Page 1 of 1

London : Wawancara Dengan Ibu Pembom Bunuh Diri

PostPosted: Fri Oct 27, 2006 12:25 am
by stivana2
Wawancara Dengan Ibu Pembom Bunuh Diri
http://www.islamreview.com/articles/interview.shtml

Harian berbahasa Arab Al-Sharq Al-Awsat yang berpusat
di London mempublikasikan sebuah wawancara dengan Umm
Nidal, ibu martir shahid Muhammad Farhat. Dalam
Intifada pertama, Umm Nidal menyembunyikan 'Imad 'Aql,
panglima sayap militer Hamas yang bernama “Brigade Izz
Al-Din Al-Qassam,” di rumah keluarganya selama
setahun. Berikut adalah wawancaranya:

TANYA : "Bagaimana mulanya gagasan untuk melakukan
usaha Fidaai [martirdom] muncul di hati anakmu
Muhamad?”
Umm Nidal: "Jihad adalah perintah agama yang
diterapkan pada kami.
Kami harus memasukkan gagasan
ini di hati anakku, setiap waktu … JApa yang kita lihat
setiap hari – pembunuhan, penghancuran, pemboman
rumah2 – memperkuat rasa cinta akan Jihad dan
martyrdom di dalam hati anak2 lakiku, terutama
Muhammad.
(anaknya)
T: "Apakah kau punya peranan dalam menanamkan semangat
Jihad ini dalam diri Muhamad?"
Umm Nidal:"Terpujilah Allah, aku Muslimah dan percaya
akan Jihad. JJihad adalah satu elemen dari iman dan
inilah yang mendorongku untuk mengorbankan Muhamad utk
Jihad demi kepentingan Allah.
Anakku tidak hancur,
tidak mati, dia hidup lebih bahagia daripada aku
sendiri. Jika pikiranku terbatas pada dunia ini saja,
aku tidak akan mengorbankan Muhamad.”

“Aku adalah ibu yang mengasihi anak2ku, dan merakapun
mengasihiku dan mengurusku. Karena rasa cintaku pada
anak lakiku, aku mendorongnya untuk mati sebagai
martir demi kepentingan Allah. J[color=redJihad adalah kewajiban
agama yang ada di hadapan kita, dan kita harus
melakukannya. Aku korbankan Muhamad [size=12](anaknya)
sebagai bagian
kewajibanku.”
[/color][/size]

“Ini mudah saja. Tidak ada pertentangan (diantara
ilmuwan Islam) tentang hal itu. Kebahagiaan di dunia
ini tidak lengkap, kebahagiaan yang abadi adalah hidup
di dunia baka, melalui martirdom. Terpujilah Allah,
anakku telah mendapatkan kebahagiaan ini.”

T: "'Imad 'Aql hidup bersamamu dan terbunuh di
rumahmu. Apakah dia secara pribadi mempengaruhi
Muhamad?
Umm Nidal: J[color=redJ"Muhamad berusia tujuh tahun ketika martir
'Imad 'Aql hidup bersama kami di rumah … Muhamad
bergabung dengan [Izz Al-Din] Brigade Al-Qassam di
usia tujuh tahun. Meskipun usianya masih muda, dia
adalah pembantu to 'Imad 'Aql, komandan Al-Qassam di
Jalur Gaza.
[/color]

Ketika saudara2 lakinya tidak ada, dia
akan mengawasi jalan, dan membawa pesan dari ‘Aql
kepada para mujahidin. Martir Muhamad adalah murid
‘Imad. Muhamad mendengarkan kata2 ‘Imad dan melihatnya
melakukan operasi2 penyerangan.

“Imad hidup bersama kami selama 14 bulan, dan dia
punya kamar di rumah ini di mana dia biasa
merencanakan operasinya. Kaum Mujahidin datang padanya
dan merencanakan dan membuat sketsa tentang semua hal,
dan Muhammad yang masih kecil juga berada bersama
mereka, berpikir dan merencanakan. Inilah sumber rasa
cinta Muhamad terhadap martirdom.”
J[color=redJ
“Inilah lingkungan yang menumbuhkan rasa cinta akan
martirdom dalam jiwa Muhamad. Aku sebagai ibunya
secara alami mendorong cinta akan Jihad dalam jiwa
Muhamad dan dalam jiwa anak2 lakiku, yang semuanya
bergabung dalam Brigade2 Al-Qassam. Anak lakiku yang
tertua, Nidal (31) sekarang sedang dicari oleh pihak
Israel. Anak lakiku yang kedua pergi untuk melakukan
pelaksanaan martirdom, tapi ketahuan, ditangkap dan
dihukum 11 tahun penjara. Aku punya anak laki lain
[Mu'min Farhat] yang adalah pemandu Sheikh Ahmd
Yassin."
[/color]


“Lingkungan di mana Muhamad hidup dipengaruhi oleh
iman dan cinta yang besar akan martirdom. Aku
berpendapat bahwa iman seseorang tidak mencapai
kesempurnaan tanpa pengorbanan diri sendiri …”

T: "Bagaimana Muhamad mengatakan selamat tinggal
sebelum dia melaksanakan usaha martirdom itu?”
Umm Nidal: "Muhamad bersedia melakukan kegiatan
martirdom apapun. Dia bersumpah padaku bahwa satu2nya
alasan dia mencintai kehidupan adalah karena Jihad.
Dia berkata padaku jika gilirannya untuk Jihad tidak
datang, dia akan ke luar dari gerakan militer,
mengambil senjatanya, dan pergi perang sendirian.”

“Dia mencoba beberapa kali. Dia ke luar ke jalan
Al-Muntar, mengambil senjata dan bom2-nya, tapi
kesempatan mati tidak datang. Dia biasanya kembali
dengan darah mendidih karena dia belum sanggup
melaksanakan usahanya. Dia biasa mengacungkan
senjatanya dan berkata padaku: ‘Bu, inilah
pengantinku.’ Dia sangat mencintai senjatanya.”

“Dia biasa berkata padaku.’Aku pergi sekarang (untuk
menyerang). Aku tidak dapat lagi mengendalikan
diriku.’ Aku jawab.’Kau akan dapat kesempatan bagus.
Sabarlah, rencanakan dengan baik, sehingga kau tidak
mengorbankan dirimu dengan sia2. Bertindaklah dengan
pikiranmu dan bukan dengan emosimu…’”

“Di hari terjadinya matirdom, dia datang padaku dan
berkata:’Sekarang, ibu, aku akan keluar melaksanakan
usahaku.’ Dia mempersiapkan usaha ini dua hari
sebelumnya, ketika video direkam. Dia memintaku untuk
berfoto bersamanya, dan selama perekaman film, dia
mengacung-acungkan senjatanya. Aku pribadi yang minta
film ini dibuat untuk kenang2an.”

“Dia ke luar untuk melaksanakan usaha martirdom itu,
dan ketika dia sampai di tempat tujuan, dia bermalam
dengan teman2nya di sana. Aku tetap berhubungan
dengannya dan menanyakan bagaimana keadaan moralnya.
Dia berkata bahwa dia sangat bahagia. Memang, aku
belum pernah melihat wajahnya sebahagia itu.”

“Dia melaksanakan tugasnya dengan hati dingin, sangat
tenang dan percaya diri, sepertinya yakin bahwa
usahanya akan berhasil.”

“Tapi aku khawatir dan sangat takut jika usahanya
tidak berhasil dan dia tertangkap. Aku berdoa baginya
ketika dia meninggalkan rumah dan meminta Allah untuk
membuat usahanya berhasil dan menjadikan dia
martirdom. Ketika dia masuk daerah perumahan, kakak2
lakinya di sayap militer Hamas memberitahuku bahwa
Muhammad berhasil menyelusup masukl. Lalu aku mulai
berdoa pada Allah baginya.”

“Aku berdoa dari dalam hatiku agar Allah memberinya
keberhasilan. Aku minta Allah untuk memberiku 10 orang
Israel bagi Muhammad, dan Allah mengabulkan
permintaanku dan Muhammad berhasil mewujudkan
impiannya, membunuh 10 orang dan tentara Israel. Tuhan
kami menganugerahi dia lebih lagi, karena lebih banyak
lagi orang Israel yang cidera.”

“Tatkala kegiatan martirdom ini usai, media2
menyiarkan berita ini. Lalu kakak laki Muhammad datang
padaku dan memberitahuku tentang martirdom Muhammad.
Aku mulai menangis,’Allah yang Maha Kuasa.’ dan berdoa
dan berterimakasih pada Allah akan kesuksesan usaha
ini. Aku mulai menangis dengan penuh rasa syukur dan
kami menyatakan kebahagiaan kami. Anak2 muda
menembakkan senjata mereka ke udara dengan penuh
sukacita akan suksesnya usaha ini, dan memang inilah
yang kita harapkan bagi Muhammad.”

“Setelah usaha martirdom ini, hatiku merasa damai
sejahtera kalau ingat Muhammad. Aku mendorong semua
anak2 lakiku untuk mati sebagai martir, dan aku bahkan
mengharapkan ini pula bagi diriku sendiri. Setelah ini
semua, aku akan mempersiapkan diriku untuk menerima
tubuh anak lakiku, shahid yang suci, untuk melihatnya
terakhir kali dan menerima orang2 banyak yang
menjenguk kami dan bersama-sama berpartisipasi dalam
sukacita akan martirdom Muhammad. (1)

PostPosted: Fri Oct 27, 2006 12:41 am
by namasamaran
Kalo sudah begini, yg islam2 di forum ini pasti mbantah dg bilang, "itu islam yg salah. Islam sesungguhnya adalah agama damai. Rahmat bagi sekalian alam!"

Klise banget yah....

Kalo kamu lihat binatang yg hidungnya panjang (belalai), kupingnya lebar, badannya besar... jng ragu utk menyebutnya sebagai gajah. Karena memang itulah namanya, itulah identitas dan eksistensinya!
Kita akan salah dan ***** kalo membantah dan menyebut binatang tsb sbg kucing atau ayam...

Begitu jg;
Kalo kamu lihat kekerasan, pembunuhan massal thd org2 tak bersalah, penganiayaan, kekerasan, dan terorisme,... jangan ragu utk menyebutnya islam. Karena memang itulah namanya, itulah identitas dan eksistensinya!

Jangan membantah, karena bantahan itu akan terlihat idiot, sebagaimana orang yg melihat binatang berbelalai, berbadan besar dengan kuping lebar, tp menyebutnya sebagai kucing atau ayam!

PostPosted: Sat Dec 02, 2006 12:31 pm
by kafirbandel
Sungguh kasihan..., dia bercerita dengan bangga dan dia pikir orang kagum kepadanya. sebenarnya ibu ini mengorbankan anaknya untuk kepuasan ego nya sendiri.

Ini bukan keberanian, ini hasil "cuci otak" dan diisi dari kecil. kamikaze jepang juga gak kalah nekadnya, tapi yg masih hidup karena jepang keburu kalah, dalam intervieuw sekarang, mengakui bahwa sebagian lebih karena terpaksa, bukan rela.

Tokoh2 seniornya, berdalih mereka lebih diperlukan untuk hidup dan memimpin, gak pernah ada satupun yang berani beri contoh, pengecut dan kalah dg jepang yang jendralnyapun berani harakiri.

Sungguh kasihan.., setelah mati, arwahnya baru menyesal dan sadar kalau kena tipu. :cry: :cry: :cry:

Re: London : Wawancara Dengan Ibu Pembom Bunuh Diri

PostPosted: Sat Dec 02, 2006 1:48 pm
by Borland
stivana2 wrote:Wawancara Dengan Ibu Pembom Bunuh Diri
http://www.islamreview.com/articles/interview.shtml

Harian berbahasa Arab Al-Sharq Al-Awsat yang berpusat
di London mempublikasikan sebuah wawancara dengan Umm
Nidal, ibu martir shahid Muhammad Farhat. Dalam
Intifada pertama, Umm Nidal menyembunyikan 'Imad 'Aql,
panglima sayap militer Hamas yang bernama “Brigade Izz
Al-Din Al-Qassam,” di rumah keluarganya selama
setahun. Berikut adalah wawancaranya:

TANYA : "Bagaimana mulanya gagasan untuk melakukan
usaha Fidaai [martirdom] muncul di hati anakmu
Muhamad?”
Umm Nidal: "Jihad adalah perintah agama yang
diterapkan pada kami.
Kami harus memasukkan gagasan
ini di hati anakku, setiap waktu … JApa yang kita lihat
setiap hari – pembunuhan, penghancuran, pemboman
rumah2 – memperkuat rasa cinta akan Jihad dan
martyrdom di dalam hati anak2 lakiku, terutama
Muhammad.
(anaknya)
T: "Apakah kau punya peranan dalam menanamkan semangat
Jihad ini dalam diri Muhamad?"
Umm Nidal:"Terpujilah Allah, aku Muslimah dan percaya
akan Jihad. JJihad adalah satu elemen dari iman dan
inilah yang mendorongku untuk mengorbankan Muhamad utk
Jihad demi kepentingan Allah.
Anakku tidak hancur,
tidak mati, dia hidup lebih bahagia daripada aku
sendiri. Jika pikiranku terbatas pada dunia ini saja,
aku tidak akan mengorbankan Muhamad.”

“Aku adalah ibu yang mengasihi anak2ku, dan merakapun
mengasihiku dan mengurusku. Karena rasa cintaku pada
anak lakiku, aku mendorongnya untuk mati sebagai
martir demi kepentingan Allah. J[color=redJihad adalah kewajiban
agama yang ada di hadapan kita, dan kita harus
melakukannya. Aku korbankan Muhamad [size=12](anaknya)
sebagai bagian
kewajibanku.”
[/color][/size]

“Ini mudah saja. Tidak ada pertentangan (diantara
ilmuwan Islam) tentang hal itu. Kebahagiaan di dunia
ini tidak lengkap, kebahagiaan yang abadi adalah hidup
di dunia baka, melalui martirdom. Terpujilah Allah,
anakku telah mendapatkan kebahagiaan ini.”

T: "'Imad 'Aql hidup bersamamu dan terbunuh di
rumahmu. Apakah dia secara pribadi mempengaruhi
Muhamad?
Umm Nidal: J[color=redJ"Muhamad berusia tujuh tahun ketika martir
'Imad 'Aql hidup bersama kami di rumah … Muhamad
bergabung dengan [Izz Al-Din] Brigade Al-Qassam di
usia tujuh tahun. Meskipun usianya masih muda, dia
adalah pembantu to 'Imad 'Aql, komandan Al-Qassam di
Jalur Gaza.
[/color]

Ketika saudara2 lakinya tidak ada, dia
akan mengawasi jalan, dan membawa pesan dari ‘Aql
kepada para mujahidin. Martir Muhamad adalah murid
‘Imad. Muhamad mendengarkan kata2 ‘Imad dan melihatnya
melakukan operasi2 penyerangan.

“Imad hidup bersama kami selama 14 bulan, dan dia
punya kamar di rumah ini di mana dia biasa
merencanakan operasinya. Kaum Mujahidin datang padanya
dan merencanakan dan membuat sketsa tentang semua hal,
dan Muhammad yang masih kecil juga berada bersama
mereka, berpikir dan merencanakan. Inilah sumber rasa
cinta Muhamad terhadap martirdom.”
J[color=redJ
“Inilah lingkungan yang menumbuhkan rasa cinta akan
martirdom dalam jiwa Muhamad. Aku sebagai ibunya
secara alami mendorong cinta akan Jihad dalam jiwa
Muhamad dan dalam jiwa anak2 lakiku, yang semuanya
bergabung dalam Brigade2 Al-Qassam. Anak lakiku yang
tertua, Nidal (31) sekarang sedang dicari oleh pihak
Israel. Anak lakiku yang kedua pergi untuk melakukan
pelaksanaan martirdom, tapi ketahuan, ditangkap dan
dihukum 11 tahun penjara. Aku punya anak laki lain
[Mu'min Farhat] yang adalah pemandu Sheikh Ahmd
Yassin."
[/color]


“Lingkungan di mana Muhamad hidup dipengaruhi oleh
iman dan cinta yang besar akan martirdom. Aku
berpendapat bahwa iman seseorang tidak mencapai
kesempurnaan tanpa pengorbanan diri sendiri …”

T: "Bagaimana Muhamad mengatakan selamat tinggal
sebelum dia melaksanakan usaha martirdom itu?”
Umm Nidal: "Muhamad bersedia melakukan kegiatan
martirdom apapun. Dia bersumpah padaku bahwa satu2nya
alasan dia mencintai kehidupan adalah karena Jihad.
Dia berkata padaku jika gilirannya untuk Jihad tidak
datang, dia akan ke luar dari gerakan militer,
mengambil senjatanya, dan pergi perang sendirian.”

“Dia mencoba beberapa kali. Dia ke luar ke jalan
Al-Muntar, mengambil senjata dan bom2-nya, tapi
kesempatan mati tidak datang. Dia biasanya kembali
dengan darah mendidih karena dia belum sanggup
melaksanakan usahanya. Dia biasa mengacungkan
senjatanya dan berkata padaku: ‘Bu, inilah
pengantinku.’ Dia sangat mencintai senjatanya.”

“Dia biasa berkata padaku.’Aku pergi sekarang (untuk
menyerang). Aku tidak dapat lagi mengendalikan
diriku.’ Aku jawab.’Kau akan dapat kesempatan bagus.
Sabarlah, rencanakan dengan baik, sehingga kau tidak
mengorbankan dirimu dengan sia2. Bertindaklah dengan
pikiranmu dan bukan dengan emosimu…’”

“Di hari terjadinya matirdom, dia datang padaku dan
berkata:’Sekarang, ibu, aku akan keluar melaksanakan
usahaku.’ Dia mempersiapkan usaha ini dua hari
sebelumnya, ketika video direkam. Dia memintaku untuk
berfoto bersamanya, dan selama perekaman film, dia
mengacung-acungkan senjatanya. Aku pribadi yang minta
film ini dibuat untuk kenang2an.”

“Dia ke luar untuk melaksanakan usaha martirdom itu,
dan ketika dia sampai di tempat tujuan, dia bermalam
dengan teman2nya di sana. Aku tetap berhubungan
dengannya dan menanyakan bagaimana keadaan moralnya.
Dia berkata bahwa dia sangat bahagia. Memang, aku
belum pernah melihat wajahnya sebahagia itu.”

“Dia melaksanakan tugasnya dengan hati dingin, sangat
tenang dan percaya diri, sepertinya yakin bahwa
usahanya akan berhasil.”

“Tapi aku khawatir dan sangat takut jika usahanya
tidak berhasil dan dia tertangkap. Aku berdoa baginya
ketika dia meninggalkan rumah dan meminta Allah untuk
membuat usahanya berhasil dan menjadikan dia
martirdom. Ketika dia masuk daerah perumahan, kakak2
lakinya di sayap militer Hamas memberitahuku bahwa
Muhammad berhasil menyelusup masukl. Lalu aku mulai
berdoa pada Allah baginya.”

“Aku berdoa dari dalam hatiku agar Allah memberinya
keberhasilan. Aku minta Allah untuk memberiku 10 orang
Israel bagi Muhammad, dan Allah mengabulkan
permintaanku dan Muhammad berhasil mewujudkan
impiannya, membunuh 10 orang dan tentara Israel. Tuhan
kami menganugerahi dia lebih lagi, karena lebih banyak
lagi orang Israel yang cidera.”

“Tatkala kegiatan martirdom ini usai, media2
menyiarkan berita ini. Lalu kakak laki Muhammad datang
padaku dan memberitahuku tentang martirdom Muhammad.
Aku mulai menangis,’Allah yang Maha Kuasa.’ dan berdoa
dan berterimakasih pada Allah akan kesuksesan usaha
ini. Aku mulai menangis dengan penuh rasa syukur dan
kami menyatakan kebahagiaan kami. Anak2 muda
menembakkan senjata mereka ke udara dengan penuh
sukacita akan suksesnya usaha ini, dan memang inilah
yang kita harapkan bagi Muhammad.”

“Setelah usaha martirdom ini, hatiku merasa damai
sejahtera kalau ingat Muhammad. Aku mendorong semua
anak2 lakiku untuk mati sebagai martir, dan aku bahkan
mengharapkan ini pula bagi diriku sendiri. Setelah ini
semua, aku akan mempersiapkan diriku untuk menerima
tubuh anak lakiku, shahid yang suci, untuk melihatnya
terakhir kali dan menerima orang2 banyak yang
menjenguk kami dan bersama-sama berpartisipasi dalam
sukacita akan martirdom Muhammad. (1)




Contoh Ibu Muslimah yg Sholehah...sangat diberkati ALLAH SWT dan disayangi Muhammad.

Kiranya Para ibu2 Muslimah dapat mengambil contoh yg baik dr Ibu ni....

PostPosted: Wed Dec 06, 2006 10:09 am
by kafirbandel
Sungguh tragis !

Si anak terobsesi menjadi "martir", "tujuan" nya hanya melarikan diri dari dunia yg tidak ia sukai dan segera memperoleh "pahala di surganya".
Ia tidak punya kwalitas "pejuang" yg berjuang tabah terus menerus di jalan yg panjang dan sulit.

Pada sang ibu telah dipasang "kaca mata kuda" (semoga anda belum !), ia tidak bisa lagi melihat Tuhan dari sisi yg lebih utuh.
Yang memetik keuntungan adalah sang kusir yg mengendalikan "kuda", dan tentu saja "juragan" sang kusir.

Finis instificat medium, tujuan menghalalkan cara, kalau hanya begini artian jihad, sungguhlah ajaran sesat. :cry:

Tuhan sudah "mati" maka agama adalah "racun", yang tampak jelas dalam islam adalah politik dan ambisi kekuasaan, dg kelicikan setan dan kebengisan iblis... Jadi dimanakah gerangan sang " Allah yang maha pengasih dan penyayang " kini berada ?? :roll: :roll: