.

Lagoon 500, Sedikit Kepedulian Sospol Yuk...

Lagoon 500, Sedikit Kepedulian Sospol Yuk...

Postby swatantre » Mon Feb 01, 2010 12:03 am

http://koran.republika.co.id/koran/120/102932

Koran </koran/14> » Solilokui </koran/120>
/Minggu, 31 Januari 2010 pukul 08:54:00/


Lagoon 500


*Oleh* Arys Hilman


Catatan itu muncul di layar komputer tiga hari lalu. Dari Sensen
Gustafsson, teman yang bermukim di Swedia. Catatannya aktual, tentang
pembelian kapal survei senilai Rp 14 miliar oleh Kementerian Kelautan
dan Perikanan.

''Geli rasanya,'' komentar Sensen tentang pembelian itu. Bukan karena
kapal itu tidak bagus, melainkan karena pilihan jenis kapalnya, sebuah
yacht Lagoon 500. Kapal jenis katamaran ini, menurut dia, hanya akan
memuaskan hasrat personal ketimbang tujuan riset dan pemantauan
lingkungan. Maklum, kapal layar jenis ini lazimnya untuk para
konglomerat kaya dunia dengan fasilitas layaknya hotel bintang lima.

Saya sepenuhnya sepakat dengan Sensen. Apalagi dia kredibel dalam soal
ini. Sebagaimana keluarga lainnya di Swedia, dia memiliki kapal yang
biasa digunakan untuk menyinggahi pulau-pulau yang amat banyak di
negerinya. Suaminya, saat tahu Kementerian Kelautan dan Perikanan
membeli Lagoon 500 untuk survei, pun berseru takjub. ''/Are you
kidding?/'' katanya. Lagoon 500, baginya, lebih mungkin untuk
bersenang-senang dibandingkan penelitian.

Dari sudut harga dan kelengkapan, kapal ini adalah gambaran kemewahan.
Tidak hanya bagi kita yang sulit menghitung angka nol pada nilai 14
miliar, melainkan juga bagi para pemilik kapal layar di dunia. Amat
mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa ada hal yang berlebihan, tidak
proporsional, dan keterlaluan dalam masalah ini.

Citra kemewahan akan sangat terasa saat fakta yang hadir adalah sesuatu
yang tak terbayangkan bakal terjangkau. Kalau kita tak mampu membeli
mobil senilai Rp 200 juta, maka kita akan menyebutnya sebagai barang
mewah. Kalau kita tak mampu membeli rumah seharga Rp 1 miliar, maka kita
akan menilai rumah seharga itu sebagai kemewahan. Tapi, kalau kita punya
mobil senilai Rp 300 juta dan rumah seharga Rp 5 miliar, maka kita
takkan lagi merasakan kemewahan pada mobil dan rumah dengan nilai di
bawahnya.

Kalau pemilik ide pembelian Lagoon 500 menilai kapal itu dalam jangkauan
kemampuan mereka, maka ia takkan merasakan kemewahan kapal itu. Mereka
akan menyebutnya sebagai kewajaran. Sayangnya, hal ini bermakna bahwa ia
berjarak amat jauh dengan masyarakat pada umumnya, masyarakat yang
uangnya mereka setor dalam bentuk pajak dan menjadi modal pembelian
kapal itu.

Kesenjangan semacam itu berbahaya. Pemegang kebijakan tumpul nuraninya
dan menggunakan standar kehidupan yang menjulang seakan-akan sebagai
haknya. Takkan mengherankan, bila mereka juga akan berlaku serupa saat
membeli mobil dinas, membangun pagar kantor, atau merenovasi rumah
jabatan. Padahal, semua modal pembelian, pembangunan, atau renovasi
berasal dari rakyat yang akan menganggap semua itu sebagai kemewahan.

Di masa lalu, sekitar masa pergeseran abad ke-19 ke abad ke-20, perilaku
ini muncul di kalangan priyayi, pengemban jabatan dari pemerintah
kolonial, dan para bupati. Tentu bukan Lagoon 500 atau Toyota Crown
Royal Saloon yang mereka pertontonkan kepada rakyat pembayar pajak atau
upeti, melainkan kuda-kuda terbaik dan tergagah. Para bupati biasa
menukarkan kuda-kuda mereka yang patah kakinya dengan kuda-kuda bagus
milik priyayi rendahan. Mirip seorang menteri yang mengeluhkan kendaraan
dinas Toyota Camry berusia lima tahun dan begitu senang karena kendaraan
penggantinya bernilai tiga kali lipat.

Ini adalah persoalan gaya hidup yang terpaut jarak amat jauh dengan
kehidupan rakyat. Elite-elite birokrasi tak merasa bersalah menggunakan
uang rakyat untuk kepentingan yang menurut mereka wajar belaka, padahal
rakyat menganggapnya sebagai hal yang tak patut. Di era modern, mereka
mungkin akan melakukan ''penelitian'' di atas Lagoon 500 seraya mengajak
anak istri karena empat kamar di dalam kapal itu memang nyaman untuk
berpesiar. Ini tak ada bedanya dengan para bupati di masa lalu yang acap
mengajak kawan-kerabatnya untuk berburu harimau atau rusa, walaupun
sadar betapa mahalnya pesiar semacam itu.

Kesenjangan ini pula yang sebenarnya muncul dalam persoalan penggusuran
di rumah-rumah dinas militer. Mereka yang terusir lazimnya adalah
keluarga kelas prajurit hingga perwira menengah, bukan perwira tinggi.
Saat kebutuhan rumah untuk mereka tak terpenuhi, segelintir perwira
justru berjarak dengan gaya hidup mereka yang berbeda. Boleh dibilang,
semua kesatuan memiliki lapangan golf. Demikian pula, banyak kotama di
daerah dan korps memiliki fasilitas semacam itu. Untuk siapa? Tentu
bukan untuk tamtama atau bintara.

Kemewahan yang melampaui rasa kepatutan masyarakat adalah hal konyol.
Dalam banyak kasus malah terasa memalukan. Saya teringat cerita tentang
para utusan pemerintah kita saat menegosiasikan utang dengan Jepang.
Mereka datang ke tempat pertemuan menggunakan mobil mewah, sementara
para pejabat negara pemberi utang justru hadir naik kereta bersama
masyarakat mereka pada umumnya. [email protected]

-------------

Catatan:
Setelah dikejutkan oleh renovasi rumah DPR. mobil2 M-M an, sampai pugar pager istana 22,5 M dan beli pesawat kepresidenan 200M, kita masih saja terus dikejutkan oleh berita2 ttg pembelanjaan anggaran yang tak peka krisis, tak peka rasa hemat (di saat krisis ataupun tidak). Sebuah kebiasaan primitif para birokrat sedari jaman Orba utk segera menghabiskan anggaran. Padahal, kapal penelitian tentulah beda dengan kapal pesiar berhotel, dan itupun sangar mungkin bisa dipenuhi dari dalam negeri mengingat industri perkapalan kita yang tengah menggeliat.

Masih ingat bonanza minyak 1970 yang menyelamatkan Soeharto (sebab, masa bulan madu Pak Harto dengan aktivis dan rakyat yang masih Soekarnois hanyalah 3-4 tahunan saja, setelah banyak yang tidak suka dengan rezim militer dan gaya memerintah Pak HArto dengan UU ISAnya. Kecuali para kapitalis tentu saja karena oleh Pak Hartolah pintu Indonesia dibukakan lebar2 untuk "bagi2 rejeki")? Saat APBN diguyur rejeki minyak, hasil yang dialokasikan untuk investasi sangat sedikit. Yang ada ialah bagi2 rejeki antar elit. Mungkin juga ini jadi benih tradisi KKN Indonesia modern. Maka itu negara2 kecil lain yang lebih tertinggal daripada Indonesia, seperti Vietnam, Malaysia, India dan China, malah lebih maju pada saat sekarang (saya pernah baca sindiran ini dari seorang blogger jiran long long time ago, 7-8 tahun lalu, saya sudah lupa juga alamat artikelnya). Nah, sekarang PDB Indonesia meningkat luar biasa. Tahun 2008 ditaksir 25% dan tahun lalu sekitar 13%. Tapi bukan karena bonanza, melainkan karena penataan birokrasi (reformasi) yang mengakibatkan debottlenecking, termasuk pemberian insentif untuk rakyat sehingga bekerja dengan baik (produktif) berjalan dengan baik. Dimana2 kita lihat gairah produksi, di samping yang gagal bersaing, tentunya. Optimisme di mana2, terutama menjalar hingga ke daerah2. Kota2 kecil kini berbenah sehingga menjadi kota menengah dan kota menengah berdandan sehingga seperti kota besar. Pembangunan infrastruktur terus berjalan, walau lambat, tapi ternyata cukup mendorong produktifitas ekonomi, dan itu berarti pertumbuhan PDB. Rakyat cukup PD dan tenang untuk beraktivitas.

Dulu, karena kaya mendadak oleh minyak, bingung, belum punya manajemen anggaran yang baik, duit dihambur2kan. Sekarang juga begitu. Hanya, lebih kurang ajar lagi karena yang dihambur2kan bukan rejeki minyak tapi duit pajak rakyat, hasil kerja keras keringat kita2 ini.....

Silahkan tanggapannya. Terima kasih.
swatantre
 
Posts: 4193
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Re: Lagoon 500, Sedikit Kepedulian Sospol Yuk...

Postby duren » Mon Feb 01, 2010 12:42 am

Double cabins without salon: 5+1+1
Berths with/without salon: 10+1+1
Year: 2009

Lenght: 15,54 m
Beam: 8.53 m
Draft: 1.4 m
Sail area: 154,2

Water tank: 960 l
Diesel tank: 960 l
Fuel tank: 960 l
Engine (HP): 2x 75

Additional equipment of the Lagoon 500:
Air condition in each cabin, electrical winch (or genua, main sail. traveler, genuareef and davits, electr. Toilett flush. 1 skipper cabin in each hull STB and BB, press water pmp for the deck, cushions for the cockpits, plotter Raymarine 120 at teh navi-station and at the helm, AIS-system (Automalical Identificalion System), 2 cameras under the flybridge, radar, TV 26” LCD, HIFI/DVD home cinema system LG. safety lights in the cockpit and on the flybridge.

Yacht Name: Hull #6
Year Built/Model Year: 2005/2006
L.O.A: 51'
Model: Lagoon 500
Builder: LAGOON
USD ($) Price: $932,461
Location: France. US delivery in JAN 2006
Beam: 29'
Engines: 2 x Yanmar 4JH3TCE Sail Drive, 75HP
Displacement: 37,838
Fuel Capacity: 52 gallons Diesel
Fresh Water Capacity: 254 gallons
Staterooms: 5
Heads: 5
Architect: Lauriot and Prévost
Image
Image
Image
Dibawah sinar rembulan sang mentri akan duduk nyantai disini
Image
User avatar
duren
 
Posts: 11124
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm


Return to Bisnis & Ekonomi



Who is online

Users browsing this forum: No registered users