.

Prospek Partai-Partai Islam dalam Pemilu 2009

Prospek Partai-Partai Islam dalam Pemilu 2009

Postby Muhammad Pagi » Mon Nov 03, 2008 10:12 pm

Prospek Partai-Partai Islam dalam Pemilu 2009
Oleh Burhanuddin Muhtadi

Mengikuti asumsi politik aliran, kelompok abangan yang diidentifikasi sebagai penganut muslim kurang taat cenderung memilih partai nasionalis. Sedangkan kelompok santri dipercaya akan menyalurkan suaranya pada partai Islam. Warga NU lebih nyaman mencoblos partai yang dekat dengan NU. Sebaliknya, pendukung Muhammadiyah dan organisasi modernis lain cenderung memilih partai yang berlatar belakang Islam modernis.

Peta politik di Indonesia sulit dilepas dari pertarungan kelompok Islam versus nasionalis. Polarisasi Islam-nasionalis ini biasanya merujuk pada politik aliran yang diteoritisasi Clifford Geertz pada 1950-an. Inti dari teori ini adalah adanya kesamaan ideologis yang ditransformasikan ke dalam pola integrasi sosial yang komprehensif Mengikuti asumsi politik aliran, kelompok abangan yang diidentifikasi sebagai penganut muslim kurang taat cenderung memilih partai nasionalis. Sedangkan kelompok santri dipercaya akan menyalurkan suaranya pada partai Islam. Warga NU lebih nyaman mencoblos partai yang dekat dengan NU. Sebaliknya, pendukung Muhammadiyah dan organisasi modernis lain cenderung memilih partai yang berlatar belakang Islam modernis.

Pertanyaannya, apakah politik aliran masih relevan untuk menjelaskan pemilu pasca Orde Baru? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada dua penelitian pada skala nasional. Pertama, studi R. William Liddle dan Saiful Mujani yang menyimpulkan politik aliran telah pudar. Tesis Liddle dan Mujani ini didasarkan pada survei skala nasional pada 1999 yang menyebutkan bahwa mayoritas pemilih PDIP (63%) dalam pemilu 1999 adalah santri.

Kedua, studi Dwight Y. King yang menyimpulkan bahwa politik aliran masih viable pada tingkat grassroot. Dengan data hasil Pemilu 1955 dan 1999, King menyatakan bahwa partai Islam dan Golkar mendapatkan suara di daerah-daerah yang pada tahun 1955 merupakan kekuatan utama partai-partai santri (misalnya Masyumi, NU). Sementara partai nasionalis seperti PDIP mendapatkan dukungan di daerah-daerah yang pada tahun 1955 merupakan lumbung suara partai abangan (misalnya PNI dan PKI). Jika studi King benar, maka perlu redefinisi politik aliran. Bahwa parameter menjalankan shalat dan ritual lainnya tak lagi akurat untuk membedakan afialiasi politik Islam dan nasionalis. Juga, pertanyaan semisal “apakah anda sering, cukup, atau tidak pernah menjalankan shalat” termasuk kategori socially desirable. Kalau politik aliran berlaku, seharusnya suara partai Islam melonjak pada pemilu 1999 dan 2004. Karena, sebagaimana dalam survei Liddle dan Mujani (1999), tingkat ketaatan umat Islam Indonesia dalam menjalankan ibadah makin tinggi.

Faktanya, perolehan partai Islam pada pemilu 1999 dan 2004 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pemilu 1955. Gabungan partai Islam pada pemilu 1955 sebesar 43.7%, sedangkan total suara partai-partai nasionalis sebanyak 51.7%. Pada pemilu 1999, total suara partai Islam (PKB, PPP, PAN, PK, PKNU) anjlok menjadi 36.8%. Pada pemilu 2004 lalu, suara partai Islam naik menjadi 38.1%. Perlu dicatat, total suara ini masih memasukkan PAN dan PKB. Jika PAN dan PKB dikeluarkan dari partai Islam, maka suara partai Islam lebih sedikit.

Karakteristik partai Islam biasanya dilihat dari dua hal, asas dan basis massa. Dari asas partai, PPP, PBB dan PKS bisa disebut partai Islam karena asas dan ideologinya adalah Islam. Sementara PKB dan PAN bisa dikelompokkan Islam karena meskipun menjual ideologi pluralis, dua partai itu mengandalkan basis massa muslim. Namun, partai Islam tak homogen. PKS, PPP, dan PBB bisa dikategorikan Islamis. Ketiganya memosisikan Islam bukan semata-mata konstruksi teologis, tapi juga menyediakan perangkat sosial politik yang tak memisahkan agama dan negara (Monshipuri, 1998; Roy, 1993). Tak heran jika ketiga partai itu masih memiliki agenda semisal penerapan Piagam Jakarta atau mendukung pelaksanaan perda Syariat. Sebaliknya, PAN dan PKB tak bisa disebut Islamis karena keduanya lebih menitikberatkan pada nilai-nilai niversal Islam dan tak punya agenda menghidupkan Piagam Jakarta.

Uniknya, perbedaan karakter ideologis Islamis dan non-Islamis itu tak terlalu berpengaruh dalam perolehan suara partai Islam. Hasil korelasi pemilu 1999 dan 2004 yang dilakukan Baswedan, suara PDI-P beralih ke partai nasionalis. Sementara, peningkatan suara PKS berasal dari partai berbasis Islam (PAN dan PPP). Suara PKB relatif tetap karena partai ini menangguk suara dari kalangan Islam tradisionalis di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah.

Kesimpulan Baswedan di atas sejalan dengan exit polls yang diadakan LP3ES pada hari pemilu 5 April 2004; bahwa peningkatan suara PKS merupakan hasil migrasi dari suara pemilih berbasis Islam, kecuali PKB. Sebanyak 16 persen PAN dan PPP pada pemilu 1999 berpindah ke PKS. Tingkat loyalitas pemilih tertinggi juga jatuh ke PKS (56%), disusul pendukung PKB (54%). Ini menunjukkan, kenaikan suara satu partai Islam lebih disebabkan turunnya suara partai Islam lain. Papartai Islam tidak atau belum berhasil meluaskan pangsa pasarnya. Hubungan antara satu partai Islam dengan partai Islam yang lain bersifat zero-sum game.

Bagaimana prospek partai Islam pada pemilu 2009? Hasil survei opini publik yang diadakan lembaga jajak pendapat menunjukkan bahwa perolehan suara partai Islam tak akan jauh dari hasil pemilu 2004. Survei CSIS Jakarta misalnya, bisa dipakai sebagai tolok ukur untuk melihat pemilu tahun depan. Benar bahwa suara yang belum menentukan pilihannya (undecided voters) masih cukup besar, 30%. Ini artinya, jika ditanyakan partai apa yang dipilih pada saat survei itu digelar, sepertiga pemilih belum menentukan pilihan. Di antara yang sudah menentukan pilihan, menurut survei CSIS, 20.3% menyatakan akan memilih PDI-P. 18.1% memilih Golkar, 11.8% sudah menyatakan pilihannya ke PKS. Pemilih yang sudah menentukan pilihan ke PKB sebesar 6.8%, PD sebesar 5.2%, PPP sebesar 2.7%, dan PAN sebesar 1.7%.

Sementara itu, dilihat dari tingkat loyalitas pemilih, pemilih PKS pada pemilu 2004 yang akan tetap memilih PKS pada pemilu 2009 sebesar 75,4%. Ini rekor tertinggi loyalitas pemilih. Peringkat kedua, Golkar (61%), disusul PDI-P (55,1%) PKB (48, 5%). Sementara tingkat loyalitas PAN terhitung rendah; 31% pemilih PAN pada pemilu 2004 yang akan tetap memilih PAN pada 2009 nanti. Uniknya, ada sekitar 22,5% pemilih PAN pada pemilu 2004 yang akan menjatuhkan pilihan pada PKS pada pemilu 2009 nanti. Tingkat loyalitas pemilih partai Demokrat terhitung paling rendah (18.7%). Ini bukti bahwa pemilih partai Demokrat adalah swing voters dan fenomena sesaat.

Suara PKS yang menanjak menurut hasil survei ini sebagian besar mengambil dari suara PAN dan PPP. Ini berarti, pangsa suara PKS bersinggungan langsung dengan partai Islam modernis lain; PAN, PPP dan PBB. Suara PKB yang akan jatuh ke PKS diprediksi kecil. Di samping karena pemilih PKB memiliki loyalitas tinggi, juga karena karakteristik sosio-religious dan demografis pemilih PKB dan PKS berbeda. Pemilih PKB rata-rata berdomisili di wilayah rural, berpendidikan rendah dan berpendapatan menengah ke bawah.
Catatan TS:Tingginya suara PKS mengakibatkan menurunnya suara partai islam lainnya. Sehingga kecenderungan ini mengakibatkan partai-partai islam sendiri 'memperebutkan' suara pemilih islam yang relatif stabil. Jadi pada pemilu mendatang akan banyak skema dari partai islam seperti PAN, PPP dan PBB sendiri untuk membendung perginya basis pemilih mereka ke PKS. Tidak ada solidaritas islam atau bukan dalam politik yang ada hanya satu tujuan merebut kekuasaan. Tentunya dalam hal ini partai di Indonesia menggunakan sentimen primordial dan solidaritas komunal untuk merebut hati pemilihnya.
Mengaca pada hasil jajak pendapat tersebut, partai-partai yang berasas Islam atau berbasis massa Islam perlu mencari strategi yang matang untuk mengembangkan suara di luar suara tradisional Islam. Cara yang paling tepat adalah dengan membidik suara pemilih pemuda karena segmen suara inilah yang relatif bebas dari historical baggage dan immune dari polarisasi Islam dan nasionalis. Apakah partai-partai Islam mampu mengembangkan jaringan suaranya? Kita lihat hasilnya nanti!
Catatan TS: Apapun pilihan partai dan calon presiden anda nantinya,keberpihakan partai dan calon eksekutif pada isu-isu ke-plural-an dapat dijadikan satu parameter memilih dan jangan sampai anda 'tertipu' dengan partai dan calon presiden yang terlihat plural tetapi menyimpan agenda-agenda sektarian. Pelajari kebelakang track recordnya dan apa program yang ditawarkannya. Selamat memilih
User avatar
Muhammad Pagi
 
Posts: 1210
Joined: Thu Nov 22, 2007 1:38 pm
Location: In front of U

Postby The-Fed » Mon Nov 03, 2008 10:19 pm

panjang amat gan

aaah...PSK lagi PSK lagi....eh salah PKS. Susah bedain PSK ama PKS Image

PKS = ImageImage
The-Fed
 
Posts: 373
Joined: Fri Sep 19, 2008 11:46 am

Postby United Nation » Mon Nov 03, 2008 10:22 pm

kalau pegawai negeri sipil apa masih harus golkar?

maklum gue budeg, nggak ngikutin berita. :lol:
User avatar
United Nation
 
Posts: 2416
Joined: Wed May 14, 2008 9:00 pm
Location: Princeton University

Postby Muhammad Pagi » Tue Nov 04, 2008 2:35 pm

Sekarang kita lihat intrik politik sesama partai islam. :wink:

Generasi Muda NU Protes Iklan PKS
Rabu, 29 Oktober 2008

JAKARTA (Suara Karya): Generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) - yang antara lain - tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat NU dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) memprotes iklan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menampilkan figur pendiri NU KH Hasyim Asy`ari.


"Kami minta tayangan iklan itu dihentikan. Kami akan mengirim surat keberatan ke PKS," kata Ketua PB PMII Adin Jauharidin di Jakarta, Rabu (29/10).

Dia mengatakan, apabila keberatan mereka tidak digubris, maka mereka akan menggelar unjuk rasa di Kantor Dewan Pengurus Pusat PKS di Mampang.

Adin mencurigai iklan PKS yang menampilkan KH Hasyim Asy`ari itu ditujukan untuk merebut massa NU di Pemilu 2009. "Padahal antara PKS dan NU tidak ada akar sejarahnya. Ini manipulasi untuk meraih simpati warga NU," katanya.

Menjawab pertanyaan, Adin mengatakan, memang secara hukum PKS tidak melanggar, namun secara etika PKS jelas tidak pantas menayangkan KH Hasyim Asy`ari begitu saja.

Secara terpisah, Direktur Lembaga Kajian dan Survei Nusantara (Laksnu) Gugus Joko Waskito menyatakan, langkah PKS yang menampilkan KH Hasyim Asy`ari pada iklan politiknya bisa menjadi "bumerang" bagi partai itu.

"Yang bereaksi bukan hanya warga NU, tapi juga internal atau arus bawah PKS yang senyawanya tidak sama dengan kultur NU," katanya.

Selain itu, basis Muhammadiyah yang tadinya lebih mendekat ke PKS juga akan sedikit mengambil jarak dengan partai itu.

Langkah PKS itu, menurut Gugus, justru akan lebih membangkitkan semangat partai lain yang berbasis NU untuk semakin merapatkan diri, demikian juga dengan warga NU kultural. "Jadi bukan simpati yang didapat. Isu lama bahwa NU pasti tidak akan PKS akan bangkit kembali," katanya. (Antara)
User avatar
Muhammad Pagi
 
Posts: 1210
Joined: Thu Nov 22, 2007 1:38 pm
Location: In front of U

Postby Muhammad Pagi » Tue Nov 04, 2008 3:54 pm

Setelah NU sekarang Muhammadiyah. :wink:

[url=http://www.inilah.com/berita/pemilu-2009/2008/10/30/58353/setelah-nu-muhammadiyah-protes-pks/]Setelah NU, Muhammadiyah Protes PKS
[/url]
INILAH.COM, Sukabumi - Menyusul 'kemarahan' ormas berbasis NU, sejumlah pimpinan Muhammadiyah memprotes sikap PKS yang memanfaatkan figur KH A Dahlan untuk kepentingan kampanye. Padahal gambar tersebut dilarang dipajang untuk kepentingan politik.


Protes pemuatan gambar KH A Dahlan tersebut disampaikan pimpinan Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah di Sukabumi, Rabu (29/10) malam.


Gambar KH A Dahlan bersama tokoh NU KH Hasyim Asy'ari sengaja dipublikasikan PKS dalam iklan yang telah ditayangkan di sejumlah televisi.


Ketua Umum Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Sukabumi, Jana Jaenudin, menegaskan, pemuatan gambar KH Ahmad Dahlan jelas menyinggung perasaan kader dan simpatisan Muhammadiyah, karena gambar KH A Dahlan dilarang dipajang untuk kepentingan politik.


"Hukumnya haram, bila gambar KH A Dahlan dipajang untuk kepentingan politik. Pemasangan gambar tokoh pendiri Muhammadiyah untuk sarana pembelajaran pun sifatnya mubah," katanya seraya menilai tindakan PKS tersebut telah melecehkan Muhammadiyah.


"Saya yakin tidak akan ada pengurus Muhammadiyah dari tingkat ranting hingga pusat yang memberikan izin pemuatan gambar KH A Dahlan tersebut karena buku Himpunan Putusan Tarjih pun menegaskan pemuatan gambar KH A Dahlan hanya untuk kepentingan perhiasan sudah dinyatakan haram," jelasnya.


Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sukabumi, Ismail Hendra, meminta PKS agar segera menghentikan penayangan iklan berbau politik tersebut karena akan mengganggu perasaan kader dan simpatisan Muhammadiyah.


"KH A Dahlan memang merupakan sosok pahlawan nasional dan sudah menjadi milik masyarakat Indonesia. Namun persoalannya, PKS tidak pernah menengok tata krama berdakwah di dalam Muhammadiyah," ujarnya.


Dihubungi terpisah, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sukabumi, Entis Sutisna, menyatakan, pemuatan gambar KH A Dahlan bisa menjurus pada kategori haram, sebab berdasarkan buku Himpunan Putusan Tarjih maka pemuatan gambar untuk kepentingan perhiasan sudah dinyatakan haram.


"Pemasangan gambar KH A Dahlan dengan tujuan politik juga bisa menimbulkan fitnah," demikian Entis Sutisna. [*/P1]
User avatar
Muhammad Pagi
 
Posts: 1210
Joined: Thu Nov 22, 2007 1:38 pm
Location: In front of U

Postby swatantre » Tue Nov 04, 2008 4:04 pm

PKS menempelkan gambar A. Dahlan dan Hasyim A. utk kepentingan politiknya.

Di Aceh, Jogja, dan Jakarta pun PKS menempelkan stiker2 partainya di kardus2 bantuan yg dari kafir. Di Jakarta, ada laporan bahwa PKS menyelipkan tanda gambarnya saat bantuan banjir.

Strateginya yg penuh keculasan ini sangatlah islami......
swatantre
 
Posts: 4193
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Postby Muhammad Pagi » Tue Nov 04, 2008 5:53 pm

swatantre wrote:PKS menempelkan gambar A. Dahlan dan Hasyim A. utk kepentingan politiknya.

Di Aceh, Jogja, dan Jakarta pun PKS menempelkan stiker2 partainya di kardus2 bantuan yg dari kafir. Di Jakarta, ada laporan bahwa PKS menyelipkan tanda gambarnya saat bantuan banjir.

Strateginya yg penuh keculasan ini sangatlah islami......


Wah, bang swatantre bisa diupload gak gambar stikernya disini, jadi penasaran. :wink:
User avatar
Muhammad Pagi
 
Posts: 1210
Joined: Thu Nov 22, 2007 1:38 pm
Location: In front of U

Postby Luv_Pink » Wed Nov 05, 2008 1:02 am

Kayaknya ada juga deh iklan PKS yang pake selogan nya Bung karno, CMIW
User avatar
Luv_Pink
 
Posts: 1401
Joined: Wed Jan 03, 2007 3:51 pm
Location: C:\Private Room

Postby swatantre » Wed Nov 05, 2008 11:55 am

Muhammad Pagi wrote:
swatantre wrote:PKS menempelkan gambar A. Dahlan dan Hasyim A. utk kepentingan politiknya.

Di Aceh, Jogja, dan Jakarta pun PKS menempelkan stiker2 partainya di kardus2 bantuan yg dari kafir. Di Jakarta, ada laporan bahwa PKS menyelipkan tanda gambarnya saat bantuan banjir.

Strateginya yg penuh keculasan ini sangatlah islami......


Wah, bang swatantre bisa diupload gak gambar stikernya disini, jadi penasaran. :wink:


Mungkin 2-3 thn lalu, ada berita secuil di koran (tentu kayak ginian gak diekspose besar2an, wong masyarakat kita udah gak bisa ngebedain munafik/culas dengan strategi/intelligence) bahwa ketika membagi2kan bantuan saat banjir Jakarta, PKS turut menempelkan stiker tanda gambar pada bungkus obat, dimana hal itu melanggar aturan kampanye (kok larinya ke kampanye, mungkin kejadiannya malah sekitaran tahun 2004 lalu apa yak...)

Sedangkan soal yang di Aceh dan Jogja, saya juga baca dari postingan seorang netter di sini. Soal Aceh pas tsunami 2004-2005, soal Jogja pas gempa 2006. Tapi, rupanya, menyelipkan/menempelkan tanda gambar pada barang bantuan (Jadi membantu tapi dengan pamrih sambil berpromosi/kampanye gratis) bukan barang baru bagi partai Islam. Di Jogja saya sempat jadi relawan, dan pernah menemukan selebaran stensil (bukan stiker) ajakan untuk mendukung partai islam (saya lupa PBR atau PPP, yang jelas, desa tempat saya beroperasi adalah basis PKB.
swatantre
 
Posts: 4193
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Postby Muhammad Pagi » Wed Nov 05, 2008 5:21 pm

Lain kali kalau ada hal seperti itu diabadikan dan diposting disini bang, karena untuk saya sendiri tidak punya akses ke daerah. Minimal kita belajar tentang pendidikan politik di FFI.
User avatar
Muhammad Pagi
 
Posts: 1210
Joined: Thu Nov 22, 2007 1:38 pm
Location: In front of U

Postby Muhammad Pagi » Wed Nov 12, 2008 3:47 pm

With thanks to fenomena:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... e&p=432447

Soeharto itu Guru Bangsa


Fahri Hamzah
R Ferdian Andi R



INILAH.COM, Jakarta – Seperti tak pernah jera oleh kontroversi iklan politiknya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus meluncurkan iklan politik versi baru. Kali ini iklan kampanye peringatan Hari Pahlawan itu lebih heboh. Mengapa?


Dalam iklan politik yang mulai tayang akhir pekan lalu di sejumlah stasiun televisi, PKS menampilkan beberapa tokoh Indonesia, dari Bung Karno, Pak Harto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, M Natsir, M Hatta, Jenderal Sudirman, dan Bung Tomo.


Di akhir tayangan iklan, muncul suara “Terimakasih guru bangsa, terimakasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS”. Apakah PKS mengambil keuntungan dengan memunculkan tokoh-tokoh tersebut ,tak terkecuali Soeharto yang masuk dalam kategori pahlawan dan guru bangsa?


“Soeharto itu guru bangsa,” cetus Wakil Sekjen Bidang Komunikasi Politik DPP PKS Fahri Hamzah kepada INILAH.COM, Senin (10/11) di Jakarta. Bagaimana argumentasi Fahri? Berikut ini wawancara lengkapnya:


Tayangan iklan terbaru PKS menampilkan HM Soeharto dalam deretan pahlawan dan gurbangsa. Ada penjelasan?

Itu semua orang yang ditampilkan adalah orang-orang yang meninggal. Sebagai manusia biasa, tentunya ada perbuatan baik dan buruknya. Katakanlah Soekarno dan Soeharto. Soekarno banyak masalahnya, ada dekrit presiden, pengumuman presiden seumur hidup, membubarkan Masyumi, menangkap aktivis Masyumi. Tapi banyak juga jasanya, dia proklamator pemersatu bangsa dan sebagainya. Pak Harto juga demikian. Yang harus didingat, mereka ini sudah meninggal. Kita tidak bisa mengambil apa-apa kecuali pelajaran, makanya kita sebut guru bangsa. Begitu cara melihatnya.


Bagaimana penjelesan PKS dengan status Soeharto yang masih belum menjadi pahlawan, tapi dalam iklan politik PKS disejajarkan dengan para pahlawan lainnya?

Kita tidak menyebut pahlawan. Di situ kan ada guru bangsa dan pahlawan, yang sudah jelas pahlawan ya disebut pahlawan. Yang disebut guru bangsa ya disebut guru bangsa.


Kali keduanya PKS sejak Oktober 2008 menampilkan iklan-iklan kontroversial. Apakah memang PKS sengaja menampilkan iklan kontroversial dengan mengambil keuntungan politik dari iklan yang kontroversial tersebut?

Kita harus lihat pesannya, lihat substansinya. Kita terlambat terus dari bangsa lain, karena perdebatannya tidak substansial, perdebatannya masih kulit terus. Kita masih meributkan Soekarno dan Soeharto. Ini perdebatan yang tidak substansial. Kalau mau kita buka saja perdebatan yang besar. Substansi dari iklan itu, kita tidak memberikan gelar pada orang per orang. Kita mengatakan mengucapkan terimakasih dan mengambil inspirasi dari masa lalu.


Apakah PKS sudah menduga sebelumnya, iklan-iklan seperti ini akan menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat?

Ya. Kalau tidak ada polemik ya tidak ada kedewasaan, tidak ada pertemuan pikiran yang sehat. Baguslah.


Artinya memang PKS berharap keuntungan dengan iklan yang kontroversial?

Itu tidak kontroversial. Dari dulu kita sudah menampilkan foto-foto lambang pahlawan. Sejak Mukernas di Bali sudah kita tampilkan. Sekarang saja, muncul reaksi bahwa tokoh A adalah milik pribadinya.


Termasuk foto KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan?

Ya, mereka kan guru bangsa, milik publik, tidak bisa dimonopoli oleh kelompok tertentu. Lagian kita tidak melakukan klaim, kami hanya mengambil pelajaran dari mereka. Masak mengambil pelajaran dari orang, disalahkan.


Bukankah menampilkan tokoh tersebut dalam ranah politik seperti PKS lakukan akan mengerdilkan nilai yang dibangun oleh mereka?

Pertannyaan, apakah politisi tidak boleh mengambil pelajaran dari mereka?


Tapi dalam konteks mengambil kenutungan politik dengan menampilkan foto-foto mereka?

Makanya, saya mengusulkan kepada pengkritik, agar menonton lagi dengan baik dan jernih, apa pesannya. Kami tidak melakukan klaim kelompok. Yang kita lakukan mengajak semua orang untuk belajar baik dan buruknya dari mereka. Yang pasti mereka yang sudah meninggal. Kalau Pak Harto hari ini masih hidup, tidak mungkin kita pasang gambarnya. [P1]
User avatar
Muhammad Pagi
 
Posts: 1210
Joined: Thu Nov 22, 2007 1:38 pm
Location: In front of U

Re: Prospek Partai-Partai Islam dalam Pemilu 2009

Postby Yisrael » Mon Feb 23, 2009 11:11 pm

omm dan tante.. tulung kesini isiin pooling ane..

viewtopic.php?f=22&t=31275
Yisrael
 
Posts: 37
Joined: Wed Jan 14, 2009 1:47 am
Location: Indonesia

Re:

Postby udung » Tue Feb 24, 2009 3:44 am

Luv_Pink wrote:Kayaknya ada juga deh iklan PKS yang pake selogan nya Bung karno, CMIW

Lho lho lho, sejak kapan Bung Karno jadi orang arab? Sejak kapan nasionalisme Bung Karno utk arab? Nasionalisme Bung Karno hanya utk satu Indonesia.
Btw kayaknya di wilayah jabar psk eh pks bakalan turun prosentasenya akibat ulah gubernurnya yg blegug yg tidak mengerti budaya sunda mengkritik seni tari jaipong. Budayawan jabar akan bereaksi negatif menanggapi statement gubernurnya yg bukan orang sunda tapi orang arab turunan pks
udung
 
Posts: 543
Joined: Wed Apr 23, 2008 12:31 am

Re: Hasil Pemilu 2009

Postby sodrun » Sun Aug 19, 2012 4:37 pm

sodrun
 
Posts: 1950
Joined: Sat Apr 30, 2011 8:38 pm

Re: Prospek Partai-Partai Islam dalam Pemilu 2009

Postby sodrun » Sun Aug 19, 2012 5:06 pm

Ada penurunan yang cukup tajam pada perolehan suara Partai-partai Islam dalam pemilu legislatif di Indonesia. Hanya 29,16%, itupun dengan memasukkan PAN dan PKB yang meskipun mendapatkan suaranya atas dukungan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama tapi mereka mengklaim bahwa partainya adalah partai terbuka, bukan partai islam.
Pada Pemilu tahun 1955 Partai-partai Islam mendapatkan lebih dari 40% suara :
Masyumi (20,92%)
NU (18,41%)
PSII (2,89%)
ditambah perolehan dari beberapa partai kecil.
Bagaimana Prospek Partai-partai Islam ini dalam Pemilu 2014 nanti ?
:-k
sodrun
 
Posts: 1950
Joined: Sat Apr 30, 2011 8:38 pm


Return to Politik Agama



Who is online

Users browsing this forum: No registered users