RA KARTINI & ISLAM. PENTING !!

Seluk beluk ttg hak/kewajiban wanita, pernikahan, waris, bentuk2 pelecehan hak2 wanita dlm Islam dll.

Anda pernah membaca surat2 atau buku RA Kartini ?

sudah
19
25%
belum, bukunya ada cuma saya malas baca
6
8%
belum, bukunya tidak tersedia secara umum
44
59%
belum, bukunya ada tapi dlm bahasa asing
0
No votes
belum karena tidak perlu
6
8%
 
Total votes: 75

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

RA KARTINI & ISLAM. PENTING !!

Post by ali5196 »

SELAMAT HARI KARTINI 21 APRIL 2007 ! Mari kita diingatkan sejenak akan kutipan2 Ibu Kartini dalam surat2nya.

Dari "Letters of a Javanese Princess", dgn pendahuluan dr Eleanor Roosevelt dan di-edit oleh Hildred Geertz. Terbitan: the Norton Library, NY, 1964.

Diterjemahkan dari bahasa Inggris (aslinya bahasa Belanda):

RA KARTINI dan pandangannya terhdp ISLAM

hal 44, Surat kpd Stella Zeehandelaar, Nov 1899:

Saya tidak dpt menjelaskan apapun kpdmu ttg Hukum Islam, Stella. Pengikut agama ini dilarang utk membicarakannya dgn mereka yg beragama lain. Dan, jujurnya, saya menjadi Muslim hanya karena nenek moyang saya. Bagaimana saya dpt mencintai sebuah doktrin yg saya tidak tahu - dan tidak pernah akan tahu ?

Quran terlalu suci utk diterjemahkan dlm bahasa lain manapun. Disini tidak ada yg bicara bhs Arab. Memang adat disini adalah membaca Quran; tetapi apa yg dibaca tidak ada yg mengerti ! Bagi saya aneh (silly) memang kalau kita diwajibkan membaca sesuatu tanpa bisa mengertinya. Ini spt saya dipaksa membaca buku dlm bhs Inggris, dan seluruhnya melewati otak saya tanpa saya bisa mengerti satu patah kata pun. Jika saya ingin mengetahui dan mengertinya, saya harus ke Arabia dulu utk belajar bahasa. Namun demikian, orang bisa saja baik tanpa menjadi religius. Betulkah itu, Stella ?

...

Ya Tuhan ! Kadang saya merasa lebih baik kalau tidak ada agama, karena apa yg seharusnya menyatukan umat manusia kedalam satu persaudaraan akhirnya dari jaman ke jamanm hanyalah menjadi sumber pertempuran, ketidakcocokan dan pertumpahan darah.

...Kadang saya tanya pd diri sendiri: apakah agama memang rahmat bagi umat manusia ?


hal 81, Surat kpd Stella ttg perkawinan, Agustus 1900
Dlm dunia Islam, persetujuan, ya, bahkan kehadiran wanita itu tidak perlu dlm perkawinan. Ayah bisa saja suatu waktu pulang dan mengatakan kpd saya, "Kau sdh dikawinkan dgn si ini atau si itu." Saya kemudian harus mengikuti suami saya. Benar, saya bisa menolak, tetapi itu memberikannya hak utk mengekang saya kpdnya seumur hidup saya tanpa perlu mendekati saya. Saya isternya dan walau saya tidak mematuhinya, dan jika ia tidak menceraikan saya, saya tetap terikat padanya selama2nya, sementara ia bebas melakukan apa saja. Ia bisa menikahi wanita sebanyak yg ia inginkan tanpa perlu mengkhawatirkan saya. Jika Ayah akan mengawinkan saya dgn cara ini, maka saya harus mencari jalan keluar. Namun Ayah tidak pernah akan melakukan ini.

... Memang untungnya tidak setiap Muslim memiliki 4 isteri atau lebih, tetapi setiap isteri tahu bahwa ia bukanlah satu2nya, dan setiap harinya suaminya bisa membawa pulang isteri baru, yg haknya sama dgn isteri pertama. Menurut Hukum Islam, wanita baru itu juga isterinya. Di wilayah2 yg diperintah langsung (oleh Belanda), nasib wanita2 tidak separah saudara2 mereka di daerah2 yg diperintah kesultanan, spt di Surakarta dan Jogjakarta. Disini wanita sudah untung kalau suaminya memiliki 1, 2 atau 3 atau 4 isteri. Didaerah2 kesultanan ini, wanita2 disitu akan menertawakannya. Sulit menemukan lelaki dgn 1 isteri. Diantara kaum aristokrat, khususnya dlm lingkungan sultan, para suami biiasanya memiliki 26 isteri.

Apakah kondisi ini akan berlanjut, Stella ?

Bangsa kami begitu terbiasa dgn adat ini dan menganggap cara dimadu lelaki ini sbg satu2nya cara bagi wanita utk memenuhi kebutuhannya. Tetapi saya tahu dr wanita2 yg saya kenal, dlm hati mereka, mereka mengutuk hak2 lelaki ini, Tetapi kutukan tidak ada gunanya; sesuatu harus dilakukan.

... Ya, Stella, saya juga tahu bahwa di Eropa keadaan moralitas lelaki juga tragis ... tetapi ibu2 muda disana bisa berbuat lebih banyak ...

Saya ingin sekali mendapatkan anak2, lelaki atau perempuan ... Tetapi yg paling penting saya tidak pernah akan melanjutakan adat menyedihkan dimana anak lelaki lebih diprioritaskan drpd anak perempuan... Bahkan sejak kecil, lelaki diajarkan utk merendahkan wanita. Sering saya mendengar ibu2 mengatakan kpd anak2 lelaki merkea kalau mereka jatuh dan menangis: "Jangan cengeng spt perempuan!"

... Dan lalu saya akan mencabut pagar pemisah antara kedua jenis kelamin ini... Saya tidak percaya bahwa lelaki2 terdidik dan beradab akan menghindari wanita yg sederajad pendidikannya, dan lebih menginginkan wanita tidak bersusila. Walaupun banyak lelaki mencari wanita2 terdidik, banyak juga lelaki yg tidak memiliki interes sedikitpun dlm perempuan selain alasan sex. Nah, segalanya ini akan hilang jika lelaki dan wanita dpt bercampur sejak anak2.

hal 138 Surat kpd Ny Abendanon-Mandiri, Nov 1901
Ide utk menerbitkan buku ttg segala pemikiran dan perasaan saya ttg kondisi wanita Muslim kami, sudah ada sejak lama. Saya ingin menuliskannya dlm buku, dlm bentuk 2 puteri regent-satu Sunda, satu Jawa. Saya sudah menulis sejumlah surat, tetapi saya akan menundanya dulu. ... Kesulitannya adalah bahwa Ayah tidak akan mengijinkan saya menerbitkan buku macam itu. "Bagus kalau kamu pandai menulis dlm bhs Belanda," kata Ayah, " tetapi itu bukan alasan utk membongkar pemikiranmu yg paling mendalam."

Jadi, kami perempuan tidak boleh memiliki pemikiran, kami harus berpikir bahwa semuanya baik, dan mengatakan "ya" dan "amin" kpd apapun.

... Kapan datang waktunya dimana wanita dan laki2 bisa memandang satu sama lain sbg manusia sederajad, sbg kameraad ? Sekarang ini-bah! betapa rendahnya derajat wanita !

hal 145, Surat kpd Ny Abendanon, Feb 1902
Saya punya permintaan kpd anda, permintaan sangat penting: jika anda melihat teman anda, Dr Snouck-Hurgronje, tanya dia apakah diantara Muslim, ada hukum mayoritas, spt yg berlaku diantara kalian (org Eropa) ? Saya ingin mengetahui ttg hak2 dan kewajiban isteri dan puteri Muslim. Memang aneh bagi saya utk bertanya ! Ini membuat saya MALU bahwa kami tidak mengetahuinya sendiri. Betapa pahitnya bahwa kami tidak mengetahui apa2.

hal 169, Surat kpd Stella, Mei 1902
Saya mendapat jawaban atas pertanyaan saya ttg kapan gadis Muslim dewasa/akil baliq. Jawabnya, "Gadis Muslim TIDAK PERNAH mencapai akil baliq. Jika ia ingin bebas, ia harus terlebih dahulu menikah dan setelah itu diceraikan." Nah, oleh karena itu kami harus menyatakan diri sendiri akil baliq, dan memaksa dunia utk mengakui kemerdekaan kita.

hal 199, Surat kpd Ny Abendanon, Oktober 12, 1906
Saya dikatakan harus secara sederhana (secara munafik) mengarahkan mata saya kebawah. Saya tidak akan melakukannya (!) Saya akan menatap lelaki, maupun perempuan, langsung kpd matanya, tidak menatap lantai.

hal 208, Surat kpd Nr Abendanon, Des 12, 1902
Bbrp waktu lalu, pekerja kami diselamatkan lewat mukjizat. 11 rumah sekelilingnya terbakar, tetapi rumahnya selamat. Seluruh desa mendatanginya utk melihat ilmu atau jimat apa yg digunakannya. Tidak, katanya, ia tidak memiliki Jimat atau ilmu apa2, hanya "Gusti Allah" yg menyelamatkannya utk tujuanNya. Sehari setelah itu, ia datang kpd kami dan, aneh!, ia mengucapkan terima kasih kpd kami karena rumahnya selamat. Ia bersikeras bahwa kekuatan sembahyang kami-laH yg menyelamatkan rumahnya dr malapetaka. Betapa mengharukan kepercayaan orang yg naif dan lugu itu.

Saya tanya pd diri sendiri, apa hak saya utk mencabut kepercayaannya yg sederhana ini yg membuatnya bahagia ?

... Kami sudah lama berpaling dari agama manapun karena kami melihat begitu banyak dosa yg dibuat atas nama agama...
Last edited by ali5196 on Thu Apr 26, 2007 10:10 pm, edited 4 times in total.

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

Menarik utk dibahas apakah Muslimin Indonesia masih akan mengelu-elukan ibu Kartini setelah membaca surat2nya ini. Seandainya mereka tahu bahwa pahlawan Indonesia sendiri antipati pd Islam.

Brp kira2 % orang Indonesia yg sudah membaca surat2nya ? Mengapa di sekolah2 buku ini tidak dijadikan bacaan wajib ? Di negara manapun semua hal ttg pahlawan mereka (khususnya tulisan mereka) sudah pasti dijadikan bacaan wajib. Kecuali di INDONESTAN !! Orang lebih senang memilih utk ****.
Last edited by ali5196 on Tue Jan 10, 2006 5:07 pm, edited 1 time in total.

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

2 orang mengisi poll : buku2 Kartini ternyata tidak didapatkan secara mudah di toko2. hmmm ... kira2 apa alasannya ? Pemerintah menyembunyikan sesuatu ??

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »


Eureka
Posts: 10
Joined: Wed Sep 28, 2005 11:00 am
Location: NUSANTARA

Post by Eureka »

Beberapa surat Kartini dapat di baca dalam bukunya Pramudya Ananta Toer, judulnya Panggil Aku Kartini Saja. Menarik!

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

KASIH CUPLIKANNYA DONG !

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

Menjelang hari Kartini 21 April, mari kita bangkitkan kembali topik ini !

User avatar
barabaig
Posts: 356
Joined: Wed Sep 21, 2005 2:16 pm
Location: jakarta

Post by barabaig »

ali5196 wrote:2 orang mengisi poll : buku2 Kartini ternyata tidak didapatkan secara mudah di toko2. hmmm ... kira2 apa alasannya ? Pemerintah menyembunyikan sesuatu ??
saya coba pesan online "panggil aku kartini saja" ke virtual bookstore di indo, dibilang out of stock for unknown period.

curious.. curious..

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

betapa pahitnya kenyataan: bahkan puteri ternama Indonesia, pahlawan yg kita peringati setiap tahun ternyata KESAL PADA ISLAM !

Gimana donggg ... emang pahit jadi Muslim :cry: :cry:

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

SELAMAT HARI KARTINI, puteri2 indonesia sejati jangan lupa pakai kebaya & sanggul ... ehh burka dan pedang, maksud gua ...
:lol: :lol: :lol:

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

KITA TERUSKAN SEMANGAT IBU KARTINI:
http://www.seasite.niu.edu/flin/kita_te ... _karti.htm

User avatar
moe
Posts: 618
Joined: Sat Mar 18, 2006 12:46 pm

Post by moe »

muslim...
where are you?
....
......
..........silent of the lamb

User avatar
feodor fathon FF
Posts: 5105
Joined: Thu Feb 23, 2006 2:26 pm
Location: INDONESIA

Post by feodor fathon FF »

ali5196 wrote:Menarik utk dibahas apakah Muslimin Indonesia masih akan mengelu-elukan ibu Kartini setelah membaca surat2nya ini. Seandainya mereka tahu bahwa pahlawan Indonesia sendiri antipati pd Islam.

Brp kira2 % orang Indonesia yg sudah membaca surat2nya ? Mengapa di sekolah2 buku ini tidak dijadikan bacaan wajib ? Di negara manapun semua hal ttg pahlawan mereka (khususnya tulisan mereka) sudah pasti dijadikan bacaan wajib. Kecuali di INDONESTAN !! Orang lebih senang memilih utk ****.
duh mak ... kok sepenggal ..baca donk akhir Kematangan Pemikiran Kartini setelah berbicara dng Ulama dari Arab.

Akhirnya ia (Kartini) mendapat pencerahan bahwa apa yang berlaku di negerinya kala itu sama sekali bukan sesuatu yang Islami ..

kenapa ente gak berani postingin yang itu nya ??... PENGELABUAN LAGI YAH ??...he he model Adadeh Group !! :lol:

User avatar
feodor fathon FF
Posts: 5105
Joined: Thu Feb 23, 2006 2:26 pm
Location: INDONESIA

Post by feodor fathon FF »

ali5196 wrote:Menarik utk dibahas apakah Muslimin Indonesia masih akan mengelu-elukan ibu Kartini setelah membaca surat2nya ini. Seandainya mereka tahu bahwa pahlawan Indonesia sendiri antipati pd Islam.

Brp kira2 % orang Indonesia yg sudah membaca surat2nya ? Mengapa di sekolah2 buku ini tidak dijadikan bacaan wajib ? Di negara manapun semua hal ttg pahlawan mereka (khususnya tulisan mereka) sudah pasti dijadikan bacaan wajib. Kecuali di INDONESTAN !! Orang lebih senang memilih utk ****.
duh mak ... kok sepenggal ..baca donk akhir Kematangan Pemikiran Kartini setelah berbicara dng Ulama dari Arab.

Akhirnya ia (Kartini) mendapat pencerahan bahwa apa yang berlaku di negerinya kala itu sama sekali bukan sesuatu yang Islami ..

kenapa ente gak berani postingin yang itu nya ??... PENGELABUAN LAGI YAH ??...he he model Adadeh Group !! :lol:

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

Halloooo mr FF, yah kalau anda punya kutipannya masukkan saja disini dgn referensi buku dan halamannya. Susah amat sih ?

Siapa yg spt cacing kepanasan nih ?

Lagipula, jaman dulu khan nggak ada internet. Coba kalau ibu Kartini dulu dibekali pengetahuan dari FFI ini. Pasti dia juga nggak segitu mudah dikelabui ulama Arab.

User avatar
feodor fathon FF
Posts: 5105
Joined: Thu Feb 23, 2006 2:26 pm
Location: INDONESIA

Post by feodor fathon FF »

http://swaramuslim.net/more.php?id=1773_0_1_0_m

6. Kartini Ingin Menjadi Muslimah Sejati
Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran). Ibu guru mengajinya memarahi beliau ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini.

"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?" [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Kyai Sholeh Darat ini - demikian ia dikenal - sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?"
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.
"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan "Door Duisternis Tot Licht". Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran. Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis.

Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah :
"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]

Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda :

"Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? .... Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?" [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]


7. Cita-cita Kartini Yang Sering Disalahartikan.
Kartini merasa bahwa hati kecilnya selalu mengatakan :

"Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ibu orang yang tertindas dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Petikan suratnya berikut ini adalah cita-cita Kartini yang banyak salah dimengerti :

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.


8. Pelajaran Bagi Umat Islam
Pada dasarnya Kartini ingin berjuang di jalan Islam. Tapi karena pemahamannya tentang Islam belum menyeluruh, maka Kartini tidak mengetahui panjangnya jalan yang akan ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. (Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini, beliau sudah berusaha, tapi ALLAH terlebih dahulu memanggilnya). Apabila kita mempelajari lebih jauh konsep-konsep yang diajukan Kartini, meskipun secara global adalah konsep Islam, tapi secara terperinci dan operasional, rancu dengan konsep-konsep Barat. Kita tahu sebagian besar teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani. Allah sudah memperingatkan kepada kita : Tidak akan pernah ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebelum kamu mengikuti tata cara mereka (Al-Quran, 2:120). Apa yang dialami Kartini merupakan sejarah yang senantiasa selalu terulangi. Setiap seseorang akan memperjuangkan Islam, maka tiba-tiba pihak-pihak yang tidak menyukai Islam akan bersatu untuk menghancurkannya. Bila posisi mereka lemah, maka mereka akan menempuhnya dengan cara yang halus dan tersembunyi. Tapi jika posisi mereka kuat, maka mereka akan menempuh cara-cara paksa. Secara tidak sadar Kartini menceritakan praktek keburukan umat Islam (bukan Islam yang buruk) kepada sahabat-sahabatnya non-Islam. Sehingga kelak kemudian hari menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam. Sebaik-baiknya sahabat non-Islam, walau bagaimanapun tidak akan membantu Islam (Al-Quran, 3:119-120). Kartini berjuang seorang diri dan tidak menghimpun para santri lain yang ada di pulau Jawa. Salah seorang sahabat RasuluLLah, Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan kepada kita bahwa: Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Dan Allah pun mencintai orang-orang yang berjuang di jalanNya dalam suatu barisan (Al-Quran, 61:4).

User avatar
feodor fathon FF
Posts: 5105
Joined: Thu Feb 23, 2006 2:26 pm
Location: INDONESIA

Post by feodor fathon FF »

http://swaramuslim.net/more.php?id=1773_0_1_0_m

6. Kartini Ingin Menjadi Muslimah Sejati
Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran). Ibu guru mengajinya memarahi beliau ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini.

"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?" [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Kyai Sholeh Darat ini - demikian ia dikenal - sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?"
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.
"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan "Door Duisternis Tot Licht". Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran. Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis.

Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah :
"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]

Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda :

"Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? .... Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?" [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]


7. Cita-cita Kartini Yang Sering Disalahartikan.
Kartini merasa bahwa hati kecilnya selalu mengatakan :

"Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ibu orang yang tertindas dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Petikan suratnya berikut ini adalah cita-cita Kartini yang banyak salah dimengerti :

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.


8. Pelajaran Bagi Umat Islam
Pada dasarnya Kartini ingin berjuang di jalan Islam. Tapi karena pemahamannya tentang Islam belum menyeluruh, maka Kartini tidak mengetahui panjangnya jalan yang akan ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. (Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini, beliau sudah berusaha, tapi ALLAH terlebih dahulu memanggilnya). Apabila kita mempelajari lebih jauh konsep-konsep yang diajukan Kartini, meskipun secara global adalah konsep Islam, tapi secara terperinci dan operasional, rancu dengan konsep-konsep Barat. Kita tahu sebagian besar teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani. Allah sudah memperingatkan kepada kita : Tidak akan pernah ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebelum kamu mengikuti tata cara mereka (Al-Quran, 2:120). Apa yang dialami Kartini merupakan sejarah yang senantiasa selalu terulangi. Setiap seseorang akan memperjuangkan Islam, maka tiba-tiba pihak-pihak yang tidak menyukai Islam akan bersatu untuk menghancurkannya. Bila posisi mereka lemah, maka mereka akan menempuhnya dengan cara yang halus dan tersembunyi. Tapi jika posisi mereka kuat, maka mereka akan menempuh cara-cara paksa. Secara tidak sadar Kartini menceritakan praktek keburukan umat Islam (bukan Islam yang buruk) kepada sahabat-sahabatnya non-Islam. Sehingga kelak kemudian hari menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam. Sebaik-baiknya sahabat non-Islam, walau bagaimanapun tidak akan membantu Islam (Al-Quran, 3:119-120). Kartini berjuang seorang diri dan tidak menghimpun para santri lain yang ada di pulau Jawa. Salah seorang sahabat RasuluLLah, Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan kepada kita bahwa: Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Dan Allah pun mencintai orang-orang yang berjuang di jalanNya dalam suatu barisan (Al-Quran, 61:4).

User avatar
moe
Posts: 618
Joined: Sat Mar 18, 2006 12:46 pm

Post by moe »

feodor fathon FF wrote: http://swaramuslim.net/more.php?id=1773_0_1_0_m

6. Kartini Ingin Menjadi Muslimah Sejati
Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran). Ibu guru mengajinya memarahi beliau ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini.

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Kyai Sholeh Darat ini - demikian ia dikenal - sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?"
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.
"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan "Door Duisternis Tot Licht". Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran. Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis.

Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah :
"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]

Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda :

"Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? .... Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?" [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]


7. Cita-cita Kartini Yang Sering Disalahartikan.
Kartini merasa bahwa hati kecilnya selalu mengatakan :

"Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ibu orang yang tertindas dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Petikan suratnya berikut ini adalah cita-cita Kartini yang banyak salah dimengerti :

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.


8. Pelajaran Bagi Umat Islam
Pada dasarnya Kartini ingin berjuang di jalan Islam. Tapi karena pemahamannya tentang Islam belum menyeluruh, maka Kartini tidak mengetahui panjangnya jalan yang akan ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. (Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini, beliau sudah berusaha, tapi ALLAH terlebih dahulu memanggilnya). Apabila kita mempelajari lebih jauh konsep-konsep yang diajukan Kartini, meskipun secara global adalah konsep Islam, tapi secara terperinci dan operasional, rancu dengan konsep-konsep Barat. Kita tahu sebagian besar teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani. Allah sudah memperingatkan kepada kita : Tidak akan pernah ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebelum kamu mengikuti tata cara mereka (Al-Quran, 2:120). Apa yang dialami Kartini merupakan sejarah yang senantiasa selalu terulangi. Setiap seseorang akan memperjuangkan Islam, maka tiba-tiba pihak-pihak yang tidak menyukai Islam akan bersatu untuk menghancurkannya. Bila posisi mereka lemah, maka mereka akan menempuhnya dengan cara yang halus dan tersembunyi. Tapi jika posisi mereka kuat, maka mereka akan menempuh cara-cara paksa. Secara tidak sadar Kartini menceritakan praktek keburukan umat Islam (bukan Islam yang buruk) kepada sahabat-sahabatnya non-Islam. Sehingga kelak kemudian hari menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam. Sebaik-baiknya sahabat non-Islam, walau bagaimanapun tidak akan membantu Islam (Al-Quran, 3:119-120). Kartini berjuang seorang diri dan tidak menghimpun para santri lain yang ada di pulau Jawa. Salah seorang sahabat RasuluLLah, Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan kepada kita bahwa: Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Dan Allah pun mencintai orang-orang yang berjuang di jalanNya dalam suatu barisan (Al-Quran, 61:4).
Simple Q : kartini baru belajar bbrp tahun
Arab belajar selama 1400 thn. perlu sekian lamakah wanita2 arab mempelajari quran? bahkan sampai saat ini : martabat wanita yg dicita2kan kartini tidak pernah kesampaian

User avatar
feodor fathon FF
Posts: 5105
Joined: Thu Feb 23, 2006 2:26 pm
Location: INDONESIA

Post by feodor fathon FF »

moe wrote:Simple Q : kartini baru belajar bbrp tahun
Arab belajar selama 1400 thn. perlu sekian lamakah wanita2 arab mempelajari quran? bahkan sampai saat ini : martabat wanita yg dicita2kan kartini tidak pernah kesampaian
ini masalah konsistensi akan pengamalan ajaran luhur Islam ... kadang kala budaya, tradisi lebih berurat berakar dalam kehidupan kita shg sulit menerima sesuatu yg baru bila dirasa itu "frontal" mendobrak adat.
maka pisahkan mana adat mana ajaran Islam
j
Islam dan sistem pemerintah kita yg sekarang sama sekali tdk mengkebiri Hak Wanita untuk belajar dan berperan ...masalahnya adalah Wanitanya tdk mau berusaha dan mendobrak itu semua "Allah tdk akan merubah suatu kaum hingga ianya merubah dirinya sendiri"

Jika Wanita Indonesia atau kaum muslimat mau berubah maka berubah lah dan usahakan oleh dirinya sendiri karena sistem Islam dan UU RI tdk pernah membatasi wanita.

Kadangkala arti emansipasi hanya disempitkan dng Kesempatan Bekerja seperti lelaki ..padahal Kartini lebih dalam dari itu yaitu Konsep Islam "Sebaik2 manusia adalah yang memberi manfaat bagi manusia"....

wanita yang maju adalah wanita yang menjadi SUbjek bukan objek (berperan aktif dalam memberikan manfaat bagi lingkungan sesuai profesinya masing2...ibu RT kah, Karir kah, dsb)

ali5196
Posts: 17309
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Post by ali5196 »

feodor fathon FF wrote: maka pisahkan mana adat mana ajaran Islam
Bukannya Islam menentukan ADAT setempat ? Mengapa adat Mindanao atau adat Cina Hokkian berbeda dgn adat Jawa misalnya ? Karena AGAMA mereka berbeda, CING !

Islam adalah agama yang menentukan adat istiadat muslim: dari bangun pagi, makanan, sampai urusan kawin, urusan perbankan, urusan wanita... Itu juga mengapa Aceh berbeda dgn Bali. Mengapa ? Karena agama mereka berbeda, adat mereka berbeda pula !
Islam dan sistem pemerintah kita yg sekarang sama sekali tdk mengkebiri Hak Wanita untuk belajar dan berperan ...masalahnya adalah Wanitanya tdk mau berusaha dan mendobrak itu semua "Allah tdk akan merubah suatu kaum hingga ianya merubah dirinya sendiri"
Ini karena elu BUTA tidak mau melihat mana yang Islam beneran dan mana Islam abangan yang sudah dilarutkan dgn adat leluhur Indonesia yg memang toleran.
Jika Wanita Indonesia atau kaum muslimat mau berubah maka berubah lah dan usahakan oleh dirinya sendiri karena sistem Islam dan UU RI tdk pernah membatasi wanita.
Jika wanita Indonesia spt Vietnam, Filipina, Singapura, wanitanya sudah maju dari kapan2.

Ingat apa kata Quran ttg NILAI KESAKSIAN WANITA DI PENGADILAN, HAK WARIS WANITA, POLIGAMI dan PEMUKULAN WANITA YG TIDAK PATUH ... Belum lagi dalam hadis, Muhamad mengatakan wanita 'defisien dalam agama dan intelektualitas.' (Atau elu mau bersikeras bahwa hadis itu tidak berlaku lagi, tanpa bisa menyebutkan mana yg dinyatakan tidak sahih ?)

Baca artikel ttg Islam dan Wanita (kalau elu mau dan tidak 'koppig')
Debat Islam & Wanita
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... .php?t=497
Surga Islam 7 Wanita
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... c.php?t=48
Kadangkala arti emansipasi hanya disempitkan dng Kesempatan Bekerja seperti lelaki ..padahal Kartini lebih dalam dari itu yaitu Konsep Islam "Sebaik2 manusia adalah yang memberi manfaat bagi manusia"....
Cing, Kartini juga tidak bermaksud utk menyempitkan kesempatan bekerja wanita. Kalau memang ia ingin menghentikan kesempatan bekerja perempuan, buat apa dia bikin sekolah utk anak2 perempuan ? Bukannya agar mereka pintar dan tidak dibodohi lelaki ? Bukannya agar mereka nantinya mampu bekerja ?
wanita yang maju adalah wanita yang menjadi SUbjek bukan objek (berperan aktif dalam memberikan manfaat bagi lingkungan sesuai profesinya masing2...ibu RT kah, Karir kah, dsb)
SETUJU ! DAN LIHATLAH KEADAAN WANITA DI NEGARA MUSLIM. KAU, FEODOR, BERUNTUNGLAH BAHWA KAU TIDAK TINGGAL DI NEGARA MUSLIM. HANYA ISLAM YG MENJADIKAN WANITA SBG 'OBYEK'.

SEBEGITU BUTAKAH ANDA ?
Last edited by ali5196 on Tue Apr 25, 2006 3:09 am, edited 2 times in total.

Post Reply