Page 1 of 1

“Roti” Demokrasi: Dinajiskan, Tapi Dijilat Juga

PostPosted: Sat Aug 16, 2008 3:44 pm
by ishaputra
“Roti” Demokrasi: Dinajiskan, Tapi Dijilat Juga
By me

Inilah fenomena yang nyata-nyata terjadi pada tokoh-tokoh “mujahidin”, khususnya di Indonesia. Dengan keyakinan yang teguh akan ideologi Islam, mereka menolak demokrasi dan menajiskannya. Dalam keyakinan mereka, demokrasi adalah ideologi thagut “buatan manusia”, yang bersifat kafir lagi sesat dan menyesatkan. Tidak membawa manfaat apa-apa selain kerusakan di muka bumi, dan harus segera digantikan dengan yang mereka sebut “sistem Tuhan” yang “lebih benar”.

Ada satu hal yang kurang disadari (dan kurang disyukuri) oleh kelompok-kelompok jumud macam mereka, yaitu bahwa aktivitas ideologis mereka, sebagaimana dipropagandakan melalui selebaran-selebaran, website, atau ceramah-ceramah, dapat berlangsung aman dan bebas justru akibat iklim demokratis yang ada di Indonesia, khususnya pasca tumbangnya rezim Soeharto. Tanpa adanya iklim demokratis yang bebas, mustahil mereka bisa melakukan propaganda seperti itu. Fauzan Al-Anshori dalam wawancaranya dengan majalah Syir’ah edisi April 2004, pernah menyatakan bahwa meskipun menurutnya demokrasi itu “kafir dan najis”, tapi ia mengakui masih ada manfaatnya, yaitu adanya kebebasan berbicara. Pernyataan apa yang lebih memalukan dari pernyataan Fauzan tersebut?

Parahnya, walau sudah mencecap nikmatnya kebebasan berbicara, seringkali kelompok macam ini tidak mau menghargai hak orang untuk melakukan hal yang sama, yakni bebas berbicara. Contoh kecil tahun 2003, Ulil Abshar Abdalla difatwa mati oleh Forum Ulama Umat Islam Bandung hanya karena sebuah artikel yang ia tulis di harian Kompas.

“Kebebasan berbicara” adalah bagian dari demokrasi. Jika Fauzan merasa bahwa ia mencatut keuntungan dari “bagian ideologi kafir” tersebut, bukankah sama dengan ia menjilat dan mencecap nikmatnya daging babi? Bukankah jika jelas “najis”, maka seharusnya ia tidak mencecap sedikitpun dari “barang najis” tersebut? Tetapi nampaknya orang macam Fauzan akan terus menggeluti paradoks ini dalam pemikirannya: bahwa kampanye sebuah ideologi yang “menajiskan demokrasi”, tetap akan selalu membutuhkan iklim yang demokratis. []

Kunjungi:
http://ishaputra.multiply.com/journal/item/43

PostPosted: Sat Aug 16, 2008 8:10 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
@ atas

babi aja kalo kepepet jadi halal kok bang (ini serius loh), jadi ga usah heran ama kelakuan islam...

PostPosted: Sat Aug 16, 2008 8:26 pm
by Philadelphia
Lucunya, mereka menikmati kebebasan berpendapat, tapi menginginkan hukum syariat diterapkan yang malah anti kebebasan berpendapat.

PostPosted: Sat Aug 16, 2008 10:19 pm
by ishaputra
MaNuSiA_bLeGuG wrote:@ atas

babi aja kalo kepepet jadi halal kok bang (ini serius loh), jadi ga usah heran ama kelakuan islam...


Barti nyolong, bunuh, dan memperkosa kalau kepepet bisa halal juga ye? Wah, bahaya nih ajaran!!!

PostPosted: Tue Aug 19, 2008 8:05 am
by swatantre
@ishaputra, ngomentarin siginya,
Eh yang bener si ahmadbejat syiah ini udah diharamin ama ulama sunni? Kok muslim sini, terutama jenisnya HTI sangat mengidolakannya ya? HTI jangan2 udah murtad ke syiah nih......

PostPosted: Sat Aug 23, 2008 6:50 pm
by ishaputra
Ulama Sunni AS (Arab Saudi) juga mengharamkan Muslim Sunni mendukung Hesbollah karena mereka Syiah...

PostPosted: Thu Jul 16, 2009 10:18 am
by up1234go
Fauzan Al-Anshori dalam wawancaranya dengan majalah Syir’ah edisi April 2004, pernah menyatakan bahwa meskipun menurutnya demokrasi itu “kafir dan najis”, tapi ia mengakui masih ada manfaatnya, yaitu adanya kebebasan berbicara. Pernyataan apa yang lebih memalukan dari pernyataan Fauzan tersebut?


Fauzan ini orangnya ramah, alim dan berwibawa. :rolling:

Re:

PostPosted: Thu Jul 16, 2009 2:35 pm
by mey
ishaputra wrote:Barti nyolong, bunuh, dan memperkosa kalau kepepet bisa halal juga ye? Wah, bahaya nih ajaran!!!

bukan cuma kepepet bro tapi memang sudah diperintahkan awloh..