.

Kenapa Muslim Percaya 100% kepada Muhammad?

Kehidupan, pengikut, kepercayaan, pikiran dan ucapan Muhammad.

Kenapa Muslim Percaya 100% kepada Muhammad?

Postby Duladi » Mon Nov 12, 2007 10:02 pm

Sikap Kritis Mualaf (Iwan Firdaus):
Apa yang membuat Muhammad dipercaya 100% oleh Muslim?

http://groups.yahoo.com/group/debate_re ... sage/21352

Iwan Firdaus wrote:To: Mansur

Bila proses turunnya wahyu tidak ada saksi, dari mana kita tahu kalau apa yang dikatakan Muhammad itu tidak bohong?

Tolong dijawab yang baik, teman.

Iwan F.

Mansur Muhammad Amin wrote:Sejak kecil masyarakat Mekkah mengenal Muhammad sebagai anak-anak, pemuda dan pribadi yang tidak pernah berbohong, sehingga masyarakat makkah memberinyagelar al-Amin yang artinya terpercaya. Ketika wahyu pertama datang memamg tidak ada saksi. Muhammad pulang dari gua Hira dan memberitahu istrinya Khadijah tentang pengalaman yang dialaminya. Khadijah membawa Muhammad menemui Waraqh bin Naufal, seorang pendeta Nasrani. Muhammad menceriterakan pengalamannya. Waraqah memberi tahu Muhgammad bahwa yang menemuinya adalah malaikat yang juga menemui Musa dan nabi-nabi sebelumnya. Waraqah berjanji, jika usianya panjang, dia akan membela Muhammad.
Itu wahyu pertama. Wahyu berikutnya diterima dengan saksi para sahabat dan isterinya. Buktinya bisa dikutip dari berbagai hadist yang sahih.

Iwan Firdaus wrote:To: Pak Mansur,

Nabi Muhammad diberi gelar Al-Amin oleh masyarakat Mekkah.. Tapi kenapa setelah dia menerima wahyu, dia tidak dipercaya? Malahan diusir dari Mekkah?

Apakah kita menganggap semua ucapan nabi Muhammad bukan bohong, lantaran gelar itu? Anda pun bisa diberi gelar AMIN oleh teman-teman Anda, tapi apakah itu menjadi jaminan kalau Anda lebih jujur dari semua orang?

Sahabat nabi telah menjadi saksi pewahyuan terhadap nabi Muhammad.
Dalam bentuk apa? Saksi mata atau saksi telinga?

Bila memang benar ada saksi yang melihat Jibril ketika memberi wahyu kepada nabi Muhammad, berarti semua tuduhan teman-teman non-muslim di Millist ini bohong.

Saya tunggu penjelasannya.

Iwan F.

Mansur Muhammad Amin wrote:Tidak berdusta dan bukan pembobong itu adalah sifat dasar Muhammad yang jujur. Ketika dia menyebarkan wahyu kenabiannya, orang Mekkah bukan tidak mempercayaai, akan tetapi menentangna karena mengoreksi kepercayaan penduduk Mekkah yang politheisme. Muhammad menolak penyembahan berhala, sementara penduduk mekkah penyembah berhala.. Perbedaan inilah yang membuat penduduk Mekkah menolak Muhammad. Sementara Muhammad tetapsaja tidak berdusta dan berbohong.

Iwan Firdaus wrote:To: Pak Mansur,

Terima kasih untuk penjelasannya.
Sekarang yang jadi keheranan saya adalah: Dari mana Bapak dan seluruh umat Muslim tahu kalau nabi Muhammad itu tidak berdusta dan bukan pembohong? Hanya semata-mata penduduk Mekkah memberinya gelar Amin? Saya masih sulit menerima ini. Lagi pula, pemberian gelar itu terjadi sebelum nabi Muhammad menjadi nabi.

Setelah nabi Muhammad menjadi nabi, terbukti gelar Amin itu tidak berguna untuk beliau. Penduduk Mekkah tidak mau percaya kepada nabi Muhammad. Saya berpedoman pada kutipan salah seorang member di Millist ini:
    Sumber:
    Sirah Ibnu Ishaq & Kitab Sejarah Nabi Tertua
    Muhammad bin Yasar bin Ishaq
    Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 1, halaman 196
    ¦ para pemimpin dari semua kelompok Quraish | Utbah bin Rabi'ah dan Sahiba .. NADR BIN HARITS saudara dari bani Abdudar |.

    Dikisahkan pemuka Quraish menawarkan uang, kemuliaan dan kedudukan jika itu memang yang diminta Muhammad SAW. Muhammad SAW menyatakan bukanlah itu yang dia inginkan melainkan pengakuan bahwa dia adalah Rasul yang diutus oleh Allah SWT.
    Atas pernyataan tersebut, pemuka Quraish meminta bukti yaitu :
    1. Menyingkirkan gunung-gunung
    2. Mengalirkan ke tanah Arab sungai-sungai
    3. Menghidupkan kembali nenek moyang mereka.

    Atas permintaan pembuktian itu Muhammad SAW menyatakan ketidakmampuannya.
    Akhirnya pertemuan berakhir tanpa kesepakatan apa-apa.

    Sumber :
    Ibid
    Halaman 198 sd 199 :
    Abdullah bin abu Umayyah mendekati Rasulullah dan berkata, "Wahai Muhammad, MEREKA TELAH MEMBERIKAN TAWARAN YANG BAIK KEPADAMU YANG TERNYATA KAMU TOLAK. Pertama mereka meminta sesuatu darimu untuk mereka agar mereka mengetahu bahwa kedudukanmu disisi Tuhan adalah seperti apa yang kamu katakan sehingga mereka dapat mempercayaimu dan mengikutimu, DAN KAMU TIDAK MELAKUKAN APA-APA. Kemudian mereka memintamu untuk melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri, agar mereka tahu kelebihanmu atas mereka dan kedudukanmu disisi Tuhan, DAN KAMU TIDAK MAU MELAKUKANNYA. Kemudian mereka memintamu untuk mendatangkan hukuman atas mereka agar mereka menjadi takut, dan KAMU TIDAK MELAKUKANNYA

    Karena ketidakmampuan Muhammad SAW meyakinkan Quraish, maka pertentangan terhadap Muhammadpun berlanjut. Salah satunya dilakukan oleh Nadr bin al Harits



Berdasarkan sumber di atas, berarti ketidaksenangan penduduk Mekkah bukan hanya karena nabi Muhammad mengkritik kepercayaan mereka, tapi karena mereka sendiri tidak percaya pada pengakuan Muhammad yang menyatakan dirinya telah diutus Tuhan. Itulah sebabnya kemudian penduduk Mekkah menuntut bukti, tapi nabi tidak sanggup memenuhinya.


Nah, bila gelar AMIN tersebut membuat penduduk Mekkah PERCAYA 100% kepada nabi Muhammad, kenapa hal itu tidak terbukti?

Saya justru tertarik dengan tulisan salah seorang Member:

    IKUT NIMBRUNG ttg 'Al Amin' seperti ditulis oleh Oom Dul memang arti Al Amin itu sekedar orang yg DIBERI KEPERCAYAAN. Tapi apakah orang itu terbukti bisa dipercaya itu mah lain hal.

    Di penjara di mana saja ada pesakitan (prisoner) yg diberi kepercayaan untuk membantu para sipir misalnya membawa kopi ke tempat jaga, ngatur buku2 di perpustakaan, dst. Di US orang semacam itu disebut 'trustee' - yg diberi kepercayaan.

    Nah, kembali ke Muhammad yg dikenal dg nama al Amin itu krn dia diberi kepercayaan oleh majikannya Khadijah untuk menjual dan membeli barang2 dari berbagai negara. Tapi umat Islam kemudian menaambahi, membumbuinya dg arti yg luar biasa: Muhammad orang yg 100% jujur!


AMIN adalah gelar untuk Muhammad sewaktu dia bekerja pada perusahaan Siti Khadijah. Gelar itu tidak ada sangkut pautnya dengan kedudukan Muhammad sebagai nabi. Sesudah Muhammad mengaku nabi, penduduk Mekkah tidak menganggapnya sebagai AMIN, tapi tidak mempercayainya karena itulah mereka menuntut bukti.

Demikian sikap kritis saya, kurang dan lebihnya mohon dikoreksi.

Iwan F.
Last edited by Duladi on Tue Nov 13, 2007 10:28 am, edited 1 time in total.
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby Duladi » Mon Nov 12, 2007 10:08 pm

Saya berdoa semoga Sdr Iwan Firdaus dapat terus bersikap kritis dan berakal sehat, sehingga dia tidak tertular VIRUS RABIES MUHAMMAD.

NB.
Semoga Sdr Iwan tidak keberatan komentar-komentar Anda di Millist Debate Religious saya tampilkan di FFI. Salut!
Last edited by Duladi on Mon Nov 12, 2007 10:14 pm, edited 1 time in total.
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby Duladi » Mon Nov 12, 2007 10:12 pm

Pernyataan-pernyataan Sdr Iwan yang lain

http://groups.yahoo.com/group/debate_re ... sage/21350

MQ wrote:Ana Muammar Qaddhafi:
Angka-angka dalam tabel-tabel di bawah tidak subyektif, semua orang bisa menghitungnya. Dan kalau dicari memang ketemu karena angka-angka itu ada dan tidak seenaknya (arbitrary), melainkan diikat oleh kaidah (norm, theorem) tertentu
Ini Ana ulangi kaidah itu:
1. Jumlah huruf atau huruf-huruf yang dinyatakan oleh al-Muqaththa' aat dalam Surah itu adalah kelipatan 19,
Ini Ana beri contoh selain dari tabel-tabel di bawah:
Surah al-A'raaf (7)
Alif Lam Mim Shad Alif+Lam+Mim+ Shad
2572 1523 1165 98 5358 = 19 x 282

2. Jumlah huruf yang dinyatakan oleh huruf atau huruf-huruf al-Muqaththa' aat persekutuan dalam beberapa Surah, adalah kelipatan 19, Ini Ana beri contoh selain dari tabel di bawah
Tabel Alif,Lam,Mim
============ ========= ========= ========= ====
No. Surah Alif Lam Mim Alif+Lam+Mim
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- -
2 al-Baqarah 4592 3204 2195 9991
3 Ali 'Imraan 2578 1885 1251 5714
7 al-A'raaf 2572 1523 1165 5260
13 al-Ra'd 625 479 260 1364
29 al-'Ankabuwt 784 554 347 1685
30 al-Ruwm 545 396 318 1259
31 Luqmaan 348 298 177 823
32 al-Sajadah 268 154 158 580
------------ --------- --------- --------- ---
Jumlah 12312 8493 5871 26676 = 1404 x 19

Perlu ente ketahui, bahwa angka-angka itu diperoleh dengan memakai komputer dengan program khusus.
Iwan Firdaus wrote:
Pak Nur, kalau tidak ada satupun orang yang menjadi saksi Muhammad ketika menerima wahyu, lalu darimana kita tahu Muhammad itu bohong atau jujur?

Muammar Qaddhafi:
Hal yang sama Ana bisa tanyakan kepada ente, siapa yang menyaksikan proses turunnya wahyu kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi 'Isa. Coba ente jawab Ana punya pertanyaan

Iwan Firdaus wrote:To: Pak Muamar Q.

Assalamualaikum,

Terima kasih banyak untuk kesediaan Bapak menjelaskan.

Tentang mujizat angka-angka, kalau kita hendak mencari-cari, pasti di buku manapun ada. Saya kasih link contoh:
http://cs.anu.edu.au/~bdm/dilugim/

Pak Muammar, pewahyuan kepada nabi Ibrahim, nabi Musa atau pun nabi Isa adalah berbeda.
Untuk referensi, saya berikan kisah 3 orang malaikat yang datang mengunjungi nabi Ibrahim (Kejadian 18 ). Tentu saja ini bukan cuma disaksikan oleh nabi Ibrahim, istrinya yang bernama Sara juga turut menyaksikan.

Begitu pula kisah pewahyuan nabi Musa. Kehadiran Tuhan begitu nyata di hadapan seluruh bani Israil, sewaktu Tuhan hendak memberi 10 Perintah kepada nabi Musa.

Nabi Isa lain lagi. Nabi Isa tidak pernah mengaku-ngaku menerima wahyu dari Jibril.
Tentu saja, kita tidak membutuhkan saksi. Kita tahu kalau nabi Isa memang diutus oleh Tuhan dari mujizat-mujizat dan penampakan-penampakan, misal penampakan malaikat kepada Maria, Elizabeth, atau kepada murid-muridnya sewaktu mereka menjenguk ke kuburan.

Nah, beda lagi kasusnya dengan nabi Muhammad.
Nabi Muhammad mengaku menerima wahyu secara langsung dari malaikat Jibril, untuk dijadikan kitab suci.
Ayat per ayat, kalimat per kalimat, kata per kata, hingga lengkap dengan titik komanya, semuanya diklaim berasal dari Tuhan.
Kita mestinya berpikir kritis, siapakah saksinya?

Sampai di sini dulu tanggapan saya, kurang dan lebihnya mohon koreksi.

Wassalam,

Iwan F.
Last edited by Duladi on Tue Nov 13, 2007 10:39 am, edited 1 time in total.
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby Duladi » Mon Nov 12, 2007 10:16 pm

http://groups.yahoo.com/group/debate_re ... sage/21348

Jesis wrote:Saya melihat Iwan Firdaus ini tidak seperti orang yang mau belajar
Islam. dia langsung menyerang, menghakimi dan memfitnah.


Iwan Firdaus wrote:To: Pak Jesis,

Saya bukan menyerang, tapi mengkritisi.
Saya begitu awam dengan ajaran-ajaran islam, tapi saya "terpaksa" masuk duluan, belajar belakangan. Ini yang membuat saya merasa tidak enak, apalagi sejak saya dipaksa bergabung dengan Millist ini, sepertinya saya melihat ada yang TIDAK BERES dengan Islam.

Tolong Pak Jesis, jawab pertanyaan saya:

Alquran diyakini berisi WAHYU TUHAN saja, tidak ada tercampur dengan kata-kata manusia, seperti halnya Alkitab.
Nah, ini sungguh luar biasa. Tapi yang menjadi pertanyaan saya adalah: Siapa yang menjadi saksi ketika wahyu-wahyu itu didiktekan kepada nabi Muhammad? Bila tidak ada, lalu apa yang bisa kita jadikan landasan keyakinan bahwa Muhammad tidak mengarang wahyu sendiri? Saya belum sempat memiliki Alquran terjemahan Indonesia. Bila sempat saya akan mencoba membacanya, menelitinya ayat demi ayat, adakah ayat-ayat itu yang dimaksud untuk kepentingan pribadi nabi. Bila ada, maka secara logika, benarlah kalau wahyu tersebut belum tentu ASLI.

Inilah sikap kritis saya, Pak Jesis, sebagaimana saya pun juga kritis terhadap agama Kristen.

Semoga semua keraguan saya ini bisa terjawab, sehingga anggapan saya tentang Islam berubah. Selama ini, saya menganggap semua agama adalah baik. Tapi kalau agama Islam memiliki corak yang demikian, tentu saja membuat saya ngeri. Apalagi, di MIllist ini saya dapati kisah-kisah kejam yang telah dilakukan nabi Muhammad ketika menyebarkan agama Islam.

Wassalam,

IWAN F.
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby Duladi » Mon Nov 12, 2007 10:41 pm

Bagaimana kejadiannya Sdr Iwan bisa sampai terperosok jadi MUALAF?

http://groups.yahoo.com/group/debate_re ... sage/21077

Sobat-sobat Millist Debat,

Perkenalkan, saya Iwan Firdaus, seorang mualaf. Saya baru satu bulan ini masuk Islam karena ikut istri. Agama saya sebelumnya adalah Kristen. Sejak alamat email saya didaftarkan di Group Millist ini oleh seorang kawan, saya menerima ratusan email aneh yang isinya banyak mendiskreditkan agama Islam. Sebenarnya ini sungguhan atau cuma main-main?

Tertanda,

Iwan F.


Saya belum sempat belajar ngaji. Sebenarnya saya masuk Islam hanya untuk menyenangkan istri saja, karena kalau saya tidak masuk Islam, mertua menolak, maka pernikahan kami akan gagal.

Bila Islam memang demikian buruk, berarti saya telah menempu jalan yang keliru.

Apakah belajar bahasa Arab adalah sebuah keharusan dalam Islam? Terus terang, saya tidak suka dengan bahasa itu.


Saya hanya menurut saja, ketika saya disuruh mengucapkan 2 kalimat syahadat: Asyahadu alla ilaa ha illalah..wa asyahadu anna muhammadarrasulullah.

Saya baru tahu artinya belakangan, setelah diberitahu istri. Sebenarnya apa makna dari kalimat tersebut?


Pak Gabriele, terima kasih untuk perhatiannya.
Sungguh saya tidak habis pikir, bahwa kehidupan di dunia internet ternyata demikian menyeramkan.
Saya tidak pernah tahu, kalau di internet ada perdebatan seperti ini.

Selama ini saya menganggap semua agama pada dasarnya adalah sama. Semua agama percaya adanya Tuhan, menyembah Tuhan yang satu, hanya cara beribadahnya saja yang berbeda-beda.

Jadi, buat saya mau Islam kek, atau Kristen kek, tidak ada masalah.

Tapi setelah membaca postingan-postingan di MIllist ini, sepertinya ada yang mengganjal di hati saya tentang Islam.

Saya menyadari, orang Kristen di millist ini sudah tentu akan menjelek-jelekkan Islam, dan demikian juga sebaliknya, saya lihat teman-teman saya yang Muslim juga menjelek-jelekkan agama Kristen.

Tapi, kok ya ada yang berani mengutip ayat-ayat kitab suci di sini, dan tampaknya, ayat-ayat tersebut sangat aneh dan jahat. Ketika saya bertanya kepada teman-teman Muslim, apakah ayat-ayat itu asli, tidak ada satu pun yang menjawab. Kenapa?

Apakah memang benar agama Islam demikian buruk? Hanya saya saja yang selama ini **** dan tidak mengetahuinya?
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby kbg » Tue Nov 13, 2007 11:27 am

Bung Duladi, karena isinya menyangkut saudara Iwan F
maka seharusnya agar dapat cepat dilihat mata ada baiknya judulnya disebutkan IWAN FIRDAUS, ini untuk memudahkan beliau membuka thread ini, atau anda bisa PM dia.

IWAN wrote:Sobat-sobat Millist Debat,

Perkenalkan, saya Iwan Firdaus, seorang mualaf. Saya baru satu bulan ini masuk Islam karena ikut istri. Agama saya sebelumnya adalah Kristen. Sejak alamat email saya didaftarkan di Group Millist ini oleh seorang kawan, saya menerima ratusan email aneh yang isinya banyak mendiskreditkan agama Islam. Sebenarnya ini sungguhan atau cuma main-main?

Tertanda,

Iwan F.

--------------------------------------
Saya belum sempat belajar ngaji. Sebenarnya saya masuk Islam hanya untuk menyenangkan istri saja, karena kalau saya tidak masuk Islam, mertua menolak, maka pernikahan kami akan gagal.

Bila Islam memang demikian buruk, berarti saya telah menempu jalan yang keliru.

Apakah belajar bahasa Arab adalah sebuah keharusan dalam Islam? Terus terang, saya tidak suka dengan bahasa itu.

-----------------------------------------
Saya hanya menurut saja, ketika saya disuruh mengucapkan 2 kalimat syahadat: Asyahadu alla ilaa ha illalah..wa asyahadu anna muhammadarrasulullah.

Saya baru tahu artinya belakangan, setelah diberitahu istri. Sebenarnya apa makna dari kalimat tersebut?

Saran saya kepada anda:

sebaiknya anda jangan terburu2 untuk keluar dari Islam, tidak ada salahnya anda terus mendalami ajaran agama tsb, cuma mohon anda pertahankan sikap kritis dan logika, akal sehat anda tsb.

Selalu lihatlah ajaran yg penuh kasih...

hanya saja hati2 kalau mau mengkritisi Islam di depan Ustad2 dan semacamnya itu bisa berbahaya, pakailah kata2 yg hormat dan halus...

Jika pengetahuan anda sudah sangat dalam tentang Islam maka barulah anda pilih jalan terbaik yg menurut anda, tapi ingat keluar dari Islam tidaklah gampang, apalagi anda sudah sampai punya gelar dll.

jadi sebelumnya anda harus pikir2 yg matang...

mungkin thread ini bisa membantu anda
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=19440
User avatar
kbg
 
Posts: 862
Joined: Wed Oct 11, 2006 2:41 pm
Location: http://www.kbg.co.za/

Postby MONTIR KEPALA » Tue Nov 13, 2007 2:36 pm

saya perhatikan si Duladi akan terjebak rasa sbgmana yg terjadi pada kawan kita DT ....
angkutan Benci duladi terlalu sarat...sampai akhirnya Virus berubah jd cinta
User avatar
MONTIR KEPALA
 
Posts: 4401
Joined: Wed Jul 26, 2006 10:16 am

Postby japra » Tue Nov 13, 2007 4:58 pm

siapa bilang muslim percaya 100% ama muhammad ??? ngikutin sunnah nya aja 1/2 1/2. wkwwkwk. :lol: :lol: :lol:
User avatar
japra
 
Posts: 820
Joined: Wed Feb 14, 2007 5:53 pm
Location: bali mester

Postby NADIA » Tue Nov 13, 2007 5:21 pm

Duladi wrote:Saya berdoa semoga Sdr Iwan Firdaus dapat terus bersikap kritis dan berakal sehat, sehingga dia tidak tertular VIRUS RABIES MUHAMMAD.

NB.
Semoga Sdr Iwan tidak keberatan komentar-komentar Anda di Millist Debate Religious saya tampilkan di FFI. Salut!


Bang Dul...dul, lha koq udah tayang baru berharap semoga tidak keberatan, etikanya : permisi dulu ama Sdr Iwan, baru ditayangkan kalo diizinkan.....piye tho kalo orangnya gak sudi??? :roll:
User avatar
NADIA
 
Posts: 82
Joined: Thu Aug 09, 2007 2:16 pm

Postby Iwan Firdaus » Thu Nov 15, 2007 10:15 am

Tidak apa-apa kok. Pertanyaan-pertanyaan saya di millist debate religious kebanyakan tidak dijawab. Bila ada teman-teman di sini yang bisa memberikan penjelasan yang logis pada saya, saya akan sangat berterima kasih sekali.
Iwan Firdaus
 
Posts: 12
Joined: Sun Nov 11, 2007 1:27 pm

Postby Busman » Thu Nov 15, 2007 2:40 pm

Memang repot juga posisi sdr Iwan ini, harus hidup dalam ketidaknyamanan, seperti makan buah simalakama, mudah2an anda mendapat jalan penyelesaian yang baik.
User avatar
Busman
 
Posts: 2276
Joined: Fri Oct 19, 2007 9:26 pm

Postby japra » Thu Nov 15, 2007 3:29 pm

Busman wrote:Memang repot juga posisi sdr Iwan ini, harus hidup dalam ketidaknyamanan, seperti makan buah simalakama, mudah2an anda mendapat jalan penyelesaian yang baik.


bukan "ibarat makan buah simalakama" tapi yg benar "ibarat bertemu buah simalakama"

to iwan :

gimana kabarnya kelamin bung iwan ?? masih baik2 saja ? ingat wan. anda boleh poligami loh. nikah siri juga boleh. :lol: :lol: :lol:
User avatar
japra
 
Posts: 820
Joined: Wed Feb 14, 2007 5:53 pm
Location: bali mester

Postby MONTIR KEPALA » Fri Nov 16, 2007 1:09 pm

Iwan Firdaus wrote:Tidak apa-apa kok. Pertanyaan-pertanyaan saya di millist debate religious kebanyakan tidak dijawab. Bila ada teman-teman di sini yang bisa memberikan penjelasan yang logis pada saya, saya akan sangat berterima kasih sekali.

eeh ngomong2 yg mana pertanyaanya yah ? :D
User avatar
MONTIR KEPALA
 
Posts: 4401
Joined: Wed Jul 26, 2006 10:16 am

Postby Duladi » Fri Dec 07, 2007 10:34 pm

PERKATAAN MUHAMMAD = PERKATAAN ALLAH SWT

Paijo: Panjul bersabda, "Sesungguhnya Alquran sudah tidak asli lagi, isinya telah diubah-ubah. Maka Aku mengutus rasul Paijo untuk memberimu kitab suci yang masih asli dan murni, langsung dari mulut Panjul Tuhan Pencipta."

Muslim: Apa buktinya ucapanmu itu adalah kata-kata Tuhan Panjul...?

Paijo: Panjul bersabda, "Aku bersumpah demi bulan dan bintang-bintang di waktu malam, dan bersumpah demi matahari di waktu siang, sesungguhnya kata-kata Paijo adalah benar-benar Firman Tuhan."

Muslim: Hei, edan..... Itu khan kata-katamu sendiri? Kalau memang benar ucapanmu barusan adalah firman Tuhan, maka biarlah Panjul sendiri yang ngomong......

Paijo: Panjul bersabda, "Katakanlah: Sesungguhnya Panjul maha bersembunyi, manusia tidak mampu bertemu Tuhannya sebelum dia menemui ajalnya. Bila manusia tetap memaksa ingin bertemu Tuhan, sesungguhnya gunung-gunung pun hancur bila didekati oleh Tuhan, apalagi manusia?"

Muslim: Kau gila dan telah menghujat Tuhan. Kamu telah mengarang-ngarang kata sendiri dan mengklaimnya sebagai firman. Semoga azab Awloh menimpamu.

Paijo: Bukankah Muhammad dahulu pun juga demikian? Kenapa kepadaku kalian curiga? Awloh bukanlah Tuhan, tapi Panjullah Tuhan yang sesungguhnya. Kamulah yang akan dilaknat Panjul. Panjul akbar.... Panjul akbar.....
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby Jajang » Sat Dec 08, 2007 12:30 am

Iwan Firdaus wrote:
To: Pak Muamar Q.

Assalamualaikum,

Terima kasih banyak untuk kesediaan Bapak menjelaskan.

Tentang mujizat angka-angka, kalau kita hendak mencari-cari, pasti di buku manapun ada. Saya kasih link contoh:
http://cs.anu.edu.au/~bdm/dilugim/

Pak Muammar, pewahyuan kepada nabi Ibrahim, nabi Musa atau pun nabi Isa adalah berbeda.
Untuk referensi, saya berikan kisah 3 orang malaikat yang datang mengunjungi nabi Ibrahim (Kejadian 18 ). Tentu saja ini bukan cuma disaksikan oleh nabi Ibrahim, istrinya yang bernama Sara juga turut menyaksikan.

Begitu pula kisah pewahyuan nabi Musa. Kehadiran Tuhan begitu nyata di hadapan seluruh bani Israil, sewaktu Tuhan hendak memberi 10 Perintah kepada nabi Musa.

Nabi Isa lain lagi. Nabi Isa tidak pernah mengaku-ngaku menerima wahyu dari Jibril.
Tentu saja, kita tidak membutuhkan saksi. Kita tahu kalau nabi Isa memang diutus oleh Tuhan dari mujizat-mujizat dan penampakan-penampakan, misal penampakan malaikat kepada Maria, Elizabeth, atau kepada murid-muridnya sewaktu mereka menjenguk ke kuburan.

Nah, beda lagi kasusnya dengan nabi Muhammad.
Nabi Muhammad mengaku menerima wahyu secara langsung dari malaikat Jibril, untuk dijadikan kitab suci.
Ayat per ayat, kalimat per kalimat, kata per kata, hingga lengkap dengan titik komanya, semuanya diklaim berasal dari Tuhan.
Kita mestinya berpikir kritis, siapakah saksinya?


Dari pernyataan Iwan Firdaus ini jelas ! dia tidak mengerti Sirah Nabawiyah.
Bisa jadi dia itu seorang Mussionaris yang ingin masuk dan mengganggu keyakinan umat islam !
Bagaimana mungkin disitu ada saksi karena Jibril datang dikala datang Muhammad sedang merenungi keadaan dan Tingkah laku Orang Quraisy yang tidak beradab ! tidak mungkin ada saksi. Saksinya hanya Allah dan Malaikat Jibril karena disaat itu belum ada siapa-siapa !

Bukti persaksiannya :
Muhammad merasa bingung tentang kedatangan Jibril itu, didalam benaknya apakah Jibril itu malaikat atau Iblis hingga beliau tidak dapat tidur, menggigil seperti orang kedinginan hingga diselimuti oleh Khodijah?
maka Muhammad mengadu kepada istrinya, yaitu Khodijah ! maka Khodijah memberi saran kepada suaminya untuk menemui pamannya yang menganut agama Nabi Isa yang yang tidak mempercayai Trinitas. tapi Muhammad hanya diam saja !
Akhirnya Khodijah menemui pamannya yaitu Waraqoh bin Naufal, Waraqoh bin Naufal datang menemui Muhammad dan bertanya tentang kejadian itu !
Wahai Muhammad apa yang terjadi dengan engkau? "
maka Muhammad menceritakan kejadian yang telah dialaminya di Gua Hira yang telah ditemui Jibril dalam bentuk aslinya !
Maka berkatalah Waraqoh bin naufal, " Demi zat yang ditangannya ! telah benarlah yang telah disaksikan Muhammad seperti yang telag dialami Musa dan Yesus ! maka aku akan beriman kepada engkau Yaa Muhammad. "

dari cerita tadi ! maka dengan jelas bahwa persaksian Muhammad tidak perlu disaksikan dengan kasat mata tetapi perlu disaksikan dengan kejadian-kejadian yang dialaminya.
ingat ! Muhammad bergelar Al-Amin hingga dia menjadi Nabi ! masalah orang Quraisy tidak mengakui Kerosulan Muhammad, itu dikarenakan oleh bahwa Orang Quraisy tidak mau meninggalkan agama penyembah berhala yang sudah mengakar di Daerah tersebut, sementara ajaran Muhammad mengharuskan meninggalkan penyembahan patung-patung, baik patung Yesus maupun patung yang lain !
Seorang Raja yang mengakui kenabian Muhammad adalah seorang Raja yang beragama Nasrani yang bernama Haeroklius, dia adalah raja Romawi !
Jajang
 
Posts: 761
Joined: Fri Nov 16, 2007 9:53 pm

Postby Duladi » Sat Dec 08, 2007 12:37 am

Jajang ngomongin masalah Al-Amin, ya?

Pertanyaan saya sama dengan pertanyaan Sdr Iwan:

Kalau Muhammad bergelar Al-Amin, lalu di mana bukti berfungsinya gelar itu, lha wong orang-orang Quraisy tidak menganggap Muhammad Amin?

Percuma dong, orang-orang Muslim ngotot mengatakan Muhammad bergelar Al-Amin sehingga kata-katanya bisa dipercaya, sedangkan orang-orang pemberi gelar itu sendiri malah tidak mempercayainya?

Hayo, tanya kepada Ustad Montir, gelar Amin itu didapat Muhammad dari siapa?
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby Jajang » Sat Dec 08, 2007 12:43 am

Duladi wrote:Jajang ngomongin masalah Al-Amin, ya?

Pertanyaan saya sama dengan pertanyaan Sdr Iwan:

Kalau Muhammad bergelar Al-Amin, lalu di mana bukti berfungsinya gelar itu, lha wong orang-orang Quraisy tidak menganggap Muhammad Amin?

Percuma dong, orang-orang Muslim ngotot mengatakan Muhammad bergelar Al-Amin sehingga kata-katanya bisa dipercaya, sedangkan orang-orang pemberi gelar itu sendiri malah tidak mempercayainya?

Hayo, tanya kepada Ustad Montir, gelar Amin itu didapat Muhammad dari siapa?


Kata siapa !
coba elu baca ini !
Pada awal kerasulannya, Muhammad SAW pernah bertanya kepada kaum Quraisy, 'Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kukatakan bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda? Percayakah kalian?' Jawab mereka, 'Ya, engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat kau berdusta.' (Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, hlm 121-122). Jawaban orang Quraisy itu disampaikan secara spontan karena yang bertanya adalah Muhammad bin Abdullah. Sosok yang selama ini mereka gelari dengan Al Amin, orang yang dipercaya. Ada fenomena menarik dari penganugerahan gelar Al-Amin ini. Pertama, gelar Al-Amin lahir dari mulut orang-orang Quraisy. Padahal, sejarah mencatat bahwa peradaban Quraisy saat itu dan jazirah Arab umumnya berada di tengah peradaban Jahiliyyah. Sebuah peradaban yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara yang hak dan batil, antara yang halal dan haram. Sebuah peradaban yang sudah sangat rusak dan bobrok. Namun, kejujuran Muhammad bin Abdullah tidak luntur oleh peradaban di sekelilingnya. Justru orang-orang yang hidup di peradaban Jahiliyah itu (Quraisy) secara sukarela memberikan penghargaan kepada kejujuran Muhammad dengan menggelarinya Al-Amin. Hikmah pertama dari gelar ini, sepertinya Allah ingin memberikan pelajaran bahwa kejujuran adalah sebilah mata uang yang tidak saja akan senantiasa berlaku. Tetapi, juga akan selalu berharga di manapun dan kapan pun, sekalipun di tengah peradaban yang carut-marut. Kedua, gelar Al-Amin ini telah diberikan oleh orang-orang Quraisy jauh sebelum masa kerasulannya, kira-kira pada usia 15-20 tahun. Penganugerahan gelar Al-Amin yang sudah melekat jauh sebelum Muhammad diangkat sebagai Rasul ini mengandung pelajaran bahwa kejujuran adalah modal awal sekaligus modal sebaik-baiknya untuk menempuh kehidupan. Baik dalam kedudukan Muhammad selaku hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi, tidak terkecuali dalam menjalankan amanah kepemimpinan di hadapan sesama umat manusia. Lawan dari kejujuran adalah perilaku dusta. Mengenai hal ini Rasulullah berpesan, 'Hendaklah kamu sekalian menjaga diri dari berperilaku dusta. Sesungguhnya dusta akan selalu membawa kepada kejahatan, dan sesungguhnya setiap kejahatan akan menyeret pelakunya ke dalam neraka.' Dusta berpotensi membawa pelakunya untuk berbuat jahat. Seorang pencuri, ketika ia mencuri pada dasarnya ia sedang tidak jujur kepada dirinya sendiri, karena barang yang ia ambil bukan miliknya. Orang yang dengan sengaja meninggalkan shalat, zakat, dan berbagai syariat lainnya, pada dasarnya orang itu sedang tidak jujur pada dirinya sendiri. Ia telah mengingkari jati dirinya sebagai seorang khalifah maupun hamba Allah. Alhasil, orang Kristen sudah seharusnyalah menegakkan kejujuran, di manapun dan kapan pun. Jujur pada diri sendiri dan orang lain.

karena selama ini, Kristen belum ada yang jujur tentang Muhammad !
Jajang
 
Posts: 761
Joined: Fri Nov 16, 2007 9:53 pm

Postby Duladi » Sat Dec 08, 2007 12:04 pm

Sdr Jajang,

Pertanyaanku yg pertama:
Dari mana sumber Haekal itu? Haekal adalah seorang ulama Muslim yang hidup pada abad 20, mestinya dia mengutip dari tulisan sejarawan yang lebih awal hidupnya. Mohon Anda tunjukkan sumber yang dikutip oleh Muhammad Husein Haekal.

Pertanyaan kedua:
Gelar Al-Amin menurut Haekal adalah berasal dari kaum Quraisy Mekkah. Tapi dalam Sirat Rasul tidak tertulis demikian. Sebutan Al-Amin adalah pemberian Ibnu Ishaq kepada nabi tercinta. Yang jadi pertanyaan saya, bila benar gelar itu pemberian orang Quraisy, kenapa orang Quraisy tidak mempercayai Muhammad?

Untuk penyegaran, ini satu contoh kisah ketidakpercayaan orang Quraisy:

Sumber :
Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua
Muhammad bin Yasar bin Ishaq
Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 1, halaman 196

… para pemimpin dari semua kelompok Quraish – Utbah bin Rabi'ah dan Sahiba ….. NADR BIN HARITS saudara dari bani Abdudar ….
Dikisahkan pemuka Quraish menawarkan uang, kemuliaan dan kedudukan jika itu memang yang diminta Muhammad SAW. Muhammad SAW menyatakan bukanlah itu yang dia inginkan melainkan pengakuan bahwa dia adalah Rasul yang diutus oleh Allah SWT.
Atas pernyataan tersebut, pemuka Quraish meminta bukti yaitu :
1. Menyingkirkan gunung-gunung
2. Mengalirkan ke tanah Arab sungai-sungai
3. Menghidupkan kembali nenek moyang mereka.
Atas permintaan pembuktian itu Muhammad SAW menyatakan ketidakmampuannya.
Akhirnya pertemuan berakhir tanpa kesepakatan apa-apa.


Sumber :
Ibid
Halaman 198 – 199 :
Abdullah bin abu Umayyah mendekati Rasulullah dan berkata, "Wahai Muhammad, MEREKA TELAH MEMBERIKAN TAWARAN YANG BAIK KEPADAMU YANG TERNYATA KAMU TOLAK. Pertama mereka meminta sesuatu darimu untuk mereka agar mereka mengetahu bahwa kedudukanmu disisi Tuhan adalah seperti apa yang kamu katakan sehingga mereka dapat mempercayaimu dan mengikutimu, DAN KAMU TIDAK MELAKUKAN APA-APA. Kemudian mereka memintamu untuk melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri, agar mereka tahu kelebihanmu atas mereka dan kedudukanmu disisi Tuhan, DAN KAMU TIDAK MAU MELAKUKANNYA. Kemudian mereka memintamu untuk mendatangkan hukuman atas mereka agar mereka menjadi takut, dan KAMU TIDAK MELAKUKANNYA ……..

Karena ketidakmampuan Muhammad SAW meyakinkan Quraish, maka pertentangan terhadap Muhammadpun berlanjut. Salah satunya dilakukan oleh Nadr bin al Harits

Sumber : Ibid
Halaman 200 – 201
Pada saat itu Nadr bin al Harits adalah salah satu setan dari Quraish. Dia selalu mencaci maki Rasulullah dan menunjukkan sikap bermusuhan. Dia pernah pergi ke al Hira dan belajar di sana tentang hikayat raja-raja Persia, hikayat tentang Rustum dan Isbandiyar. Ketika Rasullulah mengadakan pertemuan dimana dia mengingatkan mereka tentang Tuhan, dan mengingatkan umatnya tentang apa yang telah terjadi pada banyak generasi yang telah lalu akan pembalasan yang ditimpakan Tuhan atas kelaliman mereka, AL NADR MENGATAKAN KEPADA MEREKA, "AKU MEMILIKI KISAH DAN CERITA YANG LEBIH BAIK DAN LEBIH MENARIK DARI YANG DIA MILIKI, IKUTLAH AKU". Kemudian dia mulai menceritakan kepada mereka kisah tentang raja-raja Persia, Rustum dan Isbandiya, dan kemudian dia berkata, "Atas dasar apa kalian menganggap Muhammad adalah seorang penutur kisah yang lebih baik dari aku?"

Jadi kesalahan Nadr bin Al Harits adalah karena dia berani menyaingi Muhammad SAW dalam menceritakan kisah-kisah umat terdahulu. NADR BERANI MELAYANI TANTANGAN UNTUK MEMBUAT AYAT-AYAT YANG SERUPA AL-QUR'AN, DAN AKIBATNYA ADALAH HUKUMAN MATI.

Sumber :Ibid
jilid 2, halaman 122
… Ketika Rasulullah sedang berada di al Safira, NADR DIBUNUH OLEH ALI, sebagaimana yang diceritakan oleh seorang penduduk dari Mekah kepada saya.

Sungguh ironis, Muhammad SAW sendiri yang menantang orang-orang untuk mendatangkan ayat-ayat serupa Al-Qur'an, dan SAAT ADA YANG MELADENI TERNYATA TIDAK BISA DITERIMA OLEH MUHAMMAD SAW. Dan akibatnya adalah hukuman mati.

Saya ulangi kembali pertanyaan: Bila gelar Amin adalah pemberian orang Quraisy, kenapa pemberi gelar itu malah tidak percaya?

Ini ibarat saya mengatakan JAJANG adalah "orang yang sangat jujur", tapi di saat yang sama saya tidak menganggap Anda orang yang jujur sehingga saya tidak mempercayai Anda. Tapi orang-orang pengikut Anda 1400 tahun yang akan datang, menjadikan kata-kata saya itu sebagai rujukan iman bahwa JAJANG benar-benar orang yang sangat jujur. Bagaimana bisa mereka memakai kata-kata saya untuk rujukan iman, sedangkan saya sendiri sebagai pemberi julukan itu tidak mempercayai Anda?

Pertanyaan ketiga:
Ini yang seharusnya diperdebatkan dulu, siapa pemberi gelar AMIN itu? Ibnu Ishaq atau orang-orang Quraisy?

Kalau pemberi gelar itu adalah Ibnu Ishaq, maka tidak aneh karena Ibnu Ishaq memang gemar memuji-muji Muhammad setinggi langit walau realita adalah sebaliknya.

Tetapi kalau pemberi gelar itu orang-orang Quraisy, kenapa orang-orang Quraisy selaku pemberi gelar itu malah tidak mempercayai Muhammad? Bukankah ini aneh? Bukankah lebih tepat bila saya katakan gelar Amin untuk Muhammad itu hanyalah BULSHIT ulama-ulama Arab untuk menutupi kebotolan iman mereka kepada bualan-bualan Muhammad yang katanya dikte malaikat namun tanpa saksi itu?


Jajang wrote:Ada fenomena menarik dari penganugerahan gelar Al-Amin ini. Pertama, gelar Al-Amin lahir dari mulut orang-orang Quraisy. Padahal, sejarah mencatat bahwa peradaban Quraisy saat itu dan jazirah Arab umumnya berada di tengah peradaban Jahiliyyah. Sebuah peradaban yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara yang hak dan batil, antara yang halal dan haram. Sebuah peradaban yang sudah sangat rusak dan bobrok.


Tepat. Justru karena peradaban Arab ketika itu adalah benar-benar BOTOL & BUTA SECARA ROHANI, tak bisa bedakan baik dan salah, maka mereka dengan asal-asalan memberi gelar kepada orang yang tidak jelas kenabiannya. Namun sesudah itu mereka menyesal dan tidak mempercayainya lagi. Bukankah benar demikian?

Terbukti gelar itu sama sekali tidak berguna untuk Muhammad. Herannya, kenapa Anda yang hidup 1400 tahun kemudian, malah mempercayai gelar itu sebagai ketetapan ilahi?

Bila orang-orang sekampung memberimu gelar AMIN, apakah itu membuatmu menjadi lebih jujur dari saya? Apakah gelar itu membuatmu tidak mampu berbohong? Apakah gelar itu semacam chip komputer yang tertanam dalam otakmu, yang segera akan bereaksi bila si pemakainya berbohong? Walaupun Jajang diberi gelar 1000 AMIN, saya tidak menjamin dirimu benar-benar JUJUR 100%. Apalah artinya sebuah gelar, Jajang yang manis?

Jajang wrote:Namun, kejujuran Muhammad bin Abdullah tidak luntur oleh peradaban di sekelilingnya. Justru orang-orang yang hidup di peradaban Jahiliyah itu (Quraisy) secara sukarela memberikan penghargaan kepada kejujuran Muhammad dengan menggelarinya Al-Amin.


Pertanyaan keempat untukmu:
Benarkah Muhammad tidak pernah bohong?
Orang yang jujur tidak akan mengajarkan taqqiya.

Itu pun juga dilakukan oleh Muhammad sendiri. Ia sering membohong dan memerintahkan pengikutnya utk melakukan yg sama. Alasannya adalah prospek sukses dlm missi menyebarkan Islam akan membatalkan larangan berbohong dari Allah. Sebuah contoh baik adalah pembunuhan Kaab Ibn al-Ashrf, penyair Yahudi dari suku Banu Nadir.
Dilaporkan bahwa Kaab menunjukkan dukungan bagi Quraish dalam perang mereka melawan Muhamad. Juga, Kaab dituduh menulis sajak2 menggiurkan ttg wanita Muslim. Ini membuat Muhamad marah.

Jadi apa yg dilakukan Muhammad ? IA MEMINTA SUKARELAWAN UTK MENGHABISI Kaab Ibn al-Ashraf. Spt dikatakannya sendiri, Kaab telah "Melukai Allah dan rasulNya." Pada saat itu Kaab Ibn al-Ashraf, dan sukunya masih kuat, jadi tidak mudah bagi orang asing utk menyusup dan membunuhnya. Seorang Muslim bernama Ibn Muslima, bersedia utk melakukan tugas ini dgn syarat Muhamad mengijinkannya utk berbohong. Dgn ijin Muhamad, Ibn Muslima, menemui Kaab dan berbohong padanya dgn mengaku tidak senang kpd Muhamad. Saat ia mendapatkan kepercayaan Kaab, suatu malam ia membujuknya agar keluar rumah dan membunuhnya di sebuah tempat terkucil.

Ini mirip dgn cerita pembunuhan Shaaban Ibn Khalid al-Hazly. Dikatakan bahwa Shaaban mengumpulkan tentara utk memerangi Muhamad. Muhamad membalas dgn memerintahkan Abdullah Ibn Anis utk membunuh Shaaban. Lagi2, calon pembunuh itu meminta ijin Muhamad agar dapat berbohong. Muhamad setuju dan lalu memerintahkan agar sang calon pembunuh berbohong dan mengaku dari suku Khazaa. Ketika Shaaban melihat datangnya Abdullah, ia bertanya asal kesukuannya. Abdullah menjawab, "Dari Khazaa." Ia lalu menambahkan, "saya dengar kau sedang mengumpulkan tentara utk memerangi Muhamad dan saya datang utk bergabung dgn mu." Abdullah mulai berjalan dgn Shaaban dan bercerita kpdnya bgm Muhamad datang kpd mereka dgn ajaran palsunya dan mengeluh bahwa Muhamad bergosip ttg para patriarch Arab dan menghancurkan harapan2 Arab. Mereka akhirnya sampai di tenda Shaaban. Saahbat2 Shaaban meninggalkannya dan Shaaban mengundang Abdullah utk masuk dan beristirahat dgnnya. Abdullah duduk disana sampai Shaaban tertidur. Apa yg dilakukannya kemudian ? Ia memenggal kepalanya dan membawanya ke Muhamad sbg trophy. Saat Muhamad melihat Abdullah, ia berteriak dgn girang, "Wajahmu penuh kemenangan (Aflaha al- wajho)." Abdullah membalas salam itu dgn mengatakan, "Wajahmu-lah, Rasulullah yang penuh kemenangan (Aflaha wajhoka, ye rasoul Allah)."

Kisah berbohong Muhammad yang lain ada pada kisah perzinahannya dengan Mariya di rumah Hafsah istrinya. Muhammad berbohong kepada Hafsah bahwa ayahnya memanggilnya. Maka setelah Hafsah pergi keluar menemui ayahnya, Muhammad pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk menyetubuhi Mariya di ranjang Hafsah. Mariya adalah budak Hafsah.

Jadi bagaimana menurutmu, berfaedahkah gelar pemberian orang-orang Quraisy tersebut?

Jajang wrote:Hikmah pertama dari gelar ini, sepertinya Allah ingin memberikan pelajaran bahwa kejujuran adalah sebilah mata uang yang tidak saja akan senantiasa berlaku. Tetapi, juga akan selalu berharga di manapun dan kapan pun, sekalipun di tengah peradaban yang carut-marut. Kedua, gelar Al-Amin ini telah diberikan oleh orang-orang Quraisy jauh sebelum masa kerasulannya, kira-kira pada usia 15-20 tahun. Penganugerahan gelar Al-Amin yang sudah melekat jauh sebelum Muhammad diangkat sebagai Rasul ini mengandung pelajaran bahwa kejujuran adalah modal awal sekaligus modal sebaik-baiknya untuk menempuh kehidupan.


Pertanyaan kelima:
Siapakah yang membuat orang menjadi jujur? Diri sendiri atau orang lain?

Apakah bila saat ini saya memberimu gelar AL-AMIN, maka kamu akan menjadi manusia yang 100% tidak pernah dusta?

Apakah sifat-sifat manusia ditentukan dari gelar yang disandangnya?

Hanya karena orang-orang Quraisy diyakini telah memberi gelar Amin kepada Muhammad, lantas kamu pun percaya kepada Muhammad? Padahal orang-orang Quraisy sendiri selaku pemberi gelar itu malah tidak percaya kepadanya.

Apakah orang-orang Quraisy itu setaraf MALAIKAT, sehingga gelar yang mereka berikan ibarat sebuah STEMPEL CAP KERAJAAN yang berlaku abadi selamanya?

Bila orang-orang Quraisy itu memberimu gelar "TIDAK PERNAH BOHONG", maka untuk selamanya kamu tidak pernah bohong? Setinggi itukah ilmu jampi-jampi bani Quraisy Mekkah?

Jajang wrote:Baik dalam kedudukan Muhammad selaku hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi, tidak terkecuali dalam menjalankan amanah kepemimpinan di hadapan sesama umat manusia. Lawan dari kejujuran adalah perilaku dusta.

Terbukti Muhammad melakukan dusta. Bahkan dia pun tidak segan-segan melanggar sumpahnya sendiri di hadapan Awlohnya.

Jajang wrote:Mengenai hal ini Rasulullah berpesan, 'Hendaklah kamu sekalian menjaga diri dari berperilaku dusta. Sesungguhnya dusta akan selalu membawa kepada kejahatan, dan sesungguhnya setiap kejahatan akan menyeret pelakunya ke dalam neraka.'

Tolong Jajang tidak tersinggung bila saya katakan, "PREET!"

Jajang wrote:Dusta berpotensi membawa pelakunya untuk berbuat jahat. Seorang pencuri, ketika ia mencuri pada dasarnya ia sedang tidak jujur kepada dirinya sendiri, karena barang yang ia ambil bukan miliknya.

Jajang, Muhammad sendiri mengaku kalau dirinya pencuri dan pezinah. Ini hadistnya:

Sahih Bukhari Vol 9, Book 93. Hadith 579.
Diriwayatkan oleh Abu Dharr : Nabi berkata, Jibril datang padaku dan memberi aku kabar baik bahwa siapa saja yang mati tanpa menyembah apapun selain Allah akan masuk surga. Aku bertanya (pada Jibril), "Walaupun dia mencuri, walaupun dia berzinah?" Dia menjawab, " (Ya), "Walaupun dia mencuri, dan walaupun dia berzinah."

Mencuri adalah bentuk halus dari merampok. Kita tahu, Muhammad melakukan perampokan untuk mencari nafkah setelah dia hijrah.

Berzinah adalah bentuk halus dari pemerkosaan. Kita tahu, Muhammad menghalalkan perkosaan terhadap wanita-wanita yg ditawannya. Muhammad juga berzinah kepada sepupunya sendiri bernama Umi Hanni ketika di Mekkah sepeninggal Khadija.

Jajang wrote:Orang yang dengan sengaja meninggalkan shalat, zakat, dan berbagai syariat lainnya, pada dasarnya orang itu sedang tidak jujur pada dirinya sendiri. Ia telah mengingkari jati dirinya sebagai seorang khalifah maupun hamba Allah.


Orang yang tidak sholat, dosa.
Orang yang tidak zakat, dosa.
Orang yang melanggar syariat agama, dosa.

Tapi merampok, memperbudak, memperkosa, membunuh tidak dosa.

Ini ajaran yang sangat BOTOL, botolnya amit-amit.

Jajang wrote:karena selama ini, Kristen belum ada yang jujur tentang Muhammad!

Saya memang Kristen, tapi situs ini bukan situs Kristen. Saya sebagai pengritik Islam sudah jujur dalam menilai nabimu. Justru Andalah yang hidup dalam penyangkalan, membutakan diri terhadap kenyataan yang ada. Jadi Jajang-lah yang telah tidak jujur tentang Muhammad.
Last edited by Duladi on Sat Dec 08, 2007 12:20 pm, edited 1 time in total.
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby telor » Sat Dec 08, 2007 12:18 pm

NADIA wrote:
Duladi wrote:Saya berdoa semoga Sdr Iwan Firdaus dapat terus bersikap kritis dan berakal sehat, sehingga dia tidak tertular VIRUS RABIES MUHAMMAD.

NB.
Semoga Sdr Iwan tidak keberatan komentar-komentar Anda di Millist Debate Religious saya tampilkan di FFI. Salut!


Bang Dul...dul, lha koq udah tayang baru berharap semoga tidak keberatan, etikanya : permisi dulu ama Sdr Iwan, baru ditayangkan kalo diizinkan.....piye tho kalo orangnya gak sudi??? :roll:


Jangan sok loe, tipikal muslim bener elo. Sok megang etika, gue yakin elo juga banyak ngutip2 tanpa permisi.
Tuh Iwan F dah jawab, mau ngomong apa lagi??

Ayo tunjukin ke-munafikan elo yang lain lagi!!
User avatar
telor
 
Posts: 1078
Joined: Sat Oct 22, 2005 1:51 pm

Postby Maverick » Sat Dec 08, 2007 12:23 pm

Siapa yang bisa mengatakan Nabi Isa itu anak Tuhan sesungguhnya! Tolong jawab!
Maverick
 
Posts: 146
Joined: Mon Jun 04, 2007 1:45 pm

Next

Return to Muhammad



Who is online

Users browsing this forum: No registered users