.

Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Mengungkapkan cara berpikir Muslim pada umumnya dan Muslim di FFIndonesia pada khususnya.

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby bagoong » Wed Mar 16, 2011 1:35 pm

@atas
pengetahuan lo tentang islam dangkal ya ?
gak malu lo ?
bagoong
 
Posts: 911
Joined: Tue Feb 15, 2011 4:33 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Wed Mar 16, 2011 3:41 pm

emang ilmu islam gw masih dangkal makanya gw ngaji ama ustad yang ilmunya luas...

Ga kaya lo...
sok2 pinter, sombong, blagu tapi ga tau apa2 soal islam... :butthead:
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby bagoong » Wed Mar 16, 2011 4:19 pm

@atas
duh ngambek kayak anak kecil cup cup cup... dah.. :goodman:

kapan bagoong :sok2 pinter, sombong, blagu tapi ga tau apa2 soal islam...
bagoong hanya menyatakan sebenarnya kok dibilang ini itu ?
yang belagu safa ?
bagoong memang ga tau apa2 soal islam, tapi bukan berarti bagoong gak tau bejadnya islam !
gak kayak lo sudah mengakui nabi lo tukang perkosa tawanan masih membutakan hati dengan mengakuinya sebagai nabi tukang perkosa ! think !
bagoong
 
Posts: 911
Joined: Tue Feb 15, 2011 4:33 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Wed Mar 16, 2011 4:37 pm

hahaha...

Contoh paling riil adalh pada kasus tawanan perang, ISLAM memberikan tuntunan paling baik dan membumi dalam kasus ini, dimana tawanan wamita di distribusikan kepada kaum muslim sebagai hamba sahaya yang boleh dinikahi sehingga TIDAK AKAN pernah terjadi pemerkosaan massal yang sangat keji. Setiap hamba yg menjadi hamil karenanya akan jelas nasab dari anak2nya...

Bandingkan dengan hukum bikinan manusia yg kedengarannya sangat mulia tapi TIDAK PERNAH bisa diaplikasikan... tawanan wanita dari tentara kafir selalu menjadi obyek seksual yang digunakan oleh siapa saja.... tidak akan ada yang bertanggung jawab, karena satu tawanan manjadi milik semua orang...

Ketika kita hidup diera modern ini, banyak alasan/penafsiran dibuat agar semuanya nampak sesuai dengan kondisi saat ini tanpa melihat sejarah dan kondisi masa lalu... padahal siapa berani menjamin bahwa sejarah tidak berulang?

Ketika alQuran pada saat ini "dituduh" melegalkan perbudakan kita sibuk mencari alasan yg sesuai kondisi saat ini, padahal betapa banyaknya ayat2 alQuran yang menyuruh memerdekakan budak....

Ketika terdapat contoh2 dari manusia2 yg dengan kekuasaanya dan kekayaannya memanfaatkan ayat2 perbudakan itu dimasa kini untuk memenuhi hawa nafsunya, jelas itu melanggar alQuran, karena ayat2 tersebut berlaku jika perbudakan beserta perangkat hukumnya masih eksis, namun jika ulil amri sudah menghapuskan perbudakan, maka tidak ada lagi seorang manusia boleh menjadi budak dari manusia lainnya....
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby bagoong » Wed Mar 16, 2011 5:12 pm

asl usil wrote:
Ketika alQuran pada saat ini "dituduh" melegalkan perbudakan kita sibuk mencari alasan yg sesuai kondisi saat ini, padahal betapa banyaknya ayat2 alQuran yang menyuruh memerdekakan budak....


bagoong:
ngarang bebas lo, apa gunanya dibebaskan jika pintu utama yang menghalalkan budak masih terpampang abadi di koran mu ?

[33:50] Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mu'min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu'min. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

asl usil wrote:
Ketika kita hidup diera modern ini, banyak alasan/penafsiran dibuat agar semuanya nampak sesuai dengan kondisi saat ini tanpa melihat sejarah dan kondisi masa lalu... padahal siapa berani menjamin bahwa sejarah tidak berulang?


bagoong:
dasar belegug, jadi lo mengharapkan perbudakan akan ada lagi gitu ?
gendeng lo ! agama sinting !!!

asl usil wrote:
Bandingkan dengan hukum bikinan manusia yg kedengarannya sangat mulia tapi TIDAK PERNAH bisa diaplikasikan... tawanan wanita dari tentara kafir selalu menjadi obyek seksual yang digunakan oleh siapa saja.... tidak akan ada yang bertanggung jawab, karena satu tawanan manjadi milik semua orang...


bagoong:
1. ngarang bebas lo, mana yang gak aplikatif dari hukum bikinan manusia ?
2. tapi kafir gak gendeng kayak lo yang menjadikan orang arab tukang perkosa sebagai nabi .think !


asl usil wrote:
Contoh paling riil adalh pada kasus tawanan perang, ISLAM memberikan tuntunan paling baik dan membumi dalam kasus ini, dimana tawanan wamita di distribusikan kepada kaum muslim sebagai hamba sahaya yang boleh dinikahi sehingga TIDAK AKAN pernah terjadi pemerkosaan massal yang sangat keji. Setiap hamba yg menjadi hamil karenanya akan jelas nasab dari anak2nya...

bagoong:
karangan lo kurang bagus untuk menutupi kebobrokan nabi lo yang ini :

Sahih Muslim Book 008, Number 3371:
Abu Sirma berkata kepada Abu Sa’id al Khadri: O Abu Sa’id, apakah kau mendengar Rasul Allah berkata tentang al-azl (coitus interruptus)? Dia berkata: Ya, dan menambahkan: Kami pergi bersama Rasul Allah dalam perjalanan ke Bi’l-Mustaliq dan mengambil tawanan2 wanita Arab yang cantik2; kami terangsang melihat mereka, karena kami jauh dari istri2 kami, (tapi pada saat yang sama) kami juga ingin menggunakan mereka sebagai sandera untuk ditebus (dengan uang). Karena itu kami mengambil keputusan untuk berhubungan seks dengan mereka tapi dengan melakukan azul (coitus interruptus) ….


asl usil wrote:
Ketika terdapat contoh2 dari manusia2 yg dengan kekuasaanya dan kekayaannya memanfaatkan ayat2 perbudakan itu dimasa kini untuk memenuhi hawa nafsunya, jelas itu melanggar alQuran, karena ayat2 tersebut berlaku jika perbudakan beserta perangkat hukumnya masih eksis, namun jika ulil amri sudah menghapuskan perbudakan, maka tidak ada lagi seorang manusia boleh menjadi budak dari manusia lainnya

bagoong:
katanya koran berlaku sepanjang zaman ?
sekarang sudah lo revisi yak ? ngikik.com
bagoong
 
Posts: 911
Joined: Tue Feb 15, 2011 4:33 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Thu Mar 17, 2011 11:57 am

Klo quote.. quote tulisan gw jangan diplintir2 pake tulisan lo...

Bisa aja lo... klo gw di ban dan tulisan gw musnah yang ada tulisan lo yang udah diplintir gitu ya...
Dasar tukang menyesatkan...!
Apalagi namanya tukan menyesatkan klo bukan :snakeman:


bagoong wrote: jadi lo mengharapkan perbudakan akan ada lagi gitu ?

bagoong wrote:katanya koran berlaku sepanjang zaman ?


Emang lo tau apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang....
Klo ada perang atau perbudakan lagi, Islam sudah punya perangkatnya.

Emangnya ada agama lain yang punya perangkatnya. paling2 klo dihadapkan situasi sama ujung2nya budak diperlakukan seperti binatang.

bagoong wrote:Ketika terdapat contoh2 dari manusia2 yg dengan kekuasaanya dan kekayaannya memanfaatkan ayat2 perbudakan itu dimasa kini untuk memenuhi hawa nafsunya, jelas itu melanggar alQuran, karena ayat2 tersebut berlaku jika perbudakan beserta perangkat hukumnya masih eksis, namun jika ulil amri (pemimpin) sudah menghapuskan perbudakan, maka tidak ada lagi seorang manusia boleh menjadi budak dari manusia lainnya
Last edited by asal usil on Wed Mar 23, 2011 2:38 pm, edited 1 time in total.
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby bagoong » Thu Mar 17, 2011 3:00 pm

asl usil wrote:
Klo quote.. quote tulisan gw jangan diplintir2 pake tulisan lo...

Bisa aja lo... klo gw di ban dan tulisan gw musnah yang ada tulisan lo yang udah diplintir gitu ya...
Dasar tukang menyesatkan...!
Apalagi namanya tukan menyesatkan klo bukan

bagoong:
dasar tukang fitnah lo, tunjukan mana tulisan bagoong yang memelintir tulisan lo ?
jawaban bagoong diatas hanya urutannya bagoong atur ulang supaya runut.


azl uzil wrote:
Emang lo tau apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang....
Klo ada perang atau perbudakan lagi, Islam sudah punya perangkatnya.

bagoong:
itulah yang diajarkan islam, kembali ke-jaman arab jahiliyah.
dasar agama sinting ! apa yang bisa dibanggakan agama yang mengajarkan perbudakan ? think !


azl uzil wrote:
Emangnya ada agama yang punya perangkatnya. paling2 klo dihadapkan situasi sama ujung2nya budak diperlakukan seperti binatang.


bagoong:
lah artinya lo mengakui islam mengajarkan perlakuan terhadap budak seperti binatang.
ajaran sinting, ajaran gak ada golden rule masih aja dianuti ? dasar belegug lo !
bagoong
 
Posts: 911
Joined: Tue Feb 15, 2011 4:33 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Fri Mar 18, 2011 6:20 pm

ente baca dulu salah satu kisah nyata kehidupan budak jaman rasul, beda banget ama film2 telenovela Isabela waktu gw kecil yang cuma disuruh kerja diperkebunan terus pulang kamp penampungan terus kerja lagi... begitu seterusnya. Kalau keluar tanpa seijin majikan bisa2 ditangkap dan dihukum cambuk...

bahkan kedua budak tersebut disebut sebagai sahabat nabi.

Simak ceritanya goong....


Romantika Cinta Sahabat Nabi: Kebencian Barirah dan Cinta Mughits

"Barirah adalah maula (mantan budak) ‘Aisyah radliyallah ‘anha. Sebelumnya ia adalah budak milik seorang Anshar dari kabilah bani Hilal. Ia terkadang membantu ‘Aisyah dengan upah sebelum dibeli oleh ‘Aisyah dan dibebaskan.

Barirah seorang wanita yang pandai, perawi hadits dan faqihah serta memiliki firasat yang tajam dan tepat. Ia hidup sampai masa kepemimpinan Mu’awiyah radliyallah ‘anhu.

Diriwayatkan dari Abdul Malik bin Marwan (seorang raja dari bani Umayyah), ia berkata: “Aku pernah datang kepada Barirah di Madinah, lalu ia berkata kepadaku: “wahai Abdul Malik, aku melihat pada dirimu ada beberapa sifat yang baik, sesungguhnya engkau layak menerima perkara ini (menjadi pemimpin), jika kamu telah menjadi pemimpin, waspadalah terhadap urusan darah, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْفَع عَنْ بابِ الْجَنَّةِ بَعْدَ أن يُظْهَرَ إليه بِمِلْئِ مَحْجَمَةٍ مِنْ دَمٍ يُرِيْقُهُ مِنْ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Sesungguhnya seorang laki-laki akan dijauhkan dari pintu surga setelah dinampakkan kepadanya satu mangkuk bekam berisi darah seorang muslim yang telah dia alirkan (membunuhnya) tanpa hak (jalan yang benar).“

Siapakah Mughits?

Mughits adalah suami Barirah. Dia seorang budak hitam, maula Abu Ahmad bin Jahsy Al-Asadi. Istrinya meminta pisah darinya sesudah dimerdekakan oleh ‘Aisyah. Ketika itu, Mughits masih berstatus sebagai budak (berdasarkan pendapat yang lebih tepat).

Disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhari dari jalan Khalid Al-Hadda’, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas; bahwasanya suami Barirah adalah seorang budak, bernama Mughits, saya melihatnya berjalan dibelakangnya sambil menangis, sampai-sampai air matanya mengalir ke jenggotnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا عَبَّاس ! أَلا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيْرَةً وَمِنْ بُغْضِ بَرِيْرَةٍ مُغِيْثاً

“Wahai Abbas, tidakkah engkau merasa heran dengan cintanya Mughits terhadap Barirah dan bencinya Barirah terhadap Mughits.” (Insya Allah akan dipaparkan pada kisah di bawah nanti).

Kisah Perkawinan Barirah dengan Mughits

Abu Ahmad bin Jahsy, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tuan dari Mughits, sangat menyayangi dan kagum terhadap budaknya itu. Ia seorang budak yang amanat, jujur, dan bersemangat dalam berkhidmat terhadap tuannya sehingga ia berhasil mempersembahkan banyak manfaat untuk tuannya. Oleh karena itu, ketika tuannya menyerunya untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, segera saja ia menyambutnya. Sebagai balasannya, ketika Mughits meminta sesuatu kepada tuannya, dengan suka rela tuannya pun mengabulkan permintaannya.

Pada suatu hari, Mughits meminta kepada tuannya untuk menikahkannya. Dan tuannya-pun menyanggupinya, tapi nanti setelah mereka tiba di Yasrib untuk hijrah.

Abu Ahmad dan Mughits keluar dari Makkah menuju Madinah. Di tengah perjalanan, Abu Ahmad menyenandungkan syair yang memuji istrinya, hal ini membuat hati Mughits semakin menggebu-gebu untuk menikah. Oleh karena, di tengah-tengah perjalanan yang masih sangat jauh dari Madinah, Mughits senantiasa mengulang-ulang permintaannya kepada tuannya.

Setelah mereka tiba di Yatsrib dan telah mendapatkan tempat, Mughits mengulangi lagi permintaannya kepada tuannya untuk segera dinikahkan. Maka Abu Ahmad menyuruhnya untuk mencari calon istri dari budak wanita yang ada di Yatsrib.

Mulailah Mughits berkeliling di perkampung Madinah. Pada akhirnya, hatinya terpaut dengan seorang budak wanita yang cantik di salah satu rumah kaum Anshar. Ia bernama Barirah. Maka ia bersegera pulang menemui tuannya dan mengabarkan berita gembira ini.

Abu Ahmad pun bersegera pergi ke tempat kaum Anshar tadi, dan menyatakan keinginannya. Merekapun menyambutnya dengan baik. Tapi Barirah tidak menyukai laki-laki ini. Ia memberitahu pada tuannya bahwa ia tidak menyukainya, lalu ia masuk ke dalam sambil menangis. Maka tuannya menyampaikan kepada Abu Ahmad bahwa ia telah ridla dengan ini, tapi Barirah tidak menghendakinya. Maka ia meminta waktu beberapa hari untuk melunakkan hati Barirah.

Mughits sangat sedih dengan tanggapan Barirah. Maka ia meminta tuannya untuk terus mendesak keluarga Barirah agar hatinya luluh. Ia menyampaikan kepada tuannya bahwa ia telah jatuh cinta kepada Barirah dan tidak mau menikah dengan selainnya.

Abu Ahmad merespon permintaan Mughits, dan ia pun berkali-kali datang ke keluarga Barirah untuk meminta budaknya. Pada akhirnya, ia berhasil, hati Barirah-pun luluh.

Kisah Kehidupan Keluarga Barirah Bersama Mughits.

Pada awalnya Barirah tidak mau menikah dengan Mughits, tapi karena desakan yang terus menerus dari tuannya, akhirnya ia pun menyatakan keridlaannya, menerima lamaran Mughits, secara dzahirnya saja. Lalu pernikahan pun dilangsungkan.

Mughits amat merasa bahagia dengan pernikahannya ini. Dia berhasil menyunting gadis cantik pujaannya. Tapi, berbeda dengan Barirah. Ia merasa telah menipu dirinya, ia menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak ia cintai, sampai-sampai ia berujar:

وَاللهِ مَا أَرَدْتُهُ وَلاَ رَغِبْتُهُ ، وَلَكِنْ مَا حِيْلَتِي وَالْقَدَرُ غَالِبٌ

“Demi Allah, aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.“

Kesedihan Barirah sangat luar biasa, tetapi Allah telah mempersiapkan satu hal untuk meringankan beban kesedihannya, yaitu dengan dibukanya pintu salah satu rumah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Aisyah radliyallah ‘anha. Barirah sering datang ke sana untuk membantu pekerjaan Ummul mukminin.

Barirah sangat menyukai ‘Aisyah radliyallah ‘anha, beliau menyambutnya dengan ramah dan memperlakukannya dengan baik. Pada akhirnya Barirah mau mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada bunda ‘Aisyah tentang perasaannya terhadap suaminya, Mughits. Ia berkata:

وَاللهِ لَقَدْ أَكْرَهَنِي أَهْلِي عَلَى الزَّوَاجِ مِنْهُ وَمَا أَجِدُ لَهُ فِي قَلْبِي مَيْلاً وَمَا أَدْرِي مَاذَا أَصْنَعُ

“Demi Allah, aku dipaksa oleh keluargaku untuk menikah dengannya. Dalam hatiku tidak ada kecondongan (kecintaan) kepadanya, dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.“

Tetapi Bunda ‘Aisyah memintanya untuk tetap bersabar dan ridla dengan takdirnya. Beliau menasihatkan:

يَا بَرِيْرَة ! اِتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي عَلَى زَوْجِكِ فَإِنَّهُ رَجُلٌ صَالِحٌ وَعَسَى اللهُ أَنْ يُذْهِبَ هَمَّكِ وَأَنْ يَرْزُقَكِ مَحَبَّةَ زَوْجِكِ

“Wahai Barirah! Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah dengan suamimu, sungguh ia adalah laki-laki shalih dan semoga Allah menghilangkan kegundahanmu dan menganugerahkan kecintaan kepada suamimu.“

Berulang-ulang kali Barirah mengadu kepada bunda ‘Aisyah dan berulang-ulang kali pula beliau menasihatkan supaya tetap bersabar dengan suaminya, berusaha terus untuk mencintainya dan ridla dengan bagian yang Allah tetapkan padanya. Barirah-pun berusaha melaksanakan nasihat bunda ‘Aisyah, dan berusaha membuka hatinya untuk suaminya.

Setelah waktu berlalu cukup lama, ia terus mencobanya, tapi ia tetap tidak bisa, bahkan bertambahnya hari hanya menambah rasa benci kepada suaminya.

Barirah mengadu lagi kepada bunda ‘Aisyah tentang suaminya, ia berkata: “Demi Allah wahai Ummul mukminin, sungguh hatiku ini sangat membenci Mughits, aku sudah berusaha mencintainya dan aku tetap tidak bisa. Aku tidak tahu apa yang bisa ku lakukan dalam hidup bersamanya.”

‘Aisyah pun menasihatinya: “Bersabarlah wahai Barirah, semoga Allah memberikan jalan keluar dari masalahmu ini.”

“Demi Allah, aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.” senandung Barirah

Bagaimana dengan Keadaan Mughits

Mughits amat merasa sedih dengan sikap istrinya, ia telah mencurahkan segala cintaannya kepada istrinya tapi ia membalasnya dengan kebencian yang besar. Dia meminta tolong kepada tuannya, Abu Ahmad, untuk menasihati istrinya supaya bersikap lembut kepadanya, tapi tidak juga membawa perubahan. Dia juga meminta bantuan pada keluarga Barirah, tapi mereka kurang meresponnya.

Pada suatu hari istri Abu Ahmad melihat Mughits sedang bersedih, lalu ia berusaha menghiburnya. Ia berkata: “Kenapa kamu ini wahai Mughits! Sepertinya kamu terlalu memikirkan Barirah, wanita selain dia kan banyak!!”

Mughits menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai tuanku, aku tidak bisa membencinya dan tidak bisa mencintai wanita selainnya.”

Tuannya berkata: “Kalau begitu bersabarlah, sampai ia melahirkan anakmu, semoga setelah itu hatinya mulai berubah dan bisa mencintaimu.”

Mughits amat bahagia mendengarnya dan mulailah ia berhayal.

“Tidak, demi Allah, wahai tuanku, aku tidak bisa membencinya dan tidak bisa mencintai wanita selainnya.” Kata Mughits kepada tuannya

Sebaliknya dengan Barirah, bertambahnya hari dan bergantinya siang dan malam, hanyalah menambah rasa benci terhadap suaminya, bahkan hal ini bertambah setelah ia melahirkan. Ia berangan-angan tidak pernah melahirkan seorang anak-pun dari Mughits.

Ummul Mukminin, ‘Aisyah radliyallah ‘anha mengunjunginya ketika ia masih dalam keadaan nifas. Beliau mengucapkan selamat dan mendoakan atas kelahiran anaknya. Tapi, Barirah malah menangis tersedu-sedu di hadapannya, sampai-sampai ‘Aisyah-pun menjadi sangat kasihan padanya. Beliau berkata: “Wahai Barirah, mungkinkah engkau untuk membeli dirimu, jika engkau lakukan hal ini maka masalahmu akan bisa teratasi dan engkau berhak atas dirimu sendiri, dan jika engkau mau, engkau bisa berpisah dari suamimu.”

Barirah berkata: “Aku telah mencoba berkali-kali memohon mereka untuk memerdekakanku, tapi mereka tidak menerimanya, seolah-olah tidak ada budak selainku yang bisa membantu mereka. Tetapi aku akan tetap bersabar sehingga Allah menghilangkan rasa sedih dan gundahku.”

Setelah berlalu beberapa tahun, datanglah hari yang ditunggu-tunggu, keluarga Barirah menyatakan mau memerdekakannya jika ia siap membayar sejumlah harta selama sembilan tahun.

Barirah amat sangat senang mendengar berita ini, lalu bersegeralah ia menuju ke rumah bunda ‘Aisyah mengabarkan bahwa keluarganya menawarkan mukatabah dengan sembilan awaq dalam waktu sembilan tahun. Setiap tahunnya satu ‘uqiyah (12 dirham), maka ia meminta bantuan kepada ‘Aisyah untuk membelinya. Ia berkata kepadanya: “Ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu wahai Ummul Mukminin, hilangkanlah kesusahanku maka Allah akan menghilangkan kesusahan Anda.”

Lalu ‘Aisyah tertawa dan berkata: “Bergembiralah wahai Barirah, demi Allah beberapa hari ini aku ingin bertaqarrub kepada Allah dengan memerdekakan budak, dan tiada yang lebih aku senangi kecuali memerdekakanmu dan menghilangkan duka citamu. Kemarilah wahai Barirah, ambilah harta ini, timbanglah dan berikan sembilan awaq kepada tuanmu, lalu bayarlah sekaligus dan dirimu menjadi milikmu.”

Datanglah Barirah menemui tuannya untuk membayar pembebasannya. Tuannya bersedia menerima tapi dengan sebuah syarat, agar hak wala’ (perwalian) ada padanya. Lalu berita ini di dengar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda kepada ‘Aisyah untuk membeli dan membebaskannya, karena wala’ bagi orang yang memerdekakan. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui orang-orang dan berkhutbah: “kenapa ada laki-laki di antara kalian yang membuat syarat yang tidak terdapat di dalam Kitabullah? Setiap syarat yang tidak terdapat dalam Kitabullah adalah batil, walaupun sebanyak seratus syarat. Dan syarat Allah lebih berhak dipenuhi dan lebih kuat.”

Barirah membawa uang itu kepada tuannya dan menyerahkannya sekaligus, lalu ia kembali kepada Sayyidah ‘Aisyah, berterima kasih dan memujinya. Ia berkata kepada nya:

اَلْحَمْدُ للهِ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، لَقَدْ فَرَّجَ عَنِّي هَمِّي وَكَشَفَ غَمِّي، وَلَقَدْ وَجَدْتُ الصَّبْرَ شَيْئًا عَظِيْمًا

“Al-Hamdulillah, wahai Ummul Mukminin, Allah telah menghilangkan duka citaku dan menyingkapkan kegundahanku, dan aku telah mendapatkan sesuatu yang besar dengan kesabaran.“

Barirah juga menyampaikan kepadanya bahwa ia akan segera meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memisahkan dia dari Mughits.

Pada sore harinya, ia datang ke kamar Aisyah dan meminta izin bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia pun diizinkan. Lalu ia mengucapkan salam dan menyampaikan maksudnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Wahai Rasulullah, aku memohon, kiranya baginda sudi menceraikanku dari suamiku Mughits, aku sekarang telah merdeka sedangkan dia masih sebagai budak, aku sudah tidak kuat lagi hidup bersamanya. Tanyalah pada Ummu Abdillah, ‘Aisyah. Pasti beliau akan memberitahukan bagaimana nasib hidupanku bersamanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum akan ucapan Barirah dan mengabulkan permintaannya. Lalu beliau mengutus seseorang untuk menyampaikan kabar berita ini kepada Mughits.

Ketika mendengar berita ini, Mughits langsung pingsan, ia dirundung kesedihan yang sangat luar biasa. Bumi yang luas ini terasa sempit dan seolah-olah nyawanya sudah pergi meninggalkan jasadnya.

Ketika mendengar berita ini, Mughits langsung pingsan, ia dirundung kesedihan yang sangat luar biasa. Bumi yang luas ini terasa sempit dan seolah-olah nyawanya sudah pergi meninggalkan jasadnya.

Setelah mendapat berita tadi, Mughits selalu mengikuti Barirah, berlari-lari di belakangnya, sepanjang perjalanannya di lorong-lorong kota Madinah. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia merayunya dengan kata-kata terindahnya, berbicara kepadanya dengan ucapan terhalusnya, tapi Barirah tidak sedikitpun terpengaruh.

Mughits meminta bantuan kepada siapa saja yang dikenalnya untuk berbicara kepada Barirah, tapi tidak juga membuahkan hasil.

Pada hari berikutnya, Mughits mengiba kepada Barirah dengan selalu berjalan dan mengikuti di belakangnya memasuki pasar kota Madinah sambil menangis sampai-sampai air matanya membasahi janggutnya, tapi hal itu juga tidak membuat luluh hati Barirah.

Mughits mengiba kepada Barirah agar mau kembali kepadanya, sampai-sampai dia berjalan di belakangnya di sepanjang jalan Madinah dengan menangis hingga janggutnya basah oleh air matanya

Pemandangan ini membuat hati setiap orang yang menyaksikannya menjadi terenyuh, kasihan dan merasa sedih, di antaranya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika itu beliau bersama pamannya Abbas, berada di pasar Madinah. Lalu beliau berkata kepadanya:

يَا عَبَّاس ! أَلا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيْرَةً وَمِنْ بُغْضِ بَرِيْرَةٍ مُغِيْثاً

“Hai Abbas, tidakkah engkau heran dengan cintanya Mughits kepada Barirah dan bencinya Barirah terhadap Mughits.“

Abbas pun menjawab; “betul, Demi Dzat yang mengutusmu, sungguh urusan mereka sangat aneh.”

Ketika Mughits melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia pun mendatangi beliau fsn meminta pertolongannya untuk menyampaikan kepada Barirah agar mau kembali kepadanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sedih melihat kondisi Mughits. Lalu beliau memanggil Barirah dan bersabda kepadanya: “Wahai Barirah, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya ia adalah bapak dari anakmu, kalau seandainya kamu mau, ruju’lah kepadanya.”

Barirah-pun memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan diliputi kesedihan, dan berkata: “Wahai Rasulullah, baginda memerintahkanku?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “tidak,….. sesungguhnya aku hanyalah syafi’ (sebagai perantara saja).”

Barirah pun menjawab: “Kalau begitu aku tidak merasa butuh kepadanya, aku tidak bisa hidup bersamanya, aku memilih sendiri.”

*** *** *** ***

Inilah kisah kehidupan Barirah dengan suaminya. Suaminya sangat mencintainya, tapi Barirah sangat membencinya. Ia mampu bersabar bersamanya dalam kurun waktu yang cukup lama dengan berangan-angan ingin berpisah dari suaminya.

Pada akhirnya, datanglah hari yang ia tunggu-tunggu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisahkan keduanya. Ia merasa seolah-olah telah keluar dari Neraka. Tetapi, sebuah kalimat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hampir saja menghapus seluruh harapan yang sudah lama ia nantikan, ia harus mengesampingkan seluruh perasaan bencinya terhadap suaminya dan akan kembali ke pangkuannya dengan penuh keridlaan dan kerelaan, karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Inilah sosok seorang mukminah sejati, yang selalu mendahulukan firman Allah dan sabda Rasulnya daripada keinginan dirinya. Allah berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)"

Oleh : Badrul Tamam
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby bagoong » Fri Mar 18, 2011 6:28 pm

@atas

andaikan cerita itu benar (bagoong belum baca)
toh itu tidak merubah ayat-ayat koran mu yang menghalalkan kemaluan lo kepada budak . think !
bagoong
 
Posts: 911
Joined: Tue Feb 15, 2011 4:33 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby iluvboy.blogspot » Fri Mar 18, 2011 8:23 pm

Logika muslim tu gini: misalnya lu sehari hari minum tuak, lalu pada suatu hari lu minum susu, bagi muslim itu artinya lu adalah seorang peminum susu, muslim ga kepikiran kl lu pemabuk, muslim....gitu dech :lol:
iluvboy.blogspot
 
Posts: 951
Joined: Wed Oct 21, 2009 6:18 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Mon Mar 21, 2011 11:41 am

Image
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Mon Mar 21, 2011 2:50 pm

ya ampun om yesua..

masa anak kecil suruh minum anggur ck.ck.ck

merknya apa om...
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Dudekh » Tue Mar 22, 2011 9:49 am

@usil
apai sih point yg mau kamu sampaikan dari cerita diatas?
User avatar
Dudekh
 
Posts: 1022
Joined: Wed Jul 21, 2010 2:48 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Wed Mar 23, 2011 7:48 am

Dudekh wrote:apai sih point yg mau kamu sampaikan dari cerita diatas?


menurut anda apa...?
saya cuma menampilkan cuplikan sejarah kehidupan budak ketika rasullullah ada.
kenapa...?

karena......

bagoong wrote:
azl uzil wrote:
Emangnya ada agama yang punya perangkatnya. paling2 klo dihadapkan situasi sama ujung2nya budak diperlakukan seperti binatang.


bagoong:
lah artinya lo mengakui islam mengajarkan perlakuan terhadap budak seperti binatang.
ajaran sinting, ajaran gak ada golden rule masih aja dianuti ? dasar belegug lo !
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Dudekh » Wed Mar 23, 2011 8:25 am

asal usil wrote:menurut anda apa...?
saya cuma menampilkan cuplikan sejarah kehidupan budak ketika rasullullah ada.
kenapa...?

oh...itu. i see....i see....
cuma saya ada menangkap kontradiksi antara :
asal usil wrote:Barirah-pun memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan diliputi kesedihan, dan berkata: “Wahai Rasulullah, baginda memerintahkanku?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “tidak,….. sesungguhnya aku hanyalah syafi’ (sebagai perantara saja).”

Barirah pun menjawab: “Kalau begitu aku tidak merasa butuh kepadanya, aku tidak bisa hidup bersamanya, aku memilih sendiri.”

dengan
asal usil wrote:“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)"

menurut asbabunnya mana lebih dulu, cerita diatas atau ayat qurannya?

sepertinya benar juga kata si iluv
iluvboy.blogspot wrote:Logika muslim tu gini: misalnya lu sehari hari minum tuak, lalu pada suatu hari lu minum susu, bagi muslim itu artinya lu adalah seorang peminum susu, muslim ga kepikiran kl lu pemabuk, muslim....gitu dech :lol:
User avatar
Dudekh
 
Posts: 1022
Joined: Wed Jul 21, 2010 2:48 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Wed Mar 23, 2011 2:36 pm

asal usil wrote:Inilah kisah kehidupan Barirah dengan suaminya. Suaminya sangat mencintainya, tapi Barirah sangat membencinya. Ia mampu bersabar bersamanya dalam kurun waktu yang cukup lama dengan berangan-angan ingin berpisah dari suaminya.

Pada akhirnya, datanglah hari yang ia tunggu-tunggu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisahkan keduanya. Ia merasa seolah-olah telah keluar dari Neraka. Tetapi, sebuah kalimat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hampir saja menghapus seluruh harapan yang sudah lama ia nantikan, ia harus mengesampingkan seluruh perasaan bencinya terhadap suaminya dan akan kembali ke pangkuannya dengan penuh keridlaan dan kerelaan, karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Inilah sosok seorang mukminah sejati, yang selalu mendahulukan firman Allah dan sabda Rasulnya daripada keinginan dirinya. Allah berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)"

Oleh : Badrul Tamam


Ini kesimpulannya si badrul Tamam asbabun nuzul ayat diatas tidak ada hubungannya dengan kisah barirah dan mughits. #-o


Barirah sedih karena ia menyangka rasul memerintahkan ia rujuk dengan mughits. sebagai muslimah yang baik ia harus mematuhi perintah rasullullah walaupun hatinya berat untuk melakukan itu.
Tapi ketika ia tahu itu hanya berupa saran sja dari Rasullullah dan bukan merupakan perintah maka ia memilih kata hatinya.
begitu mas bro...
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Dudekh » Wed Mar 23, 2011 3:15 pm

asal usil wrote:Ini kesimpulannya si badrul Tamam asbabun nuzul ayat diatas tidak ada hubungannya dengan kisah barirah dan mughits. #-o


Barirah sedih karena ia menyangka rasul memerintahkan ia rujuk dengan mughits. sebagai muslimah yang baik ia harus mematuhi perintah rasullullah walaupun hatinya berat untuk melakukan itu.
Tapi ketika ia tahu itu hanya berupa saran sja dari Rasullullah dan bukan merupakan perintah maka ia memilih kata hatinya.
begitu mas bro...

Bagaimana sih ente sil.
ente yg bawa kisahnya tapi kayaknya ente tidak menyimak betul kisahnya.
dalam kisah itu si tamam menyimpulkan bahwa barirah kembali ke suaminya
terlihat dari kalimat si tamam berikut
asal usil wrote:Inilah sosok seorang mukminah sejati, yang selalu mendahulukan firman Allah dan sabda Rasulnya daripada keinginan dirinya.

makanya ane tanya asbabun nya ayat quran diatas.
jangan2 karena kisah si barirah ini sehingga turun ayat tsb.

Dan lagi dalam kisah tsb muhammad bukan memberikan saran, tapi sebagai perantara dari yg memberi perintah.
Nah, perintah siapakah yg disampaikan oleh si muhammad?
apakah perintah dari si pemberi perintah ini dapat ditolak?
User avatar
Dudekh
 
Posts: 1022
Joined: Wed Jul 21, 2010 2:48 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Fri Mar 25, 2011 9:39 am

yeee... gimana sih dekh masih ga ngerti juga...

asal usil wrote:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sedih melihat kondisi Mughits. Lalu beliau memanggil Barirah dan bersabda kepadanya: “Wahai Barirah, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya ia adalah bapak dari anakmu, kalau seandainya kamu mau, ruju’lah kepadanya.”

Barirah-pun memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan diliputi kesedihan, dan berkata: “Wahai Rasulullah, baginda memerintahkanku?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “tidak,….. sesungguhnya aku hanyalah syafi’ (sebagai perantara saja).”

Barirah pun menjawab: “Kalau begitu aku tidak merasa butuh kepadanya, aku tidak bisa hidup bersamanya, aku memilih sendiri.”


maksudnya tamam barirah akan menuruti perintah rasullullah biarpun berat, ternyata kan bukan perintah hanya saran.
Barirah tetap sendiri.
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Salahudin Al-Ayubi » Fri Mar 25, 2011 3:27 pm

:supz: NICE ANSWER MY BROTHER
User avatar
Salahudin Al-Ayubi
 
Posts: 161
Joined: Fri Mar 18, 2011 8:35 pm
Location: Double cross Yesus ways

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Dudekh » Fri Mar 25, 2011 6:12 pm

asal usil wrote:maksudnya tamam barirah akan menuruti perintah rasullullah biarpun berat, ternyata kan bukan perintah hanya saran.
Barirah tetap sendiri.

ye...gimana sih lu sil. kan udah gw bilang
Dudekh wrote:Dan lagi dalam kisah tsb muhammad bukan memberikan saran, tapi sebagai perantara dari yg memberi perintah.
Nah, perintah siapakah yg disampaikan oleh si muhammad?
apakah perintah dari si pemberi perintah ini dapat ditolak?

nih buktinya
asal usil wrote:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “tidak,….. sesungguhnya aku hanyalah syafi’ (sebagai perantara saja).”

jadi muhammad perantaranya siapa?
User avatar
Dudekh
 
Posts: 1022
Joined: Wed Jul 21, 2010 2:48 pm

PreviousNext

Return to CARA BERPIKIR MUSLIM



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron