulan sebelum beliau wafat dan enam tahun sesudah ayat di atas diwahyukan. Ketika perintah haji itu diwahyukan Allah, Makkah sedang dikuasai oleh kaum musyrikin yang memusuhi Muslimin di Madinah. Beberapa bulan sebelum perintah haji itu turun berlangsunglah Perang Uhud (3 Hijri), dan tahun sebelumnya (2 Hijri) terjadi Perang Badar, lalu pada tahun 5 Hijri terjadi Perang Khandaq. Kondisi seperti itu sudah tentu tidak memungkinkan bagi Nabi Muhammad saw. beserta para sahabat untuk menunaikan ibadah haji.

Akan tetapi Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat yang mampu, terutama kaum Anshar (pribumi Madinah) yang tidak dikenali oleh orang-orang Makkah, untuk menunaikan ibadah haji yang sesuai dengan manasik Nabi Ibrahim dan tidak mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan penyembahan berhala. Ketika kembali dari berhaji, orang-orang Anshar ini melapor kepada Rasulullah bahwa mereka mengerjakan sa'i dengan keraguan sebab di tengah mas`a (jalur sa`i) antara Safa dan Marwah terdapat dua berhala besar Asaf dan Na'ilah. Oleh karena itu, turunlah wahyu Allah, yaitu Al-Baqarah 158: Inna sh-shafa wa l-marwata min sya`a'iri l-Lah. Fa man hajja l-baita aw i`tamara fa la junaha `alayhi an yaththawwafa bi hima. Wa man tathawwa`a khairan fa inna l-Laha syakirun `alim ('Sesungguhnya Safa dan Marwah sebagian dari syi`ar-syi`ar Allah. Maka barangsiapa berhaji ke Baitullah atau berkunjung (umrah), tidak salah baginya untuk bolak-balik pada keduanya. Dan barangsiapa menambah kebaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pembalas Syukur lagi Maha Mengetahui'). Ayat ini kelak sering dibaca oleh para jemaah haji ketika melakukan sa`i.

Pada bulan April 628 (Dzulqa`dah 6 Hijri) Rasulullah saw. bermimpi menunaikan umrah (kunjungan) ke Makkah dan mengajak para sahabat untuk mewujudkan mimpi tersebut. Rasulullah pun dengan disertai 1.500 sahabat berangkat menuju Makkah, mengenakan pakaian ihram dan membawa hewan-hewan qurban. Kaum musyrikin Quraisy mengerahkan pasukan untuk menghalang-halangi sehingga rombongan dari Madinah tertahan di Hudaibiyah, 20 km di sebelah barat laut Makkah.

Kaum Quraisy mengutus Suhail ibn Amr untuk berunding dengan Rasulullah. Suhail mengusulkan, antara lain, kesepakatan genjatan senjata dan kaum Muslimin harus menunda umrah dengan kembali ke Madinah, tetapi tahun depan diberikan kebebasan melakukan umrah dan tinggal selama tiga hari di Makkah. Rasulullah menyetujui perjanjian ini meskipun para sahabat banyak yang kecewa, namun tidak ada yang berani menentang keputusan Junjungan mereka.

Sepintas lalu isi perjanjian kelihatannya merugikan kaum Muslimin, tetapi secara politis sangat menguntungkan. "Perjanjian Hudaibiyah" merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam sebab untuk pertama kalinya kaum Quraisy di Makkah mengakui kedaulatan kaum Muslimin di Madinah. Dalam perjalanan pulang ke Madinah, turunlah wahyu Allah dalam Al-Fath 27: "Sungguh Allah akan memenuhi mimpi rasul-Nya dengan sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjid al-Haram insya Allah dengan aman. Kamu akan mencukur kepalamu atau menggunting rambut (merampungkan umrah) dengan tidak merasa takut. Dia mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan Dia menjadikan selain itu kemenangan yang dekat".

Sesuai dengan Perjanjian Hudaibiyah, tahun berikutnya (Maret 629 atau Dzulqa`dah 7 Hijri) Rasulullah saw. beserta para sahabat untuk pertama kalinya melakukan umrah ke Baitullah. Ketika rombongan Nabi yang berjumlah sekira 2.000 orang memasuki pelataran Kakbah untuk melakukan tawaf, orang-orang Makkah berkumpul menonton di bukit Qubais dengan berteriak-teriak bahwa kaum Muslimin kelihatan letih dan pasti tidak kuat berkeliling tujuh putaran. Mendengar ejekan ini, Rasulullah bersabda kepada jemaahnya, "Marilah kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita kuat. Bahu kanan kita terbuka dari kain ihram, dan kita lakukan thawaf dengan berlari!"
User avatar
key
 
Posts: 106
Joined: Wed Oct 06, 2010 1:13 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby key » Wed Nov 10, 2010 12:55 am

doramma wrote:itu sama hukumnya dg daruratnya makan babi,krn u/ suatu hal yg mengancam jiwa! http://WWW.YISC-alazhar.or.id/content/a ... -kepatuhan http://ruangberita.com/misteri-angka-di-kabah-mekah/ kl tdk bs buka,copy paste lalu buka scr langsung.

Image

Istilah Ka’bah adalah bahasa al quran dari kata “ka’bu” yg berarti “mata kaki” atau tempat kaki berputar bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6dalam Al-quran menjelaskan istilah itu dg “Ka’bain” yg berarti ‘dua mata kaki’ dan ayat 5/95-96 mengandung istilah ‘ka’bah’ yg artinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub putaran utara bumi.

Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah. Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
http://ruangberita.com/misteri-angka-di-kabah-mekah/
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Image
Berdasarkan sejarah dibangunnya Ka’bah, Sepintas lalu bahwa ayat di atas mengatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama membangun Ka’bah dipermukaan bumi ini, seperti dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Padahal bila dicermati, sebelum Nabi Ibrahim menginjakkan kakinya ke tanah Mekkah sudah ada bangunan Ka’bah yang telah dibangun oleh malaikat dan generasi sebelum Nabi Ibrahim as. Hal itu dapat dipahami dari kata “Yarfa’u” meninggikan berarti meninggikan bangunan yang sudah ada.

Pertama Generasi Malaikat, dua ribu tahun sebelum Nabi Adam diciptakan Malaikat sudah membangun Ka’bah di bumi ini atas perintah Allah SWT. Di dalam Alquran dijelaskan bahwa ketika Allah SWT hendak menciptakan Nabi Adam as, Allah SWT berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi, lalu para malaikat bertanya: Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi ini, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau. (QS. al-Baqarah : 30). Ketika itu Allah menjawab: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.(QS. al-Baqarah: 30).

Riwayat menceritakan bahwa Ka’bah pada masa itu terletak di atas buih yang keras, yaitu benda pertama yang muncul di bumi ini, Maha Benarlah Allah Swt. yang telah berfirman: Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun di muka bumi ini adalah di Makkah. (QS. Ali Imran: 96).

Menurut penglihatan dari kamera satelite NASA, mereka melihat ada satu cahaya yang bersinar dari bumi dan sinarnya begitu kemilau ketika dilihat dari satelite tersebut. Setelah diperbesar, ternyata cahaya kemilau itu berasal dari Masjidil Haram atau Ka’bah.
Image
Image
Bila kita membaca kembali tentang Misteri 7 Lapisan Langit danperjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, ternyata dimensi kita saling berkaitan dengan dimensi lainnya.. artinya ditempat yang sama kita pijak sekarang juga letaknya sama dengan dimensi lainnya hanya saja dimensinya yang berbeda. Itu berarti pintu menuju Sidratul Muntaha terletak di Masjidil Aqsa Palestina karena sebenarnya Rasulullah tidak berpindah kemanapun melainkan tetap berada di Masjidil Aqsa hanya saja beliau pindah dimensi. Dan kemudian beliau menuju Sidratul Muntaha – artinya Sidratul Muntaha di dimensi tertinggi yang sebenarnya adalah di Masjidil Haram atau Ka’bah di dimensi kita

Batu Hajar Aswat

Ketika Nabi Ibrahim a.s bersama anaknya membina Kaabah banyak kekurangan yang dialaminya. Pada mulanya Kaabah itu tidak ada bumbung dan pintu masuk. Nabi Ibrahim a.s bersama Nabi Ismail berupaya keras untuk menyelesaikan pembinaannya dengan mengangkut batu dari berbagai gunung.

Dalam sebuah kisah disebutkan apabila pembinaan Kaabah itu selesai, ternyata Nabi Ibrahim masih merasakan kekurangan sebuah batu lagi untuk diletakkan di Kaabah. Nabi Ibrahim berkata kpd Nabi Ismail, “Pergilah engkau mencari sebuah batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia.”

Kemudian Nabi Ismail a.s pun pergi dari satu bukit ke satu bukit untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika Nabi Ismail a.s sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril a.s memberikan sebuah batu yang cantik.

Nabi Ismail dengan segera membawa batu itu kepada Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s. merasa gembira melihat batu yang sungguh cantik itu, beliau menciumnya beberapa kali. Kemudian Nabi Ibrahim a.s bertanya, “Dari mana kamu dapat batu ini?” Nabi Ismail berkata, “Batu ini kuterima daripada yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril).” Nabi Ibrahim mencium lagi batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail a.s. Sehingga skrg Hajar Aswat itu dicium oleh orang2 yang pergi ke Baitullah.

Sementara itu menurut penelitian mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah mesium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka’bah) dan pihak mesium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda :
“Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam.”

Sehingga dapat dikatakan bahwa Batu Hajar Aswat itu bukan berasal dari dunia kita, melainkan dari dimensi lain atau akhirat yang diturunkan ke dunia.. Wallahu’alam.

Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit
Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-Rahman:33)

Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata ‘qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu pada langit dan bumi yg mempunyai banyak diameter.
Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada di tengah-tengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah-tengah lapisan-lapisan langit.

Selain itu ada hadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka‘bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuh lapisan pembentuk bumi)

Maha benar Allah dengan segala firmannya…
Image

sumber :http://orbit-unik.blogspot.com/2010/09/video-misteri-angka-di-kabah-makkah.html
[youtube]<object style="height: 390px; width: 640px"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/KaU9f-8iV-M?version=3"><param name="allowFullScreen" value="true"><param name="allowScriptAccess" value="always"><embed src="http://www.youtube.com/v/KaU9f-8iV-M?version=3" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowScriptAccess="always" width="640" height="390"></object>[/youtube]

Thawaf, Isyarat Kepatuhan
December 7, 2008

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. (Al-Hajj/22:26)

Allah SWT mengusir Nabi Adam as dari surga ke bumi. Adam as sangat sedih karena dirinya tidak bisa lagi thawaf bersama para malaikat mengelilingi singgasana Allah SWT, ‘Arsy. Kerinduan Adam as terobati dengan dibangunnya Ka'bah sebagai Baitullah. Bangunan itulah miniatur ‘Arsy di bumi.

Bersama anaknya, Nabi Ismail as, Nabi Ibrahim as lalu meninggikan dasar-dasar (fondasi) Ka’bah. Ibrahim as bersama anaknya pun thawaf mengelilingi Ka’bah sesuai perintah Allah SWT. Thawaf merupakan warisan Adam as, Ibrahim as, Ismail as hingga Nabi Muhammad Saw. Ibadah ini lalu diwariskan kepada Umat Islam hingga sekarang.

Sesungguhnya ritual Haji yang dilakukan jama’ah haji melalui Thawaf dan berlari kecil (sya’i) mengelilingi Ka’bah tidak hanya mengikuti cara ibadah malaikat dan nabi. Namun thawaf pada hakikatnya adalah peniruan prilaku alam semesta.

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud
apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?

Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.
Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
(QS. Al-Hajj/22:18)

Ternyata Al-Qur’an telah menginformasikan, seluruh benda langit di jagad raya juga melakukan "thawaf" yang sama. Bulan dan bumi ber-thawaf mengelilingi matahari. Matahari beserta seluruh familinya juga berthawaf mengelilingi pusat galaksi, dan seterusnya.

Lebih mengagumkan lagi, benda terkecil electron pun berputar mengelilingi proton. Padahal, konsep Atom saja baru ditemukan ilmuan barat 7 abad setelah Al-Qur’an diturunkan. Ahli kimia di abad 14 Hijriah pun baru bisa menjelaskan, atom seperti hydrogen terdiri Rawasia dari satu batang magnet yang berputar (Proton) dan menjadi inti sumbunya. Benda itu lalu dilingkupi oleh Mar’a, (Electron dan Positron). Mar’a pun terbukti mengorbit (berthawaf) mengelilingi Proton. Tidak hanya itu, malam pun berputar (berthawaf) dengan siang tanpa saling mendahului. Itulah bukti, bahwa alam semesta tunduk patuh menyembah kepada Allah SWT.

Pun hidup kita. Ia hanyalah miniatur thawaf. Lihatlah bagaimana setiap hari kita hidup bersama waktu yang terus berputar/berotasi (berthawaf), 24 jam/hari. Ini semua membuktikan bahwa manusia juga harus senantiasa tunduk pasrah (ber-islam) melalui sujud dan ruku melalui sholat 5 waktu setiap hari mengikuti perputaran waktu.

Karena itulah sangat aneh jika ada manusia yang tidak mau berpasrah total kepada-Nya. Padahal atom terkecil dalam jasadnya pun pada hakikatnya tunduk patuh kepada-Nya.

Pantaslah jika seorang muslim senantiasa menjaga ketauhidan ibadah. Laa ilaaha-illallaah.
Pun, aturan Allah-lah yang seharusnya terwujud dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat sebagai bukti keshalehan sosial.

Thawaf. Itulah cara Tuhan berbicara dengan makhluk-Nya. Aturan yang ada sejak ketiadaan hingga zaman yang kita tidak akan pernah tahu batasnya. Ketika jutaan manusia berthawaf mengellingi Ka’bah, itulah cerminan hukum Tuhan yang terus bergerak melintasi waktu. Karena itu, tunduk dan patuhlah hanya kepada-Nya. Karena thawaf adalah kepasrahan total.

Semoga jalan lurus selalu terpijak oleh kedua belah kaki kita. Melangkah pasti menuju ridho-Nya. Berjalan seiring dengan Nabi, Rasul, Tabi’in, Aulia, Ulama, Syuhada dan orang-orang Sholeh). Terhindar dari jalan yang termurkai (QS. Al-Fatihah/1: 6-7). Amien.
http://www.yisc-alazhar.or.id/content/a ... -kepatuhan


yup. =D>
User avatar
key
 
Posts: 106
Joined: Wed Oct 06, 2010 1:13 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby key » Wed Nov 10, 2010 1:01 am

Budha:

http://answering-ff.blogspot.com/2009/0 ... res-4.html

Muhammad in Buddhist Scriptures
Six Criteria
Extracted from book: Muhammad in Buddhist Scriptures
A. H. Vidyarthi and U. Ali

The six criteria do not hold in the case of Shankaracharya as in the case of Jesus, but they hold remarkably in the case of Mohammed:-

1. Mohammed attained to supreme insight at night time. We quote the Koran

(a) "By the perspicuous book (of the Koran); verily We have sent down the same on a blessed night." (XLIV. P. 478)

(b) "Verily We sent down (the Koran) in the night of Alkadra." (XCVII: P. 586.)

"On this night Mohammed received his first revelation." (Sale's Translation of the Koran; P. 586 Foot Note.)

"Alkadra signifies, power, and honour, or dignity and also the Divine decree." (Ibid.)

"Lailat-ul-qadra literally means the night of majesty or grandeur or greatness...it is called the blessed night." (Mohammed AU's Translation of the Koran. FootNote. 2777)

According to Badger's English Arabic Lexicon "Grand," "Glorious," and "Beautiful" are synonyms. Therefore Lailat-ul-Qadra expresses the idea of the night of glory or brightness.

2. Mohammed was "the brightest face;" "it was as though the sun-light beamed in his countenance."(The Life of Mohammad by Muir, p. 510.) "There was a glow or radiance in his countenance," "the supernatural light of prophecy." (Irving P. 230) The couplet of Abu Beker, the first Caliph, aptly describes him:-

"As there is no darkness in the moonlit night, So is Mustafa, the well-wisher, the bright." (The Ideal Prophet by Kamal-ud-din P. XXXIV.)

"Monzir-bin-Jareer relates: 'I saw the face of the apostle of God, it was shining like gold..........'" (M. Vol. III P. 35.)

"Abe Is-hak relates: 'A man asked Bara, Was the face of the apostle of God shining as a sword?; he replied, 'Nay (but) like the moon.'" (T. Vol.. ii. p. 552)

In fact the prophet was the brightest of the bright, and we see no exaggeration in the words of Thu Abbas who said.

"The prophet never sat opposite the sun or a light, without outshining them by his own light." (Koelle P. 377)

Well the Buddhist scripture says:-

"The Sun is bright by day, the moon shines by night, the warrior is bright in his armour; thinkers are bright in their meditation; but among all the brightest with the splendour of day and night is Buddha the Awakened, the Holy, the Blessed." (The Gospel of Buddha by Carus, P. 117. Dhamrnapada quoted.)

No wonder if Mohammed looked "exceedingly bright" and "beautiful above expression in the night of Alkadra when the Divine light burst upon him in a flood:-

'It was the fortieth year of his age when the famous revelation took place. Accounts are given of it by Muslim writers as if received from his own lips, and it is alluded in a certain part of the Koran. It was on the night called by Arabs Alkader............a flood of light broke upon him of............intolerable spIendour.......Mahomet instantly felt his under standing illumined with celestial light." (Irving PP. 36-7)

3. Mohammed died a natural death unlike Jesus.

4. According to the version of Aisha Mohammed died at night time. When he was expiring 'there was no oil in the lamp,"(Maulud by Ghulam Imam Shahid P. 63.) "and his wife had to borrow oil for the lamp." (Mohammed, Buddha, arid Christ by M. Pods D. P. P. 94.)

5. Mohammed looked "exceedingly bright" and "beautiful above expression" in the night of his death. Anas son of Malik was the servitor of the prophet just as Ananda was to the Buddha Gautama. This Ananda of the Buddha Maitreya Mohammed relates:-

"Abu Beker used to conduct prayer during the illness in which the apostle of God died. When it was Monday and people were standing in rows in prayer, he lifted up the curtain of his room and looked towards us while standing, his face being a page of the book (of the Koran), and he smiled as he found people firm in religion and constant in prayer. We got maddened (for joy) even during the prayer in the expectation that he intended to come out. And Abu Beker fell back in order to join the rank, with the idea that the apostle of God was coming out for prayer. In the meanwhile he made a token with his hand for completing the prayer, he then got inside the room and dropped the curtain, and he died the same day.(M.Vol. 2PP. 661.2.)

Comparing the face of a man with "a page of the book of the Koran" is an Arab way of expressing the brightness, beauty, and glory of the person. The Koran is called "glorious".(The Koran L. P.499: LXXXV. P. 578) Another report of Anas makes the matter clear:-

"The apostle of God did not come out for three days. Abu Beker advanced to conduct the prayer. In the meantime the apostle of God lifted up the curtain. When his face was unveiled it appeared to us so very beautiful that throughout our lives we never saw a thing so very beautiful. He made a sign with his hand to Abu Beker to advance (for conducting the prayer of the congregation) and he dropped the curtain. Ever afterwards we did not see him." (M. Vol. II. P. 502.)

6. After his burial, Mohammed, in his bodily form, was never seen of any one upon the earth. Therefore Mohammed is the Buddha Maitreya and not Jesus or Shankaracharya.
User avatar
key
 
Posts: 106
Joined: Wed Oct 06, 2010 1:13 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doblank » Wed Nov 10, 2010 11:41 am

terima kasih bro/sis key atas copasannya..

tetapi amat disayangkan copasan panjang yang anda suguhkan tidak sinkron dengan apa yang ditanyakan!





doramma wrote:btw. ibadah thawaf pertama oleh manusia pertama,nabi Adam,bukan nabi Ibrahim. mmg kabah itu nyambung dg langit atas,kelihatan ada cahaya lurus tembus dr atas kabah,kesaksian para astronot nasa,terlihat dr luar angkasa


doblank wrote:karena anda tidak kuper, tentu anda tahu siapa saja yang bersaksi!

Dan karena anda membawa nama NASA, berarti sumber itu berasal dari sumber resmi NASA! Silahkan disuguhkan disini berita resminya!! Jika berbahasa inggris tolong ditranslate ke bahasa indonesia ya brodor!!


bro/sis key maksudkan?



karena sumber beritanya tidak berasal dari NASA maka sumber yang disuguhkan tersebut tidak dapat dipercaya.
saya pun bisa menyanggahnya dengan sumber yang kurang lebih sama dengan yang disuguhkan.





Neil Armstrong ke bulan dan masuk Islam adalah BOHONG (HOAX)

Assalamu alaikum,

Teman-teman, saudara sesama muslim, saya mohon jangan di bahas tentang Neil Amrstrong ke bulan lalu mendengar ADZAN, karena dalam beberapa situs berbahasa Inggris (yang mereview dunia Islam), kita dianggap ****, mereka mengangap kebodohan dunia Islam karena tidak mau menerima kenyataan ‘American Kafir’ lah yang pertama menginjakan kakinya di bulan pertama kali bukan orang muslim.

Situs/blog yang membahas Neil Armstrong menjadi muslim adalah situs-situs di Asia Tenggara (Maroko, Filipina, Indonesia, Malaysia) terutama di Indonesia, western menganggap negara-negara disini memiliki pendidikan yang rendah. Pernah kejadian saat Neil Armstrong ke Malaysia dan ditanyakan hal itu, ia heran, apakah hal seperti ini perlu dikonfirmasikan ke Neil Armstrong sendiri, karena peryataan seperti itu sangatlah aneh, ia tidak pernah ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji. Dan jika dijawab ia tidak pernah mendengar adzan, maka si penanya muslim yang kecewa dan tidak percaya (hal ini juga dianggap kebodohan). Ia memang pernah ke Mesir, tapi tidak untuk Naik haji ke mekkah.

Umat muslim tidak perlu seorang Neil Armstrong untuk meyakinkan dirinya bahwa agama Islam yang dianutnya adalah benar. Jika anda menyakini agama benar, maka yakinilah bahwa hal itu benar. Muslim dianggap menggunakan nama besar Neil Armstrong untuk membenarkan agamanya. (Saya menentang pernyataan itu). Masa kita dikatakan kurang meyakini agama kita sendiri sehingga perlu nama-nama besar dari dunia barat (Umat muslim, percayalah nama rasullullah sudah cukup besar buat kita dan dunia. Umat kita sendiri yang akhirnya menjadi bahan tertawaan, cukup sudah!!!.

Pencipta rumor tentang Neil Armstrong mendengar adzan ini mungkin saja adalah orang yang ingin menghancurkan dunia Islam juga (sehingga orang muslim dikatakan ****), untuk saudaraku sesama muslim tolong hentikan pemberitaan yang salah ini. Tolong Baca Jurnal ARABIA, wiki-islam, turntoislam.com. Dalam situs lain dikatakan umat muslim percaya cerita hoax ini karena 50-80% umat muslim berpendidikan rendah. Para ‘musuh Islam’ justru menyebarkan hoax ini untuk mendiskreditkan agama Islam. Ingat situs http://www.answering-islam.org saya baca di website muslim isinya tidak reliable lagi, karena isinya ada kontradiksi dengan Al-Quran. Jangan dibaca (percaya).

Dunia barat sangat heran dengan pemberitaan ini bahkan mereka merasa geli mendengarnya. Neil Armstrong sendiri merasa terganggu, ia menyatakan ia tidak masuk Islam dan ketika ia diundang sebagai pembicara dalam kegiatan Islam ia juga tidak mau (ia menolak secara halus karena tidak ingin menyinggung perasaan umat muslim), tetapi ia menyatakan tidak ingin berpartisipasi dalam kegiatan Islam. (dalam web Islam malah dikatakan Neil Armstrong tidak mau mengakui karena ia telah dicuci otaknya di Assylum (RSJ), kalau begini terus dibahas, maka tidak akan ada habisnya.

Terlepas dari kontroversi apakah Neil Armstrong ke bulan atau tidak, satu hal lagi yang menjadi bahan tertawaan dunia barat adalah ada juga pemberitaan Neil Armstrong menyusuri retakan di bulan yang cocok dengan cerita bahwa suatu saat nanti bulan akan terbelah dua, ditertawakan juga, karena diameter bulan itu sangatlah besar, mana mungkin ia punya waktu untuk menyusurinya. Mendengar adzan juga dikatakan tidak mungkin karena tidak ada udara di bulan sana. Dunia barat mengangap berita-berita seperti ini hoax (omong kosong). Neil memang tinggal di Lebanon, tetapi letaknya di OHIO bukan TIMTENG. Ia lelah menangapi email yang bertanya akan kebenaran hoax ini.

Dalam beberapa jurnal barat dikatakan, umat muslim memerlukan nama-nama besar/cerita palsu untuk menambah keyakinannya diantaranya;
Jaques Cousteau, Michael Jackson, Maurice Bucaille, King Offa of England dan, Mike Tyson became Muslim. Christian apologists discovered wreckage of Noah’s ark in turkey, Prophet Muhammad’s name on a piece of wood from Noah’s ark (found in Russia) ,and Prophet Muhammad’s name foretold in Hindu Scriptures. ALL THESE ARE SIMPLY BOGUS SPECULATIONS.

Baca yanabi.com :
#Originally posted by: shariq ali
can anyone provide this info to mufti abu bakr siddique of tv programme aap ke masailhe said it on air that armstrong was a muslim
This is not true. He is either,
1. Misinformed or
2. Lying
In case of no. 1, mufti sahab should not be passing on such rumours on a global media portal, without thorough investigation himself lest they lead to the embarassment of the entire Muslim ummah.
In case of no. 2, Allah Bhala Karay. It is a sad state of affairs.

#Message yang lain
Allah (swt) Alone knows the contents of Armstrong’s heart (the good and the bad) and I beseech Him (swt) that He (swt) makes it as easy for said astronaut to accept the Inevitible Truth as He (swt) made it for me, Ameen.
Wasalaam,YD

#Originally posted by: Naqee Ahmed
i also heared that Before NeilArmstrong there was the other person who have stepped on the moon.Not sure on this,Just heared so from many.Anyways dont take this as a main conversation now!!!

Saya setuju dengan pendapat Naqee Ahmed, benar atau tidaknya:
JANGAN DI BAHAS LAGI KARENA DAPAT MEMBUAT UMAT MUSLIM MALU SENDIRI.

Wassalam

http://www.lintasberita.com/go/609053
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doblank » Wed Nov 10, 2010 11:50 am

key wrote:Budha:

http://answering-ff.blogspot.com/2009/0 ... res-4.html

Muhammad in Buddhist Scriptures
Six Criteria
Extracted from book: Muhammad in Buddhist Scriptures
A. H. Vidyarthi and U. Ali

The six criteria do not hold in the case of Shankaracharya as in the case of Jesus, but they hold remarkably in the case of Mohammed:-

1. Mohammed attained to supreme insight at night time. We quote the Koran

(a) "By the perspicuous book (of the Koran); verily We have sent down the same on a blessed night." (XLIV. P. 478)


(b) "Verily We sent down (the Koran) in the night of Alkadra." (XCVII: P. 586.)

"On this night Mohammed received his first revelation." (Sale's Translation of the Koran; P. 586 Foot Note.)

"Alkadra signifies, power, and honour, or dignity and also the Divine decree." (Ibid.)

"Lailat-ul-qadra literally means the night of majesty or grandeur or greatness...it is called the blessed night." (Mohammed AU's Translation of the Koran. FootNote. 2777)

According to Badger's English Arabic Lexicon "Grand," "Glorious," and "Beautiful" are synonyms. Therefore Lailat-ul-Qadra expresses the idea of the night of glory or brightness.

2. Mohammed was "the brightest face;" "it was as though the sun-light beamed in his countenance."(The Life of Mohammad by Muir, p. 510.) "There was a glow or radiance in his countenance," "the supernatural light of prophecy." (Irving P. 230) The couplet of Abu Beker, the first Caliph, aptly describes him:-

"As there is no darkness in the moonlit night, So is Mustafa, the well-wisher, the bright." (The Ideal Prophet by Kamal-ud-din P. XXXIV.)

"Monzir-bin-Jareer relates: 'I saw the face of the apostle of God, it was shining like gold..........'" (M. Vol. III P. 35.)

"Abe Is-hak relates: 'A man asked Bara, Was the face of the apostle of God shining as a sword?; he replied, 'Nay (but) like the moon.'" (T. Vol.. ii. p. 552)

In fact the prophet was the brightest of the bright, and we see no exaggeration in the words of Thu Abbas who said.

"The prophet never sat opposite the sun or a light, without outshining them by his own light." (Koelle P. 377)

Well the Buddhist scripture says:-

"The Sun is bright by day, the moon shines by night, the warrior is bright in his armour; thinkers are bright in their meditation; but among all the brightest with the splendour of day and night is Buddha the Awakened, the Holy, the Blessed." (The Gospel of Buddha by Carus, P. 117. Dhamrnapada quoted.)

No wonder if Mohammed looked "exceedingly bright" and "beautiful above expression in the night of Alkadra when the Divine light burst upon him in a flood:-

'It was the fortieth year of his age when the famous revelation took place. Accounts are given of it by Muslim writers as if received from his own lips, and it is alluded in a certain part of the Koran. It was on the night called by Arabs Alkader............a flood of light broke upon him of............intolerable spIendour.......Mahomet instantly felt his under standing illumined with celestial light." (Irving PP. 36-7)

3. Mohammed died a natural death unlike Jesus.

4. According to the version of Aisha Mohammed died at night time. When he was expiring 'there was no oil in the lamp,"(Maulud by Ghulam Imam Shahid P. 63.) "and his wife had to borrow oil for the lamp." (Mohammed, Buddha, arid Christ by M. Pods D. P. P. 94.)

5. Mohammed looked "exceedingly bright" and "beautiful above expression" in the night of his death. Anas son of Malik was the servitor of the prophet just as Ananda was to the Buddha Gautama. This Ananda of the Buddha Maitreya Mohammed relates:-

"Abu Beker used to conduct prayer during the illness in which the apostle of God died. When it was Monday and people were standing in rows in prayer, he lifted up the curtain of his room and looked towards us while standing, his face being a page of the book (of the Koran), and he smiled as he found people firm in religion and constant in prayer. We got maddened (for joy) even during the prayer in the expectation that he intended to come out. And Abu Beker fell back in order to join the rank, with the idea that the apostle of God was coming out for prayer. In the meanwhile he made a token with his hand for completing the prayer, he then got inside the room and dropped the curtain, and he died the same day.(M.Vol. 2PP. 661.2.)

Comparing the face of a man with "a page of the book of the Koran" is an Arab way of expressing the brightness, beauty, and glory of the person. The Koran is called "glorious".(The Koran L. P.499: LXXXV. P. 578) Another report of Anas makes the matter clear:-

"The apostle of God did not come out for three days. Abu Beker advanced to conduct the prayer. In the meantime the apostle of God lifted up the curtain. When his face was unveiled it appeared to us so very beautiful that throughout our lives we never saw a thing so very beautiful. He made a sign with his hand to Abu Beker to advance (for conducting the prayer of the congregation) and he dropped the curtain. Ever afterwards we did not see him." (M. Vol. II. P. 502.)

6. After his burial, Mohammed, in his bodily form, was never seen of any one upon the earth. Therefore Mohammed is the Buddha Maitreya and not Jesus or Shankaracharya.



referensi anda sudah disanggah oleh brodorama.
silahkan dibaca lagi postingan dari brodorama




salam kenal bro/sis key

terima kasih
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doramma » Wed Nov 10, 2010 1:07 pm

ttg amstrong ke bulan itu mmg berita buatan kaum orientalis u/ membuat kesan seolah2 Islam hoax,padahal muslim sudah tahu mukjizat itu tak bisa membuat kafir bertobat,hanya hidayah Allah yg bisa. tapi ttg cahaya diatas kabah itu memang pernah dilansir web nasa,tapi demi menyelamatkan muka,kafir nekad mengaburkan fakta dan sejarah,bahkan penemuan masjid di yerusalem pun yahudi tutup2i,baru ketahuano/ salah1 wartawan stl mau dibongkar. biadap mmg kelakuan yahudi israel itu.
doramma
 
Posts: 554
Joined: Tue Nov 02, 2010 11:17 am

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doramma » Wed Nov 10, 2010 1:10 pm

ttg budah,itu adalah salahsatu bentuk pengakuan umat budha thd keberadaan nabi Muhammad,dan tokoh2 dlm ajaran Islam,semakin menunjukkan bukti kaitan ajaran budha itu sbg salah satu sempalan dr agama Islam yg telah diajarkan sejak nabi Adam.
doramma
 
Posts: 554
Joined: Tue Nov 02, 2010 11:17 am

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doblank » Wed Nov 10, 2010 3:27 pm

doramma wrote:ttg amstrong ke bulan itu mmg berita buatan kaum orientalis u/ membuat kesan seolah2 Islam hoax,padahal muslim sudah tahu mukjizat itu tak bisa membuat kafir bertobat,hanya hidayah Allah yg bisa.
maksud anda apa brodor? jangan gunakan standart gandalah,brodor!

dorama wrote:tapi ttg cahaya diatas kabah itu memang pernah dilansir web nasa,tapi demi menyelamatkan muka,kafir nekad mengaburkan fakta dan sejarah,bahkan penemuan masjid di yerusalem pun yahudi tutup2i,baru ketahuano/ salah1 wartawan stl mau dibongkar. biadap mmg kelakuan yahudi israel itu.

anda main klaim tanpa bukti brodor!demi menutupi kebohongan muslim, anda sampai memfitnah!KEJAM SEKALI AJARAN ISLAM!

ok brodor, karena bukti tidak ada, maka diskusi kita lanjutkan
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doblank » Wed Nov 10, 2010 3:46 pm

doramma wrote:ttg budah,itu adalah salahsatu bentuk pengakuan umat budha thd keberadaan nabi Muhammad,dan tokoh2 dlm ajaran Islam,semakin menunjukkan bukti kaitan ajaran budha itu sbg salah satu sempalan dr agama Islam yg telah diajarkan sejak nabi Adam.

pengakuan siapa brodor?? adanya cuma pengakuan dari tokoh islam tuh.biasalah mencari pembenaran!
tidak ada umat budha yang mengakui tentang kedatangan mohamad apalagi menggangap sempalan dari islam! adanya ajaran islamlah yang mencontek ajaran budha.

kalo ada umat budha yang mengaku seperti yang anda bangga2kan silahkan saja suguhkan beritanya disini!
tetapi

harus bersumber dari link budha sendiri, bukan dari link islam! (agar netral dan tidak kuper) :rolling:
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doramma » Wed Nov 10, 2010 4:22 pm

itu yg nilis buku pendetha Budha,bukan muslim...btw. suka aneh dgn nalar kafir nieh,definisinya sering menyimpang,coba menurut kafir apa sih definisi "standard ganda" itu?! jgn asal fitnah orang lain standard ganda,eh tahunya kafir sendiri yg standar ganda...
doramma
 
Posts: 554
Joined: Tue Nov 02, 2010 11:17 am

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby APEL EMAS » Wed Nov 10, 2010 6:37 pm

doramma wrote:itu yg nilis buku pendetha Budha,bukan muslim...btw. suka aneh dgn nalar kafir nieh,definisinya sering menyimpang,coba menurut kafir apa sih definisi "standard ganda" itu?! jgn asal fitnah orang lain standard ganda,eh tahunya kafir sendiri yg standar ganda...


semakin gua lihat" doramma" dalam meyanggah sudah tidak mengunakan otaknya...!!! dia hanya pake jurus fanatik buta (pembenaran sendiri) dan ujung ujungnya hanya menuduh menuduh lagi dan membuat peryataan yang tidak bisa di pertanggung jawabkan...!!! kalau hanya sekedar berkoar koar doank,siapa pun bisa...!!!! :finga: :finga: bukan nya semakin pintar malah tambah kacau...!!!! mungkin eror dan syok agama yang selalu diagung agung kan nya (islam) sisi gelapnya dibuka disini secara jelas,karna selama ini kebobrokan islam selalu di tutupi ustad ustad kampungnya bahkan dicuci otak dengan keyakinan islam itu absolut benar...!!!! kasihan deh :goodman: :goodman:
User avatar
APEL EMAS
 
Posts: 903
Joined: Wed Aug 25, 2010 11:42 am
Location: PIKIRAN JERNIH DAN AKAL SEHAT

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doblank » Wed Nov 10, 2010 11:41 pm

doramma wrote:itu yg nilis buku pendetha Budha,bukan muslim...
asbun!!
dorama wrote:btw. suka aneh dgn nalar kafir nieh,definisinya sering menyimpang,coba menurut kafir apa sih definisi "standard ganda" itu?! jgn asal fitnah orang lain standard ganda,eh tahunya kafir sendiri yg standar ganda...
nah contohnya postingan anda sendiri yang menyimpang!!!
Menyimpang jauh dari topik dengan tujuan mengalihkan keasbunan anda!! Menjungkarbalikkan fakta!! (kebiasaan muslim)
Sebentar lagi juga keluar jurus umpatannya brodor! :rolling:
tetapi saya memakluminya. Karena memang begitulah buah busuknya ajaran islam
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doramma » Thu Nov 11, 2010 12:04 am

Baca di libk-nya, yg nulis buku itu seorang budha..namanya A H Vidharthi...btw. definisi satandard ganda adalah menilai dengan tolok ukur yang berbeda. Jadi dg tolok ukur: pencantuman aktivitas sex adalah porno,mk bs dibandingkan antara bible dgn quran,mana yg porno,yg bahkan u/ menjelaskan suatu kota hrs dgn kata vulgar aktivitas persundalan. paham?!
doramma
 
Posts: 554
Joined: Tue Nov 02, 2010 11:17 am

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doramma » Thu Nov 11, 2010 12:08 am

kapir terbukti lemot dan berotak mesum. Fakta no 1) nyampah,sudah terbukti,tuh netternya pake nickname ORANG (gila) dan terbukti otak mesum,byk sekali buktinya...baca di trit2 yg sdh ada...
doramma
 
Posts: 554
Joined: Tue Nov 02, 2010 11:17 am

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doblank » Thu Nov 11, 2010 12:16 am

doramma wrote:Baca di libk-nya, yg nulis buku itu seorang budha..namanya A H Vidharthi...btw. definisi satandard ganda adalah menilai dengan tolok ukur yang berbeda. Jadi dg tolok ukur: pencantuman aktivitas sex adalah porno,mk bs dibandingkan antara bible dgn quran,mana yg porno,yg bahkan u/ menjelaskan suatu kota hrs dgn kata vulgar aktivitas persundalan. paham?!

asbun! Dan anda lagi2 mengalihkan topik!!!
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doblank » Thu Nov 11, 2010 12:23 am

doramma wrote:kapir terbukti lemot dan berotak mesum. Fakta no 1) nyampah,sudah terbukti,tuh netternya pake nickname ORANG (gila) dan terbukti otak mesum,byk sekali buktinya...baca di trit2 yg sdh ada...

anda ini ngoment apa sih brodor?? Anda malah nyampah disini!
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: BENARKAH AGAMA LAIN (non islam)ADALAH SEMPALAN DARI agama is

Postby doramma » Thu Nov 11, 2010 12:46 am

yg diatas itu aku posting di trit lain,kok bs pindah ke sini? ttg budha,itu tulisan seorang budha,makanya baca di link-nya!!!!!
doramma
 
Posts: 554
Joined: Tue Nov 02, 2010 11:17 am

PreviousNext

Return to CARA BERPIKIR MUSLIM



Who is online

Users browsing this forum: No registered users