.

Menyelami Dilema Sang Allah

Siapa 'sosok' Allah, apa maunya, apa tujuannya ?

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby JANGAN GITU AH » Sun May 04, 2014 3:02 pm

Captain Pancasila wrote:1. QS. 58:22, itu kondisinya pas hari penghakiman dimana orang memang tidak bisa menolong orang lain nya, & lagipula pendosa menerima akibat dari dosanya di hari penghakiman tanpa bisa ditolong itu memang sesuai dengan kehendak Allah!
2. di QS. 5:51 Yahudi/Nasrani disitu itu tidak boleh diplih menjadi pemimpin karena ybs tidak mau berhukum dengan hukum Allah, & berhukum dengan hukum Allah itu memang sesuai dengan kehendak Allah!

:goodman:


tahu dari mana kau ayat tersebut berbicara pada hari penghakiman? Emangnya pada hari penghakiman masih ada pemilihan pemimpin?

Nah, ente ngomong begitchu pastilah punya dasar...tolong tunjukkan ayat al quran yang memastikan hal itu kondisinya di hari penghakiman... #-o
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby Joe Andmie » Tue May 06, 2014 7:26 am

Captain Pancasila wrote:benar! :turban:


Benar? Jadi tidak pandang bulu untuk semua , termasuk para nabi yang sesudah dan terakhirkan?
User avatar
Joe Andmie
 
Posts: 1761
Images: 1
Joined: Mon Jul 04, 2011 6:48 pm
Location: DIBAWAH POHON KELAPA SAWIT

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby Captain Pancasila » Wed May 07, 2014 11:35 am

JANGAN GITU AH wrote:tahu dari mana kau ayat tersebut berbicara pada hari penghakiman? Emangnya pada hari penghakiman masih ada pemilihan pemimpin?

Nah, ente ngomong begitchu pastilah punya dasar...tolong tunjukkan ayat al quran yang memastikan hal itu kondisinya di hari penghakiman... #-o

baca saja dari ayat 18! :goodman:
User avatar
Captain Pancasila
 
Posts: 3505
Joined: Wed Jun 01, 2011 1:58 pm
Location: Bekas Benua Atlantis

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby rahimii » Wed May 07, 2014 10:22 pm

rahimii wrote:Apanya yang jelas dalam link anda diatas? Ketika kita mengatakan bahwa TUHAN itu baik, kita mengartikan itu dengan cara yang berbeda dari cara yang kita maksudkan ketika kita mengatakan bahwa manusia itu baik. Bagi kita, kebaikan adalah partisipasi dalam kebaikan, kita dapat berpartisipasi lebih atau kurang berdasarkan tingkatan, dan oleh karena itu kita bisa lebih baik atau lebih buruk. Itu bukan apa yang kita maksud ketika kita mengatakan bahwa TUHAN itu baik.
Pikirkan tentang perbedaan antara mengatakan "anjing basah" dan "cairan basah". Kita bisa membayangkan anjing dalam kondisi yang tidak basah, cukup dengan mengeringkannya dengan handuk yang baik, dia tidak akan memiliki basah lagi. Kita bisa membayangkan anjing basah dan anjing kering, dan segala sesuatu di antaranya. Tapi ketika kita mengatakan bahwa cairan basah, itu berarti bahwa kebasahan adalah atribut melekat dari apa yang kita maksud dengan "cair." Jika seseorang bisa mengklaim memiliki "cairan yang kering", kita harus menyimpulkan bahwa orang seperti ini memiliki disfungsi pemahaman akan apa yang dimaksud dengan "cair" atau "kering" Itulah yang terjadi jika anda memposisikan tuhan sebagai kebenaran tapi dilain sisi dia mentolerir kesalahan sebagai sesuatu yang relatif. Tuhan seperti itu bukan tuhan yang maha dalam segala atributnya.

Captain Pancasila wrote:Tuhan tidak mentolerir kesalahan manusia yang tidak diniatkan, adalah Tuhan lupa jika Dia menciptakan manusia dengan keterbatasan! maksud saya Tuhan itu sudah selayaknya mempunyai standar baik/buruk tersendiri terhadap manusia, karena Tuhan tidak menciptakan manusia sekapasitas dengan DiriNya!

Apakah pendapat anda ini mewakili pandangan islam mainstream? Pendapat anda dengan muslim patah salero saja sudah sangat bertentangan dalam hal ini. Dalam islam jelas ada konsep reward and punishment. Loyalis allah akan menerima reward surga, non loyalis akan dihukum di neraka. Berdasarkan argument anda diatas, buat apa allah islam menciptakan konsep neraka bila dia sudah tahu dari awalnya kalau manusia tidak akan mampu mengikuti kapasitas atau standardnya? Coba kita perhatikan ayat-ayat berikut :

-Al baqarah : 98 "Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir."
-Ali imran : 32 "Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir"
-Al maidah : 87 "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
-Ali imran :57 "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim."

Bila merujuk pada pengetahuan allah islam akan kapasitas manusia tadi, bagaimana allah secara objektif dapat membenci perilaku seperti yang dia firmankan pada ayat-ayat diatas? Mengapa allah tidak menunjukkan toleransi atau kemakluman saja pada perilaku manusia yang dia ketahui berbeda secara kapasitas dan standard dengan dirinya? Bagaimana cara allah menentukan standard antara manusia yang satu dengan yang lainnya bila memang standardnya tidak dapat diterapkan pada manusia karena perbedaan kapasitas? Mengapa allah memberikan privelege kehendak bebas kepada manusia, dan dia membenci pilihan tindakan yang diambil manusia saat menggunakan kehendak bebasnya? Atas standard apa allah membenci pilihan-pilihan bebas itu?
rahimii wrote:Coba perbaiki kembali logika berpikir anda dan berusahalah mencerna argumen awal dari trit ini. Tidak ada hal pemaksaan standar moral objektif TUHAN kepada manusia dibicarakan disini. Trit ini "memaksakan" argumen bahwa jika TUHAN yang benar memang ada, maka standard moralnya haruslah ojektif. Saya harap anda memahami perbedaannya.
Bentuk silogisme berikut dapat kita gunakan untuk membuktikan bahwa hanya semua yang baik yang dapat dikorelasikan kepada TUHAN yang baik, bukan yang abu-abu.

Premis 1: Jika anda ingin mencapai yang baik, anda harus melakukan apa yang sesuai dengan kehendak TUHAN (dan menghindari apa yang tidak konsisten dengan itu).
Premis 2: Secara alami, semua orang ingin mencapai yang baik.
Konklusi : Oleh karena itu, setiap orang pasti akan melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Jadi, berdasarkan argumen diatas, tidak logis ada orang yang melakukan kejahatan namun mengatakan ia sedang melakukan kehendak tuhan. Bila anda memiliki keyakinan bahwa ketidakmampuan manusia melakukan standard moral objektif sebagai bentuk toleransi tuhan dalam pelaksanaan keobjektivannya itu, silahkan dibantah dengan argumen logis pula.

Captain Pancasila wrote:lha masalahnya kan tiap2 orang punya persepsi tersendiri tentang kebaikan/kehendak Tuhan!

:goodman:

Justru itu yang menurut saya anda sulit sekali menangkapnya. Moralitas objektif itu adalah standard moral yang menilai salah adalah salah, benar adalah benar terlepas dari persepsi anda menilainya. Apakah menurut anda, TUHAN yang sejati itu seharusnya objektif dalam standard moral nya atau mencla-mencle seperti konsep anda? Kalau menurut anda konsep tuhan yang standardnya mencla-mencle itulah yang layak dinominasikan sebagai gambaran tuhan sebenar-benarnya, silahkan anda turunkan premisnya, argumentasinya, logikanya. Itulah yang diinginkan oleh trit ini.
rahimii
 
Posts: 311
Joined: Sun Mar 06, 2011 6:33 pm

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby Captain Pancasila » Fri May 23, 2014 10:34 am

rahimii wrote:Apakah pendapat anda ini mewakili pandangan islam mainstream? Pendapat anda dengan muslim patah salero saja sudah sangat bertentangan dalam hal ini. Dalam islam jelas ada konsep reward and punishment. Loyalis allah akan menerima reward surga, non loyalis akan dihukum di neraka. Berdasarkan argument anda diatas, buat apa allah islam menciptakan konsep neraka bila dia sudah tahu dari awalnya kalau manusia tidak akan mampu mengikuti kapasitas atau standardnya? Coba kita perhatikan ayat-ayat berikut :

-Al baqarah : 98 "Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir."
-Ali imran : 32 "Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir"
-Al maidah : 87 "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
-Ali imran :57 "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim."

Bila merujuk pada pengetahuan allah islam akan kapasitas manusia tadi, bagaimana allah secara objektif dapat membenci perilaku seperti yang dia firmankan pada ayat-ayat diatas? Mengapa allah tidak menunjukkan toleransi atau kemakluman saja pada perilaku manusia yang dia ketahui berbeda secara kapasitas dan standard dengan dirinya? Bagaimana cara allah menentukan standard antara manusia yang satu dengan yang lainnya bila memang standardnya tidak dapat diterapkan pada manusia karena perbedaan kapasitas? Mengapa allah memberikan privelege kehendak bebas kepada manusia, dan dia membenci pilihan tindakan yang diambil manusia saat menggunakan kehendak bebasnya? Atas standard apa allah membenci pilihan-pilihan bebas itu?

yang dimaksud dengan kafir/zalim disitu itu, kekafiran/kezaliman dari/berdasarkan standar kebenaran yang diyakininya, jadi tidak diluar kapasitasnya : boleh-non-islam-maupun-islam-dari-golongan-yang-belum-tentu-t51381/

rahimii wrote:Justru itu yang menurut saya anda sulit sekali menangkapnya. Moralitas objektif itu adalah standard moral yang menilai salah adalah salah, benar adalah benar terlepas dari persepsi anda menilainya. Apakah menurut anda, TUHAN yang sejati itu seharusnya objektif dalam standard moral nya atau mencla-mencle seperti konsep anda? Kalau menurut anda konsep tuhan yang standardnya mencla-mencle itulah yang layak dinominasikan sebagai gambaran tuhan sebenar-benarnya, silahkan anda turunkan premisnya, argumentasinya, logikanya. Itulah yang diinginkan oleh trit ini.

bukan Tuhannya mencla-mencle, tapi kapasitas tiap orangnya yang berbeda-beda, bahkan berdasarkan ayat/standar kebenaran yang sama pun, interpretasi tiap orang itu bisa berbeda2!

:goodman:
User avatar
Captain Pancasila
 
Posts: 3505
Joined: Wed Jun 01, 2011 1:58 pm
Location: Bekas Benua Atlantis

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby rahimii » Fri May 23, 2014 4:15 pm

Captain Pancasila wrote:bukan Tuhannya mencla-mencle, tapi kapasitas tiap orangnya yang berbeda-beda, bahkan berdasarkan ayat/standar kebenaran yang sama pun, interpretasi tiap orang itu bisa berbeda2!

:goodman:

Dalam logika manusia yang sehat, dibutuhkan penegasan adanya kebenaran mutlak, dan menyatakan bahwa jika suatu pernyataan itu benar, maka itu benar. Untuk menyatakannya secara simbolis, itu berarti A adalah A. Objektivitas bukan sesuatu "benar bagi anda" atau "benar bagi saya" dalam lingkup kemutlakan ini. Kita semua tahu bahwa ada rasa pada kita dalam memaknai sesuatu kebenaran secara berbeda, dan karena itu dapat membangun versi alternatif dari realitas, atau "kebenaran" dalam arti temporal. Tapi dalam arti murni atau mutlak, persepsi kita bukanlah kebenaran. Mereka hanyalah persepsi kita. Saya mungkin memiliki "kebenaran" saya, anda mungkin memiliki “kebenaran” anda, tetapi bila Tuhan ada, secara logika saya prefer kepada Tuhan yang tahu kebenaran secara objektif dan mutlak. Sehingga logika sebagai ilmu penalaran yang benar yang dimiliki manusia, tergantung pada adanya kebenaran Tuhan yang mutlak dan objektif tadi.

Memahami Tuhan yang tidak memiliki absolutisme dan objektivitas dalam dirinya, itu berarti secara kontradiktif kita sedang membangun argumen bahwa setidaknya ada satu kebenaran: bahwa tidak ada kebenaran, bahwa benar dan salah hanyalah perbedaan kapasitas manusia belaka. Pada dasarnya, apa yang anda katakan adalah sebuah absolutisme dan objektivitas itu sendiri, bahwa secara absolut anda sedang berargumen memang benar bahwa tidak ada kebenaran. Pernyataan semacam ini dengan telak membuktikan bahwa tuhan yang anda percayai secara logika memang bukan tuhan yang benar, karena menyangkal sendiri apa yang di klaimnya. Saya tidak mengetahui apa yang bisa lebih absurd dari argument ketuhanan semacam ini.
rahimii
 
Posts: 311
Joined: Sun Mar 06, 2011 6:33 pm

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby Captain Pancasila » Fri May 23, 2014 8:29 pm

rahimii wrote:tetapi bila Tuhan ada, secara logika saya prefer kepada Tuhan yang tahu kebenaran secara objektif dan mutlak. Sehingga logika sebagai ilmu penalaran yang benar yang dimiliki manusia, tergantung pada adanya kebenaran Tuhan yang mutlak dan objektif tadi.

seluruh Kristen dari denominasi manapun, semuanya berpegang pada Alkitab yang sama! maksud saya, jika kita pakai logika anda, maka tentunya Tuhan hanya menolerir satu saja denominasi yang benar, sementara denominasi2 lainnya yang salah tidak akan Tuhan tolerir!

:goodman:
User avatar
Captain Pancasila
 
Posts: 3505
Joined: Wed Jun 01, 2011 1:58 pm
Location: Bekas Benua Atlantis

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby Mahasiswa98 » Fri Jun 20, 2014 4:52 am

Sundul..........
User avatar
Mahasiswa98
 
Posts: 1480
Images: 0
Joined: Wed Mar 28, 2012 6:50 pm
Location: Dalam TerangNya

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby rahimii » Sat Jun 28, 2014 2:20 pm

rahimii wrote:tetapi bila Tuhan ada, secara logika saya prefer kepada Tuhan yang tahu kebenaran secara objektif dan mutlak. Sehingga logika sebagai ilmu penalaran yang benar yang dimiliki manusia, tergantung pada adanya kebenaran Tuhan yang mutlak dan objektif tadi.


Captain Pancasila wrote:seluruh Kristen dari denominasi manapun, semuanya berpegang pada Alkitab yang sama! maksud saya, jika kita pakai logika anda, maka tentunya Tuhan hanya menolerir satu saja denominasi yang benar, sementara denominasi2 lainnya yang salah tidak akan Tuhan tolerir!

:goodman:

Wah, argument ini mengarahnya kemana ya? Sudah jelas, bagi saya Tuhan yang benar itu adalah Tuhan yang hanya memiliki satu kebenaran, yaitu diriNya sendiri. Mengapa pusing ke denominasi segala ya?
Mirror 1: Menyelami Dilema Sang Allah
Follow Twitter: @ZwaraKafir
Last edited by rahimii on Sat Jun 28, 2014 6:15 pm, edited 1 time in total.
rahimii
 
Posts: 311
Joined: Sun Mar 06, 2011 6:33 pm

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby 12345678901 » Sat Jun 28, 2014 3:26 pm

kan muslim rajanya mengkotak kotakan manusia ....

ada islam .. ada kapeer ....
kapeer .. ada kapeer laknat . juga kapeer budak muslim

muslim sendiri ada kotaknya
sunni syiah dll dsb
12345678901
 
Posts: 986
Joined: Thu Oct 31, 2013 12:06 am

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby Captain Pancasila » Mon Jun 30, 2014 11:34 am

rahimii wrote:Wah, argument ini mengarahnya kemana ya? Sudah jelas, bagi saya Tuhan yang benar itu adalah Tuhan yang hanya memiliki satu kebenaran, yaitu diriNya sendiri. Mengapa pusing ke denominasi segala ya?

karena semua denominasi yang berniat mengikuti standar Tuhan tsb saling berbeda satu sama lain! :goodman:
User avatar
Captain Pancasila
 
Posts: 3505
Joined: Wed Jun 01, 2011 1:58 pm
Location: Bekas Benua Atlantis

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby JANGAN GITU AH » Mon Jun 30, 2014 12:47 pm

JANGAN GITU AH wrote:tahu dari mana kau ayat tersebut berbicara pada hari penghakiman? Emangnya pada hari penghakiman masih ada pemilihan pemimpin?

Nah, ente ngomong begitchu pastilah punya dasar...tolong tunjukkan ayat al quran yang memastikan hal itu kondisinya di hari penghakiman... #-o

Captain Pancasila wrote:baca saja dari ayat 18! :goodman:

emangnya di hari penghakiman masih ada proses pemilihan pimpinan?
semacam pilpres gitu?? ](*,)
Mirror 1: Menyelami Dilema Sang Allah
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby Captain Pancasila » Wed Jul 02, 2014 11:43 am

oh yang soal pemilihan pemimpin itu yang Surat Al-Maidah, sedangkan yang settingnya hari penghakiman itu yang Surat Al-Mujadilah! :goodman:
User avatar
Captain Pancasila
 
Posts: 3505
Joined: Wed Jun 01, 2011 1:58 pm
Location: Bekas Benua Atlantis

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby rahimii » Sat Jul 05, 2014 12:59 pm

rahimii wrote:Wah, argument ini mengarahnya kemana ya? Sudah jelas, bagi saya Tuhan yang benar itu adalah Tuhan yang hanya memiliki satu kebenaran, yaitu diriNya sendiri. Mengapa pusing ke denominasi segala ya?

Captain Pancasila wrote:karena semua denominasi yang berniat mengikuti standar Tuhan tsb saling berbeda satu sama lain! :goodman:

Lalu apakah hal itu menurut anda membuat Tuhan harus melepaskan kebenaran objektifnya? Tuhan menjadi pihak yang dipersalahkan karena kebenaran objektifnya tidak bisa dilakukan manusia? Bukankah didepan sedikit sudah saya singgung tentang hal ini? Coba anda baca dan cerna lagi ya..biar kita tidak muter-muter terus..
Mirror 1: Menyelami Dilema Sang Allah
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
rahimii
 
Posts: 311
Joined: Sun Mar 06, 2011 6:33 pm

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

Postby AlQuranKitabPalsu » Sat Jul 05, 2014 6:40 pm

rahimii wrote:Wah, argument ini mengarahnya kemana ya? Sudah jelas, bagi saya Tuhan yang benar itu adalah Tuhan yang hanya memiliki satu kebenaran, yaitu diriNya sendiri. Mengapa pusing ke denominasi segala ya?

Captain Pancasila wrote:karena semua denominasi yang berniat mengikuti standar Tuhan tsb saling berbeda satu sama lain! :goodman:
rahimii wrote:Lalu apakah hal itu menurut anda membuat Tuhan harus melepaskan kebenaran objektifnya? Tuhan menjadi pihak yang dipersalahkan karena kebenaran objektifnya tidak bisa dilakukan manusia? Bukankah didepan sedikit sudah saya singgung tentang hal ini? Coba anda baca dan cerna lagi ya..biar kita tidak muter-muter terus..
Mirror 1: Menyelami Dilema Sang Allah
Follow Twitter: @ZwaraKafir

Salam Kenal KK rahimii,
Tepat sekali penjelasannya :)
mungkin menjadi sama dengan situasi atau kondisi manusia yang dengan tegas memutuskan pilihannya :)
tidak mungkin kebenaran obyektif yang dimiliki Tuhan menjadi gamang karena yang menerima diriNya kemudian memberi nama sebagai ciri khas dalam kelompoknya :) kemudian kebenaran obyektifnya menjadi berubah, sikapnya berubah, pandanganya berubah. kalau kelompok satunya lebih banyak memuji muji dan kelompok lain lebih sedikit lalu kemudian Tuhan menjadi gamang kebenarannya. ambil saja 1 kebeneran obyektif Tuhan yaitu Kasih, tentu akan sama besarnya kepada kelompok 1 dan lainnya.

Tidak seperti KitabPalsu yang kemudian bisa pesan ayat ayat :)
tergantung pesanan dan bagaimana kondisinya. :)
jadi ingat si Umar yang bisa memesan Ayat AlQuranKitabPalsu. :lol:

By.AlQuranKitabPalsu
Mirror 1: Menyelami Dilema Sang Allah
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
AlQuranKitabPalsu
 
Posts: 35
Joined: Fri Jun 27, 2014 12:00 pm

Previous

Return to Ttg ALLAH



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron