.

Sheikh Pro-Israel Anti-Terror (2 artikel, yg terakhir****)

Analisa hubungan Islam dan Yahudi sejak jaman Muhammad dan Islam sampai saat ini.

Sheikh Pro-Israel Anti-Terror (2 artikel, yg terakhir****)

Postby Adadeh » Tue Nov 22, 2005 12:29 pm

http://www.frontpagemag.com/Articles/Re ... p?ID=19444

Sheikh Pro-Israel yang Anti-Terror
By Jamie Glazov
FrontPageMagazine.com | September 12, 2005

Tamu wawancara Frontpage hari ini adalah Sheikh Prof. Abdul Hadi Palazzi, Direktur the Cultural Institute of the Italian Islamic Community dan pengritik keras militan Islam.

FP: Hello Sheikh Palazzi, selamat datang di wawancara Frontpage. Suatu kehormatan bagi kami untuk bicara denganmu.

Palazzi: Aku yang merasa terhormat.

FP: Saat ini jarang ditemukan pemimpin2 Muslim yang terkemukan yang terang2an mencela pembom bunuh diri, apalagi bom bunuh diri terhadap orang2 Israel. Tapi engkau sangat keras mendukung berdirinya hak2 orang Israel. Mohon beritahu kami mengapa Anda sebagai seorang Muslim berpendapat begitu dan mengapa karena ini Anda menerima begitu banyak kritik dari beberapa bagian masyarakat Muslim.

Palazzi: Sebagai ilmuwan Hukum Islam, aku percaya bahwa Islam mengijinkan peperangan dalam keadaan tertentu (misalnya, hukum ini mengijinkan prajurit2 untuk berperang melawan prajurit2 musuh jika memang diperintahkan begitu oleh Negara), tapi sangat menentang melakukan tindakan serangan militer oleh perorangan, kelompok atau golongan (ini berarti fitnah), dengan tegas melarang penyerangan terhadap penduduk sipil dan dengan tegas melarang tindakan bunuh diri. Dengan begitu, sebagai seorang ilmuwan Muslim, secara prinsip aku harus mengutuk pemboman bunuh diri, tidak peduli siapa korbannya. Aku diwajibkan untuk mengatakan bahwa pembom bunuh diri sama sekali bukanlah martir Islam, tapi hanyalah seorang kriminal yang mati sewaktu melakukan tindakan yang dipandang Islam sebagai tindakan kriminal besar.

Tentang Israel, maafkan aku tapi aku mohon Anda menahan diri untuk mengatakan “hak hidup” Israel. Menyokong “hak hidup” Israel itu sama tidak dapat diterimanya dengan menentang hak itu sendiri, karena bahkan mempertanyakan apakah Bangsa Israel (Yahudi) – perorangan, kelompok atau negara – punya “hak untuk hidup” saja sudah tidak dapat diterima. Israel ada karena Perintah Tuhan dan ini ditegaskan di Alkitab dan Qur’an.

Aku temukan di Qur’an bahwa Tuhan menganugerahkan Tanah Israel pada Bangsa Israel dan memerintahkan mereka untuk berdiam di sana (Qur'an, Sura 5:21) dan sebelum Hari Akhir Dia (Tuhan) akan mengumpulkan Bani Israel dari berbagai negara dan bangsa (Qu'ran, Sura 17:104). Karena itu pula, sebagai Muslim yang taat akan Qur’an, aku percaya bahwa menentang berdirinya Negara Israel adalah menentang Perintah Tuhan.

Setiap kali bangsa2 Arab berperang melawan Israel, mereka menderita kekalahan yang memalukan. Menentang perintah Tuhan dengan berperang melawan Israel berarti bangsa2 Arab itu sama dengan berperang melawan Tuhan sendiri. Bangsa2 Arab itu tidak mengindahkan Qur’an, dan Tuhan menghukum mereka. Mereka tidak belajar apa2 dari pengalaman kekalahan yang satu ke kekalahan yang lain. Sekarang mereka mau menggunakan teror untuk mencapai apa yang tidak mereka dapatkan melalui perang: hancurnya negara Israel. Hasilnya sudah bisa ditebak: sama seperti dulu kalah waktu lalu, sekarangpun bangsa Arab kalah lagi.

Tahun 1919, Emir Feisal (ketua keluarga Hashemite yang adalah ketua keluarga Nabi Muhammad) mencapai Persetujuan dengan Chaim Weizmann untuk mendirikan Negara Yahudi dan Kerajaan Arab dengan sungai Yordan sebagai perbatasan diantara keduanya. Emir Feisal menulis,”Kami merasa bangsa Arab dan Yahudi adalah saudara sepupu dalam ras, dan keduanya telah menderita tekanan yang serupa dari kekuatan2 yang lebih kuat, dan secara kebetulan mampu untuk mengambil langkah2 awal terbentuknya negara2 mereka sendiri. Bangsa2 Arab, terutama yang berpendidikan, memandang gerakan Zionis dengan penuh simpati.”

Di masa Feisal, tidak ada yang menganggap pembentukan Negara Israel dan menerima faham Zionis sebagai hal yang menentang Islam. Bahkan para pemimpin Arab yang menentang Persetujuan Feisal-Weizmann tidak pernah menggunakan alasan2 Islami untuk mengutuknya. Sayangnya, persetujuan ini tidak pernah dilaksanakan karena Inggris menentang berdirinya Kerajaan Arab dan memilih untuk memberikan kemerdekaan Arabia kepada perampok2 Ibn Sa'ud, yakni kakek moyang Kerajaan Sa’ud.

Sewaktu keluarga Saudi mulai menguasai Kerajaan kaya minyak, mereka juga mulai menggunakan sebagian dari kekayaan mereka untuk menyebarkan paham Wahhabisme ke seluruh dunia. Wahhabisme adalah aliran kepercayaan totaliter yang dibentuk untuk melakukan teror, pembantaian penduduk sipil dan perang terus menerus melawan orang2 Yahudi, Kristen dan Muslim non-Wahhabi. Pengaruh Wahhabisme di dunia Arab modern in begitu kuat sehingga banyak Muslim Arab yang salah mengira bahwa untuk jadi Muslim yang baik, mereka harus membenci Israel dan mengharapkan kehancurannya.

Di negara2 di mana Wahhabisme tidak berkembang, gagasan untuk membenci Israel ini tidak diyakini. Kebanyakan para Muslim di Turki, India, Indonesia atau (dulu) Uni Soviet tidak percaya sama sekali bahwa seorang Muslim yang baik haruslah anti-Israel. Untuk memberikan contoh2 yang relevan, ilmuwan utama Muslim dan bekas Presiden Indonesia, Shaykh Abdurrahman Wahid, berteman baik dengan pihak Israel dan juga mengunjungi para pemimpin organisasi Yahudi di Amerika Serikat. Mufti Sierra Leone, Sheikh Ahmed Sillah, juga berteman dengan Israel, begitu pula Mufti Rusia Eropa, Sheikh Salman Farid.


Sebuah perkumpulan yang bernama “Muslim bagi Israel” baru2 ini dibentuk di Kanada. Mengutarakan pandangan yang pro-Israel tentunya mengakibatkan banyak reaksi negatif dari kelompok2 Wahhabi dan para Muslim yang terpengaruh oleh paham Wahhabi. Akan tetapi, kala orang2 itu menyerangku lewat kata2 dan menyebarkan berita2 bualan mereka yang sangat ngawur tentang aku, di lain pihak aku juga menerima dukungan semangat dan bantuan dari Muslim2 pro-Israel yang hidup di berbagai penjuru dunia.

Ketika mengunjungi Israel, aku disambut baik oleh wakil ketua2 desa2 Arab di daerah Yerusalem. Mereka memberitahuku betapa senangnya mereka hidup di Israel, dan bagaimana takutnya mereka untuk dipindahkan ke daerah kekuasaan PLO. Banyak penduduk Arab di Gush Katif saat ini yang berperasaan sama. Mereka berkata, “Orang2 Israel memberi kami pekerjaan dan kesempatan untuk hidup dengan damai. Masa depan apa yang menanti kami di bawah pemerintahan PLO?” Aku yakin jika mereka bisa bebas untuk bicara dan dapat melihat kenyataan melampaui sekedar propaganda, akan banyak Muslim Arab yang mendukung posisiku.

Irshad Manji, seorang wartawan Muslim pro-Israeli di Kanada, mengatakan bahwa beberapa Muslim mendukungnya terang2an, tapi lebih banyak Muslim yang mengatakan padanya,”Kami berada di pihakmu, tapi kami takut untuk mengatakannya.” Hal yang sama juga terjadi pada diriku di Itali atau ketika aku mengunjungi Israel. Seperti yang kita ketahui, sikap anti-Israel telah jadi sikap “politis yang benar” bagi orang2 Arab. Orang2 takut untuk menentang sikap “politis yang benar” bahwa jika mereka hidup dalam sistem demokrasi. Apa yang bisa diharapkan dari mereka yang hidup di bawah rejim totaliter dan tidak punya kesempatan untuk mendapat berita bebas dari berbagai media dan hanya boleh membaca propaganda Pemerintah saja? Dunia seharusnya memberi kesempatan bagi Muslim2 pro-Israel. Kita berhutang budi pada Anwar Sadat yang mati sebagai martir dibunuh oleh beberapa Wahhabi teroris yang saat ini menyebar teror di mana2.

Di tahun 1996, organisasi Islam-Israel Fellowship of the Root & Branch Association dibentuk oleh aku dan Dr. Asher Eder untuk mendukung kerja sama antara negara2 Israel dan Muslim, dan antara orang Yahudi dan Muslim di Israel dan luar negeri, untuk membangun dunia yang lebih baik melalui pengertian yang benar akan Tanakh (Alkitab) dan Budaya Yahudi, dan pengertian Muslim yang benar akan Qur'an dan Budaya Islam. Aku menganjurkan para pembaca FrontPage membaca "Peace is Possible between Ishmael and Israel according to the Qur'an and the Tanach (Bible)" oleh Dr. Eder, dengan Kata Pengantar dariku, dan ini bisa dibaca di [www.rb.org.il ]. Aku juga mengundang para pembaca untuk mengunjungi websiteku di [ www.amislam.com ].

FP: Terima kasih Sheikh Palazzi. Tolong beritahu kami, jika kau percaya ada kehidupan setelah mati, ke mana ya perginya jiwa2 para pembom bunuh diri?

Palazzi: Setiap orang yang mati sewaktu melakukan dosa2 besar seperti bunuh diri dan membunuh akan masuk neraka, kecuali kalau orang itu bertobat sebelum mati. Bagi dia yang mati tanpa minta ampun -- padahal dia punya keyakinan doktrin yang benar dan percaya bahwa perbuatannya adalah dosa – dia akan tinggal di neraka sampai dosanya diampuni atau mungkin bahkan dikurangi hukumannya melalui perantara nabi2 dan orang2 suci. Akan tetapi, mereka yang mati tanpa bertobat akan dosanya yang besar dan bahkan tidak percaya bahwa itu dosa besar, akan ditolak masuk surga dan tinggal di neraka selama Tuhan menghendaki. Akan tetapi, pengampunan Tuhan begitu besar sampai melampaui kemarahanNya, sehingga pada akhirnya neraka menjadi tempat yang melegakan.

Dalam Islam, baik pembunuhan maupun bunuh diri adalah dosa2 besar yang tidak boleh diragukan atau diabaikan oleh seorang Muslim pun. Setiap Muslim harus tahu bahwa melakukan bunuh diri dan membunuh itu dilarang dalam Islam, sama persis seperti setiap Muslim taku bahwa sehari harus sembahyang lima kali, bahwa bulan puasa adalah Ramadhan, dan untuk naik haji harus ke Mekkah, dll.

Dengan begitu, orang yang mati jadi bom bunuh diri dan percaya bahwa perbuatannya ini sesuai Islam, sebenarnya mati tanpa punya doktrin iman yang benar dan tanpa kesempatan bertobat, sehingga dia akan tinggal di neraka untuk selamanya dan tidak akan pernah bisa masuk surga. Menyangkal bahwa bunuh diri dan pembunuhan adalah dosa2 besar dalam Islam menunjukkan ketidaktahuan doktrin iman yang benar menurut Sharia.

FP: Mohon ceritakan pada kami pengalamanmu di University of California in Santa Barbara tanggal 4 Maret, 2004, sewaktu Anda berkunjung ke kampus dan mengutuk terorisme. Banyak pelajar2 Muslim dari Muslim Students Association di UCSB ber-teriak2 supaya kau berhenti bicara. Apa yang terjadi dan apa yang kaulakukan terhadap kejadian itu?

Palazzi: Kenyataannya, mereka yang menentangku mengunjungi UCSB adalah sekumpulan kecil pelajar, yang berhubungan dengan Muslim Student Association loka. (MSA adalah cabang perkumpulan pelajar Wahhabi Muslim Brotherhood). Aku undang mereka untuk berdebat, untuk menerangkan alasan2 mengapa mereka menentang kunjunganku dan/atau isi ceramahku.

Akan tetapi, mereka sama sekali tidak tertarik untuk berdebat dan berdiskusi. Mereka hanya meneriakkan slogan2 dan lalu pergi. Pelajar2 Muslim lainnya, yang tidak berhubungan dengan MSA, sebaliknya malah menghargai kunjunganku, dan bersama-sama dengan pelajar2 non-Muslim meneruskan bertanya padaku secara pribadi bahkan setelah debat umum selesai. Kecuali kelompok kecil yang bermusuhan itu, baik pelajar2 Muslim dan non-Muslim UCSB ramah dan tertarik pada masalah2 diskusi.

FP: Dapatkah Anda menerangkan pada kami sisi manusiawi dan toleran dalam Islam?

Palazzi: Berbeda dengan Wahhabisme, yang merupakan agama teror, ancaman dan kekerasan, Islam Sunni adalah agama yang damai dan penuh toleransi. Seorang Muslim wajib jadi warga negara yang setia di negara tempat dia tinggal, dalam pengertian negara itu tidak melarangnya beribadah dan tidak memaksanya pindah agama. Jika pemerintah negara ini berbentuk tirani, melakukan korupsi, menekan, dll, seorang Muslim dapat melawan melalui jalur hukum dan tidak melalui kekerasan. Jika dia merasa tekanan pemerintah itu tidak tertahankan, dia harus pergi ke tempat lain. Ini berlaku baik saat Muslim adalah masyarakat mayoritas ataupun minoritas, atau jika pemimpin negara itu adalah Muslim ataupun bukan Muslim.

Islam Sunni mengakui beberapa bentuk usaha untuk mendukung Islam (jihad), dan mengakui bentuk jihad militer. Dalam pengertian Sunni, jihad militer hanya dapat dibentuk oleh Negara Islam. Orang2 Muslim tidak boleh menyelenggarakan persengketaan bersenjata atas keinginan sendiri, tapi hanya boleh setelah kepala Negara Islam secara formal mengumumkan perang terhadap negara lain yang menindas Muslim atau menghalangi kebebasan beragama mereka. Sumber2 Islami meramalkan bahwa Negara Islam (Kalifah) akan habis, dan para Muslim dan non-Muslim selama beberapa saat akan berada di bahwa pemerintahan negara2 sekuler saja.

Menurut kepercayaan Sunni, Kalifah akan dibentuk kembali saat Hari Akhir oleh Imam al-Mahdi, dan bukan oleh para politikus atau penguasa2 militer. Selama Imam al-Mahdi belum datang, Kalifah tidak mungkin terbentuk kembali, dan tanpa Kalifah, tidak mungkin ada jihad militer. Jihad yang sah saat ini adalah jihad non-militer, yakni bersaing dengan non-Muslim untuk melakukan perbuatan baik seperti menciptakan dunia yang lebih baik dan mendirikan perdamaian yang langgeng.

Kaum Wahhabi hanyalah mengambil kata2 dalam Hukum Islam dan menggunakannya untuk melawan Hukum Islam itu sendiri. Dalam Hukum Islam, terorisme itu adalah dosa, dan bunuh diri juga dosa. Kaum Wahhabi menggunakan kata “jihad” untuk tindakan bunuh diri dan “martir” bagi mereka yang mati saat melakukan bunuh diri. Karena masalah pembunuhan dan bunuh diri ini, pertentangan antara Islam Sunni dan Wahhabisme sifatnya mendasar dan tidak dapat didamaikan.

FP: Ceritakan pada kami sedikit mengenai latar belakangmu dan perjalanan intelektual dan spiritualmu. Siapakah guru atau orang yang berpengaruh bagimu? Apakah filosofi dan pandanganmu selalu sama atau berbeda dengan berlalunya waktu? Ceritakan pada kami hal2 yang mengubah cara pandangmu atau telah membuatmu ragu dalam tahun2 beriktunya.

Palazzi: Aku lahir di Roma dari keluarga Muslim yang tidak terlalu taat dan tidak begitu tertarik akan agama. Saat itu di Itali tidak ada organisasi Muslim atau pun fasilitas agama. Pendidikan agama yang kuterima hanyalah beberapa huruf2 Arab dan pengetahuan umum akan hari2 libur Islam. Meskipun begitu, sejak kecil aku sudah biasa tertarik akan hal spiritual dan metafisik. Ini sebabnya aku belajar filosofi di State University of Rome.

Pada saat itu, aku mulai ingin menemukan kembali akar Islamku. Setelah menyelesaikan pendidikan sekuler, aku pindah ke Kairo dan belajar di al-Azhar Islamic University. Di Kairo, aku punya kesempatan belajar dari guru2 terbaik. Dulu al-Azhar tidak seperti sekarang yang telah jadi sarang para fanatik dan ekstrimis Wahhabi dan neo-Salafi. Saat itu al-Azhar masih jadi pusat pendidikan Islam tradisional.

Ketika masih hidup di Kairo, aku dapat kesempatan mempelajari Sufisme, tradisi mistik Islam, di bawah guru utamaku Sheikh Ismail al-Azhari dan Sheikh Hussein al-Khalwati. Aku juga beruntung bisa belajar dari Mufti Mesir saat itu yakni almarhum Sheikh Muhammad al-Mutawali as-Sha'rawi, yakni orang yang meyakinkan Sadat untuk berdamai dengan Israel dan pergi bersamanya ke Yerusalem untuk sembahyang di mesjid al-Aqsa.

Ketika aku kembali ke Roma, aku bertemu dengan Muslim2 lain yang berpandangan sama denganku dan kami ber-sama2 mendirikan organisasi yang hari ini disebut Italian Muslim Assembly. Ketika masih remaja, aku belajar beberapa ideologi dan filosofi, dan pengetahuan ini mempengaruhiku. Akan tetapi, setelah belajar di Kairo, aku menganggap masa dasar pembentukan intelektual dan spiritualku sudah lengkap. Filosofi spiritualku kurang lebih tetap sama sampai hari ini.

FP: Apa pendapatmu tentang Paus Yohanes Paulus II? Apa pendapatmu tentang Paus yang baru?

Palazzi: Kupikir almarhum Paus Yohanes Paulus II punya sifat yang bertentangan. Dia membuat keputusan yang sangat maju (pertemuan antar agama, mengunjungi mesjid2 dan sinagog2, dll), tapi theologi pribadinya sangatlah konservatif dan kadang2 bahkan naif. Dia mengumumkan permintaan maaf akan tindakan kejahatan yang dilakukan gereja terhadap kaum Yahudi, tapi setelah itu mengangkat orang2 yang sangat kontroversial seperti penggantinya Pius IX (salah satu musuh besar demokrasi dalam sejarah umat manusia), dan bahkan Kardinal Stepinac yang pro Nazi Kroasia.

Paus Yohanes Paulus II tidak melakukan apapun untuk memberhentikan pendeta2 dan bishop2 yang bekerja sama dengan pembunuh2 masal seperti Saddam Hussein atau Yasser Arafat, dan tidak mau untuk bertindak tegas terhadap para bishop yang berusaha menutup-nutupi skandal pendeta2 fedofil. Dia merestui perang di Kosovo untuk membebaskan masyarakat yang ditindas Milosevic, tapi tidak berani mendukung perang untuk membebaskan Irak dari Saddam Hussein. Penolakannya untuk merestui tentara sekutu internasional berperang demi membebaskan Irak adalah sesuatu yang sukar dimaafkan bagiku sebagai seorang Muslim karena aku tidak dapat lupa organisasi2 Katolik baris bersama dengan organisasi2 komunis dan neo-Nazi untuk memprotes “Perang Bush” dan mendukung rejim Saddam Husein.

Tentang hal2 lain seperti kontrol kehamilan dan embriologi, sikap Yohanes Paulus II sangat tidak jelas dan cenderung kolot. Dia membandingkan aborsi dengan pembantaian yang dilakukan Nazi dan Komunis. Dia mengadakan dialog antara Gereja dan agama2 non-Katolik, tapi mengijinkan Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benedict XVI) untuk memberangus perdebatan dan perbedaan dalam gereja Katolik itu sendiri.

Dari sudut pandang politik, Yohanes Paulus II mendukung interfensi Gereja secara langsung dan terus-menerus pada negara2 Eropa, terutama Italia. Banyak orang Italia, yang meskipun menganut agama Katolik Italia, merasa kecewa bahwa seorang Paus asing (dari Polandia) ikut campur dalam penerapan hukum mayoritas dan perlawanan kelompok minoritas di negara kami, dan memandang ini sebagai pelanggaran terhadap kehormatan negara kami.

Kesimpulannya, aku harus berkata bahwa wejangan Yohanes Paulus II bersifat gelap dan terang. Tindakan2 yang baik diimbangi dengan banyak tindakan2 yang buruk.

Tentang Benedict XVI, kalau melihat dokumen2 yang dia tandatangai ketika dia menjabat Presiden dari Congregation for the Doctrine of the Faith (dulu dikenal sebagai "Sacred Congregation of the Universal Inquisition"), dia tampaknya bahkan lebih konservatif dibanding Yohanes Paulus II, dan malah cenderung kurang toleransi terhadap perbedaan pandangan dalam Gereja Katolik. Dalam salah satu dokumen itu, yakni Pengumuman "Dominus Jesus", Kardinal Ratzinger saat itu menjelaskan bahwa “dialog antar agama harus dimengerti sebagai bagian dari kegiatan misionaris Gereja Katolik.” Dokumen ini secara jelas mengatakan bahwa agama2 non-Katolik “salah sekali” dilihat dari sudut pandang agama dan etika.

Semua ini sama sekali tidak menggembirakan. Kita sekarang punya Paus, yakni Benedict XVI, yang menolak adanya perbedaan pendapat. Dia tidak melihat Gereja Katolik sebagai bagian masyarakat yang harus hidup bersama dengan bagian lain dengan dasar kesamaan hak dan martabat, tapi dia melihat Gereja Katolik sebagai seorang tuan yang harus mendidik masyarakat.

Menurut pandangan Benedict XIV, agama2 tidak mewakili perbedaan pandangan spiritual, yang masing2 bisa menyumbangkan sebagian pengertian tentang misteri Tuhan. Benedict berpikir kebenaran akan Tuhan telah diketahui, dan Paus (yakni dirinya sendiri) adalah satu2nya ornag yang ditunjuk sebagai penyampai kebenaran itu. Orang2 Katolik dan non-Katolik harus dididik akan hal ini oleh dia yang mewakili kebenaran di bumi.
Dialog tidak dilihat sebagai hal untuk menjembatani perbedaan, tapi sebagai alat untuk mengarahkan agama2 lain supaya berpandangan sama dengan Katolik. Kalau melihat kelakuan Paus2 terdahulu seperti Yohanes XXIII dan Paulus VI, maka Paus Benedict XVI secara riskan mengambil resiko menghilangkan hasil Second Vatican Council dan mengembalikan teologi Katolik seperti jaman Anti Reformasi.

Karena itu, Ratzinger adalah seorang Paus yang mengajarkan pengertian totaliter agama. Dan kebetulan pula dia adalah Paus pertama yang ikut dalam gerakan anak muda Jerman Nazi. Mungkin hal masa lalu ini tidak ada akibatnya dengan orang2 Yahudi, tapi Benedict baru2 ini memilih untuk tidak mengikutsertakan negara Israel dalam pernyataan solidaritas dengan negara2 yang menderita serangan teroris. Waktu pemerintah Israel protes akan hal ini, jawaban dari Kantor Berita KePausan ternyata sombong, merendahkan, dan tidak memandang penting, lalu menambah penghinaan pada kesalahan awal tidak menyertakan nama Israel. Ini suatu dosa yang jika diperhatikan ternyata dilakukan oleh seorang Paus Bavaria yang dulunya adalah anggota pemuda Jerman Nazi dan serdadu Wehrmacht Jerman Nazi.

FP: Anda tentu saja benar dalam beberapa hal. Aku harus mengatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II adalah orang yang sangat hebat yang melakukan pemimpinan spiritual yang sangat penting dan berarti di masa2 yang tak menentu. Pekerjaannya bukanlah untuk memenangkan kontes popularitas. Kupikir dalam beberapa hal dia adalah orang yang sangat suci dan mendatangkan terang dalam dunia yang gelap. Dia tegas dalam beberapa masalah bilamana memang perlu bersikap tegas. Dan tentu saja dia juga berperan sangat penting bagi hancurnya kerajaan setan (komunisme).

Ributnya media tentang Benedict XVI ikut gerakan pemuda Jerman Nazi merupakan tuduhan yang jahat dan murahan. Paus Benedict XVI tidak pernah jadi seorang Nazi dan semua orang juga tahu hal itu. Semua anak2 muda Jerman saat itu dipaksa jadi anggota Pemuda Hitler – termasuk dia. Paus ini telah menunjukkan sikapnya yang jelas terhadap kejahatan Nazisme dan anti-Semitisme.

Palazzi: Meskipun “semua anak2 muda Jerman saat itu dipaksa jadi anggota Pemuda Hitler,” Ratzinger muda telah membantu tampa paksa unit tempur Pemuda Hitler. Keadaan ini ditegaskan oleh Kantor Berita Vatikan. Tentu saja kita melihat dia sebagai pemuda yang hidup di saat indoktrinasi Nazi yang sistematis, tapi setidaknya selama waktu itu Joseph Ratzinger adalah seorang yang yakin akan kebenaran Nazi dan memilih untuk masuk unit tentara memerangi tentara Sekutu. Aku tidak ragu bahwa imannya lalu menunjukkan kejahatan Nazisme dan Anti-Semitisme, tapi ini terjadi setelah Perang Dunia II, dan bukan sebelumnya.





FP: Sheikh Palazzi, bukti menunjukkan bahwa Paus secara suka rela membantu unit tempur Nazi adalah sama sekali tidak benar. Paus dapat menghindar orang2 yang memaksa dia “secara sukarela” masuk unit tempur dengan mengumumkan keinginannya untuk jadi pendeta. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Kantor Berita Vatikan mengatakan yang sebaliknya. Ratzinger diberhentikan dari Pemuda Hitler karena kegiatan belajarnya akan hal2 relijius dan dia meninggalkan tentara Jerman. Dia tidak pernah ikut rapat2 Pemuda Hitler dan profesor seminarinya mengamankan “bukti” kehadirannya atas nama profesor itu.

Dan dengan tuduhan palsu ini Anda menuduh Ratzinger saat itu sebagai “prajurit yang yakin akan kebenaran Nazi”. Tuduhan ini, maaf ya dengan segala hormat, adalah kepalsuan sejarah dan penghinaan pribadi. Kata2 Ratzinger sendiri, orang2 yang dekat dengannya dan keluarganya semua mengatakan yang sebaliknya: bahwa dia dan seluruh keluarganya adalah anti-Nazi. Tidak ada jejak Nazisme sama sekali pada segala perbuatan Ratzinger setelah perang, dan tampaknya banyak orang yang hanya ingin menyerangnya secara pribadi dan pandangan agamanya yang konservatif. Sungguh hal yang sangat tak layak dilakukan.

Baiklah, mari kembali ke perang teror. Apakah cara yang terbaik bagi negara2 Barat untuk memerangi teror? Apa pendapatmu akan usaha Amerika memerdekakan Irak?

Palazzi: Untuk menang perang, orang harus tahu siapakah musuh mereka dan mematahkan rantai komando musuh. Perang Dunia II dimenangkan kala tentara Jerman dihancurkan, Berlin ditaklukkan dan Hitler disingkirkan. Untuk menang melawan teror, sangat penting diketahui bahwa al-Qaida adalah organisasi milik Saudi, diciptakan oleh Kekuasaan Sa’ud, dibiayai dengan uang keuntungan jual minyak oleh Kekuasaan Sa’ud dan digunakan Kekuasaan Sa’ud untuk kegiatan2 teror massal terutama melawan negara2 Barat dan juga seluruh dunia.

Karena itu, untuk benar2 bisa menang dalam Perang atas Teror, Amerika harus menyerang Saudi Arabia, menangkap Raja Abdallah dan 1.500 pangeran2 lainnya yang tergabung dalam Kekuasaan Sa’ud, membekukan aset duit mereka, menggulingkan kekuasaannya, dan mengirim mereka semua ke Guantanamo untuk dipenjara seumur hidup.

Setelah itu sangat penting untuk mengganti rejim teror Saudi-Wahhabi dengan rejim yang moderat, non-Wahhabi dan pro-Barat, seperti monarki Muslim Sunni Hashemite.

Sebelum semua ini dilakukan. Perang atas Teror tidak akan bisa dimenangkan. Memang mungkin untuk menghancurkan al-Qaida, menangkap atau membunuh Bin Laden, al-Zarqawi, al-Zawahiri, dll, tapi tidak dapat menghentikan perang. Beberapa tahun kemudian, pangeran2 Saudi akan mulai lagi mendanai organisasi teror yang serupa. Rejim Saudi hanya bisa tetap berdiri dengan menambah dukungan terhadap teror.

Rejim Saddam adalah salah satu diktator kriminal yang terjahat yang pernah ada di dunia, dan menghancurkan rejim ini merupakan usaha yang patut dipuji. Sebagai seorang Muslim, aku berterima kasih kepada Presiden Bush, kepada negara2 yang bergabung dengan Pasukan Koalisi (Gabungan) dan para tentara yang berperang di sana. Menghancurkan rejim Taliban di Afghanistan dan rejim Saddam Hussein di Irak sungguh suatu usaha yang layak dipuji, tapi aku menyesal karena Gedung Putih hanya fokus pada musuh2 kelas dua dan melupakan musuh utama yakni kerajaan Saudi.

FP: Apa pendapatmu tentang Presiden Bush?

Palazzi: Aku sungguh kecewa akan dia. Tadinya aku berharap bahwa setelah Saudi terori menyerang A.S. di 9/11, mereka akan meninjau kembali hubungan A.S. dengan Saudi. Langkah pertama yang Presiden Bush seharusnya lakukan setelah serangan 9/11 adalah segera mengamankan seluruh badan milik Saudi di A.S. dan mengakui bahwa menganggap kerajaan Saudi sebagai “kawan” adalah dosa yang mematikan yang menunjukkan kegagalan politik luar negeri dan ekonomi A.S. selama enam puluh tahun.

Badan2 pemerintahan A.S. punya banyak bukti tentang peranan Kerajaan Sa’ud dalam mendanai jaringan teror di seluruh dunia. Warga negara Amerika bahkan bisa membaca di surat2 kabar bahwa beberapa hari sebelum 9/11 Muhammad Ata menerima chek dari istri bekas duta besar Saudi di Washington, yakni Pangeran Bandar, tapi sungguh sukar dimengerti bahwa kenyataan ini tidak mengakibatkan apapun. Mari kita pikir kenyataan yang sudah jelas: istri duta besar luar negeri membayar teroris untuk membunuh ribuan warga negara Amerika, dan pemerintah Amerika tidak hanya tidak mengumumkan perang terhadap negara itu (Saudi Arabia), tapi bahkan juga tidak memutuskan hubungan diplomasi dengan negara itu.

Sebaliknya, Pangeran Abdallah yang saat itu calon Raja Saudi, pencipta al-Qaida (bersama-sama dengan duta besar baru Saudi bagi A.S., bekas duta besar Saudi untuk Inggris, dan biang 9/11 yakni Pangeran Turki al-Feisal) seketika diundang datang ke tanah peternakan Bush sebagai tamu yang terhormat, dan Bush mengatakan padanya, “Kau adalah sekutu kami dalam Perang atas Teror”! Dapatkah kau bayangkan FDR (Fraklin Delano Roosevelt) mengundang Hitler ke Amerika dan mengatakan padanya, “Kau adalah sekutu kami dalam Perang atas Fascisme di Eropa”?

Sesuatu yang serupa terjadi pula setelah 9/11. Kerajaan Saudis mendukung kampanye pemilihan Presiden tahap 4 tahun pertama buat Bush. Sebagai balas jasa, mereka lalu minta Bush untuk menjadi Presiden Amerika yang pertama yang menganjurkan pembentukan Negara Palestina. Begitu dia terpilih, Bush tidak mau tunduk pada perjanjian itu sehingga terjadilah 9/11.

“Kami bayar kampanye pemilihanmu, dan sekarang kau musti melakukan apa yang kami inginkan”, begitulah pesan dari serangan 9/11. Bush seketika mulai melakukan apa yang Saudi inginkan dari dia: mendesak Israel untuk mundur dari Yudea, Samaria dan Gaza, dan bahkan memerintahkan untuk mengijinkan pembentukan negara PLO. Media Barat menyebutnya “Peta Jalan,” sedangkan media Arab menyebutnya dengan nama aslinya: “Rencana Abdallah.”

Orang2 umumnya mendengar tentang Presiden A.S. yang memimpin “Perang atas Teror” dan menyebarkan paham “demokrasi” dan “kemerdekaan” di dunia Islam, tapi pada kenyataannya dia hanyalah seorang Presiden Amerika yang – setelah diserang teror Saudi – tunduk pada permintaan Saudi, menyembunyikan peranan Saudi di belakang al-Qaida dan meminta Israel, satu2nya negara demokrasi di Timur Tengah, untuk menyerahkan bagian negaranya untuk dijadikan rejim diktator yang baru, dipimpin oleh deputi Arafat yang bernama Abu Mazen, yakni teroris yang mengatur pembantaian atlit2 Israel di Olimpiade Munich 1972.

Secara teoritis, Bush mengaku tujuannya adalah untuk menghukum teror dan menyebarkan demokrasi, tapi Peta Jalan ini menunjukkan hal yang sebaliknya: menghukum korban2 teror dan menghadiahi teroris, mendesak demokrasi mundur untuk menciptakan rejim diktator Islam yang baru. Bagi A.S. hanya ada satu sekutu yang layak dipercaya di Timur Tengah: Israel.

Sekarang Bush menghukum sekutu Amerika yakni Israel untuk menghadiahi mereka yang mendukung Saddam Husein, mereka yang mendemonstrasikan kebencian dengan membakar bendera Amerika dan menyebut Amerika “kekuatan imperialis yang dikendalikan Zionisme”. Dengan bertindak begitu, Bush secara serius mengambil resiko untuk jadi Presiden Amerika yang paling anti-Israel dan anti-Yahudi.

Mari kita lihat korban2 politik luar negeri Bush yang akan datang, pada para penduduk di Gush Katif. Apa salah mereka? Apa yang mereka lalukan sehingga harus diusir dari rumah mereka dan tanah pertanian dan bisnis mereka diambil alih? Mereka hidup dengan damai, kerja keras dan menghasilkan lapangan kerja bagi ribuan orang2 Arab Gaza. Untuk menyenangkan kerajaan Saudi, Bush meminta Judenrein Gaza, dengan penduduk Yahudi di Gush Katif dipindahkan dari tempat tinggal mereka, rumah2 mereka dihancurkan dan bahkan kerangka keluarga mereka dibongkar dan dikuburkan di tempat lain.

Jika seorang berkata “Orang2 Yahudi, hanya karena mereka orang2 Yahudi, mereka harus pindah dari New York dan dengan paksa harus tinggal di New Jersey”, maka seluruh dunia akan teriak2 dan berkata ini pemindahan paksa rasial, pembersihan etnik, pelanggaran HAM, dll. Sekarang dengan mendukung Rencana Saudi yang anti-Israel ini, Bush melakukan prinsip yang sama: dia menerima pandangan bahwa Yahudi, hanya karena mereka lahir sebagai orang Yahudi, harus dipindahkan dari tempat tinggal mereka di Yudea, Samaria dan Gaza, dan harus tinggal di tempal lain.

Sepanjang sejarah, orang2 Yahudi selalu dipaksa pindah dari satu negara ke negara lain oleh pemerintah2 Roma, Paus, Tsar, Nazi, dll. Sekarang terima kasih atas politik Bush, orang2 Yahudi harus dipindahkan dari Israel bukan oleh rejim2 anti-Semitik, tapi oleh Yahudi2 lain dan tentara2 Yahudi. Ini memang taktik politi normal diktator2 Arab guna melakukan pembersihan rasial dan pemindahan kaum Yahudi, tapi sungguh sukar dipercaya bahwa seorang Presiden Amerika menyetujui proyek seperti itu dan memaksa Israel untuk menerimanya.

Aku kaget ketika menyadari Presiden Amerika mendukung pembersihan etnik Yahudi dari beberapa bagian tanah Israel, dan ketua2 organisasi Yahudi Amerika diam saja dan bahkan menyetujui rencana pemindahan ini. Hanya beberapa yang menentang, seperti Zionist Organization of America (Morton Klein), Americans for a Safe Israel (Herb Zweibon and Helen Freedman), National Council of Young Israel (Pesach Lerner) dan beberapa kelompok yang lain, tapi kebanyakan organisasi Yahudi di Amerika bekerja sama dengan rencana2 Bush melawan saudara2 mereka sendiri di Israel.

Akitab Peta Jalan ini sungguh mengejutkan: seorang Yahudi tidak dianggap sebagaimana manusia lain karena dia bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tergantung dari alur politik yang ditentukan oleh penghasil minyak. Memindahkan orang2 Yahudi dan memecah belah Israel memang rencana asli para diktator Arab dan didukung oleh Uni Soviet.

Amerikat telah terus-menerus menentang politik rasis ini dan mendukung Israel melawan para teroris yang ingin menghancurkannya. Sekarang Bush menganugerahkan kemenangan bagi para teroris itu: apa yang tidak bisa dicapai dengan teror bisa dicapai oleh Kekuatan Bersenjata Israel dengan dukung PBB. Kerajaan Saudi telah berhasil mendesak Presiden Amerika untuk mengkhianati sekutu2 Amerika dan memaksa terbentuknya negara Palestina yang dikontrol oleh para teroris.

Presiden Bush mengaku sebagai orang Kristen yang telah hidup baru dan mengaku baca Alkitab setiap hari. Alkitab berkata bahwa Tuhan menganugerahkan tanah Israel sebagai warisan keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub, dan memberikan bagian lain sebagai warisan pada orang lain. Seperti yang ditegaskan di Qur’an dan tradisi Islam, Abraham sendiri mewariskan keturunan Ishak tanah Israel dan mewariskan keturunan Ishmael tanah lain, seperti semenanjung Arab.

Sekarang keturunan2 Ishmael, yakni orang2 Arab, punya daerah raksasa yang menyebar dari Maroko sampai Irak. Keturunan Ishak, yakni orang2 Yahudi, sebaliknya hanya punya tanah yang kecil dan sempit. Akan tetapi, diktator2 Arab tidak puas dengan daerah mereka yang begitu luas. Mereka mau lebih lagi. Mereka mau merampas warisan kecil milik bani Israel, dan melakukan teror untuk mencapai keinginannya.

Presiden2 Amerika telah selalu melawan usaha2 untuk mencuri tanah orang2 Israel yang diberika Tuhan pada mereka. Sekarang kita punya Presiden Amerika yang ngaku menghormati Alkitab, tapi mau memberikan tanah milik orang Yahudi pada para diktator Arab. Dengan melakukan hal ini, Bush tidak hanya menghadiahi teror, mendukung terjadinya teror lain dan menunjukkan dunia tidak hanya teror berhasil baik, tapi dia juga melawan kehendak Tuhan. Aku berdoa agar orang2 Amerika dilepaskan dari hukuman Tuhan atas tindakan politik anti-Israel, anti-Yahudi dan anti-Tuhan.

FP: Memang adalah suatu tragedi bagi bangsa Yahudi yang tidak dibela sebagai mana mestinya. Dan pelepasan daerah Gaza mengandung banyak resiko2 bahaya. Tapi ada strategi2 cerdik yang jadi alasan dan ini adalah bagi kepentingan2 Israel. Kita tidak boleh lupa bahwa Bush dan Sharon membuat langkah2 yang bijaksana dan diperhitungkan dalam konteksnya sendiri. Ini lebih kompleks daripada hanya melihatnya sebagai usaha pengkhianatan yang jahat belaka. Tapi kita bisa debat akan hal ini di lain waktu.

Mari kita beralih pada hal2 pribadi untuk sesaat. Apakah buku2 favoritmu?

Palazzi: Aku lebih suka baca buku yang berhubungan dengan hal spiritual. Aku terutama tertarik pada perbandingan antara Sufisme dan Kabbalah, dan karena itu aku menganggap consider "al-Futuhat al-Makkiyyah" oleh Ibn 'Arabi and the "Zohar" sebagai sumber pengetahuan dasarku. Aku juga tertarik pada penelitian mistik monotheisme, dan karena itu menghargai Upanishad, Vedantasutra dan Purana dari tradisi Hindu, Panduan Budha dan Philokalia Yunani. Aku juga tertarik pada sejarah Timur Tengah. Buku2 seperti "Battle Ground" oleh Shmuel Katz dan "The Secret War Against the Jews" oleh John Loftus adalah bagian dari buku2 favoritku.

FP: Apakah Anda mendengarkan musik? Jika ya, musik apa yang kau dengar?

Palazzi: Karena ketertarikan akan bidang akademis ethnomusicology dan upacara dansa, aku setiap waktu mendengar musik2 Medieval, termasuk Arabic-Andalusi, Maghrebi, Persian, European atau Byzantine. Lalu aku juga suka musik symphoni, dan komposer kesukaanku adalah Bruckner, Mahler dan Stravinsky. Aku juga suka jazz, terutama dari New Orleans.

FP: Apakah pendapatmu tentang ekstrimis Islam yang menganggap musik itu sesat? Contohnya, Taliban melarang semua musik, Khomenei melarang banyak musik Barat, dll. Ada apa dalam musik sehingga dianggap begitu mengancam? Bukankah musik adalah karunia Ilahi? Apakah kau menganggap menari sebagai anti Islam?
Palazzi: Khomeini tidaklah seekstrim Taliban (yang mengikuti Saudi Wahhabism dari India yang dikenal sebagai Deobandism) atau kerajaan Saudi dalam hal musik. Khomeini tidak pernah berprinsip musik itu dari setan. Dia agak menekankan pilihan pribadinya akan musik apa yang dapat diterima dan apa yang tidak. Khomenei menganggap musik tradisional Islam dan musik klasik Barat dapat diterima, tapi musik pop Barat tidak dapat diterima. Sebaliknya dengan Taliban, mereka bahkan juga melarang musik Sufi dan tradisional Islam, dan kerajaan Saudi juga melakukan hal yang sama sampai hari ini.

Beberapa ilmuwan2 Muslim di masa lalu membatasi pilihan musik yang dapat diterima dalam jumlah minimum, tapi Imam al-Ghazali, pemimpin sekolah ilmu hukum Shafi’i di mana aku belajar, lebih memilih untuk menekankan nilai positif dari musik. Di salah satu bab di buku al-Ghazali yang ditulis dalam bahasa Persia "The Alchemy of Happiness", berjudul "Concerning Music and Dancing as Aids to the Religious Life".

al-Ghazali menulis: “Hati manusia diberi kuasa oleh Tuhan sehingga, seperti bara api, mengandung api terselubung yang dikobarkan oleh musik dan harmoni, dan membawa manusia kepada kegembiraan. Harmoni musik ini bergaung dunia indah yang lebih tinggi yang kita sebut sebagai dunia roh; harmoni musik ini mengingatkan manusia akan hubungannya dengan dunia itu, dan menghasilkan emosi yang sangat dalam dan aneh yang dia sendiri pun tidak dapat menerangkannya. Pengaruh musik dan menari itu lebih dalam proporsinya sebagaimana sifatnya yang dengan mudah mempengaruhi emosi; harmoni ini membakar api cinta apa pun yang telah ada dalam hati, baik itu cinta duniawi dan sensual, atau ilahi dan spiritual”.

Jika ilmuwan lain mencoba menggolongkan musik instrumen dan gaya2 musik yang diijinkan atau dilarang berdasarkan selera pribadi, Imam al-Ghazali sebaliknya menggolongkan musik dari akibat yang ditimbulkan dalam hati: musik yang menyokong nafsu2 imoral dan jorok harus dihindari, sedangkan musik yang menggaungkan harmoni jiwa dan membangkitkan penelaahan diri haruslah didengar. Jenis musik yang kedua ini jelas merupakan pemberian ilahi. Sampai hari ini pemusik Sufi memainkan lagu2 tradisional dan melodi mistik untuk meningkatkan rasa cinta akan Tuhan dan mengajak pendengarnya menari bahagia.

FP: Jadi Anda pernah menari mengikuti musik kesukaanmu?

Palazzi: Aku hanya kadang2 menari menurut ajaran pendidikan Mevlevi sebagaimana yang mereka terima dari Naqshbandi and Perintah2 Qadiri Sufi, tapi aku juga mengajar murid2ku, dengan ijin Sheikh2-ku, apa yang dikenal di dunia Barat sebagai tarian ritual Whirling Dervishes. Dalam bahasa Arab, tarian ini dikenal sebagai Sama’, yang artinya adalah “mendengar”.




FP: Apakah Anda berpendapat pemakaian kerudung pada wanita Muslim harus diwajibkan atau terserah mereka saja?

Palazzi: Pakai kerudung atau tidak haruslah pilihan wanita Muslim itu sendiri. Tidak seorang pun punya hak untuk memaksa dia menggunakan kerudung. Sama seperti sembahyang, puasa, dan praktek2 agama lain, berkerudung juga punya arti dan ini menunjukkan keinginan seseorang untuk menyenangkan Tuhan dengan menelaah ajaran agamanya. Memaksa orang untuk menelaah ajaran agama tidaklah menambah imannya, tapi malah semakin munafik. Orang seperti ini tidak sembahyang, puasa, atau pakai kerudung sebagai ekspresi iman atas ajaran agama yang dipilih secara bebas dan dipercaya sebagai perintah Tuhan, tapi dia melakukannya hanya karena ancaman orang lain.

Karena itu pula, aku sangat mengutuk rejim2 seperti Saudi Arabia dan Iran yang memaksa wanita2 yang tak berminat untuk berkerudung; dan rejim2 Turki dan Perancis y ang melarang wanita2 untuk berkerudung. Kebebasan beragama yang ideal menurutku adalah jika seorang wanita ingin berkerudung, dia boleh bebas melakukannya, dan Negara harus menjamin haknya untuk berkerudung; begitu pula jika dia tidak mau berkerudung, Negara pun harus menjamin hak kebebasannya pula.

To continue reading this interview, click here.
Jamie Glazov is Frontpage Magazine's managing editor. He holds a Ph.D. in History with a specialty in Soviet Studies. He edited and wrote the introduction to David Horowitz’s new book Left Illusions. He is also the co-editor (with David Horowitz) of the new book The Hate America Left and the author of Canadian Policy Toward Khrushchev’s Soviet Union (McGill-Queens University Press, 2002) and 15 Tips on How to be a Good Leftist. To see his previous symposiums, interviews and articles Click Here. Email him at [email protected].
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby ali5196 » Sun Dec 11, 2005 5:28 am

The Koran and the Jews
By Jamie Glazov
FrontPageMagazine.com | June 3, 2004
Frontpage Interview's guest today is Prof. Khaleel Mohammed, Assistant Professor at the Department of Religious Studies at San Diego State University.

FP: Prof. Mohammed welcome to Frontpage Interview.

Mohammed: You do me a great honor. Thank you for giving me this opportunity to introduce my views to your readers. As you know, I am interested in a moderate Islam, one that is inclusive and is concerned about all human rights. My mission is to help reclaim the beauty that once was practiced in Islam, a message not currently in fashion amongst more traditional or fundamentalist Muslims.

FP: You are yourself a Muslim and yet, quite unconventionally amongst Islamic clerics and scholars, you teach that the Koran says Israel belongs to the Jews. Can you educate us on this Islamic teaching?

Mohammed: The Qur'an adumbrates several principles that hover around a common theme: God does not love injustice and will assist those who are wrongly treated. And it focuses so much on this that the person most mentioned in the Qur'an is Moses -- who is presented as God's revolutionary, and who leads a people despised and tormented for no other reason than that they worshipped God, out of the land of bondage to the Promised Holy Land.

The Qur'an in Chapter 5: 20-21 states quite clearly: Moses said to his people: O my people! Remember the bounty of God upon you when He bestowed prophets upon you , and made you kings and gave you that which had not been given to anyone before you amongst the nations. O my people! Enter the Holy Land which God has written for you, and do not turn tail, otherwise you will be losers."

The Quran goes on to say why the Israelites were not allowed to enter the land for forty years...but the thrust of my analysis is where Moses says that the Holy Land is that which God has "written" for the Israelites. In both Jewish and Islamic understandings of the term "written", there is the meaning of finality, decisiveness and immutability. And so we have the Written Torah (unchangeable) and the Oral Torah (which represents change to suit times). And in the Qur'an we have "Written upon you is the fast"--to show that this is something that is decreed, and which none can change. So the simple fact is then, from a faith-based point of view: If God has "written" Israel for the people of Moses, who can change this?


The Qur'an refers to the exiles, but leaves it open for return...saying to the Jews that if they keep their promise to God, then God will keep the divine promise to them. WE may argue that the present state of Israel was not created in the most peaceful means, and that many were displaced--for me, this is not the issue. The issue is that when the Muslims entered that land in the seventh century, they were well aware of its rightful owners, and when they failed to act according to divine mandate (at least as perceived by followers of all Abrahamic faiths), they aided and abetted in a crime. And the present situation shows the fruits of that action--wherein innocent Palestinians and Israelis are being killed on a daily basis.


I also draw your attention to the fact that the medieval exegetes of Qur'an--without any exception known to me--recognized Israel as belonging to the Jews, their birthright given to them. Indeed, two of Islam's most famous exegetes explained "written" from Quran 5:21 thus:


Ibn Kathir (d. 774/1373) said: “That which God has written for you” i.e. That which God has promised to you by the words of your father Israel that it is the inheritance of those among you who believe” . Muhammad al-Shawkani (d. 1250/1834) interprets Kataba to mean “that which God has allotted and predestined for you in His primordial knowledge, deeming it as a place of residence for you” (1992, 2:41).



The idea that Israel does not belong to the Jews is a modern one, probably based on the Mideast rejection of European colonialism etc, but certainly not having anything to do with the Qur'an. The unfortunate fact is that most Muslims do NOT read the Qur’an and interpret it on the basis of its own words; rather they let imams and preachers do that for them.


FP: You say that when the Muslims entered the sacred land in the seventh century, “they aided and abetted in a crime.” Can you expand on this a bit? How honest is contemporary Islam with this fact?



Mohammed: How did the Jews lose their right to live in the Holy Land? All reliable reports show that it was by the looting and burning that followed from 70-135 C.E. When the Muslims entered the place in 638, liberating it from the Byzantines, they knew full well to whom it rightfully belonged. But we find that Muslim chroniclers state that the Muslim caliph accepting the surrender of the Byzantine Christian representative, Sophronius, on certain terms, one of them being that the Jews would not be permitted to enter the city. I personally have a hard time accepting this story, and aspects of its historicity because as modern scholarship has shown, Muslim reports about that time were recorded long after the fact and are not as reliable as once thought. And we know too that when the first Crusaders took possession of the place in 1096-1099, they slaughtered Jews and Muslims. If Umar had indeed signed such a treaty, what were Jews doing there?


By aiding and abetting in a crime, I refer to when Abdul Malik built the mosque there, and had false traditions ascribed to Muhammad wherein the Prophet is supposed to have said that a man should set out for a journey only for three mosques, the ones in Mecca, Medina and Jerusalem. Now how could the prophet have said this when ALL Muslims agree that when the Qur’an states "this day I have completed for you your religion" (Q5:3), that Jerusalem was not within Muslim geography? The completion means just that...with the Arabic Qur'an for the Arab peoples, and the aspect of conquest of foreign territory NOT an injunction of Qur’anic Islam.



When the Muslims conquered Jerusalem, it should have been left open for the rightful owners to return. It is possible that Jewish beliefs of the time only allowed such return under a Messiah--but that should not have influenced Muslim action. And in contrast to the report of Sophronius above, there are also reports showing that Umar in fact opened the city to the Jews. If this be the case, then the later Muslim occupation and building a mosque on the site of the Temple was something that was not sanctioned by The Qur’an. How honest is contemporary Islam with this? Given the situation in the Middle East, politiking etc stands in the way of honesty.



FP: You lecture at universities exposing these politically incorrect facts. As a result, you have been frequently denounced by Muslim groups. Tell us about their criticism/harassment of you.



Mohammed: The criticism of my work is that I am out of line with the geo-political movement towards fundamentalism. What your readers must understand is that fundamentalism is rapidly becoming mainstream. Moderation is not. A perfect example is in Akbar AHmed's "Islam Under Siege," where he points out that the Taliban are no longer a fringe group in Pakistan; many Pakistanis are finding themselves drawn to their teachings.



Right here in the US, I present a problem to those at mosques who use social pressure to coerce others into accepting their extremism. On the personal level with my family: when my wife, after years of research, decided that she no longer felt that the head covering was mandatory, and chose to venture forth without it, many of the Muslim "sisters" she greeted refused to respond--without even checking on her interpretation. Many Muslims stand against me for no other reason than I say that Israel has a right to exist.

Overall, the criticism of me follows a strange pattern: they are upset that I should give any legitimacy to Israel, assuming that in doing so, I am denying the rights of Palestinians. My answer that I in no way deny that Palestinians have rights. But this is generally not considered by those that criticize my position: because for them, it is either all or nothing.



At a recent lecture in Santa Cruz, Muslim groups put up posters saying that I claim that the Qu'ran says bad things about Jews. In fact this was a gross misrepresentation of facts: I admit that the Qur'an has verses that are polemic, but my view is that the Qur'an in fact respects the Jews (which explains Moses being so often mentioned)...but that it is the oral traditions of Islam (the hadith) that demonizes the Jews. For many Muslims, this is a hard pill to swallow because for almost 12 centuries, they have been taught that acceptance of oral traditions are a creedal element of Islam.


Often, they try to argue with selective quotes from the Qur'an--and here they lose out, because when it comes to exegesis, I have spent years studying that. And then there is the "challenge" aspect...at Santa Cruz they said that they wanted to debate. I agreed on one condition: that such debate be in public. They did not show up. In fact, the few Muslims who were present and had the patience to listen to me, could not find how I had misinterpreted or misrepresented Islam.


In Montreal, I was accused of being racist when I said that 95% of contemporary Muslims are exposed to anti-Semitic teachings. My answer, which the Montreal Gazette refused to print, was that every Muslim had to answer a simple question. Honestly. What is the interpretation of the final two verses of the first chapter of the Quran? "Guide us to the straight path--the path of those upon whom you have bestowed your bounty, not those who have incurred your wrath, nor those who are astray."



This verse has nothing about Jews or Christians...yet, almost every person learns that those who have incurred divine wrath are the Jews, and those who are astray are Christians. What is more problematic is that the average person learns this chapter and its interpretation between the ages of 5-8. And we know that things learned at this stage of life become ingrained, almost to the point of being in one's DNA, if I may put it that way.



I felt that my answer was self-evident. Do you know what the result was? Some of my closest colleagues DENIED that they had been taught this. This was more painful to me than the rejection of some Muslim leaders--for I always ask that if we deny things publicly, at least in private we admit the truth. And when in privacy, my fellow Muslims could not bring themselves to admit that which was obvious to anyone, that was in itself testimony as to how low we have sunk.


Yet, on the issue of criticism and harassment--I must state that it is only in the form of argument, without threats of any physical nature. Whatever problem my fellow Muslims have with my views, they are aware that I am a Muslim. I do not deny my religion, and therefore we can argue. Here at San Diego State University where I teach, the local MSA attempted to have me disciplined for having accused them of anti-Semitism and homophobia. They did not pursue the issue--an astute decision for they would have looked very foolish. Their answer was that they too are Semites, (the writers of the letter were by the way not even Arabs), and that they could not be homophobic since their neighbors are gays and lesbians!



FP: If Islam is going to have a reformation, from what roots will it originate?



Mohammed: The reformation will come from Muslims based in the West, and the voices of women will be loud and pivotal in that reformation. Let us look at some names that are as yet unknown to many, but names that have done so much for changing Islamic thought...names of people who may disagree vehemently with each other, but names of people who, for all their difference have done much to purge Islam of the male chauvinism that has afflicted it for centuries: Fatima Mernissi, Azizah al Hibri, Amina Wadud Muhsin, Irshad Manji, Rifat Hasan, Asma Jahangir. Not that all reform minded people are women: there is Khalid Abou al Fadl, Abdallah al-Naim, Sa'd al din Ibrahim etc. Note that they are, with one exception, all now in the West, and that they have all had a western education.


FP: Prof. Mohammed, it was an honor to speak with you and we would like to thank you for being such a brave voice within the Islamic community, where honest dialogue, unfortunately, is often stifled. We encourage you to keep fighting for a moderate Islam that is compatible with Western democracy -- and we hope your voice will have an increasing impact.



So to finish this interview, why don’t you briefly sum up for our readers -- and for many Muslims who will hopefully read this interview – how Islam actually teaches that Israel belongs to the Jews and that Muslims are obligated, by the Qur’an itself, to accept its existence.



Mohammed: The Qur'an states at the very beginning of the second chapter "this is a book wherein there is no doubt, a guide for the God-conscious." Its contents are therefore to be seen by every Muslim as being divinely ordained, and to be followed. The verses on Israel as in 5:20-21 are not there just to be read; they are there to be followed. In Islam also, there is the elemental maxim "Calamity must be removed" (al darar yuzal). Muslms must face up to reality--in the years since Israel has been established, the focus of the region has been to seek to have it removed. And they have been unsuccessful, and there seems to be no hope for success. The pragmatic, proactive thing to do would be to come to grips with reality: Israel is there to stay, and it can exist in a state of peaceful coexistence, or in a stage of bellicosity. The Qur'an tells Muslims that God will not change their position until they change it themselves--and this is a classic example for putting that edict into effect. Only when MUSLIMS themselves accept Israel will they be following their Qur'an. Israel will negotiate from a position of guaranteed security, and while there may be tension from time to time, at least peace will be the norm.



FP: Prof. Mohammed, thank you for joining us today.



Mohammed: It was my pleasure, thank you for having me here.



*
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Resource Center: Islam dan YAHUDI



Who is online

Users browsing this forum: No registered users