.

Menjernihkan Logika

Hal2 yang menyebabkan terjadinya teror dalam Islam dan kaitannya dengan Jihad.

Menjernihkan Logika

Postby burung gereja » Mon Dec 05, 2005 11:40 am

Republika edisi minggu 04 desember 2005


Dari Mana Asal Teroris?

Sedih rasanya mendengar cara berpikir seorang kepala polisi di Cimahi, Jawa Barat, tentang pesantren. Ia berpangkat perwira menengah. Tapi, jelas, ia tak menunjukkan kapasitas yang tepat untuk pangkat dan jabatannya. Luar biasa. Ia dengan gagah hendak mengambil sidik jari para santri dan pengasuh pondok pesantren di wilayah kerjanya. Ia beralasan langkah itu untuk mempermudah penanganan jaringan terorisme.
Mengapa menyedihkan? Ia jelas-jelas gagal menggunakan logika yang paling ringan. Ia gagal mengambil kesimpulan atas sebuah rangkaian premis yang sederhana. Begini, kira-kira, pikiran dia: Di Indonesia ada beberapa teroris. Beberapa di antara mereka ternyata berpendidikan pesantren. Maka, pesantren adalah sumber terorisme. Saya tak bisa membayangkan kalau silogisme sesat semacam itu diterapkan pada kasus seorang brigadir prajurit kepala di Maluku Tengah. Ia tersangka kasus terorisme. Ia anggota Polri. Maka, Polri adalah... (maaf, saya tak kuasa meneruskan jalan pikiran yang sesat ini).
Saya sedih tapi berat untuk marah. Bagaimanapun, bukan cuma sang kapolres yang punya cara berpikir seperti itu. Sebagian dari kita, bisa jadi jumlahnya kian banyak, pun mulai berpikir-pikir ke arah itu. Termasuk Wakil Presiden. Mereka adalah orang-orang yang harus diberi tahu bahwa Dr Azahari Husin adalah lulusan sekolah sains yang sekuler di Inggris, bukan pesantren di kota kecil macam Cimahi. Apakah universitas di Inggris adalah sumber terorisme? Tentu bukan. Apakah iklim Malaysia negeri asal Azahari merangsang kelahiran teroris? Tentu bukan. Apakah orang yang berkacamata dan berkumis seperti Azahari adalah teroris? Tentu bukan!
Dalam bayangan saya, ini adalah bagian dari sebuah situasi konflik dunia. Arus kecenderungan global muncul dalam bentuk yang samar dan tidak kita sadari benar. Kita akhirnya kerap secara perlahan masuk dalam sebuah pemikiran yang sebenarnya merupakan bagian dari konflik itu. Kita tidak mengenalinya karena struktur persoalannya memang rumit. Kita bisa merasakan kejanggalannya kalau kita mengenali fenomenanya. Anda yang di pesantren tentu tahu tidak ada pelajaran tentang dasar-dasar terorisme, kebencian, atau xenophobia. Para santri di Gontor akan bercerita bahwa di pesantren mereka belajar agama sekuat belajar membuat koran, menjadi penyiar radio, atau menjadi entrepreneur. Andai sang kapolres mengenali fenomena itu, maka ia takkan gegabah merancang gerakan mengumpulkan sidik jari para santri dan pejabat negara tak gegabah pula melindungi tindakannya.
Jadi, kunci mengenali persoalan adalah dengan membuka seluas mungkin perspektif tentang suatu fenomena. Inilah yang dikenal masyarakat sebagai wawasan. Seseorang dengan wawasan luas akan mengenali dunia kehidupan, bahkan dunia yang tak pernah ia jalani secara langsung, dengan lebih lengkap dan benar. Dengan modal itulah kita bisa menangkap kebenaran informasi, memberi penilaian secara tepat, dan bertindak secara benar. Katakanlah tentang latihan perang di sebuah desa di Maluku. Jika kita hanya mengetahui bahwa desa itu pernah didatangi sejumlah teroris, bisa jadi kita akan mengatakan desa itu tempat latihan teroris. Tapi, jika kita tahu bahwa latihan perang itu berlangsung saat desa itu kerap menjadi sasaran serangan kelompok lain, maka kita akan memahami latihan itu sebagai sebuah upaya bertahan pada situasi perang.
Kecermatan konteks ini pula yang sekarang mengendor saat mendapat informasi terus-menerus bahwa para teroris adalah alumni Afghanistan. Untuk itu kita perlu menyegarkan kembali ingatan tentang situasi Afghanistan saat dijajah Uni Sovyet dan umat Islam dari berbagai penjuru dunia dengan sukarela membantu rakyat Afghanistan untuk merebut kedaulatan. Apakah mempertahankan kedaulatan bangsa merupakan ladang terorisme? Tentu tidak. Kita terkadang hanyut saat menerima informasi tertentu secara konsisten dan terus-menerus. Kita juga cenderung tak berdaya jika merasa kian banyak di sekeliling kita yang punya pendapat tertentu. Kita yang kesepian cenderung menjadi konformis. Padahal, belum tentu kita sendirian, karena orang yang sependapat dengan kita sebenarnya banyak, namun diam.
Di sini sebenarnya sisi radikal menjadi penolong. Inilah sisi yang dimiliki semua kalangan, namun tak semua menggunakannya. Radikal bukanlah istilah yang buruk. Meski belakangan bercitra buruk, ia sebenarnya netral. Ia adalah modal sikap kritis untuk tidak berpikir atau bertindak linear. Sikap radikal adalah modal untuk kreativitas. Kita hanya perlu menjaga keradikalan itu agar tidak larut sebagai isme yang dogmatis dan kaku. Ia harus tetap kreatif. Dengan radikal, kita mungkin tetap berada dalam lingkaran diam, namun kita kokoh bagai karang meski ombak menghantam. Sebagian menyebut sikap ini sebagai `'perlawanan orang tertindas'', sebagian lagi menyebutnya sebagai `'perlawanan dalam kepatuhan''.
Sepanjang tidak melampaui proporsi, alias hanyut dalam ekstremitas, sikap radikal akan membantu kita menghadapi dunia yang kian sulit terbaca. Santri yang radikal bukanlah calon teroris, seperti halnya mahasiswa jurusan teknik atau olahragawan yang radikal. Mereka justru mungkin akan menjadi pahlawan bangsa, penemu besar, dan pemecah rekor dunia.[email protected]
(Arys Hilman )
burung gereja
 
Posts: 57
Joined: Wed Nov 02, 2005 9:02 am

Return to Terorisme & Jihad Dalam Islam



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron