.

Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Hal2 yang menyebabkan terjadinya teror dalam Islam dan kaitannya dengan Jihad.

Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby qprim » Tue Nov 26, 2013 9:23 pm

Artikel lumayan menarik dari sebuah situs muslim.

Menjadi Radikal Karena Pemahaman, Menjadi Toleran Karena Pengalaman

Opini: Irfan Amalee, Co-founder PeaceGeneration Indonesia

Dalam sebuah diskusi Gerakan Islam Cinta (GIC), Solahudin, peneliti gerakan radikal dan terorisme yang juga penulis buku "NII hingga JI: Salafisme Jihadisme di Indonesia", mengungkapkan temuan yang menarik. Solahudin membuat list orang-orang yang terlibat aksi terorisme, dari 300 nama yang telah ia teliti, secara demografi mereka sangat beragam. Secara ekonomi, ada yang berasal dari kelas bawah, menengah, dan atas. Secara intelektual ada yang istimewa, ada yang biasa-biasa. Ada yang dari kota ada yang dari desa. Sangat beragam. Arinya faktor ekonomi, status sosial bukan menjadi faktor utama terorisme. Lalu apa?
Dari semua perbedaan itu, mereka memiliki satu kesamaan: mereka pernah bersentuhan, aktif atau belajar agama melalui kelompok "keras". Dari sana bisa disimpulkan bahwa aksi terorisme yang mereka lakukan selalu dilandasi oleh PEMAHAMAN mereka terhadap agama yang mereka dapat dari kelompok-kelompok yang cenderung keras.
Hilman yang awalnya begitu sekular bahkan tenggelam dalam dunia narkoba, tiba-tiba menjadi berubah setelah bertemu Imam Samudra di penjara Grobogan. Meskipun singkat, Imam Samudra berhasil memberi "pencerahan" dan membangkitkan semangat jihad Hilman dan menjadikannya sebagai pelanjut terror bom Bali episode 3. Hal serupa dialami Taufik dan Iwan Cina yang "mengaji" Islam dari Toni Togar alias Hasan, terpidana 20 tahun penjara atas aksi pembakaran gereja di Pekanbaru, Riau, saat malam Natal dan terlibat pemboman hotel JW Marriot pada 2003.
Mawan Kurniawan, si anak jenius yang berhasil membobol situs investasi Malaysia menempuh cara lain belajar Islam. Sebagai anak muda yang tengah mencari, dia belajar Islam kepada Mbah Google. Sayangnya, Google tidak selalu mengantarkan kita pada sumber yang valid. Kelompok-kelompok Islam keras sangat jago SEO (search engine optimiser), mereka telah mengkapling index google dengan konten konten materi Islam yang keras. Sehingga ketika Mawan Kurniawan mengetikkan "Cara Belajar Shalat" google menyajikan Islam yang bernuansa keras. Bagi anak muda yang sedang mencari kebenaran seperti Mawan, tawaran Islam yang keras cukup menantang dan menggairahkan. itulah awal yang mengantarkan mawan pada pemahaman Islam, jihad, hingga aksi terorisme.
Pemahaman Islam yang radikal dan keras memang tidak selalu berujung pada aksi terorisme. Tapi terorisme selalu berawal dari cara berpikir yang radikal. "Radicalism is only one step short of terrorism" mengutip Rizal Sukma (2004). Pemahaman terhadap Islam yang radikal bisa ditandai dengan sikap terutup tidak bergaul dengan kelompok lain, menganggap kelompoknya paling benar dan kelompok lain sesat, antidialog dan penuh prasangka. 


Sampai bagian ini tidak ada yang aneh dan baru buat kita2x di FFI. Masyarakat umum tahu bahwa radikalisme kelompok islam garis keras bersumber dari ajaran2x dari agama mereka sendiri. Kelompok lain dalam islam yang tidak setuju dengan kelompok radikal menganggap bahwa penyebab dari radikalisme adalah kesalahan dalam memahami ajaran islam. Tapi benarkah demikian?

Lalu bagaimana menghadapinya?

Perdebatan, diskusi, adu pemahaman terbukti sulit mengubah pemahaman seseorang. Sebab secara alamiah seseorang yang telah memegang kuat pemahaman, akan mempertahankannya, sekuat mungkin. Bahkan semakin kita debat, semakin yakin dia pada pemahamnnya. Berbagai dalil agama yang menunjukkan bahwa agama Islam itu rahmatan lilalamin dan lemah lembut, bisa dipatahkan oleh ayat-ayat yang "keras" yang dicomot sana sini.


Terus terang saya kuatir dan ngeri membaca bagian ini. Apakah ini artinya tidak ada ada ajaran dalam agama mereka yang bisa digunakan untuk mengalahkan argumen kaum radikal macam al-qaeda, baasyir, habib riziek, serta para bomber model imam samudra cs? Saya sebetulnya berhadap bahwa ada sekelompok muslim 'moderat', di Indonesia dan atau negara2x muslim lain, yang cukup cerdas dan berani untuk beradu argumen dengan kelompok2x radikal. Kalau memang ayat kerasnya cuma comot sana sini, kenapa jadi sulit untuk membantahnya dengan dalil yang menyebutkan bahwa islam adalah agama yang lemah lembut? Atau memang tidak ada dalil yang menyatakan demikian? Kalau ayat-ayat rujukan untuk bertindak radikal tidak bisa dibantah, maka sulit untuk mengharapkan umat islam berperan besar untuk memerangi radikalisme di dalam agamanya. Saya ngeri membayangkan bahwa jumlah penganut ajaran radikal akan terus bertambah dengan cepat di seluruh dunia.

Inilah cara yang digunakan oleh organisasi PeaceGeneration Indonesia.

Sejumlah peristiwa dan contoh, meyakinkan saya bahwa PENGALAMAN-lah yang mengubah pemahaman. 
Pak Toni dan Pak Wahyu, adalah dua dari sekian korban bom JW Marriot. Pak Wahyu, saat bom meledak berada tepat di pinggir kaca besar, dan di seberang kaca itulah mobil yang berisi bom meledak. Dapat dibayangkan bagaimana pecahan kaca berhamburan dan menancap di tubuhnya. Mereka cacat seumur hidup dan menjalani pengobatan bertahun-tahun unutk dapat kembali hidup normal. Ketika bertemu mereka, saya dapat melihat bekas-bekas luka ditubuh pak Toni dan Pak Wahyu. Tapi mereka berhasil bangkit. Bahkan mereka mengorganisir para korban bom untuk melakukan aksi sosial mengadvokasi para korban bom. 
Bukan hanya itu, mereka juga mencoba menyembuhkan rasa sakit mereka dengan berusaha memaafkan para pelaku bom. Mereka datang ke penjara menemui para pelaku bom, mengajak berbicara dari hati ke hati. Dengan tulus mereka menyampaikan bahwa mereka tidak menyimpan dendam bahkan inign menjalin persahabatan dengan para pelaku. Dalam beberap foto, Pak Toni terlihat berbincang akrab dnegan Umar Patek salah satu teroris yang sempat menjadi orang paling dicari intelejen Amerika. Umar Patek begitu miris ketika Pak Toni memperlihatkan sejumlah luka di tubuhnya. Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya mereka menajdi sahabat. Sebuah foto memperlihatkan Umar Patek mengimami shalat, Pak Toni dan beberapa korban bom berdiri sebagai makmum. Secara eksplisit Umar Patek menyesali perbuatannya dan menyadari kesalahan tindakannya. Tidak ada perdebatan soal "konsep jihad", tak ada perbincangan tentang "radikalisme". Hanya berbicara dari hati ke hati. Sebuah pengalaman yang menyentuh, hingga runtuhlah pemahaman Umar Patek tentang pemaknaannya terhadap agama selama ini. 


Sepintas kelihatannya penyelesaian model begini cukup efektif. Tapi buat saya, penyelesaian model begini memiliki kelemahan yang mendasar. Tanpa dasar dalil yang kuat, kelompok dalam islam yang mempromosikan perdamaian bisa dengan mudah dicap oleh kelompok radikal dengan label: tidak paham agama, antek kafir, agen amerika/zionis, dlsb. Yang paling parah disebut murtad dan halal darahnya. Kalau tidak kuat mental, kelompok dalam islam yang sebenarnya tidak suka kekerasan bisa ciut semangatnya. Apalagi kalau mengingat bahwa kelompok radikal tidak segan melakukan intimidasi dan kekerasan fisik.

Artikel di atas sengaja saya kutip terpisah untuk memudahkan pembahasan. Selengkapnya bisa lihat di sini: http://islamindonesia.co.id/index.php/opini/1864-menjadi-radikal-karena-pemahaman-menjadi-toleran-karena-pengalaman

Moga-moga ada netter muslim di sini yang bersedia menaggapi artikel ini. Beberapa bulan yang lalu ada netter muslim bernama subhannallah yang mencoba menjelaskan bahwa islam adalah agama damai. Sayang, baru diskusi sebentar lantas menghilang. Adakah netter muslim yang tersisa yang mau menanggapi?

Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?


FFI Alternative
Faithfreedompedia
User avatar
qprim
 
Posts: 259
Joined: Wed Nov 09, 2005 4:01 pm

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby CRESCENT-STAR » Mon Jan 20, 2014 4:33 pm

ayat ayat pilihan. itu kata kuncinya. jadi memang tdk ada pembahasan yang komprehensif. ini yg bisa menyebabkan tercucinya otak.
saya secara pribadi pernah mengalami yg namanya ekses ayat-ayat pilihan ketika masih remaja. tapi saya saat itu selalu berfikir tidak puas. yg pada akhirnya tidak berpengaruh buruk bagi saya.
User avatar
CRESCENT-STAR
 
Posts: 8235
Joined: Wed Nov 04, 2009 10:48 pm

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby 12345678901 » Mon Jan 20, 2014 7:41 pm

menurutku, perubahan islam radikal menjadi islam toleran itu harus dilakukan secara internal ... dari dalam islam itu sendiri
karena sumber masalah itu adalah ajaran islam itu sendiri ... harus ada perubahan yang signifikan dari ajaran islam sendiri untuk menjadi ajaran yang mentolerir ajaran lain
kapir tidak mungkin bisa mengambil peran berarti dalam hal ini karena begitu kapir ngomong sedikit tentang islam, langsung muslim ngamuk dan meledak

selama ini, yang jadi kambing hitam adalah salah tafsir .... tapi anehnya ... bukan hanya satu atau dua muslim saja yang salah tafsir ... tapi sudah mendunia
mulai dari muslim yang ada di negeri islam miskin seperti palestina, islam kaya seperti arab, di negeri kapir ... semuanya memiliki banyak muslim "salah tafsir" dan jagoan dalam hal menuhin penjara

perubahan itu bukan suatu hal yang mustahil
ugama tetangga yang jadi favorit muslim untuk OOT pun mengalami krisis yang sama pada jaman dulu
saling bacok bacokan antar aliran dll .... sama seperti muslim sekarang sunni bacok syiah dan syiah ngebom sunni

memang untuk kasus islam ... pasti akan jauh lebih sulit dari kasus agama tetangga karena pada dasarnya islam sendiri mengajarkan kekerasan
jadi kalo dalam kasus agama tetangga, hanya perlu merubah pola pikir pengikut, pada kasus islam, harus merubah dulu ajarannya ... baru bisa merubah pola pikir pengikutnya

Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?
Mirror
Faithfreedom forum static
12345678901
 
Posts: 986
Joined: Thu Oct 31, 2013 12:06 am

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby nap.bon » Tue Jan 21, 2014 5:48 am

Beda jauh lah kasus-kasus di Eropa dengan kasus-kasus Islam.

Kasus di Eropa:
1) Dasar Dalil tidak ada.
2) Agama dimuati kepentingan politis > solusinya keduanya dipisah.
3) Perang masih konvensional: Perang dilakukan oleh Negara.
4) Masih ada sistem hierarkial resmi, sehingga masih ada yg dapat mengatur sistem agama dan/atau politik.

Kasus Islam:
1. Dasar dalil-nya ada di Al-Qur'an dan Hadist
2. Politik dan Agama saling mempengaruhi.
3. Perang dilakukan oleh Individu dan Kelompok dan bukan Negara.
4. Sistem hierarkial resmi ada, namun tidak berfungsi dengan baik, atau bahkan tidak ada sama sekali.
nap.bon
 
Posts: 1011
Joined: Wed Jun 27, 2012 8:04 pm
Location: United States of Indonesia

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby gema » Tue Jan 21, 2014 3:11 pm

CRESCENT-STAR wrote:ayat ayat pilihan. itu kata kuncinya. jadi memang tdk ada pembahasan yang komprehensif. ini yg bisa menyebabkan tercucinya otak.
saya secara pribadi pernah mengalami yg namanya ekses ayat-ayat pilihan ketika masih remaja. tapi saya saat itu selalu berfikir tidak puas. yg pada akhirnya tidak berpengaruh buruk bagi saya.


Itu karena pak ustadj cs masih pakai otak buat berpikir tidak puas, gimana fula yang dialami moslem lain nyang males buat berpikir untuk mencari-cari pencerahan di quran or hadits, bila ketemu dengan ustadj radikal pasti cepat tercuci otaknya dengan radikalisme.

Bila topic ini ane tanya ke ustadj cs, apa cara yang jitu buat menghilangkan paham-paham radikalisme di eslam dan mengubahnya jadi umat yang bertoleransi. terutama untuk umat moslem di indonesia.
User avatar
gema
 
Posts: 1097
Joined: Sun Sep 08, 2013 10:27 pm

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby 12345678901 » Tue Jan 21, 2014 4:02 pm

nap.bon wrote:Beda jauh lah kasus-kasus di Eropa dengan kasus-kasus Islam.

.


iya maka dari itu aku bilang tantangan bagi muslim lebih berat karena mereka harus merubah dulu ajaran agama mereka yang doyan intoleransi ... baru bisa jadi ugame damei
sementara agama tihang jemuran, ga perlu ngerubah ajaran agamanya ... hanya tinggal merubah pola pikir umatnya
12345678901
 
Posts: 986
Joined: Thu Oct 31, 2013 12:06 am

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby qprim » Sun Jan 26, 2014 9:25 pm

CRESCENT-STAR wrote:ayat ayat pilihan. itu kata kuncinya. jadi memang tdk ada pembahasan yang komprehensif. ini yg bisa menyebabkan tercucinya otak.
saya secara pribadi pernah mengalami yg namanya ekses ayat-ayat pilihan ketika masih remaja. tapi saya saat itu selalu berfikir tidak puas. yg pada akhirnya tidak berpengaruh buruk bagi saya.


Ustad CS, bisa bantu saya menjelaskan seperti apa pembahasan ayat alquran yang komprehensif?
Satu lagi, radikalisme bukan cuma ada di Indonesia. Di Arab sana, tempat asal ajaran islam juga muncul radikalisme. Apa ulama-ulama di arab sana tidak punya kemampuan untuk melakukan pembahasan yang komprehensif?
User avatar
qprim
 
Posts: 259
Joined: Wed Nov 09, 2005 4:01 pm

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby 12345678901 » Sun Jan 26, 2014 11:47 pm

quran bualan muhammad nyang katanye buta hurup dan olloh nyang katanye mbuat quran nyang jelas las las n gabole dirubah dari bahasa arob sono ..... koq bisa di salah tapsirken ... oleh gerombolan muslim yang sehari hari make bahasa arob ?

kalo udah diterjemahin n salah tapseer ... itu bisa dimaklumi .... tafi kalo ustadz orob sono nyang sehari hari berkoak pake bahasa arob aja bisa salah tapseer ... gimana ceritanya ? :stun:
12345678901
 
Posts: 986
Joined: Thu Oct 31, 2013 12:06 am

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby keeamad » Tue Jan 28, 2014 11:05 pm

CRESCENT-STAR wrote:ayat ayat pilihan. itu kata kuncinya. jadi memang tdk ada pembahasan yang komprehensif. ini yg bisa menyebabkan tercucinya otak.
saya secara pribadi pernah mengalami yg namanya ekses ayat-ayat pilihan ketika masih remaja. tapi saya saat itu selalu berfikir tidak puas. yg pada akhirnya tidak berpengaruh buruk bagi saya.


Sejak awal gw gabung di ffi sejak sekitar 5 tahun lalu (mungkin) dan alasan gw keluar dari islam adalah:
islam mengajarkan keburukan (substansi) sekaligu kebaikan (kamuflase)

Nte mengamini dengan:
ayat ayat pilihan. itu kata kuncinya.......
saya secara pribadi pernah mengalami yg namanya ekses ayat-ayat pilihan



Iya apa betul pa ustatz?
User avatar
keeamad
 
Posts: 6944
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby qprim » Sat Feb 15, 2014 8:08 am

Kirain ustad CS serius mau diskusi di thread ini. Gak taunya cuma hit n run.

Sudah ditanggapi kok malah menghilang? :stun:
User avatar
qprim
 
Posts: 259
Joined: Wed Nov 09, 2005 4:01 pm

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby qprim » Tue May 06, 2014 3:00 pm

Iseng2x cek posting2x lama, ternyata thread yang udh lama vakum ini cukup banyak juga viewsnya. Sampai 2700 lebih :stun:

Padahal posting terakhir sudah di bulan februari yang lalu. Setelah itu vakum. Jadi penasaran, siapa aja sebetulnya yang bolak balik ngintip thread ini? Kok cuma ngintip2x, kenapa gak sekalian reply aja? :rolleyes:
User avatar
qprim
 
Posts: 259
Joined: Wed Nov 09, 2005 4:01 pm

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby Kibou » Tue May 06, 2014 3:35 pm

12345678901 wrote:
iya maka dari itu aku bilang tantangan bagi muslim lebih berat karena mereka harus merubah dulu ajaran agama mereka yang doyan intoleransi ... baru bisa jadi ugame damei
sementara agama tihang jemuran, ga perlu ngerubah ajaran agamanya ... hanya tinggal merubah pola pikir umatnya


Setuju. Agama atau keyakinan apapun yang memang dasar ajarannya adalah Kasih atau Dharma (ini berlaku juga untuk keyakinan sekuler humanis) lebih mudah untuk direformasi. Kalau suatu ajaran yang intinya adalah kasih, tapi penganutnya tidak mengamalkan kasih, ini tentu saja error di penganutnya. Tapi kalau error sudah ditemukan lebih dulu pada ajaran inti... well good luck with that.
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby slomo » Wed May 07, 2014 8:23 am

12345678901 wrote:
iya maka dari itu aku bilang tantangan bagi muslim lebih berat karena mereka harus merubah dulu ajaran agama mereka yang doyan intoleransi ... baru bisa jadi ugame damei
sementara agama tihang jemuran, ga perlu ngerubah ajaran agamanya ... hanya tinggal merubah pola pikir umatnya


kibou wrote:Setuju. Agama atau keyakinan apapun yang memang dasar ajarannya adalah Kasih atau Dharma (ini berlaku juga untuk keyakinan sekuler humanis) lebih mudah untuk direformasi. Kalau suatu ajaran yang intinya adalah kasih, tapi penganutnya tidak mengamalkan kasih, ini tentu saja error di penganutnya. Tapi kalau error sudah ditemukan lebih dulu pada ajaran inti... well good luck with that.


Islam TIDAK BISA direformasi ! itu sebabnya CS tidak dapat menyampaikan solusi bagaimana caranya KOMPREHENSIF dan TIDAK PILIH2 AYAT QURAN

Tidak ada Islam radikal, Islam moderat, Islam liberal dsb,,,,yang ada adalah ISLAM-ISLAM, sesuai ajaran Quran + Sejarah Tradisi Islam (baca: Hadis) + Sejarah biografi Muhammad (baca: sirat)
Ada 3 golongan Muslim : 1) True Moslem or Good Moslem (Umar Patek, Bin Laden dsb). Mereka menjalankan perintah ajaran dengan segera. Aksi2nya mereferensi ajaran. 2) Bad Moslem or "Stupid Moslem". Kebanyakan muslim masuk golongan ini. Mereka tidak mengerti ajaran Islam sebenarnya karena tidak ngerti bahasa arab, tidak mendalami Islam, hanya dengar2 ustad khotbah, tapi mengaku muslim. 3) Worst Moslem. Muslim gol. ini adalah Good Moslem yang masih menunggu menjelma menjadi True Moslem. Mereka paham betul perintah ajaran, tapi selalu menyembunyikan perintah ajaran yang sebenarnya (keras) dan hanya menyampaikan ajaran yang "halus" saja. Selalu ber Taqiya. Ajaran2 "halus" inilah yg didengar oleh Bad Moslem. Crescent Star, dengan claimnya bahwa dia tidak terpengaruh buruk, bisa masuk gol 2 atau 3. Dua2nya Islam jelek !!

Setiap muslim yg mencoba mendalami ajaran islam, dengan BAIK dan BENAR dan intens, akan berakhir menjadi muslim gol 1 atau gol 3, atau....MURTAD !! :)). Inilah SALAH SATU sebabnya muslim gol 2 malas belajar Islam. TAKUT AKAN MENEMUKAN KEBENARAN ISLAM !!

Tidak ada SATUPUN ajaran kebaikan bagi manusia (universal) yang dihasilkan dari ajaran Islam

Ref. Ali Sina
slomo
 
Posts: 112
Joined: Mon Jan 24, 2011 4:07 pm

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby Joe Andmie » Wed May 07, 2014 3:01 pm

qprim wrote:Iseng2x cek posting2x lama, ternyata thread yang udh lama vakum ini cukup banyak juga viewsnya. Sampai 2700 lebih :stun:

Padahal posting terakhir sudah di bulan februari yang lalu. Setelah itu vakum. Jadi penasaran, siapa aja sebetulnya yang bolak balik ngintip thread ini? Kok cuma ngintip2x, kenapa gak sekalian reply aja? :rolleyes:


Saya sering juga jalan kelapak yang lama, barangkali ada reply yang baru khususnya dari muslim.
Apa yang dituduhkan ,sepertinya muslim sudah kehabisan amunisi.
Seperti yang disebutkan, adakah toleransi dalam islam? Saya katakan nol besar, diNU maupun Muhammadiyah atau golongan apa saja, semboyan muhammad,,,,,,,,,,,,,,,AKU DIMENANGKAN DENGAN PEDANG,,,,,,,,,,,,,,,adakah yang berani bantah????? :axe: :axe:
User avatar
Joe Andmie
 
Posts: 1761
Images: 1
Joined: Mon Jul 04, 2011 6:48 pm
Location: DIBAWAH POHON KELAPA SAWIT

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby Joe Andmie » Thu Oct 15, 2015 10:25 am

Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi dalam agama islam ?

Sekali lagi saya dengan tegas menyatakan omong kosong.
baru2 ini saya bersama istri mengunjungi familnya yang daerahnya terkena proyek bendungan yang diresmikan gubernur Jabar,
Bersama beberapa teman kami mengunjungi sebagian masyarakat yang mash bertahan dan tak mau pindah.
Kedatangan kami tentu jadi sorotan ,terutama para pemuka agama sana.
Saya tak akan membahas dialog kami, kesan yang saya dapat penuh nada2 negatip, khususya mengenai agama.

Tuduhan akibat pemimpin2 kafirlah, dan dulu2 kata istri saya orang disini baik2, dalam hati saya ya, gak ada kafir disini. :rolling:
User avatar
Joe Andmie
 
Posts: 1761
Images: 1
Joined: Mon Jul 04, 2011 6:48 pm
Location: DIBAWAH POHON KELAPA SAWIT

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby Kibou » Thu Oct 15, 2015 12:59 pm

Saya akan komentar sedikit mengenai human error.

Kita kan semua sudah maklum bahwa setiap manusia itu kerap kali mengalami salah paham. Dan salah paham tentunya berlaku juga terhadap teks-teks mendasar dari agama atau ideologi manapun.

Tapi dalam agama islam sebenarnya kekerasan muslim terhadap non-muslim bukan akibat salah paham terhadap teks-teks mendasar dari islam. Kekerasan tersebut justeru berasal dari pemahaman holistik (menyeluruh dan berkesinambungan) terhadap Quran, Hadits, dan Sirah melalui metode usul al fiqh yang disempurnakan oleh Imam Syafi'i, salah satu dari empat pendiri mazhab sunni.

Human error justeru terjadi ketika pendiri Ahmadiyah, yaitu Mirza Ghulam Ahmad menulis:

http://www.muslim.org/islam/jihad.htm

It was concerning this concept of jihad that the Founder of the Ahmadiyya Movement said in one of his poetic verses:

'Put the idea of jihad out of your minds, O friends;
War and killing in the name of religion are now forbidden'


Sebagai hasil dari keberanian Mirza melarang jihad pedang terhadap non-muslim, Ahmadiyah akhirnya dinyatakan kafir oleh Liga Muslim Dunia di tahun 1974:

http://www.alhafeez.net/Rashid/rabita.html

1974 Declaration by World Muslim League
(Rabita al-Alam al-Islami)

by
Mohammad Bashir

World Muslim League held its annual conference at Makkah Al-Mukaramma Saudi Arabia from 14th to 18th of Rabiul Awwal 1394 H (April 1974) in which 140 delegations of Muslim countries and organizations from all over the world participated. I (Mohammad Bashir) too was there in this Conference alongwith the other journalists from all over the world. The Conference unanimously adopted the following Resolution regarding Qadianism.

Qadianism or Ahmadiyyat: It is a subversive movement against Islam and the Muslim world, which falsely and decietfully claims to be an Islamic sect; who under the guise of Islam and for the sake of mundane interests contrives and plans to damage the very foundations of Islam. Its eminent deviations from the basic Islamic principles are as follows:

Its founder claimed that he was a Prophet.
They deliberately distort the meanings of the verses of the Holy Quran.
They decalred that Jehad has been obolished.


Human error dalam memahami islam ini baru mulai bermunculan setelah islam tidak lagi memiliki kekuatan untuk jihad terang-terangan melawan non-muslim, yaitu sejak kalifah Ottoman kalah habis-habisan saat mencoba mencaplok kota Vienna di akhir abad 17 (Ottoman perlu melewati Vienna sebelum mereka bisa menduduki Vatikan di Roma).

Sebelum keruntuhan kalifah Ottoman di Vienna, tidak ada satu pun ulama terkemuka islam yang malu dengan jihad pedang, apalagi melarang! Adakah ulama terkemuka sebelum peperangan Vienna (yang bisa disejajarkan dengan Imam Hanifa, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Hanbal) yang melarang jihad pedang?

Sebelum kekalahan islam di Vienna, jihad pedang adalah ajaran tradisional konservatif dalam islam.
Setelah kekalahan islam di Vienna, jihad pedang perlahan dianggap ajaran radikal dan ekstrim.

Di mana letak bedanya? Tentu saja kekuatan islam dibanding kekuatan non-muslim:

islam < non-muslim, maka muslim toleran dengan non-muslim

islam = non-muslim, maka muslim melancarkan jihad pedang

islam > non-muslim, maka muslim menjadikan non-muslim sebagai dhimmi

Ibn Kathir menulis:

“In the beginning of Islam, Muslims in Makkah were commanded to perform the prayer and pay some charity, so as to comfort the poor among them. They were also commanded to be forgiving and forbearing with the idolators and to observe patience with them at the time. However, they were eager and anticipating the time when they would be allowed to fight, so that they could punish their enemies. The situation at that time did not permit armed conflict for many reasons. For instance, Muslims were few at the time, compared to their numerous enemies. The Muslims' city was a sacred one and the most honored area on the earth, and this is why the command to f ight was not revealed in Makkah. Later on when the Muslims controlled a town of their own, Al-Madinah, and had strength, power and support, Jihad was then legislated.”


The pure religion reached its deepest aims against Allah's enemies, and whenever Muslims overcame an Ummah, they moved to the next one, and then the next one, crushing the tyranical evil doers. They did this in reverence to Allah's statement,

(O you who believe! Fight those of the disbelievers who are close to you), Allah said next,

(and let them find harshness in you), meaning, let the disbelievers find harshness in you against them in battle. The complete believer is he who is kind to his believing brother, and harsh with his disbelieving enemy. Allah said in other Ayah,

(Allah will bring a people whom He will love and they will love Him; humble towards the believers, stern towards the disbelievers. . . ) 5:54

(Muhammad is the Messenger of Allah. And those who are with him are severe against the disbelievers, and merciful among themselves. ) 48:29 and,

(O Prophet! Strive hard against the disbelievers and the hypocrites, and be harsh against them. ) 9:73 Allah said,

(And know that Allah is with those who have Taqwa), meaning, fight the disbelievers and trust in Allah knowing that Allah is with you if you fear and obey Him. This was the case in the first three blessed generations of Islam, the best members of this Ummah. Since they were firm on the religion and reached an unsurpassed level of obedience to Allah, they consistently prevailed over their enemies. During that era, victories were abundant, and enemies were ever more in a state of utter loss and degradation.
Last edited by Kibou on Fri Oct 16, 2015 11:39 am, edited 4 times in total.
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby Kibou » Thu Oct 15, 2015 2:09 pm

qprim wrote:Terus terang saya kuatir dan ngeri membaca bagian ini. Apakah ini artinya tidak ada ada ajaran dalam agama mereka yang bisa digunakan untuk mengalahkan argumen kaum radikal macam al-qaeda, baasyir, habib riziek, serta para bomber model imam samudra cs? Saya sebetulnya berhadap bahwa ada sekelompok muslim 'moderat', di Indonesia dan atau negara2x muslim lain, yang cukup cerdas dan berani untuk beradu argumen dengan kelompok2x radikal. Kalau memang ayat kerasnya cuma comot sana sini, kenapa jadi sulit untuk membantahnya dengan dalil yang menyebutkan bahwa islam adalah agama yang lemah lembut? Atau memang tidak ada dalil yang menyatakan demikian? Kalau ayat-ayat rujukan untuk bertindak radikal tidak bisa dibantah, maka sulit untuk mengharapkan umat islam berperan besar untuk memerangi radikalisme di dalam agamanya.


Para moderat tidak bisa menang argumen dengan yang bergaris keras, karena siapa pun yang mengatakan sesuatu yang wajib sebagai tidak wajib, adalah kafir. Dan sudah saya tunjukkan dalam Status Jihad dalam Fiqh bahwa jihad pedang itu hukumnya WAJIB.

qprim wrote:Sepintas kelihatannya penyelesaian model begini cukup efektif. Tapi buat saya, penyelesaian model begini memiliki kelemahan yang mendasar. Tanpa dasar dalil yang kuat, kelompok dalam islam yang mempromosikan perdamaian bisa dengan mudah dicap oleh kelompok radikal dengan label: tidak paham agama, antek kafir, agen amerika/zionis, dlsb. Yang paling parah disebut murtad dan halal darahnya. Kalau tidak kuat mental, kelompok dalam islam yang sebenarnya tidak suka kekerasan bisa ciut semangatnya. Apalagi kalau mengingat bahwa kelompok radikal tidak segan melakukan intimidasi dan kekerasan fisik.


Ini sudah terjadi kepada kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan kafir karena mereka melarang jihad pedang. Bukankah kelompok Ahmadiyah seringkali dianiaya oleh kalangan muslim sendiri, termasuk di Indonesia?

Semua ini sudah saya bahas secara mendalam di:

Status Jihad dalam Fiqh
viewtopic.php?f=88&t=55708
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby Joe Andmie » Fri Oct 16, 2015 10:51 pm

Kibou wrote:Saya akan komentar sedikit mengenai human error.

Kita kan semua sudah maklum bahwa setiap manusia itu kerap kali mengalami salah paham. Dan salah paham tentunya berlaku juga terhadap teks-teks mendasar dari agama atau ideologi manapun.

Tapi dalam agama islam sebenarnya kekerasan muslim terhadap non-muslim bukan akibat salah paham terhadap teks-teks mendasar dari islam. Kekerasan tersebut justeru berasal dari pemahaman holistik (menyeluruh dan berkesinambungan) terhadap Quran, Hadits, dan Sirah melalui metode usul al fiqh yang disempurnakan oleh Imam Syafi'i, salah satu dari empat pendiri mazhab sunni.



Human error,I guess it did not occur in humans.Why?all have been writed in the book of sacred,hadits ,sirah.
Terutama perintah yang ngaku2 dapat wahyu dari jin gua hira. :axe: :axe:
User avatar
Joe Andmie
 
Posts: 1761
Images: 1
Joined: Mon Jul 04, 2011 6:48 pm
Location: DIBAWAH POHON KELAPA SAWIT

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby Kibou » Mon Oct 19, 2015 3:29 pm

Joe Andmie wrote:Human error,I guess it did not occur in humans.Why?all have been writed in the book of sacred,hadits ,sirah.
Terutama perintah yang ngaku2 dapat wahyu dari jin gua hira. :axe: :axe:


Saya ingin tambahkan satu hal, Bro Joe. Di antara empat Imam pendiri mazhab sunni, yaitu Hanifa, Malik, Syafi'i, Hanbali kadangkali bisa berbeda pemahaman mengenai hal-hal tertentu, seperti tata cara shalat, misalnya mengambil wudhu.

Umdat al Salik:

An example is someone who performs an ablution that is minimally valid in the Shafi'i school by wetting only a few hairs of his head in the ablution sequence, something not permitted by Hanafis, and then prays behind an imam without himself reciting the Fatiha, something permitted by Hanafis but not shafiis. His ablution, the necessary condition for his prayer is inadequate in the Hanafi school and his performance of the prayer is inadequate school, with the result that neither considers his prayer valid, and in fact it is not, Whoever follows a ruling mentioned in this volume from another school must observe the conditions given at w14 and make sure his worship is valid in at least one school, which for prayer can best be achieved by performing all recommended measures in the present volume relating to purity, for example, e5,e11, and so on, as if obligatory.


Tapi mengapa kalau urusan jihad pedang, empat mazhab sunni ini sepakat (ijma') bahwa hukumnya wajib bagi ummah?

Bukankah aneh apabila empat mujtahid memiliki pemahaman yang "keliru" mengenai jihad? Kok bisa mendapat pemahaman bahwa jihad pedang itu wajib? Kan lucu? Padahal para mujtahid ini diakui sangat paham bahasa arab, quran, hadits, sejarah islam, dan juga fiqh?

Saya sangat heran.

http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChap ... 1&BookID=7

(Part No. 4; Page No. 7)
Muslims unanimously agree that when a person regards as Halal that which is well established and known to be Haram, such as permitting Zina (sexual intercourse outside marriage), Riba (usury/interest), or Khamr (intoxicants), this constitutes Kufr (disbelief) and Riddah (apostasy from Islam). Likewise, when a person regards that which is well established and known to be Halal as Haram, such as prohibiting meat, bread, and the like, they thereby violate the Law of Allah and have apostatized from Islam.


Kalau kita terima pemahaman Mirza Ghulam Ahmad bahwa jihad pedang itu memang dilarang, bukankah itu berarti para mujtahid sunni sebenarnya sudah kafir alias murtad? Bukankah menyatakan sebagai halal sesuatu yang dilarang (jihad pedang) sudah dianggap kafir? Kalau begitu saja sudah kafir, apalagi MEWAJIBKAN sesuatu yang sebenarnya dilarang (jihad pedang)?

Sebenarnya para muslim moderat itu mengikuti pemahaman Mirza Ghulam Ahmad atau para Imam mujtahid sunni sih?
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Bisakah Radikalisme diubah menjadi Toleransi?

Postby Joe Andmie » Tue Oct 20, 2015 1:42 pm

Kibou wrote:Saya ingin tambahkan satu hal, Bro Joe. Di antara empat Imam pendiri mazhab sunni, yaitu Hanifa, Malik, Syafi'i, Hanbali kadangkali bisa berbeda pemahaman mengenai hal-hal tertentu, seperti tata cara shalat, misalnya mengambil wudhu.
Tapi mengapa kalau urusan jihad pedang, empat mazhab sunni ini sepakat (ijma') bahwa hukumnya wajib bagi ummah?
Bukankah aneh apabila empat mujtahid memiliki pemahaman yang "keliru" mengenai jihad? Kok bisa mendapat pemahaman bahwa jihad pedang itu wajib? Kan lucu? Padahal para mujtahid ini diakui sangat paham bahasa arab, quran, hadits, sejarah islam, dan juga fiqh?Sebenarnya para muslim moderat itu mengikuti pemahaman Mirza Ghulam Ahmad atau para Imam mujtahid sunni sih?



Bro Kibou sebenarnya dari golongan manapun, pedoman utama islam ada pada quran, segala ucapan tingkah laku muhammad wajib diteladani, soalan jihad yang beragam hanya untuk menutupi borok2,ritual haji salah satu fakta, kendati sering jatuh korban.Saya dengan tegas mengatakan muslim lebih patuh dan setia kepada rasulnya.
User avatar
Joe Andmie
 
Posts: 1761
Images: 1
Joined: Mon Jul 04, 2011 6:48 pm
Location: DIBAWAH POHON KELAPA SAWIT

Next

Return to Terorisme & Jihad Dalam Islam



Who is online

Users browsing this forum: No registered users