.

Video permintaan Patah Salero :)

Yang santai dan rileks. Gosip juga boleh.

Video permintaan Patah Salero :)

Postby fayhem_1 » Fri Jul 25, 2014 6:49 am

dari http://indonesia.faithfreedom.org/forum/tolak-prabowo-sebagai-presiden-t54929/page160.html

Fayhem wrote:bentar patah, santai dulu nikmati gambar ini :D

Image


Patah Salero wrote:@atas

Enggak pernah dengar yang namanya soto campur sop, yah. Kubunya jokowi paling jago loh, urusan masak-masak yang begitu.

Kalau ada gw minta videonya dong.


Videonya bisa dilihat disini :

http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2075952/video-keanehan-hasil-quick-count-yang-menangkan-prabowo
(Videonya lihat di situsnya )

http://news.liputan6.com/read/2077785/gol-bunuh-diri-di-detik-detik-akhir-pilpres-2014?p=1
'Gol Bunuh Diri' di Detik-detik Akhir Pilpres 2014

Image

Quick Count ‘Ajaib’ 100,35%

Oleh: Elin Yunita Kristanti, Ahmad Romadoni, Taufiqurrohman, Moch Harun Syah

Keterangan itu tertera jelas di situs Komisi Pemilihan Umum (KPU), dalam daftar lembaga survei dan hitung cepat yang terdaftar: Gedung Perkantoran Pulomas Satu, Gedung II Lantai 4, Jl. A.Yani Kav.2, Jakarta. Di kawasan perkantoran tua yang terdiri dari 6 gedung itulah Lembaga Survei Nasional (LSN) beralamat.

Gedung II ada di bagian depan. Siang itu, nyaris tak ada tanda-tanda kehidupan di lantai 4. Hanya ada 2 orang yang sibuk memasukkan sejumlah dokumen ke dalam kardus. “Kantor LSN ada di sana,” kata seorang pria berbaju batik hijau, saat dihampiri Liputan6.com. Ia menunjuk ke sebuah pintu.

Ruangan itu berukuran sekitar 15x5 meter dengan sekat di tengahnya. Dari sela-sela kaca, dalaman kantor itu terlihat berantakan, kertas bertebaran di mana-mana. Debu tebal melapisi lantai. Sebuah rak besi 5 tingkat teronggok. Kosong.

Image

Salah satu pengelola gedung juga membenarkan LSN pernah menghuni salah satu unit kantor di Gedung Perkantoran Pulomas Satu ini. Cukup lama, 8 tahun. “Pindahnya baru Mei atau Juni kemarin. Ini memang sedang ada pengosongan karena mau direnovasi,” jelas pria yang tak mau disebut namanya itu.

LSN adalah 1 dari 4 pollster yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta. Sementara mayoritas lembaga survei, 8 jumlahnya, mengindikasikan keunggulan Jokowi-JK. Yang bikin geger publik, dalam tayangan hasil quick count di RCTI pada Rabu 9 Juli malam, terlihat LSN menampilkan perolehan suara Prabowo-Hatta 50,60% dan Jokowi-JK 49,75%. Bila dijumlahkan, total suara 2 pasangan itu mencapai 100,35%.

Direktur Eksekutif Lembaga Survey Nasional (LSN), Umar S Bakry menegaskan, kesalahan bukan pada pihaknya.

“Tolong sampaikan, itu RCTI datanya ngaco, nggak jelas sumbernya dari mana. Data quick count LSN di TV One tidak pernah ada data seperti itu. Karena mesin server itu sudah menghitung otomatis 100%,” terang Umar saat dihubungi Liputan6.com.

Ia melanjutkan, “harusnya RCTI kalau mau tampilkan data mesti konfirmasi dulu ke LSN atau TV One.”

Selain LSN, lembaga survei yang memenangkan pasangan nomor 1 adalah Indonesia Research Centre (IRC) yang berkantor di MNC Tower Lantai 26, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Image

Proses quick count memang sudah berlalu. Kantor di lantai 26 ini juga tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang bolak-balik mengantarkan dokumen ke meja resepsionis. Tak ada logo atau identitas ‘Indonesia Research Center’ yang terpampang di meja itu.

Dalam diskusi di Warung Daun Sabtu pekan lalu, peneliti IRC, Yunita Mandolang, mengaku pihaknya siap diaudit. “Audit silakan. Sangat dimungkinkan untuk audit,” katanya.

Sementara itu, terjadi kehebohan di kantor Jaringan Suara Indonesia (JSI), yang juga memenangkan pasangan Prabowo-Hatta, di Jalan Warung Buncit Timur Nomor 8A5. Pada Jumat 11 Juli 2014, sekitar pukul 00.46 WIB, teror diduga menargetkan bangunan megah, berlantai 2, dan dicat putih itu.

Image

Seseorang diduga melempar bom molotov yang dikemas dalam botol bekas minuman berenergi. Botol tersebut tak sempat meledak karena memang tak disulut api dan masih utuh meski diduga dilempar ke arah bangunan. Setelah kejadian, kantor tersebut tertutup bagi jurnalis.

Beda lagi dengan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis). Ada 2 alamat berbeda yang menunjukkan keberadaan kantornya. Di situs KPU tertulis di Jalan Sabar No.41 RT 005/0, Kelurahan Petukangan Selatan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Sementara di situs lembaga survei itu, http://puskaptis.wordpress.com, tertera Gedung Selmis Jl. Asem Baris Raya Kav 7 Blok II/52 Jakarta Selatan 12830.

Liputan6.com mengecek ke alamat terakhir. Kantor tersebut berada di lantai bawah dan persis di tengah-tengah bangunan rumah kantor (rukan). Pintu tertutup rapat. Tidak terlihat ada aktivitas di dalamnya, namun pendingin ruangan dan lampu menyala.

Tak ada papan nama ‘Puskaptis’, di depan maupun di kaca kantor yang berada berdampingan dengan jalur kereta api itu. Yang ada justru keterangan PT MKA Karya Adhitama, perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengurusan perizinan dokumen perusahaan baik swasta dan non-swasta.

Image

Dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Sabtu 12 Juli 2014, Direktur Eksekutif Puskaptis, Husain Yazid menyatakan, lembaganya siap dibubarkan seandainya penghitungan cepat atau quick count yang dilakukan meleset dari hasil hitungan resmi KPU. Puskaptis mengunggulkan pasangan Prabowo-Hatta.

“Kalau hasil KPU menyatakan Jokowi-JK menang, Puskaptis siap dibubarkan. Kalau memang Prabowo-Hatta menang yang 8 (lembaga survei yang menyatakan Jokowi-JK unggul) itu harus dibubarkan juga,” kata Husein. (Baca juga: [INFOGRAFIS] Pertarungan Daud Lawan Goliath)

Audit

Dianggap kisi-kisi hasil Pilpres, proses melakukan quick count bukan hal sepele. Dibutuhkan dana besar, pengerahan sumber daya manusia, juga metodologi yang harus bisa dipertanggungjawabkan.

Jika seluruh lembaga survei diasumsikan melakukan proses serupa, mengapa bisa hasil survei mengarah ke 2 kutub?

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengatakan, ada 4 hal yang bisa memicu perbedaan. “Pertama, pelaku tidak memahami metode sampling dengan baik sehingga sampel tidak representatif terhadap populasi. Kedua, pelaku memahami metode sampling tapi pelaksanaan teknis berantakan, sehingga data tidak akurat. Atau data yang masuk sistem mengalami error,” ujar M Qadari dalam diskusi yang berlangsung di Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta.

Kemudian yang ketiga, pelaku tidak memahami metodologi dan tidak turun ke lapangan. Tidak punya kerangka sampel TPS, tidak punya relawan, tidak punya data center, serta data yang disampaikan pada publik bukan dari lapangan melainkan fiktif.

“Yang keempat ini, pelaku memahami metodologi, teknis pelaksanaan tapi hasil yang muncul di lapangan diubah atau diutak-atik sesuai keinginan,” katanya.

Apabila menggunakan metode secara berat, mustahil beda perolehan suara pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK antara lembaga survei mencapai lebih dari 4 sampai 5 persen. Audit lembaga survei jadi suatu keharusan agar rakyat tak bingung.
Mirror: Video permintaan Patah Salero :)
Follow Twitter: @ZwaraKafir
User avatar
fayhem_1
 
Posts: 1402
Joined: Tue Sep 08, 2009 6:55 pm

Return to Obrolan Santai



Who is online

Users browsing this forum: Google [Bot]