.

A SINA: Percaya pada Tuhan, secara moral, diharuskan?

SAMBUTAN, PENJELASAN, artikel dan debat dari PENDIRI SITUS; ALI SINA. Artikel2 A Sina lainnya masih bisa ditemukan dalam Ruang REFERENSI sesuai dgn topiknya.

A SINA: Percaya pada Tuhan, secara moral, diharuskan?

Postby pod-rock » Mon Aug 10, 2009 11:26 am

Is Belief in God Morally Imperative?
oleh: Ali Sina
http://www.faithfreedom.org/2009/05/18/ ... mperative/


Email dari Khalid Zaheer ([email protected]) :

Kalau saya bilang bahwa percaya pada Tuhan lebih merupakan sebuah isu moral daripada isu intelektual, maksud saya sbb:

Manusia punya sifat moral inheren untuk selalu berterima kasih pada mereka yg memberi. Kita berterima kasih pada orang tua kita, guru, kerabat, teman dll atas apa yg telah mereka lakukan utk kita. Kecenderungan kita utk berterima kasih dan membalas pertolongan ini secara universal begitu kuat hingga kalau ada orang yg berkelakuan sebaliknya, maka ia akan dicap orang yang tak tahu diri, tidak bermoral. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa siapapun yang memberi kita berkah harus menjadi fokus rasa terima kasih kita yg terbaik.

Saya mengakui bahwa ada orang yg bertanya kenapa kita harus berterima kasih padaNya jika ada alasan kuat utk percaya bahwa DIA itu tidak ada. Pemikiran intelektual tentu saja akan menantang gerak hati moral dalam diri manusia, tapi secara moral kita akan lebih tergerak utk mencari jawaban yg BENAR dibandingkan secara intelektual.

Kesungguhan dalam pencarian Tuhan setidaknya harus sama besarnya dengan kesungguhan seorang anak mencari orang tuanya walau dia tidak yakin kedua orang tuanya itu masih hidup atau tidak.

Pertanyaan saya adalah: Apakah orang2 Agnostik dan Ateis telah cukup yakin bahwa sang pemberi berkah yang mereka nikmati setiap hari memang tidak eksis ?

Apakah mereka telah sungguh2 berdoa padaNya, bahkan tanpa secara formal percaya padaNya, seperti yg saya lakukan ? Jika mereka bilang mereka telah berdoa tapi tidak mendapat jawaban, saya sungguh2 bingung karena pengalaman yg saya dapatkan sangatlah berbeda. Ketika saya berdoa padaNya, bahkan ketika saya berpikiran bahwa saya tidak secara formal percaya padaNya, jawaban Dia sangat meluap-luap. Lalu kenapa mereka tidak mendapatkan pengalaman yg sama dengan saya ? Saya sungguh2 heran!

Faktor rasa takut cuma bisa menjadi titik awal utk percaya pada Tuhan. Ini cuma alasan yg dangkal utk percaya padaNya dlm jangka panjang. Malah, ini tidak bisa dijadikan alasan yg baik utk percaya padaNya. Saya sarankan lebih baik tidak percaya Tuhan daripada percaya padaNya karena takut. Saya tidak percaya bahwa Tuhan harus ditakuti seperti kita takut pada monster maut. Saya percaya pada Tuhan yg penuh cinta dan kasih sayang, yang lebih penting lagi, Tuhan yang menjawab doa2 saya. Dan saya sangat yakin bahwa Dia memang menjawabnya. Tapi saya tidak menuduh orang lain kurang berusaha atau tidak berdoa dengan tulus. Itu sebabnya kenapa saya bilang saya heran. Apa sih ruginya mereka yg tidak menemukan Tuhan utk tetap berdoa padaNya dengan penuh ketulusan?

Tapi, agar doa bisa membuat suatu hubungan dg Tuhan, harus ada satu syaratnya: Harus menundukkan diri dengan rendah dihadapanNya. Anda boleh bilang ini sebuah usulan yg lucu utk seseorang yang bahkan tidak percaya pada tuhan tapi harus merendah dihadapanNya. Saya jawab bahwa ketika kita merasa secara moral wajib berterima kasih pada sebuah sumber yang mengatur semua hal bagi kehidupan kita, ketika kita temukan alasan2 utk percaya bahwa Dia itu Ada (bahkan jika ada alasan lain yg berlawanan sekalipun), dan ketika kelemahan kita menyebabkan kita merasa takut akan keberadaan kita, adakah respon yg lebih baik dari diri kita selain dengan merendahkan diri kita dihadapanNya (atau kemungkinan keberadaanNya) dan lalu kita lihat apa yg akan terjadi?

Saya merasa bahwa semua argumen intelek dari para agnostik dan ateis mencerabut mereka dari segala hal penting akan perasaan merendah yang mengilhami seseorang utk mencari dg tulus keberadaan Tuhan. Tapi saya bisa saja salah.

Sering, saya perhatikan orang2 yg mengklaim tidak percaya Tuhan mencemooh agama, orang2 religius dan konsep mereka ttg Tuhan. Sering muncul penolakan sebuah konsep agama dengan cemoohan yg penuh hina. Ada semacam rasa lebih hebat (superioritas) secara intelektual yg jelas dari penjelasan2 akan penolakan tsb. Richard Dawkins membuat klaim yg keras dalam bukunya berdasarkan studi2 sains yg menunjukkan bahwa semakin pintar seseorang, semakin mungkin orang itu menjadi ateis. Maksud saya adalah bahwa apa yang mereka anggap sebagai kekuatan (intelektual) mereka, mungkin sebenarnya menjadi penyebab kegagalan mereka dg membuat mereka merasa hebat, superior dan dg demikian membuat mereka sombong hingga tidak mampu utk merendahkan diri.

Rasa berterima kasih dan rasa merendah diri keduanya adalah kebaikan yg diingin2kan orang. Rasa tidak berterima kasih dan keangkuhan adalah kecenderungan tidak bermoral. Pasangan rasa yg pertama adalah rasa yang membawa kita pada Tuhan. Pasangan rasa yg lain menjauhkan kita dari Tuhan. Itu sebabnya saya berpendapat bahwa percaya pada Tuhan utamanya berada pada domain moralitas; aspek intelektual dari itu kuranglah penting dibanding yg sering kita sadari.

Saya tidak bilang bahwa orang2 religius tidak bisa sombong atau angkuh. Banyak yg sangat angkuh. Tidak juga saya mengklaim bahwa semua ateis itu sombong. Banyak yang sangat merendah diri. Tapi kesombongan religius tidak punya tempat dalam pengampunan Tuhan, kerendahan diri ateistis akan, saya harap, memberi jalan pada kepercayaan akan Dia.

Khalid Zaheer

-------------------------------------------

Dear Khalid,

berikut: jawaban Ali Sina
User avatar
pod-rock
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Re: A SINA: Percaya pada Tuhan, secara moral, diharuskan?

Postby pod-rock » Tue Aug 11, 2009 11:22 am

Dear Khalid,

Jawaban dari: Ali Sina

Dear Dr. Zaheer,

Senang sekali mendengar kabar dari anda. Dengan mengirim artikel ini saya pikir anda mengharap balasan saya. Akan saya coba.

Argumen anda masuk akal, sampai orang mendapatkan bahwa argumen anda itu didasarkan pada serangkaian fallacy (buah pikiran yg keliru) logika. Dg kata lain, anda mendirikan bangunan yg cantik, tapi tanpa fondasi. Sekarang perhatikan, saya akan meniupnya hingga rubuh.

Pertama, anda membandingkan Tuhan dengan ortu kita dan bilang bahwa sebagai anak yg baik kita harus mencari ortu kita, meski jika kita tidak tahu apa mereka itu hidup atau mati, utk menunjukkan rasa terima kasih kita.

Ini PERBANDINGAN YG SALAH. Ortu kita nyata sementara Tuhan adalah khayalan dan berdasarkan iman belaka. Apakah ada bukti bahwa kita punya Pencipta yg berintelejensia selain dari hukum2 alam? Selama anda tidak/belum membuktikan itu, anda hanya melakukan argumen2 berfallacy “Begging the Question”.

“Begging the Question” adalah jenis fallacy dimana dasar2 pikirannya termasuk pernyataan bahwa kesimpulannya adalah benar atau (langsung maupun tidak langsung) mengasumsikan bahwa kesimpulannya itu benar. Jenis ‘akal-akalan’ seperti ini punya bentuk sbb:

1. Dasar pikiran yg mana ‘kebenaran’ dari kesimpulan diklaim atau kebenaran dari kesimpulannya hanya diasumsikan (baik langsung maupun tidak).
2. Klaim K (Kesimpulan) adalah benar.

Jenis ‘akal-akalan’ ini adalah fallacy karena mengasumsikan bahwa kesimpulannya benar (langsung atau tidak) padahal dalam dasar pikirannya tidak berisi bukti utk kesimpulan tsb. Jelasnya, hanya mengasumsikan sebuah klaim itu benar tidaklah berlaku sebagai bukti utk klaim itu sendiri. Ini khususnya jelas terlihat dalam kasus: “X itu benar. Bukti dari pernyataan ini adalah bahwa X itu benar.”

Beberapa kasus ‘Begging the Question” ada yg sangat2 jelas, sementar beberapa kasus lain sangat tersamarkan fallacynya:

Contoh fallacy Begging the Question

Bill: “Tuhan mestilah ada.”
Jill: “Darimana kau tahu.”
Bill: “Karena Alkitab bilang begitu.”
Jill: “Kenapa aku harus percaya Alkitab?”
Bill: “Karena Alkitab ditulis oleh Tuhan.”

“Jika tindakan demikian dibolehkan, maka mereka tidak akan dilarang oleh hukum.”

“Percaya pada Tuhan itu universal. Buktinya, setiap orang percaya pada Tuhan.”

Pewawancara: “Resume anda terlihat menakjubkan tapi saya perlu referensi dari orang lain.”
Bill: “Jill bisa memberiku referensi yg bagus.”
Pewawancara: “Bagus. Tapi darimana saya tahu bahwa Jill itu bisa dipercaya?”
Bill: “Tentu saja. Saya bisa menjamin dia”

Anda perhatikan, dasar pemikiran anda itu salah. Dg demikian, kesimpulan anda juga salah. Anda enak saja bilang bahwa Tuhan itu sang Pencipta dan Penyedia segalanya, dan dg demikian anda menyimpulkan bahwa kita harus berterima kasih padaNya. Tapi, anda gagal memberi bukti yg mendukung dasar pikiran anda.

Kesalahan lain dari perbandingan ini adalah bahwa ortu kita itu manusia. Mereka berkorban dan memberi segalanya sementara mereka mendapatkan yg diberikan pada kita itu tidaklah dengan mudah. Sampai kita tumbuh besar dan kuat. Dan ketika itu mereka sudah berusia tua dan lemah. Jadi secara moral kita diharuskan membalas jasa mereka dengan mengurus mereka selama mereka hidup.

Misal ada Tuhan yg menciptakan kita, dia katanya Maha Kuasa. Kenapa dia perlu pertolongan kita atau bahkan rasa terimakasih kita? Jika dia Tuhan, tidak ada pengaruhnya bagi dia kita menyembah dia atau tidak. Jadi kenapa dia menghukum mereka yg tidak berterimakasih padaNya?

Misal, ada orang yg sangat kaya yg berniat utk dermawan. Dia kejalan2 dan membagikan uang pada setiap orang yg dia temui. Orang2 ambil uang itu dan berterimakasih padanya, tapi ada juga orang yg tidak berterimakasih padanya meski mengambil uangnya. Apa yg akan anda pikirkan atau katakan pada sang dermawan ini jika dia mengejar orang yg tidak berterimakasih itu, memukuli mereka dan menyiksa mereka? Pantaskah orang demikian dipuja-puji?

Kita manusia diajarkan bahwa kedermawanan yg paling baik dilakukan tanpa diketahui orang lain, tanpa mengharapkan balas jasa dan jadi terkenal. Apa anda mau bilang Tuhan anda ini bahkan menurut standar manusia sekalipun tidak bisa lulus? Bahwa begitu ngototnya dia ingin diberi rasa terima kasih hingga dia mau menyiksa orang dg cara mengerikan (selama-lamanya) jika mereka tidak berterima kasih? Jika kepingin pahala, kedermawanan anda percuma saja. Quran penuh dengan peringatan bagi mereka yg tidak berterima kasih pada Allah dan utusanNya. Anda yakin Muhammad tidak mengarang-ngarang saja agar dia bisa dipuja sebagai ganti dari Tuhan Khayalannya? Allah adalah makhluk narsis karena dia adalah hasil mimpi basahnya Muhammad. Menjadi Allah adalah apa yang diinginkan Muhammad sang Narsis. Allah adalah isapan jempol dari benak sakit si Arab gila ini.

Kenyataannya adalah, tidak ada rejeki jatuh dari langit. Kita harus bekerja keras utk mencari nafkah. Jika tidak, Tuhan tidak akan memberikannya bagi kita. Banyak orang yg sungguh2 mati kelaparan dan tidak ada tuh Tuhan datang menolong mereka. Kita manusia menjaga binatang peliharaan kita jauh lebih baik daripada Tuhan menjaga kita dan malahan kita tidak minta peliharaan kita itu agar berterima kasih pd kita tidak juga kita menyiksa mereka jika mereka tidak menggoyang2kan ekornya setelah diberi makan.

Sementara, tuhannya Muhammad akan membakar orang kafir dan kemudian ditumbuhkannya kulit baru utk kemudian dibakar lagi, begitu terus utk selama-lamanya. Apakah tuhan sadis demikian pantas utk disembah? Misal tuhan itu ada, tidakkah Muhammad bisa dianggap menghina tuhan? Jika Tuhan itu ada dan jika dia punya neraka, saya yakinkan anda bahwa Muhammadlah yg akan dibakar dineraka terdalam karena membuat Allah terdengar seperti makhluk gila.

Fallacy lain dalam argumen anda adalah ketika anda mengungkapkan kekaguman anda mengenai kenapa Tuhan menjawab doa anda secara meluap-luap, sementara orang2 lain (kami) mengklaim tidak mendengar jawaban apapun dalam doa2 kami.

Ini ‘subjective reasoning’. Misal anda menyaksikan sebuah mukjijat, kenapa kami musti percaya? Kenapa kami harus percaya anda? Mungkin saja anda berhalusinasi? Kenapa tuhan tidak menunjukkan mukjijatnya pada saya? Haruskan saya bersandar pada intelejensia saya sendiri atau bersandar pada pengakuan si anu, si anu dan si anu? Dan kenapa Tuhan menghukum saya karena tidak percaya akan mukjijat yg tidak pernah saya alami/saksikan?

Misal anda sangat butuh uang dan anda beli lotere, berdoa pada Tuhan, lalu menang. Anda lalu menyimpulkan Tuhan telah menjawab doa anda. Apakah ini kesimpulan yg logis? Yg anda lupakan adalah bahwa jutaan orang lain juga membeli lotere yg sama, kebanyakan dari mereka juga sangat butuh uang dan berdoa agar menang, tapi mereka kalah. Malah beberapa tahun lalu di Kanada, sepasang pengedar narkoba yg pernah melakukan banyak sekali kejahatan memenangkan hadiah lotere yg besar sekali. Apa Tuhan ikut campur dalam pemenangan itu? Sementara jutaan anak2 tidak mendapat makanan.

Berapa sering kita dengar orang selamat dari bencana, dimana ribuan orang lainnya mati dalam bencana yg sama, berkata, “Ini mukjijat dari Tuhan karena saya selamat.” Kenapa tuhan tidak melakukan mukjijat pada ribuan orang lainnya yg mati juga?

Anda bilang anda tidak percaya pada Tuhan yg ditakuti, tapi pada Tuhan yg menjawab doa anda. Tidak ada bukti bahwa Tuhan menjawab anda. Orang2 religius bilang Tuhan hanya menjawab doa yang ingin Dia jawab. Kalu gitu utk apa cape2 berdoa? Tuhan akan melakukan apa yg dia pikir benar, apapun yg kita lakukan. Kenapa meminta Tuhan sesuatu hal yang mungkin tidak baik bagi kita? Dan kenapa meminta hal2 yg pada akhirnya akan diberikan pada kita pula?

Orang2 religius bilang kadang jawaban Tuhan utk doa kita adalah ‘ya’, tapi kadang juga ‘tidak’, dan kadang ‘tunggu!’. Tapi jika anda berdoa pada kursi, hasilnya juga tidak akan jauh berbeda. Doa2 anda kemungkinan dijawab, tidak dijawab atau mungkin nanti dijawab. Argumen bahwa Tuhan menjawab doa bukan lain hanyalah sebuah fallacy. Kursi juga bisa berfungsi demikian.

Terlebih lagi, jika anda tidak percaya pada Tuhan yg didasarkan pada rasa takut, maka anda harus pindah agama anda, karena islam seluruhnya didasarkan pada RASA TAKUT AKAN TUHAN. Mungkin anda akan temukan Hindu atau kristen lebih cocok bagi anda. Dalam Quran, Muhammad bicara melulu tentang rasa takut, hukuman, siksaan alam kubur, neraka, hari kiamat. Bagaimana anda bisa menggambarkan pandangan idealistik anda tentang Allah dengan gambaran yg diungkapkan Muhammad ini? Tuhan anda jauh lebih baik dari tuhannya Muhammad karena anda orang yg jauh lebih baik dari Muhammad. Tuhan kita adalah hasil khayal pikiran kita sendiri. Masalahnya adalah bahwa ketika orang baik mulai percaya pada Allah khayalan yg sadis seperti punya Muhammad, maka orang2 baik itu akan berubah pula jadi sadis.

Fallacy lain dalam argumen anda. Anda bilang bahwa utk percaya pada Tuhan, satu syarat harus dipenuhi, yaitu, “Harus tunduk merendah dihadapanNya.”

Ini trik psikologis yang dimainkan para ulama2. Ini fallacy yg sama, yaitu ‘Begging the Question’. Anda meminta kita utk percaya sebelum bukti itu disodorkan. Tapi setelah sekali saja kita percaya, bukti2 itu akan banyak melimpah. Jadi anda bisa rapuh utk percaya pada kebohongan apapun. Ada banyak agama palsu dan para pengikut agama2 tsb memakai metodologi yg sama ketika mereka jadi percaya. Mereka melakukan ‘loncatan kepercayaan’ dan berhenti bertanya-tanya. Dan yakinlah, agama2 tsb kebanyakan bukanlah agama yg baik. Beberapa diantaranya malah berbahaya dan jahat. Jadi sangatlah tidak bijaksana utk percaya sampai semua bukti diberikan terlebih dahulu.

Dalam buku saya, Mengenal Muhammad. Saya memberikan beberapa contoh kultus agama yang membawa maut bagi pengikutnya. Para korban kultus itu mengikuti ‘resep percaya’ yg anda sarankan. Pada satu titik mereka berhenti bertanya dan memutuskan utk melakukan ‘loncatan kepercayaan’. Hasilnya adalah bencana. Saran saya adalah agama apapun yang meminta anda utk percaya sebelum memberi bukti2 haruslah dihindari. Jika sebuah kepercayaan tidak memberi cukup bukti, maka kepercayaan itu palsu.

Apa hasilnya percaya agama islam? Jutaan orang dibantai dan terus terjadi pembantaian, pemboman karena para muslim melakukan ‘loncatan kepercayaan’ dan menerima islam tanpa banyak tanya. Semua bukti yg mereka sodorkan adalah subjektif. Tidak ada bukti yg objektif. Hadiah US$50.000 buat Tantangan Saya tetap tidak ada yg memenangkannya selama tujuh tahun. Yg saya minta Cuma satu bukti objektif, tak tersanggah dan solid yg mendukung klaim Muhammad. Tak ada satu makhlukpun yg bisa memberikan itu. Para muslim percaya begitu saja tanpa bukti.

Kepercayaan mereka tidak akan berpengaruh banyak jika mereka tidak mengganggu kita. Mereka boleh menyembah batu bata selama batu bata itu tidak dilemparkan pada kita. Hampir semua pengikut agama tidak bisa memberi bukti objektif yg mendukung kepercayaan mereka. Tapi, muslim lebih gawat lagi, mereka diharuskan berperang dan menyebarkan islam dengan paksa. Itu sebabnya kenapa agama ini berbahaya. Banyak agama secara logika adalah salah, tapi tidak berbahaya. Islam bukan saja salah tapi juga berbahaya, jahat. Ini yg membedakan islam dari agama2 lainnya.

Karena saya tidak percaya pada Tuhan, saya tidak percaya kekristenan, tapi ketika saya melihat perbuatan dan perkataan Yesus, saya tidak bisa tidak harus memberi hormat. Pandangan pribadi saya adalah bahwa Yesus 90% mitos dan 10% sejarah. Tapi, misal Yesus ini pernah ada dan segala sesuatu yg dikatakan tentangnya dalam Alkitab adalah benar, dia sungguh2 manusia suci yg istimewa. Yesus, seperti dijelaskan dalam Perjanjian Baru, berada diatas standar manusia umumnya. Kebaikan dia, kebijakan dia, padahal masih muda, pandangan2 dia, semuanya super human. Ajaran2 dia semuanya etis dan baik. Jadi bagaimana kalau dia itu benar2 Cuma mitos? Well, itu mitos yg baik.

Dilain pihak, Muhammad itu jahat dalam segalanya. Orang ini adalah perwujudan dari segala sesuatu yg jahat. Semua yang jahat pada diri manusia berwujud pada diri Muhammad. Pedofil, teroris, pemerkosa, pencuri, perampok, pembantai, penipu. Pendeknya super kriminal. Muslim membenarkan semua kejahatannya karena mereka mengasumsikan dia itu nabi Tuhan. Sekarang misalkan sebentar saja bahwa dia itu bukan nabi. Tidakkah perbuatan2nya membuat dia menjadi makhluk yg terburuk? Mari kita misalkan Yesus itu juga bukan Tuhan atau nabi. Apakah dia berhenti menjadi orang terbaik yg pernah hidup didunia?

Saya tidak punya masalah akan kepercayaan orang pada Tuhan. Saya juga tidak percaya bahwa ateisme lebih baik daripada teisme. Malah orang2 percaya terbukti hidup lebih lama dan lebih bahagia. Juga ateis bisa menjadi fanatik dan tertutup pemikirannya sama seperti orang2 fanatik agama. Tahukah anda bahwa moderator forumnya Richard Dawkin memblokir saya dg alasan saya tidak menolak semua agama dan membela kebebasan beragama? Ya, itu sungguh terjadi. Orang2 ini menolak saya, meski saya ateis juga, karena saya tidak segarang mereka dalam menyerang semua agama. Fanatisme adalah sikatp. Anda bisa saja jadi ateis sekaligus fanatik. Kebanyakan kejahatan yg terjadi diabad terakhir justru dilakukan oleh ateis. Jadi ateisme tidak membuat anda jadi orang yg lebih baik.

Tuhan tidak masuk akal. Tapi oke2 saja utk percaya pada Tuhan. Oke juga utk percaya pada apapun yg anda mau. Tapi, jgn mencoba memaksakan kepercayaan anda pada saya. Inilah masalahnya dengan islam. Islam adalah satu2nya kepercayaan dimana nabinya memerintahkan para pengikut utk memerangi kaum kafir dan memaksa mereka utk tunduk. Itu sebabnya islam satu2nya agama jahat. Anda tidak bisa lepas dari kenyataan. Ini ada banyak disebutkan di Quran. Muslim menjadi Teroris karena mengikuti ajaran2 Muhammad.

Dalam tulisan anda diatas, ada banyak fallacy logika. Tapi yg paling penting adalah fallacy ‘Questionable Cause’. Muslim berpikir bahwa sekali mereka membuktikan keberadaan Tuhan, kebenaran Islam secara otomatis terbukti. Ini pemikiran yg salah. Misal tuhan itu ada dan dialah yg mencipta dunia, mengirim semua nabi termasuk Musa dan Yesus, mana bukti bahwa Muhammad juga nabiNya? Tidak ada setitikpun bukti bahwa islam adalah Agama Tuhan. Malah ada banyak bukti bahwa penulis Alkitab dan penulis Quran tidaklah mungkin sama. Ajaran2 dari dua buku ini sama sekali berlawanan. Utk percaya bahwa Alkitab dan Al Quran adalah perkataan Tuhan yg sama, maka yg bilang begitu harus juga menambahkan sifat Schizophrenia pada si Tuhan itu.

Lalu anda menuduh agnostik dan ateis itu sombong dan kurang merendah. Ini ad hominem. Saya percaya kebalikannya. Kita diberi otak utk dipakai. Kerendahan diri adalah bisa menerima fakta. Kesombongan diri adalah menyangkal fakta. Orang2 religiuslah yang menolak fakta dan percaya tanpa bukti. 2+2 = 4. Ini adalah fakta matematik. Jika anda menerima hasil lain selain fakta itu, anda bersandar pada iman, andalah yg sombong.

Saya ingin para pembaca memperhatikan bagaimana orang percaya memelintir segalanya dan bersandar pada segala macam fallacy logika demi membela kepercayaan palsu mereka. Tidaklah sombong jika kita meminta bukti. Sombong itu jika percaya kemustahilan tanpa meminta bukti2nya.

Sekarang siapa yang lebih sombong? Teroris Taliban dan Al Qaeda yg tanpa kritik menerima omong kosong karena katanya ada dalam buku Allah yg mereka percaya tanpa bukti, atau Richard Dawkins, Stephen Hawking dan Carl Sagan yang menolak percaya omong kosong tanpa bukti? Yang mana, Para teroris yg secara merendah menerima kebohongan atau para ilmuwan yg secara merendah menerima fakta? Mana yg lebih etis dan bermoral?

Percaya pada sesuatu yg palsu bukanlah isu moral. Itu **** dan **** bukanlah isu moral.
User avatar
pod-rock
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm


Return to ONE STOP SHOP FFI



Who is online

Users browsing this forum: No registered users