Page 17 of 18

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 4:01 pm
by rahimii
Heppi wrote:Bisakah kamu semua menghadirkan tuhan kamu masing2 di hadapan saya ?

Baiknya anda cuci muka dulu bung..apa iya kualitas pendidikan indonesia sudah sedemikian hancur hingga hanya mampu menghasilkan tamatan S2 seperti anda? Kita main-main aja deh..anda kan berpendidikan tinggi, saintis, akademis..saya balik aja bertanya kepada : Bisakah anda menghadirkan si angka 1 di hadapan saya?

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 4:24 pm
by kampretman
[/quote]Baiknya anda cuci muka dulu bung..apa iya kualitas pendidikan indonesia sudah sedemikian hancur hingga hanya mampu menghasilkan tamatan S2 seperti anda? Kita main-main aja deh..anda kan berpendidikan tinggi, saintis, akademis..saya balik aja bertanya kepada : Bisakah anda menghadirkan si angka 1 di hadapan saya?[/quote]

Ga usah dilayanin bro, ngapain org levelan lo ngeladenin postingan yg kaya gitu. :partyman:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 5:03 pm
by rahimii
Siip bro kampret..hanya sedikit gemas dengan aroma "keangkuhan intelektual" yang ditebar oleh bro heppi ini..salam sejahtera bro kampret.. :partyman:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 6:02 pm
by Heppi
Masih ngotot tahayul ya ? Kita ringkas aja.Begini..coba hadirkan & BUKTIKAN tuhan kamu di hadapanku.Biar aku injek2 tuhan kamu sampai ancur hehehe

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 6:23 pm
by rahimii
Siip bro heppi..ada lagi yang mau anda sampaikan mungkin? S2 gitu lho..

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 6:38 pm
by Heppi
Agama itu subyektif.Benar menurut pnganutnya.

Hukum alam adalah fakta obyektif.Sains adalah KEBENARAN OBYEKTIF.

Agama itu cuma MEMAKNAI FAKTA KEHIDUPAN OBYEKTIF.jadi kehidupan subyektif adalah soal makna.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 6:58 pm
by rahimii
Heppi wrote:Agama itu subyektif.Benar menurut pnganutnya.

Hukum alam adalah fakta obyektif.Sains adalah KEBENARAN OBYEKTIF.

Agama itu cuma MEMAKNAI FAKTA KEHIDUPAN OBYEKTIF.jadi kehidupan subyektif adalah soal makna.

Menurut anda apakah ini berlaku juga untuk islam? Bila subjektivitas islam eksklusif bagi hanya yang mempercayainya, maka tidak ada masalah buat dunia ini. Tapi apakah islam sendiri eksklusif dalam subjektivitasnya atau bersifat progressive?

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 9:58 pm
by JANGAN GITU AH
Heppi wrote:Masih ngotot tahayul ya ? Kita ringkas aja.Begini..coba hadirkan & BUKTIKAN tuhan kamu di hadapanku.Biar aku injek2 tuhan kamu sampai ancur hehehe


:stun:
lho...kenapa harus meminta kafir menghadirkan Tuhan mereka sementara Allah swt saja gak bisa kau buktikan ada?
Bagi saya sih lebih baik dibukti dulu ada (eksis) daripada bicara menghadirkan.

bisa gak nte menunjukkan eksistensi sosok yang ente tunggingi saban hari itu. ada atau imajinasi saja? bukankah sia-sia saja nunging-nunggin ke hadapannya selama ini jika sosok itu hanya merupakan sosok imajinatif karangan Muhammad, bukan?

eh iya, ente masih berencana mengijak-injak. Saya bukan saja menginjak-injak, adu mengutuk allah swt dah tak lakukan bersama muslim di sini. Tahu hasilnya? Muslimnya yang ketiban sial-pengakuan si muslim sendiri, lho. Kafirnya mah gak kenapa-kenapa tuh...malah selama adu kutuk mengutuk alloh swt bersama muslim, ada kafir yang gerhasil tender proyeknya...apakah itu pertanda allah swt benar-benar isapan jempol Muhammad? :lol:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Thu May 01, 2014 6:28 am
by Captain Pancasila
rahimii wrote:Menurut saya yang paling utama mungkin buat membuka mata anda dan muslim sejenis anda, termasuk kita semua pencari kebenaran yang hakiki, bahwa allah dan muhammad sangat diragukan merupakan bagian atau dapat direlasikan kepada TUHAN yang punya standard sempurna seperti itu. Klaim kesempurnaan islam gagal total bahkan hanya dalam satu ujian. Atau anda bisa tunjukkan kepada kita bantahannya? Ayolah, masa semua muslim disini tipikal gagal dalam aplikasi logika yang sederhana saja?

yang namanya standar Tuhan kepada/untuk diterapkan manusia itu ya harus dapat diterapkan oleh manusia, kalau nggak gitu ya berarti bukan standar untuk diterapkan manusia!

rahimii wrote:Bro captain, saya tidak terlalu jelas akan maksud anda. Bagaimana kalau setiap orang punya standardnya sendiri dan meski secara realita standard itu sedemikian jahat dan buruk, itulah kebaikan menurut dia? Menurut dia itulah kebaikan yang telah diungkapkan tuhan kepada dirinya? Oleh karena itu, menurut saya kita harus mendefinisikan "baik" terlebih dahulu, lalu menemukan landasan yang tepat kepada siapa "baik" itu layak digantungkan sehingga "baik" itu memiliki nilai yang universal (sama) bagi setiap orang.

ya memang nggak bisa nggak gitu, mengingat kemampuan/kapasitas tiap orang itu beda2, akan tetapi walaupun toh begitu, dari sekian banyak kemampuan/kapasitas orang yang berbeda2 itu, selalu bisa dihitung median/nilai tengah nya, seperti memerangi orang tanpa alasan yang benar itu pastilah selalu salah dari sudut pandang orang dengan kapasitas apapun, karena itulah bukanlah hal aneh jika QS. 9:29 menggunakan istilah "tidak beriman kepada Allah (nya kristen Romawi) dan tidak (pula) kepada hari kemudian, tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya (kristen Romawi), tidak beragama dengan agama yang benar (nya kristen Romawi)" pada kristen Romawi yang memerangi muslim tanpa alasan yang benar!

:goodman:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Thu May 01, 2014 6:46 pm
by rahimii
rahmii wrote:Menurut saya yang paling utama mungkin buat membuka mata anda dan muslim sejenis anda, termasuk kita semua pencari kebenaran yang hakiki, bahwa allah dan muhammad sangat diragukan merupakan bagian atau dapat direlasikan kepada TUHAN yang punya standard sempurna seperti itu. Klaim kesempurnaan islam gagal total bahkan hanya dalam satu ujian. Atau anda bisa tunjukkan kepada kita bantahannya? Ayolah, masa semua muslim disini tipikal gagal dalam aplikasi logika yang sederhana saja?

Captain Pancasila wrote:yang namanya standar Tuhan kepada/untuk diterapkan manusia itu ya harus dapat diterapkan oleh manusia, kalau nggak gitu ya berarti bukan standar untuk diterapkan manusia!

Bagaimana maksudnya yang sempurna menetapkan standard untuk diterapkan oleh yang tidak sempurna? Standard yang sempurna itu tidak akan mereduksi dirinya agar dapat diaplikasikan oleh yang tidak sempurna. Dia tidak dapat menjadi tidak sempurna, karena sempurna adalah hakikatnya. Bagi TUHAN yang sempurna, segala atribut kesempurnaan yang melekat padanya, mestinya tidak dapat dikompromikan. Kita mengetahui yang sempurna itu dan menjadikannya tolok ukur pengetahuan kita akan benar dan salah. Bila kita mengikuti alur argumentasi anda, dari standard-standard yang ada pada manusia saat ini tentang moralitas yang bisa kita terapkan pun, kita masih terlalu sering gagal melakukannya bukan? Kenapa kita masih gagal, padahal menurut anda yang sempurna sudah menurunkan standardnya untuk dapat kita terapkan? Bahkan dalam upayanya memperkenalkan dirinya saja, tuhan menciptakan ada begitu banyak agama yang berkontradiksi satu dengan lainnya, menciptakan standard-standard moralitas yang berbeda pula, dan semua mengklaim sebagai agama yang benar? Anda lihat betapa sukarnya memahami bila tuhan sampai menurunkan standardnya bukan?
rahimii wrote:Bro captain, saya tidak terlalu jelas akan maksud anda. Bagaimana kalau setiap orang punya standardnya sendiri dan meski secara realita standard itu sedemikian jahat dan buruk, itulah kebaikan menurut dia? Menurut dia itulah kebaikan yang telah diungkapkan tuhan kepada dirinya? Oleh karena itu, menurut saya kita harus mendefinisikan "baik" terlebih dahulu, lalu menemukan landasan yang tepat kepada siapa "baik" itu layak digantungkan sehingga "baik" itu memiliki nilai yang universal (sama) bagi setiap orang.

Captain Pancasila wrote:ya memang nggak bisa nggak gitu, mengingat kemampuan/kapasitas tiap orang itu beda2, akan tetapi walaupun toh begitu, dari sekian banyak kemampuan/kapasitas orang yang berbeda2 itu, selalu bisa dihitung median/nilai tengah nya, seperti memerangi orang tanpa alasan yang benar itu pastilah selalu salah dari sudut pandang orang dengan kapasitas apapun, karena itulah bukanlah hal aneh jika QS. 9:29 menggunakan istilah "tidak beriman kepada Allah (nya kristen Romawi) dan tidak (pula) kepada hari kemudian, tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya (kristen Romawi), tidak beragama dengan agama yang benar (nya kristen Romawi)" pada kristen Romawi yang memerangi muslim tanpa alasan yang benar!

:goodman:

Allah dalam alquran sangat meragukan untuk dapat dianggap sebagai sosok kepada siapa moralitas objektif dapat dilandaskan. Dalam Islam, allah yang mahakuasa atau maha perkasa mengalahkan segalanya, bahkan karakter moralnya sendiri. Dalam Islam, allah dapat menipu orang. Dia bisa berbohong kepada mereka. Dia bisa melakukan hal-hal yang salah secara moral, bahkan bertentangan dengan sifatnya sendiri, karena ia adalah maha kuasa. Jadi ini menghasilkan semacam kesewenang-wenangan, berubah-ubah karena allah memiliki kekuasaan tidak mengenal batas, bahkan batas-batas karakternya sendiri.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Thu May 01, 2014 8:47 pm
by Captain Pancasila
rahimii wrote:Bagaimana maksudnya yang sempurna menetapkan standard untuk diterapkan oleh yang tidak sempurna? Standard yang sempurna itu tidak akan mereduksi dirinya agar dapat diaplikasikan oleh yang tidak sempurna. Dia tidak dapat menjadi tidak sempurna, karena sempurna adalah hakikatnya. Bagi TUHAN yang sempurna, segala atribut kesempurnaan yang melekat padanya, mestinya tidak dapat dikompromikan. Kita mengetahui yang sempurna itu dan menjadikannya tolok ukur pengetahuan kita akan benar dan salah.

standar kesempuranaan itu menyesuaikan subyeknya, standar kesempurnaan bagi orang normal, tentunya berbeda dengan standar kesempurnaan bagi orang cacat! standar kesempurnaan bagi Tuhan tentunya ya diperuntukkan bagi Tuhan, standar kesempurnaan bagi manusia tentunya ya diperuntukkan bagi manusia!

rahimii wrote:Allah dalam alquran sangat meragukan untuk dapat dianggap sebagai sosok kepada siapa moralitas objektif dapat dilandaskan. Dalam Islam, Allah yang mahakuasa atau maha perkasa mengalahkan segalanya, bahkan karakter moralnya sendiri.

Tuhan menciptakan pilihan berbuat jahat/sia2 agar manusia dapat memilih berbuat baik/berguna! bagaimana bisa seseorang dapat dikatakan memilih sesuatu, jika pilihan yang ada/bisanya memilih cuma itu?

:goodman:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Thu May 01, 2014 11:28 pm
by Joe Andmie
Heppi wrote:Masih ngotot tahayul ya ? Kita ringkas aja.Begini..coba hadirkan & BUKTIKAN tuhan kamu di hadapanku.Biar aku injek2 tuhan kamu sampai ancur hehehe


Mau buktikan dihadapan kamu? saya kebetulan ada diIndo, bisa beritahu kampus kamu?

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Thu May 01, 2014 11:30 pm
by rahimii
Captain Pancasila wrote:standar kesempuranaan itu menyesuaikan subyeknya, standar kesempurnaan bagi orang normal, tentunya berbeda dengan standar kesempurnaan bagi orang cacat! standar kesempurnaan bagi Tuhan tentunya ya diperuntukkan bagi Tuhan, standar kesempurnaan bagi manusia tentunya ya diperuntukkan bagi manusia!

Kayaknya sih kita berputar-putar saja. Tuhan anda menentukan standar bagi dirinya sekaligus memberikan standard kepada manusia yang tentunya berbeda-beda pula karena kapasitas manusia tidak sama dalam menerapkannya? Ya memang begitulah maksud saya allahnya muhammad, premisnya juga ada di beberapa post sebelumnya bahwa allah seperti yang anda gambarkan ini memiliki standard moral yang relatif dan bukan objektif. Silahkan anda baca ulang dululah, daripada anda akhirnya mutar-mutar saja.
Captain Pancasila wrote:Tuhan menciptakan pilihan berbuat jahat/sia2 agar manusia dapat memilih berbuat baik/berguna! bagaimana bisa seseorang dapat dikatakan memilih sesuatu, jika pilihan yang ada/bisanya memilih cuma itu?

:goodman:

Jika kita sepakat tuhan itu harus sempurna, dalam bingkai pilihan itu berarti dia mengetahui ada hal-hal jahat, namun tidak akan pernah bisa memilih melakukan yang jahat itu bukan? Justru disitulah letak perbedaan kualitas manusia dengan tuhan yang sempurna itu dalam pengaplikasian pilihan. Manusia tidak bisa luput untuk memilih melakukan yang jahat berlandaskan adanya keistimewaan untuk memilih pada dirinya, sementara tuhan yang sempurna selalu akan memilih yang sempurna baik. Tuhan yang benar tidak dapat sempurna jahatnya sekaligus sempurna baiknya. Lalu dimana letak kerisauan anda waktu saya bilang bahwa manusia memang tidak akan bisa menerapkan standard moral objektif tuhan yang benar?

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Fri May 02, 2014 10:40 am
by Captain Pancasila
rahimii wrote:Kayaknya sih kita berputar-putar saja. Tuhan anda menentukan standar bagi dirinya sekaligus memberikan standard kepada manusia yang tentunya berbeda-beda pula karena kapasitas manusia tidak sama dalam menerapkannya? Ya memang begitulah maksud saya Allahnya muhammad, premisnya juga ada di beberapa post sebelumnya bahwa allah seperti yang anda gambarkan ini memiliki standard moral yang relatif dan bukan objektif. Silahkan anda baca ulang dululah, daripada anda akhirnya mutar-mutar saja.

tepatnya obyektif dalam hal standar niat, & relatif dalam hal standar pelaksanaan, untuk lebih jelasnya silahkan lihat di : boleh-non-islam-maupun-islam-dari-golongan-yang-belum-tentu-t51381/

Captain Pancasila wrote:Jika kita sepakat tuhan itu harus sempurna, dalam bingkai pilihan itu berarti dia mengetahui ada hal-hal jahat, namun tidak akan pernah bisa memilih melakukan yang jahat itu bukan? Justru disitulah letak perbedaan kualitas manusia dengan tuhan yang sempurna itu dalam pengaplikasian pilihan. Manusia tidak bisa luput untuk memilih melakukan yang jahat berlandaskan adanya keistimewaan untuk memilih pada dirinya, sementara tuhan yang sempurna selalu akan memilih yang sempurna baik. Tuhan yang benar tidak dapat sempurna jahatnya sekaligus sempurna baiknya. Lalu dimana letak kerisauan anda waktu saya bilang bahwa manusia memang tidak akan bisa menerapkan standard moral objektif tuhan yang benar?

tidak ada kerisauan dalam hal itu, keberatan saya itu kan menyangkut soal ide anda yang memaksakan standar moral obyektif Tuhan pada manusia!

:goodman:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Fri May 02, 2014 10:35 pm
by rahimii
rahimii wrote:Kayaknya sih kita berputar-putar saja. Tuhan anda menentukan standar bagi dirinya sekaligus memberikan standard kepada manusia yang tentunya berbeda-beda pula karena kapasitas manusia tidak sama dalam menerapkannya? Ya memang begitulah maksud saya Allahnya muhammad, premisnya juga ada di beberapa post sebelumnya bahwa allah seperti yang anda gambarkan ini memiliki standard moral yang relatif dan bukan objektif. Silahkan anda baca ulang dululah, daripada anda akhirnya mutar-mutar saja.

Captain Pancasila wrote:tepatnya obyektif dalam hal standar niat, & relatif dalam hal standar pelaksanaan, untuk lebih jelasnya silahkan lihat di : boleh-non-islam-maupun-islam-dari-golongan-yang-belum-tentu-t51381/

Apanya yang jelas dalam link anda diatas? Ketika kita mengatakan bahwa TUHAN itu baik, kita mengartikan itu dengan cara yang berbeda dari cara yang kita maksudkan ketika kita mengatakan bahwa manusia itu baik. Bagi kita, kebaikan adalah partisipasi dalam kebaikan, kita dapat berpartisipasi lebih atau kurang berdasarkan tingkatan, dan oleh karena itu kita bisa lebih baik atau lebih buruk. Itu bukan apa yang kita maksud ketika kita mengatakan bahwa TUHAN itu baik.
Pikirkan tentang perbedaan antara mengatakan "anjing basah" dan "cairan basah". Kita bisa membayangkan anjing dalam kondisi yang tidak basah, cukup dengan mengeringkannya dengan handuk yang baik, dia tidak akan memiliki basah lagi. Kita bisa membayangkan anjing basah dan anjing kering, dan segala sesuatu di antaranya. Tapi ketika kita mengatakan bahwa cairan basah, itu berarti bahwa kebasahan adalah atribut melekat dari apa yang kita maksud dengan "cair." Jika seseorang bisa mengklaim memiliki "cairan yang kering", kita harus menyimpulkan bahwa orang seperti ini memiliki disfungsi pemahaman akan apa yang dimaksud dengan "cair" atau "kering" Itulah yang terjadi jika anda memposisikan tuhan sebagai kebenaran tapi dilain sisi dia mentolerir kesalahan sebagai sesuatu yang relatif. Tuhan seperti itu bukan tuhan yang maha dalam segala atributnya.
rahimii wrote:Jika kita sepakat tuhan itu harus sempurna, dalam bingkai pilihan itu berarti dia mengetahui ada hal-hal jahat, namun tidak akan pernah bisa memilih melakukan yang jahat itu bukan? Justru disitulah letak perbedaan kualitas manusia dengan tuhan yang sempurna itu dalam pengaplikasian pilihan. Manusia tidak bisa luput untuk memilih melakukan yang jahat berlandaskan adanya keistimewaan untuk memilih pada dirinya, sementara tuhan yang sempurna selalu akan memilih yang sempurna baik. Tuhan yang benar tidak dapat sempurna jahatnya sekaligus sempurna baiknya. Lalu dimana letak kerisauan anda waktu saya bilang bahwa manusia memang tidak akan bisa menerapkan standard moral objektif tuhan yang benar?

Captain Pancasila wrote:tidak ada kerisauan dalam hal itu, keberatan saya itu kan menyangkut soal ide anda yang memaksakan standar moral obyektif Tuhan pada manusia!

:goodman:

Coba perbaiki kembali logika berpikir anda dan berusahalah mencerna argumen awal dari trit ini. Tidak ada hal pemaksaan standar moral objektif TUHAN kepada manusia dibicarakan disini. Trit ini "memaksakan" argumen bahwa jika TUHAN yang benar memang ada, maka standard moralnya haruslah ojektif. Saya harap anda memahami perbedaannya.
Bentuk silogisme berikut dapat kita gunakan untuk membuktikan bahwa hanya semua yang baik yang dapat dikorelasikan kepada TUHAN yang baik, bukan yang abu-abu.

Premis 1: Jika anda ingin mencapai yang baik, anda harus melakukan apa yang sesuai dengan kehendak TUHAN (dan menghindari apa yang tidak konsisten dengan itu).
Premis 2: Secara alami, semua orang ingin mencapai yang baik.
Konklusi : Oleh karena itu, setiap orang pasti akan melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Jadi, berdasarkan argumen diatas, tidak logis ada orang yang melakukan kejahatan namun mengatakan ia sedang melakukan kehendak tuhan. Bila anda memiliki keyakinan bahwa ketidakmampuan manusia melakukan standard moral objektif sebagai bentuk toleransi tuhan dalam pelaksanaan keobjektivannya itu, silahkan dibantah dengan argumen logis pula.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Sun May 04, 2014 6:14 am
by Captain Pancasila
rahimii wrote:Apanya yang jelas dalam link anda diatas? Ketika kita mengatakan bahwa TUHAN itu baik, kita mengartikan itu dengan cara yang berbeda dari cara yang kita maksudkan ketika kita mengatakan bahwa manusia itu baik. Bagi kita, kebaikan adalah partisipasi dalam kebaikan, kita dapat berpartisipasi lebih atau kurang berdasarkan tingkatan, dan oleh karena itu kita bisa lebih baik atau lebih buruk. Itu bukan apa yang kita maksud ketika kita mengatakan bahwa TUHAN itu baik.
Pikirkan tentang perbedaan antara mengatakan "anjing basah" dan "cairan basah". Kita bisa membayangkan anjing dalam kondisi yang tidak basah, cukup dengan mengeringkannya dengan handuk yang baik, dia tidak akan memiliki basah lagi. Kita bisa membayangkan anjing basah dan anjing kering, dan segala sesuatu di antaranya. Tapi ketika kita mengatakan bahwa cairan basah, itu berarti bahwa kebasahan adalah atribut melekat dari apa yang kita maksud dengan "cair." Jika seseorang bisa mengklaim memiliki "cairan yang kering", kita harus menyimpulkan bahwa orang seperti ini memiliki disfungsi pemahaman akan apa yang dimaksud dengan "cair" atau "kering" Itulah yang terjadi jika anda memposisikan tuhan sebagai kebenaran tapi dilain sisi dia mentolerir kesalahan sebagai sesuatu yang relatif. Tuhan seperti itu bukan tuhan yang maha dalam segala atributnya.

Tuhan tidak mentolerir kesalahan manusia yang tidak diniatkan, adalah Tuhan lupa jika Dia menciptakan manusia dengan keterbatasan! maksud saya Tuhan itu sudah selayaknya mempunyai standar baik/buruk tersendiri terhadap manusia, karena Tuhan tidak menciptakan manusia sekapasitas dengan DiriNya!

rahimii wrote:Coba perbaiki kembali logika berpikir anda dan berusahalah mencerna argumen awal dari trit ini. Tidak ada hal pemaksaan standar moral objektif TUHAN kepada manusia dibicarakan disini. Trit ini "memaksakan" argumen bahwa jika TUHAN yang benar memang ada, maka standard moralnya haruslah ojektif. Saya harap anda memahami perbedaannya.
Bentuk silogisme berikut dapat kita gunakan untuk membuktikan bahwa hanya semua yang baik yang dapat dikorelasikan kepada TUHAN yang baik, bukan yang abu-abu.

Premis 1: Jika anda ingin mencapai yang baik, anda harus melakukan apa yang sesuai dengan kehendak TUHAN (dan menghindari apa yang tidak konsisten dengan itu).
Premis 2: Secara alami, semua orang ingin mencapai yang baik.
Konklusi : Oleh karena itu, setiap orang pasti akan melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Jadi, berdasarkan argumen diatas, tidak logis ada orang yang melakukan kejahatan namun mengatakan ia sedang melakukan kehendak tuhan. Bila anda memiliki keyakinan bahwa ketidakmampuan manusia melakukan standard moral objektif sebagai bentuk toleransi tuhan dalam pelaksanaan keobjektivannya itu, silahkan dibantah dengan argumen logis pula.

lha masalahnya kan tiap2 orang punya persepsi tersendiri tentang kebaikan/kehendak Tuhan!

:goodman:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Sun May 04, 2014 6:21 am
by Joe Andmie
Premis 1: Jika anda ingin mencapai yang baik, anda harus melakukan apa yang sesuai dengan kehendak TUHAN (dan menghindari apa yang tidak konsisten dengan itu).
Premis 2: Secara alami, semua orang ingin mencapai yang baik.
Konklusi : Oleh karena itu, setiap orang pasti akan melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.


Re: Menyelami Dilema Sang Allah.
Saya cuba mengingat satu ayat, dan apakah ini sesuai dengan kehendak tuhan ?
(Quran 58:22), dan “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Quran 5:51)

Mustahil bagi Tuhan yang maha pengasih.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Sun May 04, 2014 7:01 am
by Captain Pancasila
1. QS. 58:22, itu kondisinya pas hari penghakiman dimana orang memang tidak bisa menolong orang lain nya, & lagipula pendosa menerima akibat dari dosanya di hari penghakiman tanpa bisa ditolong itu memang sesuai dengan kehendak Allah!
2. di QS. 5:51 Yahudi/Nasrani disitu itu tidak boleh diplih menjadi pemimpin karena ybs tidak mau berhukum dengan hukum Allah, & berhukum dengan hukum Allah itu memang sesuai dengan kehendak Allah!

:goodman:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Sun May 04, 2014 8:39 am
by Joe Andmie
Captain Pancasila wrote:1. QS. 58:22, itu kondisinya pas hari penghakiman dimana orang memang tidak bisa menolong orang lain nya, & lagipula pendosa menerima akibat dari dosanya di hari penghakiman tanpa bisa ditolong itu memang sesuai dengan kehendak Allah!
2. di QS. 5:51 Yahudi/Nasrani disitu itu tidak boleh diplih menjadi pemimpin karena ybs tidak mau berhukum dengan hukum Allah, & berhukum dengan hukum Allah itu memang sesuai dengan kehendak Allah!

:goodman:


Thanks bro CP, jawaban anda sesuai dengan topik , baik kita tunggu dihari penghakiman , kitab masing2 menyatakan siapa yang akan datang menjadi hakim yang adil. Saya percaya tidak ada fasilitas istimewa untuk sesiapapun, bukan?

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Sun May 04, 2014 10:02 am
by Captain Pancasila
benar! :turban: