Page 1 of 1

Obama Memlintir Makna Qur’an dalam Pidato Kairo

PostPosted: Sat Jun 06, 2009 1:23 am
by Adadeh
Obama Memlintir Makna Qur’an dalam Pidato Kairo
Jum’at, 05 June 2009, jam 13:22
Oleh: Atheist Jabali

"Qur’an mengajarkan bahwa siapapun yang membunuh orang yang tak bersalah, itu berarti dia bagaikan membunuh semua umat manusia; dan siapapun yang menyelamatkan nyawa seorang manusia, itu berarti dia bagaikan menyelamatkan semua umat manusia.” Begitulah perkataan Obama di pidatonya di Kairo pada tanggal 4 Juni, 2009, untuk menjilat pantat Muslim, sambil tak lupa memlintir makna ayat tersebut.

Perkataannya itu dikutip dari Q 5:32.
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah, perintah ini adalah bagi Bani Israel yakni orang Yahudi. Perintah ini TIDAK ditujukan pada Muslim. Inilah alasannya mengapa sekarang banyak terjadi pembunuhan terhadap warga sipil tak berdosa oleh para ekstrimis Muslim. Para ekstrimis ini tidak membaca apapun selain Qur’an dan mereka memahaminya jauh lebih baik daripada para Muslim KTP dan non-Muslim yang tak pernah baca Qur’an.

Kedua, ayat itu tidak menyebut ORANG YANG TAK BERDOSA di manapun. Lihat terjemahan ayat ini di Islamic Website.

Ketiga, menurut Qur’an (malah di ayat berikutnya), orang bisa dibunuh karena:
(1) membunuh atau
(2) membuat kerusakan di muka bumi (fasad).
Nah, sekarang apa seeh maksudnya membuat kerusakan di muka bumi (fasad)? Ayat berikutnya yakni Q 5:33 menjelaskan:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,

Mari kita lihat lagi di ayat lain apa sih maksud Qur’an akan “membuat kerusakan di muka bumi.”

Q 7:103
Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.

Jadi, menolak Rasul Allâh – berarti ogah memeluk Islam – adalah tindakan “membuat kerusakan”, dan dengan begitu semua kafir karenanya harus dihukum mati. Jadi para pemerintah kafir yang melindungi warga Muslim dengan persamaan hak dan semua hak² lainnya, menurut Muslim adalah “para pembuat kerusakan.”

Sekarang mari kita periksa Tafsir² terkenal tentang penjabarannya akan “membuat kerusakan”. Menurut Tafsir Al-Jalalayn:

“Karena perbuatan Kain, Kami menetapkan pada Bani Israel bahwa siapapun yang membunuh seseorang selain karena orang itu telah membunuh orang lain, atau selain untuk mencegah kerusakan dan kekacauan di bumi, yang dilakukan melalui kekafiran, zinah atau penyergapan dan sejenisnya, ini berarti orang itu membunuh seluruh umat manusia; dan barang siapa yang menyelamatkan sebuah nyawa mausia, dengan cara menahan diri untuk tidak membunuh, ini bagaikan orang itu telah menyelamatkan seluruh umat manusia – Ibn ‘Abbas berkata [bahwa artinya adalah] berhubungan dengan mengambil dan melindungi keselamatan nyawa. Para Rasul kami telah datang pada mereka, yakni Anak² Israel, dengan bukti², muzizat² yang jelas, tapi setelah itu banyak dari mereka yang tetap melakukan kerusakan di bumi, melanggar aturan dengan cara tidak percaya, membunuh, dan sejenisnya.”

Tafsir Ibn Kathir:
"...Sa`id bin Jubayr berkata, “Dia yang membiarkan dirinya menumpahkan darah seorang Muslim, berarti dia mengucurkan darah seluruh umat manusia. Dia yang tidak mengumpahkan darah seorang Muslim, berarti dia tidak menumpahkan darah semua umat manusia.”
Sebagai tambahan, Ibn Jurayj berkata bahwa Al-A’raj berkata bahwa Mujahid menjelaskan tentang ayat ini,
(sama seperti dia membunuh semua umat manusia,)
“Dia yang membunuh nyawa Muslim secara sengaja, Allâh membuat Api Neraka sebagai tempat tinggalnya, Dia akan marah padanya, dan mengutuknya, dan telah menyiapkan hukuman sangat berat baginya, sama hukumannya seperti jikalau orang itu membunuh semua umat manusia.”
Ibn Jurayj berkata bahwa Mujahid menjelaskan tentang ayat ini,
(Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.)
Ayat ini berarti, “Dia yang tidak membunuh siapapun, maka ini berarti nyawa orang² selamat dari dia.”


Setelah mengutip seluruh ayat dan memahami konteksnya dan juga menelaah tafsir²nya, kita mendapatkan bahwa ayat ini ternyata hanya melindungi nyawa Muslim dari pembunuhan yang dilakukan orang lain (di jaman sekarang malah hal ini pun dilanggar Muslim dengan cara kanibalisme Muslim bunuh Muslim). Ayat ini tidak memberi perlindungan apapun bagi kafir, yang halal dibunuh Muslim karena ogah memeluk Islam, sehingga dituduh ‘melakukan kerusakan di muka bumi.’

Dengan begitu sudah jelas bahwa Obama salah mengartikan ayat Qur’an, dan dengan begitu memutarbalikkan maknanya guna menipu diri sendiri dan para kafir lainnya, sambil tak lupa mengambil hati Muslim yang jadi pendengar utama pidatonya.

Selain itu, ayat ini sebenarnya dicontek dari buku Yahudi Mishnah Sanhedrin. Ayat ini tidak tercantum dalam Taurat. Muhammad, yang tak lain adalah Allâh SWT mengira ayat ini merupakan bagian dari Taurat. Hal ini akan dibahas di artikelku yang berikut.

Re: Obama Memlintir Makna Qur’an dalam Pidato Kairo

PostPosted: Sat Jun 06, 2009 6:57 am
by Rainn Forestha
Kalo aku ngerasa Obama nih makin lama makin mencurigakan.
Mana sempat bilang amrik teh bukan negara Kristen lalu pede berkoar kalo amrik tuh juga salah satu negara dgn warga islam jumlah besar.

Kenapa ya dia kok hobi mesraan ma islam ?

Re: Obama Memlintir Makna Qur’an dalam Pidato Kairo

PostPosted: Sat Jun 13, 2009 4:55 am
by Adadeh
Quran 5.32: Obama Kutip Ajaran Talmud yang Bagus sebagai Ajaran Islam untuk Menyenangkan Hati Muslim
Rabu, 10 June 2009, jam 13:22
Oleh: Atheist Jabali

Di artikelku sebelumnya yang berjudul, Obama Distorts Quranic Teachings in Cairo Speech, aku menjelaskan bagaimana Obama mendistorsi ajaran Qur'an di Sura 5 ayat 32 untuk menyenangkan pendengar Muslim, dan juga untuk menipu kafir. Sekarang mari kita telaah kisah latar belakang ayat ini. Harap ingat bahwa ayat ini adalah tentang anak² bangsa (Bani) Isreal. Sekarang pertanyaannya adalah:
1. Apa sih konteksnya?
2. Apakah isi ayat itu benar² dari Tuhan untuk Bani Israel? Apakah perintah itu memang ada dalam Taurat?


Untuk mengetahui jawabannya, kita terlebih dahulu harus menelaah Qur'an 5:27-31, yang mengisahkan dua putra Adam.

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

Akan sukar bagi pembaca mengetahui kisah sebenarnya dari ayat ini tanpa melihat pada kitab Taurat tentang kisah anak² Adam yakni Kain dan Habil. Qur'an bahkan tidak mencantumkan nama² putra Adam dan persembahan mereka pada Tuhan. Karena itu buat apa mengutip kisah ini dari Qur'an yang tidak jelas, tidak lengkap, tidak karuan urutannya, jika kisah yang jelas sudah tercantum dalam Taurat:
Kejadian 4:2-5
Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.
Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan;
Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,
tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.


Karena persembahan Kain ditolak Tuhan, maka Kain merasa dengki dan dia lalu membunuh Habil. Lalu apa dunk hubungannya dengan Qur'an 5:32? Kan hanya satu orang saja yang dibunuh? Kain sama sekali tidak berniat melakukan pembunuhan massal. Lagipula keterangan di Q 5:32 bahwa pesan ayat adalah bagi bani Israel ternyata sama sekali tidak tercantum di Taurat. Ternyata keterangan ini tercantum dalam Talmud. Mari kita simak apa yang dinyatakan Talmud dalam Mishnah Sanhedrin:

"Kau juga mungkin menyadari bahwa tiada kesamaan antara kasus² sipil dan kriminal. Dalam kasus sipil, orang bisa membayar uang denda bagi kesalahannya; tapi dalam kasus kriminal darah orang yang dibunuh dan juga keluarganya sampai pada akhir semua generasi umat manusia, melekat pada pembunuhnya. Hal ini juga kita temukan dalam kasus Kain, yang membunuh adiknya. Tertulis (dalam Kejadian 4:10): Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah² adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah." Dalam ayat itu tidak tertulis "darah", tapi "darah²", dan ini berarti darah Kain beserta seluruh keluarganya. (Menurut ahli lain, darah dibaca sebagai majemuk, karena darahnya beterbaran di seluruh pepohonan dan bebatuan). Karena itu, bagi seorang manusia yang membunuh satu jiwa manusia, kitab suci menganggap dia telah membunuh seluruh umat manusia di bumi, dan dia yang menyelamatkan satu nyawa orang Israel, maka kitab suci menganggap dia telah menyelamatkan seluruh umat manusia di bumi. Dan juga bagi perdamaian diantara para makhluk, maka seseorang tidak seharusnya berkata begini: Kakekku lebih hebat daripada kakekmu; dan orang bid'ah tidak boleh berkata begini: Banyak pencipta² di surga; dan juga nyatakan kemuliaan bagi Yang Esa, terpujilah Dia. Orang mencetak banyak keping uang dengan satu cetakan, dan semua keping itu tampak sama; tapi Raja di raja, Yang Esa, terpujilah Dia, telah mencetak setiap orang dengan cetakan Adam yang pertama, dan meskipun begitu tidak ada satu orang pun yang persis sama. Karena itu setiap orang seharusnya berkata: Dunia ini diciptakan bagi kepentinganku, karena itu aku harus jadi baik, jujur, dll.

Kitab Talmud itu bukanlah kitab suci atau kitab yang diwahyukan Illahi seperti Taurat. Talmud adalah buku hukum bagi masyarakat Yahudi, berdasarkan penjelasan dan tafsir Taurat yang ditulis oleh para ahli/ rabbi Yahudi. (Adadeh: sama derajatnya seperti hadis dalam Islam.) Penjelasan Talmud di atas menerangkan makna Kejadian 4:10, dan juga pentingnya pesan rohani akan kisah Adam dan Hawa. Tafsir itu juga menjelaskan hanya ada satu Adam yang diciptakan dan bukan kembaran² Adam. Muhammad tidak tahu bahwa keterangan ini adalah tafsir yang ditulis rabbi Yahudi tentang Kejadian 4:10 dalam Taurat dan pentingnya kisah penciptaan Adam. Muhammad mengira tafsir di atas merupakan bagian dari Taurat. Dia memlintir ajaran² baik dalam Talmud jadi begini:

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

Pada kenyataannya para Muslim umumnya tidak mengutip Q 5:32 secara keseluruhan, karena ayat ini memang babak belur, dan merupakan versi plesetan dari aslinya di Talmud. Mengutip keseluruhan ayat bisa² malah jadi membuat malu saja. Masih dalam konteks ini, mari kita simak komentar dari Maulana Maududi akan Q 5:32:

Sungguh disayangkan bahwa kata² bernilai luhur ini, yang merupakan perintah Tuhan, tidak ditemukan di mana pun dalam Alkitab jaman sekarang. Akan tetapi, Talmud jelas mencantumkan tentang hal ini ... Talmud juga menerangkan bahwa dalam pengadilan bagi pembunuhan, hakim² Israel seringkali mengatakan pada para saksi sebagai berikut: Barangsiapa yang membunuh satu orang, maka dia menanggung hukuman seperti dia membunuh semua umat manusia di bumi.

Maududi mengakui, meskipun penjelasannya kurang tepat, bahwa Q 5:32 yang dinyatakan bagi Allâh untuk bani Israel, ternyata tidak ada di Taurat, tapi ada di Talmud. Dia dengan cerdiknya menutup-nutupi, atau mungkin juga karena kebodohannya sendiri, konteks aslinya yang dicantumkan dalam Talmud.


Kesimpulan

Muhammad, alias Allâh, dengan ngawur mewahyukan Q 5:32 sebagai ayat dari Taurat. Dia tidak tahu bahwa keterangan itu sebenarnya berasal dari Talmud. Dia juga tidak mengerti bahwa pesan "Orang yang membunuh satu orang saja akan menanggung hukuman seakan-akan dia membunuh seluruh umat manusia" berhubungan dengan kisah Kain dan Habil.

Komentar Adadeh:
Jika memang benar Allâh SWT mewahyukan Q 5:32, maka ini berarti Allâh SWT mencontek tulisan manusia/rabbi Yahudi yang menulis keterangan itu di Talmud Mishnah Sanhedrin. Masakan Tuhan mencontek tulisan manusia dan lalu mengakuinya sebagai FirmanNya? Tuhan apaan tuh?

Re: Obama Memlintir Makna Qur’an dalam Pidato Kairo

PostPosted: Fri Jun 26, 2009 7:07 am
by pod-rock
Pidato Obama di Kairo, artinya bagi umat Islam?

Oleh Wirawan Adnan
(Advokat di Jakarta)

Tabloid Suara Islam
Edisi 69
19 Juni - 3 Juli 2009 M
29 Jumadil Akhir - 9 Rajab 1430 H

Saya berpikir, atau lebih tepatnya mempertanyakan; apakah "pandai berpidato" adalah syarat mutlak untuk bisa dicalonkan menjadi presiden AS? Pidato Obama di Kairo Mesir sungguh memukau.

Pidato Mama secara lengkap sejak Kata pertamanya adalah "I am honoured .." yang dilanjutkan dengan (Assalamu'alaikum), dan ditutup dengan kata-kata "Thank you and may God's peace be upon you". Seluruh gerak tubuh, intonasi, ekspresi wajah, ada keterlibatan emosinya dengan materi pidatonya. Obama seolah menyadari bahwa pendengar dan pemirsanya bukan saja yang saat itu berada di auditorium Universitas Al Azhar namun Obama meyadari dia sedang menjangkau 1.5 milyar penduduk Muslim dunia.

Persiapan apa yang dilakukan oleh seorang presiden.Amerika, khususnya Obama, sehingga Obama bisa berpidato seperti seolah-olah sedang berdialog "one-on one" dengan kita. Apakah dia berlatih sebelum berpidato. Apakah dia dibantu dengan "teleprompter" atau teleteknologi yang lain sehingga dia bisa berpidato seolah seperti berbicara biasa. Bahasanya begitu runtun, lugas namun santun, sistematis, dan terstruktur dengan sempurna. Tidak ada kesalahan yang bersifat tekstual maupun kontektual.

Jika Obama adalah orang kulit putih, maka kekaguman saya biasa-biasa saja. Tidak bermaksud untuk bersikap rasis namun jujur saya katakan jika yang berpidato adalah, wapres Joe Biden, misalnya maka saya akan berpura-pura tidak kagum.

Pidato Obama di Kairo kemarin adalah pidato presiden AS dengan kategori tersendiri, karena terdapat perbedaan yang diametrikal (tajam) dengan presiden-presiden sebelumnya. Semua hal yang disampaikan Obama adalah hal-hal yang ingin kita dengar bukan sebaliknya.

Berbeda ketika Clinton atau Bush berpidato yang adalah sebaliknya dengan Obama karena kita terpaksa mendengar hal-hal yang kita tidak inginkan, mungkin karena kita tidak mengerti. Yang mereka sampaikan adalah tentang kepentingan mereka yang harus kita dengarkan. Obama tampil lain meskipun maksudnya sama. Dia datang ke Kairo dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita selama ini. Obama menyampaikan semua hal yang kita semua ingin ketahui darinya. Semua isu yang menjadi perhatian dunia disentuhnya. Seandainya ada sesi tanya jawab mungkin sedikit sekali yang tersisa untuk bisa dipertanyakan karena semua sudah jelas.

Selanjutnya saya akan membahas materi pidatonya.

"As a student of history, ...demikian kota Obama .... yang dilanjutkan dengan kata-kata:.

I know, too, that Islam has always been a part of America's story" ... So let there be no doubt: Islam is a part of America.

Saya tidak bermaksud mengambil teks diatas keluar dari konteksnya, namun saya mempertanyakan dimana Obama belajar sejarah ?

Kata-kata "part of America's Story" seolah hendak mengatakan bahwa keberadaan Islam adalah setelah Amerika. Kata-kata "Islam is part of America" akan kedengaran sama dengan kalau Obama mengatakan "Alaska is part of America". Artinya Islam adalah bagian dari "sesuatu" yang lebih besar. Dengan kata lain lagi, Islam disodorkan sebagai hal yang lebih kecil (inferior).

Sehingga yang tidak "TERKATAKAN" menjadi berbunyi ; bahwa atas kebaikan Amerika-lah maka Islam dapat kami akui sebagai bagian dari The Great America. Sebagaimana yang selanjutnya dikatakan oleh Obama dengan bahasa seperti ini; "The United States has been the greatest sources of progress that the world has ever known "...

Hal yang sama dan sepertinya tidak mungkin berbeda meskipun presidennya adalah Obama adalah pandangannya tentang penjajahan AS di Afganistan, tentang Palestine vs Israel, tentang program Nuklirnya Korea Utara dan Iran, serta persepsinya tentang Terorisme.

Khusus tentang Terorisme substansi bahasa yang digunakannya oleh Obama masih sama dengan pendahulunya, yaitu kami tidak memusuhi Islam namun kami memusuhi "ekstrimis" (Teroris). Kami memusuhi Islam yang berpandangan sempit. Persisnya bahasa yang digunakan Obama; Violent extremists have exploited these tensions in a small but potent minority of Muslims. Pemahanannya tentang siapa itu Al Qaeda mewaris dari pendahulunya, tanpa survei lebih jauh, tanpa presentasi bukti yang berbeda. Pandangan bahwa Al Qaeda adalah sebuah organisasi teroris yang begitu militan dengan Osama bin Laden sebagai Ketuanya adalah warisan stigma dari presiden sebelumnya. Artinya saya tidak menjadi lebih yakin setelah mendengar pidatonya Obama, karena tetap saja Obama bicara tanpa merujuk pada bukti. Obama hanya menunjuk adanya kejadian nyata (9/11) namun tentang penjelasan adanya hubungan sebab akibat dengan Organisasi Teroris tertentu masih didasarkan pada cerita lama.

Meskipun tidak ada bukti yang membantah tentang eksistensi organisasi seperti Al Qaeda, namun juga tidak ada bukti yang meyakinkan tentang kebenaran keberadaannya. Belum pernah ada pengadilan di dunia ini yang menguatkan bukti adanya organisasi terorisme sebagaimana yang dipahami oleh AS. Sebagaimana cerita tentang siapa yang berada di balik pembunuhan presiden Amerika JF Kennedy (JFK) maka sebetulnya tidak beda dengan cerita tentang siapa yang berada dibalik kejadian 9/11, sama-sama tidak diketahuinya. Yang ada adalah berbagai Hoax Theory. Bedanya untuk JFK aktor intelektualnya ada di dalam negeri sementara untuk 9/11 , rakyat Amerika diajak untuk menuding ke luar negeri. Dampak dari tudingan AS atas terorisme di New York ini kemudian AS menjajah Afghanistan? Sulit dimengerti oleh AS adanya pemikiran yang berbeda bahwa Terorisme is A Witch (Hantu)! Ibarat flatus*, ada akibatnya, tidak bisa dibuktikan pelakunya. Menge jar teroris hingga Afghanistan, adalah ibarat mengejar hantu (witch hunt).

Obama memberi alasan; "We did not go by choice, we went because of necessity" What ? Terus terang saya menjadi merasa tidak memiliki intelegensi yang cukup untuk bisa memahami alasan Presiden Obama ini? Menurut Obama invasi AS ke Afghanistan bukan karena kehendak Amerika namun karena desakan kepentingan dunia.

Invasi mengejar hantu ini terbukti sebagai demikian karena setelah lebih dari 7 tahun AS berada di Afghanistan tidak juga ketemu yg dicari. Obama memastikan dalam pidatonya akan terus berada disana. Jadi dalam hal ini Obama tidak akan mempunyai sikap yang berbeda dengan pendahulunya. Kampanyenya tentang "Perubahan" tidak akan berlaku pada kasus ini.

Kemudian saya menyimak lagi kata-kata ini dalam pidatonya Obama; When violent extremists operate in one stretch of mountains, people are endangered across an ocean (Jika ektrimis beroperasi di pegunungan maka akan membahayakan manusia yang berada di seberang lautan). Bahasa yang indah namun sayang faktanya salah. Sebab fakta yang benar adalah tentaranya Amerika yang datang ke pegunungan dengan menyeberangi lautan dan Amerika-lah yang mencederai manusia yang hidup di pegunungan. Inilah yang disebut sebagai pemutar balikkan fakta dalam arti yang sesungguhnya.

Terorisme membunuh manusia tidak bersalah. Perihal ini tidak ada kontroversi. Tetapi Amerika berburu hantu (witch hunt) mengakibatkan orang-orang yang tidak bersalah terbunuh juga.

OBAMA BAGI INDONESIA

Sejuk ketika mendengar ayat-ayat Al-Quran di kutip. Sejuk ketika mendengar janji yg serius bahwa terhadap orang Islam AS akan bersikap lebih baik. Namun kesejukan yang mempunyai nilai khusus bagi kita adalah ketika Indonesia dijadikan rujukan dalam pidatonya. Ina pertama kali seorang presider AS yang menyebut nama "Indonesia" sebanyak 2 kali dalam satu pidato. Saya angkat sebagai suatu hal yang khusus karena penyebutan nama "Indonesia" kali ini bukan sekedar basa-basi, namun penting untuk mendukung materi pidatonya. Ini menyejukkan karena setidaknya Indonesia menjadi berada dalam peta dunia secara lebih jelas. Menyejukkan karena memperlihatkan seorang presiden Amerika mempunyai kepentingan dengan Indonesia, sehingga sampai perlu menyebutkan dalam pidatonya ketika keberadaannya tidak memerlukan untuk berkata begitu. Berbeda jika Obama bicara di Indonesia atau presiden Indonesia sedang dijamu di Gedung Putih, maka wajar kalau Indonesia disebut-sebut.

Bahwa intinya pidato presiden Obama adalah sebuah rangkulan atau ajakan bersahabat dengan Umat Islam sedunia adalah hal yang jelas. Tidak ada yang berbeda pendapat. jauh lebih jelas dan lebih tegas dari pada yang pernah atau bisa dilakukan oleh pejabat maupun presiden-presiden AS sebelumnya. Dalam konteks untuk lebih meyakinkan inilah Obama menceritakan masa kecilnya ketika sering mendengar Adzan di Indonesia.

Bandingkan ketika Obama berkampanye sebelum terpilih menjadi presiden. Latar belakang masa kecilnya dan bahkan nama tengahnya
(Hussein) seperti disengaja untuk tidak diungkap ke media. Namun ketika pidato di Kairo, Obama mempublikasikan semua hal yang ketika kampanye tampak seperti disembunyikan. Ketika menyebutkan nama lengkapnya dalam pidato itu, saya mendeteksi adanya penekanan pada kata "Hussein".

Untuk warga Muslim di Amerika pidato Obama di Kairo dikatakan sebagai langkah awal yang baik yang berada di jalur yang benar. Meskipun mereka merasa masih harus menunggu kelanjutan dari langkah awal tersebut namun mereka (Muslim Amerika) merasa kali ini ada yang pantas ditunggu (worth the wait). sebagian warga Muslim yang lain menyambut baik ajakan bersahabat, warga Muslim yang lain lagi menganggap itu hanyalah retorika belaka. Saya mewakili warga Muslim yang sedikit yang berpendapat, bahwa usahanya Obama untuk meyakinkan terlalu berlebihan (trying too hard) sehingga yang terbaca adalah lebih sebagai sebuah strategi untuk meyakinkan sasaran pendengarnya, yaitu orang Islam sebanyak 1.5 miliar.

Yang paling menyolok adalah usaha cari simpati dengan pengutipan ayat Al- Quran sebanyak 3 kali, termasuk Al Hujarat:13. Usaha cari muka ini belum termasuk ketika Obama mengucap Assalamu'alaikum di awal pidatonya. sebagai strategi maka menjadi pertanyaan, untuk apa bersahabat dengan umat Islam jika selama ini Amerika bisa berjalan dengan baik tanpa harus bersahabat dengan orang Islam? Dalam bahasa yang lebih nyata maka ajakan bersahabat ini juga bisa diartikan sebagai ajakan untuk beraliansi? Yang tidak jelas adalah beraliansi untuk menghadapi siapa?

Yang sepertinya, tidak diperhitungkan oleh Pidatonya Obama adalah fakta bahwa tidak semua warga Muslim akan peduli di beri sikap "baik" atau "tidak" oleh Amerika. Sebagaimana Amerika bisa berjalan baik tanpa harus bersahabat dengan warga Muslim dunia maka warga Muslim tertentu ini juga merasa bisa berjalan baik tanpa harus menerima kebaikan dari Amerika. Alhasil pidato Obama adalah sebuah kabar baik bagi warga Muslim di Amerika, warga Muslim di Iraq dan warga Muslim di Penjara Guantanamo Bay namun adalah kabar buruk bagi warga Muslim di Afghanistan yang terus akan dijajah. Bagi warga Muslim sisanya, adalah sebuah penantian namun bagi warga Muslim tertentu adalah sebuah kecurigaan.

Obama telah mengganti istilah teroris dengan istilah baru, yaitu extrimis. Istilahnya berbeda namun maknanya sama. siapa yang dimaksud oleh Obama sebagai extrimis adalah sama dengan yang dimaksud oleh Bush sebagai teroris.

Kedua presiden mempunyai sopan santun yang berbeda namun kedua presiden membawa aspirasi dari rakyat yang sama, sehingga hal-hal yang merupakan labelnya Amerika" secara tidak disadari akan tampil secara sama.

Presiden Obama adalah bukan Caucasian (kulit putih) namun dia tetap typical Presiden Amerika, yang secara defakto adalah presiden dunia. Disadari maupun tidak Obama akan terbawa untuk menggunakan bahasa penguasa. Salah satu yang bisa ditafsirkan sebagai bahasanya penguasa adalah usaha mencampur adukkan antara pendapat dan fakta. Atau lebih tepatnya usaha untuk memaksakan suatu pendapat sebagai fakta.

Contoh:
dalam kontek peristiwa 9/11, Obania mengatakan; ....Butlet us be clear: al-Qoedo killed nearly 3,000 people on that day. Disini Obama mencampur adukkan fakta dan pendapat. Tentang 3000 orang meninggal , benar ! itu adalah fakta!. Namun tentang tuduhan bahwa pembunuhnya adalah 'Al Qaeda" maka ini bukanlah "fakta", namun pendapatnya Amerika.

jika ingin obyektif-faktual maka seharusnya Obama berkata; 3000 orang dibunuh oleh teroris yang hingga hari ini Amerika masih menyelidiki siapa sebenarnya teroris ini, namun kami meyakini bahwa organisasi yang bernama Al Qaeda adalah organisasi teroris yang bertanggung jawab ... dan seterusnya... Sehingga kata-kata Obama yang menyatakan "let us be clear" adalah kata-kata yang agak memaksa, sebab hanya penegak hokum di Amerika atau negara-negara barat saja yang "clear" tentang Al-Qaeda, selebihnya adalah tidak.

Contoh pemaksaan pendapat lainnya adalah ketika dalam kontek Holo-caust, Obama mengatakan ; Six million Jews were killed ......Denying that fact is baseless, ignorant, and hateful. Padahal faktanya perihal Holocaust adalah kontroversial. Ada yang percaya ada yang tidak. Namun dalam pidatonya ini Obama memaksakan kita semua untuk percaya. Pada kasus ini bahasanya Obama sebetul-nya tidak berbeda dengan dengan Bush. Model bahasa Obama ini adalah model bahasa yang pengucapannya halus dan sangat santun namun ketika mengatakan kakinya sambil menginjak lawan bicaranya. Dengan kata lain, sebenarnya, yang dikatakan Obama adalah; jika kamu tidak percaya adanya Holocaust maka kamu adalah orang yang ***** dan jahat.

Beralih pada isu Palestine, fakta tentang pendudukan dan penguasaan Israel atas Gaza, yang digantinya dengan istilah yang berbeda , yaitu "settlement". Dalam kasus ini "settlement" tidak sama dengan "pendudukan" namun hanyalah berarti pembangunan fisik oleh Israel. Pelanggaran HAM oleh Israel diperhalus oleh Obama dengan istilah pelanggaran perjaniian.

Sehingga tidak ada solusi yang konkrit. Yang diharapkan tentunya adalah saran tegas Obama untuk membuka blokade di Gaza, dimana Mesir juga berperan serta! Apa yang oleh Hamas merupakan perjuangan kemerdekaan oleh Israel dianggap sebagai kekerasan dan anggapan Israel ini disetujui oleh Obama lewat pidatonya, dengan membuat analogi tentang perjuangan orang kulit hitam di Amerika yang telah berhasil bukan dengan cara kekerasan. Untuk membujuk bangsa Palestina agar bersabar, Obama membandingkan penderitaan bangsa kulit hitam di Amerika yang selama berabad-abad harus mengalami perbudakan dan penghinaan karena segregasi. Analogi ini sama saja mengatakan bahwa penderitaan bangsa Palestina belum seberapa dibanding yang dialami bangsa kulit hitam.

Obama yang berusaha keras untuk bersikap imparsial, tidak akan efektif bila secara terus terang dia mengakui bahwa Israel adalah sahabatnya Amerika yang tidak mungkin dipisahkan '(America's strong bonds with Israel are well known. This bond is unbreakable). Perlunya persahabatan ini didramatisir dengan cerita tentang kaum Yahudi yang di dholimi (istilah Obama, persecuted), istilah mana sebetulnya lebih pantas ditujukan untuk penderitaan bangsa Palestine di Gaza. Pada isu ini yang terlihat adalah betapa Obama sangat berhatihati untuk tidak melukai perasaan Israel, namun tidak meminjukkan kehati-hatian yang sama pada Palestine ketika dengan tegas menyerukan agar "Hamas must put an end to violence".

Kembali pada pertanyaan sudhon atas sebagian Umat Islam tentang mengapa Amerika harus bersahabat dengan Orang Islam ? maka jawab saya diatas adalah karena bermaksud untuk mengajak beraliansi. Pertanyaan selanjutnya, beraliansi untuk menghadapi siapa? Awalnya sa berpikir untuk menghadapi Irak, maupun Korea Utara karena soal program Nuklir mereka. Namun pikiran ini saya tepis sendiri dengan perhitungan bahwa AS akan dengan mudah menghadapi sendiri Iran dan KorUt. Oleh karena itu kecurigaan kemudian saya alihkan kepada negara Cina.

Cina, negara dengan GDP (Gro Domestic Product) sebesar US$ 7 trillion telah melampaui Jepang yaitu pada tahun 2008 GDP-nya hanya US$4.4 Triliun. Atas dasar fakta ini Cina adalah negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah Amerika SerikaL. Berarti sudah banyak negara yang terpengaruh oleh perdagangan Cina dan tinggal menunggu waktu Cina dapat menggunakan pengaruhnya pada dunia sebagaimana Amerika.

Penduduk Cina sebesar 1.3 millyar hanya bisa ditandingi oleh populasi orang Islam di dunia sebanyak 1 milyar. Tentang senjata Nuklir, Presiden Iran, dalam pidatonya kampus Universitas Islam jakarta, Ahmadinejad mempertanyakan, jika senjata Nuklir itu adalah "buruk, mengapa Amerika boleh memilikinya, namun jika "baik" mengapa negara lain "tidak boleh memilikinya". Dalam kontek inilah ia mengajak seluruh penduduk dunia untuk mengutuk Iran dan Korea Utara, namun pidato Obama tidak memperlihatkan hal yang demikian ini.

Inilah dalam satu hal yang bagi saya merupakan kemajuan sikap dari presiden pendahulunya, Mr. George W Bush. Pidato Obama perihal nuklir ini seolah seperti menyetujui apa yang dikatakan Ahmadinejad Obama mengatakan:"No single nation should pick and choose whip nations hold nuclear weapons. That why I strongly reaffirmed America's commitment to seek a world in which no nations hold nuclear weapons' Inilah berita baik bagi dunia bahwa nantinya tidak akan ada lagi diskriminasi soal siapa yang boleh memiliki senjata Nuklir. Kota-kata spiritual Obama bahwa "we do unto others we would have them do unto us" tampaknya juga relevan dengan masalah nuklir ini.