Page 1 of 1

Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Tue Oct 08, 2013 10:56 am
by Kibou
Ali Sina sekarang jadi percaya afterlife? Saya tahu berita ini gara-gara posting dari Bro Jarum Kudus:

saya-murtad-karena-saya-sudah-murtad-sebelum-lahir-t53121/


Ternyata memang demikian kenyataannya. Ali Sina sudah tidak lagi atheist. Berikut adalah artikel-artikel Ali Sina mengenai perubahan pandangan hidupnya:

http://alisina.org/blog/2013/08/28/why- ... rlife-now/

http://alisina.org/blog/2013/09/02/the- ... e-skeptic/

http://alisina.org/blog/2013/09/11/karm ... afterlife/

http://alisina.org/blog/2013/10/22/incest/


Saya terdorong untuk membuat trit ini karena saya memiliki kesamaan dengan Ali Sina. Yaitu sudah melewati siklus:

Believer - Unbeliever - Believer

Bedanya adalah saya lebih dulu melewati transisi dari unbeliever lalu kembali menjadi believer. Perubahan pandangan Ali Sina sungguh menarik bagi saya, terutama karena Ali Sina, sebagai seorang yang tadinya percaya Tuhan lalu berani mempertanyakan keyakinan tersebut, demikian pula saya mencontoh Ali Sina untuk mempertanyakan keyakinan saya.

- to be continued

NB: mungkin ada teman-teman yang juga tertarik memberi komentar atas perubahan pandangan Ali Sina? Saya persilahkan.

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Tue Oct 08, 2013 11:45 am
by Kibou
Terakhir kalinya saya mengunjungi blog Ali Sina (sebelum beliau pindah haluan), saya membaca artikel ini:

http://alisina.org/blog/2013/03/30/arab-porn/

Ali Sina wrote:Religions offer something atheism does not and that is morality. It is not that morality and atheism are mutually exclusive, but there is no specific injunction in atheism that encourages morality. We can reason that morality is better than immorality but such intellectual discussion is not for the consumption of the masses. The masses need specific guidelines. Atheism does not have them. That is why I believe that masses are better off with a religion that promotes morality than with atheism.


Tulisan di atas membuat saya berpikir bahwa bahkan sebelum Ali Sina berubah pandangan, sepertinya beliau sudah menyadari betapa pentingnya nilai-nilai objektif moral, dan itu sulit ditemukan dasarnya dalam pandangan materialisme.

Apapun dasar yang kita gunakan untuk menopang moralitas, jika dasar tersebut bersifat contingent, maka sesungguhnya tidak ada nilai-nilai objektif sama sekali. Maka materialisme lebih mendukung relativisme moral ketimbang moralitas universal.

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Tue Oct 08, 2013 12:33 pm
by Kibou
Ali Sina wrote:I believe reason is the light of guidance. And I have not abandoned rational thinking. In fact it is my reliance on reason that is leading me to new levels of understanding.


Tulisan di atas membuktikan bahwa sesungguhnya Ali Sina adalah seorang rationalist, walaupun beliau juga tidak menutup mata terhadap empirisisme. Pada akhirnya dia harus bergantung kepada kemampuan berpikir dirinya sendiri.

Tapi mengapa kita percaya kepada kemampuan berpikir kita? Mengapa kita percaya bahwa kemampuan berpikir kita bisa menuntun kita kepada kebenaran? Memangnya kebenaran itu sendiri apa? Apakah kebenaran itu material, ataukah immaterial?

Pada akhirnya, setiap orang yang ingin hidup konsisten dengan pikiran yang sehat, harus beriman bahwa pikiran yang sehat bisa digunakan untuk mencapai kebenaran, dan tentunya, beriman bahwa kebenaran itu sendiri eksis secara objektif.

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Tue Oct 08, 2013 12:52 pm
by Kibou
Descartes pernah menulis, "Aku berpikir, maka Aku ada" (cogito ergo sum). Kita tahu kita eksis, karena kita berpikir. Kita mampu berpikir, karena kita memiliki kesadaran (consciousness).

Apakah kesadaran itu sendiri material, ataukah immaterial?

Berikut jawaban dari Ali Sina:

Ali Sina wrote:Now the $64,000 dollar question: Is consciousness a function of the brain or is it independent from it? This is the Holy Grail of the biggest questions of mankind -the question that has bugled us since the dawn of our intelligence, maybe for 100,000 years. If the consciousness is a function of the brain then it should cease after the brain stops working, just as the light in a lamp ceases to exist when the lamp is broken. Therefore, the belief in afterlife, and by extension God, becomes hocus-pocus. This is the position of the so called skeptics and the dogma of today’s science. However, if consciousness can survive the death of the brain, like light reflected in a mirror that is not affected when the mirror is broken, everything changes. It means that there is a different world with different dimensions, a world that is immaterial, i.e. it is not subject to time and space.


Ali Sina membaca mengenai banyak kasus fenomena NDE (near death experience) dan mengambil kesimpulan bahwa Kesadaran tetap ada biarpun fungsi otak sudah berhenti.

Secara kebetulan, saya pun kira-kira 2 bulan yang lalu, mulai membaca-baca mengenai NDE. Buku mengenai NDE yang saya baca yaitu Proof of Heaven: A Neurosurgeon's Journey into the Afterlife:

http://www.amazon.com/dp/B008AK8FHM%3FS ... D%26tag%3D

Thousands of people have had near-death experiences, but scientists have argued that they are impossible. Dr. Eben Alexander was one of those scientists. A highly trained neurosurgeon, Alexander knew that NDEs feel real, but are simply fantasies produced by brains under extreme stress.

Then, Dr. Alexander’s own brain was attacked by a rare illness. The part of the brain that controls thought and emotion—and in essence makes us human—shut down completely. For seven days he lay in a coma. Then, as his doctors considered stopping treatment, Alexander’s eyes popped open. He had come back.

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Tue Oct 08, 2013 1:06 pm
by Kibou
Tentunya kita juga tidak bisa menutup mata terhadap pengalaman-pengalaman teman-teman IFF yang "pernah berkunjung ke negeri seberang".

Teman-teman kita seperti Bro harahap, Bro bluelotusfriend, Bro Joe, Bro cephotgugat, dan masih banyak lagi:

ilmu-pelintir-mrica-doanya-ilmu-ilmu-lain-t45357/

islam-mistik-bersama-bang-harahap-t47527/


Baiklah, saya rasa pendahuluan sudah mencukupi.

Ali Sina wrote:Materialism is a religion, based as much on faith as any religion. When materialists are presented with facts, they twist them and deny them with the same zealotry of any religious fanatic. The cases of NDE are in the millions. They are told by children and adults, theists and atheists and people of all races and cultures. The site http://near-death.com/forum.html has a collection of thousands of NDE stories. Even if we dismiss them all, we can’t dismiss the ones that have been verified . In addition there are NDEs that are shared by the relatives of the dying person. Dr. Raymond Moody has interviews over 300 people who claim they participated in the NDE of their loved ones. Unless the deniers claim that there is a conspiracy of millions of people including children, adults, believers, atheists, doctors and patients, we have to accept that NDE is a fact and instead of hiding our heads in the sand try to understand it. Maybe it is time for a paradigm shift. To say they can’t be true because then we will have to believe in God is not a logical explanation.


Apakah pendapat teman-teman sekalian mengenai penjelasan Ali Sina mengenai keyakinan barunya? Mari berdiskusi.

Salam sejahtera!

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Tue Oct 08, 2013 10:28 pm
by Broni
Sekedar sharing saja. Bagi saya itu semua udah gak ngefek. Mau materialisme kek, religion kek, apapun asal baik bagi saya okeh. Tentu moral dalam sudut pandang saya mungkin moral yang fungsional. Contoh: saya ingin menjadi orang baik bukan karena ingin diakui oleh agama, bukan karena ingin dianggap baik oleh orang lain, melainkan sekedar ingin baik saja, good is cool! Tentu saja saya tidak ingin berbuat jahat karena bila berpikir jauh akan lebih banyak ruginya daripada untungnya, gak hanya soal materiil melainkan juga soal kenyamanan hati (boleh dibilang hati nurani).

Kalau tentang Islam, saya cukup jaga jarak ajah deh sama agama barbar ini. Dan terkadang saya jaga jarak juga dengan kristen ataupun budha fanatis atau apapun yang fanatis. Kalau yang temen hindu, jarang berinteraksi.

Yang jelas dari pengalaman saya bertransformasi dari beragama menjadi tidak beragama memang harus melalui PADANG PASIR SAKAU AGAMA. Itu memang harus dilalui baru dapet kedamaian hati merengkuh sekaligus melepas semuanya, sesuatu atau apapun.

Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina
Mirror
Faithfreedom forum static

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Wed Oct 09, 2013 9:04 am
by Kibou
Broni wrote:Sekedar sharing saja. Bagi saya itu semua udah gak ngefek. Mau materialisme kek, religion kek, apapun asal baik bagi saya okeh.


Terima kasih sharingnya Bro.

Kalau boleh saya tukar pendapat, Ali Sina ini kan orangnya rasionalis banget. Jadi dia ini pikirannya selalu aktif mencari tahu apa yang (setidaknya menurut dia) benar.

Ali Sina kemudian berhadapan dengan data-data baru (bagi dirinya) yaitu kesaksian NDE yang diverifikasi (katanya). Tambah lagi karena Ali Sina ini orangnya senang berpikiran logis, maka setiap data-data baru dia explore apa saja implikasi/konsekuensi logisnya.

Kalau yang saya lihat, data-data baru ini (NDE) membuat Ali Sina harus merevisi/modifikasi struktur keyakinan (system of beliefs) yang dia pegang. Orang rasionalis dan logis tentunya ingin memegang suatu struktur keyakinan yang koheren dan konsisten.

Dari hasil revisi/modifikasi atas struktur keyakinan itulah yang mendorong dirinya untuk meninggalkan materialisme.

IMHO.

Ada lagi tanggapan lain dari teman-teman?

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Thu Oct 10, 2013 8:18 am
by harahap
EUREKA adalah perasaan gembira yang meluap luap

bisakah anda menerangkan yang baru saja (1 jam 15 menit yll) saya rasakan dan herankan dengan sangat ??

1 jam 15 menit yll (jam 7 kurang sepuluh pagi) saya masuk tempat berkumpulnya umat dan merasakan EUREKA yg bukan dari diri saya ....
buka pintu, seklebat saya lihat masih banyak umat dan sekejab hilang, kosong ... satu langkah kaki berikutnya saya di sergap rasa EUREKA orang2 yg saya lihat tadi ....

sebuah luapan kegembiraan ... kebahagiaan, senang ..... di ruang kosong ???
breakdown pemikiran saat merenung, tidak ada EUREKA pada hawa iblis ... kl yg lain iblis bisa buat , tapi hawa eureka ini , iblis gak bisa buat

kl Ali Sina mempertanyakan "kesadaran" di otak
saya MENG HERAN KAN hawa EUREKA yg tertinggal di ruangan kosong

Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina
Mirror
Faithfreedom forum static

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Thu Oct 10, 2013 9:46 am
by Kibou
harahap wrote:EUREKA adalah perasaan gembira yang meluap luap

bisakah anda menerangkan yang baru saja (1 jam 15 menit yll) saya rasakan dan herankan dengan sangat ??

1 jam 15 menit yll (jam 7 kurang sepuluh pagi) saya masuk tempat berkumpulnya umat dan merasakan EUREKA yg bukan dari diri saya ....
buka pintu, seklebat saya lihat masih banyak umat dan sekejab hilang, kosong ... satu langkah kaki berikutnya saya di sergap rasa EUREKA orang2 yg saya lihat tadi ....

sebuah luapan kegembiraan ... kebahagiaan, senang ..... di ruang kosong ???
breakdown pemikiran saat merenung, tidak ada EUREKA pada hawa iblis ... kl yg lain iblis bisa buat , tapi hawa eureka ini , iblis gak bisa buat

kl Ali Sina mempertanyakan "kesadaran" di otak
saya MENG HERAN KAN hawa EUREKA yg tertinggal di ruangan kosong


Wah, pengalaman Bro harahap menarik untuk diselidiki lagi lebih lanjut. Sebelum saya menanggapi pengalaman EUREKA Bro harahap, berikut adalah pengalaman EUREKA versi Ali Sina:

http://alisina.org/blog/2013/07/20/should-we-fear-god/

Ali Sina wrote:Some years ago, I had a unique experience. While I was taking shower, for a few seconds, suddenly, I was shown a world of pure consciousness. I saw nothing with my eyes and heard no voices with my ears, but it was as if the entire knowledge of the universe was accessible to me and I could download them instantly just by turning my focus on them. The best way to describe it is to imagine that I was standing in an unknown place in the middle of darkness. Suddenly, there is lightening and everything is illumined for a short time. In those few seconds, I see the most incredible scenes surrounding me. This wasn’t a visual experience. It was an experience in consciousness. You must have heard the story of Archimedes running out of his bath tub shouting eureka, eureka. We are all familiar with moments of aha, when we say a lamp goes on in our head. This was of that nature, but infinitely more powerful. Not a lamp but a sun went on in my head.

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Thu Oct 10, 2013 12:22 pm
by keeamad
Suddenly, there is lightening ...

Mungkin itulah yang dimaksud dengan istilah ENLIGHTNING ....

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Thu Oct 10, 2013 3:42 pm
by momed_xxx3
ane sendiri masih menjadi non believer yang sulit percaya terhadap suatu hal yang berada di luar Sains........ apakah suatu saat bisa berubah lagi menjadi believer, who knows, pemikiran orang itu berubah2 sih tergantung dari banyak faktor yang ada di dalam internal dan eksternal dirinya :yawinkle:

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Thu Oct 10, 2013 4:17 pm
by Kibou
keeamad wrote:Mungkin itulah yang dimaksud dengan istilah ENLIGHTNING ....


Halo Bro keeamad! : )

Lucu juga yah, muncul istilah enlightenment, mungkin memang banyak pengalaman spiritual yang terkait dengan "munculnya" cahaya, ini terjadi juga pada diri Saulus dari Tarsus. Cahaya itu kan cerah, enlightened = tercerahkan. Lawan dari kegelapan, kesuraman, ketertutupan (contoh: goa Hira).

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Thu Oct 10, 2013 4:25 pm
by Kibou
momed_xxx3 wrote:ane sendiri masih menjadi non believer yang sulit percaya terhadap suatu hal yang berada di luar Sains........


Halo Bro momed!

Saya yakin dan berani jamin, ada banyak hal yang Bro momed percaya DI LUAR sains. ; )
Begitu pula bagi semua manusia yang berpikiran waras dan sehat, banyak meyakini hal-hal di luar sains.

momed_xxx3 wrote:apakah suatu saat bisa berubah lagi menjadi believer, who knows, pemikiran orang itu berubah2 sih tergantung dari banyak faktor yang ada di dalam internal dan eksternal dirinya :yawinkle:


Setuju, ada banyak faktor yang harus dilihat jika kita menilai seseorang dan keyakinan yang dipegangnya. Seandainya ada seseorang yang dulunya sering dan tekun berdoa kepada Tuhan, tapi TIDAK SATU PUN doanya dikabulkan, lalu kemudian dia mengambil kesimpulan Tuhan itu tidak ada, atau kalaupun Tuhan ada, Tuhan tidak peduli, maka kita bisa lebih memaklumi mengapa dia bukan believer (ini sekedar contoh, tentunya ada banyak faktor lain yang ikut berpengaruh di luar "tidak dikabulkannya doa").

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Mon Oct 14, 2013 2:47 pm
by Kibou
Salam sejahtera bagi semua!

Sebelumnya saya pernah bilang bahwa untuk ukuran orang yang waras dan berpikiran rasional, maka orang tersebut umumnya meyakini banyak hal di luar sains (sains dalam hal ini saya artikan sebagai metode sains: http://www.sciencebob.com/sciencefair/s ... method.php).

Apa sajakah contohnya?

1. Keyakinan terhadap intuisi diri sendiri

Jauh sebelum manusia mengenal dan mengaplikasikan metode sains, manusia terlebih dahulu mengandalkan intuisi dari dalam dirinya sendiri. Dan hal ini masih dilakukan oleh manusia di jaman sekarang. Intuisi memberikan manusia aturan-aturan dasar logika (Aristoteles) dan tentu saja nilai-nilai kebaikan (virtues). Setiap kali kita menggunakan logika atau hati nurani, kita mengakses intuisi yang dimiliki setiap manusia yang waras dan normal.

2. Keyakinan terhadap prinsip-prinsip filosofis

Ambil contoh prinsip Ockham's Razor: "entities must not be multiplied beyond necessity" . Ini adalah prinsip filosofis oleh William of Ockham, seorang rahib Fransiskan dan theolog dari abad 14. Prinsip filosofis dari jaman pertengahan ini malah nantinya banyak digunakan dalam sains.

3. Keyakinan terhadap kesaksian orang lain (testimoni)

Kalau bukan karena kesaksian orang lain, bagaimana seorang anak kecil bisa belajar bahasa? Kalau setiap kali orangtua dan gurunya berusaha mengajarkan anak itu bahwa huruf "A" bunyinya adalah "AAAAA" dan si anak tadi tidak mau percaya, maka bagaimana dia bisa belajar membaca dan menulis?

4. Keyakinan bahwa kita tidak sendiri, bahwa ada dunia fisik eksternal dan bahwa orang-orang lain punya kesadaran seperti kita sendiri

Yang satu ini cukup rumit, bagi yang ingin mempelajari lebih jauh bisa baca di Bab I dan Bab II buku Problems of Philosophy:

http://archive.org/stream/problemsofphi ... 5/mode/2up


Demikian dulu, masih ada lagi contohnya, tapi saya rasa yang di atas sudah mencukupi.

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Sat Oct 19, 2013 10:53 am
by Kibou
Broni wrote:Tentu moral dalam sudut pandang saya mungkin moral yang fungsional. Contoh: saya ingin menjadi orang baik bukan karena ingin diakui oleh agama, bukan karena ingin dianggap baik oleh orang lain, melainkan sekedar ingin baik saja, good is cool! Tentu saja saya tidak ingin berbuat jahat karena bila berpikir jauh akan lebih banyak ruginya daripada untungnya, gak hanya soal materiil melainkan juga soal kenyamanan hati (boleh dibilang hati nurani).


Setuju sekali. Tentu saja moralitas yang kita pegang haruslah moralitas yang memiliki fungsi positif bagi seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan (universal).

Tapi apakah pandangan materialisme mendukung ataukah menjatuhkan moralitas universal? Terlebih lagi, apakah materialisme mendukung konsep "fungsional" dalam moralitas?

Function presupposes Purpose, Purpose presupposes Design, Design presupposes Intention, Intention presupposes Will, Will presupposes <INSERT YOUR ANSWER HERE>.

Apa yang dikatakan para materialist mengenai fungsi dan tujuan (purpose)?

Douglas J. Futuyma:

"By coupling undirected, purposeless variation to the blind, uncaring process of natural selection Darwin made theological or spiritual explanations of the life processes superfluous."

George Gaylord Simpson:

"Man is the result of a purposeless and natural process that did not have him in mind."

Richard Dawkins:

"Natural selection, the blind, unconscious automatic process which Darwin discovered, and which we now know is the explanation for the existence and apparently purposeful form of all life, has no purpose in mind."

Jadi, di dalam pandangan materialisme, fungsi dan tujuan hanyalah ilusi.

Hasil dari pemikiran materialist bisa kita lihat di sini:

masalah-gay-t53164/

- to be continued

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Mon Oct 21, 2013 12:37 pm
by Kibou
Mari kita ambil contoh sebuah benda, yaitu telpon genggam.

Telpon genggam diciptakan untuk suatu tujuan, yaitu penyampaian informasi jarak jauh (telekomunikasi). Telpon genggam dikatakan berfungsi dengan baik jika dapat digunakan untuk mencapai tujuannya yaitu telekomunikasi. Telpon genggam tidak begitu saja muncul di dunia melalui sebab-sebab alamiah seperti berlian muncul karena tekanan lempengan batu-batuan, melainkan telpon genggam dirancang (design) sedemikian rupa supaya dapat berfungsi dengan baik untuk mencapai tujuan sesuai rancangan.

Tapi tentunya kita harus membedakan mana tujuan yang orisinal dan mana yang tidak orisinal. Telpon genggam yang berfungsi dengan baik, bisa juga difungsikan sebagai detonator bom oleh jihadis islam. Di sini si jihadis telah menyalahi (abuse) fungsi orisinal telpon genggam dengan tujuan untuk menciptakan teror lewat terbunuhnya orang sipil. Rancangan orisinal telpon genggam tidak dimaksudkan untuk menyebarkan teror dan memakan korban jiwa.

Bagaimana relevansinya dengan materialisme?

Pertama-tama sekali, materialisme menyangkal adanya tujuan (purpose) untuk mahluk hidup, termasuk manusia. Apalagi tujuan mana yang orisinal dan mana yang tidak.

Jadi apa konsekuensi logis dari materialisme jika kita gunakan untuk mencari tahu mengenai akal sehat dan hati nurani manusia? Apa fungsinya? Apa tujuannya? Apakah penggunaan akal sehat dan hati nurani sudah bersesuaian dengan rancangannya, ataukah malah menyalahi rancangannya? Tapi bagaimana kita mau bicara soal rancangan, kalau tujuan itu sendiri tidak ada?

Mengapa hal ini begitu penting? Karena kalau kita sudah bicara soal moralitas universal, kita bicara moralitas dari sisi normatif, dan bukan dari sisi statistik.

Kalau ada orang bertanya kepada saya, "mengapa kita harus mendengarkan akal sehat dan menuruti hati nurani?"

Seandainya saya adalah seorang materialist tulen, saya akan menjawab, "Siapa bilang kita harus mendengarkan akal sehat dan hati nurani? Tidak ada itu aturan seperti itu. Hidup ini tidak ada tujuannya."

Karena saya percaya Tuhan, saya akan menjawab, "karena sebagai manusia kita sudah dirancang untuk berfungsi seperti itu, dengan tujuan agar manusia bisa mencari tahu apa yang benar dan hidup saling mengasihi." Di sini saya bicara secara normatif.

Seandainya saya adalah seorang materialist jejadian, saya akan menjawab, "Itu kan sudah seharusnya, mengingat sebagian besar manusia mengakui pentingnya akal sehat dan hati nurani demi terbentuknya tatanan sosial yang stabil dan manusiawi." Di sini saya bicara secara statistik.

Tetapi apakah kebenaran suatu proposisi bergantung dari berapa banyak manusia yang meyakini proposisi terebut? Kalau seandainya sebagian besar populasi manusia meyakini ajaran islam, apakah itu membuat ajaran islam menjadi benar?

Apakah lebih valid mendasari moralitas universal kepada alasan normatif, ataukah alasan statistik? Inilah letak masalahnya.

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Mon Oct 21, 2013 3:24 pm
by rahimii
Materialisme pada dasarnya adalah suatu pandangan hidup yang mencari dasar segalanya, termasuk juga kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengenyampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam inderawi. Materialisme memberikan semangat hidup untuk mengakui bahwa ada kebenaran yang bersifat material di wilayah jangkauan kapasitas manusia yang juga harus diakui. Sikap radikal tidak percaya pada hal-hal yang material sama dengan sikap radikal yang tidak percaya pada hal-hal yang metafisik.

Materialisme tidak mengakui hal-hal yang bersifat metafisik, sehingga menemui jalan buntu jika dihadapkan pada hal-hal yang tidak terjangkau oleh kapasitas manusia. Contoh : adanya Tuhan dan jiwa tidak dipercayai keberadaannya. Sementara hal-hal yang bersifat material diperlakukan sebagaimana memperlakukan Tuhan. Sementara materi dapat rusak, disisi lain konsekuensi penilaian pada meteri harus dibarengi dengan pengetahuan terhadap sifat Tuhan dan jiwa yang salah satunya adalah abstrak.

Kelebihan ali sina menurut saya adalah, diluar dirinya menganut paham materialisme, dia juga adalah seorang yang rasionalis. Dalam tingkat meditatif yang mendalam, seorang rasionalis sejati pada akhirnya seharusnya bisa menemukan Tuhan. Descartes sang bapak rasionalisme membuktikan itu. Menurutnya, karena manusia mempunyai ide tentang "sempurna", maka harus ada penyebab sempurna untuk ide tersebut. Karena ide manusia tidak bisa melebihi ide penyebabnya, maka wujud yang sempurna yang menumbuhkan ide sempurna itu tidak bisa lain daripada supreme being / Tuhan. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia materi ialah bahwa Tuhan sang wujud sempurna akan menipu dia kalau sekiranya Tuhan memberikan dia ide kematerian / keluasan, sedangkan di luar tidak ada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Nah, tidak mungkin bahwa wujud yang sempurna menipu dia. Jadi, di luar dia sungguh-sungguh ada suatu dunia materil. Dengan demikian Descartes membuktikan adanya dunia melalui adanya Tuhan.

Sehingga, pertanyaan saudara kibou berikut:
Tetapi apakah kebenaran suatu proposisi bergantung dari berapa banyak manusia yang meyakini proposisi terebut? Kalau seandainya sebagian besar populasi manusia meyakini ajaran islam, apakah itu membuat ajaran islam menjadi benar?

menurut saya hanya berlaku bagi orang-orang yang lumpuh akal, beriman buta, konservatif tradisional yang menyerahkan nasibnya pada orang lain, bukan menetapkannya ditangannya sendiri. Orang yang tidak bermeditasi seperti ali sina dan descartes, tidak akan bisa meyakini apakah dia sedang benar yakin akan tuhannya.

Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina
Mirror
Faithfreedom forum static

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Mon Oct 21, 2013 3:44 pm
by Kibou
rahimii wrote:Materialisme pada dasarnya adalah suatu pandangan hidup yang mencari dasar segalanya, termasuk juga kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengenyampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam inderawi. Materialisme memberikan semangat hidup untuk mengakui bahwa ada kebenaran yang bersifat material di wilayah jangkauan kapasitas manusia yang juga harus diakui. Sikap radikal tidak percaya pada hal-hal yang material sama dengan sikap radikal yang tidak percaya pada hal-hal yang metafisik.

Materialisme tidak mengakui hal-hal yang bersifat metafisik, sehingga menemui jalan buntu jika dihadapkan pada hal-hal yang tidak terjangkau oleh kapasitas manusia. Contoh : adanya Tuhan dan jiwa tidak dipercayai keberadaannya. Sementara hal-hal yang bersifat material diperlakukan sebagaimana memperlakukan Tuhan. Sementara materi dapat rusak, disisi lain konsekuensi penilaian pada meteri harus dibarengi dengan pengetahuan terhadap sifat Tuhan dan jiwa yang salah satunya adalah abstrak.


Terima kasih atas pemaparan mendetail pandangan materialisme, Bro rahimii. Ini akan bermanfaat bagi semua pembaca trit ini.

rahimii wrote:Kelebihan ali sina menurut saya adalah, diluar dirinya menganut paham materialisme, dia juga adalah seorang yang rasionalis. Dalam tingkat meditatif yang mendalam, seorang rasionalis sejati pada akhirnya seharusnya bisa menemukan Tuhan.


Setuju Bro, karena ini juga terjadi kepada diri saya sendiri. Saya bisa konfirmasi. Tapi mungkin ada elemen lain yang juga harus hadir pada diri seorang rasionalis, yaitu kejujuran kepada diri sendiri. Dalam hal ini Ali Sina dengan kejujuran mengakui bahwa pandangan materialisme yang dulu diyakini olehnya tidak bisa menjelaskan fenomena NDE. Maka dia konsekuen dengan akhirnya membuka pikirannya kepada hal-hal di luar realita fisik (metafisik).

rahimii wrote:Descartes sang bapak rasionalisme membuktikan itu. Menurutnya, karena manusia mempunyai ide tentang "sempurna", maka harus ada penyebab sempurna untuk ide tersebut. Karena ide manusia tidak bisa melebihi ide penyebabnya, maka wujud yang sempurna yang menumbuhkan ide sempurna itu tidak bisa lain daripada supreme being / Tuhan. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia materi ialah bahwa Tuhan sang wujud sempurna akan menipu dia kalau sekiranya Tuhan memberikan dia ide kematerian / keluasan, sedangkan di luar tidak ada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Nah, tidak mungkin bahwa wujud yang sempurna menipu dia. Jadi, di luar dia sungguh-sungguh ada suatu dunia materil. Dengan demikian Descartes membuktikan adanya dunia melalui adanya Tuhan.


Selain Descartes, Saint Anselm juga merupakan contoh rasionalis yang menemukan Tuhan, lewat argumen ontologi beliau yang legendaris.

rahimii wrote:Sehingga, pertanyaan saudara kibou berikut:


Tetapi apakah kebenaran suatu proposisi bergantung dari berapa banyak manusia yang meyakini proposisi terebut? Kalau seandainya sebagian besar populasi manusia meyakini ajaran islam, apakah itu membuat ajaran islam menjadi benar?


rahimii wrote:menurut saya hanya berlaku bagi orang-orang yang lumpuh akal, beriman buta, konservatif tradisional yang menyerahkan nasibnya pada orang lain, bukan menetapkannya ditangannya sendiri. Orang yang tidak bermeditasi seperti ali sina dan descartes, tidak akan bisa meyakini apakah dia sedang benar yakin akan tuhannya.


Setuju. Mengapa orang islam ingin sekali lebih banyak orang menjadi mualaf? Mengapa muslim gencar sekali dalam usaha memualafkan orang sampai mereka membuat dan menyebarkan hoax, taqqiya, tipu dan dusta?

Dugaan saya adalah efek psikologis "safety in numbers". Suatu kekeliruan logika yang disebut argumentum ad populum.

Jadi ironisnya, muslim menguatkan iman mereka kepada islam bukan melalui akal sehat dan hati nurani, tapi dengan cara mempopulerkan islam seluas mungkin. Nanti kalau hampir semua orang sudah meyakini islam. maka islam menjadi benar.

IMHO.

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Thu Oct 24, 2013 1:41 am
by SINGA YEHUDA2011
Wahhh... adda thread keren...

ane ijin CTRL D sambil nyimak ya bung kibou... :finga:

Re: Mengomentari perubahan keyakinan Ali Sina

PostPosted: Thu Oct 24, 2013 11:08 am
by Kibou
SINGA YEHUDA2011 wrote:Wahhh... adda thread keren...

ane ijin CTRL D sambil nyimak ya bung kibou... :finga:


Halo Bro Yehuda. Semoga trit ini bisa membawa manfaat bagi anda. Selamat bergabung!

Baiklah. Saya sebelumnya sudah bicara sedikit mengenai konsep fungsi, di mana konsep fungsi sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri tanpa konsep tujuan, dan seterusnya. Ini berlaku pada objek-objek yang tercipta atau diciptakan.

Dari situ saya berangkat kepada konsep fungsi/tujuan/rancangan orisinal (konsekuensi logis dari konsep orisinal, saya kembalikan kepada para pembaca untuk mengambil kesimpulan sendiri).

Kalau memang ada tujuan/fungsi/rancangan orisinal pada diri manusia, maka barulah kita bisa bicara mengenai fungsi/tujuan/rancangan secara normatif. Ini menurut saya lebih masuk akal daripada membicarakan fungsi/tujuan/rancangan secara statistik.

Kita bisa mulai dari sisi biologis dan fisiologis manusia. Ambil contoh saya sendiri. Saya ini memiliki mata yang myopic alias rabun jauh. Kalau bicara fisiologis normatif, maka kondisi mata saya itu abnormal. Karena saya yakin bahwa fungsi orisinal mata adalah untuk melihat jarak dekat maupun jarak jauh (tentunya dengan batasan mata manusia itu sendiri. Mata bukanlah mikroskop maupun teleskop). Mata saya hanya bisa untuk melihat jarak dekat sedangkan untuk melihat jarak jauh sulit bagi mata saya. Kesimpulannya, mata saya tidak normal.

Tapi bagaimana kalau kita tidak bisa menerapkan konsep normatif terhadap mata? Bagaimana kalau kita cuma bisa menggunakan konsep statistik? Bagaimana jika akibat mutasi genetika, anak-anak cucu kita semuanya menjadi penderita myopia? Bagaimana jika di masa depan 90% populasi manusia memiliki mata myopic? Maka kesimpulannya mata myopic adalah mata yang normal. Apapun kondisi fisiologis yang diamati pada mayoritas spesimen, itulah yang disebut normal.

Itu kalau kita berpikir mengenai fisiologis manusia. Bagaimana dengan sisi manusia yang bersifat mental/psikologis? Saya kembali akan mengambil contoh diri saya sendiri. Saya seringkali merasa bersalah. Kalau saya membohongi teman, saya merasa bersalah. Kalau saya mengingkari janji, saya merasa bersalah. Rasa bersalah menurut saya adalah termasuk fungsi orisinal yang dimiliki manusia (setelah dirinya makin sadar dan dewasa). Tujuannya supaya manusia bisa introspeksi, memotivasi diri untuk memperbaiki perilaku, dsb (tentu saja ada batasan-batasan tertentu. Rasa bersalah yang berlebihan malah bisa menimbulkan kegilaan).

Tapi bagaimana jika kita tinjau dari statistika? Bagaimana jika 90% manusia ditemukan tidak memiliki rasa bersalah, apakah itu berarti orang yang memiliki rasa bersalah adalah orang-orang yang abnormal?

Ini pendapat Ali Sina:

Ali Sina wrote:Muslims lead very immoral lives, but because they can’t tell the difference between legal and moral, they think what their prophet has made legal is also moral and feel no shame for it. Their sense of shame is destroyed because their awareness is destroyed. An immoral act remains immoral even if it is practiced by many. Nudism is immoral, but since in a nudist camp everybody is naked, the nudist does not feel inhibited. His or her sense of decency is hampered because everyone else also does it. Likewise, Muslims who commit incest with their first cousins, or rape little children, feel no shame for their immoral act because it is legal and the norm.


Perhatikan kata-kata Ali Sina, "Their sense of shame is destroyed because their awareness is destroyed". Kita bisa katakan bahwa rasa malu (sense of shame) juga termasuk salah satu fungsi orisinal yang dimiliki manusia normal (normatif). Akibat ajaran islam, rasa malu pada diri muslim menjadi rusak. Mereka tidak malu atas tindakan apapun (bohong, taqqiya, membunuh, dll) selama itu dihalalkan oleh islam.

Maka itulah saya beriman bahwa manusia dalam alam semesta ini tidak muncul tanpa tujuan. Dan secara logis, jika ada tujuan berarti ada juga standar normatif bagi manusia. Agaknya Ali Sina pun mengambil kesimpulan yang sama dengan saya:

Ali Sina wrote:Life is not picnic or camping. There is a mission to our life. Maybe military service is a better example. Soldiers volunteer to serve in the military when they know about its hardship and perils. But there is a purpose to their service. There is a purpose to our life too. We will find it eventually. I found mine some 15 years ago. I know my purpose to come to this world and surviving a deadly fall at the age of 9 when doctors told my parents I will not make it was to help my brothers and sisters in humanity to learn the truth about Islam. But I did not know this until 15 years ago. Even then I did not know that eradicating Islam is the reason I had come to this world. Now that I have found God, I see how everything in my life, my failures, my successes, and my sufferings had prepared me for my mission. I thought I had chosen this goal 15 years ago. Not so! I chose is before being born.

Some people know why they are here. They enjoy their lives and want to make it enjoyable for others. Others miss the point. They cheat, hurt and misbehave. These people will have a rude awakening when the adventure is over and they are called back home. There is no punishment of course, but there will be remorse. They regret for they have lost the opportunity to fulfill their mission.


Ali Sina wrote:We come here for a purpose. The purpose of life is to love. Love has many shapes and forms and all of them are needed. We need parents to love, siblings to love, friends to love, a life partner to love, children to love, pets to love, our home to love, our town, country, and humanity to love, love the Earth, the animals, the universe and above all love ourselves. I omitted God because God is in all these thing. When you love someone, you love God.


Ali Sina, welcome back. : )