Page 1 of 1

NIGER: Perbudakan Masih Berlangsung

PostPosted: Wed Aug 29, 2007 7:47 pm
by ali5196
NIGER dan Korban2 Perdagangan Budak yang Kuno dan Kejam
Independent, The (London),
Dec 29, 2006
Oleh Leonard Doyle
http://findarticles.com/p/articles/mi_q ... 92856/pg_1

PostPosted: Tue Nov 13, 2007 7:17 am
by pod-rock
PERBUDAKAN: Pemerintah bilang perbudakan sudah tidak ada lagi, para budak tidak setuju
Rabu, 29 August 2007

Image
Tafoussoussat Machar (wanita) dan anaknya yang berumur 13 tahun lari dari perbudakan.

Image

NIAMEY, 24 June 2005 (IRIN)
Aktivis anti perbudakan menduga sekitar 43 ribu hingga 800 ribu orang hidup dalam perbudakan di Nigeria, kebanyakan diperbudak dikalangan komunitas Tuareg dan Arab yang tinggal di pinggiran selatan gurun sahara.

Pemerintah akhir2 ini memperketat undang2 utk mencabut perlindungan hukum dan menghukum perbudakan, yang dulunya pernah diterima sebagai tradisi dimasyarakat lokal. Hal ini menuntut agar perbudakan di negara2 Afrika Barat yang luas dimusnahkan sama sekali tapi sekaligus hal ini juga jadi hal sensitif, jika dikatakan bahwa ternyata masih ada perbudakan.

Tgl 28 April contohnya, pemerintah menahan dua aktivis anti perbudakan yang menyiapkan upacara utk memperingati bebasnya 7 ribu budak, dengan tuduhan mereka mencoba menggelapkan uang organisasi LSM sebanyak 4.3 juta dollar.

Pemimpin organisasi anti perbudakan Nigeria ini, Timidria, diam-diam dilepaskan enam minggu kemudian, dengan jaminan.

Orang yang menyebut diri mereka bekas budak bisa ditemukan dimana-mana, di Nigeria. Dan mereka berbicara secara terbuka tentang teman dan kerabat mereka yang masih disiksa secara seksual, dipukuli dan dipekerjakan tanpa bayaran.

Pd sebuah dusun kecil Kawassa, sebuah dusun dengan gubuk2 jerami dibarat daya Nigeria, Tafoussoussat Machar menatap bukit pasir dekatnya dan mengenang 30 tahun pertama hidupnya yang dihabiskan sebagai budak.

“Pagi2 sekali aku memukuli millet (semacam padi), ke sumur, mengambil kayu, memasak, kembali ke sumur dan malamnya aku memukul2 millet lagi, dan aku tak pernah dibayar,” katanya.

“Jika aku tidak patuh aku dipukul,” Machar menambahkan, bicara dalam bahasa Tamasheq.
“Tak terpikir suatu hari aku bakal bebas.”

Lahir dalam perbudakan seperti orang tuanya, pada sebuah keluarga Tuareg di daerah Tahoua, Barat daya nigeria, dia dijual pada umur 20 tahun ke Tuannya yang kedua dengan harga 100.000 CFA Francs (200 dollar US).

Machar bilang, tuan barunya ini, yang sudah punya istri resmi empat orang, suka memakainya sebagai pemuas seks.

Banyak lelaki di Nigeria yang patuh pada Islam punya istri empat, seperti yang diijinkan Quran, tapi juga diijinkan mengambil selir/budak sebagai pemuas kebutuhan seks mereka.

Siksaan Machar berakhir empat tahun lalu. Dia ditemukan oleh pamannya, Ilibad Bilal, yang mengancam tuan barunya itu dengan tindakan hukum jika tidak mau melepaskan Machar.

Dia memutuskan membebaskan Machar. (biar dapat pahala Auloh, penerjemah.)

“Dulu aku juga tinggal sebagai budak dibawah Tuanku orang Tuareg, bersama dengan orang tuaku juga, tapi aku lari,” kata sipaman, kepalanya dililit oleh turban putih seperti yang biasa dipakai orang Tuareg daerah itu. “Setelah aku bertemu dengan orang dari Timidria, aku memutuskan utk menolong ponakanku ini.”

Perbudakan adalah praktek leluhur

Tapi Bilal tidak hanya menolong ponakannya saja. Dia juga menyelamatkan anak ponakannya itu, yang berayahkan tuan Machar yang pertama, setelah mengancam situan kesatu itu dengan ancaman hukum.

Sekarang, Bilal adalah wakil Timidria utk Kawassa, sebuah pedusunan berisi 160 orang dekan kota Tahoua, 500 km timur laut Kota Niamey.

Ketika ditanya apa perbudakan masih ada di Nigeria, Machar menjawab: “TENTU SAJA!!! Ibuku masih disana jadi budak.”

Image
Dua anak perempuan, diidentifikasi sebagai budak oleh Timidria

Perbudakan adalah kebiasaan lama/tua di Nigeria, dipraktekan oleh beberapa kelompok etnis. Diakhir abad kemarin, perbudakan secara terbuka diperdagangkan, dicambuki disaat terjadi peperangan. Mereka dianggap sebagai bagian dari barang jarahan perang.

Budak anak2 juga menjadi harta milik tuannya, yang bisa menjual atau memberikan pada tuan yang lain, kata Timidria

Sebelum kemerdekaan tahun 1960, administrator koloni Perancis di Nigeria bertindak menentang segala bentuk perbudakan. Pemerintahan koloni menutup pasar budak dan menghancurkan jalur perdagangannya, tapi dibelakang secara diam-diam, praktek perbudakan ini terus dilanjutkan.

Diawal2 tahun kemerdekaan, perbudakan dilarang oleh undang-undang, tapi tidak diberikan hukuman sebagai kriminal. Karena banyak pemimpin baru Nigeria berasal dari keluarga2 yang memiliki budak, sedikit sekali tindakan yang dilakukan utk menghapus perbudakan ini.

Timidria membentuk kelompok anti perbudakan ditahun 1991 bersama sekelompok anak2 muda Nigeria. Organisasi ini mengaku punya 638 kantor diseluruh negeri.

Menurut sebuah studi yang dilakukan tahun lalu oleh Timidria, didukung oleh LSM Anti Perbudakan Internasional, sedikitnya sekitar 43 ribu orang masih hidup dalam perbudakan di Nigeria.

Studi terakhir memperkirakan lebih dari 800 ribu orang di Nigeria hidup dalam kondisi yang bisa dikatakan berupa perbudakan.

Timidria bilang kebanyakan pemilik budak adalah kepala dusun lokal dari utara dan barat negeri ini. Mereka kebanyakan adalah orang dari suku Tuareg dan Arab, yang masih menganut hidup nomad (berpindah-pindah).

Sekitar 20 persen dari 12 juta penduduk Nigeria hidup didaerah Tahoua yang kering dan berdebu, dimana perbudakan masih menyebar luas.

Dihalaman belakang yang dipenuhi kambing, ayam dan keledai, dikota Tahoua, Sidirali Alisbat, yang menjadi pemimpin dari kantor cabang dari Timidria, berkata : “Tahoua adalah markas dari perbudakan, orang2 Tuareg jadi mayoritas disini.”

Image
Sidirali Alisbat adalah salah seorang yang bekerja utk menyoroti perbudakan (dia adalah seorang murtad yang tidak percaya perbudakan Qurani!)

“25 persen orang Tuareg dikemah2 nomadnya sering jadi tuan dari orang Tuareg kulit hitam,” tambahnya.

“Posisi Tuan-Budak telah punya cara baru dalam mengeksploitasi orang,” kata Alisbat, “Mereka tidak lagi dirantai dan kadang berpakaian baik. Tapi tetap tidak dibayar kerjanya dan tidak punya hak utk menentukan nasib mereka sendiri.”

Sang Tuan menentukan budak mana yang boleh menikah dan anak budak mana yang boleh sekolah, katanya. Kadang ada yang dipukuli, diperkosa atau diancam.

Pihak berwenang menyangkal perbudakan jaman modern ini.

Tapi pemerintah punya pandangan yang berbeda.

“Saya menyangkal perbudakan masih ada di Nigeria,” Mahamadou Zeti Maiga, gubernur daerah Tahoua, mengatakan pada IRIN.

“selama Enam tahun saya mengadakan perjalanan di Tahoua, saya tidak pernah melihat satu kasuspun orang yang idtekan atau yang melapor kepihak berwenang tentang hal ini,” katanya. “Negara ini menghormati aturan perundangan.”

Perbudakan akhirnya dimasukkan dalam tindak kriminal di Nigeria oleh hukum yang diadopsi pada bulan April 2004. Hal ini mengancam para pemilik budak yang menahan para budaknya dengan hukuman penjara 5 sampai 30 tahun.

”ada beberapa yang melakukan penipuan berkas agar mereka bisa menghasilkan uang diluar negeri,” kata gubernur ini, ia membicarakan kasus dua orang pemimpin di Timidria yang dipenjara tgl 28 april karena “usaha penipuan”, tapi dilepaskan tgl 17 Juni.

Ilguilas Weila dan Alassane Biga, presiden dan sekjen Timidria, dituduh oleh Niger’s National Human Rights Commission telah memeras uang sebanyak 3.5 juta euro dari Britain’s Anti-Slavery International group.

Image
Perbudakan di barat laut Nigeria memakai keledai utk mengumpulkan kayu.

Uang itu sebenarnya dimaksudkan utk mempermudah reintegrasi sosial 7 ribu orang yang Timidria telah rencanakan utk dilepaskan dari perbudakan selama bergenerasi2 di kamp2 Tuareg di Inates, barat laut ibukota, didaerah Tillabery.

Tapi Komisi HAM tetap menyatakan bahwa tidak ada lagi perbudakan apapun di Nigeria.

Tidak lama setelah penangkapan para pemimpin Timidria tsb, Anti-Perbudakan Internasional menulis surat pada Presiden mamadou Tandja, menyangkal bahwa mereka telah ditipu oleh dua orang itu.

Bereaksi atas dilepasnya dua orang itu, mereka menyatkaan: “Kami meminta mereka dilepas dari semua tuduhan. Perbudakan adalah masalah penting di Nigeria dan kami menyerukan pemerintah utk bekerja sama dengan Timidria utk mengakhiri kasus penganiayaan serius ini.”

Hukum anti perbudakan yang baru gagal utk mematahkan tabu ini.

Pada Hall mewah tempat masuk ke Hotel Besar di Niamey, pihak oposisi parlemen, Sanoussi Jackou, berkata pemerintah takut balasan dari pelobi yang pro-perbudakan jika tindakan efektif diambil utk menghentikan hal ini.

“perbudakan ada dirumah2 orang Arab dan Tuareg, bahkan di Niamey sini juga, dimana anda bisa menemukan orang negro menyiapkan the, melakukan pekerjaan rumah atau menjaga toko bagi tuannya tanpa bayaran apapun,” katanya.

Jackou, anak seorang pemimpin Tuareg dan wanita Hausa, adalah pendiri pihak oposisi Niger Party for Self-Management.

“bulan lalu di Parlemen, tak seorangpun dari para MP mengambil mimbar utk pidato dalam debat mengenai perbudakan. Tapi ada sembilan Tuan Arab pemilik Budak dan selusin Tuan Tuareg pemilik budak dalam dewan itu,” katanya.

“Tiap orang tahu mereka punya budak tapi tidak ada yang mau membicarakannya.”

“Mereka bilang jika kita diskusikan hal ini, akan membuat pemerintah terlihat jelek,” tambahnya.

“Orang2 takut pada orang Tuareg karena mereka punya senjata dan bisa menghimpun pemberontakan, jadi tiap orang berusaha membuat mereka senang,”

Front Pembebasan Air and Azaouak (FLAA) mengadakan pemberontakan selama empat tahun dari utara hingga mencapai Nigeria sepanjang tepi gurun sahara sampai tahun 1995 mereka berhasil mencapai kesepakatan damai.

Tahun lalu masih ada bandit dan perampokan2 di sepanjang jalan utara Nigeria, setelah salah seorang bekas pemimpin pemberontak kehilangan posisinya dipemerintahan dan lalu mereka ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Belakangan dia malah dibebaskan.

Jauh dari ibukota, Machar, para wanita budak yang dibebaskan di Kawassa, bekerja keras utk membangun kembali kehidupan normal mereka sebagai orang bebas.

“Saya sudah menikah sekarang dan punya anak kedua,” katanya.

Anak pertamanya, sekarang 13 th, juga terlihat bahagia telah lepas dari perbudakan.

“Dulu saya biasa membawa ternak kesumur pada pagi2 sekali, dan sekali lagi pada sore hari, lalu aku keluar utk membawa mereka masuk,” katanya.

“Disini juga aku menggembala, tapi disini, bersama ibuku, aku bahagia.”

PostPosted: Mon May 07, 2012 6:44 pm
by ali5196