.

Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Benturan dan bentrokan antara Islam dengan agama-agama dan peradaban lain di seluruh penjuru dunia.

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby kuisa » Mon Oct 13, 2014 10:13 am

kuisa wrote:Istilah suatu keadaan memunculkan keadaan lain tanpa diciptakan adalah pernyataan ngawur.

qprim wrote:Belajar sportif Kuisa. Ini pernyataan anda bukan?

Betul pak Prim, dan saya tidak akan menariknya selama tidak ada yang bisa mematahkannya.

Mungkin anda perlu sedikit disuapi perihal bayangan.

Ketika malam hari dimana hanya sedikit cahaya yang ada dari bulan ataupun hanya bintang2, kondisi tersebut disebut gelap. Pagi hari ketika muncul cahaya/matahari, intensitas cahaya meningkat dan kondisi tersebut disebut terang, disamping terang tersebut ada daerah yang masih gelap atau sisa2 gelap karena area tersbut terhalangi dari cahaya, gelap yang terhalangi itu disebut bayangan.

1. Bayangan tadi tidak muncul karena adanya terang, tapi dari semalam memang sudah gelap, sampai pagipun tetap gelap karena tidak ada cahaya yang mendatanginya.
2. Andai benda yang menghalangi cahaya disingkirkan maka bayanganpun akan hilang. Anda gali tanah dan sembuyikan benda yang menghalangi cahaya tadi maka anda tidak akan mendapatkan bayangan.

Jadi bayangan ada karena ada sebuah benda yang menghalangi cahaya, anda bisa membuat bayangan apapun yang anda inginkan hanya dengan memberikan cahaya dalam satu arah saja kepada sebuah benda.

Istilah suatu keadaan memunculkan keadaan lain tanpa diciptakan adalah pernyataan ngawur.
kuisa
 
Posts: 706
Joined: Mon May 05, 2014 12:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby kuisa » Mon Oct 13, 2014 10:20 am

Teposeliro wrote:sekarang ke panas dan dingin
kuisa mengatakan itu kata sifat, yang memang benar itu kata sifat. yang jadi masalah adalah kebenaran dari sifat tersebut, anda tidak bias membuktikan kedinginan suatu benda tapi ada bias menghitung kepanasan suatu benda. pengukuran dengan thermometer adalah mengukur seberapa panas suatu benda bukan seberapa dingin suatu benda. ketika semua molekul dianggap tidak bergerak dianggap suatu benda tidak memiliki panas adalah sekitar -273 celcius inilah yang disebut dengan dingin mutlak. jadi panas mampu dijelaskan secara nyata tapi dingin tidak bisa, dingin hanya didapatkan dari ketiadaannya panas. Makanya itulah tadi dijelaskan ketika konsep tuhan ada maka akan timbul dengan sendirinya keadaan ketiadaannya tuhan diorang tersebut itulah iblis.
sama seperti cahaya, terang dapat dihitung dengan banyaknya sinar atau lumen atau candela sedangkan gelap hanya bias dihitung dengan ketiadaanya atau makin sedikitnya terang. jadi terang dinyatakan dengan lumen makin kecil terangnya dianggap gelap.bukankah itu artinya kita dapat menjelaskan terang dengan ukuran tertentu tapi tidak dengan gelap. jadi gelap adalah keadaan semakin tidak adanya terang. sama seperti dingin. dan panas kan.
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Follow Twitter: @ZwaraKafir

Terima kasih untuk kesimpulannya yang sangat jujur, anda membenarkan tuduhan saya terhadap Pak Rahimii bahwa sebetulnya tuhan anda 1+1=2, tuhan + iblis adalah satu paket, ketika yang satu hadir maka yang lain hadir tanpa diciptakan.

Mengapa harus bolak balik menolak jika kesimpulannya adalah sama?
kuisa
 
Posts: 706
Joined: Mon May 05, 2014 12:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby kuisa » Mon Oct 13, 2014 10:57 am

kuisa wrote:Wah, rupanya saya yang harus mengajar logika kepada ahli logika
di saat bersamaan harus ngajar bahasa juga.


Panas dingin
Panas dan dingin itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.

Apa yang terukur untuk menentukan panas dingin? Temperatur/suhu. Untuk membuat sebuah benda menjadi panas, butuh energi untuk memanaskan, demikian juga sebaliknya untuk membuat sesuatu menjadi dingin, butuh energi untuk mendinginkan. Ada yang disebut transfer panas, lebih tepat transfer energi, dua benda dengan suhu berbeda akan mengalami transfer energi sampai suhu keduanya sama.

Sebutan panas dan dingin relatif terhadap kebutuhan, yang terukur adalah suhu, suhu sekian bisa disebut panas atau dingin tergantung apa yang diukur. Panas bisa diukur, dinginpun bisa diukur.

rahimii wrote:Inilah sains ala padang pasir. Sungguh koplak mengatakan panas dan dingin sekedar penyebutan atau sifat. Itu karena otakmu demikian kecil sehingga menerjemahkan dalam bahasa indonesia HOT dan HEAT saja kamu tidak bisa.

Lebih koplak lagi mengatakan panas dan dingin tidak eksis karena bukan benda itu sendiri. Kamu belajar dimana mengatakan panas dan dingin adalah sekedar kata sifat? Dengan pernyataan subjektif akan kata sifat, kau tidak membuktikan bahwa “dingin” itu tidak ada, atau bahwa “dingin” ada tanpa status ontologis. Apa yang kau lakukan adalah menunjukkan bahwa “dingin” adalah istilah subjektif.

kuisa wrote:Hati2 kalau menulis, dimana saya salah menggunakan hot dan heat?
btw, ini universal kali, mau di padang pasir atau himalaya konsepnya sama, memang nyatanya kedua hal panas dingin adalah kata sifat/adjective.

rahimii wrote:Yang jelas kalau ngomong, jangan mengalihkan pembahasan ke masalah tata bahasa. Semua yang bisa dirasakan lewat indera, pastilah eksis. Panas eksis, dingin eksis. Indera manusia bisa merasakannya. Kamu bisa merasakannya tidak? Jawab ya atau tidak saja, gak usah mutar-mutar..

kuisa wrote:Si Pak Indra ini mendeteksi perubahan temperatur, jika lebih tinggi dari suhu badan disebutlah panas, jika lebih rendah disebutlah dingin,
jadi yang eksis adalah temperaturnya, panas dingin adalah kesimpulan dari nilai sebuah temperatur.

Kalau kamu bilang panas dan dingin itu sekedar kesimpulan dari nilai sebuah temperatur, coba kamu jawab pertanyaan ini. Mengapa ada es dan udara dingin yang sangat ekstrim di kutub? Disana gak ada kulkas atau AC lho..tapi kok dingin ya tong? Merujuk kepada argument mu, bahwa yang eksis adalah temperatur, apakah es dan udara dingin di kutub disebabkan ketiadaan temperatur atau ketiadaan panas? Jangan ngalor ngidul, jawab yang jelas saja tong..

Kutub disebut dingin karena anda membandingkan dengan yang bukan kutub, kalau anda hanya mengenal kutub maka anda bisa mengatakan temperatur -60oC lebih panas daripada temperatur -100oC.

Mengatakan dingin ada karena tidak ada panas juga membuat sebuah dilema jika ketika anda tidak mendapatkan es teh karena tidak adanya es (panas ada karena tidak adanya dingin).

rahimii wrote:Ada atau tiada konsep istilah subjektif tersebut, eksistensi yang kita sebut “dingin” akan tetap ada. Mensubjektifkan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut. Lalu, bagaimana pula maksud dari pernyataan untuk membuat sebuah benda menjadi panas, dibutuhkan energi untuk memanaskan? Pada dasarnya panas itu sendiri adalah energi yang tersimpan di dalam suatu objek. Jadi kalimat yang menyatakan dibutuhkan energi untuk memanaskan agar membuat sebuah benda menjadi panas apakah pernyataan yang memiliki landasan atau sekedar modal congor?

kuisa wrote:Fenomena itukan sifatnya/gejala, objeknya adalah energy yang disebut heat menghasilkan 2 istilah, panas dan dingin.
Manasin air emang ga perlu kompor?

rahimii wrote:Asli saya ketawa..kamu memang lulusan sekolah taliban ranking terakhir ya? Untuk memanaskan sesuatu, yang terpikir di otakmu yang kecil adalah kau butuh kompor. Saya tidak akan jelaskan caranya. Silahkan kau belajar lagi gimana caranya mendidihkan air tanpa kompor atau alat pemanas. Kalau sudah tahu, baru balik lagi ya..Contoh lain untuk menguji kesehatan logikamu. Sakit kepala juga gejala / fenomena. Apakah karena sakit kepala bukanlah sesuatu (thing), maka sakit kepala tidak eksis?

kuisa wrote:Ga usah khawatir, ketawa tidak dilarang kok, saya biasanya pakai kompor, paling mudah sih, tapi saya butuh energi biar tuh air panas, energinya dari gas. Pak rahimii manasin air dirumah bagaimana? pake heater, dicolokin dulu ga?
Kalau gas habis dan listrik mati, si kuisa bingung manasin air karena dalam pikirannya energi panas itu adalah api yang keluar dari kompor dan gas..kwkwkw..

Pake genset dong, taliban gitu lo.

rahimii wrote:Berikutnya, pernyataan lain dari modal congor adalah "sebaliknya untuk membuat sesuatu menjadi dingin, butuh energi untuk mendinginkan" Kita mengidentifikasi sesuatu sebagai dingin saat suhu menjadi lebih rendah. Tapi itu tidak berarti dibutuhkan sebuah energi untuk membuat "dingin", dingin adalah kondisi dimana hanya ada sedikit energi panas. Energi panas selalu bergerak dari sesuatu yang panas ke sesuatu yang lebih dingin. Tidak ada hal seperti energi dingin, sehingga objek hanya bisa menjadi dingin jika energi panas bergerak menjauh darinya. Jadi untuk membuat sesuatu menjadi dingin, justru tidak dibutuhkan energi tetapi jauhkanlah energi darinya.

kuisa wrote:Emangnya kulkas anda bisa dingin sendiri? colok dulu pak! [-X

rahimii wrote:Hihihihi..habis kata-kata saya menggambarkan kekoplakanmu. Belajar lagi sana, gimana cara membuat air menjadi es tanpa kulkas atau alat pendingin. Belajarnya ke sekolah beneran, jangan sekolah taliban ya..

kuisa wrote:Mau sekolah taliban apa penabur sama aja, kulkas dicolok dulu :finga:

Kalau listrik mati, si kuisa kebingungan membuat air menjadi es..tapi jangan langsung mbleduk bunuh diri ya, bisa kok tanpa kulkas. Makanya pindah sekolah tong..

Kalau listrik mati, saya pake genset dengan mengambil energi dari minyak. Anda sekolah dimana sih?

rahimii wrote:Karena itu, panas jelas merupakan sesuatu karena ada energi dan aktivitas kinetik padanya. Dingin lah yang bukan sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya keberadaan panas. Eksistensi sebuah domain ketiadaan panas karena keberadaan panas terbukti ada.

kuisa wrote:Itu boleh disebut heat, tapi bukan hot dan cold yang hanya sifat saja, sebutan yang diberikan untuk banyaknya nilai heat.

rahimii wrote:Sakit kepala juga gejala / fenomena dan bukan sesuatu (thing), apakah sakit kepala tidak ada?

kuisa wrote:Yang ada adalah kepalanya, sakit kepala itu suatu kondisi tidak stabil yang terjadi pada kepala, itu katasifat, masa ga ngerti2.

Kalau si kuisa jadi dokter, dia akan memberikan pelajaran bahasa indonesia soal kata sifat kepada pasiennya yang sakit kepala. Dia akan bilang sakit kepala itu tidak eksis, itu hanya kata sifat. Kalau si kuisa melihat dijalan ada pengemis yang kelaparan, dia akan bilang ke pengemis itu kalau lapar itu hanyalah kata sifat. Yang eksis adalah perut saja, jadi yang penting perut masih ada dan abaikan saja eksistensi rasa lapar itu. Itu cuma kata sifat..

Yang saya ajarkan adalah sakit kepala dan sakit perut itu tidak muncul dengan sendirinya karena kepala atau perutnya eksis, dengan adanya kepala dan perut, maka muncul dua kondisi, sehat dan sakit. Cerdas dikitlah.

kuisa wrote:Gelap terang
Gelap dan terang itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.

Apa yang terukur untuk menentukan gelap terang? Cahaya. Terang gelap tergantung banyaknya cahaya dan relatif terhadap kebutuhan, kondisi pencahayaan tertentu bisa disebut gelap atau terang untuk keperluan yang berbeda. Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur. :goodman:

rahimii wrote:Mengenai gelap dan terang, sedari awal yang saya oposisikan dari gelap adalah cahaya, bukan terang. Kau yang seenakmu menggantinya dengan terang. Saya mencerna dan memahami dulu setiap kata dan kalimat, tidak seperti kau yang sembrono dan asal cuap. Cahaya adalah sesuatu, terang tidak. Cahaya adalah sesuatu, gelap tidak. Cahayalah yang menghasilkan terang, sehingga opisisi gelap adalah cahaya. Kegelapan adalah ketiadaan cahaya. Dimanapun, untuk menentukan tingkat kegelapan, yang diukur adalah intensitas jumlah cahaya, bukan jumlah kegelapan.

kuisa wrote:Anda sedikit lagi setuju dengan penjelasan saya, terang dan gelap itu memang bukan sesuatu, hanya sebutan yang digunakan untuk mendefinisikan suatu nilai dari cahaya.

rahimii wrote:Saya dari awal sudah menjelaskan bahwa gelap bukanlah sesuatu. Mengapa pula saya yang menjadi sedikit lagi setuju dengan kau? Tapi saya masih punya rasio mengatakan bahwa gelap itu eksis meski itu bukanlah eksistensi yang mandiri akan dirinya sendiri. Tidak tahu malumu itu lho..

kuisa wrote:Yang eksis itu cahayanya, gelap terang adalah penilaian terhadap banyaknya cahaya tsb

Awalnya kau tidak bilang begitu. Awalnya kau bilang gelap juga bisa diukur tong..masih punya rasa malu tidak? Yang saya oposisikan dari awal terhadap gelap adalah cahaya. Hanya saya juga katakan gelap itu juga merupakan sebuah eksistensi yang tidak mandiri akan dirinya sendiri, sebagai efek yang tidak diciptakan akibat adanya eksistensi cahaya itu sendiri.

Ga usah mencla mencle lah, ga baik pura2 bloon, nih lihat jawaban anda sendiri untuk Fayhem
rahimii wrote:Namun, sebelum dimensi ini bahkan ada, alam semesta adalah titik sangat kecil yang berisi setidaknya segala sesuatu di alam semesta yang bisa kita amati sekarang. Oleh karenanya, singularitas ini memiliki kepadatan yang tak terbatas, dan juga sangat panas. Panas adalah nilai terukur yang dihasilkan dari gerakan partikel molekul, sehingga masuk akal kalau energi panas ada didalam singularitas sejak semula, bukan dingin. Jika kita bisa melihat singularitas tersebut, itu akan menjadi sesuatu yang sangat terang. Hanya,ruang hampa sendiri tidak eksis sebelum bigbang, sehingga logikanya hal semacam terang atau gelap juga belum eksis sebelum bigbang. Ini yang bisa saya sampaikan dari tinjauan filosofisnya bro..jangan ditanya hitung-menghitung dan rumus-merumus ya..

Istilah terang gelap baru muncul ketika cahaya muncul, jika anda keukeuh bahwa gelap muncul sendiri karena adanya terang, maka sangat salah karena seharusnya gelap telah lama ada sebelum terang datang (lihat gugatan fayhem).
Anda berada dalam dilema dan kontradiksi.

rahimii wrote:Tetapi perhatikan lagi pernyataanmu sang lulusan sekolah Taliban ranking terakhir : “Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur.”
Bagaimana caramu mengukur tingkat kegelapan? Apa instrumen yang akan kau gunakan? Cahaya dapat diukur karena itu adalah energi. Kegelapan bukanlah energi sehingga tidak akan dapat diukur. Apa yang kau lakukan adalah menunjukkan bahwa “gelap” adalah istilah subjektif. Ada atau tiada konsep istilah subjektif tersebut, eksistensi yang kita sebut “gelap” akan tetap ada. Mensubjektifkan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.

kuisa wrote:keduanya, terang gelap adalah fenomena atau sifat, objeknya adalah cahaya :goodman:

kuisa wrote:Sakit kepala juga gejala / fenomena, apakah sakit kepala tidak eksis? Bisamu hanya menelan ludah dimana-mana. Jawab yang ini : “Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur.” Itu kata-kata yang keluar dari congormu. Disatu sisi bilang gelap hanyalah kata sifat, telan ludah lagi bilang gelap bisa diukur. Tak tahu malu kamu..

kuisa wrote:Beneran ga ngerti maksud saya atau pura2 ga ngerti? gelap terang panas dingin semua kata sifat yang dilekatkan pada kondisi tertentu. Kondisi tertentu itu yang ada ukurannya, gelap adalah kondisi dengan intensitas cahaya sekian banyak tergantung siapa yang bicara sesuai keperluannya, demikian jg sifat2 lainnya yg saya sebutkan.

Kondisi tertentu itu eksis tidak tong? Kau itu hanya mutar-mutar dan sekedar tidak malu kalah saja. Sekarang apakah sebuah “kondisi tertentu”merupakan realita atau sekedar kata sifat? Salah satu cara untuk mengetahui sesuatu hal itu eksis atau tidak adalah dengan membandingkannya dengan realita. Pernyataan "kondisi tertentu" itu saja sudah merupakan penggambaran satu realita.

Terserah anda sih, yang jelas istilah gelap terang muncul setelah adanya cahaya.

rahimii wrote:Oleh karena itu, cahaya jelas merupakan sesuatu karena ada energi padanya. Gelap lah yang bukan sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya keberadaan cahaya. Eksistensi sebuah domain ketiadaan cahaya karena keberadaan cahaya terbukti ada.

kuisa wrote:keliru, terang dan gelap takkan pernah disebut jika tidak ada cahaya, banyaknya cahaya mendefinisikan sesuatu disebut terang atau gelap.

rahimii wrote:Siapa yang ngomong terang adalah oposisi gelap? Saya bilang oposisi gelap adalah cahaya. Memang ajaib benar kamu, tidak punya malu sedikitpun. Saya jelas katakan cahaya adalah sesuatu karena merupakan energi. Tapi dengan b0dohnya bilang saya keliru. Kamu kemanakan analogi koin dan aktif pasif saya? Sengaja kamu tidak komentari karena saya keliru juga tong?

kuisa wrote:energi kok lawannya gelap [-X

rahimii wrote:Baca kembali pake otak dari awal. Siapa juga yang bilang kalau gelap lawannya energi. Ingat dengan analogi koinmu? Bila koin dilihat dari sisi depan, bisakah kau mendapat penglihatan akan sisi belakang secara bersamaan? Saat kau melihat sisi depan, itu akan menciptakan keadaan ketiadaan sisi belakang. Bila kau membalik untuk melihat sisi belakang, itu menciptakan keadaan ketiadaan sisi depan. Tiada dan berada sisi depan dan belakang eksis dalam satu keberadaan koin. Sisi depan adalah bukan sisi belakang, mereka selalu berbeda. Namun mereka membentuk satu koin yang sama. Sisi depan dan belakang bukanlah sekedar bagian dari koin, karena mereka tidak dapat dipisahkan. Idenya adalah koin memiliki dua domain yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan dan tidak perlu diciptakan secara tersendiri. Keberadaan sisi depan memunculkan keadaan ketiadaan sisi belakang. Karena ketiadaan ada, keberadaan dapat didefinisikan dan sebaliknya. Atau pikirkan tentang aktif dan pasif. Aktif melahirkan domain yang pasif dalam dirinya sendiri tanpa perlu diciptakan terpisah di satu tempat pada satu waktu. Keberadaan tuhan mewujudkan domain ketiadaan tuhan tanpa perlu diciptakan terpisah di satu tempat pada satu waktu yang berbeda.
Mirror 1: Panas dingin
Follow Twitter: @ZwaraKafir

Lha iya makanya saya bilang tuhanmu 1+1=2, iblis muncul sendiri tanpa diciptakan dan saling mengalahkan dengan tuhan, rebut2an kunci dst.
kuisa
 
Posts: 706
Joined: Mon May 05, 2014 12:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby JANGAN GITU AH » Mon Oct 13, 2014 9:47 pm

Kuisa wrote: Emangnya kulkas anda bisa dingin sendiri? colok dulu pak! [-X


Rahimi wrote:Hihihihi..habis kata-kata saya menggambarkan kekoplakanmu. Belajar lagi sana, gimana cara membuat air menjadi es tanpa kulkas atau alat pendingin. Belajarnya ke sekolah beneran, jangan sekolah taliban ya..


Topik ini pada dasarnya sudah masuk pada wilayah hukum-hukum Thermodinamika. Saya ragu si Kuisa ini mengerti gak ya hukum Thermodinamika? :-k

(Ane ndiri gak ngarti dah..hi..hi..hi). Menurut intuisi subjektif saya proses pindah panas terjadi secara spontan dari titik yang memiliki kumpulan panas (kalor) yang besar menuju titik yang memiliki sedikit panas (kalor). Dalam proses spontan ini tidak dibutuhkan energi atau usaha sedikit pun agar perpindahan panas berlangsung.

Menurut hukum Thermodinamika, proses tersebut tak mungkin terjadi dalam arah terbalik bila tidak ada usaha dari luar untuk memaksa panas yang berasal dari titik "kurus" kalor menuju titik "gemuk" kalor. Oleh karenanya, panas dari benda-benda di dalam Kulkas pada dasarnya DIPINDAHKAN oleh usaha luar yang disuplai oleh listrik agar berpindah tempat ke luar atau kelingkungan.

Satu hal yang perlu diketahui oleh si Kuisa, bahwa perpindahan panas tersebut sebenarnya bukanlah karena akibat hasil kerja energi listrik, melainkan ketika zat (cairan) lain yang lebih dingin disalurkan melalui pipa-pipa penyalur yang melewati dinding kompartemen dalam kulkas. Zat ini bisa berupa alkohol atau CFC (freon) mengingat titik didih dan uapnya yang sangat rendah sedemikian sehingga memudahkan panas yang berada di dalam ruang kompartemen kulkas berpindah ke dalam zat tadi.

Karena panas yang pindah dari ruang kompartemen kepada zat itu menyebabkan penguapan zat yang cepat. Di dalam saluran (pipa) yang menyalurkan zat tadi akan terdapat peningkatan jumlah uapnya sehingga menaikan tekanan pipa. Akibatnya, bila uap tadi tidak dikurangi saluran pipa bisa pecah. Bagaimana caranya? Uap zat harus dikompresi atau dipaksa kembali pada kadaan awal. Dan untuk mengkompresikannya dipelukan mesin kompresor yang digerakkan oleh tenaga listrik.

Tetapi jika kau punya alkohol atau CFC dalam jumlah tak terbatas hasil produksi si Allah swt, kau tidak butuh kompresor, pun tidak butuh listrik untuk mendinginkan kulkas. Satu-satunya yang kau butuhkan adalah cairan yang memiliki titik uap yang sangat rendah. :lol:

Paham gak? Jangan-jangan gak paham juga nih...hihihi
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby JANGAN GITU AH » Mon Oct 13, 2014 10:10 pm

Kuisa wrote:Beneran ga ngerti maksud saya atau pura2 ga ngerti? gelap terang panas dingin semua kata sifat yang dilekatkan pada kondisi tertentu. Kondisi tertentu itu yang ada ukurannya, gelap adalah kondisi dengan intensitas cahaya sekian banyak tergantung siapa yang bicara sesuai keperluannya, demikian jg sifat2 lainnya yg saya sebutkan.-


hahaha...sungguh tak konsisten congormu kalau membacot...
koq malah sekarang terseret ke dalam lumpur pengukuran intensistas cahaya untuk mengetahui keadaan gelap?

rasanya baru onta doang yang mikir ke begitchu... :lol:

Ingat ini: Siapa pun orangnya yang bicara dan apapun keperluannya, tak satu orang pun pernah mengukur kegelapan... #-o
hanya onta saja yang mengukur tingkat keadaan gelap dengan mengukur intensitas cahaya, sementara orang waras mengukur pencahayaan dengan mengukur tingkat intensistas cahaya. Yang dibutuhkan orang adalah seberapa terang misalnya keadaan suatu ruangan. Dengan mengatur intensitas cahaya, maka orang dapat menentukan seberapa terang suatu ruangan sesuai dengan kebutuhan orang itu. Bukan seberapa gelap! Gak ada tuh istilah seberapa gelap yang dibutuhkan. Emangnya untuk menjadikan ruangan jadi gelap perlu cahaya sampai perlu-perlunya mengukur intensitas cahaya?

dogol gak usah dipelihara dunk? :lol:
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby JANGAN GITU AH » Mon Oct 13, 2014 10:32 pm

Rahimi wrote:Kalau kamu bilang panas dan dingin itu sekedar kesimpulan dari nilai sebuah temperatur, coba kamu jawab pertanyaan ini. Mengapa ada es dan udara dingin yang sangat ekstrim di kutub? Disana gak ada kulkas atau AC lho..tapi kok dingin ya tong? Merujuk kepada argument mu, bahwa yang eksis adalah temperatur, apakah es dan udara dingin di kutub disebabkan ketiadaan temperatur atau ketiadaan panas? Jangan ngalor ngidul, jawab yang jelas saja tong..


Kuisa wrote:Kutub disebut dingin karena anda membandingkan dengan yang bukan kutub, kalau anda hanya mengenal kutub maka anda bisa mengatakan temperatur -60oC lebih panas daripada temperatur -100oC.

jawaban yang sangat tak nyambung... :-k
ilmu kepepet atau ilmu berkilah?
Kuisa wrote:Mengatakan dingin ada karena tidak ada panas juga membuat sebuah dilema jika ketika anda tidak mendapatkan es teh karena tidak adanya es (panas ada karena tidak adanya dingin).


wah...gawat, ada onta yang lagi muntah gak karuan. si Onta ini bilang (berusaha dia memilintir perkataan orang nih) PANAS ADA KARENA TIDAK ADANYA DINGIN. Pemikiran jeblok karena doyan taqqiya...kelihatan niatnya gak baik nih...
sementara pendapat TS adalah sebaliknya: "KONDISI DINGIN TERJADI KARENA KETIADAAN PANAS". :lol:

Memang statemen seperti pendapat TS akan jadi dilema bagi onta sebab meskipun badan onta besar, otaknya kecil...hihihi
dan dilema yang dimaksud si Kuisa sebagai "anda tidak mendapatkan es teh karena tidak adanya es" adalah sebuah bukti yang harus selalu begitu.

Ntar kalau si kuisa membawa sebotoh teh ke kutub, dia berfikir dia perlu es untuk membuat es teh. Si kuisa sendiri akan menolak kalau tehnya nanti akan membeku di sana tanpa harus diberi potongan es ke dalam botol teh... :rolling: Artinya lagi si Kuisa sedang ngelawak karena berfikir botol tehnya tidak akan berubah jadi dingin dengan sendirinya di kutub. Implikasinya, si Kuisa sanggup buka baju di kutub tanpa khawatri mati membeku...

emang koplak nih anak :lol:
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby Teposeliro » Tue Oct 14, 2014 12:28 am

hahaha kuisa, logikamu amburadul. dibagian mana disebut tuhannya ada 2? terang dan gelap itu tidak bersatu. Terang itu adalah Tuhan sejati dan gelap adalah iblisnya. Gelap itu adalah ketiadaannya Tuhan. Jadi hati dan pikiran kuisa yang tidak ada tuhannya yang menjadi gelap dan penuh setan. kenapa? karena tuhan memberikannya tapi anda memilih lri ke dalam gelap. ketika anda kembali ke dalam terang, barulah anda melihat seluruhnya. Dengan pikiran gelap itu maka anda tidak dapat menilai seorang yang dikatakan nabi tapi kelakuannya lebih buruk dari seorang penjahat. baca kitab sebelah atau yang lainnya, merea bilang kejahatan tidak dapat dicampur dengan kebaikan. cuma eslam yang bilang setan cuma suruhan alloh. jadi setan itu bagian dari alloh. nah kan kalau anda bilang tuhan yang maha kuasa kenapa mesti membuat setan? yagn jahat sekali, jadi alloh itu ada 2 paling sedikit yaitu mamad dan alloh dengan mamad sebagai penguasanya.
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
Teposeliro
 
Posts: 96
Joined: Wed Mar 26, 2014 1:47 am

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby kuisa » Tue Oct 14, 2014 11:05 am

Teposeliro wrote:hahaha kuisa, logikamu amburadul. dibagian mana disebut tuhannya ada 2? terang dan gelap itu tidak bersatu. Terang itu adalah Tuhan sejati dan gelap adalah iblisnya. Gelap itu adalah ketiadaannya Tuhan. Jadi hati dan pikiran kuisa yang tidak ada tuhannya yang menjadi gelap dan penuh setan. kenapa? karena tuhan memberikannya tapi anda memilih lri ke dalam gelap. ketika anda kembali ke dalam terang, barulah anda melihat seluruhnya. Dengan pikiran gelap itu maka anda tidak dapat menilai seorang yang dikatakan nabi tapi kelakuannya lebih buruk dari seorang penjahat. baca kitab sebelah atau yang lainnya, merea bilang kejahatan tidak dapat dicampur dengan kebaikan. cuma eslam yang bilang setan cuma suruhan alloh. jadi setan itu bagian dari alloh. nah kan kalau anda bilang tuhan yang maha kuasa kenapa mesti membuat setan? yagn jahat sekali, jadi alloh itu ada 2 paling sedikit yaitu mamad dan alloh dengan mamad sebagai penguasanya.
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Follow Twitter: @ZwaraKafir

Ya ada 2lah, bayangkan apapun yang ada diciptakan tuhan, cuman 1 yang bukan ciptaan tuhan, malah lahirnya bersamaan dengan tuhan, hanya ada 2kekuatan yang saling mengalahkan, ada kalanya tuhan kalah dan sebaliknya, rebut2an kunci pula, tuhan yang satu tukang bikin, tuhan yang lain tukang matiin :-k ada 2 kan? :goodman:
kuisa
 
Posts: 706
Joined: Mon May 05, 2014 12:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby rahimii » Tue Oct 14, 2014 10:48 pm

kuisa wrote:Wah, rupanya saya yang harus mengajar logika kepada ahli logika
di saat bersamaan harus ngajar bahasa juga.


Panas dingin
Panas dan dingin itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.

Apa yang terukur untuk menentukan panas dingin? Temperatur/suhu. Untuk membuat sebuah benda menjadi panas, butuh energi untuk memanaskan, demikian juga sebaliknya untuk membuat sesuatu menjadi dingin, butuh energi untuk mendinginkan. Ada yang disebut transfer panas, lebih tepat transfer energi, dua benda dengan suhu berbeda akan mengalami transfer energi sampai suhu keduanya sama.

Sebutan panas dan dingin relatif terhadap kebutuhan, yang terukur adalah suhu, suhu sekian bisa disebut panas atau dingin tergantung apa yang diukur. Panas bisa diukur, dinginpun bisa diukur.

rahimii wrote:Inilah sains ala padang pasir. Sungguh koplak mengatakan panas dan dingin sekedar penyebutan atau sifat. Itu karena otakmu demikian kecil sehingga menerjemahkan dalam bahasa indonesia HOT dan HEAT saja kamu tidak bisa.

Lebih koplak lagi mengatakan panas dan dingin tidak eksis karena bukan benda itu sendiri. Kamu belajar dimana mengatakan panas dan dingin adalah sekedar kata sifat? Dengan pernyataan subjektif akan kata sifat, kau tidak membuktikan bahwa “dingin” itu tidak ada, atau bahwa “dingin” ada tanpa status ontologis. Apa yang kau lakukan adalah menunjukkan bahwa “dingin” adalah istilah subjektif.

kuisa wrote:Hati2 kalau menulis, dimana saya salah menggunakan hot dan heat?
btw, ini universal kali, mau di padang pasir atau himalaya konsepnya sama, memang nyatanya kedua hal panas dingin adalah kata sifat/adjective.

rahimii wrote:Yang jelas kalau ngomong, jangan mengalihkan pembahasan ke masalah tata bahasa. Semua yang bisa dirasakan lewat indera, pastilah eksis. Panas eksis, dingin eksis. Indera manusia bisa merasakannya. Kamu bisa merasakannya tidak? Jawab ya atau tidak saja, gak usah mutar-mutar..

kuisa wrote:Si Pak Indra ini mendeteksi perubahan temperatur, jika lebih tinggi dari suhu badan disebutlah panas, jika lebih rendah disebutlah dingin,
jadi yang eksis adalah temperaturnya, panas dingin adalah kesimpulan dari nilai sebuah temperatur.

rahimii wrote:Kalau kamu bilang panas dan dingin itu sekedar kesimpulan dari nilai sebuah temperatur, coba kamu jawab pertanyaan ini. Mengapa ada es dan udara dingin yang sangat ekstrim di kutub? Disana gak ada kulkas atau AC lho..tapi kok dingin ya tong? Merujuk kepada argument mu, bahwa yang eksis adalah temperatur, apakah es dan udara dingin di kutub disebabkan ketiadaan temperatur atau ketiadaan panas? Jangan ngalor ngidul, jawab yang jelas saja tong..

kuisa wrote:Kutub disebut dingin karena anda membandingkan dengan yang bukan kutub, kalau anda hanya mengenal kutub maka anda bisa mengatakan temperatur -60oC lebih panas daripada temperatur -100oC.

Mengatakan dingin ada karena tidak ada panas juga membuat sebuah dilema jika ketika anda tidak mendapatkan es teh karena tidak adanya es (panas ada karena tidak adanya dingin).

Kok kumur2 kau tong? Susah benar jawabnya. Lihat nih pernyataan bloon kaliber sekolah taliban "jadi yang eksis adalah temperaturnya" itu perkataanmu kan. Kau tidak pernah lihat matahari bersinar terang di kutub ya tong? Jadi jawab saja gak pake modal congor : Merujuk kepada argument mu, bahwa yang eksis adalah temperatur, apakah es dan udara dingin di kutub disebabkan ketiadaan temperatur atau ketiadaan panas?
rahimii wrote:Ada atau tiada konsep istilah subjektif tersebut, eksistensi yang kita sebut “dingin” akan tetap ada. Mensubjektifkan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut. Lalu, bagaimana pula maksud dari pernyataan untuk membuat sebuah benda menjadi panas, dibutuhkan energi untuk memanaskan? Pada dasarnya panas itu sendiri adalah energi yang tersimpan di dalam suatu objek. Jadi kalimat yang menyatakan dibutuhkan energi untuk memanaskan agar membuat sebuah benda menjadi panas apakah pernyataan yang memiliki landasan atau sekedar modal congor?

kuisa wrote:Fenomena itukan sifatnya/gejala, objeknya adalah energy yang disebut heat menghasilkan 2 istilah, panas dan dingin.
Manasin air emang ga perlu kompor?

rahimii wrote:Asli saya ketawa..kamu memang lulusan sekolah taliban ranking terakhir ya? Untuk memanaskan sesuatu, yang terpikir di otakmu yang kecil adalah kau butuh kompor. Saya tidak akan jelaskan caranya. Silahkan kau belajar lagi gimana caranya mendidihkan air tanpa kompor atau alat pemanas. Kalau sudah tahu, baru balik lagi ya..Contoh lain untuk menguji kesehatan logikamu. Sakit kepala juga gejala / fenomena. Apakah karena sakit kepala bukanlah sesuatu (thing), maka sakit kepala tidak eksis?

kuisa wrote:Ga usah khawatir, ketawa tidak dilarang kok, saya biasanya pakai kompor, paling mudah sih, tapi saya butuh energi biar tuh air panas, energinya dari gas. Pak rahimii manasin air dirumah bagaimana? pake heater, dicolokin dulu ga?
Kalau gas habis dan listrik mati, si kuisa bingung manasin air karena dalam pikirannya energi panas itu adalah api yang keluar dari kompor dan gas..kwkwkw..

kuisa wrote:Pake genset dong, taliban gitu lo.

Bagus, pengakuanmu sebagai anak didik sekolah taliban itu memang benar menggambarkan dirimu. Modal nyablak, asal mangap, tak berisi. Sainsmu ala padang pasir. Berlindung dibalik bahasa, yakin benar bahwa dingin dan panas hanyalah kata sifat belaka. Kau baca lagi statementmu yang memalukan ini “Panas dan dingin itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.” Coba kau belajar lagi apa itu concrete nouns tong..dogolmu jangan dipelihara. Concrete nouns adalah nomina atau kata benda yang menunjuk pada benda yang dapat dirasakan atau dilihat, adalah kata-kata untuk hal-hal yang bisa dialami oleh salah satu panca indera, mereka dapat dilihat, didengar, dicium, dirasa atau disentuh, misalnya: kursi, buku, batu, mobil, dingin, panas, hangat, dll. Sok ngerti bahasa, padahal isi otak amburadul.
rahimii wrote:Berikutnya, pernyataan lain dari modal congor adalah "sebaliknya untuk membuat sesuatu menjadi dingin, butuh energi untuk mendinginkan" Kita mengidentifikasi sesuatu sebagai dingin saat suhu menjadi lebih rendah. Tapi itu tidak berarti dibutuhkan sebuah energi untuk membuat "dingin", dingin adalah kondisi dimana hanya ada sedikit energi panas. Energi panas selalu bergerak dari sesuatu yang panas ke sesuatu yang lebih dingin. Tidak ada hal seperti energi dingin, sehingga objek hanya bisa menjadi dingin jika energi panas bergerak menjauh darinya. Jadi untuk membuat sesuatu menjadi dingin, justru tidak dibutuhkan energi tetapi jauhkanlah energi darinya.

kuisa wrote:Emangnya kulkas anda bisa dingin sendiri? colok dulu pak! [-X

rahimii wrote:Hihihihi..habis kata-kata saya menggambarkan kekoplakanmu. Belajar lagi sana, gimana cara membuat air menjadi es tanpa kulkas atau alat pendingin. Belajarnya ke sekolah beneran, jangan sekolah taliban ya..

kuisa wrote:Mau sekolah taliban apa penabur sama aja, kulkas dicolok dulu :finga:

rahimii wrote:Kalau listrik mati, si kuisa kebingungan membuat air menjadi es..tapi jangan langsung mbleduk bunuh diri ya, bisa kok tanpa kulkas. Makanya pindah sekolah tong..

kuisa wrote:Kalau listrik mati, saya pake genset dengan mengambil energi dari minyak. Anda sekolah dimana sih?

Kapasitas otakmu memang cuma segitu sih, gak bisa diajak mikir yang rumit-rumit, tapi malah nanya sekolah saya dimana. Mikir dulu, gimana membuat air menjadi es tanpa alat, tanpa listrik, tanpa genset, baru tanya dirimu sendiri sekolahmu dimana. Ya, jelas kayaknya kau lulusan sekolah taliban doang tong..
rahimii wrote:Karena itu, panas jelas merupakan sesuatu karena ada energi dan aktivitas kinetik padanya. Dingin lah yang bukan sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya keberadaan panas. Eksistensi sebuah domain ketiadaan panas karena keberadaan panas terbukti ada.

kuisa wrote:Itu boleh disebut heat, tapi bukan hot dan cold yang hanya sifat saja, sebutan yang diberikan untuk banyaknya nilai heat.

rahimii wrote:Sakit kepala juga gejala / fenomena dan bukan sesuatu (thing), apakah sakit kepala tidak ada?

kuisa wrote:Yang ada adalah kepalanya, sakit kepala itu suatu kondisi tidak stabil yang terjadi pada kepala, itu katasifat, masa ga ngerti2.

rahimii wrote:Kalau si kuisa jadi dokter, dia akan memberikan pelajaran bahasa indonesia soal kata sifat kepada pasiennya yang sakit kepala. Dia akan bilang sakit kepala itu tidak eksis, itu hanya kata sifat. Kalau si kuisa melihat dijalan ada pengemis yang kelaparan, dia akan bilang ke pengemis itu kalau lapar itu hanyalah kata sifat. Yang eksis adalah perut saja, jadi yang penting perut masih ada dan abaikan saja eksistensi rasa lapar itu. Itu cuma kata sifat..

kuisa wrote:Yang saya ajarkan adalah sakit kepala dan sakit perut itu tidak muncul dengan sendirinya karena kepala atau perutnya eksis, dengan adanya kepala dan perut, maka muncul dua kondisi, sehat dan sakit. Cerdas dikitlah.

Abstract nouns adalah nomina atau kata benda yang menunjuk pada suatu gagasan, pikiran, ide, konsep, kualitas, sifat, atau kondisi. Saya harap kau cukup cerdas mencernanya tong..kau kayaknya layak jadi legenda muslim disini, dalam hal kedogolan tentunya..So, Dingin, gelap, ketiadaan bukanlah sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya panas, cahaya dan keberadaan. Eksistensi sebuah domain ketiadaan sesuatu karena keberadaan sesuatu, terbukti ada.
kuisa wrote:Gelap terang
Gelap dan terang itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.

Apa yang terukur untuk menentukan gelap terang? Cahaya. Terang gelap tergantung banyaknya cahaya dan relatif terhadap kebutuhan, kondisi pencahayaan tertentu bisa disebut gelap atau terang untuk keperluan yang berbeda. Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur. :goodman:

rahimii wrote:Mengenai gelap dan terang, sedari awal yang saya oposisikan dari gelap adalah cahaya, bukan terang. Kau yang seenakmu menggantinya dengan terang. Saya mencerna dan memahami dulu setiap kata dan kalimat, tidak seperti kau yang sembrono dan asal cuap. Cahaya adalah sesuatu, terang tidak. Cahaya adalah sesuatu, gelap tidak. Cahayalah yang menghasilkan terang, sehingga opisisi gelap adalah cahaya. Kegelapan adalah ketiadaan cahaya. Dimanapun, untuk menentukan tingkat kegelapan, yang diukur adalah intensitas jumlah cahaya, bukan jumlah kegelapan.

kuisa wrote:Anda sedikit lagi setuju dengan penjelasan saya, terang dan gelap itu memang bukan sesuatu, hanya sebutan yang digunakan untuk mendefinisikan suatu nilai dari cahaya.

rahimii wrote:Saya dari awal sudah menjelaskan bahwa gelap bukanlah sesuatu. Mengapa pula saya yang menjadi sedikit lagi setuju dengan kau? Tapi saya masih punya rasio mengatakan bahwa gelap itu eksis meski itu bukanlah eksistensi yang mandiri akan dirinya sendiri. Tidak tahu malumu itu lho..

kuisa wrote:Yang eksis itu cahayanya, gelap terang adalah penilaian terhadap banyaknya cahaya tsb

rahimii wrote:Awalnya kau tidak bilang begitu. Awalnya kau bilang gelap juga bisa diukur tong..masih punya rasa malu tidak? Yang saya oposisikan dari awal terhadap gelap adalah cahaya. Hanya saya juga katakan gelap itu juga merupakan sebuah eksistensi yang tidak mandiri akan dirinya sendiri, sebagai efek yang tidak diciptakan akibat adanya eksistensi cahaya itu sendiri.

kuisa wrote:Ga usah mencla mencle lah, ga baik pura2 bloon, nih lihat jawaban anda sendiri untuk Fayhem

rahimii wrote:Namun, sebelum dimensi ini bahkan ada, alam semesta adalah titik sangat kecil yang berisi setidaknya segala sesuatu di alam semesta yang bisa kita amati sekarang. Oleh karenanya, singularitas ini memiliki kepadatan yang tak terbatas, dan juga sangat panas. Panas adalah nilai terukur yang dihasilkan dari gerakan partikel molekul, sehingga masuk akal kalau energi panas ada didalam singularitas sejak semula, bukan dingin. Jika kita bisa melihat singularitas tersebut, itu akan menjadi sesuatu yang sangat terang. Hanya,ruang hampa sendiri tidak eksis sebelum bigbang, sehingga logikanya hal semacam terang atau gelap juga belum eksis sebelum bigbang. Ini yang bisa saya sampaikan dari tinjauan filosofisnya bro..jangan ditanya hitung-menghitung dan rumus-merumus ya..

kuisa wrote:Istilah terang gelap baru muncul ketika cahaya muncul, jika anda keukeuh bahwa gelap muncul sendiri karena adanya terang, maka sangat salah karena seharusnya gelap telah lama ada sebelum terang datang (lihat gugatan fayhem).
Anda berada dalam dilema dan kontradiksi.

Otakmu yang cacat, bukan saya yang dalam dilema. Dari awal saya sudah sangat jelas katakan, gelap itu bukan sesuatu yang eksis pada dirinya sendiri. Gelap adalah eksistensi ketiadaan cahaya. Dalam hal pra bigbang, cahaya adalah satu-satunya eksistensi. Kalau cahaya eksis, lalu mengapa gelap harus ada? Bukankah gelap memang tidak eksis pada dirinya sendiri? Otakmu sih yang terlalu kecil memahami yang begituan.
rahimii wrote:Tetapi perhatikan lagi pernyataanmu sang lulusan sekolah Taliban ranking terakhir : “Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur.”
Bagaimana caramu mengukur tingkat kegelapan? Apa instrumen yang akan kau gunakan? Cahaya dapat diukur karena itu adalah energi. Kegelapan bukanlah energi sehingga tidak akan dapat diukur. Apa yang kau lakukan adalah menunjukkan bahwa “gelap” adalah istilah subjektif. Ada atau tiada konsep istilah subjektif tersebut, eksistensi yang kita sebut “gelap” akan tetap ada. Mensubjektifkan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.

kuisa wrote:keduanya, terang gelap adalah fenomena atau sifat, objeknya adalah cahaya :goodman:

rahimii wrote:Sakit kepala juga gejala / fenomena, apakah sakit kepala tidak eksis? Bisamu hanya menelan ludah dimana-mana. Jawab yang ini : “Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur.” Itu kata-kata yang keluar dari congormu. Disatu sisi bilang gelap hanyalah kata sifat, telan ludah lagi bilang gelap bisa diukur. Tak tahu malu kamu..

kuisa wrote:Beneran ga ngerti maksud saya atau pura2 ga ngerti? gelap terang panas dingin semua kata sifat yang dilekatkan pada kondisi tertentu. Kondisi tertentu itu yang ada ukurannya, gelap adalah kondisi dengan intensitas cahaya sekian banyak tergantung siapa yang bicara sesuai keperluannya, demikian jg sifat2 lainnya yg saya sebutkan.

rahimii wrote:Kondisi tertentu itu eksis tidak tong? Kau itu hanya mutar-mutar dan sekedar tidak malu kalah saja. Sekarang apakah sebuah “kondisi tertentu”merupakan realita atau sekedar kata sifat? Salah satu cara untuk mengetahui sesuatu hal itu eksis atau tidak adalah dengan membandingkannya dengan realita. Pernyataan "kondisi tertentu" itu saja sudah merupakan penggambaran satu realita.

kuisa wrote:Terserah anda sih, yang jelas istilah gelap terang muncul setelah adanya cahaya.

Kemampuanmu memang cuma menjiplak sih..tidak ada satupun argument saya yang kau pahami. Sudah sangat jelas saya katakan, gelap itu tidak eksis pada dirinya sendiri, gelap ada karena cahaya ada. Sekarang kau setuju, dilain waktu kau modal congor bilang tidak setuju. Sudah dogol, bunglon lagi..
rahimii wrote:Oleh karena itu, cahaya jelas merupakan sesuatu karena ada energi padanya. Gelap lah yang bukan sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya keberadaan cahaya. Eksistensi sebuah domain ketiadaan cahaya karena keberadaan cahaya terbukti ada.

kuisa wrote:keliru, terang dan gelap takkan pernah disebut jika tidak ada cahaya, banyaknya cahaya mendefinisikan sesuatu disebut terang atau gelap.

rahimii wrote:Siapa yang ngomong terang adalah oposisi gelap? Saya bilang oposisi gelap adalah cahaya. Memang ajaib benar kamu, tidak punya malu sedikitpun. Saya jelas katakan cahaya adalah sesuatu karena merupakan energi. Tapi dengan b0dohnya bilang saya keliru. Kamu kemanakan analogi koin dan aktif pasif saya? Sengaja kamu tidak komentari karena saya keliru juga tong?

kuisa wrote:energi kok lawannya gelap [-X

rahimii wrote:Baca kembali pake otak dari awal. Siapa juga yang bilang kalau gelap lawannya energi. Ingat dengan analogi koinmu? Bila koin dilihat dari sisi depan, bisakah kau mendapat penglihatan akan sisi belakang secara bersamaan? Saat kau melihat sisi depan, itu akan menciptakan keadaan ketiadaan sisi belakang. Bila kau membalik untuk melihat sisi belakang, itu menciptakan keadaan ketiadaan sisi depan. Tiada dan berada sisi depan dan belakang eksis dalam satu keberadaan koin. Sisi depan adalah bukan sisi belakang, mereka selalu berbeda. Namun mereka membentuk satu koin yang sama. Sisi depan dan belakang bukanlah sekedar bagian dari koin, karena mereka tidak dapat dipisahkan. Idenya adalah koin memiliki dua domain yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan dan tidak perlu diciptakan secara tersendiri. Keberadaan sisi depan memunculkan keadaan ketiadaan sisi belakang. Karena ketiadaan ada, keberadaan dapat didefinisikan dan sebaliknya. Atau pikirkan tentang aktif dan pasif. Aktif melahirkan domain yang pasif dalam dirinya sendiri tanpa perlu diciptakan terpisah di satu tempat pada satu waktu. Keberadaan tuhan mewujudkan domain ketiadaan tuhan tanpa perlu diciptakan terpisah di satu tempat pada satu waktu yang berbeda.
Mirror 1: Panas dingin
Follow Twitter: @ZwaraKafir

kuisa wrote:Lha iya makanya saya bilang tuhanmu 1+1=2, iblis muncul sendiri tanpa diciptakan dan saling mengalahkan dengan tuhan, rebut2an kunci dst.

Kembali lagi ke awal, konsistensi. Kau begitu bloon menyamakan keberadaan dengan sosok atau figur. Apakah yang saya sampaikan diatas adalah tentang figur tong? Saya bicara domain, realm, alam, eh kau dengan otakmu yang kecil begitu bernafsu menyamakannya dengan figur. Baca dan cerna tong..jangan komat-kamit melulu.
Mirror 1: Panas dingin
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
rahimii
 
Posts: 311
Joined: Sun Mar 06, 2011 6:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby kotak pandora » Wed Oct 15, 2014 12:08 am

kuisa wrote:Emangnya kulkas anda bisa dingin sendiri? colok dulu pak! [-X

rahimii wrote:Hihihihi..habis kata-kata saya menggambarkan kekoplakanmu. Belajar lagi sana, gimana cara membuat air menjadi es tanpa kulkas atau alat pendingin. Belajarnya ke sekolah beneran, jangan sekolah taliban ya..


buset nih muslim asal jawab aja. Udah dibilang tanpa kulkas pun bisa bikin es.
ehh malah dijawab gini :
kuisa wrote:Mau sekolah taliban apa penabur sama aja, kulkas dicolok dulu :finga:

sekolah taliban : Ngidupin kulkas colokan dua dicolok ke lubang hidungnya. kalo colokannya tiga, yang satu dicolok ke lubang dubur.

Kalau listrik mati, si kuisa kebingungan membuat air menjadi es..tapi jangan langsung mbleduk bunuh diri ya, bisa kok tanpa kulkas. Makanya pindah sekolah tong..

udah dibilang tanpa listrik,pun bisa bikin es. ehh muslim satu ini ngejawab seusil usilnya aja.
kuisa wrote:Kalau listrik mati, saya pake genset dengan mengambil energi dari minyak. Anda sekolah dimana sih?

Kalo minyak tidak ada.
solusi sekolah taliban : bakar aja kayu opium.
Langsung meleduk duarrrhuakbarrrr. astagapilulloh.

Jawaban kuisa asal aja. Bro rahiimi ngak diladeni deh. Kuisa ngak ngerti apa yg bapak uraikan. Ngabisin energi doang.
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
kotak pandora
 
Posts: 313
Joined: Sat Jun 11, 2011 2:08 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby kuisa » Thu Oct 16, 2014 1:57 pm

kuisa wrote:Wah, rupanya saya yang harus mengajar logika kepada ahli logika
di saat bersamaan harus ngajar bahasa juga.


Panas dingin
Panas dan dingin itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.

Apa yang terukur untuk menentukan panas dingin? Temperatur/suhu. Untuk membuat sebuah benda menjadi panas, butuh energi untuk memanaskan, demikian juga sebaliknya untuk membuat sesuatu menjadi dingin, butuh energi untuk mendinginkan. Ada yang disebut transfer panas, lebih tepat transfer energi, dua benda dengan suhu berbeda akan mengalami transfer energi sampai suhu keduanya sama.

Sebutan panas dan dingin relatif terhadap kebutuhan, yang terukur adalah suhu, suhu sekian bisa disebut panas atau dingin tergantung apa yang diukur. Panas bisa diukur, dinginpun bisa diukur.
rahimii wrote:Inilah sains ala padang pasir. Sungguh koplak mengatakan panas dan dingin sekedar penyebutan atau sifat. Itu karena otakmu demikian kecil sehingga menerjemahkan dalam bahasa indonesia HOT dan HEAT saja kamu tidak bisa.

Lebih koplak lagi mengatakan panas dan dingin tidak eksis karena bukan benda itu sendiri. Kamu belajar dimana mengatakan panas dan dingin adalah sekedar kata sifat? Dengan pernyataan subjektif akan kata sifat, kau tidak membuktikan bahwa “dingin” itu tidak ada, atau bahwa “dingin” ada tanpa status ontologis. Apa yang kau lakukan adalah menunjukkan bahwa “dingin” adalah istilah subjektif.
kuisa wrote:Hati2 kalau menulis, dimana saya salah menggunakan hot dan heat?
btw, ini universal kali, mau di padang pasir atau himalaya konsepnya sama, memang nyatanya kedua hal panas dingin adalah kata sifat/adjective.
rahimii wrote:Yang jelas kalau ngomong, jangan mengalihkan pembahasan ke masalah tata bahasa. Semua yang bisa dirasakan lewat indera, pastilah eksis. Panas eksis, dingin eksis. Indera manusia bisa merasakannya. Kamu bisa merasakannya tidak? Jawab ya atau tidak saja, gak usah mutar-mutar..
kuisa wrote:Si Pak Indra ini mendeteksi perubahan temperatur, jika lebih tinggi dari suhu badan disebutlah panas, jika lebih rendah disebutlah dingin,
jadi yang eksis adalah temperaturnya, panas dingin adalah kesimpulan dari nilai sebuah temperatur.
rahimii wrote:Kalau kamu bilang panas dan dingin itu sekedar kesimpulan dari nilai sebuah temperatur, coba kamu jawab pertanyaan ini. Mengapa ada es dan udara dingin yang sangat ekstrim di kutub? Disana gak ada kulkas atau AC lho..tapi kok dingin ya tong? Merujuk kepada argument mu, bahwa yang eksis adalah temperatur, apakah es dan udara dingin di kutub disebabkan ketiadaan temperatur atau ketiadaan panas? Jangan ngalor ngidul, jawab yang jelas saja tong..
kuisa wrote:Kutub disebut dingin karena anda membandingkan dengan yang bukan kutub, kalau anda hanya mengenal kutub maka anda bisa mengatakan temperatur -60oC lebih panas daripada temperatur -100oC.

Mengatakan dingin ada karena tidak ada panas juga membuat sebuah dilema jika ketika anda tidak mendapatkan es teh karena tidak adanya es (panas ada karena tidak adanya dingin).
Kok kumur2 kau tong? Susah benar jawabnya. Lihat nih pernyataan bloon kaliber sekolah taliban "jadi yang eksis adalah temperaturnya" itu perkataanmu kan. Kau tidak pernah lihat matahari bersinar terang di kutub ya tong? Jadi jawab saja gak pake modal congor : Merujuk kepada argument mu, bahwa yang eksis adalah temperatur, apakah es dan udara dingin di kutub disebabkan ketiadaan temperatur atau ketiadaan panas?

Ya, matahari bersinar di kutub, artinya ada yang memberikan radiasi/energi panas tapi tetap saja temperatur disebut dingin, malam harinya tetap disebut dingin, hanya malam hari disebut lebih dingin atau siang hari disebut lebih panas, padahal temperatur misal sama2 minus, cuma terdapat perbedaan nilai minusnya. Yang terukur adalah suhunya, dimalam hari disebut lebih dingin, disiang hari disebut lebih panas. Panas dingin hanyalah sebutan semata untuk suatu kondisi. Kondisi yang jelas2 ada mataharipun, kutub tetap dingin, jadi kata dingin tidak lahir dari ketiadaan panas/matahari.

rahimii wrote:Ada atau tiada konsep istilah subjektif tersebut, eksistensi yang kita sebut “dingin” akan tetap ada. Mensubjektifkan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut. Lalu, bagaimana pula maksud dari pernyataan untuk membuat sebuah benda menjadi panas, dibutuhkan energi untuk memanaskan? Pada dasarnya panas itu sendiri adalah energi yang tersimpan di dalam suatu objek. Jadi kalimat yang menyatakan dibutuhkan energi untuk memanaskan agar membuat sebuah benda menjadi panas apakah pernyataan yang memiliki landasan atau sekedar modal congor?
kuisa wrote:Fenomena itukan sifatnya/gejala, objeknya adalah energy yang disebut heat menghasilkan 2 istilah, panas dan dingin.
Manasin air emang ga perlu kompor?
rahimii wrote:Asli saya ketawa..kamu memang lulusan sekolah taliban ranking terakhir ya? Untuk memanaskan sesuatu, yang terpikir di otakmu yang kecil adalah kau butuh kompor. Saya tidak akan jelaskan caranya. Silahkan kau belajar lagi gimana caranya mendidihkan air tanpa kompor atau alat pemanas. Kalau sudah tahu, baru balik lagi ya..Contoh lain untuk menguji kesehatan logikamu. Sakit kepala juga gejala / fenomena. Apakah karena sakit kepala bukanlah sesuatu (thing), maka sakit kepala tidak eksis?
kuisa wrote:Ga usah khawatir, ketawa tidak dilarang kok, saya biasanya pakai kompor, paling mudah sih, tapi saya butuh energi biar tuh air panas, energinya dari gas. Pak rahimii manasin air dirumah bagaimana? pake heater, dicolokin dulu ga?
Kalau gas habis dan listrik mati, si kuisa bingung manasin air karena dalam pikirannya energi panas itu adalah api yang keluar dari kompor dan gas..kwkwkw..
kuisa wrote:Pake genset dong, taliban gitu lo.
Bagus, pengakuanmu sebagai anak didik sekolah taliban itu memang benar menggambarkan dirimu. Modal nyablak, asal mangap, tak berisi. Sainsmu ala padang pasir. Berlindung dibalik bahasa, yakin benar bahwa dingin dan panas hanyalah kata sifat belaka. Kau baca lagi statementmu yang memalukan ini “Panas dan dingin itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.” Coba kau belajar lagi apa itu concrete nouns tong..dogolmu jangan dipelihara. Concrete nouns adalah nomina atau kata benda yang menunjuk pada benda yang dapat dirasakan atau dilihat, adalah kata-kata untuk hal-hal yang bisa dialami oleh salah satu panca indera, mereka dapat dilihat, didengar, dicium, dirasa atau disentuh, misalnya: kursi, buku, batu, mobil, dingin, panas, hangat, dll. Sok ngerti bahasa, padahal isi otak amburadul.

Ngaco, panas, dingin hangat kok disebut concrete??? yang concrete itu bendanya, air panas, air dingin, air hangat. Koreksi diri dulu sana.

rahimii wrote:Berikutnya, pernyataan lain dari modal congor adalah "sebaliknya untuk membuat sesuatu menjadi dingin, butuh energi untuk mendinginkan" Kita mengidentifikasi sesuatu sebagai dingin saat suhu menjadi lebih rendah. Tapi itu tidak berarti dibutuhkan sebuah energi untuk membuat "dingin", dingin adalah kondisi dimana hanya ada sedikit energi panas. Energi panas selalu bergerak dari sesuatu yang panas ke sesuatu yang lebih dingin. Tidak ada hal seperti energi dingin, sehingga objek hanya bisa menjadi dingin jika energi panas bergerak menjauh darinya. Jadi untuk membuat sesuatu menjadi dingin, justru tidak dibutuhkan energi tetapi jauhkanlah energi darinya.
kuisa wrote:Emangnya kulkas anda bisa dingin sendiri? colok dulu pak! [-X

rahimii wrote:Hihihihi..habis kata-kata saya menggambarkan kekoplakanmu. Belajar lagi sana, gimana cara membuat air menjadi es tanpa kulkas atau alat pendingin. Belajarnya ke sekolah beneran, jangan sekolah taliban ya..
kuisa wrote:Mau sekolah taliban apa penabur sama aja, kulkas dicolok dulu :finga:
rahimii wrote:Kalau listrik mati, si kuisa kebingungan membuat air menjadi es..tapi jangan langsung mbleduk bunuh diri ya, bisa kok tanpa kulkas. Makanya pindah sekolah tong..
kuisa wrote:Kalau listrik mati, saya pake genset dengan mengambil energi dari minyak. Anda sekolah dimana sih?
Kapasitas otakmu memang cuma segitu sih, gak bisa diajak mikir yang rumit-rumit, tapi malah nanya sekolah saya dimana. Mikir dulu, gimana membuat air menjadi es tanpa alat, tanpa listrik, tanpa genset, baru tanya dirimu sendiri sekolahmu dimana. Ya, jelas kayaknya kau lulusan sekolah taliban doang tong..

Tetap saja untuk mngubah sebuah keadaan yang steady dibutuhkan energi.

rahimii wrote:Karena itu, panas jelas merupakan sesuatu karena ada energi dan aktivitas kinetik padanya. Dingin lah yang bukan sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya keberadaan panas. Eksistensi sebuah domain ketiadaan panas karena keberadaan panas terbukti ada.
kuisa wrote:Itu boleh disebut heat, tapi bukan hot dan cold yang hanya sifat saja, sebutan yang diberikan untuk banyaknya nilai heat.
rahimii wrote:Sakit kepala juga gejala / fenomena dan bukan sesuatu (thing), apakah sakit kepala tidak ada?
kuisa wrote:Yang ada adalah kepalanya, sakit kepala itu suatu kondisi tidak stabil yang terjadi pada kepala, itu katasifat, masa ga ngerti2.
rahimii wrote:Kalau si kuisa jadi dokter, dia akan memberikan pelajaran bahasa indonesia soal kata sifat kepada pasiennya yang sakit kepala. Dia akan bilang sakit kepala itu tidak eksis, itu hanya kata sifat. Kalau si kuisa melihat dijalan ada pengemis yang kelaparan, dia akan bilang ke pengemis itu kalau lapar itu hanyalah kata sifat. Yang eksis adalah perut saja, jadi yang penting perut masih ada dan abaikan saja eksistensi rasa lapar itu. Itu cuma kata sifat..
kuisa wrote:Yang saya ajarkan adalah sakit kepala dan sakit perut itu tidak muncul dengan sendirinya karena kepala atau perutnya eksis, dengan adanya kepala dan perut, maka muncul dua kondisi, sehat dan sakit. Cerdas dikitlah.
Abstract nouns adalah nomina atau kata benda yang menunjuk pada suatu gagasan, pikiran, ide, konsep, kualitas, sifat, atau kondisi. Saya harap kau cukup cerdas mencernanya tong..kau kayaknya layak jadi legenda muslim disini, dalam hal kedogolan tentunya..So, Dingin, gelap, ketiadaan bukanlah sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya panas, cahaya dan keberadaan. Eksistensi sebuah domain ketiadaan sesuatu karena keberadaan sesuatu, terbukti ada.

Ya, abstract noun itu berasal dari adjective yang untuk kebutuhan kalimat dijadikan noun, tidak ada yang istimewa. Kedinginan, kepanasan, kegelapan, keterangan, kehangatan hanya menunjukkan ada sesuatu yang dingin, panas, gelap, terang, hangat dst.

kuisa wrote:Gelap terang
Gelap dan terang itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.

Apa yang terukur untuk menentukan gelap terang? Cahaya. Terang gelap tergantung banyaknya cahaya dan relatif terhadap kebutuhan, kondisi pencahayaan tertentu bisa disebut gelap atau terang untuk keperluan yang berbeda. Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur. :goodman:
rahimii wrote:Mengenai gelap dan terang, sedari awal yang saya oposisikan dari gelap adalah cahaya, bukan terang. Kau yang seenakmu menggantinya dengan terang. Saya mencerna dan memahami dulu setiap kata dan kalimat, tidak seperti kau yang sembrono dan asal cuap. Cahaya adalah sesuatu, terang tidak. Cahaya adalah sesuatu, gelap tidak. Cahayalah yang menghasilkan terang, sehingga opisisi gelap adalah cahaya. Kegelapan adalah ketiadaan cahaya. Dimanapun, untuk menentukan tingkat kegelapan, yang diukur adalah intensitas jumlah cahaya, bukan jumlah kegelapan.
kuisa wrote:Anda sedikit lagi setuju dengan penjelasan saya, terang dan gelap itu memang bukan sesuatu, hanya sebutan yang digunakan untuk mendefinisikan suatu nilai dari cahaya.
rahimii wrote:Saya dari awal sudah menjelaskan bahwa gelap bukanlah sesuatu. Mengapa pula saya yang menjadi sedikit lagi setuju dengan kau? Tapi saya masih punya rasio mengatakan bahwa gelap itu eksis meski itu bukanlah eksistensi yang mandiri akan dirinya sendiri. Tidak tahu malumu itu lho..
kuisa wrote:Yang eksis itu cahayanya, gelap terang adalah penilaian terhadap banyaknya cahaya tsb
rahimii wrote:Awalnya kau tidak bilang begitu. Awalnya kau bilang gelap juga bisa diukur tong..masih punya rasa malu tidak? Yang saya oposisikan dari awal terhadap gelap adalah cahaya. Hanya saya juga katakan gelap itu juga merupakan sebuah eksistensi yang tidak mandiri akan dirinya sendiri, sebagai efek yang tidak diciptakan akibat adanya eksistensi cahaya itu sendiri.
kuisa wrote:Ga usah mencla mencle lah, ga baik pura2 bloon, nih lihat jawaban anda sendiri untuk Fayhem
rahimii wrote:Namun, sebelum dimensi ini bahkan ada, alam semesta adalah titik sangat kecil yang berisi setidaknya segala sesuatu di alam semesta yang bisa kita amati sekarang. Oleh karenanya, singularitas ini memiliki kepadatan yang tak terbatas, dan juga sangat panas. Panas adalah nilai terukur yang dihasilkan dari gerakan partikel molekul, sehingga masuk akal kalau energi panas ada didalam singularitas sejak semula, bukan dingin. Jika kita bisa melihat singularitas tersebut, itu akan menjadi sesuatu yang sangat terang. Hanya,ruang hampa sendiri tidak eksis sebelum bigbang, sehingga logikanya hal semacam terang atau gelap juga belum eksis sebelum bigbang. Ini yang bisa saya sampaikan dari tinjauan filosofisnya bro..jangan ditanya hitung-menghitung dan rumus-merumus ya..
kuisa wrote:Istilah terang gelap baru muncul ketika cahaya muncul, jika anda keukeuh bahwa gelap muncul sendiri karena adanya terang, maka sangat salah karena seharusnya gelap telah lama ada sebelum terang datang (lihat gugatan fayhem).
Anda berada dalam dilema dan kontradiksi.
Otakmu yang cacat, bukan saya yang dalam dilema. Dari awal saya sudah sangat jelas katakan, gelap itu bukan sesuatu yang eksis pada dirinya sendiri. Gelap adalah eksistensi ketiadaan cahaya. Dalam hal pra bigbang, cahaya adalah satu-satunya eksistensi. Kalau cahaya eksis, lalu mengapa gelap harus ada? Bukankah gelap memang tidak eksis pada dirinya sendiri? Otakmu sih yang terlalu kecil memahami yang begituan.

Yup, gelap bukan eksis pada dirinya sendiri, makanya disebut kata sifat, artinya menjelaskan keadaan sesuatu.

rahimii wrote:Tetapi perhatikan lagi pernyataanmu sang lulusan sekolah Taliban ranking terakhir : “Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur.”
Bagaimana caramu mengukur tingkat kegelapan? Apa instrumen yang akan kau gunakan? Cahaya dapat diukur karena itu adalah energi. Kegelapan bukanlah energi sehingga tidak akan dapat diukur. Apa yang kau lakukan adalah menunjukkan bahwa “gelap” adalah istilah subjektif. Ada atau tiada konsep istilah subjektif tersebut, eksistensi yang kita sebut “gelap” akan tetap ada. Mensubjektifkan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.
kuisa wrote:keduanya, terang gelap adalah fenomena atau sifat, objeknya adalah cahaya :goodman:

rahimii wrote:Sakit kepala juga gejala / fenomena, apakah sakit kepala tidak eksis? Bisamu hanya menelan ludah dimana-mana. Jawab yang ini : “Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur.” Itu kata-kata yang keluar dari congormu. Disatu sisi bilang gelap hanyalah kata sifat, telan ludah lagi bilang gelap bisa diukur. Tak tahu malu kamu..
kuisa wrote:Beneran ga ngerti maksud saya atau pura2 ga ngerti? gelap terang panas dingin semua kata sifat yang dilekatkan pada kondisi tertentu. Kondisi tertentu itu yang ada ukurannya, gelap adalah kondisi dengan intensitas cahaya sekian banyak tergantung siapa yang bicara sesuai keperluannya, demikian jg sifat2 lainnya yg saya sebutkan.
rahimii wrote:Kondisi tertentu itu eksis tidak tong? Kau itu hanya mutar-mutar dan sekedar tidak malu kalah saja. Sekarang apakah sebuah “kondisi tertentu”merupakan realita atau sekedar kata sifat? Salah satu cara untuk mengetahui sesuatu hal itu eksis atau tidak adalah dengan membandingkannya dengan realita. Pernyataan "kondisi tertentu" itu saja sudah merupakan penggambaran satu realita.
kuisa wrote:Terserah anda sih, yang jelas istilah gelap terang muncul setelah adanya cahaya.
Kemampuanmu memang cuma menjiplak sih..tidak ada satupun argument saya yang kau pahami. Sudah sangat jelas saya katakan, gelap itu tidak eksis pada dirinya sendiri, gelap ada karena cahaya ada. Sekarang kau setuju, dilain waktu kau modal congor bilang tidak setuju. Sudah dogol, bunglon lagi..

Betul, gelap dan terang ada karena ada cahaya, tidak dapat disebut terang atau gelap jika cahaya tidak eksis. Anda mulai paham kelihatannya

rahimii wrote:Oleh karena itu, cahaya jelas merupakan sesuatu karena ada energi padanya. Gelap lah yang bukan sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya keberadaan cahaya. Eksistensi sebuah domain ketiadaan cahaya karena keberadaan cahaya terbukti ada.
kuisa wrote:keliru, terang dan gelap takkan pernah disebut jika tidak ada cahaya, banyaknya cahaya mendefinisikan sesuatu disebut terang atau gelap.
rahimii wrote:Siapa yang ngomong terang adalah oposisi gelap? Saya bilang oposisi gelap adalah cahaya. Memang ajaib benar kamu, tidak punya malu sedikitpun. Saya jelas katakan cahaya adalah sesuatu karena merupakan energi. Tapi dengan b0dohnya bilang saya keliru. Kamu kemanakan analogi koin dan aktif pasif saya? Sengaja kamu tidak komentari karena saya keliru juga tong?
kuisa wrote:energi kok lawannya gelap [-X
rahimii wrote:Baca kembali pake otak dari awal. Siapa juga yang bilang kalau gelap lawannya energi. Ingat dengan analogi koinmu? Bila koin dilihat dari sisi depan, bisakah kau mendapat penglihatan akan sisi belakang secara bersamaan? Saat kau melihat sisi depan, itu akan menciptakan keadaan ketiadaan sisi belakang. Bila kau membalik untuk melihat sisi belakang, itu menciptakan keadaan ketiadaan sisi depan. Tiada dan berada sisi depan dan belakang eksis dalam satu keberadaan koin. Sisi depan adalah bukan sisi belakang, mereka selalu berbeda. Namun mereka membentuk satu koin yang sama. Sisi depan dan belakang bukanlah sekedar bagian dari koin, karena mereka tidak dapat dipisahkan. Idenya adalah koin memiliki dua domain yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan dan tidak perlu diciptakan secara tersendiri. Keberadaan sisi depan memunculkan keadaan ketiadaan sisi belakang. Karena ketiadaan ada, keberadaan dapat didefinisikan dan sebaliknya. Atau pikirkan tentang aktif dan pasif. Aktif melahirkan domain yang pasif dalam dirinya sendiri tanpa perlu diciptakan terpisah di satu tempat pada satu waktu. Keberadaan tuhan mewujudkan domain ketiadaan tuhan tanpa perlu diciptakan terpisah di satu tempat pada satu waktu yang berbeda.
Mirror 1: Panas dingin
Follow Twitter: @ZwaraKafir
kuisa wrote:Lha iya makanya saya bilang tuhanmu 1+1=2, iblis muncul sendiri tanpa diciptakan dan saling mengalahkan dengan tuhan, rebut2an kunci dst.
Kembali lagi ke awal, konsistensi. Kau begitu bloon menyamakan keberadaan dengan sosok atau figur. Apakah yang saya sampaikan diatas adalah tentang figur tong? Saya bicara domain, realm, alam, eh kau dengan otakmu yang kecil begitu bernafsu menyamakannya dengan figur. Baca dan cerna tong..jangan komat-kamit melulu.
Mirror 1: Panas dingin
Follow Twitter: @ZwaraKafir

Ok Pak Rahimii, yang tersisa dari kita adalah bolak balik dengan argumen yang sama, saya yakin anda menangkap maksud saya sebagaimana saya paham maksud anda. Pertanyaan Fayhem cukup membuat anda berada dalam dilema, karena pertanyaan duluan mana panas dan dingin, duluan mana gelap dan terang sama dengan bertanya duluan mana ayam dengan telor. Anda bahkan sudah menjawab sendiri dengan tepat bahwa keduanya belum ada sampai sumber cahaya, energi ada, barulah kemudian keduanya ada.

Teposeliro sudah lebih maju dengan pernyataan "Makanya itulah tadi dijelaskan ketika konsep tuhan ada maka akan timbul dengan sendirinya keadaan ketiadaannya tuhan diorang tersebut itulah iblis", mendekati kesimpulan saya dari pernyataan anda sebelumnya. Saya usulkan anda melanjutkan bantahan anda ttg iblis yang datang sendiri tanpa diciptakan, ujug2 ada dan mampu menantang tuhan bahkan saling mengalahkan.
Silahkan.
kuisa
 
Posts: 706
Joined: Mon May 05, 2014 12:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby rahimii » Thu Oct 16, 2014 6:32 pm

kuisa wrote:Wah, rupanya saya yang harus mengajar logika kepada ahli logika
di saat bersamaan harus ngajar bahasa juga.


Panas dingin
Panas dan dingin itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.

Apa yang terukur untuk menentukan panas dingin? Temperatur/suhu. Untuk membuat sebuah benda menjadi panas, butuh energi untuk memanaskan, demikian juga sebaliknya untuk membuat sesuatu menjadi dingin, butuh energi untuk mendinginkan. Ada yang disebut transfer panas, lebih tepat transfer energi, dua benda dengan suhu berbeda akan mengalami transfer energi sampai suhu keduanya sama.

Sebutan panas dan dingin relatif terhadap kebutuhan, yang terukur adalah suhu, suhu sekian bisa disebut panas atau dingin tergantung apa yang diukur. Panas bisa diukur, dinginpun bisa diukur.
rahimii wrote:Inilah sains ala padang pasir. Sungguh koplak mengatakan panas dan dingin sekedar penyebutan atau sifat. Itu karena otakmu demikian kecil sehingga menerjemahkan dalam bahasa indonesia HOT dan HEAT saja kamu tidak bisa.

Lebih koplak lagi mengatakan panas dan dingin tidak eksis karena bukan benda itu sendiri. Kamu belajar dimana mengatakan panas dan dingin adalah sekedar kata sifat? Dengan pernyataan subjektif akan kata sifat, kau tidak membuktikan bahwa “dingin” itu tidak ada, atau bahwa “dingin” ada tanpa status ontologis. Apa yang kau lakukan adalah menunjukkan bahwa “dingin” adalah istilah subjektif.
kuisa wrote:Hati2 kalau menulis, dimana saya salah menggunakan hot dan heat?
btw, ini universal kali, mau di padang pasir atau himalaya konsepnya sama, memang nyatanya kedua hal panas dingin adalah kata sifat/adjective.
rahimii wrote:Yang jelas kalau ngomong, jangan mengalihkan pembahasan ke masalah tata bahasa. Semua yang bisa dirasakan lewat indera, pastilah eksis. Panas eksis, dingin eksis. Indera manusia bisa merasakannya. Kamu bisa merasakannya tidak? Jawab ya atau tidak saja, gak usah mutar-mutar..

kuisa wrote:Si Pak Indra ini mendeteksi perubahan temperatur, jika lebih tinggi dari suhu badan disebutlah panas, jika lebih rendah disebutlah dingin,
jadi yang eksis adalah temperaturnya, panas dingin adalah kesimpulan dari nilai sebuah temperatur.

rahimii wrote:Kalau kamu bilang panas dan dingin itu sekedar kesimpulan dari nilai sebuah temperatur, coba kamu jawab pertanyaan ini. Mengapa ada es dan udara dingin yang sangat ekstrim di kutub? Disana gak ada kulkas atau AC lho..tapi kok dingin ya tong? Merujuk kepada argument mu, bahwa yang eksis adalah temperatur, apakah es dan udara dingin di kutub disebabkan ketiadaan temperatur atau ketiadaan panas? Jangan ngalor ngidul, jawab yang jelas saja tong..
kuisa wrote:Kutub disebut dingin karena anda membandingkan dengan yang bukan kutub, kalau anda hanya mengenal kutub maka anda bisa mengatakan temperatur -60oC lebih panas daripada temperatur -100oC.

Mengatakan dingin ada karena tidak ada panas juga membuat sebuah dilema jika ketika anda tidak mendapatkan es teh karena tidak adanya es (panas ada karena tidak adanya dingin).

rahimii wrote:Kok kumur2 kau tong? Susah benar jawabnya. Lihat nih pernyataan bloon kaliber sekolah taliban "jadi yang eksis adalah temperaturnya" itu perkataanmu kan. Kau tidak pernah lihat matahari bersinar terang di kutub ya tong? Jadi jawab saja gak pake modal congor : Merujuk kepada argument mu, bahwa yang eksis adalah temperatur, apakah es dan udara dingin di kutub disebabkan ketiadaan temperatur atau ketiadaan panas?

kuisa wrote:Ya, matahari bersinar di kutub, artinya ada yang memberikan radiasi/energi panas tapi tetap saja temperatur disebut dingin, malam harinya tetap disebut dingin, hanya malam hari disebut lebih dingin atau siang hari disebut lebih panas, padahal temperatur misal sama2 minus, cuma terdapat perbedaan nilai minusnya. Yang terukur adalah suhunya, dimalam hari disebut lebih dingin, disiang hari disebut lebih panas. Panas dingin hanyalah sebutan semata untuk suatu kondisi. Kondisi yang jelas2 ada mataharipun, kutub tetap dingin, jadi kata dingin tidak lahir dari ketiadaan panas/matahari.

Itu teori dari jihader taliban ya tong? Kata dingin tidak lahir dari ketiadaan panas? Berarti dingin malah eksis akan dirinya sendiri dong tong, wong di kutub tetap dingin meski ada matahari? Makin parah nih sakit si dogol satu ini..kau itu bukan menjawab pertanyaan malah mengigau kayak orang kesurupan. Di kutub dingin karena ketiadaan temperatur atau ketiadaan panas? Saya bahkan sudah kasi petunjuk soal mataharinya, tapi susah amat ya, proses kerja otakmu?
rahimii wrote:Ada atau tiada konsep istilah subjektif tersebut, eksistensi yang kita sebut “dingin” akan tetap ada. Mensubjektifkan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut. Lalu, bagaimana pula maksud dari pernyataan untuk membuat sebuah benda menjadi panas, dibutuhkan energi untuk memanaskan? Pada dasarnya panas itu sendiri adalah energi yang tersimpan di dalam suatu objek. Jadi kalimat yang menyatakan dibutuhkan energi untuk memanaskan agar membuat sebuah benda menjadi panas apakah pernyataan yang memiliki landasan atau sekedar modal congor?
kuisa wrote:Fenomena itukan sifatnya/gejala, objeknya adalah energy yang disebut heat menghasilkan 2 istilah, panas dan dingin.
Manasin air emang ga perlu kompor?
rahimii wrote:Asli saya ketawa..kamu memang lulusan sekolah taliban ranking terakhir ya? Untuk memanaskan sesuatu, yang terpikir di otakmu yang kecil adalah kau butuh kompor. Saya tidak akan jelaskan caranya. Silahkan kau belajar lagi gimana caranya mendidihkan air tanpa kompor atau alat pemanas. Kalau sudah tahu, baru balik lagi ya..Contoh lain untuk menguji kesehatan logikamu. Sakit kepala juga gejala / fenomena. Apakah karena sakit kepala bukanlah sesuatu (thing), maka sakit kepala tidak eksis?
kuisa wrote:Ga usah khawatir, ketawa tidak dilarang kok, saya biasanya pakai kompor, paling mudah sih, tapi saya butuh energi biar tuh air panas, energinya dari gas. Pak rahimii manasin air dirumah bagaimana? pake heater, dicolokin dulu ga?

rahimii wrote:Kalau gas habis dan listrik mati, si kuisa bingung manasin air karena dalam pikirannya energi panas itu adalah api yang keluar dari kompor dan gas..kwkwkw..
kuisa wrote:Pake genset dong, taliban gitu lo.

rahimii wrote:Bagus, pengakuanmu sebagai anak didik sekolah taliban itu memang benar menggambarkan dirimu. Modal nyablak, asal mangap, tak berisi. Sainsmu ala padang pasir. Berlindung dibalik bahasa, yakin benar bahwa dingin dan panas hanyalah kata sifat belaka. Kau baca lagi statementmu yang memalukan ini “Panas dan dingin itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.” Coba kau belajar lagi apa itu concrete nouns tong..dogolmu jangan dipelihara. Concrete nouns adalah nomina atau kata benda yang menunjuk pada benda yang dapat dirasakan atau dilihat, adalah kata-kata untuk hal-hal yang bisa dialami oleh salah satu panca indera, mereka dapat dilihat, didengar, dicium, dirasa atau disentuh, misalnya: kursi, buku, batu, mobil, dingin, panas, hangat, dll. Sok ngerti bahasa, padahal isi otak amburadul.

kuisa wrote:Ngaco, panas, dingin hangat kok disebut concrete??? yang concrete itu bendanya, air panas, air dingin, air hangat. Koreksi diri dulu sana.

Seluruh dunia boleh salah, asal islam terlihat benar. Bahkan grammar bahasa inggris pun jadi salah, demi argument islam kuisa sang koplak jadi benar.
A concrete noun is the name of something or someone that we experience through our senses, sight, hearing, smell, touch or taste.
Ice cream, for example, is a concrete noun. You can see the pink. You can taste the berry flavor.
You can feel your tongue growing numb from the cold. Any noun that you can experience with at least one of your five senses is a concrete noun.
Tuh, kau baca pengertian concrete noun berdasarkan english grammar pake mata dan proses pake otak tong, jangan pake dengkul. Sudah sekolah taliban, tinggal kelas lagi..
rahimii wrote:Berikutnya, pernyataan lain dari modal congor adalah "sebaliknya untuk membuat sesuatu menjadi dingin, butuh energi untuk mendinginkan" Kita mengidentifikasi sesuatu sebagai dingin saat suhu menjadi lebih rendah. Tapi itu tidak berarti dibutuhkan sebuah energi untuk membuat "dingin", dingin adalah kondisi dimana hanya ada sedikit energi panas. Energi panas selalu bergerak dari sesuatu yang panas ke sesuatu yang lebih dingin. Tidak ada hal seperti energi dingin, sehingga objek hanya bisa menjadi dingin jika energi panas bergerak menjauh darinya. Jadi untuk membuat sesuatu menjadi dingin, justru tidak dibutuhkan energi tetapi jauhkanlah energi darinya.
kuisa wrote:Emangnya kulkas anda bisa dingin sendiri? colok dulu pak! [-X

rahimii wrote:Hihihihi..habis kata-kata saya menggambarkan kekoplakanmu. Belajar lagi sana, gimana cara membuat air menjadi es tanpa kulkas atau alat pendingin. Belajarnya ke sekolah beneran, jangan sekolah taliban ya..
kuisa wrote:Mau sekolah taliban apa penabur sama aja, kulkas dicolok dulu
rahimii wrote:Kalau listrik mati, si kuisa kebingungan membuat air menjadi es..tapi jangan langsung mbleduk bunuh diri ya, bisa kok tanpa kulkas. Makanya pindah sekolah tong..
kuisa wrote:Kalau listrik mati, saya pake genset dengan mengambil energi dari minyak. Anda sekolah dimana sih?

rahimii wrote:Kapasitas otakmu memang cuma segitu sih, gak bisa diajak mikir yang rumit-rumit, tapi malah nanya sekolah saya dimana. Mikir dulu, gimana membuat air menjadi es tanpa alat, tanpa listrik, tanpa genset, baru tanya dirimu sendiri sekolahmu dimana. Ya, jelas kayaknya kau lulusan sekolah taliban doang tong..

kuisa wrote:Tetap saja untuk mngubah sebuah keadaan yang steady dibutuhkan energi.

Energi apa yang dibutuhkan untuk membuat dingin seperti koar-koar ngaco mu diawal? Sebelum-sebelumnya kau bilang perlu kulkas, AC atau genset.. sekarang meracau lagi ke energi..:lol: koplak habis si dogol satu ini..
rahimii wrote:Karena itu, panas jelas merupakan sesuatu karena ada energi dan aktivitas kinetik padanya. Dingin lah yang bukan sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya keberadaan panas. Eksistensi sebuah domain ketiadaan panas karena keberadaan panas terbukti ada.
kuisa wrote:Itu boleh disebut heat, tapi bukan hot dan cold yang hanya sifat saja, sebutan yang diberikan untuk banyaknya nilai heat.
rahimii wrote:Sakit kepala juga gejala / fenomena dan bukan sesuatu (thing), apakah sakit kepala tidak ada?
kuisa wrote:Yang ada adalah kepalanya, sakit kepala itu suatu kondisi tidak stabil yang terjadi pada kepala, itu katasifat, masa ga ngerti2.
rahimii wrote:Kalau si kuisa jadi dokter, dia akan memberikan pelajaran bahasa indonesia soal kata sifat kepada pasiennya yang sakit kepala. Dia akan bilang sakit kepala itu tidak eksis, itu hanya kata sifat. Kalau si kuisa melihat dijalan ada pengemis yang kelaparan, dia akan bilang ke pengemis itu kalau lapar itu hanyalah kata sifat. Yang eksis adalah perut saja, jadi yang penting perut masih ada dan abaikan saja eksistensi rasa lapar itu. Itu cuma kata sifat..
kuisa wrote:Yang saya ajarkan adalah sakit kepala dan sakit perut itu tidak muncul dengan sendirinya karena kepala atau perutnya eksis, dengan adanya kepala dan perut, maka muncul dua kondisi, sehat dan sakit. Cerdas dikitlah.

rahimii wrote:Abstract nouns adalah nomina atau kata benda yang menunjuk pada suatu gagasan, pikiran, ide, konsep, kualitas, sifat, atau kondisi. Saya harap kau cukup cerdas mencernanya tong..kau kayaknya layak jadi legenda muslim disini, dalam hal kedogolan tentunya..So, Dingin, gelap, ketiadaan bukanlah sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya panas, cahaya dan keberadaan. Eksistensi sebuah domain ketiadaan sesuatu karena keberadaan sesuatu, terbukti ada.

kuisa wrote:Ya, abstract noun itu berasal dari adjective yang untuk kebutuhan kalimat dijadikan noun, tidak ada yang istimewa. Kedinginan, kepanasan, kegelapan, keterangan, kehangatan hanya menunjukkan ada sesuatu yang dingin, panas, gelap, terang, hangat dst.

Sebelumnya kau bilang itu cuma kata sifat, tidak eksis. sekarang malah ngomong "Kedinginan, kepanasan, kegelapan, keterangan, kehangatan hanya menunjukkan ada sesuatu yang dingin, panas, gelap, terang, hangat dst" Kau benar-benar serius mau diskusi atau cuma pamer kedogolan? Kerjaanmu cuma bolak-balik tak karuan. Kalau cuma mau pamer betapa koplaknya logikamu yang penting asal kelihatan menyanggah tanpa mikir, jangan disini. Di forum islam yang tahunya manggut-manggut saja deh..
kuisa wrote:Gelap terang
Gelap dan terang itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.

Apa yang terukur untuk menentukan gelap terang? Cahaya. Terang gelap tergantung banyaknya cahaya dan relatif terhadap kebutuhan, kondisi pencahayaan tertentu bisa disebut gelap atau terang untuk keperluan yang berbeda. Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur. :goodman:
rahimii wrote:Mengenai gelap dan terang, sedari awal yang saya oposisikan dari gelap adalah cahaya, bukan terang. Kau yang seenakmu menggantinya dengan terang. Saya mencerna dan memahami dulu setiap kata dan kalimat, tidak seperti kau yang sembrono dan asal cuap. Cahaya adalah sesuatu, terang tidak. Cahaya adalah sesuatu, gelap tidak. Cahayalah yang menghasilkan terang, sehingga opisisi gelap adalah cahaya. Kegelapan adalah ketiadaan cahaya. Dimanapun, untuk menentukan tingkat kegelapan, yang diukur adalah intensitas jumlah cahaya, bukan jumlah kegelapan.
kuisa wrote:Anda sedikit lagi setuju dengan penjelasan saya, terang dan gelap itu memang bukan sesuatu, hanya sebutan yang digunakan untuk mendefinisikan suatu nilai dari cahaya.
rahimii wrote:Saya dari awal sudah menjelaskan bahwa gelap bukanlah sesuatu. Mengapa pula saya yang menjadi sedikit lagi setuju dengan kau? Tapi saya masih punya rasio mengatakan bahwa gelap itu eksis meski itu bukanlah eksistensi yang mandiri akan dirinya sendiri. Tidak tahu malumu itu lho..
kuisa wrote:Yang eksis itu cahayanya, gelap terang adalah penilaian terhadap banyaknya cahaya tsb
rahimii wrote:Awalnya kau tidak bilang begitu. Awalnya kau bilang gelap juga bisa diukur tong..masih punya rasa malu tidak? Yang saya oposisikan dari awal terhadap gelap adalah cahaya. Hanya saya juga katakan gelap itu juga merupakan sebuah eksistensi yang tidak mandiri akan dirinya sendiri, sebagai efek yang tidak diciptakan akibat adanya eksistensi cahaya itu sendiri.
kuisa wrote:Ga usah mencla mencle lah, ga baik pura2 bloon, nih lihat jawaban anda sendiri untuk Fayhem
rahimii wrote:Namun, sebelum dimensi ini bahkan ada, alam semesta adalah titik sangat kecil yang berisi setidaknya segala sesuatu di alam semesta yang bisa kita amati sekarang. Oleh karenanya, singularitas ini memiliki kepadatan yang tak terbatas, dan juga sangat panas. Panas adalah nilai terukur yang dihasilkan dari gerakan partikel molekul, sehingga masuk akal kalau energi panas ada didalam singularitas sejak semula, bukan dingin. Jika kita bisa melihat singularitas tersebut, itu akan menjadi sesuatu yang sangat terang. Hanya,ruang hampa sendiri tidak eksis sebelum bigbang, sehingga logikanya hal semacam terang atau gelap juga belum eksis sebelum bigbang. Ini yang bisa saya sampaikan dari tinjauan filosofisnya bro..jangan ditanya hitung-menghitung dan rumus-merumus ya..
kuisa wrote:Istilah terang gelap baru muncul ketika cahaya muncul, jika anda keukeuh bahwa gelap muncul sendiri karena adanya terang, maka sangat salah karena seharusnya gelap telah lama ada sebelum terang datang (lihat gugatan fayhem).
Anda berada dalam dilema dan kontradiksi.
rahimii wrote:Otakmu yang cacat, bukan saya yang dalam dilema. Dari awal saya sudah sangat jelas katakan, gelap itu bukan sesuatu yang eksis pada dirinya sendiri. Gelap adalah eksistensi ketiadaan cahaya. Dalam hal pra bigbang, cahaya adalah satu-satunya eksistensi. Kalau cahaya eksis, lalu mengapa gelap harus ada? Bukankah gelap memang tidak eksis pada dirinya sendiri? Otakmu sih yang terlalu kecil memahami yang begituan.

kuisa wrote:Yup, gelap bukan eksis pada dirinya sendiri, makanya disebut kata sifat, artinya menjelaskan keadaan sesuatu.

Jadi apa keberatanmmu? Bukankah "ketiadaan" itu juga menjelaskan keadaan sesuatu? Mengapa kau komplain ketika saya bilang keberadaan menciptakan keadaan ketiadaan bila keberadaan menghilang? Kau sebenarnya memahami itu, tetapi demi harga diri islam mu, gak masalah bagimu membodohi diri sendiri.
rahimii wrote:Tetapi perhatikan lagi pernyataanmu sang lulusan sekolah Taliban ranking terakhir : “Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur.”
Bagaimana caramu mengukur tingkat kegelapan? Apa instrumen yang akan kau gunakan? Cahaya dapat diukur karena itu adalah energi. Kegelapan bukanlah energi sehingga tidak akan dapat diukur. Apa yang kau lakukan adalah menunjukkan bahwa “gelap” adalah istilah subjektif. Ada atau tiada konsep istilah subjektif tersebut, eksistensi yang kita sebut “gelap” akan tetap ada. Mensubjektifkan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.
kuisa wrote:keduanya, terang gelap adalah fenomena atau sifat, objeknya adalah cahaya :goodman:

rahimii wrote:Sakit kepala juga gejala / fenomena, apakah sakit kepala tidak eksis? Bisamu hanya menelan ludah dimana-mana. Jawab yang ini : “Terang bisa diukur, gelap juga bisa diukur.” Itu kata-kata yang keluar dari congormu. Disatu sisi bilang gelap hanyalah kata sifat, telan ludah lagi bilang gelap bisa diukur. Tak tahu malu kamu..
kuisa wrote:Beneran ga ngerti maksud saya atau pura2 ga ngerti? gelap terang panas dingin semua kata sifat yang dilekatkan pada kondisi tertentu. Kondisi tertentu itu yang ada ukurannya, gelap adalah kondisi dengan intensitas cahaya sekian banyak tergantung siapa yang bicara sesuai keperluannya, demikian jg sifat2 lainnya yg saya sebutkan.
rahimii wrote:Kondisi tertentu itu eksis tidak tong? Kau itu hanya mutar-mutar dan sekedar tidak malu kalah saja. Sekarang apakah sebuah “kondisi tertentu”merupakan realita atau sekedar kata sifat? Salah satu cara untuk mengetahui sesuatu hal itu eksis atau tidak adalah dengan membandingkannya dengan realita. Pernyataan "kondisi tertentu" itu saja sudah merupakan penggambaran satu realita.
kuisa wrote:Terserah anda sih, yang jelas istilah gelap terang muncul setelah adanya cahaya.
rahimii wrote:Kemampuanmu memang cuma menjiplak sih..tidak ada satupun argument saya yang kau pahami. Sudah sangat jelas saya katakan, gelap itu tidak eksis pada dirinya sendiri, gelap ada karena cahaya ada. Sekarang kau setuju, dilain waktu kau modal congor bilang tidak setuju. Sudah dogol, bunglon lagi..

kuisa wrote:Betul, gelap dan terang ada karena ada cahaya, tidak dapat disebut terang atau gelap jika cahaya tidak eksis. Anda mulai paham kelihatannya

Kau mulai paham, bahwa keberadaan dan ketiadaan cahaya akan memberikan implikasi terang atau gelap kepada yang dinaunginya.
rahimii wrote:Oleh karena itu, cahaya jelas merupakan sesuatu karena ada energi padanya. Gelap lah yang bukan sesuatu tetapi tetap merupakan sebuah eksistensi yang tercipta tanpa perlu diciptakan sebagai akibat hilangnya keberadaan cahaya. Eksistensi sebuah domain ketiadaan cahaya karena keberadaan cahaya terbukti ada.
kuisa wrote:keliru, terang dan gelap takkan pernah disebut jika tidak ada cahaya, banyaknya cahaya mendefinisikan sesuatu disebut terang atau gelap.
rahimii wrote:Siapa yang ngomong terang adalah oposisi gelap? Saya bilang oposisi gelap adalah cahaya. Memang ajaib benar kamu, tidak punya malu sedikitpun. Saya jelas katakan cahaya adalah sesuatu karena merupakan energi. Tapi dengan b0dohnya bilang saya keliru. Kamu kemanakan analogi koin dan aktif pasif saya? Sengaja kamu tidak komentari karena saya keliru juga tong?
kuisa wrote:energi kok lawannya gelap [-X
rahimii wrote:Baca kembali pake otak dari awal. Siapa juga yang bilang kalau gelap lawannya energi. Ingat dengan analogi koinmu? Bila koin dilihat dari sisi depan, bisakah kau mendapat penglihatan akan sisi belakang secara bersamaan? Saat kau melihat sisi depan, itu akan menciptakan keadaan ketiadaan sisi belakang. Bila kau membalik untuk melihat sisi belakang, itu menciptakan keadaan ketiadaan sisi depan. Tiada dan berada sisi depan dan belakang eksis dalam satu keberadaan koin. Sisi depan adalah bukan sisi belakang, mereka selalu berbeda. Namun mereka membentuk satu koin yang sama. Sisi depan dan belakang bukanlah sekedar bagian dari koin, karena mereka tidak dapat dipisahkan. Idenya adalah koin memiliki dua domain yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan dan tidak perlu diciptakan secara tersendiri. Keberadaan sisi depan memunculkan keadaan ketiadaan sisi belakang. Karena ketiadaan ada, keberadaan dapat didefinisikan dan sebaliknya. Atau pikirkan tentang aktif dan pasif. Aktif melahirkan domain yang pasif dalam dirinya sendiri tanpa perlu diciptakan terpisah di satu tempat pada satu waktu. Keberadaan tuhan mewujudkan domain ketiadaan tuhan tanpa perlu diciptakan terpisah di satu tempat pada satu waktu yang berbeda.
Mirror 1: Panas dingin
Follow Twitter: @ZwaraKafir
kuisa wrote:Lha iya makanya saya bilang tuhanmu 1+1=2, iblis muncul sendiri tanpa diciptakan dan saling mengalahkan dengan tuhan, rebut2an kunci dst.

rahimii wrote:Kembali lagi ke awal, konsistensi. Kau begitu bloon menyamakan keberadaan dengan sosok atau figur. Apakah yang saya sampaikan diatas adalah tentang figur tong? Saya bicara domain, realm, alam, eh kau dengan otakmu yang kecil begitu bernafsu menyamakannya dengan figur. Baca dan cerna tong..jangan komat-kamit melulu.
Mirror 1: Panas dingin
Follow Twitter: @ZwaraKafir

kuisa wrote:Ok Pak Rahimii, yang tersisa dari kita adalah bolak balik dengan argumen yang sama, saya yakin anda menangkap maksud saya sebagaimana saya paham maksud anda. Pertanyaan Fayhem cukup membuat anda berada dalam dilema, karena pertanyaan duluan mana panas dan dingin, duluan mana gelap dan terang sama dengan bertanya duluan mana ayam dengan telor. Anda bahkan sudah menjawab sendiri dengan tepat bahwa keduanya belum ada sampai sumber cahaya, energi ada, barulah kemudian keduanya ada.

Teposeliro sudah lebih maju dengan pernyataan "Makanya itulah tadi dijelaskan ketika konsep tuhan ada maka akan timbul dengan sendirinya keadaan ketiadaannya tuhan diorang tersebut itulah iblis", mendekati kesimpulan saya dari pernyataan anda sebelumnya. Saya usulkan anda melanjutkan bantahan anda ttg iblis yang datang sendiri tanpa diciptakan, ujug2 ada dan mampu menantang tuhan bahkan saling mengalahkan.
Silahkan.

Tidak ada dilema dalam memahami pertanyaan fayhem. Seperti saya bilang, otakmu saja yang kinerjanya dibawah standard. Bila cahaya itu masih ada, maka gelap tidak bisa ada disana sebagai eksistensi yang mandiri pada dirinya sendiri. Sementara telor dan ayam jelas memiliki eksistensi masing-masing yang mandiri. Hubungan antara substansi cahaya dan gelap sangat jauh bedanya dengan analogi telor dan ayam. Apa mau dikata, otakmu memang sudah korslet dan membabi buta tidak pakai mikir dalam berargument. Rangkaian kalimat teposeliro yang saya tebalkan saja kau tidak paham..renungkan dulu kelakuanmu yang memalukan itu sampai kau bisa berpikir normal seperti manusia kebanyakan.
Mirror 1: Panas dingin
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
rahimii
 
Posts: 311
Joined: Sun Mar 06, 2011 6:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby rahimii » Thu Oct 16, 2014 6:39 pm

kotak pandora wrote:Jawaban kuisa asal aja. Bro rahiimi ngak diladeni deh. Kuisa ngak ngerti apa yg bapak uraikan. Ngabisin energi doang.
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Follow Twitter: @ZwaraKafir

Memang besar tantangannya berargument dengan muslim bro..kudu sabar, memahami satu kata saja mereka tidak bisa. Wajar saja bangsa kita yang mayoritas diisi oleh manusia-manusia seukuwah si kuisa ini tidak bisa maju. Otaknya cacat semua, gimana mau maju..

Gak usah panggil saya bapak bro..saya masih muda nan tampan kok.. :lol:
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
rahimii
 
Posts: 311
Joined: Sun Mar 06, 2011 6:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby Teposeliro » Fri Oct 17, 2014 12:08 am

waduh benar benar emang ini kuisa. ga ada yang bilang tuhannya ada 2 eee kuisa bilang itu 2 tuhan 1 tuhan satu lagi iblis yang satu hidupin yang satu matiin. itu sih logika muslim dengan allohnya.
dibilang gelap itu keadaan dimana ketiadaan terang. demikian pula dingin dan iblis. itu bukan artinya 2 masa orang bisa ikut di 2 tempat, diluar meslam sih ga ada yang mikir kaya gitu. baik adalah baik jahat adalah jahat. cuma di eslam tuhan bisa baik dan bisa jahat. bisa jujur bisa jadi tukang bohong. jadi jangan samain kita kita dengan logika dan ajaran mamad yah.
jadi ikut terang atau gelap ga bisa 2 2 nya. hehehe

emang susah ngomong sama muslim, saya salut ama netter ffi, bisa sabar ngelayanin slimmer. saya suka ngajar tapi ga pernah ketemu yang sedablek muslim, padahal biasanya kalau belajar ilmu bisa cepet dimengerti bahkan dikasih pengertian. kebayang kalau sehari hari ngasih tahu muslim soal logika, bisa bisa kepala ane lepas dari badan nih kayanya.
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
Teposeliro
 
Posts: 96
Joined: Wed Mar 26, 2014 1:47 am

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby qprim » Fri Oct 17, 2014 6:35 am

Saya agak ketinggalan rupanya......

Tapi setelah membaca kuliah yang diberikan oleh bro rahimii utk sang TS, saya menganggap diskusi topik seperti ini dengan TS akan susah nyambungnya.
Kalau TS pemahamannya baru sebatas bahwa kondisi/keadaan yang ada lebih dulu berarti sudah pasti kondisi/keadaan tsb harus diciptakan lebih dulu, ya begitulah..... :roll:

Yang jelas saya salut buat bro rahimii yang mau berpanjang lebar meladeni TS dengan sabar. Keliatan banget nggak imbang bro..... Moga2 ada manfaatnya..... :yawinkle:
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
qprim
 
Posts: 259
Joined: Wed Nov 09, 2005 4:01 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby kuisa » Fri Oct 17, 2014 11:05 am

qprim wrote:Saya agak ketinggalan rupanya......

Tapi setelah membaca kuliah yang diberikan oleh bro rahimii utk sang TS, saya menganggap diskusi topik seperti ini dengan TS akan susah nyambungnya.
Kalau TS pemahamannya baru sebatas bahwa kondisi/keadaan yang ada lebih dulu berarti sudah pasti kondisi/keadaan tsb harus diciptakan lebih dulu, ya begitulah..... :roll:

Yang jelas saya salut buat bro rahimii yang mau berpanjang lebar meladeni TS dengan sabar. Keliatan banget nggak imbang bro..... Moga2 ada manfaatnya..... :yawinkle:
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Follow Twitter: @ZwaraKafir

Ga ada yang ketinggalan Pak Prim, bahasan kita berbeda dengan yang saya bahas bersama pak rahimii, bayangannya jangan ditinggalin sembarang tempat dong O:)
kuisa
 
Posts: 706
Joined: Mon May 05, 2014 12:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby kuisa » Fri Oct 17, 2014 11:24 am

rahimii wrote:Bagus, pengakuanmu sebagai anak didik sekolah taliban itu memang benar menggambarkan dirimu. Modal nyablak, asal mangap, tak berisi. Sainsmu ala padang pasir. Berlindung dibalik bahasa, yakin benar bahwa dingin dan panas hanyalah kata sifat belaka. Kau baca lagi statementmu yang memalukan ini “Panas dan dingin itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.” Coba kau belajar lagi apa itu concrete nouns tong..dogolmu jangan dipelihara. Concrete nouns adalah nomina atau kata benda yang menunjuk pada benda yang dapat dirasakan atau dilihat, adalah kata-kata untuk hal-hal yang bisa dialami oleh salah satu panca indera, mereka dapat dilihat, didengar, dicium, dirasa atau disentuh, misalnya: kursi, buku, batu, mobil, dingin, panas, hangat, dll. Sok ngerti bahasa, padahal isi otak amburadul.

kuisa wrote:Ngaco, panas, dingin hangat kok disebut concrete??? yang concrete itu bendanya, air panas, air dingin, air hangat. Koreksi diri dulu sana.

Seluruh dunia boleh salah, asal islam terlihat benar. Bahkan grammar bahasa inggris pun jadi salah, demi argument islam kuisa sang koplak jadi benar.
A concrete noun is the name of something or someone that we experience through our senses, sight, hearing, smell, touch or taste.
Ice cream, for example, is a concrete noun. You can see the pink. You can taste the berry flavor.You can feel your tongue growing numb from the cold. Any noun that you can experience with at least one of your five senses is a concrete noun. -bold by pak rahimii-
Tuh, kau baca pengertian concrete noun berdasarkan english grammar pake mata dan proses pake otak tong, jangan pake dengkul. Sudah sekolah taliban, tinggal kelas lagi..

Ma sya Allah Pak Rahimii, macam mana saya harus menjelaskan kesalahan mendasar anda ini? Concrete bos, concrete..... contohnya tuh es krim.
Kalimat yang anda bold itu penjelasan dari es krimnya.
Nih penjelasan ttg es krimnya:
1. You can see the pink.
2. You can taste the berry flavor.
3. You can feel your tongue growing numb from the cold.

Paham! Ga nyangka saya harus ngajar bahasa inggris juga ](*,)

Kalau begini caranya anda memahami, apa yang bisa diharapkan dari penjelasan anda???
kuisa
 
Posts: 706
Joined: Mon May 05, 2014 12:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby rahimii » Fri Oct 17, 2014 7:13 pm

rahimii wrote:Bagus, pengakuanmu sebagai anak didik sekolah taliban itu memang benar menggambarkan dirimu. Modal nyablak, asal mangap, tak berisi. Sainsmu ala padang pasir. Berlindung dibalik bahasa, yakin benar bahwa dingin dan panas hanyalah kata sifat belaka. Kau baca lagi statementmu yang memalukan ini “Panas dan dingin itu kata sifat. Tau kata sifat? suatu keadaan untuk menjelaskan suatu benda. Jadi tentu saja keduanya tidak eksis karena bukan benda itu sendiri.” Coba kau belajar lagi apa itu concrete nouns tong..dogolmu jangan dipelihara. Concrete nouns adalah nomina atau kata benda yang menunjuk pada benda yang dapat dirasakan atau dilihat, adalah kata-kata untuk hal-hal yang bisa dialami oleh salah satu panca indera, mereka dapat dilihat, didengar, dicium, dirasa atau disentuh, misalnya: kursi, buku, batu, mobil, dingin, panas, hangat, dll. Sok ngerti bahasa, padahal isi otak amburadul.

kuisa wrote:Ngaco, panas, dingin hangat kok disebut concrete??? yang concrete itu bendanya, air panas, air dingin, air hangat. Koreksi diri dulu sana.

Seluruh dunia boleh salah, asal islam terlihat benar. Bahkan grammar bahasa inggris pun jadi salah, demi argument islam kuisa sang koplak jadi benar.
A concrete noun is the name of something or someone that we experience through our senses, sight, hearing, smell, touch or taste.
Ice cream, for example, is a concrete noun. You can see the pink. You can taste the berry flavor.You can feel your tongue growing numb from the cold. Any noun that you can experience with at least one of your five senses is a concrete noun. -bold by pak rahimii-
Tuh, kau baca pengertian concrete noun berdasarkan english grammar pake mata dan proses pake otak tong, jangan pake dengkul. Sudah sekolah taliban, tinggal kelas lagi..

kuisa wrote:Ma sya Allah Pak Rahimii, macam mana saya harus menjelaskan kesalahan mendasar anda ini? Concrete bos, concrete..... contohnya tuh es krim.
Kalimat yang anda bold itu penjelasan dari es krimnya.
Nih penjelasan ttg es krimnya:
1. You can see the pink.
2. You can taste the berry flavor.
3. You can feel your tongue growing numb from the cold.

Paham! Ga nyangka saya harus ngajar bahasa inggris juga ](*,)

Kalau begini caranya anda memahami, apa yang bisa diharapkan dari penjelasan anda???

Is cold an abstract noun?
The noun cold is a concrete noun because cold can be felt physically. There is no abstract noun form for the concrete noun cold.
An abstract noun is a word for something that can't be seen, heard, smelled, tasted, or touched.
The cold can be physically felt. The noun form for the adjective cold is coldness, which can also be physically felt.

Tuh, saya kutipkan lagi dari grammar bule nya langsung, bukan dari tata bahasa arabmu yang tak karuan. Inderamu memang tidak bisa merasakan dingin ya tong? Kau itu jangan-jangan juga tidak bisa merasakan kram pada otakmu yang cacat. Kau bisa bahasa inggris ya..coba tunjukkan mana sanggahan bahasa inggrisnya kalau cold itu bukan concrete noun. Kelakuanmu dimana-mana jadi tukang nyampah saja. Bahasan soal kondisi keberadaan dan ketiadaan, yang kau ributkan malah tata bahasa. Asal mangap pula..
Mirror 1: Ice cream, for example, is a concrete noun
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
rahimii
 
Posts: 311
Joined: Sun Mar 06, 2011 6:33 pm

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby JANGAN GITU AH » Sat Oct 18, 2014 2:25 pm

qprim wrote:Saya agak ketinggalan rupanya......

Tapi setelah membaca kuliah yang diberikan oleh bro rahimii utk sang TS, saya menganggap diskusi topik seperti ini dengan TS akan susah nyambungnya.
Kalau TS pemahamannya baru sebatas bahwa kondisi/keadaan yang ada lebih dulu berarti sudah pasti kondisi/keadaan tsb harus diciptakan lebih dulu, ya begitulah..... :roll:

Yang jelas saya salut buat bro rahimii yang mau berpanjang lebar meladeni TS dengan sabar. Keliatan banget nggak imbang bro..... Moga2 ada manfaatnya..... :yawinkle:


itu diaaaa...menurut Kuisa, gelap itu tercipta secara terpisah dari terang. ini logika quran! menurut kitab alqutang itu, gelap dapat mengalahkan terang dan secara bergantian terang pun akan mengalahkan gelap pada waktu-waktu tertentu... :rolling:

Perhatikanlah kalimat Quran berikut ini, maka anda akan sadar bahwa arus berfikir muslim seperti Kuisa ini memang bersumber dari kitab sampah itu...

“Katakanlah: Jelaskan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?
Katakanlah: Jelaskan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Al-Qashash: 71 dan 72)

logika Kuisa dan si bloon Muhammad /tuhan arab seia sekata mengatakan gelap DICIPTAKAN, terang pun DICIPTAKAN secara terpisah.
Mirror 1: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Tuhan Pak Rahimii adalah 1+1=2

Postby JANGAN GITU AH » Sat Oct 18, 2014 2:44 pm

Ayat lain yang menjadi sumber kebodohan berfikir muslim seperti Kuisa ini saya kutibkan berikut:

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam..." (Al Qur'an, 39:5)

menurut keterangan muslim di laman INI

Dalam Al Qur'an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai "menutupkan" dalam ayat di atas adalah "takwir". Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.


tentu saja muslim tidak ingin menyangkali quran dan firman si tuhan arab meskipun apa yang dijelaskan kitab sampah ini sama sekali tak logis dan tak sesuai fakta sains. karena itu muslim lebih memilih menjadikan diri mereka sebagai orang b0d0h sebagai pilihan aman.

sesuai penjelasan laman di atas, terlihat penulis setuju bahwa malam atau gelap adalah sesuatu yang telah diciptakan ibarat suatu benda. demikian pula terang diciptakan sama seperti benda, keduanya terpisah. terang bisa bertindak sebagai pembungkus yang menutupi gelap sehingga muncul terang, sebaliknya demikian pula gelap dapat membungkus terang dan menyebabkan hilangnya terang. Keduanya saling mengalahkan satu sama lain pada waktu-waktu tertentu.

dengan mengikuti quran dan apa kata tuhan arab, muslim sungguh belajar kebodohan dari mereka itu. :lol: Muslim tidak perlu malu mengetahui fakta sains yang tidak sesuai dengan klaim tuhan arab dalam quran. Orang b0d0h gak perlu malu karena Islam tidak kenal yang namanya malu...hihihi
Mirror 1: "Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

PreviousNext

Return to Islam vs Agama & Peradaban Lain



Who is online

Users browsing this forum: No registered users