.

Terjajah ExxonMobil di Cepu

Terjajah ExxonMobil di Cepu

Postby ali oncom » Tue Sep 20, 2005 10:06 am

Terjajah ExxonMobil di Cepu


Oleh:
Kwik Kian Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah itu
sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis
lain seperti itu.

Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena
terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental
inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung
keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika
berhadapan dengan orang-orang bule.

Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar
dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu
menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada
eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusahaan asing.

Apa pekerjaan dan sampai seberapa jauh daya pikir para pengelola ekonomi
kita sejak merdeka sampai sekarang? Istana Bung Karno dibanjiri para
kontraktor minyak asing yang sangat berkeinginan mengeksplorasi dan
mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia. Bung Karno menugaskan Chairul
Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas.

Putrinya, Megawati, bertanya kepada ayahnya, mengapa begitu? Jawaban Bung
Karno kepada putrinya yang baru berumur 16 tahun, "Nanti kita kerjakan
sendiri semuanya kalau kita sudah cukup mempunyai insinyur-insinyur
sendiri."

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi dan
mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri. Mengapa
sekarang hanya sekitar 8 persen?

Lebih menyedihkan ialah keputusan pemerintah memperpanjang kerja sama
dengan Exxon Mobil (Exxon) untuk blok Cepu selama 20 tahun sampai 2030.
Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy Soeharto untuk
mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil. Exxon lalu
melakukan eksplorasi tanpa izin. Ternyata ditemukan cadangan dalam sumur
yang sama sebanyak 600 juta barel.

Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang kontraknya sampai
2030. Keputusan ada di tangan Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina
(DKPP). Dua dari lima anggota menolak. Yang satu menolak atas pertimbangan
yuridis teknis. Yang lain atas pertimbangan sangat prinsipil.

Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan juga sama sekali tidak
mau melihat angka-angka yang disodorkan Exxon beserta para kroninya yang
berbangsa Indonesia.

Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya, harus dieksploitasi
bangsa Indonesia sendiri, yang berarti bahwa Exxon pada 2010 harus
hengkang, titik. Alasannya sangat mendasar, tetapi formulasinya sederhana.
Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka selayaknya, semestinya, dan seyogianya
mengerjakan sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan, harus
melakukannya di mana saja di dunia yang dianggap mempunyai kemungkinan
berhasil.

Menurut peraturan yang berlaku (sebelum Pertamina berubah menjadi
Persero), kalau DKPP tidak bisa mengambil keputusan yang bulat, keputusan
beralih ke tangan presiden. Maka, bola ada di tangan Presiden Megawati
Soekarnoputri. Beliau tidak mengambil keputusan, sehingga Exxon kalang
kabut. Exxon mengirimkan executive vice president-nya yang langsung
mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan "pokoknya tidak".

Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang anggota DKPP ini
yang berinisial KKG, tetapi dilarang kolega-koleganya sendiri. KKG
tersenyum sambil mengatakan karena para koleganya masih terjangkit mental
inlander.

Lalu dia berargumentasi panjang lebar dengan mengemukakan semua angka
betapa Indonesia diuntungkan. KKG menjawab bahwa kalau dia ngotot sampai
seperti itu, apa lagi latar belakangnya kalau dia tidak memperoleh untung
besar dari perpanjangan kontrak sampai 2030? Karena itu, kalau mulai 2010,
sesuai kontrak, Exxon harus hengkang dan seluruhnya dikerjakan Pertamina,
semua laba yang tadinya jatuh ke tangan Exxon akan jatuh ke tangan
Indonesia sendiri.

Lagi pula, KKG menjelaskan bahwa sudah waktunya belajar menjadi perusahaan
minyak dunia seperti Exxon. KKG bertanya kepadanya, "Bukankah kami berhak
mulai merintis supaya menjadi Anda di bumi kita sendiri dan menggunakan
minyak yang ada di dalam perut bumi kita sendiri?"

Eh, dia mulai mengatakan tidak bisa mengerti bagaimana orang berpendidikan
Barat bisa sampai seperti itu tidak rasionalnya! Jelas KKG muntap dan
mulai memberi kuliah panjang lebar bahwa orang Barat sangat memahami dan
menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan bukan hanya IQ. Apalagi,
kalau dalam hal blok Cepu ini ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa
mulai 2010 harus dieksploitasi oleh Indonesia sendiri.

Bung Karno juga berpendidikan Barat dan sejak awal beliau mengatakan, "Man
does not live by bread alone." Dalam hal blok Cepu, dua argumen berlaku,
yaitu man does not live by bread alone, dan diukur dengan bread juga
menguntungkan Indonesia, karena laba yang akan jatuh ke tangan Exxon
menjadi labanya Pertamina.

Pikiran lebih mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka
panjang yang didasarkan materi juga mengatakan bahwa sebaiknya blok Cepu
dieksploitasi oleh Pertamina sendiri. Mengapa?

Jawabannya diberikan oleh mantan Direktur Utama Pertamina Baihaki Hakim
kepada Menko Ekuin ketika itu bahwa Pertamina adalah organisasi yang
telanjur sangat besar. Minyak adalah komoditas yang tidak dapat
diperbarui. Penduduk Indonesia bertambah terus seiring dengan bertambahnya
konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional sudah lebih
besar daripada produksi nasional, di masa mendatang kesenjangan
ini menjadi semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang demikian
besar itu akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan apakah akan mampu
berdagang saja dalam skala dunia, bersaing dengan the seven sisters? Maka
visi jangka panjang Baihaki Hakim, mumpung masih lumayan cadangannya,
sejak sekarang mulai go international dan menggunakan cadangan minyak yang
ada untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya yang visiuner itu.

Menko Ekuin ketika itu memberikan dukungan sambil mengatakan, "Pak
Baihaki, saya mendukung sepenuhnya. Syarat mutlaknya ialah kalau Anda
ingin menjadikan Pertamina menjadi world class company, Anda harus juga
memberikan world class salary kepada anak buah Anda."

Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman Wahid. Setelah itu dia
kembali ke kabinet sebagai kepala Bappenas dan ex officio menjabat anggota
DKPP. Maka pikirannya masih dilekati visi jangka panjangnya Pak Baihaki
Hakim dan kebetulan direktur utama Pertamina ketika itu juga masih Pak
Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah sangat lemah, karena
dikreoyok para anggota DKPP dan anggota direksi lain yang mental, moral,
dan cara berpikirnya sudah kembali menjadi inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah berpengalaman 13
tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung dipecat begitu
Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir, dia adalah
sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz. Sedangkan yang diperlukan buat
Pertamina adalah sopir yang cocok untuk truk yang bobrok. Bayangkan,
betapa inlander cara berpikirnya. Pertamina diibaratkan truk bobrok.
Caltex adalah Mercedez Benz. Memang sudah edan semua.

Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah Amerika Serikat di samping
dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes AS ketika itu, Ralph Boyce, sudah
membuat janji melakukan kunjungan kehormatan kepada kepala Bappenas,
karena protokolnya begitu. Tetapi, ketika sang Dubes tersebut mendengarkan
pidato sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang sikap, isinya pidato,
dan nadanya bukan seorang inlander, janjinya dibatalkan.

Eh, mendadak dia minta bertemu kepala Bappenas. Dia membuka pembicaraan
dengan mengatakan akan berbicara tentang Exxon. Kepala Bappenas dalam
kapasitasnya selaku anggota DKPP mengatakan bahwa segala sesuatunya telah
dikemukakan kepada executive vice president-nya Exxon, dan dipersilakan
berbicara saja dengan beliau.

Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya, tetapi dia hanya melakukan
tugasnya. "I am just doing my job". Kepala Bappenas mengatakan lagi,
"Teruskan saja kepada pemerintah Anda di Washington semua argumen
penolakan saya yang diukur dengan ukuran apa pun, termasuk semua akal
sehat orang-orang Amerika pasti dapat diterima."

Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya pemerintahan baru,
yaitu Kabinet Indonesia Bersatu, dan Exxon menang mutlak. Ladang minyak di
blok Cepu yang konon cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi 2 miliar
barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon penggarapannya.

Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, "Bung Karno yang saya
cintai dan sangat saya hormati. Janganlah gundah dan gelisah, walaupun
Bapak sangat gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah
bermeditasi di salah satu vihara untuk menenangkan hati dan batin saya.
Satu hari nanti rakyat akan bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti
yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk ini sudah dianggap terlampau
lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya sendiri."

*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas.
---------------------
Memangnya agamanya orang kulit putih itu bisa meluruskan akhlak orang kulit putih itu yang tidak pernah berhenti mengelabui siapapun juga ? 3G Rulezzz
User avatar
ali oncom
Banned
 
Posts: 220
Joined: Mon Sep 19, 2005 8:55 am
Location: Pasar Rumput

Postby wachdie.jr » Tue Sep 20, 2005 10:17 am

Nyang ana heran si KKG itu kan bukan "Islam" tapi membela indonesia atas nama negara & bangsa..

sedang nyang islam nya pada enak-enak makan duit sogokan Image...plus nyuruh bakar-bakar para Cina serta bangunan kepercayaan kafir-kafir tersebut.
kekekeke

Ana pengen denger, mana ne para Jihadiyah yang meneriakkan anti Cina dan Anti Kafir Image.. bukan nya si KKG in salah satu Kafir di Indonesia?

Kaum Kafir berteriak atas nama Negara & Bangsa sedang Kaum Muslim berteriak atas nama Islam dan kekacauan....
Itulah yang membedakan antara kaum kafir dan kaum muslim

wekekekeke..

Wachcom

:roll:




Seandainya Saudi(Indonesia) Tanpa Migas
CB-Suara Pembaruan


ALMARHUM DR Ibnu Sutowo pernah mengutip Raja Faisal (1964-1975) yang mensyukuri rezeki migas bagi Timur Tengah (Timteng) sebagai berkah Allah. Yang patut didayagunakan untuk mengangkat derajat penduduk Arab.
Memang ada juga migas di Amerika, Eropa dan di luar Timteng, tapi proporsi cadangan migas kawasan itu sangat berlimpah dibanding kawasan lain. Amerika Latin ternyata juga diberkati dengan rezeki minyak untuk Venezuela yang sekarang merupakan salah satu pemasok terbesar AS.

Raja Fahd yang wafat 1 Agustus 2005 adalah putra pendiri dinasti Saud, Abdul Azis ibn Saud yang menguasai Hijaz dan Najd pada 1926. Nama kerajaan Arab Saudi baru diresmikan pada 1932. Setahun kemudian cadangan migas besar diketemukan yang akan ditambang 1938. Pada 1945 Presiden Franklin Delano Rossevelt menemui raja Abdul Azis ibn Saud di atas geladak kapal USS Quincy yang mendasari kemitraan strategik Arab Saudi-Amerika Serikat.
Pada 1953, Raja Abdul Azis wafat diganti putranya Saud yang memerintah sampai 1964. Adik Saud, Faisal menggantikan Saud, juga untuk 11 tahun. Faisal tewas ditembak oleh salah satu kemenakan sendiri. Adik Faisal, Khaled, menggantikan pada 1975 sampai 1982.
Pada masa inilah harga minyak melambung puluhan kali lipat sejak embargo bulan Oktober 1973, akibat perang Arab-Israel. Fahd menggantikan Khaled pada 1982, dan sebetulnya sudah menderita stroke sejak 1995. Pangeran Abdullah menjadi putra mahkota dan pelaksana harian raja Arab Saudi.
Abdullah dilantik Rabu 3 Agustus 2005 menggantikan Fahd. Umurnya sudah 81 tahun karena lahir pada 1924, ketika ayahnya baru saja menaklukkan seluruh Arab. Berarti selama 80 tahun dinasti Saud baru mempunyai dua generasi yang menjadi raja. Jika 45 pangeran anak Abdul Azis mau bergilir jadi raja, tentu perlu 450 tahun.
Umur manusia maksimal 100 tahun, tampaknya Abdullah akan menjadi generasi kedua terakhir yang menjadi raja Arab Saudi. Penggantinya pasti akan berasal dari generasi ketiga, cucu Abdul Aziz. Yaitu generasi Pangeran Bandar bin Sultan (lahir 1949), mantan Dubes Arab Saudi untuk AS dan Pangeran Turki bin Faisal (lahir 1945), pengganti Bandar yang ditarik dari posnya di London. Turki adalah putra ke-8 almarhum Raja Faisal, sedang Bandar adalah putra Pangeran Sultan yang sekarang menjadi Putra Mahkota.

*
REZEKI migas yang berlimpah bagi negara-negara Timteng ternyata tidak otomatis menjadi berkah. Dalam tiga laporan tahunan UNDP 2002-2004, terungkap bahwa kapabilitas ekspor non-migas Timteng sangat minim. Seri Arab Human Development Report menyebut kendala demokrasi, HAM, peranan wanita, pendidikan yang sangat sarat syariahisme dan menghasilkan Wahhabi-isme serta fanatisme anti-modern, anti-Barat, dan anti segala sesuatu yang bukan Islami.
Puncak dari segala kebencian yang terakumulasi belasan tahun ialah serangan teror 911 oleh generasi muda Arab Saudi (dan Mesir). Anarki nihilisme yang dilandasi fanatisme agama dan sentimen rasial serta kebencian kelas proletariat, menjadi ramuan profil teroris. Ini menyebar bukan hanya di Timur Tengah tapi bahkan sampai pada generasi kedua dan ketiga imigran asal Timteng dan Asia Selatan (Pakistan) yang sudah hidup di Eropa sejak akhir Perang Dunia II.
Generasi imigran pertama dari Timteng dan Asia Selatan, seperti Prof Abdus Salam, pemenang hadiah Nobel fisika tahun 1979 sangat menghargai kebebasan beragama di Eropa yang juga membuka peluang karir profesi baginya. Abdus Salam menyatakan hal yang sama dengan Muhamad Abduh bahwa di Barat (Eropa) mereka menemukan nafas Islami tanpa orang Muslim.
Sedang di Timteng dan Pakistan, statusnya adalah negara Islam, tapi tingkah laku rezimnya adalah otoriter, tidak demokratis dan tidak mampu menyejahterakan rakyat. Itu adalah pendapat generasi pertama imigran Muslim yang menikmati, menghargai, dan memberikan apresiasi kepada Barat yang memberi peluang untuk mencapai puncak karier yang tidak mungkin tercapai di negeri asal mereka yang berciri tirani.
*

TRAGIS bahwa sekarang justru setelah tiga generasi maka para imigran di Eropa dan AS menjadi pelaksana teror akibat ideologi kebencian yang dibiayai oleh rezeki migas secara nyaris tanpa batas dari Arab Saudi. Thomas Friedman di NYT 15 Juli 2005 menyebut analogi filosofis konflik agama dalam kausa kata teknologi informasi. Hinduisme adalah Tuhan versi 0.0 sedang Yahudi adalah Tuhan versi 1.0 , Kristen - Tuhan versi 2.0 dan Islam adalah Tuhan versi 3.0.
Friedman lupa menempatkan Buddha yang mestinya menjadi versi 1.0 mendahului atau setara Yahudi.
Lalu, bagaimana dengan Manichean dan Zoroastrian yang juga mempunyai andil tentang dua kekuatan supranatural yang baik Ahura Mazda dan yang jahat Angra Mainju Versinya bisa lebih dari 3.
Sebenarnya, versi-versi yang membatasi dan mempersempit sifat dan karakter Tuhan yang omnipotent, jelas keliru dan picik. Karena Tuhan pasti mempunyai satu versi yang tidak pernah berubah, yaitu infiniti, kekal dari dulu sampai sekarang dan di masa depan, setelah manusia abad 21 telah mati semua. Karena itu Tuhan pasti jauh lebih sempurna dari keterbatasan manusia versi 0.0 sampai 3.0 atau 999.0 sekalipun.
Tuhan versi infiniti jelas tidak reses atau pensiun di abad ke tujuh. Tuhan versi infiniti jelas tidak berhenti ketika Martin Luther meluncurkan Protestanisme. Atau Tuhan versi infiniti harus "minder" terhadap Nicolai Copernicus atau Galileo Galilei. Yang harus minder, minta maaf dan meralat kedunguan adalah justru para farisi baru, para ahli kitab yang mirip elite Sanhedrin lebih menempatkan Tuhan sebagai berhala statik masa lalu.
Mereka para Sanhedrin dari semua agama selalu mengklaim mengetahui dan memahami Tuhan menurut dogma abad klasik, zaman antik masa lalu. Mereka tidak pernah mempunyai kreativitas terobosan untuk memahami sifat Tuhan yang infinitif yang tidak bisa dikerangkeng dalam jeruji besi dogma abad ketujuh atau abad ke17 atau bahkan abad ke21.
Apakah Star War merupakan versi paling mutakhir dari Tuhan abad 21. Tentu tidak, sebab jagad raya ini masih akan berumur miliaran tahun lagi. Jadi Tuhan jelas lebih besar dari abad, negara, bangsa, manusia, umur, generasi, versi model Microsoft yang cepat usang dan harus diganti baru.
Tuhan senantiasa mendahului dan mengendalikan zaman secara tidak langsung dan secara invisible dan unpredictable. Setiap upaya manusia menjadi Tuhan versi 7.0 fasisme atau Tuhan versi 8.0 komunisme, versi 9.0 rasisme, versi 10.0 fanatisme, versi 11.0 terorisme, versi 12.0 nihilisme.
Semua ini adalah versi manusia manusia bejat yang dijejali dogma "Allah "yang sempit dan terbatas karena terkungkung dalam paradigma abad kuno. Padahal Tuhan adalah supranatural, eternal, omnipoten, dan melampaui generasi, abad, galaksi, jagad, bangsa, ras, etnis, kelas dan juga agama.
Tuhan melampaui Sanhedrin, farisi, para ulama yang menjadi penganjur terorisme atau nihilisme. Atau yang menganjurkan pembantaian sesama manusia karena taat tanpa reserve pada Allah versi primitif dan primordial abad ketujuh.

*
REZEKI migas bagi Timur Tengah dan dunia ketiga lain seperti Nigeria, Venezuela dan Indonesia adalah berkah Tuhan. Bisa menjadi kutukan bila tidak dikelola dengan rasa syukur dan tanggung jawab. Melainkan dengan pola KKN amburadul yang memboroskan sumber daya yang tidak terbarukan itu.
Maka, bangsa yang diberkati migas itu justru gagal mementaskan diri dari keterpurukan dan keterbelakangan. Dalam hal ini, berkuasa mutlak menentukan apakah suatu bangsa dan kelompok bangsa akan menikmati kemakmuran dan kesejahteraan, adalah meritokrasi yang direstui Tuhan versi infiniti. Tuhan yang tidak dicekal oleh batasan cekak otak manusia abad manapun termasuk abad -21, apalagi abad ke-7 yang masih sangat primitive.
Kalau generasi muda Timteng dan Dunia Ketiga, tidak mempunyai apresiasi terhadap meritokrasi , demokrasi, HAM dan Tuhan versi infiniti. Tapi hanya sok heroik ingin menjadi martir, syahid dengan "Allah" versi abad ketujuh. Maka, jelas tidak akan mampu menjawab tantangan kemanusiaan yang masih akan direstui sampai miliaran tahun lagi.
Hanya Tuhan versi infiniti, dengan moral yang tidak berubah. Kebencian adalah kebencian yang harus dihukum . Titik. Teror adalah teror yang harus dibasmi. Titik. Kalau sampai ada moral yang menyamakan korban teror dan korban pembantaian dan korban perkosaan dengan teroris, pembunuh dan pemerkosa.
Maka, itulah saat kiamat dunia. Sebab Tuhan versi infiniti pasti sangat muak dengan moral yang menyamakan Kain dengan Abel dan kembali ke Manichean Mazda kontra Mainju. Kalau manusia mayoritas kejeblos lebih memuja Mainju OBL ketimbang Tuhan sejati.
Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada sdr Rumadi atas tulisan pada hari Jumat 5 Agustus, yang menerapkan kolom 19 Juli. Seandainya ada tokoh "Gandhi Muslim" pada situasi kontemporer Indonesia.
Dengan barisan generasi muda Islam moderat seperti Anda, bung Ulil, Mas Dawam Rahardjo, dan banyak lagi yang sedang bergumul dengan "mainstream garis keras", saya percaya Indonesia bisa menjadi dinamo Reformasi Islam menuju Tuhan versi infiniti dengan kemanusiaan yang mengharamkan terorisme OBL. *
User avatar
wachdie.jr
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby ali oncom » Tue Sep 20, 2005 11:46 am

wachdie.jr wrote:Nyang ana heran si KKG itu kan bukan "Islam" tapi membela indonesia atas nama negara & bangsa..

:roll:


tapi KKG jelas moralnya lebih baik dari Edi Tansil dan cecunguk2 sipit lainnya, makanya dipersilahkan duduk di kursi kabinet. Dan tidak usah takut, masih banyak cecunguk sipit yang emak bapaknya cari makan di indo, anaknya maki2 negara indo dari luar sono .

by the way, fans ama avatar gue ya ? bayar royalty maz :lol:
User avatar
ali oncom
Banned
 
Posts: 220
Joined: Mon Sep 19, 2005 8:55 am
Location: Pasar Rumput

Postby ceman » Tue Sep 20, 2005 6:52 pm

Market cap EXXON = USD 400 billion, yg kalo dirupiahin kurs 10 ribu = 4.000 trilliun rupiah.

Cadangan miyak blok cepu kalo dikuras habis = 2 milyar barrel x dikali USD 60 per barrel = USD 120 billion, yg kalo dirupiahin kurs 10 ribu = 1.200 trilliun rupiah. Logikanya, Indonesia sanggup membeli 1/4 kepemilikan EXXON MOBIL! perusahaan #2 terbesar didunia setara dgn Intel + Citibank, cuma dari 1 sumur minyak.

Tapi yg dipilih justru kontrak bagi hasil 50:50, shg Indonesia kebagian 600 trilliun rupiah. Dann itu baru terlaksana 25 tahun lagi, gak sempet nikmatin dong keburu bau tanah, jadi kalau ingin pembayaran dilakukan skrg maka dipotong 60% = 240 trillun yg diterima oleh "Indonesia" skrg begitu kontrak diteken.

240 trillun cukup buat 24 orang 1 trillun ea. dan yg pasti bukan KKG. Tp itu terlalu berisiko, banyak yg tdk kebagian. Gimana klo 240 orang 100 milliar ea. aman? belum aman, anggota DPR skrg vokalis semua. Gimana klo 540 orang 50 milliar ea. sip? bisa diamankan? Otree! Jadilah korupsi berjamaah, lagian kan masih 25 tahun lagi baru keendus baunya. Itupun kalau terbukti di persidangan lohh. Apa bisa ngebuktiin korupsi 25 tahun lalu, sedang hukum di Indonesia soal korupsi tidak berlaku surut? :roll:
ceman
 
Posts: 153
Joined: Sat Sep 17, 2005 9:41 pm

Postby wachdie.jr » Wed Sep 21, 2005 7:51 am

ali oncom wrote:
wachdie.jr wrote:Nyang ana heran si KKG itu kan bukan "Islam" tapi membela indonesia atas nama negara & bangsa..

:roll:


tapi KKG jelas moralnya lebih baik dari Edi Tansil dan cecunguk2 sipit lainnya, makanya dipersilahkan duduk di kursi kabinet. Dan tidak usah takut, masih banyak cecunguk sipit yang emak bapaknya cari makan di indo, anaknya maki2 negara indo dari luar sono .

by the way, fans ama avatar gue ya ? bayar royalty maz :lol:



Dear Bang Ali Ondom..
1. Harusnya ente bangga, muke ente ana pake, sehingga tampang ente bakal harum di FFI ini.. kudunya ente yang bayar royalti ama ana..
karena ana telah mempopulerkan muke ente... tul ndak?

2. Coba ente baca di bawah ini...... kaga usah Edi Tanzil dah.. tapi rekan-rekan satu ras kita (ana bukan cina lho bang, ana jawa aseli tulen 100%)
jadi jangan menyalahkan orang laen sebelum ngacaaa diri sendiri...
sama nanya kenapa selalu ada kesempatan bagi orang lain untuk mendapatkan fasilitas untuk korupsi..
Liat apa yang dilakukan oleh orang laen bagi negara mereka...



[size=12]Paris Club, Kita, dan Argentina
CB
[/size]

BELUM lewat 10 hari sejak hadirnya Marinir AS di bumi Aceh, Wapres Jusuf Kalla sudah memberi deadline militer asing harus keluar dari Aceh. Padahal yang antre mau masuk, seperti Prancis, baru memberangkatkan kapal induk, dan belum sampai waktu Wapres memberi tenggang waktu tiga bulan.

Deputi Menteri Pertahanan Paul Wolfowitz dengan diplomatis menyatakan di Banda Aceh bahwa memang merupakan kedaulatan nasional Indonesia untuk menolak kehadiran tamu ataupun penolong yang secara teknis berstatus militer, karena sipil belum tentu tahan "bau mayat". Tapi kesemrawutan manajemen bencana alam terbesar pada awal abad ke-21 ini memang memprihatinkan.

Sebab, teriakan Wapres itu kemudian bergema di Paris sehingga para pengusul yang ingin memberi "ampun" utang, kaget karena disuruh minggir. Juga delegasi Indonesia jadi kikuk karena memang mereka sendiri secara konvensional penganut mazhab yang kurang sreg dengan moratorium. Dianggap akan membahayakan dan menurunkan rating Indonesia untuk memperoleh pinjaman komersial.

Walhasil, pertemuan Paris Club jadi mentah dan tidak menghasilkan apa-apa, karena yang berunding bingung dengan teriakan deadline bantuan asing harus keluar dari Aceh. Belum lagi heboh tentang Worldhelp yang dimuat The Washington Post 13 Januari, dan diralat pada besok paginya juga di halaman 1.

Kontroversi penampungan 300 anak yatim korban tsunami pada keluarga Kristen yang diumumkan Vernon Brewer dari Worldhelp menambah konflik bernuansa agama. PGI dan KWI serta beberapa organisasi segera membuat pernyataan tentang bantuan dan heboh Worldhelp.

Yang lebih penting memang membuat rencana yang matang dan strategis, Indonesia ini sebetulnya mau ke mana dan Aceh itu mau diapakan, seperti wawancara Mar'ie Muhammad di Kompas Minggu kemarin. Mantan Menkeu dan demonstran 1966 itu dengan cerdas menguraikan masalah strategis komprehensif, dan contoh detail tentang tenda keluarga dan pangan riil yaitu nasi, bukan sekadar beras berton-ton tanpa air dan alat memasak.

Manajemen bencana yang semikiamat ini tidak mungkin ditangani dengan mental pratsunami yang malah memberlakukan pungli kepada relawan asing dan penyakit Xenophobia, trauma antiasing, ketakutan terhadap asing dan kecenderungan isolasi yang primordial dan primitif.
Jika orang yang ditolong malah berteriak-teriak ketakutan atau curiga dan murka kepada penolong, tentu saja penolongnya bingung dan malah tidak jadi datang. Di Andaman dan Nicobar, secara fisik suku terasing di sana melempari pasukan India dengan tombak dan panah karena tidak tahu mau ditolong oleh militer India.

Di Indonesia, rakyat kebanyakan justru secara modern, menyambut penolong asing dengan antusias. Hanya elite di Jakarta yang kebakaran jenggot karena ternyata gagal mengerahkan birokrasi dan aparat untuk menjadi penolong yang efektif, cekatan dan tidak membuang waktu.
*

GERTAKAN Jusuf Kalla membuat Paris Club buyar dan bantuan asing "tertegun" dan ragu-ragu, apa akan meneruskan bantuan. Sementara itu pada hari Jumat, 14 Januari, Argentina justru membuat gebrakan mengeluarkan obligasi baru sebagai pengganti obligasi lama yang jatuh tempo dan sudah tiga tahun tidak terbayar oleh negara itu.
Dengan iklan setengah halaman di The Wall Street Journal (14/1), Argentina mengumumkan prospektus obligasi baru pengganti obligasi yang jatuh tempo 2001. Presiden Nestor Kirchner mengambil putusan nekat untuk hanya menghargai 30 sen untuk utang setiap satu dolar AS.
Para pemegang obligasi dipersilakan memilih pelbagai opsi variasi obligasi dengan jatuh tempo dan suku bunga berbeda. Paling cepat akan jatuh tempo pada 2033 disusul 2035, 2038 dan 2045. Argentina akan mengurangi drastis nilai obligasi dari US$ 81,8 miliar menjadi hanya US$ 41,8 miliar.

Jumlah total utang Argentina sebelum pengeluaran obligasi baru mencapai US$ 108 miliar, akan turun menjadi US$ 68 miliar jika pasar menerima tawaran nekat Argentina,
Presiden Kirchner nekat karena dia tahu 38,4 persen pemegang obligasi ialah lembaga dana pensiun domestik Argentina, dan 40 persen lagi di tangan investor individu, yaitu 450.000 orang Italia, 35.000 Jepang, dan puluhan ribu warga Jerman dan Eropa Tengah.
Seorang korban warga Italia bernama Dino di Caro, pensiunan umur 72 tahun, mengeluh bahwa seluruh tabungan hari tuanya sebesar US$ 50.000 terbenam dalam obligasi pailit itu.
Setelah tiga tahun tidak diberi bunga, para pemegang obligasi sudah mulai capai dan jenuh, dan ingin memperoleh penyelesaian walaupun berarti dana mereka baru bisa dinikmati 30 tahun lagi dengan potongan hampir 70 persen.

Presiden Kirchner berspekulasi bahwa Argentina akan berhasil merangkul 70 persen pemegang obligasi . Dengan risiko akan berhadapan dengan sisa 30 persen yang nilai utangnya US$ 24 miliar sebelum bunga. Deadline yang dipasang oleh Kirchner lebih galak dari Jusuf Kalla, hanya 40 hari yaitu 25 Februari 2005.

Sebetulnya Kirchner juga telah berkonsultasi dengan IMF yang menyetujui, dengan syarat 80 persen dari pemegang obligasi akan menerima tawaran potongan Argentina. Investment bankers yang mendukung dan mengelola tawaran Argentina juga memperlihatkan bahwa untuk "mengemplang" pun diperlukan kerja sama dan manajer asing. Lima perusahaan pengelola ialah Barclays Capital (Inggris), Merrill Lynch dan The Bank of New York (AS), UBS (Swiss) dan patungan AS-EU Georgeson Shareholder.
*

MENGIKUTI hiruk-pikuk pro dan kontra bantuan militer kemanusiaan di Aceh, gertak sambal Jusuf Kalla dan buyarnya moratorium Paris Club gara-gara gertak sambal, serta melihat kecanggihan Argentina memakai jurus professional dalam "mengemplang utang", kita hanya bisa berdoa saja.

Pemerintah RI, mulai dari presiden, wapres sampai siapa saja selalu berlindung di balik pernyataan bahwa bencana tsunami ini adalah yang paling dahsyat sedunia dalam satu abad. Karena itu kalau pemerintah, birokrasi dan aparat "groggy" harap dimaklumi.
Tetapi bahwa dalam tempo kurang dari dua minggu pemerintah sudah begitu "pede" untuk meng-go to hell-kan bantuan asing , membuktikan bahwa elite kita memang lebih berwatak emosional ketimbang negarawan.
Presiden Nestor Kirchner perlu beberapa tahun untuk bersabar dan "bermuka tebal" mengemplang utang dan bunga selama tiga tahun. Sambil memperbaiki ekonomi dan memperkuat posisi tawar menawar hingga cukup objektif untuk menawarkan 30 sen, ketimbang nilai 20 sen yang lebih terpuruk dan pasti tidak akan diterima oleh investor.
Kesabaran, ketekunan dan kerja keras ini perlu tiga tahun, dan sekarang Argentina menggebrak dengan tawaran obligasi baru dengan reduksi nilai yang luar biasa.

Tahun 1956, Argentina adalah juga pemicu dibentuknya Paris Club karena ia mengadu domba kreditor satu sama lain dengan memperoleh syarat menguntungkan Argentina. Akibatnya, kreditor merasa dikibuli dan menuntut diperlakukan sama dan tidak diadu domba oleh Argentina.
Itulah riwayat lahirnya Paris Club. Sekarang, Indonesia untuk melanjutkan model Paris Club saja kedodoran karena penyakit gengsi, gertak sambal, bingung, sok berdikari, sok meng-go to hell-kan orang.
Akhirnya kedodoran dan malu sendiri meralat dan mengoreksi gertak sambal, tapi sudah tidak laku karena omongan negarawan tidak boleh mencla-mencle seperti badut sirkus. Sementara itu Buenos Aires melakukan gebrakan dan terobosan yang memaksa Paris Club mengernyitkan dahi kepala dan mengumpat.
Tetapi karena sudah tiga tahun tidak dibayar satu sen pun, sebagian kreditor ingin membuka kembali hubungan dengan Argentina untuk masa depan. Ketimbang hilang lenyap duitnya tanpa dibayar karena dikemplang total, ya sudah negosiasi dan menemukan rumusan baru untuk "memikul risiko reduksi nilai utang".
Dari Washington DC saya hanya bisa mengulas kesemrawutan manajemen bencana tsunami dan kaitan dengan utang ini dengan menyodorkan kisah empiris pengalaman Argentina.

Mudah-mudahan bisa memberi ketenangan dan kesabaran pada elite Indonesia, untuk tidak sembarangan menggebrak meja dan menggertak sambal, sebab di dunia ini orang hampir tidak mungkin bekerja sendiri mengatasi semua masalah dengan takabur, sombong dan arogan.
Termasuk superpower AS, juga termasuk embahnya pengemplang utang Argentina, perintis Paris Club dan sekarang pelopor obligasi "kemplang". Kalau mau hidup sendiri, menang sendiri, semua sendiri , ya akan kembali ke Ground Zero primitif zaman Jahiliyah, atau kesengsaraan korban di Meulaboh sebelum diterobos barisan penolong asing. *
________________________________________
User avatar
wachdie.jr
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby ali oncom » Wed Sep 21, 2005 8:09 am

ceman wrote:Market cap EXXON = USD 400 billion, yg kalo dirupiahin kurs 10 ribu = 4.000 trilliun rupiah.

Cadangan miyak blok cepu kalo dikuras habis = 2 milyar barrel x dikali USD 60 per barrel = USD 120 billion, yg kalo dirupiahin kurs 10 ribu = 1.200 trilliun rupiah. Logikanya, Indonesia sanggup membeli 1/4 kepemilikan EXXON MOBIL! perusahaan #2 terbesar didunia setara dgn Intel + Citibank, cuma dari 1 sumur minyak.

Tapi yg dipilih justru kontrak bagi hasil 50:50, shg Indonesia kebagian 600 trilliun rupiah. Dann itu baru terlaksana 25 tahun lagi, gak sempet nikmatin dong keburu bau tanah, jadi kalau ingin pembayaran dilakukan skrg maka dipotong 60% = 240 trillun yg diterima oleh "Indonesia" skrg begitu kontrak diteken.

240 trillun cukup buat 24 orang 1 trillun ea. dan yg pasti bukan KKG. Tp itu terlalu berisiko, banyak yg tdk kebagian. Gimana klo 240 orang 100 milliar ea. aman? belum aman, anggota DPR skrg vokalis semua. Gimana klo 540 orang 50 milliar ea. sip? bisa diamankan? Otree! Jadilah korupsi berjamaah, lagian kan masih 25 tahun lagi baru keendus baunya. Itupun kalau terbukti di persidangan lohh. Apa bisa ngebuktiin korupsi 25 tahun lalu, sedang hukum di Indonesia soal korupsi tidak berlaku surut? :roll:


matematika ente menarik juga, apalagi liat angka 50m ea. Setau ane, investasi di negara berkembang (bukan cuma di indo) kaga bisa jauh dari korupsi dan komisi. Nyang mesti diberantas emang mental pejabat, karena udah cukup investasi dapetin duduk singgasana, maunya balik modal cepet. Ditambah lagi iming2 dari investor luar yang lebih suka jalan pintas ketimbang mengikuti birocracy yang bisa jadi lebih costly. paling tidak sekarang semua rakyat pada melotot ke Pertamina supaya ngga' macem2 lagi kaya jaman orba dulu.
User avatar
ali oncom
Banned
 
Posts: 220
Joined: Mon Sep 19, 2005 8:55 am
Location: Pasar Rumput

Postby ali oncom » Wed Sep 21, 2005 8:20 am

dear bang wachdie,

tulisan ente menarik juga dijadiin topik sendiri mengenai bantuan aceh. Kite tanya ame netter lain soal bantuan militer asing.

kalo ane cuma bisa kasih komentar, mungkin (cuma mungkin) si jusup kalla bisa jadi kaga blingsatan kalo nyang bantuin militer2 dari negara ASEAN sebagai team operasional. Mau dana dari bantuan negara luar ASEAN kan bisa2 aje. Ye ngga' ? Buat ape ada PBB kalo sekutu Amerika mau pake cara mereka sendiri.

soal worldhelp, emang die udah ngaku kan, siap menerbangkan 300 anak untuk diadopsi. emangnya worldhelp mau bikin panti asuhan dengan label Muhammadiyah ? :wink: Bantu boleh aje, asal jangan pake prasyarat.
Usaha2 kasak kusuk sih terserah aje, tapi kalo ketangkep belangnye kaya gini ? :oops:
User avatar
ali oncom
Banned
 
Posts: 220
Joined: Mon Sep 19, 2005 8:55 am
Location: Pasar Rumput

Postby wachdie.jr » Mon Sep 26, 2005 1:48 pm

Bang Oncom,
Ana kaga bisa ngomong lagi selain,
"Semua bantuan dari Non Muslim selalu dipandang curiga..."

Jika emang iman ente-ente udah pada kuat, so buat apa takut ya ama iming-iming (nyang katanya) sorga duniawi?"
kekekeke......

Mbah Yussuf Kalla si Munafik satu itu emang biang nya rasis ama anti Kafir...
tunggu saat nya hingga dia menusuk SBY dari belakang
(ga tau nusuk pake apa ne)

Apa ente-ente pada seneng rakyat pada menderita kapiran, mati cuma gara-gara nolak bantuan dari kaum yang ente bilang kafir???

Cek kata-kata nyang ana tebelin tuh, untuk jadi bahan pemikiran ente..





Seandainya Dolar Bukan Katrina
CB-SP

APA boleh buat, kurs dolar AS rupanya bertiwikrama menjadi bencana "Katrina politik". Bila Presiden Bush harus memotong cuti untuk menangani badai Katrina, maka krisis dolar di Indonesia telah menggoyahkan citra Pemerintah Yudhoyono-Kalla. Kenaikan harga minyak yang menembus US$ 70 per barel meroketkan kurs dolar hampir Rp 12.000 pada Selasa, 30 Agustus.
Presiden Yudhoyono langsung mengambil alih "perang melawan kurs" dari Wapres Jusuf Kalla yang harus memangkas kunjungan ke Beijing. Dalam krisis kurs sekarang ini, faktor eksternal global merupakan determinan yang sulit diamankan secara domestik apa pun langkah nasional yang diambil oleh Pemerintah RI. Sebab tidak ada Presiden AS, RRT, Raja Abdullah atau Hugo Chavez yang bisa mematok harga migas supaya turun.
Mekanisme pasar, hukum permintaan dan penawaran berlaku secara optimal. Hanya bila ada satu diktator mondial yang memproklamasikan harga minyak harus turun kembali jadi US$ 40 per barel dan setiap negara dijatah menurut rasio PDB, mungkin harga minyak bisa dipaksa turun. Ini tentu mimpi lebih mirip sihir komik Harry Porter.
Kedua, pengembangan energi alternatif membutuhkan waktu dan modal serta biaya produksi dan harga jualnya tetap lebih mahal ketimbang harga migas. BBM dari fosil tetap merupakan alternatif termurah dibanding sumber energi lain seperti kincir angin, panas matahari, limbah agro industri etanol atau nuklir.
Ketiga, masalah kurs mata uang hakikatnya ialah daya beli dan kinerja ekonomi suatu negara bangsa. Cermin prestasi memproduksi dan menjual barang dan jasa ke pasar global. Suatu bangsa berkinerja unggulan, berjualan produk laris yang bisa memberi nilai tambah dan laba, otomatis kurs mata uangnya akan menguat atau dipaksa menguat seperti dalam kasus revaluasi Yuan RRT.
Suatu bangsa memble dalam berproduksi karena digerogoti oleh benalu KKN yang menimbulkan high cost dan melemahkan daya saing, tidak mampu menjual barang dan jasa di pasar global. Jelas mata uangnya akan loyo dan tidak ada komando politik yang bisa jadi Viagra untuk memberdayakan kurs yang "impoten" itu.
Bagaimana kalau menggugah nasionalisme dan patriotisme secara proaktif mirip dulu mbak Tutut beraksi menjual dolar memborong rupiah untuk menyelamatkan kurs pada 1998? Ini resep paling muluk, tapi sebetulnya juga tidak efektif, karena pada dasarnya umat manusia, apakah elite atau massa, tidak ada yang betul-betul berwatak altruistis, nasionalis dan patriotis sampai rela berkorban seperti Yesus mati disalib atau Socrates tidak mau kabur dari penjara dan rela digantung mati.
Semua orang ingin menyelamatkan harta yang dikumpulkan dengan susah payah untuk pendidikan anak, untuk jaminan kesehatan dan hari tua. Semua orang mau cari selamat dan tidak bisa dicap tidak patriot kalau elitenya gagal dalam memimpin dan mengelola negara dan bangsa menjadi bangsa yang berdaya saing.
*
ELITE Indonesia hanya bisa jadi predator terhadap masyarakat awam yang selalu menjadi mangsa kebijakan partisan, sektarian, primordial, Machiavelis dan munafik. Semua berslogan nasionalis, patriotik dan bahkan moral atau agama dan mengatasnamakan rakyat yang tertindas dan menderita.
Namun realitanya, birokrat dan politisi sektarian predator hanya memperkaya diri, menikmati menyalahgunakan fasilitas kekuasaan untuk hidup mewah nikmat megah tujuh turunan tanpa khawatir anak cucunya jadi melarat kembali.


Empat tahun setelah megateror 911, dunia masih tetap belum mau menyadari bahwa sistem politik modern rasional yang membuka peluang untuk pergantian rezim secara damai adalah terbaik, dibanding pola diktator bermotif semulia apapun. Hitler, Mussolini dan Tojo mengubah mesin industri ekonomi Axis menjadi mesin perang mencoba menguasai dunia.
Fasisme ini akan dihancurkan karena kekejaman Holocaust dan ternyata juga jadi imperialis yang tidak lebih baik dari kolonialis Eropa yang dikecam fasisme. Diktator proletariat komunisme dibawa Lenin, Stalin dan Mao Tzedong menelan korban ratusan juta jiwa manusia sebangsa. Jumlah orang Rusia dan Tionghoa yang dibantai oleh rezim komunis Stalin dan Mao jauh lebih besar dari perang melawan Jerman dan Jepang oleh kedua negara.

Osama bin Laden muncul dengan bendera Nihilisme-jihadis bertekad meng-Islam-kan seluruh dunia di bawah Kalifah Islam. Dengan menyerang langsung jantung kapitalisme global, menara kembar WTC di New York dan Pentagon di Washington DC sebagai symbol "setan besar AS" musuh bebuyutan Kafilah Islam menurut versi OBL.

Banyak orang melarat di seluruh dunia yang belum sempat menikmati kesejahteraan dibawah elite nasional Dunia Ketiga, turut bersorak sorai dan "puas" karena AS yang arogan dipermalukan pada 11 September 2001. Tidak pernah terpikir oleh mereka apakah, OBL akan bisa merealisasi janji menciptakan surga dunia Syariah-jihad.

Sebab seluruh negara Timur Tengah menurut Arab Human Development Report kinerjanya terpuruk dan tidak pernah jadi idaman atau acuan orientasi pembangunan. Tidak ada guru besar ilmu ekonomi yang merujuk kepada Timur Tengah sebagai model pembangunan.

Pembangunan jelas tidak mungkin dilakukan dengan teror anarkis dan nihilisme model Taliban, Al Qaeda dan 911. Penghancuran, pembumi-hangusan dan pemenggalan kepala bahkan serangan teror model 911 boleh saja diteruskan karena memang banyak pengagum fanatis yang rela jadi syahid nihilis.


Tapi, apakah dengan meneror itu mereka bisa menawarkan wajah masyarakat seperti apa yang akan mereka bangun. Apakah dunia akan terus diledakkan, dibom, dibantai dan dibakar dalam kerangka perang sabil 911?
Jika 1,2 miliar umat Muslim dunia terbajak oleh Kalifah Osama, maka dunia memang tidak akan mengenal perdamaian dan kesejahteraan. Bahkan, walaupun pendapatan minyak meluber ke Timur Tengah, harta karun itu bukan dipakai untuk membangun sarana pendidikan, kesehatan dan sumber daya manusia. Melainkan dipakai untuk me-motivasi barisan bom bunuh diri baru, teroris muda segar yang menganggur karena tidak punya keahlian, atau justru ahli secara mikro, tehnis dan intelektual.
Tapi, secara moral merasa punya panggilan untuk menghancurkan dunia yang dianggap di-dominasi oleh kapitalis imperialis setan AS, Barat, Eropa dan entah siapa lagi yang bukan jihadis.

Miliaran dana hasil migas, menciptakan dinasti elite penguasa Timur Tengah dengan harta yang tidak akan habis dikonsumsi tujuh turunan dari belasan istri serta keluarga besar puluhan anak cucu. Tapi rakyat Timur Tengah tidak menikmati kebebasan maupun memiliki nafkah dan harus berimigrasi ke Eropa.
Di sana, yang menyedihkan, justru sebagian telah membalas air susu tuan rumah dengan air tuba teror seperti bom London oleh WN Inggris keturunan Pakistan.
Moral dari tragedi mega teror 911, rezeki harta karun migas yang secara tidak langsung justru membiayai teror dan tidak dimanfaatkan secara positif untuk membangun manusia produktif, memerlukan perenungan yang serius dari elite Dunia Ketiga termasuk Indonesia*
*
KITA baru saja kehilangan salah satu pemikir besar bangsa Indonesia, Cak Nur.
Saya ingin menekankan salah satu kutipan Cak Nur, 30 Maret 2003 di Jawa Pos.
"Dunia akan bertahan asal adil meskipun bertahan dalam "kekafiran" dan tidak akan bertahan dalam kezaliman meskipun disertai Islam. Ini adalah hukum yang betul-betul objektif," katanya.

Kepada Presiden Yudhoyono yang sekarang sedang memimpin Operasi Kurs, saya ingin menegaskan bahwa faktor kepercayaan, trust, social trust, public trust adalah yang paling dominan dalam perang melawan badai kurs. Rakyat Indonesia terlalu sering dibohongi beberapa presiden.
Bung Karno menggunting uang lewat Gubernur BI Syafrudin Prawiranegara. Pada 1959 mata uang Rp 10.000 dan Rp 5.000 dihapus nilainya hanya jadi Rp 100 dan Rp 50. Lalu pada 13 Desember 1965 mengubah Rp 1.000 uang lama ditukar jadi Rp 1 uang baru. Inilah yang menjatuhkan Bung Karno pada 11 Maret 1966.

Soeharto berulang kali melakukan devaluasi walaupun selalu berpidato tidak akan ada devaluasi. Selama 1966-1986 ada 4 kali devaluasi. Setelah itu Soeharto rupanya ingin jadi pandito dan menginstruksikan Menkeu supaya tidak ada lagi devaluasi. Karena itu yang ada ialah gebrakan Sumarlin pada Perang Teluk, di mana Bush Sr mengusir Saddam keluar dari Kuwait.

Pada tahun 1997, Soeharto koppig dan tidak mau melakukan devaluasi kurs dolar AS dari sekitar Rp 2.500 menjadi Rp 5.000. Setelah kedodoran bulan Januari 1998, ia mengundang Steve Hanke untuk menerapkan CBS dan kurs Rp 5.000 pada Februari 1998.
Tapi, Michael Camdessus sudah keburu jadi mandor moneter RI dan Soros serta pasar global sudah jenuh dengan Soeharto. Clinton menelepon Soeharto bolak-balik soal Reformasi politik. Klimaks tragedi 12-14 Mei 1998, dengan elite predator tega membunuhi rakyatnya sendiri membuat Tuhan bilang: "Stop Soeharto, kamu berhenti 21 Mei 1998."
Tahun 2005 jelas bukan 1998, tapi benang merah problem global dan tantangan nasionalnya perlu dijawab dengan kenegarawanan yang tulus efektif, memulihkan public and social trust dan menghentikan kemunafikan predator sekarang juga. *


Wachdie :roll:
User avatar
wachdie.jr
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby ali oncom » Mon Sep 26, 2005 4:11 pm

wachdie.jr wrote:Bang Oncom,
Ana kaga bisa ngomong lagi selain,
"Semua bantuan dari Non Muslim selalu dipandang curiga..."

Kaga ada nyang curiga tanpa sebab. Semua ada alasannya

wachdie.jr wrote:Jika emang iman ente-ente udah pada kuat, so buat apa takut ya ama iming-iming (nyang katanya) sorga duniawi?"
kekekeke......


sama aje kalo ane bilang.. buat ape pake syarat ini itu, kalo mau nolong ya nolong aje, biar kate cuma indomie.. (nyang katanye) ajaran kasih.. kekekekek....

wachdie.jr wrote:Mbah Yussuf Kalla si Munafik satu itu emang biang nya rasis ama anti Kafir...
tunggu saat nya hingga dia menusuk SBY dari belakang
(ga tau nusuk pake apa ne)

Apa ente-ente pada seneng rakyat pada menderita kapiran, mati cuma gara-gara nolak bantuan dari kaum yang ente bilang kafir???

Cek kata-kata nyang ana tebelin tuh, untuk jadi bahan pemikiran ente..



bantuan dari antar negara kaga ada urusan dengan kafir, yang ditakutin bantuan bersyarat.. itu aje.. no more no less.. toh yang menjadi bermasalah cuma kasus si worldhelp, nyang laen kaga kan ?


wachdie.jr wrote:

...
Osama bin Laden muncul dengan bendera Nihilisme-jihadis bertekad meng-Islam-kan seluruh dunia di bawah Kalifah Islam. Dengan menyerang langsung jantung kapitalisme global, menara kembar WTC di New York dan Pentagon di Washington DC sebagai symbol "setan besar AS" musuh bebuyutan Kafilah Islam menurut versi OBL. ...


osama meng-islam-kan dunia ? sape nyang nulis nich ?
wachdie.jr wrote:.....

KITA baru saja kehilangan salah satu pemikir besar bangsa Indonesia, Cak Nur.
Saya ingin menekankan salah satu kutipan Cak Nur, 30 Maret 2003 di Jawa Pos.
[color=darkred]"Dunia akan bertahan asal adil meskipun bertahan dalam "kekafiran" dan tidak akan bertahan dalam kezaliman meskipun disertai Islam. Ini adalah hukum yang betul-betul objektif," katanya.
....


gue agak ragu maksud kutipan Cak Nur ini, emang kenape memberantas kezaliman tanpa menjadi kafir ??? :roll:
User avatar
ali oncom
Banned
 
Posts: 220
Joined: Mon Sep 19, 2005 8:55 am
Location: Pasar Rumput

Postby wachdie.jr » Tue Sep 27, 2005 10:45 am

KITA baru saja kehilangan salah satu pemikir besar bangsa Indonesia, Cak Nur.
Saya ingin menekankan salah satu kutipan Cak Nur, 30 Maret 2003 di Jawa Pos.
"Dunia akan bertahan asal adil meskipun bertahan dalam "kekafiran" dan tidak akan bertahan dalam kezaliman meskipun disertai Islam. Ini adalah hukum yang betul-betul objektif," ....

katanya.

Image Oncom Cap Ali:
gue agak ragu maksud kutipan Cak Nur ini,


Bang Oncom, kekeke... keraguan abang akan ana buktikan silakan:
http://search.jawapos.com/index.php?act=detail_tgl&id=32540

baca nyang paling akhir dah bang...

Apa yang ingin Cak Nur katakan untuk menutup perbincangan kita?
Dunia ini memang penuh ketidakadilan. Keadilan itu adalah hukum Tuhan bagi tegaknya keamanan, baik pada level nasional maupun dunia. Ibnu Taymiyyah terkenal dengan kutipannya atas Ali yang mengatakan: inna Allâh yuqîmud daulatal ’âdilah wain kânat kâfirah, walâ yuqîmud daulatadz dzâlimah wain kânat muslimah. Jadi, Allah akan tetap mendukung negara yang adil sekalipun kafir, dan tidak mendukug negara yang zalim sekalipun berislam. Juga, ad-dunyâ tadûm ma’al ’adl wal kufr, walâ tadûm ma’adz dzulm wal Islâm. Dunia akan bertahan asal adil, meskipun berada dalam kekafiran, dan tidak akan bertahan dalam kezaliman, meskipun disertai Islam. Ini adalah hukum yang betul-betul objektif. ***


Image Oncom Cap Ali
emang kenape memberantas kezaliman tanpa menjadi kafir ???

masalah nya karena dalam Islam, semua yang non islam dan kafir dianggap zalim....



Wach...ana kebanyakan oncom neeee..Image
User avatar
wachdie.jr
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby ali oncom » Tue Sep 27, 2005 11:21 am

wachdie.jr wrote:Bang Oncom, kekeke... keraguan abang akan ana buktikan silakan:
http://search.jawapos.com/index.php?act=detail_tgl&id=32540

baca nyang paling akhir dah bang...


Dari awal donk bacanya kan boleh..

jawa pos dari wachdie.jr wrote:Minggu, 30 Mar 2003
Cak Nur: Bush Omong Kosong


Prinsip demokrasi rintisan founding fathers Amerika, seperti Thomas Jefferson, menguap di tangan pemimpin Amerika saat ini yang "idiot" -dengan menginvasi Iraq. Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai Prof Dr Nurcholish Madjid alias Cak Nur, Kamis lalu. Cak Nur termasuk rombongan tokoh agama RI yang berkeliling Eropa dan Australia -di antaranya menemui Paus Johanes Paulus II- untuk menentang invasi AS. Berikut petikannya:

Cak Nur, bagaimana komentar Cak Nur soal invasi Amerika dan Inggris terhadap Iraq?
Sekalipun invasi ini sudah bisa diduga sebelumnya bahwa Amerika akan tetap memilih tindakan unilateral dengan mengabaikan PBB, toh agresi tersebut tetap mengejutkan, dalam arti yang sangat buruk.

Kita tahu, agresi Amerika ini tidak hanya membuat berang banyak negara muslim, tapi juga menyinggung beberapa negara Eropa. Apakah ini menjadi indikasi terbelahnya dunia?
Ada kecenderungan ke sana sekalipun tidak terlalu terang. Sebab, kita tahu bahwa pendukung Amerika, selain orang-orang yang disebut Anglo-Saxon atau bangsa-bangsa yang berbahasa Inggris, seperti Amerika sendiri, Kerajaan Inggris, dan Australia, (invasi itu) juga melibatkan Spanyol dan Portugal yang sama sekali tidak termasuk Anglo-Saxon.
...


Ye.. ini mah Alm Cak Nur ngatain Bush Idiot.. emang la yao..
jawa pos dari wachdie.jr wrote:...
Washington sering mengklaim bahwa invasi atas Iraq merupakan entry-point untuk melakukan reformasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Bagaimana pandangan Cak Nur?
Ah, itu omong kosong! Kalau soal iktikad yang dikatakan secara verbal, sebetulnya yang jauh lebih bermakna adalah Perjanjian Camp David antara Jimmy Carter dan Israel serta Palestina. Itu merupakan perjanjian yang bagus sekali. Kalau itu saja dilaksanakan, semua beres. Tapi, kan setiap Palestina melaksanakan isinya, Israel menghalangi. Terus saja seperti itu.
Jadi, Israel sebetulnya diam-diam tidak mau problemnya dengan Palestina selesai. Sebab, target mereka adalah apalagi kalau bukan go to Yesra’El yang meliputi Syria, Jordania, bahkan sampai Madinah. Begitu pandangan kalangan Yahudi fundamentalis.

Artinya, mereka hendak kembali ke geografi ala Alkitab?
Ya. Israel ini adalah sebuah negara yang berdasar atas agama. Ironisnya, dia justru ditopang negara-negara yang -katanya- menolak agama. Kan itu gendeng?
...


ya.. sama gendengnya dengan ali sina

jawa pos dari wachdie.jr wrote:...
Beberapa negara Timur Tengah mendukung aksi Amerika tersebut. Bagaimana dengan soal ini?
Itu tadi, pada level atau hierarki yang agak rendah. Jadi, kalau kita bikin urutan pertama-kedua-ketiga, mungkin ini ada pada level keempat. Yaitu, disebabkan alasan takut kepada Saddam. Jadi, itu saja. Sebab, Saddam adalah diktator yang paling buruk di muka bumi ini. Bayangkan, dulu ketika Iran dalam keadaan lemah, Saddam menusuk dari belakang. Kemudian, Kuwait juga diinvasi pada 1990.

Beberapa versi menyebutkan bahwa tindakan Iraq tersebut juga disebabkan provokasi Amerika?
Ya, memang ada tafsiran seperti itu. Boleh sajalah. Tapi, kan tetap menjadi pertanyaan: mengapa bisa diprovokasi kalau tidak ada bibit (penaklukan) dalam diri Saddam sendiri? Kalau dia mempunyai kesadaran yang tinggi bahwa Iran harus didukung karena sama-sama mempunyai target untuk menghancurkan musuh bersama, entah apa saja, entah Israel atau apa pun, sebetulnya dia kan bisa mendahulukan pertimbangan itu. Ini malah bermusuhan dan mencaplok negara Arab lainnya. Begitu kan?

Apa yang ingin Cak Nur katakan untuk menutup perbincangan kita?
Dunia ini memang penuh ketidakadilan. Keadilan itu adalah hukum Tuhan bagi tegaknya keamanan, baik pada level nasional maupun dunia. Ibnu Taymiyyah terkenal dengan kutipannya atas Ali yang mengatakan: inna Allâh yuqîmud daulatal ’âdilah wain kânat kâfirah, walâ yuqîmud daulatadz dzâlimah wain kânat muslimah. Jadi, Allah akan tetap mendukung negara yang adil sekalipun kafir, dan tidak mendukug negara yang zalim sekalipun berislam. Juga, ad-dunyâ tadûm ma’al ’adl wal kufr, walâ tadûm ma’adz dzulm wal Islâm. Dunia akan bertahan asal adil, meskipun berada dalam kekafiran, dan tidak akan bertahan dalam kezaliman, meskipun disertai Islam. Ini adalah hukum yang betul-betul objektif. ***


oh.. yang dimaksud zalim disini ngomongin Sadam didalam lingkungan negara2 Arab.. ngga' ada hub. langsung dengan kafir kan.. bisa dipahami..


wachdie.jr wrote:
Image Oncom Cap Ali
emang kenape memberantas kezaliman tanpa menjadi kafir ???
masalah nya karena dalam Islam, semua yang non islam dan kafir dianggap zalim....


bukannye raja zalim sekarang si bush si raja kafir.. tul ngga' ?
User avatar
ali oncom
Banned
 
Posts: 220
Joined: Mon Sep 19, 2005 8:55 am
Location: Pasar Rumput

Postby ceman » Wed Sep 28, 2005 2:57 pm

ali oncom wrote:osama meng-islam-kan dunia ? sape nyang nulis nich ?


yg nulis kayaknya abu musab dkk.
http://www.strategypage.com/dls/article ... 240226.asp


bukannye raja zalim sekarang si bush si raja kafir.. tul ngga' ?


tul, bush si raje zalim bin kafir yg didukung Allah.

"Jadi, Allah akan tetap mendukung negara yang adil sekalipun kafir, dan tidak mendukug negara yang zalim sekalipun berislam. Juga, ad-dunyâ tadûm ma’al ’adl wal kufr, walâ tadûm ma’adz dzulm wal Islâm. Dunia akan bertahan asal adil, meskipun berada dalam kekafiran, dan tidak akan bertahan dalam kezaliman, meskipun disertai Islam. Ini adalah hukum yang betul-betul objektif."
Cak Nur
ceman
 
Posts: 153
Joined: Sat Sep 17, 2005 9:41 pm

Postby wachdie.jr » Wed Sep 28, 2005 3:33 pm

tull...

atu kocong... buat bang Oncom...

kekeke
User avatar
wachdie.jr
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby somad » Sat Oct 22, 2005 11:28 am

Bung Oncom,

Saya angkat topi untuk anda yg ternyata mampu mengemukakan fakta yg nyata untuk diskusikan.
Namun sayangnya terus terang saya tidak menguasai materi pembicaraan dan sementara ini hanya bisa bertindak sebagai cheerleader. My apologize for that.

Saya hanya mendengar bahwa dulunya Blok Cepu dieksplotasi oleh BPM atau Socony Stanvac dan kemudian karena pertimbangan ekonomis dianggap tidak layak lagi untuk dieksplorasi maka ditelantarkan. Kemudian karena sumur sumur itu masih bisa menghasilkan karena dimanfaatkan oleh rakyat sekitar, oleh Tomy diusahakan agar dia yg dizinkan untuk mengeksplotasi Cepu. Memang mudah dia dapatkan namun bukan dieksplotasi sendiri melainkan dijual ke EXON yg nota bene Uangnya masuk pundi pribadinya.

Sedikit Intermetzo, Saya adalah manusia Indonesia yg mengalami tiga zaman yi: Penjajahan Belanda, Jepang, dan Era merdeka. Waktu Dijajah kita memang amat tidak berdaya karena Belanda sangat represip dan pandai meninabobokan bangsa kita dengan moto mereka yakni Bahwa Inlander akan sudah puas dengan penghasilan segobang (2,5 sen) sehari dan kemudian dibarengi dengan politik devided et empera untuk memecah bangsa kita, Jaman Jepang memang adalah jaman peralihan kita diperkenalkan kepada Disiplin yg totaliter sekaligus diajarkan untuk mau berkorban bagi Negara (Dai Nippon tentunya) dengan keharusan bekerja paksa namun semua itu berakibat Bangsa kita mengalami kekurangan untuk bisa hidup karena Jepang hanya terfokus pada perang. Kemudian Kita memasuki era perjuangan kemerdekaan yg sayangnya kita masih tidak bisa lepas dari pengaruh politik Devided et empera Belanda dan ini dibuktikan dengan adanya pembrontakan PKI dan DI/TII. Ditambah lagi peristiwa peristiwa genocide yg timbul thd Etnis Cina antara 1946-1949. Dan parahnya golongan Cina juga tidak sadar bahwa mereka dijadikan tameng Belanda untuk menghadapi pejuang kemerdekaan dengan dibentuknya the so called pasukan bela diri yg bernama PO AN TWEE yang justru memperparah kaum cina sendiri. Kemudian Era penyerahan Kedaulatan Jaman Bung Karno yg selalu memakai moto Revolusi belum selesai dan tidak memfokuskan pada pembangunan Ekonomi melainkan lebih pada proyek mercu suar dengan membuat pinjaman dari luarnegeri untuk itu dan untuk keperluan konsumtip. Membuat negara kita terpuruk karena korupsi juga merajalela, Diera Orba semua kita tahu memang terjadi pembangunan ekonomi ini terbukti dengan bertambah majunya nilai kehidupan bangsa Sbg contoh Di awal tahun 70 han jumlah jemaah Haji Indonesia hanya ribuan sampai puluhan ribu, ditahun 1980 jumlahnya sudah meningkat menjadi 60.000 lebih dan di tahun 1990 menjadi 200.000. Saya kira ini bisa kita jadikan indikator adanya peningkatan kesejahteraan rakyat. Namun sayangnya seirimg dengan itu ternyata krupsi pun tumbuh sangat significan merambah kesegala sektor. Kadang kadang saya merenung setelah kita 60 th merdeka ternyata yang tumbuh paling pesat adalah KORUPSI! :(

OK sudah ah OOTnya.

Best regards.
User avatar
somad
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby mohamedbincamel » Thu Feb 01, 2007 5:28 am

itu si KKG biar wong cino kafir tapi lebih nasionalis daripada pejabat muslim tukang korupsi.
mestinya kalo mo makmur , pemerintah kudu diisi ame wong cino biar banyak kaya si KKG.
Pejabat yg korupsi kudu dipotong tangannya, anak istrinya diperkosa, harta dijarah, rumahnya dibakar....persis kaya wong cino diganyang muslim waktu May 1998.
mohamedbincamel
 
Posts: 804
Joined: Sat Jan 20, 2007 9:34 am
Location: The land of milk and honey


Return to Bisnis & Ekonomi



Who is online

Users browsing this forum: No registered users