.

Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Mengungkapkan cara berpikir Muslim pada umumnya dan Muslim di FFIndonesia pada khususnya.

Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Adadeh » Tue Oct 26, 2010 4:01 am

Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab
oleh David Bukay

Disarikan dari buku: Arab-Islamic Political Culture: A Key Source to Understanding Arab Politics and the Arab-Israeli Conflict (Budaya Politik Islam Arab: Kunci untuk Mengerti Politik Arab dan Konflik Arab - Israel), Publikasi oleh ACPR, 2003.

Masyarakat Arab merupakan suku nomadik (pengembara), yang sangat setia pada suku sendiri dan terkenal suka berperang di padang pasir. Sebagian besar nilai² budaya mereka dibentuk sejak jaman jahiliyah, sebelum jaman Islam. Nilai² penting perilaku dan cara pandang bangsa Arab merupakan panutan sejak jaman sebelum Islam (→ jaman jahiliyah). Di jaman jahiliyah, “Bangsa Arab tidak mengenal Allah dan RasulNya dan aturan² ibadah Islam.”

Karena itu, jaman pra-Islam disebut Muslim sebagai “jaman sesat.” Tapi budayawan Hungaria Ignác Goldziher menyebut bahwa jaman jahiliyah sebenarnya adalah semua jaman yang liar, penuh fanatisme suku, dan penyembahan berhala. (Adadeh: ini berarti Islam pun termasuk ke dalam kategori jaman jahiliyah, karena perilaku Muslim ternyata serupa dengan perilaku masyarakat Jahiliyah.) Setiap suku membentuk badan budaya sosial tersendiri. Suku² berperang memperebutkan sumber nafkah. Pertikaian politik terutama terjadi karena sedikitnya sumber nafkah yang ada untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Masyarakat ini seperti yang disebut Tuhan tentang Ishmael, “Tangannya akan memerangi semua orang.” Kepala suku disebut sebagai sayid, yang dipilih oleh para anggota senior masyarakat, dan mendapat kedudukan tertinggi. Struktur sosial termasuk marga dan keluarga² jauh. Para suku mengakui adanya daerah haram, di mana semua pihak menganggap daerah itu sebagai daerah suci. Di tempat/daerah inilah diadakan berbagai perjanjian dan persetujuan antar suku. Di situlah orang² Arab berkumpul untuk mengadakan negosiasi. Peraturan ditetapkan untuk menyelesaikan sengketa dengan penengahan. Aturan seperti ini dikenal sebagai wustah atau wasat/wasit.

Meskipun cenderung suka mengembara, kota bagi bangsa Arab merupakan pusat perubahan dan kegiatan politik. Mekah merupakan kota pusat perdagangan dan ibadah haji, karena letaknya yang berada di jalur perjalanan kafilah² dagang. Agama merupakan kepentingan sekunder bagi masyarakat jahiliyah. Kebiasaan² agama dibentuk dari tradisi bangsa dan rasa hormat pada kakek moyang. Tapi agama mereka cenderung sarat hal² yang takhayul, penuh iman buta, terutama pada masalah takdir dan nasib. Nilai² sekuler juga berperan penting, dan ini tampak pada konsep tentang keperkasaan/kegagahan (muruwwah), yang merupakan kepribadian yang didambakan oleh orang Baduy. Hal terpenting bagi masyarakat Arab adalah menjaga keutuhan solidaritas suku (`asabiyyah). Suku bangsa merupakan asas/dasar keberadaan setiap orang dan kelompok masyarakat.

Bagi masyarakat Arab-Islam, kehormatan merupakan hal yang sangat penting. Kehormatan pria disebut sebagai sharaf. Sharaf bersifat fleksibel, dinamis, dan bisa berubah sesuai dengan perbuatannya. Kehormatan wanita disebut sebagai `ird (yang juga berarti pinggulnya). Kebalikan daripada kehormatan pria, `ird ini bersifat tetap dan tak berubah. Wanita tumbuh besar dengan kehormatannya, dan dianggap sudah jadi kewajibannya untuk menjaganya. Di saat seorang wanita kehilangan kehormatannya, maka hal itu tidak bisa diperoleh kembali, dan ini menyebabkan kehormatan pria juga jadi sangat terpukul berat. Memang betul bahwa kehormatan keluarga Muslim Arab terletak pada keperawanan anak² perempuannya. Kehormatan itu merupakan nilai yang tak terhingga tingginya dalam kehidupan orang Arab, bahkan lebih penting daripada nilai nyawa sekalipun. Ketika kehormatan terenggut, rasa malu menimpa keluarga, dan mengakibatkan kaum pria merasa sangat amat terhina. Dalam seluruh hidupnya, orang² Arab mencoba segala cara untuk menghindari rasa malu dan mempertahankan kehormatan. Pusat dari segala usaha ini adalah BALAS DENDAM. Rasa hormat yang hilang bisa didapatkan kembali hanya dengan cara balas dendam yang dilakukan di muka umum dan hal ini dikenal luas dalam masyarakat Arab.

Cara lain untuk mencapai kehormatan adalah dengan memberikan naungan pada orang asing. Sikap murah hati pada orang asing dianggap sebagai sikap yang terhormat. Martabat seorang pria diperoleh dari keluarganya dan asal-usul marganya. Tradisi suku dan kesetiaan pada marga merupakan pengaruh dominan dalam masyarakat. Hubungan darah pada keluarga jauh juga dianggap penting. Nilai² penting budaya ini masih terus dianut sampai hari ini, dan menjadi kesatuan sistem yang mereka percayai. Mereka lebih percaya pada nilai² simbolis daripada nilai² konkrit. Inilah wujud “masyarakat malu” Arab di mana setiap orang harus bersikap sesuai dengan norma² yang ditetapkan.

Kecenderungan sikap lain bangsa Arab adalah tiadanya rasa percaya terhadap orang lain. Mereka cenderung mudah curiga dan bermusuhan pada pihak “luar”, meskipun pihak luar itu adalah tetangganya atau anggota sukunya sendiri. Sikap ini sarat terasa di dalam kehidupan sosial, dan bertambah extrim jika melibatkan kaum non-Muslim. Semua sikap ramah-tamah menyambut dan memberi naungan bagi tamu adalah usaha untuk mendirikan sekat bela diri, untuk mengurangi pertikaian yang mengancam bakal terjadi. (Adadeh: ini bukan sikap ramah yang tulus, karena hanya berdasarkan rasa curiga dan was-was: jika dia tak disuguhi atau dilayani, nanti jangan² dia akan menyerang.) Untuk tujuan inilah maka sistem politik Arab sangat fleksibel dan mudah beradaptasi. Kehidupan di padang tandus dan sedikitnya sumber nafkah yang ada membuat masyarakat Arab harus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang keras. Penyesuaian politik dan aturan perilaku dibuat demi mencapai tujuan² masyarakat, dan hal ini tampak jelas dalam agama mereka. (Adadeh: hal ini tampak jelas pada berbagai aturan plintat-plintut, karet, ngambang dalam Qur’an. Aturan akhlak-moral-politik bisa dibengkokkan dan dijungkirbalikkan sedemikian rupa sesuai situasi kondisi, yang penting memuaskan selera dan hasrat Nabi.)

Kenyataan seperti ini tampak jelas pada superioritas kelompok masyarakat di atas individu / warga masyarakat. Hal ini sangat berbeda dengan masyarakat modern yang mengutamakan interes/kepentingan individu, di mana jiwa suatu bangsa berasal dari pemberian/penerimaan individu pada/dari kelompok masyarakat. Di masyarakat Arab, jiwa bangsa berasal dari apa yang diperbuat individu pada masyarakat. Mufakat masyarakat berada di atas pendapat individu. Islam tidak mengutamakan individu, dan memilih pembentukan Pemerintahan Islam. Seorang warga Muslim tidak punya hak untuk mandiri, dan pendapatnya tidak dianggap penting, jika bukan bagian dari struktur masyarakat Muslim. Hal ini sesuai dengan hadis yang dikatakan Nabi: “Pendapat orang banyak tidak mungkin salah.” (Adadeh: Nabi Muhammad rupanya lupa kisah Nabi Nuh di mana semua orang di dunia salah, dan yang benar hanyalah pendapat Nabi Nuh saja.) Individualisme sangat ditentang Islam, dan dianggap sebagai perpecahan dan membahayakan tujuan Islam. Sikap ini juga nyata tampak dalam menghadapi perlawanan politik, yang dianggap sebagai sikap terlarang dalam prinsip budaya Arab. Dengan begitu sikap orang Arab sesuai dengan kriteria berikut:


1. Sindrom Kehormatan - Rasa Malu - Balas Dendam

Ada celah pemisah antara keinginan untuk memajukan kehormatan bangsa Arab, dan rasa takut mengalami rasa malu dan penghinaan (`ib), jika pencemaran terjadi dan diketahui masyarakat. Jika pencemaran terjadi, maka hancurlah kehormatan. Inilah sebabnya mengapa orang² Arab bisa begitu kejam dan penuh kekerasan dalam melakukan balas dendam berdarah untuk memperoleh kembali kehormatannya. (Adadeh: Carok kaleee...) Kehormatan dijaga dan dipertahankan melalui pembalasan dendam. Pada konflik Arab-Israel, bangsa Arab menganggap negara Israel-lah yang bersalah dan layak untuk mengalami tindakan balas dendam:

- bangsa Arab tak mau mengakui keberadaan Negara Yahudi, dan menganggap bangsa Yahudi tak layak hidup di Israel.
- Israel terletak di jantung Timur Tengah, dan ini dianggap sebagai duri yang mencegah bangsa Arab Muslim menguasai seluruh Timur Tengah.
- Karena itulah bangsa Arab terus menyerang Israel untuk merampas tanah Yahudi.

Apakah ada jalan keluar dari permasalahan ini? Jawabannya terletak pada keseimbangan angkatan bersenjata Israel dan ke-efektif-an Israel dalam menanggulangi masalah kehormatan bangsa Arab. Masalah utama terletak pada penolakan bangsa Arab terhadap keberadaan negara Israel.


2. Kepribadian ke dalam dan kepribadian keluar: bagaimana orang² Yahudi dan Kristen menangani rasa bersalah pada diri sendiri

Jika merasa bersalah, kaum Yahudi akan menunjukkan satu pipinya, yang berarti, “Kami berdosa, kami melanggar aturan, dan kami telah melakukan kesalahan.” Kaum Kristen menunjukkan pipinya yang lain, yang bermakna “mea culpa” (“kesalahanku” atau “salahku sendiri”). Sebaliknya, beginilah orang² Arab menangani rasa bersalahnya: “Apa sih salahku? Kamu sendiri yang salah!” Diantara bangsa Arab, tak ada usaha introspeksi (bercermin diri). Mereka memang tak menghormati keadilan dan hak orang lain. Dari sudut pandang mereka, keadilan dan hak itu hanya untuk mereka sendiri, dan tak ada sesuatu pun yang boleh mengambilnya dari diri mereka. Kau tidak akan pernah menemukan dalam masyarakat Arab sikap budaya yang sangat jelas tampak pada masyarakat Yahudi-Kristen: rasa ragu, rasa bersalah, menyalahkan diri sendiri, “Mungkin kami tidak sepenuhnya benar,” atau “Mungkin kita harus melakukan pendekatan yang berbeda.”

Sikap² introspeksi seperti ini tak dikenal sama sekali dalam masyarakat Arab Islam, terutama jika berhubungan dengan orang² luar (non-Muslim, non-Arab). Mereka yakin akan hak dan keadilan hanya bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak punya rasa bersalah terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan. Mereka tidak terketuk hatinya atau menyesal terhadap perbuatan jahat yang mereka lakukan terhadap orang lain. Dari sudut pandang mereka, mereka tidak peduli akan nasib kafir, dan tidak segan menyerang siapapun yang hidup di tanah kafir (dar al-harb = daerah perang, daerah yang belum dikuasai Muslim). Kecenderungan pembunuhan dengan cara bom bunuh diri, merupakan contoh nyata akan hal ini. Tiada kutukan, tiada penyesalam, tiada masalah dari pihak orang² Arab dan Muslim, di mana pun di seluruh dunia Islam, di tingkat sosial Muslim mana pun. Sebaliknya, kebanyakan dari mereka semua mendukung usaha pemboman bunuh diri ini. Jika ada Muslim yang menentang, itu pun hanya berhubungan dengan efektif tidaknya hasil bom bunuh diri itu bagi Islam, dan bukannya karena menentang tindakan tersebut. Semua umat Muslim setuju jika bom bunuh diri itu ditujukan pada Israel, karena bangsa Israel tidak dianggap Muslim sebagai sesama manusia lagi. Menurut Muslim, sama seperti pandangan Nazi, Yahudi bukanlah bangsa manusia. Semua umat Muslim bertekad menghancurkan Israel - membasmi musnah bangsa Yahudi atau genosida Yahudi.


3. Perpecahan vs. Kesatuan

Kepribadian orang Arab terapung di ruang antara karakter Arab yang penuh kekerasan dan suka memisahkan diri dengan kebutuhan untuk bekerja sama guna mencapai cita². Ini merupakan sikap yang saling bertentangan antara perpecahan dengan kesatuan, antara persaingan dengan persekutuan, antara kemerdekaan suku, semangat bebas di gurun pasir dengan sikap tunduk di bawah Pemerintahan. Hal ini merupakan sindrom antara karakter yang ganas beringas dengan kepentingan masyarakat, antara sikap kemandirian suku yang merdeka dengan sikap tunduk taat di bawah Pemerintahan. Dalam masyarakat anarkis yang penuh kekerasan ini, rasa takut terjadinya perpecahan sosial sangatlah mencekam, dan ini membuat munculnya sikap yang pasif. Di satu pihak, bangsa Arab ini begitu tunduk dan menjilat penguasa, tapi di pihak lain mereka bersikap sangat kejam, ganas, dan buas terhadap orang lain.

Rasa permusuhan dan curiga begitu dominan dalam sifat orang Arab. Hal ini tampak dari motto mereka: "Aku dan saudara² ku melawan putra² sepupuku; aku dan putra² sepupuku melawan tetangga²; aku dan tetangga² melawan anggota suku lain; aku dan suku lain melawan orang asing." Di satu pihak, orang Arab bersikap ramah menyambut tamu dengan hormat, tapi di pihak lain - di waktu yang bersamaan - dia pun terus-menerus curiga pada tamu tersebut. Budaya ramah tamah yang begitu terkenal dalam masyarakat Arab, dilakukan demi tujuan mendapatkan rasa hormat. Sewaktu bangsa Arab menjamu tamu dengan tarian², mereka pun merasa curiga dan khawatir jangan² tamu itu akan ngesex dengan istri² atau putri² mereka. Tujuan sikap ramah tamah dan sopan masyarakat Arab adalah untuk memperlunak perseturuan antar pihak yang bakal terjadi. Permusuhan itu bisa menjadi begitu hebat, sehingga mereka merasa perlu untuk mendirikan tembok pertahanan berupa sikap ramah dan sopan di saat awal.


4. Budaya Sosial nan Kolot

Kepribadian bangsa Arab sarat dengan berbagai tabu dan larangan sosial, tingkatan kelas masyarakat, agar tetap bisa melindungi nilai² budaya yang diterima, agar jangan sampai dipermalukan atau dihina saingan di muka masyarakat. Sikap ini adalah sikap masyarakat puritan (kolot) yang sarat dengan berbagai larangan, dan semuanya berpusat pada keperawanan anak² perempuan mereka. Budaya Arab merupakan budaya yang penuh dengan hirarki, kaku, dan semua harus bersikap sama. Budaya ini sangat berbeda dengan budaya pluralisme yang kompetitif seperti yang dianut oleh masyarakat Barat.

Budaya Arab adalah budaya di mana desas-desus / slentingan merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan sosial, dan slentingan ini nantinya jadi kebenaran mutlak jika tidak dibantah. Hal ini berhubungan dengan sikap suka melebih-lebihkan, ingin beken, dan terutama karena masyarakat cenderung mudah percaya akan konspirasi (akal-akalan). Begitulah sikap masyarakat Arab yang menganggap penting sekali setiap biji kurma, dan mereka ingat akan semuanya, dan tidak pernah memaafkan apapun. Inilah masyarakat di mana dusta merupakan komponen sangat penting dalam sikap orang berperilaku, dan berbohong dianjurkan dalam agamanya. Ahli Islam terkenal al-Ghazzali mengatakan bahwa berdusta bukan merupakan perbuatan yang salah. Jika dusta merupakan cara untuk mencapai sesuatu yang menguntungkan, maka berdusta diperbolehkan. Muslim memang mudah berdusta jika bersikap jujur mendatangkan konsekuensi yang tidak menguntungkan. Inilah masyarakat di mana memandang mata orang secara langsung tidak diperbolehkan, karena bisa dianggap menantang. Mereka juga tabu untuk menggunakan tangan kiri, yang disebut mereka sebagai “tangan kotor” (Adadeh: tangan untuk cebok...hahaha). Bahasa tubuh, cara berjalan, cara duduk, semuanya dianggap penting. Sudah jelas bahwa kepribadian Arab itu merupakan gabungan dari sudut pandang struktur dan sistem masyarakat Arab yang berlapis-lapis.

bersambung ...
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Adadeh » Tue Oct 26, 2010 5:56 am

Dua faktor lain yang mempengaruhi kepribadian orang Arab dan perilakunya adalah:

Pertama, bahasa sebagai fenomena budaya, yang memungkinkan orang untuk mengerti lingkungan dan komunikasi sosial.

Bahasa merupakan bagian penting budaya Arab. Bangsa Arab sangat bangga akan bahasanya dan mereka menggunakannya dengan cerdik untuk mengutarakan pendapat, dongeng, perumpamaan, sebagai cara untuk menghindari rasa malu dan persengketaan. Hal ini menyebabkan terjadinya retorik (penggunaan kata2 yg indah/muluk dlm pidato) perang dan damai dalam pribadi Arab, yang lalu berkembang menjadi realitas yang berlebihan, dengan tujuan untuk membesar-besarkan fakta yang ada. Dalam semua bentuk komunikasi pribadi, fenomena membual ini terjadi:

○ membual dalam menerangkan suatu kejadian (mubalaghah)
○ membual tentang perbuatan seseorang (mufakharah)
○ mengulang-ulang kata² yang sama (tawqid) (Adadeh: makanya Qur’an sarat dengan ayat² yang sama isinya, misalnya “taat pada Allah dan RasulNya”, ”harta jarahan halal”, dll)

Peran kata dalam bahasa Arab sangatlah berbeda dengan bahasa lain, misalnya bahasa Barat. Di dunia Barat, kata yang diucapkan dianggap sebagai komitmen (pengucap kata terikat pada makna kata yang diucapkannya). Tapi di dunia Arab sih, kata yang diucapkan tak lebih artinya daripada sekedar dekorasi/hiasan tempelan. Buktinya bisa dilihat dari keterangan penyair Syria bernama Kabbani yang menyatakan bahwa bangsa Arab telah dijajah selama 1.500 oleh syair (Qur’an). [1]
[1] Yedi’ot Aharonot, September 2, 1994.

Cara bicara Arab juga sangat berbeda dengan cara bicara bangsa Barat yang justru cenderung mengecilkan sesuatu persoalan. Masalah perbedaan budaya ini berakibat jelas pada opini masyarakat, dan juga pada saat kedua belah pihak Arab dan Barat menjelaskan situasi dan kebijaksanaan mereka. Apakah yang terjadi tatkala budaya Arab yang suka melebih-lebihkan berbenturan dengan budaya Barat yang cenderung mengecilkan persoalan? Di sinilah letak kesulitan Israel dalam sistem dunia internasional. Meskipun Israel di bawah ancaman besar dan selalu mengalami serangan teroris Islam, Israel tetap dikecam di dunia Barat jika mereka menyerang balik. Ini disebabkan karena pandainya orang² dalam menggunakan bahasa mereka untuk memutar balik fakta. Bangsa Arab menganggap bahasa mereka bahasa yang terindah, dan bahasa Arab merupakan lambang keunggulan budaya Arab. Ahli bahasa Arab al-Tha`alibi mengatakan bahwa siapapun yang cinta Nabi, harus cinta Arab pula. Siapapun yang cinta Arab, harus cinta bahasa Arab. Nabi Muhammad adalah Nabi terhebat diantara semua Nabi; bangsa Arab adalah bangsa terhebat, yang paling unggul di seluruh dunia; dan bahasa Arab merupakan bahasa terbaik bagi semua lidah. Begitulah anggapan bangsa Arab terhadap budaya mereka.

Kedua, fenomena waktu.

Penggunaan waktu juga merupakan perbedaan yang paling mencolok antara budaya Arab dan budaya Barat. Ada tiga jenis waktu:

○ Waktu atom-fisik, yang diterima di seluruh dunia, dan diwujudkan oleh jam yang kita pakai;
○ Waktu pengalaman yang merupakan pengalaman pribadi dan nampak melalui emosi dan cara berpikir seseorang.
○ Waktu emosi-periodik, yang merupakan waktu istirahat manusia dan binatang, di mana mereka tidur.

Budaya Barat menekankan pentingnya waktu “sekarang dan saat ini”. Orang² Barat cenderung ingin menggunakan waktu dengan efektif guna mencapai tujuan lebih cepat, di mana pun berada. Untuk tujuan ini, masyarakat Barat membangun berbagai kendaraan dan peralatan modern (rudal, pesawat jet, mobil, komputer, dll) yang semuanya bertujuan untuk mencapai hal dengan waktu yang lebih cepat. Semua ini tentunya berhubungan dengan rasa tak sabar dan anggapan bahwa waktu yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan.

Sebaliknya dengan budaya Arab yang menganggap waktu yang tersedia sangatlah buanyak. Bagi mereka, waktu bisa dibuang-buang begitu saja tanpa batas. Hal ini karena mereka beranggapan orang memang tidak wajib untuk melakukan apapun sekarang. Budaya seperti ini dikenal sebagai budaya IBM: Insyaallah, Buqra (besok aja yah), Ma’lish (gak apa² koq). Inilah alasan adanya perbedaan yang sangat besoar dalam negosiasi dengan bangsa Arab. Mereka tidak punya keinginan untuk cepat mendapatkan persetujuan, dan cenderung menunda melulu sampai besok ajah dalam menghadapi masalah pelik. Di budaya Barat, semuanya dianggap sebagai “jendela kesempatan” dan ini diungkapkan dengan rasa tertarik dan gembira. Masyarakat Barat menganggap waktu sangat berharga dan harus digunakan dengan cepat dan efisien. Di lain pihak, bangsa Arab lebih suka alon² saja, karena sikap cepat² merupakan sikap Setan (al-`ajalah min al-shaitan), dan orang tidak boleh terburu-buru, tidak pula jika itu untuk membalas dendam berdarah.

Perbedaan ini tampak jelas dalam masalah pengungsi. Pada hari ini, 55 tahun kemudian, para pengungsi Palestina tetap saja bermimpi untuk kembali pulang ke tanah Israel, dan mereka tidak mau “melepaskan kunci rumah dari leher anaknya”, kunci rumah yang melambangkan rumah di Palestina sebagai lambang “pulang ke rumah.” Ketika Israel mencoba mewujudkan cita² untuk hidup damai dan sejahtera melalui harga apapun, masyarakat Palestina, yang sudah jatuh mentalnya, memilih bersikap sabar dalam mencapai cita² pulang ke rumah dan terus ngotot tak berpindah pijakan (sumud). Kelompok teroris Hamas menerapkan sikap jahiliyah ini dengan melakukan rubat. Istilah rubat ini muncul lima kali dalam Qur’an, dan berarti melakukan persiapan menuju kemenangan dalam peperangan antar suku. Sampai hari ini, rubat digunakan oleh Pemerintah Palestina untuk menggerakkan massa dengan slogan Islamiah.

Fenomena sabar dalam kesengsaraan dan berpegang teguh di tempat (sumud) merupakan perbedaan budaya yang besar antara Arab dan Israel. Bangsa Yahudi merupakan bangsa yang dulu ditindas dan bermental minoritas. Pedoman mereka adalah menyelamatkan diri, lari menghindari banjir. Kesadaran menjadi korban penindasan sudah menyatu dalam diri mereka, dan ini nampak dari sikap mereka yang cenderung berusaha menyenangkan yang berkuasa. Orang² Yahudi di Israel lebih peduli dengan pandangan orang luar daripada apa yang harus mereka lakukan untuk kepentingan mereka. Orang² Yahudi terpenjara dalam masa lalu mereka, tak mampu menghadapi penderitaan dan tak punya kesetiaan cukup pada tanah mereka. Mereka juga terus menerus merasa takut dan khawatir akan berbagai ancaman yang datang. Jika dihadapkan dua pilihan: tanah atau orang, mereka pasti memilih orang. (Adadeh: makanya Israel rugi, kehilangan tanah terus, dalam negosiasi dengan orang² Palestina.)

Sebaliknya, orang² Arab bermental penakluk golongan mayoritas (“Islam itu benar karena menang terus; Islam itu menang karena benar.”), meskipun mereka jelas tak berprestasi apapun selama dua ratus tahun terakhir. Yang penting yakin dulu, prestasi sih belakangan saja. Muslim tetap ngotot dalam bersikap, meskipun ditindas para penguasa, dan siap mati dibunuh atau membunuh demi Islam dan tanah Islam. Mereka pun juga merupakan tawanan masa lalu mereka, karena mereka terus saja mengenang kejayaan Islam dahulu kala, dan terus bermimpi di masa depan mereka bisa jaya lagi. Pejuang Salib gagal dalam mengalahkan Muslim dan tampaknya nasib kafir Yahudi pun akan sama pula. Israel tampaknya tidak akan bisa terus ada, karena Yahudi bukanlah sebuah negara. Jika diajukan dua pilihan: tanah atau orang, maka orang² jelas lebih memilih tanah. Hal ini jelas ditulis oleh jurnalis Mesir bernama Muhammad Hassanayn Haykal, bekas editor koran al-Ahram:

Logika Arab mengikuti insting (naluri) mereka. Pikiran² kami adalah debu, sedangkan emosi kami adalah api. Kami dari dulu sampai sekarang adalah suku² bangsa, yang bangkit mengamuk di suatu masa dan tenang di masa lainnya. Kami angkat senjata satu sama lain, dan di lain waktu kami saling berpelukan seakan tiada masalah apapun yang terjadi. [2]
[2] al-Ahram, October 15, 1970.

F. Ajami membuktikan bahwa modernitas Barat yang diterapkan di dunia Arab melahirkan dunia raksasa Arab nan gersang, yang penuh dengan citra modernitas yang kosong, karena sifat orang Arab yang tidak memiliki rasa ingin tahu, atau hasrat untuk mengetahui dengan cara melakukan perubahan nilai atau membuka diri menyerap informasi baru. Karena itu, “modernitas” Barat di dunia Arab akan selalu hanya merupakan “barang pinjaman” saja yang didatangkan secara murahan, dengan bahan² dari luar negeri. (Adadeh: negara² Arab bukanlah negara² penghasil dan pencipta, dan mereka hanya import semua temuan² modern Barat.) Mereka hanya bisa menjadi benar² modern jika mereka bertekad menyerap nilai² Barat dan universal sebagai pusat budaya Arab.[3] Jika ini tak terjadi, maka akan muncul makhluk ganas hasil pengaruh negatif Arab dan Barat. [4] Islam tentunya menolak keras tanpa ragu segala bentuk modernitas dan kedaulatan.
[3] F. Ajami, The Dream Palace of the Arabs, New York: Pantheon Books, 1998.
[4] H. Sharabi, Neopatriarchy: The Theory of Distorted Arab Society, New York: Oxford University Press, 1988.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Adadeh » Tue Oct 26, 2010 6:11 am

Bangsa yang tidak menempatkan belas kasihan terhadap sesama manusia adalah bangsa barbar. Orang² Arab curiga bahwa tamu asing akan memperkosa istri² dan anak² perempuan mereka, karena mereka sendiri punya angan² seperti itu pada para istri dan anak² perempuan orang lain.

Tepa salira, gotong royong, welas asih adalah budaya asli masyarakat Indonesia, dan bukanlah ajaran Islam. Orang² Arab tidak pernah menerapkan tepa salira dan welas asih terhadap sesama manusia, apalagi manusia kafir. Sungguh menyedihkan bahwasanya sekarang bangsa Indonesia Muslim justru menyingkirkan budaya asli sendiri dan menyerap budaya barbar jahiliyah Arab Islam ini. Bangsa kita jauuuh lebih maju dan beradab dibandingkan bangsa Arab. Di jaman 200 tahun M, bangsa kita sudah mampu mendirikan negara² besar yang dihormati seluruh Asia Tenggara, sedangkan di waktu yang sama orang² Arab hanya mampu menggembalakan kambing dan minum air kencing unta. Bangsa Indonesia tidak butuh segala macam aturan barbar Arab Islam, hasil budaya biadab, dari masyarakat miskin yang terbelakang akhlak dan moralnya: poligami, pancung kafir, potong tangan dan kaki, salib, rajam sampai mati, mutilasi kemaluan wanita, tabok istri, ngumpulin budak sex sebagai hadiah illahi, bom bunuh diri sambil bunuh kafir sebanyak-banyaknya sebagai cara masuk surga, dll.

Ajaran Islam menjungkirbalikkan yang benar jadi salah, dan salah jadi benar. Dusta dianggap benar, dan sikap jujur dianggap perbuatan ****, perkosaan dianggap halal jika dinikahi terlebih dahulu atau diperbudak terlebih dahulu, zinah dianggap benar jika dilakukan terhadap budak sex, pukul istri dianggap benar jika suami menganggap istri tidak nurut, bunuh anak-istri-ayah kandung sendiri dianggap benar asalkan demi keuntungan Islam, dan masih banyak lagi yang semuanya membuat gw pengen muntah². :vom:

Islam memang telah berhasil berat membodohi masyarakat Indonesia. Sungguh malang bangsaku begitu mudah tertipu sehingga tak kunjung mampu melihat kebenaran.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Akukomkamu » Tue Oct 26, 2010 7:28 am

Dan satu hal lagi yg ga pernah ketinggalan pada budaya arab yaitu BUDAYA MUNAPIKUN alias MUNAFIK PURA2 PIKUN !!!




Pisss... :heart:
Akukomkamu
 
Posts: 5565
Joined: Sat Jul 11, 2009 11:34 am
Location: "Mengajak onta2 arab unt bisa BERMARTABAT" IFF adalah TEMPAT nya.

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Akukomkamu » Tue Oct 26, 2010 12:07 pm

Pingin tanya ama muslim2 Indonesia , apa kalian merasa fine2 aja...memiliki cara pikir spt budaya arab itu ?




Pisss... :heart:
Akukomkamu
 
Posts: 5565
Joined: Sat Jul 11, 2009 11:34 am
Location: "Mengajak onta2 arab unt bisa BERMARTABAT" IFF adalah TEMPAT nya.

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby I__Muslim » Tue Oct 26, 2010 3:58 pm

Nandain ya.

Dan ada bukunya nggak?
I__Muslim
 
Posts: 981
Joined: Tue Jul 13, 2010 4:18 pm
Location: Antara ada dan tiada....

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Dorama » Thu Oct 28, 2010 4:45 pm

Islam BUKAN arab,dan arab belum tentu Islam.
Dorama
 
Posts: 461
Joined: Wed Oct 06, 2010 1:09 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby I__Muslim » Thu Oct 28, 2010 6:27 pm

No nyampah plis tu*nku.

Soal islam bukan arab itu, om poligami udah bikin threadnya deh.
I__Muslim
 
Posts: 981
Joined: Tue Jul 13, 2010 4:18 pm
Location: Antara ada dan tiada....

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby rajawajar » Thu Oct 28, 2010 8:06 pm

arab bukan islam, islam bukan arab,
seperti koin dengan dua mukanya,
mereka pisah selamanya tapi nempel terus ke mana-mana ....
rajawajar
 
Posts: 130
Joined: Sat Sep 18, 2010 6:48 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby wongjowo » Thu Oct 28, 2010 8:11 pm

rajawajar wrote:arab bukan islam, islam bukan arab,
seperti koin dengan dua mukanya,
mereka pisah selamanya tapi nempel terus ke mana-mana ....


seperti orang be ol n orang cebok kali, satu paket :finga:
User avatar
wongjowo
 
Posts: 1480
Joined: Sun Sep 06, 2009 7:43 am
Location: Apa Liat-Liat ?!?

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby doramma » Thu Nov 04, 2010 4:47 am

kafir begook dipiara,baca tuh sejarah,yg menyebarkan Islam di betawi sj bukan arab,tapi justru para pedagang dr yunan(RRC) dan para pedagang dr gujarat,India. pada paranoid dg arab yach...dasar kafirun sakit jiwa!
doramma
 
Posts: 554
Joined: Tue Nov 02, 2010 11:17 am

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Akukomkamu » Thu Nov 04, 2010 4:50 am

doramma wrote:kafir begook dipiara,baca tuh sejarah,yg menyebarkan Islam di betawi sj bukan arab,tapi justru para pedagang dr yunan(RRC) dan para pedagang dr gujarat,India. pada paranoid dg arab yach...dasar kafirun sakit jiwa!


Oh...islam dr RRC mmm...nama nabinya Moo Ah Maa ya... ](*,) :lol:



Pisss... :heart:
Akukomkamu
 
Posts: 5565
Joined: Sat Jul 11, 2009 11:34 am
Location: "Mengajak onta2 arab unt bisa BERMARTABAT" IFF adalah TEMPAT nya.

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby GUNTUR LANGIT » Sat Nov 06, 2010 2:03 pm

Budaya Arab sudah merusak Budaya bangsa kita, Indonesia.
Majapahit runtuh, budayanya diganti dengan budaya Arab.
Budaya Jawa juga akan dihancurkan.
Islam memang biang kerok penyebab bangsa kita ini susah majunya.

Jilbab salah satu budaya Arab sudah mengakar disemua lapisan.
Sudah jarang saya bisa melihat wanita Indonesia memakai kebaya dengan kondenya .
Dulu pada setiap acara resmi , semua wanita diwajibkan memakai kebaya dengan konde.
Sekarang.... rame2 pake jilbab supaya keliatan mulimah taat agama.
Koq nggak sadar ya , kita sudah dijajah Arab.
Belon lagi urusan haji, berapa trilyun habis duit rakyat Indonesia ditipu Arab.

Arab ingin menjajah dunia dengan mengunakan Islam ? Tak iye lah
User avatar
GUNTUR LANGIT
 
Posts: 842
Joined: Fri Feb 12, 2010 10:40 am

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby key » Tue Nov 16, 2010 12:14 pm

isalm itu bukan arab,dan arab juga belum tentu Islam,ada tuh kristen ortodox dll arab kafir jg ada.
User avatar
key
 
Posts: 106
Joined: Wed Oct 06, 2010 1:13 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby Akukomkamu » Tue Nov 16, 2010 1:16 pm

key wrote:isalm itu bukan arab,dan arab juga belum tentu Islam,ada tuh kristen ortodox dll arab kafir jg ada.


mmm... [-( tp islam ada di araf dan araf sumber islam , masih nyangkal ?


Piss... :heart:
Akukomkamu
 
Posts: 5565
Joined: Sat Jul 11, 2009 11:34 am
Location: "Mengajak onta2 arab unt bisa BERMARTABAT" IFF adalah TEMPAT nya.

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby novalino » Tue Jan 18, 2011 11:47 am

itu khan intrepretasinya mullah adadeh tentang budaya arab... yang paling bagus emang budaya sendiri..

Ya.. kalau percaya silakan engga juga ga papa..

Gitu aja kok repot... :turban:
novalino
 
Posts: 118
Joined: Tue Dec 28, 2010 4:09 pm

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby lapis legit » Wed Jan 19, 2011 7:59 am

Betul banget.. om novalino,

Itu namanya STIGMATISASI budaya atau etnis tertentu jadi sifatnya SUBJEKTIF

Hampir semua suku bangsa juga punya stigmatisasi yang ga enak misal stigmatisasi orang madura

dimata penduduk kalimantan, Orang jawa dimata orang Aceh, orang Batak, Padang,

stigmatisasi warga keturunan, stigmatisasi orang afro-amerika, yahudi, atw keturunan hispanik amerika..

sebenarnya tinggal browsing di mbah google juga banyak contohnya,

Jadi saran saya pada bung adadeh Thread ini harusnya dialamatkan pada FFI Internasional seksi Timteng.

Jadi yang jawab atau bantah juga orang Arab sono jadi lebih objektif... :toimonster:
lapis legit
 
Posts: 200
Joined: Tue Jan 11, 2011 11:38 am

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby cendol » Wed Jan 19, 2011 9:00 am

lapis legit wrote:Betul banget.. om novalino,

Itu namanya STIGMATISASI budaya atau etnis tertentu jadi sifatnya SUBJEKTIF

Hampir semua suku bangsa juga punya stigmatisasi yang ga enak misal stigmatisasi orang madura

dimata penduduk kalimantan, Orang jawa dimata orang Aceh, orang Batak, Padang,

stigmatisasi warga keturunan, stigmatisasi orang afro-amerika, yahudi, atw keturunan hispanik amerika..

sebenarnya tinggal browsing di mbah google juga banyak contohnya,

Jadi saran saya pada bung adadeh Thread ini harusnya dialamatkan pada FFI Internasional seksi Timteng.

Jadi yang jawab atau bantah juga orang Arab sono jadi lebih objektif... :toimonster:

disini ajalah,ngapain jauh2. Aku aja cari tau tentang Luna Maya gak perlu ke Jakarta atau Bali, cukup dari pedalaman papua ini dengan koneksi yang super lemot.
User avatar
cendol
 
Posts: 1009
Joined: Tue Aug 03, 2010 10:04 pm
Location: Bermain Rudal Bersama 72 Bidadari

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby kalangkilang » Wed Jan 19, 2011 12:13 pm

key wrote:isalm itu bukan arab,dan arab juga belum tentu Islam,-----


hal itu bisa dibenarkan,,tapi..
ketika anda sholat,,selalu menggunakan bahasa arab,,
seorang muslim mengucapkan sahadat harus dengan bahasa arab,,
ketika anda sholat,,,harus berkiblat ke arab sana,,,
ketika punya anak,,maka nama-nama arab lebih disarankan,,


jadi...Islam adalah budaya arab dan merupakann bentuk penjajahan arab terhadap bangsa non arab..
Coba saya tanya,,bilamana semua suku bangsa sama di depan Islam,,bisakah Imam Masjid haram di Mekah sana, adalah orang Non Arab???
User avatar
kalangkilang
 
Posts: 2696
Joined: Sun Sep 26, 2010 12:52 am
Location: lagi menulis dibuku

Re: Cara Pikir yang Salah dari Budaya Arab

Postby asal usil » Mon Jan 24, 2011 9:03 am

kalangkilang wrote:ketika anda sholat,,selalu menggunakan bahasa arab,,


Biar ada keseragaman aja...
Kan lucu kalau ada AZAN pake bahasa daerah masing2..

Btw gw juga pernah denger ada sekelompok orang kristen dari barat -- Bukan OOT lho --- yang ingin menjalankan ibadah mereka dengan bahasa ARAMIK bahasanya Yesus jadi biar lebih menghayati lho..

kalangkilang wrote:ketika punya anak,,maka nama-nama arab lebih disarankan,,


Ga ada tuh Hadis yang kaya gitu yang ada disuruh menamakan anak dengan nama yang baik.. yang punya arti mendoakan anak dengan hal2 yang baik. nama jawa, sumatra, papua sah2 aja tuh...
asal usil
 
Posts: 1055
Joined: Mon Jan 17, 2011 2:49 pm

Next

Return to CARA BERPIKIR MUSLIM



Who is online

Users browsing this forum: No registered users