.

Mengikis Fundamentalis dengan Berbisnis

Hal2 yang menyebabkan terjadinya teror dalam Islam dan kaitannya dengan Jihad.

Mengikis Fundamentalis dengan Berbisnis

Postby Laurent » Tue Aug 29, 2006 2:19 pm

Mengikis Fundamentalis dengan Berbisnis

LARA SAADE tampak grogi saat Habib Saggaf menyurungkan microphone dan memintanya mem-perkenalkan diri. Sebagai spesialis pengembangan masyarakat di Bank Dunia, berorasi di depan massa bukan hal baru bagi Lara. Tapi berbicara di depan para santri, jelas pengalaman pertama perempuan asal Lebanon itu.

"Baru kali ini saya berbicara di hadapan ribuan laki-laki di dalam masjid. Apalagi baru selesai menunaikan shalat Jumat," aku Lara dalam Bahasa Arab, di Masjid Agung Pondok Pesantren (ponpes) Al Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Bogor, Jum'at (23/6/2006).

Tentu saja, kedatangan Lara ke sana untuk mengemban tugas dari boss-nya, Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz yang juga pernah mengunjungi ponpes itu awal April 2006. Paul kagum pada penge-lolaan ponpes itu. Ponpes yang mengasuh 8.231 santri itu mampu menghidupi dirinya sendiri, tanpa memungut bayaran sepeserpun dari para santrinya.

"Makan, tidur, sekolah, juga kesehatan, semua gratis. Yang penting kita belajar, bekerja dan berusaha," ujar pemimpin ponpes, Habib Saggaf, panggilan akrab Habib Saggaf bin Mahdi bin Syeikh Abu Bakar.

Ponpes yang didirikan 17 Juli 1998 ini memadukan sistem salafi, sekolah umum dan peningkatan kualitas keahlian santri. Santri mengikuti jenjang pendidikan dari ibtidaiyah, tsanawiyah, 'aliyah sampai universitas.

"Santri di sini banyak yang miskin dan yatim piatu. Tapi kualitas ustadz-nya cukup baik. Mereka alumni Timur Tengah dan sejumlah universitas dalam negeri lulusan S1, S2, dan S3," jelas Habib.

Ponpes yang berdiri di atas lahan seluas 160 ha ini, mengharuskan santrinya tinggal di asrama. "Kita tidak menerima murid yang keluar-masuk. Karena nanti tidak terkontrol," imbuh pria berdarah Yaman yang selalu mengenakan jubah ini (lihat: Habib Ramah di Balik Jubah).

Mengoperasikan ponpes sebesar itu, tentu butuh dana besar. Namun Habib punya cara agar ponpesnya tetap mandiri. "al-Hamdulillah, ponpes ini bisa berjalan dengan pengolahan sampah, pertanian dan pabrik roti," katanya.

Daur ulang sampah adalah bisnis pertama yang dirintis. "Sampah organik kita jadikan kompos untuk kebun ponpes dan dijual. Sampah lainnya didaur ulang dan dijual ke penampung. Sekali jual insya Allah dapat Rp. 1 juta," ungkap Saiful, santri Fakultas Tarbiyah Universitas Habib Saggaf dari Sukabumi Jawa Barat, yang Jum'at itu bertugas mensortir sampah.

Bahkan Habib Saggaf berencana mengelola sampah Pasar Parung. "Belum ada kesepakatan. Kabupaten Bogor belum mau men-drop sampahnya ke sini. Ini aneh. Padahal jika sampahnya kita olah, Pemda diuntungkan. Mereka bilang masih dalam proses. Beginilah birokrasi Indonesia," keluh Habib.

Selain pengolahan sampah, pertanian juga menjadi usaha ponpes. "Sekarang lahan sudah mencapai 20 ha. Ada sawah, kolam, kebun lavender dan bunga matahari. Juga ada kebun sayuran dan palawija. Hasilnya, separuh untuk kelompok santri, separuh untuk ponpes," jelasnya.

Dua konsultan pertanian pun disediakannya untuk mengembangkan keahlian bertani santri. "Saya rekrut dari IPB dan Universitas Sriwijaya," ungkap lelaki kelahiran Dompu, Nusa Tenggara Barat, 15 Agustus 1945 itu.

Missi Habib Saggaf mening-katkan keahlian santrinya, bukan hanya di atas kertas. Sebuah pabrik roti pun didirikan di halaman ponpes. "Kalau mereka lulus, bisa bikin pabrik roti," kata Habib berharap.

Pabrik roti dengan produksi 8.000 roti perhari itu, dijalankan ke-lompok santri secara bergiliran. "Kita belum jual keluar. Baru dimakan oleh santri saja," katanya.

Hasil kerja para santri selama di ponpes disimpan di koperasi santri. "Dana simpanan itu hampir mencapai Rp 1 miliar. Koperasi juga menyediakan barang dengan harga 30% lebih murah dari harga di luar," kata Cece, santriwati kelas 3 tsanawiyah asal Cianjur, Jawa Barat.

Tidak hanya santri yang diberi kesempatan menggarap lahan milik ponpes. Pasangan suami-istri alumni ponpes itu juga diberi kesempatan bercocok tanam di lahan seluas 1 ha, selama dua tahun di daerah Banten. "Hasilnya, setengah buat mereka, setengah buat ponpes," kata Habib.

Lahan ponpes di Banten seluas 1.272 ha itu, terdiri dari sawah, empang dan mata air mineral. Sisa lahan masih dikerjakan orang kampung dengan sistem pembagian yang sama. "Kami juga berniat menjadikan mata air sebagai pabrik air minum kemasan di daerah itu," obsesinya.

Kemandirian serupa juga dijalankan Ponpes al-Ittifaq, Babakan Jampang, Ciwidey, Bandung. Ponpes asuhan KH. Fuad Affandi yang berdiri pada 1934 dan kini diisi 300 santri salaf itu, selain dikenal dengan kajian kitab klasiknya, juga dikenal aktivitas agribisnisnya. Di samping ditanamkan kesalehan pribadi, para santri juga dibekali kesalehan sosial.

"Kegiatan agribisnis dikelola santri untuk pembiayan mereka di ponpes," kata Kiai Fuad.

Di lahan kering seluas 15 ha itu, para santri dilatih bercocok tanam, terutama sayuran, seperti tomat, wortel, jipang, dan sebagainya. Hasilnya sehari mencapai empat ton dan dipasok ke berbagai hipermarket di Bandung dan Jakarta.

"Saya punya prinsip; jangan ada sampah yang ngawur, jangan ada tanah yang tidur dan jangan ada waktu yang nganggur," ujar alumni Ponpes al-Hidayah, Rembang Jawa Tengah ini. "Jika ada 500 ponpes seperti ini, kaum muslim di Indonesia tidak ada yang miskin," tambah Kiai Fuad.

Untuk menjaga kontinuitas pasokan sayuran dan buah-buahan ke hipermarket-hipermarket, santri dan petani binaan menerapkan pola tanam. "Kerja sama dengan kelompok tani lain juga digalang," jelas generasi ketiga keluarga ponpes ini.

Ponpes yang dipimpinnya sejak 1974 itu, juga memiliki usaha perikanan dan peternakan
sapi, kambing, ayam dan kelinci yang pakannya dari limbah sayuran. Sedang kotorannya diolah menjadi pupuk kandang. "Semua harus dimanfaatkan, karena tidak ada ciptaan Allah yang tak berguna," ujar Kiai Fuad.

Masyarakat sekitar juga boleh menggarap lahan milik ponpes, seluas 300 ha, yang saat ini sudah digunakan untuk budidaya teh, garmen, pupuk organik, dan sebagainya. "Baik pengembangan SDM, manajemen pemasaran, maupun permodalan difasilitasi ponpes," ujar Dandan, salah satu menantu Kiai Fuad.

Ponpes al-Ittifaq juga tak rikuh bekerja sama dengan lembaga pemerintah dan non pemerintah. Bahkan ponpes itu pernah bahu-membahu dengan Kedutaan Besar Belanda melalui horticulture program untuk membantu petani di sekitar ponpes. "Kita mengambil tutornya dari Belanda," ujar Dandan.

Saat ini, Ponpes al-Ittifaq bersama pemerintah Taiwan, sedang mengembangkan cabe organik. "Permintaan dari negara itu meningkat. Jadi kita harus terus berinovasi," katanya.

Hasil dari bisnis pesantren itu menjadi sumber dana operasional ponpes. Juga digunakan untuk membantu masyarakat miskin, bahkan merenovasi pemukiman warga yang tidak layak huni. "Kita juga rutin mengadakan nikah masal setiap Syawal dan khitanan massal setiap Rajab. Sejak 2002 kita juga membangun 36 masjid dengan dana sekitar Rp 6 miliar," ujar Dandan.

Ponpes memang tak bisa cuci tangan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya. Dengan alasan itu, pengasuh Ponpes Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, KH. Abdul Ghofur memelopori penghijauan lahan kritis dengan tanaman mengkudu.

Berkat kegigihan kiai kelahiran Paciran, 12 Februari 1949 ini, kini ribuan hektar lahan kritis di Kecamatan Mantup, Paciran, Ngimbang dan Sugio di Kabupaten Lamongan berhasil dihutankan. Sekitar 8.000 warga sekitar pun mendapat berkah menjadi petani mengkudu. "Buahnya bisa mencapai 10 ton lebih tiap hari untuk dijual," ujar putra Kiai Ghofur, Anwar Mubarak.

Menurut Anwar, Ponpes Sunan Drajat membeli mengkudu masyarakat itu untuk diproses menjadi minuman kesehatan (jus). "Jus mengkudu produksi Ponpes Sunan Drajat sudah diekspor ke Jepang, Malaysia dan Brunei," ujarnya.

Anwar menceritakan, ayahnya mulai merintis usaha itu sejak 2002, dengan luas lahan sekitar 40 ha. Perkembangannya ternyata pesat. Sehingga pada 2004, Kiai Ghofur dinominasikan mendapat Penghargaan Kalpataru.

Namun baru tahun 2006 Kiai Gofur meraih penghargaan itu untuk kategori Pembina Bidang Kebersihan dan Lingkungan. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Senin, 12 Juni 2006.

Selain budidaya dan produksi jus mengkudu, ponpes yang memiliki sekitar 10.000 santri itu, juga memproduksi pupuk majemuk, pupuk organik, pengembangan koperasi, dan in-dustri bordir.

Kiai Ghofur juga merintis Forum Komunikasi Pondok Pe-santren Agribisnis yang diketuainya sejak 2001. Forum yang beranggotakan ponpes se-Indonesia ini juga bekerjasama dengan organisasi seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia dan Lembaga
Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama.

"Saya ingin mengajak masyarakat supaya jangan mikir akhirat saja, tapi juga mikir dunia dengan mengembangkan pertanian, industri, dan perikanan. Ini kan perintah al-Quran dan Hadis. Akhirat tidak akan sempurna jika duniawinya tidak ditata," kata Kiai Ghofur yang yang juga keturunan Sunan Drajat ini, seperti dikutip Kompas (17/06/06).

Para ulama dan kiai itu tampak serius mengembangkan kemandirian ekonomi ponpes dan santri-santrinya. Karena dari pengamatan mereka, jika tidak mapan secara ekonomi akan banyak campur tangan kepentingan pihak luar terhadap keberlangsungan ponpes. Masalah ekonomi juga berpengaruh kepada para santri yang potensial bertindak di luar etika kesantrian.

Seperti Habib Saggaf yang yakin bahwa salah satu pemicu tindak terorisme adalah kemiskinan. "Karena uang tidak ada, seseorang bisa terjerumus dalam terorisme," jelasnya.

Akibat lainnya, para santri bisa menjadi pelaku kriminal. "Termasuk jadi dukun bohong-bohongan dan bisa menjadi preman, karena merasa diri punya kekebalan," jelas Habib Saggaf. "Saya selidiki, ini semua terjadi karena mereka kesulitan secara ekonomi. Sebaliknya, jika tidak diajarkan agama, orang juga bisa jadi koruptor, pencuri atau penipu," imbuh Habib Saggaf.

Untuk mengikis dampak negatif dari kemiskinan dan kemerosotan moral itu, para ulama pun menyelenggarakan pendidikan multidisiplin di ponpes mereka.
"Kita harus membuat sekolah yang selain mengajarkan pengetahuan modern full, agama juga full," tegas Habib Saggaf.

Sekaranglah waktunya para ulama dan kiai membangun santrinya agar mumpuni di bidang agama, teknologi, juga memiliki harta cukup. Semua itu dianjurkan Islam, bukan?

http://www.gatra.com/artikel.php?id=96165
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Laurent » Tue Aug 29, 2006 2:25 pm

Habib Ramah di Balik Jubah

"NANTI kamu jadi ulama besar dan kaya raya. Kamu masuk pondok saja. Berangkatlah tawakkaltu," demikian nasihat Habib Soleh bin Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar ulama besar dari Bondowoso, Jawa Timur usai 'meneliti' kaki Saggaf bin Mahdi yang masih berusia 14 tahun.

Namun Saggaf muda masih ragu. Pasalnya sejak kecil ia tak pernah mondok. "Kepala seperti mau pecah mendengar perintah itu. Tapi saya pergi juga ke Pesantren Darul Hadits di Malang," kenang Habib Saggaf, panggilan akrab Habib Saggaf bin Mahdi bin Syeikh Abu Bakar.

Di depan pintu ponpes, Saggaf diterima pendiri Darul Hadits, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih al-Alawy. "Kamu musti belajar baca al-Qur'an," kata Habib Abdul Qadir seraya memegang kuping Saggaf. Sontak, sakit kepala dan keraguan Saggaf hilang. "Hati saya terbuka. Ini guru saya. Apa pun yang terjadi, saya harus belajar di sini," tekad Saggaf muda.

Saggaf pun menempuh pendidikan di sana dengan cemerlang. "Saya menjadi santri hanya 2 tahun 7 bulan dan langsung ngajar fiqh dan nahwu. Saya di sana 13 tahun," kenangnya.

Sepulang dari Malang, Saggaf berguru ke Masjid Sayyidina Abbas di Aljazair selama 5 tahun dan i'tikaf di Makkah selama 5 tahun. Saggaf juga memperdalam tareqat di Irak. Namun ia harus kembali ke Tanah Air. Guru tarekatnya yang beraliran Syadziliyah, merekomendasikannya belajar tareqat di Mranggen, Demak.

"Karena tareqat Syadziliyah agak sulit di Indonesia, maka saya disuruh ke Mranggen yang beraliran Qadiriyyah. Syekh Muslich Mranggen itu guru tareqat saya," ungkap Saggaf kepada Gamal Ferdhi dan Ahmad Suaedy dari the WAHID Institute.

Dia pun lantas kembali ke Dompu mendirikan Ponpes Ar-Rahman. Tak lama berselang, Saggaf pindah ke Parung Bogor mendirikan Ponpes al-'Ashriyyah Nurul Iman. Sebelum ke Parung, Saggaf mendirikan Ponpes Nurul Ulum di Kali Mas Madya, Surabaya, yang banyak menerima murid dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Afrika.

Sejak itu, undangan ceramah banyak datang dari negara tetangga. Ratusan ribu massa selalu memadati majelisnya di Singapura. "Bukan hanya orang Melayu dan Islam, orang Cina, India, Budha, Hindu dan lain-lain, telah memenuhi stadion Singapura sejak sore," ujarnya.

Kepandaiannya menguasai Qiraah Sab'ah (bacaan al-Quran dengan riwayat tujuh imam, Red) membuatnya ditunggu majelisnya di Singapura. Namun kepandaiannya itu juga yang mengakibatkan Mufti Singapura menuduhnya mengutak-atik bacaan al-Quran.

"Saya dituduh merusak al-Quran. Akibatnya ponpes saya di Surabaya disegel Depag dengan alasan takut bentrok antara Indonesia dengan Singapura. Tanah seluas 5 ha di Sekupang Batam yang diberi pemerintah juga ditarik kembali," ungkapnya mengenang peristiwa di awal 1980-an itu.

Dia pun pindah ke Jakarta. Di Ibukota, Saggaf pun menghidupkan majelis di Masjid Agung Bintaro. Krisis sosial-politik pasca jatuhnya Soeharto pada 19 Juni 1998, membuat Saggaf memutuskan pindah ke Desa Warujaya, Parung, Bogor yang lebih tenang dibanding Jakarta.

Ternyata, krisis ekonomi turut menghancurkan masyarakat Desa Warujaya. Hal itu memicu Saggaf mengumpulkan anak-anak sekolah di rumahnya. "Sebelum sekolah mereka makan nasi ketan di rumah. Tiap anak saya kasih uang jajan Rp 250. Dan tiap keluarga kita bagi beras 5 kg," katanya.

Pada 1999, datanglah seorang santri asal Wonogiri, Solo, bernama Prawoto Suwito. Kedatangannya memberi spirit bagi Saggaf untuk mendirikan Ponpes al-Ashriyyah Nurul Iman. Kian lama ponpesnya kian besar, hingga kini memiliki 8.231 santri. Selain beribadah dan belajar, ponpes itu juga melatih santrinya bertani, daur ulang sampah dan membuat roti.

Diakui Saggaf, ikhtiar ekonomi para santrinya belum cukup untuk menghidupi ponpes terbesar di Bogor itu. Karena itulah, dia menerima beberapa dermawan mensedekahkan hartanya untuk kepentingan ponpes.

"Dua masjid itu sumbangan dari orang yang sama," ungkap Saggaf menjelaskan asal usul dua masjid besar di dalam pon-pes. Satunya berkapasitas 5.000 orang untuk santri laki-laki dan sebuah lagi, berkapasitas 3.000 orang untuk santri perempuan.

Tak hanya itu, beberapa perkumpulan agama non-Islam turut menyumbang konsumsi, tenaga pengajar, gedung olah raga dan asrama. Jadi, jangan heran jika di depan masjid agung pon-pes berdiri dojo Taekwondo seluas 200 m2, sumbangan dari pengusaha Korea Selatan, Park Young Soo.

"Guru Taekwondo-nya dari Korea. Kita juga memadukan zafin (tarian Arab, Red) dengan Taekwondo. Sekarang sedang dipatenkan di Korea Selatan," jelasnya.

Ponpes itu juga memiliki gedung dua lantai, dengan 24 ruang kelas, 2 ruang guru, 32 kamar mandi dan 20 toilet. Pendidikan tsanawiyah, aliyah dan Universitas Habib Saggaf dise-lenggarakan di situ. "Gedung ini sumbangan dari Yayasan Buddha Tzu Chi," jelasnya.

Puluhan tempat bermukim para santri, banyak yang berasal dari infaq orang tua santri. Bahkan salah satu diantaranya adalah sumbangan dari organisasi keturunan India di Indonesia, Gandhi Sevaloka.

Hadirnya beberapa bangunan dari sumbangan komunitas non-muslim itu, menurut Habib, karena dirinya tak segan bergaul dengan siapa pun. "Kadang beberapa pendeta tidur di sini untuk mempelajari sistem ponpes ini," akunya.

Habib Saggaf juga terus menanamkan toleransi antar pemeluk agama di negeri ini. Karenanya, ia menyayangkan aksi kekerasan sekelompok orang dengan mencatut Islam. "Akibatnya Islam dipandang salah. Orang Islam dianggap 'tukang makan orang'," ujarnya lugas.

Selain itu, kata Habib Saggaf, rusaknya citra Islam juga karena ajaran Islam disalahpahami. "Itu, orang-orang yang ngaku mujahid. Mujahid apa itu, berontak di negara orang. Mereka bikin kacau Indonesia. Kalau saya presiden, saya usir mereka. Saya tangkap dan saya suruh tinggal di Arab. Jadi, jika kita ingin memperbaiki, jangan yang sudah rusak dirusak lagi. Itu baru mujahid," himbaunya.

Untuk itu, ia menghimbau kelompok yang mengusung nama Islam agar menyelesaikan persoalan melalui mekanisme hukum. "Ini Indonesia. Ada pemerintah, ada hukum, dan ada polisi. Mereka yang menjaga keamanan. Jika tidak melalui jalur hukum, berarti ingin mendirikan negara dalam negara. Tapi pemerintah juga salah, kok orang-orang kayak begitu (anarkis, Red) dibiarkan. Mereka itu bisa merusak Indonesia," tandasnya.

http://www.gatra.com/artikel.php?id=96138
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am


Return to Terorisme & Jihad Dalam Islam



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron