RA KARTINI & ISLAM. PENTING !!

Seluk beluk ttg hak/kewajiban wanita, pernikahan, waris, bentuk2 pelecehan hak2 wanita dlm Islam dll.

Anda pernah membaca surat2 atau buku RA Kartini ?

sudah
19
25%
belum, bukunya ada cuma saya malas baca
6
8%
belum, bukunya tidak tersedia secara umum
44
59%
belum, bukunya ada tapi dlm bahasa asing
0
No votes
belum karena tidak perlu
6
8%
 
Total votes: 75

User avatar
J.M.I.
Posts: 74
Joined: Wed May 09, 2007 7:53 pm
Location: Masa sih Tuhan Lahir dari m*m*k
Contact:

Post by J.M.I. »

Ibu Kita Kartini, Kartini Palsoeee....

Mana buktiii!?!??!

User avatar
somad
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo
Contact:

Post by somad »

MadinaSyarif wrote: kek... buku bahasa belanda dari awalnya sudah dicurigai rekayasa tuh...penerjemahan dalam bahasa melayu direkayasa lagi...
tambah parrrrraah....
Sdr MadinaSyarif,
Saya tidak tau apakah buku itu sudah direkayasa atau belum, buku itu adalah warisan
almarhum bapak saya, yang mungkin dibelinya sekitar 1910 dan saya baru membacanya
pada tahun 1946 dan sangat amat menarik inti isinya kebanyakan merupakan keluh kesah
RA Kartini tentang kehidupan Wanita jawa yang dibatasi oleh adat
Saya sangat terkesan akan penggunaan gaya Bahasa yang sangat menarik
Dan ini menimbulkan rasa bangga saya terhadap beliau ternyata bangsa Inlander mampu
menguasai berbahasa Belanda dan nyaris sempurna serupa dengan Raden Saleh yang men-
garang buku De Geur Van Moeders Haarwrong. (Aroma sanggulnya ibu)
Saya sangsi kalau buku aslinya direkayasa untuk keperluan politik.

Dan saya belum pernah membaca yang terjemahan jadi saya tidak bisa mengkomparasi.

wassalam

MadinaSyarif
Posts: 146
Joined: Thu Feb 08, 2007 8:14 pm

Post by MadinaSyarif »

buku kartini yang door duisternis tot licth pertama kali terbit tahun 1911
memang itu semua masih reka-rekaan saja, dan mungkin tidak akan pernah terungkapkan. dokumen surat-surat kartini disimpan oleh abendanon pribadi dan sampai sekarang belum diketemukan...
dokumen-dokumen yang terkejar oleh pram berasal dari kerabat dan teman kartini yang lain...(pram gak punya duit untuk pergi ke belanda) termasuk diantara yang membantu, RM Singgih Soesalit (putera tunggal kartini), namun sepertinya juga musnah ketika kerusuhan tahun 1965-66 itu. sampai matinya pram masih terus mempertanyakan keberadaan dokumen-dokumen dan seluruh isi perpustakaan pribadinya yang kemungkinan kalau tidak disita, pasti dibakar seperti juga buku-bukunya...
bila cuma disita, suatu saat mungkin akan terungkap juga, jika memang di bakar... mungkin ini misteri terus akan jadi misteri

MadinaSyarif
Posts: 146
Joined: Thu Feb 08, 2007 8:14 pm

Post by MadinaSyarif »

Saya tulis latar belakang dan gambaran dunia saat itu yaa...saya gak tau banyak tentang politik, baru mulai baca ill principe itu aja...ini catatan sejarah dari berbagai sumber (Soe Hok Gie bilang sejarah itu tabel yang disepakati)

User avatar
somad
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo
Contact:

Post by somad »

MadinaSyarif wrote:buku kartini yang door duisternis tot licth pertama kali terbit tahun 1911
memang itu semua masih reka-rekaan saja, dan mungkin tidak akan pernah terungkapkan. dokumen surat-surat kartini disimpan oleh abendanon pribadi dan sampai sekarang belum diketemukan...
Sdr MadinaSyarif,
Mungkin!
Nampaknya untuk mendapatkannya kita perlu ke Negeri Belanda he he he

dokumen-dokumen yang terkejar oleh pram berasal dari kerabat dan teman kartini yang lain...(pram gak punya duit untuk pergi ke belanda) termasuk diantara yang membantu, RM Singgih Soesalit (putera tunggal kartini), namun sepertinya juga musnah ketika kerusuhan tahun 1965-66 itu. sampai matinya pram masih terus mempertanyakan keberadaan dokumen-dokumen dan seluruh isi perpustakaan pribadinya yang kemungkinan kalau tidak disita, pasti dibakar seperti juga buku-bukunya...
bila cuma disita, suatu saat mungkin akan terungkap juga, jika memang di bakar... mungkin ini misteri terus akan jadi misteri
Sayang sekali bila dokument-dokument tersebut benar-benar hilang.
Terlepas dari idiologi pram apa Komunnis atau bukan namun, kita perlu belajar dari
pengalaman tersebut bahwa, dengan itu kita telah merusak dokument dokument penting
bangsa kita dan semoga dikemudian hari tidak terulang!

Ok Sdr MadinaSyarif terima kasih atas info anda

Wassalam

MadinaSyarif
Posts: 146
Joined: Thu Feb 08, 2007 8:14 pm

Post by MadinaSyarif »

Menyambut hari kebangkitan nasional, semoga kita semua masih bisa merasakan nasionalisme yang katanya pada masa yang lemah

1830 CULTUURSTELSEEL ALIAS TANAM PAKSA ALIAS KERJAPAKSA

Setelah jatuhnya Dipenogero yang otomatis mengakhiri perang Jawa, pemerintah Hindia Belanda dihantam krisis keuangan yang parah. Seperti kita semua tahu, perang Jawa adalah perang yang paling menguras dana dalam sejarah Hindia Belanda dan hanya untuk perang tersebut, pemerintah Hindia Belanda harus berhutang sebanyak 37 juta gulden pada Kerajaan Belanda yang juga berhutang kepada negara lain. Hutang bunga berbunga ini harus segera dikembalikan. sementara itu di pasar Internasional, nilai mata uang Belanda jatuh, Javasche Bank bangkrut. Raja Willem, Raja belanda saat itu yang seorang pengusaha kapitalis tidak tahan rugi.

di saat yang menekan ini, munculah seorang Johan van den Bosch yang membawa proposal cultuurstelsel yang lansung disetujui raja dan berbuah amat manis...

hanya 5 tahun setelah padamnya perlawanan diponegoro, tanam paksa yang disuburkan oleh airmata, keringat, ratap tangis dan darah pribumi, sampai di Nederland segera berubah menjadi air madu dari surga. jutaan demi jutaan gulden mengalir ke dalam kas negara seperti air kehidupan menggerakan kembali perdagangan, pelayaran dan industri yang hampir beku, sehingga melipatgandakan penghasilan nasional. sejak dimulainya sampai 1877, uang kelebihan anggaran belanja Hindia Belanda yang dialirkan ke Nederland mencapai jumlah 800 juta gulden. dengan adanya tanam paksa ini dengan sekali pikul Jawa merupakan kekuatan dunia di lapangan ekonomi eropa cuma di tangan belanda (Pramoedya ananta Toer, panggil aku kartini saja)

kemudian serangkaian keberuntungan pun terjadi, dibukanya terusan suez di koloni Inggris membuat tanjung priok menjadi pelabuhan samudra (1877), pada tahun 1864 dibangun jalur kereta api melintas tanah jawa, pada tahun 1866 ditemukan tambang minyak bumi yang kemudian di susul dengan penemuan urat timah di belitung.

tapi bagi rakyat pribumi.. yang ada adalah:

Perbudakan yang telah dihapus oleh Raffles secara resmi, dalam situasi baru dihidupkan kembali. cultuurstelsel yang indah tanpa mengandung paksaan untuk menanam akhirnya justru menjadi tanam paksa. petani-petani jawa sampai tak sempat garap lahannya sendiri. tapi pajak tetap harus dibayar. kemiskinan akibat peperangan kini semakin menjadi. kalau dahulu orang menderita buat perjuangan sekarang orang menderita tanpa sesuatu manfaat bagi dirinya sendiri (pram, panggila aku kartini saja)

keja..kerja! beras harus ada buat pelawan lapar.. kopi harus ada buat lapar yang lain lagi, yang bernama perdagangan eropa.. (multatuli, wijs mij de plaat waar ik gezaard heb)

selama mengamuknya tanam paksa, lebih dari seperempat penduduk pulau jawa dipaksa meninggalkan kampungnya dan bekerja pada kebun-kebun pemerintah, selama itu, mereka harus cari makan sendiri. ini mengakibatkan berhektar-hektar sawah terbengkalai dan mati. tanpa hasil bumi, pun rakyat masih dipaksa untuk bayar pajak. kegagalan panen ini mengakibatkan bencana kelaparan yang parah. sebagai gambaran, di kabupaten demak, penduduk yang tadinya berjumlah 336.000 tersisa 120.000 orang, tewas 216.000 lebih dari setengah! di grobokan, penduduk yang tadinya 98.000 tersisa 9.000 atau tewas 89.000 orang!

dalam pidato pembelaannya di depan pengadilan, Soekarno mengatakan:
'Lelaki, perempuan, anak-anak sekarang digiring untuk mengolah ladang-ladang itu. kerap kali terjadi bahwa perempuan-perempuan yang hamil melahirkan anak waktu bekerja keras...'
'penulis (vitalis) itu juga melihat di tanah priangan orang-orang kelaparan seperti berangka kurusnya terhuyung-huyung sepanjang jalan. beberapa orang begitu letih, sehingga mereka tidak bisa makan makanan yang diberikan kepada mereka sebagai persekot; mereka meninggal..'
'pukulan dengan pentung dan labrakan dengan cambuk terjadi sehari-hari dan di banyak ladang nila biasa saja orang melihat tiang-tiang untuk menyiksa orang...'[/i]

MadinaSyarif
Posts: 146
Joined: Thu Feb 08, 2007 8:14 pm

Post by MadinaSyarif »

GOLONGAN LIBERAL

Dalam babak yang paling gelap sepanjang sejarah penjajahan bangsa Indonesia ini, yang menjadi penyambung nafas adalah golongan rohani. golongan rohani islam, yang gak sibuk menjilat bangsawan yang sibuk menjilat pemerintah Hindia, tersaruk-saruk membuka sekolah-surau, golongan rohani nasrani juga mendirikan sekolah-sekolah nasrani pertama di Indonesia. kemanusiaan yang saat itu koma, masih dapat berdenyut lemah. golongan rohani islam secara tidak langsung memunculkan pemberontakan-pemberontakan kecil yang tidak berarti, namun berdirinya lembaga-lembaga pendidikan yang disponsori golongan rohani nasrani (yang sebetulnya di sponsori juga oleh pemerintah Hindia) secara tidak langsung memunculkan sesuatu yang sebetulnya menjadi tandingannya...kaum liberal!

ada 3 tokoh paling terkenal dari golongan liberal yaitu Eduard Douwes Dekker (multatuli) di lapangan sastra, ESW Roorda van Eisinga (Senot) di lapangan jurnalistik, dan Dr. Ds Baron van Hoevel di lapangan politik. golongan liberal inilah yang akhirnya membuka rahasia kecil Kerajaan Belanda. parahnya bencana kelaparan di Hindia Belanda langsung menjadi sorotan Internasional.

Kerajaan Belanda mulai mendapat tekanan

MadinaSyarif
Posts: 146
Joined: Thu Feb 08, 2007 8:14 pm

Post by MadinaSyarif »

PANDITA RAMABAI MELAWAN ADATNYA

pada awal 1900-an, di eropa terjadi persaingan yang tidak sehat yang pada akhirnya nanti akan menjadi pemicu tidak langsung PD I.

sementara itu di jajahan Inggris, India, muncul perempuan yang bernama Pandita Ramabai. perempuan yang murtad dari hindu dan menjadi Nasrani (kemungkinan besar Protestan, tapi saya belum punya catatan pastinya) dengan berani menantang adatnya yang begitu menyengsarakan kaum perempuan. ia membuat otobiografi berjudul Kesusilaan untuk Wanita, pergi ke amerika untuk memberi kuliah dan balik lagi ke India mendirikan sekolah untuk kaum perempuan khususnya para janda anak-anak. pada waktu itu di India ada kira-kira 23 juta janda anak-anak dan rubuan diantaranya berumur dibawah 4 tahun!!!! sebagian telah kawin sejak usia 1 tahun!!!

dunia internasional berdecak kagum dengan segala sepak terjang wanita india ini. laporan mendetil tentang perkembangan Ramabai ditulis oleh media masa. kerajaan Inggris dipuji-puji atas 'keberhasilannya' mendidik rakyat pribumi yang '****' dan 'tak berbudaya'

sementara itu Kerajaan Belanda semakin dituding 'tidak melakukan apa-apa'

MadinaSyarif
Posts: 146
Joined: Thu Feb 08, 2007 8:14 pm

Post by MadinaSyarif »

somad wrote: Sdr MadinaSyarif,
Mungkin!
Nampaknya untuk mendapatkannya kita perlu ke Negeri Belanda he he he

Sayang sekali bila dokument-dokument tersebut benar-benar hilang.
Terlepas dari idiologi pram apa Komunnis atau bukan namun, kita perlu belajar dari
pengalaman tersebut bahwa, dengan itu kita telah merusak dokument dokument penting
bangsa kita dan semoga dikemudian hari tidak terulang!

Ok Sdr MadinaSyarif terima kasih atas info anda

Wassalam
sama-sama pak...
kalo saya sih gak gitu perduli mau orang itu komunis, atheis, melankolis, sanguinis... yah gak usah baca buku seperti anak kecil, langsung kepengaruuuuuh...tapi di buku-bukunya pram perasaan gak ada yang aneh-aneh deh... kalo gak salah menurut surat terbukanya pram, dia ngaku ada hubungan sama pki waktu itu soalnya ada yang bilang sama dia: kalo mau selamat bilang aja iya...
trus waktu diinterogasi dia ditanya, anda pki kan?
di jawab iya...
tapi emang sih dia salah satu orang penting di LEKRA

btw, dah baca tetraloginya pram (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), bagus sekali. menceritakan awal pergerakan kemerdekaan indonesia... tapi denger-denger juga sebetulnya boigrafinya RM Tirto Adi Suryo yang mendirikan surat kabar pertama di Indonesia...

MadinaSyarif
Posts: 146
Joined: Thu Feb 08, 2007 8:14 pm

Post by MadinaSyarif »

WILHELMINA NAIK TAHTA

Naik tahtanya Wilhelmina..membuat peta politik Kerajaan Belanda berubah. Sekarang kerajaan dipimpin oleh seorang anak muda (Wilhelmina naik tahta ketika berusia 10 tahun dan penuh memegang kekuasaan ketika berusia 18 tahun) yang tentu saja memberi keleluasaan lebih bagi gerakan-gerakan liberal dan ide-ide baru.
salah satu move politik yang dilakukan ratu Wilhelmina untuk memperbaiki nama baik belanda saat itu adalah dengan menarik simpati rakyat Hindia kepadanya

Salah satu cara yang digunakan kerajaan Belanda adalah dengan melakukan pertemanan kepada golongan aristokrat yang yang perduli pada nasib bangsanya sendiri. salah satu orang dari golongan ini adalah bupati Jepara RMA Sosroningrat, ayahnya kartini. kakek kartini, Pangeran AA Tjondronegoro adalah bupati pertama yang membuka pintu rumahnya bagi pembaharuan. semua putera-puteranya diberikan pendidikan, dan pendidikan ini yang terus di pesankan sampai akhir hayatnya

'anak-anak, tanpa pengajaran kelak tuan-tuan akan makin memundurkan keturunan kita; ingat-ingat kata-kataku ini (PAA Djayadiningrat, Herinneringen)

RMA Sosroningrat, ayah kartini, pada gilirannya melakukan sesuatu yang lebih 'songong' dan melawan adat daripada bapaknya, memberikan pendidikan untuk puteri-pterinya (ia mempunyai 11 anak, red) lalu kembali melawan adat dengan melepaskan puteri-puterinya dari kungkungan pingitan pada tahun 1896. jadi kartini memang sempat dipingit selama empat tahun, kemudian mendapatkan kebebasannya kembali.

ayah kartini juga pernah mengirim nota kepada pemerintah Hindia Belanda yang berisi protes atas diskriminasi pendidikan.

Pada tanggal 8 agustus 1900 dalam perjalanan dinasnya sebagai Direktur Pengajaran dan Ibadah, Abendanon menemui bupati Jepara dan berkenalan dengan kartini. atau mungkin juga kedatangan abendanon ke Jepara memang juga ingin menemui kartini yang saat itu sudah terkenal sebagai penulis artikel dan cerpen. karya Kartini yang pertama ditulinya pada saat usianya baru berusia 12 tahun berjudul Het Huwelijk bij de Kodja's, sebuah artikel mengenai adat perkawinan koja di Jepara diterbitkan dalam Bijdragen tot de taalland-en volkenkunde van ned-indie.
perkenalan ini kemudian dilanjutkan dengan surat-menyurat yang terus berlangsung selama empat tahun sampai kartini wafat

MadinaSyarif
Posts: 146
Joined: Thu Feb 08, 2007 8:14 pm

Post by MadinaSyarif »

Trully_78 wrote:KARTINI = Ingin Derajat Wanita Sama dengan Pria
ISLAM = Menganggap Wanita Lebih Rendah Derajatnya daripada Pria

KARTINI = Tidak Nyambung = ISLAM :roll:

MadinaSyarif=ISLAM=Setuju Wanita Dianggap Tidak Sederajat dengan Pria
MadinaSyarif=Setuju Kalau Papanya Kawin Lagi Sampe 4x Sesuai Sunnah Rasul :D
MadinaSyarif=Sekolah Tinggi2 Tapi Harus Ingat Kalau dalam Islam Wanita Hanya di Rumah
MadinaSyarif=Sebagai Muslimah Sejati Harus Pake Burqa dan Siap Di-POLIGAMI.
:lol:
????????????
makasih sudah ikut berpendapat...
saya setuju wanita tidak sederajat dengan pria??????????????? apa saya terlihat seperti itu???????
aku masih belum punya pendapat apa-apa mengenai poligami, tapi papaku anti poligami loh....
oooiy... mamaku kerja tuh, dan mamaku pendidikannya lebih tinggi loh dari papa... papaku D3 mamaku S2...
emangnya saya tinggal di afganistan... lagian saya termasuk golongan islam yang menerima jilbab adalah anjuran, bukan perintah...

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

MadinaSyarif wrote:aku masih belum punya pendapat apa-apa mengenai poligami, tapi papaku anti poligami loh....
Oh, jangan2 papamu MURTAD dalam hati ! Persis KARTINI !
lagian saya termasuk golongan islam yang menerima jilbab adalah anjuran, bukan perintah...
Yakinlah nak bahwa tokoh macam Kartini tidak akan diimingi2 dgn sepotong kain di kepala utk menunjukkan kwalitas jiwa dan harga dirinya. Cuma orang yg kurang PD saja yg merasa memerlukannya.

User avatar
mr. Hercule Poirot
Posts: 457
Joined: Fri May 18, 2007 2:56 pm
Location: DKI Jakarta

Post by mr. Hercule Poirot »

kalo gue lebih tertarik sama persahabat segitiga mereka...
Abendanon (politikus-nasrani)--Kartini (Seniman-islam)--stella (Sosialis-yahudi)
seru ya...

User avatar
mr. Hercule Poirot
Posts: 457
Joined: Fri May 18, 2007 2:56 pm
Location: DKI Jakarta

Post by mr. Hercule Poirot »

ali5196 wrote: Oh, jangan2 papamu MURTAD dalam hati ! Persis KARTINI !

.
ra kartini ngapain murtad dalam hati? murtad aja dia gak masalah kok, keluarganya udah ngasih lampu hijau dan emang beliau udah pernam bener-bener mau murtad dan menjadi biarawati, tapi dinasehatin sama stella untuk coba enggak mengambil keputusan terlalu terburu-buru...pas mikir-mikir lagi (banyak sekali mikir), akhirnya beliau memutuskan untuk tidak jadi murtad...jadi kalo beliau mau murtad,sebenernya gak masalah. tapi gak...kenyataanya beliau gak murtad.

kartini itu gak selugu yang tuan kira ali, gitu juga MadinaSyarif... iya kan madina :wink:

User avatar
telor
Posts: 1078
Joined: Sat Oct 22, 2005 1:51 pm

Post by telor »

Dari : kompas.com
kompas.com wrote:50 Tahun Setelah KAA di Bandung
"Kita Belum Saling Mengenal dengan Baik"


TANYAKAN kepada Prof Hassaniah Drissi-Chalby dari Maroko, apakah selama ini sudah terjalin solidaritas antarperempuan di Asia-Afrika. Jawabannya tegas, "Belum."

HASSANIAH, profesor di bidang sosial- ekonomi dari sebuah universitas di Afrika Utara, mengenal gerakan-gerakan perempuan dari Arab, bahkan dengan dunia Arab yang paling dekat dengan Asia, yakni Timur Tengah, dan negara-negara bekas jajahan yang berbahasa Perancis. Akan tetapi, ia mengaku tidak mengenal dengan baik gerakan-gerakan perempuan di Asia.

"Kami para perempuan Afrika mempunyai Piagam Bersama, yang isinya secara esensial adalah kesetaraan hak perempuan dan laki-laki di setiap negara di seluruh Benua Afrika. Kami berkolaborasi untuk mencapai perdamaian dalam arti luas," ujar Hassaniah, yang ditemui saat bersantai di tempatnya menginap di sebuah rumah di kawasan Kaliurang, Yogyakarta.

Hassaniah berada di Indonesia selama lebih kurang seminggu untuk mengikuti pertemuan dengan para ilmuwan-aktivis dari Asia (termasuk Jepang), Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, dan membagi waktunya di Yogyakarta dan kemudian Bandung untuk menemui delegasi resmi negara-negara Asia-Afrika yang mengadakan pertemuan resmi untuk memperingati 50 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Jakarta dan Bandung pada tanggal 21-24 April 2005.

Mereka bersama-sama akan memberikan pandangan mereka tentang perayaan 50 tahun KAA, yang terangkum dalam sebuah buku berjudul Bandung 2005, Rethinking Solidarity in Global Society: The Challenge of Globalisastion for Sosial and Solidarity Movements, 50 Years After Bandung Asia-Afrika Conference.

"Sejak terbentuk Gerakan Nonblok, tidak ada gerakan perempuan di Asia-Afrika yang menjalin kerja sama. Semuanya berjalan sendiri-sendiri," ujar Hassaniah.

Persoalan perempuan di Asia-Afrika sangat kompleks karena menghadapi berbagai persoalan politik, ekonomi, sosial, dan budaya, yang meskipun tidak bisa dilepaskan dari persoalan global, dimensi di dalam negeri yang memengaruhi posisi perempuan di setiap negara terasa sangat kental.

Dalam konteks global, solidaritas itu lebih terasa, khususnya dalam isu-isu besar dan khusus; mengenai kekerasan terhadap perempuan. "Untuk menjalin kerja sama, tampaknya kita harus saling mengenal dengan baik. Kita memiliki dasar yang bisa dijadikan pegangan, yakni pengalaman perempuan," kata Hassaniah.

Menurut dia, masalah perempuan di Asia dan Afrika sebenarnya tak jauh berbeda. "Kita diharapkan sudah keluar dari konteks agama dan masuk ke konteks politik dan ekonomi," ia menyambung.

PADA kenyataannya, nilai budaya yang berpilin dan berkelindan dengan nilai-nilai agama membuat banyak persoalan mengenai perempuan belum juga selesai. Ia mengambil contoh di negerinya, Maroko, yang parlemennya baru saja mengesahkan Undang-Undang Keluarga yang baru pada bulan Februari tahun lalu. UU yang diusulkan pada bulan November tahun 2003 itu berhasil digolkan berkat intervensi Raja Maroko Mohamed VI.

"Undang-undang ini sudah banyak kemajuannya dibandingkan dengan yang lama," kata Hassaniah, yang menjadi teman feminis Maroko, Fatima Mernissi, ketika mereka duduk di sekolah lanjutan tingkat atas.

Kemajuannya itu, antara lain, menghambat laki-laki menceraikan istrinya sesuka hati. "Sekarang pengadilan yang memutuskan," katanya. Di Maroko dan Tunisia, perempuan dapat menggugat cerai laki-laki, tetapi di negara Maghrib yang lain (Aljazair, Libya, dan Mauritania) tidak diperbolehkan.

Hal kedua yang dianggap cukup maju adalah tanggung jawab rumah tangga yang dalam UU itu ditanggung bersama oleh suami dan istri. "Kepala keluarga tetap suami, tetapi istri juga mempunyai tanggung jawab dan suara," lanjut Hassaniah.

Sebelumnya, otoritas suami sangat kuat. Untuk mendapat paspor dan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, seorang istri harus mendapat izin dari suami.

Otoritas suami sebagai "pemilik" istrinya juga sangat kuat sebelumnya meskipun mereka memiliki hak-hak politik yang setara. "Kalau sang istri menjadi anggota DPR, dan suami tidak suka, ia berhak untuk memanggil istrinya ke luar ruang sidang sekalipun sang istri sedang berpidato. Dengan UU yang baru, hal itu tidak terjadi lagi," ujar Hassaniah.

UU Keluarga yang baru itu juga memuat klausul tentang poligami, yang menyatakan, suami hanya boleh mengambil istri lagi dengan persetujuan istri pertama. "Sebelumnya laki- laki bisa melakukan apa saja, termasuk menikah lagi tanpa persetujuan istri pertama," lanjut ibu tiga anak ini.

Dibandingkan dengan Tunisia, UU Keluarga di Maroko masih berada di belakang. Akan tetapi, seperti dikemukakan Hassaniah, setiap negara memiliki dinamikanya sendiri. Ada beberapa hal dalam UU baru itu yang tetap mengacu pada Al Quran secara tekstual, seperti hukum waris, yang tetap memberikan kepada anak perempuan separuh dari hak untuk anak laki-laki.

"Semua negara Arab juga menandatangani Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan(C>small 2small0<), tetapi dengan reservasi, khususnya pada bagian-bagian yang erat kaitannya dengan hukum agama," katanya.

Namun, pada dasarnya, menurut Hassaniah, gerakan perempuan di negara-negara Arab juga mengadopsi hak-hak perempuan, seperti yang dipromosikan dalam Dasawarsa Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perempuan tahun 1976-1985 setelah Konferensi PBB untuk Perempuan I di Meksiko tahun 1975. Yang berperan bukan hanya perempuan, tetapi juga laki-laki yang memiliki pandangan terbuka dan pemikiran bahwa perempuan adalah manusia yang utuh, bukan separuh.

Dinamika gerakan perempuan di Maroko menarik dicermati. Kata Hassaniah, situasi politik sangat menentukan bagaimana perempuan diposisikan. Pada tahun 1998-1999, ahli ekonomi dan ahli kebudayaan Arab yang juga seorang feminis melakukan kajian mengenai perempuan. Hasil kajian itu oleh kelompok perempuan demokrat diajukan ke parlemen sebagai dasar gerakan.

Parlemen tampaknya tidak sependapat. Menteri Urusan Perempuan yang dijabat oleh laki-laki feminis saat itu langsung dilemahkan dengan cara kementeriannya tidak diberi anggaran lagi. "Setelah itu sang menteri digantikan oleh perempuan, dan nama kementeriannya diubah menjadi Kementerian untuk Penyandang Cacat…, dan di bagian paling belakang baru ada kata ’keluarga’. Kata ’perempuan’ dihilangkan sama sekali," ujar Hassaniah.

Di tiga negara Maghrib lainnya-kecuali Tunisia-kata Hassaniah, kecenderungannya adalah mengangkat "keluarga" bukan perempuan. Identitas perempuan kembali dikentalkan di dalam keluarga.

IDENTITAS perempuan di Arab, seperti juga di negara berkembang lainnya, juga semakin terpecah karena persoalan ekonomi. Bagi dia, organisasi seperti Kerja Sama Baru untuk Pembangunan Afrika(N>small 2small0<) tidak lebih dari mesin neoliberalisme. Di dalam sistem itu posisi perempuan akan semakin terpinggirkan.

Dia juga mengingatkan istilah-istilah seperti "partnership" dan "development" kalau tidak dicermati dengan hati-hati, akan lebih merupakan jebakan karena semua yang strateginya lebih dimaksudkan untuk mendorong kebebasan pasar dan modal.

Gerakan perempuan Asia dan Afrika, menurut dia, harus didasarkan pada solidaritas untuk menciptakan globalisasi yang lebih ramah dan memiliki keberpihakan terhadap kelompok yang lemah dan terpinggirkan.

Bagian terakhir dari perbincangan dengan Hassaniah senada dengan pandangan Prof Kaarina Kailo dari Universitas Toronto di Kanada. Ia tidak hadir dalam seminar sehari yang membahas buku itu, tetapi ia memberikan pandangannya dalam kompilasi buku tersebut.

Kaarina Kailo menyerukan agar tindakan menjaga, memelihara, dan merawat, yang sebagian besar dilakukan oleh perempuan, tidak lagi dianggap sebagai "sudah seharusnya" sehingga dipandang sebagai sesuatu yang dipaksakan karena tidak mengakumulasikan kekayaan materi.

Gerakan sosial yang didasari oleh tindakan perempuan itu harus dilihat sebagai sesuatu yang bersifat spiritual, yang disatukan dengan cinta, bukan dengan hukum yang harus dipatuhi dengan sanksi.

Ia merasakan kebutuhan yang kuat untuk menyatukan solidaritas ekonomi dengan spiritual, atau kebijakan psikologis dengan praktik-praktiknya, paling tidak di antara kaum perempuan. Pandangan Kaarina Kailo disetuji tanpa kritik yang berarti oleh Dr Musdah Mulia dari Indonesia, yang menanggapi tulisan itu.

Namun, tidak semua anggota masyarakat menerima terminologi yang dianggap berasal dari Barat, khususnya para pemuka agama. Dalam perbincangan dengan Prof Parichart Suwanbubbha dari Universitas Mahidol, Thailand, dikatakan, di Thailand segala usulan atau gagasan yang diembel-embeli kata "feminisme" akan dengan segera ditolak.

"Saya pernah dengan tegas menyebutkan kata ’feminisme’ di depan para pendeta Buddha, mereka dengan tegas menolak. Kata mereka, agama Buddha tidak mengenal istilah itu, dan mengatakan, dalam teks kitab suci sudah diatur mengenai kesetaraan perempuan dan laki-laki," ujarnya.

"Saya pun kemudian mencoba memasukkan gagasan-gagasan yang progresif mengenai perempuan dengan menggunakan prinsip-prinsip Buddhisme. Mereka langsung menerima. Di luar saya menyebutnya ’jalan tengah Buddhis-feminis’. Di depan para pemuka agama, saya sama sekali tidak menyebut istilah itu," lanjut Parichart.

Empat prinsip Buddhisme yang digunakan untuk menjelaskan rasa keadilan perempuan adalah kesetaraan, kesalingterkaitan, kebaikan yang tulus, dan kebijakan.


Ia juga mengingatkan prinsip-prinsip perdamaian yang harus dipegang dalam menggalang solidaritas, khususnya antarperempuan. Namun, dia mengingatkan, perdamaian hanya bisa dicapai kalau ada keadilan dan kebijakan. Pendidikan untuk perdamaian harus bersamaan dengan pendidikan untuk keadilan. Keadilan, bagi Parichart, adalah menghindari "tujuh dosa" menurut Gandhi.

Ketujuhnya adalah politik tanpa prinsip, kesenangan tanpa kesadaran, kekayaan tanpa bekerja, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan tanpa moral, pengetahuan tanpa kemanusiaan, dan pemujaan tanpa pengorbanan. (maria h)


Yang gue gedein, apa mungkin muslim dapat memperlakukan wanita seperti itu?

User avatar
islam_watcher
Posts: 1517
Joined: Sun Oct 21, 2007 2:16 pm

Post by islam_watcher »

@atas
kalo islam memang benar2 memperlakukan wanita setara dgn pria, kenapa negara islam arab yg sudah ribuan tahun menganut ideologi islam malah mengkelasduakan warganya yang wanita? hak wanita utk punya Surat Ijin Mengemudi (SIM) aja dilarang, begitukah islam yang katanya agama sempurna?

ini pertanyaan yg sangat sederhana, coba bagi yg muslim tanyakan ke ulama2 kalian

User avatar
telor
Posts: 1078
Joined: Sat Oct 22, 2005 1:51 pm

Post by telor »

islam_watcher wrote:@atas
kalo islam memang benar2 memperlakukan wanita setara dgn pria, kenapa negara islam arab yg sudah ribuan tahun menganut ideologi islam malah mengkelasduakan warganya yang wanita? hak wanita utk punya Surat Ijin Mengemudi (SIM) aja dilarang, begitukah islam yang katanya agama sempurna?

ini pertanyaan yg sangat sederhana, coba bagi yg muslim tanyakan ke ulama2 kalian

masalahnya para ulama juga bingung mau jawab apa hehe :p

freedom warriors
Posts: 43
Joined: Fri May 22, 2009 4:27 pm

Re: RA KARTINI & ISLAM. PENTING !!

Post by freedom warriors »

wong islam ndi dikasih fakta malah muter2........ :rolleyes:

jadilah_Bijaksana
Posts: 148
Joined: Sat Oct 17, 2009 9:31 pm

Re:

Post by jadilah_Bijaksana »

moe wrote:muslim...
where are you?
....
......
..........silent of the lamb
silent of the lamb, bukankah tokoh utamanya seorang wanita yang di masa kecilnya seharusnya dia tidak kabur dari rumah dan menyelamatkan domba yang akan disembelih orang tuanya?, dan dia mengulangi perbuatannya dengan membiarkan seorang musuh lolos ketika dia menjadi FBI.

kembali ke topik, Kartini CS seharusnya menjadi orang yang bertanggung jawab atas "penyiksaan terselubung" kaum wanita di perkantoran, dan Instansi Militer.

wanita yang tidak memiliki Naluri mencari nafkah dipaksakan dan dibujuk rayu untuk mendapatkan goal dalam karirnya, sebenarnya bathinnya tersiksa. yang kemudian memunculkan berbagai penyakit masyarakat seperti:

1. Anak Tidak diketahui dididik oleh siapa dan ditanamkan visi misi oleh siapa, adapun Baby sister perhatian dan cinta kasihnya tidak seperti seorang ibu.
2. Banyak anak tomboy, merasa bahwa jiwanya adalah lelaki, karena dibesarkan oleh ayahnya dan tidak tertarik kepada lelaki.
3. banyaknya gejala kejiwaan Lesbian, Dominatrix dan submisive sex, karena usaha untuk mengimbangi penderitaan bathin wanita tersebut.
4. banyaknya tingkat kematian Ibu dan anak, disebabkan otot di sekitar vagina ibu terlalu kuat, sehingga harus dioperasi cesar.
5. banyaknya wanita yang tidak ingin menikah dan memiliki anak, karena masalah mengejar karir.
6. Banyaknya pemerkosaan, karena kebanyakan wanita karir yang kerja lembur harus melewati lorong dan jalan gelap bahkan melewati segerombolan para pemabuk yang sedang nongkrong di jalanan pada malam hari

siauhiji
Posts: 94
Joined: Thu Sep 24, 2009 2:46 pm

Re: Re:

Post by siauhiji »

jadilah_Bijaksana wrote: wanita yang tidak memiliki Naluri mencari nafkah dipaksakan dan dibujuk rayu untuk mendapatkan goal dalam karirnya, sebenarnya bathinnya tersiksa. yang kemudian memunculkan berbagai penyakit masyarakat seperti:
Ngarang dari mana pak? Istri pertamanya nabi you itu apa pak? Saudagar kaya itu pak, kaya dari mana, dari langit?
1. Anak Tidak diketahui dididik oleh siapa dan ditanamkan visi misi oleh siapa, adapun Baby sister perhatian dan cinta kasihnya tidak seperti seorang ibu.
Banyak babysitter yg lebih keibuan daripada ibu benerannya pak. Dan para ibu juga bukan 100% melalaikan anaknya, sementara kehidupan sosial ekonomi jaman sekarang banyak membuat pasangan harus kerja 2-2nya untuk mencukupi kebutuhan. Yang you bilang itu cuma kasus, you kira keluarga muslim gak ada kasus anak kurang perhatian orang tua?
2. Banyak anak tomboy, merasa bahwa jiwanya adalah lelaki, karena dibesarkan oleh ayahnya dan tidak tertarik kepada lelaki.
3. banyaknya gejala kejiwaan Lesbian, Dominatrix dan submisive sex, karena usaha untuk mengimbangi penderitaan bathin wanita tersebut.
Ah asbun. Saya punya temen cewe yg sama bapaknya diajarin mukulin orang2an kayu kaya di film Ip Man itu, tetep feminin tuh, dan udah nikah sama lelaki tuh. Lagian apa hubungannya wanita karir dan anak dibesarkan lelaki? Emang kalo wanita karir trus lelakinya pasti jadi pria rumah tangga?
Dan darimana sih situ ngarang2 sex2 itu? Keseringan jalan2 di tempat download bokep ya? Ngemeng aja you. Ada berapa wanita bebas yg jadi seperti yg you bilang itu, hah? Atau cuma fantasi you aja buat ngocok.
4. banyaknya tingkat kematian Ibu dan anak, disebabkan otot di sekitar vagina ibu terlalu kuat, sehingga harus dioperasi cesar.
ah you itu jangan lupa ngasih statistik, ngemeng aja. emang wanita2 Bali, sebagai contoh, yg kerjanya jelas2 fisik, itu semua pada harus cesar? omong pake fakta, jangan pake wangsit.
5. banyaknya wanita yang tidak ingin menikah dan memiliki anak, karena masalah mengejar karir.
Bagus kan, wanita punya pilihan. Kecuali you, seperti islam yg you bangga2kan, gak suka wanita punya pilihan.
6. Banyaknya pemerkosaan, karena kebanyakan wanita karir yang kerja lembur harus melewati lorong dan jalan gelap bahkan melewati segerombolan para pemabuk yang sedang nongkrong di jalanan pada malam hari[/justify]
Islam tulen you ini, kalau wanita diperkosa kesalahan ada pada wanita. Kaya gini ini yg dipake buat nipu muslimah2 kalau kehidupan islami mereka lebih baik dari kapir, kehidupan tanpa pilihan dan apapun malapetaka yg terjadi itu adalah salahnya wanita sendiri.

Post Reply