.

Mata Najwa : Rhoma Irama

Mata Najwa : Rhoma Irama

Postby fayhem_1 » Tue Aug 27, 2013 11:56 am

User avatar
fayhem_1
 
Posts: 1402
Joined: Tue Sep 08, 2009 6:55 pm

Rhoma Irama, Capres Paling Berbahaya bagi NKRI

Postby fayhem_1 » Tue Aug 27, 2013 10:11 pm

http://www.indonesiamedia.com/2012/12/03/rhoma-irama-capres-paling-berbahaya-bagi-nkri/

“Pemirsa, bursa RI-1 semakin ramai ketika Rhoma Irama menyatakan bersedia maju sebagai calon presiden. Apakah ini suatu keseriusan ataukah suatu dagelan politik di akhir tahun?” Demikian pembuka kata dari Najwa Shihab sebelum memulai wawancaranya dengan Rhoma Irama di acara Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, yang berjudul “Mendadak Capres.”

Ya, apakah kesediaan Rhoma Irama maju sebagai salah satu capres 2014 itu adalah suatu keseriusan, ataukan suatu dagelan politik di akhir tahun? Indikasinya bisa dilihat di percakapan Najwa Shihab sebagai host acara itu dengan dengan salah satu tamu utamanya itu: Rhoma Irama.

Menurut Rhoma keputusannya untuk bersedia maju sebagai capres 2014 itu karena ada faktor desakan dari sejumlah politisi dan umat, serta ada faktor keterpanggilan dari dalam dirinya untuk memperbaiki nasib bangsa Indonesia, yang saat ini semakin jauh dari tujuan reformasi. Memperjuangkan dan memperbaiki nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tetapi dalam pernyataan-pernyataan selanjutnya apa yang disampaikan di awal pembicaraan tersebut sangat jauh bertolak belakang. “Visi dan misi” capres Rhoma Irama ini justru sangat berbahaya bagi persatuan dan keadilan sosial bangsa ini. Sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Rasialis/SARA dengan nuansa sektarianisme yang kental. Bertentangan pula dengan semangat reformasi.

Apakah Rhoma Irama merasa punya kualifikasi untuk menjadi seorang presiden?

Dengan penuh keyakinan, Rhoma menjawab dia yakin akan hal itu. Dasarnya bahwa selama 40 tahun sebenarnya dia sudah melakukan langkah-langkah tersebut melalu lagu-lagu yang dinyanyikan dan melalui tablik-tablik akbar di seluruh Indonesia. Dia sudah terbiasa untuk mengarah bangsa ini, mengarahkan umat.

Apa dasar pemikirannya yang mengkorelasikan menjadi penyanyi (dangdut) selama 40 tahun dan tablik-tablik akbar dengan kualisifikasi untuk menjadi seorang presiden di NKRI ini?

Rhoma hanya menjelaskan perbedaan antara pemimpin yang formal dan pemimpin yang nonformal. Tokoh agama, tokoh masyarakat adalah pemipin nonformal, sedangkan birokrat adalah pemimpin yang formal. Anda melihat korelasinya?

Seberapa besar desakan dari “beliau-beliau” yang menurut Rhoma Irama sebagai representasi dari umat, supaya dirinya maju sebagai capres 2014?

Menurut Rhoma desakan tersebut bermula dari kondisi politik yang baru saja terjadi di Jakarta, yang ektrem, telah membuat dia dianggap sebagai ikon Islam di Indonesia oleh tokoh-tokoh umat Islam itu. Mereka bilang, “Oleh karena itu anda harus maju (sebagai capres) untuk membawa aspirasi umat Islam sebagai mayoritas bangsa ini!”

Apa yang dimaksud dengan situasi politik di Jakarta ekstrem dan tidak biasa itu?

Awalnya Rhoma menghindar untuk menjawabnya, tetapi setelah didesak dia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan situasi ektrem di Jakarta itu adalah soal pilkada gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dan hasilnya baru-baru ini. Yakni, adanya satu etnis yang tidak biasa menjadi birokrat, kini menjadi birokrat.

“Anda mengacu kepada Basuki Tjahaja Purnama yang saat ini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta?” Tanya Najwa Shibab.

“Ya, saya rasa, memang seperti itu,” jawab Rhoma.

Situasi ekstrem yang bagaimana?

Rhoma menjawab, saat ini telah terjadi kegelisahan dan kecemasan umat Islam terhadap terpilihnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Wakil Gubernur Jakarta.

“Kebetulan saya berada di dalam pusaran ini. Dengan diadilinya saya di Panwaslu, umat telah menilai bahwa ini telah mengadili agama, mengadili Al-Quran.”

Najwa: “Jadi, anda merasa sebagai representasi umat Islam? Bahkan anda merasa representasi dari orang yang diadili karena kasus yang kemarin mengucapkan kampanye SARA?”

Rhoma: “Barangkali bukan itu ucapannya. Bukan saya yang merasakan. Beliau-beliau yang mengatakan hal itu.”

Najwa: “Dan, anda menyetujuinya?”

Rhoma: “Kenapa?”

Najwa: “Anda sependapat dengan apa yang diucapkan oleh beliau-beliau yang tadi anda sebut?”

Rhoma: “Hmmm, saya rasa, saya tidak dalam kapasitas itu, ya.”

Najwa terus mendesak dengan mengatakan, “Dengan anda mengutarakan hal ini berarti anda menyetujui perkataan mereka?

Akhirnya Rhoma tidak bisa mengelak lagi, dengan menjawab: “Oke, saya setuju!”

Rhoma mengatakan, ada kekhawatiran anak bangsa, umat Islam saat ini akan peran etnis tertentu (etnis Cina) yang semakin agresif dalam dunia politik Indonesia. Selama ini mereka telah mengdominasi di bidang ekonomi. Sekarang mereka, mulai masuk lagi ke bidang politik. Ini mencemaskan dan mengelisahkan umat Islam.

“Ada suatu kelompok etnis, yang secara ekonomi sudah sangat mengdominir perekonomian Indonesia. Dan, kali ini secara politik mereka juga mulai agresif. Nah, inilah yang mencemaskan anak bangsa, khususnya umat Islam. Karena melihat situasi politik sudah mulai tidak proporsional. Dan, ini juga mengacu pada demokrasi ini terlalu dini untuk mencapai demokrasi liberal seperti di Amerika.”

Dari argumen-argumen Rhoma Irama yang sangat kental rasialis/SARA, dan bahkan cenderung sektarian tersebut, jelaslah bahwa meskipun Rhoma mengatakan akan memperjuangkan Pancasila dan UUD 1945, dalam kenyataannya wawasannya sangat bertolak belakang dengan semangat kemajemukan bangsa ini, bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 itu, yang menjamin kesamaan hak dan kewajiban semua WNI tanpa memandang etnis apapun dia, dan agama apapun dia.

Benarkah kondisi Jakarta waktu itu menjadi ekstrem gara-gara Ahok mau menjadi wakil gubernur Jakarta? Bahkan saat ini, kata Rhoma Irama, gara-gara Ahok sudah menjadi Wakil Gubernur Jakarta, anak bangsa khususnya umat Islam menjadi resah, cemas, dan gelisah? Tidak bisa menerima kenyataan ini?

Umat Islam manakah yang Rhoma Irama maksudkan resah, cemas dan gelisah, tidak bisa menerima Ahok sebagai Wakil Gubernur Jakarta, gara-gara dia Cina (dan Kristen)?

Mayoritas warga DKI Jakarta itu Islam, mayoritas yang memilih Jokowi-Ahok sebagai pimpinan baru mereka, sudah pasti juga mayoritas Islam. Najwa Shihab, si tuan rumah Mata Najwa itu juga Islam. Yang sudah pasti juga adalah mereka tidak berwawasan sesempit Rhoma Irama itu, jadi sudah pasti bukan mereka yang tidak bisa terima, cemas dan gelisah dengan terpilihnya Ahok sebagai Wakil Gubernur Jakarta.

Dari sini pulah dapat disimpulkan bahwa salah satu misi dan visi Rhoma Irama yang ingin menjadi presiden adalah menghilangkan kecemasan dan kegelisahan umat Islam versinya itu. Bagaimana caranya, ya, dengan tidak memberi kemungkinan lagi etnis Tionghoa untuk masuk ke dunia politik. Menghilangkan hak WNI etnis Tionghoa untuk menjadi bagian dari pemerintahan negara ini. Mulai dari jajaran paling bawah sampai dengan paling atas. Menjadi wakil gubernur saja tidak akan diperbolehkan, apalagi jadi presiden. Ingat pula bahwa dalam ceramahnya itu Rhoma juga menyinggung soal agama. Agama Ahok yang Kristen pun disinggung, sebagai alasan tidak bisa menerima Ahok sebagai Wakil Gubernur Jakarta. Jadi, menurut capres Rhoma Irama ini, etnis Cina dan Kristen tidak punya hak yang sama dengan WNI lainnya. Apabila dia menjadi presiden, hak-hak asasi WNI itu akan dihapuskan. Berarti pula, Pancasila dan UUD 1945 harus diamandemen lagi agar sesuai dengan “visi dan misi Presiden Rhoma Irama.”

Betapa berbahayanya capres seperti ini untuk Negara Kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Untungnya, meskipun Rhoma Irama menganggap pencalonannya sebagai capres itu serius. Saya yakin, bagi sebagian besar WNI, ini hanyalah dagelan di akhir tahun. “Joke on the pilpres 2012.”

Ketika percakapan antara Najwa Shihab dan Rhoma Irama berlanjut ke perihal isu-isu publik yang penting dan yang sedang ramai dibicarakan saat ini, terjadilah adegan-adegan dagelan di Matanajwa itu. Karena ternyata, Rhoma Irama tidak menguasai hal-hal yang ditanyakan oleh Najwa secara sederhana dan umum itu.

Rhoma mengeles dengan mengatakan kepada Najwa, “untuk jadi presiden tidak perlu harus menjadi superman yang mengerti semuanya,” “saya bukan ahli perminyakan.” “ini kan masih wacana sebagai capres. Nanti kalau sudah masuk ke tahapan lebih lanjut, baru kami akan mendalaminya,” … ketika Najwa menanyakan soal subsidi BBM, APBN, pembubaran BP Migas.

Lebih konyol lagi ketika Najwa bertanya soal poligaminya Rhoma, yang membuat Rhoma kelihatan gusar.

Rhoma Irama, Capres Paling Berbahaya bagi NKRI
Last edited by fayhem_1 on Tue Aug 27, 2013 10:43 pm, edited 1 time in total.
User avatar
fayhem_1
 
Posts: 1402
Joined: Tue Sep 08, 2009 6:55 pm

Rhoma Irama Mendadak Capres: Dagelan di “Mata Najwa” ( video

Postby fayhem_1 » Tue Aug 27, 2013 10:30 pm

http://www.indonesiamedia.com/2012/12/03/rhoma-irama-mendadak-capres-dagelan-di-mata-najwa-video/

Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

(Saya sertakan video acara tersebut, yang diambil dari Youtube, di bagian akhir artikel ini).

Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.

Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.

Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.

Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni, harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.

Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.

Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya kursi panasnya Mata Najwa.

Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa, dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.

Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”



Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?

Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”

Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukungpolicy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”

Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”

Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”

Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.



Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?

Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.

Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”

Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”

Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”

Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”

Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”

Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.



Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?

Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”

Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!

Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”

Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”

Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”

Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”

Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”

Rhoma: “Yes, tentu saja. Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.

Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya, bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.

Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?

*

Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”, siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur, dan sebagainya.

“Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.

“Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”

Najwa: “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”

“Silakan!”

“Abang berpoligami?”

Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”

Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”

“Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”

“Berarti anda memang berpoligami …”

“Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.

“Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”

Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.

Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”

Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).

*

Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.

Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?

Catatan up-date:

Ternyata, berkacamata hitamnya Rhoma Irama itu dikarenakan dia pada 20/11/2012 menjalani operasi mata kananya di Jakarta Eye Center.

*

Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”

Menurut anda?

Rhoma Irama Mendadak Capres: Dagelan di “Mata Najwa” ( video )
User avatar
fayhem_1
 
Posts: 1402
Joined: Tue Sep 08, 2009 6:55 pm

Re: Mata Najwa : Rhoma Irama

Postby fayhem_1 » Tue Aug 27, 2013 10:41 pm

Najwa : "Opera sabun siap terisi oleh kisah dizalimi yang menguras simpati
User avatar
fayhem_1
 
Posts: 1402
Joined: Tue Sep 08, 2009 6:55 pm

Re: Mata Najwa : Rhoma Irama

Postby prisca » Thu Aug 29, 2013 12:02 pm

fayhem_1 wrote:Rhoma mengatakan, ada kekhawatiran anak bangsa, umat Islam saat ini akan peran etnis tertentu (etnis Cina) yang semakin agresif dalam dunia politik Indonesia. Selama ini mereka telah mengdominasi di bidang ekonomi. Sekarang mereka, mulai masuk lagi ke bidang politik. Ini mencemaskan dan mengelisahkan umat Islam.“Ada suatu kelompok etnis, yang secara ekonomi sudah sangat mengdominir perekonomian Indonesia. Dan, kali ini secara politik mereka juga mulai agresif. Nah, inilah yang mencemaskan anak bangsa, khususnya umat Islam. Karena melihat situasi politik sudah mulai tidak proporsional. Dan, ini juga mengacu pada demokrasi ini terlalu dini untuk mencapai demokrasi liberal seperti di Amerika.”

=D> =D> hebat sekali...
spertinya capres yg satu ini tdk mengetahui bahwa Indonesia ini kaya dengan keberagamannya..

oleh Chinese(asli Chinese), org2 cina Indonesia dikatakan sdh tdk lagi pure cina, jangankan mengenal budaya leluhur secara detil dan mendalam, kemungkinan mengetahui dan menguasai bahasa asli cina saja belum tentu semua dalam "etnis" ini mendalami.. karena mereka lebih mencintai tanah dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan, meskipun punya rasa sentimental tersendiri terhadap moyang mereka..
(pernah saya dengar dari Chinese asal kanton).

jadi, apakah jika di lain kesempatan ada caleg dari suku2 atau etnis tertentu akan di'disscard begitu saja? :-k
#-o pak haji...pak haji
User avatar
prisca
 
Posts: 791
Joined: Sat Mar 23, 2013 7:28 pm

Re: Mata Najwa : Rhoma Irama

Postby fayhem_1 » Thu Aug 29, 2013 12:23 pm

prisca wrote: =D> =D> hebat sekali...
spertinya capres yg satu ini tdk mengetahui bahwa Indonesia ini kaya dengan keberagamannya..

oleh Chinese(asli Chinese), org2 cina Indonesia dikatakan sdh tdk lagi pure cina, jangankan mengenal budaya leluhur secara detil dan mendalam, kemungkinan mengetahui dan menguasai bahasa asli cina saja belum tentu semua dalam "etnis" ini mendalami.. karena mereka lebih mencintai tanah dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan, meskipun punya rasa sentimental tersendiri terhadap moyang mereka..
(pernah saya dengar dari Chinese asal kanton).

Terutama kayak felix siauw, saking cintanya sampai jadi mualaf

prisca wrote:jadi, apakah jika di lain kesempatan ada caleg dari suku2 atau etnis tertentu akan di'disscard begitu saja? :-k
#-o pak haji...pak haji

Oh tentu ada pengecualiannya seperti felix siaw dll
User avatar
fayhem_1
 
Posts: 1402
Joined: Tue Sep 08, 2009 6:55 pm


Return to Budaya & Sospol



Who is online

Users browsing this forum: No registered users