.

Holland C. Tylor dan ilusi Islam Moderat

SAMBUTAN, PENJELASAN, artikel dan debat dari PENDIRI SITUS; ALI SINA. Artikel2 A Sina lainnya masih bisa ditemukan dalam Ruang REFERENSI sesuai dgn topiknya.

Holland C. Tylor dan ilusi Islam Moderat

Postby anne » Tue Jul 31, 2012 12:00 am

http://www.faithfreedom.org/articles/po ... ate-islam/

Holland C. Tylor dan ilusi Islam Moderat

Image
President Abdurrahman Wahid di kursi roda. Mr. Holland C. Tylor berdiri di belakangnya

Mr. Holland C. Tylor adalah seorang mualaf Islam. Ia mengaku Muslim 'moderat.' Ia adalah sahabat almarhum presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid yang juga seorang Muslim 'moderat.' Mr. Tylor telah menyusun esai dari beberapa Muslim moderat terkenal dalam sebuah buku berjudul The Illusion of an Islamic State dan mengklaim Islam pada dasarnya agama moderat yang dibajak kaum radikal.

Aku bertemu Mr. Tylor dalam sebuah grup diskusi email, dimana aku dan beberapa teman (Nonie Darwish dan Andrew Bostom) berpendapat bahwa Islam tidak dapat direformasi dan Islam moderat adalah mustahil. Muhammad seorang yang kasar dan ajarannya adalah kekerasan. Oleh karenanya Islam yang benar tidak akan pernah dapat menjadi agama moderat. Sementara di sisi lain adalah para pendukung islam 'moderat: Dr. Zuhdi Yasser, Mr. Tarek Fatah, Dr. Daniel Pipes dan Mr. Holland Tylor.

Itulah awal mulanya aku kenal Mr. Tylor. Aku mengundangnya untuk membaca buku-ku Understanding Muhammad dan ia mengundangku untuk membaca bukunya, dan kami saling bertukar buku.

Aku membaca beberapa esai bukunya dan membuat daftar sekitar selusin pertanyaan, yang kebanyakan berdasarkan artikel yang ditulisnya, dan satu berdasarkan artikel yang ditulis almarhum Presiden Wahid. Pada 13 Mei 2012, aku bertanya pada Mr. Tylor apakah ia siap bila kuajukan pertanyaan. Ia segera menjawab, “Aku siap.” Hari berikutnya aku mengirim pertanyaan pertama.

Namun ia tidak menjawab. Lantas aku mengirim pesan singkat, aku sedang menanti jawabannya. Mr. Tylor menjawab, “Harap bersabar, aku akan menanggapi pertanyaan yang kau kirim. Jangan sungkan mengirim pertanyaan lain jika kau telah mempersiapkannya. Aku ingin membacanya.”

Kukatakan padanya, aku memilih untuk mengirim pertanyaan satu demi satu, sehingga aku dapat mempublikasikan pertukaran pendapat kami. (Sebenarnya aku khawatir jika ia membacanya sekaligus ia akan panic dan tidak menjawab) Kukatakan padanya ini bukan debat. Aku tidak akan berkomentar ataupun menyanggah jawabannya. Aku akan menyajikan pemikiranku yang menjadi alasan mengapa aku tidak percaya Islam dapat menjadi moderat, dan mempublikasikannya bersamaan dengan jawabannya. Kami akan membiarkan pembaca memutuskan, dan ia akan memberikan kata penutup.

Mr. Tylor tetap berdiam diri. Tanggal 19 Mei, aku mengingatkannya, dan mengungkapkan keinginanku untuk meneruskan wawancara ini. Kukatakan padanya mengapa aku percaya solusi yang ia ajukan adalah fatamorgana dan menjelaskan, “Kalau ada orang sakit, yang terbaik adalah memberinya obat yang tepat untuknya. Dengan memberinya harapan palsu, kita bisa lebih membahayakannya. Jadi, apakah kita akan terus menipu dunia atau dapatkah Islam menjadi moderat dan damai seperti agama-agama lain?”

Kukatakan, “Jika kau benar-benar percaya pada apa yang kau katakan, inilah saatnya kau membuktikannya. Jika kau tidak percaya pada apa yang kau katakan, maka aku tak tahu harus bilang apa. Kau pasti punya alasan mempromosikan sesuatu yang kau tahu adalah palsu.” Kukatakan padanya bahwa kebenaran tidak selamanya tertutup awan, dan lebih baik berada di sisi kebenaran. Aku mendesaknya untuk mempertahankan klaimnya bahwa Islam yang sebenarnya adalah moderat atau meninggalkan klaim tersebut.

Mr. Tylor tersinggung. Ia katakan bahwa ia berada di Qatar, sibuk menghadiri Brookings Institution’s U.S. – Islamic World Forum. Ia mengatakan bahwa email-ku “kontra-produktif, karena menuntut agar aku [Tylor] menjawab atau meninggalkan pandanganku di depan umum.” Ia katakan diskusi kami tidak akan menentukan nasib dunia atau pandangan kebanyakan orang mengenai Islam. Selanjutnya ia berkata, “Bagaimanapun, keinginan untuk saling bersikap sopan, memfasilitasi komunikasi.”

Kukatakan bahwa aku bukan tidak sopan padanya, namun kecewa, setelah membaca bukunya yang cukup besar, sebuah buku yang tidak menambah wawasan pemahaman baru tentang Islam, karena isinya hanya mengulang kembali kesalahan-kesalahan yang dulu kupercaya sebelum aku mendapat pencerahan, dan setelah menuliskan pertanyaanku yang membantah klaim di bukunya, ia mengabaikanku. Ada banyak internet di Qatar, dan itu bukan alasan. Bukannya menjawab, Mr. Tylor malah menuduhku tidak sopan. Tidak masalah bagiku. Aku baik-baik saja, walau mendapat hinaan, sepanjang ia menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Tujuanku adalah untuk memperlihatkan Islam adalah penyakit yang tak tersembuhkan lagi. Tiada harapan bagi ajaran sesat ini.

Hari-hari berlalu, dan tidak ada jawaban. Aku pikir pastilah ia mendapat kesulitan untuk menjawab, suatu hal yang sebenarnya bagus, lantas aku mengirim pertanyaan kedua. Ia berkata, “Aku membacanya, dan berpikir mendalam mengenai pernyataan-pernyataan yang kau buat, serta perspektif di balik pernyataan-pernyataan ini.” Ia ingin tahu apakah aku memiliki diskusi-diskusi sebelumnya yang diposting di situsku, yang menggambarkan bagaimana aku mempublikasikan pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan dan jawaban-jawabannya nanti.

Kukatakan padanya, ada banyak debatku yang dipublikasikan di situsku, namun ini bukan debat. Aku akan mempublikasikan pertanyaan-pertanyaanku dan jawaban yang ia berikan di halaman yang sama, dan tidak akan berkomentar lebih lanjut. Ia yang akan memberikan kata penutup. Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai topik yang berbeda.

Tanggal 18 Juni, lebih dari satu bulan sejak aku mengiriminya pertanyaan pertama, Mr. Tylor menulis, “Aku punya kesempatan untuk fokus pada pertanyaan pertamamu, dan pada dasarnya telah menyelesaikan jawabanku. Akan kukirim dokumen tersebut padamu setelah aku memeriksanya sekali lagi.”

Namun tidak ada kabar lagi darinya. Tanggal 9 Juli, aku mengiriminya email, menanyakan apakah ia telah sempat memeriksa jawabannya atas pertanyaan pertamaku.”
Ia menjawab, “Aku sedang fokus pada dua proposal pendanaan besar untuk Lembaga Kajian Qur’an Internasional (International Institute of Qur’anic Studies) kami, namun tidak melupakanmu.”

Sekarang adalah tanggal 29 Juli, dua setengah bulan berlalu, aku masih belum juga menerima jawaban atas pertanyaan pertamaku, yang katanya sudah selesai. Mengapa?

Berikut adalah pertanyaan pertamaku. Aku akan mengirim link halaman ini kepada Mr. Tylor, dan jika ia mengirim jawaban, aku akan mempublikasikannya. Pertanyaan kedua akan kuposting dalam beberapa hari. Aku juga percaya bahwa diskusi seperti ini akan menentukan nasib dunia, serta mempengaruhi pandangan orang-orang terhadap Islam. Ketika aku mulai menulis tentang Islam, tahun 1998, kebanyakan orang tidak tahu apapun mengenai kepercayaan ini. Sekarang, sudah banyak, dan mereka juga tahu beberapa detail yang cukup menarik dalam kehidupan Muhammad. Kukatakan dengan bangga, aku memulainya. Film layar lebar yang sedang kukerjakan, akan menjadi paku peti mati Islam. Kukatakan satu dekade lalu, bahwa waktunya akan tiba, saat umat Islam akan merasa malu dipanggil dengan nama itu. Waktunya sudah dekat.

Dear Holland,

Aku membaca Pendahuluan untuk bukumu (Kompilasi) The Illusion of an Islamic State, berjudul FIGHTING FIRE WITH WATER yang ditulis olehmu dgn Kata Pengantar Editor, oleh Kyai Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden Indonesia, berjudul THE ENEMY WITHIN. Aku juga membaca beberapa halaman dari penulis lain yang memberikan kontribusi untuk buku ini. Aku mendasarkan pertanyaanku pada apa yang ditulis engkau dan A. Wahid.

Sebelum mulai, aku tekankan bahwa aku berasal dari latar belakang yang sama. Islam-ku tidak berbeda dengan apa yang kau dan almarhum Presiden Wahid promosikan. Kau dibesarkan di Iran di saat yang sama aku juga dibesarkan disana. Kau ingat betapa liberalnya kita. Tak satupun omong kosong dari para Islamis ini ada saat itu. Masa-masa yang baik. Semua berubah dalam semalam, di tahun 1979. Mereka yang mengenakan rok mini dan bergoyang dengan irama Beatles dan Elvis, mereka yang disebut ‘Islam Moderat,’ mulai mengenakan jilbab dan berjenggot, menjadi Islamist.

Aku telah meninggalkan Iran saat itu. Aku tak mengerti mengapa ini terjadi, sampai aku membaca Quran sekitar 15 tahun kemudian, tahun 1994. Kemudian, segalanya tersusun pada tempatnya dan aku mulai memahami apa yang sampai saat itu tak dimengerti dan kacau balau. Ketika aku membaca Sira, biografi Muhammad, semua kecurigaanku dikonfirmasi. Oleh sebab itu aku mengerti darimana kau berasal. Aku pernah disana!

Aku akan jujur padamu, dan mengatakan bahwa aku tidak mengajukan pertanyaan ini untuk memahani versi Islam-mu. Aku sudah mengetahuinya. Aku ajukan pertanyaan ini untuk menantangmu. Tujuanku adalah untuk menyadarkanmu bahwa Islam yang kau promosikan bukanlah Islam yang sesungguhnya, bahwa itu tidak akan berhasil dan itu merupakan suatu penipuan. Semua penipuan berbahaya. Sama seperti kau menuduh orang-orang yang disebut ekstrimis memiliki ilusi sebuah negara Islam, akupun yakin kau memiliki ilusi Islam moderat. Malah, sebuah negara Islam masih dalam jangkauan kemungkinan. Yang diperlukan kejahatan untuk menang adalah orang-orang baik yang tidak melakukan apa-apa. Justru, ilusi Islam moderat mustahil secara logika. Jika kau bisa membayangkan sebuah bujur sangkar bundar, mungkin baru kau bisa mewujudkan ilusi Islam moderat.

Mari aku mulai dengan apa yang telah ditulis A. Wahid. Ia bicara mengenai prinsip-prinsip Bhinneka Tunggal Ika Mpu Tantular (Kesatuan ditengah Keberagaman) dalam Islam. Dapatkah kau tunjukkan pada saya dimana Muhammad berbicara mengenai konsep tersebut? Keberagaman menuntut toleransi. Itu bermakna keyakinan yang berbeda-beda hidup berdampingan, hal mana menuntut kebebasan hati nurani. NAH, apakah Islam mengizinkan kebebasan semacam itu? Dapatkah orang-orang memilih untuk tidak percaya pada Islam atau keluar dari Islam? Dapatkah seseorang yang terlahir dari orangtua Islam, keluar dari Islam? Aku tahu yang kau pikirkan. Jawabanmu adalah ‘ya’. Aku tertarik akan apa yang Islam ajarkan mengenai ini.

Kau mengutip dari Surah 109:6, yang berbunyi, “Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku”, dan mengatakan ini menunjukkan toleransi.

Jika demikian, maka itu bertentangan dengan ayat-ayat lain yang mempromosikan intoleransi. MIsalnya Surah 3:85, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” Dan 8:39, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”

Namun, Maududi, Qutb dan banyak ulama Islam lainnya menyatakan bahwa mereka yang beranggapan ayat “Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” berarti toleransi, telah salah memahami ayat tersebut.

Maududi, dalam interpretasi Quran-nya menulis:

“Jika surah tersebut dibaca dengan latar belakangnya, orang akan menemukan bahwa ayat tersebut tidak diwahyukan untuk mendakwahkan tentang toleransi beragama, sebagaimana yang tampaknya dipikir oleh banyak orang saat ini, namun diwahyukan untuk membebaskan umat Islam dari agama kaum kafir, ritual-ritual dan pemujaan mereka, dan dewa-dewa mereka, dan untuk memperlihatkan kejijikan total dan ketidakpedulian pada mereka, dan untuk mengatakan pada mereka bahwa Islam dan kafir tidak memiliki kesamaan, dan mustahil mereka hidup selaras dan dicampur menjadi satu kesatuan.

Meskipun ayat ini awalnya ditujukan pada kafir Quraysh, menanggapi proposal kompromi mereka, namun ayat ini tidak terbatas pada mereka saja. Dengan menjadikannya bagian dari Quran, Allah menjadikannya ajaran abadi bagi Muslim agar Muslim membebaskan diri, dengan kata dan perbuatan, dari aqidah kafir dimanapun dan apapun bentuknya, serta harus menyatakan tanpa syarat bahwa mereka tidak dapat berkompromi dengan kaum kafir dalam hal aqidah. Itulah sebabnya mengapa Surah ini terus menerus dibacakan, walau orang-orang, kepada siapa surah ini ditujukan sebagai jawaban, telah meninggal dan dilupakan, dan orang-orang Islam juga terus membacakannya pada kafir di waktu ayat tersebut diwahyukan, dan umat Islam terus membacakannya berabad-abad setelah mereka meninggal, sebagai ungkapan kejijikan, dan memisahkan diri dari kafir serta ritualnya yang merupakan kewajiban iman.” [www.usc.edu/dept/MSA/quran/maududi/mau109.html]

Tetapi mengapa bergantung pada Maududi padahal kita kita dapat membaca sha’n-e nodhul dari ayat ini di dalam Sirat Rasulullah? Ibnu Ishaq mengatakan, ketika Rasul mengelilingi Ka’bah, beberapa golongan terhormat Mekah menemuinya dan berkata, “Muhammad, biarlah kami menyembah apa yang kau sembah, dan engkau menyembah apa yang kami sembah. Kau dan kami bergabung dalam hal ini. Jika yang kau sembah lebih baik daripada yang kami sembah, maka kami akan ikut didalamnya, dan jika apa yang kami sembah lebih baik daripada yang kau sembah, engkau dapat ikut di dalamnya”. Maka Allah menurunkan wahyu, “Katakanlah, wahai orang-orang tidak beriman, aku tidak menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah; bagimu agamamu dan bagiku agamaku, “ yakni jika kalian bersedia menyembah Allah maka aku menyembah apa yang kalian sembah, aku tidak memerlukan kalian sama sekali. Kalian boleh memiliki agama kalian, seluruhnya, dan aku dengan agamaku” [Sira hal. 165]

Sebagaimana yang kau lihat, ayat ini tidak bicara mengenai toleransi. Ini cara khas seorang narsisis memperlihatkan penghinaannya pada mereka yang tidak setuju dengannya. Sebenarnya yang ingin dikatakan Muhammad, Aku tak ambil pusing apakah kau percaya padaku atau tidak. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku!

Kau lihat bagaimana umat Islam memelintir ayat Quran untuk menipu pendengarnya? Di negara-negara Islam, ayat ini tidak pernah salah interpretasi. Hanya ketika pendengarnya non-Islam, makna ayat ini dibengkokkan agar Islam terlihat moderat.

Tidak ada apapun yang toleran pada diri Muhammad. Ia masih berada di Mekah, dan baru saja memperoleh beberapa pengikut, waktu ia mulai menghina agama kaum Quraysh. Ketika suatu hari ia sedang mengelilingi Ka’bah, para tetua datang. Mereka mengatakan padanya untuk berhenti memecah belah orang-orang, membuat anak-anak menentang orangtua mereka dan menghasut para budak melawan tuannya. Mereka memintanya untuk tidak menghina dewa-dewa mereka. TAPI Muhammad berang dan berkata, “Maukah kalian mendengarkanku wahai Quraysh? Demi dia yang menggenggam hidupku di tanganNya, aku akan membawakanmu pembantaian.” [Sira Ibn Ishaq, hal. 131].

Ibn Ishaq berkata, “Ketika rasul secara terbuka memperlihatkan Islam seperti yang diperintahkan Allah padanya, kaumnya tidak meninggalkan atau melawannya, sampai ia berbicara menghina dewa-dewa mereka. Ketika ia melakukannya, mereka sangat tersinggung, dan sepakat memperlakukannya sebagai musuh.” [Ibn Ishaq, p. 118]

Toleransi apa? Kaum Quraysh bersikap toleran. Muhammad tidak pernah toleran, bahkan saat ia bukan siapa-siapa. Dari semula ia sudah kasar.

Dapatkah kau merasakan adanya toleransi dalam ayat ini? “Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (Q. 9:66)

Salam,

Ali
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Return to ONE STOP SHOP FFI



Who is online

Users browsing this forum: No registered users