.

CErpen FFI

Yang santai dan rileks. Gosip juga boleh.

CErpen FFI

Postby Rouen » Sun Dec 16, 2007 8:56 pm

Cerita Ini adalah Fiksi. Jika ada Kemiripan nama dan tempat, semua itu hanyalah kesengajaan, eh... ketidaksengajaan penulis.

BEHEAD

10 Desember 23:30
Tangan Ruu dengan cepatnya mengetik keyboard. Bunyi tuts keyboard yang keras memenuhi ruangan kecil yang gelap itu. Dia melihat monitor dengan pandangan serius. “Orang-orang itu harus dibunuh! Allah sudah bersabda bahwa orang-orang murtad harus dibunuh!” tertulis dalam huruf besar di layar monitornya. Ruu tersenyum kecut dan matanya terlihat sedih. Ia berpikir, “Mengapa di dunia ini masih ada orang yang belum sadar? Mengapa mereka masih menutup mata mereka?” Pointer mouse bergerak menuju kotak ‘send’ dan terdengar bunyi “klik” kecil. Ruu berpikir lagi, “Apabila aku tidak pernah masuk situs Freedom in Faith, apa yang akan terjadi ya? Apa semua tetap tidak berubah?”

*Pip!* Muncul sebuah pop-up messenger di monitor Ruu. Ada sebuah pesan dari seseorang bernama Grand. Dia menulis, “Bertaubatlah, maka Allah Maha Pengampun akan mengampunimu. Jika kau tidak mau bertaubat, maka aku akan membunuhmu.” Ruu tertawa kecil dan mulai menulis, “Allahmu bukanlah Tuhan yang sesungguhnya. Allah hanyalah khayalan. Untuk apa aku memuja khayalan?” Beberapa saat kemudian muncul balasan dari Grand, “Kalau begitu darahmu halal. Berhati-hatilah karena aku tidak bertanggung jawab atas perbuatanku dan teman-temanku kepadamu.” Ruu tidak menggubris tulisan itu dan terus menulis di Freedom in Faith.

11 Desember 06:00
Ruu keluar rumah untuk berolah raga. Ia melihat langit yang cerah dengan wajah gembira. Ruu mulai berlari-lari kecil, mengelilingi kompleks perumahannya. Ketika berlari, ia mengingat tulisan-tulisan di Freedom in Faith. “Apakah manusia seburuk ini?”, gumamnya. Ia mulai berlari lebih kencang. “Apa mereka tidak sadar?”, Ruu mulai mengingat tulisan Grand. Darahmu halal. Darahmu halal. Darahmu halal. “Tidak ada satu manusia pun yang layak dibunuh. Tidak ada!” Ruu mempercepat larinya, ia berlari sekuat tenaga. Ketika dia hendak masuk ke sebuah gang, hujan deras tiba-tiba turun dan dalam sekejab berhenti . “Hujan sesaat…” Wajah Ruu nampak ketakutan, ia segera menghentikan larinya. “Apa mereka…? Tidak… aku… tidak mungkin… tapi…!” Ruu segera berbalik dan berlari menuju rumahnya. Sepanjang jalan Ruu terus bergumam, “Mengapa… Mengapa… Mengapa?” Sesampainya di rumah, Ruu segera mengunci pintu dan jendela. “Mengapa mereka…. Mengapa mereka tidak mau sadar?”

11 Desember 06:45
Ruu mengintip dari jendela rumahnya. Ia melihat beberapa orang berpeci duduk di teras rumah tetangganya. “Mereka hanya tamu tetanggaku. Mereka hanya tamu tetanggaku.” Pikir Ruu. Tapi Ruu tahu, mereka tidak datang untuk bertamu. Pandangan mereka selalu terarah ke rumah kecilnya. Ruu hanya bisa duduk di atas tempat tidurnya, berusaha menenangkan dirinya.

11 Desember 09:00
Orang-orang berpeci itu belum pergi juga. Mereka mulai bergantian mengawasi rumah Ruu. Tiba-tiba terdengar suara bel. Ruu terlonjak kaget dan menatap pintu kamarnya dengan ketakutan. Suara bel terdengar lagi, Ruu makin ketakutan. “Ini tidak mungkin… benarkan, ayah?” Ruu berdiri dan berjalan dengan gontai menuju pintu depan. Tepat ketika tangannya memegang handle pintu, bel berbunyi lagi. Wajah Ruu pucat mendengar bunyi bel tersebut dan ia mulai berkeringat. Ia membuka pintu dengan perlahan. Di depannya terlihat sesosok remaja dengan seragam Wiki, perusahaan jasa pengiriman, “Maaf mengganggu. Apa anda tuan Ruu Geraldine?” tanyanya. Ruu menjawab dengan pelan, “I… Iya…”
“Ada kiriman dari seorang penggemar anda. Harap tanda tangan di sini.” Remaja itu menyodorkan selembar berkas dengan papan dan bolpoin. Ruu menandatangani berkas itu. Remaja itu kemudian memberikannya sebuah kotak bungkusan berwarna coklat yang besarnya hampir sebesar kitab. Ruu menerimanya dengan tangan bergetar. “Terima kasih telah menggunakan jasa kami.” Remaja itu tersenyum kemudian pergi. Ruu segera masuk dan menutup pintu dengan panik. Wajahnya pucat, tubuhnya penuh keringat, dan nafasnya terengah-engah. Dia dengan panik membuka bungkusan itu. Matanya terbelalak ketika melihat isi bungkusan itu. Isi bungkusan itu adalah sebuah pesan dari Grand, “Ini adalah kesempatanmu yang terakhir.”, dan sebuah DVD tentang orang-orang mualaf. Keringat semakin membanjiri Ruu. Ia berteriak sekuat tenaga dan mulai menangis. “Mengapa mereka tidak mau sadar? Mengapa mereka tidak bisa melihat kebenaran?”

11 Desember 10:56
Ruu menyalakan komputernya dan membuka Freedom in Faith. Ia melihat ada sebuah PM yang ia terima. Ruu membuka PM itu dan tubuhnya menjadi kaku. PM itu berasal dari Grand, “Sudahkah kamu menerima hadiah kami?” Ruu tersenyum kecut dan membalas pesan dari Grand, “Janganlah mengikuti kehendak Tuhan palsumu. Bertobatlah dan ikuti Tuhan yang benar.” Ruu menghela napas dan berjalan gontai ke meja makan. “Apakah ini akhirnya?” gumamnya.

11 Desember 11:04
Ruu duduk diam, tidak bergerak. Tiba-tiba kaca-kaca rumahnya pecah, hancur oleh batu yang dilempar oleh teman-teman Grand. Ruu tetap diam. Kemudian, pintu depan dan belakang rumahnya didobrak. Beberapa pemuda berbadan besar masuk. Mereka memakai jubah dan peci yang putih. “Tangkap! Tangkap dia!” Teriak salah seorang dari mereka. “Bakar! Bakar!” “Penggal saja!” “Potong!” Teriakan-teriakan mereka memenuhi rumah Ruu. Mereka menangkap Ruu dan memukulinya, dengan tangan, batu, dan senjata tumpul lainnya. Setelah melihat Ruu penuh luka, mereka mengaraknya keluar, menemui pemimpin mereka. Beberapa tetangga Ruu melihat hal ini, namun mereka hanya diam, memalingkan muka, seperti tidak melihat apa-apa. Seorang wanita yang tidak tega melihat hal itu hendak menelepon polisi namun suaminya melarang. “Jangan bantu orang kafir itu! Kau bisa dikutuk Allah!”

11 Desember 11:27
Seorang pemuda tegap berjubah putih mendekati Ruu. Dialah pemimpin mereka di daerah ini. Dia bertanya, “Apa kau masih tidak percaya akan kebesaran Allah?” Ruu menjawab dengan suara pelan, “Grand, apakah… engkau tidak bisa… melihat? Jangan… palingkan dirimu dari… kebenaran.” Pemimpin itu berteriak, “Allah adalah kebenaran! Allah adalah jalan yang lurus!” Ruu membalas sembari memegang dadanya yang sakit, “Allah… bukan…kebenaran… kalian… telah… di ti..” Pemimpin itu langsung berteriak, “DIA ADALAH IBLIS! DIA HARUS DIPANCUNG! ALLAH MAHA BESAR!” Kemudian Ruu dibawa oleh orang-orang itu ke tempat ibadah mereka. Di situ ia diikat di sebuah tiang dan dibiarkan selama satu hari penuh tanpa diberi makanan atau minuman.

12 Desember 12:00
Ruu dibawa dengan kondisi terikat dan lemas ke tengah lapangan di depan tempat ibadah. Di tengah lapangan, seorang algojo sudah siap dengan pedang terhunus. Sang pemimpin berteriak-teriak dengan penuh semangat menghina Ruu dan mengajak pengikutnya menyumpahi Ruu. Kepala Ruu ditaruh di sebuah papan, papan untuk memenggal orang. Sang algojo mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Sang pemimpin berteriak “INILAH, KEMATIAN SANG IBLIS!” Algojo menebas kepala Ruu hingga terlempar jauh. Darah mengucur dengan deras dari leher yang terpotong itu. Semua pengikut yang melihat bersorak sorai melihat pertunjukkan itu. Para petugas kemudian mengangkat tubuh dan kepala Ruu. Mereka melempar mayat Ruu ke dalam sebuah lubang yang dalam. Setelah itu, cairan bensin dimasukkan ke dalam lubang, lalu api. Lubang itu terbakar dengan hebatnya. Semua orang bersorak sorai dengan gembira.

13 Desember
Hari itu, tempat ibadah di mana Ruu dibunuh tampak sepi. Sudah tidak ada satu orang pun yang masih tinggal di tempat itu. Entah hal apa yang telah terjadi sehingga seluruh pengikut meninggalkan tempat itu.
User avatar
Rouen
 
Posts: 799
Joined: Mon Jun 11, 2007 4:45 pm
Location: Amazon

Postby sir_dejavu » Sun Dec 16, 2007 11:57 pm

serem banget ceritanya...

betul2 terjadi kah??

apakah seperti itu kalo islam kalah dalam berdebat??

untuk netter2 islam apakah hal itu betul terjadi??
User avatar
sir_dejavu
 
Posts: 374
Joined: Sun Oct 07, 2007 4:52 am
Location: negeri angin

Postby yusup_didin » Mon Dec 17, 2007 12:18 am

energi yang terbuang untuk menulis cerpen itu tidak akan sia sia...
......... angkat gelas!!
User avatar
yusup_didin
 
Posts: 421
Joined: Tue Nov 20, 2007 9:19 pm
Location: kolam berlumpur.......

Postby Mademoiselle » Mon Dec 17, 2007 1:02 am

serem banget ceritanya...

betul2 terjadi kah??

apakah seperti itu kalo islam kalah dalam berdebat??

untuk netter2 islam apakah hal itu betul terjadi??


nih aye quote lagi dari rouen.....
Cerita Ini adalah Fiksi. Jika ada Kemiripan nama dan tempat, semua itu hanyalah kesengajaan, eh... ketidaksengajaan penulis.
User avatar
Mademoiselle
 
Posts: 1164
Joined: Sat Aug 25, 2007 12:18 pm
Location: Bukan di surga Brothel!

Postby Rouen » Mon Dec 17, 2007 4:53 am

sir_dejavu wrote:serem banget ceritanya...

betul2 terjadi kah??

apakah seperti itu kalo islam kalah dalam berdebat??

untuk netter2 islam apakah hal itu betul terjadi??


bukan... bukan Islam... ga ada kata Islam di situ kan? ;)

Tapi jika ada "agama" yg menyuruh umatnya untuk membunuh kafir, dan ada kafir yang ketahuan tempatnya... gak mustahil ada kejadian yang mirip.

Pertanyaannya adalah: Adakah agama seperti itu? Adakah situs yang seperti Freedom In Faith?

Mungkin cerpen ini bakal gw lanjutin klo ada ide lagi...
User avatar
Rouen
 
Posts: 799
Joined: Mon Jun 11, 2007 4:45 pm
Location: Amazon


Return to Obrolan Santai



Who is online

Users browsing this forum: No registered users