.

Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

SAMBUTAN, PENJELASAN, artikel dan debat dari PENDIRI SITUS; ALI SINA. Artikel2 A Sina lainnya masih bisa ditemukan dalam Ruang REFERENSI sesuai dgn topiknya.

Bagaimana kualitas terjemahannya?

★★★★★
9
100%
★★★★
0
No votes
★★★
0
No votes
★★
0
No votes
0
No votes
 
Total votes : 9

Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby suseno » Fri Jun 15, 2012 2:49 pm

Nyumbang terjemahan

Judul Asli: Seven Valleys From Faith to Enlightenment
Oleh: Ali Sina
12 Juni 2012

Setelah pengalaman pahitku dengan Al'Quran aku menemukan diriku sedang berjalan dalam jalan yang penuh siksaan dan azab. Ketika aku ini masih muslim, aku hidup dalam surga ketidak tahuan yang indah dimana semua pertanyaanku terjawab. Disana, aku tidak perlu berpikir. Apa yang harus aku lakukan hanya percaya saja. Ketika aku membaca Al'Quran dan bertanya, aku tidak boleh bertanya dan bisa-bisa ditendang keluar dari "surga". Pintu taman itu tertutup untukku selamanya. Aku akhirnya melakukan dosa yang tak terpikirkan, yaitu berpikir. Aku bisa melihat kejanggalan-kejanggalan dan ketelanjanganku. Aku tahu aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam surga kebodohan itu lagi. Sekali kamu memulai untuk berpikir, kamu sudah tidak boleh disana lagi. Aku hanya punya satu jalan untuk pergi dan jalan itu lurus kedepan.

Jalan menuju pencerahan terbukti lebih susah ketimbang yang aku perkirakan. Ada banyak gunung yang harus aku daki dan tebing kesalahan yang harus aku hindari. Aku berjalan di wilayah yang belum pernah aku jelajahi sebelumnya, tidak tahu apa yang bakal aku temui selanjutnya. Ini menjadi petualanganku dalam dunia pemahaman, yang pada akhirnya menuntunku pada benteng pencerahan dan kebebasan.

Aku akan menggambarkan wilayah-wilayah ini untuk mereka yang ingin melakukan dosa berpikir, menemukan dirinya ditendang dari surga kebodohan dan sedang berjalan menuju tujuan yang tidak jelas.

Jika kamu ragu, yaitu jika pakaian kebodohan dimana kamu membungkus dirimu sendiri itu dirobek dan kamu menemukan dirimu telanjang, kamu tahu bahwa kamu tidak bisa lagi tinggal dalam surga kebodohan. Kamu sudah diusir selamanya. Seperti bayi, setelah keluar dari rahim, tidak dapat kembali lagi, kamu tidak akan diterima lagi taman penuh kebahagiaan itu. Dengarkan mereka yang sudah pernah disana dan sudah pernah melakukan itu dan tidak lagi berpegang teguh dengan menyedihkan pada gerbang itu. Gerbang itu sudah terkunci.

Ketimbang hanya melihat kedepan. Kamu bisa menjalani sendiri. Kamu bisa terbang ke tujuanmu atau merangkak. Aku menjalani dengan merangkak! Tapi karena aku merangkak, aku cukup tahu seperti apa jalan yang harus ditempuh. Aku akan menggambarkan jalannya, sehingga aku harapkan perjalananmu akan lebih mudah.

Perjalanan dari iman menuju pencerahan terdiri dari tujuh lembah.


Penyangkalan

Penyangkalan adalah tahap lupa diri. Ini adalah surga iman. Dalam tahap ini segala sesuatu cerah. Muslim tidak melihat sesuatu yang salah dengan imannya, Sebagian besar muslim, sebetulnya sih seluruh muslim, terjebak dalam tahap ini. Mereka tidak mampu dan tidak mau melihat apapun yang keliru dengan imannya. Buat mereka Muhammad adalah contoh manusia sempurna meskipun mereka tahu kalau Muhammad itu pedofil, pembunuh massal dan pemerkosa.

Mereka tidak bisa melihat sesuatu yang dilihat orang lain. Al'Quran mengatakan bumi itu datar, sperma berasal dari tulang belakang, matahari terbenam dalam lumpur, bintang-bintang itu terletak dibawah bulan, dll. Tapi mereka ngotot menjelaskan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, membelokan semua aturan-aturan logika dan menemukan mukjizat dalam Al'Quran dan meyakinkan dirinya bahwa itu benar. Setiap kali mereka dihadapkan dengan statement yang keliru dalam Al'Quran atau perbuatan tercela Muhammad mereka akan bilang sumbernya yang keliru atau membenarkan dengan berkata moral itu relatif.

Ini adalah apa yang aku lakukan dalam tahap pertama perjalananku. Penyangkalan adalah tempat yang aman. Sepanjang kamu hidup dalam tahap ini, kamu tidak akan menemui kebenaran. Sepanjang kamu tidak makan buah pengetahuan kamu akan tetap tinggal nyaman dalam surga kebodohan selamanya. Dalam fase penyangkalan kamu menemukan zona kenyamananmu. Dalam tahap kebodohan ini kamu tidak perlu berjuang untuk mencari jawaban untuk semua pertanyaan-pertanyaanmu karena kamu tidak akan menemukannya. Disini, semuanya oke dan baik-baik saja.

Kalau kamu pernah hidup dalam kebohongan, menemukan kebenaran akan terasa menyakitkan. Apa yang membuat sakit adalah karena kebohongan-kebohongan itu hancur berantakan, kebohongan dimana kamu sudah terbiasa dan dibesarkan untuk mencintai kebohongan itu.

Tidak mudah untuk seorang muslim melihat siapa itu Muhammad. Bagaimana reaksi seorang anak saat ia mengetahui ayahnya adalah seorang pembunuh, pemerkosa, dan pencuri? Seorang anak yang mengidolakan ayahnya tidak akan dapat menerima meskipun semua bukti yang ada di dunia ini ditunjukan padanya. Dia akan bilang kamu itu pembohong dan akan membencimu karena melukai perasaannya. Dia akan mengutukmu, menganggapmu musuhnya dan bahkan marahnya bisa meledak dan menyerangmu. Makin besar dia mengidolakan ayahnya, makin besar juga reaksinya.

Penyangkalan adalah mekanisme pertahanan diri. Jika kejadian buruk yang kita hadapi terlalu besar, penyangkalan akan mengatasi rasa sakit hati. Contohnya jika seorang ibu diberitahu bahwa anaknya mati kecelakaan, reaksi pertamanya adalah penyangkalan. Saat kejadian buruk yang sangat hebat menimpa, biasanya seseorang merasa bahwa semuanya ini hanya sebuah mimpi buruk.

Muslim terkungkung dalam kebohongan. Karena berbicara menentang islam adalah kejahatan yang bisa dihukum mati, tidak ada satupun yang berani mengatakan kebenaran. Mereka yang berani melakukan tidak akan hidup lama. Kritik dibungkam secara cepat. jadi bagaimana kamu bisa tahu kebenaran kalau semua yang kamu dengar adalah kebohongan? Di satu sisi Al'Quran mengklaim sebagai mukjizat dan menantang semua orang untuk membuat ayat seperti Al'Quran (Q:2:23) dan di satu sisi lagi memerintahkan pengikutnya membunuh mereka yang berani mencoba tantangannya. Kalau kamu berani mencoba tantangannya dan membuat ayat-ayat jelek seperti yang ditulis di Al'Quran itu, kamu akan dituduh meniru-niru islam dan hukumannya hukuman mati. Dalam atmosfer kecurangan dan kebohongan, yang jadi korban adalah kebenaran.

Rasa sakit yang ditimbulkan akibat menghadapi kebenaran dan menyadari semua yang sudah dipercaya ternyata adalah kebohongan sangat menyakitkan. Satu-satunya cara menghindari rasa sakit ini adalah penyangkalan. Penyangkalan menyingkirkan rasa sakit. Dan itu menenangkan.

Muslim hidup dalam taman yang indah bernama kepastian. Taman ini diperuntukan untuk mereka yang percaya, yaitu mereka yang tidak ragu dan tidak berpikir. Mereka bisa percaya bahwa malam itu siang dan siang itu malam, kalau memang ditulis begitu. Kalau Tuhan sudah berkata demikian, maka akan terjadilah demikian. Mereka dengan mudah percaya Muhammad pergi ke surga ketujuh, bertemu dengan Tuhan, membelah bulan dan berbicara dengan jin. Cerita-cerita yang janggal seperti itu tidak pernah mengganggu pikiran mereka. Kalau Al'Quran sudah berkata begitu, maka itu benar.

Seperti dikatakan Voltaire, mereka yang membuatmu percaya pada kejanggalan melakukan kekejaman. Dan inipun benar, kalau sudah menyangkut islam. Muslim percaya bahwa membunuh kafir itu baik, mengebom itu suci, merajam itu ilahi, memukul istri itu oke-oke saja dan membenci mereka yang bukan muslim itu adalah kehendak Tuhan.

Bagaimana mereka bisa melihat kebenaran kalau mereka benar-benar dibungkus rapat dalam kebohongan? Mereka hanya membaca kebohongan dan menolak untuk membaca segala sesuatu yang bisa menimbulkan keraguan dalam iman mereka. Mereka tidak buta melihat perbuatan-perbuatan Umat Muslim yang tercela, Komunitas muslim secara umum, tapi mereka membohongi diri sendiri dengan berkata pada diri mereka bahwa jika mereka mempraktekan Islam yang sesungguhnya, semua masalahnya akan terselesaikan. Mereka yakin bahwa masalah-masalah pada Islam terletak pada Muslim dan bukan pada agama Islam itu sendiri.

Mereka yang melakukan penyangkalan terdiri dari dua kelompok. Pertama mereka yang berpendapat bahwa solusinya adalah mengikuti islam lebih lagi. Mereka-mereka ini para Salafi, yang sering kita bilang "ekstremis". Tapi sebetulnya tidak ada yang ekstrim pada mereka. Mereka hanya mempraktekan Islam seperti yang diinginkan oleh pendiri Islam.

Kelompok kedua percaya bahwa solusinya adalah jangan terlalu mempraktekan Islam. Mereka berpikir bahwa jika Muslim mengabaikan apa yang sebenarnya dipikirkan Muhammad dan mencampurkan ajarannya dengan nilai-nilai demokrasi barat, kebebasan dan persamaan hak, Islam bisa jadi agama yang sempurna.

Kedua kelompok ini hidup dalam penyangkalan. Kelompok pertama tidak mampu mengakui bahwa masalah yang terjadi dalam islam adalah islamnya sendiri dan semakin kamu mendalami Islam semakin parah jadinya. Kelompok kedua tidak mampu melihat bahwa islam tidak bisa direformasi, bahwa agama ini sudah busuk dari akarnya. Ibarat kamu mencampur es krim rasa vanila dengan kotoran kuda tidak akan hasilnya es krim rasa cokelat.

Muslim tidak lebih buruk atau lebih baik dari umat beragama lainnya. Agama islam lah yang membuat mereka melakukan kejahatan. Ketika mereka memeluk islam dan mencoba mengikuti nabi mereka sebagai panutan mereka bisa jadi monster. Islam mematikan insting kriminal manusia. Makin islam seseorang, dia makin haus darah, pengobral kebencian, dan jadi zombie.

Aku ingin sekali menyangkal apa yang aku baca. Aku ingin percaya bahwa arti Al'Quran sebenarnya sebenarnya bukan itu, tapi aku tidak dapat. Aku tidak bisa lagi membodohi diriku mengatakan semua ayat-ayat yang tidak manusiawi itu diluar konteks.


Terkejut

Aku tetap membaca Al'Quran. Bukan karena aku tidak tahu apa yang aku baca. Aku sudah membacanya dan mendengar sebelumnya dan tidak memperhatikan. Aku hidup dalam penyangkalan. Itu tempat terbaik. Kenapa aku harus ragu dan menghancurkan imanku dan kehidupanku yang sudah baik?

Ketika aku tetap membaca, pertanyaan-pertanyaan itu tetap terngiang dan akhirnya tiba waktunya aku tidak dapat lagi menyangkal. Itu tidak hanya satu hal, tapi banyak hal yang menjadi satu. Akhirnya satu lagi kejanggalan atau boleh juga disebut kejahatan yang berhasil dipatahkan adalah tulang belakang onta terkenal itu, dalam hal ini, imanku. Itu adalah saat penting yang mengubah hidupku. Aku masuk dalam tahap terkejut. Sudut pandangku terhadap kenyataan disentak. Aku menemukan diriku berdiri muka berhadapan muka menatap kebenaran – kebenaran yang dulunya aku hindari dengan melakukan apapun. Aku berpikir aku telah menemukan kebenaran tapi ternyata tidak. Jauh dari itu, aku telah melakukan apapun untuk berpegang pada imanku. Kebenaran adalah yang terakhir yang ingin aku lihat. Memang luar biasa bagaimana manusia bisa membohongi dirinya sendiri.

Kebenaran ini bukan kebenaran yang aku harapkan. Tapi sinar kebenaran itu memancar langsung kedalam jiwaku. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Aku sudah menemukan kebenaran tentang Islam pada diriku. Siapa yang aku anggap pembohong? Mataku sendiri? Dan itulah yang aku lakukan. Aku menyalahkan semuanya pada diriku sendiri. Aku menyangkal kecerdasanku sendiri, dan mengutuk diriku sendiri.

Tidak ada satupun yang menolong. Aku terkejut. Aku sudah melihat kebenaran dan tidak lagi bisa menyangkalnya. Ini adalah proses paling menyakitkan, lembah tersulit untuk dilalui. Tapi harus dilalui. Tidak ada cara untuk menghindari. Kamu harus melalui medan yang berliku-liku ini kalau kamu ingin mencapai benteng pencerahan.

Akan tetapi setiap orang berbeda. Apa yang mengejutkan untuk satu orang, mungkin tidak membuat yang lain terkejut. Aku terkejut contohnya saat membaca bahwa Muhammad menyuruh pengikutnya untuk memukul istri mereka dan menyebut wanita "kecerdasannya kurang". Ya, aku tahu banyak muslimah membelanya dan tidak menemui kesulitan menerima ajaran kebencian terhadap wanita ini. Itu bukan karena mereka setuju bahwa mereka kurang dalam hal kecerdasan atau mereka tidak apa-apa dipukul oleh suami mereka. Mereka hanya menutup informasi itu dalam pikiran mereka. Mereka membacanya, tapi tidak memasukannya ke dalam hati. Perilaku penyangkalan bekerja sebagai tameng yang melindungi dan membungkus mereka, menyelamatkan mereka dari menghadapi kenyataan pahit dan konsekuensinya yang menyakitkan.

Sekali tameng itu terangkat, tidak ada yang dapat menurunkannya. Tapi ketika apa yang mereka percaya diserang dari berbagai arah, mereka tidak dapat lagi melindungi diri mereka seratus persen. Setiap orang punya titik lemahnya sendiri. Jika mereka dibombardir dengan berbagai ayat-ayat Al'Quran yang mengejutkan dan cerita-cerita Muhammad yang mengerikan, pada akhirnya mereka akan kena. Dan sekali mereka kena, akan terjadi efek domino. Penyangkalan yang pertama akan mendorong tembok penyangkalan yang lain dan pada akhirnya segala sesuatu yang mereka imani akan runtuh seperti rumah yang terbuat dari tumpukan kartu. Itulah yang terjadi padaku.

Kejutan itu menyakitkan, tapi itu bisa menjadi penyelamat. Dokter menggunakan kejutan untuk menghidupkan kembali pasien yang mati.

Internet telah mengubah dunia. Sekarang, pistol, penjara dan algojo sudah tidak sehebat dulu dan justru pena lah yang berkuasa. Untuk pertama kalinya muslim tidak dapat menghentikan kebenaran dengan cara membunuh mereka yang menyuarakan kebenaran. Banyak dari orang-orang ini sekarang datang pada kebenaran dan mereka merasa tak berdaya. Mereka ingin membungkam suara orang-orang ini, tapi tidak dapat. Mereka ingin membunuh orang-orang yang mengatakan kebenaran, tapi mereka tidak dapat. Mereka ingin memblokir situs-situs yang mengekspos kepercayaan mereka, kadang-kadang mereka berhasil untuk sementara, tapi pesannya tetap saja bocor.

Ketika aku pertama kali menulis tentang islam, aku menghostingnya pada Tripod.com. Muslim memaksa Tripod untuk menutup situsku dan pihak Tripod memenuhi permintaan mereka untuk menenangkan mereka. Tapi aku masih menyimpan domain situsku dan bisa memulai lagi. Jadi cara lama dengan membunuh mereka yang murtad, membakar buku-buku mereka dan membungkan dengan teror tidak dapat digunakan lagi. Mereka tidak dapat menghentikan orang-orang membaca. Bahkan meskipun situsnya diblokir di kebanyakan negara-negara islam, pesan yang ingin disampaikan tetap bocor dan banyak dari muslim yang tidak pernah tahu kebenaran tentang islam akhirnya terekspos untuk pertama kalinya, dan mereka terkejut.

Saya bertemu dengan seorang wanita yang pindah agama ke Islam dan mulai mengenakan Jilbab. Dia punya sebuah website dengan fotonya yang tertutup jilbab hitam lengkap dengan cerita kesaksiannya pindah ke agama islam. Dia sangat aktif menasehati yang lain untuk tidak membaca tulisan-tulisanku. Tapi ketika dia membaca cerita tentang Safiyah, wanita Yahudi yang ditangkap Muhammad dan diperkosa setelah Muhammad membunuh ayahnya, suaminya dan keluarganya, dia terkejut. Dia menanyai teman seukuwahnya dan tidak mendapat tanggapan, malah peringatan yang ia dapatkan agar dia tidak usah menanyakan pertanyaan yang tidak ada hubungannya. Kemudian pintu keraguan terbuka dan dia terusir dari surga kebodohan. Dia terus mengirimi saya surat dan menanyakan pertanyaan. Akhirnya, dia melewati tahap selanjurnya dari iman buta ke pencerahan secara cepat dan menulis rasa terima kasihnya kepadaku karena aku sudah menuntunnya melewati jalan yang sulit ini.

Ketika orang-orang mempelajari tentang kehidupan Muhammad najis dan kejanggalan Al'Quran mereka terkejut. Tujuanku adalah membuka kerudung kebenaran tentang Islam dan Muhammad dan membobardir Muslim dengan fakta-fakta. Mereka akan marah. Mereka akan mengutukku, menghinaku dan mengatakan kepadaku bahwa setelah membaca tulisanku imannya pada islam malah dikuatkan. Justru saat inilah tahu bahwa aku sudah menaburkan benih-benih keraguan pada mereka. Mereka mengatakan itu semua karena mereka terkejut. Benih keraguan itu sudah ditanam dan itu akan tumbuh. Untuk beberapa orang itu mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun, tapi pada akhirnya akan tetap tumbuh.

Keraguan adalah anugrah terindah yang dapat kita berikan pada yang lain. Ini adalah anugrah pencerahan. Keraguan akan memerdekakan kita. Melalui keraguan ilmu pengetahuan berkembang dan misteri-misteri alam semesta diketahui. Iman buta justru membuat kita tetap ****.

Salah satu rintangan yang harus kita atasi adalah tradisi dan nilai-nilai yang salah yang diberikan pada kita selama ribuan tahun melalui ajaran agama. Orang-orang sering menghargai iman dan menganggap keraguan adalah tanda kelemahan. Mereka menaruh hormat saat berbicara dengan "Orang yang beriman" dan memandang remeh orang-orang yang memiliki iman kecil. Kita dibodohi oleh nilai-nilai kita sendiri.

Iman berarti percaya tanpa bukti. Mudah tertipu juga berarti percaya tanpa bukti. Tidak ada yang hebat dari beriman. Persamaan kata beriman itu mudah tertipu (gullibility), mudah percaya begitu saja (credulity) dan mudah dipengaruhi (susceptibility). Bagaimana kamu bisa bangga pada hal-hal seperti itu?

Di sisi lain keraguan berarti kebalikan dari semua diatas. Keraguan berarti mampu berpikir secara bebas, bertanya secara bebas. Kita berhutang sains dan peradaban modern pada mereka-mereka yang ragu, mereka-mereka yang tidak percaya. Mereka yang ragu adalah pelopor; mereka adalah pemimpin pikiran. Mereka semua adalah filsuf-filsuf dan para penemu. Mereka yang hanya percaya, hidup dan mati sebagai pengikut saja, tidak atau hanya sedikit memberikan kontribusi pada perkembangan sains dan pengetahuan manusia.

Kejutan meruntuhkan tembok penyangkalan. Seseorang tidak akan bisa hidup dalam penyangkalan selamanya. Cepat atau lambat malam akan datang dan dinginnya kenyataan membekukan tulangmu dan kamu menyadari bahwa kamu sudah terusir dari surga kebodohan. Ketika kamu tahu terlalu banyak kamu akan terasing. Dengan takut kamu akan melihat dalam kegelapan dan mengintip bayang-bayang jalan ketidak tahuan yang samar-samar itu dan dengan hati-hati kamu akan menjalani langkah pertamamu menuju tujuan yang tidak diketahui. Kamu bergulat dan meraba-raba, dengan malas mencoba untuk tetap fokus. Rasa takut menguasaimu. Kamu mencoba untuk kembali kebelakang, tapi pintu sudah tertutup. Barangsiapa yang makan dari buah pengetahuan tidak akan dapat kembali lagi pada kebodohan. Apa yang sudah 'dipelajari' tidak dapat 'tidak dipelajari'.


Rasa Bersalah

Sungguh beruntung mereka yang telah membaca artikelku dan terluka oleh apa yang kukatakan tentang Al'Quran. Mereka punya figur untuk dibenci yaitu aku. Mereka bisa mengutukku dan mengarahkan semua kemarahannya padaku. Tapi aku tidak punya keistimewaan seperti itu. Aku tidak bisa menyalahkan orang lain karena aku mendapatkan kebenaran itu sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Siapa yang akan aku benci? Diriku sendiri? Ya itulah yang kulakukan. Aku membenci diriku sendiri. Pada tahap ini aku merasakan rasa bersalah yang besar. Aku malu pada pikiranku sendiri dan keraguanku. Kupikir mungkin Tuhan sedang mencobai aku, atau mungkin dia sedang menghukumku. Mengapa Dia memberikan semua keraguan ini pada pikiranku? Aku tidak melakukan dosa apapun. Sedikitpun aku tidak pernah membaca buku apapun yang bertentangan dengan islam. Salah satu temanku menyatakan rasa penasarannya tentang buku karangan Salman Rushdie dan aku memberinya sedikit apa yang ada dalam pikiranku. Kupikir buku-buku yang bisa menggugurkan iman itu seperti racun. Buku-buku seperti itu harus dihindari. Keraguanku bukan karena aku menyimpang dari jalan yang "benar". Aku jadi ragu setelah aku membaca Al'Quran, awalnya bermaksud untuk mengerti pesan-pesan Tuhan yang disampaikan pada manusia. Tapi yang aku baca itu justru seperti pesan dari setan.

Rasa bersalah itu berlangsung selama beberapa bulan. Aku membenci diriku sendiri karena punya pikiran seperti ini. Aku berbicara pada orang-orang yang aku percayai, mereka tidak hanya berpengetahuan tapi juga bijak. Nasehat mereka hanya sedikit memadamkan api yang ada di dalamku. Salah satu dari orang bijak ini mengatakan kepadaku supaya tidak membaca Al'Quran untuk sementara. Dia menganjurkan aku untuk berdoa dan hanya membaca buku-buku yang bisa memperkuat imanku. Aku melakukan itu, tapi tidak membantu. Pikiran tentang kejanggalan-kejanggalan, kadang juga ayat-ayat Al'Quran yang bengis dan ayat-ayat yang menggelikan tetap saja berdenyut dikepalaku. Setiap kali aku melihat lemari bukuku aku melihat Al'Quran, aku merasa kecewa. Aku sengaja menyembunyikannya dibelakang buku-buku yang lain. Kupikir kalau aku tidak berpikir soal itu pikiran-pikiran negatifku akan segera hilang dan aku mendapatkan imanku kembali. Tapi tetap saja tidak hilang. Aku menyangkali kebenaran sebisaku, sampai aku tidak bisa lagi.

Aku benci diriku sendiri karena berpikir, karena ragu dan menemukan kesalahan dalam apa yang aku anggap kata-kata Tuhan. Suatu hari aku memutuskan: Cukuplah sudah. Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu bukan salahku. Aku tidak akan membawa perasaan bersalah ini selamanya. Kalau Tuhan sudah memberiku otak, itu karena Dia ingin aku menggunakannya. Kenapa aku harus merasa bersalah untuk sekadar bertanya? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terjawab. Dan ini menuntunku pada tahap berikutnya: lembah kebingungan.


Kebingungan

Jika apa yang aku lihat tentang benar dan salah itu ngaco, maka itu bukan salahku. Tuhan mengatakan membunuh itu salah dan aku tahu itu salah karena aku juga tidak ingin dibunuh. Lalu kenapa rasulnya membunuh begitu banyak orang tak bersalah dan memerintahkan pengikutnya untuk membunuh mereka yang tidak percaya? Kalau perkosaan itu salah, aku tahu itu salah karena aku tidak ingin itu terjadi pada orang-orang yang aku cintai, mengapa rasulullah memperkosa wanita-wanita yang dia tawan dalam sebuah penyergapan? Kalau perbudakan itu jahat, aku tahu itu jahat karena aku tidak mau kehilangan kebebasanku dan menjadi budak, mengapa Muhammad memperbudak begitu banyak orang dan memperkaya dirinya dengan menjual budak? Kalau pemaksaan agama itu jahat, dan aku tahu itu jahat karena aku tidak mau ada orang lain yang memaksaku berpindah ke agama yang tidak aku inginkan, lalu mengapa sang nabi memuji-muji Jihad dan mendorong pengikutnya untuk melakukan Jihad? Jika Tuhan mengatakan padaku sesuatu yang baik, aku tahu itu baik karena itu merasa baik, lalu mengapa sang nabi malah melakukan sebaliknya?

Seperti semua muslim, aku terkena dan harus melahap semua kebohongan, kejanggalan dan kebiadaban yang sudah menjadi sifat islam, tanpa bisa dikritik. Aku dibesarkan sebagai orang yang taat beragama. Aku percaya pada apapun yang diajarkan kepadaku. Disini kebohongan diberikan padaku dalam dosis rendah, secara perlahan-lahan, sejak anak-anak. Aku tidak pernah diberikan alternatif lain untuk dibandingkan. Analoginya, seperti vaksinasi. Aku sudah kebal terhadap kebenaran. Tapi ketika aku mulai serius membaca Al'Quran, dengan tujuan untuk mengerti Al'Quran, aku merasa mual. Terlalu banyak untuk menelannya sekaligus. Aku menelan racun itu sedikit demi sedikit sepanjang hidupku, tapi ketika aku melahap semuanya sekaligus, perutku langsung sakit. Berat rasanya membaca buku sejahat Al'Quran. Ya aku juga sudah baca Mein Kampf.

Kupikir aku bukan orang yang irasional, tapi bagaimanapun aku berusaha untuk membungkam pemikiran rasionalku ketika itu sudah menyangkut Quran dan Islam. Aku sudah menjadi tidak sensitif terhadap kebohonngan. Ketika aku menemukan sesuatu yang tidak masuk akal, aku menyikatnya dan berkata pada diriku bahwa aku harus melihat "gambaran besarnya". Akan tetapi, gambaran besar yang seharusnya, tidak akan dapat ditemukan dimanapun kecuali di pikiranku sendiri. Aku menghubungkan titik-titik yang aku suka dan membuat gambaran besar abstrak tentang islam dalam pikiranku. Tapi islam yang indah itu adalah islam versiku dan bukan islam versinya Muhammad. Aku lah pendirinya, bukan pembunuh massal itu. Itu jadi baik karena akulah yang jadi nabinya.

Itulah kenapa muslim mencintai islam. Sangat sedikit muslim yang sudah membaca Al'Quran dan mengerti Al'Quran. Ya mereka melafalkannya dan sering melafalkannya dalam bahasa yang mereka tidak mengerti, hanya sedikit yang mengerti apa yang mereka baca. Jauh lebih sedikit lagi mereka yang sudah membaca Sirah dan Hadits. Islam yang mereka peluk adalah islam yang dibuat oleh mereka sendiri. Mereka membuat agama terbaik dalam pikirannya dan ketika kamu memberitahu islam yang sesungguhnya mereka tidak melihat adanya kemiripan dengan apa yang sudah mereka bayangkan.

Ketika aku membaca Al'Quran aku menemukan gambar yang sungguh berbeda dengan apa yang telah dibuat dalam pikiranku. Gambaran yang muncul dari halaman buku itu adalah kekerasan, intoleran, irasional, agama yang arogan, jauh dari gembar-gembor agama damai, menghargai persamaan hak dan toleransi.

Aku butuh menyangkal semua ini supaya aku tetap waras, tapi untuk berapa lama? Bagaimana bisa seseorang menatap matahari secara langsung dan masih tetap saja menyangkal kalau matahari itu ada? Aku membaca Al'Quran dalam bahasa Arab jadi aku tidak bisa menyalahkan terjemahannya. Aku bahkan menggunakan terjemahan dalam bahasa Persia dan bahasa Inggris, hanya untuk memastikan aku tidak keliru. Aku menyadari bahwa terjemahan dalam bahasa Inggris tidak semuanya tepat. Sang penerjemah berusaha dengan keras untuk menyembunyikan semua kekerasan dan kebiadaban Al'Quran dengan memelintir kata-kata dan menambahkan kata-katanya sendiri, kadang-kadang dalam tanda kurung, untuk melembutkan nada yang kasar. Al'Quran dalam bahasa Arab lebih mengejutkan ketimbang terjemahan bahasa Inggrisnya. Terjemahan bahasa Persia lebih mirip aslinya. Dan aku percaya itu karena orang-orang yang berbicara dalam bahasa Inggris perlu ditipu, sedangkan orang-orang Persia sudah mayoritas muslim sehingga tidak perlu memberikan pemanis pada mereka.

Aku bingung dan tidak tahu dimana harus berbelok. Imanku sudah terguncang dan duniaku sudah runtuh. Aku tidak bisa lagi menyangkal apa yang aku baca. Tapi aku tidak bisa menerima kemungkinan bahwa ini semua adalah penipuan besar-besaran. Aku bertanya pada diriku sendiri: "Bagaimana bisa orang-orang sebanyak ini tidak pernah melihat kebenaran sedangkan aku melihatnya? Bagaimana bisa seorang peramal besar seperti Jalaleddin Rumi tidak melihat bahwa Muhammad adalah seorang penipu dan Al'Quran itu hoax? Apakah aku sudah gila? Apakah aku mencoba untuk lebih mengerti ketimbang satu milyar lebih orang yang percaya Muhammad?" Aku punya banyak pertanyaan yang mengganggu dan tetap tidak ada jawaban. Kebingungan adalah kata yang cocok untuk menggambarkan.

Akhirnya aku menyadari bahwa seluruh manusia bisa saja salah, dan fakta yang melekat pada kebodohan spesies manusia bahwa yang mayoritas itu lebih mungkin keliru ketimbang benar. Orang hebat pun juga bisa salah. Mereka manusia dan bisa salah seperti yang lain.


Kekecewaan

Setelah mengatasi penyangkalan, melalui tahap kejutan, mengatasi rasa bersalahku dan mengalami kebingungan, akhirnya aku tawar hati dan kecewa. Aku menyesal telah menyia-nyiakan hidupku selama bertahun-tahun dan mengetahui semua muslim yang masih terjebak dalam keyakinannya yang ****. Aku perasa kasihan pada semua "peramal-peramal" seperti Rummi yang sudah mengorbankan sisa hidupnya untuk mencari arti hidup dan kebenaran, tapi tidak menemukan apapun kecuali kebohongan dan seperti orang buta menuntun orang buta menuntun yang lain pada kebinasaan. Orang hebat seperti dia, tiba-tiba menjadi orang paling ****. Jutaan jiwa membusuk dalam kebohongan. Muslim membantai lebih dari 280 juta orang dan itu belum termasuk jumlah muslim yang saling bunuh sendiri. Banyak sekali penderitaan, banyak sekali kesedihan untuk sesuatu yang sia-sia – semuanya karena kebohongan, semuanya karena percaya kebohongan dari orang gila. Berapa banyak orang yang menyerahkan nyawanya dan beranggapan bahwa mereka akan ke surga. Yang kenyataannya, seandainya ada kehidupan setelah kematian, mereka akan masuk neraka untuk kejahatan yang mereka lakukan pada sesamanya dengan membawa nama Tuhan.

Jutaan muslim meninggalkan rumah mereka dan keluarga mereka untuk berperang dalam nama Tuhan, tidak pernah kembali, berpikir mereka menyebarkan kebenaran padahal mereka menyebarkan kejahatan dan penderitaan. Peradaban dihancurkan, perpustakaan dibakar, dan banyak pengetahuan yang hilang, semuanya untuk kesia-siaan. Aku masih ingat ketika ayahku bangun dipagi hari dan melakukan wudhu dengan menggunakan air sedingin es dimusim dingin. Aku masih ingat dia pulang rumah dalam keadaan lapar dan haus selama bulan puasa dan aku memikirkan milyaran orang lain yang menyiksa dirinya seperti ini untuk sebuah kebohongan. Sangat menyedihkan menyadari bahwa ini semua adalah penipuan jahat dan aku menyia-nyiakan hidupku, dan milyaran orang lainnya masih terhilang dalam padang pasir kering bernama kebodohan ini, mengejar khayalan.

Sebelum aku menyadari ini, Tuhan selalu dibelakang pikiranku. Aku berbicara denganNya dalam imaginasiku dan pembicaraan ini seolah nyata. Aku beranggapan bahwa Tuhan melihat dan mencatat semua perbuatan baik yang aku lakukan. Sangat menyenangkan merasa Dia selalu melihatku, menuntun langkahku dan melindungiku. Sangat sulit menerima bahwa tidak ada makhluk bernama Allah bahkan jika Tuhan itu ada, Dia bukanlah Allah. Aku tidak menyerah percaya pada Tuhan, tapi kemudian aku tahu pasti bahwa seandainya alam semesta ini memiliki pencipta, Itu jelas bukan pencipta yang sepert dibayangkan Muhammad. Allah itu **** sampai ke akar-akarnya. Al'Quran penuh dengan kesalahan. Pencipta alam semesta ini tidak mungkin sebodoh Tuhan yang di Al'Quran. Allah tidak mungkin ada dimanapun kecuali dalam pikiran orang sakit jiwa. Jelas sudah bahwa Allah itu cuma isapan jempolnya Muhammad, sebenarnya sih pribadi lain dari Muhammad (alter-ego nya Muhammad). Bagaimana kecewanya aku ketika tahu bahwa selama ini aku menyembah sebaik-baiknya khayalan dan seburuk-buruknya iblis.


Depresi

Perasaan terhilang dan kecewa ditambah dengan rasa kesedihan – semacam depresi. Rasanya seperti seluruh dunia runtuh. Aku merasa tanah tempat aku berpijak tidak lagi disitu dan aku jatuh dalam jurang yang tak berdasar. Rasanya seperti di neraka.

Aku limbung, mencari pertolongan dan tidak ada satupun yang menolong. Pertama aku merasa malu dan membenci diriku karena memiliki pikiran seperti ini. Rasa bersalah dilengkapi dengan rasa kehilangan dan depresi yang nyata. Padahal, aku seorang yang selalu berpikir positif. Aku melihat sisi baik dari segala sesuatu. Aku selalu berpikir hari esok akan lebih baik dari hari ini. Aku bukan orang yang mudah depresi. Tapi rasa kehilangan ini dengan cepat menguasai. Aku masih ingat rasa berat dalam hatiku. Kupikir Tuhan sedang mencobai aku dan aku tidak tahu kenapa. "Apakah ini cobaan dari Tuhan?" Aku selalu bertanya pada diriku sendiri. Aku tidak mau menyakiti orang lain lagi. Aku keluar dari jalanku untuk membantu siapa saja yang hidupnya sama dan meminta bantuanku. Jadi, kenapa Tuhan ingin menghukumku dengan cara ini? Kenapa Dia tidak menjawab Doaku? Mengapa Dia meninggalkanku dan mengapa pemikiran-pemikiran ini tidak ada jawabannya? Apakah aku bisa lulus cobaan ini kalau aku jadi **** dan mengesampingkan pendapat-pendapatku? Jika begitu, mengapa Dia memberiku otak dan kemampuan untuk berpikir dan berpendapat? Apakah Tuhan hanya ingin orang-orang **** di surganya? Apakah dia akan memasukan orang-orang yang berpikir ke neraka?

Aku merasa dikhianati dan dizolimi. Aku tidak bisa lagi mengatakan mana yang lebih mendominasi. Pada satu waktu aku kecewa, sedih, atau tawar hati. Bahkan meskipun beriman itu salah, itu masih tetap manis. Rasanya sangat nyaman jika percaya.

Menyandingkan perasaan terhilang dan sedihku, aku merasa merdeka. Anehnya, aku tidak lagi merasa kebingungan atau bersalah. Aku tahu dengan pasti bahwa Al'Quran adalah hoax dan Muhammad seorang penipu.

Untuk mengatasi rasa sedih ini aku mencoba membuat diriku sibuk dengan banyak aktifitas. Aku bahkan ikut kursus menari dan merasakan apa artinya hidup, bebas dari rasa bersalah, menikmati hidup dan jadi orang normal. Aku menyadari berapa banyak aku sudah tertinggal dan bagaimana bodohnya aku menyiksa diriku untuk kenyamanan hidup yang sederhana. Tentu ini bagaimana caranya sekte-sekte sesat mengontrol pengikutnya. Aku hidup dalam ketakutan dengan Tuhan secara terus menerus, dan kupikir ini normal. Aku berbicara soal kenyamanan seperti tidur di pagi hari, menari, berpacaran, atau meneguk segelas wine.


Kemarahan

Pada saat ini, aku memasuki lembah selanjutnya dalam perjalananku menuju pencerahan. Aku marah. Aku marah karena sudah percaya pada kebohongan-kebongan itu, karena membuang-buang hidupku mengejar angsa liar, marah pada budayaku yang telah menanamkan nilai-nilai yang salah padaku, marah pada orang tuaku karena mengajariku kebohongan ini, marah pada diriku sendiri karena tidak berpikir dulu sebelumnya, marah karena sudah percaya dengan tidak kritis, marah karena sudah percaya pada seorang penipu. Aku bahkan marah pada Tuhan karena membiarkanku stres, marah pada Tuhan karena tidak mengintervensi dan menghentikan kebohongan ini dari awal – kebohongan yang ditanamkan dalam namaNya.

Ketika aku melihat jutaan muslim yang, dengan kesetiaannya, pergi ke Arab saudi, banyak dari mereka mengeluarkan seluruh tabungannya untuk pergi Haji, aku merasa sedih, dan marah. Siapa yang akan menyadarkan orang-orang ini dan mengatakan bahwa mereka sedang mengejar khayalan? Aku menjadi sedih dan marah ketika aku membaca kesaksian seseorang yang berpindah masuk Islam, sesuatu yang suka digembar-gemborkan muslim. Aku sedih untuk jiwa-jiwa yang tidak tahu ini dan marah karena kebohongan ini.

Aku marah dengan seluruh dunia yang mencoba melindungi kebohongan ini, melindunginya, dan bahkan menyerangmu jika kamu menyuarakan kebenaran. Tidak hanya muslim, tapi juga non-muslim yang melakukan segala sesuatu untuk melindungi kebohongan ini. Aku bisa mengerti muslim, mereka dibohongi, tapi ada apa dengan non-muslim yang tidak tahu malu membela islam dan menyerang kritik-kritik islam? Boleh mengkritik apapun kecuali Islam. Yang membuatku heran dan membuatku makin marah adalah perlawanan yang aku hadapi dari non-muslim ketika aku mencoba mengatakan bahwa islam adalah kebohongan.

Kemarahan ini tidak berlangsung lama, tapi itu juga bagus karena membuatku bersemangat. Membuatku makin tegas dan mantap untuk memerangi kejahatan ini dan memberantasnya. Aku tahu Muhammad bukanlah utusan Tuhan, bidah, sakit mental, penghasut yang tujuan sebenarnya adalah memperdaya orang-orang dan memuaskan ambisinya yang narsis itu. Aku tahu semua dongeng anak-anak tentang neraka dengan apinya yang panas dan surga dengan sungai wine, susu dan madu dan perawan-perawan berdada montoknya itu hanya khayalan orang sakit jiwa, liar dan pikiran sakit seseorang yang ingin mendominasi dan mengokohkan kekuasaannya.

Aku sadar bahwa aku tidak boleh lagi marah dengan orang tuaku, karena mereka sudah melakukan apa yang terbaik dan mengajarkanku apa yang mereka pikir terbaik. Aku tidak boleh lagi marah pada budayaku karena orang-orang disekitarku juga mendapatkan informasi yang salah sama seperti orang tuaku. Dalam islam semuanya adalah korban. Korban dan pencari korban pada saat yang sama. Mereka percaya pada kebohongan ini dan teguh dengan keyakinan mereka. Jalan menuju neraka ditaburi dengan niat yang baik dan islam adalah contoh yang sempurna itu?

Hari ini aku bertekad memerangi islam, menyebarkan kebenarannya dan menyadarkan sebanyak mungkin muslim. Aku melakukan ini untuk muslim dan untuk korban dari muslim. Satu-satunya obat untuk kegelapan adalah terang. Satu-satunya obat untuk kebohongan adalah kebenaran. Islam bisa dibasmi dengan menyebarkan kebenaran. Kebenaran akan memerdekakan dunia.

Ini adalah cerita perjalananku dari iman menuju pencerahan. Seperti muslim lainnya aku memulai dengan penyangkalan. Aku juga punya keinginan untuk tahu dan mempelajari. Ketika aku mempelajari kebenaran, aku terkejut. Aku merasa bersalah dan bingung. Kemudian aku merasa kecewa, depresi dan marah. Tapi setelah aku melalui semua tahap-tahap ini, aku merasa merdeka. Sekarang aku mengerti sesuatu yang tidak bisa kumengerti sewaktu dulu aku masih muslim. Aku tercerahkan dan itu adalah sesuatu yang luar biasa. Semua ini ada tujuh tahapan, yang aku sebut tujuh lembah dari iman menuju pencerahan.

Pujangga Persia, Farid ud-Din Attar, dalam bukunya yang terkenal mantiq al-tair, menceritakan setelah konferensi para burung, para burung menyeberangi tujuh lembah dengan tujuan mencari Simorgh, burung legendaris sama seperti Phoenix untuk dijadikan pemimpin mereka. Ketika mereka menemui sebuah kolam yang dipercaya sebagai tempat tinggal Simorgh hanya tiga puluh dari mereka yang masih ada. Si Morgh juga memiliki arti tiga puluh burung. Tiga puluh burung itu melihat ke dalam kolam dan melihat bayangan diri mereka, bayangan tiga puluh ekor burung (Si Morgh). Mereka menyadari bahwa mereka adalah sesuatu yang mereka cari, dan ternyata Simorgh adalah mereka sendiri.

Tujuh lembah, menurut cerita Farid ud-Din Attar adalah Talab (hasrat), Eshq (cinta), Marifat, Istighnah (pendirian teguh), Tawheed (tauhid), Hayrat (kebingungan) dan, terakhir Faqr dan Fana (kemiskinan dan penghapusan jati diri, contohnya tidak menyadari Tuhan). Ini mewakili tahap-tahap yang harus dilewati seorang Sufi atau seorang muslim untuk mengerti sifat-sifat Tuhan yang sesungguhnya.

Tujuh lembah-lembahku membawamu melalui apa yang ditinggalkan Farid ud-Din Attar, contohnya dari iman menuju mencerahan, dari penghapusan jati diri ke penemuan jati diri. Aku melalui lembah-lembah Farid ud-Din Attar dan bahkan melebihi itu. Aku melihat apa yang dia tidak lihat, contohnya jati diri Tuhan yang sesungguhnya. Dan aku melihat, Tuhan bukanlah sebuah pribadi. Tuhan bukanlah Dia melainkan Itu. Tuhan bukanlah pembuat aturan-aturan, melainkan aturan itu sendiri. Tuhan tidak pernah mengirim nabi atau menjawab Doa-Doa. Tuhan tidak mengatur alam semesta. Tuhan tidak mengerjakan sesuatu dan segala sesuatu terjadi begitu saja.

Aku melalui tahap lupa diri yang dimaksud Farid ud-Din Attar. Bahwa surga kebodohan adalah dimana aku menemukan kebahagiaan yang fana. Perjalananku dimulai dari situ dan aku tidak ingin merasakan kebahagiaan yang fana itu lagi. Kedamaian dalam kebodohan adalah kematian buat kecerdasanku. Perjalananku adalah perjalanan menuju pencerahan. Pencerahan bukan hidup bahagia. Pencerahan adalah hidup dan mengerti secara bertanggung jawab. Itu adalah tahap kedewasaan seorang manusia. Kamu bisa pergi menuju tujuh lembahnya Farid ud-Din Attar dan mendapatkan penghapusan jati diri dan lupa diri dan hidup bahagia, atau kamu bisa memilih tujuh lembahku, belajar kebenaran dan yang kamu temui sering tidak indah bahkan dengan perjuangan. Hidup itu perjuangan. Hidup adalah perjuangan yang terus menerus, tapi ini adalah perjuangan untuk kemajuan peradaban manusia. Lupa diri seperti yang dimaksud Farid ud-Din Attar adalah stagnasi pikiran. Tujuan nya berakhir pada faqr dan fana (kemiskinan dan penghapusan jati diri), dengan kata lain nihilisme. Perjalananku membawamu pada pencerahan, pada pengayaan jiwamu, pada pengertian tentang kehidupan. Tujuannya Farid ud-Din Attar adalah kemusnahan. Tujuanku adalah penemuan jati diri, kesadaran dan pengertian.

Mungkin mereka yang pernah nonton film The Matrix bisa mengerti perbedaannya. Kamu bisa menelan pill biru dan hidup dalam kebohongan tapi bahagia, atau kamu dapat minum pill merah dan sadar akan kenyataan dan melihat dunia apa adanya, dimana dunia bukanlah tempat bahagia.

Aku menulis artikel ini pertama kali di tahun 2001. Ini aku mengedit kembali versi yang lama itu.
User avatar
suseno
 
Posts: 675
Joined: Tue May 03, 2011 2:19 am
Location: Mossad

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby Moderator 3 » Sat Jun 16, 2012 3:44 am

Bintang 5 dari saya. Terima kasih atas sumbangannya.
Moderator 3
 
Posts: 572
Images: 1
Joined: Tue Sep 13, 2005 8:53 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby suseno » Sat Jun 16, 2012 8:56 pm

Terima kasih, asliya mau saya masukin ke bagian dapur terjemahan. Tapi keknya yang bisa posting disana hanya official translator Faith Freedom Indonesia yah?
User avatar
suseno
 
Posts: 675
Joined: Tue May 03, 2011 2:19 am
Location: Mossad

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby I Want You » Sun Jun 17, 2012 12:16 pm

minta tolong moderator aja.

tulisan2 Ali Sina memang luar biasa , kalau bisa di upload ke FB ataupun twitter . =D> =D> =D>
User avatar
I Want You
 
Posts: 2394
Joined: Thu May 07, 2009 2:20 pm
Location: Serambi Yerusalem

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby Nirwana15 » Mon Jun 18, 2012 9:42 am

"Bagaimana bisa orang-orang sebanyak ini tidak pernah melihat kebenaran sedangkan aku melihatnya? Bagaimana bisa seorang peramal besar seperti Jalaleddin Rumi tidak melihat bahwa Muhammad adalah seorang penipu dan Al'Quran itu hoax? Apakah aku sudah gila? Apakah aku mencoba untuk lebih mengerti ketimbang satu milyar lebih orang yang percaya Muhammad?" Aku punya banyak pertanyaan yang mengganggu dan tetap tidak ada jawaban. Kebingungan adalah kata yang cocok untuk menggambarkan.


Aku melalui tahap lupa diri yang dimaksud Farid ud-Din Attar. Bahwa surga kebodohan adalah dimana aku menemukan kebahagiaan yang fana. Perjalananku dimulai dari situ dan aku tidak ingin merasakan kebahagiaan yang fana itu lagi. Kedamaian dalam kebodohan adalah kematian buat kecerdasanku. Perjalananku adalah perjalanan menuju pencerahan. Pencerahan bukan hidup bahagia. Pencerahan adalah hidup dan mengerti secara bertanggung jawab. Itu adalah tahap kedewasaan seorang manusia. Kamu bisa pergi menuju tujuh lembahnya Farid ud-Din Attar dan mendapatkan penghapusan jati diri dan lupa diri dan hidup bahagia, atau kamu bisa memilih tujuh lembahku, belajar kebenaran dan yang kamu temui sering tidak indah bahkan dengan perjuangan. Hidup itu perjuangan. Hidup adalah perjuangan yang terus menerus, tapi ini adalah perjuangan untuk kemajuan peradaban manusia. Lupa diri seperti yang dimaksud Farid ud-Din Attar adalah stagnasi pikiran. Tujuan nya berakhir pada faqr dan fana (kemiskinan dan penghapusan jati diri), dengan kata lain nihilisme. Perjalananku membawamu pada pencerahan, pada pengayaan jiwamu, pada pengertian tentang kehidupan. Tujuannya Farid ud-Din Attar adalah kemusnahan. Tujuanku adalah penemuan jati diri, kesadaran dan pengertian.



Terimakasih..dua pernyataan di atas sudah cukup untuk menjelaskan segalanya....dan kalimat yg di besarkan lebih mempertegas
lagi..

Mungkin mereka yang pernah nonton film The Matrix bisa mengerti perbedaannya. Kamu bisa menelan pill biru dan hidup dalam kebohongan tapi bahagia, atau kamu dapat minum pill merah dan sadar akan kenyataan dan melihat dunia apa adanya, dimana dunia bukanlah tempat bahagia.


.........selamat berjuang....
Nirwana15
 
Posts: 42
Joined: Fri May 18, 2012 2:55 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby isaku » Mon Jun 18, 2012 4:31 pm

Kasian Ali Sina ... udah ketemu yang sempurna tapi g dapat hidayah
isaku
 
Posts: 183
Joined: Mon Jun 18, 2012 3:37 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby suseno » Tue Jun 19, 2012 4:31 am

isaku wrote:Kasian Ali Sina ... udah ketemu yang sempurna tapi g dapat hidayah


Pasti kamu masih dalam tahap Penyangkalan yah?
User avatar
suseno
 
Posts: 675
Joined: Tue May 03, 2011 2:19 am
Location: Mossad

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby isaku » Tue Jun 26, 2012 5:33 pm

so.. ali sina sekarang sudah merdeka, mendapatkan pencerahan. Pertanyannya adalah pencerahan macam apa yang didapatnya. Islam salah? hanya itu? ... kalau hanya begitu sama sekali tidak menarik.... jauh lebih menarik kalau dia menyebutkan menemukan sesuatu yang jauh lebih indah dari Islam... apa sekarang dia jadi atheis?
isaku
 
Posts: 183
Joined: Mon Jun 18, 2012 3:37 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby sodrun » Wed Jun 27, 2012 7:57 am

isaku wrote:so.. ali sina sekarang sudah merdeka, mendapatkan pencerahan. Pertanyannya adalah pencerahan macam apa yang didapatnya.
Islam salah?
hanya itu? ...
kalau hanya begitu sama sekali tidak menarik.... jauh lebih menarik kalau dia menyebutkan menemukan sesuatu yang jauh lebih indah dari Islam... apa sekarang dia jadi atheis?

Itu semisal "HABIS GELAP TERBITLAH TERANG" !
Itu sudah cukup,.. cerah itu bisa bersifat putih, kebiruan, agak kekuningan... atau seperti pelangi ...... no problem !
Yang penting sudah keluar dari KEGELAPAN !
:green:
sodrun
 
Posts: 1950
Joined: Sat Apr 30, 2011 8:38 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby isaku » Thu Jun 28, 2012 1:03 pm

emang g normal ali sina .. udah ada cahaya datang.. matanya ada kotorannya bikin perih..ngerangkak2 ke 7 lembah nyari tempat gelap
isaku
 
Posts: 183
Joined: Mon Jun 18, 2012 3:37 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby gateway » Thu Jun 28, 2012 2:13 pm

isaku wrote:so.. ali sina sekarang sudah merdeka, mendapatkan pencerahan. Pertanyannya adalah pencerahan macam apa yang didapatnya. Islam salah? hanya itu? ... kalau hanya begitu sama sekali tidak menarik.... jauh lebih menarik kalau dia menyebutkan menemukan sesuatu yang jauh lebih indah dari Islam... apa sekarang dia jadi atheis?

ente kirim email aja ke dia langsung..mumpung masih hidup orangnya.
User avatar
gateway
 
Posts: 1031
Joined: Sun Aug 21, 2011 8:59 am

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby bluelotusfriend » Thu Jun 28, 2012 5:18 pm

isaku wrote:so.. ali sina sekarang sudah merdeka, mendapatkan pencerahan. Pertanyannya adalah pencerahan macam apa yang didapatnya. Islam salah? hanya itu? ... kalau hanya begitu sama sekali tidak menarik.... jauh lebih menarik kalau dia menyebutkan menemukan sesuatu yang jauh lebih indah dari Islam... apa sekarang dia jadi atheis?


kenapa sih paranoid sama atheis ?? boleh tanya ??

mau dia nyembah 100 tuhan, 1 tuhan, tanpa tuhan, selama dia itu hidup baik, guyub, rukun, tidak bakar-bakar rumah ibadat lain, tidak menumpahkan darah orang lain, lalu kenapa ??
bluelotusfriend
 
Posts: 956
Joined: Fri Oct 07, 2011 4:32 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby isaku » Fri Jun 29, 2012 2:01 pm

kenapa sih paranoid sama atheis ?? boleh tanya ??
mau dia nyembah 100 tuhan, 1 tuhan, tanpa tuhan, selama dia itu hidup baik, guyub, rukun, tidak bakar-bakar rumah ibadat lain, tidak menumpahkan darah orang lain, lalu kenapa ??

boleh pak saya jawab.
jadi ali sina dulu ikut bakar2an, menumpahkan darah ya. ok dia memang perlu tobat kembali ke jalan yg benar.
tidak paranoid pak... perumpaannya gini lo pak. ada anak biasa makan 4sehat5sempurna, udah dibekelin ama maknya, e tau2 datang temannya 'jangan makan yang itu' , dijelek2in dah masakan maknya ama tuh teman g bener..... padahal pilihan yang lain punya temannya nasi basi, goreng tikus gosong, sama air got, yang jualan kebeneran lagi g ada, lah kan dia butuh makan pak, trus g usah makan gitu?
isaku
 
Posts: 183
Joined: Mon Jun 18, 2012 3:37 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby bluelotusfriend » Fri Jun 29, 2012 3:49 pm

isaku wrote:boleh pak saya jawab.
jadi ali sina dulu ikut bakar2an, menumpahkan darah ya. ok dia memang perlu tobat kembali ke jalan yg benar.
tidak paranoid pak... perumpaannya gini lo pak. ada anak biasa makan 4sehat5sempurna, udah dibekelin ama maknya, e tau2 datang temannya 'jangan makan yang itu' , dijelek2in dah masakan maknya ama tuh teman g bener..... padahal pilihan yang lain punya temannya nasi basi, goreng tikus gosong, sama air got, yang jualan kebeneran lagi g ada, lah kan dia butuh makan pak, trus g usah makan gitu?


itu kalau makanan ... ini kan bukan makanan bro ??

sekarang darimana kamu bisa mengetahui kalau itu 4 sehat 5 sempurna dan seenaknya menghina lainnya sebagai nasi basi goreng itkus gosong dan air got ??

mari kita buka thread mengenai kehebatan 4 sehat 5 sempurnamu itu ... bagaimana ??
bluelotusfriend
 
Posts: 956
Joined: Fri Oct 07, 2011 4:32 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby gateway » Fri Jun 29, 2012 4:16 pm

isaku wrote:boleh pak saya jawab.
jadi ali sina dulu ikut bakar2an, menumpahkan darah ya. ok dia memang perlu tobat kembali ke jalan yg benar.
tidak paranoid pak... perumpaannya gini lo pak. ada anak biasa makan 4sehat5sempurna, udah dibekelin ama maknya, e tau2 datang temannya 'jangan makan yang itu' , dijelek2in dah masakan maknya ama tuh teman g bener..... padahal pilihan yang lain punya temannya nasi basi, goreng tikus gosong, sama air got, yang jualan kebeneran lagi g ada, lah kan dia butuh makan pak, trus g usah makan gitu?

bluelotusfriend wrote:itu kalau makanan ... ini kan bukan makanan bro ??

sekarang darimana kamu bisa mengetahui kalau itu 4 sehat 5 sempurna dan seenaknya menghina lainnya sebagai nasi basi goreng itkus gosong dan air got ??

mari kita buka thread mengenai kehebatan 4 sehat 5 sempurnamu itu ... bagaimana ??

:lol:
sayang...ogut lagi make hp...kalau ngga sudah ogut copas tuh..ketidaksinkronan/ketidakkonsistenan..ootnya tulisan si isabelaku. :lol:
aneh tapi nyata...kok bisa yah?
rata2 muslim yg masuk dan beragumen di sini memiliki pola pikir yg tidak konsinten..oot..ngga nyambung dan itu tertuang dlm pola tulisan yg mirip/sama.
mungkin ada bro kafirun yg dapat memberikan penjelasan?
atau dibuat trit khusus ttg hal tsb barangkali
User avatar
gateway
 
Posts: 1031
Joined: Sun Aug 21, 2011 8:59 am

4sehat 5sempurna

Postby isaku » Sat Jun 30, 2012 3:44 am

wah.. jadi laper, pernah k bukittinggi g mas, makan nasi kapau mas, uenak tenan mas, bisa nambah berkali2, itu ada namanya pangek baluik.. ruar biaso mas.. mas tau g masakan paling enak di dunia ... ternyata rendang mas :yawinkle: hebat ya...
isaku
 
Posts: 183
Joined: Mon Jun 18, 2012 3:37 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby hobit » Sat Jun 30, 2012 6:37 am

isaku wrote:ada anak biasa makan 4sehat5sempurna,


islam = 4sehat 5 sempurna ???? [-X [-X

yang benar adalah islam = 4 SESAT 5 SEMPRULNA !!!! :lol:
hobit
 
Posts: 882
Joined: Fri Dec 23, 2011 8:39 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby isaku » Sat Jun 30, 2012 3:28 pm

melihat analogimu, kelihatannya km selalu beranggapan bahwa orang murtad dari islam itu karena dibujuk, dirayu, atau diajari oleh orang lain,
karena km juga bertanya aq diajari oleh siapa soal islam
Benar2 pikiran aneh

Tidak ada yang dibujuk / dirayu, semuanya melihat sejarah islam, membaca alquran, melihat tingkah pemeluknya, lantas berpikir sendiri, karena punya otak dan hati nurani, punyakah km ?

Kelihatannya km sendiri yang sering membujuk dan merayu non muslim agar masuk islam, dan km takut ada saingannya dari agama lain, sehingga km selalu beranggapan orang yang murtad itu karena bujuk rayu orang lain

berhentilah membuat kelucuan

G mas, saya tidak membuat lelucon, justru forum inilah lelucon..
Saya bingung mas ini setuju ffi apa g sih.. udah jelas ffi merayu2 muslim biar murtad, skarang bilang g merayu [-X
Sejauh yg saya dengar orang murtad karena bujukan harta, ada yg miskin sulit mencari makan bisa murtad gara2 sekardus indomi. Ada yg dirayu pacarnya, bagi yg muslimah ada yg digagahi dulu, hamil trus terpaksa murtad daripada pacarnya g mau ngawinin... ada juga yg dcuci otaknya tiap hari bahwa semua agama sama, pilihlah yg mudah dan menguntungkan.. macam2 deh mas...
Saya tdk pernah merayu nonmuslim mas, hanya karena mas salah memahami kitab saya, makanya mas sy suruh belajar, itupun bukan merayu mas, sy mendukung mas jgn putus asa mencari kebenaran.
Tentang takut saingan, g ada itu mas. setiap manusia d akhirat nanti mempertanggungjawabkan perbuatannya person by person, yg penting niat dan usaha.
isaku
 
Posts: 183
Joined: Mon Jun 18, 2012 3:37 pm

Re: Ali Sina: Tujuh Lembah dari Iman Menuju Pencerahan

Postby gateway » Sat Jun 30, 2012 5:58 pm

@ isaku
kalau mau yg lebih seru harusnya ente masuk ke sub humor...di sana lebih banyak leluconnya. :lol:
User avatar
gateway
 
Posts: 1031
Joined: Sun Aug 21, 2011 8:59 am

Next

Return to ONE STOP SHOP FFI



Who is online

Users browsing this forum: No registered users