.

Islam tidak mengenal ALLOW

Siapa 'sosok' Allah, apa maunya, apa tujuannya ?

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby nap.bon » Fri Aug 01, 2014 5:28 am

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.


Dari pada berdebat tidak jelas, coba kita analisa sesuai kaidah bahasa Indonesia. Teori akan dibahas bersamaan ketika pembahasan pada spoiler.

kalimat tersebut sudah jelas merupakan Kalimat Majemuk Gabungan. Kalimat Majemuk Setara ditunjukan dengan konjungsi 'dan' sehingga tidak ada klausa utama dan klausa bawahan.

1. Kalimat Majemuk Koordinatif (Setara) Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, setara, atau sederajat. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk koordinatif dihubungkan dengan kata penghubung (konjungsi).
2. Kalimat Majemuk Subordinatif (Bertingkat) Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausanya tidak setara atau sederajat. Klausa yang satu merupakan klausa- klausa utama. Adapun klausa yang lain adalah klausa bawahan. Kedua klausa tersebut dihubungkan dengan konjungsi subordinatif. Berikut contoh kalimat majemuk subordinatif.
- Nenek membaca majalah ketika kakek baru datang.
- Meskipun dilarang oleh kakek, nenek tetap ingin berenang.
Kalimat Nenek membaca majalah ketika kakek baru datang berasal dari klausa utama nenek membaca majalah dan klausa bawahan kakek baru datang.
http://www.asharvandsa.net/2013/11/kali ... limat.html


Karena yang dipermasalahkan adalah anak kalimat "Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu" lebih baik membahas anak kalimat ini. Kata 'untuk' sendiri menunjukkan bahwa anak kalimat ini merupakan suatu kalimat majemuk bertingkat.

Konjungsi 'untuk' menghubungkan menyatakan ‘tujuan’ digunakan pada awal klausa bawahan pada sebuah kalimat majemuk subordinatif. Konjungsi tujuan adalah konjungsi yang menghubungkan menyatakan tujuan dilakukannya tindakan pada klausa pertama.


Klausa utama (1) pada kalimat tersebut adalah "Aku hanya diperintahkan" yang memiliki subyek yakni 'Aku' (penulis kalimat tersebut, kemungkinan Muhammad) dan predikat 'hanya diperintahkan' yang sifatnya pasif. Kalimat untuk klausa ini adalah "Aku (penulis/Muhammad) hanya diperintahkan."

2.2. Unsur-Unsur Kalimat
Dalam menuliskan kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar maka kita harus ketahui unsur-unsur yang biasanya dipakai dalam sebuah kalimat. Dalam bahasa Indonesia digunakan aturan SPO atau SPOK (Subjek, Predikat, Objek atau Subjek, Predikat, Objek, Keterangan).
Berikut beberapa unsur kalimat.
2.2.1 Subjek (S)
Subjek adalah unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat di samping unsur predikat. Dengan mengetahui ciri-ciri subjek secara lebih terperinci, kalimat yang dihasilkan dapat terpelihara strukturnya.
Ciri-ciri subjek sebagai berikut.
· Jawaban atas Pertanyaan Apa atau Siapa
Penentuan subjek dapat dilakukan dengan mencari jawaban atas pertanyaan apa atau siapa yang dinyatakan dalam suatu kalimat. Untuk subjek kalimat yang berupa manusia, biasanya digunakan kata tanya siapa.
Contoh : Siwon adalah seorang aktor dan penyanyi.
· Disertai Kata Itu
Kebanyakan subjek dalam bahasa Indonesia bersifat takrif (definite). Untuk menyatakan takrif, biasanya digunakan kata itu. Subjek yang sudah takrif misalnya nama orang, nama negara, instansi, atau nama diri lain tidak disertai kata itu.
Contoh : Buku itu dibeli oleh Kimbum.
· Didahului Kata Bahwa
Di dalam kalimat pasif kata bahwa merupakan penanda bahwa unsur yang menyertainya adalah anak kalimat pengisi fungsi subjek. Di samping itu, kata bahwa juga merupakan penanda subjek yang berupa anak kalimat pada kalimat yang menggunakan kata adalah atau ialah.
Contoh :
o Bahwa pengurus SEMA harus segera dibentuk pada rapat hari ini.
o Saya mengatakan bahwa Super Junior adalah boyband favoritku.
· Mempunyai Keterangan Pewatas Yang
Kata yang menjadi subjek suatu kalimat dapat diberi keterangan lebih lanjut dengan menggunakan penghubung yang. Keterangan ini dinamakan keterangan pewatas.
Contoh : Mahasiswa yang ingin lulus harus mengikuti ujian.
· Tidak Didahului Preposisi
Subjek tidak didahului preposisi, seperti dari, dalam, di, ke, kepada, pada. Orang sering memulai kalimat dengan menggunakan kata-kata seperti itu sehingga menyebabkan kalimat-kalimat yang dihasilkan tidak bersubjek.
· Berupa Nomina atau Frasa Nominal
Subjek kebanyakan berupa nomina atau frasa nominal. Di samping nomina, subjek dapat berupa verba atau adjektiva, biasanya, disertai kata penunjuk itu.
Contoh : Bermain itu menyenangkan.

2.2.2 Predikat (P)
Predikat juga merupakan unsur utama suatu kalimat di samping subjek. Predikat berfungsi menjelaskan subjek.
Ciri-ciri predikat adalah sebagai berikut.
· Jawaban atas Pertanyaan Mengapa atau Bagaimana
Dilihat dari segi makna, bagian kalimat yang memberikan informasi atas pertanyaan mengapa atau bagaimana adalah predikat kalimat. Pertanyaan sebagai apa atau jadi apa dapat digunakan untuk menentukan predikat yang berupa nomina penggolong (identifikasi). Kata tanya berapa dapat digunakan untuk menentukan predikat yang berupa numeralia (kata bilangan) atau frasa numeralia.
Contoh :
o Gadis itu cantik.
o Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
· Kata Adalah atau Ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata adalah atau ialah. Predikat itu terutama digunakan jika subjek kalimat berupa unsur yang panjang sehingga batas antara subjek dan pelengkap tidak jelas.
Contoh : Justin Bieber adalah penyanyi favoritku
· Dapat Diingkarkan
Predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai bentuk pengingkaran yang diwujudkan oleh kata tidak. Bentuk pengingkaran tidak ini digunakan untuk predikat yang berupa verba atau adjektiva. Di samping tidak sebagai penanda predikat, kata bukan juga merupakan penanda predikat yang berupa nomina atau predikat kata merupakan.
Contoh : Kamu tidak hadir dalam rapat kemarin.
· Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau Modalitas
Predikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva dapat disertai kata-kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan. Kata-kata itu terletak di depan verba atau adjektiva. Kalimat yang subjeknya berupa nomina bernyawa dapat juga disertai modalitas, kata-kata yang menyatakan sikap pembicara (subjek), seperti ingin, hendak, dan mau.
Contoh : Obama akan datang ke Indonesia.
· Unsur Pengisi Predikat
Predikat suatu kalimat dapat berupa:
o Kata, misalnya verba, adjektiva, atau nomina.
o Frasa, misalnya frasa verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa numeralia (bilangan).


2.2.3 Objek (O)
Objek yaitu keterangan predikat yang memiliki hubungan erat dengan predikat. Unsur kalimat ini bersifat wajib dalam susunan kalimat aktif transitif yaitu kalimat yang sedikitnya mempunyai tiga unsur utama, subjek, predikat, dan objek. Predikat yang berupa verba intransitif (kebanyakan berawalan ber- atau ter-) tidak memerlukan objek, sedangkan verba transitif yang memerlukan objek kebanyakan berawalan me-.
Ciri-ciri objek sebagai berikut.
· Langsung di Belakang Predikat
Objek hanya memiliki tempat di belakang predikat, tidak pernah mendahului predikat.
Contoh : Sinta memberikan Jojo komputer baru.
· Dapat Menjadi Subjek Kalimat Pasif
Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subjek dalam kalimat pasif yang disertai dengan perubahan bentuk verba predikatnya.
Contoh : Keju itu dimakan tikus.
· Tidak Didahului Preposisi
Objek yang selalu menempati posisi di belakang predikat tidak didahului preposisi. Dengan kata lain, di antara predikat dan objek tidak dapat disisipkan preposisi.
Contoh : Dia mengirimi saya bunga mawar.
· Didahului Kata Bahwa
Anak kalimat pengganti nomina ditandai oleh kata bahwa dan anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat transitif.

2.2.4 Pelengkap (Pel.)
Pelengkap merupakan unsur kalimat yang dapat bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat.
Pelengkap dan objek memiliki kesamaan. Kesamaan itu ialah kedua unsur kalimat ini :
o Bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat.
o Menempati posisi di belakang predikat.
o Tidak didahului preposisi.
Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap.
Berikut ciri-ciri pelengkap.
· Di Belakang Predikat
Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek. Contohnya terdapat pada kalimat berikut.
o Diah mengirimi saya buku baru.
o Mereka membelikan ayahnya sepeda baru.
Unsur kalimat buku baru, sepeda baru di atas berfungsi sebagai pelengkap dan tidak mendahului predikat.
· Tidak Didahului Preposisi
Seperti objek, pelengkap tidak didahului preposisi.
Contoh : Sherina bermain piano.

2.2.5 Keterangan (K)
Unsur kalimat yang didahului preposisi disebut keterangan.
Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi informasi tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan tujuan. Keterangan ini dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa frasa ditandai oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang, oleh, dan untuk. Keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan kata penghubung, seperti ketika, karena, meskipun, supaya, jika, dan sehingga.
Berikut ini beberapa ciri unsur keterangan.
· Bukan Unsur Utama
Berbeda dari subjek, predikat, objek, dan pelengkap, keterangan merupakan unsur tambahan yang kehadirannya dalam struktur dasar kebanyakan tidak bersifat wajib.
· Tidak Terikat Posisi
Di dalam kalimat, keterangan merupakan unsur kalimat yang memiliki kebebasan tempat. Keterangan dapat menempati posisi di awal atau akhir kalimat, atau di antara subjek dan predikat.
Contoh :
o Malam ini, Suju akan kembali ke Korea.
o Mereka memperhatikan materi dengan seksama.
· Terdapat Beberapa Jenis Keterangan
Keterangan dibedakan berdasarkan perannya di dalam kalimat.

o Keterangan Waktu
Keterangan waktu dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa kata adalah kata-kata yang menyatakan waktu, seperti kemarin, besok, sekarang, kini, lusa, siang, dan malam. Keterangan waktu yang berupa frasa merupakan untaian kata yang menyatakan waktu, seperti kemarin pagi, hari Senin, 7 Mei, dan minggu depan. Keterangan waktu yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor yang menyatakan waktu, seperti setelah, sesudah, sebelum, saat, sesaat, sewaktu, dan ketika.

o Keterangan Tempat
Keterangan tempat berupa frasa yang menyatakan tempat yang ditandai oleh preposisi, seperti di, pada, dan dalam.

o Keterangan Cara
Keterangan cara dapat berupa frasa, atau anak kalimat yang menyatakan cara. Keterangan cara yang berupa frasa ditandai oleh kata dengan atau secara yang diikuti verba (kata kerja). Terakhir, keterangan cara yang berupa anak kalimat ditandai oleh kata dengan dan dalam.

o Keterangan Alat
Keterangan cara berupa frasa yang menyatakan cara ditandai oleh kata dengan yang diikuti nomina (kata benda).

o Keterangan Sebab
Keterangan sebab berupa frasa atau anak kalimat. Keterangan sebab yang berupa frasa ditandai oleh kata karena atau sebab yang diikuti oleh nomina atau frasa nomina. Keterangan sebab yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor karena atau lantaran.

o Keterangan Tujuan
Keterangan ini berupa frasa atau anak kalimat. Keterangan tujuan yang berupa frasa ditandai oleh kata untuk atau demi, sedangkan keterangan tujuan yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor supaya, agar, atau untuk.

o Keterangan Aposisi
Keterangan aposisi memberi penjelasan nomina, misalnya, subjek atau objek. Jika ditulis, keterangan ini diapit tanda koma, tanda pisah (--), atau tanda kurang.
Contoh : Dosen saya, Bu Erwin, terpilih sebagai dosen teladan.

o Keterangan Tambahan
Keterangan tambahan memberi penjelasan nomina (subjek ataupun objek), tetapi berbeda dari keterangan aposisi. Keterangan aposisi dapat menggantikan unsur yang diterangkan, sedangkan keterangan tambahan tidak dapat menggantikan unsur yang diterangkan.
Contoh : Marshanda, mahasiswa tingkat lima, mendapat beasiswa.
Keterangan tambahan (tercetak tebal) itu tidak dapat menggantikan unsur yang diterangkan yaitu kata Marshanda.

o Keterangan Pewatas
Keterangan pewatas memberikan pembatas nomina, misalnya, subjek, predikat, objek, keterangan, atau pelengkap. Jika keterangan tambahan dapat ditiadakan, keterangan pewatas tidak dapat ditiadakan. Contoh: Mahasiswa yang mempunyai IP tiga lebih mendapat beasiswa.
Contoh diatas menjelaskan bahwa bukan semua mahasiswa yang mendapat beasiswa, melainkan hanya mahasiswa yang mempunyai IP tiga lebih.

http://kumpulanmakalahmatakuliahakperci ... nesia.html


Sedangkan klausa bawahan (2) pada kalimat tersebut adalah "menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu.". yang juga merupakan suatu kalimat majemuk bertingkat yang ditunjukkan dengan konjungsi 'yang'. Klausa utamanya adalah "menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)" dan klausa bawahannya adalah "telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu."

Subyek pada klausa tersebut tidak tertulis, padahal untuk membentuk suatu kalimat (anak kalimat/klausa seharusnya dapat ditulis sebagai kalimat terpisah) haruslah memiliki sekurang-kurangnya subyek dan predikat. Oleh karena itu, subyek anak kalimat ini adalah 'Aku' seperti yang tertulis pada klausa utama. Sedangkan predikat klausa ini adalah 'menyembah'. Adapun klausa ini memiliki obyek yaitu 'Tuhan negeri ini (Mekah)', karena kalimat pasifnya dapat terbentuk [Tuhan negeri ini (Mekah) disembah oleh (aku).]. "telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu." merupakan suatu keterangan pada anak kalimat tersebut.

Kalimat yang ditimbulkan oleh klausa "menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu." adalah "Aku menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)" dan "Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannnya suci" serta "Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu."

2.3. Pola Dasar Kalimat Bahasa Indonesia
Kalimat yang kita gunakan sesungguhnya dapat dikembalikan ke dalam sejumlah kalimat dasar yang sangat terbatas. Dengan perkataan lain, semua kalimat yang kita gunakan berasal dari beberapa pola kalimat dasar saja. Sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing, kalimat dasar tersebut kita kembangkan, yang pengembangannya itu tentu saja harus didasarkan pada kaidah yang berlaku.
Berdasarkan keterangan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa kalimat dasar ialah kalimat yang berisi informasi pokok dalam struktrur inti, belum mengalami perubahan. Perubahan itu dapat berupa penambahan unsur seperti penambahan keterangan kalimat ataupun keterangan subjek, predikat, objek, ataupun pelengkap. Kalimat dasar dapat dibedakan ke dalam delapan tipe sebagai berikut.
2.3.1 Kalimat Dasar Berpola S P
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek dan predikat. Predikat kalimat untuk tipe ini dapat berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, atau kata bilangan. Misalnya:
o Mereka / sedang berenang.
S P (kata kerja)
o Ayahnya / guru SMA.
S P (kata benda)
o Gambar itu / bagus.
S P (kata sifat)
o Peserta penataran ini / empat puluh orang.
S P (kata bilangan)
2.3.2 Kalimat Dasar Berpola S P O
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan objek. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba transitif, dan objek berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:
Mereka / sedang menyusun / karangan ilmiah.
S P O
2.3.3 Kalimat Dasar Berpola S P Pel.
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan pelengkap. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, dan pelengkap berupa nomina atau adjektiva. Misalnya:
Anaknya / beternak / ayam.
S P Pel.
2.3.4 Kalimat Dasar Berpola S P O Pel.
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan pelengkap. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan pelengkap berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:
Dia / mengirimi / saya / surat.
S P O Pel.
2.3.5 Kalimat Dasar Berpola S P K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan harus memiliki unsur keterangan karena diperlukan oleh predikat. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Mereka / berasal / dari Surabaya.
S P K
2.3.6 Kalimat Dasar Berpola S P O K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Kami / memasukkan / pakaian / ke dalam lemari.
S P O K
2.3.7 Kalimat Dasar Berpola S P Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, pelengkap, dan keterangan. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, pelengkap berupa nomina atau adjektiva, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya :
Ungu / bermain / musik / di atas panggung.
S P Pel. K
2.3.8 Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, pelengkap berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Dia / mengirimi / ibunya / uang / setiap bulan.
S P O Pel. K

http://kumpulanmakalahmatakuliahakperci ... nesia.html


Jadi makna kalimat "Tuhan yang menjadikan Mekah negeri yang suci, itulah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad." itu benar namun lebih tepat (tetap benar) Muhammad menyembah Tuhan negeri Mekah yang telah menjadikan Mekah negeri yang suci. Hal ini sejalan dengan pemecahan kalimatnya.

Penulis kalimat tersebut ingin berkata bahwa:
1."Aku (penulis/Muhammad) hanya diperintahkan."
2."Aku (penulis/Muhammad) menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)."
3."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (Mekah) suci."
4."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (segala sesuatu) kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu."
Mirror 1: Islam tidak mengenal ALLOW
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
nap.bon
 
Posts: 1011
Joined: Wed Jun 27, 2012 8:04 pm
Location: United States of Indonesia

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby @muslimasli » Fri Aug 01, 2014 1:28 pm

nap.bon wrote:Jadi makna kalimat "Tuhan yang menjadikan Mekah negeri yang suci, itulah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad." itu benar namun lebih tepat (tetap benar) Muhammad menyembah Tuhan negeri Mekah yang telah menjadikan Mekah negeri yang suci. Hal ini sejalan dengan pemecahan kalimatnya.

Penulis kalimat tersebut ingin berkata bahwa:
1."Aku (penulis/Muhammad) hanya diperintahkan."
2."Aku (penulis/Muhammad) menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)."
3."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (Mekah) suci."
4."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (segala sesuatu) kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu."
Mirror 1: Islam tidak mengenal ALLOW
Follow Twitter: @ZwaraKafir

Dalam memahami Al Qur’an, hendaklah seorang muslim memperhatikan tata cara yang benar sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama dalam kitab mereka, Ibnu Katsir rahimahullah dalam muqodimah tafsirnya telah menjelaskan tata cara tafsir yang benar, beliau berkata :

“Apabila ada orang yang berkata,”Apakah cara tafsir yang paling benar ? jawabnya adalah bahwa cara yang paling benar :

(1) dengan menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an karena disebutkan dalam suatu ayat secara global namun telah dirinci penjelasannya dalam ayat yang lain. Jika engkau tidak mendapatkannya maka

(2) carilah di dalam sunnah karena ia adalah penjelasan Al Qur’an… dan apabila kita tidak menemukannya di dalam Al Qur’an tidak juga di dalam As sunnnah maka

(3) kita merujuk pendapat para shahabat karena mereka lebih mengetahui tentang tafsirnya sebab mereka langsung menyaksikan keadaan-keadaan yang hanya mereka yang mengetahuinya, juga karena mereka mempunyai pemahaman yang sempurna, ilmu yang lurus, dan amal shalih terutama para ulama mereka… dan apabila engkau tidak mendapatkannya di dalam Al Qur’an tidak juga dalam sunnah tidak juga pendapat para shahabat maka

(4) banyak ulama yang merujuk pendapat Tabi’in…

adapun menafsirkan Al Qur’an hanya dengan ro’yu (logika) semata maka hukumnya adalah haram.”

Barang siapa mendustakan secara sengaja niscaya ia harus bersedia menepatkan dirinya di neraka. Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka .”
( H.R. Turmuzi dan Ibnu Abbas )
User avatar
@muslimasli
 
Posts: 1031
Joined: Fri Jun 27, 2014 12:47 pm

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby gema » Fri Aug 01, 2014 4:21 pm

@muslimasli wrote:adapun menafsirkan Al Qur’an hanya dengan [size=150][color=#FF0000]ro’yu (logika) semata maka hukumnya adalah haram.”[/size][/color]

Barang siapa mendustakan secara sengaja niscaya ia harus bersedia menepatkan dirinya di neraka. Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka .”
( H.R. Turmuzi dan Ibnu Abbas )


Ntuh kan... koar aja tanfa berfikir. ente nyap-nyapan sering bilang haditsnya dhoif lah fadahal haditsnya sahih, hanya untuk membela rosul cabul. Makanya jangan filah-filah hadits berdasarkan feriwayatan nyang kagak jelas ntuh. Kalau dah sahih yaa sahih gitu.!! :drinkers:
Mirror 1: adapun menafsirkan Al Qur’an hanya dengan [size=150]
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
gema
 
Posts: 1097
Joined: Sun Sep 08, 2013 10:27 pm

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby nap.bon » Fri Aug 01, 2014 9:19 pm

nap.bon wrote:Jadi makna kalimat "Tuhan yang menjadikan Mekah negeri yang suci, itulah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad." itu benar namun lebih tepat (tetap benar) Muhammad menyembah Tuhan negeri Mekah yang telah menjadikan Mekah negeri yang suci. Hal ini sejalan dengan pemecahan kalimatnya.

Penulis kalimat tersebut ingin berkata bahwa:
1."Aku (penulis/Muhammad) hanya diperintahkan."
2."Aku (penulis/Muhammad) menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)."
3."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (Mekah) suci."
4."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (segala sesuatu) kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu."
Mirror 1: Islam tidak mengenal ALLOW
Follow Twitter: @ZwaraKafir


@muslimasli wrote:Dalam memahami Al Qur’an, hendaklah seorang muslim memperhatikan tata cara yang benar sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama dalam kitab mereka, Ibnu Katsir rahimahullah dalam muqodimah tafsirnya telah menjelaskan tata cara tafsir yang benar, beliau berkata :

“Apabila ada orang yang berkata,”Apakah cara tafsir yang paling benar ? jawabnya adalah bahwa cara yang paling benar :

(1) dengan menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an karena disebutkan dalam suatu ayat secara global namun telah dirinci penjelasannya dalam ayat yang lain. Jika engkau tidak mendapatkannya maka

(2) carilah di dalam sunnah karena ia adalah penjelasan Al Qur’an… dan apabila kita tidak menemukannya di dalam Al Qur’an tidak juga di dalam As sunnnah maka

(3) kita merujuk pendapat para shahabat karena mereka lebih mengetahui tentang tafsirnya sebab mereka langsung menyaksikan keadaan-keadaan yang hanya mereka yang mengetahuinya, juga karena mereka mempunyai pemahaman yang sempurna, ilmu yang lurus, dan amal shalih terutama para ulama mereka… dan apabila engkau tidak mendapatkannya di dalam Al Qur’an tidak juga dalam sunnah tidak juga pendapat para shahabat maka

(4) banyak ulama yang merujuk pendapat Tabi’in…

adapun menafsirkan Al Qur’an hanya dengan ro’yu (logika) semata maka hukumnya adalah haram.”

Barang siapa mendustakan secara sengaja niscaya ia harus bersedia menepatkan dirinya di neraka. Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka .”
( H.R. Turmuzi dan Ibnu Abbas )


Perlu ente ketahui bahwa kata-kata Tabi’in itu tidak serta merta menganulir pendapat ane... karena interpretasi yang dilarang adalah hanya berdasarkan pada logika dan bukan interpretasi berdasarkan logika (tanpa kata hanya).

Lagipula pendapat Tabi’in itu juga ente tembak sendiri dengan kutipan H.R Turmuzi dan Ibnu Abbas karena:
"Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka."

Bagaimana kalau kata pendapatnya diganti dengan pendapat Tabi’in sehingga menjadi...
"Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapat Tabi’in maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka."

Dengan demikian buanglah tafsir-tafsir ulama karena ditembak oleh ulama sendiri dan Islam paling benar adalah Islam bermodal Al-Quran dan Hadist tok!
:rolling: :rolling: :rolling:


Sebenarnya para muslim mendapatkan buah simalakama pada kata-kata yang ada pada hal yang saya tunjukkan.

Mirror 1: tidak serta merta
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
nap.bon
 
Posts: 1011
Joined: Wed Jun 27, 2012 8:04 pm
Location: United States of Indonesia

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby @muslimasli » Sat Aug 02, 2014 11:32 am

nap.bon wrote:Jadi makna kalimat "Tuhan yang menjadikan Mekah negeri yang suci, itulah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad." itu benar namun lebih tepat (tetap benar) Muhammad menyembah Tuhan negeri Mekah yang telah menjadikan Mekah negeri yang suci. Hal ini sejalan dengan pemecahan kalimatnya.

Penulis kalimat tersebut ingin berkata bahwa:
1."Aku (penulis/Muhammad) hanya diperintahkan."
2."Aku (penulis/Muhammad) menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)."
3."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (Mekah) suci."
4."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (segala sesuatu) kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu."
Mirror 1: Islam tidak mengenal ALLOW
Follow Twitter: @ZwaraKafir


@muslimasli wrote:Dalam memahami Al Qur’an, hendaklah seorang muslim memperhatikan tata cara yang benar sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama dalam kitab mereka, Ibnu Katsir rahimahullah dalam muqodimah tafsirnya telah menjelaskan tata cara tafsir yang benar, beliau berkata :

“Apabila ada orang yang berkata,”Apakah cara tafsir yang paling benar ? jawabnya adalah bahwa cara yang paling benar :

(1) dengan menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an karena disebutkan dalam suatu ayat secara global namun telah dirinci penjelasannya dalam ayat yang lain. Jika engkau tidak mendapatkannya maka

(2) carilah di dalam sunnah karena ia adalah penjelasan Al Qur’an… dan apabila kita tidak menemukannya di dalam Al Qur’an tidak juga di dalam As sunnnah maka

(3) kita merujuk pendapat para shahabat karena mereka lebih mengetahui tentang tafsirnya sebab mereka langsung menyaksikan keadaan-keadaan yang hanya mereka yang mengetahuinya, juga karena mereka mempunyai pemahaman yang sempurna, ilmu yang lurus, dan amal shalih terutama para ulama mereka… dan apabila engkau tidak mendapatkannya di dalam Al Qur’an tidak juga dalam sunnah tidak juga pendapat para shahabat maka

(4) banyak ulama yang merujuk pendapat Tabi’in…

adapun menafsirkan Al Qur’an hanya dengan ro’yu (logika) semata maka hukumnya adalah haram.”

Barang siapa mendustakan secara sengaja niscaya ia harus bersedia menepatkan dirinya di neraka. Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka .”
( H.R. Turmuzi dan Ibnu Abbas )


nap.bon wrote:Perlu ente ketahui bahwa kata-kata Tabi’in itu tidak serta merta menganulir pendapat ane... karena interpretasi yang dilarang adalah hanya berdasarkan pada logika dan bukan interpretasi berdasarkan logika (tanpa kata hanya).

yang anda lakukan interpretasi berdasarkan logika
ya.... sami mawon ... malah lebih parah .... :lol:
sumber aslinya adalah logika anda sendiri, kemudian dikembangkan lagi dengan interpretasi.
logikanya udah ngawur, ditambah lagi dengan interpretasi, malah jadi gak karuan ... :lol:

nap.bon wrote:Lagipula pendapat Tabi’in itu juga ente tembak sendiri dengan kutipan H.R Turmuzi dan Ibnu Abbas karena:
"Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka."

pendapat Tabi'in layak dipercaya, karena mereka adalah pengikut/murid para sahabat Nabi.

nap.bon wrote:Bagaimana kalau kata pendapatnya diganti dengan pendapat Tabi’in sehingga menjadi...
"Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapat Tabi’in maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka."

Dengan demikian buanglah tafsir-tafsir ulama karena ditembak oleh ulama sendiri dan Islam paling benar adalah Islam bermodal Al-Quran dan Hadist tok!

kalaupun ada tafsir dari pendapat Tabi'in, pasti tidak akan menyimpang dari tujuan Al Qur'an diturunkan.

QS.2.2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
QS.2.3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka


selama tafsir/pendapat Tabi'in dengan tujuan memberi petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, ya... sah2 saja.
User avatar
@muslimasli
 
Posts: 1031
Joined: Fri Jun 27, 2014 12:47 pm

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby nap.bon » Mon Aug 04, 2014 1:38 am

yang anda lakukan interpretasi berdasarkan logika
ya.... sami mawon ... malah lebih parah .... :lol:
sumber aslinya adalah logika anda sendiri, kemudian dikembangkan lagi dengan interpretasi.


yayaya... ane kan sudah bilang apa yg ente pos itu tidak serta merta melarang interpretasi berdasar logika.

adapun menafsirkan Al Qur’an hanya dengan ro’yu (logika) semata maka hukumnya adalah haram.

nah klo merujuk apa yg ente tulis... yang dilarang itu jika interpretasi hanya didasarkan pada logika semata, ...bukan menjadikan logika sebagai salah satu dasar interpretasi.

logikanya udah ngawur, ditambah lagi dengan interpretasi, malah jadi gak karuan ... :lol:

sekarang ane sudah tulis empat kalimat yg merupakan ide dari kalimat yg ada di Al-Quran itu. karena ente sudah bilang logikanya ngawur, sekarang ane minta ente menunjukkan mana kalimat yg ngawur dan alasan dibalik ngawurnya hal itu.

pendapat Tabi'in layak dipercaya, karena mereka adalah pengikut/murid para sahabat Nabi.

Ya ya, pendapat saya salah karena saya bukan seorang Muslim... benar begitu?

kalaupun ada tafsir dari pendapat Tabi'in, pasti tidak akan menyimpang dari tujuan Al Qur'an diturunkan.

QS.2.2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
QS.2.3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka

selama tafsir/pendapat Tabi'in dengan tujuan memberi petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, ya... sah2 saja.

Ya, tafsir/pendapat Tabi'in adalah benar, jika Tabi'in bersikap memberi petunjuk bagi mereka yg bertaqwa... alias tafsir/pendapat Tabi'in benar, klo sikapnya Tabi'in memberi petunjuk bagi mereka yg bertaqwa.
:rolling: :rolling: :rolling:
Mirror 1: Islam tidak mengenal ALLOW
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
nap.bon
 
Posts: 1011
Joined: Wed Jun 27, 2012 8:04 pm
Location: United States of Indonesia

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby Mhd61l4 » Tue Aug 05, 2014 2:30 pm

yang anda lakukan interpretasi berdasarkan logika
ya.... sami mawon ... malah lebih parah .... :lol:
sumber aslinya adalah logika anda sendiri, kemudian dikembangkan lagi dengan interpretasi.


yayaya... ane kan sudah bilang apa yg ente pos itu tidak serta merta melarang interpretasi berdasar logika.

adapun menafsirkan Al Qur’an hanya dengan ro’yu (logika) semata maka hukumnya adalah haram.

nah klo merujuk apa yg ente tulis... yang dilarang itu jika interpretasi hanya didasarkan pada logika semata, ...bukan menjadikan logika sebagai salah satu dasar interpretasi.

logikanya udah ngawur, ditambah lagi dengan interpretasi, malah jadi gak karuan ... :lol:

sekarang ane sudah tulis empat kalimat yg merupakan ide dari kalimat yg ada di Al-Quran itu. karena ente sudah bilang logikanya ngawur, sekarang ane minta ente menunjukkan mana kalimat yg ngawur dan alasan dibalik ngawurnya hal itu.

pendapat Tabi'in layak dipercaya, karena mereka adalah pengikut/murid para sahabat Nabi.

Ya ya, pendapat saya salah karena saya bukan seorang Muslim... benar begitu?

kalaupun ada tafsir dari pendapat Tabi'in, pasti tidak akan menyimpang dari tujuan Al Qur'an diturunkan.

QS.2.2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
QS.2.3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka

selama tafsir/pendapat Tabi'in dengan tujuan memberi petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, ya... sah2 saja.

nap.bon wrote:Ya, tafsir/pendapat Tabi'in adalah benar, jika Tabi'in bersikap memberi petunjuk bagi mereka yg bertaqwa... alias tafsir/pendapat Tabi'in benar, klo sikapnya Tabi'in memberi petunjuk bagi mereka yg bertaqwa.
:rolling: :rolling: :rolling:
Mirror 1: Islam tidak mengenal ALLOW
Follow Twitter: @ZwaraKafir


Muhammad pedofil, penipu, pencabul, perampok, pembunuh ditafsirkan menjadi berbudi agung dan berahklak mulia.

Yang sudah bisa baca tulis dan main internetan dan menjadikan seorang cabul BUTA HURUF SAW menjadi suri teladannya pastilah seorang SUPER JENIUS ALA ISLAM.

Mirror 1: Islam tidak mengenal ALLOW
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
Mhd61l4
 
Posts: 703
Joined: Sun Jun 29, 2014 10:33 pm

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby @muslimasli » Tue Aug 05, 2014 7:11 pm

nap.bon wrote:Penulis kalimat tersebut ingin berkata bahwa:
1."Aku (penulis/Muhammad) hanya diperintahkan."
2."Aku (penulis/Muhammad) menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)."
3."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (Mekah) suci."
4."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (segala sesuatu) kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu."
Mirror 1: Islam tidak mengenal ALLOW
Follow Twitter: @ZwaraKafir

nap.bon wrote:sekarang ane sudah tulis empat kalimat yg merupakan ide dari kalimat yg ada di Al-Quran itu. karena ente sudah bilang logikanya ngawur, sekarang ane minta ente menunjukkan mana kalimat yg ngawur dan alasan dibalik ngawurnya hal itu.

tulisan anda semua logikanya ngawur.

1. Muhammad bukan penulis Al Qur'an.
2. Muhammad bukan penulis Al Qur'an dan Muhammad tidak menyembah Tuhan negeri Mekah.
3 & 4 Tuhan yang disembah Nabi Muhammad bukan Tuhan negeri Mekah.
User avatar
@muslimasli
 
Posts: 1031
Joined: Fri Jun 27, 2014 12:47 pm

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby nap.bon » Wed Aug 06, 2014 8:05 am

nap.bon wrote:Penulis kalimat tersebut ingin berkata bahwa:
1."Aku (penulis/Muhammad) hanya diperintahkan."
2."Aku (penulis/Muhammad) menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)."
3."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (Mekah) suci."
4."Tuhan negeri ini (Mekah) telah menjadikannya (segala sesuatu) kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu."
Mirror 1: Islam tidak mengenal ALLOW
Follow Twitter: @ZwaraKafir

nap.bon wrote:sekarang ane sudah tulis empat kalimat yg merupakan ide dari kalimat yg ada di Al-Quran itu. karena ente sudah bilang logikanya ngawur, sekarang ane minta ente menunjukkan mana kalimat yg ngawur dan alasan dibalik ngawurnya hal itu.

[quote="@muslimasli"]
tulisan anda semua logikanya ngawur.

1. Muhammad bukan penulis Al Qur'an.
2. Muhammad bukan penulis Al Qur'an dan Muhammad tidak menyembah Tuhan negeri Mekah.
3
Mirror 1: dan alasan dibalik ngawurnya
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
nap.bon
 
Posts: 1011
Joined: Wed Jun 27, 2012 8:04 pm
Location: United States of Indonesia

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby kuisa » Wed Aug 06, 2014 10:06 am

AlFatihah 2
Segala puji bagi ALLAH Rabb sekalian alam

..

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.



kenapa banyak sekali yg tidak bisa mencerna dengan baik ya :-k
kuisa
 
Posts: 706
Joined: Mon May 05, 2014 12:33 pm

Re: Islam tidak mengenal ALLOW

Postby Mhd61l4 » Wed Aug 06, 2014 10:21 am

kuisa wrote:AlFatihah 2
Segala puji bagi ALLAH Rabb sekalian alam

..

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.



kenapa banyak sekali yg tidak bisa mencerna dengan baik ya :-k


Yang kamu bilang itu BETUL, namanya KLAIM.
Klaimnya TUHAN NEGERI MEKAH adalah pemilik segala sesuatu

KENYATAANNYA:
- Harta rampokan PUN diinginkannya.
- Hanyalah sembahan ABDULLAH dan nenek moyangnya
- Ngga punya apa apa
- Dst.

Wong TUHAN NEGERI MEKAH itu berwahyu sesuai standar si cabul BUTA HURUF SAW kok.......
Klaimnya sih adalah pemilik segala sesuatu, KENYATAANNYA ketololan allow swt sama dengan ketololan si cabul BUTA HURUF SAW.

kenapa banyak sekali yg tidak bisa mencerna dengan baik ya :-k
Mirror 1: Rabb sekalian alam
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
Mhd61l4
 
Posts: 703
Joined: Sun Jun 29, 2014 10:33 pm

Previous

Return to Ttg ALLAH



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron