.

Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Mengungkapkan cara berpikir Muslim pada umumnya dan Muslim di FFIndonesia pada khususnya.

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby Kalits'39 » Sat Nov 20, 2010 1:10 pm

@vhee, mau lihat kepedulian Cavier terhadap Muslim/Muslimah (walaupun hanya sebatas "nota protes"), kasus TKW kita yang disiksa di Arab Saudi, lihat aja komen2 Cavier disini :
Biadab! mulut TKW digunting!
biadab-mulut-tkw-digunting-t41797/page20.html
mana ada Muslim yang kasih komentar/protes, walaupun saudara seukuwah sendiri. [-X
Kalits'39
 
Posts: 355
Joined: Sun Aug 22, 2010 11:38 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby elkie » Sat Nov 20, 2010 6:21 pm

......masih kurang ndut ?

Kisah Rombongan DPR Bertemu TKW (1)
Rombongan DPR "Telantarkan" TKW di Dubai
Tribun Pekanbaru - Jumat, 19 November 2010 10:47 WIBShare | Berita

TerkaitTribunnewspekanbaru.com — Cerita pilu Sumiati, tenaga kerja wanita yang disiksa majikannya di Arab Saudi, menghias halaman pemberitaan media beberapa hari ini. Sikap abai ternyata bukan hanya milik para majikan yang kejam di negeri orang. Para wakil rakyat, yang menjadi anggota parlemen karena dipilih oleh rakyat, pun menunjukkan sikap abai saat rakyat yang memilihnya tengah kelimpungan di negeri seberang.

Rombongan Anggota DPR yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Moskwa, Rusia, dilaporkan ”menelantarkan” seratusan lebih tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang tengah kebingungan di Dubai. Di antara para TKW itu ada yang kedua tangannya melepuh karena disiram air keras oleh majikannya di Arab Saudi. Sementara, satu orang TKW lainnya mengalami pendarahan di perut.

”Mereka egois sekali. Tidak ada satu pun yang peduli dengan nasib rakyat yang mereka wakili yang tengah kebingungan. Mereka menelantarkan para TKW di Dubai,” tutur Adiati Kristiarini, seorang warga Indonesia yang mendampingi para TKW, dalam perbincangan dengan Kompas.com beberapa waktu lalu.

Ia menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (6/11/2010). Ia bersama suaminya transit di Bandara Dubai dalam penerbangan New York-Jakarta. Di Gate 206 Bandara Dubai, mereka menunggu keberangkatan Pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK 358 tujuan Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 10.25 waktu setempat.

Di situ, menunggu pula rombongan TKW yang jumlahnya ia perkirakan sekitar 150 orang. Adiati mengetahui kemudian, ternyata para TKW itu tidak saling kenal dan tidak pergi dalam satu koordinasi kelompok rombongan. Secara kebetulan saja mereka bertemu di bandara. Ada juga rombongan anggota DPR yang hendak pulang seusai melakukan studi banding ke Rusia.

Kebingungan

Sekitar 30 menit menunggu, tutur Adiati, ada pengumuman bahwa penerbangan ke Jakarta dibatalkan karena lalu lintas udara Indonesia tidak aman akibat letusan Gunung Merapi. Oleh Emirates, para penumpang diarahkan menuju hotel. Dari sinilah kepanikan dan kericuhan dimulai. Para TKW itu bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, sementara petugas Emirates dirasa kurang informatif.

Menurut Adiati, sebelum tiba di Hotel yang terletak di luar bandara, mereka harus melewati sejumlah prosedur. Inilah yang membingungkan para TKW sebab banyak di antara mereka tidak bisa berbahasa Inggris. ”Para TKW itu adalah orang-orang sederhana dan lugu. Mereka kebingungan. Saya dan beberapa orang Indonesia lain lalu spontan saja berinisiatif membantu mereka,” ujar Adiati.

Inisiatif membantu para TKW yang jumlahnya seratusan ini ternyata dilakukan sporadis oleh sejumlah orang Indonesia yang ada di situ. Agus Safari, seorang peneliti yang juga transit di Dubai dari Rusia, menceritakan dalam e-mail-nya kepada Kompas.com, prosedur dari bandara menuju hotel memang terasa berbelit.

Pertama, para penumpang harus antre untuk mendapatkan visa sponsorship. Setelah itu, mereka harus menjalani cek imigrasi. Seusai urusan imigrasi, mereka harus datang ke satu loket untuk mencap kartu visa. Kemudian, harus antre lagi untuk scan mata di satu sudut yang jaraknya cukup jauh dari counter cap.

Sejumlah orang Indonesia, tutur Agus, secara spontan pontang-panting mencoba mengarahkan para TKW yang kebingungan. Suasananya sangat riuh. Di tengah keriuhan, menurut Agus, rombongan anggota Dewan terlihat duduk berkelompok di sudut ruang tunggu, sementara kartu visa mereka dikerjakan oleh agen tur mereka. Agus mengenali mereka sebagai anggota DPR sebab ia satu pesawat dalam penerbangan dari Rusia. Temannya di Kedutaan Besar Rusia memberi tahu Agus soal rombongan ini.

Tidak tergerak

”Saya heran, kok mereka tidak tergerak ya mengatasi rakyat yang memilih mereka sedang panik dan bingung. Mereka hanya tertawa-tawa dan ngobrol, dan saya sempat mendengar celetukan mereka saat saya sedang mengarahkan para TKW ini, ’ya, kita bermalam di Dubai ini sekalian saja untuk menghabiskan sisa rubel (mata uang Rusia)’. Masya Allah...,” cerita Agus.

Di antara orang Indonesia yang spontan membantu para TKW ada juga Riny Konig. Ia juga transit di Dubai dalam penerbangan dari Swiss. Menurut Riny, karena kesulitan komunikasi, para TKW ini banyak yang dibentak-bentak oleh petugas bandara.

”Di sebelah saya ada orang-orang Indonesia dengan paspor biru. Mereka diam saja melihat para TKW dibentak-bentak. Kok, ya enggak ada hati orang-orang ini,” tutur Riny saat berbincang dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu, dengan nada jengkel.

Adiati, Agus, dan Riny mulanya tidak saling kenal. Mereka dipertemukan oleh spontanitas menolong para TKW yang kebingungan. Ada sejumlah orang Indonesia lainnya yang juga spontan membantu secara sporadis. ”Hanya faktor rasa kebangsaan dan kemanusiaanlah yang membuat kami berbuat,” kata Agus.

Penulis : johanes
Editor : johanes


ingat kasus mavi marmara ndut ?
anggota dpr langsung ramai-ramai ke gaza, padahal siapa sih orang palestina ?
hubungannya dekatan mana dengan buruh migran yang nota bene sebangsa dengan kita ?
jangan katakan ini adalah cobaan auwloh ndut !!
elkie
 
Posts: 393
Joined: Sun Jul 25, 2010 9:09 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby rationalist » Fri Nov 26, 2010 3:36 pm

Seperti saya katakan sebelumnya, sejak awal anda sudah membuat kesimpulan yang ingin anda buktikan dalam thread ini, yakni kepedulian kafir terhadap Islam hanyalah topeng belaka. Juga anda ingin memuaskan ego anda mendapatkan kemenangan dalam berdebat.

Begitu saya katakan bahwa concern utama para kafir adalah rasa takut terhadap teroris yang mendasarkan tindakannya pada Alquran, anda langsung sambut dengan sukacita.
vhee wrote:So, ternyata ini semua adalah suatu bentuk usaha "perlindungan diri" dari ketakutan thdp muslim ?
Satu point yg ane dpt dari tanggapan ente...yaitu forum ini bknlah suatu bentuk kepedulian yg selalu dielu2kan caviers ,atau dgn kata lain, merupakan topeng berbentuk "kepedulian" untuk menutupi ketakutan caviers thdp kekuatan muslim.

Tetapi ketika saya katakan bahwa saya tidak mewakili semua kafir, sehingga anda salah bila menarik kesimpulan dari pernyataan saya saja, maka anda berkilah sudah lebih lama mengikuti forum ini. Berapa ribu pun yang menulis di forum ini yang sependapat dengan saya, tetap tidak pantas mewakili semua kafir. Bahkan mewakili kafir yang mendukung FF saja yang tersebar di banyak negara belum pantas.

Ketika saya katakan bahwa Alquran menyuruh muslim untuk memusuhi orang yang tidak seagama, maka anda mengatakan:
vhee wrote:Jgn katakan fula kl dalam kitab ente tdk trdpt ayat2 tsb.

Namun ketika saya minta menunjukkan ayat mana di dalam New Testament yang menyuruh umat nasrani memusuhi apalagi membunuh non-nasrani, anda memberikann link yang di dalamnya tidak ada satu ayat atau kalimat pun yang berisi perintah Yesus untuk memusuhi apalagi membunuh non-nasrani. Anda memang muslimah sempurna yang boleh berbohong untuk membela Islam!
vhee wrote:Afa ane yg mendahului membahas ttg motivasi ? Ane gak bilang kl perbuatan ente bkn termasuk dlm KEPEDULIAN...tp ketika ente mulai membahas ttg MOTIVASI, sdh tepat ane mengatakan...kepedulian caviers adalah TOPENG. Perlu ente tau, sebuah difinisi itu bs bermakna luas sekali. MERASAKAN PENDERITAAN ORANG LAIN...adalah motivasi yg didalangi oleh niat mulia... sebuah ketulusan krn perasaan sedih melihat penderitaan orang lain....tdk ada motivasi untuk kepentingan pribadi. Kata kata tulus dan ikhlas itu mmg tdk tersurat tapi tersirat..itulah sebabnya ane menekankan ente untuk bicara dgn hati bkn definisi.

Anda sendiri yang memulai mengatakan harus dengan tulus. Bukankah itu berarti anda sendiri yang memulai bicara soal motivasi? Adakah manusia di dunia ini yang melakukan sesuatu tanpa motivasi? Anda bangun pagi buta karena mau sholat subuh. Sampai anda mau tidur, juga di dorong oleh motivasi ingin menyegarkan jasmani. Anda memberi kepada pengemis di jalan, juga karena motivasi ingin menghilangkan rasa kasihan dalam diri anda. Hanya robot yang bergerak tanpa motivasi.

Saya meminta anda memberikan contoh perbuatan anda atau Muhammad yang termasuk kepedulian yang tulus. Anda tidak berani memberikannya, bukan? Seluruh para nabi bersikap maupun bertindak karena ada motivasinya.

Semua perbendaharaan kata yang sudah baku harus memiliki definisi, konsepsi atau pengertian. Kalau anda mau mengetahui apakah suatu kata atau istilah sudah termasuk perbendaharaan bahasa Indonesia, ke mana anda harus cari? Tentu ke KBBI, kecuali anda putri dari Yus Badudu. Orang bermain scrabble saja menggunakan kamus sebagai patokan.

Ketika saya melakukan kesalahan posting sampai 9 kali, karena dalam HP saya terus-menerus muncul kalimat “Connetion Failed”, maka begitu sigapnya anda meresponsnya:
vhee wrote:Wah...ente nafsu banget...........

Ini menunjukkan sekecil apapun kesalahan lawan debat akan anda manfaatkan. Tanpa berpikir lebih panjang. Dan itu yang anda harapkan, tetapi tidak anda dapatkan dari saya. Lalu anda katakan saya suka cerita lah, tulisan panjang lah, capek lah, pusing lah.

Saya berikan contoh sesuai dengan definisi yang anda buat sendiri. Lalu anda katakan tidak memenuhi syarat karena harus juga membaca yang tersirat (atau between the lineidiom yang agaknya tidak anda fahami maknanya). Apa itu masuk akal sehat? Saya duga, anda memang mengharapkan saya membaca yang tersirat, sehingga anda dengan mudah disertai berbohong, akan menunjukkan saya sebagai orang tolol.

Untuk membuktikannya, saya buatlah pernyataan berikut: “Jengkel, ya, dihadapkan pada pertanyaan yang ‘nakal’ itu, sehingga Anda menggunakan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang yang terpelajar?”
vhee wrote:Ngga jengkel..ane gak lg menghina ente...cm lg ngemeng ttg kenyataan. Kl ente tersinggung , y itu suka2 ente.

Kalau tidak jengkel, mengapa tidak menjawabnya? Jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ memang tetap menghina Allah SWT!
vhee wrote:Ane gak sedang berdebat secara ilmiah dan entepun gak perlu terlalu serius menanggapi...tempat ini mmg tempat sampah...so, ente hanya akan menemui debat debat kelas sampah disini.

Apa masih kurang aneh anda ini? Mengaku sarjana, tetapi menghindari berdebat secara ilmiah. Apa ijazah sarjana anda aspal? Manusia kok mau masuk dan berlama-lama di tempat sampah. Apakah anda ini sejenis tikus got atau “cecurut” yang cari makan di tumpukan sampah? Bukankah dengan membicarakan Allah SWT dan Muhammad di tempat sampah, sama dengan menista mereka berdua?

Saya memang tidak di hadapan laptop terus menerus. Dan saya menganggap debat di forum ini bukan sekelas chatting. Saya duga cara itu yang anda inginkan, sehingga setiap kata atau ucapan yang memiliki lubang akan anda manfaatkan untuk keuntungan anda. Karena tujuan anda, adalah memenangkan perdebatan, bukan membela Islam atau Muhammad. Justru anda lah yang menggunakan topeng Islam untuk mencapai kepuasan diri sendiri, ingin menang dalam perdebatan.

Saya tidak tau apakah anda orang Arab, turunan Arab atau asli Indonesia tetapi merasa lebih Arab dari orang Arab. Tetapi orang-orang Arab dan turunan Arab yang saya kenal tidak seperti anda.

Hampir dua tahun saya indekost di rumah keluarga Salim Alatas. Isterinya bernama Ida Alhabsy. Saya sering pada akhir minggu atau sedang libur ke rumah mertuanya yang berada di kampung dan belum ada listrik. Di samping enak mengobrol dengan pak Habib Alhabsy itu, yang disapa orang "pak Habib" saja, dia memiliki selemari penuh buku-buku cow-boy seperti karangan Karl May dan cerita silat, seperti karangan Kho Ping Ho.

Suatu pagi, ketika sarapan dan minum teh, saya bertanya, “Bah, apakah Abah sudah naik haji?” “Sudah. Saya kan masih lahir di sana. Sudah lima kali saya naik haji sambil menjenguk sanak-saudara yang masih hidup. Emangnya, kenapa nak tanya?” “Karena tidak pernah saya lihat berpakaian haji!” Dengan tergelak, “Yang mana pakaian haji itu?” “Yaaah, baju putih terusan kayak jubah itu. Atau topi putih separoh tempurung kelapa itu, bah.”

“Tidak ada pakaian haji. Itulah bodohnya orang Indonesia, seperti monyet! Dikira kalau berpakaian seperti Arab, akan menjadi lebih Islami. Pakaian seperti itu hanya cocok untuk gurun pasir, mengurangi penguapan dari tubuh. Air kan sulit di sana. Semua buruh pelabuhan di Jeddah juga memakai topi seperti yang nak bilang itu. Saya juga nggak tau apa gunanya topi seperti itu, karena tidak melindungi wajah dan mata dari sinar matahari.” “Saya lebih suka memakai topi seperti itu,” katanya sambil menunjuk dua topi koboi yang tergantung di dinding.

Saya ikut lho keluar-masuk hutan dalam perang kemerdekaan kita. Itu di lemari ada surat penghargaan saya sebagai veteran.” Dia menguraikan panjang lebar tentang masa gerilya perang kemerdekaan. Masih banyak lagi perilaku orang dan masyarakat muslim Indonesia yang dia kritik, tetapi tidak saya ingat lagi, karena saya terpesona dan tercenung. Sejak itu saya jadi lebih suka memaki orang yang menjengkelkan dengan “monyet!”

Anda mengatakan bahwa para pahlawan kemerdekaan kita, yang berjuang juga untuk kemerdekaan dirinya sendiri, termasuk topeng kepedulian. Ditambah lagi dengan keengganan anda menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, melainkan terus-menerus menggunakan dialek Arab, seperti orang Arab yang baru datang ke negeri ini. Sebagai orang yang pernah ditawari bekerja di luar negeri oleh perusahaan MNC dengan gaji dan fasilitas yang berlipat kali dari yang saya dapat dari perusahaan negara, saya menolaknya karena merasa akan dapat berbuat lebih banyak untuk negeri ini, saya memang merasa sangat jengkel.

Bila anda warga negara Indonesia, anda patut dinilai “bangsat”. Terserah anda mau mengertikan apa bangsat itu. Bagi saya, bangsat adalah manusia paling hina di muka bumi ini. Mau anda artikan “bangsat” adalah “tumbila”, “tinggi” atau “kutu busuk” juga boleh, tetap saja makhluk yang dibenci manusia.

Suatu hari di awal bulan puasa, teman seruangan kerja, di Jl. Thamrin, Jakarta, membuat kami (14 orang) tertawa terpingkal-pingkal. Teman itu merokok dan dari mejanya melalui pesawat telepon yang merangkap intercom memesan kopi ke pantry. Sembari meletakkan semangkuk kopi, prambubakti perempuan itu bertanya, “Emangnya nggak puasa, pak Anu?” “Ngnggak! Kalian aja yang mau dibodoh-bodohi orang Arab. Saya kan orang Arab, jadi nggak bisa mereka kibulin!” Sampai sekarang, teman itu tidak mau pergi naik haji.

Di waktu yang lain, ketika saya menjadi direktur utama anak perusahaan yang juga punya anak perusahaan, saya geleng-geleng kepala. Direktur anak perusahaan yang terakhir itu, yang juga berada di gedung yang sama dengan kami di Jl. Sudirman, Jakarta, tidak mau menanda-tangani kartu yang berbunyi “Seasonal Greetings and Happy New Year”. Oleh sekretarisnya saya diminta menanda-tanganinya. Kalau menurutkan emosi, saat itu juga saya turunkan jabatan perempuan berjilbab itu. Sudah jelas bukan kartu Natal, namun dia tetap tidak mau menanda-tanganinya.

Ketika kejadian di atas saya pertanyakan kepada rekan muslim, yang MBA lulusan AS, alasannya sungguh mengherankan. Katanya, muslim tidak mau mengucapkan selamat natal karena tanggal kelahiran nabi Isa belum pasti tanggal 25 Desember. “Oh, begitu ya?!” Wajahnya mencerminkan kepuasan. Sengaja saya diamkan dulu, agar lebih lama dia nikmati "kemenangannya" itu. “Jadi setiap ada orang, teman atau sahabat yang ulang tahun, apakah harus ditunjukin dulu akte kelahirannya baru you mau mengucapkan selamat ulang tahun?” Dia tersipu-sipu, dan saya juga segera meninggalkannya.

Suatu kali saya mengunjungi Prof Dr Arief Budiman (abang dari Soe Hok Gie) di rumahnya, sebelum dia “diusir” ke Australia. Kami disertai isterinya, Leila Ch Budiman, yang lama mengasuh kolom konsultasi di Harian Kompas minggu. Saya tidak tau dan juga tidak ingin tau apa agama Arief dan isterinya. Yang saya tau, keduanya adalah orang yang sangat idealis. Yang paling berkesan dari obrolan petang itu adalah joke karangan Gus Dur, yang membuat kami tertawa setengah hidup.

Dalam suatu jamuan makan malam di jaman Soeharto, banyak tamu negara di istana negara, di antaranya kanselir Jerman Barat (saya sudah lupa namanya, mungkin Willy Brandt). Gus Dur merasa seperti “kambing congek” di tengah para peminpin berbagai negara Barat itu. Lalu muncul gagasan di benak Gus Dur mengemukakan sebuah joke untuk menarik perhatian.
Suatu saat Tuhan hendak berlibur dan meminta saran para pembantunya. Ada yang menyarankan ke Mars, Jupiter, Saturnus, Bulan dsb. Tetapi selalu saja ada kekuranganya, terutama pemandangannya tidak menarik. Lalu salah satu malaikat berkata, “Pak, saya tau ke mana yang paling bagus. Pemandangannya indah, ada gurun, hutan, gunung, laut, danau, ngarai dan sebagainya. Pokoknya lengkap, deh.” “Ke mana itu?” tanya Tuhan. “Ke bumi, pak!” sahut malaikat pengusul itu.
Tuhan menarik nafas panjang dan mendesah. “Ah, saya kapok berlibur ke situ.” “Lho, kenapa, Pak?” tanya para pembantunya heran. “Kan dua ribu tahun yang lalu saya berlibur ke bumi. Saya berselingkuh dengan seorang perawan bernama Maria. Sampai sekarang, setiap akhir tahun akibat perselingkuhan itu selalu diributkan, mereka sebut perayaan natal.”
Tamu negara yang hampir semuanya nasrani, terpingkal-pingkal. Dan katanya, sejak itu, apabila ada orang Indonesia bertemu dengan kanselir Jerman Barat itu, maka satu-satunya yang dikirimi salam hanyalah Gus Dur.

Sekiranya para tamu negara itu adalah muslim, apakah Gus Dur berani membuat joke yang mirip tetapi seputar Islam atau Muhammad? Saya yakin, tidak. Sejauh joke yang pernah dia lontarkan menyerempet agama di depan umum (tv) hanyalah ini. Yang paling dekat kepada Tuhan adalah orang Kristen, mereka menyapaNya Bapa. Yang kedua orang Hindu, menyapaNya Om. Yang paling jauh adalah orang Islam, memanggil Tuhan harus dari menara. Mungkin beliau tidak tega menambahkan, “pakai toa lagi.” Saya mendoakan pepatah lama, “Mati satu, tumbuh seribu” menjadi kenyataan. Semoga lahir seribu bahkan beribu-ribu Gus Dur di negeri ini.

Ketika FPI memorak-porandakan tempat-tempat hiburan malam, seorang sahabat saya turunan Arab dengan ketus berkata, “Memang bangsat Arab-arab seperti Habib Riziek dan Abu Bakar Ba’asyir ini. Kerjanya cuma bikin onar dan mengadu-domba di negeri ini. Sayang sudah tidak ada lagi “petrus” seperti dulu. Kalau ada, mereka sangat pantas “dikarungkan” dan diletakkan di pinggir jalan.” (Pernah ada suatu masa di jaman Orba, para gembong preman diculik oleh para “penembak misterius” dan mayatnya di letakkan di tepi jalan dalam karung. Pada masa itu pencurian, perampokan dan pemerasan hampir tidak ada)

Suatu kali, kami memasuki pintu toll. Penjaganya adalah seorang perempuan berjilbab. Seusai mendapat kartu, isteri saya tertawa. Saya tanya, “Ada apa?” “Perhatiin nggak tadi gayanya perempuan penjaga pintu toll itu. Sepertinya takut sekali jarinya tersentuh jari abang!” “Oh, ya? Hmmm. Nggak perhatiin, sih. Memang banyak perempuan berjilbab tidak tau diri. Seperti yang tadi, kalau telanjang pun, saya punya tidak akan ngaceng.” Kemudian saya tambahkan, “Mestinya Jasa Marga menyediakan pinset atau sumpit bagi perempuan berjilbab, ya?” Suara tertawa isteri dan keponakan saya yang duduk di jok belakang makin berderai.

Sejak itu, keponakan saya setiap masuk atau keluar pintu toll, bila dari jauh melihat penjaganya adalah perempuan berjilbab, selalu berkata, “Om, coba kita lihat mau senyum apa nggak?” Dengan sengaja dia atau saya (tergantung siapa yang di belakang setir) menegur selamat pagi, siang atau malam. Dan memang hampir tidak ada yang menjawab disertai senyum. Padahal pekerjaan sebagai penjaga pintu toll adalah public service. Budaya seperti ini kah yang ingin dikembangkan di negeri tercinta ini? Akan kah kita kubur senyum ramah-tamah Indonesia yang dahulu tersohor itu? Di AS, yang dituduh oleh sebagian muslim justru sebagai biang terorisme, penjaga pintu tollnya yang selalu terlebih dahulu menyapa, minimal “hai” disertai senyum.

Saya tidak habis pikir dan heran, mengapa para muslimah terpelajar, saya anggap saja Vhee termasuk di dalamnya, tidak berdiri di barisan terdepan menentang syariat Islam. Bukankah Islam menilai perempuan hanya setengah nilai laki-laki? Barangkali perempuan cuma dianggap sebagai kantong penampung sperma saja, sehingga perlu dibungkus rapat agar tidak bau dan mengganggu mata orang. Atau disamakan dengan pot tempat pembuangan sperma dan kalau tumbuh tidak perlu dipelihara, akan jadi manusia berotak bonzai. Dan siap menjadi pembom bunuh diri, hanya dengan iming-iming sorga bejad, untuk menaklukkan kafir, terutama dunia Barat yang maju dan makmur.

Dengan ini saya akhiri keterlibatan saya dalam thread ini. Saya kira sudah lebih dari cukup. Apa pun yang akan anda tulis tidak akan saya tanggapi. Jadi, suka-sukamu lah. Bila anda merasa menang, karena itu yang anda kejar, enjoy it! Saya duga anda adalah penggemar masturbasi, maka nikmatilah orgasme-mu itu sepuasnya. Biar sobat-sobat lainnya saja yang melayani anda, bila mereka belum kehilangan appetite.

Salam.
Last edited by rationalist on Mon Nov 29, 2010 8:44 am, edited 3 times in total.
rationalist
 

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby Om Girang » Sat Nov 27, 2010 2:02 pm

@Atas
Yongkruw my bro...!!!
Om Girang
 
Posts: 826
Joined: Sun Mar 22, 2009 2:11 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby true faith » Sun Nov 28, 2010 2:52 pm

jangan disudahi
](*,)
](*,)
](*,)
](*,)
](*,)



:heart:
true faith
 
Posts: 293
Joined: Thu Oct 07, 2010 7:37 pm
Location: DPR di bawah pohon rindang lagi menikmati angin spoi spoi

Previous

Return to CARA BERPIKIR MUSLIM



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron