.

Aduh Malunya Dijuluki "Abu Khomsin"

Membahas pengalaman kerja orang di SAUDI pada umumnya dan kasus2 penganiayaan
terhdp TKW asal Indonesia di Malaysia, Saudi, pada khususnya.

Aduh Malunya Dijuluki "Abu Khomsin"

Postby NoMind » Wed Feb 15, 2006 1:05 pm

Catatan dari Arab Saudi (1)

Aduh Malunya Dijuluki "Abu Khomsin"


http://www.suaramerdeka.com/harian/0205/02/nas7.htm

SELAMA dua bulan lebih wartawan Suara Merdeka H Ahmad Adib, melakukan liputan haji di Tanah Suci. Di sela-sela melakukan ibadah haji serta bertugas sebagai petugas haji di Arab Saudi, dia membuat catatan kecil soal TKI atau TKW serta liku-likunya.

SULIT rasanya menegakkan kepala di hadapan orang-orang Arab Saudi pada saat sekarang ini. Padahal, dulu mereka begitu hormat dan bangga karena ada sederet tokoh ulama besar Indonesia di Masjidil Haram seangkatan Syekh Nawawi Al-Bantani yang dibanggakan.

Saat itu orang Indonesia bisa mengangkat kepala ketika memperkenalkan diri. Namun kini sulit. Tak heran jika guru besar IAIN Jakarta, Muslimin Nasution, menggambarkan betapa rendah martabat kita karena tak lebih dari pembantu rumah tangga atau tenaga kerja wanita (TKW) atau apalah namanya.

''Begitu menyebut nama Indonesia langsung orang Arab ingat nama-nama ulama besar di Masjidil Haram saat itu. Sekarang tidak lagi. Bahkan yang mereka ingat adalah bangsa PRT,'' ujar dia, ketika berceramah saat wukuf di Arafah.

Yang lebih menyedihkan, sekarang orang-orang Arab memanggil orang Indonesia dengan Abu Khomsin. Itu julukan bagi para penyalur wanita yang bisa dibayar 50 riyal (setara Rp 150.000) untuk diajak berbuat mesum.

Dra Hartini Khaliq MM, istri Kabid Haji Abdul Kholiq MA, bercerita panjang-lebar soal liku-liku wanita Indonesia yang berharga 50 riyal itu. Mereka sudah menyebar ke mana-mana. Tak hanya di Thaif atau di kota pantai Laut Merah yang agak longgar ketimbang Makah dan Madinah karena ada tempat-tempat hiburan.

Di Makah pun sudah banyak wanita 50 riyal itu. Dengan cara terselubung, mereka datang ke hotel-hotel. Namun sangat samar karena kencan dilakukan melalui telepon genggam.

''Bagi orang Arab, uang 50 riyal sedikit. Tetapi bagi kita itu begitu banyak. Jadi orang-orang kita sudah semurah itu,'' ujar dia. Kebanyakan wanita itu malas bekerja berat dan sudah memiliki bibit tidak benar di Tanah Air.

Tak heran jika Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafii Maarif dalam kuliah subuh saat wukuf menggambarkan betapa martabat bangsa Indonesia di mata orang-orang Arab sudah jatuh sampai ke titik terendah.

''Kita harus berpikir keras mencari jalan keluar. Kita tidak boleh tinggal diam kalau tidak ingin nama Indonesia tinggal sejarah,'' tegas Syafii Maarif.

Kesalahan

Duta Besar RI di Arab Saudi, Maftuch Basyuni, melihat secara jernih berbagai peristiwa memilukan yang menimpa para TKW disebabkan oleh kesalahan bangsa Indonesia.

Penyebabnya antara lain pemerintah selama ini mengirimkan tenaga kerja yang tidak profesional. TKW umumnya tak mampu berbahasa Arab atau Inggris, sehingga selalu terjadi miskomunikasi dengan majikan.

''Bayangkan saja, setiap kali majikan meminta diambilkan sapu ternyata yang dibawa ember. Meminta diminta mengambil bumbu dapur, malah membawa rokok. Kalau kejadian dari hari ke hari terus-menerus demikian, lama-kelamaan majikan kesal. Maka sebagian besar kasus adalah TKW dianiaya majikan perempuan,'' kata Maftuch saat berada di Kantor Daker Makah.

Setiap kali terjadi miskomunikasi, orang Indonesia justru tersenyum. Padahal, senyum bagi lelaki Arab dikira rayuan. Makin kerap TKW tersenyum, majikan lelaki kian senang.

''Sebaliknya, majikan perempuan justru makin sebal dan marah. Karena itu majikan perempuanlah yang sering menganiaya TKW.''

Akibatnya, banyak pembantu mendapat hukuman. Berbagai macam hukuman diberikan sehingga mereka tidak betah. Akhirnya mereka melarikan diri.

Ketidakmampuan TKW berbahasa Arab juga menimbulkan kesulitan baru. Ketika melakukan perjalanan ke KJRI atau Kedubes RI mereka tak pernah sampai. Akhirnya mereka ditampung orang-orang Indonesia yang bermukim di Saudi.

Penampungan orang-orang Indonesia seperti itu membuat TKW makin sesat. Selain dikerjai, mereka akhirnya jatuh dari pelukan satu lelaki ke lelaki lain. Akhirnya mereka "dijual" seharga 50 riyal atau yang dikenal sebagai Abu Khomsin.

Seorang pejabat Kantor Bidang Urusan Haji Jeddah berjanji memberikan petunjuk atau "akses" untuk mendapatkan "pelayanan" khusus dari TKW. Dia meyakinkan bahwa praktik prostitusi di kalangan TKW bukan isapan jempol.

Konsul Jenderal RI di Jeddah Abdul Wahid Maktub ketika menerima Suara Merdeka dan sejumlah wartawan yang berpamitan seusai menunaikan ibadah haji secara blakblakan mengakui ada praktik pelacuran terselubung.

''Akibat banyaknya kasus seperti itu orang Arab menggeneralisasi bahwa setiap orang Indonesia gampangan. Setiap wanita mereka kira dengan mudah mau melayani setiap lelaki yang menginginkan dan setiap lelaki akan dengan mudah menyiapkan cewek dengan uang 50 riyal."

Akibatnya, banyak orang Indonesia baik-baik sangat risi jika harus berada di tengah masyarakat Arab. Setiap perempuan dikira TKW dan PRT, sedangkan setiap lelaki dikira TKI dan sopir. Untung, jika sekadar disebut sopir. Sering kali mereka dikira menyiapkan juga wanita-wanita alias menjadi germo.

Agak beruntung Suara Merdeka dalam berbagai kesempatan kerap disangka orang Malaysia. Entah apa sebabnya, apakah karena berjenggot atau sebab lain, setiap kali masuk melihat-lihat harga barang atau emas di toko disangka berasal dari Malaysia. ''Anda dari Malaysia?'' Itulah pertanyaan yang terlontar.

Dengan membaca istigfar lebih dulu serta berniat menghindari fitnah karena khawatir ditanya macam-macam, saya terpaksa diam tak menjawab pertanyaan sebagai tanda mengiyakan sehingga tak muncul pertanyaan lanjutan. ''Bagus-bagus,'' ujar seorang pemilik toko menanggapi sikap diam itu.

Hartini pernah kesal pada orang-orang Arab yang melihat wanita Indonesia adalah sama. Artinya, pasti TKW. Ketika dia hendak berbelanja di sebuah toko, mereka bertanya secara menjengkelkan. Mereka menyangka wanita kita tak memiliki uang.

''Saya istri Kabid Haji. Jelek-jelek saya mempunyai rumah dan mampu menyewa flat. Tapi kalau berada di luar rumah, orang selalu bertanya saya ditampung di mana, majikan tinggal di mana, dan berbagai pertanyaan yang sangat menyebalkan.''

Setiap kali dia membawa anak-anak berbelanja di mal atau jalan-jalan di tepi pantai Laut Merah. Orang-orang yang menemui melihat mereka bahagia. Namun ada orang menyapa dan membuat dia sakit hati. ''Enak ya punya majikan baik, boleh membawa anak-anak.''

Dia menyesal, mengapa tak ada orang yang melihatnya mampu mandiri dan bisa menikmati hidup sebagaimana orang lain. Orang selalu mengira orang Indonesia adalah PRT dan TKW.

Maftuch Basyuni berpendapat cara pandang orang Arab terhadap bangsa Indonesia itu tidak bisa disalahkan. Sebab, semua dilakukan orang Indonesia.

''Kalau memang ingin berubah, bangsa Indonesia yang harus mengubah. Kita harus introspeksi. Jangan-jangan kita yang salah. Jangan keburu menyalahkan orang lain,'' ujar dia.

Merasa sudah lama menjadi "bulan-bulanan" bangsa lain, para mahasiswa yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah "mencegat" Konsul Jenderal RI di Jeddah, Abdul Wahid Maktub, saat berada di Kantor Bdan Urusan Haji. Mereka serempak meminta Pemerintah RI segera menutup dan menghentikan pengiriman TKW ke seluruh Timur Tengah.

''Ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bangsa dan mengembalikan martabat. Kita sudah dianggap bangsa kuli, bahkan bangsa budak. Tolong pemerintah pusat segera bertindak. Sudah puluhan tahun Indonesia mengirim TKW, namun hasilnya hanya begini. Tidak seimbang dengan devisa yang diperoleh dengan muka terus tercoreng,'' kata Arief Rachman, mahasiswa S2 asal Jalan Jamika, Bandung, yang belajar di Maroko.

Konjen RI sangat sedih atas berbagai peristiwa yang menimpa para TKW RI. Dia setiap bulan menerima antara 10 dan 15 surat dari TKW yang mengeluhkan kondisi mereka. Mereka melalui surat mengeluh disiksa majikan, tidak dibayar, menerima pelecehan seksual, dan diancam dibunuh.

''Sedih sekali melihat martabat bangsa Indonesia sedemikian direndahkan. Setiap surat yang dialamatkan ke Konjen selalu saya baca. Secara detail huruf demi huruf saya baca dan saya renungkan. Akhirnya saya sulit membayangkan bagaimana kalau itu menimpa kita. Bagaimana kalau itu menimpa saudara kita, istri kita, ibu kita? Heran, pada zaman sedemikian mo-dern masih ada perbudakan seperti ini,'' ujar Maktup dengan logat Madura yang masih kental.

Dia menuturkan rata-rata setiap bulan ada 10-15 orang TKW kabur dari tempat majikan dan sampai ke KJRI. Angka sebenarnya pasti lebih dari itu. Sebab, banyak TKW kabur yang ditampung orang Indonesia dan akhirnya dipekerjakan lagi ke orang Arab. Atau, dieksploitasi untuk kepentingan mereka.

Pada bulan-bulan setelah musim haji, TKW yang kabur makin banyak. Booming TKW kabur terjadi karena para majikan setelah musim haji biasanya berlibur ke luar negeri.

TKW yang bertahun-tahun tidak pernah keluar dari rumah majikan pun mencari akal untuk keluar. Pada saat itulah mereka melarikan diri ke KJRI. Sayang, setiap TKW tak memegang paspor dan visa sehingga kesulitan pun terus membayangi mereka.

Dilematis. Sebetulnya banyak warga Indonesia sudah menjadi mukimin yang ingin kembali ke Tanah Air. Mereka sedih, karena untuk mendapat pekerjaan bergaji Rp 500.000 saja amat sulit. ''Mending di sini, jaga toko saja dapat gaji 500 riyal sebulan. Kalau sudah lebih satu 1 juta riyal dikurs ke rupiah,'' ujar dia.

Apalagi kondisi ekonomi tak kunjung pulih. Jangankan yang belum punya pekerjaan, yang sudah bekerja saja dikenai PHK. ''Mau kerja apa?'' ujar Munafin, mukimin asal Banyuwangi yang sudah bertahun-tahun tinggal di Makah.

Untuk mengatasi masalah itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan fatwa bahwa pengiriman TKW ke luar negeri, termasuk ke Arab Saudi, hukumnya haram melihat kemadaratan atau mafsadahnya lebih besar.

Namun tak satu pun warga, bahkan pengerah tenaga kerja menggubris fatwa itu. (Bersambung-60g)
User avatar
NoMind
 
Posts: 451
Joined: Tue Sep 13, 2005 11:25 pm

Postby wix » Sun Oct 15, 2006 1:43 pm

Itu akibatnya jika sudah dicap menjadi negara miskin. Apalagi jika pemerintah tetap memberikan perlakuan khusus kepada turis sex arab dan yang juga didukung oleh "joke" Jusuf Kalla :) nasib bangsa kita ditangan kita sendiri!
wix
 
Posts: 285
Joined: Sat Sep 23, 2006 1:58 pm
Location: Heaven and Earth

Postby yusuf_bin_sanusi » Sun Oct 15, 2006 2:09 pm

ITU FITNAH!!!
Apapun katanya kami bangga dan akan tetap menjilat pantat dan telor arab. Meniru bahasa mereka, membawa budaya mereka ke Indonesia dan mengganti budaya nenek moyang kami disini dengan budaya dan bahasa mereka. Walaupun anak-anak perempuan kami diperlakukan biadab dan tak berharga tapi karena orang2 arab adalah se-ukuwah kami dalam islam dapat memakluminya, tidak apa-apa !
Kami mencintaimu pantat dan telor arab..!
User avatar
yusuf_bin_sanusi
 
Posts: 596
Joined: Wed Aug 02, 2006 8:47 am
Location: Di Luar Tenda si Momed, ngintip doi ber-Pedophil ria..asyiikk.. :)

Postby wix » Sun Oct 15, 2006 2:24 pm

:) :) :)
wix
 
Posts: 285
Joined: Sat Sep 23, 2006 1:58 pm
Location: Heaven and Earth

Postby openyourmind » Sat Oct 21, 2006 8:30 am

Kenapa mesti malu pada kenyataan sebenarnya? :)

Kalo kita engga pernah protes dengan tindakan yang dilakukan terhadap TKW kita maka artinya kita menyetujui perbuatan para arab biadab itu.
Cukup menyedihkan memang bangsa kita dianggap rendah/terbelakang/miskin oleh negara lain, bahkan oleh tetangga dekat kita sendiri. Lebih parah lagi udah jadi negara miskin eh sombong pula kelakuan sebagian masyarakatnya. Apa kira2 yang bisa dijadikan contoh/dibanggakan dimata internasional dari negara kita sebagai negara berpenduduk islam terbesar didunia?
User avatar
openyourmind
 
Posts: 3051
Joined: Fri Oct 20, 2006 8:42 am

Postby Phoenix » Sat Oct 28, 2006 4:32 am

Penyebabnya antara lain pemerintah selama ini mengirimkan tenaga kerja yang tidak profesional. TKW umumnya tak mampu berbahasa Arab atau Inggris, sehingga selalu terjadi miskomunikasi dengan majikan.

''Bayangkan saja, setiap kali majikan meminta diambilkan sapu ternyata yang dibawa ember. Meminta diminta mengambil bumbu dapur, malah membawa rokok. Kalau kejadian dari hari ke hari terus-menerus demikian, lama-kelamaan majikan kesal. Maka sebagian besar kasus adalah TKW dianiaya majikan perempuan,'' kata Maftuch saat berada di Kantor Daker Makah.


JAdi..sah-sah aja TKW disiksa majikan hanya karena salah mengambil dan majikan jadi kesal...Kesal koq sampe nyiksa??? Mit-amit deeeeehhhhhh
Phoenix
 
Posts: 11175
Joined: Mon Feb 27, 2006 5:33 am
Location: FFI

Postby curious » Sat Oct 28, 2006 5:39 am

mengapa di arab umumnya majikan wanita yang menganiaya TKW? ya karena sebal suaminya lebih suka main dengan si TKW dibanding dengan bininya! cemburu....
User avatar
curious
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby yusuf_bin_sanusi » Sat Oct 28, 2006 7:48 am

Sebenarnya kalau dipikir2 orang arab itu sebetulnya ngga salah kok, muslimah yang jadi objek juga tidak boleh nuntut . Mereka (orang2 arab) cuma mengikuti jejak sang nabi yang mereka sebut sebagi insan kamil (manusia sempurna) yang patut DITELADANI. Lihat bagaimana apa kata "AULoH" mengenai hal ini :
[Qur'an 33:50]: Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki....
Guru kencing berdiri..murid kencing berlari..
Karena itu semua sudah diatur dalam Alqur'an maka hukumnya HALAL !!
Si muslim TIDAK BERSALAH si muslimah BUKAN KORBAN..
So..enjoy aja...
User avatar
yusuf_bin_sanusi
 
Posts: 596
Joined: Wed Aug 02, 2006 8:47 am
Location: Di Luar Tenda si Momed, ngintip doi ber-Pedophil ria..asyiikk.. :)


Return to Ruang TKW Indonesia



Who is online

Users browsing this forum: Google [Bot]