.

Muhammad di Kitab Veda: Dusta Dr. Zakir Naik**

Sejarah, asal usul ALLAH & KABAH, hubungan Allah dgn Muhamad. Juga, pribadi dan latar belakang MUHAMAD

Muhammad di Kitab Veda: Dusta Dr. Zakir Naik**

Postby Adadeh » Fri May 30, 2008 6:48 am

Muhammad di Kitab Veda: Bantahan terhadap Pendapat Dr Zakir Naik
oleh Dr Radhasyam Brahmachari

Siapapun yang pernah membaca buku sejarah hidup Nabi Muhammad yang ditulis penulis Muslim, telah mengetahui bahwa tugas terberat penulis adalah menjelaskan perkawinan2 Muhammad. Jika mereka membutuhkan sepuluh halaman untuk mengisahkan perkawinan2nya, maka mereka menulis lebih dari ratusan halaman untuk menghalalkan perkawinan2 itu.

Mengapa ya Muhammad kawin berkali-kali di usianya yang telah lanjut? Para penulis Muslim tidak tahu harus menjawab apa. Tugas utama yang terpenting bagi para penulis ini adalah menyingkirkan unsur nafsu berahi sang Nabi dalam perkawinannya yang banyak itu. Penjelasan terbaik yang dikarang mereka adalah sang Nabi begitu baik hati sehingga dia menikahi para janda untuk menyediakan sandang pangan bagi mereka. Wah, hebat ya, sang Nabi ternyata berperan sebagai juru selamat bagi para janda. Tapi ternyata sukar menjelaskan perkawinan Muhammad dengan Zainab, istri dari anak angkatnya sendiri yang bernama Zaid. Hal ini karena Zainab bukan janda dan kejadian dia melihat Zainab jelas menunjukkan nafsu berahi Muhammad yang besar (yang dihalalkan pula oleh Allah SWT di Q 33:37). Kesulitan yang serupa juga dihadapi para penulis sewaktu menjelaskan perkawinan Muhammad dengan Safiya, Juwariyah, dan hubungan seksnya dengan Rayhana.

Penjelasan2 yang dikarang penulis2 Muslim tentang perkawinan2 janggal sang Nabi dengan mudah diterima oleh para Muslim yang memang nalarnya mendadak macet begitu harus menilai perbuatan Nabinya secara obyektif. Tetapi, penjelasan2 tersebut sangat tidak bisa diterima sama sekali oleh masyarakat beradab.

Tugas terberat yang dihadapi penulis Muslim adalah menerangkan perkawinan Muhammad (53 tahun) dengan Aisha (6 tahun). Syed Amir Ali adalah penulis Muslim India yang menulis buku Spirit of Islam. Di buku ini, Pak Amir Ali menulis bahwa satu2nya tujuan sang Nabi mengawini Aisha adalah untuk meneguhkan hubungannya dengan Abu Bakr. Mungkin semua sudah tahu bahwa Muhammad dan Abu Bakr membuat persetujuan bahwa Muhammad akan memberikan anak perempuannya Fatima untuk dikawini Abu Bakr dan Abu Bakr akan memberikan anak perempuannya Aisha untuk dikawini Muhammad. Perkawinan seperti ini disebut Perkawinan Shighar, dan masih sering dilakukan dalam masyarakat Muslim. Mungkin kalian masih ingat dulu Osama bin Laden mengawini anak perempuan Omar, ketua Mujahidin Afghanistan, dan Omar mengawini anak perempuan Osama. Pak Ali menulis bahwa berdasarkan persetujuan, Muhammad akan mengawini Aisyah di tahun pertama hijrah di rumah Abu Bakr di Medinah. Tapi Muhammad menunda melakukannya. Setelah berbulan-bulan berlalu, Abu Bakr menanyakan hal ini pada Muhammad, dan Muhammad menjawab bahwa dia menunggu perintah dari Allah SWT akan hal ini, tapi perintah tidak kunjung datang. Meskipun tidak datang perintah apapun, Muhammad tetap mengawini Aisyah, dan dia tidak memberikan Fatima kepada Abu Bakr untuk dikawini. Dengan begitu penjelasan Amir Ali tidak masuk akal.

Penulis Bengali Muslim bernama M. Abdur Rahman mencoba menjelaskan dari sudut lain. Dia menekankan bahwa Muhammad mengawini Aisha sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang besar. Di saat itu, para Muslimah Arabia butuh dididik tentang masalah seksual. Tapi karena Muhammad itu laki, maka dia tidak cocok untuk mengajari wanita tentang seks. Jadi dia mengawini Aisyah sebagai alat untuk mendidik Muslimah tentang seks. Wah, mulia bener nih tujuannya, tapi kenapa ya dia memilih anak kecil seperti Aisyah? Untuk menjelaskan hal ini, Pak Abdur Rahman berkata bahwa otak anak2 yang masih naif benar2 cocok untuk menerima pendidikan seks dan inilah sebabnya Muhammad menikahi Aisyah. Tapi herannya, baik Pak Amir Ali maupun Pak Abdur Rahman lupa mengatakan bahwa mengawini anak perempuan kecil memang merupakan kehendak Allah SWT. Allah mengirim pesan illahiNya pada Muhammad untuk mengawini Aisyah dalam beberapa mimpi. Dalam tiga malam berturut-turut, Jibril menunjukkan wajah Aisyah pada Muhammad dan berkata, “Inilah istrimu.” Di dua malam pertama, Muhammad tidak bisa mengenali wajah dalam mimpi tersebut, tapi di malam ketiga dia bisa melihat dengan yakinnya bahwa itu adalah wajah Aisyah. Jadi dia tidak punya pilihan selalin memenuhi perintah Allah SWT secepat mungkin.

Tidak peduli apapun alasan, penjelasan, karangan yang diajukan, para penulis Muslim harus mencapai satu kesimpulan: Muhammad adalah orang termulia di dunia. Jika kesimpulan mereka meleset satu milimeter saja, maka nyawa mereka akan terancam. Para penulis ini juga menghadapi banyak kesulitan saat menjelaskan pembantaian massal yang diperintahkan Muhammad atas kaum Yahudi bani Qurayza di Medinah dan kaum Yahudi di Khaybar, pembunuhan atas kafir di bulan Rajab di Nakhla, dan seterusnya. Sudah jelas bahwa merupakan tugas yang sangat berat bagi para penulis Muslim untuk menjelaskan mengapa begitu banyak banjir darah dan pertikaian yang terjadi di sekeliling Muhammad yang katanya adalah manusia termulia tanpa dosa di dunia ini.

Karena menghadapi berbagai macam tantangan moral dalam menulis sejarah hidup Muhammad menurut Islam, maka banyak penulis Islam yang memilih bahan tulisan yang lebih mudah tentang Muhammad. Contohnya, mengarang ramalan kedatangan Muhammad dari kitab2 suci non-Islam, seperti Alkitab, Zend-Avesta, dan terutama yang terpenting, dari kitab2 Sanskrit Hindu.

Rig-Veda telah dikenal dan diakui seluruh dunia sebagai buku tertua yang ditulis manusia. Jika buku ini menyebut tentang Muhammad, tentunya ini akan sangat amat membantu memoles sang Nabi Arab sebagai sosok illahi. Tidak hanya itu saja, umat Hindu juga tentunya gampang dipengaruhi untuk murtad dan malah memeluk Islam. Karena itulah, mudah dimengerti mengapa Dr. Zakir Naik yang Muslim bersusah payah mengarang tentang disebutnya Muhammad di kitab Rig-Veda dan berbagai literatur Hindu. Tapi karena memang buktinya tidak ada, maka Pak Naik tidak punya cara lain selain mengajukan khayalannya sendiri untuk menipu kafir.

Pertama-tama, kita harus melihat apa yang dikatakan Rig-Veda tentang Muhammad. Kita harus mengetahui ada dua kata Sanskrit yang berperang penting dalam anggapan Pak Naik, yakni
(1) śaṃsata ; dan
(2) narāśaṃsa .

Menurut Pak Naik, huruf kedua śaṃsata berarti orang yang memuji. Dalam bahasa Arab, orang seperti itu disebut Ahammad, yang merupakan nama lain dari Nabi Muhammad. Karena itu, dimanapun dia menemukan kata śaṃsata, dia cepat2 mengartikan kata itu berkenaan dengan Muhammad. Menurut Pak Naik, kata kedua berarti orang yang terpuji atau layak dipuji. Jadi, di manapun dia menemukan kata narāśaṃsa, dia menganggap kata itu menyatakan Muhammad. Bayangkan betapa konyolnya anggapan seperti ini. Berdasarkan argumennya, Pak Naik beranggapan bahwa setiap kata Indonesia dalam kamus Indonesia yang mengandung kata “layak dipuji,” pasti berhubungan dengan nama Muhammad. Lebih jauh lagi, anggapan **** seperti ini bisa diterapkan sebagai berikut: kambing berjenggot dan Zakir Naik berjenggot, jadi ini berarti Zakir Naik adalah kambing – begitulah kesimpulan berdasarkan argumennya.

Sebenarnya, kata2 Sanskrit śaṃsata dan narāśaṃsa adalah kata2 bagi Dewa atau Tuhan, yang memang layak dipuji. Menurut Sāyana, penulis tafsir Veda yang paling terpercaya, kata narāśaṃsa berarti seorang dewa atau makhluk illahi yang layak dipunji oleh manusia.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas apa yang dikatakan Zakir Naik. Menurut Zakir Naik, ayat2 (1/13/3), (1/18/9), (1/106/4), (1/142/3), (2/3/2), (5/5/2), (7/2/2), (10/64/3) dan (10/182/2) dari kitab Rig-Veda mengandung kata narāśaṃsa dan dengan begitu adalah tentang Muhammad dan ayat (8/1/1) Rig Veda mengandung kata śaṃsata (Ahmmad), atau nama lain Muhammad. Dalam tulisanku terdahulu yang berjudul “Allah in the Vedas: The Treachery of Dr Zakir Naik” (Allah dalam Veda: Kebohongan Dr. Zakir Naik), aku telah tunjukkan jenis2 dusta yang dikarang Dr. Naik. Di sini dia sekali lagi berdusta dan mengatakan bahwa kata śaṃsata itu untuk manusia yang memuji, dalam bahasa Arab artinya sama dengan Ahammad dan karenanya menyinggung tentang Muhammad. Beginilah bunyi ayat Rig Veda (8/1/1):

Mā cidanyadvi śaṃsata sakhāyo
mā riṣṇyata l
Indramitstot ā vṛṣaṇaṃ sacā sute
muhurukthā ca śaṃsata ll
(8/1/1)
terjemahan:
Muliakan hanya dia, wahai teman2; sehingga jangan kesedihan menggelisahkanmu. Hanya puji Indra yang perkasa saat sari buah dikucurkan, dan katakan pujianmu berulang-kali.
(terjemahan: R T H Griffith; The Hymns of the Ṛgveda, Motilal Banarsidass Publishers, Delhi; 1995, p-388).

Jadi kata śaṃsata (layak dipuji) di ayat di atas berhubungan dengan Dewa Indra, dan bukan manusia yang memuji (Ahammad) seperti yang dikatakan Dr. Zakir Naik.

Mari lihat ayat2 lain yang mengandung kata narāśaṃsa. Di Rig-Veda, ayat dinyatakan sebagai (x/y/z), di mana x berarti Mandala, y berarti Sukta, dan z berarti ayat atau Ṛk. Ayat (1/13/3) di Rig-Veda, seperti yang telah dijelaskan, termasuk dalam Sukta ke-13 dari Mandala pertama. Harus dipahami bahwa setiap Sukta Rig Veda dipersembahkan bagi seorang dewa. Dewa dalam Sukta ke-13 dari Mandal ke-1 adalah Agni (Dewa Api). Ayat ini berbunyi:

Narāśaṃsamiha priyamasminajña upahvaye l
Madhujihvat haviṣkṛtam ll
(1/13/3)
terjemahan:
Wahai Narāśaṃsa, yang manis lidah, sang pemberi dari persembahan, aku sembahyang bagi persembahanku
(ref. ibid, hal. 7).

Karena Agni adalah Dewa yang dibahas di seluruh Sukta ke-13, maka tidak diragukan bahwa kata narāśaṃsa (yang layak dipuji oleh manusia) dalam ayat tersebut adalah tentang Dewa Agni. Jadi sudah jelas bahwa kata narāśaṃsa di sini bukan berarti manusia yang layak disembah, seperti yang dikatakan Dr. Zakir Naik.



The verse (1/18/9) of the Rig-Veda says:

Narāśaṃsaṃ sudhṛṣṭamamapaśyam
saprathastam l

Divo na sadmakhasam ll (1/18/9)

- I have seen Narāśaṃsa , him most resolute, most widely famed, as ‘twere the Household Priest of heaven (tr: ibid, p-11). The 18th Sukta, to which the verse belongs, is dedicated to Brahmaṇaspati, the Priest of heaven and hence the word narāśaṃsa (praiseworthy to man) in this verse refers to Brahmaṇaspati, the Priest of heaven.

The verse (1/106/4) of the Rig-Veda says:

Narāśaṃsaṃ vajinṃ vajayinniha
kṣayadvīraṃ pūṣaṇaṃ summairī mahe l

Rathaṃ na durgādvasava sudānavo
viśvasmānno ahaṃso niṣpipartana ll (1/106/4)

- To mighty Narāśaṃsa, strengthening his might, to Pūṣaṇa , ruler over men, we pray with hymns. Even as a chariot from a difficult ravine, bountiful Vasus, rescue us from all distress (tr: ibid, p-69). The 106th Sukta of 1st Mandala, to which the verse belongs, is dedicated to Viśvadevas, and hence the word narāśaṃsa (praiseworthy to man) in this verse refers to Viśvadevas.

The verse (1/142/3) of the Rig-Veda says:

śuci pāvako adbhuto madhvā
yajñaṃ mimikṣati l

Narāśaṃsasthrirā divo devo
deveṣu yajñiyaḥ ll (1/142/3)

-He wondrous, sanctifying, bright, sprinkles the sacrifice with mead, thrice, Narāśaṃsa from the heavens, a God mid Gods adorable (tr: ibid, p-98). The 142nd Sukta, to which the versae belongs, is dedicated to to deity Āprī, and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Āprī. Most of the scholars agree that Āprī is the other name of Agni and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Agni, the god of fire.

The verse (2/3/2) of the Rig-Veda says:

Narāśaṃsaḥ prati dhāmānyañjan tisro div prati mahṇā svarciḥ l

Ghṛtapruṣā manasā havyamundanmūrdhanyajñasya sanamaktu devān ll (2/3/2)

- May Narāśaṃsa lighting up the chambers, bright in his majesty through threefold heaven, steeping the gift with oil diffusing purpose, bedew the Gods at chiefest time of worship (tr: ibid, p- 132). Like the earler one, 142nd Sukta of 1st Mandal, this present 3rd Sukta of 2nd Mandala, is dedicated to the deity Āprī or Agni and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Agni the the Fire God.

The Verse (5/5/2) of Rig-Veda says:

Narāśaṃsaḥ suṣūdatīmṃ yajñamadābhyaḥ l
Kavirhi madhūhastāḥ ll (5/5/2)

- He, Narāśaṃsa, ne’er beguiled, inspiriteth this sacrifice; for sage is he, with sweets in hand (tr: ibid, p- 240). This 5th Sukta of 5th Mandala is also dedicated to Āprī or Agni and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Agni the Fire God.

The verse (7/2/2) of Rig-Veda says:

Narāśaṃsasya mahimānameṣamupa
stoṣāma yajatasya yajñaiḥ l

Ye sukratavaḥ śucayo dhiyandhāḥ
svadanti devā ubhayāni havyā ll (7/2/2)

- With sacrifice to these we men will honour the majesty of holy Narāśaṃsa – to these the pure, most wisw, the thought-inspires, Gods who enjoy both sorts of our oblations (tr: ibid, p- 334). Again this 2nd Sukta of 7th Mandala is dedicated to Āprī or Agni, and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Agni the Fire God.

The verse (10/64/3) of the Rig-Veda says:

Narā vā śaṃsaṃ pūṣṇamagohyamagni
deveddhamabhyarcase girā l

Sūryāmāsā candramasā yamaṃ divi
tritaṃ vātamuṣasamaktumaśvinā ll (10/64/3)

- To Narāśaṃsa and Pūṣaṇ I sing forth, uncocealable Agni kindled by the Gods. To Sun and Moon, two Moons, to Yama in the heaven, to Trita, Vāta, Dawn, Night and A śvins Twain (tr: ibid, p- 578). This 64th Sukta of 10th Mandala is dedicated to Viśvadevas, and the word narāśaṃsa in this verse refers to Viśvadevas.

The verse (10/182/2) of Rig-Veda says:

Narāśaṃso na avatu prayāje śaṃ no
astvanuyajo habeṣu l

Kṣipadaśtimapa durmati hannathā
karadyajamānāya śam ṣoḥ ll (10/182/2).

- May Narāśaṃsa aid us at Prayāja; blest be out Anuyāja at invokings. May he repel the curse, and chase ill-feeling, and give the sacrificer peace and comfort (tr: ibid, p- 650). The 182nd Sukta of 10th Mandala, to which the above verse belongs, is dedicated to Vṛhaspati, and hence the word narāśaṃsa refers to Vṛhaspati, the Priest of the Gods.

Another verse (1/53/9) of the Rig-Veda says,

Tvametāñjanarājño dvirdaśābandhunā
suśravasopajagmaṣaḥ l

ṣaṣtiṃ sahasrā navatiṃ nava śruto ni
cakreṇa rathyā duṣpadā vṛṇak ll (1/53/9)

-With all-outstripping chariot-wheel, O Indra, thou far-famed, hast overthrown the twice ten Kings of men, with sixty thousand nine-and-ninety followers, who came in arms to fight with friendless Suśravas (tr: ibid, p-36). To narrate the incident, Sayana, the renowned commentator of Rig-Veda, says that twenty kings with a force, 60,099 strong, attacked the King Suśrava (Prajapati) and Indra alone defeated them and frustrated their ambition (the Vayu-Purana also narrates the incident).

Most of the scholars agree that Rig-Veda was composed more than 5000 years BC, and hence the incident narrated in the verse (1/53/9) took place more than 7000 years ago. And Muhammad conquered Mecca in 630 AD. But Zakir Naik has proceeded to link the incident with Muhammad’s capturing Mecca, which any sane man, except a Muslim, would feel shy to undertake. To give his mischief a shape, Zakir Naik has, firstly replaced the word Suśrava with Suśrama and says that the word Suśrama stands for one who praises, and hence equivalent to Ahammad in Arabic, the other name of Muhammad. And he claims that the verse narrates Muhammad’s conquering Macca, as the then population of the city was about 60,000 and Muhammad had invaded Mecca with 20 of his closest followers. It is not difficult for the reader to discover the absurdity of the claim and the treachery of Zakir Naik.

The verse (8/6/10) of the Rig-Veda says,

Ahamiddhi pituṣpari
medhamṛtasya jagrabha l
Ahaṃ sūrya ivājrani ll (8/6/10)

– I from my Father have received deep knowledge of the Holy Law:
I was born like unto the Sun (Tr: ibid, p- 396).

In this verse the word ahamiddhi stands for “I have received”. But as the word spells like Ahammad, the other name of Muhammad, Zakir Naik claims that the verse mentions Muhammad, which only a lunatic can do.

Thus we have studied all the verses of the Rig-Veda which, according to Zakir Naik, mention Muhammad. It has been said above that the Sanskrit word narāśaṃsa stands for a deity or God who is praiseworthy to man and not a man who is praiseworthy to other men, as claimed by Zakir Naik. So, according to the asinine logic of Zakir Naik, whenever someone uses the word “praiseworthy”, it should be taken granted that he mentions Prophet Muhammad. I therefore ask Dr Naik, what he would say if a washerman tells that his donkey is praiseworthy, or someone tells that his pet dog is praiseworthy, or someone tells that his pair of shoes are praiseworthy ?

However, the genius of Dr Naik has been able to discover the word narāśaṃsa in other Vedas as well like Atharva-Veda and Yajurveda and is projecting them as mentioning of Muhammad. Though it is sheer wastage of time to deal with the utterances of an insane blockhead like Zakir Naik, we hope to discuss those matters in future.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby ali5196 » Sat May 31, 2008 5:54 pm

Gimana kalau dijadiin satu dgn :

Muhammad TIDAK Dinubuatkan Kitab Veda/Hindu
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... highlight=
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Resource Centre ttg Allah, Kabah & MUHAMAD



Who is online

Users browsing this forum: No registered users