.

Perbudakan dalam Islam

Membahas pengalaman kerja orang di SAUDI pada umumnya dan kasus2 penganiayaan
terhdp TKW asal Indonesia di Malaysia, Saudi, pada khususnya.

Perbudakan dalam Islam

Postby Adadeh » Mon Dec 05, 2005 10:39 am

http://www.islamreview.com/articles/sla ... slam.shtml
Perbudakan dalam Islam
by Silas

Garis besar

Islam membudayakan perbudakan. Saat pindah ke Medinah dan memiliki kekuasaan, Muhamad mulai mengambil budak2. Mereka didapatkan dari hasil penyerangan2 terhdp suku2 Arab, baik dlm tindakan ofensif atau bela diri. Islam mengijinkan untuk mengambil budak sebagai “jarahan perang” atau upah perang. Ini mengakibatkan terjadinya banyak perang2 “jihad” yang dilakukan negara2 dan suku2 Islam untuk menyerang kelompok2 non-Muslim dan menjadikan mereka budak2. Hukum Islam menjelaskan peraturan untuk memperlakukan para budak. Akan tetapi penindasan terus terjadi sepanjang sejarah.

Prakata

Orang2 AS tahu benar sejarah perbudakan negara mereka dan menganggap ini tindakan berdosa dan sangat tercela. Perbudakanpun pada akhirnya dihapuskan oleh kaum Kriten di Inggris (Wilberforce, Clarkson) dan Amerika (kaum Abolitionists, terutama Protestant).

Akan tetapi, hanya segelintir orang Barat tahu tentang Islam dan perbudakan. Mereka akan kaget kalau tahu bahwa pemerintah2 Islam mengambil budak2 sebagai jarahan perang. Dari hari pertama Muhamad menghunuskan pedangnya untuk merampok dan menaklukkan para non-Muslim, sampai detik ini, Muslimin terus mengambil para non-Muslim dan bahkan Muslim yang tidak berkulit hitam, sebagai budak2 mereka.

Muslimin memperbudak orang2 Afrika lama sebelum kapal2 budak berlayar ke Amerika Utara. Muslim mengambil dan memaksakan perbudakan di seluruh tanah2 jajahan mereka. Di kemudian hari, ketika kapal2 budak dipenuhi oleh budak2 kulit hitam, seringkali agen budak Muslim sudah mempersiapkan kendaraan untuk memuat budak manusia itu tempat tujuan. Orang2 kulit putih di Afrika Selatan jarang pergi ke daerah tengah Afrika untuk mendapatkan budak2 karena para budak sudah tersedia di daerah mereka, milik para penguasa Muslim dan/atau agen budak! Para budak2 kulit hitam sering tidak dikirim ke Amerika Utara, mereka dikirim ke Timur Tengah untuk diperbudak orang2 Arab, atau oleh orang2 Muslim kulit hitam lainnya.

MUHAMAD, MUSLIM, QUR’AN, DAN PERBUDAKAN

Memang dari permulaan Qur’an menyebut dan mengesahkan perbudakan. Ini beberapa ayatnya:

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba2 wanita yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu (Q 33:50)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa mengambil budak2 dalam perang adalah hak yang diberikan Allah kpd Muslim. Budak2 ini dianggap sebagai “jarahan perang”. Seperti yang umum dikatakan: yang menang berhak memiliki barang2 jarahan.

[color=darkblue](Q 23:5) ... kecuali terhadap isteri2 dan budak2 wanita yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.[/color]

Konteks kalimat ini (yang tidak dikutip sepenuhnya) menjelaskan secara detail bahwa pria Muslim diperbolehkan untuk melakukan hubungan seksual dengan para istri dan budak2 wanita. Dari ayat ini dimengerti bahwa pria2 Muslim punya gundik2. Q 70:30 pada dasarnya mengulangi Q 23:5. Tulisan Ibn Sa’d, “Tabaqat”, menceritakan dengan jelas bahwa Muhamad punya “hubungan” dengan setidaknya salah satu budak2 wanitanya. Muhamad punya hubungan seksual dengan Mariyah, budak Koptiknya. Mariyah dan saudara wanitanya yang bernama Sirin adalah budak2 yang diberikan sebagai hadiah bagi Muhamad. Muhammad memberikan Sirin pada seorang penyair bernama Hasan Thabit. Ibn Sa’d berkata bahwa Muhamad “suka akan Mariyah, yang berkulit putih, berambut ikal dan cantik.” [Diambil dari tulisan Ibn Sa'd "Kitab al-Tabaqat al-Kabir" (Book of the Major Classes), p164].

Ibn Sa’d juga menulis bahwa Mariyah melahirkan anak laki Muhamad yang bernama Ibrahim. Anak ini mati 18 bulan kemudian. Sa’d menulis: “Jika dia hidup, tidak ada paman2 kandungnya yang tetap jadi budak”, hal. 164. Kalimat ini menerangkan bahwa ada budak2 Koptik lain yang dimiliki orang2 Muslim.

Qur’an juga memerintahkan Muslim untuk TIDAK memaksa budak2 wanita mereka melakukan pelacuran (Q 24:34), dan bahkan mengijinkan Muslim untuk menikahi budak2 itu jika mereka ingin (Q 4:24), dan untuk membebaskan mereka sebagai hukuman tindakan kriminal atau dosa (Q 4:92, 5:89, 58:3) dan bahkan mengijinkan budak2 untuk membeli kemerdekaan mereka, jika mereka memenuhi persyaratan dari majikan mereka (Q 24:33). [Q 90:10 ‘membebaskan orang yang terikat’ menunjuk pada orang2 Muslim yang menebus Muslim lain yang dijadikan budak2 oleh orang2 non-Muslim.]

Meskipun mengijinkan seorang budak mendapatkan kembali kemerdekaannya merupakan tindakan baik, tapi sungguh tragis bahwa Islam mengijinkan mereka untuk diperbudak pada mulanya. Ini seperti merampok bank dan memberikan sebagian uang yang dicuri kepada bank itu, dan mengira bahwa ini adalah perbuatan yang baik!

Ayat2 diatas menunjukkan bahwa mengambil budak diijinkan oleh Allah, dan majikan2 pria Muslim diperbolehkan berhubungan seks dengan budak2 wanitanya. Ini juga menunjukkan bahwa budak2 merupakan harta milik yang berharga bagi para Muslim. Kalau tidak, Allah tidak akan mewajibkan hukuman dengan memerdekakan seorang budak sebagai bayaran perbuatan kriminal.


HADIS BUKHARI DAN PERBUDAKAN

Terdapat beratus-ratus Hadis yang berhubungan dengan perbudakan. Semua bagian Hadis ditulis untuk mengatur perpajakan, perlakuan, penjualan dan hukum bagi para budak. Selain ini, banyak Hadis yang menyebutkan budak2, dan hubungan mereka dengan majikan Muslimnya. Ini adalah kumpulan Hadis2 Sahih Bukhari tentang budak2:

Hadis Sahih Bukhari Vol. 7-#137
Dikisahkan oleh Abu al-Khudri:
"Kami mendapatkan tawanan2 wanita dari penjarahan perang dan kami melakukan coitus interruptus (pengeluaran sperma di luar tubuh wanita) dengan mereka. Maka kami menanyakan pada Rasul Allah tentang hal itu dan dia berkata,”Apakah kalian benar2 melakukan itu?” dan mengulangi pertanyaan ini tiga kali, “ Jika jiwa ditakdirkan untuk tidak ada, maka jiwa ini tidak akan menjelma menjadi ada, sampai di Hari Kebangkitan.’”


Di sini orang2 Muslim telah mengambil beberapa budak wanita, dan melakukan hubungan seks dengan mereka. Muhamad memperbolehkan ini. Dia hanya menganjurkan mereka untuk tidak melakukan coitus interruptus.

Hadis Sahih Bukhari Vol. 5-#459 [Hadis ini serupa dengan Hadis di atas, tapi keterangannya lebih lengkap].
Dikisahkan oleh Ibn Muhairiz:
Aku masuk ke dalam mesjid dan melihat Abu Khudri dan lalu duduk di sebelahnya dan bertanya padanya tentang coitus interruptus. Abu berkata, “Kami pergi bersama Rasul Allah untuk Ghazwa (penyerangan terhadap) Banu Mustaliq dan kami menerima tawanan2 perang diantara para tawanan perang dan kami berhasrat terhadap para wanita itu dan sukar untuk tidak melakukan hubungan seksual dan kami suka melakukan coitus interruptus.

Maka ketika kami bermaksud melakukan coitus interruptus kami berkata: “Bagaimana kami dapat melakukan coitus interruptus tanpa menanyakan Rasul Allah yang ada diantara kita?”

Kami bertanya padanya tentang hal ini dan dia berkata: “Lebih baik kalian tidak melakukan itu, karena jika jiwa (dalam hal ini jiwa bayi) manapun (sampai hari Kebangkitan) memang ditentukan untuk menjadi ada, maka jiwa itu pun akan ada.’”


Dlm Hadis diatas ini diceritakan bahwa para Muslim menyerang Banu Mustaliq dan mendapat budak2. Budak2 wanita dibagi-bagikan sebagai jarahan perang kepada para tentara Muslim. Karena jauh dari tempat tinggalnya (istri2nya), para prajurit itu merasa terangsang dan ingin berhubungan seks dengan budak2 wanita yang baru saja ditangkap.

Mereka pergi ke Muhamad dan menanyakan tentang coitus interruptus. Tapi dia mengatakan pada mereka untuk tidak melakukan coitus interruptus itu, tapi membolehkan melakukan hubungan seks penuh dengan para budak itu.

Hadis lain menerangkan bahwa para prajurit Muslim tidak ingin membuat para budak wanita hamil karena mereka ingin bisa menjual mereka lagi di lain waktu. Di bawah hukum Islam, Muslim tidak boleh menjual budak2 wanita yang sedang hamil.

Efek dari Hadis ini adalah Muhammad memperbolehkan perkosaan atas tawanan2 perang wanita.

Hadis Sahih Bukhari, Vol. 3-#765
Dikisahkan oleh Kuraib: budak Ibn ‘Abbas yang dibebaskan
Maimuna bint Al-Harith mengatakan padanya (Kutaib) bahwa dia telah membebaskan seorang budak wanita tanpa meminta ijin kepada sang Nabi.

Suatu hari ketika datang gilirannya untuk bertemu sang Nabi, dia berkata, “Tahukah kau, O Rasul Allah, bahwa aku telah membebaskan budak wanitaku?” Dia berkata,”Benarkah itu?” Dia mengiakannya. Dia berkata,”Kau seharusnya bisa dapat anugrah lebih banyak jika kau berikan dia (budak wanita itu) kepada salah satu paman2mu.”


Di sini seorang budak wanita dimerdekakan, tapi Muhamad berkata bahwa dia (Maimuna) seharusnya bisa mendapatkan lebih banyak anugrah jika dia memberikan budak itu kepada salah satu pamannya, dan ini berarti tidak memerdekakan budak itu.

Hadis Sahih Bukhari, Vol. 7-#734 "....Seorang budak berdiri di dekat pintu kamar (Muhamad) dan aku datang padanya dan berkata,”Ijinkan aku masuk kamar” ….

Hadisnya panjang, tapi kutipan di atas menunjukkan bahwa Muhamad punya budak yang bekerja di rumahnya.

Hadis Sahih Bukhari, Vol. 7-#344
Dikisahkan oleh Anas:
"Rasul Allah pergi ke rumah budaknya, seorang penjahit, dan dia ditawarkan sepiring labu manis yang lalu dimakannya. Aku jadi sangat suka labu manis sejak aku melihat Rasul Allah memakannya.”


Hadis ini menunjukkan budak lain milik Muhamad yang bekerja sebagai penjahit. #346 menambahkan keterangan yang lebih detail.

Hadis Sahih Bukhari, Vol. 5-#54
Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Ketika kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan emas atau perak sebagai barang jarahan, tapi kami mendapatkan sapi2, unta2, harta benda dan perkebunan. Dan kami lalu pergi bersama Rasul Allah ke lembah Al-Qira, dan pada saat itu Rasul Allah punya seorang budak bernama Midarn yang diberikan kepadanya dari seorang Banu Ad-Dibbab. Ketika budak ini sedang memasang pelana Rasul Allah, sebuah panah yang entah diluncurkan siapa, melesat dan menusuknya ….


Hadis ini menunjukkan bahwa Muhamad mempunyai seorang budak, yang tertusuk panah.

Hadis Sahih Bukhari, Vol. 5-#637
Dikisahkan oleh Buraida:
Sang Nabi mengirim Ali kepada Khalid untuk membawa Khumus (seperlima jarahan perang) dan aku benci Ali dan Ali baru saja mandi (setelah melakukan hubungan seks dengan seorang budak wanita dari Khumus).

Aku berkata kepada Khalid, “Tidakkah kau lihat dia (Ali)?” Ketika kami bertemu sang Nabi, aku menceritakan itu padanya. Dia berkata,”O, Buraida! Apakah kau membenci Ali?” Aku berkata, “Ya.” Dia berkata, “Apakah kamu membencinya karena dia berhak mendapatkan lebih daripada apa yang dia dapatkan dari Khumus?”


Hadis ini mengungkapkan bahwa “Buraida membenci Ali karena dia mengambil seorang budak wanita dari jarahan perang dan menganggap itu sebagai hal yang tidak baik.” Ali mengambil seorang budak wanita baru dan berhubungan seks dengannya. Ketika Muhamad diberitahu akan hal ini, dia tidak melarangnya. Ingatlah bahwa budak2 dianggap sebagai jarahan perang, dan dianggap sebagai kepunyaan para pria, dan para pria diperkenankan melakukan hubungan seks, memperkosa budak2 wanita itu.

Hadis Sahih Bukhari, Vol. 5-#512
Dikisahkan oleh Anas: ".....
Sang Nabi memerintahkan pembunuhan para tentara, dan anak2 dan istri2 mereka dijadikan tawanan perang …”

Hadis ini mengisahkan penyerangan terhadap orang Yahudi di Khaibar. Sekali lagi, banyak wanita dan anak2 yang ditangkap dan dijadikan budak2.

Hadis Sahih Bukhari, Vol. 5-bab 67
Dikisahkan oleh Ibn Ishaq:
Serangan di Ghazwa dilakukan Uyaina bin Hisn untuk melawan Banu Al-Anbar, yang merupakan bagian dari Banu Tamim. Sang Nabi mengirim Uyaina untuk menyerang mereka. Dia memerangi mereka dan membunuh sebagian orang2nya dan menawan sisanya.


Di sini Muhamad mengirim tentaranya untuk menyerang suku lain. Mereka membunuh sebagian dari mereka dan menawan yang lain. Sekali lagi, para Muslim menyerang suku tetangga.

Hadis Sahih Bukhari, Vol. 5-#182
Dikisahkan Aisha:
"Abu Bakr punya seorang budak yang biasa memberikannya sebagian dari pendapatannya.”


Hadis Sahih Bukhari, Vol. 5-#50
Dikisahkan Amr Maimun: "....Budak milik Al-Mughira..."
[seorang Muslim lagi yang punya budak yang membunuh Umar.]
....Al-Abbas punya paling banyak budak2....
[Al-Abbas, yang nantinya jadi pemimpin Muslim punya banyak budak].


Hadis Sahih Bukhari, Vol. 9-#462
Dikisahkan oleh Aisha: "...Untuk selanjutknya kau boleh tanya budak perempuanku yang akan mengatakan padamu yang sebenarnya”. Maka sang Nabi menanyakan Banra (budak perempuanku) …
Aisha juga punya budak.

Juga di sini: volume 7-#s 845, 341, 352, 371, 410, 413, 654, ch. 22, ch. 23, and
volume 1-#s 29, 439, 661,
volume 9-#s ch. 23, ch. 32, #293, 296, 277, 100, 80.
Semua hadis2 ini menceritakan dengan rinci bahwa banyak Muslim yang punya budak2.


MUHAMAD, HADIS ABU DAWUD, DAN PERBUDAKAN

Hadis Abu Dawud, vol. 2, bab 597 - "Tentang orang yang memukuli budaknya sewaktu dia mengenakan Ihram (dalam keadaan suci)”

#1814- "(Abu Bakr) mulia memukuli budaknya dan sang Rasul Allah tersenyum dan berkata: “Lihatlah orang ini yang sedang dalam keadaan suci, apakah yang dilakukannya?”
(pesan bagi Hadis ini; "Abu Bakr memukuli budaknya untuk mengajarkannya rasa tanggungjawab.”)

Abu Dawud, vol. 2, bab 683 - "Tentang perkawinan seorang budak tanpa persetujuan majikannya.”

#2074- "Ibn Umar menceritakan sang Nabi berkata: “Jika seorang budak menikah tanpa restu dari majikannya, maka perkawinannya tidak sah dan batal.”

Abu Dawud, vol. 2, bab 1317 - "Kewajiban kontrak seorang budak."
#3499, 3500- "Kewajiban berdasarkan kontrak untuk budak berlangsung selama tiga hari. Jika majikan menemukan suatu cacat pada budak itu dalam waktu tiga hari, majikan dapat mengembalikannya tanpa bukti; jika dia menemukan cacat setelah tiga hari, maka dia harus menunjukkan bukti bahwa budak itu cacat saat dia membelinya.”



MUHAMMAD, MUWATTA IMAM MALIK, DAN PERBUDAKAN

Bagian2 yang disebutkan di bawah menunjukkan hakiki perbudakan dalam hidup Muhamad dan kehidupan para Kalifah. Muwatta adalah buku hukum Islam yang isinya penuh dengan peraturan bagaimana berhubungan dengan para budak. Budak2 digunakan terus-menerus di seluruh dunia Islam. Dengan melihat banyaknya Hadis2 di sini, bisa dimengerti bahwa banyak orang Muslim yang punya budak2.

Bagian 368 - "Siapa yang memiliki harta milik seorang budak jika budak itu diberi kemerdekaan.”
Bagian 371 - "Budak2 tidak dapat dimerdekakan sebagai Kewajiban dalam membebaskan seorang budak”
Bagian 383 - "Hidup bersama sebagai pasangan seksual dengan seorang budak wanita setelah mengumumkan Mudabbir-nya (Mudabbir = bebas setelah majikannya mati)
Bagian 387 - "Siapa yang berhak atas harta milik seorang budak atau budak gadis remaja pada saat budak dijual.”
Bagian 388 - "Batasan tanggung jawab bagi pihak penjual dalam penjualan seorang budak atau budak gadis remaja.”
Bagian 390 - "Aturan penjualan seorang budak gadis remaja.”
Ada bagian2 tambahan yang berhubungan dengan budak2. Daftar di atas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sangat banyak hubungan dengan para budak selama dan sesudah jaman Muhammad.


TULISAN2 ISLAM LAIN TENTANG PARA MUSLIM YANG MEMILIKI BUDAK2

Ada tulisan2 Islami lain yang menulis bagaimana Muhamad membeli, menjual dan membebaskan budak2. Kutipan2 berikut adalah dari “Behind the Veil” (Dari Belakang Kerudung):

Ibn Qayyim al-Jawziyya, seorang ilmuwan dan ahli sejarah Islam yang ternama mengatakan di bukunya "Zad al-Ma'ad", bagian 1, hal. 160:
Muhamad punya banyak budak2 pria dan wanita. Dia biasa membeli dan menjual mereka, tapi dia membeli lebih banyak budak daripada menjualnya. Suatu waktu dia menjual seorang budak kulit hitam untuk mendapatkan dua budak. Dia membeli budak2 lebih banyak daripada dia menjualnya.”

“Muhamad punya beberapa budak2 kulit hitam. Satu diantaranya bernama ‘Mahran’. Muhamad memaksa dia untuk bekerja lebih berat daripada orang biasa. Jika Muhamad pergi ke suatu tempat dan dia, atau orang2nya, lelah karena membawa barang2 mereka, dia menyuruh Mahran membawanya. Mahran berkata: “Bahkan jika aku telah membawa barang2 untuk 6 atau 7 keledai, siapapun yang lelah masih juga akan melemparkan baju2 atau perisai atau pedangnya padaku sehingga aku harus memanggul semua beban berat itu”.

Tabari dan Jawziyya juga menulis akan hal ini, Jelaslah bahwa Islam menerima ini sebagai hal yang benar.

Ali, menantu Muhammad, memecuti budak Aisha di depan Muhamad untuk membuatnya bicara tentang tuduhan2 perzinahan terhadap Aisha. Muhamad tidak mengatakan sepatah kata pun pada Ali tentang penyiksaan terhadap budak wanita itu. [Dari Sirat Rasulallah, halaman 496.]

Di Sirat Rasulallah, Muhamad membunuh 800 pria dan mengambil kaum wanita dan anak2nya untuk dijadikan budak. Dia mengambil setidaknya satu budak wanita Yahudi yang bernama Rayhana sebagai gundiknya, dan kemudian menyerahkan seluruh wanita pada tentara2 Muslim. Sirat-nya mengatakan (hal. 466): “Lalu sang Nabi membagi-bagikan harta benda, istri2 dan anak2 Banu Qurayza kepada orang2 Muslim

dan

“Lalu sang Nabi mengirim Sa’d Zayd saudara laki Ashhal bersama beberapa tawanan wanita Banu Qurayza ke Najd dan dia menjual mereka untuk mendapat kuda dan persenjataan.”

Satu hal sudah pasti: MUHAMMAD ADALAH PEMILIK BUDAK. Nama2 budak Muhammad yang banyak ditulis dengan penuh rinci di tulisan2 Muslim dan mereka semua dapat dibaca di buku “Behind the Veil”.

Sebagian Muslim berkata bahwa budak2 dibawah Islam diperlakukan secara adil dan baik, dan budak2 di negara Barat selalu diperlakukan seperti barang hidup. Kenyataannya adalah perlakuan terhadap para budak di negara Barat dan dibawah Islam bervariasi. Beberapa budak diperlakukan baik, yang lain diperlakukan secara brutal.

Baik Qur’an maupun Alkitab (sering digunakan Muslim utk membanding2kan kejelekan Kristen) memerintahkan para majikan untuk memperlakukan para budak dengan adil. Bandingkan Efesus 6:9 dan Sura 4:36. Keduanya serupa. Akan tetapi, Perjanjian Baru mengutuk perdagangan budak di 1 Timotius 1:10 (penculik orang sama artinya dengan pedagang budak), sementara Qur’an memperbolehkan, bahkan menganjurkan perbudakan.


HAK2 BUDAK DIBAWAH ISLAM

Menurut Kamus Islam Hughes, para budak tidak diperlakukan secara beradab. Contohnya: pria2 Muslim boleh melakukan seks kapanpun juga dengan budak2 wanitanya - - Sura 4:3, 4:29, 33:49.

Para budak tidak berdaya di hadapan majikan2 mereka seperti patung2 berhala di hadapan Tuhan - Sura 16:77. Menurut tradisi Islam, orang2 yang jadi tawanan perang punya dua nasib: dibunuh atau diperbudak. Ini menunjukkan bahwa para budak berderajat paling rendah sejak awal.

Berdasarkan hukum Islam, para budak adalah barang milik. Penjualan budak2 sama dengan penjualan binatang2. Muhammad memerintahkan beberapa budak yang dimerdekakan oleh para majikannya untuk DIPERBUDAK LAGI!

Hukum Islam mengijinkan pencambukan budak2. Menurut Islam, seorang Muslim tidak dapat dihukum mati karena membunuh seorang budak. Ref. 2:178 dan Jalalayn menegaskan hal ini.

Menurut Islam, kesaksian para budak tidak dapat diterima dalam penghakiman. Ibn Timiyya and Bukhari menyatakan hal ini.

Menurut hukum Islam, para budak tidak diperkenankan memilih pasangan kawinnya sendiri - Ibn Hazm, vol. 6, part 9.

Menurut hukum Islam, para budak dapat dipaksa untuk menikah dengan orang pilihan majikannya - Malik ibn Anas, vol. 2, hal. 155.

Perbudakan terus berlangsung di negara2 Islam dari jaman Muhamad sampai hari ini. Penguasa2 Muslim selalu dapat dukungan dari Qur’an untuk mengadakan ‘jihad’, sebagian untuk jarahan perang, sebagian lagi untuk mengambil budak2. Sejak kekuasaan Islam terpecah-pecah jadi negara2 kecil, setiap pemimpin kerajaan dapat menentukan apa arti sebenarnya dari theologia Islam. Pada umumnya, dia selalu menemukan ayat yang mendukung apa yang dikehendakinya. Tujuan mereka berjihad melawan negara tetangga digunakan untuk mengambil budak2 bagi Islam. Qur’an dan hukum Islam mendukung perbudakan, jadi para pemimpin Muslim ini hanya perlu membuka Qur’an mereka jika membutuhkan budak2.


SIAPAKAH YANG DAPAT DIPERBUDAK DI BAWAH ISLAM?

Islam mengijinkan Muslim untuk memperbudak siapa saja yang ditangkap dalam perang. Islam mengijinkan anak2 para budak untuk dibesarkan sebagai budak2.

Seperti di atas, Islam mengijinkan orang2 Kristen dan Yahudi untuk diperbudak jika mereka tertangkap dalam perang. Setelah tentara Muslim menyerang dan menaklukkan Spanyol, mereka mengambil ribuan budak dan dibawa ke Damaskus. Harga yang paling mahal saat itu adalah 1000 perawan yang dijadikan budak2. Mereka dipaksa pergi sampai ke Damaskus.

Orang2 Kristen dan Yahudi yang membuat perjanjian dengan pemimpin2 Muslim dapat dijadikan budak2 jika mereka tidak membayar Jizyah (pajak keamanan) sama seperti membayar Mafia yang melakukan pungutan liar! Dengan ini, para pemimpin Muslim diperbolehkan mengambil uang dari orang2 non-Muslim.

PERBUDAKAN SETELAH JAMAN MUHAMMAD
DARIMANAKAH DATANGNYA BUDAK2 MUSLIM YANG BANYAK ITU?


Meskipun orang2 Muslim mengambil budak dari seluruh daerah yang mereka kalahkan, banyak budaknya yang berkulit hitam dari Afrika. Mereka dipaksa harus melakukan pekerjaan2 terberat.

Terjadi pemberontakan terkenal yang dilakukan ribuan budak kulit hitam dan mereka membunuh ribuan orang Arab di Basrah. Para budak ini dipaksa untuk bekerja di tambang2 batu garam yang besar milik Muslim. Pada waktu pemberontakan, mereka menguasai kota Basrah di Irak. Mereka mengalahkan kota demi kota dan mereka tidak dapat dihentikan. Pemberontakan dan kemerdekaan mereka bertahan selama 11 tahun. ["Sejarah Islam", Robert Payne, hal.185.]

Sewaktu tentara2 Muslim terus melakukan penaklukan daerah2 lain, mereka pun mendapatkan banyak budak. Bernard Lewis di "The Arabs in History" menulis: “penganut agama banyak dewa dan penyembah berhala dianggap sebagai sasaran2 utama untuk dijadikan budak2.”

Di awal tahun2 pertama penaklukkan Arab, budak2 dalam jumlah sangat besar didapat dari tawanan2 perang. C.E. Bosworth dalam "The Islamic Dynasties" menulis: “penggunaan tenaga budak ini membuat orang2 Arab dapat hidup di tanah jajahan sebagai majikan dan menikmati potensi kekayaan ekonomi di tempat yang kaya raya itu.

Ibn Warraq di bukunya “Why I am Not a Muslim” menulis: “Orang2 Arab sangat terlibat dalam jaring perdagangan budak yang sangat luas – mereka menjelajahi pasar2 budak di China, India, dan Asia Tenggara. Ada budak2 Turki dari Asia Tengah, budak2 dari Kekaisaran Byzantine, budak2 kulit putih dari Eropa Tengah dan Timur, dan budak2 kulit hitam dari Afrika Barat dan Timur. Setiap kota di dunia Muslim punya pasar budak milik kota itu sendiri.”


PENINDASAN TERHADAP PARA BUDAK DI JAMAN ISLAM MODERN SAAT INI

Muhamad memang bilang bahwa para budak harus diperlakukan dengan adil. Meskipun begitu, mereka tetap saja dianggap barang milik orang Muslim. Sama seperti penindasan pernah terjadi di bawah agama Kristen, begitu juga penindasan pernah dan masih terjadi di bawah Islam. Beda antara keduanya adalah kitab suci Islam mendorong perbudakan dalam perang dan inilah yang mengabadikan perbudakan dalam Islam. Dalam perbudakan abadi yang masih terjadi, Islam telah melakukan banyak penindasan terhadap para budak.

Setiap orang tahu tentang penindasan terhadap budak2 di Amerika Serikat tahun 1800-an. Apa yang kau ketahui tentang penindasan para budak di bawah Islam? Aku temukan dua buah buku yang sangat bagus tentang perbudakan dan Islam:
"Slavery and Muslim Society in Africa", by Allan Fisher, pub in 1971, dan
"The Slave Trade Today" by Sean O'Callaghan, pub in 1961.

Kedua buku ini benar2 membuka mataku betapa parahnya perbudakan di bawah Islam. Sudah jelas benar bahwa penindasan ini masih berlangsung sampai hari ini.

Banyak referensi lain tentang perbudakan dalam Islam. Penelaahan umum didapat dari Kamus Islam Hughes. Buku ini menyatakan beberapa hal dasar:
Budak2 tidak punya kebebasan sipil, dan mereka berada di bawah kekuasaan majikannya sepenuhnya.
Perbudakan sangat sesuai dengan sifat Islam.
Islam memang membuat hidup lebih baik bagi para budak umumnya, tapi Muhammad bermaksud agar perbudakan tetap ada.

Hughes juga mengatakan bahwa dianggap tindakan yang arif untuk memerdekakan seorang budak. Tetapi sangat sukar mengerti bahwa Allah yang menyuruh Muhamad mengambil budak2 lalu kemudian mengatakan memerdekakan mereka adalah tindakan yang arif?

Dalam 'The Slave Trade Today', Sean O'Callaghan menjelajahi daerah2 Timur Tengah dan Afrika dan dengan sembunyi2 mengunjungi banyak pasar2 budak. Karena Islam mengijinkan perbudakan dan perdagangan budak, dia bisa melihat banyak tentang dunia perbudakan Islam yang nyata. Ingatlah bahwa O'Callaghan melihat ini kurang dari 40 tahun yang lalu. Perbudakan ini masih terjadi sampai hari ini, meskipun lebih dirahasiakan.

Di Djibouti dia menulis:
"Sepuluh anak2 laki dijejerkan membentuk lingkaran dalam dais (biasa digunakan untuk mempertontonkan para budak), pantat2 mereka menghadap kepada kami. Semuanya telanjang, dan aku melihat dengan penuh rasa ngeri bahwa lima diantara anak2 itu telah dikebiri. Pedagang budak mengatakan biasanya 10% dari anak2 laki itu dikebiri dan dijual bagi homoseks dari Saudi atau orang2 Yemen yang punya gundik2 sebagai penjaga2” hal. 75.

“Mengapa para anak2 gadis (budak2 perempuan yang baru saja dijual) menerima nasih mereka tanpa mengeluh sedangkan para anak2 laki meraung dan menangis?” “Sederhana saja” kata pedagang budak orang Somali ini, “Kami memberitahu anak2 gadis itu bahwa sejak usia 7 atau 8 tahun mereka digunakan untuk seks, usia 9 kita perbolehkan mereka mempraktekan seks dengan satu sama lain, dan setahun kemudian dengan anak2 laki”.

Di Aden dia menulis:
"Orang Yemeni mengatakan padaku bahwa gadis (budak2 gadis yang digunakan sebagai pelacur2) didorong untuk punya anak2, terutama dengan orang2 kulit putih. Karena jika seorang budak wanita punya anak kulit putih, dia akan diberi bonus 20 poun ketika anaknya diambil darinya”. Seperti yang kau baca, anak seorang budak tetaplah jadi budak, dan majikannya dapat menjual anak itu dan mengambil uangnya. Penjualan ini diperbolehkan di bawah hukum Islam.

"Hanya satu pelanggaran yang dihukum sangat berat, yakni berusaha melarikan diri dari harem … Gadis malang itu ditelanjangi dan direntangkan diikat di lapangan tengah … hukuman dilaksanakan oleh seorang kasim Negro yang besar dan kuat yang tampaknya menikmati tugasnya memecuti gadis itu 70 kali.”

"Karena ini, orang kasim biasanya penis dan buah pelirnya dibuang”! Ini pun sah di bawah hukum Islam, karena ini termasuk persiapan budak untuk melayani majikan.

Di Saudi Arabia dia menulis:
'Populasi budak diperkirakan berjumlah 450.000 orang”! … Penjualan budak2 tidak lagi dilakukan rutin, tapi hanya di gang2 di Mekah.”

‘Aku terbangun oleh teriakan2 dan jeritan2 yang datang dari lapangan tengah. Aku cepat2 pergi ke jendela dan melihat ke bawah di mana ada selusin budak2 digiring melalui pintu di bagian belakang lapangan. Mereka digiring bagaikan sapi2 ternak oleh tiga penjaga2 bersenjata yang kekar dengan memegang cambuk panjang. Waktu itu aku melihat seorang wanita yakni gadis Sudan dengan dada besar menerima cambukan keras di pantatnya yang telanjang dan dia menjerit kesakitan.’

‘Ketika budak berikutnya dibawa masuk, terdengar gumaman penuh rasa senang dari para calon pembeli yang berkumpul di sekeliling podium. Budak ini adalah anak laki ramping berusia 12 tahun dan berpenampilan fisik Arab sangat baik. Meskipun banyak hal telah ditulis tentang persaudaraan dan solidaritas antara orang2 Arab, aku tahu orang2 Arab tidak ragu untuk memperbudak rekan2 Arabnya jika mereka jatuh ke tangannya.

Anak laki itu telanjang dan berusaha menutupi kemaluannya dengan tangan2nya yang kecil dan dia berlari naik tangga ke atas podium … ada pepatah tua Bedouin yang mengatakan: “Kambing untuk digunakan, gadis untuk kenikmatan, tapi anak laki untuk ekstasi (kepuasan yang luar biasa)”. Anak laki ini lalu dibeli oleh seorang Arab tinggi berjanggut yang tangannya melingkari pinggang anak itu menuntun turun dari podium.”


Ini hanyalah sebagian kecil yang dilihat O'Callaghan. Ini terjadi karena Islam mengesahkan perbudakan. Memang penindasan budak bertentangan dengan Islam, tapi karena Islam mengabadikan perbudakan, maka penindasan akan terjadi.

Juga perlu diperhatikan bahwa jika budak2 itu jadi terlalu tua untuk melayani atau memuaskan nafsu berahi majikannya, para majikan akan membebaskan mereka. Sekarang para budak yang sudah tua dan tampak tak menarik lagi ini dilepaskan di jalanan untuk mengurus hidupnya sendiri. Para bekas budak ini dibiarkan sendiri untuk menghidupi dirinya. Para bekas majikannya telah melakukan tindakan yang arif dan bijaksana dengan membebaskan budak ini! Dia tidak usah repot2 lagi mengurus budak tua yang tak menarik lagi dan dia pun dapat bonus di surga karena melakukan tindakan arif ini. Sungguh suatu agama yang luar biasa!

Di bukunya, Fisher menulis tentang penelitian lain:
Di Mekah:
"Kami melihat 20 orang Negro memakai turban berjalan dekat Kaaba. Mereka adalah budak2 kasim dan bekerja sebagai polisi di Mesjid besar. Jumlah mereka semua adalah 50 orang.”

“Jalanan2 penuh dengan budak2 … kami melihat beberapa budak2 wanita tua. Mereka dapat dikenali dari pakaian mereka yang buruk … tapi kami tidak melihat budak2 wanita muda karena mereka dikurung di dalam rumah2 di kota ini.”

“Sewaktu kami terus berjalan, kami melihat dua atau tiga pria dan wanita yang sangat tua dan tampak seperti tengkorak hitam. Jika kami pergi ke mesjid waktu matahari terbit, kami melihat mereka di sana, jika kami pergi pada waktu matahari terbenam, mereka pun masih ada di sana, dan jika kami lewat waktu malam hari, mereka juga masih ada di sana… Mereka tidur di atas batu2 dengan baju mereka yang kumuh. Mereka tidak punya rumah dan makanan sehingga harus mengemis; mereka adalah para budak yang dimerdekakan majikannya dan mencari perlindungan dari Allah, begitu biasanya yang dikatakan para bekas majikan mereka.”


Sekarang bagaimana orang2 Saudi bisa mendapatkan begitu banyak budak2 kulit hitam? “Mereka (pedagang budak) datang sebagai penyebar agama Islam ke negara2 Afrika dan menjanjikan untuk menuntun orang2 Negro Afrika Muslim untuk pergi ke tempat2 suci Islam, naik haji, dan diajar membaca Qur’an dalam bahasa Arab.” Begitu mereka berangkat, mereka langsung dijadikan budak2. “Dengan partisipasi Pemerintah Saudi perdagangan budak di Afrika terus berlangsung di jaman kita saat ini meskipun ada peraturan interanasional yang melarangnya”.

Fisher juga menulis bahwa budak2 kulit putih berharga paling mahal.

Komentar lain yang menarik untuk disimak adalah para penyebar agama Islam tidak mau pergi ke beberapa bagian di Afrika. Alasannya adalah karena jika orang2 kulit hitam ini jadi Muslim, maka mereka tidak boleh diperbudak. Jadi para Muslim melarang penyebaran agama Islam diantara beberapa suku kulit hitam. Dari suku2 inilah pemimpin2 Muslim lokal mengambil budak2 dan menjualnya ke dunia Islam.

Dari waktu ke waktu, penindasan terjadi dalam perbudakan di bawah Islam. Negara Barat sudah bebas dari perbudakan, Islam tetap melanjutkannya, dan dengan itu pula penindasan terus berlangsung.

Ada sebuah artikel tentang perbudakan di Sudan yang ditulis di majalah Newsweek tanggal 12 Oktober 1992. Sejak saat itu, banyak ditulis artikel2 lain oleh berbagai media tentang perbudakan Islam di Sudan. Yang terjadi adalah orang2 di bagian selatan Sudah yang bukan Muslim, diserang, dikepung dan lalu dijual sebagai budak. Siapapun yang ingin membaca artikel2 ini hal ini dengan mudah bisa melakukannya lewat perpustakaan.

Akhir kata, aku ingat saat aku menonton pertunjukan Tony Brown's Journal. Pada waktu itu temanya adalah perdagangan budak yang masih ada di negara2 Muslim saat ini, penyiksaan para budak, anak2 laki yang berjalan timpang karena pergelangan kakinya patah, perampasan tanah2 Negro oleh orang2 Arab, dll. Siapapun bisa melihat ulang siaran Journal ini dengan memesan rekamannya. Seorang Negro Muslim dari Mauritania ada dalam siaran Journal ini. Dia menceritakan apa yang dilakukan orang2 Arab di Mauritania terhadap para Negro (semua Muslim) di sana. Berita hak2 azasi manusia baru2 ini juga melaporkan bahwa kejadian yang sama juga berlangsung di Mali. Para Muslim Arab dengan paksa merampas tanah orang Muslim Negro dan memperbudak mereka di sana.

Baru2 ini, sekelompok pastor2 Negro dari A.S., membentuk kelompok untuk menentang perbudakan Islam diantara orang2 kulit hitam, baik Muslim maupun non-Muslim di Afrika. Keterangan tentang hal ini dapat dibaca di majalah Charisma bulan Agustus 1997, dan pada tanggal 17 November 1997. Kelompok ini dinamakan "Harambee" dan berhubungan dengan Loveland Church di Los Angeles, CA.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby ali5196 » Mon Dec 05, 2005 3:45 pm

http://www.danielpipes.org/blog/123
http://www.worldnetdaily.com/news/print ... E_ID=35518
Pemimpin Agama Saudi Menyerukan bagi Disahkannya PERBUDAKAN

November 7, 2003

PErbudakan masih eksis dlm sebagian besar negara mayoritas Muslim (khususnya Sudan, Mauritania, Saudi Arabia dan Pakistan) dan topik ini BUKAN topik tabu.

Kelompok oposisi Saudi, the Saudi Information Agency, melaporkan bahwa seorang imam besar Saudi menyerukan agar PERBUDAKAN DISAHKAN KEMBALI di Saudi.

Sheikh Saleh Al-Fawzan, penulis buku religius (At-Tauhid, "Monotheism") yg digunakan secara luas oleh siswa2 SMA di Saudi maupun diluar negeri (termasuk sekolah2 Saudi di Barat).

"PERBUDAKAN ADALAH BAGIAN DARI ISLAM," katanya dlm kuliah belakangan ini. "Perbudakan adalah bagian dari jihad, dan JIHAD akan eksis selama Islam eksis."

Ia menentang pendapat bahwa perbudakan pernah dihapuskan, menghina mereka yg mempromosikan penghapusan perbudakan ini sbg
"****, bukan orang2 terpelajar. Mereka cuma penulis. Siapapun yg mengatakan hal demikian adalah kafirun."

Al-Fawzan bukan sembarang orang. Ia adalah:
* anggota Dewan Ulama Senior, badan religius Saudi paling tinggi;
* anggota Dewan Fatwa dan Riset Religius;
* Imam mesjid Pangeran Mitaeb di Riyadh; dan
* Professor di Universitas Imam Mohamed Bin Saud, pusat pengajaran Wahabi.

Bahwa pendapat macam itu dianut oleh seorang anggota penting dlm jajaran kekuasaan religius Saudi menunjukkan tragisnya arah Islam saat ini. (November 7, 2003)

Al-Fawzan juga mengancam akan memenggal seorang penulis dan pakar Saudi, Sheik Hassan Al-Maliki, karena berani mengritik Wahabisme. Al-Maliki dipecat dari posisinya di Kementerian Pendidikan setelah menulis paper berhalaman 50 mengritik buku Al-Fawzan, "Al-Tawheed."
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Fri Apr 06, 2007 6:20 am

http://news.yahoo.com/s/nm/20070321/wl_ ... ritania_dc

Wed Mar 21, 3:22 PM ET

NOUAKCHOTT (Reuters) - They do not wear chains, nor are they branded with the mark of their masters, but slaves still exist in Mauritania.

In the Saharan Islamic state, a centuries-old system of bondage is resisting the rise of democracy in the largely desert former French colony.

Herding camels or goats out in the sun-blasted dunes of the Sahara, or serving hot mint tea to guests in the richly carpeted villas of Nouakchott, Mauritanian slaves serve their masters and are passed on as family chattels from generation to generation.

They may number thousands, anti-slavery activists say. A shocking anomaly in the 21st century, this is widely accepted in a racially diverse, hierarchical society dominated by a Moorish elite and a brand of Islam that preaches submission.

"It's like having sheep or goats. If a woman is a slave, her descendants are slaves," said Boubacar Messaoud, who was born a slave and is now his country's leading anti-slavery campaigner.

He says a 1981 decree outlawing slavery is a dead letter and slavery is alive in Mauritania, with all its manifestations of non-paid work, punishment, forced sex and other abuses.

Mauritania's military rulers, who are handing over to civilian rule in democratic elections, shy away from discussing the issue and prefer to talk of "vestiges of slavery."

Some members of the light-skinned elite which has traditionally ruled the country deny slavery exists at all. Questions about it can draw anger, mistrust and silence.

But anti-slavery campaigners say the master-slave relationship and its social repercussions are branded into the minds of all Mauritanians, just as class-consciousness still haunts social discourse in Britain and other European states.

"There is slavery in our country, in all of our society. You need laws to eliminate it. The fact people try to hide what exists just complicates things," said Messaoud Ould Boulkheir, a black Mauritanian and descendant of slaves.

"It doesn't have to have chains to be there," added Boulkheir, who ran for the presidency in an election this month, finishing fourth out of 19 candidates.

"BORN A SLAVE"

In Nouakchott's sprawling, dirt-poor slums, most of whose inhabitants are black, the testimonies about enduring slavery are repeated, and heartfelt.

"Yes, it's true," said Abdarahman Ould Mohamed Abd, 52, a street vendor sitting outside his ramshackle hut. "In the interior of the country, it's the worst. You see it in the way some people treat others. Sometimes, they (the masters) have even killed children," he added.

His own surname means "son of Mohamed Slave" as "Abd" is the Arabic word for slave.

"It comes from a long way back. But it should end," he said.

Anti-slavery groups, such as SOS-Slaves run by Messaoud, say the fear and secrecy cloaking the issue make it difficult to bring cases of slavery to light, let alone to court.

But victims periodically surface, such as Matalla, a black Mauritanian who two years ago escaped from members of a Berber warrior tribe, the Reguibat. They were holding him and his family in the isolated deserts of northeast Mauritania.

"I was born a slave. All my family, all my ancestors were slaves of that group. My aunt, my brothers are still slaves with them," he said with lowered gaze.

He told Reuters he herded camels for his masters, ate only leftovers from their table and suffered occasional beatings.

"I have a scar here," he said, pointing to his right cheekbone, "from where they hit me with a stick."

Asked how many slaves his masters had he answered: "There are more than can be counted."

Anti-slavery activists say it is impossible to tell how many people remain enslaved in Mauritania, a mineral-rich country twice the size of France whose 3 million population mixes white and black Moors and black Mauritanians of several ethnic groups.

Diplomats in Nouakchott say the outgoing junta declined an offer from the
European Union to fund an investigative study.

"It's probably fairly widespread. In the houses of the Moors, you see young black boys serving tea. I don't know what their work contracts are but I would not like to have theirs," said one diplomat, who asked not to be named.

"POLITICS OF DOMINATION"

He said Mauritania's new president, to be elected in a March 25 run-off between two white Moor frontrunners, would have to tackle slavery and enduring social and racial inequality: "It's at the heart of this country's imbalances."

Historians say slavery developed in Mauritania from the 7th century, when Arab invaders pushed south into Sub-Saharan Africa, bringing their Islamic religion which explicitly allowed the enslavement of non-believers.

This blossomed into a Trans-Saharan Slave Trade that captured black Africans several centuries before the peak of the European-run Atlantic Slave Trade. Some historians argue the practice of slavery already existed in black Africa.

This religious sanctioning of slavery -- and the establishment of Arabicised Berber ruling castes whose wealth was partially based on it -- has marked Mauritanian society.

"There is a racial policy here ... It's the politics of domination," said Boulkheir, adding that Islamic law and succession rights guaranteed the perpetuation of slavery, passing on ownership from master to son.

He said the 1981 ban "doesn't exist" in practice. "It gives the right of compensation to the master," he added.

"The state has never prosecuted anyone. We need a law that criminalizes slavery," Messaoud said.

The activists said they had asked the outgoing junta head, Col. Ely Ould Mohamed Vall, to include a prohibition of slavery in the constitution, but he rejected the idea.

Slavery was so engrained in Mauritania's society that it had even crossed racial and social barriers, they said.

"There are white slaves. There are blacks with black slaves. There are even freed slaves who have slaves," Boulkheir said.

He said many Mauritanians remained "slaves in their heads" even after freedom.

Asked if he forgave his former masters, Matalla shook his head: "No ... they are bad people."

(Additional reporting by Ibrahima Sylla)
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Tue Apr 10, 2007 10:34 pm

ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Ruang TKW Indonesia



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron