.

Lunturnya budaya lokal karena Islam

Benturan dan bentrokan antara Islam dengan agama-agama dan peradaban lain di seluruh penjuru dunia.

Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby kirana zulfa » Thu Feb 20, 2014 12:19 pm

Aku asli orang Jawa, karena semakin pesatnya perkembangan islam, budaya jawa semakin luntur, termasuk di daerahku misalnya :
1. Dulu waktu aku kecil kalo temu manten, selalu diiringi gamelan musik kebo giro, kalo sekarang temu manten diiringi dengan rebana sambil nyanyi ya nabi salam....
2. Dulu waktu kecil kalo bertamu pasti ngucapin kulo nuwun, kalo sekarang Assalamualaikum.
Yang lain silahkan tambahin sendiri


Saya yakin pergeseran budaya itu pasti terjadi, tapi apakah budaya Arab pasti baik ???

Lunturnya budaya lokal karena Islam


Faithfreedompedia
kirana zulfa
 
Posts: 184
Joined: Tue Feb 22, 2011 6:30 pm
Location: Negri tandus bernama Saudi Arabia

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby fayhem_1 » Fri Feb 21, 2014 12:07 am

Banyakan manten sekarang lagu2 dangdut atau qosidahan, bahkan di carefour disuarakan adzan maghrib tuh pas maghrib
User avatar
fayhem_1
 
Posts: 1402
Joined: Tue Sep 08, 2009 6:55 pm

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby Mahasiswa98 » Fri Feb 21, 2014 3:42 pm

kirana zulfa wrote:Aku asli orang Jawa, karena semakin pesatnya perkembangan islam, budaya jawa semakin luntur, termasuk di daerahku misalnya :
1. Dulu waktu aku kecil kalo temu manten, selalu diiringi gamelan musik kebo giro, kalo sekarang temu manten diiringi dengan rebana sambil nyanyi ya nabi salam....
2. Dulu waktu kecil kalo bertamu pasti ngucapin kulo nuwun, kalo sekarang Assalamualaikum.
Yang lain silahkan tambahin sendiri


Saya yakin pergeseran budaya itu pasti terjadi, tapi apakah budaya Arab pasti baik ???



maklum saja kan menurut mereka yang bukan bersumber islam artinya haram. termasuk budaya lokal
jgn takut masih akan bertahan budaya lokal gak akan bisa di hapus
kalau mereka berniat menghapus ada resikonya.
1. islam ditendang dari negara NKRI
2. NKRI akan bubar, dan NKRI gak akan bubar :finga:
User avatar
Mahasiswa98
 
Posts: 1480
Images: 0
Joined: Wed Mar 28, 2012 6:50 pm
Location: Dalam TerangNya

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby SegeN » Fri Feb 21, 2014 4:49 pm

Lama-lama nama negara kita akan berubah menjadi Indo-Arabia atau Republik Islam (RI) :green:
User avatar
SegeN
 
Posts: 131
Images: 0
Joined: Tue Oct 08, 2013 1:26 am
Location: Manokwari Papua

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby PancoranMas » Mon Feb 24, 2014 9:19 am

Arahnya mungkin Indonesia berubah menjadi negara Arab di Asia. Tapi masih lama. Banyak juga yang mulai sadar dengan kondisi ini dan sedikit banyak melakukan perlawanan.
PancoranMas
 
Posts: 6
Joined: Fri Feb 07, 2014 7:41 pm

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby Mahasiswa98 » Mon Feb 24, 2014 1:21 pm

PancoranMas wrote:Arahnya mungkin Indonesia berubah menjadi negara Arab di Asia. Tapi masih lama. Banyak juga yang mulai sadar dengan kondisi ini dan sedikit banyak melakukan perlawanan.


tidak akan terjadi hal seperti itu di Indonesia. jgn takut, moslem cuma bisa mimpi saja dengan hal beginian.
Indonesia kedepan pasti lagi bingung dan sibuk dengan banyak masalah bencana dan kesulitan ekonomi. :lol:
User avatar
Mahasiswa98
 
Posts: 1480
Images: 0
Joined: Wed Mar 28, 2012 6:50 pm
Location: Dalam TerangNya

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby Laurent » Tue Feb 25, 2014 6:36 am

Asal mula masalah ini

http://m.kompasiana.com/post/read/39955 ... -nama-arab

Dampak Sosio-Kultural G 30 S PKI: Orang Tuaku Berduyun-Duyun Ikut Mengimpor Nama Arab

Nama asliku Muhaimain Iskandar. Nama ini pemberian orang tua saya sejak lahir. Sebutan nama kearab-araban seperti nama saya di Jawatimur tempat kelahiran saya sudah jamak. Mayoritas penduduk Jawa Timur Pasca Tragedi kemanusiaan 30 September 1965 berduyun duyun melekatkan nama pada anaknya yang baru lahir dengan nama Arab. Maka orang tua saya pun ikut-ikutan memberikan nama kepada saya , dengan nama Arab. Sedang kedua orang tua saya sendiri masih memakai nama lokal khas Jawa Timur tempo dulu. Ibu saya bernama Juminten, sebuah nama yang tak ada padanannya di luar Jawa Timur. Juminten adalah nama khas yang sering dipakai penduduk Jawa Timur sebelum penduduk Jawa Timur dibombardir oleh nama impor dari arab.Bapak saya bernama Mujiono. Sama dengan nama Juminten, Mujiono adalah produk lokal nama Jawa Timur tempo dulu. Kesamaannya, kedua nama orang tua saya adalah nama khas orang jawa timur sebelum Islamisasi nama menggurita.Saya sebagai Anak bungsu dari tiga bersaudara. kedua kakak saya pun diberi nama-nama yang di impor dari Arab. Kakak yang pertama bernama Imam Syahrowi dan kakak kedua bernama Nurhasanah. Saya tidak mengerti mengapa kedua orang tua saya memutus begitu saja ketersambungan nama anak-anakny dengan nama mereka yang khas Jawa Timur.Saya pikir kedua orang tua saya seenaknya sendiri asal ikut-ikutan dalam memberikan nama pada ketiga anaknya. Padahal nama ibu saya masih bersinambung dengan nama kakek saya yang bernama “Sarminto”. Sedang nama bapak saya masih ada titik temu kejawaannya dengan nenek saya yang bernama ‘Ngatini’. Tetapi kenapa saya yang diberikan nama Muhaimin Iskandar yang jelas tidak ada kesinambungannya dengan nama Juminten dan Mujiono. Ternyata apa yang saya alami atas kepunyaan nama Arab tersebut, juga banyak dipakai oleh teman-teman sebaya waktu itu (era 70-an sampai 80-an).Lalu apa sebenarnya yang terjadi di balik pemberian nama Muhaimin Iskandar (sosio-historis dan kultural)? Di tahun 1970, 1980, sampai 1990-an demam panggilan nama bermerek Arab di Desa saya telah terjadi. Di tahun-tahun tersebut diiringi dengan pertumbuhan pesat Islamisasi (santrinisasi) dan pertanda mulai memudarnya Jawanisme. Disamping Arabisasi, faktor modernisasi juga terlibat meminggirkan nama-nama yang ber-merk lokal Jawa Timur. Tanda-tanda kemenangan islamisasi yang dipelopori kaum sarungan (baca santri) terlihat pada momen-momen penting di desaku yang bisa aku catat:“Di dusun Tanjungan, desa Balung Lor, asal dusun ayah saya dibesarkan sebelum tahun 1970-an masih di dominasi oleh kaum abangan (berafliasi pada PNI dan PKI, bahasa sehari-hari campur sari dari bahasa jawa mataraman dan using banyuwangi). Setiap pemilihan kepala desa dari tahun 11920 sampai 1966 selalu dimenangkan oleh kelompok abangan. kaum santri beberapa kali (berafiliasi dg partai Masyumi sampai partai NU) mencalonkan diri tak pernah berhasil jadi pemenang. Bisa dikatakan sebelum tahun 1970-an kaum santri di tingkat desa tidak berposisi sebagai penguasa pemerintahan desa. Namun sejak 1990-an nama-nama kepala desa dengan merek arab mulai bermunculan. Konon setelah penumpasan serentak nyawa orang-orang komunis Indonesia, banyak orang abangan ketakutan dan menyembunyikan identitasnya dengan rame-rame meniru cara sosio-kultural kaum santri”Situasi politik nasional pasca Gestapu (1966) merubah drastis politik kultural dimana-mana. Banyak orang abangan yang sebelumnya banyak menjadi penguasa di birokrasi pemerintahan disingkirkan dan tak diberi tempat lagi oleh kelompok militer. Namun pula kaum santri juga tak di beri tempat dalam birokrasi. Biasanya kaum santri menjadi patner utama dalam kebijakan yang menyangkut soal pertanian. Jadi bukan berarti kekalahan kaum abangan dijalur birokrasi menjadi kemenangan kaum santri. Karena jalur birokrasi masih dikuasai oleh orang militer. ‘Kaum abangan terus terdesak sampai di jalur kultural dan kepercayaan. Stigmatisasi sebagai orang yang berbau komunis terus dikumandangkan oleh berbagai pihak. Sehingga gerakannya dalam mengekspresikan identitasnya benar-benar terancam. Mau tidak mau pilihan satu-satunya mengekpresikan diri didalam ruang batin (gerakan kebatinan) .Mereka hanya bisa beralibi jika praktek ritualnya diketahui publik, bahwa apa yang dilakukannya sekedar untuk menjaga dan menghormati tradisi nenek moyongnya.Kelompok abangan benar-benar terdesak. sementara Kaum santri yang telah berjasa besar dalam menumpas PKI sampai ke akar-akarnya lebih leluasa (karena diberi ruang keleluasaan oleh negara) dalam ruang kultural dan praktek kepercayaannnya. Mengenai keterdesakan secara kultural dan kepercayaan kaum abangan, banyak orang menceritakan seperti ini:” ditahun-tahun tersebut Banyak orang kejawen (kaum abangan) yang mulai belajar sholat,ngaji, pada tokoh-santri, bahkan tokoh kejawen yang kaya juga ikut naik haji. Sepulang dari haji biasanya namanya juga di rubah menjadi nama orang arab.”Kaum santri yang selalu diolok-olok oleh kaum nasionalis dan PKI, sebagai kaum sarungan yang bisanya hanya menghitung tasbih ditangan, merasa perlu untuk segara memainkan politik kulturalnya memanfaatkan momen situasi dan kondisi yang mendukung mereka. Karena struktur kenegaraan masih dikuasai orang-milter maka ruang kultural adalah pilihan realistis untuk dimenangkan.“Adalah pak Gumbrek, sesepuh kaum abangan di dusun Tanjungan (basis kaum abangan di desa saya) oleh bapak haji Jainuddin (tokoh kaum santri dusun karang anyar) di naikkan haji dengan biaya ditanggung oleh haji Jainuddin. Awalnya pak haji Jainuddin menawari bapak Gumbrek naik haji. Jika pak gumbrek bersedia, mulai dari proses persiapan belajar sampai keberangkatannya ditanggung oleh haji jainuddin. (cerita ini saya dapat dari tetangga saya). Padahal bapak gumbrek juga termasuk orang terkaya di dusunnya. Kalau untuk ongkos haji sangat mampu membayarnya. tetapi itu adalah barter kultural antara dua tokoh abangan dan santri ditingakat dusun. Bentuk kesepakatan kultural yang hanya mereka berdua yang tahu. Atau permainan simbol kemenangan dan kekalahan secara kultural. Pak gumbrek harus menerima tawaran haji Jainuddin untuk pertahanannya dari mara bahaya. Sedang haji jainuddin membuat penawaran tersebut sebagai simbol kemenangan tak kentara pada posisi sosial dan kulturalnya.”Itu diatas hanya contoh kecil kasus, bagaimana posisi kaum abangan yang sangat terdesak, dan bagaimana intrik kultural kaum santri memanfaatkan situasi yang sedang berpihak padanya. Keberhasilan kaum santri dengan islamisasinya di desa saya, puncaknya ditandai dengan pembangunan masjid oleh Haji Jainuddin disamping rumahnya dimana jamaahnya mencakup sampai didusun bapak Gumbrek. Sedang pendanaannya dibiayai oleh kepala desa (kelompok militer) dan diresmikan oleh Bupati jember Abdul Hadi (TNI aktif).Situasi politik, sosial, dan kultural didesa tempat saya di lahirkan waktu itu tak memungkinkan orang tua dalam memberikan nama-nama pada anaknya bebas menentukan sesuai pilihannya sendiri. Bapak saya tidak terdidik sebagai santri. Ayah ibunya mengajarkan nilai-nilai kejawenn kepadanya. Ia dibesarkan dilingkungan orang2 abangan. Pun ibu saya demikian. Kekalahan orang abangan dan keterdesakannya secara kultural dari kaum santri, membuat orang tua saya menyerahkan pemberian nama pada anak2nya yang baru lahir kepada Kyai untuk perlindungan sosialnya:Jadi teman-teman semua itulah latar historis dan kultural penamaan saya. Dan itulah kenapa sekarang saya menggunakan nama pena Santri Kenthir, karena ternyata nama saya bukan terlahir dari Doa orang tua, tapi dari dampak sejarah kelam bangsa 30 September 1965 yang sampai kini masih belum terang dan menjadi keinsyafan bangsa ini kedepan.

Lunturnya budaya lokal karena Islam
Mirror: Lunturnya budaya lokal karena Islam
Faithfreedompedia static
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby Laurent » Tue Feb 25, 2014 6:42 am

Pembasmian agama lokal seperti kejawen, kaharingan, sunda wiwitan , dll oleh islam sejak tahun 1965 sampe saat ini

Konflik dengan Islam?

Namun di saat yang bersamaan, karena proses konstruksi politik dan agama, Bissu dianggap sebagai satu celah yang tercela dalam masyarakat Bugis modern yang Islami karena dianggap menentang sunnatullah yang hanya mengenal jenis gender laki-laki dan perempuan, selain peran sinkretisme yang dibawanya. Bahkan salah satu doktrin yang memojokkan status mereka adalah adanya pemeo bahwa bila menyentuh Bissu atau calabai maka konon akan membawa sial selama 40 hari – 40 malam. Ironis! Menjadi bissu tidak lagi dianggap dapat menaikkan derajat sosial sebagaimana yang berlaku di masa lampau, malah mendatangkan petaka keterasingan dalam masyarakat (agamis) Bugis modern.

Dalam beberapa diskursus, eksistensi Bissu cenderung fenomenal mengingat keberadaannya yang kontroversial dalam masyarakat Bugis modern yang Islami. Karena keberadaannya yang ambivalen, bissu dianggap tidak menerima sunnatullah, karena secara fisik mereka adalah laki-laki tapi berpenampilan seperti perempuan (tranvestities). Bissu juga dianggap menyimpang dari agama karena kecenderungannya menganggap arajang dan mustika arajang memiliki kekuatan gaib dari leluhur (dinamisme). Padahal, menurut para bissu itu, mereka justru melakukan pemujaan terhadap Tuhan walau dengan tata cara ritual yang mereka yakini. Dan juga, mereka tidak menolak sunnatullah, melainkan menerima dan menjalankan sunnatullah.

Di tahun 1950-an saat pecah pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar, Bissu merupakan salah satu pihak yang paling menderita. Kahar Muzakkar menganggap kegiatan para Bissu ini adalah menyembah berhala, tidak sesuai dengan ajaran Islam dan membangkitkan feodalisme. Karena itu kegiatan, alat-alat upacara, serta para pelakunya diberantas. Ratusan perlengkapan upacara dibakar atau di tenggelamkan ke laut. Banyak sanro (dukun) dan Bissu di bunuh atau dipaksa menjadi pria yang harus bekerja keras.

Penderitaan para Sanro dan Bissu masih berlanjut ketika Orde Lama (Orla) ditumbangkan oleh rejim Orde Baru (Orba) pada tahun 1965. Keributan yang menyoroti arajang dan pelaksanaan upacara mappalili terjadi di Segeri. Arajang hampir diganyang oleh salah satu ormas pemuda yang berkuasa ketika itu. Para Bissu dan mereka yang percaya akan kesaktian arajang menjadi tertuduh penganut komunis atau anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka dianggap tidak beragama, melakukan perbuatan siriq, dianggap menganut ajaran anisme. Barang siapa masih menganggap arajang sebagai benda kramat berarti menduakan Tuhan. Di antara mereka yang tertangkap harus memilih antara mati di bunuh atau memilih masuk agama Islam serta menjadi manusia normal (pria). Muncul doktrin dalam masyarakat, bahwa bila melihat Bissu atau Wandu maka konon mereka yang melihatnya akan sial tidak mendapatkan rejeki selama 40 hari – 40 malam.

Demikian pula seluruh amal baik yang diperbuatnya selama 40 hari tersebut tidak diterima pahalanya oleh Tuhan YME. Karena itu, jika melihat Bissu atau Wandu maka dia harus diusir jauh-jauh. Banyak di antara sanro dan Bissu yang sebelumnya sangat dihormati oleh masyarakat, kini menjadi sasaran lemparan dan olok-olokan bocah di jalanan.

Gerakan pemurnian ajaran Islam tersebut mereka sebut “Operasi Toba” (Operasi Taubat) yang gencar-gencarnya terjadi pada tahun 1966. Sejak itu, upacara Mappalili mengalami kemunduran, upacara-upacara Bissu tidak lagi
diselenggarakan secara besar-besaran. Para Bissu bersembunyi dari ancaman maut yang memburunya. Masyarakat tidak lagi peduli akan nasib mereka, karena sebagian dari mereka memang mendukung gerakan “Operasi Toba” tersebut. Sebagian masyarakat yang bersimpati kepada para Bissu, hanya tinggal diam tanpa bisa berbuat apa-apa.

Namun ketika masyarakat menuai padinya, ternyata hasilnya memang kurang memuaskan sehingga beberapa masyarakat beranggapan hal tersebut terjadi karena tidak melakukan upacara Mappalili . Dengan kesadaran itulah beberapa di antara mereka menyembunyikan Bissu yang tersisa agar tidak di bunuh dan agar upacara mappalili dapat dilaksanakan lagi. Bissu-bissu yang selamat itulah yang masih ada sekarang ini. Kini jumlah mereka yang tersisa di seluruh wilayah adat Sulawesi Selatan tidak lebih dari empat puluh orang saja. Padahal untuk melakukan sebuah upacara Mappalili yang besar, jumlah Bissu minimal harus berjumlah empatpuluh orang (Bissu PattappuloE) dalam sebuah wilayah adat.

http://indoculture.wordpress.com/2011/0 ... nah-bugis/

Ketika gencar-gencarnya pemberantasan terhadap pelaku pemberontakan G30S/PKI, beberapa kali perkampungan orang To Lotang di Amparita diobrak-abrik oleh tentara yang datang dengan senjata beratnya, seperti panser dan tank, dengan alasan membersihkan antek-antek PKI di daerah tersebut. Dengan mudahnya tentara itu juga terprovokasi bahwa pemberontakan komunis di daerah Amparita akan melakukan penyerangan massal ke ibu kota kabupaten yang berjarak kurang lebih 8 kilometer. Bahkan pada 1966, Pemerintah Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang mengeluarkan pengumunan No. Ag.2/1/7, tanggal 5 Februari 1966 berisi pernyataan tidak mengakui keberadaan agama To Lotang. Dengan demikian, agama itu tidak diperkenankan lagi untuk melakukan upacara ritual yang berkaitan dengan sistem kepercayaannya.

Alasan dikeluarkannya surat tersebut karena pemerintah daerah menganggap bahwa agama yang dianut oleh orang To Lotang tidak termasuk agama resmi yang diakui di Indonesia yang terdiri dari agama Islam, Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu dan Budha. Ajaran To Lotang tidak termasuk di dalamnya. Masyarakat To Lotang merasa terpojokkan dengan terbitnya surat tersebut.

Untuk mencairkan persoalan tersebut, pemerintah kecamatan setempat memanggil para pemimpin kepercayaan To Lotang untuk mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan itu dibuat surat pernyataan dan pengakuan bersama antara para pemimpin aliran kepercayaan To Lotang dan pemerintah setempat yang diwakili oleh pimpinan Kecamatan, Komandan Sektor Kepolisian, Puterpra, dan Kepala Urusan Agama Kecamatan (Mattulada 1990: 35). lsi surat pernyataan bersama tersebut adalah bahwa pihak aliran kepercayaan To Lotang berjanji dalam waktu dua bulan (terhitung 7 Maret sampai 7 Mei 1966) akan meminta kepada pemerintah pusat agar keyakinan mereka (To Lotang) diresmikan atau diakui sebagai agama resmi dalam negara Republik Indonesia. Kalau dalam waktu tersebut mereka belum disahkan atau diakui, mereka wajib memilih salah satu agama yang diakui oleh pemerintah, yaitu agama Islam, Kristen, Budha, atau Hindu Bali. [2]

Kesempatan dua bulan itu dimanfaatkan oleh pimpinan ajaran To Lotang untuk berangkat ke Jakarta (Departemen Agama RI) untuk memperjuangkan status kepercayaan mereka. Berdasarkan laporan utusan To Lotang, pihak Departemen Agama RI, dalam hal ini Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu Bali dan Budha, berkesimpulan bahwa aliran kepercayaan To Lotang merupakan salah satu sekte Siwaisme dari agama Hindu, yang memakai nama To Lotang. Kesimpulan tersebut didasari oleh adanya kesamaan dengan sekte Siwaisme dari agama Hindu.

Meskipun kesamaan itu mungkin ada benarnya tetapi apakah itu juga berarti hahwa kedua kepercayaan itu harus disamakan dalam satu sistem kepercayaan. Benarkah antara agama kepercayan To Lotang ada hubungannya dengan agama Hindu Bali?

Utusan To Lotang tidak banyak berkomentar atau beradu debat dengan pihak pemerintah, yang penting adalah semua kepercayaan mereka bisa mendapat pengakuan. Pemerintah akhirnya mengesahkan agama kepercayaan itu dengan mengeluarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu Bali dan Budha, No. 2 Tahun 1966, tertanggal 6 Oktober 1966, yang kemudian disempurnakan dengan Surat Keputusan No. 6 Tahun 1966, tertanggal 16 Desember 1966. Surat Keputusan tersebut kemudian membagi dua kelompok orang To Lotang. Kelompok pertama, mereka yang tetap menamakan dirinya To Wani To Lotang atau menyesuaikan diri dengan nama baru yang diberikan oleh pemerintah, yaitu Hindu To Lotang. Kelompok kedua, mereka yang menyatakan diri sebagai orang Islam dan memisahkan diri dari kelompok pertama. Mereka ini menamakan dirinya "To Lotang Benteng" (sebelah selatan benteng).

Meskipun To Lotang Benteng telah menyatakan dirinya masuk dalam agama Islam, mereka tetap menjalankan ajaran-ajaran kepercayaan leluhurnya dan hampir sebagian besar dari mereka tidak melaksanakan syariat Islam kecuali hanya pada saat perkawinan atau mengurusi kematian. Pusat ibadahnya pun terpisah, bukan lagi di makam Uwak I Pakbere, tetapi di sebuah sumur yang bernama Pakkawarue (Murdiono 2001). Meskipun demikian, orang To Lotang Benteng masih melakukan ziarah ke makam I Pakbere. Sekalipun sudah ada surat keputusan pemerintah RI tersebut, masyarakat To Lotang belum merasakan suasana tenteram dan terbebas dari pengawasan pihak pemerintah setempat. Terutama dengan tuduhan dan kecurigaan adanya anggota atau pendukung PKI di daerah tersebut (Muzhar dan Atho 1977). Oleh karena itu, masyarakat To Lotang tidak bisa bebas untuk melakukan upacara-upacara ritual. Antara 1966 sampai 1970 beberapa kali terjadi upaya pemerintah untuk mendiskrediktan kelompok masyarakat To Lotang, baik dengan isu PKI maupun dengan isu pelaksanaan ritual. Tekanan yang dilakukan oleh pemerintah (kepala kecamatan dan bupati) bersama dengan polisi dan ABRI, juga mendapat dukungan kuat dan organisasi atau kelompok masyarakat Islam di daerah itu. Masyarakat seolah-olah ingin menghapuskan ajaran kepercayaan tersebut dan menjadikan daerah atau Kabupaten Sidrap 100 persen beragama Islam. [3]

http://www.rappang.com/2008/12/kepercay ... t.html?m=1

Demikian pula halnya dengan sistem kepercayaan yang dianut; kepercayaan To Lotang selalu dianggap membahayakan dan dijadikan sebagai alat ukur dalam pelaksanaan program pembinaan keagamaan. Keberhasilan program diukur dari jumlah penduduk yang beragama Islam mencapai seratus persen. Untuk itu, berbagai cara ditempuh oleh pemerintah dan masyarakat untuk menghapuskan ajaran kepercayaan To Lotang. Pihak penguasa beranggapan bahwa kehadiran ajaran kepercayaan To Lotang merupakan suatu aib dalam pelaksanaan program tersebut. Sampai sekarang pun, pelajaran pendidikan agama di sekolah-sekolah dasar di daerah itu agama Islam, padahal mayoritas siswanya merupakan penganut ajaran To Lotang.

Kualitas kehidupan beragama tidak dipandang sejauh mana seorang yang beragama secara taat menjalankan syariat agamanya sesuai dengan tuntunannya masing-masing. Akan tetapi, realitas itu diukur dari seberapa banyak penganut agama yang mayoritas di daerah tersebut. Meskipun seorang tidak shalat dan tidak puasa, yang penting beragama Islam. Hal tersebut dianggap lebih baik daripada penganut agama To Lotang yang setia dan taat menjalankan aturan ritual sesuai dengan tuntunan Uwak. Ukuran lainnya adalah pembangunan rumah-rumah ibadah (masjid) dengan menggunakan anggaran yang cukup besar tanpa mempertimbangkan apakah ada umat Islam yang mengisinya atau tidak.

Lebih parah lagi, ada anggapan terhadap agama tradisional seperti To Lotang sebagai ancaman stabilitas masyarakat. Ajaran itu dicurigai dan perlu diawasi dalam setiap langkahnya. Sistem kepercayaan dikhawatirkan akan mempengaruhi akidah umat Islam di sekitarnya, sehingga pemerintah mentoleransi perusakan tempat-tempat ritual penganut kepercayaan.

Dampak buruk yang sampai kini masih dialami oleh masyarakat To Lotang adalah traumatis pada masa lalunya. Mereka selalu dibayang-bayangi oleh peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami. Setiap pendatang selalu dicurigai dengan sikap kehati-hatian, mereka cenderung untuk tidak memberikan informasi secara baik atau terbuka kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, misalnya, dalam upacara-upacara mereka.

http://www.rappang.com/2008/12/kepercay ... t.html?m=1

Di awal kemerdekaan, kelompok tolotang menjadi sasaran tembak pemberontak DI/TII. Orang tolotang menyebut mereka dengan gerombolan DI/TII. Masyarakat tolotang yang tinggal di desa Otting dibantai, sebagian berhasil melarikan diri ke Amparita. Di Amparita inilah kaum tolotang bergabung dengan TNI melalui Pasukan Sukarela demi memberantas DI/TII. Hampir seluruh anggota pasukan Sukarela adalah orang Tolotang. Pada titik inilah Tolotang kemudian diidentikan telah memusuhi islam hingga kelompok islam di kemudian hari balik memukul Tolotang juga melalui perangkat TNI.

Pasca peristiwa 1965, sebagaimana komunitas lokal di sekujur negeri ini, kaum tolotang dituduh sebagai basis kekuatan PKI. Memang waktu itu ada sekitar 37 orang tolotang yang tergabung dalam Lekra. 5 orang diantaranya aktif sebagai aktivis. Tekanan dan intimidasi pada waktu itu sangat keras dirasakan masyarakat tolotang di Amparita. hampir semua tokoh mereka ditangkap dan dibawa ke penjara Rappang, sementara yang lain lari dari Amparita menuju Pinrang. Pada masa ini kelompok tolotang berusaha mendapat pengakuan dari pemerintah. Seorang Tolotang bernama Makatunggeng diutus untuk pergi ke Jakarta untuk mengupayakan hal ini. Pada akhirnya usaha selama berbulan-bulan ini berujung pada dikeluarkanya Sk. Dirjen Bimas Beragama Hindu Bali/Budha No. 2/1966 tanggal 06 Oktober 1966 yang menetapkan bahwa tolotang merupakan salah satu dari sekte dari agama Hindu. Keputusan ini tidak serta-merta membuat hidup komunitas ini menjadi tenang, tekanan dan intimidasi terus berlanjut karena masyarakat islam menolak keputusan tersebut. bahkan, menurut pengakuan masyarakat lokal, Dirjen bimas Hindu yag hendak mengunjungi komunitas ini dicegat dan dilarang. Desakan masyarakat islam untuk menolak surat keputusan tersebut bahkan kemudian disetujui DPRD-GR Kabupaten Sidrap, hingga mencapai puncaknya pada lahirnya operasi malilu sipakaenga (bahasa daerah yang berarti operasi untuk mengingatkan) dari Kodam Hasanuddin. Operasi militer inilah puncak ketertindasan dan peminggiran komunitas Tolotang. Operasi ini secara tegas menyatakan bertujuan mengembalikan kaum tolotang pada ajaran islam. Aktivitas tolotang lantas selalu diawasi, mereka tak bisa bebas menjalankan ritual kepercayaannya dan selalu dipaksa untuk masuk islam.

http://interseksi.org/publications/chro ... otang.html

Pengen Mau Murtad Setelah Membaca Artikel Ini
FFI Alternative
Faithfreedompedia

Lunturnya budaya lokal karena Islam
Mirror: Lunturnya budaya lokal karena Islam
Faithfreedompedia static
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby Mahasiswa98 » Tue Feb 25, 2014 11:55 am

Laurent wrote:Asal mula masalah ini


tidak semua anggota TNI jaman sekarang yang tetap cuek dan tidak mengambil tindakan atas islamisasi kebudayaan indonesia.
salah satunya sosok yagn satu ini, sebagai salah satu putra terbaik bangsa sosok ini punya mimpi kedepan, tapi bukan sekedar mimpi saja namun juga melakukan tindakan luhur dengan tetap melihat budaya kita itu memang sedang sekarat dan melakukan tindakan nyata atas budayanya sebagai orang jawa.

mungkin teman teman yang melihat bahwa budaya kita sedang di susupi oleh budaya islam melihat tidak ada upaya menyelamatkannya tapi masih ada.
saya berikan link tentang sosok tersebut. dan pasti teman teman mampu menilai bagaimana sosok ini dalam kapasitasnya dan kontribusinya berjuang bagi NKRI
monggo disimak.

http://www.youtube.com/watch?v=KFGLNjvYwbE
User avatar
Mahasiswa98
 
Posts: 1480
Images: 0
Joined: Wed Mar 28, 2012 6:50 pm
Location: Dalam TerangNya

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby kirana zulfa » Tue Feb 25, 2014 4:18 pm

SegeN wrote:Lama-lama nama negara kita akan berubah menjadi Indo-Arabia atau Republik Islam (RI) :green:


Atau Indonistan \:D/ \:D/
kirana zulfa
 
Posts: 184
Joined: Tue Feb 22, 2011 6:30 pm
Location: Negri tandus bernama Saudi Arabia

Re: Lunturnya budaya lokal karena Islam

Postby Laurent » Tue Feb 25, 2014 11:34 pm

Image
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am


Return to Islam vs Agama & Peradaban Lain



Who is online

Users browsing this forum: No registered users