.

Rekam Jejak Penghinaan Islam oleh Kaum Theosofie

Khusus ttg sepak terjang/sejarah jihad dan penerapan Syariah di INDONESIA & negara jiran (MALAYSIA)

Rekam Jejak Penghinaan Islam oleh Kaum Theosofie

Postby Maher-Shalal » Wed Mar 21, 2012 4:07 pm

Sorry kalo repost. Saya dapat artikel ini dari sini (klik).

Rekam Jejak Penghinaan Islam oleh Kaum Theosofie di Indonesia

Image

Selain ajaran Theosofi yang merusak akidah Islam, para aktivis Theosofi di Indonesia pada masa lalu banyak terlibat dalam berbagai aksi pelecehan terhadap ajaran Islam. Ironisnya, mereka adalah orang-orang yang disebut dalam buku-buku sejarah sebagai tokoh-tokoh nasional.

Dalam buku “Sejarah Indonesia Modern”, sejarawan MC Ricklef menyatakan, Theosofi di Indonesia pada masa lalu banyak terlibat dalam berbagai aksi pelecehan terhadap Islam. Bukan hanya ajarannya yang banyak berseberangan dengan akidah Islam sebagaimana banyak dipaparkan oleh penulis pada tulisan beberapa edisi lalu, namun juga para aktivis Theosofi yang merupakan elit-elit nasional pada masa lalu, juga banyak melakukan pelecehan terhadap Islam. Para aktivis Theosofi yang umumnya elit Jawa penganut kebatinan, menganggap Islam sebagai agama impor yang tidak sesuai dengan kebudayaan dan jati diri bangsa Jawa.

A.D El Marzededeq, peneliti jaringan Freemason di Indonesia dan penulis buku “Freemasonry Yahudi Melanda Dunia Islam” menyatakan tentang gambaran elit Jawa dalam kelompok Theosofi dan Freemasonry pada masa lalu. Marzededeq menulis, “Perkumpulan kebatinan di Jawa yang berpangkal dari paham Syekh Siti Jenar makin mendukung keberadaan Vrijmetselarij (Freemason). Para elit Jawa yang menganut paham wihdatul wujud (menyatunya manusia dengan Tuhan, red) yang dibawa oleh Syekh Siti Jenar, kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi-Freemasonry, baik secara murni ataupun mencampuradukkannya dengan kebatinan Jawa…” (hal.8)

Para elit Jawa dan tokoh-tokoh kebangsaan yang tergabung sebagai anggota Theosofi-Freemason di Indonesia pada masa lalu kerap kali berada di balik berbagai pelecehan terhadap Islam. Misalnya, mereka menyebut ke Boven Digul lebih baik daripada ke Makkah, mencela syariat poligami, dan menyebut agama Jawa (Gomojowo) atau Kejawen lebih baik daripada Islam. Penghinaan-penghinaan tersebut dilakukan secara sadar melalui tulisan-tulisan di media massa dan ceramah-ceramah di perkumpulan mereka. Penghinaan-penghinaan itu makin meruncing, ketika para anggota Theosofi-Freemason yang aktif dalam organisasi Boedi Oetomo, berseteru dengan aktivis Sarekat Islam.

Pada sebuah rapat Gubernemen Boemipoetra tahun 1913, Radjiman Wediodiningrat, anggota Theosofi-Freemason, menyampaikan pidato berjudul “Een Studie Omtrent de S.I (Sebuah Studi tentang Sarekat Islam)” yang menghina anggota SI sebagai orang rendahan, kurang berpendidikan, dan mengedepankan emosional dengan bergabung dalam organisasi Sarekat Islam. Radjiman dengan bangga mengatakan, bakat dan kemampuan orang Jawa yang ada pada para aktivis Boedi Oetomo lebih unggul ketimbang ajaran Islam yang dianut oleh para aktivis Sarekat Islam. Pada kongres Boedi Oetomo tahun 1917, ketika umat Islam yang aktif di Boedi Oetomo meminta agar organisasi ini memperhatikan aspirasi umat Islam, Radjiman dengan tegas menolaknya. Radjiman mengatakan, “Sama sekali tidak bisa dipastikan bahwa orang Jawa di Jawa Tengah sungguh-sungguh dan sepenuhnya menganut agama Islam.”

Anggota Theosofi lainnya yang juga aktivis Boedi Oetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, juga melontarkan pernyataan yang melecehkan Islam. Adik dari dr. Tjipto Mangoekoesomo ini mengatakan, “Dalam banyak hal, igama Islam bahkan kurang akrab dan kurang ramah hingga sering nampak bermusuhan dengan tabiat kebiasaan kita. Pertama-tama ini terbukti dari larangan untuk menyalin Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Rakyat Jawa biasa sekali mungkin memandang itu biasa. Tetapi seorang nasionalis yang berpikir, merasakan hal itu sebagai hinaan yang sangat rendah. Apakah bahasa kita yang indah itu kurang patut, terlalu profan untuk menyampaikan pesan Nabi?”

Goenawan Mangoenkoesomo adalah diantara tokoh nasional yang hadir dalam pertemuan di Loji Theosofi Belanda pada 1918, selain Ki Hadjar Dewantara, dalam rangka memperingati 10 tahun berdirinya Boedi Oetomo. Apa yang ditulis Goenawan di atas dikutip dari buku Soembangsih Gedenkboek Boedi Oetomo 1908-Mei 1918 yang diterbitkan di Amsterdam, Belanda. Dalam buku yang sama, masih dengan nada melecehkan, Goenawan menulis, “Jika kita berlutut dan bersembahyang, maka bahasa yang boleh dipakai adalah bahasanya bangsa Arab…”

Terkait dengan ajaran Islam dan kebudayaan Islam, Goenawan secara sinis mengatakan,”Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata kebudayaan itu tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat: “Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak.”

Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat. Artikel ini kemudian memicu kemarahan besar aktivis Sarekat Islam dengan menggelar rapat akbar di Surabaya pada 6 Februari 1918. Dalam rapat akbar tersebut kemudian terbentuklah sebuah satuan khusus yang bertugas untuk melawan segala bentuk penghinaan terhadap Rasulullah. Satuan khusus itu bernama “Tentara Kandjeng Nabi Moehammad atau Tentara Kandjeng Rosoel”

Tentara Kandjeng Nabi Moehammad diketuai oleh HOS Tjokroaminoto dan diantara anggotanya adalah KH Achmad Dahlan. Dalam dokumen resminya, satuan khusus atau laskar pembela Islam ini menyatakan tujuan berdirinya adalah, “Mencari persatuan lahir batin antara segenap kaum moeslimin, terutama sekali yang tinggal di Hindia Belanda, dan untuk menjaga dan melindungi kehormatan igama Islam, kehormatan Nabi Moehammad saw, dan kehormatan kaum moeslimin.” Satuan khusus ini, pada saat ini adalah semisal dengan Laskar Pembela Islam, laskar yang berada di bawah organisasi Front Pembela Islam (FPI).

Terbentuknya Tentara Kandjeng Nabi Moehammad juga mendapat respon positif dari umat Islam di berbagai daerah. Berbagai aksi digelar untuk menggalang dukungan dan dana. Pada 24 Februari 1918, satuan khusus ini menggelar pertemuan di beberapa tempat di Jawa dan sebagian Sumatera. Tujuannya adalah agar umat paham akan keberadaan satuan khusus ini, yang memang mempunyai tujuan menghalau segala bentuk penghinaan terhadap Islam. Pembentukan satuan khusus ini kemudian mendapat reaksi keras dari kelompok kebatinan dan kejawen, baik yang tergabung dalam Theosofi-Freemason, maupun dari Boedi Oetomo. Mereka yang antipati terhadap laskar Islam ini kemudian mendirikan “Komite Nasionalisme Jawa” (Comittee voor het Javaasche Nationalisme).

Komite ini menuduh terbentuknya Tentara Kandjeng Nabi Moehammad yang dibentuk oleh Sarekat Islam adalah upaya untuk menghalang-halangi bangsa Jawa dalam mengamalkan kepercayaan Jawa, dan menghalang-halangi kepercayaan agama lain di luar Islam. Komite ini juga menuduh Tentara Kandjeng Nabi Moehammad dibentuk oleh bangsa asing, yakni bangsa Arab. Komite Nasionalisme Jawa dengan tegas menyatakan, “Politik dan agama harus dipisahkan.”

Tudingan ini kemudian dijawab oleh aktivis SI, Abdoel Moeis, dengan menyatakan bahwa terbentuknya Tentara Kandjeng Nabi Moehammad adalah isyarat agar pihak-pihak di luar Islam tidak lagi semena-mena dalam melakukan pelecehan terhadap Islam. Abdoel Moeis juga mengingatkan para penganut kebatinan dan kejawen, bahwa umat Islam tidak rela jika junjungannya yang mulia dihina. Abdoel Moeis menegaskan, SI berkeyakinan bahwa politik dan agama itu serangkai, tidak bisa dipisahkan. SI juga berdiri sebagai perlawanan terhadap Kerstening Politiek (Politik Kristenisasi) yang dilancarkan oleh kolonial Belanda.

Dengan sangat melecehkan dan mencampuradukkan antara simbol Islam dengan simbol kemusyrikan, Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya, karena sama-sama Baitullah, sama-sama rumah Allah. Penyebutan ini tentu melecehkan, karena bagi umat Islam, bangunan yang dipercaya sebagai Baitullah adalah Ka’bah yang berada di Makkah Al-Mukarramah, tempat umat Islam seluruh dunia berthawaf mengelilinginya dalam ibadah haji. Pelecehan oleh aktivis Theosofi dan Boedi Oetomo juga dilakukan dengan mengatakan bahwa orang yang pergi ke Makkah adalah menimbun modal untuk kepentingan bangsa asing. Dalam sebuah artikel yang ditengarai ditulis oleh penganut Theosofi, dengan nama Homo Sum, disebutkan,”Uang yang digunakan untuk naik haji ke Mekah sebenarnya lebih baik digunakan untuk usaha-usaha di bidang ekonomi dan kepentingan nasional.”

Image

Organisasi kepemudaan yang bercorak kebatinan Jawa pada masa lalu juga tak lepas dari pengaruh Theosofi-Freemason. Sejarah mencatat, organisasi kepemudaan ini disusupi kepentingan yang berusaha menyingkirkan Islam.

Dalam catatan sejarah, keluarnya Syamsuridjal dari keanggotaan Jong Java (Perkumpulan Pemuda Jawa) dan kemudian mendirikan Jong Islamietend Bond (JIB/ Perhimpunan Pemuda Islam) adalah karena organisasi Jong Java menolak untuk mengadakan kuliah atau pengajaran keislaman bagi anggotanya yang beragama Islam dalam organisasi ini. Sementara, agama Katolik dan Theosofi justru mendapat tempat untuk diajarkan dalam pertemuan-pertemuan Jong Java. Pada masa lalu, Jong Java adalah organisasi yang berada dalam pengaruh kebatinan Theosofi.

Sosok yang dianggap berpengaruh dalam menyingkirkan Islam dari organisasi Jong Java adalah Hendrik Kraemer, utusan Perkumpulan Bibel Belanda yang diangkat menjadi penasihat Jong Java. Sejarawan Karel Steenbrink dalam "Kawan dalam Pertikaian:Kaum Kolonial Belanda Islam di Indonesia 1596-1942" menulis bahwa Kraemer adalah misionaris Ordo Jesuit yang aktif memberikan kuliah Theosofi dan ajaran Katolik kepada anggota Jong Java. Di organisasi pemuda inilah, Kraemer masuk untuk menihilkan ajaran-ajaran Islam. (Lihat, Karel Steenbrink, hal.162-163)

Selain Syamsuridjal, permintaan agar Islam diajarkan dalam pengajaran di Jong Java juga disuarakan Kasman Singodimedjo. Kasman bahkan mengusulkan agar Jong Java menggunakan asas Islam dalam pergerakan dan menjadi pionir bagi organisasi-organisasi pemuda lain, seperti Jong Sumatrenan, Jong Celebes, dan Pemuda Kaum Betawi. Kasman beralasan, Islam adalah agama mayoritas di Nusantara, dan mampu menyelesaikan segala sengketa dalam organisasi-organisasi yang saat itu banyak terpecah belah. Karena tak disetujui, maka pada 1 Januari 1925, para pemuda Islam mendirikan Jong Islamietend Bond (JIB/Perkumpulan Pemuda Islam) di Jakarta. Dengan menggunakan kata "Islam", JIB jelas ingin menghapus sekat-sekat kedaerahan dan kesukuan, dan mengikat dalam tali Islam.

Dalam statuten JIB dijelaskan tentang asas dan tujuan perkumpulan ini: Pertama, mempelajari agama Islam dan menganjurkan agar ajaran-ajarannya diamalkan. Kedua, menumbuhkan simpati terhadap Islam dan pengikutnya, disamping toleransi yang positif terhadap orang-orang yang berlainan agama. Dalam kongres pertama JIB, Syamsuridjal dengan tegas menyatakan, "Berjuang untuk Islam, itulah jiwa organisasi kita."

Untuk mengkonter pelecehan-pelecehan terhadap Islam, para pemuda Islam yang tergabung dalam JIB kemudian mendirikan Majalah Het Licht yang berarti cahaya (An-Nur). Majalah ini dengan tegas memposisikan dirinya sebagai media yang berusaha menangkal upaya dari kelompok di luar Islam yang ingin memadamkan cahaya Allah, sebagaimana yang pernah mereka rasakan saat masih berada di Jong Java. Motto Majalah Het Licht yang tercantum dalam sampul depan majalah ini dengan tegas merujuk pada Surah At-Taubah ayat 32: "Mereka berusaha memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai."
JIB dengan tegas juga mengkonter pelecehan terhadap Islam, sebagaimana dilakukan oleh Majalah Bangoen, majalah yang dipimpin oleh aktifis Theosofi, Siti Soemandari. Majalah Bangoen yang dibiayai oleh organisasi Freemason pada edisi 9-10 tahun 1937 memuat artikel-artikel yang menghina istri-istri Rasulullah. Penghinaan itu kemudian disambut oleh para aktivis JIB dan umat Islam lainnya dengan menggelar rapat akbar di Batavia.

Sebelumnya, pada 1926, dua tahun sebelum peristiwa Sumpah Pemuda, para aktivis muda yang berasal dari Jong Theosofen (Pemuda Theosofi) dan Jong Vrijmetselaarij (Pemuda Freemason) sibuk mengadakan pertemuan-pertemuan kepemudaan. Pada tahun yang sama, mereka berusaha mengadakan kongres pemuda di Batavia yang ditolak oleh JIB, karena kongres ini didanai oleh organisasi Freemason dan diadakan di Loge Broderketen, Batavia. Alasan penolakan JIB, dikhawatirkan kongres ini disusupi oleh kepentingan-kepentingan yang berusaha menyingkirkan Islam. Apalagi, Tabrani, penggagas kongres ini adalah anggota Freemason dan pernah mendapat beasiswa dari Dienaren van Indie (Abdi Hindia), sebuah lembaga beasiswa yang dikelola aktivis Theosofi-Freemason.

Pada tahun 1922, sebagaimana ditulis oleh A.D El Marzededeq dalam "Jaringan Gelap Freemasonry: Sejarah dan Perkembangannya Hingga ke Indonesia" disebutkan bahwa di Loge Broderketen, Batavia, juga pernah terjadi aksi pelecehan terhadap Islam oleh salah seorang aktivis Freemason yang memberikan pidato pada saat itu dengan mengatakan, "Islam menurut mereka itu merupakan paduan kultur Arab, Yudaisme, dan Kristen. Indonesia mempunyai kultur sendiri, dan kultur Arab tidak lebih tinggi dari Indonesia. Mana mereka mempunyai Borobudur dan Mendut? Lebih baik mengkaji dan memperdalam budi pekerti daripada mengkaji agama impor. Kembangkan nasionalisme dalam semua bidang."

Sebagaimana Boedi Oetomo, organisasi Jong Java juga sarat kepentingan untuk menyingkirkan ajaran Islam, yang dianggap sebagai ancaman bagi kebatinan-Jawa.Sebelum bernama Jong Java, organisasi ini bernama Tri Koro Dharmo yang berdiri pada 7 Maret 1915. Tri Koro Dharmo berarti tiga tugas mulia, yang diperinci sebagai berikut: Meningkat ilmu pengetahuan, memelihara kesatuan Jawa Raya, dan menanamkan rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri. Perubahan nama menjadi Jong Java terjadi dalam kongres pertama Tri Koro Dharmo di Solo pada 1918. Motto Jong Java adalah: Sakti, Boedi, Bhakti. Hendrik Kraemer, Barend Schuurman, dan Dirk van Hinloopen Labberton, adalah orang-orang yang sangat berpengaruh bagi anggota Jong Java.

Pada masa lalu, berdiri organisasi underbouw Theosofi, yaitu Jong Theosofen (Pemuda Theosofi). Sebagaimana Jong Java, Jong Theosofen juga berperan aktif dalam kongres-kongres pemuda, termasuk dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Tujuan dari berdirinya Jong Theosofen adalah; Pertama, memperkenalkan Theosofi kepada kaum muda. Kedua, membantu dan memperkuat perhimpunan Theosofi. Ketiga, memajukan persaudaraan baik nasional maupun internasional. Syarat utama menjadi anggota Jong Theosofen adalah setuju dengan nilai-nilai yang diajarkan Theosofi, terutama tentang persaudaraan universal tanpa memandang agama, ras, bangsa, dan golongan. Syarat utama ini tergolong halus, karena ujung dari upaya menghapus sekat-sekat agama adalah netral dari setiap agama, yang bermuara pada keyakinan tentang pluralisme agama.

Untuk merekrut kaum muda, Theosofi juga mendirikan majalah khusus anak muda, yaitu Majalah Lotus (terbit di Bandung 1939) dan Majalah Dyana (terbit di Semarang 1954). Sampul depan Majalah Dyanai dengan jelas tertera kalimat dari tujuan majalah ini didirikan:"Mengemukakan Peladjaran, Ilmu Pengetahuan tentang: Ke-TUHANAN, Ke-BATINAN, AGAMA, Setjara Bebas dan Umum."

Image

Para aktivis nasionalis sekular, terutama mereka yang aktif dalam organisasi Theosofi dan Freemason berusaha menjauhkan peran agama, khususnya Islam, dalam sistem pemerintahan. Negara tak perlu diatur oleh agama, cukup dengan nalar dan moral manusia.

Paham kebangsaan yang diusung oleh kelompok nasionalis sekular pada masa lalu di negeri ini adalah ideologi "keramat" yang netral agama (laa diniyah) dan kerap dibentur-benturkan dengan Islam. Kelompok nasionalis sekular, sebagaimana tercermin dalam pemikiran Soekarno dan para aktivis kebangsaan lainnya yang ada dalam organisasi seperti Boedi Oetomo, adalah mereka yang menolak agama turut campur dalam sistem pemeritahan. Mereka berusaha menjauhkan peran agama, khususnya Islam, dalam sistem berbangsa dan bernegara. Mereka menjadikan Turki sekular di bawah pimpinan Mustafa Kemal At-Taturk sebagai kiblat dalam mengelola pemerintahan.

Kiblat kelompok kebangsaan kepada Turki Sekular tercermin jelas dalam pernyataan tokoh Boedi Oetomo, dr Soetomo yang mengatakan, "Perkembangan yang terjadi di Turki adalah petunjuk jelas, bahwa cita-cita "Pan-Islamisme" telah digantikan oleh nasionalisme." Dengan rasa bangga, saat berpidato dalam Kongres Partai Indonesia Raya (Parindra) pada 1937, Soetomo mengatakan,"Kita harus mengambil contoh dari bangsa-bangsa Jahudi, jang menghidupkan kembali bahasa Ibrani. Sedang bangsa Turki dan Tsjech kembali menghormati bangsanya sendiri."

Tokoh Boedi Oetomo lainnya, dr Tjipto Mangoenkoesomo, juga dengan sinis meminta agar bangsa ini mewaspadai bahaya "Pan-Islamisme", yaitu bahaya persatuan Islam yang membentang di berbagai belahan dunia, dengan sistem dan pemerintahan Islam di bawah khilafah Islamiyah. Pada 1928, Tjipto Mangoenkoesoemo menulis surat kepada Soekarno yang isinya mengingatkan kaum muda untuk berhati-hati akan bahaya Pan-Islamisme yang menjadi agenda tersembunyi Haji Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto. Tjipto khawatir, para aktivis Islam yang dituduh memiliki agenda mengobarkan Pan-Islamisme di Nusantara itu bisa menguasai Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jika mereka berhasil masuk dalam PPKI, kata Tjipto, maka cita-cita kebangsaan akan hancur.

Pernyataan Tjipto Mangoenkoesomo makin memperjelas sikap kalangan pengusung paham kebangsaan atau nasionalis sekular yang berusaha membendung segala upaya dan cita-cita Islam dalam pergerakan nasional dan pemerintahan di negeri ini. Sebelum kemerdekaan, perdebatan soal Islam dan kebangsaan antara kelompok nasionalis sekular yang diwakili oleh Soekarno dan kawan-kawan dengan kelompok Islam yang diwakili A. Hassan, M. Natsir, dan H. Agus Salim begitu menguat ke publik. Berbagai polemik tentang dasar negara menjadi perbincangan terbuka di media massa. Kelompok Islam menginginkan negara yang nantinya merdeka, menjadikan Islam sebagai landasan bernegara. Sementara kelompok nasionalis sekular berusaha memisahkan agama dan pemerintahan. "Manakala agama dipakai buat memerintah masyarakat-masyarakat manusia, ia selalu dipakai sebagai alat penghukum di tangan raja-raja, orang-orang zalim, dan orang-orang tangan besi," kata Soekarno mengutip perkataan Mahmud Essad Bey.

Sarekat Islam, sebagai organisasi pergerakan yang mengusung cita-cita Islam, melalui tokohnya HOS Tjokroaminoto memang menyerukan kepada SI untuk melancarkan gerakan tandzim guna mengatur kehidupan rakyat di lapangan ekonomi, sosial, budaya, menurut asas-asas Islam. Sedangkan H. Agus Salim, selain menyerukan perlawanan terhadap kapitalisme, juga menyerukan tentang kekhilafahan Islam dan Pan-Islamisme, sehingga berdiri apa yang disebut dengan Central Comite Chilafat. Nasionalisme dalam pengertian Salim adalah memajukan nusa dan bangsa berdasarkan cita-cita Islam.

Mohammad Natsir dalam Majalah Pembela Islam tahun 1931 menulis bahwa kelompok yang ingin memisahkan agama dari urusan negara adalah kelompok "laa diniyah" (netral agama). Natsir menegaskan, ada perbedaan cita-cita antara kelompok kebangsaan dan para aktivis Islam tentang visi negara merdeka. Natsir menyatakan, kemerdekaan bagi umat Islam adalah untuk kemerdekaan Islam, supaya berlaku peraturan dan undang-undang Islam, untuk keselamatan dan keutamaan umat Islam khususnya, dan untuk semua makhluk Allah umumnya. Natsir menyindir kelompok nasionalis sekular dengan mengatakan, "Pergerakan yang berdasarkan kebangsaan tidak akan ambil pusing, apakah penduduk muslimin Indonesia yang banyaknya kurang lebih 85% dari penduduk yang ada, menjadi murtad, bertukar agama. Kristen boleh, Theosofi bagus, Budha masa ****."

Sementara kelompok kebangsaan, terutama mereka yang aktif dalam organisasi Theosofi dan Freemason, mengampanyekan bahwa nasionalisme yang dibangun di negeri ini harus sesuai dengan doktrin humanisme, di mana manusia berhak menentukan hukum buatan sendiri yang bertujuan untuk mengabdi kepada kemanusiaan, tanpa campur tangan agama manapun. Van Mook, tokoh Freemason di Hindia Belanda ketika itu, dalam sebuah pidato di Loge Mataram, Yogyakarta, tahun 1924, mengatakan, "Freemasonry membimbing nasionalisme menuju cita-cita luhur dari humanitas."

Paham humanisme yang dibawa oleh elit-elit kolonial, teruatama mereka yang aktif sebagai anggota Theosofi dan Freemason inilah yang kemudian "ditularkan" kepada "anak-anak didik" para priyai dan elit Jawa yang menjadi abdi kompeni. Mereka mengampanyekan soal kesamaan semua agama-agama, tidak percaya dengan hukum Tuhan dan mempercayai kodrat alam, dan tentu saja sebagaimana trend imperialisme negara-negara Eropa ketika itu, adalah mengampanyekan bahaya "Pan-Islamisme", semangat solidaritas Islam dunia untuk membangun sebuah pemerintahan.

Karena itu, untuk membendung Pan-Islamisme di Nusantara, apalagi ketika itu banyak tokoh-tokoh Islam yang pulang dari haji dan menimba ilmu di Makkah juga menyuarakan Pan-Islamisme, maka pemerintah kolonial membentuk basis-basis tandingan dengan mendukung berdirinya organisasi-organisasi kebangsaan seperti Boedi Oetomo, Jong Java, dan lain sebagainya. Selain itu, mereka juga merangkul para priyai sebagai kepanjangan tangan pemerintah kolonial, memberi keluasan bagi anak-anak keturunan mereka untuk bersekolah di negeri Belanda, dan mendirikan pendidikan-pendidikan netral (neutrale onderwijs), yang berbasis pada pembentukan karakter manusia dengan berpedoman pada hukum kodrat alam.

Tak sedikit dari para elit dan priyai Jawa ketika itu, baik yang aktif dalam organisasi kebangsaan ataupun mereka yang menjabat sebagai residen, asisten residen, wedana, dan sebagainya yang masuk dalam organisasi Theosofi dan Freemason. Bahkan, tak sedikit juga dari mereka yang masuk sebagai anggota Rotary Club, sebuah lembaga kemanusiaan yang dibentuk oleh Zionisme Internasional. Pelecehan demi pelecehan terhadap Islam dilakukan oleh para pengusung kebangsaan, seperti pernyataan bahwa ke Boven Digul lebih baik daripada ke Makkah, pergi haji adalah upaya menimbun modal nasional untuk kepentingan asing, Islam adalah agama impor yang berusaha menjajah tanah Jawa, dan sebagainya.

Terkait dengan Theosofi, Allahyarham Mohammad Natsir dalam Majalah Panji Islam Tahun 1940 menulis sebuah artikel yang menyindir kelompok Theosofi. Natsir memberi judul artikelnya "Dokter Agama". Ia menulis, "Ada dokter yang datang dengan obat "synthese" yakni obat campur aduk sebagaimana yang dianjurkan oleh orang-orang Theosofi, yang berpendapat bahwa semua agama itu sama baik, dan lantaran itu kita ambil dari Islam mana "yang baik". Di ambil dari Kristen, dari Hindu, mana yang kita rasa "baik". Dengan begitu tidak ada bentrokan-bentrokan melainkan damai, aman dan sentausa (toleran namanya sekarang)…akhir kesudahannya menghasilkan "agama gado-gado". Budha tanggung, Islam tidak, Kristen pun tak tentu."

Image

Theosofi-Freemason tidak mempercayai adanya ritual doa kepada Sang Maha Pencipta. Mereka juga tak mempercayai adanya surga dan neraka. Anggota Theosofi yang mengaku muslim, membuat penafsiran ajaran Islam dengan pemahaman yang menyimpang.

Sebagai perkumpulan kebatinan yang meyakini bahwa Tuhan punya banyak nama, dan masing-masing agama hanyalah berbeda dalam memberi nama pada tuhannya, maka penganut Theosofi yang mengaku beragama Islam, menerjemahkan kalimat thayyibah "Laa Ilaaha Illallah" dengan "Tiada Gusti Allah, melainkan Gusti Allah". Terjemah tersebut kemudian dijelaskan, bahwa pengertiannya ada dua macam: Pertama, kita tidak boleh percaya lain rupa kekuasaan atau lain kekuatan melainkan Gusti Allah punya kekuasaan sendiri. Kedua, yaitu yang Gusti Allah menempati badannya manusia. Keterangan mengenai ini ditulis dalam Majalah Pewarta Theosofi Boeat Tanah Hindia Nederland, 1906.

Makna pertama, meskipun seolah terlihat bagus, bahwa kita tidak boleh percaya kepada kekuasaan dan kekuatan selain yang dipunya Gusti Allah, namun Gusti Allah dalam pandangan Theosofi adalah Tuhan yang dimiliki oleh setiap agama-agama, yang merupakan kesatuan batin dalam keyakinan (esoteris). Tuhan dalam keyakinan Theosofi punya banyak nama: God, Yahweh, Sang Hyang, dan lain-lain, yang pada hakikatnya menurut mereka merujuk pada Zat Yang Satu, meskipun namanya berbeda-beda, meskipun agamanya berlainan rupa. Tokoh sekular pendiri Yayasan Paramadina, Nurcholish Madjid pernah membuat sebuah tulisan dengan judul "Satu Tuhan Banyak Jalan".

Terjemahan menyimpang tentang kalimat "Laa Ilaaha Illallah" juga pernah dilakukan oleh mendiang Nurcholish Madjid. Ia menerjemahkan kalimat "Laa Ilaaha Illallah" dengan "Tiada tuhan melainkan Tuhan". Cak Nur yang merupakan lokomotif gerakan sekular di Indonesia ini membagi tuhan (dengan "t" kecil) dengan Tuhan (dengan "T" besar). Terjemahan Cak Nur dianggap mengacu pada terjemahan ala Barat dan Bibel, yang menyebut Tuhan dengan sebutan "god" (dengan "g" kecil) dan "God" (dengan "G" besar). Dalam Kitab Mazmur 109:1, 2 disebutkan "Tuhan telah bersabda kepada tuhanku."

Dalam Islam, kata "Allah" adalah lafzhul jalalah (lafazh yang tinggi dan mulia), yang disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 2679 kali, yang semuanya dalam bentuk singular (mufrad) atau tunggal. Allah dalam keyakinan Islam adalah "al-ma'bud bi haqqin", Zat satu-satunya yang berhak untuk disembah, yang tidak ada bandingan-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak berbilang dan tidak memiliki nama-nama lain, kecuali Al-Asma' Al-Husna yang merupakan sifat-sifat keagungan-Nya. Kata "Allah" tidak bisa diartikan dengan "Tuhan" sebagaimana kata "al-ilah". (Lihat, Ahmad Husnan, Jangan Terjemahkan Al-Qur'an Menurut Visi Injil dan Orientalis, Jakarta: Media Dakwah, 1987)

Makna kedua dari kalimat "Laa Ilaaha Illallah" ala terjemah Theosofi, yaitu yang Gusti Allah menempati badannya manusia, adalah keyakinan kufur yang mengacu pada paham wihdatul wujud atau al-hulul. Paham ini pada masa lalu dikenal di Nusantara dengan istilah "manunggaling kawula gusti", yaitu keyakinan bahwa manusia dan Tuhan itu manunggal, sebagaimana keyakinan yang dibawa oleh Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang. Theosofi menyebut manunggalnya manusia dengan Tuhan sebagai pancaran yang disebut dengan istilah "pletik Ilahi (God in being)".

Manusia sejati (ingsun sejati) dalam keyakinan Theosofi adalah manusia yang mengamalkan lelaku batin sehingga bisa manunggal dengan Tuhan. Manusia sejati adalah pancaran dari gambaran Tuhan. Maka Manusia Sejati harus mengamalkan asas-asas Ilahi, yaitu kasih sayang, kebenaran, dan kesatuan hidup. “Dengan mengenal diri kita sendiri, kita akan mengenal Tuhan, Kasunyatan Hidup, Kebenaran. Tuhan itu Hidup, Jalan, Kebenaran, Kasih. Allah kasih meliputi segala-galanya. Allah adalah semua dalam semua. Kita Hidup, bergerak, dan ada di dalam Dia. “ Inilah yang disebut dengan pletik ilahi atau God in being. (PB Perwathin, No. 5, Tahun VIII, Mei 1973). Sang Kasih, menurut Theosofi, menggabungkan semua dalam kesatuan.

Keyakinan soal manunggalnya hamba dengan Tuhan juga diungkapkan tokoh Boedi Oetomo, dokter Soetomo. Dalam buku "Kenang-kenangan Dokter Soetomo" yang dihimpun oleh Paul W van der Veur, disebutkan bahwa Soetomo pernah mengatakan bahwa pemancaran zat Tuhan,"Itulah sebenarnya keyakinan saya. Itulah keyakinan yang mengalir bersama darah dalam segala urat tubuh saya. Sungguh, sesuai-sesuai benar." (hal. 30). Soetomo juga mengatakan, "Aku dan Dia satu dalam hakikat, yakni penjelmaan Tuhan. Aku penjelmaan Tuhan yang sadar…" (hal.31).

Soetomo sebagaimana para penganut kebatinan Theosofi lainnya, tidak melakukan shalat lima waktu selayaknya umat Islam lainnya, melainkan melakukan semedi, meditasi, yoga, dan sebagainya. "Soetomo lebih mementingkan "semedi" untuk mendapat ketenangan hidup, ketimbang sembahyang," tulis Paul W van der Veur (hal.31). Karena cukup hanya dengan semedi, maka para penganut kebatinan juga tidak melakukan ritual doa kepada Sang Maha Kuasa. Bagi mereka semedi yang melahirkan sikap eling sudah cukup untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Pendiri Theosofi, Helena Petrovna Blavatsky dalam bukunya "Kunci Pembuka Ilmu Theosofi (The Key to Theosophy)" menyatakan bahwa Theosofi tidak percaya dengan doa, dan tidak melakukan doa. Theosofi mempercayai "doa kemauan" yang ditujukan kepada Bapak di sorga dalam artian esoteris, yaitu Tuhan yang tidak ada sangkut pautnya dengan bayangan manusia, atau Tuhan yang menjadi intisari ilahiah yang dimiliki semua agama. Berdoa, kata Blavatsky mengandung dua unsur negatif: Pertama, membunuh sifat percaya diri manusia yang ada dalam diri manusia sendiri. Kedua, mengembangkan sifat mementingkan diri sendiri. (hal.50).

Dalam Islam tentu berbeda, umat Islam dianjurkan untuk berdoa sebagai sarana memohon pertolongan, memohon perlindungan, mengadukan segala persoalan kepada Allah, Rabbul alamin. Berdoa juga wujud dari sikap rendah hati seorang hamba dengan Tuhannya, selain juga sarana untuk berkomunikasi secara intim dengan Sang Maha Pencipta. "Memohonlah kepada-Ku, maka niscaya Aku akan kabulkan permohonanmu…" (QS. Ghafir: 60). Di ayat lain, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah [2]: 153)

Selain tidak menjalankan ritual doa, Theosofi-Freemason juga tidak meyakini adanya dosa dan pahala, surga dan neraka, bahkan tidak mengakui adanya hukum Tuhan. Mereka berkeyakinan adanya hukum "kodrat alam", di mana ganjaran kebaikan dan hukuman bagi kejahatan ditentukan oleh kodrat alam dan hati nurani. Keyakinan Theosofi menyatakan, "Kalau Anda berbuat, maka akan ada orang yang membalas berbuat baik. Kalau Anda berbuat jahat, maka akan ada orang yang membalas kejahatan Anda. That's all, ini saja." Inilah yang disebut dengan "kodrat alam."

Keyakinan ini tentu bertolak belakang dengan apa yang diajarkan Islam. Dalam Islam, orang yang berbuat baik, selain dapat balasan dari manusia di dunia, juga akan mendapat balasan pahala dari Allah di akhirat kelak. Begitu juga, jika berbuat jahat, selain mendapat balasan kejahatan di dunia, juga akan mendapatkan dosa di akhirat. Orang Islam yang beriman dan beramal shaleh akan masuk surga, orang-orang yang mengaku Islam namun berbuat kejahatan dan kemusyrikan, apalagi mereka yang di luar Islam atau kafir maka akan mendapatkan balasan di neraka. Inilah hukum Tuhan, karena Islam meyakini ada kehidupan lagi setelah kematian nanti.
(last/suaraislam)
User avatar
Maher-Shalal
 
Posts: 1364
Joined: Mon Mar 17, 2008 4:49 pm
Location: Between heaven and hell

Re: Rekam Jejak Penghinaan Islam oleh Kaum Theosofie

Postby MaNuSiA_bLeGuG » Wed Mar 21, 2012 5:34 pm

Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat. Artikel ini kemudian memicu kemarahan besar aktivis Sarekat Islam dengan menggelar rapat akbar di Surabaya pada 6 Februari 1918. Dalam rapat akbar tersebut kemudian terbentuklah sebuah satuan khusus yang bertugas untuk melawan segala bentuk penghinaan terhadap Rasulullah. Satuan khusus itu bernama “Tentara Kandjeng Nabi Moehammad atau Tentara Kandjeng Rosoel”


how muslim typical, segala sesuatu harus dihadapi dgn kekerasan. ga bisa apa pena dilawn dengan pena ? :-k

Pelecehan oleh aktivis Theosofi dan Boedi Oetomo juga dilakukan dengan mengatakan bahwa orang yang pergi ke Makkah adalah menimbun modal untuk kepentingan bangsa asing. Dalam sebuah artikel yang ditengarai ditulis oleh penganut Theosofi, dengan nama Homo Sum, disebutkan,”Uang yang digunakan untuk naik haji ke Mekah sebenarnya lebih baik digunakan untuk usaha-usaha di bidang ekonomi dan kepentingan nasional.”


bener bgt, buat apa buang duid banyak2 ke arab tapi pulang2 tetep aja ngemis2 ? kasarnya bgeto...

Dengan menggunakan kata "Islam", JIB jelas ingin menghapus sekat-sekat kedaerahan dan kesukuan, dan mengikat dalam tali Islam.


ya sekat2 kedaerah dihapus dgn menggantinya dgn sekat2 keagamaan...how clever ](*,)

Pada tahun 1922, sebagaimana ditulis oleh A.D El Marzededeq dalam "Jaringan Gelap Freemasonry: Sejarah dan Perkembangannya Hingga ke Indonesia" disebutkan bahwa di Loge Broderketen, Batavia, juga pernah terjadi aksi pelecehan terhadap Islam oleh salah seorang aktivis Freemason yang memberikan pidato pada saat itu dengan mengatakan, "Islam menurut mereka itu merupakan paduan kultur Arab, Yudaisme, dan Kristen. Indonesia mempunyai kultur sendiri, dan kultur Arab tidak lebih tinggi dari Indonesia. Mana mereka mempunyai Borobudur dan Mendut? Lebih baik mengkaji dan memperdalam budi pekerti daripada mengkaji agama impor. Kembangkan nasionalisme dalam semua bidang."


=D> =D> =D> =D> =D>

"Manakala agama dipakai buat memerintah masyarakat-masyarakat manusia, ia selalu dipakai sebagai alat penghukum di tangan raja-raja, orang-orang zalim, dan orang-orang tangan besi," kata Soekarno mengutip perkataan Mahmud Essad Bey.


bener sekali, sistem kenegaraan berdasarkan agama bukan solusi bagi segala permasalahan. justru malah akan memperuncing perbedaan di masyarakat. golongan yg agamanya dipakai sbg landasan negara akan merasa paling benar, tinggi hati, dan kurang memperhatikan aspirasi golongan lain. sedang bagi golongan2 yg agama nya tidak dijadikan landasan kenegaraan akan merasa di tindas, tidak dihargai dan apatis thd golongan seberangnya. sangatlah tidak adil menilai hal yg umum dgn sistem khusus yg hanya diterima kebenarannya oleh segolongan orang.

Mohammad Natsir dalam Majalah Pembela Islam tahun 1931 menulis bahwa kelompok yang ingin memisahkan agama dari urusan negara adalah kelompok "laa diniyah" (netral agama). Natsir menegaskan, ada perbedaan cita-cita antara kelompok kebangsaan dan para aktivis Islam tentang visi negara merdeka. Natsir menyatakan, kemerdekaan bagi umat Islam adalah untuk kemerdekaan Islam, supaya berlaku peraturan dan undang-undang Islam, untuk keselamatan dan keutamaan umat Islam khususnya, dan untuk semua makhluk Allah umumnya. Natsir menyindir kelompok nasionalis sekular dengan mengatakan, "Pergerakan yang berdasarkan kebangsaan tidak akan ambil pusing, apakah penduduk muslimin Indonesia yang banyaknya kurang lebih 85% dari penduduk yang ada, menjadi murtad, bertukar agama. Kristen boleh, Theosofi bagus, Budha masa ****."


benar2 pemikiran sempit dan b0doh kalo hidup seseorang boleh diatur seenaknya oleh orang lain. belum tentu yg ngurusin hidup orang lain itu mau dan rela hidupnya diatur2 selain oleh dirinya sendiri. keculai kalau orang tersebut memang merelakan kebebasannya utk diatur, bukan atas dasar paksaan.

Terkait dengan Theosofi, Allahyarham Mohammad Natsir dalam Majalah Panji Islam Tahun 1940 menulis sebuah artikel yang menyindir kelompok Theosofi. Natsir memberi judul artikelnya "Dokter Agama". Ia menulis, "Ada dokter yang datang dengan obat "synthese" yakni obat campur aduk sebagaimana yang dianjurkan oleh orang-orang Theosofi, yang berpendapat bahwa semua agama itu sama baik, dan lantaran itu kita ambil dari Islam mana "yang baik". Di ambil dari Kristen, dari Hindu, mana yang kita rasa "baik". Dengan begitu tidak ada bentrokan-bentrokan melainkan damai, aman dan sentausa (toleran namanya sekarang)…akhir kesudahannya menghasilkan "agama gado-gado". Budha tanggung, Islam tidak, Kristen pun tak tentu."


kenapa tidak ? selama nilai2 baik yg diambil. daripada jelas namanya, tapi perilaku tidak baik. kejelasan status bukan penentu, maling juga jelas statusnya tapi kelakuannya jg jelas bangsat :lol:

Dalam Islam, kata "Allah" adalah lafzhul jalalah (lafazh yang tinggi dan mulia), yang disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 2679 kali, yang semuanya dalam bentuk singular (mufrad) atau tunggal. Allah dalam keyakinan Islam adalah "al-ma'bud bi haqqin", Zat satu-satunya yang berhak untuk disembah, yang tidak ada bandingan-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak berbilang dan tidak memiliki nama-nama lain, kecuali Al-Asma' Al-Husna yang merupakan sifat-sifat keagungan-Nya. Kata "Allah" tidak bisa diartikan dengan "Tuhan" sebagaimana kata "al-ilah". (Lihat, Ahmad Husnan, Jangan Terjemahkan Al-Qur'an Menurut Visi Injil dan Orientalis, Jakarta: Media Dakwah, 1987)


tidak terbilang tapi berani menyatakan tuhan itu satu ? kontradiktif sekali... [-X

===========================================================================================================================================================================

semakin kusadari klo bapak2 pendiri bangsa kita memang bukan orang sembarangan. mereka orang2 yg pintar dan mampu menilai permasalahan secara baik dan aplikatif berdasarkan fakta kenyataan yg terjadi di dunia dan bukan di awang2 (khayalan). dan wajarlah kenapa kemerdekaan indonesia datang dimasa2 orang2 ini, bukan dimasa imam bonjol, diponegoro,patimura,dll yg masih berpikir kedaerahan dan ke-golongan.

btw kartini katanya juga penganut theosofis ditilik dari surat2nya yg dikirimkan ke temannya di belanda loh...semakin terlihat klo claim hanya islam/muslim yg berjuang utk kemerdekaan hanya sebatas pepesan kosong.
User avatar
MaNuSiA_bLeGuG
 
Posts: 4425
Images: 13
Joined: Wed Mar 05, 2008 2:08 am
Location: Enies Lobby


Return to Resource Centre Jihad di INDONESIA



Who is online

Users browsing this forum: No registered users