Page 16 of 18

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Fri Apr 18, 2014 2:24 am
by Patah Salero
FHLI wrote:Dengan kata lain muhammad bukanlah teladan yang sempurna, karena perilakunya tidak dapat ditiru oleh manusia jaman sekarang. Kalau muhammad adalah teladan yang sempurna, pastilah semua perilakunya dapat ditiru oleh manusia segala jaman. PS maju kena, mundur kena, kiri kena, kanan kena, atas kena, bawah kena ; seperti makan buah simalakama. :goodman:


Argumen basi ini udah gw jawab sama si angky. kenapa loe ulang trus menerus.

Apa loe akan konsisten dengan argumen loe itu, bahwa perilaku MANUSIA SEMPURNA harus bisa jadi patokan sepanjang jaman ??

Nih gw kasih contoh:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
http://quran.com/5/90


Meminum khamar dianggap perbuatan syetan oleh kaum muslimin. Masih Pantaskah Jesus Sang Peminum khamar dianggap sebagai penebus dosa ?? kalau dia sudah melakukan PERBUATAN SETAN, gimana mungkin Jesus menebus dosa umat manusia. Dia sama berdosanya dengan manusia yang lain.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Fri Apr 18, 2014 7:43 am
by Rosul
]
FHLI wrote:Dengan kata lain muhammad bukanlah teladan yang sempurna, karena perilakunya tidak dapat ditiru oleh manusia jaman sekarang. Kalau muhammad adalah teladan yang sempurna, pastilah semua perilakunya dapat ditiru oleh manusia segala jaman. PS maju kena, mundur kena, kiri kena, kanan kena, atas kena, bawah kena ; seperti makan buah simalakama. :goodman:


Patah Salero wrote:Argumen basi ini udah gw jawab sama si angky. kenapa loe ulang trus menerus.

Apa loe akan konsisten dengan argumen loe itu, bahwa perilaku MANUSIA SEMPURNA harus bisa jadi patokan sepanjang jaman ??

Nih gw kasih contoh:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
http://quran.com/5/90

Meminum khamar dianggap perbuatan syetan oleh kaum muslimin. Masih Pantaskah Jesus Sang Peminum khamar dianggap sebagai penebus dosa ?? kalau dia sudah melakukan PERBUATAN SETAN, gimana mungkin Jesus menebus dosa umat manusia. Dia sama berdosanya dengan manusia yang lain.


Ck.ck.ck.ck [-X [-X

Patah..Patah

Selalu menghindar dari menjawab yang penting dan selalu cari2 alasan

1. Yang kita bahas ini adalah DOSA PEDOFILIA karena berkenaan dengan hati nurani serta Golden Rule PERLAKUKAN ORG LAIN SPRTI ENTE MAU DIPERLAKUKAN
Kok marah nyasar ke judi dan minum khamar ? KALO MINUM KHAMAR MEMANGNYA MENYAKITI ORANG LAIN ?


2. Serius nih Minum Khamar itu perkara Syaitan ? SEKALI LAGI MARI BERPATOKAN PADA QURAN KITAB PEGANGAN ANDA,

(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong usus mereka?” [QS Muhammad: 15]

Masalah khamar sendiri bukan sesuatu yg universal dan kekal karena surga Islam ternyata sarangnya peminum khamar, atau kalo PS masih bersikeras jangan2 surga Islam = Sarang Syaitan ?



3. Bahkan Nabi anda minum perasan buah anggur

Narrated by Gaber bin Abdullah:
We were with the messenger of Allah, PBUH and he asked for a drink. One of his men said: "Oh Messenger of Allah, Can we offer you wine to drink?" He said Yes. He (Gaber) went out looking for the drink and came back with a cup of wine. The messenger (Peace Be Upon him) asked, "Have you covered it with a twig in a transverse manner" He (Gaber) said, "Yes" and he (Muhammad) drank. Sahih Muslim - Hadith #3753

Tafsir Hadits mengatakan perasan buah anggur itu bukan khamar, tapi suatu minuman yang tidak memabukkan
It should be borne in mind that the Prophet didn't drink it when it was fermented. He drank it when it was unfermented. A scholar writing on a related hadith:
عصير العنب الذي لم يصل إلى حد الإسكار
"Grape juice, which had not reached the level of causing intoxication." (Sheikh Abdul 'Azeez Bin Abdullah Al-Raajhi - Commentary Of Sahih Muslim

Dalam Injil tidak ada pengklasifikasian bahasa pembedaan anggur memabukkan dengan perasan anggur biasa namun berhubung tidak ada yg menulis bahwa Yesus aslinya suka mabuk (yg ada hanyalah fitnah berhubung Yesus suka menginjili berdekatan dg kaum pendosa pelacur dan pemabuk ) sbab itu tidak ada yang bertentangan


4. Berhubung saya sendiri pernah mencoba yang namanya Anggur beralkohol , dari pengalaman pribadi yang namanya anggur beralkohol jelas sangat berbeda dengan Vodka atau Wiski yg kadar alkoholnya lebih tinggi.

Anggur beralkohol sering disajikan di restoran2 mahal sebagai minuman pelengkap makanan, dan bahkan sering dipakai sebagai bumbu makanan.

Bila bisa mengatur diri untuk tidak meminumnya sekaligus, lalu menunggu beberapa menit sbelum meminumnya lagi ditambah sadar diri akan kadar toleransi yg bisa diterima tubuh terhadap efek alkohol maka gak akan kejadian tuh yang namanya mabuk. Namun sangat berbeda dg meminum vodka,wiski atau tequila yg sekali teguk gelas kecil saja (one shot) lidah kerongkongan sudah rasa terbakar dan kepala langsung melayang2.


5. Ingat Obat bius pun dapat dikategorikan khamar, namun dipakai dalam kedokteran bahkan rumah sakit islam. Bahkan di rumah2 sakit terpencil di Afrika bila tak ada obat bius, minum khamar harus dilakukan si pasien untuk dilakukan operasi . Pengharaman khamar secara mutlak malah jadi gak masuk akal

Sekali lagi yg perlu ditekankan, masalah alkohol sendiri bukan masalah yg serta merta langsung merugikan orang lain seperti pedofilia, mari PS bayangkan tubuh anak perempuan anda yang masih rapuh yg masih umur 9 th harus menjadi objek pemuasan seorang laki2 tua umur 50 tahun, bayangkan organ2 vitalnnya yang belum sepenuhnya berkembang terpaksa harus dirusak untuk kepuasan laki2 tersebut.

Mungkin PS baru sadar kalo hal seperti ini Insya Allah kejadian terhadap keluarganya sendiri .


Btw tolong dijawab masalah tafsiran Sura 65 : 4 yg anda hindari terus , masa harus diINGATKAN terus kayak anak kecil ? [-X

Grape juice, which had not reached the level of causing intoxication." (She
Mirror 1: Grape juice, which had not reached the level of causing intoxication." (She
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
Faithfreedompedia static

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Fri Apr 18, 2014 6:59 pm
by gema
si PS.. bukan serba salah lagi ente sekarang, malah seferti kesurufan meracau kemana-mana. Makenye jangan lama-lama jadi kadal gurun. Ndak Cafek belain si mamad fedophil. #-o

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Mon Apr 28, 2014 12:37 pm
by rahimii
Patah Salero wrote:Gw rasa gw gak pernah ngebantah eksistensi nilai moral objektif. Yang gw tanya dari awal adalah DARI MANA KITA TAHU BAHWA SUATU NILAI ADALAH OBJEKTIF ??
Disamping itu, bila terjadi konflik diantara nilai-nilai moral ini, bagaimana kita mengetahui bahwa suatu prinsip moral lebih tinggi nilainya dari prinsip moral yang lain.

Misalnya, Anak kecil juga tau bahwa kita harus menghargai kehidupan kita, menghargai kehidupan orang tua kita, dan menghargai kehidupan anak kita. Persoalannya, bila ketiga nyawa terancam, maka nyawa siapa yang harus pertama kali diselamatkan ??

Contoh lain, Gampang sekali untuk membandingkan antara membunuh dengan tidak membunuh. Atau jujur atau tidak jujur. Anak TK juga udah tahu bahwa membunuh dan berbohong adalah perbuatan tidak bermoral. Yang anak TK enggak paham adalah apakah seseorang dianggap bermoral ketika berbohong untuk mencegah terjadinya suatu pembunuhan.
Contoh kasus: Begal motor sadis dikejar-kejar ratusan orang pake golok, besi dan segala macam. Itu rampok yang keetakutan akhirnya sembunyi di halaman rumah gw. Apa yang harus gw lakukan ?? Apakah gw harus jujur yang mengkin mengakibatkan kematian, atau gw diam aja yang membuat rampok ini lari dan gak ketangkap.

Anak TK juga tau bahwa menginginkan istri orang lain dan membunuh adalah perbuatan tidak bermoral.
Pertanyaannya, bolehkah gw membunuh orang yang SEDANG memperkosa istri gw ??

Salam bro patah dan teman-teman semua. Lamo tak basuo..

Bro patah, kenapa anda seperti kebingungan? Jika kita berpikir bahwa nilai-nilai moral objektif ada, maka kita akan dituntun secara logis ke kesimpulan bahwa Tuhan itu ada. Saya menarik kesimpulan anda sepakat dengan pernyataan ini berdasarkan perkataan anda bahwa anda tidak menolak adanya moralitas objektif. Atau anda barangkali percaya ada moral objektif tapi itu tidak berlandaskan kepada TUHAN? Kalau itu maksud anda, kita ingin melihat premisnya seperti yang diminta oleh bro kibou. Kewajiban moral serta benar dan salah memerlukan keberadaan TUHAN.

Pertanyaan yang dimunculkan dalam pembahasan trit ini adalah, tuhan yang mana yang layak menjadi landasan nilai moral objektif itu, apakah allah nya islam? Nilai moral objektif bukan soal bagaimana anda menentukan atau membuat keputusan moral dalam sebuah situasi. Moral objektif adalah bagaimana suatu perbuatan baik tetap bernilai baik dan perbuatan salah tetap bernilai salah terlepas dari kondisi, waktu, budaya, konsensus dan kesepakatan yang melatarbelakanginya. Bagaimana kita mengetahui objektivitas? Saya tidak akan membahasnya secara panjang lebar, anda boleh mempelajarinya sendiri berdasarkan poin-poin berikut yang menurut saya cukup mewakili dalam memahaminya.

Pertama kita bisa mengetahuinya berdasarkan prinsip a posteriori. Ada hal yang kita tahu sebagai hasil dari penemuan yang kita lakukan di dunia nyata. Kita menggunakan indera kita secara empiris menguji lingkungan kita. Setelah mengumpulkan informasi, kita sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita percayai dibenarkan oleh bukti. Kedua, hal-hal kita ketahui melalui kemurnian akal. Kita menarik kesimpulan berdasarkan sebab dan akibat, atau kita menarik kesimpulan dengan menggunakan hukum rasionalitas.
Ketiga, intuisi. Ini adalah cara mengetahui yang sangat mendasar sehingga pembenaran adalah mustahil. Itu karena pengetahuan melalui intuisi tidak diperoleh dengan mengikuti serangkaian fakta atau garis penalaran pada suatu kesimpulan. Sebaliknya, kita mengetahui kebenaran intuitif hanya dengan proses introspeksi dan kesadaran langsung.

Setiap tindakan moral terdiri dari tiga unsur: tindakan obyektif (apa yang kita lakukan), tujuan subyektif atau niat (mengapa kita melakukan tindakan), dan situasi konkrit atau keadaan di mana kita melakukan tindakan (di mana, kapan, bagaimana, dengan siapa, konsekuensi, dll). Beberapa tindakan, terlepas dari niat atau alasan untuk melakukannya, selalu salah karena mereka berlawanan dengan nilai kebaikan dasar manusia yang fundamental yang tidak selayaknya untuk dikompromikan. Pembunuhan langsung terhadap orang yang tidak bersalah, penyiksaan, dan pemerkosaan adalah contoh tindakan yang selalu salah. Tindakan seperti itu disebut jahat secara intrinsik, yang berarti bahwa tindakan itu salah dalam dirinya sendiri, terlepas dari adanya alasan mengapa tindakan itu dilakukan atau keadaan sekitar mereka. Pedofilia, secara intrinsik selalu jahat karena itu adalah bentuk penyiksaan dan pemerkosaan seksual terhadap anak-anak yang dalam kesadarannya sendiri belum cukup dewasa untuk memahami kenapa tindakan itu dilakukan kepada mereka. Terlepas yang melakukannya mengaku nabi, tuhan atau orang suci, atau budaya dan nilai-nilai suatu kelompok mengakuinya sebagai tindakan yang benar. Niat baik tidak dapat membuat satu tindakan yang buruk (sesuatu yang pada hakikatnya jahat) menjadi baik.

Niat baik atau niat suci nan holistik seorang muhammad yang menikahi dan menyetubuhi anak-anak, tidak membuat perbuatan menikahi dan menyetubuhi anak kecil itu menjadi baik. Bagi TUHAN yang seluruh hakikat dan karakternya hanyalah kebaikan, pedofil harusnya tetaplah pedofil yang tidak memiliki nilai moral yang baik. Niat baik anda untuk melindungi keluarga dengan membunuh orang yang hendak menyakiti keluarga anda, tidak membuat tindakan membunuh itu menjadi baik. Itulah yang disebut dengan pengetahuan moral objektif.

Dalam contoh kasus-kasus yang anda pertanyakan, anda terlihat dibingungkan akan perbedaan antara hukum moral objektif dan hukum sipil. Hukum sipil benar adalah salah satu sumber yang menetapkan kewajiban moral kita. Dalam hukum sipil, tidak ada aturan moral yang dilanggar bila anda harus membunuh, berbohong untuk mendapatkan suatu output yang baik sebagai hasilnya. Dalam aturan normatif yang dituangkan dalam hukum sipil masyarakat yang beradab, gagasan yang melekat akan moralitas adalah pandangan yang benar tentang perilaku. Kita mengatakan bahwa ada sesuatu yang bermoral ketika menampilkan perilaku yang tepat sesuai nilai yang dianut masyarakat tersebut. Sebaliknya, sesuatu menjadi tidak bermoral ketika bertentangan dengan perilaku yang semestinya.

Tapi apakah moralitas yang dikondisikan dalam tindakan berdasarkan dari suatu situasi yang dibenarkan oleh hukum sipil adalah objektif? Di banyak negara, homoseks, aborsi, prostitusi dan seks bebas dijamin oleh undang-undang. Itu tidak menjadikan perilaku tersebut menjadi objektif benar bukan? Tindakan moral yang anda contohkan adalah penerapan dari etika situasional yamg merupakan turunan dari gagasan moral dalam hukum sipil, yang mengevaluasi tindakan seseorang dalam terang konteks situasi. Bahwa keputusan moral tidak dapat dibuat atas dasar beberapa hal selalu benar dan beberapa hal selalu salah, tapi setiap keputusan moral harus dibuat dalam lingkup situasi tertentu. Saya juga setuju berbohong dan membunuh dalam situasi yang anda contohkan itu sebagai bentuk tindakan moral yang benar. Namun tentu saja itu tidak dapat dikatakan objektif secara moral.

Mari kita sedikit bermain dengan kegundahan anda dengan menelaah contoh lain yang berbeda, tapi secara makna sama dengan contoh-contoh anda. Agar lebih mendekati kepada kasus pedofilia muhammad, contoh ini adalah gambaran sebuah hubungan seksual menyimpang dimana penyimpangan menurut anda dapat dibenarkan oleh situasi, karena menghasilkan suatu output yang baik seperti terjadi pada aisyah yang pada akhirnya menjadi pencerita hadis terbanyak meski menjadi korban pedofilia.

Pada Perang Dunia 2, seorang prajurit Jerman ditangkap dan dibawa ke sebuah kamp tawanan perang di Negara lain. Istrinya kemudian , karena terpaksa mencari makanan untuk ketiga anak mereka , tertangkap oleh patroli tentara Soviet. Sang istri ini lalu dikirim ke kamp penjara di Ukraina .
Dalam beberapa bulan, prajurit Jerman itu dibebaskan kembali ke negaranya dan mulai mencari keluarganya . Dia menemukan ketiga anak mereka di sebuah sekolah penahanan Soviet, tapi mereka mencari dengan sia-sia akan keberadaan sang istri sekaligus ibu mereka. Keberadaannya tetap menjadi misteri . Sementara itu di Ukraina , istri sang prajurit mengetahui melalui penjaga kamp Soviet yang simpatik, bahwa suaminya dan anak-anaknya di Jerman mati-matian berusaha untuk menemukannya . Tapi aturan Soviet akan memungkinkan pembebasannya hanya dengan dua alasan : 1 ) penyakit yang membutuhkan perawatan medis di luar fasilitas kamp dan ( 2 ) kehamilan, dalam hal ini dia akan dikembalikan ke Jerman sebagai kewajiban.

Dia bergumul dengan alternatif dan akhirnya meminta penjaga kamp yang simpatik itu menghamili dirinya . Ketika kondisinya secara medis diverifikasi hamil , ia segera kembali ke Jerman dan bersatu kembali dengan keluarganya . Sang prajurit dan anak-anaknya menyambut dengan tangan terbuka bahkan tidak memiliki keberatan saat si istri menceritakan kepada mereka bagaimana caranya dia berhasil keluar dari kamp itu. Ketika anak hasil perzinahan itu lahir , mereka tetap mencintainya , merasa bahwa ia telah melakukan apa yang orang lain tidak bisa lakukan, yakni membawa keluarga kembali bersama-sama. Kisah ini dalam tataran subjektivitas masyarakat kita, akan banjir dukungan dan secara moral acceptable.

Bagaimana tanggapan moral anda terhadap kisah itu patah salero? Untuk mengetahui objektivitasnya, coba posisi sang istri prajurit digantikan oleh aisyah. Menurut anda apakah aisyah disitu harus tetap dianggap salah karena melakukan perzinahan? Kalau ya, berarti anda telah melihat secara objektif. Nah, mengapa anda tidak bisa berlaku objektif yang sama dalam memandang kasus pedofilia muhammad terhadap aisyah? Selanjutnya, silahkan direnungkan apakah keputusan aisyah sebagai istri sang prajurit yang menghamilkan dirinya agar dapat bersatu kembali dengan keluarganya dapat diterima secara moral?

Bro patah, membunuh, berbohong, berzinah, pedofilia, secara independen terlepas apa niat dan sistuasi yang melatarbelakangi orang melakukan tindakan itu, mestilah selalu salah secara moral objektif. Membunuh tetaplah perbuatan yang tidak baik terlepas niat baik dalam sebuah situasi yang melatarbelakangi kita melakukannya. Hasil akhir tidak membenarkan cara melakukannya. Dalam kasus pedofil muhammad, anda melihat hasil akhirnya sebagai sebuah kebaikan karena aisyah menjadi penyampai hadis terbanyak dalam sejarah islam. Tapi dalam kerangka moral objektif, the end does not justify the means, hasil akhir tidak membenarkan caranya.

Jika kita menganggap bahwa etika situasional, yang menunjukkan bahwa suatu tindakan tidak dapat dinilai oleh standar mutlak dan bahwa kebenaran atau kekeliruan tergantung pada situasi, sebagai contoh itu akan salah untuk berbohong jika kebohongan itu menyakitkan untuk orang lain, namun jika kebohongan bisa membantu orang lain maka berbohong itu akan menjadi benar, maka seperti yang ditunjukkan sebelumnya, moralitas akan menjadi otonom. Otonom disini berarti "hukum diri." Ini berarti bahwa setiap manusia adalah hukum moral itu sendiri. Nah, jika itu terjadi, bagaimana mungkin pernah ada sebuah situasi di mana seseorang bisa berbuat salah? Otonomi etis manusia dan moralitas situasional adalah proposisi yang saling eksklusif, jadi sama sekali bukan objektif.

Patah Salero wrote:Menyatakan bahwa ada nilai moral yang objektif itu gampang. Tapi apa gunanya pernyataan itu kalo gak bisa diterapkan.


Standard moral objektif yang dilandaskan kepada TUHAN yang benar, memang tidak akan bisa kita terapkan. Justru inti trit ini adalah mencari TUHAN yang memiliki standard yang tidak bisa kita terapkan itu, bukan soal menerapkan standardnya yang tidak akan pernah bisa kita lakukan. Anehnya, dalam islam justru orang bisa masuk surga meski tidak pernah dapat memenuhi standard moral objektif TUHAN itu sendiri. Bukankah begitu bro patah? Layakkah allah islam dijadikan sebagai landasan moral objektif kalau begitu?

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Mon Apr 28, 2014 3:16 pm
by Kibou
rahimii wrote:
Standard moral objektif yang dilandaskan kepada TUHAN yang benar, memang tidak akan bisa kita terapkan. Justru inti trit ini adalah mencari TUHAN yang memiliki standard yang tidak bisa kita terapkan itu, bukan soal menerapkan standardnya yang tidak akan pernah bisa kita lakukan.


Tidak bisa diterapkan di dunia kita saat ini, karena apa yang sempurna tidak bisa diterapkan oleh apa yang tidak sempurna karena munculnya dosa. Dan dosa yang paling awal dilakukan, akibatnya terus terasa hingga saat ini. Itu sebabnya harus ada pemulihan terlebih dulu dari Sang Pencipta. Ah udah deh, nanti OOT parah. : )

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Mon Apr 28, 2014 4:10 pm
by Captain Pancasila
rahimii wrote:Standard moral objektif yang dilandaskan kepada TUHAN yang benar, memang tidak akan bisa kita terapkan. Justru inti trit ini adalah mencari TUHAN yang memiliki standard yang tidak bisa kita terapkan itu, bukan soal menerapkan standardnya yang tidak akan pernah bisa kita lakukan.

lha terus kalau standarnya bukan buat diterapin terus buat apa, buat dipamerin/dijual doank? :rolling:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Mon Apr 28, 2014 8:09 pm
by kotak pandora
@Captain Pancasila,
loh baca benar ya, nih saya kutip ulang.

rahimii wrote:Standard moral objektif yang dilandaskan kepada TUHAN yang benar, memang tidak akan bisa kita terapkan.


Jawabanmu ngak nyambung dan kamu kelihatannya kesulitan mencerna kalimat di atas. Benar benar islam sangat merusak daya cerna pikiranmu. Tobat deh lihat cara berpikir muslim.

udah bodoohh ketawa lagi. dasar bahlul.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Mon Apr 28, 2014 8:19 pm
by rahimii
rahimii wrote:Standard moral objektif yang dilandaskan kepada TUHAN yang benar, memang tidak akan bisa kita terapkan. Justru inti trit ini adalah mencari TUHAN yang memiliki standard yang tidak bisa kita terapkan itu, bukan soal menerapkan standardnya yang tidak akan pernah bisa kita lakukan.

Capatain Pancasila wrote:lha terus kalau standarnya bukan buat diterapin terus buat apa, buat dipamerin/dijual doank? :rolling:

Menurut saya yang paling utama mungkin buat membuka mata anda dan muslim sejenis anda, termasuk kita semua pencari kebenaran yang hakiki, bahwa allah dan muhammad sangat diragukan merupakan bagian atau dapat direlasikan kepada TUHAN yang punya standard sempurna seperti itu. Klaim kesempurnaan islam gagal total bahkan hanya dalam satu ujian. Atau anda bisa tunjukkan kepada kita bantahannya? Ayolah, masa semua muslim disini tipikal gagal dalam aplikasi logika yang sederhana saja?

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Mon Apr 28, 2014 8:29 pm
by FHLI
GoodSniper wrote:Betul..3 poin di atas adalah premis-premis patah salero untuk melindung nabi junjungannya dari sorotan mata para kafirin dan murtadin yang tercerahkan..makanya ia menggunakan satu senjata lain yaitu etnosentrisme sebagai tameng untuk melindungi si nabi junjungannya dari panah-panah kritik..walaupun dengan demikian ia harus rela dianggap sebagai pembela budaya arab jahiliyah (yg dikecam koran) dengan demikian telah mendiskualifikasi muhammad dari status universalitas ke-nabiannya..sebab..muhammad juga cacat secara moralitas objektif yg bersifat universal..dan akhirnya mempermalukan si aulo swt yang telah terlanjur membabi buta memuja-muja akhlak nabi kekasihnya ini...hehehe..kecuali auloh ini sebenarnya juga adalah tools muhammad untuk melindungi dirinya..

Apakah si Patah Salero masih punya senjata-senjata lain..? mari kita tunggu..!


FHLI wrote:Dengan kata lain muhammad bukanlah teladan yang sempurna, karena perilakunya tidak dapat ditiru oleh manusia jaman sekarang. Kalau muhammad adalah teladan yang sempurna, pastilah semua perilakunya dapat ditiru oleh manusia segala jaman. PS maju kena, mundur kena, kiri kena, kanan kena, atas kena, bawah kena ; seperti makan buah simalakama. :goodman:


Patah Salero wrote:Argumen basi ini udah gw jawab sama si angky. kenapa loe ulang trus menerus.

Apa loe akan konsisten dengan argumen loe itu, bahwa perilaku MANUSIA SEMPURNA harus bisa jadi patokan sepanjang jaman ??

Nih gw kasih contoh:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
http://quran.com/5/90



Meminum khamar dianggap perbuatan syetan oleh kaum muslimin. Masih Pantaskah Jesus Sang Peminum khamar dianggap sebagai penebus dosa ?? kalau dia sudah melakukan PERBUATAN SETAN, gimana mungkin Jesus menebus dosa umat manusia. Dia sama berdosanya dengan manusia yang lain.



Sudah kehabisan akal untuk membela nabinya sehingga cuma bisa OOT terus. Cape deeeh. [-X Minum anggur dalam jumlah yang terbatas tidak menyebabkan mabuk. Yang dipermasalahkan di Kitab sebelah adalah bila seseorang menjadi mabuk bila minum anggur secara berlebihan. Orang-orang Israel jaman dahulu juga minum anggur, makanya disebutkan ada tempat pemerasan anggur pada jaman tersebut. :-k

@ Rosul
Thanks atas penjelasannya. Memang nabi islam ini penuh kemunafikan, suka melarang umatnya melakukan sesuatu tetapi dia sendiri melakukannya. Umatnya hanya boleh kawin sampai 4 istri, dia sendiri boleh beristri lebih dari 4. Seseorang pernah mengatakan begini di Kitab sebelah tentang orang-orang munafik :
Mat. 23:3b-4 ....... karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Tue Apr 29, 2014 1:23 am
by Heppi
Saya mahasiswa S2 univ muhamadiyah fak.agama islam jur.filsafat islam... kok islam yg saya anut yaitu dari NU MUHAMADIYAH tidak seperti yg kamu katakan.Kamu rupanya tidak tahu APA AGAMA ISLAM di indonesia.Jgn ngibul kayak duladi yg jadi ketawaan mahasiswa S1 Univ NU.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Tue Apr 29, 2014 6:27 am
by Captain Pancasila
rahimii wrote:apakah sesuatu dikatakan baik hanya karena Allah mengatakannya baik, atau apakah Allah menyatakan sesuatu itu baik karena adanya kualitas lain dari sesuatu itu, sehingga Allah menganggapnya baik? Adakah alasan Allah memerintahkan satu perbuatan untuk dilakukan karena itu baik, atau karena Allah yang memerintahkan, maka apa yang diperintahkan dilakukan itu otomatis baik karena perintah itu berasal dari Allah?

baiknya/dari Allah nya itu karena ybs sependapat kalau itu dikatakan baik, kan orang punya standar kebaikan dulu sebelum mempercayai bahwa itu memang benar dikatakan baik/memang benar datang dari Allah!

:goodman:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Tue Apr 29, 2014 12:25 pm
by Joe Andmie
Heppi wrote:
Saya jg bisa ngritik habis agama konyol kamu dan tuhan sarap kamu itu.
:rolleyes:

Silahkan dan kami akan senang sekali terima kritikan anda, tak bakalan kami bikin rusuh.

dari mana dulu? Tuhan Kristen, Budha, Hindu .?????

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Tue Apr 29, 2014 6:28 pm
by rahimii
Heppi wrote:Agama APAPUN itu subyektif.Benar menurut pnganutnya.KEBENARAN CUMA 1 yaitu KEBENARAN OBYEKTIF atau SAINS.

Saya jg bisa ngritik habis agama konyol kamu dan tuhan sarap kamu itu.

Di post anda sebelumnya, saya baca proklamasi keilmuan anda yang konon sudah mencapai grade S2. Tapi dari kalimat anda diatas ini, saya malah jadi ragu apakah S2 anda itu cukup bisa melihat secara objektif kepada kedalaman dilema yang saya lihat akan klaim ketuhanan dalam islam. Saya sangat terbuka bila anda berkeinginan mengkritik konsep agama dan tuhan dalam bingkai keyakinan saya dan semua orang disini, cuma sayang, forum ini memiliki aturan yang semestinya sebagai orang berpendidikan tinggi seperti anda, harusnya tidak sulit memahaminya.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Tue Apr 29, 2014 6:38 pm
by rahimii
Heppi wrote:Agama apapun itu
SUBYEKTIF..kbenaran OBYEKTIF
cuma 1 yaitu SAINS.

Apa sebenarnya yang anda mau sampaikan? Khusus di trit ini, kita tidak sedang membahas subjektivitas atau objektivitas agama. Kita mempertanyakan landasan yang benar dan terpatut kepada siapa standard moral objektif dapat disematkan. Apakah allahnya islam layak sebagai nominasi? Jangan sia-siakan tahun-tahun yang telah anda habiskan untuk belajar filsafat sampai grade S2..kita menunggu dan mempersilahkan anda menyampaikan terobosan-terobosan ide anda.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Tue Apr 29, 2014 7:09 pm
by rahimii
rahimii wrote:apakah sesuatu dikatakan baik hanya karena Allah mengatakannya baik, atau apakah Allah menyatakan sesuatu itu baik karena adanya kualitas lain dari sesuatu itu, sehingga Allah menganggapnya baik? Adakah alasan Allah memerintahkan satu perbuatan untuk dilakukan karena itu baik, atau karena Allah yang memerintahkan, maka apa yang diperintahkan dilakukan itu otomatis baik karena perintah itu berasal dari Allah?

Captain Pancasila wrote:baiknya/dari Allah nya itu karena ybs sependapat kalau itu dikatakan baik, kan orang punya standar kebaikan dulu sebelum mempercayai bahwa itu memang benar dikatakan baik/memang benar datang dari Allah!

:goodman:

Bro captain, saya tidak terlalu jelas akan maksud anda. Bagaimana kalau setiap orang punya standardnya sendiri dan meski secara realita standard itu sedemikian jahat dan buruk, itulah kebaikan menurut dia? Menurut dia itulah kebaikan yang telah diungkapkan tuhan kepada dirinya? Oleh karena itu, menurut saya kita harus mendefinisikan "baik" terlebih dahulu, lalu menemukan landasan yang tepat kepada siapa "baik" itu layak digantungkan sehingga "baik" itu memiliki nilai yang universal (sama) bagi setiap orang.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Tue Apr 29, 2014 7:15 pm
by Heppi
Bisakah kamu semua menghadirkan tuhan kamu masing2 di hadapan saya ?

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Tue Apr 29, 2014 10:15 pm
by 12345678901
Heppi wrote:Agama apapun itu
SUBYEKTIF..kbenaran OBYEKTIF
cuma 1 yaitu SAINS.

rahimii wrote:Apa sebenarnya yang anda mau sampaikan? Khusus di trit ini, kita tidak sedang membahas subjektivitas atau objektivitas agama. Kita mempertanyakan landasan yang benar dan terpatut kepada siapa standard moral objektif dapat disematkan. Apakah allahnya islam layak sebagai nominasi? Jangan sia-siakan tahun-tahun yang telah anda habiskan untuk belajar filsafat sampai grade S2..kita menunggu dan mempersilahkan anda menyampaikan terobosan-terobosan ide anda.


si heppi itu kayanya muslim yang sudah kapeer yang lagi kesurupan deh .... posting di banyak thread isinya itu itu aja ... copas terus

dia ngaku kalo eslamnya itu bukan kebenaran objektif ... bisa di gampar ustadz ntar dia

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Tue Apr 29, 2014 11:43 pm
by Joe Andmie
Heppi wrote:Bisakah kamu semua menghadirkan tuhan kamu masing2 di hadapan saya ?
:stun:

Dan dari tadi anda sebut
Agama apapun itu
SUBYEKTIF..kbenaran OBYEKTIF
cuma 1 yaitu SAINS.

Baik ini tak perlu pembuktian sains, fakta berbicara,,

umat Kristiani menyembah tuhan yang pernah datang ,dan akan kembali menjadi hakim yang adil.
umat Budha menyembah tuhannya yang ada dikelenteng ,vihara.
umat Hindu menyembah tuhannya yang ada dikuil,
umat Islam menyembah tuhannya yang ada dikubus hitam.
tinggal tuhan anda ,ada dimana??? :toimonster:

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 11:54 am
by Kibou
12345678901 wrote:
si heppi itu kayanya muslim yang sudah kapeer yang lagi kesurupan deh .... posting di banyak thread isinya itu itu aja ... copas terus

dia ngaku kalo eslamnya itu bukan kebenaran objektif ... bisa di gampar ustadz ntar dia


Bener Bro, kalap dia.

Heppi, adalah lebih baik bagimu untuk jadi atheist tapi mengasihi sesama, daripada percaya Tuhan tapi tidak mengasihi sesama. Dari posting-posting kamu saya melihat adanya kebencian luar biasa dalam dirimu. Semoga kamu bisa sadar.

Re: Menyelami Dilema Sang Allah

PostPosted: Wed Apr 30, 2014 1:08 pm
by Heppi
Dalam fakta obyektif,manusia ya manusia.Hewan ya hewan.Tumbuhan ya tumbuhan.Benda mati ya benda mati.

Coba hadirkan tuhan kamu di hadapanku ! Hehehehe