Page 1 of 7

Meluruskan MAKNA JIHAD

PostPosted: Thu Jun 01, 2006 5:32 am
by ali5196
JIHAD : 97% perang 3% perjuangan batin
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=12299

LIHAT JUGA:
belajar-islam-lewat-statistik-t42074/
jihad-besar-jihad-kecil-t42075/

Bill Warner dari Centre of the Study of Political Islam) mengatakan :

Dlm Bukhari, 97% perintah jihad merujuk kpd PERANG dan 3% kpd perjuangan batin. Jadi jawaban statistik adalah : jihad adalah 97% perang dan 3% perjuangan batin. Apakah jihad berarti perang ? Ya—97%. Apakah jihad perjuangan batin ? Ya—3%.

Paling tidak 75% dari Sirat Rasulullah adalah ttg jihad. Sekitar 67% dari bagian Quran yg didapatkan di Mekah adalah tentang kafir atau politik. Dari bagian Quran yg 'diturunkan' di Medinah, 51% berbicara ttg kafir. 20% dari Hadis Bukhari adalah ttg jihad dan politik. Jadi, agama (perjuangan batin) hanya merupakan bagian yg paling kecil dari teks fundasi Islam.


:shock: :shock: :shock:


Dan apa kata teman2 Muslim tulen kita dibawah ini ?
----------------------------------------------------------------

http://www.indonesiawatch.org/islam.php?news_id=65

Hentikan Manipulasi Makna Jihad!

“Kini ada banyak pembahasan tentang makna jihad. Sungguh kita harus mengerti arti yang sebenarnya, khususnya karena buku-buku yang beredar di Indonesia mengajarkan bahwa ada tiga langkah untuk Islam mendominasi seluruh bumi:
i. Langkah dakwah yaitu mengajak orang masuk Islam
ii. Langkah jizyah yaitu membayar pajak perlindungan supaya yang non-Muslim boleh hidup di bawah perlindungan pemerintahan Islam
iii. Langkah jihad yaitu penggunaan paksaan secara militer untuk membunuh semua orang yang menolak langkah dakwah dan langkah jizyah.

Oleh karena itu, hal ini harus benar-benar dimengerti sementara terjadi pembahasan tentang perubahan makna jihad masa kini.” IW

-------------------------------------------------------------
Edisi 80, Al-Islam On Line

Ibarat menyaksikan saudara kita babak-belur dipukuli penjahat, kita lantas berdiam diri dan malah berusaha mencegah saudara kita yang lain untuk menolongnya. Lebih dari itu, kita malah menyalahkan saudara kita yang akan menolong itu dan menilainya sebagai kekanak-kanakan, emosional, dan 'tidak pakai otak'; sembari membiarkan saudara kita yang babak belur itu tetap dipukuli. Tidak cukup dengan itu, kita kemudian berusaha menafsirkan kata 'menolong' sebagai tidak harus dengan melawan penjahat tersebut, tetapi cukup dengan memberikan bantuan berupa makanan, obat-obatan dll. kepada saudara kita yang menjadi korban itu. Lebih dari itu, kita malah menangkapi sekaligus memukuli saudara-saudara kita yang lain, meskipun mereka hanya sekadar menuntut dilakukannya upaya menolong saudara kita yang babak-belur itu.

Naif! Akan tetapi, kira-kira seperti itulah sikap yang ditunjukkan oleh sebagian umat Islam saat ini—terutama penguasa dan para 'cendekiawan'—dalam mencegah umat Islam lain yang menuntut dilakukannya jihad terhadap AS dan sekutu-sekutunya yang sudah lebih dari dua pekan ini membantai umat Islam di Afghanistan. Dalam hal ini, Allah Swt. berfirman:

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (QS al-Baqarah [2]: 217).

Allah swt. mengajarkan bahwa sikap dalam merespon kenyataan ini adalah jihad fi sabilillah. Allah Dzat Maha Perkasa berfirman:

Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (QS al-Baqarah: 190).

Meluruskan Makna Jihad

Meskipun telah demikian jelas sikap permusuhan orang-orang kafir— terutama yang direpresentasikan oleh AS dan sekutu-sekutunya—terhadap Islam dan umatnya, sikap sebagian umat Islam malah tampak lemah dan pengecut. Setelah umat Islam dihina dengan cap teroris dan sekaligus diperangi oleh orang-orang kafir, mereka bukannya membela diri serta mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka. Sebaliknya, mereka—baik yang bersembunyi di balik baju-baju ormas Islam ataupun mengatasnamakan dirinya sebagai cendekiawan/ulama—sengaja atau tidak, telah tergelincir dalam aksi ikut-ikutan memanipulasi makna jihad. Padahal, justru dengan jihadlah harga diri dan kehormatan Islam dan kaum Muslim dapat terpelihara.

Dalam hal ini, mereka tampak sangat tekstualistik-literalistik, yakni memaknai kata jihad sekadar dari perspektif bahasa semata, tidak dari perspektif yang lebih luas, yakni syariat. Dengan itu, seolah-olah mereka berkata benar. Padahal, mereka berkata tanpa satu dalil pun; tidak juga dengan merujukkannya pada pendapat para fuqaha atau ulama mujtahid yang kredibel.

Mereka mengatakan bahwa jihad itu maknanya luas. Esensinya adalah sungguh-sungguh. Di masa ekonomi sulit seperti sekarang, jihad yang paling pas adalah jihad melawan kemiskinan. Jihadlah dengan kemampuan masing-masing. Jangan mati konyol. Dengan sadis, mereka bahkan mengatakan bahwa orang yang memaknai jihad sebagai perang adalah picik! Subhânallâh!

Dengan menyatakan begitu, tanpa sadar orang seperti itu telah mencap Rasulullah saw. dan para sahabatnya—yang sebagian besar hidupnya setelah menerima risalah Islam bersungguh-sungguh dalam perjuangan dakwah dan jihad fi sabilillah—sebagai orang-orang yang picik. Na'ûdzu billâhi min dzâlik!

Bahkan, untuk mengecilkan makna jihad dalam perspektif syariat, yakni perang untuk menegakkan kalimat Allah, mereka mempertanyakan, “Mengapa jihad melawan orang-orang kafir yang merupakan “jihad kecil” (jihâd ashghar) dibesar-besarkan, sementara jihad melawan hawa nafsu yang merupakan “jihad besar” (jihâd akbar) tidak diperhatikan?”

Dalam hal ini, mereka menggunakan dalil berupa Hadis Nabi berikut:

“Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” Para sahabat bertanya, “Apa jihad besar itu? Rasul menjawab, “Jihad melawan hawa nafsu.”

Muhammad as-Syuwaiki dalam buku Al-Khalâs wa ikhtilâf an-Nâs. hlm. 185, menjelaskan bahwa memang ada yang disebut dengan jihad memerangi hawa nafsu, termasuk jihad memerangi setan dan orang-orang fasik. Akan tetapi, jihad semacam ini tidak lebih utama dibandingkan dengan jihad memerangi orang-orang kafir. Tidak juga lebih besar—di sisi Allah swt.—ketimbang jihad memerangi orang-orang kafir. Apalagi jika sampai menafikan dan menghapuskan jihad memerangi orang-orang kafir. Bahkan, sebaliknya, jihad memerangi orang-orang kafir tetap wajib sampai Hari Kiamat, sebagaimana jihad melawan hawa nafsu.

Atas dasar ini, pendapat yang menyatakan bahwa jihad memerangi hawa nafsu di sisi Allah swt. lebih utama dan lebih besar dibandingkan dengan jihad memerangi orang-orang kafir adalah sangat keliru. Pendapat semacam ini absurd dan berbahaya karena bertentangan dengan—sekaligus mematikan—pemahaman mengenai jihad (perang) di jalan Allah. Oleh karena itu, pendapat semacam ini harus ditolak karena dua alasan berikut:

Pertama, jihad mengandung dua muatan makna: makna bahasa dan makna syariat.

Memerangi hawa nafsu termasuk kedalam pengertian jihad secara bahasa. Secara bahasa, di dalam Kamus al-Muhîth, jihad bermakna kesungguhan (juhd), kemampuan menanggung beban (thâqah), dan kesulitan (masyaqah). Ar-Razi mengatakan, “Mujâhadah asal katanya adalah juhd (kerja keras) yang bermakna masyaqah (kesulitan).”
Di dalam al-Majmû' juga disebutkan, “Jihad diambil dari kata juhd (kerja keras) yang bermakna masyaqah (kesulitan).”

Di dalam syarah Shahîh al-Bukhârî dijelaskan bahwa jihad secara bahasa bermakna masyaqah (kesulitan).

Di dalam Kitab Nayl al-Awthâr disebutkan juga bahwa jihad bermakna masyaqah (kesulitan).

Sementara itu, secara syar'î, dalam hasyiyah Kitab Radd al-Mukhtâr disebutkan bahwa jihad adalah mengerahkan segenap potensi untuk berperang di jalan Allah; baik secara langsung ataupun secara tidak langsung—seperti melalui bantuan materi dan sumbangsih pendapat, memperbanyak logistik, dan lain-lain. (Lihat: Ibn Abidin, al- Hasyiyah Radd al-Mukhtâr).

Di dalam syarah Shahîh al-Bukhârî (Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-Asqalani), disebutkan bahwa secara syar'î jihad bermakna mengerahkan segenap kesungguhan di dalam memerangi orang-orang kafir. Di dalam Nayl al-Awthâr karya Imam asy-Syaukani dan syarah az-Zarqani juga disebutkan hal yang sama.

Walhasil, secara bahasa, jihad mencakup segala makna yang dikandungnya selain perang. Sebaliknya, secara syar'î, jihad tidak mengandung makna apa pun selain perang. Adanya perbedaan makna jihad ini mengharuskan tidak adanya penyesuaian setiap nash yang memuat lafal jihâd atau mujâhadah dengan muatan makna tertentu—di antara kedua makna ini—kecuali adanya indikator (qarînah) yang menunjukkannya.

Namun demikian, dalam konteks jihad dalam pengertian syar'î, kita akan menemukan dua jenis penjelasan: yang eksplisit (gamblang) dan yang implisit (tersirat). Yang eksplisit antara lain adalah firman Allah berikut:
Perangilah oleh kalian mereka (orang-orang kafir) hingga tidak ada lagi fitnah (kekafiran) sehingga agama ini hanya milik Allah semata. (QS al-Anfal [8]: 39).

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa-jiwa mereka dan harta-harta mereka dengan imbalan surga bagi mereka; mereka berperang di jalan Allah kemudian membunuh atau terbunuh. (QS at-Taubah [9]: 111).

Rasulullah saw. juga pernah bersabda:
[ b]Siapa saja yang berperang untuk menegakkan kalimat Allah—sebagai kalimat yang tinggi—berarti dia telah berjihad di jalan Allah. [/b]
Masih banyak sejumlah nash lain yang mengandung pengertian secara jelas tentang upaya memerangi orang-orang kafir, yakni sebagai jihad dalam pengertian syariat.

Sementara itu, yang implisit, tetapi berbagai indikatornya tetap menunjukkan pada makna perang, contohnya adalah beberapa ayat berikut:
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. (QS at-Taubah [9]: 73).

Akan tetapi, Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berjihad dengan harta dan diri mereka. (QS at-Taubah [9]: 88).
Frasa waghluzh 'alaiyim dan bi amwâlihim wa anfusihim merupakan indikasi (qarînah) yang menunjukkan bahwa jihad yang dimaksud dalam ayat itu adalah jihad syar'i, yakni memerangi orang-orang kafir.

Rasulullah saw. juga bersabda:
Jihad itu terus berlangsung sejak aku diutus oleh Allah Swt. hingga orang terakhir di antara umatku yang berperang melawan Dajjal.

Lafal an yuqâtila merupakan indikasi (qarînah) yang menunjukkan bahwa jihad dalam hadits itu maknanya syar'i, yakni memerang orang kafir.

Sementara itu, ada nash-nash jihad yang memang tidak mengandung indikasi ke arah peperangan, antara lain:
Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (QS al-Ankabut [29]: 69).

Siapa saja yang berjihad, sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. (QS al-Ankabut [29]: 6).

Rasulullah saw. juga bersabda:
Jihad yang paling agung adalah kata-kata yang benar yang disampaikan kepada penguasa yang jahat.

Nash-nash terakhir ini menunjukkan jihad dalam arti bahasa.
Dibedakannya jihad menjadi dua antara lain didasarkan pada salah satu riwayat di atas, yakni ketika Aisyah bertanya tentang kewajiban jihad kaum wanita. Rasul kemudian menjawab (yang artinya), “Ada, tetapi jihad tanpa peperangan, yaitu haji dan umrah.”

Ucapan Rasulullah saw. ini menunjukkan bahwa jihad bisa bermakna peperangan dan bisa juga tanpa peperangan. Jihad tanpa perang termasuk ke dalam pengetian bahasa, sementara jihad dengan perang termasuk ke dalam pengertian syariat. Jihad tanpa peperangan misalnya memerangi hawa nafsu, berbuat baik kepada dua orang tua, mengoreksi penguasa, mendebat orang-orang kafir dengan hujjah, amar makruf nahi mungkar, ibadah haji, dll.

Sebaliknya, jihad dalam pengertian perang bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam perang secara langsung, memberikan bantuan baik berupa materi ataupun sekadar pendapat mengenai strategi, menyampaikan pidato untuk membakar semangat tentara, dan hal-hal lain yang terkait dengan perang.

Kedua, lemahnya kedudukan hadis mengenai "jihad kecil" dan "jihad besar" dari segi riwâyah maupun dirâyah-nya.

Hadis ini, secara faktual, tidak layak dipandang sebagai dalil. Hal ini setidaknya didasarkan pada alasan bahwa bahwa hadis tersebut mardûd (tertolak), baik dari segi substansi (dirâyah) maupun periwayatannya (riwâyah).

Dari segi periwayatan, hadis ini statusnya dha'îf/lemah (Lihat: As-Suyuthi, Al-Jâmi' ash-Shaghîr). Sementara itu, dari segi substansi, pengertian hadis tersebut berseberangan dengan sejumlah nash yang mewajibkan jihad fi sabilillah dalam memerangi orang-orang kafir, yang justru dipandang sebagai amalan yang sangat agung. Allah, misalnya, berfirman tentang keutamaan jihad:

Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS an-Nisa' [4]: 95).

Allah juga memuji aktivitas jihad memerangi orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (QS at-Taubah [9]: 111).

Sebaliknya, Allah mencela dan mengancam orang-orang yang tidak berangkat jihad memerang orang-orang kafir, misalnya:
Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksa yang pedih dan digantinya lian dengan kaum yang lain. (QS at-Taubah [9] : 38-39).

Banyak juga nash hadis yang menyebut keutamaan jihad dalam arti berperang melawan orang-orang kafir, misalnya:
“Berdirinya salah seorang di antara kalian dalam jihad fi sabilillah adalah lebih utama daripada shalatnya di rumahnya selama 70 tahun…."

Berjaga-jaga di perbatasan dengan negeri kufur dalam jihad fi sabilillah lebih baik daripada dunia dan segala yang ada di atasnya.

Dengan demikian, jika ada orang yang terus memanipulasi makna jihad sekaligus mempropagandakan bahwa jihad melawan hawa nafsu adalah lebih urgen daripada jihad memerangi orang-orang kafir, ia berarti telah terjebak pada kungkungan hawa nafsunya sendiri yang enggan berperang melawan orang-orang kafir.

Padahal, bukankah Allah Swt. telah berfirman:
Diwajibkan atas kalian berperang, sementara berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian; boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 216).

Wallâhu a'lam bish-shawâb. (IYA DEH, SALAM WALLAHU ALAM BUAT SETAN ELU !!)


NOHH !! HAYOOOO ... siapa yg masih bilang bahwa jihad berarti hanya BERTAPA ????

SIAPA YANG MASIH PERCAYA BAHWA ISLAM = AGAMA DAMAI ????
ITU TANDA KAU SAKIT JIWA !!

PostPosted: Thu Jun 01, 2006 10:31 pm
by anakbingung
PAK HAJI DAN PAK UZTADZ, TOLOOOOOOOONGGGG DOOOOONNNNNGGGGG DIJAAWAB......AKU BINGUNG !!!!!!!!!

PostPosted: Thu Jun 01, 2006 11:46 pm
by ali5196
Anakbingung, kau sedang mengalami SHOCK menghadapi kebenaran. Selamat nak ! Tidak banyak orang memiliki kekuatan utk menerima kenyataan ini.

Ingat pepatah:
'It is not a requirement of the truth that it shld be comfortable, it is simply a requirement of the truth that it shld be true.' [(Dr S Johnson - 1767)
(Kebenaran tidak diwajibkan utk membawa kenyamanan, melainkan utk menunjukkan mana yg benar)

Jangan menganggap dirimu tidak penting. Ini adalah perdebatan yg paling penting dalam sejarah manusia. Kau salah seorang yg akan menentukan kemana arah debat ini.

Artikel diatas bukan isapan jempol kafir. Kafir nggak mampu ngarang hal diatas tsb. Kafir tidak memiliki kebencian macam itu.

Anakku, tinggalkan Islam sekarang juga ! Bergabunglah dgn mereka yg cinta damai. Ingatlah bahwa nenek moyang orang Indonesia adalah kafir & polytheis. Mengapa kau mau menghina agama dan kepercayaan moyangmu sendiri dgn tetap berpegang pada agama yg membenci mereka dan keturunan mereka yg menolak utk memilih Islam ?

Saudaraku, Islam adalah bohong besar. Bohong besar yang datang dari jazirah Arab. Tinggalkan Islam. Demi kewarasan dirimu, demi budaya, bahasa dan identitasmu.

YOU ARE AN INDONESIAN. YOU ARE NOT AN ARAB !!! Tinggalkan tradisi arab berupa jilbab, niqab, solat, hijrah dan segala tetek bengek Islam itu. Sekarang juga !!

Bantu kami menegakkan kebenaran.

PostPosted: Fri Jun 02, 2006 7:12 pm
by anakbingung
ali5196 wrote:Anakbingung, kau sedang mengalami SHOCK menghadapi kebenaran. Selamat nak ! Tidak banyak orang memiliki kekuatan utk menerima kenyataan ini.
Ingat pepatah:
'It is not a requirement of the truth that it shld be comfortable, it is simply a requirement of the truth that it shld be true.' [(Dr S Johnson - 1767)
(Kebenaran tidak dimaksudkan utk membawa kenyamanan, melainkan menyatakan kebenaran)
Jangan menganggap dirimu tidak penting. Ini adalah perdebatan yg paling penting dalam sejarah manusia. Kau salah seorang yg akan menentukan kemana arah debat ini.
Artikel diatas bukan isapan jempol kafir. Kafir nggak mampu ngarang hal diatas tsb. Kafir tidak memiliki kebencian macam itu.
Anakku, tinggalkan Islam sekarang juga ! Bergabunglah dgn mereka yg cinta damai. Ingatlah bahwa nenek moyang orang Indonesia adalah kafir & polytheis. Mengapa kau mau menghina agama dan kepercayaan moyangmu sendiri dgn tetap berpegang pada agama yg membenci mereka dan keturunan mereka yg menolak utk memilih Islam ?
Saudaraku, Islam adalah bohong besar. Bohong besar yang datang dari jazirah Arab. Tinggalkan Islam. Demi kewarasan dirimu, demi budaya, bahasa dan identitasmu.
YOU ARE AN INDONESIAN. YOU ARE NOT AN ARAB !!! Tinggalkan tradisi arab berupa hijab, niqab, solat, hijrah dan segala tetek bengek Islam itu. Sekarang juga !!
Bantu kami menegakkan kebenaran.


waktu ikut kumpul-kumpul bareng anak pengajian juga begitu...
gw kaya' lagi dikadalin nih...hehehe.....
nah sekarang kumpul sama forum FFI ini juga punya perasaan sama nih..
kaya' lagi dikadalin juga.....hahaha..

trus..kalau udah ninggallin Islam mau kemana ?
agama lain juga sama anehnya kok....kaya' dongeng juga..
masa' mau jadi atheist ? bisa dicap komunis nih....

kasih alternatif dong....jangan suruh ninggallin doang.....

woi...temen2 satu geng.....komentar gw yang ini jangan diprint-out ya....
bisa geger lagi nih !!

PostPosted: Fri Jun 02, 2006 10:53 pm
by ali5196
anakbingung, jadi kau memilih utk tetap berpegang pada agama bohong yg penuh kebengisan karena takut agama lain akan sama ?

Ini spt orang yg tetap tinggal di rumahnya yg rongsok, gelap, penuh tikus dan kecoa, kena banjir setiap tahun karena takut rumah lain juga akan rongsok dan penuh tikus. Pernahkah anda pernah melancong keluar rumah anda dan mengecek apakah memang benar rumah2 lain juga rongsok ? Pernahkan anda coba2 menginap di apartemen baru yg bersih dan penuh dgn cahaya matahari ?

Pertanyaan utk dirimu (jawab sendiri):
-apakah kau tetap muslim karena takut Islam ?? (ancaman neraka dsb, padahal kau sudah tahu bahwa ini semua bohong)
-kau tetap muslim karena takut agama lain ?? (ini juga karena Islam-lah yg mengajari anda utk memusuhi agama lain)
-kau memang tidak tahu apakah ada alternatif lain selain 'agama'(ini juga karena otakmu sudah diprogram oleh Islam, shg merasa takut kalau menjadi 'atheis')
-tahukah kau beda atheis dgn komunis ? (ini juga karena kau di-brainwash Islam yg selalu mengatakan segala sesuatu di luar Islam adalah nista. padahal sudah berkali2 saya katakan, Islam itu sendiri yg nista. buat apa kau mengikuti ajaran yg nista ?)

Saya nggak bilang kau harus jadi atheis, saya cuma bilang: kau DETOX dulu dari Islam. Bebaskan otakmu dari kerangkeng Islam. Ini saja sudah susah, bisa makan waktu bertahun2. Hanya dgn cara itu kau baru bisa melihat ke agama ataupun ajaran2 lain.

Ini pesan dari A SINA:

Kalau mereka meninggalkan Islam utk agama lain tanpa mempelajari kejahatan islam, maka kemungkinan besar begitu mereka menemukan kekurangan dalam agama baru mereka, mereka akan kembali ke Islam.
Ini bukan karena Islam lebih baik. Tapi mereka kembali ke Islam karena mereka tidak tahu menahu ttg Islam.

... kalau orang meninggalkan Islam karena melihat ke'iblis'an Muhamad dan Allah ciptaannya itu, tidak mungkin mereka akan kembali, kecuali mereka kesurupan dan memang jiwa mereka penuh dgn kebencian dan merasa Islam merupakan alat yg baik utk menyalurkan kebencian mereka itu.

PostPosted: Sat Jun 03, 2006 3:38 pm
by ali5196
anakbingung, ini contoh lain:

seorang istri dalam perkawinan yg penuh dgn kekerasan domestik. Suaminya keji dan kasar dan suka menaboknya tapi si isteri tidak mau meninggalkan perkawinannya. Kenapa ?

Ini semua karena rasa takut: takut menghadapi dunia luar, takut akan dikejar suami, takut ditertawakan tetangga, takut ini, takut itu.

Jadi dia tetap dgn suaminya ini karena ia takut.

Ini spt kau dan Islam bukan ? Kau takut meninggalkannya. Kau tetap memilih Islam, bukan karena Islam benar tetapi karena kau takut.

Sampai kapan kau akan tetap begini, anakbingung ?

PostPosted: Tue Jun 06, 2006 10:22 pm
by anakbingung
ali5196 wrote:anakbingung, ini contoh lain:
seorang istri dalam perkawinan yg penuh dgn kekerasan domestik. Suaminya keji dan kasar dan suka menaboknya tapi si isteri tidak mau meninggalkan perkawinannya. Kenapa ?
Ini semua karena rasa takut: takut menghadapi dunia luar, takut akan dikejar suami, takut ditertawakan tetangga, takut ini, takut itu.
Jadi dia tetap dgn suaminya ini karena ia takut.
Ini spt kau dan Islam bukan ? Kau takut meninggalkannya. Kau tetap memilih Islam, bukan karena Islam benar tetapi karena kau takut.
Sampai kapan kau akan tetap begini, anakbingung ?


masalahnya, keluarga dan temen2 ku baik-baik aja tuh menganut agama islam. Nggak neko-neko, nggak macam-macam, nggak benci sama non-muslim, rajin sholat, hidup damai, nggak curiga ataupun benci sama kristen-yahudi. biasa-biasa aja.
nggak pernah pusing kalau nabi dan rasul kita dituduh pedopil, gila wanita dan sebagainya. Berita-berita itu semuanya dianggap bohong.
nggak pernah mendukung isu tentang terorisme, pembakaran gereja, FPI. Pokoknya mereka semua cinta damai. shalat tetap 5 waktu, baca quran dan menjalani kehidupan biasa saja tanpa ada senjata, pedang, tidak ada caci-maki terhadap non-muslim.

sebelum main internet, aku memang seperti mereka.....ya normal-normal aja.....tapi setelah kenal internet, aku kok jadi kritis mau berpikir juga ya..., tapi kalau aku murtad , mungkin karena aku mendapatkan informasi yang salah...., kalau mencoba berpikir dari segi hati nurani sih.....Memang kayanya ada yang salah [email protected]#!#[email protected]#[email protected]

PostPosted: Wed Jun 07, 2006 1:54 am
by ali5196
anakbingung wrote:masalahnya, keluarga dan temen2 ku baik-baik aja tuh menganut agama islam. Nggak neko-neko, nggak macam-macam, nggak benci sama non-muslim, rajin sholat, hidup damai, nggak curiga ataupun benci sama kristen-yahudi. biasa-biasa aja.

Ini karena mereka manusia baik, spt kamu. Malah teramat baik.
anakbingung, katakanlah, kalian punya Quran dalam bahasa Indonesia ? Pernahkah kalian membacanya ? Atau kalian hanya nyebutin ayat2 dlm bahasa Arab, mengulang2 sesuatu yg kalian tidak mengerti ? Pernahkah kalian baca Q9:5 ?

Kalian manusia baik, tetapi BUKAN Muslim baik, biar solat 10 kali sehari juga, puasa 2 bulan setahun ... kalian tetap melalaikan kewajiban jihad perang terhdp kafir. Baca lagi artikel diatas punya Hizbut Tahrir. Orang2 spt kalian akan dicap KAFIR oleh Muslim2 tulen.

nggak pernah pusing kalau nabi dan rasul kita dituduh pedopil, gila wanita dan sebagainya. Berita-berita itu semuanya dianggap bohong.
Ketahuilah anakbingung, bahwa dari situs ini maupun situs FFI Inggris, Muslim sama sekali tidak membantah kenyataan bahwa nabi yg sudah tua kawin sama anak kecil. Mereka cuma memaklumi dgn alasan 'tradisi'. Jadi kalau kalian menganggap ini berita bohong, yah ... kalian jelas salah.

nggak pernah mendukung isu tentang terorisme, pembakaran gereja, FPI. Pokoknya mereka semua cinta damai. shalat tetap 5 waktu, baca quran dan menjalani kehidupan biasa saja tanpa ada senjata, pedang, tidak ada caci-maki terhadap non-muslim.

Gua ulangi: kalian manusia baik, bukan muslim baik.

sebelum main internet, aku memang seperti mereka.....ya normal-normal aja.....tapi setelah kenal internet, aku kok jadi kritis mau berpikir juga ya..., tapi kalau aku murtad , mungkin karena aku mendapatkan informasi yang salah...., kalau mencoba berpikir dari segi hati nurani sih.....Memang kayanya ada yang salah [email protected]#!#[email protected]#[email protected]


pelan2 aja say, kau sementara ini banyak baca dulu. Perhatikanlah apa yg dikatakan kebanyakan Muslim disini. Ini yg paling nyata :

DARI MUSLIM TULEN mujahid 4JJI:

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 2657&postd ays=0&postorder=asc&start=80

Islam membagi orang kafir jadi 2, kafir Harby dan Kafir dzimny

Kafir Harby : Orang kafir yang ingin menghancurkan islam dengan segala cara. darah mereka HALAL ditumpahkan. artinya bunuh ditempat bila bertemu.
anakbingung, mendingan kamu ngomong sama dia apa bener begitu. Berdebatlah dgn sesama muslim. Baru kau akan mendapatkan versi Islam sebenarnya.

PostPosted: Mon Jul 31, 2006 2:12 am
by ali5196
Nih, ada lagi yg 'salah tafsir' ttg JIHAD:

Jendral purn. Pakistan, Muhammad Nasir Akhtar mengatatakan bahwa jihad melibatkan perang. Wah, dari mana ia mendapatkan ide tsb
? :roll: :roll: :roll: Hmmm. Mungkin dari baca Qur'an dan Sunnah? :shock:

http://in.rediff.com/news/2006/jul/27inter.htm
Lieutenant General Muhammad Nasir Akhtar (retd) served in the Pakistan army for 36 years and took part in two wars against India....
While upbeat about the peace process in an interview to Managing Editor (National Affairs) Sheela Bhatt, General Akhtar proudly proclaims that the Pakistan army is a Muslim army fighting for jihad.

... we are Muslims and our religion says to fight for jihad.

All over the world the armies fight with religion in their minds. ... Yes, we are a Muslim army. There is no denying that fact. It has always been Islamised.

All armies have religion on their minds. When an Indian Muslim soldier fights against us he too has his motherland and his religion on his mind as an Iraqi would have when fighting against a Kuwaiti. When Pakistanis fight they fight for Pakistan and also for Islam.

Our religion says to fight for jihad.

Jihad is one of the important factors when you fight. It is a greater motivation.


tenk yu Pak. :shock: :shock: :shock:

PostPosted: Mon Jul 31, 2006 4:52 pm
by Cucu Jusuf Estes
TO ANAK BINGUNG

saran ane, sekarang ente jadi ATHEIS dulu,
lalu RENUNGKAN BAIK2. selama 1-3 bulanan RELAXING,

abis itu baru COBA BACA BUKU2 AJARAN AGAMA LAIN, semua AGAMA itu memang bermula dari HAL2 YANG SUPRANATURAL dan GAK MASUK AKAL, hanya IMAN yang bs membuktikan YG GAK MASUK AKAL itu menjadi LOGIS...

tetapi km harus cari agama yang TIDAK MENGAJARKAN MENGHANCURKAN ORG LAIN,

setelah itu kamu akan tahu betapa TUHAN itu ADA.
tp semua terpulang kepada ANDA !!!

spt bang Ali bilang:
INTINYA : SING PENTING BUKAN ISLAM

klo kamu tetap Islam, kemungkinan masuk neraka itu 90%.

PostPosted: Mon Sep 18, 2006 1:25 pm
by ali5196
Saladin wrote:Jihad atau berperang dalam Islam ada etika atau aturan, jika berperang tidak seperti Yahudi, yang asal bantai dan bunuh tanpa memandang siapa yg dibunuh dan di bantai.

Terus yg bunuhin orang Sunni Irak, siapa ? Yahudi ? Bom2 bunuh diri di Irak yg korbannya semakin hari semakin banyak siapa ?

Yg melakukan pemboman 9/11, 7/7, Bali, Jakarta, Beslan, Madrid, Bombai, Mumbai, Yordan, Turki, Saudi dan pemenggalan di Pakistan (ingat si Yahudi Daniel Pearl yg digorok lehernya ?), Irak, Palestina dan bom2 yg nyaris meledak di Jerman, Denmark, SIAP ? YAHUDI ???
Siapa yg memprovokasi Israel utk perang lawan Hezbolah di Lebanon ?
Yahudi ? Lupa anda ? SI Nasrallah aja sendiri menyatakan menyesal telah memprovokasi Israel dgn menculik danmembunuh tentaranya.

Heran gua ! Gajah didepan mata nampaknya tidak nampak.

Islam mempunyai aturan yg sudah jelas dalam al-Qur'an. Salah satunya...
SETUJU ! Bagi gua ajaran jihad memang Jelas. Malah jelas sekali, spt yg tercermin dari perkataanmu sendiri. Jihad adalah lawan siapapun yg tidak mengakui Allah dan rasulnya, Muhamad. Jadi entah kafir, murtad, musyrikun ... merekalah musuh Jihad dan merekalah yg harus dibunuh dimanapun mereka ditemukan (Q9:5).

Dgn orang berstatus kafir, murtad, musyrikun, itu saja sudah dianggap pernyataan perang terhdp Islam. Jadi menurut Islam, darah mereka halal bukan ? C'mon, sudah berkali2 kita bahas topik ini disini. Lihat saja kolom Cara Berpikir Muslim.
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=2945

Jelas sudah. Terima kasih atas konfirmasinya. Bukti bahwa Islam BUKAN agama damai. :twisted: :twisted:

Silahkan merasakan DAMAInya Islam:
http://www.thereligionofpeace.com/index.html#Attacks

PostPosted: Mon Sep 18, 2006 2:08 pm
by ali5196
PS: Jangan lupa baca Wawancara Al Jazeera dgn Abu Bakar Basyir ttg JIHAD (sudah diterjemahkan!)

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 8070#68070

"The Quran has all the guidelines, rules, norms, laws and punishments we need. The enforcement of the shari'a is the sword we are talking about..."

"If the Prophet Carried a Spear Then... We Can Carry an M-16!"

"Look at the sunna (practice) of the Prophet. When he gave his speeches and sermons he had a spear (tombak) in his hand. Why? This was the symbol of power. His followers knew he was serious, and not simply giving empty talk. He meant what he said and he did what he said he would do.

"Sadly over the centuries Islam grew weak and we forgot that the Prophet carried a spear when he spoke. The spear was replaced with a staff (tongkat) instead, as if Muslims were weak and needed a walking-stick to stand up! We need to go back to this original, strong, robust Islam. Like the Prophet we need to carry the spear (tombak) again. If the Prophet carried a spear, then for us today we can carry an M-16!"

PostPosted: Thu Nov 16, 2006 12:44 am
by Moderator 3
Diskusi jihad antara n4ry & phoenix telah pindah ke http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=7502

PostPosted: Sun Jan 21, 2007 6:34 pm
by ali5196
With thanks to Yehnes Al Souriani.

Bacalah bgm para pemimpin Muslim sama sekali tidak mengakui pencaplokan wilayah oleh Islam sejak jaman Muhamad dan menyalahkan segala kesengsaraan mereka kpd Yahudi/AS. Mereka juga sama sekali tidak mengakui kesengsaraan yg diakibatkan oleh sesama Muslim.

Bagaimanapun, ini sekali lagi menunjukkan arti JIHAD sesungguhnya : 'bela diri' dlm bentuk bunuh, bunuh, bunuh !

-----------------------------

Jihad Against Jews and Crusaders
World Islamic Front Statement

http://www.library.cornell.edu/colldev/ ... /fatw2.htm

23 February 1998

Shaykh Usamah Bin-Muhammad Bin-Ladin
Ayman al-Zawahiri, amir of the Jihad Group in Egypt
Abu-Yasir Rifa'i Ahmad Taha, Egyptian Islamic Group
Shaykh Mir Hamzah, secretary of the Jamiat-ul-Ulema-e-Pakistan
Fazlur Rahman, amir of the Jihad Movement in Bangladesh

Praise be to Allah, who revealed the Book, controls the clouds, defeats factionalism, and says in His Book: "But when the forbidden months are past, then fight and slay the pagans wherever ye find them, seize them, beleaguer them, and lie in wait for them in every stratagem (of war)"; and peace be upon our Prophet, Muhammad Bin-'Abdallah, who said: I have been sent with the sword between my hands to ensure that no one but Allah is worshipped, Allah who put my livelihood under the shadow of my spear and who inflicts humiliation and scorn on those who disobey my orders.

...

On that basis, and in compliance with Allah's order, we issue the following fatwa to all Muslims:

The ruling to kill the Americans and their allies -- civilians and military -- is an individual duty for every Muslim who can do it in any country in which it is possible to do it, in order to liberate the al-Aqsa Mosque and the holy mosque [Mecca] from their grip, and in order for their armies to move out of all the lands of Islam, defeated and unable to threaten any Muslim. This is in accordance with the words of Almighty Allah, "and fight the pagans all together as they fight you all together," and "fight them until there is no more tumult or oppression, and there prevail justice and faith in Allah."

...

We -- with Allah's help -- call on every Muslim who believes in Allah and wishes to be rewarded to comply with Allah's order to kill the Americans and plunder their money wherever and whenever they find it. We also call on Muslim ulema, leaders, youths, and soldiers to launch the raid on Satan's U.S. troops and the devil's supporters allying with them, and to displace those who are behind them so that they may learn a lesson. //

PostPosted: Thu Jan 25, 2007 5:01 pm
by tehhijau
Kepada yang membaca.
Kalau anda mau mengetahui makna Jihad sesungguhnya, belajarlah dari Ulama Islam, atau orang islam yang mengerti Islam seluruhnya terutama masalah Jihad.
Makna Jihad yang ditulis teman-teman(non muslim) disini sangat tidak relevan.Sisi membunuhnya sangat digampangkan,diartikan sebagai filosofi membunuh.
Jihad sesungguhnya tidaklah demikian.
Ajaran Islam pada dasarnya menjamin kehidupan siapa saja termasuk non-muslim,jadi tidak alasan untuk membunuh.Jihad ada adalah untuk menjamin kehidupan itu sendiri.Jihad itu buanyak sekali cabang dan pemahamannya.
Cuma saja, ada kondisi-kondisi yang membenarkan anda untuk membunuh.Dan kondisi ini sangat ketat,tidak serampangan. Oleh pihak yang tidak suka pada islam,konteks ini diolah dan dipreteli sehingga Islam dalam Jihadnya = membunuh.Hal ini sangat tidak benar.
Pemahaman Jihad yang dangkal dapat menyebabkan berbagai macam teror.Jadi pemahaman secara menyeluruh ini sangat penting.

sebagai contoh:
Ada Kelompok yang mau menghancurkan NKRI. apakah bangsa ini diam.tentu kita melakukan upaya pencegahan.
kira-kira itu contoh sederhananya.

Jihad menurut saya sebagai tangan yang banyak manfaatnya,bisa untuk bertahan,melawan,dan bekerja..tergantung situasi...
Islam sudah mengaturnya..Jihad untuk menjaga kehidupan manusia..

PostPosted: Mon Jan 29, 2007 10:36 am
by M-SAW
tehhijau wrote:Kepada yang membaca.
Kalau anda mau mengetahui makna Jihad sesungguhnya, belajarlah dari Ulama Islam, atau orang islam yang mengerti Islam seluruhnya terutama masalah Jihad.
Makna Jihad yang ditulis teman-teman(non muslim) disini sangat tidak relevan.Sisi membunuhnya sangat digampangkan,diartikan sebagai filosofi membunuh.
Jihad sesungguhnya tidaklah demikian.
Ajaran Islam pada dasarnya menjamin kehidupan siapa saja termasuk non-muslim,jadi tidak alasan untuk membunuh.Jihad ada adalah untuk menjamin kehidupan itu sendiri.Jihad itu buanyak sekali cabang dan pemahamannya.
Cuma saja, ada kondisi-kondisi yang membenarkan anda untuk membunuh.Dan kondisi ini sangat ketat,tidak serampangan. Oleh pihak yang tidak suka pada islam,konteks ini diolah dan dipreteli sehingga Islam dalam Jihadnya = membunuh.Hal ini sangat tidak benar.
Pemahaman Jihad yang dangkal dapat menyebabkan berbagai macam teror.Jadi pemahaman secara menyeluruh ini sangat penting.

sebagai contoh:
Ada Kelompok yang mau menghancurkan NKRI. apakah bangsa ini diam.tentu kita melakukan upaya pencegahan.
kira-kira itu contoh sederhananya.

Jihad menurut saya sebagai tangan yang banyak manfaatnya,bisa untuk bertahan,melawan,dan bekerja..tergantung situasi...
Islam sudah mengaturnya..Jihad untuk menjaga kehidupan manusia..


Mohon dijelaskan
tulisan non muslim mana yang tidak relevan?


dibawah ini adalah 'ajaran dari orang yang tau tentang jihad'

INI adalah BUKU ISLAMI yang MEMBAHAS tentang JIHAD BESAR
apakah ini salah ?

Jihad Apakah yang TERBESAR ? Melawan hawa nafsu kah ??

MENGKRITISI HADITS JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU

Image

Judul : Hukum islam seputar
Jihad dan mati syahid
Menyikapi Aksi Terorisme dan Perang fisik
Karya : Syamsuddin ramadlan al-Nawiy
Penerbit : Fadilah Print Surabaya
Telp : 031-60244576
Email : [email protected]
Tebal : 276 Halaman

[Bila anda tidak setuju,jangan bilang forum ini menyebarkan FITNAH, Apa yang saya kutip semua berasal dari buku tersebut , Silahkan kirim imel kepada penulis bila anda mau menyanggahnya.Tujuan saya hanya untuk MEMBUKTIKAN Jihad yang tertinggi itu adalah jihad fi sabililah bukan jihad NAFSU,dan ini bukan hasil rekayasa dari ORIENTALIS ataupun pihak2 yang anti ISLAM ataupun pihak2 yang mau MENJELEK2KAN arti dari JIHAD fi sabililah,tapi semua ini murni dari Muslim sendiri.KHUSUSNYA MUSLIM di INDONESIA tercinta ini : )) ]



ok langsung saja kita baca dari BAB IX


BAB IX
MENGKRITISI HADITS JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU


[Semua ayat quran dalam b.arabnya tidak saya sertakan,untuk menghemat tempat,tetapi di buku aslinya ada b.arabnya baik ayat quran dan hadits ]

Meskipun keutamaan jihad fi sabilillah di atas amal perbuatan lain telah ditetapkan berdasarkan nash-nash syara', akan tetapi ada sebagian kaum Muslim mema-hami, bahwa jihad melawan hawa nafsu (jihad al-nafs) merupakan jihad besar {jihad al-akbar} yang nilainya lebih utama dibandingkan dengan jihad fi sabilillah dengan makna perang fisik melawan orang-orang kafir. Mereka menyandarkan pendapat mereka pada sebuah sebuah hadits yang berbunyi:

"Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar. Para shahabat bertanya, "Apa jihad besar itu? Nabi saw menjawab, "jihaad al-qalbi (jihad hati). '
Di dalam riwayat lain disebutkan jihaad al-nafs"
.178(178 KanZ al-'Ummaal, juz 4/616; Hasyiyyah al-Baajuriy, juz 2/ 265)

Berdasarkan hadits ini, mereka berhujjah bahwa jihad memerangi orang kafir adalah jihad kecil (jihad al-ashghar), sedangkan jihad memerangi hawa nafsu adalah jihad besar (jihad al-akbar). Walhasil, jihad memerangi hawa nafsu memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan jihad memerangi orang-orang kafir. Sesungguhnya, kesimpulan semacam ini adalah kesimpulan salah, akibat kesalahan dalam memahami nash-nash syariat.

Adapun bantahan terhadap pendapat mereka adalah sebagai berikut;

Pertama, status hadits jihaad al-nafs lemah, baik ditinjau dari sisi sanad maupun matan. Dari sisi sanad, isnaad hadits tersebut lemah (dla'if). Al-Hafidz al-'Iraqiy menyatakan bahwa isnad hadits ini lemah. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, hadits tersebut adalah ucapan dari Ibrahim bin 'Ablah.179 (179 Lihat Imam al-Dzahabiy, Syiar A'laam al-Nubalaa', juz 6/ 324-325. Di dalam kitab ini dituturkan, bahwasanya Mohammad bin Ziyad al-Maqdisiy pernah mendengar Ibrahim bin 'Ablah berkata kepada orang-orang yang baru pulang dari peperangan (jihad), "Kalian baru saja kembali dari jihad kecil ffihaadal-ashghar), lantas, apayang kamu lakukan dalam jihad al-qalbiy."

Al-Hafidz al-Suyuthiy juga menyatakan, bahwa sanad hadits ini lemah (dla'if).

Kedua, seandainya keabsahan hadits ini tidak perlu kita perbincangkan, maka lafadz jihad al-akbar yang tercantum di dalam hadits itu wajib dipahami dalam konteks literal umum; yakni perang hati atau jiwa melawan hawa nafsu dan syahwat serta menahan jiwa untuk selalu taat kepada Allah swt. Sebab, jihad menurut pengertian bahasa bisa bermakna perang maupun bukan perang. Sedangkan jihad kecil (jihaad al-ashghar) dalam hadits itu mesti dimaknai dalam konteks syar'iy dan 'urfy, yakni berperang melawan orang-orang kafir di jalan Allah.180 (180 Dr. Mohammad Khair Haekal, al-Jihaad n>a al-Qitaal, juz 1/46)

Suatu lafadz, jika memiliki makna bahasa, syar'iy, dan 'urfiy, harus dipahami pada konteks syar'iynya terlebih dahulu. Baru kemudian dipahami pada konteks 'urfiy (konvensi umum), dan lughawiy (literal). Demikian juga kata jihaad. Lafadz ini mesti dipahami pada konteks syar'iynya terlebih dahulu, yakni berperang melawan orang kafir. Jika makna ini ingin dialihkan ke makna-makna yang lain, selain makna tersebut, harus ada qarinah (indika-tor) yang menunjukkannya. Lafadz jihad (jihad al-akbar) yang termaktub di dalam hadits jihaad al-nafs harus dibawa kepada pengertian literal secara umum.
Hanya saja, dalam konteks syar'iy dan konvensi umum, lafadz jihad harus dipahami perang melawan orang kafir (perang fisik), dan tidak boleh diartikan dengan perang melawan hawa nafsu dan syahwat.

Ketiga, dari sisi matan hadits (redaksi), redaksi hadits jihaad al-nafs di atas bertentangan nash-nash yang menuturkan keutamaan jihaad fi sabilillah di atas amal-amal kebaikan yang lain. Oleh karena itu, redaksi (matan) hadits jihad al-nafs wajib ditolak karena bertentangan dengan nash-nash lain yang menuturkan keutamaan jihad fi sabilillah di atas amal-amal perbuatan yang lain. Bahkan, para ulama yang memiliki kredibilitas ilmu dan iman telah menetapkan jihaad fi sabilillah sebagai amal yang paling utama secara mutlak. Adapun bukti yang menunjukkan bahwa jihad fi sabilillah adalah amal yang paling utama adalah sebagai berikut:

a.Al-Quran telah menempatkan jihad fi sabilillah (berperang di jalan Allah) sebagai amal yang paling utama dibandingkan amal-amal yang lain.
Allah swt berfirman di dalam al-Quran al-Karim;
"Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan
yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khaivatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempattinggalyangkamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nja dan (dart) berjihad di jalan-Nja, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. " Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." [al-Taubah:24]

Di ayat yang lain, Allah swt berfirman:
"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orangyang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orangyang beriman kepada Allah dan hart kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama disisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang splim." [al-Taubah:19]
Allah swt juga melebihkan orang yang berangkat ke medan perang di atas orang yang tidak berangkat perang. Al-Quran telah menyatakan hal ini:
"Tidaklah sama antara mu'minyang duduk (yang tidak turut berperang)jang tidak mempunyai u^ur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta mereka danjhvanya. Allah melebihkan orang-orangyang berjihad dengan harta dan jiwanja at as orang-orangyang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahalayang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang jang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar;(yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Nisaa': 95-96]

Al-Quran juga menjelaskan balasan Allah swt atas semua waktu dan usaha yang dihabiskan oleh seorang mujahid ketika melaksanakan kewajiban jihad, serta kesibukan dirinya dengan aktivitas jihad. Hal ini telah dinyatakan dengan sangat jelas di dalam al-Quran;

"Tidaklah sepatutnya bagipenduduk Madinah dan orang- orang Arab Badwiyang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparanpadajalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. SesungguhnyaAllah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkahyang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apayang telah mereka kerjakan." [al-Taubah: 120-121]

b.Al-Quran juga memuji mujahid di jalan Allah, serta perbuatan yang mereka lakukan.

Dalam hal ini Allah swt telah berfirman di dalam al-Quran;

[9.111] "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari a^abyangpedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasu/-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta danjiwamu. Itulahyang lebih baik bagi kamujika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surgayang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggalyang baik di dalam surga ^Adn. Itulah keberuntungan yang besar. " [al-Shaff: 10-12]

c. Ada celaan dari Allah swt bagi orang yang meninggalkan jihad di jalan Allah swt.

Allah swt berfirman;
"Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya
sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. " [al-Taubah: 39]

d. Di dalam hadits Rasulullah saw telah menyatakan dengan sangat jelas keutamaan jihad di atas amal kebaikan yang lain.

Di dalam hadits banyak disebutkan keutamaan jihad di atas amal kebaikan yang lain. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
"Berjaga-jaga pada saat berperang di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya". [HR. Imam Bukhari] Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Turmudziy, dan lain-lain.
"Sesungguhnya, kedudukan kalian di dalam jihad di jalan Allah, lebih baik daripada sholat 60 tahun lamanya." [HR. Imam Ahmad].
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudziy disebutkan, bahwa jihad lebih baik daripada sholat di dalam rumah selama 70 tahun.
Masih banyak lagi riwayat yang menuturkan keutamaan dan keagungan jihad di atas amal kebaikan yang lain.

Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa jihad melawan orang-orang kafir merupakan amal yang paling utama secara mutlak. Oleh karena itu, hadits yang menyatakan bahwa jihad al-nafs di atas jihad fi sabilillah (perang di jalan Allah) harus ditolak untuk menyelamatkan khabar dari pertentangan.


MOHON TANGGAPANNYA

Thanks

PostPosted: Mon Jan 29, 2007 10:48 am
by M-SAW
tehhijau wrote:Kepada yang membaca.
Kalau anda mau mengetahui makna Jihad sesungguhnya, belajarlah dari Ulama Islam, atau orang islam yang mengerti Islam seluruhnya terutama masalah Jihad.
Makna Jihad yang ditulis teman-teman(non muslim) disini sangat tidak relevan.Sisi membunuhnya sangat digampangkan,diartikan sebagai filosofi membunuh.
Jihad sesungguhnya tidaklah demikian.
Ajaran Islam pada dasarnya menjamin kehidupan siapa saja termasuk non-muslim,jadi tidak alasan untuk membunuh.Jihad ada adalah untuk menjamin kehidupan itu sendiri.Jihad itu buanyak sekali cabang dan pemahamannya.
Cuma saja, ada kondisi-kondisi yang membenarkan anda untuk membunuh.Dan kondisi ini sangat ketat,tidak serampangan. Oleh pihak yang tidak suka pada islam,konteks ini diolah dan dipreteli sehingga Islam dalam Jihadnya = membunuh.Hal ini sangat tidak benar.
Pemahaman Jihad yang dangkal dapat menyebabkan berbagai macam teror.Jadi pemahaman secara menyeluruh ini sangat penting.

sebagai contoh:
Ada Kelompok yang mau menghancurkan NKRI. apakah bangsa ini diam.tentu kita melakukan upaya pencegahan.
kira-kira itu contoh sederhananya.

Jihad menurut saya sebagai tangan yang banyak manfaatnya,bisa untuk bertahan,melawan,dan bekerja..tergantung situasi...
Islam sudah mengaturnya..Jihad untuk menjaga kehidupan manusia..



Maaf
Siapa ayang anda maksudkan dgn 'pihak yang tidak suka pada islam',
apakah ULAMA terkenal MULSIM pada abad ke 6 hijriah IBNU TAIMIYAH?beliau dalam kitabnya : HUKUMAN MATI BAGI PENCACI MAKI NABI,tanpa basa basi menyatakan BUNUH MEMBUNUH hanya karena MENGHINA sang nabi suci.

silahkan baca BUKU ISLAMINYA atau anda beli di GRAMEDIAA bagian buku ISLAM,lihat disitu apa maksudnya dengan 'sangat ketat,tidak serampangan' seperti maksud anda. silahkan tunjukkan kepada saya dibagian mana buku itu menolak 'filosofi membunuh' seperti pandangan anda.

INGAT...yang kami kutip dari bUKU islami yg terbit di indonesia.bukan hasil FITNAH!!.saya sarankan anda beli buku itu utk menambah ilmu anda.


ini link nya:
HUKUMAN MATI BAGI PENCACI MAKI NABI(Dari buku islam di indo) oleh IBNU TAIMIYAH
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=9831


Mohon dibaca dulu..biar kamu sesama muslim tidak gontok2an

BUKAN kami yang menjelek2an islamtapi EMANG ISLAM itu yang JELEK,buku islami itu yang membuktikannya.

ga percaya..BELILAH buku tersebut di gramedai atau gunung agung,di bagian BUKU ISLAM yang TERBARU

PostPosted: Wed Jan 31, 2007 1:05 am
by ali5196
http://news.bbc.co.uk/2/hi/south_asia/6292061.stm

" 480 kali dlm Quran Allah menyerukan agar Muslim berjihad. Kami hanya memenuhi perintah Allah ...

Kami akan melanjutkan perjuangan kami sampai pasukan asing ditendang keluar. lalu kami akan menyerang mereka di AS dan di INggris sampai mereka, entah menerima Islam atau setuju utk bayar Jizyah."

Demikian pemimpin Taleban, Baitullah Mehsud. Mungkinkah ia 'salah interpretasi' ajaran Islam ? Ia tidak mengerti bahasa Arab ?

PostPosted: Wed Jan 31, 2007 8:57 am
by aqidah
ali5196 wrote:http://news.bbc.co.uk/2/hi/south_asia/6292061.stm

" 480 kali dlm Quran Allah menyerukan agar Muslim berjihad. Kami hanya memenuhi perintah Allah ...

Kami akan melanjutkan perjuangan kami sampai pasukan asing ditendang keluar. lalu kami akan menyerang mereka di AS dan di INggris sampai mereka, entah menerima Islam atau setuju utk bayar Jizyah."

Demikian pemimpin Taleban, Baitullah Mehsud. Mungkinkah ia 'salah interpretasi' ajaran Islam ? Ia tidak mengerti bahasa Arab ?

:roll:
Itu mah Jihad Karna Nasionalis, bukan atas nama agama, tapi atas nama negara.

Anda dari negara mana? apa dulu sewaktu SD sering bolos ?

Negara sedemokrasi Amerika pun apabila negaranya dijajah tentu akan melawan. mengerti kan maksud saya ?

PostPosted: Thu Feb 08, 2007 7:48 am
by ali5196
Hallo anak kecil, bisa baca nggak sih ? Di SD diajarkan membaca nggak sih ? COba jawab, benar nggak yg dikatakan dibawah ini !

"480 kali dlm Quran Allah menyerukan agar Muslim berjihad. Kami hanya memenuhi perintah Allah ...

Demikian pemimpin Taleban, Baitullah Mehsud. Mungkinkah ia 'salah interpretasi' ajaran Islam ? Ia tidak mengerti bahasa Arab ?
:roll:


Makanya BACA !!! Jangan asal ngEcap ! :evil:

Negara sedemokrasi Amerika pun apabila negaranya dijajah tentu akan melawan. mengerti kan maksud saya ?
O Yah ? Makanya kalau AS melawan negara2 Islam yg menyembunyikan teroris, jangan jerit2 minta tolong yah dan menuduh AS barbar !!!!