.

Islam 101: Poligami dan berzinah

Seputar pro dan kontra poligami dalam ajaran Islam.

Postby midgard » Fri Oct 10, 2008 11:13 pm

jj wrote:Wah anda sangat 'mencermati' dan 'put under microscope' jawaban saya,
tapi terimakasih karena ini sangat bagus untuk 'pertumbuhan' iman saya.

Dalam 'meminta izin' kepada istri memang tidak ada ayatnya dan saya hanya menggunakan logika.
Perlu diketahui dalam Islam pernikahan adalah ikatan dan 'mutual agreement' antara pria dan wanita yang
saling mengasihi tanpa adanya paksaan.

Islam juga 'membolehkan' bercerai walaupun ini adalah perbuatan yang 'dibenci' Allah.
Jadi sudah seharusnya keduabelah pihak sadar bahwa jika salah satu pihak melakukan sesuatu 'merusak' hubungan
mereka salah satu pihak dapat saja 'berlepas' dari ikatan itu.


hehe ... itu sih pertanyaan AAA


Hehehhe.. anda memang cukup kritis. :)
Benar Quran tidak melarang istri untuk punya suami lebih dari 1,
jadi jawabannya ya diperbolehkan.

salam,


bagus sekali jawaban anda ...

saya salut ...
User avatar
midgard
 
Posts: 1610
Joined: Fri Jun 30, 2006 7:33 am

Postby je_prince97 » Sat Oct 11, 2008 3:24 pm

jj wrote:
je_prince97 wrote:
Hanya Allahlah yang dapat mengatakan itu dosa atau tidak.
Akal dan hati saya hanya dapat mengatakan itu kurang baik.

Dosa adalah perbuatan yang melanggar hukum2 Allah.

salam,


JJ, coba diteliti akal dan hatimu. Terutama yang disebut hati nurani.

Dosa, bukanlah perbuatan yang melanggar hukum Allah. Tetapi dengan sengaja menolak Dia mentah2, memberontak terhadap Dia, ya salah satu caranya dengan sengaja melanggar hukum Allah.

Salah satu hukum Allah, menurut saya, "Jangan mengingini hak milik sesamamu, apapun itu." Entah buat kamu, atau yang lainnya, buat saya, melihat dan kepengen (wanita) itu dah dosa. Karena "mengingini" apa yang sudah jelas2 bukan untuk saya. Saya sdh beristri, sekedar informasi.

Nah kalo dah kepengen, otomatis dalam pikiran kita pasti membayangkan si wanita itu dengan cara yang biasa disebut dengan porno. Tahulah, jujur aja, saya juga lelaki, jadi pernah. Cuman bedanya, saya dengan tegas menolak pikiran tsb.

Nah, dah kebelet, tahu dengan jelas kalo maen comot aja berarti pemerkosaan dan pemaksaan, dipakailah cara upacara nikah (tetep aja pemaksaan, kalo cewe mau sih itu bodohnya dia mau dimadu). Di mana menurut saya mau pake alasan apapun atau upacara sekalipun, tetap aja sudah "mengingini" hak milik orang lain. Dalam hal ini, keperawanan wanita yang seharusnya buat pasangan hidupnya nanti. Dengan kata lain, jahat dan dosa. Karena menghina kekudusan dalam pernikahan, dlm arti menghina Allah.

Ini pemikiran saya, kita berbuat salah, karena kita tidak sempurna. Dan Allah pun sama sekali tidak menuntut kita untuk sempurna karena Dia tahu kita tak akan bisa. Caranya supaya bisa? Ya carilah Dia, maka Dia akan menemuimu dan memberimu kebenaran.

JJ, tambahan, jangan terlalu tergantung pada quran. Tanya hati nurani, biasanya Allah ada di situ. Percaya deh.
User avatar
je_prince97
 
Posts: 1088
Joined: Wed Oct 01, 2008 1:44 pm

Postby ramonhorpa » Sat Oct 11, 2008 7:30 pm

midgard wrote:
jj wrote:Hehehhe.. anda memang cukup kritis. :)
Benar Quran tidak melarang istri untuk punya suami lebih dari 1,
jadi jawabannya ya diperbolehkan.

salam,

bagus sekali jawaban anda ...
saya salut ...

satu suami banyak istri namanya poligami,
satu istri banyak suami namanya poliandri,
kalau banyak suami n banyak istri,
misal 11 lawan 11 gitu, apa ini yang namanya "total football"

ah, yang benar mungkin namanya "nikah berjama'ah" 'kali ya ?


untuk bang je_prince97 :

sebetulnya muslim sudah menyadari yang anda katakan, yaitu 'mengingini' saja sudah dilarang, tapi sayangnya jalan keluar yang ditempuh aneh sekali, yaitu dengan 'membungkus' seluruh tubuh perempuan sampai seperti ninja, kebanyakan warnanya hitam -

akibatnya kita sering bingung untuk menyapa 'benda2' hitam berjalan ini, padahal kita hidup di indon mestinya ya bertegur sapa dengan tetangga - atau sahabat yang jumpa di jalan -
nah kalau mereka dikemas seperti itu, kita tidak akan tau, isi kemasan itu apakah 'bu anu', 'mbak siti'. 'mpok ame-ame' atau siapa. piye jal ?

next -
kata 'mengingini' sesungguhnya tidak hanya berlaku untuk urusan seks saja, tapi juga tentang harta benda milik orang lain bukan?

apakah cara menghindari agar tidak 'mengingini' harta milik orang lain lalu semuanya akan 'dibungkus' seperti itu ?
bayangin aja kalau ada mobil mewah tapi semuanya dikerudungi dengan kain hitam sehingga cuman kelihatan sedikit kaca depan, lampu dan spionnya - piye jal ?
ramonhorpa
 
Posts: 1667
Joined: Tue Jul 29, 2008 10:35 pm
Location: INDONESIA

Postby je_prince97 » Sun Oct 12, 2008 10:52 am

ramonhorpa wrote:next -
kata 'mengingini' sesungguhnya tidak hanya berlaku untuk urusan seks saja, tapi juga tentang harta benda milik orang lain bukan?


Betul sekali.

...para wanita harus dibungkus kaya ninja...


Produk yang dijual di pasaran kan dipromosikan dengan cara "ditelanjangkan" produknya, bukan dibungkus. Jadi inget sinetron di TPI, si Syahrul Gun2 yang main. Katanya:" Masa g mau dikawinin ama ninja?" :lol: :lol: :lol:

apakah cara menghindari agar tidak 'mengingini' harta milik orang lain lalu semuanya akan 'dibungkus' seperti itu ?
bayangin aja kalau ada mobil mewah tapi semuanya dikerudungi dengan kain hitam sehingga cuman kelihatan sedikit kaca depan, lampu dan spionnya - piye jal ?


Mereka mah, saking terbelakangnya gara2 islam, kemampuan berpikirnya jadi nol, ya gitu dah.

Padahal "mengenal Yang Maha Kuasa adalah pengetahuan, mengetahui Tuhan Semesta Alam adalah hikmat". Sayang, yang mereka kenal allah swt. Swt dah. :roll:
User avatar
je_prince97
 
Posts: 1088
Joined: Wed Oct 01, 2008 1:44 pm

Postby jj » Sun Oct 12, 2008 9:14 pm

je_prince97 wrote:Salah satu hukum Allah, menurut saya, "Jangan mengingini hak milik sesamamu, apapun itu." Entah buat kamu, atau yang lainnya, buat saya, melihat dan kepengen (wanita) itu dah dosa. Karena "mengingini" apa yang sudah jelas2 bukan untuk saya. Saya sdh beristri, sekedar informasi.

Nah kalo dah kepengen, otomatis dalam pikiran kita pasti membayangkan si wanita itu dengan cara yang biasa disebut dengan porno. Tahulah, jujur aja, saya juga lelaki, jadi pernah. Cuman bedanya, saya dengan tegas menolak pikiran tsb.

Nah, dah kebelet, tahu dengan jelas kalo maen comot aja berarti pemerkosaan dan pemaksaan, dipakailah cara upacara nikah (tetep aja pemaksaan, kalo cewe mau sih itu bodohnya dia mau dimadu). Di mana menurut saya mau pake alasan apapun atau upacara sekalipun, tetap aja sudah "mengingini" hak milik orang lain. Dalam hal ini, keperawanan wanita yang seharusnya buat pasangan hidupnya nanti. Dengan kata lain, jahat dan dosa. Karena menghina kekudusan dalam pernikahan, dlm arti menghina Allah.

Ini pemikiran saya, kita berbuat salah, karena kita tidak sempurna. Dan Allah pun sama sekali tidak menuntut kita untuk sempurna karena Dia tahu kita tak akan bisa. Caranya supaya bisa? Ya carilah Dia, maka Dia akan menemuimu dan memberimu kebenaran.

JJ, tambahan, jangan terlalu tergantung pada quran. Tanya hati nurani, biasanya Allah ada di situ. Percaya deh.


Apakah hanya 'mengingini' didalam hati atau terlintas dalam pikiran untuk berbuat jahat/jelek sudah dapat dikatakan dosa?

Ataukah ini hanya untuk kasus 'mengingini' kepunyaan orang lain saja.
Misalnya Allah melarang makan babi, lalu saya 'berimaginasi' bagaimana rasanya makan babi, apakah saya sudah berdosa?

salam,
jj
 
Posts: 1466
Joined: Tue Oct 23, 2007 3:30 am

Postby suara_hati » Mon Oct 13, 2008 10:48 pm

jj wrote:Apakah hanya 'mengingini' didalam hati atau terlintas dalam pikiran untuk berbuat jahat/jelek sudah dapat dikatakan dosa?


Menyatakan sesuatu itu dosa atau tidak kedengarannya sangat “dogmatis”. Coba, tanpa kita kaitkan dengan dosa atau tidak, menurut anda memiliki keinginan/pikiran seperti itu apakah salah? Saya yakin, anda akan setuju dengan saya bahwa memiliki pikiran-pikiran seperti itu adalah tidak sehat, salah. Saya yakin anda akan berusaha menghindari pikiran-pikiran seperti itu. Jadi tanpa dikaitkan dengan dosa atau tidak, kita sendiri tahu bahwa memiliki keinginan/pikiran seperti itu adalah SALAH.

Jika ada agama menyatakan itu dosa, itu lebih mempertegas bahwa memang seharusnya manusia menghindari pikiran kotor semacam itu. Dengan demikian, diharapkan kita bisa menghentikan pikiran kotor itu supaya tidak berkembang lebih lanjut, supaya tidak terjerumus lebih dalam. Supaya kita bisa introspeksi, bisa mengkoreksi kesalahan kita.

Disini problemnya dengan islam. Banyak hal yang menurut suara hati saya sebagai manusia normal, adalah salah tetapi justru dihalalkan Allah. Jadi, pada waktu orang memilki keinginan negatif, mengingini tubuh seksi perempuan lain selain istrinya, mereka bisa menindak-lanjuti keinginannya itu dengan cara poligami. Hal yang tadinya salah mendapat pembenaran dari Yang Mahu Kuasanya muslim. Tidak perlu memikirkan bagaimana perasaan istri pertama dan anak-anaknya. Alasan mereka “daripada melacur”. Konyol, tetapi itulah islam. Membandingkan sesuatu yang kedua-duanya salah. Jadi, Allah disini bukan membimbing orang yang sedang khilah supaya mau menyadari kesalahannya tetapi malah memberi jalan untuk menyalurkan keinginan kotornya itu

Jadi kalau akal dan suara hati kita yang pada awalnya merasa bahwa memilki keinginan negatif, mengingini tubuh perempuan lain yang bukan istri kita, adalah SALAH, dan dengan begitu berusaha untuk mengkoreksinya, dalam islam justru keinginan negatif itu diberi “wadah” HALAL dan boleh dilakukan. Jadi tepat sekali yang dikatakan teman saya Duladi berikut:

Duladi wrote:Sampeyan bisa tertarik pada wanita lain, sementara Anda sudah punya istri di rumah, yang ketika pacaran dulu Anda bersumpah setia padanya: "Sayang, hatiku cuma untukmu seorang, dan tidak untuk yang lain." Ketertarikan Anda pada wanita lain itu sebenarnya merupakan selingkuh, perbuatan zinah, tapi karena Alquran memberi peraturan: Apapun yang didahului dengan upacara nikah, adalah halal. Maka, Anda pun ingin mendapat legalitas atas perasaan Anda pada wanita lain itu, ingin mendapat jaminan hukum bila Anda menyetubuhinya, maka Anda panggil penghulu, disahkanlah perselingkuhan Anda itu menjadi sebuah PERNIKAHAN YG SAH menurut Allah SWT.


jj wrote:Ataukah ini hanya untuk kasus 'mengingini' kepunyaan orang lain saja. Misalnya Allah melarang makan babi, lalu saya 'berimaginasi' bagaimana rasanya makan babi, apakah saya sudah berdosa?


Apa yang ingin anda sampaikan dengan pertanyaan ini? Saya tidak melihat ada relevansinya dengan apa yang ingin disampaikan teman-teman lain disini.
suara_hati
 
Posts: 200
Joined: Fri Feb 01, 2008 11:13 pm

Postby ramonhorpa » Tue Oct 14, 2008 1:44 pm

Jika ada agama menyatakan itu dosa, itu lebih mempertegas bahwa memang seharusnya manusia menghindari pikiran kotor semacam itu. Dengan demikian, diharapkan kita bisa menghentikan pikiran kotor itu supaya tidak berkembang lebih lanjut, supaya tidak terjerumus lebih dalam. Supaya kita bisa introspeksi, bisa mengkoreksi kesalahan kita.


jadi, bukan penyebab munculnya pikiran kotor itu yang di-isolasi -

kemudian untuk muslim :
apakah anda tidak melihat tantangan dari allah anda ketika dikatakan boleh mengambil istri lebih dari satu tapi kalau kuatir tidak bisa berlaku adil ya cukup satu saja ?

bukankah ini sepertinya sebuah tantangan demikian :
seberapa adil sih kamu wahai manusia ?

kenapa bagi para poligamis hanya melihat 'bolehnya' saja tanpa memahami tantangannya ?
ramonhorpa
 
Posts: 1667
Joined: Tue Jul 29, 2008 10:35 pm
Location: INDONESIA

Postby gaston31 » Tue Oct 14, 2008 4:21 pm

suarahati: Disini problemnya dengan islam. Banyak hal yang menurut suara hati saya sebagai manusia normal, adalah salah tetapi justru dihalalkan Allah. Jadi, pada waktu orang memilki keinginan negatif, mengingini tubuh seksi perempuan lain selain istrinya, mereka bisa menindak-lanjuti keinginannya itu dengan cara poligami.
==========
jika poligami bisa melegalkan keinginan menikmati tubuh seksi perempuan lain, drsini aja udh kliatan tidak adilnya dan cmn nurutin napsu dlm poligami, krn condong kepada tubuh seksi.

btw, jika keinginan tsb tdk dilaksanakan, knp msh tercatat sbg dosa? apakah ADIL, jika Manusia dihukum krn dosa2 yg tdk pernah dia lakukan?
User avatar
gaston31
 
Posts: 3729
Joined: Tue Nov 21, 2006 2:17 pm

Postby jj » Tue Oct 14, 2008 8:33 pm

suara_hati wrote:menurut anda memiliki keinginan/pikiran seperti itu apakah salah? Saya yakin, anda akan setuju dengan saya bahwa memiliki pikiran-pikiran seperti itu adalah tidak sehat, salah. Saya yakin anda akan berusaha menghindari pikiran-pikiran seperti itu. Jadi tanpa dikaitkan dengan dosa atau tidak, kita sendiri tahu bahwa memiliki keinginan/pikiran seperti itu adalah SALAH.

Benar, saya setuju dengan anda.
Memiliki pikiran jahat adalah kurang baik, tapi itu belum termasuk dalam dosa atau tindakan kriminal.. sampai orang itu 'memilih free will'nya
untuk melakukan perbuatan jahat itu ataukah dia hati dan imannya dapat mengontrol dirinya.

suara_hati wrote:Jika ada agama menyatakan itu dosa, itu lebih mempertegas bahwa memang seharusnya manusia menghindari pikiran kotor semacam itu. Dengan demikian, diharapkan kita bisa menghentikan pikiran kotor itu supaya tidak berkembang lebih lanjut, supaya tidak terjerumus lebih dalam. Supaya kita bisa introspeksi, bisa mengkoreksi kesalahan kita.

Masalahnya apakah Tuhan memang mengatakan 'berkeinginan/berpikir jahat' itu sudah dosa?

suara_hati wrote:Disini problemnya dengan islam. Banyak hal yang menurut suara hati saya sebagai manusia normal, adalah salah tetapi justru dihalalkan Allah. Jadi, pada waktu orang memilki keinginan negatif, mengingini tubuh seksi perempuan lain selain istrinya, mereka bisa menindak-lanjuti keinginannya itu dengan cara poligami.

Hal Poligami dan bercerai memanglah cukup rumit, dan ini biasanya terjadi pada kasus2 tertentu.
Seperti berceraipun sekilas akan terlihat 'jelek', tapi dibaliknya ada makna dan penawar bagi pasangan yang 'bermasalah'.
Sering kita lihat banyak pasangan yang saling nyeleweng walaupun tetap kawin, bahkan ada yang sampai main bunuh karena benci
dan tidak tahan diabuse.

Allah menginginkan kebaikan dalam sebuah keluarga, dan manusia ada saja yang salah ambil langkah seperti kawin muda tanpa mengenal lebih dahulu pasanganya, dll.

suara_hati wrote:Hal yang tadinya salah mendapat pembenaran dari Yang Mahu Kuasanya muslim. Tidak perlu memikirkan bagaimana perasaan istri pertama dan anak-anaknya. Alasan mereka “daripada melacur”. Konyol, tetapi itulah islam.

Perkawinan adalah 'mutual agreement' antara pria dan wanita, tidak ada rasa paksaan selain kasih sayanglah yang akan mengikat keduanya.
Tanpa adanya kasih sayang ini, tidak mustahil bukan karena alasan poligami salah satu dari mereka dapat saja 'lari' dari perkawinan ini.
Misalnya si suami malas bekerja dan tidak memenuhi kebutuhan makan keluarga, atau suami suka minum alkohol yang akhirnya akan bermuara kepada abusive kepada istri, dll.

suara_hati wrote:
jj wrote:Ataukah ini hanya untuk kasus 'mengingini' kepunyaan orang lain saja. Misalnya Allah melarang makan babi, lalu saya 'berimaginasi' bagaimana rasanya makan babi, apakah saya sudah berdosa?


Apa yang ingin anda sampaikan dengan pertanyaan ini? Saya tidak melihat ada relevansinya dengan apa yang ingin disampaikan teman-teman lain disini.

Saya hanya ingin menekankan bahwa jika hanya masih dalam 'pikiran/hati' belum dosa,(ini dari segi pandang Quran), mungkin buku anda berprinsip berbeda.

salam,
jj
 
Posts: 1466
Joined: Tue Oct 23, 2007 3:30 am

Postby je_prince97 » Tue Oct 14, 2008 8:34 pm

jj wrote:Apakah hanya 'mengingini' didalam hati atau terlintas dalam pikiran untuk berbuat jahat/jelek sudah dapat dikatakan dosa?


Tiada asap tanpa api, walaupun tanpa api, tetep aja ada yang menyebabkan asap timbul bukan?

Istilahnya, ada prosedur yang berjalan secara otomatis pada saat kita 'mengingini'.

1. Melihat, tentu kamu melihat dulu, lalu mengetahui keberadaan sesuatu yang kamu lihat. Contoh: Kita melihat wanita yang lewat, kebetulan penampilannya "OK". Lalu, kita 'tahu' akan keberadaan wanita itu.

2. Di sini ada dua jalur yang terbentang. Pertama, kamu tidak tertarik dengan apa yang kamu lihat, lalu melengos pergi aja / cuek (bukan berarti ga normal lo :lol: ). Kedua, kamu mulai tertarik dengan apa yang kamu lihat.

3. Ketika kamu tertarik, terbentang 2 jalur lagi. Apakah kamu hanya melihat dia sebagai wanita yang menarik, cantik, lalu memuji Allah krn keindahannya, ATAU hasrat kamu mulai timbul.

4. Nah ini yang bahaya. Ketika hasrat sdh timbul, bahkan jauh sebelum kamu melakukan apa pun, kamu sudah berandai2 sdh 'melakukan ini dan itu' dengan wanita itu. Jujur aja. gpp kok. Saya juga pernah soalnya, makanya saya ngeri kalo diterusin. Pastinya kamu pernah juga kan? Di situlah dosanya. Kalo berlanjut ke lampu merah, yah terjadilah yang namanya perkosaan, pelecehan seksual dll.

Gitu deh.

Ataukah ini hanya untuk kasus 'mengingini' kepunyaan orang lain saja.
Misalnya Allah melarang makan babi, lalu saya 'berimaginasi' bagaimana rasanya makan babi, apakah saya sudah berdosa?

salam,


Hmmmm, kalo soal itu, tergantung bagaimana 'mengingini' nya. Kalo cuma berpikir, "Wah. Dia aja punya, aku mau juga ah." Ya ga masalah. Tapi kalo sampai memutuskan untuk mengambil secara paksa (mencuri, merampok, merampas), jadi tambah dosa lagi deh.:roll:

Eeee, soal babi, cuman bayangin pengen makan, sama sekali bukan dosa. Lagian Allah melarang dengan alasan apa? Kalo alasan kesehatan, saya setuju, terlalu banyak lemak siiiih. Kalo alasan lain, saya ga tahu.

Salam juga :wink:
User avatar
je_prince97
 
Posts: 1088
Joined: Wed Oct 01, 2008 1:44 pm

Postby suara_hati » Tue Oct 14, 2008 10:59 pm

jj wrote:
suara_hati wrote:Jika ada agama menyatakan itu dosa, itu lebih mempertegas bahwa memang seharusnya manusia menghindari pikiran kotor semacam itu. Dengan demikian, diharapkan kita bisa menghentikan pikiran kotor itu supaya tidak berkembang lebih lanjut, supaya tidak terjerumus lebih dalam. Supaya kita bisa introspeksi, bisa mengkoreksi kesalahan kita.

Masalahnya apakah Tuhan memang mengatakan 'berkeinginan/berpikir jahat' itu sudah dosa?


Kenapa harus anda kaitkan dengan dosa atau tidak. Apa pentingnya bagi anda. Apakah kalau bukan dosa meskipun anda sendiri merasa itu sesuatu yang jelek terus anda mau melakukannya? Saya sendiri tidak tertarik dengan kata-kata dogmatis seperti itu.

jj wrote:
suara_hati wrote:Disini problemnya dengan islam. Banyak hal yang menurut suara hati saya sebagai manusia normal, adalah salah tetapi justru dihalalkan Allah. Jadi, pada waktu orang memilki keinginan negatif, mengingini tubuh seksi perempuan lain selain istrinya, mereka bisa menindak-lanjuti keinginannya itu dengan cara poligami.

Hal Poligami dan bercerai memanglah cukup rumit, dan ini biasanya terjadi pada kasus2 tertentu.
Seperti berceraipun sekilas akan terlihat 'jelek', tapi dibaliknya ada makna dan penawar bagi pasangan yang 'bermasalah'.
Sering kita lihat banyak pasangan yang saling nyeleweng walaupun tetap kawin, bahkan ada yang sampai main bunuh karena benci
dan tidak tahan diabuse.

Allah menginginkan kebaikan dalam sebuah keluarga, dan manusia ada saja yang salah ambil langkah seperti kawin muda tanpa mengenal lebih dahulu pasanganya, dll.

suara_hati wrote:Hal yang tadinya salah mendapat pembenaran dari Yang Mahu Kuasanya muslim. Tidak perlu memikirkan bagaimana perasaan istri pertama dan anak-anaknya. Alasan mereka “daripada melacur”. Konyol, tetapi itulah islam.

Perkawinan adalah 'mutual agreement' antara pria dan wanita, tidak ada rasa paksaan selain kasih sayanglah yang akan mengikat keduanya.
Tanpa adanya kasih sayang ini, tidak mustahil bukan karena alasan poligami salah satu dari mereka dapat saja 'lari' dari perkawinan ini.
Misalnya si suami malas bekerja dan tidak memenuhi kebutuhan makan keluarga, atau suami suka minum alkohol yang akhirnya akan bermuara kepada abusive kepada istri, dll.


Bagi saya yang penting dalam diskusi adalah bisa memahami isu utamanya. Dalam diskusi ini, saya melihat bahwa poligami memberi jalan bagi manusia yang mungkin sedang khilaf untuk memuaskan hawa nafsunya. Bagi anda, yang masih memilki suara hati, halalnya poligami ini bukan merupakan masalah.

Saya tidak menyangkal bahwa dalam setiap perkawinan selalu saja ada masalah. Banyak yang bisa bertahan sampai maut memisahkan mereka, tetapi banyak juga yang gagal ditengah jalan.

Saya tidak sepenuhnya setuju, kalau ada perintah yang menyatakan “apa yang disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan” apalagi menyatakan ini secara dogmatis sebagai dosa. Tidak sepenuhnya setuju karena seringkali fakta dilapangan tidak bisa seperti itu. Walaupun demikian, tanpa dikaitkan dengan dosa atau tidak, saya melihat hal itu ada sisi positifnya dalam memberi “rem” bagi pasangan yang memiliki masalah. Bagi saya, jika ada pasangan yang pada akhirnya sudah tidak bisa saling menghargai dan mecintai satu sama lain, dan perkawinan mereka tidak lagi menjadi kebahagian bersama yang di-idam-idamkan sebelumnya, lha untuk apa dipertahankan. Tapi, paling tidak dengan adanya perintah itu, mereka bisa introspeksi, berusaha untuk memperbaiki.

Disini bedanya dengan halalnya poligami islam. Poligami islam ini memberi jalan bagi orang-orang yang khilaf untuk menyalurkan nafsu bejatnya. Anda bisa dengan mudah menyatakan “ya itu terserah masing-masing, resikonya ditanggung sendiri”. Tentu saja. Anda tidak mau melakukan itu. Tapi, ada orang yang mau melakukan itu. Dan orang ini merasa bahwa hal itu tidak salah. Jadi tidak memberi rem, tapi malah memberi peluang untuk terjerumus lebih jauh.

Semoga anda bisa memami apa yang ingin saya sampaikan diatas

jj wrote:Saya hanya ingin menekankan bahwa jika hanya masih dalam 'pikiran/hati' belum dosa,(ini dari segi pandang Quran), mungkin buku anda berprinsip berbeda.


JJ, terus terang saya mendasarkan tindakan saya tidak pada kata-kata dogmatis seperti itu. Jika saya memilih melakukan sesuatu yang baik misalnya, ya itu karena kesadaran nurani saya sendiri. Tidak perlu saya kaitkan dengan pahala surga segala macam. Juga jika saya menghindari hal-hal negatif, itu bukan karena saya takut dosa dan ancaman neraka. Jadi, bagi saya tidak ada artinya mau anda atau kitab yang dianggap suci pemeluknya mau menyatakan sesuatu dosa atau tidak. Kalau itu hal yang baik, positif, saya akan berusaha mengerjakannya. Dan sebaliknya. Patokan saya akal dan hati nurani saya. Itu saja.

Coba anda pikirkan lebih jauh jawaban anda itu. Anda ingin menekankan bahwa menurut anda selama masih dalam “pikiran/hati” belum dosa. Artinya, tidak apa-apa kan melakukan itu. Apakah kalau tidak dosa, terus kemudian anda mau mempunyai pikiran-pikiran kotor seperti itu? Bukankah anda sendiri setuju bahwa lebih baik untuk menghindari hal itu.

Sedikit diluar konteks, apakah anda sependapat dengan para ahli tafsir islam terkemuka yang menyatakan bahwa ayat-ayat ini menigjinkan muslim untuk berhubungan badan dengan budak-budak perempuan yang mereka miliki tanpa ikatan perkawinan.

(S 70:22) kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, (23) yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, (24) dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (25) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),(26) dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,(27)dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. (28) Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).(29) Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (30) kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Juga ayat yang ini:

(S23:5) dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (6) kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Dan yang ini mengijinkan muslim untuk mengawini budak-budak miliknya meskipun mereka telah bersuami.

(4:24) dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
suara_hati
 
Posts: 200
Joined: Fri Feb 01, 2008 11:13 pm

Postby jj » Wed Oct 15, 2008 8:54 am

je_prince97 wrote:
jj wrote:Apakah hanya 'mengingini' didalam hati atau terlintas dalam pikiran untuk berbuat jahat/jelek sudah dapat dikatakan dosa?


Tiada asap tanpa api, walaupun tanpa api, tetep aja ada yang menyebabkan asap timbul bukan?

Istilahnya, ada prosedur yang berjalan secara otomatis pada saat kita 'mengingini'.

1. Melihat, tentu kamu melihat dulu, lalu mengetahui keberadaan sesuatu yang kamu lihat. Contoh: Kita melihat wanita yang lewat, kebetulan penampilannya "OK". Lalu, kita 'tahu' akan keberadaan wanita itu.

2. Di sini ada dua jalur yang terbentang. Pertama, kamu tidak tertarik dengan apa yang kamu lihat, lalu melengos pergi aja / cuek (bukan berarti ga normal lo :lol: ). Kedua, kamu mulai tertarik dengan apa yang kamu lihat.

3. Ketika kamu tertarik, terbentang 2 jalur lagi. Apakah kamu hanya melihat dia sebagai wanita yang menarik, cantik, lalu memuji Allah krn keindahannya, ATAU hasrat kamu mulai timbul.

4. Nah ini yang bahaya. Ketika hasrat sdh timbul, bahkan jauh sebelum kamu melakukan apa pun, kamu sudah berandai2 sdh 'melakukan ini dan itu' dengan wanita itu. Jujur aja. gpp kok. Saya juga pernah soalnya, makanya saya ngeri kalo diterusin. Pastinya kamu pernah juga kan? Di situlah dosanya. Kalo berlanjut ke lampu merah, yah terjadilah yang namanya perkosaan, pelecehan seksual dll.

Gitu deh.

Mungkin kita memang berpeda pendapat,
menurut saya asalkan masih dalam pikiran dan belum sampai dilakukan belum dikatakan dosa.

Ataukah ini hanya untuk kasus 'mengingini' kepunyaan orang lain saja.
Misalnya Allah melarang makan babi, lalu saya 'berimaginasi' bagaimana rasanya makan babi, apakah saya sudah berdosa?

salam,


Hmmmm, kalo soal itu, tergantung bagaimana 'mengingini' nya. Kalo cuma berpikir, "Wah. Dia aja punya, aku mau juga ah." Ya ga masalah. Tapi kalo sampai memutuskan untuk mengambil secara paksa (mencuri, merampok, merampas), jadi tambah dosa lagi deh.:roll:

Eeee, soal babi, cuman bayangin pengen makan, sama sekali bukan dosa. Lagian Allah melarang dengan alasan apa? Kalo alasan kesehatan, saya setuju, terlalu banyak lemak siiiih. Kalo alasan lain, saya ga tahu.

Salam juga :wink:

Tentang pengharaman babi tidak diberikan alasannya, dan untuk saya ini adalah sebuah ujian.. dan saya akan mencoba menjalankannya.

salam,
jj
 
Posts: 1466
Joined: Tue Oct 23, 2007 3:30 am

Postby jj » Wed Oct 15, 2008 9:10 am

suara_hati wrote:
jj wrote:Masalahnya apakah Tuhan memang mengatakan 'berkeinginan/berpikir jahat' itu sudah dosa?

Kenapa harus anda kaitkan dengan dosa atau tidak. Apa pentingnya bagi anda. Apakah kalau bukan dosa meskipun anda sendiri merasa itu sesuatu yang jelek terus anda mau melakukannya? Saya sendiri tidak tertarik dengan kata-kata dogmatis seperti itu.

Benar.. entah itu dosa ataupun jelek sama2 harus kita hindari, perbedaannya hanyalah apakah itu termasuk melanggar hukum Allah atau tidak.
Seperti halnya merokok, ini tidak dosa.. tapi tidak baik.. makanya saya akan menghidarkannya.

suara_hati wrote:Bagi saya yang penting dalam diskusi adalah bisa memahami isu utamanya. Dalam diskusi ini, saya melihat bahwa poligami memberi jalan bagi manusia yang mungkin sedang khilaf untuk memuaskan hawa nafsunya. Bagi anda, yang masih memilki suara hati, halalnya poligami ini bukan merupakan masalah.

Anda ada benarnya bahwa dengan diperbolehkannya poligami dapat membuka 'pintu' bagi orang2 yang ingin menyalah gunakan untuk memuaskan hawa nafsunya.
Tapi ada juga 'pintu' untuk sebagian pasangan yang mungkin memerlukan 'jalan ini'.
Dimata Allah yang terpenting adalah 'halal' dan sah.

Ada orang yang sudah cukup puas dengan minum air putih, tapi ada juga yang ingin pepsi dan teh botol. Asalkan mereka mendapatkannya dengan cara halal dan tidak ada yang dirugikan tentunya ini diperbolehkan oleh Allah.
Tapi walaupun anda hanya meminum air putih saja tapi hasil curian, ini adalah buruk dimata Allah.

suara_hati wrote:Saya tidak sepenuhnya setuju, kalau ada perintah yang menyatakan “apa yang disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan” apalagi menyatakan ini secara dogmatis sebagai dosa. Tidak sepenuhnya setuju karena seringkali fakta dilapangan tidak bisa seperti itu. Walaupun demikian, tanpa dikaitkan dengan dosa atau tidak, saya melihat hal itu ada sisi positifnya dalam memberi “rem” bagi pasangan yang memiliki masalah. Bagi saya, jika ada pasangan yang pada akhirnya sudah tidak bisa saling menghargai dan mecintai satu sama lain, dan perkawinan mereka tidak lagi menjadi kebahagian bersama yang di-idam-idamkan sebelumnya, lha untuk apa dipertahankan. Tapi, paling tidak dengan adanya perintah itu, mereka bisa introspeksi, berusaha untuk memperbaiki.

Saya juga sependapat, samahalnya dengan poligami, bercerai juga dapat saja disalah gunakan oleh oknum2 itu. Tapi dapat juga memberikan 'pintu' keluar bagi orang2 yang 'terperangkap'.
Sebuah keluarga yang harmonis adalah seperti surga di dunia dan inilah yang Allah inginkan kepada kita.
Tapi jika 2 orang yang selalu berantem dan tidak dapat akur.. justru membuat 'neraka' bagi kedua orang itu.. bukankah lebih baik jika mereka berpisah sehingga tidak membuat dosa diantara mereka.
Dan dalam berceraipun ada tahap2nya.. yang intinya berusaha memperbaiki tali pernikahan sebisa mungkin.

suara_hati wrote:JJ, terus terang saya mendasarkan tindakan saya tidak pada kata-kata dogmatis seperti itu. Jika saya memilih melakukan sesuatu yang baik misalnya, ya itu karena kesadaran nurani saya sendiri. Tidak perlu saya kaitkan dengan pahala surga segala macam. Juga jika saya menghindari hal-hal negatif, itu bukan karena saya takut dosa dan ancaman neraka. Jadi, bagi saya tidak ada artinya mau anda atau kitab yang dianggap suci pemeluknya mau menyatakan sesuatu dosa atau tidak. Kalau itu hal yang baik, positif, saya akan berusaha mengerjakannya. Dan sebaliknya. Patokan saya akal dan hati nurani saya. Itu saja.

Coba anda pikirkan lebih jauh jawaban anda itu. Anda ingin menekankan bahwa menurut anda selama masih dalam “pikiran/hati” belum dosa. Artinya, tidak apa-apa kan melakukan itu. Apakah kalau tidak dosa, terus kemudian anda mau mempunyai pikiran-pikiran kotor seperti itu? Bukankah anda sendiri setuju bahwa lebih baik untuk menghindari hal itu.

Saya dapat memahami anda, dan saya rasa anda memiliki hati yang lembut yang juga didasarkan oleh penalaran yang baik.

Bagaimana pendapat anda dengan perkataan "Yang baik itu belum tentu benar, tapi yang benar itu datangnya dari Allah".

suara_hati wrote:Sedikit diluar konteks, apakah anda sependapat dengan para ahli tafsir islam terkemuka yang menyatakan bahwa ayat-ayat ini menigjinkan muslim untuk berhubungan badan dengan budak-budak perempuan yang mereka miliki tanpa ikatan perkawinan.

Saya pernah berdiskusi ini dengan Duladi, dan terus terang pengetahuan saya masih minim tentang adanya perbudakan.
Mungkin saya akan lebih dalam mempelajarinya kembali... dan jika anda mengetahui sejarah perbudakan yang terjadi sejak jaman dulu... dan apakah ada 'common rule' tentang perbudakan ini... mungkin bisa menambah wawasan saya.

Salam,
jj
 
Posts: 1466
Joined: Tue Oct 23, 2007 3:30 am

Postby suara_hati » Wed Oct 15, 2008 4:50 pm

jj wrote:Anda ada benarnya bahwa dengan diperbolehkannya poligami dapat membuka 'pintu' bagi orang2 yang ingin menyalah gunakan untuk memuaskan hawa nafsunya.Tapi ada juga 'pintu' untuk sebagian pasangan yang mungkin memerlukan 'jalan ini'.
Dimata Allah yang terpenting adalah 'halal' dan sah.

Ada orang yang sudah cukup puas dengan minum air putih, tapi ada juga yang ingin pepsi dan teh botol. Asalkan mereka mendapatkannya dengan cara halal dan tidak ada yang dirugikan tentunya ini diperbolehkan oleh Allah.
Tapi walaupun anda hanya meminum air putih saja tapi hasil curian, ini adalah buruk dimata Allah.


Yang saya tebali. Bagi orang yang sedang khilaf, dia merasa tidak sedang menyalah gunakan Quran pada waktu melakukan poligami. Dia khilaf, dan Quran justru menterjurumuskan dia lebih dalam. Saya kasih ilustasi biar lebih panjang.

Suatu saat seorang suami khilaf, karena mengigini tubuh seksi perempuan lain yang bukan istrinya. Perasaan itu begitu menggoda dia. Tetapi dia sangat mencintai istri dan keluarganya. Dia tahu kalau dia melangkah lebih jauh, istrinya dan keluarganya pasti akan sangat merasa dikhianati dan disakiti. Kesadaran ini membuat dia berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran kotor itu. Cintanya kepada istri dan keluarganya membuat dia tidak mau senang-senang sendiri dengan mengorbankan perasaan mereka. Orang dengan kesadaran nurani seperti ini tidak perlu Quran untuk tahu mana yang baik dan mana yang tidak.

Apakah anda setuju dengan pernyataan itu.

Saya kembangkan lebih jauh.

Tidak semua orang memiliki kesadaran nurani seperti orang itu. Ada saja orang lain yang meskipun tahu bahwa menindak lanjuti pikiran seperti itu bisa menyakiti istri dan kelurganya, tetapi karena tidak tahan menghadapi godaan itu, tetap melangkah lebih jauh. Selingkuh. Atau nikah lagi secara diam-diam. Ada juga laki-laki tipe lain yang gemar jajan meskipun sudah memiliki istri. Semuanya tergantung pada pribadi masing-masing. Tanpa Quran, hal-hal seperti itu terjadi. Jika hal ini terjadi, kita menilai, bahwa suami yang berbuat seperti itu adalah bejat. Mau enaknya sendiri dengan mengorbankan pasangan dan keluarganya. Kita bisa membedakan mana suami yang baik, setia dan yang tidak. Pelakunya sendiri mungkin juga dalam hati kecilnya menyadari bahwa apa yang dilakukan sangat melukai pasangannya, tetapi apa boleh buat, godaan itu tidak tertahankan.

Apakah anda anda setuju dengan pernyataan itu.

Lebih jauh.

Kasus untuk tipe laki-laki kedua itu terjadi pada muslim yang mengenal betul Quran. Yang tahu bahwa poligami itu boleh. Halal. Dia tertarik dengan wanita lain dan ingin menikahinya. Dia memberi tahu istrinya. Tentu saja sang istri shock. Terjadi keributan. Suami jadi jarang pulang dan tidak mempedulikan istrinya. Suami bilang kepada istrinya bahwa Allah sesuai Quran membolehkan dia menikah lagi. “Saya akan bersikap adil. Saya cukup harta. Kalau kamu tidak terima, kamu mau apa. Tapi sebaiknya kamu terima, karena menurut Allah itu lebih baik. Mencari jalan damai itu lebih baik daripada kita harus bercerai”. Begitu katanya. Dia sodorkan ayat dan tafsirnya dari para ahli islam terkemuka.

(4:128) Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(129) Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(130)Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Jalalain menerangkan sbb:

128. (Dan jika seorang wanita) imra-atun marfu' oleh fi'il yang menafsirkannya (takut) atau khawatir (dari suaminya nusyuz) artinya sikap tak acuh hingga berpisah ranjang daripadanya dan melalaikan pemberian nafkahnya, adakalanya karena marah atau karena matanya telah terpikat kepada wanita yang lebih cantik dari istrinya itu (atau memalingkan muka) daripadanya (maka tak ada salahnya bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenarnya). Ta yang terdapat pada asal kata diidgamkan pada shad, sedang menurut qiraat lain dibaca yushliha dari ashlaha. Maksud perdamaian itu ialah dalam bergilir dan pemberian nafkah, misalnya dengan sedikit mengalah dari pihak istri demi mempertahankan kerukunan. Jika si istri bersedia, maka dapatlah dilangsungkan perdamaian itu, tetapi jika tidak, maka pihak suami harus memenuhi kewajibannya atau menceraikan istrinya itu. (Dan perdamaian itu lebih baik) daripada berpisah atau dari nusyuz atau sikap tak acuh. Hanya dalam menjelaskan tabiat-tabiat manusia, Allah berfirman: (tetapi manusia itu bertabiat kikir) artinya bakhil, seolah-olah sifat ini selalu dan tak pernah lenyap daripadanya. Maksud kalimat bahwa wanita itu jarang bersedia menyerahkan haknya terhadap suaminya kepada madunya, sebaliknya pihak laki-laki jarang pula yang memberikan haknya kepada istri bila ia mencintai istri lain. (Dan jika kamu berlaku baik) dalam pergaulan istri-istrimu (dan menjaga diri) dari berlaku lalim atau aniaya kepada mereka (maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan) hingga akan memberikan balasannya.

129. (Dan kamu sekali-kali takkan dapat berlaku adil) artinya bersikap sama tanpa berat sebelah (di antara istri-istrimu) dalam kasih sayang (walaupun kamu amat menginginkan) demikian. (Sebab itu janganlah kamu terlalu cenderung) kepada wanita yang kamu kasihi itu baik dalam soal giliran maupun dalam soal pembagian nafkah (hingga kamu tinggalkan) wanita yang tidak kamu cintai (seperti bergantung) janda tidak bersuami pun bukan. (Dan jika kamu mengadakan perjanjian) yakni dengan berlaku adil dalam mengatur giliran (dan menjaga diri) dari berbuat kecurangan (maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun) terhadap kecenderungan yang terdapat dalam hatimu (lagi Maha Penyayang) kepadamu dalam masalah tersebut.


Tafsir Quran Ibn Kathir menyatakan sbb:

Mencari jalan damai adalah lebih baik daripada perceraian. Salah satu contoh mengenai perdamaian semcam ini dapat dilihat dari cerita Sawdah bint Zam’ah yang pada waktu dia menajadi tua, nabi ingin menceraikannya, tapi Sawdah minta berdamai dengan Nabi dengan menawarkan gilirannya dimana Nabi biasa menghabiskan malam dengannya untuk diberikan kepada Aisha sehingga Nabi tetap mempertahankannya sebagai istrinya. Nabi menerima tawaran ini dan tetap mempertahankan Sawdah sbg istrinya.

<And>. `Ali bin Abi Talhah related that Ibn `Abbas said that the Ayah refers to, "When the husband gives his wife the choice between staying with him or leaving him, as this is better than the husband preferring other wives to her.'' However, the apparent wording of the Ayah refers to the settlement where the wife forfeits some of the rights she has over her husband, with the husband agreeing to this concession, and that this settlement is better than divorce. For instance, the Prophet kept Sawdah bint Zam`ah as his wife after she offered to forfeit her day for `A'ishah. By keeping her among his wives, his Ummah may follow this kind of settlement. …

Tafsir Quran Al-Tabari menyatakan sbb:

Umar bin Ali dan Zaid bin Ahram berkata:dari Abu Abu Dawud, berkata:dari Sulaiman bin Muath, dari Simak bin Harb, dari Ikrimah, dari Ibn Abbas, berkata: Saudah takut diceraikan Rasul Allah, maka dia berkata:Jangan ceraikan saya, dan jangan berbagi dengan saya! Dan dia lakukan, dan ayat ini diturunkan: Jika Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.

Umra bin Ali & Zaid bin Ahram said: second by Abu Dawud, said: second by Sulaiman bin Mu'ath, from Simak bin Harb, from Ikrimah, from Ibn Abbas, said: Saudah feared divorce by the messenger of Allah, so she said: Do not divorce me, and do not share with me! And he did, and this verse was revealed: And if a woman fears ill usage or desertion on the part of her husband.

Sang istri terpojok. Akhirnya dia setuju. Demi anak-anak dan demi mendapat pahala Allah. Kan berdamai lebih baik. Suami senang. Keinginannya terpenuhi. Dia sama sekali tidak merasa telah berbuat kesalahan. Allah membenarkan tindakan dia itu.

Apakah anda bisa melihat perbedaan antara contoh kedua dan terakhir jika kedua-duanya sama-sama berakhir dengan pernikahan. Dari contoh yang kedua, menikah secara diam-diam. Dan contoh orang muslim menikah terang-terangan dengan ijin istrinya. Yang menikah diam-diam tentu masih tahu bahwa jika dia lakukan secara terang-terangan akan menghancurkan keluarga pertamanya. Contoh muslim, dia tidak merasa bersalah. Halal dan baik dimata Allah. Dia mungkin juga tahu bahwa apa yang dilakukan menghancurkan perasaan istrinya tetapi dia tidak merasa bersalah. Dia merasa benar dihadapan Allah.

Anda mungkin akan bilang bahwa muslim dalam contoh itu cuma mau memanfaatkan Quran untuk kepentingannya sendiri. Poligami seharusnya tidak digunakan untuk hal-hal seperti itu?

Tetapi apakah anda bisa melihat bahwa Quran telah memberi justifikasi kepada muslim itu untuk melakukan perbuatan kotornya? Orang ini salah dan perlu mendapat bimbingan. Tetapi karena Allah membenarkan niatnya itu, jadi dia tidak merasa bersalah. Quran disini tidak membantu dia memilih jalan yang lurus, tetapi justru menjerumuskan dia.

jj wrote:Bagaimana pendapat anda dengan perkataan "Yang baik itu belum tentu benar, tapi yang benar itu datangnya dari Allah".

Secara umum, saya merasa bahwa apa yang baik itu benar. Tapi tidak selalu. Karena itu tepat untuk mengatakan bahwa tidak semua yang baik itu benar. Menolong teman itu baik. Tapi jika menolongnya dengan cara merugikan orang lain, dengan merampok orang, tentu itu tidak benar.

Yang jadi persoalan adalah pernyataan berikutnya yang menyatakan bahwa yang benar itu datangnya dari Tuhan (maaf saya ganti Tuhan, karena saya tidak setuju menyamakan Tuhan dengan Allah yang dipercaya muslim). Bagi yang percaya Tuhan, tentu jawabanya ya. Tetapi siapa yang berhak menyatakan “ini dari Tuhan”. Kitab suci? Nabi? Kalau misalnya ada kitab suci yang menyatakan boleh merampok, boleh menyetubuhi budak, dan kitab suci ini dipercaya pemeluknya berasal dari Tuhan, dipercaya sebagai “firman Tuhan”, apakah anda akan setuju bahwa hal itu benar karena datangnya dari Tuhan? Apakah anda akan menutup akal dan hati anda untuk setuju dengan itu? Atau apakah tidak sebaiknya kita memverikasi dulu apakah keyakinan kita itu benar?

jj wrote:
suara_hati wrote:Sedikit diluar konteks, apakah anda sependapat dengan para ahli tafsir islam terkemuka yang menyatakan bahwa ayat-ayat ini menigjinkan muslim untuk berhubungan badan dengan budak-budak perempuan yang mereka miliki tanpa ikatan perkawinan.


Saya pernah berdiskusi ini dengan Duladi, dan terus terang pengetahuan saya masih minim tentang adanya perbudakan.
Mungkin saya akan lebih dalam mempelajarinya kembali... dan jika anda mengetahui sejarah perbudakan yang terjadi sejak jaman dulu... dan apakah ada 'common rule' tentang perbudakan ini... mungkin bisa menambah wawasan saya.


Yang saya kutip adalah ayat-ayat Quran, kitab yang mengklaim sebagai kitab sempurna, dan menjelaskan dengan detail. Anda berulangkali menyatakan tidak perlu “buku-buku” lain untuk memahami Quran. Mengapa sekarang anda merasa perlu mengetahui sejarah perbudakan? Dari buku-buku kafir atau dari sumber-sumber islam lainnya? Bukankah anda menolak semua catatan sejarah yang dibuat oleh muslim, oleh ahli-ahli islam terkemuka yang sangat dipandang oleh muslim. Buku-buku hadiths dan sira nabi bisa membantu kita dalam memahami konteks ayat-ayat Quran. Anda tidak mau menggunakan sumber-sumber itu karena mungkin menurut anda keabsahannya diragukan. Alasan yang sangat sulit diterima.

Dulu, pada waktu saya belum banyak membaca buku-buku lain selain Quran, saya benar-benar tidak bisa memahami konteks ayat-ayat Quran. Bagi saya, Quran adalah kitab yang sangat kacau, nggak karuan. Tapi karena dulu saya muslim, saya tidak berani berkomentar miring tentang Quran, Saya tentu saja memandang Quran sangat tinggi. Seperti anda sekarang, saya berimajinasi sendiri dalam memahami ayat-ayat Quran. “Oh mungkin maksudnya seperti ini” begitu kira-kira. Waktu baca surat Al Lahab (S111), saya hanya mengerti bahwa Allah mengutuki Abu Lahab dan istrinya. Tidak perlu tahu siapa Abu Lahab dan mengapa Tuhan mengutuk dia. Pada waktu saya baca Surat At Tahrim (S66:1~4) yang juga pernah saya tanyakan kepada anda, saya tidak bisa memahami apa konteks ayat itu.

Ayat- ayat yang tanyakan kepada anda secara jelas menyatakan bahwa Allah mengijinkan muslim untuk memuaskan hawa nafsunya kepada budak-budak yang mereka miliki. Atau jika mereka mau menikahi budaknya yang masih bersuamipun dihalalkan oleh Allah. Tentu saja anda sangat sulit menerima itu. Karena itu anda ingin mengetahui sejarah perbudakan jaman dulu. Kenapa seperti itu? Selain ini melanggar pernyataan anda yang hanya percaya Quran, apakah misalnya jika jaman dulu budak tidak dianggap manusia dan itu praktek yang umum dilakukan, terus anda akan bilang bahwa apa yang dinyatakan Quran mulia?

JJ, kalau ada waktu, mungkin anda mau memberi komentar di forum “Muhammad” – “Adakah Rasul/Nabi Arab sebelum Muhammad”.
suara_hati
 
Posts: 200
Joined: Fri Feb 01, 2008 11:13 pm

Postby je_prince97 » Wed Oct 15, 2008 6:58 pm

jj wrote:Mungkin kita memang berpeda pendapat,
menurut saya asalkan masih dalam pikiran dan belum sampai dilakukan belum dikatakan dosa.


Mungkin begini maksud saya. Kalo baru muncul dlm pikiran, masih belum apa2. Bukan berarti gpp. Di sini kita dituntut untuk cerdik melawan setan. Karena sering kali secara ga sadar kita lebih cenderung untuk mengikuti saran setan. Benar ga? Kalo ga, ga ada dosa di dunia ini.

Tentang pengharaman babi tidak diberikan alasannya, dan untuk saya ini adalah sebuah ujian.. dan saya akan mencoba menjalankannya.

salam,


JJ, segala sesuatu terjadi atau terbentuk ada alasannya. Jadi, kalo buat saya Allah melarang saya untuk mandi misalnya, dan tanpa alasan, itu bukan Allah, tapi setan. Dan satu2nya alasan kita mandi adalah untuk kebersihan. Sama seperti Allah yang adalah kudus dan bersih. Kalo kita menghadap Dia bukankah kita membersihkan diri terlebih dahulu?

Ujian? Buat apa? Saya mau tekankan di sini. Allah menguji kita untuk kebaikan kita. BUKAN tanpa alasan.
User avatar
je_prince97
 
Posts: 1088
Joined: Wed Oct 01, 2008 1:44 pm

Postby Duladi » Wed Oct 15, 2008 6:59 pm

JJ wrote:Dimata Allah yang terpenting adalah 'halal' dan sah


Itu Halal & Sah di mata TUHAN .....atau..... Halal & Sah di mata PRIA? :lol:

Klik: ISLAM AGAMA BUATAN PRIA


Info:
Upacara Nikah dalam Islam bisa digunakan untuk menghalalkan zinah.

Jadi bagi siapa saja (yaitu para pria) yang ingin berzinah namun halal, silakan pindah agama ke Islam. Enak lho.... :wink:
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby jj » Thu Oct 16, 2008 1:03 am

suara_hati wrote:Yang saya tebali. Bagi orang yang sedang khilaf, dia merasa tidak sedang menyalah gunakan Quran pada waktu melakukan poligami. Dia khilaf, dan Quran justru menterjurumuskan dia lebih dalam. Saya kasih ilustasi biar lebih panjang.


Suatu saat seorang suami khilaf, karena mengigini tubuh seksi perempuan lain yang bukan istrinya. Perasaan itu begitu menggoda dia. Tetapi dia sangat mencintai istri dan keluarganya. Dia tahu kalau dia melangkah lebih jauh, istrinya dan keluarganya pasti akan sangat merasa dikhianati dan disakiti. Kesadaran ini membuat dia berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran kotor itu. Cintanya kepada istri dan keluarganya membuat dia tidak mau senang-senang sendiri dengan mengorbankan perasaan mereka. Orang dengan kesadaran nurani seperti ini tidak perlu Quran untuk tahu mana yang baik dan mana yang tidak.


Saya setuju,

suara_hati wrote:Saya kembangkan lebih jauh.

Tidak semua orang memiliki kesadaran nurani seperti orang itu. Ada saja orang lain yang meskipun tahu bahwa menindak lanjuti pikiran seperti itu bisa menyakiti istri dan kelurganya, tetapi karena tidak tahan menghadapi godaan itu, tetap melangkah lebih jauh. Selingkuh. Atau nikah lagi secara diam-diam. Ada juga laki-laki tipe lain yang gemar jajan meskipun sudah memiliki istri. Semuanya tergantung pada pribadi masing-masing. Tanpa Quran, hal-hal seperti itu terjadi. Jika hal ini terjadi, kita menilai, bahwa suami yang berbuat seperti itu adalah bejat. Mau enaknya sendiri dengan mengorbankan pasangan dan keluarganya. Kita bisa membedakan mana suami yang baik, setia dan yang tidak. Pelakunya sendiri mungkin juga dalam hati kecilnya menyadari bahwa apa yang dilakukan sangat melukai pasangannya, tetapi apa boleh buat, godaan itu tidak tertahankan.


Saya setuju juga,

suara_hati wrote:Yang jadi persoalan adalah pernyataan berikutnya yang menyatakan bahwa yang benar itu datangnya dari Tuhan (maaf saya ganti Tuhan, karena saya tidak setuju menyamakan Tuhan dengan Allah yang dipercaya muslim). Bagi yang percaya Tuhan, tentu jawabanya ya. Tetapi siapa yang berhak menyatakan “ini dari Tuhan”. Kitab suci? Nabi? Kalau misalnya ada kitab suci yang menyatakan boleh merampok, boleh menyetubuhi budak, dan kitab suci ini dipercaya pemeluknya berasal dari Tuhan, dipercaya sebagai “firman Tuhan”, apakah anda akan setuju bahwa hal itu benar karena datangnya dari Tuhan? Apakah anda akan menutup akal dan hati anda untuk setuju dengan itu? Atau apakah tidak sebaiknya kita memverikasi dulu apakah keyakinan kita itu benar?

Benar sayapun setuju dengan anda, bisa saja seseorang membuat buku dan mengklaim itu dari TUHAN.


suara_hati wrote:Lebih jauh.

Kasus untuk tipe laki-laki kedua itu terjadi pada muslim yang mengenal betul Quran. Yang tahu bahwa poligami itu boleh. Halal. Dia tertarik dengan wanita lain dan ingin menikahinya. Dia memberi tahu istrinya. Tentu saja sang istri shock. Terjadi keributan. Suami jadi jarang pulang dan tidak mempedulikan istrinya. Suami bilang kepada istrinya bahwa Allah sesuai Quran membolehkan dia menikah lagi. “Saya akan bersikap adil. Saya cukup harta. Kalau kamu tidak terima, kamu mau apa. Tapi sebaiknya kamu terima, karena menurut Allah itu lebih baik. Mencari jalan damai itu lebih baik daripada kita harus bercerai”. Begitu katanya. Dia sodorkan ayat dan tafsirnya dari para ahli islam terkemuka.

(4:128) Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(129) Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(130)Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.

Apakah anda bisa melihat perbedaan antara contoh kedua dan terakhir jika kedua-duanya sama-sama berakhir dengan pernikahan. Dari contoh yang kedua, menikah secara diam-diam. Dan contoh orang muslim menikah terang-terangan dengan ijin istrinya. Yang menikah diam-diam tentu masih tahu bahwa jika dia lakukan secara terang-terangan akan menghancurkan keluarga pertamanya. Contoh muslim, dia tidak merasa bersalah. Halal dan baik dimata Allah. Dia mungkin juga tahu bahwa apa yang dilakukan menghancurkan perasaan istrinya tetapi dia tidak merasa bersalah. Dia merasa benar dihadapan Allah.


Contoh yang anda berikan adalah perumpamaan seorang suami yang sama 'bejad'nya, perlu diingat bahwa pernikahan adalah 'mutual agreement' antara pria dan wanita.
Jadi ketika si suami mulai melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh si istri, entah itu poligami, malas bekerja, abusive, dll, setelah didiskusikan dan si suami masih tetap bersikeras melukai hati istri,
si istri dapat meminta cerai.


Bagaimana jika saya berikan contoh lain yang mungkin saja terjadi:

misalkan ada pasangan suami istri yang saling mencintai, suatu saat si istri terkena musibah hingga lumpuh total, tidak dapat melakukan aktivitas apapun entah itu bekerja, memasak, berhubungan badan, bahkan mengambil air minum sekalipun.
Sang suami yang bekerja dengan gaji pas2an tidak mampu memiliki pembantu untuk menjaga si istri yang tentunya memerlukan bantuan ketika suami tidak dirumah.
Setiap harinya setelah lelah pulang bekerja, si suami masih harus memasak dan membersihkan rumah, memandikan istri dan segala keperluan rumah tangga.

Bertahun2 sang suami 'menahan' seluruh kebutuhan jasmaninya dan melakukan seluruh pekerjaan diatas tanpa mengeluh sedikitpun, segalanya dilakukan semata2 untuk membahagiakan sang istri dan mempertahankan keluarga yang bahagia.
Lama kelamaan istrinyapun sadar akan keadaan si suami, dia mengetahui bahwa sang suami sangat sayang dan dengan giat melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan 2 orang tapi dilakukannya seorang diri.
Hingga suatu saat sang istri mengerti bahwa cinta dan rasa ingin memiliki adalah dua hal yang berbeda.
Cinta menjadi egois ketika kita selalu mengharapkan pasangan kita untuk memberikan seluruhnya untuk membahagiakan diri kita.
Cinta yang tulus muncul ketika kita berusaha berkorban untuk kebahagiaan orang yang kita sayangi.


Memang perahu itu biasanya memiliki seorang nahkoda dan seorang co-pilot, tapi ketika co-pilot tidak dapat menjalankan tugasnya
tentunya segala tugas itu akan terbebankan kepada nahkoda.
Jika cuaca cerah tentunya nahkoda dapat menjalankan perahu itu sampai tujuan, tapi bagaimana nasib perahu itu jika ada badai ditengah lautan.
Keduanya harus memikirkan bagaimana yang terbaik untuk menyelamatkan perahu yang mereka sayangi dan bina bersama.
Apakah mereka harus balik kepelabuhan dan mengajak co-pilot baru yang dapat membantu perahu ini berlayar?
ataukah tetap berlabuh dan siap menghadapi tantangan didepan.

suara_hati wrote:JJ, kalau ada waktu, mungkin anda mau memberi komentar di forum “Muhammad” – “Adakah Rasul/Nabi Arab sebelum Muhammad”.

Saya akan lihat2 kesana.

salam,
jj
 
Posts: 1466
Joined: Tue Oct 23, 2007 3:30 am

Postby Duladi » Thu Oct 16, 2008 10:11 am

JJ wrote:Hingga suatu saat sang istri mengerti bahwa cinta dan rasa ingin memiliki adalah dua hal yang berbeda.
Cinta menjadi egois ketika kita selalu mengharapkan pasangan kita untuk memberikan seluruhnya untuk membahagiakan diri kita.
Cinta yang tulus muncul ketika kita berusaha berkorban untuk kebahagiaan orang yang kita sayangi.


Itu ego pria atau ego wanita? Apa kamu mau membagi istrimu dengan pria lain? Ada-ada saja.

Saya rasa, suami yang tetap setia pada istri walau bagaimana pun kondisinya, akan mendapatkan PAHALA SEABREK dari sisi Tuhannya kelak. :wink:

Jangan yg dikejar kesenangan syahwat melulu.... dasar Pria Muslim!!!!!
Wanita dilarang egois, tapi dirinya sendiri malah egois.......!!!

Ah, untung saja saya sudah bukan muslim secara batiniah, sehingga saya bisa bebas dari pengaruh buruk AJARAN EGOIS PRIA ini.
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby jj » Fri Oct 17, 2008 4:16 am

Duladi wrote:
JJ wrote:Hingga suatu saat sang istri mengerti bahwa cinta dan rasa ingin memiliki adalah dua hal yang berbeda.
Cinta menjadi egois ketika kita selalu mengharapkan pasangan kita untuk memberikan seluruhnya untuk membahagiakan diri kita.
Cinta yang tulus muncul ketika kita berusaha berkorban untuk kebahagiaan orang yang kita sayangi.


Itu ego pria atau ego wanita? Apa kamu mau membagi istrimu dengan pria lain? Ada-ada saja.

Ini saya serahkan kepada individu masing2 saja.

Duladi wrote:Saya rasa, suami yang tetap setia pada istri walau bagaimana pun kondisinya, akan mendapatkan PAHALA SEABREK dari sisi Tuhannya kelak. :wink:

Saya setuju.

Duladi wrote:Jangan yg dikejar kesenangan syahwat melulu.... dasar Pria Muslim!!!!!
Wanita dilarang egois, tapi dirinya sendiri malah egois.......!!!

Ah, untung saja saya sudah bukan muslim secara batiniah, sehingga saya bisa bebas dari pengaruh buruk AJARAN EGOIS PRIA ini.


Tentunya ini berlaku untuk pria dan wanita,

Jadi kisah diatas bisa saja terjadi terbalik, sang suami yang lumpuh sehingga si istri 'terpaksa' harus mencari nahkoda lain.

Quran tidak melarang poliandri. (mohon koreksi jika salah).

salam,
jj
 
Posts: 1466
Joined: Tue Oct 23, 2007 3:30 am

Postby gaston31 » Mon Oct 20, 2008 11:19 am

JJ: Benar Quran tidak melarang istri untuk punya suami lebih dari 1, jadi jawabannya ya diperbolehkan.
===
lho.. J. gmn dgn ayat ini,
4: 24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki[282] (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[283] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[284]. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

jika ada larangan menikahi wanita yg bersuami, bknkah tdk ada peluang utk polyandry?
User avatar
gaston31
 
Posts: 3729
Joined: Tue Nov 21, 2006 2:17 pm

PreviousNext

Return to Ruang Poligami



Who is online

Users browsing this forum: No registered users