Page 1 of 1

Bali Berpeluang Jadi Warisan Dunia

PostPosted: Mon Feb 12, 2007 9:51 am
by Laurent
Jum'at, 09 Februari 2007 15:50 WIB
HUMANIORA » Kebudayaan
Bali Berpeluang Jadi Warisan Dunia



JAKARTA--MIOL: Provinsi Bali berpeluang besar untuk disahkan sebagai warisan budaya dunia (world heritage) oleh United Nation Education and Science Organization (UNESCO).

Saat ini, Bali sudah mendapat nomor nominasi C 1194. Selain Bali, Daerah Toraja juga sempat dinominasikan sebagai world heritage. Namun, bila dilihat dari segi kesiapan, Bali memiliki peluang lebih besar.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Budaya dan Pariwisata (Depbudpar) Hari Untoro Drajad di Jakarta, Jumat (9/2).

Menurut Hari, dalam pertemuan sejumlah duta besar negara-negara anggota UNESCO di Bali, pada Januari 2007, provinsi Bali disebut-sebut akan masuk dalam wolrd heritage UNESCO. Namun kepastian Bali sebagai warisan budaya dunia baru akan diumumkan pada 2008 mendatang.

"Masuknya Bali dalam daftar world heritage UNESCO tentu membanggakan Indonesia. Sebab, banyak negara yang berlomba-lomba untuk masuk menjadi daftar warisan budaya dunia," ujar Hari.

Hari mengungkapkan, sebelumnya para duta besar dari negara anggota UNESCO telah mengunjungi tiga daerah di Bali. Daerah yang dikunjungi dan dicalonkan sebagai warisan budaya dunia meliputi daerah Tabanan, Badung, dan Gianyar.

Para duta besar itu mengunjungi Tabanan sebagai warisan Kerajaan Airlangga pada abad IX, Pura Taman Ayu di Jatiluh, Badung, dan pelestarian sistem pengairan subak di Gianyar.

"Jadi yang dinilai apakah satu daerah bisa masuk dalam daftar world heritage UNESCO bukan hanya adanya situs purbakala, tetapi juga punya konsep pelestarian. Bukan hanya pelestarian fisik, tetapi juga nilai-nilainya," papar Hari.

Menurut Hari, Bali telah memenuhi dua syarat, pelestarian fisik dan pelestarian nilai-nilainya. Selain dua syarat itu, Bali masih memiliki persyaratan tambahan lainnya. Persyaratan itu adalah management plan yang baik untuk pemeliharaan situs di masa datang dan apakah masyarakat di sekitar menyetujui atau tidak peninggalan budaya mereka dijadikan warisan budaya dunia. (Eri/OL-01)

www.mediaindo.co.id

PostPosted: Mon Feb 12, 2007 9:33 pm
by Hand15
Wah, ntar takutnya Bali bakalan jadi tempat favorit teroris buat dibom mengingat keamanan di Indonesia masih loyo...

PostPosted: Thu Feb 15, 2007 2:07 pm
by swatantre
Takutnya bali dijadiin sasaran bom mengingat sifat iri muslim ....
"Aduh, daerah kafir pusat pemujaan berhala kok dijadiin warisan dunia sedangkan serambi mekkah kok malah diterjang tsunami, gempa, banjir dan longsor bertubi2 ya...????"

PostPosted: Mon Oct 05, 2009 12:55 am
by up1234go
Numpang nempel...

Satu Dari Gugus Budaya Megalit Dunia
Minggu, 13 September 2009

Cobalah buka uang kertas nominal Rp 1.000. Pada salah satu sisi mata uang tersebut, terpampang seorang pemuda “terbang” di atas tumpukan batu. Atraksi inilah yang menjadi salah satu icon dari Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara guna menarik minat wisatawan untuk datang ke sana.

Atraksi tersebut memang tak sembarang orang yang bisa melakukannya. Hanya pemuda yang dianggap dewasalah yang sanggup melewati tumpukan batu setinggi 3 meter. Dalam bahasa Nias, tradisi mendebarkan semacam ini dikenal sebagai hombo batu.

Di luar atraksi itu, Nias memang kaya budaya. Unesco, sebuah organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi masalah ilmu pengetahuan dan kebudayaan, malah jauh-jauh hari mengakui kalau Nias memiliki kekayaan pusaka budaya tinggi seperti situs megalit, desa-desa tradisional, arsitektur lokal yang menakjubkan, keragaman kerajinan tangan, dan adat istiadat.

Ya, tradisi megalit di Nias hingga kini memang tak pernah padam. Dengan kata lain, Nias merupakan salah satu dari tujuh tempat di dunia yang budaya megalitnya masih berkembang (the living megalith culture).

Warisan Dunia
Berdasarkan hal itulah, Enesco merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia untuk menominasikan Nias sebagai warisan dunia (world heritage). Rekomendasi Enesco tak salah. Apalagi Nias memiliki segudang prestasi. Di Museum Pusaka Nias yang terdapat di Gunung Sitoli misalnya, menyimpan koleksi benda peninggalan budaya bernilai sejarah tinggi.

Museum yang dikembangkan oleh Pastor Johannes M Hammerle, warga Jerman yang sudah 36 tahun tinggal di Nias itu, hingga kini menyimpan sekitar 6.500 benda. Benda-benda antik itu terdiri dari artefak alat-alat rumah tangga, patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisional, mata uang, pakaian perang, simbol-simbol kebangsaan, serta rumah adat khas Nias, omo hada.


Terima kasih anda telah menyelamatkan peradaban sebelumnya. Apa jadinya kalau Nias seperti Aceh, peradaban sebelumnya bakal dihancurkan. Sekali lagi, THANK YOU VERY MUCH!

HORREEEEEEEEEE... HORRREEEEEEEE...!

Jangan lupa, tolak cabang FPI/FUI/MMI/dll di Nias, sebelum Dewa Arab Islam akan bikin keonaran di Nias seperti kasus di Binjai-Sumut, orang dayak di kalimantan, patung buddha di singkawang. Hati-hati, allah swt suka mengirim pasukan2 terbaiknya untuk membuat kerusuhan disana. Lagipula, pasukan2 ini sudah terlatih bagaimana merusak bangunan karena alasan toleransi dan SKB. Bukan itu saja, merekapun sudah terlatih merusak keperawanan wanita yang akan dipoligami atau di nikahsirihkan.

Di luar museum, juga terdapat nilai budaya yang tak kalah serunya. Di Kecamatan Gomo misalnya, banyak ditemukan artefak-artefak batu pada jaman megalit. Paling tidak ada 14 titik situs megalit di kawasan tersebut. Maklum, Gomo tempo dulu merupakan tempat para leluhur orang Nias pertama kali mendirikan permukiman.

Kini, arca-arca baru berusia ratusan tahun berada di halaman-halaman rumah penduduk. Selain itu, arca-arca tersebut juga dapat ditemukan di ladang dan hutan milik penduduk. Diduga masih ada beberapa tempat yang menyimpan benda purbakala semacam itu.

Best Ten
Nias bukan cuma elok di darat. Di laut pamor Nias sudah sangat populer di penjuru dunia. Di Pantai Saroke dan Pantai Lagundri misalnya, ombaknya menjadi surga bagi mereka yang suka berselancar (surfing). Pantai ini termasuk 10 tempat paling favorit (best ten) bagi peselancar di seluruh dunia.

Beberapa majalah terbitan asing malah mengakui kalau Saroke memiliki riak terbaik setelah Hawaii yang berada di Amerika Serikat. Tak heran kalau berbagai kejuaraan surfing bertaraf internasional pun sering digelar di Saroke.

Para peselancar yang sudah menjajal tantangan ombak di pantai itu berasal dari Australia, Amerika Serikat, kawasan Eropa, dan Brazil. Mengapa pamor Pantai Saroke dan Pantai Lagundri yang terletak saling berdampingan itu sangat digemari para peselancar?

Setidaknya ada tiga alasannya. Pertama, tinggi ombaknya ideal bagi kegiatan berselancar. Menurut catatan, ombak di sana bisa mencapai ketinggian 5 meter. Selain itu, gulungan ombaknya memiliki lima tingkatan.

Dengan demikian memudahkan para peselancar memilih tingkatan ombak yang dikehendaki. Artinya, jika ia gagal melaju di gulungan ombak tingkat pertama, ia bisa menunggu sejenak di tingkatan berikutnya sehingga dapat berselancar lebih lama.

Alasan kedua, panjang daya dorong ombak tersebut mencapai 200 meter. Kondisi ini sangat pas bagi penikmat olah raga air yang penuh tantangan. Mengapa hal ini terjadi?

Menurut Dr M Eko Rudianto dalam bukunya Nias Selatan, Jejak Wisata Bahari di Tanah Ya’ahowu (2008), hal itu disebabkan kondisi terumbu karang yang masih terjaga baik di kawasan tersebut. Sebelum mencium bibir pantai, gelombang menabrak himpunan terumbu karang. Efeknya, ombak tersebut pecah dan menggulung. Pecahan ombak tadi kian matang karena dari mulut teluk ombak didorong masuk jauh ke lambung teluk sehingga menciptakan gelombang sepanjang 200 meter. Mendekati pantai, ombak yang pecah itu sangat halus.

Alasan ketiga kawasan itu menjadi idola karena untuk mencapai sumber ombak pun cukup mudah. Para peselancar cukup berjalan kaki melewati hamparan karang sejauh 200 meter. Jadi, mereka tak perlu alat bantu seperti jet ski dan perahu.

Alasan keempat, panoramanya sungguh memikat. Bayangkan, pasirnya tampak putih bersih. Ribuan pohon nyiur seolah menjadi saksi mata bagi para peselancar.

Perpaduan antara pasir putih dan nyiur melambai inilah yang membuat pantai sepanjang 2 km ini semakin elok dipandang mata. Bukan hanya itu. Di bentangan karang di pantai itu, Anda juga akan disambut burung-burung nan elok rupawan seperti kuntul karang (Egretta sacra) dan trinil pantai (Actitis hypoleucos). Perpaduan panorama seperti itu tentu tak akan ditemui di tempat lain.

Anda tertarik berpetualang ke Nias? Silakan pilih akses jalan yang tersedia, bisa menggunakan transportasi udara atau laut. Jika penerbangan yang dipilih, aksesnya pun dapat melalui Padang, Sumatera Barat atau Medan, Sumatera Utara.

Kalau Anda ingin menempuh perjalanan laut, Nias dapat ditempuh melalui Sibolga, Sumatera Utara. Tentu saja hal ini tergantung pada situasi cuaca. Jika laut lagi tenang, biasanya dalam seminggu ada dua atau tiga kali berlayar menuju Nias dan sebaliknya.

Namun kalau laut sedang berombak besar (badai), tak ada kapal laut yang berani melintas. Cuaca tak menentu itu biasanya terjadi pada September sampai November. Jadi, selama periode waktu tersebut, sebaiknya gunakan pesawat terbang.

Omo Hada Tetap Kokoh Walau Dihantam Gempa
Nias sepertinya tak pernah habis dirundung bencana alam. Pulau yang berhadapan dengan Samudra Hindia ini dalam waktu yang relatif singkat sering dihantam gempa hebat. Maklum, secara geologis, pulau dengan topografi berbukit-bukit dan terjal dengan ketinggian antara 0 sampai 800 m di atas permukaan laut ini memang dilalui oleh pertemuan dua lempeng besar.

Kedua lempeng (Samudra Hindia dan Indo-Australia) itu senantiasa bergerak saling bertabrakan dan memuntahkan energi yang sangat dahsyat dalam bentuk gempa tektonik. Inilah mengapa Nias merupakan daerah rawan gempa dan tsunami.

Masih lekat dalam ingatan kita ketika pada 26 Desember 2004, Nias juga terkena dampak dari gempa di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Gempa hebat itu menimbulkan tsunami dahsyat bukan saja di NAD dan Nias, tapi juga merangsek hingga ke Thailand dan Sri Lanka.

Belum lama bencana yang menewaskan sekitar 300.000 orang itu, giliran Nias pun diguncang gempa hebat pada 28 Maret 2005. Bukan apa-apa, gempa tektonik itu berkekuatan 8,7 skala Richter (SR). Suasana pulau yang dihuni oleh sekitar 700.000 orang itu benar-benar mencekam.

Rumah-rumah penduduk yang terbuat dari tembok itu roboh, rata dengan tanah. Jalan dan jembatan juga hancur. Banyak orang kehilangan mata pencaharian yang mayoritasnya di bidang pertanian akibat gempa tersebut. Selain pertanian, masyarakatnya juga mengandalkan komditas perkebunan seperti kelapa, karet, dan nilam.

Di antara puing-puing bangunan dan sarana infrasrruktur yang luluh lantak itu, timbul keajaiban. Rumah tradisional khas Nias, yakni Omo Hada, tetap kokoh kuat berdiri. Padahal, rumah itu berusia sangat tua, ratusan tahun silam.

Permukiman rumah tradisioanl itu masih tetap anggun berhiaskan ukiran batu megalitik juga terpampang di depannya. Anda pun bisa menjajal bermalam di rumah ini yang sebagian besar memang disewakan kepada pengunjung. Tarifnya cukup murah.

Lebih dari itu, kita akan dibuat merasa aman dan nyaman jika gempa menghantam kawasan tersebut. Bukan apa-apa, kekokohan konstruksi bangunan itu sudah teruji tahan gempa, sekalipun gempa tersebut berkekuatan 8,7 SR.

Dengan begitu, di malam hari Anda bisa aman beristirahat walaupun gempa menggoyang Nias. Fakta membuktikan, banyaknya korban yang tewas akibat gempa selama ini lebih banyak diakibatkan oleh reruntuhan bangunan yang menimpa penghuninya.

Re: Bali Berpeluang Jadi Warisan Dunia

PostPosted: Thu Oct 15, 2009 8:46 pm
by SiMaMat BukaNabi
ada ga tempat di dunia yang mayoritas muslim n dijadiin world heritage.??? :stun:

Re: Bali Berpeluang Jadi Warisan Dunia

PostPosted: Sun Nov 15, 2009 12:00 am
by siauhiji
SiMaMat BukaNabi wrote:ada ga tempat di dunia yang mayoritas muslim n kebudayaan aslinya masih utuh dan terpelihara.??? :stun: