.

Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Mengungkapkan cara berpikir Muslim pada umumnya dan Muslim di FFIndonesia pada khususnya.

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby vhee » Sat Nov 06, 2010 3:42 pm

Saudara Rasionalist..tengkyu atas kesabarnnya. Ane suka gaya ente ...Image

Silahkan menganggapi
User avatar
vhee
 
Posts: 1885
Joined: Thu May 20, 2010 2:52 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby Kalits'39 » Sat Nov 06, 2010 4:28 pm

rationalist wrote:---------
Dalam suatu konferensi pers dia ditanya, apakah benar dia punya affair dengan Donna Reed (foto model). Dengan mantap dia bantah rumor itu. Wartawan yang usil mengajukan pertanyaan beberapa kali, dan selalu dia bantah.
Wartawan secara diam-diam terus menguntitnya. Dengan kamera telelens wartawan berhasil memotretnya sedang berdua di atas kapal pesiar.
Muncullah foto itu di koran dan majalah. Tidak sampai seminggu kemudian Gary Heart mengundurkan diri, didesak oleh para penasehatnya. Apa kesalahan dia yang utama? Bukan perselingkuhan itu, tetapi kebohongannya yang tidak akan ditolerir para pemilih (penduduk AS)
Komentar kolumnis Washington Post (udah lupa namanya, waktu itu paling disegani) sangat menarik. Gary Heart ****, mengapa tidak meniru Yesus ketika menyelamatkan Maria Magdalena dari hukuman rajam? Seharusnya dia menjawab, "Angkat tangan, siapa di antara anda yang tidak pernah selingkuh!" Para wartawan itu semua akan diam, dan jalan ke White House pun jadi mulus.
Bagaimana dengan negeri kita?


Mengingatkan ane dengan kasus video mesum Ariel & Luna / Cut Tari. Bagaimana Ariel berani berbohong/menyangkal itu bukan dia didalam video itu, padahal buktinya bukan lagi foto yang bisa di modif, tapi video yang tingkat kebenarannya 90%, ditambahlah lagi pengakuan dari peran wanitanya, tapi tetap saja berbohong/menyangkal..??.

Entahalah...apakah kebohongan Ariel pengaruh dari ajaran Islam (berbohong dibolehkan asal........).. ??? :rolleyes:
Kalits'39
 
Posts: 355
Joined: Sun Aug 22, 2010 11:38 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby vhee » Sat Nov 06, 2010 5:02 pm

Akukomkamu wrote:Manu nanya ya...nak vhee , tentang anggota dewan di komisi 8 yg jalan2 ke tanah araf itu...mereka sebetulnya "Peduli ato Dengki" seh...ama bangsa ini ?
Pisss... :heart:


Wah be...Vhee gak tau alnya gak ada hubungan kedua2nya Image
User avatar
vhee
 
Posts: 1885
Joined: Thu May 20, 2010 2:52 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby vhee » Sat Nov 06, 2010 5:12 pm

GUNTUR LANGIT wrote:Vhee...

Sampeyan itu termasuk orang bebal, berani melawan hati nurani lo sendiri.
Ngerti maksud gw ?

Sampeyan sdh melihat seberkas cahaya kebenaran, tapi sampeyan menutupinya karena sampeyan lebih suka dengan kegelapan, kebohongan dan kemunafikan.


Yg tau hati ane adalah Allah dan diri ane sendiri... Dan terus terang muslim geleng2 kl caviers dah mulai bicara ttg hati. Muslim itu, gak sholat sehari aza , fikirannya dah aut autan...krn sholat itu, ente mau percaya atau tidak, adalah obat jitu penenang hati dan fikiran. Trus gimana yah sm caviers yg gak pernah sholat , malah memaki maki Allah ? :-k

Kata Bung Rasionalist...

belum bs mengatakan enak tahu ato tempe sebelum mencicipi kedua duanya.

yah terserahlah...bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Insya Allah ane gak perlu "mencicipi" agama ente krn ane dah merasa sanggaaaattt nyaman dan bersyukur menjadi hamba Allah, Tuhan yg sesungguhnya. Masuk neraka ato surga dah gak jadi soal, yg penting sdh melalukan yg terbaik dlm hidup ini. Image

Guntur Langit...semoga kita bertemu diakhirat nanti dimana ente dan caviers lainnya menangis menyesali semua perbuatannya. Semoga Allah memberimu hidayah sebelum itu semua terjadi dan jelaslah ttg afa yg kita perselisihkan ini.
User avatar
vhee
 
Posts: 1885
Joined: Thu May 20, 2010 2:52 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby vhee » Sat Nov 06, 2010 5:16 pm

elkie wrote:mengharapkan kejujuran dari seorang muslim adalah sesuatu yang sangat SULIT didapatkan,
sebab hanya islam satu-satunya agama yang mengenalkan konsep taqiyah (halal berbohong demi membela islam).
jadi kalau bohong itu halal, bagaimana bisa anda mengharapkan kejujuran darinya ?

cobalah anda diskusi terus dengan vhee , nanti anda akan merasakannya sendiri.
konsep ini bukan hanya berlaku personal, bahkan sudah menjadi umum dan berlaku luas,
bahkan ada lembaga-lembaga (eramuslim.com, arammah.com) yang juga menerapkannya, dengan tujuan muslim bangga dengan keislamannya, meskipun itu dibangun diatas kebohongan/DUSTA yang nyata.

sorry ya vheendut, ini bentuk kepedulian saya agar ndut meninggalkan kebiasaan buruk itu .


Hmmm...ada bau kentut ImageImageImageImage
User avatar
vhee
 
Posts: 1885
Joined: Thu May 20, 2010 2:52 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby vhee » Sat Nov 06, 2010 5:29 pm

by vhee » Sat Nov 06, 2010 3:06 pm

Saling menghormati adalah kunci kedamaian.


Salam Musa wrote:wah....telah lahir nabiah baru.....!

Judulmu ini:
Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Harusnya.. gini:
Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Apa dasar kafir membenci muslim (manusia beragama Islam)?

Paham?!


Ngga...Image
User avatar
vhee
 
Posts: 1885
Joined: Thu May 20, 2010 2:52 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby oglikom » Sat Nov 06, 2010 5:49 pm

vhee wrote:merasa sanggaaaattt nyaman dan bersyukur menjadi hamba Allah

Hamba adalah budak!!
Yang pasti Tuan tidak memperhatikan "hati" dari budak, dan budak belumlah merdeka:
QS 5:101
HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN (budak),janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan diwaktu Al Qur'an diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi maha penyantun.

Budak hanya menurut saja seperti ROBOCOP......

Apalagi menghargai dan mengetahui "hati" para kapir (Kapirkan juga manusia), khek lagu jadinya...... :lol:
oglikom
 
Posts: 3375
Joined: Tue May 04, 2010 11:33 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby rationalist » Sat Nov 06, 2010 6:09 pm

@ vhee,
Terima kasih atas jawaban anda yang segera. Baik karena anda menambahi dengan sentilan, saya ikuti kemauan anda. Jurusan apa anda kuliah? (silahkan dari S-1 hingga S-3). Tapi supaya lebih spesifik, apakah ada kuliah matematika atau statistika?
Terima kasih atas jawaban anda.
rationalist
 

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby vhee » Sat Nov 06, 2010 6:30 pm

rationalist wrote:@ vhee,
Terima kasih atas jawaban anda yang segera. Baik karena anda menambahi dengan sentilan, saya ikuti kemauan anda. Jurusan apa anda kuliah? (silahkan dari S-1 hingga S-3). Tapi supaya lebih spesifik, apakah ada kuliah matematika atau statistika?
Terima kasih atas jawaban anda.


Maaf y, itu rahasia... :yawinkle:
User avatar
vhee
 
Posts: 1885
Joined: Thu May 20, 2010 2:52 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby suga » Sat Nov 06, 2010 8:44 pm

vhee wrote:Maaf y, itu rahasia...


coba saya tebak, kemungkinan besar anda kuliah di IAIN fakultas kristologi, betul ?

Image
Last edited by suga on Sun Nov 07, 2010 6:12 pm, edited 1 time in total.
suga
 
Posts: 658
Joined: Fri Jun 18, 2010 6:37 am

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby rationalist » Sun Nov 07, 2010 12:00 pm

Tadinya saya bermaksud membuat tanya-jawab ini pendek saja. Tapi respons vhee membuat saya membatalkan niat tersebut.
rationalist wrote:Saya mau tanya dan tolong ini jangan anda lewatkan lagi. Apa anda pernah melihat garis? Kalau pernah, di mana? Kalau tidak, mengapa? Saya minta jangan anda tanya orang lain. Setelah anda jawab, silahkan mengajukan pertanyaan apa pun kepada saya. Pasti akan saya jawab!

vhee wrote:Ya ..tdk hanya pernah tapi sering krn mmg setiap hari saya berkutat dibidang statistik yg diwakili dgn banyak garis untuk melihat tingkat kualitas suatu produk.

rationalist wrote:Maaf vhee. Sementara menyelesaikan respons anda, saya sela dulu dengan pertanyaan yang erat kaitannya dengan tanya-jawab di atas. Apa jurusan anda ketika di SMA?
Semoga tidak terlalu mengganggu. Terima kasih, salam.

vhee wrote:Waktu SMA ane dijurusan Sosial dan Bahasa...tp untuk kuliah, keknya ente gak nanya. :yawinkle:

rationalist wrote:@ vhee,
Terima kasih atas jawaban anda yang segera. Baik, karena anda menambahi dengan sentilan, saya ikuti kemauan anda. Jurusan apa anda kuliah? (silahkan dari S-1 hingga S-3). Tapi supaya lebih spesifik, apakah ada kuliah matematika atau statistika?
Terima kasih atas jawaban anda.

vhee wrote:Maaf y, itu rahasia... :yawinkle:

Biar soal tanya-jawab yang sederhana ini kita selesaikan dahulu, sehingga nanti tidak perlu lagi saya komentari dalam jawaban yang lebih menyeluruh. Tapi ada kemungkinan harus saya singgung juga, kalau ada pernyataan anda yang bersangkutan dengan ini.
Saya tidak ingat lagi karena apa saya bertanya kepada putri saya, “Honey, apa kamu pernah melihat garis?” Waktu itu dia duduk di kelas XI SMA jurusan IPS.
“Ya, pernah dong! Di mana-mana ada garis!” Saya ambil kertas kosong dan saya sodorkan kepadanya. “Oke, tunjukkan sekarang!” Dia coret kertas itu, “Ini garis,” katanya. “Are you sure, honey?” Dia mulai ragu, terlihat dari wajahnya dan balik bertanya, “Kenapa papa ragukan ini bukan garis?” Saya jawab, “Itu pasti bukan garis!” Dia melongo. Saya lanjutkan, “Di pelajaran apa kamu ingat ada definisi garis, titik, sudut, kubus, segitiga, bidang, trapezium, belah ketupat, lingkaran, bola, silinder, kerucut, piramida, oktagon, poligon dsb.?”
Setelah berpikir sebentar, dia cubit pinggang saya, “Papa ini memang brengsek, suka ngecoh saya, deh.” “Ya, ya, ya, sekarang saya ingat. Garis adalah sesuatu yang memiliki panjang tetapi tidak memiliki lebar maupun tinggi.”

Ms. Vhee. Apa sudah jelas, bahwa dari segi matematika jawaban anda salah? Tidak ada orang yang pernah melihat garis, titik, lingkaran atau bidang datar, kalau menurut konsep atau definisi matematika.
Kesimpulannya, dalam menjawab pertanyaan itu anda ceroboh (perhatikan, saya tidak mengatakan anda manusia ceroboh!). Padahal pertanyaannya sudah saya buat “mencurigakan” agar anda lebih hati-hati dengan menambahkan kalimat, “Kalau pernah di mana? Dan kalau tidak, mengapa?”
Kenapa anda tidak membuka kamus untuk memastikan apa yang dimaksud dengan garis? Setelah itu baru anda jawab. Bila anda menjawabnya berdasarkan kamus maka anda akan benar walaupun tidak sama dengan jawaban berdasarkan matematika itu. Minimal dapat nilai 50, bukan nol. Anda memberi keterangan tambahan (mungkin dengan harapan agar lebih impressive, hanya anda dan Tuhan yang tau), “..tdk hanya pernah tapi sering krn mmg setiap hari saya berkutat dibidang statistik yg diwakili dgn banyak garis untuk melihat tingkat kualitas suatu produk.” Ternyata keterangan tambahan itu malah membuat nilai anda semakin turun menjadi minus alias di bawah nol. Apa tidak aneh seseorang yang mengaku setiap hari berkutat di bidang statistik (cabang dari matematika), tetapi tidak tau atau lupa apa garis dalam matematika? Terkecuali, saya salah tangkap atas apa yang anda maksud dengan statistik, atau anda tidak tau apa statistik, atau yang anda kerjakan itu sebenarnya bukan statistik.
Ketika saya tanyakan jurusan anda di SMA, anda menjawabnya dengan tambahan yang tidak perlu lagi, “tp untuk kuliah, keknya ente gak nanya.” Dari pertanyaan itu seharusnya anda bisa tebak bahwa pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjawab cukup tingkat SMA. Bukankah anda mengajurkan agar membaca yang tersirat? Saya bisa menebak apa yang muncul di pikiran anda sehingga menambahkan kalimat itu, tapi saya tidak akan mau mengutarakannya di sini. Agar debat ini tidak melenceng dan juga tidak ada kesempatan bagi anda untuk mengolok-olok saya tidak bisa membaca “between the line” alias yang tersirat.
Saya ikuti saja anda, dan saya tanya lagi, “Terima kasih atas .... supaya lebih spesifik, apakah ada kuliah matematika atau statistika? Jawaban anda sungguh mencengangkan, “Maaf y, itu rahasia...” Lho, anda sendiri TS-nya, saya tanya justru karena anda minta, kok jawabnya begitu? Sebagai TS, anda minimal dinilai tidak etis menjawab seperti itu. Memang tidak ada yang punya hak untuk memaksa anda menjawab, tetapi kalau itu rahasia, dan anda masih ingin dihargai, anda wajib menjelaskan kenapa tergolong rahasia!
Saya kira dari uraian awal tanggapan saya di atas, yakni dialog saya dengan putri saya, sudah jelas bahwa saya menanyakan jurusan anda di SMA, karena jawabannya seharusnya bisa dijawab oleh anak SMA kelas XI saja. Tidak perlu saya tau apakah anda punya ijazah S-1, S-2, atau S-3 karena tidak relevan.
Dan kalau anda dari jurusan yang total tidak pernah belajar matematika, maka dapat saya fahami bila anda salah menjawabnya. Tidak perlu sehancur ini nilai (di bawah nol) jawaban anda.
Karena setiap pertanyaan saya anda bumbu-bumbui (yang saya duga didorong oleh prasangka, hanya anda dan Tuhan yang tau kepastiannya!), maka waktu anda, saya dan pembaca jadi terbuang sia-sia. Juga menyita ruangan situs ini untuk hal yang tidak berguna. Apakah tindakan seperti itu termasuk masih terpuji?
Saya tidak tau pasti apakah jurusan Sosial dan Bahasa sama dengan IPS. Karena putri saya juga belajar matematika, dan katanya belajar definisi garis ketika di kelas X. Tetapi itu tidak perlu lagi, karena anda sendiri sudah mengatakan setiap hari berkutat di bidang statistik.
Dalam KBBI memang kurang jelas definisi garis dalam matematika. Yang ada adalah, garis: mat deretan titik-titik yang saling berhubungan. Tetapi tidak saya temukan definisi titik secara matematik. Sedang dalam kamus the Lexicon Webster Dictionary (hal. 554), definisi garis dalam matematika ialah, “a continuous extent of length, straight or curved, without breadth or thickness.” Definisi ini sama dengan yang saya pelajari puluhan tahun lalu dan yang diingat oleh putri saya.
Saya tidak pernah sengaja berniat menyakiti hati anda atau siapa pun di forum ini, tetapi bila anda merasa saya sakiti, saya mohon maaf from the bottom of my heart. Secara pribadi kita belum saling kenal, dan apa yang tercermin dalam debat ini barulah secuil dari kepribadian kita masing-masing. Mungkin saja, sekiranya kita bertemu di dunia nyata, saya akan menyapa anda seperti ke putri saya, “how are you doing, honey?”.
Salam.
rationalist
 

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby angky » Sun Nov 07, 2010 1:36 pm

@rationalist

Kalau niatnya diskusi dgn vhee, saya pastikan anda akan kecewa, karena akan muter muter kayak gasing ga maju maju. :lol:

cukup dijawab seadanya saja, jgn habiskan waktu terlalu serius. Kalau ingin lbh serius, ada netter CS, saya lihat beberapa hari lalu muncul tuh.

No offence ya vhee

:heart:
angky
 
Posts: 3354
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby Om Girang » Mon Nov 08, 2010 5:07 am

@Atas
Setuju aku sama kamu!

@Guntur Langit
Dasar kamu gledek.. Untung cuma kena jempol bro.. Besok-besok jangan ampe salah jedor lagi ya! Hehe!

@All
Klaim Muter-Muter Khas Muslim Solehah: Argumen Tiarap
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/klaim-muter-muter-khas-muslim-solehah-argumen-tiarap-t39306/
Om Girang
 
Posts: 826
Joined: Sun Mar 22, 2009 2:11 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby Akukomkamu » Mon Nov 08, 2010 5:24 am

Akukomkamu wrote:Manu nanya ya...nak vhee , tentang anggota dewan di komisi 8 yg jalan2 ke tanah araf itu...mereka sebetulnya "Peduli ato Dengki" seh...ama bangsa ini ?
Pisss... :heart:


vhee:
Wah be...Vhee gak tau alnya gak ada hubungan kedua2nya Image


Kok...ga ada hubungannya ? ya ada thoo..nak vhee , mereka yg di komisi 8 menurut abah terkena syndrom "Dengki dan Peduli"

"Dengki" nya karena mereka menjadi anggota DPR sudah ngluarin uang banyak buat suara2 mereka agar bisa terpilih dan untuk membalas cuman dengan situasi momen2 spt ini bisanya unt ngebalas menebus uang dah terlanjur keluar banyak , mau korupsi skr dah sulit sekali banyak sekali yg mengawasi.

"Peduli" nya pada orang2 yg lebih mampu sedang pada orang2 yg miskin dan ga mampu yg saat ini banyak ketimpa bencana dalam hati mereka berkata syukur deh...makan tuh tsunami ama wedud gembel.

Itulah ajaran islam yg sangat islami sekali , semoga kau tidak mencontoh mereka.


Pisss... :heart:
Akukomkamu
 
Posts: 5565
Joined: Sat Jul 11, 2009 11:34 am
Location: "Mengajak onta2 arab unt bisa BERMARTABAT" IFF adalah TEMPAT nya.

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby doblank » Mon Nov 08, 2010 11:59 am

vhee wrote:Coba posisikan diri anda diposisi netral...
vhee wrote:“Media mmg selalu membesar besarkan....”
apakah anda sudah dalam posisi netral???

[quote"vhee"]Mslh asap dan api...tentu ente tau kl ini HANYA pribahasa. Semisala ada pemberitaan :

Muslim membunuh Si A karena Si A membakar Al quran

Jika ente sibuk mengkritik muslim :

"Dasar muslim gak ada yg beres...cuma gara2 dibakar QUran sampe bunuh orang. Ajaran agamanya tuhhh......!!!"

Wah...kritikan yg tidak objektif. Seandainya ente muslim, tentu ente gak akan berpendapat sperti itu. Itulah sebabnya keobjektifan ente sbg caviers sangat dipertanyakan krn ente SAMA SEKALI tdk mengkritik perbuatan caviers yg telah membakar Quran. Tentu pembunuhan tdk akan terjadi tanpa didahuli pembakaran Quran bukan ?

Sekarang bisa bedakan, mana api mana asap ?[/quote]
menurut pendapat saya, analogi anda(vhee) tidak sinkron dengan api dan asap!
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby vhee » Mon Nov 08, 2010 1:00 pm

rationalist wrote:Biar soal tanya-jawab yang sederhana ini kita selesaikan dahulu, sehingga nanti tidak perlu lagi saya komentari dalam jawaban yang lebih menyeluruh. Tapi ada kemungkinan harus saya singgung juga, kalau ada pernyataan anda yang bersangkutan dengan ini.
Saya tidak ingat lagi karena apa saya bertanya kepada putri saya, “Honey, apa kamu pernah melihat garis?” Waktu itu dia duduk di kelas XI SMA jurusan IPS.
“Ya, pernah dong! Di mana-mana ada garis!” Saya ambil kertas kosong dan saya sodorkan kepadanya. “Oke, tunjukkan sekarang!” Dia coret kertas itu, “Ini garis,” katanya. “Are you sure, honey?” Dia mulai ragu, terlihat dari wajahnya dan balik bertanya, “Kenapa papa ragukan ini bukan garis?” Saya jawab, “Itu pasti bukan garis!” Dia melongo. Saya lanjutkan, “Di pelajaran apa kamu ingat ada definisi garis, titik, sudut, kubus, segitiga, bidang, trapezium, belah ketupat, lingkaran, bola, silinder, kerucut, piramida, oktagon, poligon dsb.?”
Setelah berpikir sebentar, dia cubit pinggang saya, “Papa ini memang brengsek, suka ngecoh saya, deh.” “Ya, ya, ya, sekarang saya ingat. Garis adalah sesuatu yang memiliki panjang tetapi tidak memiliki lebar maupun tinggi.”

Ms. Vhee. Apa sudah jelas, bahwa dari segi matematika jawaban anda salah? Tidak ada orang yang pernah melihat garis, titik, lingkaran atau bidang datar, kalau menurut konsep atau definisi matematika.
Kesimpulannya, dalam menjawab pertanyaan itu anda ceroboh (perhatikan, saya tidak mengatakan anda manusia ceroboh!). Padahal pertanyaannya sudah saya buat “mencurigakan” agar anda lebih hati-hati dengan menambahkan kalimat, “Kalau pernah di mana? Dan kalau tidak, mengapa?”
Kenapa anda tidak membuka kamus untuk memastikan apa yang dimaksud dengan garis? Setelah itu baru anda jawab. Bila anda menjawabnya berdasarkan kamus maka anda akan benar walaupun tidak sama dengan jawaban berdasarkan matematika itu. Minimal dapat nilai 50, bukan nol. Anda memberi keterangan tambahan (mungkin dengan harapan agar lebih impressive, hanya anda dan Tuhan yang tau), “..tdk hanya pernah tapi sering krn mmg setiap hari saya berkutat dibidang statistik yg diwakili dgn banyak garis untuk melihat tingkat kualitas suatu produk.” Ternyata keterangan tambahan itu malah membuat nilai anda semakin turun menjadi minus alias di bawah nol. Apa tidak aneh seseorang yang mengaku setiap hari berkutat di bidang statistik (cabang dari matematika), tetapi tidak tau atau lupa apa garis dalam matematika? Terkecuali, saya salah tangkap atas apa yang anda maksud dengan statistik, atau anda tidak tau apa statistik, atau yang anda kerjakan itu sebenarnya bukan statistik.
Ketika saya tanyakan jurusan anda di SMA, anda menjawabnya dengan tambahan yang tidak perlu lagi, “tp untuk kuliah, keknya ente gak nanya.” Dari pertanyaan itu seharusnya anda bisa tebak bahwa pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjawab cukup tingkat SMA. Bukankah anda mengajurkan agar membaca yang tersirat? Saya bisa menebak apa yang muncul di pikiran anda sehingga menambahkan kalimat itu, tapi saya tidak akan mau mengutarakannya di sini. Agar debat ini tidak melenceng dan juga tidak ada kesempatan bagi anda untuk mengolok-olok saya tidak bisa membaca “between the line” alias yang tersirat.
Saya ikuti saja anda, dan saya tanya lagi, “Terima kasih atas .... supaya lebih spesifik, apakah ada kuliah matematika atau statistika? Jawaban anda sungguh mencengangkan, “Maaf y, itu rahasia...” Lho, anda sendiri TS-nya, saya tanya justru karena anda minta, kok jawabnya begitu? Sebagai TS, anda minimal dinilai tidak etis menjawab seperti itu. Memang tidak ada yang punya hak untuk memaksa anda menjawab, tetapi kalau itu rahasia, dan anda masih ingin dihargai, anda wajib menjelaskan kenapa tergolong rahasia!
Saya kira dari uraian awal tanggapan saya di atas, yakni dialog saya dengan putri saya, sudah jelas bahwa saya menanyakan jurusan anda di SMA, karena jawabannya seharusnya bisa dijawab oleh anak SMA kelas XI saja. Tidak perlu saya tau apakah anda punya ijazah S-1, S-2, atau S-3 karena tidak relevan.
Dan kalau anda dari jurusan yang total tidak pernah belajar matematika, maka dapat saya fahami bila anda salah menjawabnya. Tidak perlu sehancur ini nilai (di bawah nol) jawaban anda.
Karena setiap pertanyaan saya anda bumbu-bumbui (yang saya duga didorong oleh prasangka, hanya anda dan Tuhan yang tau kepastiannya!), maka waktu anda, saya dan pembaca jadi terbuang sia-sia. Juga menyita ruangan situs ini untuk hal yang tidak berguna. Apakah tindakan seperti itu termasuk masih terpuji?
Saya tidak tau pasti apakah jurusan Sosial dan Bahasa sama dengan IPS. Karena putri saya juga belajar matematika, dan katanya belajar definisi garis ketika di kelas X. Tetapi itu tidak perlu lagi, karena anda sendiri sudah mengatakan setiap hari berkutat di bidang statistik.
Dalam KBBI memang kurang jelas definisi garis dalam matematika. Yang ada adalah, garis: mat deretan titik-titik yang saling berhubungan. Tetapi tidak saya temukan definisi titik secara matematik. Sedang dalam kamus the Lexicon Webster Dictionary (hal. 554), definisi garis dalam matematika ialah, “a continuous extent of length, straight or curved, without breadth or thickness.” Definisi ini sama dengan yang saya pelajari puluhan tahun lalu dan yang diingat oleh putri saya.
Saya tidak pernah sengaja berniat menyakiti hati anda atau siapa pun di forum ini, tetapi bila anda merasa saya sakiti, saya mohon maaf from the bottom of my heart. Secara pribadi kita belum saling kenal, dan apa yang tercermin dalam debat ini barulah secuil dari kepribadian kita masing-masing. Mungkin saja, sekiranya kita bertemu di dunia nyata, saya akan menyapa anda seperti ke putri saya, “how are you doing, honey?”.
Salam.


Sebenernya ente gi ngemeng efe...? Image

Ane bagi sedikit pengalaman waktu SMA. Tau kenafa ane gak memilih kelas SAINS dan Matematika ? Karena orang orang dari disiplin ilmu seperti itu sebagian besar lemah dalam hal komunikasi...Sbnrya ane gak mengeti pernyataan dan pertanyaan ente diatas dalam rangka afa dan afa hubungannya dgn msalah ini, tp ane anggap tanggapan ente diatas sbg bukti kelemahan ente dlm berkomunikasi dan satu reaksi untuk lari. So, sekali lg ane hrs kecewa krn blm mampu menemukan caviers yg mampu menggabungkan antara logika - hati - agama menjadi satu kesatuan.

Point kedua yg ane dapat dari ente bhwa caviers gila kuantitas tapi buta kualitas thdp setiap amalan. Oleh sebab itu mereka kalian bingung mnjwb pertannyaan ane :

"Peduli atau dengki ?"

Sehingga dengki dianggap peduli. Atau mmg sebenarnya caviers sdh menyadari bhwa kalian sbnrnya mendengki tp menggunakan topeng peduli untuk mengaburkan kebusukan hati.
User avatar
vhee
 
Posts: 1885
Joined: Thu May 20, 2010 2:52 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby angky » Mon Nov 08, 2010 1:53 pm

vhee wrote:Point kedua yg ane dapat dari ente bhwa caviers gila kuantitas tapi buta kualitas thdp setiap amalan.


hati hati ntar ada ustad yg getok kepalamu vhee :rolling: :rolling: :rolling:

vhee wrote:"Peduli atau dengki ?"

Sehingga dengki dianggap peduli. Atau mmg sebenarnya caviers sdh menyadari bhwa kalian sbnrnya mendengki tp menggunakan topeng peduli untuk mengaburkan kebusukan hati.


Yap bungkus vhee!!!! :partyman:
angky
 
Posts: 3354
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby doblank » Tue Nov 09, 2010 11:53 am

vhee wrote:"Peduli atau dengki ?"

Sehingga dengki dianggap peduli. Atau mmg sebenarnya caviers sdh menyadari bhwa kalian sbnrnya mendengki tp menggunakan topeng peduli untuk mengaburkan kebusukan hati.




Bom Bunuh Diri Meledak Saat Salat Jumat, 50 Orang Tewas di Pakistan
Anwar Khumaini - detikNews


ilustrasi (BBC)


Islamabad - Sebuah ledakan bom bunuh diri terjadi di sebuah masjid di Pakistan saat umat Islam sedang melaksanakan ibadah salat Jumat. Akibat insiden tersebut, 50 orang dilaporkan tewas sementara puluhan lainnya luka-luka.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (6/11/2010), bom bunuh diri kali ini disebut-sebut sebagai serangan yang paling mematikan dalam dua bulan terakhir yang diduga dilakukan oleh kelompok Islam garis keras.

Saat ini, puluhan orang kritis dirawat di rumah sakit. Pejabat setempat mengkhawatirkan jumlah korban tewas akan terus bertambah.

Insiden ini terjadi di sebuah masjid di Desa Akhurwal, di bagian barat wilayah yang didiami oleh suku Darra Adam Khel, 90 kilometer sebelah barat Ibukota Pakistan Islamabad.

Ambulans beserta para relawan bergegas untuk membawa korban ke rumah sakit di Peshawar beberapa saat setelah insiden ini terjadi.

Menurut pejabat setempat, Gul Jamal Khan, lebih dari 100 orang berada di dalam mesjid ketika bom meledak. "Atap bangunan utama roboh setelah ledakan itu. Beberapa orang terkubur di bawah puing-puing," katanya.
(anw/anw)
http://www.detiknews.com/read/2010/11/0 ... d991103605

apakah kejadian itu bentuk kepedulian dari sesama islam??
doblank
 
Posts: 675
Joined: Wed Jun 02, 2010 8:44 pm

Re: Kebencian Caviers Thdp Islam dan Muslim : Peduli atau Dengki

Postby rationalist » Wed Nov 10, 2010 1:14 am

vhee wrote:Sebenernya ente gi ngemeng efe...? Ane bagi sedikit pengalaman waktu SMA. Tau kenafa ane gak memilih kelas SAINS dan Matematika ? Karena orang orang dari disiplin ilmu seperti itu sebagian besar lemah dalam hal komunikasi...Sbnrya ane gak mengeti pernyataan dan pertanyaan ente diatas dalam rangka afa dan afa hubungannya dgn msalah ini, tp ane anggap tanggapan ente diatas sbg bukti kelemahan ente dlm berkomunikasi dan satu reaksi untuk lari. So, sekali lg ane hrs kecewa krn blm mampu menemukan caviers yg mampu menggabungkan antara logika - hati - agama menjadi satu kesatuan.Point kedua yg ane dapat dari ente bhwa caviers gila kuantitas tapi buta kualitas thdp setiap amalan. Oleh sebab itu mereka kalian bingung mnjwb pertannyaan ane :"Peduli atau dengki ?"Sehingga dengki dianggap peduli. Atau mmg sebenarnya caviers sdh menyadari bhwa kalian sbnrnya mendengki tp menggunakan topeng peduli untuk mengaburkan kebusukan hati.


Anda tidak tau saya ngomong apa? Apa anda bisa lulus ujian nasional bahasa Indonesia tingkat SMA karena nyontek? Apakah anda ini sebenarnya warga negara Indonesia atau bukan? Coba cari di KBBI apa ada kata “ane” dan “ente”. Mengaku pintar menggunakan bahasa “hati nurani”, tetapi sudah disentil agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, masih saja terus menggunakan kata “ane”, “ente” dan berbagai singkatan yang belum umum. Melihat kemampuan anda berbahasa Indonesia dalam debat ini, saya jadi tidak heran membaca berita di koran, bahwa dalam dua tahun terakhir penyebab utama kegagalan murid-murid SLA dalam ujian nasional sudah beralih dari matematika ke bahasa Indonesia.

Pernah saya baca di Harian Kompas, hasil penelitian terhadap mahasiswa setahun pertama IPB (kalau tidak salah, tulisan ahli matematika dan statistika Prof Dr Ir Andi Hakim Nasoetion), mengenai korelasi kemampuan berbahasa Indonesia dengan matematika. Korelasinya sangat tinggi, hampir mendekati 1.0. (Semoga anda yang mengaku setiap hari berkutat di bidang statistik, memahami apa arti korelasi dalam statistika). Saya akan minta diampuni oleh arwah semua guru saya bila banyak orang waras yang berpendapat bahwa yang lebih **** berbahasa Indonesia justru lebih pintar berkomunikasi. Sungguh beralasan bila kedua mata ajaran itu sejak Indonesia merdeka, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas selalu ada dalam ujian nasional.

Kembali anda membuat saya tercengang. Anda lebih suka memilih menjadi anggota kumpulan murid kelas dua (kelas non-eksakta) dibanding kumpulan murid kelas satu (eksakta). Dari dahulu hingga sekarang, murid-murid kelas eksakta di mata kebanyakan orang merupakan kumpulan murid yang lebih pandai dari murid-murid kelas non-eksakta. Mohon maaf bila ada yang merasa tersinggung. Saya tidak bermaksud menghina siapa pun, tetapi hanya mengutarakan fakta dari kehidupan sehari-hari.

Di jaman saya masih di SMP, ketika naik kelas dari kelas II ke kelas III, di rapor akan tertulis, “ naik ke kelas IIIA/B” bagi ranking tertinggi hingga menengah dan boleh memilih jurusan eksakta atau tidak. Sedang bagi yang ranking di bawahnya tertulis "naik ke kelas IIIA", yang biasanya malu menunjukkan rapornya. Hanya yang lulus dari kelas IIIB yang boleh memasuki semua jenis SLA, sedang yang lulusan kelas IIIA hanya boleh melanjutkan ke SLA tertentu saja, yang pada waktu itu dianggap sekolah kelas kambing. Hal yang sama juga berlaku bagi lulusan SMA. Lulusan jurusan eksakta diterima di semua jurusan perguruan tinggi, termasuk Akademi Kepolisian dan Akademi Militer. Sedang lulusan jurusan non-eksakta hanya bisa melanjutkan ke jurusan yang di mata umum kurang bergengsi.

Bagi saya, jalan pikiran anda juga aneh. Kalau anda memilih jurusan eksakta di SMA, tokh tidak ada halangan untuk kemudian melanjutkannya ke jurusan apa pun, termasuk non-eksakta di perguruan tinggi. Hanya orang **** yang mempersempit ruang geraknya atau mengurangi alternativ bagi dirinya.
Coba perhatikan sekeliling anda, yang membuat hidup anda jauh lebih nyaman dari hidup Muhammad, termasuk yang anda kenakan. Apakah ada benda-benda itu yang di-invent oleh otak non-eksakta? Mulai dari listrik, rumah, jembatan, jalan raya, pesawat terbang, lampu, mobil, radio, tv, komputer yang sedang anda pakai hingga ke kutang dan celana dalam anda yang mengandung serat sintetik.

“Sbnrya ane gak mengeti pernyataan dan pertanyaan ente diatas dalam rangka afa dan afa hubungannya dgn msalah ini, tp ane anggap tanggapan ente diatas sbg bukti kelemahan ente dlm berkomunikasi dan satu reaksi untuk lari.” Lho, anda menilai diri jago dalam berkomunikasi, bacalah kembali di mana dan dalam konteks apa saya tulis pertanyaan itu. Apakah anda sedang berlagak pilon atau masih muda tetapi sudah pikun alias pelupa, atau sebenarnya anda termasuk manusia yang berada di ujung kiri dari bell-shape curve kecerdasan manusia?

Atau memang begitu cara anda untuk menutupi rasa malu karena mendapat nilai di bawah nol? Anda tidak perlu berkecil-hati atau merasa malu. Saya yakin mayoritas tamatan SMA tidak akan mendapat nilai 100,0 dalam menjawab pertanyaan yang kelihatannya “sepele” itu. Tetapi, kemungkinan besar memang hanya sedikit yang bernilai minus, karena tidak banyak manusia congkak atau pongah seperti anda. Membusungkan dada setiap hari berkutat di bidang statistik tetapi tidak tau apa garis dalam matematika.

Setiap kata dan kalimat anda saya perhatikan dan cerna dengan saksama. Tetapi saya memang tidak mau merespons kata atau kalimat anda yang “bersayap”, samar-samar atau multi interpreted. Begitu seharusnya sikap yang baik dalam berkomunikasi dan sekaligus menghargai lawan debat. Coba hitung siapa yang lebih sering menghindar menjawab pertanyaan, apakah anda atau saya.

Caviers tidak mampu menggabungkan logika-hati-agama sebagai suatu kesatuan? Apa anda berani (cukup dengan sedikit saja kejujuran dan objektifitas) mengatakan bahwa anda lebih berhati mulia daripada semua orang yang mengaku atheis atau agnostik?

Saya tidak tau apakah anda menyadari bahwa yang disebut “kata hati” atau “from my heart” adalah kiasan semata. Hati (liver) atau jantung (heart) tidak bisa berpikir atau merasa. Semua syaraf berpusat di otak. Di hati atau jantung hanyalah ujung-ujung syaraf. Perasaan sakit, tersinggung, marah, jengkel, rasa, iman, kepercayaan, melihat, dan sebagainya berpusat dan diolah di otak. Jadi, lucu sekali dan tidak pantas disebut terpelajar kalau anda mengira pusat bahasa rasional/logika dan bahasa hati/nurani berada di dua kutub yang bejauhan.

Caviers gila kuantitas tapi buta kualitas terhadap amalan? Kesimpulan apa lagi ini? Jadi, anda mengakui bahwa caviers lebih bersikap ilmiah dari pada anda? Memang ciri dari orang yang berpikir secara ilmiah sedapat mungkin mengkuantifikasikan semua yang dihadapinya, termasuk ahli ilmu-ilmu sosial. Berpikir secara ilmiah dan matematis adalah dasar sikap objektif, dan merupakan salah satu tujuan utama pendidikan. Untuk apa anda sekolah tinggi-tinggi kalau tetap berpikir seperti “abang beca” yang hanya memakai perasaan?

Jumlah (kuantitatif) sumbangan dari luar negeri kepada korban gunung Merapi dan tsunami Mentawai, yang hampir semuanya dari caviers, bagi saya merupakan cerminan dari amalan. Apakah anda menilai itu topeng kepedulian? Apakah orang-orang Arab yang bergelimang petro-dollar, tetapi tidak muncul membantu, cukup berdoa secara tulus dalam bahasa Arab (bahasa yang satu-satunya dikuasai oleh Allah SWT?), akan tetap anda (yang pintar menggabungkan logika-hati-agama) katakan lebih beramal?

Saya yang bingung apa anda sendiri yang tidak tau apa dan lupa yang anda tuliskan, sehingga sering tidak menjawab pertanyaan, tidak punya rasa tanggung-jawab dan tidak memiliki etika dalam debat tertulis tetapi berani membuka thread?

Hak anda (dan itu saya hormati) berpendapat bahwa caviers selalu memakai topeng kepedulian. Melihat topeng yang lucu masih jauh lebih menyenangkan dan tidak menakutkan daripada melihat wajah yang memancarkan kebencian dan nafsu membunuh orang yang tidak dikenal dan hanya tidak seagama dengannya. Banyak budaya yang menggunakan topeng, seperti tari topeng kita. Di AS, sekali setahun ada malam yang sangat ditunggu anak-anak untuk memakai topeng karena akan mendapat banyak candy dan makanan kesukaan mereka lainnya, yakni Hallowen Night.

Salam.
Last edited by rationalist on Wed Nov 10, 2010 3:48 am, edited 1 time in total.
rationalist
 

Postby yvptgxj » Wed Nov 10, 2010 3:19 am

Hal.4

vhee wrote:membuka aib2 Islam


Kenapa om vhee tdk suka kalau aib islam terbuka?

Nih baca dulu!

Ada seorang mualaf palsu bernama Steven. Dia tersinggung karena orang2 kristen menuduh muhammad main garong dgn anak kecil. Dan ini diperkuat oleh Pentolan JIL.

Padahal gue juga pernah nunjukin ke om vhee tentang permainan ketangkasan berkomunikasi sang mullah utk membela halalnya nikah muhammad dgn anak cilik Aisyah (di thread punya om vhee).
yvptgxj
 
Posts: 1851
Joined: Fri Mar 06, 2009 8:58 pm

PreviousNext

Return to CARA BERPIKIR MUSLIM



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron