Page 1 of 1

Kata “Ex” (“Mantan”) di depan Muslim

PostPosted: Sun Feb 02, 2014 5:45 am
by Adadeh
Image
Tegarlah bersikap bahkan jikalau tiada yang berpihak padamu!

Kata “Ex” (“Mantan”) di depan Muslim
Oleh Ex-Muslimah asal Afghanistan yang tinggal di Kanada

Aku tidak pernah kenal seorang pun yang mati karena penyakit kanker, jadi mengapa kalian para onkologis membuang banyak waktu berbicara tentang hal itu? Banyak tuh orang² yang menderita kanker dan mereka baik² saja, bukan? Lebih baik kalian pergi saja.”
Dudesan

Kami memanggil diri kami sebagai Ex-Muslim. Ada alasan kuat akan hal ini.

Aku ingat perdebatan pertamaku dengan kedua orangtuaku tentang Islam di usia 12 tahun. Mereka menolak mengijinkanku untuk merayakan ulang tahun temanku dengan tidur semalam di rumahnya, karena aku, sebagai anak perempuan, harus didampingi seorang wali (mahram) Muslim. Temanku, Jessica, dan keluarganya adalah keluarga Kristen; dan ini rupanya memperparah keadaan. Karena marah, maka aku berkata pada mereka bahwa aku tidak mau lagi menjadi Muslimah. Ibuku lalu merenggut kain apronku (kain penutup tubuh bagian depan untuk masak) dan melemparkannya ke sudut dapur.

“Dengar nih,” katanya. “Aku tidak meninggalkan Afghanistan sehingga anak²ku menjadi orang Kanada. Kami membawa kau dan saudara² lakimu ke sini karena perang. Ngerti? Kau harus jadi Muslimah. Kau itu seorang Muslimah. Kakekmu itu Muslim, ayahmu itu Muslim. Tiada seorang pun dari anak²ku yang bukan Muslim.”

Image

Ibuku memegang tubuhku kuat² dan menunjukkan jari telunjuknya ke wajahku. Kata² dan tekanan suaranya mengguncangkan perasaanku selamanya. Dalam benak Muslim, termasuk keluara sendiri, Islam merupakan hal yang tak mungkin ditinggalkan. Islam adalah jati diri mereka. Kau selamanya harus tunduk di bawah Islam. Islam sudah menyatu menjadi dirimu dan identitasmu, sama seperti ras bagimu. Dalam kasus umum, umat Muslim seringkali diperlakukan sebagai sekelompok ras oleh kalangan Muslim dan non-Muslim. Tapi aku melanggar semua hal ini: di tahun 2009, aku meninggalkan Islam. Untuk selamanya.

Selama bertahun-tahun aku menderita depresi dan gelisah, tidak bisa mengungkapkan masalahku pada orang lain, baik kepada sahabat maupun orangtuaku. Orangtuaku memaksakan berbagai aturan dan batasan keras padaku karena mereka takut aku murtad dari Islam. Beginilah pemikiran mereka, “Mengapa harus ikut klub bola voli atau kelompok penulis di sekolah jika kau bisa menghabiskan waktumu untuk belajar memasak, beres² rumah, dan bikin air minum teh untuk orangtuamu sebelum mereka pulang kantor?” Tentu saja segala pembatasan padaku karena aku perempuan sangatlah menjengkelkanku. Di sekolah maupun di luar rumah, aku tidak melihat perbedaan antara diriku dengan teman lelakiku. Akan tetapi jika di rumah, wah lain banget rasanya – di rumah diterapkan berbagai batasan, perbedaan gender, ajaran ideologi dan struktur sosial yang tidak pernah bisa aku terima.

Setelah aku masuk universitas – dan ini ditentang orangtuaku – aku mulai mempelajari Qur’an. Karena patah semangat dan menderita tekanan mental, aku mencoba mencari kesejukan hati dari membaca Qur’an. Aku kira Islam tentunya merupakan bimbingan yang benar bagi kesejahteraan hidup Muslimah, jadi mengapa aku tidak mendidik diriku untuk lebih mengenal agamaku?

Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya: karena mengetahui isi Qur’an, aku jadi menjauhkan diri dari Islam. Aku tidak bisa lagi jadi Muslimah setelah membaca Q 4:34 yang mengatakan bahwa jika aku tidak taat pada suami, maka Allah mengijinkan suamiku untuk memukulku. Sewaktu aku melanjutkan membaca, aku menyadari bahwa hanya pihak wanita saja yang perlu mahram (wali) untuk menikah; pihak pria sih tidak diwajibkan untuk memiliki wali. Hal ini mengingatkan diriku pada kejadian saat aku berusia 12 tahun dan ingin tidur semalam di rumah temanku, ibuku mengatakan aku butuh mahram untuk mendampingiku. Aku jadi sadar bahwa dalam Islam, wanita tidak akan pernah bisa mandiri karena dia dianggap sebagai harta milik yang harus dikawal, ditangani, diawasi. Ayat Qur’an 4:34 memandang wanita sebagai obyek yang masih kecil dan tak kunjung dewasa. Jika istri melawan perintah suami, maka suami boleh memukulnya; perilaku ini sama seperti perilaku terhadap anak² yang membandel.

Image

Dalam waktu dua tahun kemudian, segala imanku terhadap agama dan tuhan sudah menguap habis. Dari agnostik aku lalu menjadi atheis, tapi aku tidak memberitahu siapapun. Aku tidak ingin mengganggu iman orang lain. Aku juga tak ingin menyebarkan pendapatku. Aku hanya ingin merasa bahagia dan jadi orang yang baik. Sekarang aku tahu bahwa aku tetap bisa jadi orang yang bertanggung jawab meskipun tidak beragama. Karena itu, maka aku mulai mempelajari segala hal. Meninggalkan Islam membuat aku sadar bahwa aku ini bukan hanya sekedar seorang ibu, seorang wanita, istri, anak perempuan, atau Muslimah. Aku merupakan manusia seutuhnya yang bisa menentukan sendiri apa yang kuanggap baik dan tidak baik bagi diriku.

Setelah itu aku menemukan masyarakat Ex-Muslim di Reddit, yang adalah website berita sosial di tahun 2011. Di website ini, berbagai Muslim murtad berkumpul bersama dan membicarakan tentang kemurtadan mereka dan kesusahan yang harus mereka hadapi. Banyak dari mereka yang berasal dari keluarga ultra-ortodox (sangat amat fanatik) di mana pihak orangtua memaksa mereka mengenakan jilbab atau bahkan nikab atau sholat lima waktu. Komunitas internet ini tidak hanya merupakan forum diskusi tapi menjadi tempat untuk mendapat dukungan dan tempat untuk membangun diri kembali. Malahan tiga komunitas ex-Muslim terbesar terbentuk dari sini dan mereka juga sering mengadakan pertemuan di dunia nyata.

Di tahun 2011, para Ex-Muslim di London berkumpul bersama dan membentuk kelompok masyarakat rahasia. Hanya dalam waktu dua bulan kemudian, di Toronto, Kanada juga dibentuk komunitas murtad yang sama seperti di London.

Di kelompok murtadin Toronto inilah aku menemukan jalan hidupku yang sekarang. Aku bertemu untuk pertamakalinya dengan para murtadin di sebuah pub di sore hari yang dingin di bulan Januari di Toronto Utara. Lima orang lain dan diriku duduk bersama di sebuah meja, minum cider (sari buah apel) dan bir. Rasanya sungguh luar biasa bisa bertemu orang² ini. Para ex-Muslim ini tidak hanya ada di internet, tapi juga bisa berkumpul bersama di Toronto. Mereka juga ada di Mississauga. Juga di Ottawa, Montreal, Calgary, Vancouver. Di bagian Amerika Serikat, para murtadin juga terdapat di Washington DC, Austin, Dallas, Houston, California Selatan, New York, Seattle. Mereka ternyata ada di mana². Kami ternyata berjumlah ribuan, bahkan lebih, di seluruh dunia. Kalau kau google di internet kata “Ex-Muslim” maka kau akan menemukan berbagai organisasi murtadin dari berbagai negara, dari New Zealand sampai Maroko.

Diantara perkumpulan² ini, yang paling berpengaruh adalah Council Ex-Muslims of Britain (CEMB) di Inggris. Aku sangat girang saat mereka membuka cabang di Amerika Utara. Di awal bulan May, 2011, beberapa kelompok CEMB dan salah satu pemimpinnya yang bernama Kiran, bekerja sama menulis artikel “Pentingnya Menjadi Ex-Muslim” (PMEM). Kisah diriku merupakan contoh alasan pribadi mengapa aku menyebut diriku sebagai Ex-Muslimah di dalam PMEM. Artikel PMEM memberikan analisa lebih luas dan lebih dalam dalam konteks sejarah terbentuknya kelompok ini.

Melalui kerja keras dari para anggota CEMB, kelompok ini membuktikan bahwa seseorang bisa meninggalkan Islam meskipun dibelenggu segala stigma dan pembenaran yang dijungkirbalikkan. Baik Qur’an maupun hadis menyatakan bahwa hukuman bagi yang murtad adalah dibunuh mati. Dengan menggunakan kata “Ex-Muslim” maka kami menunjukkan sikap solidaritas pada mereka yang masih tidak memiliki kesempatan seperti kami untuk meninggalkan Islam karena hidup di negara Muslim yang memandang sekularisme sebagai taktik penjajahan Barat yang bisa menghancurkan struktur sosial mereka. Karena itulah aku sangat merasa bersyukur menjadi warga Kanada dan bisa meninggalkan Islam tanpa rasa takut dibunuh. Aku akan tetap menyebut diriku sebagai Ex-Muslimah sampai negara² Islam menyingkirkan hukuman mati bagi murtadin dan sampai ex-Muslim bisa meninggalkan Islam dengan aman tanpa tekanan dan tindasan.

Image

Kata “Ex” (“Mantan”) di depan Muslim


FFI Alternative
Faithfreedompedia

Re: Kata “Ex” (“Mantan”) di depan Muslim

PostPosted: Sun Feb 02, 2014 6:32 am
by ali5196
a-sina-islam-merosot-cepat-t2272/page100.html

Image
Semakin banyak Muslim membuka suara ttg murtadnya mereka walau ini membawa permusuhan dari keluarga mereka dan bahkan ancaman pembunuhan. Amal Farah (foto atas), eksekutif perbankan 32 tahun mengaku.

Amal lahir di Somalia dari orang tua Muslim. Ia datang ke UK pd usia belasan. Setelah mempertanyakan agamanya, ia jadi atheis dan menikahi pengacara YAHUDI :finga:. AKibatnya, keluarganya memutuskan hubungan dengannya. Sudah 8 thn ia tidak melihat ibu, ayah & adik2nya. Mrk belum melihat suami ataupun puterinya. Ibunya tidak ingin ia bertemu dengan adik kakaknya takut ia 'akan meracuni mereka.'

Amal bahkan diancam dgn pembunuhan.

MInggu lalu, seorang atheis dari Afghanistan dikabulkan permohonan suakanya di UK karena jika ia dikembaliken ke Afghanistan ia akan dibunuh. Kelompok Ex Muslim di UK yg dimulai oleh 15 orang kini memiliki lebih dari 6000 orang diseluruh dunia dan naik terus. Dua thn lalu anggota mrk cuma 3000. Kelompok Ex Muslim Amerika Utara baru dibentuk tahun lalu.

Penampilan dimuka umum para murtadin ini memang kontroversial. Kata jubir forum murtadin ini, Maryam Namazie, ''Kami nekad menunjukkan diri dimuka umum utk menunjukkan bhw kami eksis dan kami tidak akan pergi. Forum kami ini penting utk menunjukkan kpd murtadin bhw mrk tidak gila kalau mau murtad dan disini mrk aman.

Sulaiman (nama samaran) dari Kenya berusia 32 thn murtad 6 thn lalu. Keluarganya juga memutuskan hubungan dgnnya. Keluarganya malu kalau ketahuan ia murtad. Tapi ia merasa bhw murtadin perlu buka suara utk membantu mrk yg tertekan dlm agama mrk.

Ada lagi muradinah yg tidak mau membocorkan rahasianya kpd keluarganya. Apalagi utk jadi atheis.

Sayed (nama samaran) dari Pakistan, 51, tinggal di Leeds dan sudah murtad 25 thn lalu. Ia pisah rumah dari keluarganya ketika ia 23 thn. Ia dibesarkan dlm keluarga Muslim ketat tapi ia mulai mempertanyakan agamanya dan menulis pd ibu dan adiknya yg shock kabeh.

“Setiap kali saya mengatakan kpd adik dan ibu bhw saya stress, paranoid dan depresi mrk mengatakan ini krn saya tidak cukup solat atau kurang baca Quran,” katanya, sambil menambahkan ia tidak akan menghadiri upacara [enguburan ibunya karena tidak tahan dgn stress solat.
dsb. :supz: :supz:

Kata “Ex” (“Mantan”) di depan Muslim
Mirror: Kata “Ex” (“Mantan”) di depan Muslim
Faithfreedompedia static

Re: Kata “Ex” (“Mantan”) di depan Muslim

PostPosted: Sun Feb 02, 2014 11:49 am
by Adadeh