.

berita israel

Hal2 yang menyebabkan terjadinya teror dalam Islam dan kaitannya dengan Jihad.

berita israel

Postby kusumaningati » Sat Aug 26, 2006 9:30 pm



Ang Swee Chai: Saya Ingin Dunia Tahu Kekejaman Israel
Oleh : Redaksi 23 Aug, 06 - 3:00 pm

From Beirut to Jerusalem
Sebuah Kesaksian Kebiadaban Israel di Libanon & Palestina




Kekejaman yang dilakukan Israel terhadap Libanon dan Palestina tidak akan pernah berhenti sebelum Israel menguasai kedua wilayah tersebut dan gencatan senjata yang disepakati tidak akan mampu bertahan lama itu, hal itu pernah terjadi diawal agresi pertama pada tahun 1982. Hal tersebut dikatakan oleh penulis buku 'Tears of Heaven From Beirut to Jerusalem' DR. Ang Swee Chai dalam peluncuran bukunya di MP Book Point, Kawasan Cipete, Jakarta, Selasa (22/8).

“Perdamaian itu tidak akan terwujud tanpa adanya keadilan dan rasa kemanusiaan,” ujar dokter bedah yang mengabdikan dirinya sejak Perang Israel-Libanon meletus tahun 1982.

Menurut Ang, dirinya menjadi saksi korban-korban pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap wanita dan anak-anak. Kondisi itu telah mengubah pandangannya yang semula mendukung Israel dan menganggap orang-orang Arab sebagai teroris, kini ia mendukung upaya kemanusiaan untuk menyelamatkan korban-korban kekejaman Israel yang pada umumnya adalah bangsa Arab.

Keberpihakan Ang pada masyarakat Palestina dan Libanon dibuktikannya dengan bergabung dalam perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina dan dengan beberapa rekannya, Ang membentuk Medical Aid for Palestine yang memberikan bantuan medis kepada rakyat Palestina baik di wilayah pengungsian maupun di wilayah pendudukan Israel.

“Saya tidak bisa melupakannya, pembantaian itu telah menjadi bagian dari hidup saya, karena itu saya berkeliling untuk menuturkan pengalaman saya kepada orang-orang, saya ingin dunia mengetahui kekejaman yang dilakukan oleh Israel,” tandasnya.

Ia mengungkapkan, hampir setiap hari korban yang harus ditangani secara cepat tak henti-hentinya berdatangan, bahkan sampai larut malam terutama pada saat kondisi genting.

Ang mengaku dedikasinya terhadap Palestina tidak akan pernah berhenti, apalagi saat ini sudah lebih banyak lembaga kemanusiaan dari berbagai negara yang mendukung perdamaian di Palestina dan Libanon, untuk itu dirinya berusaha minimal setahun sekali mengunjungi Palestina dan Libanon.(novel/eramuslim)

--------------------------------------------------------------------------------



FROM BEIRUT TO JERUSALEM
SEBUAH KESAKSIAN TENTANG KEBIADABAN ISRAEL DI LEBANON DAN PALESTINA

Kamp pengungsi Sabra-Shatila. Aku sedang bertugas di kamp, baru tiba sebulan sebelumnya sebagai sukarelawan dokter bedah untuk merawat para korban selama serangan pasukan Israel di Lebanon.

Pembantaian anak-anak, wanita, orang tua dan orang-orang lemah tak bersenjata itu sungguh menyentakkanku. Aku merasa sangat gusar karena harus menemukan kebenaran tentang orang-orang yang berani dan murah hati, melalui kematian mereka. Hingga saat itu, aku tak pernah tahu bahwa para pengungsi Palestina itu ada. Sebagai seorang Kristen fundamentalis, dulu aku mendukung Israel, membenci orang-orang Arab, dan memandang PLO sebagai teroris yang harus dikutuk dan ditakuti.

Pengalamanku di Sabra-Shatila membuatku sadar bahwa orang Palestina juga manusia. Upaya pihak-pihak adikuasa yang berkonspirasi menjelek-jelekkan mereka, pupus sudah di mataku. Bagaimana mungkin mereka adalah orang jahat, jika mereka adalah korban ketidakadilan yang amat besar? Seperti orang-orang lain, aku harus menghadapi kenyataan pahit, aku harus bertobat; kebodohan dan prasangkaku telah membutakan mataku dari penderitaan bangsa Palestina.

Mereka yang selamat mendorongku untuk memberikan kesaksian di hadapan Komisi Penyelidikan Kahan bentukan pemerintah Israel. Dan, dalam perjalanan melintasi perbatasan Lebanon menuju Yerusalem, aku sadar sedang menempuh perjalanan yang diimpikan oleh para pengungsi Palestina. Tanpa disengaja, aku sedang melakukan ziarah ke tanah air mereka dan pulang ke rumah.

Lalu, pada masa Intifada yang pertama, aku bertugas di rumah sakit Al-Ahli di Gaza sebagai konsultan dokter bedah PBB dan telah merawat banyak dari mereka yang terluka. Bangunan rumah sakitku itu sering diserang dari udara oleh para tentara yang memburu para pemuda; bangsal-bangsal ibu-ibu hamil diserbu oleh tentara Israel yang bersenjata lengkap; suatu penghinaan terhadap ibu-ibu yang tengah melahirkan. Para pasien yang terbaring di meja-meja operasiku diancam. Seorang kru televisi BBC memfilmkan Kehidupan Di Bawah Pendudukan, menampilkan beberapa orang dari kami yang sedang bertugas di bawah kondisi-kondisi yang tak terperikan itu. Para juru rawat pria menghabiskan dua tahun di penjara menyusul perekaman film itu. Para tentara Israel itu membuat masa tugasku di Gaza menjadi tak tertahankan, dan perlu waktu bertahun-tahun sebelum aku dapat kembali.

(Dinukil dari buku Tears of Heaven: From Beirut to Jerusalem, karya Dr. Ang Swee Chai ,Mizan 2006.)

--------------------------------------------------------------------------------


Siapakah Dr. Ang Swee Chai?


18 September 2002
Physician returns to Sabra and Shatila 20 years after bloody massacres
[Dokter Kembali ke Sabra dan Shatila, 20 Tahun Setelah Pembantaian Berdarah]
Reem Haddad


Liputan Khusus untuk The Daily Star

Untuk alasan yang bahkan ia sendiri tak dapat jelaskan, foto-foto rontgen itu masih tersimpan di flatnya di London. Kadang-kadang, ia mengeluarkannya dan melihat-lihatnya lagi. Salah satunya adalah foto rontgen anak 7 tahun yang ditembak 3 kali. Seluruh keluarganya dibunuh. Ia masih ingat nama anak itu: Mounir. Ada pula foto rontgen wanita korban pertama pembantaian yang datang meminta perawatan kepadanya pada hari di bulan September 1982 itu. Ia tertembak di sikunya. Sang dokter bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan wanita itu setelah ia meninggalkan rumah sakit hari itu. Ia menduga, besar kemungkinan wanita itu sudah lama mati.

Dan sekarang, 20 tahun kemudian, sang dokter kembali menyusuri gang-gang di kamp pengungsian Sabra and Shatila. Penduduk kamp mengenal wanita ahli bedah ortopedis oriental yang mungil itu sebagai dr. Swee. Dunia lebih mengenalnya sebagai dr. Ang Swee Chai, penulis From Beirut to Jerusalem, yang merupakan kesaksiannya tentang pembantaian Sabra-Shatila. Sang dokter ada di Beirut bulan yang lalu selama seminggu untuk membantu BBC membuat laporan peringatan pembantaian itu. Program dokumenter itu berdasarkan pengalamannya di kamp, dan banyak penduduk masih mengenalinya,­ dan ia pun masih mengenali mereka. Seorang pria setengah baya terkaget-kaget saat mendadak distop sang dokter. Ah, rupanya kamu, sapanya kepada pria yang kebingungan itu. Kamu dulu anak muda tukang bikin onar. Ekspresi kekagetan pria itu berubah menjadi kegembiraan karena mengenali wanita itu. Dr. Swee! katanya. Sang dokter tersenyum. Ia tidak pernah lupa pasien-pasiennya. Bagaimana saya bisa melupakan Sabra dan Shatila? katanya. Saya ada di sana saat peristiwa itu terjadi.

Ironisnya, Ang, yang berasal dari Singapura tetapi sekarang tinggal di Inggris, tumbuh dengan mendukung Israel. Ia diberi tahu bahwa orang-orang Arab adalah teroris. Namun pada 1982, media Inggris menyiarkan pemboman membabi-buta Beirut oleh pesawat-pesawat Israel. Terguncang, pandangannya terhadap Israel mulai berubah. Saat itulah ia mendengar seruan internasional yang meminta sukarelawan dokter bedah ortopedis (tulang) untuk merawat korban perang di Beirut. Wanita mungil ini—tingginya hanya kurang dari 1,5 meter berhenti dari pekerjaannya di London, berpamitan kepada suaminya, dan berangkat menuju kancah perang sipil di Beirut. Begitu tiba di negeri itu, Ang bergabung dengan Palestinian Red Crescent Society (Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina) dan ditugaskan di Rumah Sakit Gaza di kamp Sabra dan Shatila.

Kemudian, Ketua Palestinian Liberation Organization (PLO), Yasser Arafat, dan para pengikutnya harus dievakuasi dari negara itu. Sebuah gencatan senjata disepakati dan banyak penduduk kamp yang sebelumnya mengungsi, pulang ke kamp dan membangun kembali kehidupan mereka. Di mana-mana saya lihat anak kecil, wanita, dan orang tua memperbaiki rumah mereka, kenangnya. Ada atmosfer penuh harapan, karena mereka percaya setelah PLO pergi, Israel akan membiarkan warga Palestina hidup tenang. Saya juga mempercayainya. Atmosfer itu tidak bertahan lama. Tiga pekan kemudian, Presiden Lebanon yang baru saja terpilih, Bashir Gemayel, dibunuh.

Semua orang di kamp segera menjadi ketakutan, kata Ang. Mereka khawatir orang-orang Palestina akan disalahkan. Ketakutan mereka terbukti. Pagi hari berikutnya, 15 September, pesawat-pesawat Israel menyerbu kamp. Dari lantai atas RS Gaza, dr. Ang dapat melihat asap membubung dari berbagai tempat. Asap semakin lama semakin mendekat, katanya. Saat malam tiba, asap itu berjarak setengah kilometer di sekeliling kami. Saya dapat mendengar pemboman dari segala penjuru.

Kebanyakan pasien yang ia rawat pada hari itu terluka terkena pecahan bom. Namun, hari berikutnya, seorang wanita dibawa ke rumah sakit. Sikunya tertembak. Wanita itu keluar rumah untuk mengambil air untuk keluarganya, dan saat itulah ia ditembak. Wanita itu adalah korban pembantaian pertama dan foto rontgen wanita itu masih disimpan dr. Ang sampai sekarang. Sejak saat itu, terjadilah malapetaka, katanya.

Orang-orang yang dibawa ke rumah sakit tertembak di kepala, rahang, dada. Kebanyakan dari mereka sudah mati saat tiba di rumah sakit. Keadaan terus bertambah buruk. Para dokter berkutat dengan pasien-pasien di ruang-ruang operasi di basement, bekerja tanpa henti. Itu terus berlangsung sampai malam. Kamar mayat sudah tak mampu menampung jenazah korban.

Sampai saat itu pun, Ang dan tim dokter belum menyadari bahwa ada pembantaian sedang berlangsung. Saya hanya bertanya-tanya, Mengapa orang-orang ini berkeliaran di jalan-jalan? katanya. Saat itu, saya juga merawat bayi-bayi dan orang lanjut usia. Saya biasa membeli kopi dari orang-orang tua itu. Saya benar-benar tidak paham. Barulah kemudian ia diberi tahu bahwa milisi Kristen (saat itu sejumlah milisi Kristen adalah sekutu Israel) memasuki rumah-rumah dan membunuhi penghuninya. Sementara itu, rumah sakit kehabisan persediaan darah, makanan, dan obat-obatan. Hari berikutnya, orang-orang bersenjata memasuki rumah sakit dan memerintahkan semua orang yang memegang paspor luar negeri untuk meninggalkan tempat itu. Dipaksa meninggalkan tempat itu, para dokter digiring melalui kamp. Pemandangan saat itu masih terus menghantuinya sampai sekarang. Ada banyak orang dikumpulkan, pria, wanita, dan anak-anak yang memandang kami dengan mata penuh ketakutan, kenangnya. Mayat ada di mana-mana. Saya tersandung sesosok mayat. Dalam kengerian, ia lihat mata mayat itu telah dicungkil.

Buldoser-buldoser menghancurkan rumah-rumah rumah-rumah yang baru 3 hari yang lalu ia kunjungi untuk minum kopi bersama penghuninya. Seorang wanita berlari ke arah Ang dan menyerahkan bayinya. Milisi menodongkan senapan mereka. Wanita itu mengambil kembali bayinya. Setelah pembantaian, Ang menjelajahi kamp untuk mencari wanita dan bayinya itu. Ia tidak bisa menemukan mereka. Saya tahu mereka sudah dibunuh, katanya. Ang kemudian bersaksi di depan Komisi Kahan yang menyelidiki pembantaian itu. Komisi itu memutuskan bahwa Menteri Pertahanan Ariel Sharon (yang di kemudian hari menjadi Perdana Menteri) bertanggung jawab secara personal atas pembantaian itu dan dipaksa mundur dari jabatannya pada 1983.

Sang dokter pulang ke London, tetapi tidak bisa hidup tenang. Saya tidak bisa melupakannya, katanya. Pembantaian itu telah menjadi bagian dari hidup saya. Ia berkeliling untuk menuturkan pengalamannya kepada orang-orang. Saya ingin dunia mengetahui pembantaian itu, katanya. Saya butuh melakukannya. Saya bertanggung jawab melindungi pasien saya. tetapi saya tidak mampu. Sebagai dokter, saya telah gagal.

Pada 1984, Ang dan beberapa pekerja medis membentuk badan amal untuk membantu warga Palestina. Mereka menamakannya MAP, Medical Aid for Palestine. Mereka bertujuan membangun kembali rumah sakit-rumah sakit Palestina dan menyediakan suplai obat-obatan. Setelah dimulainya Intifada, Ang mengalihkan perhatiannya untuk membantu warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Dua tahun kemudian, ia menerbitkan bukunya, From Beirut to Jerusalem. Buku itu segera meraih sukses, ribuan kopi terjual. Setahun kemudian, terbit sebuah buku dengan judul yang sama, tetapi dari penulis lain. Buku itu menyebabkan calon pembaca bingung. Penjualan buku Ang pun menurun. Saya bisa saja menuntut, tetapi saya tidak ingin melakukannya, katanya. Lebih baik saya menggunakan uang dan tenaga saya untuk membantu para pengungsi. Mereka membutuhkan orang-orang yang memperjuangkan nasib mereka.

Sumber: The Daily Star


http://berita.swaramuslim.net/more.php?id=5281_0_12_0_M[/url]
kusumaningati
 
Posts: 43
Joined: Sun Jul 16, 2006 9:46 pm

Postby Ni Ji » Sat Aug 26, 2006 10:32 pm

waduuuuhhhh....??? gw kiraiin si jablay Muhammd Bin Abdulla. udah paling elite...gak taunya ada lagi nyang leeeebiiiii....be kelaaasss....encyiiiimmm Ang Swee Chai

cuman masalahnya cyiiiiimmmm.....tadi pagi di gedong sate bandung demo anti Israel...nah yg pidato sampe sangking emosinya....bicarapun sampe mungcrat kemana mana ilernya...plus kata2nya yg membakar masa yg emang kebanyakan 0on semua...jadi cyiiimm...lu ama si abdul sama2 jablay kelas elite dah...cuman lu lebi tingi dikit! aabis maenan lu udah be be ce...seeh!
Ni Ji
 
Posts: 51
Joined: Mon Jul 24, 2006 3:56 pm
Location: Mo tau aza lu

Re: berita israel

Postby bebas » Sat Aug 26, 2006 11:52 pm

weleh....gak tau yah....mengapa banyak korban dari pihak sipil???
contoh misalnya skrg nih yah...indonesia dijajah kembali oleh belanda. terjadi pertempuran hebat. para pejuang itu tiba2 datang kerumah kita disitu kumpul anak2, nenek,ayah,ibu,dll datang utk membalas serangan belanda. jelas....belanda akan menghajar rumah itu yg notabene ada nenek,anak2,ayah,ibu,dll

hizbullah menjadikan rakyat sipil sebagai tameng mereka....pikirlah, mereka sebenarnya PENGECUT BESAR....

kusumaningati wrote:

Ang Swee Chai: Saya Ingin Dunia Tahu Kekejaman Israel
Oleh : Redaksi 23 Aug, 06 - 3:00 pm

From Beirut to Jerusalem
Sebuah Kesaksian Kebiadaban Israel di Libanon & Palestina




Kekejaman yang dilakukan Israel terhadap Libanon dan Palestina tidak akan pernah berhenti sebelum Israel menguasai kedua wilayah tersebut dan gencatan senjata yang disepakati tidak akan mampu bertahan lama itu, hal itu pernah terjadi diawal agresi pertama pada tahun 1982. Hal tersebut dikatakan oleh penulis buku 'Tears of Heaven From Beirut to Jerusalem' DR. Ang Swee Chai dalam peluncuran bukunya di MP Book Point, Kawasan Cipete, Jakarta, Selasa (22/8).

“Perdamaian itu tidak akan terwujud tanpa adanya keadilan dan rasa kemanusiaan,” ujar dokter bedah yang mengabdikan dirinya sejak Perang Israel-Libanon meletus tahun 1982.

Menurut Ang, dirinya menjadi saksi korban-korban pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap wanita dan anak-anak. Kondisi itu telah mengubah pandangannya yang semula mendukung Israel dan menganggap orang-orang Arab sebagai teroris, kini ia mendukung upaya kemanusiaan untuk menyelamatkan korban-korban kekejaman Israel yang pada umumnya adalah bangsa Arab.

Keberpihakan Ang pada masyarakat Palestina dan Libanon dibuktikannya dengan bergabung dalam perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina dan dengan beberapa rekannya, Ang membentuk Medical Aid for Palestine yang memberikan bantuan medis kepada rakyat Palestina baik di wilayah pengungsian maupun di wilayah pendudukan Israel.

“Saya tidak bisa melupakannya, pembantaian itu telah menjadi bagian dari hidup saya, karena itu saya berkeliling untuk menuturkan pengalaman saya kepada orang-orang, saya ingin dunia mengetahui kekejaman yang dilakukan oleh Israel,” tandasnya.

Ia mengungkapkan, hampir setiap hari korban yang harus ditangani secara cepat tak henti-hentinya berdatangan, bahkan sampai larut malam terutama pada saat kondisi genting.

Ang mengaku dedikasinya terhadap Palestina tidak akan pernah berhenti, apalagi saat ini sudah lebih banyak lembaga kemanusiaan dari berbagai negara yang mendukung perdamaian di Palestina dan Libanon, untuk itu dirinya berusaha minimal setahun sekali mengunjungi Palestina dan Libanon.(novel/eramuslim)

--------------------------------------------------------------------------------



FROM BEIRUT TO JERUSALEM
SEBUAH KESAKSIAN TENTANG KEBIADABAN ISRAEL DI LEBANON DAN PALESTINA

Kamp pengungsi Sabra-Shatila. Aku sedang bertugas di kamp, baru tiba sebulan sebelumnya sebagai sukarelawan dokter bedah untuk merawat para korban selama serangan pasukan Israel di Lebanon.

Pembantaian anak-anak, wanita, orang tua dan orang-orang lemah tak bersenjata itu sungguh menyentakkanku. Aku merasa sangat gusar karena harus menemukan kebenaran tentang orang-orang yang berani dan murah hati, melalui kematian mereka. Hingga saat itu, aku tak pernah tahu bahwa para pengungsi Palestina itu ada. Sebagai seorang Kristen fundamentalis, dulu aku mendukung Israel, membenci orang-orang Arab, dan memandang PLO sebagai teroris yang harus dikutuk dan ditakuti.

Pengalamanku di Sabra-Shatila membuatku sadar bahwa orang Palestina juga manusia. Upaya pihak-pihak adikuasa yang berkonspirasi menjelek-jelekkan mereka, pupus sudah di mataku. Bagaimana mungkin mereka adalah orang jahat, jika mereka adalah korban ketidakadilan yang amat besar? Seperti orang-orang lain, aku harus menghadapi kenyataan pahit, aku harus bertobat; kebodohan dan prasangkaku telah membutakan mataku dari penderitaan bangsa Palestina.

Mereka yang selamat mendorongku untuk memberikan kesaksian di hadapan Komisi Penyelidikan Kahan bentukan pemerintah Israel. Dan, dalam perjalanan melintasi perbatasan Lebanon menuju Yerusalem, aku sadar sedang menempuh perjalanan yang diimpikan oleh para pengungsi Palestina. Tanpa disengaja, aku sedang melakukan ziarah ke tanah air mereka dan pulang ke rumah.

Lalu, pada masa Intifada yang pertama, aku bertugas di rumah sakit Al-Ahli di Gaza sebagai konsultan dokter bedah PBB dan telah merawat banyak dari mereka yang terluka. Bangunan rumah sakitku itu sering diserang dari udara oleh para tentara yang memburu para pemuda; bangsal-bangsal ibu-ibu hamil diserbu oleh tentara Israel yang bersenjata lengkap; suatu penghinaan terhadap ibu-ibu yang tengah melahirkan. Para pasien yang terbaring di meja-meja operasiku diancam. Seorang kru televisi BBC memfilmkan Kehidupan Di Bawah Pendudukan, menampilkan beberapa orang dari kami yang sedang bertugas di bawah kondisi-kondisi yang tak terperikan itu. Para juru rawat pria menghabiskan dua tahun di penjara menyusul perekaman film itu. Para tentara Israel itu membuat masa tugasku di Gaza menjadi tak tertahankan, dan perlu waktu bertahun-tahun sebelum aku dapat kembali.

(Dinukil dari buku Tears of Heaven: From Beirut to Jerusalem, karya Dr. Ang Swee Chai ,Mizan 2006.)

--------------------------------------------------------------------------------


Siapakah Dr. Ang Swee Chai?


18 September 2002
Physician returns to Sabra and Shatila 20 years after bloody massacres
[Dokter Kembali ke Sabra dan Shatila, 20 Tahun Setelah Pembantaian Berdarah]
Reem Haddad


Liputan Khusus untuk The Daily Star

Untuk alasan yang bahkan ia sendiri tak dapat jelaskan, foto-foto rontgen itu masih tersimpan di flatnya di London. Kadang-kadang, ia mengeluarkannya dan melihat-lihatnya lagi. Salah satunya adalah foto rontgen anak 7 tahun yang ditembak 3 kali. Seluruh keluarganya dibunuh. Ia masih ingat nama anak itu: Mounir. Ada pula foto rontgen wanita korban pertama pembantaian yang datang meminta perawatan kepadanya pada hari di bulan September 1982 itu. Ia tertembak di sikunya. Sang dokter bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan wanita itu setelah ia meninggalkan rumah sakit hari itu. Ia menduga, besar kemungkinan wanita itu sudah lama mati.

Dan sekarang, 20 tahun kemudian, sang dokter kembali menyusuri gang-gang di kamp pengungsian Sabra and Shatila. Penduduk kamp mengenal wanita ahli bedah ortopedis oriental yang mungil itu sebagai dr. Swee. Dunia lebih mengenalnya sebagai dr. Ang Swee Chai, penulis From Beirut to Jerusalem, yang merupakan kesaksiannya tentang pembantaian Sabra-Shatila. Sang dokter ada di Beirut bulan yang lalu selama seminggu untuk membantu BBC membuat laporan peringatan pembantaian itu. Program dokumenter itu berdasarkan pengalamannya di kamp, dan banyak penduduk masih mengenalinya,­ dan ia pun masih mengenali mereka. Seorang pria setengah baya terkaget-kaget saat mendadak distop sang dokter. Ah, rupanya kamu, sapanya kepada pria yang kebingungan itu. Kamu dulu anak muda tukang bikin onar. Ekspresi kekagetan pria itu berubah menjadi kegembiraan karena mengenali wanita itu. Dr. Swee! katanya. Sang dokter tersenyum. Ia tidak pernah lupa pasien-pasiennya. Bagaimana saya bisa melupakan Sabra dan Shatila? katanya. Saya ada di sana saat peristiwa itu terjadi.

Ironisnya, Ang, yang berasal dari Singapura tetapi sekarang tinggal di Inggris, tumbuh dengan mendukung Israel. Ia diberi tahu bahwa orang-orang Arab adalah teroris. Namun pada 1982, media Inggris menyiarkan pemboman membabi-buta Beirut oleh pesawat-pesawat Israel. Terguncang, pandangannya terhadap Israel mulai berubah. Saat itulah ia mendengar seruan internasional yang meminta sukarelawan dokter bedah ortopedis (tulang) untuk merawat korban perang di Beirut. Wanita mungil ini—tingginya hanya kurang dari 1,5 meter berhenti dari pekerjaannya di London, berpamitan kepada suaminya, dan berangkat menuju kancah perang sipil di Beirut. Begitu tiba di negeri itu, Ang bergabung dengan Palestinian Red Crescent Society (Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina) dan ditugaskan di Rumah Sakit Gaza di kamp Sabra dan Shatila.

Kemudian, Ketua Palestinian Liberation Organization (PLO), Yasser Arafat, dan para pengikutnya harus dievakuasi dari negara itu. Sebuah gencatan senjata disepakati dan banyak penduduk kamp yang sebelumnya mengungsi, pulang ke kamp dan membangun kembali kehidupan mereka. Di mana-mana saya lihat anak kecil, wanita, dan orang tua memperbaiki rumah mereka, kenangnya. Ada atmosfer penuh harapan, karena mereka percaya setelah PLO pergi, Israel akan membiarkan warga Palestina hidup tenang. Saya juga mempercayainya. Atmosfer itu tidak bertahan lama. Tiga pekan kemudian, Presiden Lebanon yang baru saja terpilih, Bashir Gemayel, dibunuh.

Semua orang di kamp segera menjadi ketakutan, kata Ang. Mereka khawatir orang-orang Palestina akan disalahkan. Ketakutan mereka terbukti. Pagi hari berikutnya, 15 September, pesawat-pesawat Israel menyerbu kamp. Dari lantai atas RS Gaza, dr. Ang dapat melihat asap membubung dari berbagai tempat. Asap semakin lama semakin mendekat, katanya. Saat malam tiba, asap itu berjarak setengah kilometer di sekeliling kami. Saya dapat mendengar pemboman dari segala penjuru.

Kebanyakan pasien yang ia rawat pada hari itu terluka terkena pecahan bom. Namun, hari berikutnya, seorang wanita dibawa ke rumah sakit. Sikunya tertembak. Wanita itu keluar rumah untuk mengambil air untuk keluarganya, dan saat itulah ia ditembak. Wanita itu adalah korban pembantaian pertama dan foto rontgen wanita itu masih disimpan dr. Ang sampai sekarang. Sejak saat itu, terjadilah malapetaka, katanya.

Orang-orang yang dibawa ke rumah sakit tertembak di kepala, rahang, dada. Kebanyakan dari mereka sudah mati saat tiba di rumah sakit. Keadaan terus bertambah buruk. Para dokter berkutat dengan pasien-pasien di ruang-ruang operasi di basement, bekerja tanpa henti. Itu terus berlangsung sampai malam. Kamar mayat sudah tak mampu menampung jenazah korban.

Sampai saat itu pun, Ang dan tim dokter belum menyadari bahwa ada pembantaian sedang berlangsung. Saya hanya bertanya-tanya, Mengapa orang-orang ini berkeliaran di jalan-jalan? katanya. Saat itu, saya juga merawat bayi-bayi dan orang lanjut usia. Saya biasa membeli kopi dari orang-orang tua itu. Saya benar-benar tidak paham. Barulah kemudian ia diberi tahu bahwa milisi Kristen (saat itu sejumlah milisi Kristen adalah sekutu Israel) memasuki rumah-rumah dan membunuhi penghuninya. Sementara itu, rumah sakit kehabisan persediaan darah, makanan, dan obat-obatan. Hari berikutnya, orang-orang bersenjata memasuki rumah sakit dan memerintahkan semua orang yang memegang paspor luar negeri untuk meninggalkan tempat itu. Dipaksa meninggalkan tempat itu, para dokter digiring melalui kamp. Pemandangan saat itu masih terus menghantuinya sampai sekarang. Ada banyak orang dikumpulkan, pria, wanita, dan anak-anak yang memandang kami dengan mata penuh ketakutan, kenangnya. Mayat ada di mana-mana. Saya tersandung sesosok mayat. Dalam kengerian, ia lihat mata mayat itu telah dicungkil.

Buldoser-buldoser menghancurkan rumah-rumah rumah-rumah yang baru 3 hari yang lalu ia kunjungi untuk minum kopi bersama penghuninya. Seorang wanita berlari ke arah Ang dan menyerahkan bayinya. Milisi menodongkan senapan mereka. Wanita itu mengambil kembali bayinya. Setelah pembantaian, Ang menjelajahi kamp untuk mencari wanita dan bayinya itu. Ia tidak bisa menemukan mereka. Saya tahu mereka sudah dibunuh, katanya. Ang kemudian bersaksi di depan Komisi Kahan yang menyelidiki pembantaian itu. Komisi itu memutuskan bahwa Menteri Pertahanan Ariel Sharon (yang di kemudian hari menjadi Perdana Menteri) bertanggung jawab secara personal atas pembantaian itu dan dipaksa mundur dari jabatannya pada 1983.

Sang dokter pulang ke London, tetapi tidak bisa hidup tenang. Saya tidak bisa melupakannya, katanya. Pembantaian itu telah menjadi bagian dari hidup saya. Ia berkeliling untuk menuturkan pengalamannya kepada orang-orang. Saya ingin dunia mengetahui pembantaian itu, katanya. Saya butuh melakukannya. Saya bertanggung jawab melindungi pasien saya. tetapi saya tidak mampu. Sebagai dokter, saya telah gagal.

Pada 1984, Ang dan beberapa pekerja medis membentuk badan amal untuk membantu warga Palestina. Mereka menamakannya MAP, Medical Aid for Palestine. Mereka bertujuan membangun kembali rumah sakit-rumah sakit Palestina dan menyediakan suplai obat-obatan. Setelah dimulainya Intifada, Ang mengalihkan perhatiannya untuk membantu warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Dua tahun kemudian, ia menerbitkan bukunya, From Beirut to Jerusalem. Buku itu segera meraih sukses, ribuan kopi terjual. Setahun kemudian, terbit sebuah buku dengan judul yang sama, tetapi dari penulis lain. Buku itu menyebabkan calon pembaca bingung. Penjualan buku Ang pun menurun. Saya bisa saja menuntut, tetapi saya tidak ingin melakukannya, katanya. Lebih baik saya menggunakan uang dan tenaga saya untuk membantu para pengungsi. Mereka membutuhkan orang-orang yang memperjuangkan nasib mereka.

Sumber: The Daily Star


http://berita.swaramuslim.net/more.php?id=5281_0_12_0_M[/url]
bebas
 
Posts: 4
Joined: Mon Aug 21, 2006 1:36 am

masa?

Postby kusumaningati » Sun Aug 27, 2006 12:10 am

seingatku waktu baca di liputan 6 ...waktu tentara israel mengebom/menyerang sebuah rumah sakit...bahwa rumah sakit itu dikira adalah milik kelompok hisbulloh...kelompok hisbulloh memang bermukim/rumahnya di palestina...sudah selayaknya mempertahankan /melindungi wilayangnya....kalo udah tahu banyak orang sipil mengapa israel masuk ke palestina..



inilah kira2 cita2 israel:http://www.abc.net.au/ra/indon/media/pers.ram
kusumaningati
 
Posts: 43
Joined: Sun Jul 16, 2006 9:46 pm

israel

Postby kusumaningati » Sun Aug 27, 2006 1:47 am

kusumaningati
 
Posts: 43
Joined: Sun Jul 16, 2006 9:46 pm

Postby yusuf_bin_sanusi » Mon Aug 28, 2006 2:12 pm

kuman ati wrote :
seingatku waktu baca di liputan 6 ...waktu tentara israel mengebom/menyerang sebuah rumah sakit...bahwa rumah sakit itu dikira adalah milik kelompok hisbulloh...kelompok hisbulloh memang bermukim/rumahnya di palestina...sudah selayaknya mempertahankan /melindungi wilayangnya....kalo udah tahu banyak orang sipil mengapa israel masuk ke palestina..

Eh neng kuman..nyang perang itu israel ngelawan hisbullah, lokasinya di LIBANON bukannye palestine..sono noh belajar dulu..masih ijo sok-sok ikut poletek..malu maluin aje..

Ato memang waktu perang itu hisbullah sembunyi di palestina??? mungkin juga..
User avatar
yusuf_bin_sanusi
 
Posts: 596
Joined: Wed Aug 02, 2006 8:47 am
Location: Di Luar Tenda si Momed, ngintip doi ber-Pedophil ria..asyiikk.. :)

Postby ArifTruth » Wed Aug 30, 2006 6:19 pm

gua heran para kristen disini kok pada mbelain israel yag yahudi, padahal kan dalam sejarahnya nyang nyiksa yesus mereka yahudi? apa otak para kristen ini udah bebal gak baca sejarah....?
User avatar
ArifTruth
Banned
 
Posts: 144
Joined: Wed Aug 30, 2006 12:00 pm
Location: INDONESIA

Postby Ni Ji » Thu Aug 31, 2006 10:53 pm

ge lebi bingung lagi ame lu rip....bukannya nyang ngebunuh kalipah usman si juned...eh maap maksud aye si arab kuple juga...koq lu arab belain arab sih?

dan kalaupun yahudi yg lu jelek2in...kayaknye gak ada tuh yahudi nyang merkose pembokat asal jawa n kuningan....kecuali onta arab....kix kix kix
Ni Ji
 
Posts: 51
Joined: Mon Jul 24, 2006 3:56 pm
Location: Mo tau aza lu

Postby Krishnaji » Fri Sep 01, 2006 12:11 am

bener, yang bunuh usman, ali, hasan-husen, zubair, thalah (semuanya sahabat nabi) ya arab bin muslim juga

btw jessus bukan dibunuh oleh jahudi tapi romawi broer
Krishnaji
 
Posts: 272
Joined: Mon Apr 10, 2006 11:14 pm

Postby bambang » Sun Sep 10, 2006 10:42 pm

ArifTruth wrote:gua heran para kristen disini kok pada mbelain israel yag yahudi, padahal kan dalam sejarahnya nyang nyiksa yesus mereka yahudi? apa otak para kristen ini udah bebal gak baca sejarah....?

Yang bebal tuch otaknye muamek, kagak ngerti sejarah cap njiplak aje.....jadi dech pengikutnye pade o'on. :lol: :lol:
bambang
 
Posts: 1619
Joined: Tue Aug 22, 2006 2:02 am

Postby Phoenix » Tue Sep 12, 2006 4:34 am

ArifTruth wrote:gua heran para kristen disini kok pada mbelain israel yag yahudi, padahal kan dalam sejarahnya nyang nyiksa yesus mereka yahudi? apa otak para kristen ini udah bebal gak baca sejarah....?


...Yesus aje memaafkan mereka koq.

Yang nyiksa ya bukan Yahudi, tapi prajurit Roma...bukan biskuit Rhoma yg sudah tradisi..dan bukan pula si munafiq Roma yg sok suci...
Phoenix
 
Posts: 11175
Joined: Mon Feb 27, 2006 5:33 am
Location: FFI

Postby lemotman » Sat Nov 11, 2006 9:03 am

Si Yahudi Yesus dari Nazareth dikhianati sama si Yahudi Yudas iskhariot supaya diserahkan kepada prajurit romawi untuk diseksa dan disalib .
akhirnya si Yahudi Yesus dari Nazareth mati di tiang salib dan pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati, naik ke surga disaksikan oleh Yahudi-yahudi yang juga murid-murid Nya si Yahudi Yesus dari Nazareth.... githu lho ceritanya
lemotman
 
Posts: 58
Joined: Wed May 10, 2006 1:59 am

Roma

Postby Rashidi » Sun Nov 12, 2006 11:29 pm

Phoenix wrote:Yang nyiksa ya bukan Yahudi, tapi prajurit Roma...bukan biskuit Rhoma yg sudah tradisi..dan bukan pula si munafiq Roma yg sok suci...
Tapi yang paling awet, ajaran sadis Islam bikin berdiri bulu roma...
User avatar
Rashidi
 
Posts: 1222
Joined: Wed Sep 14, 2005 10:15 pm

Postby sergius » Sun Nov 12, 2006 11:50 pm

Kesian yang namanya Rhoma. Dia juga narcist tuh sama kyk Muhammad. Liat aja ekspresi kepuasan di muka dia ketika si Inul menangis2 di kakinya.

Back to topik......

Israel emang sadis....... Lu pada baru tau ya? Knp dia sadis? Karena dia didukung oleh Amrik. Liat aja Amrik enak banget maen veto2an resolusi DK PBB.

Tapi lihat juga hizbullah..... Kelakuannya tidak lebih baik dari Israel. Sama2 rusak.

Perang di timur tengah dah berlangsung lama dan yang gw heran kok kedua belah pihak gak capek ya?

Itu si Ang bisa berkata begitu karena dia bekerja disekitar lokasi penembakan Israel.

Kalo dia baca berita tentang Bali, Marriot, aksi2 bom bunuh diri, wtc, pasti dia akan menerbitkan artikel yang bernada beda.

Dia hanya lah seorang manusia yang memiliki rasa prikemanusiaan yang tinggi. Apalagi dia adalah seorang Dokter. Apa yang dia lihat memang sangat lah mengganggu...... jadi gak heran kalo tulisannya terkesan membela Hizbullah. Yang sebenarnya bisa diambil dr artikel ini adalah -> Israel tak kalah sadisnya dengan Hizbullah.
User avatar
sergius
 
Posts: 2063
Joined: Sun Sep 24, 2006 3:46 am
Location: Tzu Chi homebase

Postby BanzaiII » Mon Nov 13, 2006 5:21 pm

sergius wrote:Dia hanya lah seorang manusia yang memiliki rasa prikemanusiaan yang tinggi. Apalagi dia adalah seorang Dokter. Apa yang dia lihat memang sangat lah mengganggu...... jadi gak heran kalo tulisannya terkesan membela Hizbullah. Yang sebenarnya bisa diambil dr artikel ini adalah -> Israel tak kalah sadisnya dengan Hizbullah.

Gak usah merasa humanis kalo ternyata masih ada jiwa bengis n sinis,us..:wink:

Kan lu bisa bedain kalo yang berulang kali dikasih resolusi itu Israel bukan Hizbulloh...masa' bedain gitu aja susah sih...:wink:

Mestinya lu tulis aja:

Hidup dr. Ang Swee Chai, SpB...Hidup Dokter Cina....Hidup Kemanusiaan...Terkutuklah kejahatan terhadap kemanusiaan...!!! :wink:
User avatar
BanzaiII
 
Posts: 44
Joined: Fri Nov 10, 2006 10:20 pm

Postby sergius » Mon Nov 13, 2006 6:43 pm

Justru lu blm kenal gw.....

Gw gak gitu suka dengan cara2 Israel dan Amrik. Ada juga lu yang gak obyektif melihat situasi.

Hizbullah gak lebih suci dr kedua negara itu.

Gak usah bawa2 nama china untuk masalah ini. Sok chinese luh....
User avatar
sergius
 
Posts: 2063
Joined: Sun Sep 24, 2006 3:46 am
Location: Tzu Chi homebase

Postby Pimp the Chimp » Mon Nov 13, 2006 11:39 pm

Ya nih anak NGAKU chinese tapi belun tentu CHINESE,

Tapi maki2 orang cina gituu,

TUkang Ngibul aja nih di postingan(again) nge junk terusss sok tau tapi otak kosong isinya kitab porno muhammek.
Pimp the Chimp
Banned
 
Posts: 337
Joined: Sun Oct 15, 2006 3:07 am

Postby No_Name » Thu Nov 16, 2006 11:54 pm

kekerasan Israel dilawan dengan kekerasan pula?
akan menimbulkan kekerasa baru pula,dan semua takkan berakhir,jika tidak ada dari keduanya yg mulai saling mengasihi dan mengampuni.

yaa Muslim tak lebih jahat dari si Israel itu?
Israel jahat,Muslimpun jahat.

apakah Tuhan perlu pembelaan dari manusia???
apakah Tuhan tidak sanggup utk membela manusia??
apakah Muslim tidak percaya Tuhannya akan datang membela??

lihatlah bagaimana Kristen Indonesia yg dibantai,didiskriminasi,dikucilkan,gerejanya dibakar,dirusak,dibom,tak boleh beribadah,bahkan dianiaya dan dibunuh.
tapi Tuhan maha adil,Iblis yg datang mendakwa dosa2 Muslim,dan diizinkan Tuhan...terjadilah Tsunami.

jadi gak perlulah membela Tuhan,Tuhan bisa membela dirinya sendiri.

hati2 loh yg sering kemasukan setan dijalan2 teriak2 Awloh-Huakbar sampai aer ludahnya muncrat,kutuk sana kutuk sini...
hati2 setan selalu mendengarkan perbuatannya tuh dan siap mendakwa orang2 yg kemasukan setan itu dihadapan Tuhan.


Muslim doyannya ngamuk-ngamuk terus,ya gak heran yg didapat cuma "kedamaian" dan "ketenangan" disisi Tuhanmu,seperti si Muhammad Nuh,si "pembom bunuh diri" yg coba membom restoran cepat saji A & W,yaa itu karena mendidihnya si Muhammad Nuh,si Islam sejati,jadilah Iblis berkuasa atas dirinya...kasihan sekali Muslim ini...ck-ck-ck


orang yg membalas adalah orang yg lemah
orang yg membalas adalah orang yg tidak percaya Tuhannya Maha Kuasa,karena ternyata Tuhannya tidak bisa membela diri-Nya sendiri,sehingga perlu dibela oleh ciptaannya.
orang yg membalas adalah orang yg tidak berTuhan,karena Tuhannya tak bisa melindungi dia dari aniaya,jadi jelas Tuhannya sebenarnya adalah Iblis.

siapakah Iblis itu??

mmmhhh....dialah itu yg mengajarkan kedamaian bersyarat,asalnya dari negri gersang.

siapakah dia??
tebak sendiri aja deh...
User avatar
No_Name
 
Posts: 1677
Joined: Mon Jun 05, 2006 7:01 pm
Location: the Rock n Roll place


Return to Terorisme & Jihad Dalam Islam



Who is online

Users browsing this forum: No registered users