Page 1 of 1

[Wajib Baca] Bersiap Periode, "Jihad" Periode

PostPosted: Thu Jun 09, 2011 2:56 pm
by saia
Anda kenal dengan wajah ini??
Image

siapa yang tidak kenal dengan orang ini, orasinya yang mengebu-gebu dalam radio surabaya pada 9 November '45 membangkitkan semangat juang pejuang kita kala itu, sehingga pecah pertempuran 10 November 1945. berikut orasinya :
Saudara-saudara rakyat Surabaya.
Bersiaplah! Keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.
Dan kita yakin, Saudara-saudara.
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah Saudara-saudara!
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!


Bagi yang suka sejarah, mesti tahu mengapa bisa pecah pertempuran Surabaya yang dijadikan Hari Pahlawan
ok, kita review lagi sejauh mana sejarah yang saia dan anda ketahui mengenai hal ini,

LATAR BELAKANG
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

LATAR BELAKANG YANG TIDAK ANDA KETAHUI
Dalam masa Indonesian National Revolution/Perang Kemerdekaan Indonesia, ada suatu tahap atau periode kekerasan yang mirip dengan kerusuhan Mei '98 yang dikenal Periode Bersiap

Bersiap adalah sebuah istilah Belanda untuk sebuah periode dalam masa Perang Kemerdekaan Republik Indonesia atau peralihan kekuasaan antara Tentara Dai Nippon di satu pihak ke Tentara Sekutu atau Republik Indonesia di sisi lain.

Masa ini ditandai dengan terjadinya kekacauan dan banyak perampokan masal. Bangsa Eropa, Indo dan Tionghoa yang kebanyakan menjadi korban. Biasanya masa ini ditetapkan dimulai pada tahun 1945 sampai 1947. Awal masa ini bermula dengan dijarah dan dirampoknya Depok oleh para Pemoeda atau Pelopor pada tanggal 9 Oktober 1945. Depok waktu itu dikenal sebagai pusat tempat tinggalnya orang Indo. Sedangkan masa akhir Bersiap biasanya ditetapkan selesai dengan munculnya aksi Agresi Militer Belanda I atau Aksi Polisi Belanda I pada bulan Januari 1947. Namun pemerintah Belanda mendefinisikan masa ini lebih luas, yaitu dari Kapitulasi Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945 sampai pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.
wiki indonesia

note : ada tambahan dari saia, Indo atau Indos, adalah Eurasian, ras campuran Eropa dan Asia, khususnya disini adalah perkawinan silang Belanda-Indo, yang dulu anak-anaknya sering disebut Noni (ceweks)- Sinyo(cowoks) :green:
Image
bagi yang lahir di tanah jawa, khususnya Jawa Barat dan Jakarta, pasti mengenal "Bule Depok", bagi saia "Bule Depok" ini adalah istilah slang bagi keturunan Belanda-Indo, tapi bukan Bule Belandanya sendiri, contohnya ya yang satu ini :lol:
Image

ehmm .... back to topic
tapi seperti biasa, wiki dengan segala kekurangannya, terutama wiki indonesia berusaha menyembunyikan sesuatu

jadi, sebelum terjadi peristiwa 10 November '45, ada peristiwa yang tidak atau mungkin tidak banyak dikenal dalam buku-buku sejarah kita.
ini yang saia dapat;

One of the catalysts driving the atrocities committed by Indonesian Pemuda against the native Indo-European civilian population was the inciteful Republican propaganda. The Republican military declaration of total war (14 October 1945) states: "When the sun sets, we the Indonesian people are in war with the Dutch." The declaration then continues with clearly targeting civilian groups: "With this declaration we order all Indonesians to find their own enemy – Dutch, Indo or Ambonese." In his speeches the radical revolutionary leader Sutomo specifically aims at the Indo population, verbally reducing them to bloodhounds.


Salah satu yang menyebabkan kekejaman yang dilakukan oleh Pemuda Indonesia terhadap warga sipil asli Indo-Eropa adalah hasutan propaganda Republik (Indonesia). Deklarasi perang total oleh militer Republik (14 Oktober 1945) menyatakan: ". Ketika matahari terbenam, kami masyarakat Indonesia dalam perang dengan Belanda". Pernyataan itu kemudian dilanjutkan dengan jelas ditunjukan pada masyarakat sipil: "Dengan pernyataan ini memerintahkan semua orang Indonesia untuk menemukan musuh mereka sendiri:. Belanda, Indo atau Ambon". Dalam pidato-pidatonya, pemimpin radikal revolusioner Sutomo mengkhususkan target yg ditujukan adalah populasi Indo, bahkan secara lisan menurunkan (mengibaratkan) mereka sebagai anjing-anjing (mirip slogan muslim terhadap kafir)

"Torture them to death, destroy those bloodhounds of colonialism to the root. […] The immortal spirits of your ancestors demand of you: revenge, bloody revenge!" , Sutomo


"Siksa mereka sampai mati, hancurkan anjing-anjing kolonial. [...] Roh-roh abadi nenek moyang kalian meminta kalian : Balas Dendam, BALASKAN DENDAM!", Sutomo


Soon in the streets of Batavia the walls showed explicit slogans: "Death to the Ambonese and Indos!". Leaders such as Sukarno and Sjahrir attempted to call for calm, and even groomed the Indo population to join the revolution, but were unable to prevent the atrocities. The small town of Depok, pre-dominantly occupied by native Christian (indigenous and Indo) people, was one of the first places to be destroyed. Many of its inhabitants were tortured and killed by the Pemuda.


Tidak lama kemudian, jalan-jalan di dinding Batavia secara eksplisit menampilkan slogan: "Mati loe ambon en indo!". Pemimpin seperti Sukarno dan Sjahrir mencoba menenangkan massa, dan bahkan menganjurkan keturunan Indo bergabung dengan revolusi, tetapi tidak dapat mencegah kekejaman. Kota kecil Depok, yang dihuni oleh mayoritas Kristen pribumi (Indo totok dan Indo), merupakan salah satu tempat pertama yang dihancurkan. Banyak penduduknya disiksa dan dibunuh oleh Pemuda. uwwooww ....
sumber : Wikipedia

hmmm, Bung Tomo dan Pemuda ini mengingatkan saia pada Georges Rutaganda dan Interahamwe dengan target etnis Tutsi, atau malah Nazi dengan SSnya pada waktu itu kerepotan dengan gerilya Marquis sehingga membantai penduduk sipil Perancis hanya dengan kondisi terbalik, Bung Tomo menargetkan orang-orang indo, atau yang berkolaborasi dengan Belanda seperti keluarga KNIL(yang nantinya diusir keluar dari indonesia) seperti orang ambon atau manado, saia ga tahu pada orang-orang manado pada waktu itu ikut kena "getah"nya Bung Tomo atau tidak

Image
well, congratz deh Pak Tomo atas hadiah gelar "pahlawan nasional" yg diberi pemerintah tertanggal 10 November 2008