.

Jibril Tiruannya Gabriel

Pembuktian bahwa Islam bukanlah ajaran dari Tuhan.

Jibril Tiruannya Gabriel

Postby keeamad » Mon Feb 27, 2012 5:29 pm

Ada artikel bagus di :
http://www.scribd.com/doc/75179029/JIBR ... lscreen:on

(oom momod kalo emang udah ada, di delet aja ...)

Kalo memang belum ada, ditunggu jasa teman2x yg mau mengisikannya ke halaman FFI ini, dan trimakasih saya ucapkan.

Salam
GBU
User avatar
keeamad
 
Posts: 6944
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: Jibril Tiruannya Gabriel

Postby keeamad » Mon Feb 27, 2012 5:31 pm

Artikel lainnya yang patut untuk diketahui :
Mencermati Siapakah Jibril – Siapakah Gabriel

Oleh: Ram Kampas



Banyak kisah-kisah di dalam Alkitab yang menceritakan sosok dan jati-diri Malaikat Gabriel. Begitu pula tak kurang kisahnya sosok Ruh Jibril itu diceritakan di dalam Al-Quran, baik ucapannya, maupun sepak terjangnya. Tanpa banyak menyidik, orang-orang Muslim umumnya beranggapan bahwa kedua sosok ini sama oknumnya. Dikatakan, Jibril dan Gabriel adalah sama, yaitu Malaikat penyampai wahyu Tuhan, yang satu nama dalam lafal Arab, yang lain dalam lafal Ibrani. Tetapi sebaliknya dengan orang-orang Kristiani pada umumnya – sejak zaman Ahli Kitab dimasa Muhammad hingga sekarang – justru sangat menolak kesamaan kedua oknum tersebut. Mereka tidak melihat dimana kesamaannya, kecuali dimirip-miripkan oleh Muhammad seorang dalam kisah kunjungannya kepada Maria, wanita yang melahirkan Yesus. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa Muslim tidak mempunyai bukti dan saksi apapun tentang klaim kesamaan keduanya! Artikel "WHAT IF Gabriel dan Jibril Saling Asing" jelas telah membuktikan yang satu adalah Malaikat Tuhan, sementara yang lain hanyalah "Malaikat Jadi-jadian" yang dicangkokkan.

Disini, Jibril-Quranik itu akan diuji lebih lanjut terhadap Gabriel-Injili dari pelbagai segi – kualitas, otoritas, dan otentisitas, sehingga Anda pembaca dapat menarik kesimpulan sendiri secara lurus dan mudah "Siapa yang satu", dan "Siapa yang lainnya". Kita batasi kupasan dengan hanya mengambil beberapa contoh perkisahan pada kedua Kitab-Suci (Alkitab dan Quran) yang sudah cukup kaya memperlihatkan perbandingan Gabriel versus Jibril lewat ucapan dan perilaku dari kedua oknum tersebut.



KISAH ZAKARIA (Surat Maryam)

"Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang (memberi nama?) yang serupa dengan dia" (ayat 7)... Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat". Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang (ayat 10,11).

Dalam dua ayat Quran ini saja, sudah tampak ada banyak sekali keanehan wahyu yang jauh dari otentisitas dan otoritas wahyu Tuhan semesta alam, sehingga mustahil ayat-ayat begitu dapat dijelaskan dengan benar dan masuk akal.

(1). Pertama-tama diriwayatkan oleh Muhammad bahwa Jibril berwahyu kepada-nya dalam surat ini (Surat Maryam) bahwa Zakaria bukan dikunjungi oleh Jibril, melainkan oleh Allah sendiri, dan ia bercakap-cakap dengan Allah secara langsung. Padahal, mulai ayat 17, pewahyuan kepada Maryam berganti diucapkan oleh hanya seorang "Jibril" (yang berubah jadi laki-laki sempurna) dan bukan lagi oleh Allah. Ada apa gerangan? Tidakkah Maryam sedikitnya lebih layak mendapatkan kunjungan (dan berbicara langsung) dengan Allah ketimbang Zakaria? Bukankah Maryam diberi makanan langsung dari Allah dalam mihrab, dan Zakaria hanya menjadi wali/pemelihara fisik Maryam? (Sura 3:37). Dan tidakkah Maryam telah dipilih oleh Allah sendiri, dan ditetapkanNya sebagai perempuan yang disucikan dan dilebihkan di atas sekalian perempuan lainnya yang ada di dalam alam ini? Bukankah ia bersama Isa Al-Masih dinyatakan sebagai Ayatollah yang sejati?

BANDINGKAN dengan apa yang ditulis dalam Alkitab, dimana kedua hamba Tuhan ini (Zakharia dan Maria) dikunjungi oleh Gabriel yang sama! Justru kunjungan Gabriel kepada Zakharia ini (untuk kabar baik tentang kedatangan Yahya) dipakai sebagai pembuka dan penyaksi bagi kedatangan Kabar Baik yang sejati lewat Maria, yaitu Yesus! (Sura 3:39; Yohanes 1:34). Ahli Kitab tahu bahwa Jibril rupa-rupanya gagap, serba-salah, dan keliru ketika menceritakan kisah dirinya kepada Muhammad, sehingga tercetuslah ayat yang asal jadi bahwa Allah-lah yang mengunjungi Zakharia, sementara Jibril-lah yang berurusan dengan Maryam!

(2). Jibril mengatas namakan Zakaria yang telah menjadi bisu itu untuk mengisyaratkan kepada kaumnya, "hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang". Dan para pembaca yang kritis segera akan melihat bahwa seruan Zakaria semacam ini adalah seruan sempalan yang semata-mata dicangkokkan oleh kenabian Islamik yang Arabik itu ke dalam agama Yudaisme. Sebab Anda tak akan menjumpai dalam kitab-kitab Yahudi tentang aturan Tuhan Yahweh yang menyerukan doa tasbih dua kali sehari, pagi dan petang! Nabi Daniel yang pernah dikunjungi oleh malaikat Gabriel justru selalu berdoa 3x sehari (Daniel 6:11). Para ahli, Muslim dan Non Muslim, sama mengetahui bahwa pada awalnya Muhammad tidak tahu persis bagaimana harusnya menyelenggarakan shalat Islam sehari-hari. Dia yang ummi, pasang mata dan telinga memperhatikan bagaimana agama lain meritualkan doa mereka masing-masing. Tetapi hasil dengar-dengarannya sering terbukti salah dan tidak tepat.

Dan ini adalah salah satunya, dimana dia mengira orang-orang Yahudi bertasbih 2x sehari, pagi dan petang. Itu pula sebabnya kenapa Quran juga menyatakan keharusan shalat di pagi dan petang (Sura 48:9), serta terus mengambang dalam ketiadaan praktek liturgi shalat yang teratur seperti yang disebutkan dalam Sura 73:20, "Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam atau setengahnya atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang bersamamu." Sehingga ibadah shalat terus bergeser menuju shalat 3x sehari (2 tepi siang dan 1 malam dalam Sura 11:114), sekalian mencari-cari bentuknya yang tepat, termasuk mengubah duha (setelah matahari terbit) untuk diganti dengan shalat fajar sesaat sebelum matahari terbit. Juga menyuruh ruku’ (Sura 2:43, 22:77, 77:48 dll), yang dirangkaikan dalam bersujud (Sura 15:98, 25:64, 48:29).

Namun dimanapun yang dipersaksikan dalam Quran, waktu shalat yang diwajibkan itu tidak pernah berubah menjadi LIMA-waktu seperti yang kelak dimitoskan dalam periwayatan Hadis tentang Israa’-mikraj. Para pakar Islam mencoba mencari pijakannya dalam Quran, dan mereka memaksakan diri untuk memunculkan "azaz" 5 waktu shalat itu dari ayat yang satu ini, Sura 17:78,

"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." Tetapi ada pula pihak-pihak lain yang justru melihatnya sebagai shalat dua-waktu, atau shalat tiga-waktu. Bahkan ini mungkin sekali sudah termasuk shalat wustha yang tidak diberi kejelasan waktu khusus (lihat Sura 2:238, yang dianggap sama dengan shalat ashar dalam HR.Muslim).

Oleh karena itu, tidaklah pantas bila ada pihak yang memutlakkan tambahan ekstra shalat yang tidak diwajibkan oleh Quran, kecuali mereka memilih Hadis sebagai otoritas tertinggi Islam. Sebab sekalipun katakanlah hal itu disebut dalam Quran, namun ia tidak selalu mutlak berkaitan dengan wajib shalat menurut spesifikasi waktu yang ditetapkan.

Dalam ketiadaan kepastian, sempat diamalkan oleh Abdullah Chakrawali dan Khwaja Ahmad Din dan para pengikutnya dengan tafsiran paling longgar terhadap shalat – yaitu sebanyak EMPAT waktu shalat dalam sehari. (lihat A. Chakrawali, Burhan al-Furqan ‘ala Shalat al-Quran, p.7-8). Kelompok Inkar-Sunnah kini justru makin vokal berkata: "Kami tidak mengimani apa-apa yang tidak ada dalilnya dalam Quran. Shalat 5 kali sehari hanyalah syariat buatan manusia". Namun syariat itulah yang disepakati komunitas Muslim dalam demam religi-nya yang memuliakan dongengan Mikraj, padahal lagi-lagi peristiwa Mikraj ini tidak sedikitpun disinggung oleh Quran! Aneh, bukan? Lalu bagaimana kita memahami fenomena yang mungkin salah kaprah ini? Ya, kita semua tahu bahwa warna bisa dilihat, dan rasa bisa dirasakan, tetapi manusia sering tergoda lebih jauh lagi. Mereka mau melihat rasa, dan merasakan warna! Dan itulah yang oleh para ahli disebut sebagai "kesalahan dimensional" dari manusia yang tersihir.

(3). Kemustahilan lainnya dari kisah Jibril adalah bahwa Allah hanya menghukum Zakaria untuk bisu selama 3 hari saja. Padahal hukuman ini bersangkut paut dengan ketidak-percayaan seorang Zakaria (yang Nabi) yang sudah berulangkali meminta agar Allah memberinya seorang anak. Dan tatkala Allah datang dan memberinya anak, Zakaria malah masih minta tanda tetek-bengek dengan mengabaikan TANDA TERBESAR dihadapannya, yaitu kehadiran Sang Allah sendiri yang bercakap-cakap dengan dirinya! Ini jelas bukan kualitas kenabian, melainkan kualitas seorang "kafir" yang melecehkan iman terhadap Allah yang ada di depan matanya. Ia seharusnya dihukum berat (dalam Alkitab, Zakharia dihukum 9 bulan, sampai dengan kelahiran anaknya Yahya terjadi sesuai dengan janji Tuhan). Bagaimanapun, bisu selama tiga hari hanyalah klaim Jibril yang asal-jadi (tanpa saksi) yang membodohi Muhammad dan orang-orang yang tidak mengenal Injil. Tetapi Alkitab berkata dengan cermat di atas bukti dan saksi, bahwa segala peristiwa itu menjadi buah tutur para saksi mata di seluruh pegunungan Yudea, dan itu tak mungkin terhapuskan kebenarannya oleh spekulasi dan ulah Jibril dan Muhammad:

"Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet (istri Zakharia) untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes (Yahya)." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya (yang masih bisu) untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea." (Lukas 1:57-65).

Dimana-mana kita selalu menyaksikan satu fenomena klasik: Menghadapi suatu isu yang tak terterobos oleh argumentasi Islamik, Muslim hanya bisa main lempar tuduhan bahwa Alkitab orang Kristen dan Yahudi itu korup dan tak bisa dijadikan pegangan. Itu adalah argumen yang paling primitif dan memalukan, dimana diulangi kembali cara-cara Utsman bin Affan yang hanya mau merujukkan Mushaf-nya sendiri sebagai "kebenaran tunggal" sambil menolak mushaf-mushaf primer selainnya, yaitu bukan dengan tuduhan, tetapi dengan perintah memusnahkannya! Tetapi ingat bahwa keluarga Zakharia bukan kelompok orang-orang jahat yang mau mengubah tanda "bisu 9 bulan" menjadi "bisu 3 hari". Tak ada kepentingan bagi para saleh untuk mengubah TANDA Allahnya, dan mustahil kisah turun temurun yang sebegitu dahsyat mau diubah menjadi bentuk tanda yang lebih lemah dan sederhana, semacam "syok 3 hari gagu, tidak bisa bicara".

Jangan lupa bahwa "tanda 3 hari itu" bukan juga tanda bahwa Elisabet itu pasti sudah mengandung. Tetapi "tanda 9 bulan" adalah benar tanda disepanjang proses pembuktian kehamilan sebagaimana yang telah dijanjikan. Itulah tanda sejati yang tidak asal-asalan-jadi tanpa bukti! Dan jangan juga lupa, bahwa masih ada Maria sebagai benteng pembuktian terakhir. Celakanya, bukti ini sengaja dikosongkan oleh Jibril dan Muhammad sama sekali. Mari kita lihat.

Dalam maklumat Gabriel kepada Maria, ia meneguhkan otoritasnya dengan memberitahukan sesuatu yang tersembunyi, "Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu" (Lukas 1:36). Atas pemberitahuan yang berotoritas ini, Maria pergi mengunjungi Elisabet, "Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet" (Lukas 1:39-40). Di sana Maria hanya berbicara dengan Elisabet, dan tidak tercatat ia berbicara apapun dengan "wali-nya" Zakaria (yang menurut Jibril sudah tidak bisu lagi setelah 3 hari). Jadi bagaimanakah Muslim menyikapi "kesempurnaan" pewahyuan seorang Jibril yang tidak SEKALI-PUN memberikan bukti dan kredensinya dalam Quran, apalagi dalam dongeng-dongeng Hadis. Inilah yang terjadi tatkala suatu kebenaran ilahi dicatut atas nama Allah! Dan inilah yang dipercayai Muslim tanpa menyidik lebih jauh siapa Jibril, dan siapa Gabriel!

(4). Jibril Quranik menghadapi satu dilema besar disini karena terlanjur menyampaikan wahyu asal-jadi yang tidak mungkin bisa diterima, apapun tafsirannya dicoba untuk diplintirkan! Yaitu menyangkut ayat 7 yang saling bertentangan ketika diterjemahkan oleh Depag dan Disbintalad berturut-turut, yang satu merujuk kepada "orang", yang lainnya merujuk kepada "nama orang":

"Sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia".

"Belum pernah Kami memberikan nama seperti itu sebelumnya".

Kedua wahyu (atau tafsiran wahyu) ini adalah "salah kaprah" semuanya! Karena memang tidak mungkin ada dua orang di dunia ini yang pernah Tuhan ciptakan serupa. Dan sebaliknya, juga tidak mungkin untuk Tuhan memberikan satu-nama yang sama kepada dua NabiNya yang berbeda! Ini akan menempatkan Allah dalam keterbatasan kreatifitas dan pilihan, sekaligus sebagai lebih kerdil daripada Adam, yang justru mampu memberikan nama yang berbeda kepada setiap binatang-binatang yang berbeda spesies-nya. Bagi Tuhan, nama yang Dia berikan kepada DiriNya atau kepada seseorang lainnya adalah merujuk kepada keseluruhan pribadi dari sosok tersebut yang selalu melekat, unik dan satu-satunya. Maka pengumumanNya seperti di atas sungguh menjadikan ayatNya sekaligus redundant, mubazir, tidak memberikan makna dan bobot pewahyuan, kecuali kenaifan yang primitif!

Sebagian Sarjana Islam merasa risi, dan mencoba mengartikan ayat itu sebagai penganugrahan nama khusus unik bagi Yahya (Yohanes). Tetapi mereka tidak mempunyai bukti apapun dari sumber Islam/Arabia sendiri. Dan ketika hendak dicarikan dari sumber Israel, maka mereka lagi-lagi terjebak karena nama tersebut ternyata bukan nama baru/unik samasekali dikalangan Israel, melainkan sudah pernah dipakai duluan oleh orang yang lebih tua dari Yohanes, yang dikonfirmasi oleh Yesus sendiri. Si Yohanes tua itu adalah ayahnya Simon Petrus sendiri! (lihat Yohanes 21:15). Alkitab mengatakan secara faktual bahwa nama Yohanes (Yahya) itu hanyalah nama asing/baru dikalangan INTERN keluarga besar Zakharia: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Tetapi agaknya kepergok disini bahwa Jibril/Muhammad salah mendengar kisah Zakaria ini (yang diucapkan secara oral berantai dari mulut kemulut), sehingga salah menangkapnya seolah-olah Tuhan-lah yang meme-teraikan sebuah nama baru yang sebelumnya tidak ada duanya di dunia! Jadi betapa gegabahnya apa yang disebut pewahyuan purna-sempurna dari seorang Jibril Quranik!



KISAH MARYAM (Surat Maryam)

Pembuktian tentang inferioritas Jibril (versus Gabriel) dalam maklumatnya kepada Maryam ini sudah dipaparkan secara telak dalam artikel yang lain dalam seri WHAT IF...

Kita tidak akan memapar ulang lagi kekonyolan maklumat Jibril disini, yang datang tidak memberi salam, dan yang pergi tidak meninggalkan pamit. Malah Jibril tidak mendeskripsikan Subyek & Obyek dari sang anak yang (akan) harus dilahirkan oleh Maryam, padahal terdapat kerisauan dan ancaman nyata atas dirinya: penistaan dan penghukuman rajam karena ia bunting tanpa suami!

Dalam kupasan ini, hanya akan ditambahkan sedikit fakta lain yang sering terlewatkan oleh ke-masa-bodoan/ketidak-kritisan Muslim. Fakta-fakta tersebut kami jejerkan di samping setiap ayat sumir (atau yang tak masuk ke akal) yang Jibril turunkan ke dalam Quran:

22. "Lalu Maryam mengandung, maka dia mengasingkan diri dengan kandungan-nya ke suatu tempat yang jauh". [Tampak Jibril/Muhammad buta geografi, dan buta akan pemeliharaan total dari Tuhan. Maryam tidak mengasingkan diri ke tempat yang asing baginya untuk bersembunyi karena merasa "berdosa" dengan beban kehamilannya yang tanpa suami. Tetapi Maria justru berjalan menuju sebuah kampung pegunungan di Yehuda yang dikenal baik olehnya, yaitu mengunjungi rumah Elisabet, istri Zakharia. Dia mau bersharing suka-cita dengan Elisabeth, karena tahu berkat Tuhan yang istimewa dilimpahkan lewat kehamilan keduanya! Maria (dan Elisabet) tidak punya beban apapun kecuali bangga dan bahagia di dalam kasih dan rencana Tuhan yang disadarinya!].

23. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan" [Maryam – perempuan pilihan Allah SWT diatas semua perempuan yang ada di dalam alam – mungkinkah bermental lebih rendah daripada orang tak beriman, sehingga memilih mati dan dilupakan karena tak tahan menderita sakit dan tidak tahu akan janji dan panggilan Tuhan? Ini bertolak belakang dengan ayat di Alkitab dimana ia justru bersyukur atas pilihan Tuhan kepada dirinya, sehingga ia berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu (Gabriel) itu."]

24-26. Maka (Jibril) menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.”

[Jibril muncul lagi? Kali ini dalam bentuk suara yang tidak menawarkan solusi yang tepat bagi Maryam. Maryam yang kesakitan dan bingung menghadapi proses melahirkan anak, dikira Jibril bahwa ia itu kelaparan dan bersedih hati, lalu ditawari makanan dan minuman dan bersenang-senang. Inilah semacam "sakit di perut, ditempeli obat di pantat". Jibril-ajaib ini sungguh tidak mempunyai sensitifitas dan kapasitas sebagai utusan Allah yang handal.]

28. "Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina". [Kesalahan yang konyol dari seorang penyampai wahyu. Dimanapun, Maryam tak pernah mempunyai Harun sebagai saudara. Jibril/Muhammad buta silsilah dan mencampur adukkan Miryam (saudara Musa dan Harun) dengan Maryam anak Eli (atau di Quran disebut anak Imran). Harun dari suku Lewi, dan Maryam dari suku Yehuda dengan beda masa ribuan tahun diantara keduanya, tidak pernah dirujukkan dalam tradisi Ibrani sebagai SAUDARA! Itu hanya kreatititas Jibril/Muhammad yang kebablasan, hasil dengar-dengaran yang diklaim sebagai wahyu!]

30-33. Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab...dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;...Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".

Pertama-tama, Jibril hanya bisa mengakali orang-orang kafir Arab, tetapi orang-orang Nasrani (dan juga Yahudi) tahu persis bahwa Yesus justru membaca Alkitab orang Yahudi di rumah-rumah ibadat (Lukas 4:16 ff). Ia tidak diberi Alkitab oleh Tuhan Elohim seperti yang dibelokkan oleh Jibril secara licik. Ia juga tidak pernah berwudhu, berkiblat, bershalat, bertakbir, bershalawat-nabi, ber-al-Fatihah ria dll. Dia bukan Islam atau Muslim seperti yang di-retorika-kan oleh Muslim yang satu dan dipercayai oleh Muslim yang lain. Bila benar, tentu sejarah menjadi lain samasekali, dan Ia pasti telah mengajarkan dan mewariskannya kepada para muridnya secara historis. Yang diajarkannya tentang "shalat" justru sangat berlawanan dengan bisikan Jibril dan ajaran Muhammad, yang akan kita sajikan di bawah nanti.

Kedua, Jibril memutar-balikkan posisi Yesus dengan beraninya. Yesus tidak pernah berdoa semoga mendapat kesejahteraan atau keselamatan untuk dirinya, seperti halnya yang dilakukan oleh Muhammad. Sebaliknya Dia-lah sumber sejahtera yang memberikan kesejahteraan yang sejati: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28). Tidak ada manusia yang berani berkata demikian di dunia yang penuh dengan derita dan air mata. Tidak ada yang mampu Tetapi Dia membuktikannya dengan selalu memberi berkat dan pemulihan kepada siapa yang dikunjungi atau yang mengunjunginya dalam kegelisahan akan kebenaran. Dia tidak datang dengan golok dan nafsu berahi untuk merampas kekayaan atau wanita cantik. Dia tidak memaksakan "agamanya" atau melaknat musuhnya, Dia datang untuk mencari yang tersesat dan yang terhilang.

Dan akhirnya, apa yang Jibril maksudkan dengan ayat yang dibisikinya atas nama Isa disini: (Peace on me) pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali? Apanya yang "Peace" bilamana semua keberadaan Isa dibingungkan oleh Jibril sendiri? Harap diingat bahwa Jibril telah mengacaukan kisah keberadaan Isa dengan seorang "Isa-Isa-an" yang katanya diserupakan oleh Allah demi menipu-daya semua orang-orang Yahudi (Sura 3:54 dalam kaitan dengan Sura 4:157). Akibatnya ayat "peace" diatas kini menjadi pusat perbantahan diantara cerdik-pandai Muslim sendiri. Ayat yang sederhana dan secara linier menggariskan waktu kehidupan Isa – lahir-mati-bangkit - kini ternyata menjadi rumit karena diinterupsi oleh penyangkalan kematian Yesus di atas kayu salib! Akibatnya garis linier itu harus dibelokkan menjadi urutan yang berbeda samasekali, padahal ia adalah garis linear hasil kata-kata ulangan Jibril yang sama yang dikenakan kepada Yahya dalam ayat 15! Ya, perhatikan belokannya yang tidak tercari dalam wahyu (alias dongeng, dan kisahnya akan berbeda lewat sumber yang berbeda pula):

* LAHIR (dengan unsur surga: Kalimat dan Roh Allah, Sura 4:171).
* TIDAK JADI MATI (tetapi diangkat ke surga, Sura 4:158).
* TURUN KE BUMI KEMBALI (sebagai Yesus Muslim, entah kapan/bagaimana).
* MENEGAKKAN KEBENARAN ALLAH (sebagai hakim yang adil, membunuh babi, menghancurkan salib, meredakan peperangan, memuat harta benda melimpah (Shahih Bukhari 4/343, 6/356). Dan Isa akan mengadili menurut hukum Islam...semua orang diharuskan untuk memeluk Islam dan tidak akan ada pilihan lain (Shahih Usmani, p.59). Rasulullah SAW bersabda, "Isa bin Maryam turun dengan membenarkan Muhammad atas agamanya, lalu membunuh Dajjal, kemudian itu tidak lain merupakan tanda hari kiamat" (Musnad Imam Ahmad, 3/13).
* WAFAT SUNGGUHAN, KEMUDIAN DIBANGKITKAN, DAN NAIK SURGA? (Sura 3:55?). Tak ada yang tahu dan berani bertanggung jawab atas Yesus Muslim yang satu ini!

Kembali kepada apa yang diajarkan Yesus Kristus (bukan Yesus Muslim) tentang "shalat" yang justru sangat berlawanan dengan bisikan Jibril dan ajaran Muhammad, baik dalam tata-cara, lokasi ruang, maupun dalam konten doa dan sikap hati. Yesus berkata:

"Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (Yohanes 4:23-24).

"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan" (Matius 6:6-7).

Doa dan penyembahan kepada Tuhan yang adalah ROH, bukan ditentukan oleh kiblat fisik, atau oleh tempat di Yerusalem atau Mekah (yang dianggap penuh berkat?), cara berulang-ulang dan bertele-tele; melainkan melakukannya dengan penuh keheningan (tidak terganggu), dalam kekudusan/kebenaran demi mempertalikan hati dan roh kita dengan Roh Tuhan! Dan doa semacam itulah yang akan sampai kepada hadiratNya untuk mendapatkan balasan-Nya! Banyak teman Muslim kurang tahu akan "rahasia" ini. Tuhan Yang Sejati pada dasarnya ingin memberi. Itu sebabnya Ia disebut Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang sayangnya tidak dijabarkan dengan cukup dalam teologi Islam. Tetapi Yesus telah memberi contohnya dengan memberi dirinya. Bahkan Dia memberi kepada yang pantas sebelum kita meminta.

Ia berkata: "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu" (Yohanes 14:27). Renungilah, dan datanglah kepadaNya!

http://www.answering-islam.org/indonesi ... ibril.html
User avatar
keeamad
 
Posts: 6944
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: Jibril Tiruannya Gabriel

Postby keeamad » Sat Mar 03, 2012 1:20 am

28. "Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina". [Kesalahan yang konyol dari seorang penyampai wahyu. Dimanapun, Maryam tak pernah mempunyai Harun sebagai saudara. Jibril/Muhammad buta silsilah dan mencampur adukkan Miryam (saudara Musa dan Harun) dengan Maryam anak Eli (atau di Quran disebut anak Imran). Harun dari suku Lewi, dan Maryam dari suku Yehuda dengan beda masa ribuan tahun diantara keduanya, tidak pernah dirujukkan dalam tradisi Ibrani sebagai SAUDARA! Itu hanya kreatititas Jibril/Muhammad yang kebablasan, hasil dengar-dengaran yang diklaim sebagai wahyu!
User avatar
keeamad
 
Posts: 6944
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: Jibril Tiruannya Gabriel

Postby keeamad » Sat Mar 03, 2012 1:37 am

JIBRIL TIRUANNYA GABRIEL ?
Semua pihak tahu bahwa dalam Islam, Jibril adalah figur sentral dari kemutlakan Quran. Kitab Suci Islam tak lain tak bukan dipercaya sebagai hasil transmisi lengkap dan sempurna dari Jibril, yang membawa pewahyuan Allah SWT kepada NabiNya yang terakhir, Muhammad. Dan Muhammad bukan siapa-siapa bila Jibril tidak mengunjunginya dari waktu kewaktu. Tidak ada Quran dan tak ada Islam tanpa oknum yang satu ini.
Jadi kenapa sampai saat ini, jati-diri Agen Pewahyu ini tidak disorot dan di-elaborasi dengan sungguh-sungguh? Aneh bahwa praktis tak ada buku serius yang membicarakan who-is-who Jibril itu. Muslim umumnya taken for granted bahwa ia pasti utusan Tuhan semesta alam. Tetapi apa yang mendasarinya?
Dalam dunia dimana kebenaran begitu sering dibajak oleh kepalsuan dan retorika, kita perlu mawas untuk sesekali mengenakan ―pembuktian-terbalik‖, yaitu suatu pengandaian negatif yang dikenakan kepada apayang selama ini kita terima baik, atau apalagi yang kita idolakan. Sebab ketika kita mengidola, disitulah kita mudah dibutakan oleh kita sendiri.
Namun ada seorang feminis Muslim liberal bernama Irshad Manji, yang merasa terpanggil mengajukan secara terbuka pertanyaan spesifik atas kemutlakan Quran:
 What if the Quran is not perfect?
 What if it‘s not a completely God-authored book?
 What if it‘s riddled with human biases?
Dan kita bisa teruskan lagi ...
 What if Quran memuat inkonsistensi pewahyuan?
 What if Quran salah-wahyu yang nyata, seperti yang dipermasalahkan terbuka tentang kesalahan geografi, sejarah, sains, anakronisme, dll?
 What if Jibril abad ke-7 itu bukan malaikat Gabriel di abad ke-satu? Melainkan Ruh yang diserupakan dengan Gabriel belaka, persis seperti halnya Isa diserupakan dengan seseorang lainnya tatkala disalib?
 What if Jibril menipu-daya Muhammad dan tidak membawakan firman Allah,melainkan membawa suara dirinya dengan mengatas-namakan Allah-allahan?
Awas, jangan kita menafikan ―what ifs‖ ini tanpa pendalaman kajian secara kritis. Alkitab dan sejarah telah menunjukkan dan mewanti-wanti tentang berkeliarannya Mesias-mesias palsu disekeliling kita (Mat.24:23-25) yang amat spesialis dalam penyesatan melebihi kejelian manusia manapun. Bahkan secara spesifik disebutkan bahwa iblis-pun bisa menyamar aspal seperti Malaikat Terang (2 Kor.11:14).
Selama ini Muslim hanya mematok label bahwa Alkitab itu wahyu-imitasi, tetapi samasekali tidak siap – bahkan tidak bersedia – untuk meneropong what if Jibril, kalau-kalau dia-lah yang imitasi, misalnya! Sesungguhnya, tanpa curiga apapun juga melainkan secara hipotetis saja, setiap kita seharusnya sejak awal memberikan probabilitas 50 –50 untuk meragukan Jibril itu, sampai dia (dan bukan manusia) membuktikan klaim dirinya Jibril, utusan dari Tuhan yang sejati! Itu saja sudah suatu kemurahan.
Afterall, siapakah didunia ini yang telah membuktikan sosok Jibril tersebut? Tidak ada kecuali
asumsi manusia belaka. Lebih jauh lagi, manusia memperluas asumsinya sampai-sampai menetapkan bahwa Jibril-Al-Quran itu sama dengan Gabriel-Alkitab, dan Jibril itu tak lain tak bukan adalah Rohulqudus!?
Spekulasi menjadi makin berani dan liar. Nyatanya tak ada Jibril yang mengklaim apa yang diklaim itu dengan bukti-bukti. SO, What if the medium of transmission is false? Mari kita simak dengan lebih cermat.
Berlainan dengan Alkitab dimana nabi-nabinya boleh bertanya balik kepada Tuhannya, Quran hanyalah monolog satu arah, yang saling mengatas-namakan tiga sumber suara yang tanpa tanda dan saksi mata: suara Muhammad yang mengatas-namakan suara Jibril dan mensumberkannya sebagai suara Allah! Ini otomatis menantang keabsahan klaim Islam bahwa Quran adalah pewahyuan yang langsung, 100% dari mulut Allah tanpa intervensi para makhluk. Justru transmisi berjenjang yang monolog dan tak bersaksi-bukti inilah yang sangat rawan terhadap pemalsuan apa saja atas nama Allahnya yang samasekali tersembunyi.
Sebagai contoh liar, tetapi benar (dalam extensi asumsi yang sedang berjalan), bahwa seorang yang mengklaim dirinya nabi bisa saja mengklaim bahwa ada empat oknum yang terlibat dalam rantai pewahyuan (bukan tiga) bagi dirinya, yaitu Allah, Jibril, Jin Islam, dan nabi. Dalam ketiadaan bukti luar dan para penyaksi, lalu siapa yang sanggup peduli akan 4 mata-rantai ini jikalau tidak ada yang peduli akan suara 3-rantai, seperti yang diklaim oleh Islam sekarang ini?
Untunglah Yesus (dan Taurat) peduli! Ia berkata: ―Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar‖ (John 5:31). Dan dalam ayat 33, Dia menunjuk Nabi Yahya antara lain sebagai penyaksinya, dan ini bahkan dibenarkan oleh Quran pula dalam Qs. 3:39. Yesus juga meneguhkan semua ini dengan sejumlah mujizat adikodrati yang hanya dimilik oleh sosok Allah sendiri, seperti membangkitkan orang mati, mendatangkan makanan dari langit, menaklukkan setan, dan badai-gelombang. Inilah kunci keabsahan suatu wahyu yang tidak dipunyai oleh Muhammad untuk menghadirkan ―Allah‖ yang diatas-namakannya.
Dalam setiap pertarungan roh -- apapun manifestasinya -- selalu terjadi pertarungan diantara dua ―Bapa‖, yaitu Bapa Sorgawi (Mat.6:9) dan ―Bapa segala dusta‖ (Yoh. 8:44). Bapa Sorgawi memerintahkan kita untuk jangan percaya begitu saja akan setiap roh, karena roh penipu terlalu licin dan mudah sekali memperdaya manusia yang kurang paham akan kasak-kusuk roh jahat. Itu sebabnya Tuhan mengharuskan kita untuk menguji kalau-kalau suatu roh itu benar datang dari Tuhan atau bukan, sebab Alkitab berkata, ―Iblispun menyamar sebagai Malaikat Terang‖ (1 Yoh.4:1, 2 Kor.11:14). Tetapi sebaliknya Al-Quran menutup pengujian ini oleh manusia dengan pendalilan bahwa itu bukan termasuk kawasan urusan mereka: ―Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit‖ (Qs.17:85). Akibatnya Ruh ―Jibril‖ tidak pernah dikenakan ujian apapun oleh Muslim, malahan Ruh ini tampaknya berusaha menutup pintu pengujian ini dengan melabelkan cap kepada si penguji sebagai ―musuh dan penghujat Allah‖ yang harus dibungkam, kalau perlu dengan kekerasan!
Roh kegelapan yang benci akan kebenaran, selalu berusaha keras (kalau mungkin dengan kekerasan) agar manusia tidak mendapat kesempatan untuk menguji dirinya yang roh. Keberadaan kita yang terbatas, apalagi berdosa, turut mengaburkan mata-batin untuk
melihat jalan yang lurus. Kita manusia tidak mungkin menandingi (dari kekuatan kita sendiri) roh-jahat yang memang spesialis dalam menyamarkan kebenaran.
Untuk mengikis keraguan terhadap apa yang dikatakannya, Ruh ini menurunkan pula ayat-ayat yang menslogankan kemutlakan Quran, khususnya satu ayat yang di-elu-elukan secara heroik: ―kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka dapati banyak pertentangan didalamnya.‖ Tetapi dengan hati yang sedikit jernih saja, kita sudah akan menemukan banyak kekeliruan dan inkonsistensi quraniah secara kasat mata. Dalam pewahyuan yang paling awal saja, Jibril telah mewahyukan penciptaan manusia dalam pelbagai versi yang saling kontradiktif, namun Muslim menelan begitu saja tanpa merasa ada yang tidak beres didalamnya.
Dimulai dengan wahyu pertama kepada Muhammad dalam surat Al-Alaq 1-5, bahwa manusia diciptakan dari ―segumpal darah‖. Bukankah pernyataan ini sudah tidak didukung secara sains?
 Maka kelak wahyu ini diperbaiki dengan versi lain, yaitu
 penciptaan-manusia dari ―setetes mani (Qs.80:19 dll).
 Kemudian diperbaiki lagi: ―Dia (manusia) diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara sulbi (tulang punggung) dan taraib (tulang dada)‖ (Qs.86: 5-7). Adakah air mani terpancar dari sumber-sumber yang absurd demikian.
Tetapi bagian dari sulbi ini masih juga tetap dikonfirmasikan pada Qs.7:172.
 Baru kemudian (mungkin setelah dengar-dengaran dari kalangan Yahudi/ Nasrani tentang penciptaan Adam/manusia) barulah Muhammad mengadopsi versi kreasi manusia yang dimulai dari ―tanah‖ (Qs.37:11).
 Dan untuk menutup kesimpang siuran pelbagai versi yang tidak akurat (ngawur) yang terlanjur diwahyukan, maka datanglah wahyu susulan yang mencoba mengharmonisasikan semua versi penciptaan, yaitu dari ―tanah, kemudian dari mani, kemudian dari segumpal darah‖ (Qs.40:67). Inipun masih dicampur-adukkan dengan macam-macam proses lain, yaitu dari sari tanah, kemudian air mani, lalu segumpal darah, yang jadi segumpal daging, yang disusul dengan proses menjadi tulang-tulang, dan selanjutnya pembalutan tulang oleh daging dst. (Qs.23: 12 dst...).
Tahapan-tahapan lepas demikian tentulah hanya ada dikhayalan dan pembelajaran Muhammad yang ummi. Dan Anda akan menyaksikan banyak contoh tahapan-tahapan sejenis untuk isu-isu lainnya, sejalan dengan makin banyaknya -- tidak mesti makin benarnya -- Muhammad dengar-dengaran informasi luar untuk diadopsikannya ke dalam Al-Quran. Sementara Dr. Bucaille, seorang pembela Islam yang gigih, bahkan merasa perlu meralat tafsiran penciptaan tersebut dengan berkata: ―Ini adalah suatu kekeliruan yang perlu kita koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap ―gumpalan darah‖ (Bible, Quran dan Sains Modern, p.236, tr.Dr. HM. Rasjidi)
User avatar
keeamad
 
Posts: 6944
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: Jibril Tiruannya Gabriel

Postby keeamad » Sat Mar 03, 2012 1:40 am

Jadi, siapa Jibril dan siapa pula Rohulqudus yang di Jibril-kan? Siapakah Jibril? Apakah ia benar Gabriel utusan Allah? Apakah ada klaimnya dan disusul dengan buktinya? Adakah ia memperkenalkan namanya kepada Muhammad secara formal, atau sedikitnya dalam kepatutan perkenalan? Tahukah Muslim kapan Jibril memperkenalkan nama dirinya menurut Quran?
Benarkah Jibril itu juga Rohulqudus, padahal Gabriel itu bukan RohKudus? Dan kenapa
wahyu Quran kepada Muhammad harus memakai agen-antara Jibril, jikalau dulu Tuhan selalu bersabda langsung dengan nabi-nabiNya?
What if Jibril berwajah ganda yang mengklaim dirinya sebagai Allah -- yang memang tidak pernah dibuktikannya? (Miryam Ash).
Orang umumnya berpendapat bahwa kesulitan untuk memahami sebuah Kitab Suci dimulai dari apa yang tercantum dalam teks Kitab Suci itu sendiri. Tentu saja itu benar secara umum. Tetapi untuk Al-Quran, ada yang lebih sulit dari pada apa-apa yang sekedar tampak tertulis, yaitu siapa-siapa yang terlibat dalam menulisnya! Apakah itu Allah, Tuhan semesta alam, ataukah itu Malaikat (Jibril?), atau Muhammad, dan para sahabatnya? Muslim percaya bahwa itu adalah Kata-kata Allah yang ditransmit-kan murni secara berantai lewat Jibril, dan dimasukkan murni ke dalam hati dan pikiran Muhammad, yang nanti menjadi juru suara murni tersebut, untuk dicatat murni oleh sahabat-sahabatnya. Empat ―murni‖ yang tidak dibuktikan sama sekali! Dengan perkataan lain, Muslim cenderung mengasumsikan kebenaran mutlak dari ke-4 oknum berbeda tadi dan ke-4 sistim transmisinya yang juga berbeda, yang kesemuanya disandarkan pada mulut Muhammad seorang!
Dalam sebuah terbitan Islami di USA dari Memphis Dawah, ada diterbitkan sebuah buku berjudul ―Who Wrote The Quran?‖ Di situ dikatakan bahwa Quran adalah mutlak berasal dari God dan Muhammad adalah utusan God. God dan Muhammad harus diterima dan dipercayai serentak atau tidak samasekali. Sebab orang tidak bisa sepihak memilih menerima pesan-pesan God tetapi menolak utusanNya, atau sebaliknya. Dikatakan lebih lanjut bahwa hanya ada 3 kelompok pendapat terhadap penulis Quran, yaitu:
1. Mereka yang berkata bahwa Muhammad-lah yang menulis Quran, tetapi pendapat ini harus dicoret dengan alasan utama bahwa Muhammad itu buta huruf.
2. Seorang lain dari Muhammad yang menulis Quran. Tetapi inipun harus disingkirkan dengan alasan, tidak terdapat pengaruh Kristen dan Yahudi terhadap orang di sekitar Muhammad.
3. Quran adalah murni firman Allah tanpa campur tangan manusia.
Karena tak mungkin lagi ada kelompok lain, maka inilah satu-satunya yang harus diadopsi, apalagi Allah menyodorkan tantangan menulis ―Surat Semisal Quran‖ yang dipercaya tidak bisa dipenuhi oleh manusia manapun (manusia ditantang Allah untuk membuat satu surat saja sebagus/seistimewa salah satu surat Quran! Bila ada yang sanggup, maka itulah bukti bahwa Quran bukan ditulis oleh Allah, melainkan manusia saja). Ini semua berasal dari satu asumsi naif, bahwa Kalimat dari manusia tidak bisa ditiru sebaik seperti Kalimat Allah! Padahal tak ada pembuktian bahwa itu adalah Kalimat Allah, kecuali dikalim oleh Muhammad...
Dengan demikian Memphis Dawah mengklaim berhasil membuktikan bahwa pendapat (1) dan (2) adalah mustahil, sehingga pendapat ke- (3) lah yang harus benar, sambil menantang orang lain membuktikan sebaliknya.
Ini adalah ―apologetika‖ dangkal yang memilih metode induksi untuk membuktikan Al-Quran sebagai Kalam Allah. Tentu saja kerangka pembuktian semacam ini adalah salah kaprah dan menggelikan. Ibarat Polisi (manusia yang terbatas) membikin list yang terbatas tentang siapa-siapa yang mungkin bisa dianggap sebagai maling, lalu mencoret siapa-siapa yang
dirasakan tidak mungkin jadi maling, dan yang tertinggal dari coretan itu pastilah MALING!
Para ilmuan, khususnya para pendidik dan psikolog akan mematahkan kerangka pembuktian semacam ini dengan sekali pukul, tanpa usah diperdebatkan lagi. Mereka akan mempertanyakan kepada Memphis Dawah apakah tulisan ajaib dari seorang kanak-kanak penyandang otis misalnya, juga akan otomatis dianggap sebagai murni firman Allah tanpa campur tangan manusia? Sebab mereka terlalu sering menjumpai anak-anak autis yang ―buta-huruf‖ ternyata malah bisa menulis sebuah surat atau sanjak dalam bahasa asing yang orang tuanya sendiri tidak kuasai dan tidak ajarkan kepada sang anak! Jelas bahwa suara (atau kelak jadi tulisan) yang dianggap tidak mungkin berasal-mula dari manusia itu tidaklah otomatis suaranya Tuhan! Suara Tuhan harus dibuktikan oleh suaraNya sendiri, yang ditampilkan dengan otoritas adikodrati yang menyertaiNya – dan bukan oleh anggapan anggapan tentang suaraNya, atau klaim yang mengatas-namakan ―suara transmisi‖ dari agen-antara tanpa tanda adikuasa.
Menguji Ruh yang Mengatas-namakan Allah
Ayat per ayat, kata per kata telah diturunkan oleh Jibril atau yang disebut Ruhulqudus (Roh Kudus) selama 23 tahun kepada Muhammad. Terhimpunlah selama itu sekitar 6240 ayat Quran. Tetapi seperti dikatakan diatas, semuanya taken for granted tanpa diuji, seolah-olah Jibril yang ruh ini memang mutlak harus datangnya dari Tuhan Semesta Alam! Tetapi Imam al-Syafi‘i cukup bijak memperingati umat Islam hal yang mungkin sebaliknya, ―Pendapat kita benar tetapi masih ada kemungkinan salah; pendapat mereka salah tetapi masih ada kemungkinan benar‖. Menggunakan metode terbalik untuk pengujian ruh adalah satu-satunya pendekatan, mengingat lihainya setiap ruh bermanifestasi dalam ―rupa dan suara Allah‖.
Irshad Manji tidak merasa bersalah menguji seseorang atau sesuatu yang dianggap sakral dengan What if? Makin dia sakral dan benar, makin dia ingin memperlihatkan dirinya sebagai sang benar, dan tidakmenghancurkan orang yang mencari kebenaran!
Ya, What if Jibril itu bukan utusan Tuhan, mengingat Jibril memang tidak membuktikan, kecuali hanya mengaku-ngaku dirinya lewat Muhammad. Dan tentu saja Muhammad tidak tahu apa-apa tentang dia, karena tidak mempunyai sumber lainnya yang bisa memberi penerangan balik (baca: check and balance) atas mahkluk ini! Jibril telah memblokir penyidikan atas dirinya dengan menyodorkan Qs.17:85. Namun, fakta dilapangan memunculkan banyak misteri yang mustahil yang harus dipertanggungjawabkan oleh Jibril.
*Misteri mustahil pertama, ajaib tetapi benar bahwa Muhammad tidak mengenal siapa dan apa nama malaikat pewahyunya selama ia berada di Mekah. Itu baru diketahui Muhammad setelah ia hijrah ke Medina! Banyak Muslim tidak tahu bahwa seluruh 85 surat yang teridentifikasi diturunkan di Mekah (surat-surat Makkiyah) tidak satupun ayatnya menyebut roh pewahyu dengan nama ―Jibril‖! Jadi selama belasan tahun, sosok yang diklaim begitu intim dengan Nabi justru namanya tersembunyi dari pengetahuan Muhammad.
Dalam kegamangan akan namanya, Muhammad selalu menyebut roh tersebut berganti-ganti dengan belasan istilah yang berbeda-beda diantara 29 kali penyebutannya diseluruh Quran. Semua sebutan yang berubah-ubah ini amat jelas menunjukkan ketidak-pastian Muhammad akan oknum agen-pewahyunya! Misalnya ada sebutan terjemahan dengan
ruh / ruh-Ku / ruh-Nya / ruh Kami
ruh dari Kami
Ruhul-qudus
Ruhul Amin
Malaikat dengan wahyu atas perintahNya / (Ruh PerintahNya)
‗ruh dengan perintah Kami‘, atau
rasul karim,
syadid al-quwa,
dzu mirrah,
―para malaikat‖ (dalam bentuk jamak) sebagai agen pewahyu.
Baru belakangan hari di Medina, 17 tahun (!) setelah Muhammad pertama kali mengenalnya di Gua Hira, barulah Jibril ―berkesempatan‖ memasukkan sebutan ruh-ruh itu dengan nama ―Jibril‖ sebanyak 3 kali, yaitu pada ayat Qs.2: 97, 98 dan 66:4 (awas, di luar ini nama Jibril hanyalah tambahan penterjemah yang tidak terdapat di bahasa aslinya).
Tentu hal ini sekaligus membelalakkan mata dan membuntukan akal yang paling sehat! Tetapi Muhammad sendiri jelas-jelas tidak mengenal dan tidak pernah menguji siapakah ruh yang mencekiknya di gua Hira. Dia bingung sendiri apakah ruh itu berasal dari Tuhan atau setan. Ruh tidak memperkenalkan namanya sendiri, juga tidak menyapa Muhammad dengan nama. Ini sangat berlainan dengan apa yang selalu dilakukan Tuhan Yahweh ketika menyapa pertama kali kepada Musa, Zakharia dan Maria, semua disapa namanya masing-masing bukti bahwa Tuhan Mahatahu.
Bahkan dalam kasus Zakharia, 4 bahkan 5 nama disebut sekaligus (termasuk nama Elia): "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. ...Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk...‖ (ayat 19).
Sebaliknya ruh di gua Hira ini hanya mencekik dan memaksa Muhammad dengan seruan ―Iqra‖ (bacalah!), lalu ―Iqra‖ lagi, dan kemudian, ―Iqra dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Iqra! Wa rabbukal akram‖. Tak ada nama siapapun yang disebut, Muhammad atau Jibril bahkan Allah! Apakah dengan perkataan ini ruh tersebut telah memastikan dirinya Jibril utusan Allah? Bukankah ruh jahat juga bisa berbuat hal yang persis sama –-mencekik dan menteror targetnya,bahkan lebih?
Teolog Islam saling bersilang pendapat, tidak tahu persis kapan Muhammad pribadi mulai memastikan bahwa Ruh tersebut adalah utusan Allah, dan terlebih-lebih kapan ia mulai disebut sebagai ―Jibril‖. Memang ada hadis (muncul hampir 200 tahun setelah Al-Quran) yang menyebutkan nama Jibril di awal kenabian Muhammad, tetapi jelas itu hanyalah rekayasa, ditulis belakangan setelah ada fakta, karena Jibril sendiri baru memperkenalkan nama dirinya setelah di Medina. Dan kembali hal itu hanya memberi kemungkinan tunggal bahwa Ruh tersebut memang tidak ingin memperkenalkan nama dan identitas dan sumber-sumbernya, kecuali membiarkan dirinya diasumsikan orang saja sebagai utusan Allah, entah dinamai Rohulqudus atau Jibril, atau Ruhul Amin, apa saja.
Hanya lewat pandangan pribadi dari sepupu Khadijah, yaitu Waraqah bin Naufal yang
Nasrani, maka ruh tersebut ditafsirkan sebagai ―Namus‖, yang berarti ―rahasia atau ―hukum‖ (HSB no.3). Tetapi, seandainya Waraqah bin Naufal cukup paham akan Injil, seharusnya ia akan menguji ruh tersebut sebelum menjawabnya secara spontan, karena itulah yang dipesankan Alkitab dalam 1Yoh.4:1, ―Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Tuhan‖. Dan jikalau Waraqah memang paham Injil maka seharusnya ia sudah tahu bahwa sosok malaikat Tuhan yang datang kepada nabi Zakharia dan Maryam adalah bernama Gabriel, dan bukan ―Namus‖ yang tidak diketahui sosok atau identitasnya! Ketika ia berspekulasi bahwa itu adalah Namus dan bukan Gabriel (sosok historis yang definitif dalam Injil), maka kita mempunyai alasan kuat untuk berkata bahwa roh tersebut memang bukan Gabriel, melainkan ―Namus‖ versi Waraqah sendiri! Sebaliknya Muhammad tetap gamang dan tidak punya konklusi, karena ruh yang misterius tersebut tetap membungkamkan namanya, sampai akhirnya Muhammad mendapatinya juga kelak dari sumber lain (bukan dari yang empunya nama), yaitu tatkala beliau berada di Medinah dan berhubungan dengan banyak orang-orang Yahudi !
*Misteri mustahil kedua, Muhammad mengakui dirinya sebagai Rasul Allah, namun dibalik itu ternyata beliau sering gamang tentang ruh. Itu diketahui dari seringnya beliau di olok-olok dan di-test oleh orang-orang Yahudi tentang hal tersebut. Untuk menutup-nutupi ketidak pastian, maka atas nama wahyu Allah, Muhammad menjawab mereka: ―Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‗Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit.‖ (Qs. 17:85).
Tetapi ayat defensif ini jelas tidak membela Nabi, karena mengimpresikan pengakuan akan kekerdilan diri beliau yang disamakan dengan orang-orang awam yang memang tidak diberi ilmu tentang ruh kecuali sedikit. Padahal justru seorang Nabi mendapat hak istimewa untuk menyedot rahasia-rahasia tentang ruh. Konten ayat ini ―menentang‖ Muhammad yang mengklaim dirinya sangat dekat dan sering bercakap-cakap dan mereview ayat-ayat bersama dengan ruh pewahyu setiap Ramadhan, sehingga Muhammad tidak punya alasan untuk sama awam tentang ruh!
Para kritisi menyimpulkan bahwa pengetahuan Muhammad yang mendadak akan nama Jibril (setelah gamang belasan tahun) berasal dari hasil interaksi Muhammad dengan orang-orang Yahudi di Medinah.
Sejarah kenabian Yahudi sudah mengenal nama malaikat Gabriel seribuan tahun sebelum Muhammad, di- zamannya Daniel, dan digaungkan lebih jauh di era Zakharia dan Maria. Disitu Gabriel memperkenal-kan nama dan jati dirinya sebagaimana yang layak, tanpa bermisteri: ―Akulah Gabriel yang melayani Tuhan dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau...‖ (Lukas 1:19). Gabriel yang sejati bukan hanya mengklaim, tetapi sekaligus juga menunjukkan otoritas dan berita kebenaran yang dibawanya dari Tuhannya, sehingga tak ada kerancuan apakah ini ruh jahat atau utusan Tuhan.
Pertama, seperti yang telah disebut dimuka, Gabriel datang dan tahu dan memanggil nama Zakharis. Ia menyampaikan nubuat ilahi tentang kehamilan isteri Zakharia yang mandul. Dan ketika Zakharia tidak percaya, maka Gabriel-pun meneguhkan nubuat-nya itu dengan kuasa mujizat langsung yang membisukan Zakharia hingga kegenapan nubuat tersebut terjadi, yaitu pada hari kelahiran anaknya!
Beberapa ilmuwan sependapat bahwa Muhammad yang tadinya dibingungkan oleh ruh
tersebut mungkin saja memberikan nama tersendiri kepada Ruh, seperti halnya yang ia lakukan pada nama ―Yesus‖ yang diganti jadi ―Isa‖ yang tanpa makna dan otorisasi. Namun akal sehatnya berasumsi bahwa kedatangan seorang nabi besar berikutnya - yaitu Muhammad sendiri – hanyalah pantas bila datang dengan melalui jalur panggilan yang sama dengan Yahya dan Isa, yaitu Jibril. Alhasil nama ―Jibril‖ inilah yang kelak diklaim dan disandarkan Muhammad kepada Gabriel sebagai agen pewahyu yang sama untuk abad ke-1 dan ke-7, tanpa bukti apapun. Jenis sandaran aspal (asli tapi palsu) yang tanpa modal seperti itu -- baik kuasa mujizat maupun nubuat -- banyak bertebaran di Quran, dan mudah sekali diperlihatkan sepanjang kita tidak mati-rasa terhadap kemutlakan.
Beberapa periwayatan dalam Hadis telah mendongengkan seolah Jibril sudah mengintroduksi jati-dirinya kepada Muhammad, yaitu di saat Muhammad mau membunuh diri ketika beliau sedang kebingungan mencernakan wahyu paling awal yang diterimanya. Diriwayatkan, Jibril berkata: ―Wahai Muhammad, akulah Jibril, dan engkaulah utusan Allah‖(Ibn.Hisham, The Life of Muhammad, vol.I/ 69). Periwayatan yang datang ratusan tahun setelah Quran selesai dikanonisasi ini tentu bisa menyisipkan nama ―Jibril‖ dalam narasinya sebagai bagian dari pencocokan kemudian. Seruan Jibril demikian (untuk memperkenalkan diri) seharusnya datang pada saat pertama kali mereka bertemu, dan pasti bukan belakangan setelah Muhammad terteror dahsyat dan terus kebingungan hingga mau bunuh diri berkali-kali! (Sirât Rasûl Allâh, p.106/153, tr. A. Guillaume). Selain itu, jikalau hadis tersebut benar, tentulah nama Jibril sudah harus banyak bermunculan dalam surat-surat Makkiyah (wahyu yang diturunkan di Mekah) dan bukan memakai sebutan ―ruh‖ ini dan itu sepanjang belasan tahun.
*Misteri mustahil ketiga, apakah benar Jibril itu adalah identik dengan Roh Kudus? Bila Muhammad tidak dikaruniai ilmu tentang ruh, tentu para pengikutnya akan sama halnya. Maka dalam kegamangan akan ruh, para ahli Islam nekad melakukan penafsiran ―potong kompas‖ yang over- simplistis dengan menyamakan kedua oknum ini. Tetapi apakah Quran memang pernah menyamakan keduanya ? Tidak ada! Kita bisa ditipu oleh retorika. Sedikitnya ada 3 bukti keras bahwa Jibril itu bukan sosoknya Roh Kudus.
(I).Tak ada konfirmasi dari Allah, sementara pakar Islam yang menafsirkannya sama semata-mata mendalilkan salah satu fungsi yang dikerjakan oleh kedua ruh itu terkesan sama! Tetapi dimanapun, Jibril tidak pernah mengatakan dirinya adalah Roh Kudus, dan Roh Kudus tidak pernah mengklaim dirinya Jibril! Seluruh Quran hanya memuat 3 ayat tentang ―Jibril‖, dan 4 ayat tentang ―Rulhul-qudus‖. Maka kita mudah menghadapkan kedua kelompok ayat itu sesamanya untuk men-check kebenarannya, yaitu Qs.2: 97, 98, 66:4 versus 2:87, 253; 5:110; 16:102. Dan ternyata dalam 7 ayat ini Allah samasekali tidak mengidentikkan sosok Jibril dengan Rohulqudus. Muslim menyamakan Rohulqudus dengan Jibril semata-mata karena keduanya dapat ―menurunkan wahyu‖ Allah (sebagai agen pewahyu). Tetapi mereka lupa, bahwa aktivitas tersebut hanyalah salah satu fungsi ad-hoc saja dari pelbagai peran ruh. Bila tidak demikian pastilah Jibril tidak punya kerja apa-apa lagi alias menganggur, ketika dunia kosong dari pewahyuan. Bahkan aktifitas itupun termasuk peran Tuhan dan setan, dimana Tuhan bisa langsung berwahyu, sementara setan bisa menyelinapkan ayat-ayat setannya! (Qs22:52-53). Toh keduanya tidak disebut ―Jibril‖.
(II). Roh Kudus tidak pernah membahasakan dirinya Jibril, dan Jibril tidak pernah
membahasakan dirinya Rohulqudus Dalam Quran, sosok Ruhulqudus hanya disangkutkan kepada Isa Al-Masih untuk memperkuat dirinya melakukan kuasa mujizat, dan ini tidak pernah disangkutkan kepada sosok lainnya manapun termasuk Muhammad. Isa juga tidak pernah dikaitkan dengan ―Jibril‖ yang satu ini baik dalam pewahyuan maupun dalam pemujizatan. Padahal dalam tradisi Islami, Jibril senantiasa disangkutkan kepada Muhammad untuk setiap urusan pewahyuan, namun tak pernah ada transmisi kuasa mujizat! Jadi, dapatkah akal sehat kita memaksakan kedua sosok itu adalah identik?
Sebenarnya, untuk mencari tahu kaitan urusan dengan Ruh, Muhammad telah diberi 2 rumusan yang sudah diayatkan dalam Quran, yaitu bahwa Ruh itu urusan Tuhan, dan jikalau ada keraguan akan wahyu agar perlu dirujukkan kepada Alkitab (QS. 17:85, dan 10:94). Jadi andaikata pakar-pakar ini mau sedikit rendah hati untuk menerima rumusan/ peringatan demikian, mereka tidak akan simpang-siur menafsirkan ruh yang bukan dirinya.
Melainkan akan mendapati dalam Alkitab bahwa Gabriel sudah menyatakan dirinya secara implikatif bahwa is bukan sosoknya Roh Kudus. Lihat bagaimana Gabriel menyampaikan maklumat kehamilan kepada perawan Maria muka per muka:
―Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau ...‖.
Ia samasekali tidak berkata dalam tata kata benda pertama:
―Aku, (Roh Kudus) akan turun atasmu...‖
Alkitab memberitakan secara lurus bahwa Roh Kudus bukan mahluk ciptaan. Ia adalah oknum integral keilahian Tuhan yang ada sejak semula bersatu dan bersama Tuhan (lihat Kej. 1:1-2). Ia tri-senyawa yang keluar dari Bapa, sama seperti Firman yang berasal dari atas, juga keluar dari Bapa, nuzul ke dunia menjadi ―Kalimatullah‖ dalam sosok Yesus (Yoh.15:26, 8:42, 1:1,14). Roh Kudus itulah Penolong yang menyertai umatNya sampai kekal dengan sifat kemaha-hadiran yang tidak dipunyai oleh Gabriel sebagai mahluk. Daud berkata dalam kitab Zabur/ Mazmur:
―Ke mana aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau‖ (Mzm.139:7-8).
Dan awas, Roh Kudus ini memiliki satu hak yang paling eksklusif melekat kepada diriNya, yaitu ―Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.
Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia (Yesus), ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak (Yoh.12:31-32). Jelas dan pasti bahwa hak dahsyat atas penghujatan ini tidak mungkin diberikan kepada seorang mahluk, sekalipun Gabriel, apalagi Jibril yang belum pernah diberi kuasa adikodrati apapun oleh Allah!
(III). Yang satu Maha-Ada, yang lain hanya ada disatu tempat pada satu waktu
Secara sederhana saja tanpa usah berdebat -- artinya menuruti saja versi Islam-- kita tahu bahwa dizaman Isa Al-Masih terdapat banyak nabi/ nabiah yang masing-masing juga dikunjungi atau diberi wahyu oleh ―Jibril‖, termasuk Zakharia, Yahya, Maryam dan Isa. Jikalau Rohulqudus itu benar seorang Jibril ciptaan Allah, maka pastilah ia tidak bisa berada
sekaligus mendampingi ketiga atau empat nabi/ nabiah itu karena ia tidak bersifat Maha-Ada yang hanya dipunyai oleh Allah. Namun ―Jibril‖ Islam yang satu ini, yang mengambil jati-diri Rohulqudus bagi dirinya, ternyata berdiri diatas ruang dan waktu.
1. Isa yang dikandung dari Kalimat dan Roh Allah dan senantiasa diperkuat oleh Rohulqudus/ Jibril (Qs 4:171; 5:110).
2. Yahya yang sedang menyampaikan wahyu dakwah bersamaan dengan Isa, tentu diwahyui serentak oleh Roh Jibril.
3. Maryam ketika sedang mengandung Isa dalam rahimnya (keduanya disertai Roh Allah/ Rohulqudus/ Jibril), ia masih dikunjungi oleh seorang ―Jibril lain‖ yang berseru kepadanya dari luar rahimnya, yaitu ―dari tempat yang rendah‖ (QS.19:24).
Jadi Jibril mana lagikah yang ada didalam dan diluar rahim Maryam, dan sekaligus ada dalam Isa dan juga Yahya? Dapatkah mahluk roh yang satu ini maha-ada diberbagai tempat pada waktu yang sama? Itu bisa-bisa menghujat Allah dengan mempertukarkan RohNya Allah yang ilahiah menjadi mahluk Jibril!.
*Misteri mustahil keempat, apakah Jibril Quranic itu sama dengan Gabriel Alkitab?
Samasekali tidak! Kalau Gabriel diabad kuno bisa berkata jelas-jelas kepada Zakharia, "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu‖, kenapa Jibril (yang dianggap Gabriel yang lebih modern diabad ke-7) tidak melakukan hal yang lebih jelas/ baik kepada ―Nabi Agung Terakhir‖ yang dikunjunginya di gua Hira?
Sudah diperlihatkan bahwa ruh yang mengunjungi Zakharia dan Maryam itu tidak pernah disebut ―Jibril‖ dalam Quran. Sama halnya bahwa nama tersebut juga tidak dimunculkan kepada Muhammad ketika diturunkan wahyu-wahyu awal 6 abad kemudian. Ini keanehan besar, bahwa sebuah sosok ternama tidak memperkenalkan dan diperkenalkan. Tetapi tatkala nama tersebut dimunculkan setelah melewati belasan tahun kemudian.Allah bukannya menampilkan ―Jibril‖ itu dalam tatacara perkenalan atau penyapaan, melainkan justru dalam suasana memberi peringatan keras kepada kedua isteri Muhammad (Aisyah dan Hafsah) yang ―berkomplot‖ melawan suaminya:
―Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula‖ (Qs.66:4).
Yang paling kacau dan fatal dari kisah Jibril ini adalah bahwa ruh ini (Jibril) kepergok merubah ―wahyunya‖ tentang sosok dirinya! Tadinya dia mengatakan dirinya sebagai ruh tunggal yang menampakkan diri sebagai seorang laki-laki sempurna dihadapan Maryam (Qs.19:17). Tetapi di Medinah, dia mengubahkannya menjadi para malaikat jamak! (angels, lihat Qs.3:45). Gabriel Alkitab tidak kekacauan menyatakan siapa dirinya. Tak akan merubah-rubah dirinya kepada Maria. Jelas Jibril hanyalah asumsi yang sangat tak bertanggung jawab (yang dimutlakkan oleh para- pakar Islam) yang harus disamakan dengan Gabriel Alkitab. Dimanapun, Anda tidak akan menjumpai kesamaan keduanya dalam sifat-sifat dasar, gaya, dan karakter hakikinya, dan isi ―wahyunya‖!
*Misteri mustahil kelima, Perhatikan bagaimana Allah telah membatasi Muhammad untuk
mengenal affair dari ruh – ―Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit‖. Ini dinyatakan Allah dalam Al-Quran via Jibril, sehingga pembatasan demikian mustahil dimentahkan oleh kisah-kisah didalam Hadis yang ternyata begitu banyak mendongengkan pengetahuan Muhammad tentang ruh Jibril. Jikalau ada pembatasan demikian, seharusnya Muslim sadar baengkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
29. Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
30. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Tuhan.
31. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
32. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Tuhan Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Elohim akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan.
36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
37 Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil."
38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
KOMENTAR KRITIS TERHADAP PENDEKATAN “JIBRIL”
Mari kita kaji dengan kritis bagaimana perbandingan mutu, kelayakan, kredibilitas, kesempurnaan dan otoritas periwayatan dari kedua agen pewahyuan (Jibril vs. Gabriel) yang dimaklumatkan kepada pihak si penerima wahyu (Maryam Quranik vs. Maria Injili). Kita mulai dengan pendekatan Jibril.
(1) Muhammad tidak paham tentang geografi, dan Jibril tidak menuntunnya keluar dari kekaburan-lokasi dan kekeliruan anakronisme. Banyak risalah Quran disodorkan secara kabur, hanya sepenggalan, tidak nyambung, bahkan sampai menggeser setting kejadian tanpa dukungan.
Keanehan segera terlihat, misalnya mulai pada awal ayat 16 (terj. berturut-turut dari Disbintalad dan Depag):
―Dan ingatlah berita Maryam dalam Kitab (Al Quran). Ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya pada suatu tempat di sebelah timur‖. ―Dan ceritakanlah (kisah) Maryam didalam Al Quran, yaitu ketika ia....(dst).‖
Disini tampak para penterjemah berupaya menggeserkan berita ini dengan memasukkan kata ―Al-Quran‖ sehingga diarahkan artinya menjadi kisah Maryam didalam Al-Quran, padahal kisah/ berita tersebut jelas terambil dari Alkitab (the Scripture, the Book Mary, the Book the story of Mary) atau ―Kitab Maryam‖ menurut teks aslinya. Istilah wahyunya sendiri sudah membingungkan, dan tafsirannya sengaja diplintir waktunya, digeser dari petikan kisah di abad kesatu menjadi wahyu baru dalam Quran abad ke-7. Bagaimana mungkin mereka memunculkan kata ―Al Quran‖ yang tidak ada pada aslinya, lalu memaksakan pelarian maknanya kesitu? Rupa-rupanya para penterjemah ini khawatir bilamana wahyu ―Jibril‖ itu dihadapkan vis-a vis dengan Injil, karena perbandingan demikian sungguh tidak menguntungkan! Lihat serentetan kekaburan yang tidak masuk akal: *Kemanakah misalnya Maryam pergi (tempat disebelah timur, tanpa nama), dan untuk tujuan apa maka keputusan sebesar itu diambilnya? *Kenapa ia minggat mengasingkan diri dari keluarganya, dan mengadakan pembatas dari keluarganya. Agaknya ada masalah cekcok dengan keluarga? Atau dengan Zakharia?
Tentu nabi Zakharia dan isterinya tidak bermasalah dengan Maryam sehingga dia perlu mengasingkan dan mengenakan pembatas keluarga, bukan? *Sebagai anak dara yang saleh, kenapa ia boleh minggat sendirian tanpa muhrimnya. Apakah itu dibolehkan keluarga besarnya dan Zakharia, padahal dikatakan bahwa Allah menjadikan Zakaria sebagai pemelihara Maryam dalam mihrab?! (Qs.3: 37). Karena kosong dari pewahyuan, muncullah pertentangan yang sia-sia diantara ulama Islam. Ada yang mendongeng bahwa Maryam mau retreat rohani keluar kota, dan ada yang memastikan Maryam mau mencuci dirinya kesebuah mata-air disebelah timur, karena risih mendapati dirinya dikotori darah menstruasi yang pertama kali. Semuanya tidak berguna sebagai wahyu mulia yang mencerahkan. Sebaliknya Injil (yang dianggap harus dikoreksi itu) malah menjelaskan dengan sempurna bahwa Maria bukan pergi keluar kota kearah timur antah berantah, melainkan tinggal dirumahnya
(!) dikota (!) yaitu Nazaret (!), ditanah Galilea!
Pengaburan lokasi dengan dalil ―tempat disebelah timur‖ (yang diulangi lagi pada ayat 22 dengan istilah mirip ―tempat yang jauh‖), hanya menunjukkan bahwa wahyunya tidak kredibel, dan Muhammad tidak paham geografi, dan Allah yang Mahatahu membiarkan umatNya mencari dalam kegelapan. Selain itu, dengan ―mewahyukan‖ bahwa Zakharia dijadikan Allah sebagai pemelihara Maryam dalam mihrab, maka teman Muslim menangkap seolah Zakharia dan Maryam itu tinggal sekota di Yerusalem, selalu bertemu di mihrab Baitul Magdis. Tidak! Maryam anak desa, tidak tinggal dikota besar, melainkan di Nazaret bersama dengan keluarganya dimana ia sedang bertunangan dengan Yusuf dikota yang sama. Sedangkan Zakharia dan isterinya Elisabet tinggal dikota lain didaerah pegunungan Yudea, dan Maria yang justru segera melakukan kunjungan kesana (Luk.1:39 dll). Bagaimana mungkin Zakharia menjadi pemelihara atau penafkah bagi Maria?
(2) Siapa “Ruh” Allah yang satu ini? Kenapa ia harus tampil dengan cara meresahkan dan menakutkan orang kudus yang dilawatinya? Berkenaan dengan hakekat Ruh pewahyu ini, rupa-rupanya pewahyuan awal kepada Muhammad sempat kacau. Sebab ketika berbicara dengan Maryam, maka Jibril-lah yang diutus Allah sebagai komunikator-antara (ayat 17), namun ketika berbicara dengan Zakharia maka Allah sendirilah yang berbicara langsung! (lihat ayat 1s/d 15). Ini kesalahan yang tak terperbaiki, mengingat Maryam dimata Allah adalah nabiah dan Ayatollah suci, mendapat panggilan dan posisi tertinggi diantara semua wanita (Qs.3:42), ketimbang Zakharia yang hanya imam/ nabi biasa. Kelak setelah hampir satu dekade berlalu, kesalahan ini agaknya baru disadari Muhammad sehingga oknum yang berdialog dengan Zakhariapun diamdiam diubahnya, dari Allah menjadi ruh malaikat pula, lihat surat Ali Imran 39: ―Maka malaikat (Jibril) menyeru Zakharia...‖. Kredibilitas wahyu tidak sama dengan bunglon-wahyu yang selalu mengubah dirinya atas alasan wahyu-susulan. Agar tidak melebar persoalannya, kita teruskan saja dulu apa adanya: ―Ruh‖Allah itu dikatakan merubah dirinya menjadi laki-laki seutuhnya, dan ini sempat membuat Maryam was-was dan takut kalau-kalau lelaki ini bisa menjahatinya dikala ia sendirian diperjalanan. Ketakutan ini tentu wajar bagi perawan Maryam yang sendirian ditempat asing, namun hal ini terlambat diantisipasi oleh ruh yang melawatinya, karena laki-laki yang muncul secara mendadak itu tidak terlebih dahulu membuka salamperjumpaan menurut tatakrama Yahudi, juga tidak menyampaikan salamsurgawi. Ruh itu bahkan tidak memanggil nama Maryam untuk suatu komunikasi yang seharusnya wajar dan penuh kedekatan bagi orang yang memang didekatkan Allah. Ruh juga tidak berpesan agar Maryam jangan takut. Akibatnya Maryam jadi sungguh ketakutan, lalu segera (mendahului antisipasi ruh) mencari perlindungan Allah yang Maha Pemurah (ay.18).
Sebaliknya Gabriel di Alkitab langsung memberikan salam damai kepada Maria menurut adat Yahudi. Bahkan Gabriel menyampaikan salam perlindungan dan berkat sorgawi dalam kalimat ―Tuhan menyertai engkau‖, dan bukan membiarkan Maria sendiri yang mencari perlindungan dalam ketakutannya. Sekalipun Maria tegang dan kaget, itu sama sekali bukan karena ancaman dari keberadaan sosok Gabriel yang mungkin bakal menjahatinya, melainkan ia was-was terhadap isi salam yang terlalu dahsyat dan ajaib, yang tak sanggup dicernakannya sendiri (resapkan ayat 29). Tetapi tanpa menunggu lebih jauh, Gabriel segera menyusulkan sapaan peneduh dengan memanggil namanya secara tepat tanda ia tahu akan yang ghaib: ―Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh...‖. Ini meneduhkan dan
meyakinkan Maria bahwa ia beroleh kasih karunia Tuhan. Perhatikan bahsan-kejelasan, tanpa peyakinan akan wujud kasih Tuhan? Itu lebih dekat kepada AIB dan KUTUK.‖
Kelak setelah bertahun-tahun berlalu, informasi maha-penting yang masih ketinggalan untuk diwahyukan itu -- yaitu tentang nama dan proses kehamilan perawan -- baru dirasakan sebagai sesuatu yang perlu disusulkan oleh Muhammad di Medinah dalam surat yang lain lagi (Qs.3:45). Cicilan aneh yang sangat terlambat ini menguatkan dugaan bahwa Nabi butuh waktu untuk familiarisasi ―kristologi‖ dan mencari informasi dengar-dengaran lebih jauh sebelum mengisi wahyu susulan. Seluruh pembicaraan Ruh Allah ini tidak tampak menghasilkan keyakinan bagi Maryam.. Tidak tampak Maryam bersyukur atas pilihan Tuhan keatas dirinya untuk melahirkan sang Anak. Anda bayangkan bila Anda sendiri yang jadi Maryam disaat itu!
KOMENTAR KRITIS TERHADAP PENDEKATAN GABRIEL
(6) Siapakah Anak yang harus dilahirkan dari seorang bunda perawan? Untuk apa kandungan/ kelahiran Anak Ajaib ini harus terjadi dalam rahimnya seorang dara-perawan, dan tidak cukup dari hubungan suami isteri yang saleh saja? Kalau hanya untuk melahirkan laki-laki yang saleh dan tanda bagi manusia (seperti yang dimaksudkan Quran), kalau hanya itu saja -- tentu bayi Isa tidak usah khusus dilahirkan sebagai tambahan terhadap kelahiran Yahya yang memang sudah saleh dan bertanda ajaib dengan menerobos kemandulan si ibu tua. Bukankah itu sudah cukup untuk menjalani peran dan fungsi-fungsi kenabian pada masa itu? Namun ternyata peran Yesus tidak bisa diwakilkan kepada Yahya, atau Muhammad, atau siapapun manusia lainnya. Sebab ternyata Gabriel menyebut status sang Anak ini jauh melebihi anak manusia manapun.
Sebab Dialah yang disebutnya: Yesus yang berarti Yahweh Penyelamat -berasal dari kata Aramik ―Yeshua‖, dalam lafal Arab menjadi Yesu/ Yasu, dalam lafal Greeka jadi ―Iesous‖ dan Indonesia Yesus. Orang Kristen Arab menyebutnya Yasu‘ al-Masih, dan itulah Anak Tuhan Yang Maha Tinggi, Kandungan dari Roh Kudus, Mesias diatas tahta Daud, Raja atas kaum keturunan Yakub, dan Kerajaan Sang Anak yang tak berkesudahan! Anak semacam itulah yang disebutkan oleh Gabriel sampai dua kali berturutturut sebagai Anak Elohim (ayat 32 dan 35) yang telah ada sejak awal mula, datang dan keluar dari Elohim (Yoh 8:42) untuk ―dilahirkan‖ kebumi ini. Itu adalah konfirmasi yang paling jelas akan identitas dan peran keilahian sang Anak sebagai ―Putera Pewaris‖, yang sekaligus menafikan tuduhan islamik: ―Allah beranak‖ hasil kedagingan biologis! Kita tahu, bahwa sekali Tuhan sendiri yang memberi nama bagi seseorang, maka Tuhan tidak bermain-main dengan nama itu. Itu bukan nama sekedar sambil lalu atau semacam harapan-harapan yang diseyogyakan Tuhan mudah-
mudahan akan terjadi bagi sang anak, melainkan itulah hakekat, keberadaan dan fungsi sang anak untuk apa dia dinamakan! Ya, Yesus adalah Yahweh yang menyelamatkan! Itu adalah nama ilahi untuk sosok Ilahi.
Kelak Yesus mengkonfirmasikan nama Ilahi ini sampai dua kali pula ketika Ia berkata kepada Bapa sorgawi: ―... yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku‖ (Yoh.17 ayat 11 dan 12). Jadi bukan saja sekedar nama yang Tuhan berikan kepada Yesus, melainkan itu juga adalah nama keilahian! Tetapi sungguh memprihatinkan bahwa Nama dengan makna dahsyat ―Yahweh menyelamatkan‖, itu dihilangkan dan diganti menjadi ISA yang kosong makna. Jibril dan Muhammad jelas bukan pemilik atau penguasa yang berotoritas atas nama tersebut, jadi darimana beliau bisa berhak ―me-nasakh-kan‖ (menghapus dan menggantikannya, Qs.2:106) nama keilahian Yesus yang begitu dahsyat itu?! Imam Al-Gazali berkata bahwa, ―nama adalah sebuah kata yang menunjukkan .... kalau sesuatu yang dinamai tidak dipahami dari namanya, maka hal itu tentu bukan namanya‖ (Al-Asma‘ Al-husna, p.27).
Maka Muhammad dan semua pengikutnya, termasuk Al-Gazali, seharusnya mempunyai kewajiban moral untuk menjelaskan kepada dunia, kenapa nama YESUS – nama diatas segala nama -- dihapus dan digantikan dengan nama ISA yang samasekali tidak menunjukkan kemuliaan, tidak ada kebesaran, tidak dipahami, dan tidak menunjukkan apapun itu? Maka dal
User avatar
keeamad
 
Posts: 6944
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: Jibril Tiruannya Gabriel

Postby keeamad » Sat Mar 03, 2012 1:45 am

*Misteri mustahil pertama, ajaib tetapi benar bahwa Muhammad tidak mengenal siapa dan apa nama malaikat pewahyunya selama ia berada di Mekah. Itu baru diketahui Muhammad setelah ia hijrah ke Medina! Banyak Muslim tidak tahu bahwa seluruh 85 surat yang teridentifikasi diturunkan di Mekah (surat-surat Makkiyah) tidak satupun ayatnya menyebut roh pewahyu dengan nama ―Jibril‖! Jadi selama belasan tahun, sosok yang diklaim begitu intim dengan Nabi justru namanya tersembunyi dari pengetahuan Muhammad.

Dalam kegamangan akan namanya, Muhammad selalu menyebut roh tersebut berganti-ganti dengan belasan istilah yang berbeda-beda diantara 29 kali penyebutannya diseluruh Quran. Semua sebutan yang berubah-ubah ini amat jelas menunjukkan ketidak-pastian Muhammad akan oknum agen-pewahyunya! Misalnya ada sebutan terjemahan dengan
ruh / ruh-Ku / ruh-Nya / ruh Kami
ruh dari Kami
Ruhul-qudus
Ruhul Amin
Malaikat dengan wahyu atas perintahNya / (Ruh PerintahNya)
‗ruh dengan perintah Kami‘, atau
rasul karim,
syadid al-quwa,
dzu mirrah,
―para malaikat‖ (dalam bentuk jamak) sebagai agen pewahyu.

Baru belakangan hari di Medina, 17 tahun (!) setelah Muhammad pertama kali mengenalnya di Gua Hira, barulah Jibril ―berkesempatan‖ memasukkan sebutan ruh-ruh itu dengan nama ―Jibril‖ sebanyak 3 kali, yaitu pada ayat Qs.2: 97, 98 dan 66:4 (awas, di luar ini nama Jibril hanyalah tambahan penterjemah yang tidak terdapat di bahasa aslinya).


Tentu hal ini sekaligus membelalakkan mata dan membuntukan akal yang paling sehat! Tetapi Muhammad sendiri jelas-jelas tidak mengenal dan tidak pernah menguji siapakah ruh yang mencekiknya di gua Hira. Dia bingung sendiri apakah ruh itu berasal dari Tuhan atau setan. Ruh tidak memperkenalkan namanya sendiri, juga tidak menyapa Muhammad dengan nama. Ini sangat berlainan dengan apa yang selalu dilakukan Tuhan Yahweh ketika menyapa pertama kali kepada Musa, Zakharia dan Maria, semua disapa namanya masing-masing bukti bahwa Tuhan Mahatahu.

Bahkan dalam kasus Zakharia, 4 bahkan 5 nama disebut sekaligus (termasuk nama Elia): "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. ...Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk...‖ (ayat 19).

Sebaliknya ruh di gua Hira ini hanya mencekik dan memaksa Muhammad dengan seruan ―Iqra‖ (bacalah!), lalu ―Iqra‖ lagi, dan kemudian, ―Iqra dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Iqra! Wa rabbukal akram‖. Tak ada nama siapapun yang disebut, Muhammad atau Jibril bahkan Allah! Apakah dengan perkataan ini ruh tersebut telah memastikan dirinya Jibril utusan Allah? Bukankah ruh jahat juga bisa berbuat hal yang persis sama –-mencekik dan menteror targetnya,bahkan lebih?

Teolog Islam saling bersilang pendapat, tidak tahu persis kapan Muhammad pribadi mulai memastikan bahwa Ruh tersebut adalah utusan Allah, dan terlebih-lebih kapan ia mulai disebut sebagai ―Jibril‖.
Last edited by keeamad on Sat Mar 03, 2012 11:25 am, edited 1 time in total.
User avatar
keeamad
 
Posts: 6944
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm



Return to Pandangan Berlawanan Terhadap Islam



Who is online

Users browsing this forum: No registered users